**PHOTOGRAPHY DAN VIDEOGRAPHY HARAM ? **

Tag :    SELFY HARAM ? ALBUM PHOTO HARAM ? PRODUKSI FILM ISLAMI HARAM ?

Photograph

Tentang pandapat mendasari Sahih Bukhari :

“Orang yang paling berat hukumannya di akherat adalah tukang photo”

Jika demikian maka SELFY dan dokumentasi resepsi perkawinanpun haram, bahkan produksi film film Islami pun haram sebab berhubungan dengan photography dan videography. Termasuk anda kini yang exist berselancar di jejaring sosial dunia maya dengan memajang album photo dan sebagainya, maka jadinya kita semua umat Islam melakukan sesuatu yang haram. Berapa besar bobot dosa yang kita tumpuk setiap harinya? Sementara pada akhir zaman yang modern ini manusia tak bisa menghindari photography samasekali.

Pada konteks bahasan sesuai judul diatas. Bahwa benarkah photography dan videography haram? Yang dengan demikian para photographernya, para videographernya juga termasuk yang memanfaatkan/user nya itu akan mendapat hukuman berat di akherat?

Mari kita telaah satu persatu, kita pahami esensinya, benarkah Nabi Muhammad mengharamkan photography dan videography ? :

riset

Teks asli hadits tersebut diantaranya sebagai berikut, berbunyi :

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para penggambar.” (HR. Al-Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109)

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya mereka yang membuat gambar-gambar akan disiksa pada hari kiamat. Akan dikatakan kepada mereka, “Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan.” (HR. Al-Bukhari no. 5961 dan Muslim no. 5535)

Perhatikan dalam hadits menyebutkan tentang “TASHWIR – MUSHAWWIR”. Makna tashwir adalah MENGGAMBAR sedang mushawwir adalah ORANG YANG MEMBUAT TASHWIR. Maka makna kalimat ini yang harus kita pahami terlebih dahulu. Kita tahu bahwa saat hadits ini di sabdakan oleh beliau adalah zaman ketika tekhnology photography dan videography belum ada. Hingga berabad abad kemudian sampailah pada ajaran ajaran Islam tumbuh menyebar ke seluruh penjuru dunia dimana bahasa, dialek bangsa bangsa lain tidak menggunakan bahasa Arab tetapi menurut bahasa ibu masing masing.

Kemudian tumbuh pula para generasi alim ulama sebagai penerus syiar Islam yang dalam hal latar belakang kultur budaya akan pasti berbeda beda baik dalam hal tingkat penyerapan, pemahaman nilai nlai Islam maupun dalam hal penterjemahan dari sumber aslinya.

Kembali pada pokok bahasan, mengenai pendapat yang menyatakan bahwa : “tukang photo adalah yang hukumannya paling berat”, yang merujuk pada sahih Bukhari tersebut di atas. Mari kita bedah esensi dengan merujuk pendapat para ulama bahwa larangan tersebut ditujukan untuk photography atau hal lain.

Sebagian ulama berpendapat bahwa photography dan videography keduanya haram. Seperti As-Syaikh Nashiruddin Al-Albani. Beliau adalah ulama besar pada  abad lampau, seorang pakar hadits yang menyatakan keduanya haram mendasari sumber hadits tersebut.

Sementara ulama lainnya, As-Syaikh Abdul Aziz Bin Bazz menyatakan bahwa photography haram sedang videography boleh. Dan berikutnya adalah As-Syaikh Ibnu Al-‘Utsaimin yang menafsirkan hadits ini dari sisi esensi, menyatakan pendapatnya bahwa selama tidak keluar dari aturan syariah, maka keduanya dibolehkan. Ketiga ulama ini adalah ulama besar yang terpercaya, mari kita hormat kepada mereka semua.

Sobat Nusantara, apa sebenarnya yang terjadi ?

Allah Swt berfirman dalam An-Nahl:43 :

“Tanyakanlah kepada orang yang mengetahui jika kamu tidak mengetahui (paham)…”

Maka mereka adalah ulama besar yang ahli dalam bidang Al-Hadits, sedang perkara photography dan videography adalah perkara sains/teknologi. Mereka menyatakan bahwa dalam perkataan Nabi terdapat kata “TASHWIR”. Sampai saat ini dalam bahasa Arab istilah TASHWIR juga digunakan untuk   photography, sedang zaman Nabi belum ada teknologi photography. Maka dari sebagian ulama berpendapat karena disebutkan istilah TASHWIR dalam hadits tersebut. Hingga saat ini, photography diartikan sebagai dalam katagori TASHWIR, maka menjadilah suatu pemahaman yang menjalar bahwa photography hukumnya haram.

Sobat Nusantara, bahasa selalu mengalami perkembangan. Oleh karena itu kita harus menelaah terlebih dahulu apa sesungguhnya pengertiannya (hakekat) suatu kalimat baik dalam ayat ayat Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Dan hal ini tidak kalah penting dengan arti kata itu sendiri, apa sesungguhnya arti kalimat tersebut maksudnya pada zaman itu.

Seperti kita ketahui bahwa pada zaman itu teknologi photography belum ada, maka janganlah tergesa gesa memastikan/memutuskan bahwa photography itu termasuk sebagai TASHWIR” walaupun saat ini bahasa/orang Arab mengistilahkan photography sebagai TASHWIR, padahal banyak kata/istilah yang dapat dibakukan yang tidak harus menggunakan istilah TASHWIR dalam hal ini. Suatu contoh :

Di ketahui/dikenal suatu kata pada suatu zaman, maka akan terus mengalami suatu perubahan makna seiring waktu akibat situasi, dialek maupun budaya disuatu bangsa. Seperti kosakata “BISA” maka pada bahasa suatu negara tertentu akan dapat diartikan sebagai “mampu” ataupun merupakan “racun ular”. Nah mungkin suatu ketika nanti orang tak akan mengartikan “BISA” ini sebagai  bisa ular. Sebab kosakata “bisa ular” lebih pas dengan kosakata “racun ular”.

Sementara sebagian ulama seperti menurut pendapat Syaikh Bin Bazz bahwa photography haram, tetapi videography boleh. Dan sementara kita tahu (sudah sampai pengetahuan) bahwa teknologi videography adalah pengembangan atau vesi canggih dari teknologi photography. Videography adalah photo yang digerakkan dengan kecepatan tinggi yaitu 24-25 frame/detik, maka gambar menjadi bergerak/hidup.

Ulama yang berpendapat bahwa photography tidak haram, menyatakan bahwa makna “TASHWIR” yang disinyalemenkan oleh Nabi SAW adalah “GAMBAR TANGAN/LUKISAN”.

Tashwir

Baik, dalam bahasan ini kita tidak membicarakan ulama/ahli kitab yang jauh dari esensi A-Qur’an dan As-Sunnah yang dengan begitu mudahnya menyatakan/memutuskan suatu perkara amal syareat/agama yang ini haram, yang itu halal, dan sebagainya tanpa pengetahuan luas dan bijak dalam ilmu hakekat. Maka kita sedang dalam kapasitas membahas tentang ulama otentik yang mengikuti hikmah Al-Qur’an/Al-Hadits, bukan yang suka mendasari segala sesuatunya dengan sentimen sekte/mazabiah.

Maka kata “TASHWIR” yang diartikan, yang menterjemahkan bahwa photography dan videography adalah haram oleh sebagian ulama, itu adalah penafsiran/penerjemahan yang salah/keliru paham. Dalam hadits disebutkan bahwa orang yang melakukan tashwir (menggambar tangan makhluk yang bernyawa), maka Allah akan menyuruh mereka menghidupkan gambar tersbut pada hari kiamat, tetapi mereka tidak mampu. Jadi sejatinya makna hadits ini adalah mensinyalemenkan bahwa membuat gambar/melukis makhluk bernyawa seperti hewan, manusia adalah dilarang. Sedangkan photography dan videography adalah semata mata perkembangan teknologi zaman modern yang merupakan teknologi spektrum/pantulan atau refleksi sebuah obyek yang disimpan dalam sebuah media, seperti  kertas.

Maka Nabi SAW tidak pernah mencegah para sahabatnya, keluarganya melihat pantulan/refleksi diri ketika mereka menyisir rambut, merapihkan busana di depan cermin. Bahkan Nabi SAW tidak pernah melarang sahabat untuk bercermin. Jadi BERCERMIN adalah sesuatu yang tidak dilarang. Photography adalah teknologi pantulan yang disimpan ke dalam media lain sehingga para ulama berpendapat bahwa photography tidak dilarang. Tetapi yang perlu diingat adalah segala sesuatu yang halalpun bisa menjadi haram jika hal hal yang halal dilakukan secara salah ataupun menyimpang dari aturan/disalahgunakan.

Kita perlu menggali makna apa sebenarnya yang dipesankan dalam setiap adanya larangan larangan pada ayat ayat Al-Qur’an maupun hadits. Tentu Allah dalam setiap menurunkan syareat (S.O.P) bagi manusia pasti memuat pesan/peringatan yang serius, dimaksud agar manusia tidak “semau gue” atau justru untuk kebaikan manusia itu sendiri. Hanya saja manusia itu kadang terlalu angkuh untuk mengakuinya atau mentaatinya atau manusia itu sebenarnya tidak menggunakan akal pengetahuannya.

menyembah_batu

Mengapa Allah melalui hadits Nabi SAW melarang manusia untuk menggambar makhluk bernyawa. Adalah karena sejarah sepanjang peradaban manusia sejak zaman para rasul terdahulu telah menjadikan kebiasaan “menggambar” yang dilakukan manusia itu pada akhirnya menjadi obyek sesembahan manusia itu sendiri yang dimanifestasikan ke dalam bentuk lukisan, patung yang kemudian di Tuhankan/disembah sembah. Maka Allah sesungguhnya memberi pesan kepada umat Islam agar tidak seperti umat umat lain terdahulu maupun kemudian. Agar Allah memurnikan umat Islam dengan membentuk umat yang berbeda dari umat lainnya, agar Allah memurnikan dan memilih umat Islam sebagai umat terbaik. Walaupun harus dipagar dengan berbagai ujian ketat, berbobot seperti ketat dan beratnya materi ujian pada lembaga yang bonafit maka akan menghasilkan siswa yang berbobot pula yang akan berbeda dengan lulusan lusan lain “yang ecek ecek”. Ingat kalian umat Islam telah  dipilih Tuhan untuk itu. Kecuali kalian tidak punya tujuan dalam hidup, sehingga merasa cukup menjadi “yang ecek ecek” sajalah, maka kita tak perlu susah payah mengikuti/menjadi peserta.

KESIMPULAN

Ini adalah hanya salah satu perkara tafsir tentang hal hal yang “HARAM” dalam syareat Islam. Masih banyak perkara perkara yang dihukumi “haram” dalam rangkaian Al-Hadits/As-Sunnah yang diterjemahkan oleh sebagian ulama, seperti diharamkannya pria memakai perhiasan, larangan wanita memakai wewangian, larangan musik, pengharaman rokok, pengharaman ini itu.

Sehingga praktis banyak perkara yang berhubungan dengan aktifitas kehidupan umat manusia menjadi timbul polemik, kebingungan maupun timbulnya gontok gontokan paham berebut benar dan sebagainya. Disamping terjadi dikalangan umat Islamnya sendiri yang lemah ilmu pengetahuannya (kalangan awam), apalagi dimata non muslim yang buta terhadap pemahaman nilai nilai Islam sehingga menjadilah asumsi/stigma bahwa menjadi orang Islam itu atau ajaran Islam itu sempit, kuno, membatasi, tak manusiawi, melanggar hak asasi manusia, merendahkan martabat wanita, agama barbar   dan segudang anggapan/stigma buruk lainnya.

Maka menjadi ranculah ketika agama Islam diperkenalkan Nabi Muhammad SAW yang katanya membawa rahmat semesta alam, yang katanya memudahkan, yang katanya membuat kesejahteraan, kedamaian, namun terkesan menjadi “ribet”…..hingga ketika umat umat non Islam bertanya, menuduh, menganggap bahwa Islam adalah agama yang berisi ajaran ajaran sesat, kuno dan sebagainya…….kita atau umat Islamnya sendiri kebingungan menjawab tuduhan tuduhan miring tentang nilai nilai Islam seperti rangkaian yang dituduhkan tersebut diatas.

taqlid buta

Maka wahai umat Islam sebangsa dan setanah air, juga wahai umat manusia, mari berpikir menggunakan logika akal pikir, menggunakan intelektualitas, menggunakan nurani, hakekat dan Al-Hikmah. Maka menjadilah insan/umat Islam yang cerdas dalam pikir maupun dalam sikap. Mari pelajari, gali dan dalami kitab sucinya sendiri masing masing dengan sebenar benar belajar dan memahami esensinya serta kebenarannya. Bukan hanya membaca doang tanpa memahami maknanya, bukan hanya menuruti buta apa kata para gurunya/ulamanya/pendetanya dan  apa kata kultur budayanya.

Bayangkan jika anda mudah taqlid buta dengan ajaran yang tak bijak dalam ilmu pengetahuan atau yang saklek dalam menterjemahkan suatu ayat atau hadits, maka anda akan menjadi olok olok zaman.

Seperti :

Kita meyakini buta sebuah pemahaman praktis tentang pengharaman “wanita yang menggunakan wangi wangian”, maka jika dipahami secara saklek, lihatlah akan ada sekelompok wanita tidak akan memakai wewangian apapun hingga tak menyadari atau mengabaikan bau badan yang tak sedap menyeruak kemana mana yang menjadikan orang orang sekelilingnya/keluarga /suami menjadi tak nyaman, Sementara ketika anda saklek anti wewangian tetapi disatu sisi anda tidak konsisten dengan pemahamannya sendiri yakni anda masih mau menggunakan “molto”, masih pakai hairspray, masih pakai sabun saat mandi….dsb….sedangkan barang barang tersebut jelas merupakan wangi wangian. Harusnya ya  konsis jangan memakai apapun yang berhubungan dengan wewangian.

Ada juga kasus dimasyarakat dimana terdapat suatu komunitas “keluarga Islam penganut fahamis” tinggal ditengah masyarakat namun saklek dengan ajaran sekte/mazabiahnya, tampak dari cirikhas berpakaian serta penampilan penampilan yang eksklusif lainnya, yaitu suatu ketika menjemur pakaian diluar dan kemudian di tinggal pergi keluar rumah. Ketika hujan hendak turun jemuran tersebut diangkat oleh tetangganya.

Ketika si pemilik pulang ke rumah mendapati jemurannya telah terangkat dari tali jemuran. Merasa sudah terkena tangan orang lain yang bukan “kelompoknya”, akhirnya jemuran yang bersih itu dicuci kembali. Melihat kenyataan itu jadilah tetangganya kesal, “sudah ditolong tapi menganggap kita orang najis”. Maka hal hal yang demikian akan menjadi masalah sebab kita dalam beragama kadang tidak arif, kadang kita begitu taqlid buta dengan mazab hingga kadang tak menyadari telah menuhankan dalil.

Sobat, didunia ini hanya ada dua keadaan tentang hasil akhir manusia dalam meyakini/mengaplikasikan suatu ajaran nilai nilai ilmu pengetahuan/agama Islam. Kita  menjadi salah,  keliru atau sesat dalam beragama setelah mendapatkan pengajaran dari guru, yakni : Gurunya yang salah mengajar atau mengajarkan pemahaman yang salah  atau murindnya yang salah dalam menerjemahkan/memahami suatu pengajaran.

Sebab guru yang baik, bijak dan luas ilmu pengetahuannya,  maka akan menghasilkan murid yang berkualitas baik (berwawasan luas)  pula.

Semoga menjadi renungan kita semua,

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Bukit Cibeureum, 9 September 2015.

CopyRights@2015.

Reff:

-HR. Al-Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109

-HR. Al-Bukhari no. 5961 dan Muslim no. 5535

-http://al-atsariyyah.com/hukum-menggambar-dalam-islam.html

-Makalah Risalatul Islam, Syaikh Dr. Zakir Naik

Al-Qur’anul Karim Terjemah DEPAG RI

**MENGATASI VIRUS TAG PORNO DI DINDING FACEBOOK ANDA**

VIRUS TAG PORNO DI FACEBOOK

VIRUS “dl.dropboxusercontent.com yang “ngeselin”.

Cara Mengatasi Virus Tag porno di Facebook

Mengatasi_Virus_Tag_Bokep_di_Facebook_(dl_dropboxusercontent_com)

Ketika pertama kali kita membuka akun Facebook punya sendiri, alangkah kaget bukan kepalang : Di dinding kronologi FB kita telah terpampang sebuah tautan video berkonten pornografi (bokep) dengan tajuk berbunyi :

 “ANDA TELAH MEMBAGI KIRIMAN VIDEO “Santri mabuk birahi….bla…bla….atau Gadis hot,….bla…bla…bla”.bersama 16 teman anda….baru saja….”

Seolah kita yang mengirim / tag ke dinding dan membaginya kepada  teman teman kita. Maka runyam kita punya urusan. Padahal kita baru On Line dan belum melakukan kegiatan/menulis status  apapun.

Sobat, bila itu terjadi atau kita alami, maka JANGAN PANIK !

ITU ADALAH VIRUS “dl.dropboxusercontent.com”, yang menempel/menyusup di browser komputer kita.

Salah satu Virus Porno dl.dropboxusercontent.com Tag Bokep menyebar di kronologi Facebook secara otomatis menggunakan situs penyimpanan data dropbox. Salah satu kata kunci tipuan dg judul yang membuat nafsyu untuk meng-klik seperti : “gadis mabuk setelah pesta”, “ini adalah bagaimana pria sejati bertindak”, “HEBOH !!! Gadis Mabuk Mencabuli Sebatang Pohon”, dsb.

Ketika komputer kita telah terkontaminasi virus ini, maka setiap kali anda On Line dengan akun FB manapun, virus ini akan beraksi. Yaitu tanpa kita menulis apapun, tiba tiba ada tag porno muncul seolah kita yang melakukan/mengirimnya, padahal bukan. Nah ketika yang lain ikut meng-klik, maka saat itu juga virus telah menular.

PENYEBAB :

  1. Meng-klik tag berkonten porno tersebut di dinding teman karena penasaran
  2. Main FB / Browsing di Warnet yang telah terkena virus tersebut.
  3. Browsing sendiri kemana mana dengan sengaja/tidak membuka buka situs porno atau karena terjebak link link yang merajalela di internet.
  4. Membuka email spam yang berisi link link semacam / yang tak dikenal.

Kabar yang demikian juga dipublikasikan oleh situs berita detik.com, diposting Senin, 08/12/2014 13:34 WIB – dengan judul Jebakan ‘Gadis Mabuk Setelah Pesata’ di Facebook. Ikut prihatin dengan situasi ini, maka saya berbagi untuk anda untuk mengatasi virus ini agar tidak semakin meresahkan warga facebook khususnya dan tuk sobat nusantara semua.

Silahkan perhatikan langkah langkahnya dan ikuti petunjuknya.

CARA MENGATASI CUKUP MUDAH :

Cara Mengatasi Virus Tag porno di Facebook

LANGKAH I :

Bagi yang belum mengalami.

PENGAMANAN PREFENTIF PADA AKUN FACEBOOK ANDA

  1. Masuk Facebook – Log Aktivitas – Cek Tinjuan Tanda dan Kiriman Anda. Cara ini untuk mengetahui tanda terbaru dan kiriman terbaru yang ada, Kalau ada tag atau kiriman mencurigakan langsung hapus. Perhatikan gambar berikut (Klik gambar untuk perbesar)
  1. Setting tinjauan tanda menjadi menyala, agar ketiap ada yang menandai harus melewati persetujuan terlebih dahulu sebelum tampil ke kronologi. Perhatikan gambar berikut
  2. Jangan klik tautan ‘jebakan’ di kronologi teman anda. Sebab itu adalah awal virus akan masuk. Kalau sudah terlanjur perhatikan tips selanjutnya.

    tutorial_1_1 

LANGKAH II :
Untuk korban / yang telah terkena virus

  1. Logg Out dari semua akun yang telah dibuka ( catatan : pastikan langkah I telah anda lakukan).
  2. Cek add ons – plugins firefox (untuk pengguna firefox) perhatikan sudut kanan atas halaman (firefox terbaru).

Kalau ada plugins serupa ( Terpampang “OPEN H264 VIDEO CODEC Provider By Cisco System,Inc.) – pilih – never aktivate – selesai.
Alasan mengapa harus meng- off kan plugins adalah pembuat bukan dari pihak firefox dan, seperti kutipan berikut dari detik.com :

“situs palsu ini akan meminta korban untuk menginstal sejenis codec jika ingin melihat video menggoda di awal jebakan. Padahal yang diinstal adalah malware dan bukan codec.”
Selanjutnya ingat ! jangan pernah buka kronologi orang yang menyimpan tautan jebakan pada kronologinya, kalau itu dilakukan peluang virus kembali masuk ke kronologi anda sangat besar. Kesimpulan tentang virus ini adalah virus jebakan masal itu sejenis malware disimpan melalui script menggunakan program online open source seperti add ons untuk melancarkan tujuannya.

LANGKAH PUNGKASAN :

  1. Hapus seluruh history perjalanan browsing anda, Tool – history – pilih remove/clear everythink.
  2. Install ulang aplikasi peramban anda di program PC anda. Masuk ke Control Panel – Uninstall Program – pilih program peramban lama yang ter- install – Klik kanan pilih Remove/Uninstall. Selesai.
  3. Install ulang peramban yang baru

 

Pesan / Saran :

Jangan sembarangan membuka situs situs porno tanpa mengetahui ilmunya atau tanpa mengetahui cara browsing aman. Atau tak usah buka buka link porno samasekali, lebih baik dikamar saja bersama istri yang suruh berpose hot / hardcore, atau apa saja didepan kita.

Semoga bermanfaat!

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Bekasi Timur, 3 September 2015,

CopyRights@2015,

Reff:

-http://weblogprogram.blogspot.com/2014/12/mengatasi-virus-tag-bokep-di-facebook.html

**TERTIPU DI DUNIA, TERTIPU JUGA DI AKHERAT**

**TERTIPU DI DUNIA, TERTIPU JUGA DI AKHERAT**

SEBUAH RENUNGAN PENUH HIKMAH

DARI KISAH PERJALANAN MANUSIA DI AKHERAT

PETAKA 1000 CAMBUK API ANGIN

   Saat menyadari kita menjadi ikut tersangkut dan terlibat dalam kasus kriminal gara gara kita mengikuti ajakan/bujuk rayu orang lain, sehingga diri kita ikut kena dampak hukum, maka betapa dongkolnya dan sakit hati ini. Bahkan bersumpah serapah penuh dendam kesumat, jika ketemu dengan orangnya, ingin langsung menghajarnya dengan tendangan bertubi tubi serta menginjak injaknya di tanah.

INJEK INJEK

   Bahkan tatkala otak pelaku telah diamankan Polisi, kita masih beringas dan berteriak pada sang Polisi untuk menyerahkan orang yang menjerumuskan kita itu, dengan berteriak :

“Udah lepasin aja Pak Polisi kasih ke kita, biar kita injek injek aja tuh orang, klo perlu mampusin sekalian…! gara gara die, saya jadi kena getahnya, gara gara die, saya jadi ikut sengsara”.

   Ini adalah potret dalam kehidupan sehari hari yang sering terjadi disekeliling kita. Banyak penjahat, penipu dan penyesat, yang suka mengiming ngimingi dan membujuk rayu kita untuk mengikuti jalannya, sehingga tanpa disadari pada akhirnya kita menjadi ikut bernasib buruk terkena dampaknya.

   Hanya bedanya jika urusan dunia, maka ada batas masanya. Atau mengalami kesengsaraan/kerugian tidak berlangsung selamanya lamanya. Bahkan dapat diselesaikan dengan ganti rugi atau berbagai cara.

   Tetapi tidak untuk di negeri akherat. Saat kita terjerumus dalam kesesatan dan perbuatan kedzaliman gara gara mengikuti ajakan penyesat atau menjadi pengikut golongan sesat sewaktu di dunia, sehingga kita ikut mendapat siksaan menghinakan di Jahannam, maka rasa penyesalan, rasa kedongkolan hati kita hanya akan tercekat ditenggorokan, tak berguna, tak berampun, tak ada tebusan dan tak ada tempat berlari/bersembunyi. (NO MERCY, NO ESCAPE).

   Persis sama dengan peristiwa didunia, maka diakheratpun saat itu kita bersumpah serapah, ingin menghajar orang yang telah membuat kita menjadi sesat, dzalim, kafir dan musyrik, sehingga kita termasuk yang diseret dan disiksa dalam neraka. Bahkan ketika penyesat itu ada dalam genggaman petugas Neraka Jahannam, kita beramai ramai mendatangi Malaikat penjaga itu dan memintanya untuk menyerahkan pelakunya supaya bertanggung jawab dan sekalian menghajarnya.

Peristiwa ini terekam dan diabadikan dalam Al-Qur’an :

“Dan orang-orang kafir berkata (di hari kiamat), `Wahai Rabb kami, tunjukkanlah (untuk diserahkan) kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami, baik dari jin maupun manusia, agar kami letakkan keduanya di bawah telapak-telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang rendah/hina.” (QS.41. Fushshilat:29).

Siapa yang dimaksud ,“dua jenis orang yang telah menyesatkan kami” ?

Yang satu adalah Iblis pembujuk/pembisik (syetan Jin) dan satunya lagi adalah orang / pemimpin disekeliling kita yang kita ikuti namun ternyata menjerumuskan/mengajak kita pada kekufuran (syetan jenis manusia).

Apakah iblis yang membujuk rayu kita itu bertanggung jawab diakherat tersebut? Tentu tidak, sebab Iblis malah menyalahkan diri kita sendiri dengan berujar,

“Lah, salah lu sendiri napa mau ngikutin ajakan gue, sumpahin aja diri lu sendiri ?”

(Diabadikan dalam Al-Qur’an, QS.14.Ibrahim:22).

Diiringi rasa kesal dan dongkol teramat sangat, kemudian diri kita segera mencari lagi satu orang yang dulu menjadi pemimpin yang mengajak kita ke dalam kekufuran untuk minta pertanggungjawaban kepadanya. Akhirnya setelah bertemu, terjadi percekcokan/bantah bantahan, ternyata jawabannya lebih “ngeselin” lagi, yaitu :

“Salah lu sendiri napa bego, Tong? Lah gue sendiri aja kaga slamet. Sorry gue ga bisa nolong lu, lagian lu juga kaga bisa nolongin gue.”

(Transkrip asli diabadikan dalam Al-Qur’an, QS.40.Al-Mu’min: 47-48)

Ketika rasa frustasi teramat sangat telah menghantui kita, akhirrnya kita memelas dihadapan petugas Jahannam,

“Ya, Malik. Tolonglah kami, hentikan siksaan ini barang sehari saja?”

Dijawab oleh Opsir Neraka :

“Bukannya dulu udah didatengin Rasul Rasul ngingetin kalian?”

“Iya”. Tukas kami getir.

“Kalo begitu, berdo’a aja kalian sama Allah !”

Jawab petugas neraka dengan angkuh dan garang seraya tangannya melepaskan 1000 cambuk logam api angin ke arah kita hingga diiringi suara lecutan yang menggelegar dahsyat memuncratkan bunga api yang bertebaran membakar kulit daging kami hingga hangus kering, untuk kemudian pulih lagi seperti sediakala.

(Transkrip asli Diabadikan dalam Al-Qur’an, QS.40.Al-Mu’min: 49-50 dan QS.22.Al-Hajj:21).

Tak tahan dengan adzab yang bertubi tubi ini, semua orang berlari tunggang langgang menjauh dari petugas Jahannam itu diiringi jeritan dan lolongan panjang menyayat pedih, seraya berseru,

“Hai, Malik. Lebih baek matiin aja kami daripada begini.”

“Tidak, kalian tetep tinggal disinih !”

   Jawab Malaikat Malik membahana dan sekelebat bayangannya yang secepat kilat itu tiba tiba telah muncul di hadapan kita kembali, mencegat dengan muka berapi api, seraya memperlihatkan pemandangan teror yang lebih mengerikan lagi, yaitu orang yang dulu sebagai pemimpin penyesat manusia, terlihat diseret kasar kemudian dilempar keras ke tanah kerontang yang mengeluarkan uap panas dan saat orang itu belum sempat bangun, si penjaga neraka langsung melemparkan selimut api yang berkobar kobar ke tubuhnya dan seketika itu tubuhnya hangus terbakar diiringi teriakan menyayat memohon ampun agar apinya dipadamkan. Dan saat itu juga sang penjaga neraka menyiramkan air diatas kepala orang itu, namun bukannya api menjadi padam bahkan tubuhnya meleleh hancur hingga perut perutnya, sebab ternyata air yang disiramkan adalah air sangat panas yang baru mendidih level 70.000 derajat.

syt5

(Peristiwa ini terabadikan dalam Al-Qur’an, dan terangkai bagai Roll slideshow pita magnetik film, yakni pada QS.43.Az-Zukhruuf: 77 dan QS.7.Al-A’raaf:38 dan QS.22.Al-Hajj: 19-20) dan lainnya.

—————-0o—————-

Seluruh peristiwa yang akan terjadi dimasa depan nanti itu merupakan salah satu jabaran dari ribuan jabaran ayat Al-Qur’an, (QS.36.Yaasiin:58-59)

Menyusul adanya peristiwa sambutan di gerbang Planet Daar Es-Salm setelah golongan mukmin yang selamat dievakuasi dari lembah penantian Planet Mahsyaar, dimana Allah Subhanahu Wata’ala mengucapkan qalam selamat datangnya yang terkenal dengan :

“Salamun’qauwlam MinRabbirRahim, Wamtazul Yauma Ayyuhal Mujrimun …….”

(Salam keselamatan dari Yang Maha Kasih, yang senantiasa menaungi golongan mukmin-muslim, dan Selamat jalan wahai para penjahat).

Semoga menjadi renungan kita semua

Salam Cahaya-Nya,
Kelana Delapan Penjuru Angin,
Lembah Tenggilis-Bekasi, 9 Maret 2015,
CopyRights@2015.

Reff:
-Adz Dzikru As-Salam : K.H. M. Syamsuddin – Prembun – Jawa Tengah
-Al-Qur’anul Karim : Tarjamah DEPAG RI
https://chairurrijal.wordpress.com
-Daqoiqul Akhbar

**DEMI MASA,UMUR MANUSIA HIDUP DI DUNIA RATA RATA HANYA 1 s/d 1.5 JAM SAJA**

DIMENSI RUANG DAN WAKTU ALAM SEMESTA YANG BERBEDA
SATU HARI AKHERAT EQUIVALENT DENGAN 1000 TAHUN MASA BUMI
DAN BOLEH JADI, SISA UMUR DUNIA INI TAK LEBIH DARI HITUNGAN 1/2 – 1 HARI SAJA
SURAT AL-ASHR : 1-3 BER-GENRE LAMPAU TETAPI BERPLAT FORM UNIVERSAL FUTURISTIC.

1400 tahunan silam, ketika ayat ini turun, dan dibacakan oleh Nabi Muhammad dihadapan publik.

Al-ashr

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS.103.Al-Ashr: 1-3).

Adalah kebiasaan bangsa arab di waktu sore hari, mereka sering duduk duduk tanpa manfaat dan tanpa ada aktifitas, tanpa mengingat akan adanya keberadaan Tuhan, tanpa berpikir adanya kehidupan akherat. Mereka hanya berleha leha, bersantai santai, sambil mengobrol dan bergosip tentang urusan dunia, tentang kemegahan, kedudukan, kekayaan dan kemewahan hidup. Yang tak jarang mengakibatkan pertengkaran, muncul rasa iri dan permusuhan diantara mereka. Hingga tak menyadari waktu terus berjalan, tak menyadari hari memasuki rembang petang dan kemudian dengan cepat kegelapan malampun menyelimuti bumi. Mereka tak puas dengan waktu. Merasa kurang, merasa obrolannya belum tuntas, mereka lama lama menyalahkan waktu.
(Reff: Asbabunnuzul – Syekh Muhammad Abduh).

Kemudian, ketika Nabi Muhammad menghampiri mereka dan membacakan surat Al-Ashr tersebut ke hadapan mereka, bukannya mereka sadar akan kekeliruannya justru mereka kesal dan mencemooh Nabi SAW, menganggap sebagai pengganggu saja. Kini, sikap manusia modern saat ini sepertinya tak berbeda jauh dengan sikap sikap umat jahiliyyah 1400 tahunan lalu, hanya beda bentuk dan kondisi, yaitu Larut oleh kerepotan hidup dan kesibukan urusan duniawi, melupakan pengabdian dan ibadah kepada-Nya.

Surat Al-Ashr sepertinya hanya dipandang/dimaknai secara lahiriyah saja oleh kebanyakan umat, yakni asal sekadar berbuat kebaikan, asal ibadah, asal sekadar mengingatkan. Setelah itu cukup terhenti dibatas itu saja. Hari hari lain lalai lagi dan berbuat dosa lagi. Saling sengketa lagi, saling sikut sikutan lagi, saling korupsi lagi, saling iri dan dengki lagi, saling zalim menzalimi dan sebagainya.

Sobat fillah, mari kita renungi lebih jauh hakekat surat Al-Ashr ini. Sebagaimana dengan surat surat dan ayat ayat dalam Al-Qur’an lainnya, maka tidak hanya cukup di maknai secara harafiahnya saja melainkan sangat luas dan padat dengan berbagai makna dan hakekat. Demikian juga dengan kedalaman surat AL-Ashr ini.
Redaksi surat Al-Ashr ini ber-genre lampau tetapi berplat form universal futuristic. Artinya, telah terjadi dan pasti akan terjadi (menemui /menyaksikan keadaan itu sepanjang zaman hingga di hari masa depan nanti). Sedangkan dari plat form (kerangka) universal futuristic maknanya bahwa ayat ayat dalam Al-ashr ini berkaitan dengan dimensi ruang dan waktu atas alam kehidupan semesta (universal) yang berbeda tetapi bagi makhluk kehidupan ciptaan-Nya, bertahap akan memasuki (bertransformasi) ke arah sana (the future).

Itulah mengapa surat Al-Ashr ini tidak dimulai dengan ayat : “Alladzina amanu…” (kepada orang orang yang beriman…)”, tetapi dimulai dengan redaksi, “Wal ‘Ashri…” (demi masa). Yang maknanya adalah bahwa dimensi ruang dan waktu alam kehidupan semesta ini telah dalam genggaman-Nya, telah di hitung-Nya, telah ditetapkan-Nya dan seluruh makhluk pasti akan menemui serta mengalami kejadiannya dimasa depan nanti.
Sebab Allah telah mengetahui keadaan demikian, maka Dia mengingatkan kepada manusia manusia yang masih tersisa diakhir zaman ini agar jangan mengalami nasib naas seperti umat umat terdahulu. Dan dalam memberi peringatan itu, Allah tidak langsung berkata kata dengan manusia secara langsung sebab tidak mungkin benda saling berbicara dengan bayangan didalam cermin dan adalah manusia itu hanyalah merupakan “bayangan-Nya”. Oleh karena itu Allah mengadakan perantara/media, yakni terakhir melalui Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya yang terakhir untuk alam semesta. Dan ketika Nabi Muhammad kini telah tiada, maka Allah masih memiliki Muhammad lain yakni : Al-Qur’an yang kemudian diestafetkan kepada para pengikut pengikut Muhammad, para pembaca qalam-Nya, para penebar kebenaran kebenaran-Nya dan para alim ulama yang kesemuanya itu merupakan Muhammad Muhammad lain dan Wali yang di hadirkan oleh Allah. Maka menjadilah kita Muhammad Muhammad-Nya. Jadi, janganlah menjadikan Muhammad itu hanya sebatas sosok, obyek pengkultusan dan bemper untuk segala argumentasi dengan serangkaian dalil manakala kita berdebat saling berebut benar. Jadi, jadikanlah Muhammad itu subyek didalam jiwa, di dalam diri kita umat, yang katanya mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW. Kemudian obyeknya adalah laku perbuatan yang bernilai Muhammad. Jangan kebalik, Muhammad hanya dijadikan obyek alasan untuk gontok gontokan mencari pembenaran. Itulah salah satu alasan mengapa sosok Nabi Muhammad SAW tidak bergambar, tidak divisualisasikan dengan lukisan ataupun foto seperti manusia manusia agung lainnya. Sebab ternyata sudah menjadi kecenderungan nafs khayal manusia, yang selalu berlebihan dalam mengagungkan benda materi hingga akhirnya lama kelamaan men-Tuhankan benda/materi, termasuk menuhankan manusia seperti umat umat yang lain. Tuhan mengetahui keadaan ini dan sejarah telah membuktikan kenyataannya. Maka demikianlah, Allah ingin mengajarkan manusia, janganlah menyembah materi tetapi sembahlah Dia saja dengan memurnikan sesembahan, dengan meniadakan tandingan, dengan melenyapkan pikiran pikiran khayal yang mengarah pada “keserupaan, kesetaraan” dan menyekutukan (Laisa kamislihi syai’uun). Maka demikianlah Muhammad itu bukanlah sosok kultus individu melainkan Muhammad adalah piagam / nilai, Muhammad adalah cahaya, Muhammad adalah kemurnian jiwa diri insan insan yang berderajat muslimin muslimat pengibar bendera kebenaran, yang  terpercaya dalam amanat dan pengkhabaran dan yang menebar kebijaksanaan (silahkan pelajari 4 piagam Muhammad: Shiddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah).

nur-muhammad

Sobat budiman Nusantara,
Hari demi hari berganti mengiringi hidup dan kehidupan kita. Hidup ini bagai roda pedati, tak pernah lesu dan terhenti. Merangkak berjalan tertatih dan menyebar dimuka bumi, beredar berkeliling bersama lintas edar mentari. Dari sejak kita dibuaian hingga diatas keranda berjalan saat datang kematian. Senyum, tangis, suka, duka mewarnai hari hari kita. Dan saat hadir senyum dan suka ria mencumbui kita, maka kita ingin hidup 1000 tahun lamanya. Namun saat kita frustasi kehilangan asa, serasa kita ingin memecat nyawa saat ini juga.

rumah dibakar

Kadang kita merasa begitu lama hidup di dunia, sejak kita dilahirkan hingga saat ini atau sampai tua nanti. Dan kadang kita merasa bahwa dunia ini sudah ada sejak lama dan manusia sudah ada sejak zaman purba hingga masa modern kini dan merasa kehidupan ini masih akan berlangsung lama.
Sehingga sepertinya manusia masih merasa memiliki waktu yang lama untuk berbuat kejahatan terhadap lainnya. Dan sementara sebagian manusia merasa kesal dengan kejahatan yang dilakukan manusia lain tanpa bisa berbuat apa apa. Dan bagi sebagian orang tertentu, kadang jengkel dengan kesombongan dan keangkuhan manusia lainnya, berharap mengapa tak binasa saja, namun malah umurnya panjang dan kian merajalela. Kadang hati ini rasanya sakit, pedih, kecewa (sakitnya ku di sini….).
Tapi, tenang. Jangan khawatir dan janganlah kita merasa putus asa. Masih ada Yang Maha Adil., masih ada Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Masih ada Yang Maha berhitung dan masih ada Yang Maha Pembalas, Ada Tuhan Rabb Semesta Alam, Sang Maha Raja Diraja, Sang Penguasa, yang telah bersumpah :

“Wal ‘ashri…….wal ‘ashri !” (demi masa…demi masa)

Yang akan mengadili setiap kejahatan dan kebaikan. Yang akan mengasihi dan menyayangi hamba hamba-Nya yang berlaku kasih dan sayang. Yang akan memperhitungkan setiap nafas langkah dan perbuatan makhluknya. Dan yang akan membalaskan orang orang yang telah membuat rasa sakit, pedih dan kecewa kita. Oleh sebab itu ketahuilah rahasianya, mengapa Allah bersumpah demi masa ? Sebab sesungguhnya hidup dan umur manusia serta kehidupan panggung dunia ini sesungguhnya tak berlangsung lama, hanya sebentar saja, hanya dalam hitungan jam saja. Mari kita singkap rahasia mengapa Allah bersumpah demi masa. Mari kita jabarkan teori relatifitas masa yang pernah dikemukakan oleh Albert Einstein, dan sesuai dengan surat Al-Ashr yang tersebut diatas.

Adalah :
Masa dunia dengan masa akherat berbeda jauh akibat perbedaan dimensi ruang dan waktu. Hal ini telah diinformasikan oleh Allah dengan rumusan, salah satunya sebagai berikut :

supermassive_black_hole3

*Satu hari akherat setara dengan seribu tahun waktu bumi*

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya SEHARI disisi Tuhanmu adalah seperti SERIBU TAHUN menurut perhitunganmu.” (QS.Al Hajj:47).

Dari ayat tersebut diatas, kita memperoleh suatu formula (teori relatifitas) yang dapat dianalogikan sebagai berikut :

Yaitu dikenal dengan formula 1:1000 (satu banding seribu), atau 1 hari akhirat = 1000 tahun waktu bumi .

Jika 1 hari = 24 jam, maka :
1 hari (24 Jam) akherat = 12.000 bulan waktu bumi atau 1000 tahun
½ hari (12 jam) akherat = 6.000 bulan waktu bumi atau 500 tahun
¼ hari (6 jam) akherat = 3.000 bulan waktu bumi atau 250 tahun
1/8 hari (3 jam) akherat = 1.500 bulan waktu bumi atau 125 tahun
1/16 hari (1.5 jam) akherat = 750 bulan waktu bumi atau 62.5 tahun
Maka jika :
Menurut data sensus dunia, bahwa tingkat rata rata harapan hidup manusia sekitar 62.5 – 70 tahun.
Jika dikonversi dengan masa akherat, maka :

62.5 (usia) X 12 bulan = 750 bulan atau 22.500 hari atau 540.000 jam,
= 540.000 : 22.500 = 24
= 24 : 16 = 1.5
Atau = 1/16 hari masa akherat.
(ternyata Al-Qur’an itu matematik loh).

Artinya, jika tingkat rata rata harapan hidup manusia sekitar 62.5 – 70 tahun, maka lamanya hidup manusia di dunia ini menurut waktu langit hanya dalam waktu 1,5 jam s/d 1.7 jam saja !

Baik, sampai di sini cobalah renung dulu sejenak, jangan melanjutkan membaca. Kemudian cobalah buka lembar Al-Qur’an dan coba renungi kembali hakekat surat Al-Ashr dalam dalam, kemudian tengok surat QS. 23.Al-Mu’minuun:114.

Maka artinya, hidup manusia di dunia ini oleh Allah, hanya diberi waktu cuma 1.5 jam saja. Ini baru pada perhitungan surat Al-Ashr, belum jika di konvert dengan teori masa pada dimensi ruang dan waktu menurut planet akherat yang lainnya, seperti dalam formula surat : QS.70.Al-Ma’aarij :4, yang kadar masanya lebih jauh lagi yakni 1 hari sama dengan 50.000 tahun.

Maka, pantas tidak jika Allah menurunkan ayat tersebut? Maka patut tidak jika Nabi Muhammad SAW selalu mengingatkan kepada kita akan masalah waktu?

Pantesan kita di ingatkan dengan seruan :
“WAL ‘ASHRI….WAL ‘ASHRI…..”
(Demi waktu….demi waktu !)

188275_439978499405755_877269751_n

*Sebab ternyata hanya dengan 1.5 jam saja kehidupan abadi kita ditentukan, hendak di Surga atau Neraka. (QS 98:8 , 41:28 ).

* Sebab ternyata hanya 1.5 jam saja cobaan, ujian hidup, tangis kepedihan, kesengsaraan dan kesulitan berlangsung. Pantesan Allah selalu mewanti wanti kita untuk tetap dalam sabar. (QS 74:7, 52:48 , 39:10).

* Ternyata hanya 1.5 jam saja kita disuruh menahan nafsu amarah, lawammah dan mengganti dengan pedoman-Nya (QS 12:53 , 33:38).

*Ternyata hanya memerlukan waktu 1.5 jam saja untuk menjalani sebuah perjuangan yang teramat singkat dalam menghadapi kehidupan dan problematika. Dan Allah SWT akan mengganti dengan Ridho-Nya. (QS 9:72, 98:8, 4:114).

*Dan hanya 1.5 jam, perjuangan untuk mencari bekal perjalanan panjang menuju kemenangan nanti. (QS 59:18, 42:20, 3:148, 28:77).

Maka sebagaimana hanya dalam waktu 1.5 jam saja kita disuruh untuk berbuat bakti, beribadah mengabdi kepada Tuhannya, maka hanya selama 1.5 jam sajalah manusia diberi kebebasan untuk bergelimang dalam perbuatan dosa dan kesesatan. Maka, pantaslah Tuhan menyebut bahwa banyak manusia yang merugi karena itu. (QS.103.Al-Ashr:2).

Kemudian, Tuhan menekankan lagi :

“Kamu tidak tinggal ( dibumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui” . (QS 23:114)

Dan manusia benar benar mengetahui dan membuktikan hal ini setelah matinya, setelah berbaring di liang lahat, setelah sanak familinya menaburkan kembang kenanga kemudian menangis tersedu di hadapan batu nisan yang bertuliskan :

*Herdo Subroto*
Lahir : 12 Februari 1980
Wafat : 13 Maret 2014
——-0o0——–

RIP

Sobat budiman, segeralah secepat mungkin menengok kembali peta perjalanan kita dalam menuju kepada-Nya. Mumpung masih diberi waktu, selagi masih dapat, selagi masih diberi kesempatan…….Berbuatlah manfaat, tolong menolonglah dalam kebaikan.

Maka segeralah secepat mungkin tinggalkan kesombongan, sok sok-an, keangkuhan, kekikiran, keangkara murkaan, kejahatan, kekafiran dan kesesatan. Sebelum onggokan daging terbenam dalam lumpur tanah, membusuk dalam kesendirian, dalam nestapa dan dalam kegelapan di bumi liang lahat. Bersama larva larva yang berpesta pora, bersama cacing cacing pengurai jasad.

Inilah salah satu makna dari ribuan makna ayat-Nya dalam Al-Ashr : 1-3.

Semoga menjadi renungan,
Salam 1.5 jam saja,

Kelana Delapan Penjuru Angin,
Lembah Sumur Batu Keramat – Bekasi Timur, 31 Januari 2015.
CopyRights@2015.

Reff:

-Asbabunnuzul-Sheikh Muhammad Abduh
-K.H. M.Syamsuddin – Pantai Selatan – Jawa Tengah
-Abah Sang Pencerah-Kota Tegal & Cilacap
-Al-Qur’an terjemahan DEPAG RI
–Tauziahti Umi Sharifah Khasanah Mukim-Queen Al-Iraqi
-Haqeqatul ‘ilmi al-Jama’atul tareqatul Qadariyyati wan Naqsabandiyati was Shatariyyah

** ALLAH, RABB,ILAAH dan TUHAN **

MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “HU” (Dia –laki laki), DALAM AL-QUR’AN ?

KONTROVERSI PENYEBUTAN “TUHAN”,DAN ASAL USULNYA.

HARAM DAN MURTADKAH MENYEBUT ALLAH DENGAN TUHAN, GUSTI, PENGERAN ?

SIAPA ALLAH, SIAPA HU, SIAPA RABB, SIAPA ILAAH, SIAPA TUHAN, SIAPA GUSTI, PENGERAN ?

SEBUAH RISALAH JAWABAN BUAT ORANG YANG TANPA ILMU PENGETAHUAN, MELEMPARKAN TUDUHAN TERHADAP “ALLAH”, SEBAGAI TUHAN BERHALA BANGSA ARAB,BABYLON.

sujud

SESEMBAHAN MANUSIA

Disadari atau tidak disadari,manusia akan merindukan Sang Pencipta dan Pelindungnya (QS.39:08 , 49).Fitrah diri manusia bersuara menjerit memanggil manggil Rabb nya manakala manusia itu tengah menghadapi malapetaka,bahaya maupun kesulitan dahsyat.Saat itu manusia tunduk,tawaqqal dan lemah dihadapan-Nya.(QS.31:32 , QS.17:66-69).

Mengapa manusia mencari dan menyembah Tuhan?

Umat Islam menyembah Allah,umat Kristen menyembah Tuhan Yesus,umat Hindhu menyembah para Dewa,umat Budha menyembah Sang Budha, Umat Tiongkok menyembah Tian,umat Hindhu menyembah para Dewa,dan sebagainya.Sepertinya Tuhan itu berjumlah banyak,sebab masing masing umat memiliki Tuhan.Demikiankah?

KONTROVERSI PENYEBUTAN “TUHAN”.

Dari aspek aqidah, bagi umat Islam yang telah beriman, mengakui adanya tuhan-tuhan selain Allah adalah sebuah kemusyrikan dan dosa tak berampun,sebab Ketauhidan sudah menjadi logika agama terunggul.(untuk PEMAHAMAN AQIDAH), Silahkan pahami pada link :

https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/09/03/mutaqod-50-64-doktrin-tauhid-dasar/

Lalu, mengapa di dalam Al-Qur’an Tarjamah Tafsiriyah ,Al-Qur’an terjemahan DEPAG RI,kata “Ilaahun” dan “Rabbun” diterjemahkan sebagai ‘tuhan’?
Apa bedanya dengan terjemah harafiah tradisional yang juga menerjemahkan istilah yang sama dengan arti yang sama pula? Contoh dalam budaya pesantren dan masyarakat Islam di Jawa menggunakan kata “GUSTI , PENGERAN” untuk kata ganti Tuhan.
Kemudian bukankah kosakata “Tuhan” masuk ke dalam bahasa Indonesia, akibat pengaruh teologi yang dibawa oleh kaum kolonial ? Jika demikian apakah sebaiknya kata ‘ilaahun‘ dan‘rabbun’ tidak perlu diterjemahkan sebagai tuhan, biarkan saja dalam bahasa aslinya ?

Pertanyaan semacam ini sering mengemuka dikalangan umat Islam pada umumnya,dan juga dari para pembaca kritis Al-Qur’an terjemahan, termasuk para tokoh dan aktivis Islam.Bahkan yang mengherankan ada juga orang yang mencantumkan gelar ustadz mempersoalkan istilah ini. Sepertinya merasa anti dan alergi menggunakan kata “Tuhan, Gusti, Pengeran ”, yang dianggap melenceng dari aqidah dan berasal dari doktrin non Islam.

HARAM DAN MURTADKAH MENYEBUT ALLAH DENGAN TUHAN ?

tuhan utk semua

Mengganti lafaz Allah dengan Tuhan jelas itu sebuah kejahatan serius,sebab disamping perbuatan kemusyrikan,juga “GHADAB” (perbuatan golongan orang orang yang dimurkai Allah).Tetapi bagaimana jika kita menyebut Allah dengan kata ganti lain ? Seperti kadang dalam menulis atau saat sedang berucap dan berdo’a, kita tidak menggunakan kata Allah tetapi dengan kata “TUHAN” , ”GUSTI” dan atau “PENGERAN”, Apakah termasuk perbuatan kemusyrikan dan ghadab ? Maka dalam perkara ini seyogyanya setiap muslim tidak asal mengharamkan atau meng-kafirkan sesama Islam,jika kita belum memahami segala sesuatunya dengan ilmu pengetahuan.

Maka sobat budiman,mari kita mencari tahu ilmu pengetahuannya pada risalah yang saya rangkum selanjutnya ini,agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang orang yang asal (asal bicara, asal nulis, asal berdakwah). Malulah kita apalagi kadang kita saksikan sesama teman muslim adu otot berebut benar pendapatnya masing masing,saling benci membenci hanya gara gara mempertahankan perkara yang kita tidak memiliki ilmu pengetahuannya atau kurang,tetapi hanya didasarkan atas “perasaan” .
(merasa apa yang telah diajarkan gurunya paling benar,merasa cukup dari membaca buku sudah paling benar,dsb).

Nah,lebih runyam lagi ketika kita mendapat pertanyaan miring tentang agama Islam,tentang makna ayat ayat Al-Qur’an, dari orang yang non muslim yang tiada pengetahuannya tentang ke-Islaman, sementara kita kebingungan menjawabnya.Ujung ujungnya hanya bisa dongkol,sakit hati dan balas memaki atau menghina.

SIAPA TUHAN, SIAPA ILLAH, SIAPA RABB, SIAPA GUSTI, PENGERAN ?

kaligrafi Alloh

Tuhan ya Allah,Illah ya Allah,Rabb ya Allah,Gusti,Pengeran ya Allah.Maka :

“Serulah Allah atau serulah Yang Maha Pengasih (ar-Rahman) Dengan nama apa saja kamu menyeru Dia; maka Dia memiliki nama-nama yang indah (asma-ul-husna)” – Qs. 17 al-Israa’ : 110

*Dari ayat diatas, jelas bahwa al-Qur’an memperkenalkan Tuhan yang universal, serulah Tuhan dengan nama apapun yang baik dan indah serta tentunya tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan sifat-sifat kemuliaan-Nya.

Sebab suatu hal yang pasti adalah bahwa bahasa Arab bukan satu-satunya bahasa yang ada ditengah masyarakat dunia. Oleh karena itu secara logika, keberagaman penyebutan terhadap Tuhan tidak dapat dihindari. Bangsa Afrika Selatan (Zulu) menyebut Tuhan dengan nama uMVELINQANGI, umat India mengenal istilah PRAMATMA, Bangsa Aborigin di Australia Selatan memanggil Tuhannya dengan istilah ATMATU,bangsa Jepang mengistilahkan Tuhannya “KAMI”, dan sebagainya.

(see at : Ahmed Deedat, Allah dalam dalam Yahudi, Masehi, Islam, terj.H. Salim Basyarahil, H. Mul Renreng, Penerbit Gema Insani Press, Jakarta, 1994, hal. 21-28).

Seorang ahli tafsir Al-Qur’an dari Indonesia, M. Quraish Shihab menyatakan bahwa wahyu-wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad juga tidak mempergunakan istilah Allah untuk kata ganti Tuhan melainkan memakai istilah Rabbuka dan baru pada wahyu ke-7 yaitu surah ke-87 istilah Allah diperkenalkan kedalam al-Qur’an.

(see at : Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A. Wawasan Al-Quran : Tafsir Maudhu’I atas pelbagai persoalan umat, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, dalam Catatan kaki hal. 23-24).

Kata Allah sendiri terbentuk dari kata AL dan iLah.
(see at : Abu Iman ‘Abd ar-Rahman Robert Squires, http://www.muslim-answers.org/allah.htm, dalam “Who is ALLAH”) ,

Dimana kata AL sama seperti penggunaan kata THE dalam bahasa Inggris, yaitu sebagai kata sandang atau penegasan tertentu. Sementara kata iLah memiliki arti Tuhan. Sehingga istilah Allah berarti Tuhan yang satu itu.
Dan konsep ini sesuai dengan pengajaran para Nabi :

“Dialah Allah yang Satu Tempat semuanya bergantung ;Tidak pernah Dia beranak dan tidak pula pernah Dia diperanakkan Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya .”– Qs. 112 al-Ikhlas : 1 – 4

Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa. – Perjanjian Baru : Injil Markus 12:29

Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia – Perjanjian Lama : Kitab Ulangan 4:35

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa – Perjanjian Lama : Kitab Ulangan 6:4

Dengan demikian maka perbedaan yang terjadi dalam menyebut Allah,akibat pengaruh bahasa masing masing umat dunia yang beragam,jadi janganlah membuat kita menjadi umat Islam yang sempit pemahaman.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal .”– Qs. 49 al-hujuraat : 13

Allah telah memilih umat Islam sebagai umat yang terbaik, maka buktikan kepada umat lainnya bahwa umat Islam memang umat yang cerdas,berpengetahuan luas, menyebarkan perdamaian, menjadi rahmat untuk semua alam.(Qs. 3 ali Imron : 110– Qs. 2 al-Baqarah : 143 – Qs. 5 al-Maidah : 8).

ASAL USUL KATA “TUHAN” MENJADI KOSAKATA BAKU BAHASA INDONESIA

kamus

Menurut riwayat, bahwa kosakata “Tuhan” adalah bebernama rasal dari “plesetan” kata “Tuan”, Hal ini terjadi disinyalir karena ungkapan perkataan dari seorang Belanda yang Leijdecker pada tahun 1678.Juga ditemukan dalam Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ. “Arti kata ‘Tuhan’ ada hubungannya dengan kata Melayu ‘tuan’ yang berarti atasan/penguasa/pemilik”. Keterangan ini dikaitkan dengan terjemahan Brouwerius, 1668, untuk istilah Yunani, Kyrios, sebutan bagi Isa Almasih. Maksudnya Tuan Yesus, tapi dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan, Tuhan Yesus.

Diterangkan secara lugas oleh Alif Danya Munsyi di majalah Tiara (1984).Dalam makalahnya itu, Alif menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi sebagai salah satu gejala paramasuai, yaitu penambahan bunyi ‘h’ yang nirguna pada kata-kata tertentu, misalnya embus menjadi hembus,empas menjadi hempas, asut menjadi hasut, dan tuan menjadi TUHAN.

Gejala itu timbul karena dialek tradisional yang kemudian dipengaruhi oleh dialek dialek dari bangsa kolonial yang acapkali mengucapkan bahasa bahasa setempat,namun aksennya berbeda atau berubah,sehingga kalimat yang diucapkan oleh bangsa penjajah itulah yang menjadi istilah populer dikalangan ahli kitab serta masyarakat pribumi.

Lingua Franca Melayu yang dipakai bangsa-bangsa Eropa antara lain Portugis dan Belanda sebagai bahasa administrasi untuk kegiatan ekonomi dan politik di seantero Nusantara, juga dipakai dalam kepentingan penyiaran agama Nasrani (agama umum yang dianut bangsa Eropa).Mereka (bangsa Eropa) biasa menyebut Isa dengan panggilan “TUAN”, yang dalam bahasa Yunani adalah ‘Kyrios’, dalam bahasa Portugis ‘senor’, dalam bahasa Belanda ‘heere’, dalam bahasa Perancis ‘seigneur’ dan dalam bahasa Inggris ‘lord’. Contohnya kalimat :

“The grace of or lord Jesus Christ be with your spirit”.

Ketika penghayatan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mula-mula oleh bangsa Portugis yang bernama Browerius, pada tahun 1663, sebutan Isa Al Masih masih TUAN, tetapi ketika orang Belanda yang bernama Leijdecker pada tahun 1678 menerjemahkan surat-surat Paulus itu, sebutan TUAN telah mengalami paramasuai yakni ada tambahan sisipan konsonan “H”,sehingga menjadikan penulisannyapun berubah menjadi”TUHAN”.

Selanjutnya kata Tuhan itu dibakukan sebagai kosakata baru, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta (Katolik), tanpa memberikan keterangan apapun tentang kata TUHAN. Kemudian kata “TUHAN” ini digunakan secara finish oleh para team penerjemah,untuk menterjemahkan kata “ILAAHUN” , “RABB” dalam bahasa Arab, dengan padanan kosakata “TUHAN”,hingga sekarang sebab tidak adanya padanan kata lain selain “TUHAN”.(ini yang disebut “menurut bahasa kaumnya”).
Terlepas dari parasuai dialek bahasa maka yang pasti setiap bahasa memiliki keterbatasan padanan kata dari kosa kata bahasa lain. Problem keterbatasan kosa kata ini, biasa terjadi pada setiap bahasa apapun di dunia ini. Akan tetapi, bila suatu kata dalam bahasa asing yang sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia tidak boleh diterjemahkan, niscaya akan menyulitkan pembaca yang ingin memahami maknanya.

*Upaya penerjemahan suatu bahasa ke bahasa lain, aspek intelektualitas dan budaya pengguna bahasa sangat menentukan kekayaan kosa kata suatu bahasa. Dalam kaitan ini, untuk menjelaskan kata ‘tuhan’ sebagai terjemah dari kata ‘ilaahun‘ dan ‘rabbun‘, haruslah dipahami argumentasi bangsa Arab yang menerjemahkan kata ‘tuhan’ dan ‘dewa’ sebagai ilaahun.
Sebagai contoh, kata dewa dan tuhan dalam bahasa Indonesia, terjemahan Arabnya sama, yaitu ilaahun. Padahal pengertian kata Dewa dan Tuhan dalam bahasa Indonesia sangat jauh berbeda.
Kata Tuhan pengertiannya adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb. Sedangkan kata dewa pengertiannya adalah makhluk Tuhan yang berasal dari cahaya suci kegaiban yang ditugasi mengendalikan kekuatan alam atau orang/manusia, juga berarti sesuatu yang sangat dipuja. (KBBI, 1990)

Oleh karena itu, jika kata ilaahun dan rabbun tidak diterjemahkan dengan kosakata yang populer dalam bahasa Indonesia, justru mempersulit pembaca untuk memahami kata ilaahun dan rabbun. Padahal terjemahan itu bertujuan untuk mempermudah pembaca memahami makna kalimat yang dibaca.

PRONOMINA (KATA GANTI) ‘YHWH’ DAN ‘TUHAN ALLAH’ DALAM PL/PB

Menurut New Advent Catholic Encyclopedia, Bangsa Yahudi mengenal tiga sebutan nama untuk Tuhan, yaitu El, Elohim dan Eloah, di samping nama YHWH (Tetragrammaton/ Yahweh). Perkataan Yahweh ini terdapat sekitar 6000 kali dalam Perjanjian Lama, Elohim 2570, Eloah 57 kali dan El 226 kali. Walaupun masih menjadi perdebatan para ahli Kitab Suci, dikatakan bahwa kemungkinan kata Allah berasal dari kata El ini, yang berarti Tuhan yang Mahabesar/Mahakuasa (lih. Kel 6:2) yang secara derivatif dapat pula berarti “Ia yang dikejar oleh semua orang, Ia yang menjadi tujuan semua orang, ia yang kepada-Nya semua orang mencari perlindungan dan bimbingan, Ia yang kepada-Nya seseorang mendekatkan dirinya, dst”. Diskusi argumen tentang asal usul kata ini, setuju atau tidak setuju akan makna derivatif-nya akan menghasilkan pembicaraan yang terlalu jauh.

Sedangkan nama Tuhan sebagai YHWH yang diterima oleh Musa, merupakan nama yang sangat sakral, maka menurut tradisi Yahudi, mereka dilarang menyebutkan nama YHWH tersebut. Penyebutan nama YHWH (Yahweh) hanya dilakukan setahun sekali oleh Imam Agung, yang dilakukan di Bait Allah, pada pesta Yom Kippur. Karena kesakralan kata YHWH ini, maka tak sembarang orang menyebutkannya; dan di dalam pembacaan Kitab suci, mereka mengganti kata YHWH tersebut dengan Adonai. Septuagint dan Vulgate kemudian menerjemahkan Adonai ini dengan Kyrios/ Dominus.

Paus Benediktus XVI dalam bukunya Jesus of Nazareth condong kepada hasil studi para ahli Kitab Suci yang mengatakankan bahwa pengakuan Petrus akan Yesus sebagai Mesias, Putra Allah yang hidup (Mat 16:13-15), jatuh pada peringatan hari Yom Kippur ini (lihat buku karangan Bapa Paus Benedict XVI, Jesus of Nazareth p. 306); yang menunjukkan penggenapan sebutan Allah YHWH/ Adonai ini di dalam diri Kristus Yesus.

‘Kurios’ itu adalah ‘Tuhan’ (Lord) yang diambil dari bahasa Yunani, yang merupakan bahasa penulisan kitab Perjanjian Baru. Sedangkan kata “Tuhan” (Lord) dalam Kitab Perjanjian Lama (PL) dalam bahasa Ibrani-nya adalah “Adonai”. Dalam PL, kata “Adonai” (Tuhan/ Lord) ini dipakai sebagai kata ganti bagi YHWH (Yahwe) dan digunakan bersama- sama kata “Elohim (Allah/ God)” (lih. Mzm 38:15; Mzm 8:1,9), walaupun kata “adonai” ini memang juga menggambarkan hubungan antara tuan dan hamba (lihat: Kej 24:9,20,12,14,27; Kel 21:4-6) antara suami dan istri ( Kej 18:12, Yud 19:27; Mzm 45:12).

Demikianlah contoh ayat-ayat di mana kata ‘YHWH’, ‘Tuhan’ (Lord) dan ‘Allah’ (God) digunakan untuk mengacu kepada Allah yang satu dan sama:

“Sebab kepada-Mu, ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], aku berharap; Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan [Adonai], Allahku [Elohim].” (Mzm 38:15)

“Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! …. Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! (Mzm 8:1,9).

Di kitab Perjanjian Baru, terdapat ayat-ayat, di mana kata “kurios” diterjemahkan sebagai “Tuhan” (Lord), dan mengacu kepada Allah (God), seperti halnya pada Luk 1:32; 2:9, Kis 5:19), dan kata “kurios” ini juga mengacu kepada Yesus (lih. Rom 10:9, 1Kor 12:3; Flp 2:11; Why 19:15); Kata Ibrani “Adonai” diterjemahkan di dalam Kitab Septuaginta (PL dalam bahasa Yunani) dengan kata Yunani, yaitu “Kurios” (Lord). Kata “Kurios” ini juga digunakan untuk menterjemahkan kata YHWH (God). Kata Adonai dalam Perjanjian Lama adalah kata ganti terhadap kata YHWH [Yehovah/ Yahwe], yaitu kata yang penggunaannya terbatas, oleh karena bangsa Yahudi menolak untuk mengucapkan kata tersebut karena takut menyebutkannya dengan tidak hormat, dan dengan demikian melanggar perintah Allah, “Janganlah menyebut nama Tuhan [YHWH/ Yehovah] Allah-mu [Elohim] dengan tidak hormat” (lih. Kel 20: 7).

ALLAH SENDIRI MENGGUNAKAN PENYEBUTAN “TUHAN” DAN KATA GANTI LAIN DALAM AL-QUR’AN

Alloh

I. PENGERTIAN ILAAHUN
*Kata ilaahun terdiri atas tiga huruf: hamzah, lam, ha, sebagai pecahan dari kata laha – yalihu – laihan, yang berarti Tuhan yang Mahapelindung, Mahaperkasa. Ilaahun, jamaknya Aalihatun, bentuk kata kerjanya adalah alaha, yang artinya sama dengan ‘abada, yaitu ‘mengabdi’. Dengan demikian ilaahun artinya sama dengan ma’budun, ‘yang diabdi’. Lawannya adalah ‘abdun, ‘yang mengabdi’, atau ‘hamba’, atau ‘budak’.

Selain ilaahun, dalam Al-Qur’an juga terdapat kata Rabbun yang digunakan untuk menyebut Tuhan. Kata rabbun terdiri atas dua huruf: ra dan ba, adalah pecahan dari kata tarbiyah, yang artinya Tuhan yang Mahapengasuh. Secara harfiah rabbun berarti pembimbing, atau pengendali. Selain dimaknai Allah, kata rabbun juga digunakan untuk sebutan tuhan selain Allah, seperti paragraf ayat:
“ arbaban min dunillah”, menjadikan pendeta, pastur, dan Isa Al-Masih sebagai tuhan-tuhan selain Allah.
Dalam Al-Qur’an kata ilaahun juga dipakai untuk menyebut berhala, hawa nafsu, dewa. Semua istilah tersebut dalam Al-Qur’an menggunakan kata ilaahun, jamaknya aalihatun.

1.1. Allah Swt. Menyatakan Dia sebagai ilaahun.

… إِنَّمَا ٱلله إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ سُبْحَٰنَهُۥ أَن يَكُونَ لَهُۥ وَلَدٌ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ وَكَفَىٰ بِٱللهِ وَكِيلً

“… Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Esa, Mahasuci Allah dari mem¬punyai anak. Semua yang ada di langit dan di bumi hanyalah milik-Nya. Cukuplah Allah sebagai saksi atas kebenaran keesaan-Nya.” (Qs. An-Nisaa’ 4:171)

1.2. Disisi lain Allah Swt. Menyatakan hawa nafsu yang diikuti orang kafir ,juga sebagai ilaahun.

أَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

“Wahai Muhammad, apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang ka-fir yang menuhankan hawa nafsunya? Apakah kamu punya kekuasaan untuk memberi hidayah kepada mereka?” (QS. Al-Furqan, 25: 43)

1.3. Allah Swt. Menyatakan sesembahan orang musyrik sebagai ilaahun :

… فَمَآ أَغْنَتْ عَنْهُمْ ءَالِهَتُهُمُ ٱلَّتِى يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللهِ مِن شَىْءٍۢ لَّمَّا جَآءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ

“… Maka Tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah itu tidak dapat menolong mereka sedikit pun ketika datang adzab dari Tuhanmu. Tuhan-tuhan itu justru menambah kerugian yang sangat besar.” (QS. Hud, 11: 101)

1.4. Allah Swt. Menyatakan para pendeta sebagai rabbun :

ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَٰنَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللهِ وَٱلْمَسِيحَ ٱبْنَ مَرْيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوٓا۟ إِلَٰهًا وَٰحِدًا لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Kaum Yahudi dan Nasrani telah menjadikan pendeta-pendeta mereka, pastur-pastur mereka, dan Al-Masih bin Maryam sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Padahal mereka hanya diperintah untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Allah. Mahasuci Allah dari semua keyakinan syirik yang mereka buat-buat.” (Qs. At-Taubah, 9:31)

Maka kata ilaahun dan rabbun sesungguhnya adalah bahasa asli Arab jahiliyah yang dipertahankan penggunaannya dalam Al-Qur’an, sebagaimana contoh di atas,dimaksud bahwa Allah menyesuaikan dengan pemahaman bahasa yang dimengerti kaumnya.
(Bayangkan jika Al-Qur’an tidak cerdas,bahasanya tidak difahami oleh orang Arab,tentu akan semakin diolok-olok oleh kaum jahiliyyah).

Orang-orang Arab sebelum Islam, memahami makna kata ilaahun sebagai dewa atau berhala, dan mereka gunakan dalam percakapan sehari-hari. Apabila orang Arab Jahiliyah menyebut dewa cinta, maka mereka mengatakan ilaahul hubbi, dan ilaahatul hubbi untuk menyebut dewi cinta. Kaum penyembah berhala (animisme), atau aliran kepercayaan di zaman kita sekarang, sebagaimana orang-orang Arab Jahiliyah, menganggap tuhan mereka berjenis kelamin, laki dan perempuan.

Demikian sobat, Maka sekarang bolehkah umat Islam menyebut Allah dengan nama-nama dari bahasa-bahasa non-Arab ? Secara bijaksana ,jawabnya boleh-boleh saja, toh kita di Indonesia juga menggunakan istilah Tuhan untuk menterjemahkan istilah Robb, dan itu tidak perlu dipermasalahkan.Namun yang perlu diwaspadai oleh umat Islam adalah jangan sampai terjebak pada nama-nama yang mengarah pada keberhalaan (bersifat syirik) :

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-namaNya, Kelak, mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” – Qs. 7 al-a’raaf : 180

Bagaimana sekarang ? Sudah memahami semua ini ? Sebab akupun kini telah memahami dari tulisan yang ku susun sendiri ini. Oleh karena itu, sobat budiman pembaca terjemah Al-Qur’an tidak perlu alergi terhadap kata “Tuhan” sebagai terjemahan dari kata ilaahun dan rabbun. Umat Islam yang kini sudah mengetahui ilmunya tidak perlu harus merasa khawatir luntur aqidahnya, karena ini hanya problem bahasa masing masing umat dan keterbatasan kosa kata bahasa Indonesia.

2. PENGERTIAN RABB DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH.

(Oleh Sheikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan) :

Rabb adalah bentuk mashdar, berasal dari “Rabba–Ya Rubbu”,yang berarti mengembangkan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain,sampai pada keadaan yang sempurna.

Jadi, Rabb adalah kata mashdar yang dipinjam untuk fa’il (pelaku). Kata-kata Ar-Rabb tidak disebut sendirian, kecuali untuk Allah Ta’ala yang menjamin kemaslahatan seluruh makhluk. Adapun jika diidhafahkan (ditambahkan kepada yang lain), maka hal itu bisa untuk Allah dan bisa untuk lainNya. Seperti Firman Allah Ta’ala:

“Tuhamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu,”.(QS Asy-Syuara: 26).

Dikatakan “rabbuddaari” dalam ayat tersebut berarti tuan rumah, pemilik rumah, atau pemilik kuda, dan diantaranya lagi dalah perkataan Nabi Yusuf alaihissalam yang difirmankan oleh Allah Ta’ala:

“Dan Yusuf Berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.”.(QS.Yusuf:42).

Dan Firman Allah Ta’ala:

“Raja berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang Telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha mengetahui tipu daya mereka.” (QS Yusuf: 50).

“Hai kedua penghuni penjara: “Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi Maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)”.(QS.Yusuf:41).

Rasulullah bersabda dalam hadist “unta yang hilang,”
“sampai sang pemilik menemukannya.”

Maka jelaslah bahwa kata Rabb diperuntukkan untuk Allah, jika ma’rifat dan mudhaf, sehingga kita mengatakan misalnya: “Rabbu” (Tuhan Allah), “Rabbul’alamiin” (Penguasa semesta alam), atau “Rabbunnas” (Tuhan manusia).Dan tidak diperuntukkan kepada selain Allah Ta’ala kecuali jika diidhafahkan, misalnya: “Rabbuddaar” (tuan rumah), atau “Rabbul ibiil” (pemilik unta), dan lainnya.

Makna “Rabbul’alamiin” adalah Allah Ta’ala Pencipta alam semesta, Pemilik, Pengurus, dan Pembimbing mereka dengan segala nikmatNya, serta dengan mengutus para rasulNya, menurunkan kitab-kitabNya, dan Pemberi balasan atas segala perbuatan makhlukNya.

MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “HU” (Dia Laki-Laki), DALAM AL-QUR’AN ?

Apa maksudnya ? Apakah berarti Tuhan itu lebih dari satu ? Apakah berarti bahwa tuhan itu bergender ?

Sahabat,perkara ini telah sering menjadikan perdebatan kusir diantara sesama dan bahkan telah menjadi ajang pembenaran argumentasi pihak non muslim bahwa Tuhan itu dapat bersifat plural atau dapat disetarakan dengan unsur-unsur lain.

Dan sebenarnya pertanyaan-pertanyaan ini sudah dijawab dari sejak jaman dulu oleh Ulama alim dan Ahli Tafsir,dimana para ulama dari agama lain selalu mempertanyakan,setiap kali melihat terjemahan Al-Quran semacam ini dari masa-ke-masa, MENYANGKA dan BERTANYA apakah kata “KAMI” dan “HU” (Dia Laki-Laki),dalam Al-Quran adalah “Tuhan yang dapat disetarakan dengan unsur lain,serta bergender”. Padahal dalam ayat lain Al-Qur’an sudah mengunci jawaban, yakni bahwa Allah Swt itu Tunggal .Seperti salah satunya ditegaskan dalam Surah QS.112.Al-Ikhlas:01.

Tak kenal maka tak sayang,ketidak tahuan akan membuat kita tenggelam ke dalam kebimbangan dan kegelapan alam pikir.

BERIKUT PENJABARANNYA :

Semua perkara yang tersebut diatas sesungguhnya hanya masalah tata bahasa.Di antara uslub (metode) bahasa Arab adalah bahwa seseorang dapat menyatakan tentang dirinya dengan kata ganti ‘nahnu’ (kami) untuk menunjukkan penghormatan. Atau Allah menyebut dirinya dengan dhamir (kata ganti) ‘أنا’ (saya) atau dengan kata ganti ketiga seperti : هو’ (dia).

PRONOMINA atau DHAMIR atau KATA GANTI ALLAH,RABB dan BENDA lain dalam AL-QUR’AN :

pronomina

Bahwa tata bahasa AL-QUR’AN itu berbeda jauh dengan tata bahasa bangsa manapun didunia dalam hal penjabaran pemaknaan dari sebuah kalimat maupun padanan kata.Dalam bahasa AL-QUR’AN,jika sebuah kalimat dirubah satu tanda bacanya saja akan merubah artinya,apalagi menambah/merubah satu huruf,maka akan jauh berbeda maknanya,juga padanan kata.

1. MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “AKU”

Dalam tata bahasa Arab,(GRAMMAR/NAHU SARAF), ada kata ganti (DHAMIR / PRONOMINA) pertama (singular) “AKU”,dengan kalimat :”Ana” ,Dan ada kata ganti pertama (plural) “AKU”,dengan kalimat : “Nahnu”. Akan tetapi dalam bahasa Arab, kata ganti pertama plural dapat dan sering, difungsikan sebagai singular. Hal ini disebut “Al-Mutakallim Al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”, Adalah kata ganti pertama yang memuat makna sebagai tanda “PENGHORMATAN”.

Metode ini terdapat dalam Al-Quran dan Allah Ta’ala menyampaikan kepada bangsa Arab apa yang dipahami dalam bahasa mereka”.(Fatawa Lajnah Daimah, 4/143)
Allah SWT terkadang menyebutkan dirinya dengan sighoh mufrad (sendiri) secara nampak atau mudhmar (tersembunyi). Tekadang dengan shigoh jama’. Seperti firman-Nya,

“Sesungguhnya kami telah taklukkan bagi kamu (Muhammad) dengan penaklukan yang nyata…..”.

Maka Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan nama-Nya dengan shighoh tatsniyah (bentuk dua). Karena shigoh jama’ mengandung pengagungan yang layak bagi-Nya. Terkadang menunjukkan makna nama-nama-Nya. Sementara sighoh tatsniyah (bentuk dua) menunjukkan bilangan tertentu. Dan Dia tersucikan dari itu.
(Reff:‘Al-Aqidah At-Tadmuriyah karangan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 75).

Lafaz “Inna” ( إنا)) dan “Nahnu” (نحن) atau selainnya termasuk bentuk jamak, tapi dapat diucapkan untuk menunjukkan seseorang yang mewakili kelompoknya, atau dapat pula disampaikan mewakili seseorang yang nomor satu. Sebagaimana dilakukan oleh Presiden apabila ia mengeluarkan keputusan atau ketetapan, maka dia berkata, “Kami tetapkan…” atau semacamnya, padahal dia yang menetapkan itu hanyalah satu orang. Akan tetapi diungkapkan demikian untuk menunjukkan keagungan. Maka yang paling berhak diagungkan oleh setiap orang adalah Allah Azza wa Jalla. Maka jika Allah mengatakan dalam Kitab-Nya, (إنا), sesungguhnya Kami, atau (نحن), kami, itu adalah bentuk pengagungan, bukan menunjukkan bilangan.
Ini karena dhamir ‘NAHNU’ yang dalam Tata Bahasa umum sebagai bentuk jamak yang diartikan sebagai “kita” atau “kami” (plural),tetapi dalam ilmu NAHU SOROF,kalimat “NAHNU” tersebut diartikan sebagai bermakna :”AKU / SAYA” dalam bentuk singular/Tunggal yang merupakan bentuk kalimat penghormatan atau bahasa sopan (Kromo inggil-Jawa).

Karena dalam tata bahasa bangsa lain tidak memiliki perbendaharaan seperti dalam Tata Bahasa Arab ini,maka kalimat ‘NAHNU”(Aku dengan konotasi penghormatan), hanya bisa diterjemahkan dengan kalimat “KAMI” ke dalam bahasa Indonesia atau “WE” dalam Bahasa Inggris,sehingga bagi yang tidak memahami seolah bermakna “jamak”.

Selain kata ‘Nahnu’, ada juga kata ‘ANTUM (KAMU), yang sering digunakan untuk menyapa lawan bicara meski hanya satu orang. Padahal makna `antum` adalah kalian (jamak).

Maka terjemahan “ANTUM” dalam bahasa Arab yang berarti “KAMU”,ketika kita menyapa lawan bicara kita dengan panggilan ‘antum’, maka secara kandungan bahasa, merupakan panggilan sopan dan ramah serta sebagai penghormatan ketimbang menggunakan sapaan “Anta , Ente”

Atau dalam bahasa sehari-hari kita,memanggil lawan bicara dengan panggilan :

-“KAMU , LOE , SITU”,maka akan berkesan adanya penghormatan jika diganti dengan kata, ”Anda, Gus atau “Tuan, Nyonya/Ibu/Bapak”.

Dalam bahasa Jawa, Sunda :

-Koe / rika / nyong /awakmu,aing dan sebagainya,maka akan lebih mengapresiasikan penghormatan dengan kalimat panggilan : “Panjenengan/sampeyan/sliramu/abdi/anjeun”, dan sebagainya. (Ini disebut “Ngajeni” /sopan dalam bahasa Jawa/Sunda)

Dalam bahasa Inggris :

-I (am) = saya, aku.
-You = kamu
-We = kami
-They = Mereka
-He = dia (laki-laki)
-She = dia (wanita)
-It = dia (benda & hewan)

BANDINGKAN DENGAN BAHASA ARAB :

-Huwa = dia (laki-laki)
-Huma = dia berdua (laki-laki)
-Hum = mereka (laki-laki)
-Hiya = dia (perempuan)
-Huma = dia berdua (perempuan)
-Hunna = mereka (perempuan)
-Anta = kamu (laki-laki)
-Antuma = kamu berdua (laki-laki)
-Antum = kalian (laki-laki)
-Anti = kamu (perempuan)
-Antumah = kamu berdua (perempuan)
-Antunna = kalian (perempuan)
-Ana = Saya, Aku
-Nahnu ( kami-aku, dengan bahasa penghormatan)

Dari perbendaharaan kata diatas, jika kita rangkai kalimat atau digabungkan dengan ‘kata kerja’, maka akan mengalami perubahan.

Contoh kata ,”fa’ala” =melakukan / “do” dalam Inggris,jika ditempatkan dengan kata-kata diatas maka akan menjadi:

a). “yaf’alu” =dia (seorang lak-laki) melakukan…,
b). “yaf’alaani”=dia dua orang lak-laki melakukan…,
c).”yaf’aluuna” =mereka (laki-laki) melakukan…,

Maka Kata ‘Nahnu’ (Kami,Alloh) yang berasal dari akar kata “ANNA”, dalam Al-Qur’an,tidak bermakna banyak, tetapi tetap bermakna “AKU TUNGGAL” yang menunjukkan keagungan Allah SWT,Tuhan Semesta Alam. Ini dipelajari dalam ilmu balaghah.

Contoh:
Dalam bahasa kita ada juga penggunaan kata “Kami” tapi bermakna tunggal. Misalnya seorang Lurah dalam pidato sambutan berkata.

”Kami sebagai Lurah berpesan…bla …bla….”

Padahal si Lurah hanya dia sendiri dan tidak banyak, tapi dia bilang “Kami”. Lalu apakah kalimat itu bermakna bahwa seorang Lurah yang sedang pidato itu berjumlah banyak?

Contoh lain :

Pada orang-orang yang telah fasih dengan Tata Bahasa Arab tentu akan paham, atau setidaknya orang pesantren “klotokan” yang bahasa sehari-harinya lazim menggunakan bahasa Arab Seperti di Pondok Pesantren Gontor,Tebu Ireng dan lainnya, tentu akan paham makna penggunaan kata “Nahnu” (kami).

-Maka kalimat,”Nahnu” (kami), dapat digunakan untuk lebih dari satu yaitu “kami” (plural – jamak),namun dapat juga untuk “satu orang” yaitu yang dimaksudkan “saya-sendiri” dengan makna “Bahasa santun”. (dalam Bahasa Arab).

Contoh lain lagi :

Penggunaan kata : “Antum” (kalian), memang bisa digunakan untuk lebih dari satu yaitu “Kalian” (plural – jamak), Namun dapat juga untuk satu orang, yaitu yang dimaksudkan “Anda” ,”Tuan” , “Bapak/Ibu”,dengan makna bahasa santun ,dalam Bahasa Arab.Bandingkan dengan jika kita mengatakan kata,”KAMU, LOE , SITU, ENTE”,yang diucapkan kepada orang tua atau Bos.

Maka bukan berarti “Antum” ini bermakna “kalian” (jamak) akan tetapi bermakna tunggal sebagai PENGHORMATAN dan PENGAGUNGAN. Inilah yang disebut “Al-Mutakallim Al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”.

Cobalah RENUNGKAN akan hal ini !

-Maka penyebutan kata “KAMI” yang digunakan dalam Al-Qur’an ketika Allah berfirman,(yang dalam bahasa Arab adalah “NAHNU” juga “INNA” atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf “NAA”),adalah merupakan bentuk kalimat pengagungan yang tetap bermakna, “AKU”, Tuhan Yang Tunggal dan Maha Perkasa.

-Juga acapkali Allah Swt,menggunakan kata “AKU”, “DIA”, didalam Al Qur’an.(dalam bahasa Arab adalah “ANA” , “INNI” dan “HUWA“, atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf “TU”, atau juga langsung dengan lafadz “Allah” sendiri, begitu pula dengan kata “Dia” / “Huwa”).Maka tata bahasa seperti ini tidak ada dalam tata bahasa bangsa lain termasuk dalam tata bahasa Indonesia.

2. Mengapa Allah Swt menggunakan kata ganti (dhamir) “HU” (Dia- laki-laki) untuk diri-Nya dalam al-Qur’an?

*Sebab mengapa Allah Swt dalam Al-Qur’an menggunakan “HU” (kata ganti ketiga-Maskulin) untuk diri-Nya adalah lantaran Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan penggunaan “HU” (pronomina III -Maskulin), bagi Allah Swt telah sesuai dengan kaidah dan sastra bahasa Arab.

Karena Allah Swt bukan muannats (feminim) hakiki dan juga bukan mudzakkar (maskulin) hakiki dan juga tidak menggunakan penggunaan qiyâsi (mengikuti kaidah tertentu) dan simâi muannats majâzi (figuratif). Karena itu, berdasarkan kaidah bahasa Arab yang harus digunakan untuk Zat Allah Swt adalah pronomina dalam bentuk maskulin figuratif (mudzakkar majâzi). Di samping itu, tanda-tanda literal maskulin dan feminin bukan sebagai penjelas kedudukan dan derajat yang mengandung nilai (value).

Bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab. Bahasa Arab berbeda dengan bahasa-bahasa lainnya menggunakan dua jenis kata ganti dan pronomina (dhamir) orang ketiga laki-laki (mudzakkar) dan kata ganti orang ketiga perempuan (muannats). Suatu hal yang natural bahwa setiap buku atau kitab yang ingin ditulis menggunakan bahasa ini, kendati ia merupakan kitab Ilahi, maka ia harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa tersebut dan gramatikanya.

Bahasa Arab, karena tidak memiliki kata ganti orang ketiga waria (khuntsa), sebagian hal yang tidak memiliki jenis kelamin dinyatakan dengan kata ganti orang ketiga laki-laki (dhamir mudzakkar). Namun, yang semisal dengan masalah ini, juga terdapat dalam bahasa-bahasa yang lain, seperti bahasa Prancis. Dengan bersandar pada poin ini dapat diambil kesimpulan bahwa pernyataan kata ganti orang ketiga laki-laki, sama sekali tidak ada kaitannya dengan sifat kelaki-lakian.

Pada kenyataannya, dapat dikatakan bahwa al-Qur’an tidak didominasi oleh pandangan patriarkial yang berkembang pada budaya zamannya, melainkan sebuah tipologi bahasa yang mengkondisikan pembicaranya supaya memperhatikan dan mematuhi hal tersebut. Karena itu, Al-Qur’an, dengan alasan diturunkan dan diwahyukan dalam bahasa Arab, bertutur kata dengan wacana ini dan menggunakan pronomina-pronomina dan redaksi maskulin (mudzakkar) yang selaras dan sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab.

Dengan kata lain, dari satu sisi, dalam bahasa Arab, nomina-nomina (asmâ) dan verba-verba (af’âl) (selain verba kata ganti orang pertama tunggal [mutakkalim wahdah] dan kata ganti orang pertama jamak [mutakallim ma’a al-ghair]) memiliki dua jenis: laki-laki atau maskulin (mudzakkar) dan perempuan atau feminin (muannats). Maskulin dan feminin ini terbagi lagi menjadi hakiki dan majâzi (figuratif). Seluruh entitas yang memiliki alat kelamin pria dan wanita adalah maskulin dan feminin hakiki (mudzakkar dan muannats hakiki). Selainnya adalah figuratif (majâzi).

Maskulin hakiki seperti “rajul” (pria) dan “jamal” (unta jantan). Feminin hakiki seperti “imraat” (wanita) dan “naqah” (unta betina). Maskulin figuratif (mudzakkar majazi) seperti “qalâm” (pena) dan “jidâr” (dinding). Feminin figuratif (muannats majazi) seperti “dâr” (rumah) dan “ghurfah” (kamar). Penggunaan muannats majazi dalam hal-hal seperti nama-nama kota, anggota badan yang berpasangan memiliki kaidah dan dalam hal-hal lainnya tidak mengikut kaidah tertentu (qiyâsi) dan bersifat simâi. Simâi artinya bahwa yang menjadi kriteria adalah semata-mata mendengar orang-orang yang berbahasa Arab dan harus diperhatikan orang-orang Arab menggunakannya dalam bidang apa. Apabila hal tersebut bukan termasuk muannats hakiki dan muannats majâzi dan juga bukan mudzakkar hakiki maka tentulah ia merupakan mudzakkar majâzi.[1]

Dari sisi lain, karena Allah Swt tidak melahirkan juga tidak dilahirkan. Demikian juga tiada yang menyerupainya[2] dan juga bukan termasuk hal-hal yang terkait dengan penggunaan qiyâsi (mengikuti kaidah tertentu) dan simai muannats majâzi. Karena itu, berdasarkan kaidah bahasa Arab yang harus digunakan untuk Zat Allah Swt adalah kata ganti-kata ganti, nama-nama dan sifat-sifat dalam bentuk mudzakkar majâzi (maskulin figuratif).

Poin ini juga harus mendapat perhatian bahwa tanda-tanda literal muannats dan mudzakkar tidak mengandung nilai tertentu dan tidak menunjukkan tanda dan dalil atas kemuliaan dan kedudukan seseorang. Karena itu, apabila tanda-tanda literal mudzakkar, menunjukkan kemuliaan dan kedudukan tertentu seseorang, dan memiliki nilai tertentu, maka untuk selain manusia dan sebagian makhluk rendah seperti setan dan iblis… tidak boleh menggunakan kata kerja-kata kerja atau nomina-nomina atau pronomina-pronomina dan seterusnya yang memuat tanda-tanda literal mudzakkar.
Demikian juga, apabila tanda-tanda literal muannats merupakan dalil dan tanda kekurangan dan minus nilai maka entitas-entitas yang sarat nilai seperti matahari (syams), bumi (ardh), kaum pria (al-Rijal), air (ma’) dan sebagainya dan sebaik-baik perbuatan dan kedudukan seperti sembahyang (shalat), zakat, surga (jannat) tidak akan dinyatakan dalam bentuk literal muannats.[3]
Reff:
[1]. Sharf Sâdeh, hal. 28 dan 145.
[2]. Lam yalid wa lam yulad (Qs. Al-Ikhlas [114]:3). Laisa kamitsli syai (Qs. Al-Syura [42]:11)
[3]. Silahkan lihat, Zan dar Âine Jalâl wa Jamâl, Jawadi Amuli, hal. 78.
*http://quran.al-shia.org/id/lib/101.html

PENERAPAN KALIMAT ALLAH DAN PRONOMINA “TUHAN-AKU-DIA-KAMI DAN RABB”, DALAM AL-QUR’AN :

Telah diketahui bahwa terjemahan “Tuhan” berasal dari “ILAAHUN” dan “RABB”, kemudian kata ganti “AKU” dari “ANA”, kata ganti “DIA” dari “HU”, sedangkan kata ganti “KAMI” dari “INNA / NAHNU”,maka pecahan pecahan tersebut semuanya berasal dari satu sumber kalimat agung, yakni berasal dari kalimah “ALLAH”.

Mari kita jabarkan :

Lafaz ALLAH terdiri dari empat huruf,yaitu : ALIF-LAM-LAM dan HA.

1. Jika huruf pertama ditiadakan, maka yang ada lafaz “LILLAH”.
2. Jika huruf LAM pertama ditiadakan,maka yang ada lafaz “ILAAHUN”.
3. Jika kedua huruf LAM ditiadakan, maka yang ada lafaz “HU”.
4. Jika tiga huruf terakhir ditiadakan, maka muncul symbol “ALIF”.

Makna LILLAH :
Mengejawantahkan dzat bagi “TEMPAT SEMUA KEMBALI atau SEGALA SESUATU HANYA DARI,UNTUK dan PADA ALLAH,entah segala penciptaan,peribadatan,pengabdian serta ketergantungan seluruh alam semesta dan makhluk makhluk-Nya.

Makna ILAAHUN :
Kata ilaahun terdiri atas tiga huruf: hamzah, lam, ha, sebagai pecahan dari kata laha – yalihu – laihan, yang berarti Tuhan yang Mahapelindung, Mahaperkasa. Ilaahun, jamaknya Aalihatun, bentuk kata kerjanya adalah alaha, yang artinya sama dengan ‘abada, yaitu ‘mengabdi’. Dengan demikian ilaahun artinya sama dengan ma’budun, ‘yang diabdi’. Lawannya adalah ‘abdun, ‘yang mengabdi’, atau ‘hamba’, atau ‘budak’.Maka ILAAHUN yang dalam bahasa Indonesia Tuhan Yang Maha Esa, mengejawantahkan Dia,Tuhan, Allah yang tidak ada tuhan tuhan lain dan sembahan sembahan lain selain Allah,tanpa reserve.

Makna HU :
“HU”,yang berasal dari bagian asma Allah,di dalamnya tersembunyi hakekat ”HUWA”,adalah Dia Yang Maha Mutlak,tak terbanding dan setarakan(awyakta-Sanskert).Karena sebelum datangnya islam bangsa Arab jahiliyyah menganggap bila Tuhan itu dapat setara dengan materi dan berjenis kelamin laki laki.Maka setelah dunia yang jahil diterangi Islam,Allah meminjam kosa kata yang telah dipahami oleh bangsa Arab ini sebagai bentuk tandingan,bahwa “HU” (Dia,Tuhan yang bukan laki laki maupun perempuan dan tak dapat disetarakan dengan lainnya),dengan di idhafahkan menjadi : “Hu, Allahhu ahad,Allahussomad – Dia,Allah Yang Maha Esa,tempat semua bergantung,tidak beranak dan diperanakkan”, artinya Allah tidak dapat disetarakan dengan materi, gender laki laki/perempuan.(QS.112.Al-Ikhlas :1-4).

alif

Symbol ALIF :
Sedangkan symbol ALIF merupakan kata sandang “AL” atau dalam bahasa Indonesia adalah “SANG” atau dalam bahasa Inggris “THE”,yang mengejawantahkan bahwa ALLAH adalah dzat Maha Tersembunyi namun exis. Dan dari symbol ALIF memancar 99 asmaul Husna,yang huruf ALIF tersebut hanya satu karakter yakni bentuk karakter garis strip vertikal tunggal yang mempunyai makna rahasia paling rahasia yang direliefkan dalam beberapa awalan surat surat Al-Qur’an yakni ALIF-LAAM-RAA , ALIF – LAAM – MIM , yang setiap nama nama ASMAUL HUSNA selalu menggunakan kata sandang “AL”,yang dawalii dengan huruf Alif, kemudian ayat pertama turun diawali dengan huruf ALIF,yang setiap membaca ayat-ayat-Nya dimulai dengan Bismillah,sedang huruf bismillah diawali dengan karakter ALIF.

Selain ilaahun, dalam Al-Qur’an juga terdapat kata Rabbun yang digunakan untuk menyebut Tuhan. Kata rabbun terdiri atas dua huruf: ra dan ba, adalah pecahan dari kata tarbiyah, yang artinya Tuhan yang Mahapengasuh. Secara harfiah rabbun berarti Pembimbing, Pemelihara dan Pengendali.

A.PENERAPAN KALIMAT “AKU” :

Ketika Alloh menggunakan kata ganti diri-Nya dengan kalimat “aku/Ana”,maka dipergunakan untuk menegaskan kepemilikan dan sumber tuju atas segala sesuatu yang ada dialam semesta ini.Maka Allah Yang Maha berkuasa, tempat meminta dan berhak memberi sesuai kehendak-Nya.Tiada yang lain yang berkemampuan seperti ini,tidak ada libatan pengaruh maupun tekanan dari makhluk lain.Segala sesuatu yang langsung ditangani dibawah kekuasaan dan kekuatan-Nya.Inilah merupakan bentuk “LITTA’DZHIIM” (menunjukkan Keagungan dan Kebesaran seorang diri/Tunggal tanpa melibatkan unsur lain saat berkehendak).

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS.Adz Dzaariyaat : 56)

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”.(QS. 2. Al Baqarah:152).

B.PENGGUNAAN KALIMAT “ALLAH” PADA DIRINYA SENDIRI:

Lafaz Allah adalah lafzhul Jalalah, lafaz yang tidak dapat dirubah hurufnya dan diganti menjadi lafaz lain.Nama yang asing bagi bangsa Arab dan dunia sebelum datangnya Islam.Kosakata yang belum pernah ada sebelumnya.Dia sendiri yang menamai dirinya dengan ALLAH (QS.28:68-70).

Digunakan untuk menunjukkan jatidiri serta keberadaannya (existensi) untuk diketahui dan dikenal,bahwa Dia,Tuhan Sang Penguasa alam semesta dengan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat,yang tidak ada makhluq lainpun yang dapat menyamai Keagungan dan Kekuatan –Nya.Hanya kepada Allah saja semua makhluk mengabdi.

Contoh penggunaan kalimat yang menyebut Allah dengan nama dirinya sendiri:

يُظْلَمُونَ لا وَهُمْ كَسَبَتْ بِمَا نَفْسٍ كُلُّ جْزَىتُلِوَبِالْحَقِّ وَالأرْضَ السَّمَاوَاتِ اللَّهُ وَخَلَقَ

“Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan”. (QS.Al-Jaatsiyah : 22).

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.” (QS.Al-Israa’: 99).

C. PENGGUNAAN KALIMAT “DIA” :

Merupakan kata ganti yang menekankan kemutlakan dan “TANDINGAN”,atas lainnya,Digunakan untuk menunjukkan bahwa Dia,adalah Allah satu satunya Tuhan penguasa alam semesta dengan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat,yang tidak ada makhluq lainpun yang dapat mampu menandingi/menyamai Kemaha Mampuannya,tiada yang bisa disetarakan dengan-Nya dan hanya kepada Dia saja semua makhluk harusmenyembah.

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).”(QS.Al-Baqarah: 255).

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (Tunggal).” (QS.Al-Ikhlas: 1)

D. PENGGUNAAN KALIMAT “KAMI” :

Merupakan kata ganti yang menekankan sisi proses atas segala sesuatu yang dikehendaki dan terjadi menurut kekuasaan dan ke-Maha Kehendak-Nya. Digunakan untuk menunjukkan bahwa “KAMI”,adalah Allah satu satunya Tuhan penguasa alam semesta dengan kekuasaan-Nya,yang menetapkan,mengawasi dan mengendalikan sistem Qada-Qadar dan Takdir-Nya. Dan berjalannya sistem tersebut adalah melalui proses/ mekanisme/tahapan.

Allah mengadakan/menugaskan para wali-Nya,yakni para Malaikat,para Nabi , Rasul dan mekanisme alam semesta,untuk menyampaikan pesan/signal kehendak-Nya,petunjuk petunjuk-Nya,ilmu pengetahuan dan perintah serta larangan-Nya.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (QS.Al-Hujuraat: 13)

Maka maknanya bahwa Allah dalam menciptakan manusia setelah penciptaan langsung Adam,tidak satu persatu lagi secara langsung,melainkan melalui mekanisme biologis,yakni dimana proses manusia berkembang biak. Maka inilah RAHASIA bahasa AL-QUR’AN mengapa Allah Swt. menggunakan lafadz/kalimat “NAHNU (KAMI)”.

“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam”. (QS.Al-Anbiyaa’ : 107)

Kata Arsalna ( أَرْسَلْنَا ‘Kami mengutus’) berasal dari kata dasar “Arsala” أَرْسَلْ
(bermakna : mengutus, memberikan risalah, mengantarkan risalah).Sebagaimana penjelasan sebelumnya diatas, maka kata “KAMI” yang Allah Swt. maksudkan karena ADANYA PROSES PENGUTUSAN,atau adanya mekanisme pengiriman wahyu yaitu melalui “MALAIKAT JIBRIL” SEBAGAI PENGANTAR WAHYU ALLAH SWT,kemudian hingga sampai pada Rasul/Nabi nabi-Nya. Sebab tidak harus Allah berkehendak memberi petunjuk/risalah untuk manusia kemudian mengantarkan sendiri langsung ke makhluk-Nya. Makanya Allah Swt. menggunakan Kata “NAHNU” (KAMI).

Demikian maksud penerapan kata ganti “KAMI / NAHNU,selain sebagai bentuk penghormatan dan bermakna “kami” tunggal,juga menegaskan adanya mekanisme penugasan melalui para malaikat,para Nabi dan para Rasul rasul-Nya.

KESIMPULAN

ilm

Dari seluruh uraian mengenai kata ganti Allah,penyebutan Tuhan,Lord,Gusti maupun Pengeran dan lain sebagainya, telah dijabar dari berbagai sudut al-ilm, baik secara dalil ‘aqli maupun naqli.Artinya telah memenuhi standar ilmu pengetahuan yang bersumber dari Al-Qur’an,As Sunnah yang kemudian ditambah dengan penjabaran oleh para alim ulama yang luas pengetahuannya.Dan ketahuilah bahwa terjemahan kata “TUHAN” telah disebut sebanyak lebih dari 507 kali dalam ayat Al-Qur’an.

Maka,satu esensi dapat ditarik hakekatnya yakni :

1- Apapun nama nama lain Allah yang kita sebut dengan bahasa ibu pertiwi masing masing seperti yang telah diurai diatas saat kita berdoa,memohon,merintih,melolong berharap pertolongan Allah,maka tak bermasalah sepanjang penyebutan penyebutannya ditujukan dari keikhlasan hati dan niat suci hanya kepada Allah Ta’ala,bukan menuju yang selain Allah.Dan sepanjang penyebutan penyebutan nama lain Allah tidak bermakna buruk atau bernada pelecehan. Sedangkan menyebut Allah dengan panggilan lain menurut bahasa daerah yang familier seperti Gusti, Pengeran,Kang Murbehing Dumadi dan lainnya,maka tidak masalah sebab bermakna luhur dan merupakan sebutan kehormatan diwilayah budaya masing masing. Semua hanya ada dalam hati dan penyimpangan dari semua itu menjadi konskuensi individu.

-Uraian pengetahuan ini telah jelas dipapar.Manakala ada orang ataupun yang mendakwa dirinya ustadz,tokoh aim kemudian membuat tulisan tulisan menolak atau mengharamkan/melarang penyebutan Tuhan,Gusti dan Pengeran dan lain sebagainya dengan mendasari berbagai rangkaian dalil (kadang penerapan dalilnya dalil mentah) dengan argumen bahwa kata “Tuhan,Gusti,Pengeran” dan lainnya adalah tidak ada dalilnya serta dianggap berasal dari ajaran kafir,maka hal ini telah terbantahkan sebab penjabaran yang telah diurai diatas ini lebih komprehensif,lengkap,memenuhi seluruh aspek ilmu kaji serta hukum hukum syareat serta logika agama (Al-Hikmah). Maka tinggal penyerapannya diserahkan kepada para pembaca masing masing.

2. inilah salah satu tanda keagungan mengapa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.Jikalau Alquran itu diturunkan dengan semua bahasa, tentu akan banyak perbedaan penafsiran kata disetiap wilayah dan perubahan yang susah dipantau dan dideteksi kebenarannya.Jikalau Al-Qur’an di Indonesia dimusnahkan dan dibakar, akan datang jutaan Hafidz (Penghafal) Al-Qur’an dari seluruh penjuru dunia untuk menggantikannya dengan hafalan yang sama, surah yang sama, ayat yang sama, dan huruf yang sama. begitulah salah satu cara Allah Swt. menjamin kemurnian Al-Qur’an.

3. Inilah hikmah al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab. Nabi Muhammad SAW adalah orang arab, dan masyarakat di sekeliling Nabi adalah orang arab, mereka sangat arif dengan bahasa mereka, dan mereka faham apa yang diturunkan dalam bahasa mereka. Masalah berkaitan perkataan KAMI ini tidak timbul ketika itu, kerana mereka faham bahasa mereka, bahawa KAMI yang dimaksudkan bukanlah bermaksud jamak, tetapi membawa arti satu penghormatan dan keagungan, dan ia tetap merujuk kepada Tuhan Yang Tunggal.

4. Tafsiran-tafsiran yang dalam dan luas seperti ini tidak akan kita temukan dalam Al-Qur’an terjemahan DEPAG RI maupun yang digital.Oleh karena itu,hanya dengan melalui para alim Ulama Tafsir yang fasih yang luas ilmunya yang dapat menjabarkan Tafsir Al-Qur’an ini,yang menandakan betapa Ilmu Al-Qur’an /Ilmu Tuhan itu sangat luas,lebih luas dari samudera langit dan bumi.

5. ALLAH JUGA TUHAN UMAT KRISTEN YANG DISEBUT DALAM INJIL :

Ketika kebanyakan dari mereka umat Kristiani juga merasa anti serta risih menyebut nama Allah,yang dianggap sebagai bukan Tuhannya mereka dan dianggap tidak sesuai dengan iman mereka,maka bagamana mungkin hal ini bisa tetap terus dijadikan anggapan ? Sedangkan nama Allah adalah kalimat yang juga disebut dan menjadi istilah di dalam kitab suci Injil PL maupun PB,seperti yang telah diterangkan diatas.

6. JANGAN MEN-TUHANKAN DALIL :

Ketika berargumen,berdakwah,berorasi,berdebat dan menulis kemudian bersikeras yang paling benar dan lainnya salah,sesat,kafir dan murtad hanya mendasari segala sesuatunya tidak ada dalilnya,maka itu yang disebut mencari “PEMBENARAN” dan hal demikian itulah yang disebut “MEN-TUHANKAN” dalil,mengesampingkan aspek aspek hakekat Kemaha Besaran Allah. Sementara ketika mendasari pemikiran bahwa kebenaran itu harus terlihat menurut apa apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW sehari hari,maka mengapa orang orang yang seperti ini tidak mengikuti sunnahnya secara konskuen? Yakni mengapa masih memakai setelan jas,sarung,peci,celana levis? Sedang Rasulullah SAW tak pernah memakai jas,sarung dan celana levis.Apalagi sedan,apalagi beli elektronik TV,laptop,gadget android,dan lain sebagainya, yang notabene buatan dan budaya non muslim.

7. Namun demikian,kita juga jangan mentang mentang bahwa kata ganti Allah seperti Tuhan,Gusti,Pengeran,Lord dan lain sebagainya itu boleh dan sah diucapkan,tetapi jangan dijadikan prioritas kebiasaan atau bahkan malah mengganti sebutan Allah dengan yang lain dan melupakan penyebutan ALLAH sama sekali, sebab kalimat Allah lebih utama dan unggul dibanding sebutan sebutan selain Allah.

Semoga menjadikan renungan di sanubari terdalam.

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Lembah Duren Sawit,11 Juli 2013 – 16 desember 2014

CopyRights@2013

Reff :
-Al-Qur’an terjemah DEPAG RI

http://teaching4muallaf.blogspot.com

http://www.muslim-menjawab.com

http://imanulhassan.blogspot.com

– TafsirIbnu Katsir, Tafsir Al Jalalein

– TafsirAl Mishbah, dari Prof. DR. Quraisy Shihab
http://www.arrahmah.com/read/2012/12/10/25356-kontroversi-kata-tuhan.html
-http://quran.al-shia.org/id/lib/101.html
-http://mudamudimuslim.blogspot.com/2011/12/benarkah-penyebutan-kata-tuhan-allah.html
-http://www.mukminun.com/2013/12/pengertian-rabb-dalam-al-quran-dan-as.html#_
-http://tausyah.wordpress.com/2010/07/10/benarkah-nama-tuhan-adalah-allah/
https://farisna.wordpress.com/2011/06/19/penyebutan-gusti-allah-dan-kanjeng-nabi/
-http://katolisitas.org/1800/tentang-sebutan-tuhan-allah-dan-yahweh-samakah

**SATANIC PROJECT / KINERJA SETAN**

*MANUSIA KINI CENDERUNG SEMAKIN TENGGELAM KE DALAM KEANGKARA MURKAAN,ANARKISME DAN KEZALIMAN.

*IBLIS LEBIH KONSISTEN KETIMBANG MANUSIA,IBLIS LEBIH “BERKORBAN” KETIMBANG MANUSIA.

Iblis

Ketika kita menyaksikan berita di media,banyak terjadi peristiwa kerusuhan,tawuran, kejahatan dan kezaliman di Indonesia maupun di luar negeri.Di Indonesia lihatlah Makassar sepertinya akrab dengan kericuhan,baru baru ini terjadi lagi, ketika berlangsung unjuk rasa menolak kenaikan BBM,yang semula damai kemudian tiba tiba berubah menjadi anarkis yang berakhir dengan bentrok berdarah antara aparat,mahasiswa dan warga.Juga di Batam KEPRI,terjadi bentrok antara oknum aparat TNI dengan Brimob.Juga sering terjadinya tawuran anak sekolah,perang antar warga kampung.Dengan batu,dengan bom molotof,anak panah,senjata tajam ,dan lain sebagainya,dengan begitu khidmat,semangat,gempita ,kadang dengan seruan takbir.Hasilnya? Pertumpahan darah,kematian,kerusakan sarana,kerusakan alam.Padahal semua itu hanya berawal dari masalah sepele,masalah yang sungguh tak bernilai.Hanya atas nama “gengsi”.Sepertinya begitu mudah kini manusia larut terseret ke dalam buih buih angkara murka.
Saat menyaksikan semua peristiwa itu,maka janganlah pandang dengan kasat mata ,tetapi cobalah lihat dengan pandangan jauh,dengan mata halus,niscaya engkau akan menyaksikan peristiwa angkara murka itu bukan dilakukan oleh “manusia” melainkan dilakukan oleh jama’ah iblis yang tengah berpesta pora ditengah kerusuhan,kejahatan dan angkara murka yang terjadi.

Oleh karena itu apakah kita Kenal dengan iblis,syetan? Atau masih merasa bahwa kita adalah orang suci / merasa terbebas dari syetan,karena kita merasa telah berbuat baik dan menjadi orang baik baik? Sehingga kita punya pemahaman bahwa syetan itu bukan saya tapi makhluk jahat diluar saya !
Ternyata itu anggapan diri yang terlalu naif sobat.Sebab ternyata syetan itu sesungguhnya ya bagian dari diri kita.Maka syetan itu ya diri kita.Maka kau,aku dan kalian semua ada syetannya. (Saya juga baru tahu).
Maka,kapan dan bagaimana kita itu menjadi syetan,baiklah mari kita telusuri siapa sebenarnya syetan itu.Dan pertama kali saya mesti bilang sama syetan saya,”Tan,sory yah,gue ungkap rahasia loe,walaupun gue tahu rahasia loe yang lain masih banyak dan ga gue ngerti”.

Maka eksistensi syetan itu adalah merupakan bagian dari rahasia Tuhan,yang kadang membuat kita pusing,tak paham akan semua itu.Namun sebagai insan yang beriman,tentu kewajiban kita adalah “mengendalikan syetan”,dan janganlah seluruh hidup kita selalu di kendalikan oleh syetan.

Bacaan Ta'awudz

   بِسْمِااللهِ رَّحْمنِالرَّحِيمِ

Aku berlindung dari godaan syetan (yang hasil perbuatannya dikutuk Tuhan),dan Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

“ Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan “.(QS.6:112).

Segala sesuatu di alam semesta ini,benda dan kehidupannya adalah ciptaan Tuhan.Dan segala sesuatu yang diciptakan Tuhan pasti dalam keadaan berpasang pasangan.Semua itu karena ke-Maha Kehendak-Nya (Iradah-QS.28:68) yang merupakan manifestasi dari Dzat-Nya yang Al-Muqtadir (Maha Berkuasa – QS.18:45 ) yang kemudian diimplementasikan melalui sistim Qada , Qadar dan Taqdir-Nya.

Maka,begitulah dalam kehidupan ini ada pahala ada dosa,ada syorga ada neraka,ada hidup ada mati,ada malaikat ada iblis,ada jin ada manusia,ada petunjuk ada kesesatan,ada syetan ada ketaatan,dan lain sebagainya.Semua itu tidak dapat dipisahkan,atau secuilpun kita tidak dapat menolak maupun menghindar dari ketetapan itu.Sebab tanpa neraka maka tak akan ada syorga,tanpa keburukan maka tak kan ada kebaikan.Begitu juga tanpa keberadaan iblis syetan,maka tak kan ada keimanan dan ketaatan.

KEBERADAAN IBLIS DAN SYETAN

Iblis dan syetan secara subyek itu berdiri sendiri,namun saling berkaitan.Tanpa keberadaan syetan,maka iblis tak dapat beraksi,begitu juga tanpa iblis,maka syetan tak dapat berfungsi.Target iblis adalah Jin dan Manusia,sebab jin dan manusia ditakdirkan memiliki akses untuk dimasuki iblis.
Syetan itu sifat,iblis itu trigernya (pemicu/biang keladi).Jadi saat iblis berhasil menguasai nafs syetani yang ada dalam diri kita,maka saat itulah kita menjadi syetan. Karena syetan itu sifat, maka dia melekat pada makhluk dan bukan berdiri sendiri.
Maka iblis berada di luar manusia,syetan bertahta di dalam diri manusia.

PERBEDAAN IBLIS ,SYETAN , JIN , MANUSIA DAN ASAL USULNYA :

syetan1

Setan adalah sifat untuk menyebut setiap makhluk yang berlaku perbuatan jahat, membangkang, tidak taat, anarkis, suka maksiat, suka melawan aturan, atau semacamnya.
الشيطان في لغة العرب يطلق على كل عاد متمرد

“Syetan dalam perspektif Al-Qur’an digunakan untuk menyebut setiap makhluk yang menentang dan membangkang.” (Alamul Jinni was Syayathin, Hal. 16).

Dinamakan setan, dari kata; syutun (Arab: شطون) yang artinya jauh. Karena setan dijauhkan dari rahmat Allah. (Al-Mu’jam Al-Wasith, kata: الشيطان) ,“(setan yang membisikkan itu) dari golongan jin dan mausia.” (QS. An-Nas: 6).

Dengan demikian jika membicarakan iblis,maka didalamnya termasuk syetan,sedang jika membicarakan syetan,maka di dalamnya termasuk golongan iblis dan manusia iblis.Sebab yang termasuk golongan syetan itu adalah iblis dan manusia.(QS.06:112).

Sedangkan perbedaan jin dan manusia dengan iblis serta syetan adalah bahwa jin dan manusia makhluk yang di ciptakan untuk menyembah,beribadah pada Tuhan. QS.51:56).

Persamaannya antara iblis,syetan,jin dan manusia adalah sama sama memiliki fungsi dan tugas serta tanggung jawab masing masing.(“punya job masing masing mas bro”).

Pengetahuan khusus*
Sebenarnya kesemua itu (iblis , jin , syetan dan manusia) sama sama “pengabdi (melaksanakan tugas)” Tuhan.Maka makna “Aku berlindung dari godaan syetan yang terkutuk” itu adalah : bukannya Tuhan saklek mengutuk si syetan/iblis,melainkan Allah itu mengutuk manusia yang berlaku perbuatan syetan/iblis. Dan ketahuilah,IBLIS ITU LEBIH KONSISTEN KETIMBANG MANUSIA (QS.14:22),dan IBLIS itu LEBIH “BERKORBAN” KETIMBANG MANUSIA (QS.15:30 s/d 42).Mengapa? sebab iblis selama hidupnya tetap menjalankan misinya untuk mengajak manusia masuk ke dalam neraka dan iblis telah rela berkorban sebagai penghuni neraka.Beda dengan manusia kan,yang tidak konsis dan maunya masuk syorga tapi enggan berkorban mengikuti jalan-Nya.Giliran dimasukkan ke neraka,melolong lolong minta ampun.

Untuk penjabaran, asal usul tentang iblis , syetan , jin dan manusia selengkapnya silajkan kunjungi dan baca di link berikut :

https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/07/06/makhluk-makhluk-sebelum-manusia/

HASIL KERJA IBLIS

Maka syetan Iblis itu ada dimana mana.Jangan mengira keberadaan syetan iblis itu hanya ada di dunia kejahatan,perjudian,pelacuran serta perseteruan semata,melainkan syetan iblis itu juga mampu berada pada orang orang baik,para ulama para pendeta,para bhiksu,para ustadz,para cerdik pandai dan ada pada seluruh relung relung kehidupan manusia.Maka syetan iblis itu juga mampu berada di masjid masjid,di gereja gereja,di biara biara dan tempat tempat yang dianggap manusia itu suci.
Semakin tinggi status,martabat,kelas dan derajat keimanan seseorang,maka semakin tinggi pula pangkat dan kesaktian syetan iblis yang mengkutinya.

Jika seseorang itu orang awam,ya jenis syetannya biasa biasa saja, awam.Maka jika kita adalah seorang Kyai / Guru / Ulama,bhiksu,pendeta,maka jenis syetan kita adalah “lebih kyai,lebih guru, lebih bhiksu dan lebih ulama” (ilmunya setingkat lebih -Red.) dari kita.Jika kita baru mampu khatam Al-Qur’an,maka syetan telah lebih dahulu menghafal Al-Qur’an.Jika kita mampu dan menguasai ceramah serta dalil dalil AL Qur’an,Injil,Wheda,maka syetan telah lebih mampu menguasai rahasia rahasia maknanya.
Maka tak heran banyak berita,seorang ustadz/pendeta/bhiksu dsb melakukan tindakan asusila terhadap wanita/murid wanitanya.Atau seorang anggota DPR terhormat tertangkap basah mengkonsumsi narkoba,atau oknum pejabat negara melakukan tindak pidana korupsi,dan sebagainya.Kemudian pada taraf masyarakat umum,maka terjadinya angkara murka,perseteruan dan kejahatan yang merajalela di tengah kehidupan masyarakat,semua itu adalah hasil kinerja iblis yang sukses menciptakan manusia manusia syetan .

CARA KERJA IBLIS MENCETAK MANUSIA MENJADI MANUSIA SYETAN :

*Dalam rangka menyesatkan manusia dari jalan yang lurus, syetan Iblis mempersiapkan cara dan jebakan-jebakan. Ada enam tingkatan jebakan yang dipasang syetan untuk menjerat manusia sebagaimana yang diterangkan para ulama, yaitu :

Pertama : Syetan akan berupaya menjerumuskan manusia ke lembah kekafiran atau kesyirikan.
Bila berhasil maka manusia yang telah terajak itu akan dijadikan kader untuk menjadi tentara iblis. Dan bila langkah tersebut tercapai, inilah puncak keberhasilan perjuangan syetan. Namun bila bani Adam selamat dari jebakan ini syetan akan menggunakan cara berikutnya.

Kedua : Syetan akan berusaha menjatuhkan manusia ke lembah bid’ah sehingga ia mengamalkan bid’ah dan menjadi ahlil bid’ah.
Pilihan lain yang syetan tempuh selanjutnya ini adalah menggiring manusia untuk melakukan ibadah yang telah dimasukkan ke dalamnya unsur-unsur bid’ah. Perbuatan bid’ah lebih dia senangi darpada berbuatan fasik atau maksiat. sebab perbuatan bid’ah membawa nama ibadah, padahal akibatnya justru akan merusak ibadah dari dalam. Apalagi yang melakukan bid’ah adalah tokoh yang terpandang, maka biasanya banyak jamaah yang terpengaruh karenanya.
Namun bila manusia itu termasuk ahli sunnah dan tidak mampu diperdaya, maka syetan akan menggunakan cara berikutnya.

Ketiga : Syetan akan menggoda manusia untuk melakukan dosa-dosa besar.
Bila cara-cara diatas tidak mampu menggoyahkan seorang mukmin, maka setan akan memotivasi dengan bisikan ke dalam hati bahwa tak ada orang lain yang tahu bila sang ahli ibadah melakukan dosa, bila dia tergoda lalu melakukannya, seperti zina, membunuh, mencuri dll maka setan akan melihat apakah sudah layak aib ini diperlihatkan kepada khayalak ramai.
Bila menurut pertimbangan syetan sudah layak, diajaknya orang tersebut untuk berbuat dosa besar didepan orang lain sehingga terbukalah aibnya. Dengan cara ini dia akan dijauhi orang lain, nasihatnya tidak akan didengar lagi, lalu berkuranglah jumlah ulama. Namun bila Allah menjaganya, maka syaithan akan menggoda dengan cara lain.

Keempat : Syetan akan menggoda manusia untuk melakukan dosa-dosa kecil dan menganggapnya remeh,
Bila syetan tak mampu mengajak seorang ahli ibadah untuk melakukan dosa besar, maka dia akan berusaha untuk membawanya agar berbuat dosa yang kecil, sebab dengan berbuat dosa yang kecil, orang akan mudah untuk terus berbuat dosa sehingga akhirnya akan menjadi besar.

Kelima : Syetan akan menyibukkan manusia dengan perkara mubah sehingga mereka lalai dari perkara pokok.
Cara kelima ini juga akan diupayakan syaithan jika cara diatas tidak ampuh. Yaiut syetan akan berupaya untuk menyibukkan dengan perbuatan yang mubah. Yaitu perbuatan yang tidak termasuk dosa dan tidak pula termasuk amal ibadah yang mendapat pahala.
Akan tetapi dengan kesibukannya ini dia akan meninggalkan hal-hal yang berfaedah. Seperti banyak tidur, banyak makan dan minum, banyak begadang tapi tidak untuk beribadah, tapi untuk menonton bola contohnya. dll
Namun bila bani Adam selamat dari perangkap ini, maka syetan akan menggunakan cara yang terakhir.

Keenam : Syetan akan menyibukkan manusia dengan amalan yang rendah nilai pahalanya,
Cara terakhir yang diupayakan setan untuk menggoda manusia adalah membuat manusia tersebut sibuk dengan amal yang kurang utama atau amalan yang rendah nilai pahalanya dibanding dengan amalan yang lebih utama untuk dikerjakan. Dalam hal ini tentu sulit untuk diketahui bahwa itu termasuk program setan juga. misalnya dia menyibukkan bani Adam dengan amal sunnah sehingga melalaikannya dari amal wajib, dan lain sebagainya.
Demikian seterusnya (see at : Madakhilus Syaithon ‘alas shalihin 9-10)
Bila ada seorang yang selamat dari enam perangkap syaithan tersebut, maka dia termasuk hamba Allah yang ikhlas yang tidak dapat digoda oleh syaithan dengan taufiq dan hidayah dari Allah Ta’ala.

AKIBAT DIRI KITA MENJADI SYETAN / MANUSIA IBLIS

NAFS

Akan menghadirkan seluruh laku perbuatan yang menampilkan amarah,kesombongan,angkara murka,kezaliman,pertumpahan darah ,yang pada akhirnya berujung pada kerugian,kematian, kerusakan pada manusia lain,pada lingkungan serta pada alam.
Lihatlah maraknya angkara murka dimana mana.Lihatlah anarkisme dimana mana,di Makassar sedikit sedikit bentrok,sedikit sedikit tawuran,kerusuhan.Juga di Jogyakarta,juga di Jakarta.Juga di anak anak sekolah yang tawuran,juga di gedung DPR,juga di kalangan santri yang mudah di adu domba dan di poltisasi.Dan di belahan negara Timur tengah,Eropa,Rusia kini semakin tak terkendali keangkara murkaan.

SIAPA MANUSIA YANG RENTAN BISA MENJADI MANUSIA SYETAN ITU ?

1.Orang orang musrik ,kafir (ingat ! kekafiran bukan berarti hanya orang orang diluar Islam,kita yang mengaku Islam kadang tak menyadari akan kekafirannya).QS.16:100.
2.Orang orang yang menjadikan syetan sebagai pemimpin.QS.43:36
3.Orang orang yang lupa mengingat Tuhan.QS.58:19
4.Orang orang yang kurang ilmu dan enggan mencari ilmu
5.Orang orang golongan munafik
6.Orang orang golongan fasikin :
-Yang selalu berbuat keji dan kotor.(QS.02: 169)
-Yang selalu berbuat jahat dan kikir .(QS.02:268).
-Yang gemar minuman keras,(narkoba) dan perjudian.(QS.05:90).
-Memelopori permusuhan dan kebengisan serta Menghalangi manusia dari mengingat Tuhan.(QS.05:91).
7.Yang bersikap angkuh penuh kesombongan dan rakus.
8.Yang menyuruh perbuatan munkar.(QS.24:21).
Dan temannya syetan adalah orang orang pemboros,bermewah mewah dan pamer.(QS.17:27).

Ancaman Tuhan di dunia bagi manusia yang berlaku perbuatan syetan :

syt5

1.Mendapat kerugian,selalu menemui kesialan,was was,tidak merasakan nikmat berkah Tuhan,masuk penjara,digebukin orang,kesal,putus asa,dan sebagainya.
2.Tidak mendapat petunjuk-Nya.Yang tadinya harusnya aman menjadi salah jalan hingga mendapat aral,dan sebagainya.

Ancaman Tuhan di akherat bagi yang berlaku perbuatan syetan :

1.Menghadapi hari yang berat di gurun Masyar dan siksa di neraka.
2. Merasakan penyesalan yang menyekat kerongkongan seumur masa di akherat.
(selanjutnya tak perlu dijabarkan disini sebab tentang ancaman Tuhan bagi yang berlaku perbuatan syetan telah banyak keterangan keterangannya,silahkan mengaji saja).

NAMA NAMA /JENIS SYETAN IBLIS YANG MENGUASAI MANUSIA :

syetan2

Ini hanya diantaranya :
*Jenis Iblis yang menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesesatan itu banyak sekali. Bahkan para ulama ada berpendapat bahwa dalam menyesatkan manusia Iblis itu mem¬punyai spesifikasi keahlian tersendiri sesuai dengan bidangnya. Yang ahli menggoda orang shalat tugasnya hanya menggoda orang shalat, yang ahli mengkufurkan orang yang beriman tugasnya hanya mengkufurkan dengan berbagai tipu daya dan propaganda yang menyesatkan, begitu seterusnya.
Bersumber dari Umar bin Khatab ra : Bahwa Keturunan Iblis yang mempunyai tugas menggoda dan menjerumuskan manusia (ke lembah kesesatan) itu ada sembilan, yaitu: Iblis Zailatun,Wawatsin,Akwan,Hafaf,Wamurah,Laqwas,A’war,Al-Wasnan dan Dasim.

Iblis Zailatun (زَيْلَة ٌ )

Iblis ini bertugas untuk menjerumuskan para pedagang di pasar agar berdusta, mau me¬ngurangi timbangan, membuat onar diantara para pedagang, dan melakukan bujuk rayu kepada para pedagang agar melakukan pe¬nyimpangan dan kecurangan dalam aqad jual beli, dengan diiming-imingi agar cepat kaya.
Ajakan Iblis diatas itu jelas bertentangan dengan syari’ah, merusak ekonomi umat, menanamkan mental binatang yang segala cara dalam meraih kesuksesan, serta me¬numbuhkan jiwa egoistisme dan material-isme yang membabi-buta. Kalau ini sudah ditanamkan oleh Iblis, maka dengan sendiri¬nya orang itu akan senang-berenang dalam lumpur kemaksiatan dan kedurhakaan.
Karena itu, ada ancaman berat bagi siapa saja yang mengikuti ajakan Iblis Zailatun untuk melakukan kecurangan dalam jual beli.
Ada keterangan yang bersumber dari Abu Dzar ra., ia berkata: Rasulullah saw pemah bersabda:

ثَلاَثَةُلاَيَنْظُرُاللهُ اِلَيْهِِِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِوَلاَ يُزكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْم

Ada tiga orang dimana Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat (tidak memberikan rahmat), tidak membersihkan dosa mereka, dan mereka (juga) akan mendapat siksaan yang amat pedih.
Abu Dzar ra berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan (hal tersebut) sampai tiga kali :
“Aku berkata: Mereka akan menyesal dan merugi, siapa mereka itu Ya Rasulullah?. Lalu beliau bersabda:
a). Orang yang menurunkan kain¬nya (hingga menutupi kedua mata kakinya)
b). Orang yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya.
c). Dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu. (HR. Muslim)

Larangan untuk melakukan kecurangan dalam jual beli juga disebutkan dalam Al¬-Qur’an
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka mengurangi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan.” (QS. Al-Muthaffifiin :1-6)
Itulah diantara ancaman siksa bagi orang yang mengikuti Iblis Zailatun, yang melaku¬kan kecurangan dalam berdagang.

Cara Iblis Zailatun menjerumuskan para pedagang adalah dengan menakut-nakuti kebangkrutan jika berbuat jujur dalam berdagang, dan mengiming-imingi akan cepat kaya, cepat berhasil dan sukses jika mau berbuat curang dalam berdagang. jika orang yang berdagang itu lemah imannya, ambi¬sius dan materialistis tentu ia akan mudah terjebak dalam bujuk rayu Iblis Zailatun. Akhimya ia akan menjadi pengikut setia Iblius Zailatun.

Iblis Wawatsin

Iblis Wawatsin dalah Iblis yang bertugas menggoda dan menjerumuskan orang yang beriman agar selalu menggerutu, tidak sabar dan tidak ikhlas setiap kali menerima musi¬bah, atau cobaan dari Allah Ta’ala.
“Sesungguhnya wanita-wanita yang merintih (lantaran menerima musibah) ini akan dijadikan kelak di hari kiamat dua barisan dalam neraka jahannam, satu barisan berada disebelah kanan penduduk neraka dan satu barisan lagi berada disebelah kiri, akhirnya mereka menggonggong kepada penduduk ahli neraka, sebagai¬mana layaknya anjing-anjing yang menggonggong.” (HR. Ath-Thabrani).
Padahal orang yang meratapi musibah dengan menggerutu sampai merobek-robek pakaiannya adalah dosa. Tindakan seperti ini merupakan cermin dari ketidak-ikhlasan atas takdir Allah, sepertinya ia menyalahkan Allah, yang menghilangkan kesenangan dirinya, padahal semua apa yang ada di alam ini telah ditentukan oleh Allah masanya atau kehancurannya. Oleh karena itu, sya¬ri’ah memerintahkan untuk bersabar dan ikhlas setiap kali menerima cobaan dan mu¬sibah dari Allah Ta’ala, sebab setiap musibah itu ada hikmah yang terkandung didalam-nya. Allah mengancam akan menyiksa terhadap orang yang tidak bersabar dalam menerima musibah. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang lain disebutkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
“Tidak termasuk umat kami yang sempurna orang yang menampari pipinya sendiri (ketika menerima musibah), merobek-robek leher bajunya sendiri dan meratapi mayat, sebagaimana kebiasaan orang-orang jahiliyah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah diantara ancaman siksa bagi orang yang mengikuti Iblis Wawatsin. Se¬hingga ia selalu mengerutu setiap kali menerima musibah. Iblis ini dalam menjerumus¬kan orang yang beriman ke dalam jurang kemaksiatan dan kekufuran adalah dengan menanamkan rasa ketidak-puasan terhadap takdir Allah, mempengaruhi jiwanya agar memberontak ketika menerima musibah, membakar emosinya dan menghilangkan sifat sabarnya.
Jika seseorang sudah tidak mampu mengendalikan emosinya, maka Iblis dengan mudah menjerumuskan dirinya ke dalam perbuatan munkar. Hanya keima¬nan dan ketakwaan yang kuat serta kesa¬baran yang tinggi yang dapat menangkal¬nya dari gangguan dan bujuk rayu Iblis Wawatsin.

Iblis Akwan

lblis ini bertugas menyesatkan dan mem¬pengaruhi para remaja dan pimpinan umat supaya selalu berbuat dzalim, menjauhi hal-¬hal yang ma’ruf, menanamkan kesenangan berbuat munkar dan maksiat.
Cara yang digunakan oleh Iblis Akwan da¬lam menjerumuskan remaja yang beriman ke dalam lembah kemaksiatan adalah bermacam-macam. Perbuatan yang jelas mun¬karnya itu dikemas dengan baik sehingga tidak terkesan sebagai perbuatan maksiat, hal ini dilakukan-oleh Iblis Akwan untuk menarik simpati dari remaja beriman agar mau melakukannya. Termasuk memper¬halus istilah-istilah yang berbau maksiat dan munkar, ini dilakukan untuk menghilang¬kan kesan maksiat, dengan demikian remaja akan mudah dibujuk dan dirayu untuk di¬jebloskan ke dalam dunia sesat yang jauh dari tuntunan agama.
Hal ini telah dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

“… tetapi setan (Iblis) menjadikan umat-umat itu memandang baik perbutan meeka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka adzab yang sangat pedih. (QS. An-Nahl 16:63)

Dalam menyesatkan para pemimpm umat, Iblis Akwan selalu mendorong para pemim¬pin itu untuk berbuat dzalim, merampas hak rakyat, bertindak sewenang-wenang, korupsi, manipulasi, serta Iblis Akwan juga mena¬namkan rasa ketakutan dihati para pemimpin akan kemiskinan jika mereka tidak mau berbuat dzalim, curang dalam bertindak, mumpung masih berkuasa agar kekuasaan¬nya itu digunakan sebaik mungkin untuk berbuat munkar dan maksiat, baik teihadap rakyatnya maupun terhadap Allah. Kalau ini sudah berhasil, maka Iblis Akwan akan lebih mudah lagi menenggelamkan mereka ke¬dalam lumpur kemaksiatan, akhimya jadilah mereka pemimpin yang durhaka.
Untuk para pemimpin yang berbuat dzalim seperti diatas itu, Allah mengancam akan menyiksanya dengan siksaan yang amat pe¬dih. Sebagaimana disebutkan dalam Firman¬Nya:

“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat adzab yang pedih”. (QS. Asy-Syuura 42:42)

Itulah diantara ancaman siksa bagi siapa yang berbuat dzalim di muka bumi ini dan mengikuti jejak Iblis Akwan.

Iblis Hafaf

Iblis ini bertugas menyesatkan dan menje¬rumuskan kaum muslimin ke lembah nista yang berlumur dosa dengan cara melakukan tipu daya dan bujukan agar kaum muslimin membiasakan minum minuman keras. Sebab jika seseorang sudah minum minuman keras dan mabuk, maka segala bentuk kemung¬karan yang lain dengan mudah ia laksana¬kan. Seperti berzina, membunuh, berbuat aniaya, mencuri dan segala kemungkaran yang lain. Karena tingkah laku orang yang sedang mabuk itu tidak dapat dikendalikan oleh otaknya, jiwanya dan perasaannya sudah dikuasai oleh Iblis. Untuk itu, ia mudah dibimbing oleh Iblis guna dijeblos¬kan ke dalam kemaksiatan dan kekufuran. Banyak sekali orang yang tadinya tidak berani membunuh, merampok dan berzina, akan tetapi setelah ia menenggak minuman keras dan mabuk, maka segala bentuk kemak¬siatan di atas itu dapat dilakukannya dengan mudah, sepertinya tidak ada beban baginya.
Agar tidak mudah tertipu oleh bujuk rayu Iblis Hafaf, Allah telah memperingatkan kaum muslimin agar tidak meminum minuman keras, karena minuman keras adalah identik dengan setan. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (memi¬num) khamer, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-¬perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah 5:90)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
“Jauhilah khamer, sesungguhnya khamer itu adalah sumber segala kejahatan (kemaksiatan).
Didalam hadits lain yang bersumber dari Anas ra, dikatakan sebagai berikut:
Rasulullah sShallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknati sepuluh orang karena khamer, yaitu
1. Orang yang memeras bahan khamer.
2. Orang yang minta diperaskan bahan khamer untuk diminumkan kepada orang lain.
3. Orang yang minum khamer
4. Orang yang membawa khamer
5. Orang yang dituju untuk dibawakan khamer kepadanya.
6. Orang yang menuangkan minuman keras ke gelas atau lainnya.
7, Orang yang menjual minuman keras.
8. Orang yang memakan harta hasil penjualan minuman keras.
9. Orang yang membeli minuman keras.
10. Orang yang dibelikan minuman keras.
(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Demikianlah ancaman bagi orang yang me¬ngikuti Iblis Hafaf, yang mau menenggak minuman keras dan benda yang memabukkan lain¬nya.Ini malah dicampur lagi dengan oplosan tolol seperti saripuspa,spiritus,dan lainnya.Sungguh manusia itu tolol.Ya mampus .

Iblis Wamurah

Iblis Wamurah ini bertugas menjerumus¬kan para penyanyi agar mendendangkan lagu yang penuh maksiat, mengajak berbuat munkar, serta lagu-lagu yang bersyair ke¬bebasan tanpa etika. Juga menjerumuskan para penyanyi agar berpenampilan seronok, yang dapat mengundang luapan nafsu dan maksiat. Dengan demikian orang akan mudah digiring untuk dijebloskan dalam dunia munkar dan maksiat. Nyanyian dan biduanitanya itu termasuk salah satu alat Iblis yang paling ampuh untuk menjerumuskan orang ke dalam jurang kesesatan yang penuh dengan lumuran dosa. Banyak sudah orang yang melakukan kemaksiatan karena terpengaruh oleh syair lagu-lagu maksiat, atau dikarenakan men¬contoh tingkah laku artis yang diidolakan yang senang berbuat munkar, bergaul bebas dan akhlaknya yang buruk.
Oleh karena itu, untuk menangkal bujuk rayu dan propaganda yang menyesatkan yang ditiupkan oleh Iblis Wamurah adalah dengan menanamkan aqidah yang kuat dan akhlak yang mulia. Sebab dengan ber¬pegang teguh pada kedua faktor diatas Insya Allah diri akan selamat dari godaan Iblis Yang jahat ini.

Iblis Laqwas

Iblis Laqwas adalah Iblis yang bertugas mempengaruhi manusia agar tetap kafir, tetap musyrik dan tetap menyembah ber¬hala atau sesembahan lainnya selain Allah. Sudah banyak orang yang disesatkan oleh Iblis Laqwas, terkadang ia mengganti ben¬tuknya seperti seorang syekh lalu memberi¬kan pelajaran atau tuntunan yang meng¬arah kepada kemusyrikan dan pemurtadan dengan berbagai dalih serta promosi yang mengikat, sehingga banyak orang yang le¬mah imannya keluar dari jalur Islam karena mengikuti saran Iblis Laqwas, hanya demi mendapatkan sesuap nasi, jabatan, kedu¬dukan, pekerjaan, fasilitas, bahkan ada yang rela melepaskan keimanannya demi sang kekasih.

Orang yang menyembah selain Allah, berarti dirinya menjadikan Iblis sebagai pelindung¬nya, yang harus diikuti tingkah lakunya. Mereka tidak sadar kalau dirinya telah di¬sesatkan oleh Iblis untuk dijerumuskan ke dalam jurang kekufuran. Sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:

‘Sesungguhnya mereka menjadikan seran-setan pelin¬dung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.’ (QS. Al-A’raf 7:30)

Di dalam ayat yang lain Allah Ta’ala telah memperingatkan kepada umat manusia agar tidak mudah ditipu oleh setan maupun Iblis, sebab makhluk jahat ini dalam menyesatkan dan mengkufurkan manusia menggunakan bujuk rayu dan tipu muslihat yang sangat memikat, maka tidak heran bila banyak orang yang lemah imannya menjadi korban tipu muslihatnya.
Mengenai hal ini Allah Ta’ala berfirman:

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga. (QS. Al-A’raf 7:27)

Meskipun ada peringatan ayat diatas, masih banyak saja orang yang mengikuti Iblis Laqwas melakukan kekufuran dan kemusyrikan. Mereka mengira bahwa apa yang mereka perbuat itu merupakan jalan yang benar dan dapat memberi petunjuk kepada mereka, padahal jalan yang mereka tempuh itu sesat dan dapat mendatangkan siksa Allah. Itulah gambaran orang yang telah dijerumuskan oleh Iblis Laqwas ke¬dalam kesesatan.

Iblis A’war

Iblis ini bertugas untuk mempengaruhi dan menggoda laki-laki dan wanita untuk melakukan perbuatan zina, atau melakukan perbuatan maksiat lainnya.
Iblis A’war menggunakan “Pandangan Mata” sebagai cara yang paling ampuh untuk mem¬bakar nafsu kaum lelaki dan wanita untuk berbuat maksiat.
Mujahid berkata : Ketika wanita itu meng¬hadap, maka Iblis duduk di kepalanya untuk menghiasi Wajah wanita tersebut agar tampak menarik bagi orang yang melihatnya, dan jika wanita itu berpaling ke belakang, maka Iblis duduk di pantatnya untuk meng¬hiasi pantat tersebut agar tampak menarik bagi orang yang melihatnya.
Apa yang dikatakan oleh Mujahid diatas itu memang benar, sebab umumnya lelaki bila melihat wanita ketika berhadapan, maka yang pertama kali diperhatikan adalah wajahnya, sedangkan ketika melihat wanita yang berjalan didepannya, maka yang pertama kali diperhatikan adalah pantatnya, karena itu memang tempatnya Iblis.

Nabi Yahya as pernah ditanya: “Apa yang menjadi penyebab perzinaan?”. Nabi Yahya as menjawab: “Yang menjadi penyebabnya adalah memandang wanita, lalu timbul dalam hati keinginan untuk berzina dengan¬nya. Zina mata itu termasuk dosa kecil, dan hal ini dapat mendekat¬kan pada perbuatan dosa besar, yaitu zina farji. Oleh karena itu, barangsiapa yang tidak mampu menundukkan pandangannya, maka niscaya ia tidak akan mampu menjaga farjinya”. Demikian jawaban Nabi Yahya as ¬terhadap penanya tadi.

Nabi Isa as (Yesus) pernah berkata: ‘Takutlah kamu memandang (wanita), karena sesungguh¬nya memandang itu dapat menumbuhkan syahwat didalam hati, dan ini sudah cukup mendatangkan fitnah”.
Berkatalah Sa’ad bin Jubair ra: “Sesungguh¬nya fitnah yang menimpa Nabi Daud as adalah dari memandang (wanita)”.

Dan masih banyak orang laki-laki maupun wanita yang berbuat zina yang diawali dari kebiasaan memandang lawan jenisnya yang bukan muhrimnya. Karena memandang merupakan panah Iblis yang sangat ampuh untuk menjerumuskan laki-laki dan wanita ke dalam perbuatan nista yang penuh dengan dosa. Sekarang tidak sedikit orang yang men-jadi budak Iblis A’war karena ingin melampiaskan nafsunya. Semoga kita dijauhkan oleh Allah dari godaan lblis ini.

Iblis ini juga tugasnya mengencingi orang supaya malas bangun untuk beribadah. Jika orang sudah malas bangun malam untuk beribadah berarti dirinya mementingkan tidur¬nya, tidak memikirkan tentang kehidupan¬nya nanti di akhirat, tidak mau bermunajat kepada Allah berarti ada hal yang lebih pen¬ting selain bermunajat, apakah itu tidur atau kegiatan-kegiatan lain yang berbau duniawi¬yah. Kalau hal ini sudah menjadi kebiasaan seorang hamba, maka akan mempermudah Iblis menjauhkan dia dari kegiatan agama, lama kelamaan dirinya akan bisa meninggalkan aktivitas ibadah. Kalau sudah begini, Iblis tinggal menggiring dia untuk dijeru¬muskan ke dalam jurang kemaksiatan dan kekufuran.

Iblis Al-Wasnan

Banyak orang terjerumus menjadi ahli mak¬siat, bahkan dirinya sampai rela menanggal¬kan aqidahnya yang disebabkan oleh malas beribadah.
Malas beribadah itu menunjuk¬kan lemah keimanannya, bahkan keimanan¬nya bisa sebagai lipstik belaka, sebagai pe¬manis bibir saja, buktinya ia mengaku ber¬iman tetapi tidak mau beribadah, bahkan perintah agama ia tentang, larangannya ia terjang. Orang-orang seperti inilah yang setia menjadi pengikut Iblis Al-Wasnan, yang malas beribadah tetapi senang bermaksiat. Al-Qur’an telah memperingatkan kaum muslimin agar tidak mengikuti langkah-¬langkah Iblis, sebab Iblis itu menyesatkan, menyauhkan orang agar tidak beribadah ke¬pada Allah Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-An’am 142:

“Dan janganlah kamu mmglkuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al An’am 6:142)”

Dengan demikian, bila ada orang malas ber¬ibadah, senang berbuat munkar, maka dia telah menjadi teman Iblis.

Iblis Dasim

Iblis yang satu ini~bertugas untuk mempe¬ngaruhi, menggoda dan mendorong suami istri untuk melakukan penyelewengan. Dengan terjadinya penyelewengan, maka sudah barang tentu rumah tangganya akan menjadi berantakan, tidak harmonis, jauh dari kebahagiaan yang pada akhimya nanti akan terjadi perceraian. Inilah yang diingin¬kan oleh Iblis Dasim.

Dengan terjadinya perceraian, maka orang akan mudah untuk digiring berbuat munkar dan maksiat, meskipun tidak sedikit orang yang tidak menikah juga tenggelam dalam dunia maksiat. Setidak-tidaknya orang yang sudah bercerai itu dapat dimanfaatkan oleh Iblis untuk dijerumuskan dalam perbuatan nista, seperti zina dan perbuatan munkar lainnya, karena ia sudah tidak mempunyai tempat untuk menyalurkan kebutuhan bio¬logisnya secara halal. Karena diantara tujuan pernikahan adalah untuk menundukkan pandangan mata, menyalurkan kebutuhan biologis secara halal, untuk memperoleh keturunan, disamping menjalankan Sun¬nah Rasulullah saw. Dan masih banyak lagi bahaya atau madlarat yang disebabkan tidak menikah, dan keadaan inilah yang dimanfaat¬kan oleh Iblis Dasim untuk menjerumus¬kan kaum muslimin ke lembah nista yang penuh dengan dosa.
Oleh karena itu, Iblis sangat membenci ter¬hadap keluarga yang rukun, damai dan sejahtera. Sebab kondisi keluarga seperti ini akan mendapat limpahan rahmat dan ber¬kah dari Allah Ta’ala.
Itulah nama-nama Iblis yang dikatakan oleh Umar bin Khathab yang bertugas menye¬satkan manusia untuk dijerumuskan ke dalam kefasikan, kemaksiatan, kemusyrikan dan keku¬furan, yang nanti menjadi temannya di dalam neraka. Semoga Allah menjauhkan dan menyela-matkan kita dari segala tipu daya Iblis ini.

CARA KERJA IBLIS MENGENDALIKAN GERAK MOTORIK MANUSIA

syt6

Tuhan telah menyematkan kepada kita 2 (dua) unsur nafs yakni : akal budi,sekaligus nafs syetani.

*          فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا         *

“Maka Dia mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”,(QS.91:8).

Kedua nafs manusia tersebut dimaksudkan Tuhan sebagai wahana alternatif bagi manusia untuk memilihnya.Sistim,tata cara serta jalur jalurnya telah di berikan pedomannya oleh Tuhan.Bagi yang memilih nafs kebajikan / akal budi sebagai jalan yang ditempuhnya maka Tuhan tentu memberikan apresiasinya.Begitu juga bagi manusia setelah di beri petunjuk / informasi untuk memilih akal budi sebagai jalan yang harus ditempuhnya namun manusia itu tidak mematuhinya dan memilih nafs syetani / jalan kefasikan,maka Tuhanpun telah menyampaikan ancaman / sangsinya.

Nafs kefasikan itulah yang merupakan domisili nafs syetani yang ada dalam diri kita dalam bentuk sifat / bakat asal.Keberadaannya sebenarnya tertutup,tersembunyi dalam relung qalbu yang paling dalam,namun terluar dari inti qalbu yakni “NURANI”.(Oleh karena itu kadang ada ungkapan : “coba renungkan dengan hati nurani yang paling dalam”.).Dengan demikian letak “NURANI” ada pada inti qalbu diselimuti oleh lapisan “Nafs kefasikan” .Antara nafs kefasikan dengan nafs kebajikan tersebut masing masing terdapat saluran lembut (batin) dan terkoneksi dengan “HASRAT” yang terhubung ke jaringan otak manusia,yang merupakan domisili “AQAL” / pikiran dalam benak manusia,yang pada ujung aqal pikiran manusia tersebut terdapat “antena penerima / receiver” untuk menangkap maupun menerima signal signal ilahiyah ( jalur Tuhan memberikan pencerahan,inspirasi maupun ilham) kepada manusia.

Ketika Tuhan memberikan signal petunjuk kepada seseorang,maka receiver aqal pikiran manusia menangkapnya kemudian diteruskan ke dalam qalbu dan qalbu mentransfer ke kedua nafs tersebut,dan masing berebut untuk meng-eksekusinya dengan memerintahkan aqal pikiran untuk memberi perintah kepada anggota badan sesuai niatnya.
Perbedaannya adalah ketika nafs kebajikan akan selalu meng-eksekusi perintah niat baiknya,maka saat bersamaan itu pula secara otomatic nafs kebajikan menutup/menyumbat jaringan nafs kefasikan ,sehingga eksekusi berjalan lancar diiringi gerakan motorik anggota tubuh untuk melaksanakannya,maka lahirlah “PERBUATAN BAIK”.

Nah,ketika iblis mengetahui katub nafs kefasikan tertutup oleh tekanan arus nafs kebajikan,maka saat itulah iblis berupaya merasuk ke dalam qalbu manusia,berusaha untuk membuka katub nafs kefasikan yang tertutup / terhambat oleh nafs kebajikan,kemudian membisikkan bisikan iblis,maka jika nafs kebajikan kalah (tidak ada usaha manusia itu untuk mengendalikan nafsyunya),maka nafs kefasikan menggantikan eksekusi dengan memerintahkan qalbu untuk berniat jahat,maka lahirlah perbuatan negatif,itulah perbuatan syetani,dan berubahlah kita menjadi manusia iblis/syetan.

Cara cara iblis merasuk ke dalam tubuh manusia kemudian bertengger di qalbu dan menguasai nafs kefasikan sebagai berikut :

hati

Caranya sangat banyak,diantaranya melalui pembuluh darah di bagian anggota tubuh bawah,kanan kiri,atas dan depan belakang kita.Jangan menganggap tubuh manusia itu rapat.Manusia itu memiliki pori pori,nah ilmu medis telah mengungkapkan bahwa pori pori manusia itu seperti sebuah lorong lorong berlobang pada jaringan kulit dan daging manusia.Ukurannya sangat kecil,tidak hanya mikron tetapi ukuran nano.Namun bukan penghalang bagi iblis masuk melalui pori pori kita,sebab ia diberikan kemampuan merasuk ke dalam lubang lubang nano.Saat merasuk melalui pori pori manusia,iblis kemudian menumpang aliran darah sepanjang pembuluh darah mengaliri tubuh hingga ia berlabuh di jaringan pembuluh darah hati,kemudian menyusup ke dalam inti hati (Qalbu).Nah,sampailah ia di gerbang Nafs Az-Zulmun (singgasana nafs kefasikan berada).Kemudian iblispun memulai operasinya dari sana.

Demikianlah mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk tidak menuruti hawa nafsyu syetani,untuk tidak mengikuti bisikan syetani.Pantesan Tuhan selalu bilang kepada kita untuk selalu beristighfar memohon ampunan,untuk selalu berdzikir mengingat-Nya.Sebab karena kita selalu cenderung kalah dengan nafs syetani kita,sebab karena kita selalu menuruti hawa nafs syetani kita.Sedangkan istighfar dan dzikir ternyata berfungsi menguatkan nafs Al Muthmainnah yang ada di dalam qalbu kita.
Untuk penjabaran tentang jenis jenis nafs manusia,silahkan buka dan baca pada link berikut :

https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/07/26/9-sembilan-unsur-roh-yang-terdapat-dalam-diri-manusia/

KEMENANGAN IBLIS / SYETAN

syt7

Mengenali keadaan umat manusia yang membuat syetan “PESTA PORA” karena keberhasilan menciptakan “manusia syetan” :

1. Terjadinya perceraian rumah tangga.
Iblis sebagai pengendali syetan selalu memuji semua keberhasilan para syetan (baca: para manusia syetan), tetapi Iblis akan membanggakan kelompok syetan yang berhasil menceraikan suami istri,
“…syetan menggoda untuk menceraikan suami dengan istrinya .”(QS.2:102)

2. Durhaka pada orang tua,menyakiti orang tua,keluarga,dsb
3. Perkelahian,tawuran,anarkisme sampai membunuh atau terbunuh
4. Pecandu khamar – NARKOBA (QS 5:90)
5. Tenggelam dalam kejahatan,perjudian,prostitusi, terus menerus berzina
6. Ketagihan duit haram, seperti penipu, koruptor, perampok, rentenir dan sebagainya
7. “Attakabburru bil hasadi wal intiqoomi” Angkuh sekali dibarengi dengan sifat dengki, pemarah dan dendam kusumat (QS 31:18)
8. Menjadi dukun dan pengikut setia dukun ,menyantet orang,dsb
9.KDRT,pelecehan sexual, penyiksaan,dsb
10.Kikir,pelit,tak peduli dengan sesama,rakus dan bermewah mewahan.
11. Puncak kegembiraan syetan, manusia mati dalam keadaan ma’siyat sampai mati kafir kepada ALLAH,

“Sesungguhnya orang-orang kafir, dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka dilaknat ALLAH, para Malaikat dan manusia seluruhnya” (QS 2:161).

Setelah iblis berhasil mencetak manusia syetan,maka ketika manusia tersebut mengalami celaka,apes dan siksaan akibat laku perbuatannya,maka saat itulah iblis akan tertawa terbahak bahak dan melarikan diri tak menolongnya sedikitpun.(QS.8:48).

CARA MENANGKAL SYETAN IBLIS AGAR KITA TIDAK MENJADI MANUSIA IBLIS :

tarekat 5

Kita memang tidak dapat menghilangkan syetan yang ada dalam diri kita,namun saat kita terjebak dengan nafs syetani kita maka segeralah beristighfar memohon ampunan dan berzikir kepada Allah Ta’ala.Contoh: ketika kita marah,maka ya marah saja tetapi yang beralasan dan jangan lama lama dan segeralah saling menyadari dan maaf memaafkan.Kemudian istighfar (kata orang Jawa “eling”).Karena marah adalah sifat sunatullah kita.Bohong jika orang mengaku suci tak pernah punya amarah.

Hendaklah orang orang yang masih merasa kurang ilmu (awam) ya belajarlah menimba ilmu.Dan bagi kaum intelektual (Kyai,ulama,ustadz,pendeta,bhiksu serta profesional lainnya),hendaklah jangan merasa lebih tinggi dan menyombongkan diri.Ingat bahwa ilmu yang sudah di kuasai adalah hanya setetes dari lautan ilmu Tuhan.Jadi jangan merasa diri cukup atau puas ditempat.Sebab semakin takabur maka semakin iblis menugaskan jenis syetan yang lebih kuat.

Kemudian berlindunglah kepada Tuhan agar dijauhkan dari tipu daya iblis dan syetan kita.
(QS.23 : 97 s/d 98 , 7 : 200 s/d 202 , 113 : 02 s/d 05 , 114 : 01 s/d 06).

Kemudian berlaku perbuatan yang “low profil” saja,berbuat kemanfaatan bagi diri serta sekelilingnya.Dan segera tinggalkanlah situasi situasi yang tidak menguntungkan dan mengarah pada terjadinya angkara murka dan segera hindari zona zona yang bakal dijadikan sebagai pesta poranya syetan dan iblis.Atau kita akan terjebak pada dilema “menjadi tumbal” syetan iblis.

KESIMPULAN

*Maka sesungguhnya syetan iblis itu bisa berupa wujud sebagai manusia berdasi,manusia bersorban,manusia bergamis,berjilbab,ber-rosario,berkalung untaian tasbih tasbih,dan lain sebagainya.
*Setiap syetan sudah pasti iblis dan setiap iblis sudah pasti syetan,tetapi tidak setiap Jin dan Manusia itu iblis dan syetan,yakni manusia manusia yang menyadari bahwa di dalam dirinya terdapat nafs syetani kemudian berusaha untuk menumpasnya dengan selalu beristighfar,berzikir,mudah meminta maaf,kemudian berlaku perbuatan yang bermanfaat bagi diri serta kepada orang lain dan alam semesta.
*Nafs syetani yang ada dalam diri kita tak akan pernah menjelma jika kita kuat dan selalu mengikuti jiwa keilahian dan menutup rapat katub nafs kefasikan.Dan upaya iblis merasuki tubuh kita tak akan terjadi jika kita menebalkan nafs keimanan,ketaqwaan dan kemukhlisan.
QS.16:99
QS.38:82 – 83

Demikian semoga bermanfaat dan diambil hikmahnya,

Salam Cahaya-Nya.

Kelana Delapan Penjuru Angin,
Lembah Burangkeng ,Jum’at 28 Muharram 1436 H / 21 November 2014.
CopyRights@2014.

Reff :
*Risalatul Islam – KH.M.Syamsuddin – Prembun – Jawa Tengah.
*Al Ban Al Jan – KH.M.Syamsuddin – Prembun – Jawa Tengah.
* http://risalaharifin.blogspot.com/2012/01/keberhasilan-setan-menggoda-manusia.html
* http://www.akhirzaman.info/allien-a-ufo/75-alien/871-nama-nama-iblis-yang-menggoda-manusia.html
* http://www.solusiislam.com/2013/04/6-langkah-dan-cara-setan-menggoda.html
*Al Qur’an terjemah DEPAG RI
*Klasifikasi Kandungan Al Qur’an – Choirudin Hadhiri Sp.
*Perjalanan suluk SSJ – Al Ustadz Agus Sunyoto.

**TORIQOH / TAREKAT)**

tarekat 4

KENALI ESENSI TAREKAT

ANTARA ALIRAN DAN AMALAN,ANTARA RITUAL DAN IBADAH

“WANITA BERSUAMI YANG MASIH MENGEMBAN FUNGSI TANGGUNGJAWAB RUMAH TANGGANYA,SEBAIKNYA JANGANLAH LARUT DALAM KEGIATAN BERTAREKAT,TANPA KOMPROMI DENGAN SUAMI/KELUARGA”

Pernah mendengar kata-kata “TAREKAT” seperti judul tulisan yang tersebut diatas? Atau justru anda adalah pelaku/pengamal Tarekat fanatik dari salah satu organisasi Tarekat? Atau masih samar-samar akan pengetahuan dan pemahaman tentang Tarekat ?
Maka bagi yang benar-benar belum mengetahui tentang ilmu Tarekat,semoga tulisan ini dapat mengawali pengetahuan tentang hal itu.Dan bagi yang telah familier serta rajin menjalankan amalan-amalan Tarekat,bahkan aktif dalam organisasi ketarekatan ,maka semoga paparan berikut dapat semakin mengisi cakrawala ilmu pengetahuan ketarekatan.Sementara bagi yang masih samar-samar atau setengah-setengah dalam pengetahuan tentang Tarekat,maka semoga penjabaran ringkas berikut ini dapat menambah kejelasan dan pengetahuan serta dapat menjadikan inspirasi, alternatif dalam  memperbanyak amalan shalihan, beribadah mengabdi kepada Tuhannya secara ikhlas.

ANTARA REALITA DAN PROBLEMATIKA

Sepertinya telah sering kita saksikan disekitar kehidupan kita,baik melalui media maupun menyaksikan langsung ,banyak sekelompok umat tampak menjalankan ritual keagamaan tertentu secara berjama’ah dengan khidmat berdzikir menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat,ke kanan ke kiri,ke atas ke bawah,kemudian seluruh badan dan kepala terselubung rapat oleh kerudung/kain putih seraya tak lepas jari-jemarinya menghitung bulir-bulir tasbih diiringi gemuruh gumam do’a dan sholawat hingga ribuan kali.Begitu khusyu’ dan berkonsentrasi tinggi tanpa peduli dengan urusan lain.Sementara sering kita lihat di media ketika pemerintah mengumumkan penentuan hari Raya Iedul Fitri ataupun Hari Raya Qurban,maka ada jama’ah Tarekat tertentu di wilayah Aceh,Sumatera Barat,Sulawesi dan wilayah lainnya ada yang merayakannya dua hari sebelum maupun ada yang merayakan dua hari setelah penentuan yang ditetapkan oleh pemerintah.Begitulah berbagai ragam cara-cara manusia berlomba-lomba mereguk amal,menyembah,mengabdi dan mencari jalan menuju kepada Sang Khalik.
Saat-saat hari tertentu jama’ah tarekat mengadakan pengajian yang dibimbing oleh seorang guru atau syeikh.Kesan execlusive tampak kental mewarnai jama’ah ini dengan berpakaian/gamis serba hitam,kelompok lainnya ada yang putih-putih,dan sebagainya.Di Indonesia kelompok jama’ah tarekat terbilang berciri moderat atau lebih tampak menampilkan acara-acara ritual yang damai dan cenderung berkonsentrasi di tempat-tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota.Namun di sebagian wilayah negara di Timur Tengah,kelompok jama’ah tarekat banyak yang melaksanakan ritual ekstrim di keramaian orang banyak,seperti ritual mencambuk-cambuk/melukai badannya sendiri hingga berdarah.

“WANITA BERSUAMI YANG MASIH MENGEMBAN FUNGSI TANGGUNGJAWAB RUMAH TANGGANYA,SEBAIKNYA JANGANLAH LARUT DALAM KEGIATAN BERTAREKAT,TANPA KOMPROMI DENGAN SUAMI/KELUARGA”

Bagi sebagian kelompok umat,pelaksanaan Tarekat telah menjadi amalan baku dan dapat menjalani dengan lancar tanpa masalah.Hal tersebut terutama bagi insan-insan berkeluarga yang benar-benar telah memahami ilmu pengetahuan bertarekat.Namun bagi kelompok keluarga yang diantara anggota keluarga tersebut ada yang tidak setara ilmu pengetahuan Tarekatnya,maka akan banyak menimbulkan masalah,apalagi bagi yang hanya sekedar ikut-ikutan atau hanya karena faktor diajak pengajian oleh rekannya namun tidak tahu kalau kelompok pengajian yang diikutinya tersebut adalah pengajian dari salah satu organisasi Tarekat.Hal ini lazim terjadi ditengah-tengah keluarga kita dan di sekitar lingkungan kita. Biasanya ibu-ibu rumah tangga begitu antusias mengikuti ajakan rekan tetangga atau teman maya mengikuti pengajian pada seorang guru/Syeikh ke suatu tempat jauh kadang diluar kota hingga harus menginap,meninggalkan anak/suami.Begitu pulang langsung hari-hari disibukkan dengan bacaan-bacaan wirid sekian ribu kali,puasa ini,puasa itu hingga sering terjadi problem rumah tangga karena suami kesal sang istrinya banyak lalai/meninggalkan tanggung jawab fungsi sebagai ibu rumah tangga yang semestinya. Keluarga,anak tak diperhatikan/ tak terurusi namun justru sibuk dengan ritual-ritual yang ditekankan oleh majlisnya tersebut,setiap hari. Demikian juga sebaliknya ada suami yang meninggalkan keluarganya berhari-hari tanpa kompromi yang jelas dan tanpa memikirkan kebutuhan ekonomi bagi keluarga yang ditinggalkannya dalam perkara yang sama.

Maka sebaiknya bagi wanita bersuami/ibu rumah tangga yang kapasitas dan tanggung jawabnya sangat dibutuhkan untuk keluarganya,semestinya janganlah larut sibuk mengamalkan ritual-ritual tarekat setiap harinya tanpa ijin dan kompromi dengan keluarga/ suami, apalagi taqlid buta terhadap ritual ritual tersebut.Sebab jika hal demikian tetap dilakukan dengan alasan keyakinan/keimanan menurut prasangka pribadi sendiri, maka sungguh akan banyak mendapatkan mudharat daripada manfaat yang lebih besar.Ibarat menangguk air dengan keranjang bolong.
Sementara disisi lain sangat disayangkan dari guru pembimbingnya sendiri (tidak semua-red.), yang berorganisasi dan menjalankan/memimpin Tarekat, dengan banyak anggota/jama’ahnya tidak memperhatikan akan perkara ini yaitu apakah jama’ahnya dalam kondisi sedang memikul tanggung jawab keluarganya atau tidak, malah kadang langsung main “Bai’at” saja, tanpa memberikan pemahaman akan esensi tarekat yang sesungguhnya. Atau tak ditanya apakah masuk tarekat hanya ikut-ikutan atau karena telah berpengetahuan.

Salah satu contoh komunikasi bijak seorang guru pembimbing :

“Ibu,Jika ibu masih banyak tugas dan tanggung jawab dalam keluarga, masih menyusui,masih ngurusi pekerjaan rumah tangga,masih ngurusi anak/ suami silahkan ibu pulang kembali dan amalkan tarekat bersama keluarga saja dirumah,sebab melaksanakan tugas dan kewajiban seorang istri,taat dan mematuhi suami adalah sama dengan bertarekat juga.”

Cobalah renungkan perkara ini.

Baik sobat budiman Nusantara,
Mari kita gali lebih dalam pengetahuan tentang TAREKAT ini.Tulisan ini aku persembahkan kepada ikhwan fillah sebangsa setanah air dalam maksud menambah cakrawala pengetahuan dan pemahaman akan nlai-nilai agama agar dapat menjadikan referensi, inspirasi, penambah keimanan dan kecerdasan pikir dalam menjalani kehidupan, beribadah mengabdi kepada Sang Maha Pencipta. Dan tulisan ini tersusun dan terangkum berdasarkan pengamatan, pengalaman, pengelanaan dan mengaji langsung dengan Ulama/Kyai, serta digali dari berbagai sumber.

MAKNA DAN ESENSI TAREKAT

 tarekat 2

TINGKATAN / JENJANG AMALIAH ORANG MUKMIN DALAM KEILMUAN AGAMA :

Dalam Islam telah dikenal adanya tahapan/ jenjang / derajat keilmuan dalam menjalankan amaliah agama yakni :
-Tahapan SYAREAT dan HAKEKAT.

Maka,kedua jenjang amaliah ini harus diaplikasikan dengan metode yang benar, yakni dengan TORIQOH/TAREKAT. Orang menjalankan Syareat musti harus dengan TAREKAT yang benar, demikian juga orang menjalankan HAKEKAT musti harus dengan TAREKAT yang benar pula.

(Sedang Ma’rifat adalah diluar skoup jenjang Syareat dan Hakekat, melainkan merupakan pangkat (maqam) execlusive pemberian Tuhan (hak prerogativ Allah) kepada hamba-Nya tertentu yang dikehendaki-Nya). Artinya,belum tentu pasti seseorang yang mencapai jenjang Syareat dan Hakekat langsung otomatic mencapai/menguasai “Makrifat”. Tidak demikian. Namun yang jelas bahwa jika seseorang yang dengan ikhlas menjalankan syareat,hakekat maka insyaAllah ia akan menuju TAQWA.

Syareat adalah dimensi amaliah (perundang-undangan) dasar, (S.O.P), sedangkan Tareqat adalah dimensi cara pengamalannya (metode), sementara Haqeqat (Esensi) adalah dimensi titik tujuan yang dapat membuka kesadaran pemahaman secara global, atau tingkatan yang dapat mejadikan orang memahami makna kehidupan dan agama.Syariat laksana baju sedangkan hakikat ibarat badan. (Orang mengenakan baju harus dengan cara, demikian juga orang merawat badan juga harus dengan cara).

Jika dianalogikan ke dalam tataran bahasa disiplin ilmu, maka Syareat merupakan ilmu Praktis, Tarekat adalah Metodologis,Haqeqat adalah Teoritis, sedangkan maqam Ma’rifat adalah dimensi Filosofis.

Imam Malik mengatakan bahwa seorang mukmin sejati adalah orang yang mengamalkan syariat dan hakikat secara bersamaan tanpa meninggalkan salah satunya.

Adagium populer : “Hakikat tanpa syariat adalah kepalsuan, sedang syariat tanpa hakikat adalah sia-sia (kosong tak berkualitas).”

Imam Malik berkata, “Barangsiapa bersyariat tanpa berhakikat, niscaya ia akan menjadi fasik (mudah terjebak dalam kejahiliyahan). Sedang yang berhakikat tanpa bersyariat, niscaya ia akan menjadi zindik (mendustai agama) .Barangsiapa menghimpun keduanya [syariat dan hakikat], ia benar-benar telah ber-hakikat.”
*Syariat adalah hukum-hukum atau aturan-aturan dari Allah yang disampaikan oleh Nabi untuk dijadikan pedoman kepada manusia, baik aturan ibadah maupun yang lainnya. Apa yang tertulis dalam Al-Qur’an hanya berupa pokok ajaran dan bersifat universal, karenanya Nabi yang merupakan orang paling dekat dengan Allah dan paling memahami Al-Qur’an menjelaskan aturan pokok tersebut lewat ucapan dan tindakan Beliau, para sahabat menjadikan sebagai pedoman kedua yang dikenal sebagai hadist. Ucapan Nabi bernilai tinggi dan masih sarat dengan simbol-simbol yang memerlukan keahlian untuk menafsirkannya.

Tarqat

Tarekat berasal dari kata “Toro – Thariqah” yang berarti jalan.Tarekat adalah jalan-jalan yang ditempuh para sufi sebagai jalan yang berpangkal dari syariat sebab jalan utama disebut syar’, sedangkan anak jalan tersebut thariq. Kata turun ini menunjukkan bahwa bagi para sufi, dimensi keruhanian merupakan cabang dari jalan utama yang terdiri dari hukum ilahi, tempat berpijak bagi setiap muslim. Tidak mungkin jika ada anak jalan /gang,bila tidak ada jalan utama tempat berpangkal.Dimensi kebatinan seseorang tidak mungkin diraih bila perintah syariat yang mengikat itu tidak ditaati.
Jika seorang yang mengaku muslim namun hanya sekedar menjalankan perintah agama secara standar saja,(asal memenuhi kewajiban), maka ia dalam katagori bersyareat saja.Sedangkan bagi seseorang yang telah berpengetahuan syareat kemudian ingin meningkatkan qualitas ibadahnya serta berniat ingin mencari jalan mendapatkan ridho Tuhan maka ia telah memasuki tahapan lanjutan dalam agama yakni ber-HAKEKAT. Inilah jalan yang harus ditempuh oleh seorang calon sufi agar ia berada sedekat mungkin dengan Allah.
Namun jika seseorang yang mengaku muslim hanya menjalankan dimensi hakekat saja dengan mengabaikan Syareat, maka itu sebuah kedustaan belaka. Dan jika seseorang hanya taqlid mempelajari/mengamalkan dimensi Hakekat tanpa belajar/mengetahui dan memenuhi batasan batasan syareatnya, maka ia akan mengarah pada jalur kesesatan.

HUBUNGAN ANTARA TAREKAT DAN TASAWUF :

tarekat 1

Tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tarekat itu adalah cara dan jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian ,Tarekat dan Tasawuf adalah jalan atau cara yang ditempuh oleh para salik (pelaku tarekat dan tasawuf) untuk mendekatkan diri pada Allah, dalam rangka melaksanakan perintah Allah.Seperti dalam surat Al-maidah : 35 ,

“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah: 35).

Maka Tarekat ada dua katagori :
1.TORIQATU AMALIAH  أمالية طريقة (Praksis)
2.TORIQATU JAM’IYAH  الجماعة طريقة (LEMBAGA/ORGANISASI)

Tarekat Amaliah adalah tarekat yang tidak berkaitan dengan kelembagaan yang sengaja dibentuk/diikuti dengan mengamalkan suatu ritual-ritual yang diajarkan oleh seorang Guru/Syeikh tertentu, melainkan amalan-amalan baku yang seseorang secara personal menjalankannya dengan khusyu dan ikhlas setiap harinya dengan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW yang bersumber/berpedoman pada syareat dan as sunnah (Al-Quran dan Al-Hadits), yang cara-cara menjalankan dan pengamalan ibadahnya didapat dari mengaji /diajarkan oleh para guru ngaji/Ustadz,dari pesantren,dari sekolah,dan umum lainnya, kemudian ia terus berupaya meningkatkan kualitas amalannya.

Sedangkan Tarekat Jam’iyah adalah menjalankan amalan-amalan ibadah dengan cara-cara tertentu berdasar bimbingan seorang guru/Syeikh yang tergabung ke dalam suatu lembaga/organisasi ketarekatan yang eksklusif. Kemudian tiap tarikat mempunyai syaikh, upacara ritual, dan bentuk ziir sendiri. Di timur tengah,dikenal dengan “ta’ifdah” .Ada juga dikenal kelompok muslim kebatinan dengan nama Ikhwan Al-Safa*.Anggotanya cenderung para pemuda.
Kemudian setiap anggota dilakukan upacara “pengambilan sumpah” / Bai’at,yang menandakan telah resmi bergabung ke dalam organisasi sebagai anggota dan merupakan deklair kepatuhan serta ketaatan terhadap ritual-ritual yang diamalkan jama’ah organisasi serta fatwa sang guru.

Sumber dalil untuk tiap tiap orang beriman dalam mengaplikasikan agama (tuntunan hidup) harus dengan cara/metode/tarekat adalah berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an diantaranya dalam surat : Al- Ahzab 41-43 , An- Nur 36-37 , Al- A’raaf 205 , An -Naziat 37-41.

SEJARAH TAREKAT

Pada masa Nabi Muhammad SAW tidak dikenal adanya tarekat lembaga atau terdengar adanya istilah “Tarekat Muhammad Rasulullah”, tidak ada itu, sebab Rasulullah SAW saat itu secara tidak langsung bertindak sebagai lembaga itu sendiri. Nabi secara langsung mengajari umat untuk bertarekat dengan berdakwah membimbing umat agar manusia menyembah hanya kepada Allah Yang Esa. Kemudian setelah mendapatkan risalah baku yakni Al-Qur’an, yang kemudian dijadikan sebagai Syareat/pedoman baku (S.O.P), bagi seluruh umat manusia dan bagi yang mengikuti millah Beliau, maka barulah Rasulullah mengajarkan Tarekat Amaliah secara nyata (praksis langsung), mengajarkan laku perbuatan nilai-nilai Islam secara langsung maupun secara perkataan (As-Sunnah), bersama para sahabatnya, pengikutnya dengan cara melaksanakan sholat, Zakat, Puasa, berhaji serta berbuat kebaikan, bersedekah, berkasih sayang, berbuat manfaat, menyerukan persatuan, hindari/jauhi faham faham sektarian/sekte dan beramar ma’ruf nahi munkar. Itulah Tarekat yang lebih besar tingkatannya. Sedangkan masakini banyak aliran aliran organisasi/kelompok mazabis cenderung eksklusif, kebanyakan berorientasi mengumpulkan amal untuk kepentingan pahala pribadi/jama’ahnya. Bahkan melaksanakan sholat saja wajib hanya bersama kelompoknya saja, enggan bahkan “mengharamkan” bermakmum dengan luar kelompoknya. Kemudian mereka mendirikan masjid masjid ekseklusif dan sebagainya. Ini jauh dari nilai nilai tarekat itu sendiri.

Setelah Nabi Muhammad SAW,maka seolah umat Islam bagai “anak ayam kehilangan induk semang”, tiada sosok panutan yang kharismatik, agung dan utama. Saat zaman itulah umat-umat Islam mencari jati diri masing-masing dalam mencari jalan mendekatkan diri pada Tuhannya. Kemudian berkembanglah ilmu tasawuf, bermunculanlah tokoh-tokoh sufi bersifat personal. Kemudian tokoh-tokoh sufi yang telah dalam ilmu pengetahuannya memiliki kharisma,kemudian memiliki banyak murid/pengikut yang sejak masa itulah mulai dikenal adanya Tarekat lembaga atau cabang tasawuf yang berorganisasi.Metamorfosa ini tidak terlepas dari perkembangan dan pengaruh ajaran tarekat para pelaku tasawuf itu sendiri yang seolah sangat didambakan umat Islam saat itu.Semakin luas pengaruh tokoh tasawufnya,semakin banyak umat berhasrat menjadi pengikutnya.Maka berkembanglah aliran tarekat yang dibimbing oleh seorang guru/Syeikh dengan berbagai corak dan cirinya.

*Sulit menentukan kapan aliran tarekat dijalankan sebagai suatu lembaga dimulai.Menurut Harun Nasution , bahwa setalah Al Ghozali menghalalkan tasawuf yang sebelumnya dikatakan sesat, tasawuf berkembang dari dunia islam, tetapi perkembangannya melalui tarekat. Tarekat adalah organisasi dari pengikut sufi-sufi besar yang bertujuan untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf gurunya. Tarekat ini memakai suatu tempat pusat kegiatan yang disebut ribat – organisasi serupa mulai timbul pada abad XII M, tetapi baru Nampak perkembangannya pada abad-abad berikutnya.Tarekat diartikan sebagai jalan yang khusus di peruntukkan bagi mereka para pencari Tuhan yang merupakan perpaduan antara iman dan islam dalam bentuk ihsan.
Secara amaliyah (praksis) tarekat personal timbul dan berkembang semenjak abad-abad pertama hijriah dalam bentuk pelaku zuhud dengan berdasarkan pada Al Qur’an dan Al Sunnah. Zuhud bertujuan agar manusia dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungan terhadap kenikmatan duniawiyah secara berlebihan.
Sejak abad VI dan VII hijriyah (XII dan XIII M) tarekat-tarekat lembaga telah memulai jaringannya di seluruh dunia islam, taraf organisasinya beraneka ragam. Perbedaannya yang pertama dari semua itu terletak pada upacara dan dzikir, keanggotaannya sangat heterogen. Kemudian sejak abad VIII H (XIV M) menyebar dari sinegal ke cina. Semenjak itu cabang-cabang tarekat berkembang dengan ciri masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya.

*BERBAGAI CABANG ORGANISASI TAREKAT

tarekat 3

(Silahkan dijadikan referensi bagi sobat yang berminat masuk Tarekat)

1. Tarekat Qodariyah
Tarekat ini didirikan oleh Muhyi al-Din Abu Muhamad ‘Adb al Qodir bin Musa bin ‘Abdullah bin Musa (470-561 H 1077/1166 M) pengikutnya menyebar ke berbagai pelosok dunia islam sampai ke Asia barat dan Mesir. Pada abad XIX M bercabang sampai ke Maroko dan Indonesia. Tarekat ini dinilai sebagai tarekat paling progresif tapi tidak jauh dari faham salf. Tarekat ini lebih berkonsentrasi kepada pemurnian Tauhidullah dan zduhur dalam ibadah. Ia memiliki keunggulan dalam ihwal kedermawanan, kesalehan dan kerendahan hati serta ketidaksetujuan terhadap fanatisme agama dan politik.
Diantara ajaran pokoknya ialah : bercita-cita tinggi (“Aluw al Himmah) menghindari segala yang haram, memelihara hikmah, merealisasikan maksud dan mengagungkan nikmat Allah, beberapa sebab keberhasilan tarekat ini dalam rekkrutmen murid dan calon murid adalah ketaatan yang teguh dalam syariat dan realisasi ajaran salaf, kencamannya yang gencar terhadap paham yang menyandarkan keimanan semata sebagai alat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam kecamannya terhadap paham reinkarnasi /(tanasukh al ruh). Ajaran-ajarannya dilandaskn secara kuat kepada AL Qur’an dan AL Sunnah.

2. Tarekat Rifa’iyah
Tarekat Rifa’iyah didirikan oleh Ahmad al Rifa’i (570 H / 1173 M) didorong oleh kondisi mengendornya hubungan antara cabang-cabang Qodiriyah dan lahirnya ranting ranting baru yang independen. Tarekat ini dinilai lebih fanatik, memiliki tradisi yang sangat ketat dalam mematikan hawa nafsu dan ketat dengan protokol-protokol seremoni pelantikan/Bai’at yang luar biasa. Pengikutnya yang melakukan dzikir secara baik akan dapat terbawa ke alam fana (dimensi ruhani),dalam keadaan fana’ itu bisa melakukan hal-hal yang menakjubkan seperti sihir(metafisika).

3. Tarekat Suhrowardiyah
Didirikan oleh Syihab al Din al Suhbowardi inspirasi seorang ahli dari Maghrib, Nur al Din Ahmad bin ‘Abdullah al Syadzali. Pengikutnya tersebar di Tunis- karena pemerintah mencemaskannya, sang imam cenderung menyingkir ke Alexandria di mesir keberhasilannya sangat cepat juga di afrika.

4. Tarekat Ahmadiyah / Badawiyah
Tarekat ini disebut juga tarekat badawiyah karena pendirinya bernama Ahmad bi ‘Aly al Husainy al Badawy
Tarekat ini sangat konsisten dengan Al Qur’an dan As Sunnah, ia sangat diminati karena antara lain : mendorong para pengikut / muridnya untuk pandai, kaya dan dermawan, saling mengasihi dan juga karena doktrin-doktrin sifistiknya yang menarik.

5. Tarekat Maulawiyah / Al Rumiyah
Maulana Jalaludin Rumi Muhammad bin Hasain al Khattabi al Kbakri (Jalaludin Rumi) atau sering juga disebut Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di balk (sekarang Afganistan).Kesufian Rumidi mulai ketika beliau sudah berumur lepas dewasa, 48 tahun.
Rumi memang bukan sekedar penyair, tapi ia juga tokoh sufi ayng berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu pada tarekat maulawiyah. Sebuah tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang disekitarnya. Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan-pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran.
Dalam sistem pengajarannya, Rumi mempergunakan penjelasan dan latihan mental, pemikiran dan meditasi, kerja dan bermain. Tindakan dan diam. Gerakan-gerakan tubuh pikiran dari pra darwis berputar dibarengi dengan musik toup untuk mengiringi gerakan-gerakan tersebut merupakan hasil dri metode khusus yang dirancang untuk membawa seseorang salik mencapai afinitas dengan arus mistis untuk ditransformasikan melalui cara ini.

6. Tarekat Syadzaliyah
Abu Hasan al Syadzali mendirikan tarekat ini setelah beliau mendapatkan khirqoh / ijazah dari gurunya Abu ‘Abdullah bin Ali bin Hazam dari Abdullah ‘abd. Al Salam bin Majisy. Kelebihan dari tarekat ini terletak pada lima (5) ajaran pokoknya yaitu :
1.Takwa kepada Allah dalam segala keadaan.
2.Konsisten dalam mengikuti Al-Sunnah,
3.Ridho dalam ketentuan dan pemberian Allah SWT,
4.Saling menghormati,menghargai sesama manusia, dan
5.Suka kembali kepada Allah (taubat) dalam susah/senang.

Sedangkan tiga hal pokok yang menjadi landasan/ azas tarekat ini adalah :
1.Terus mencari ilmu (belajar tak berhenti),
2.Memperbanyak Dzikrulah dan
3.Duhur Ilaallah.

Ketiga hal pokok ini selalu menjadi penekanan kepada murid-murid Al Syadzali, beliau tidak menganjurkan mujahadah seperti tarekat-tarekat lain. Kebenaran baginya, didalam diri manusia itu ada nur ashli/ nur potensial yang akan menjadi kuat, berkembang dan subur bila diperkuat dengan nur ilmu yang lahir akibat dzikrullah.
Tarekat ini menjauhi ramalan-ramalan /anti memprediksi pada hal hal yang belum ataupun bakal terjadi termasuk mengartikan segala kemungkinan dan akibat yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang,(Hari-hari dijalani cukup dengan aktifberkarya,beribadah,memprogram langkah,tak berandai-andai hari ini ya hari ini,nanti ya apa kata nanti).
Doktrin ini diperdalam oleh Ibn Atho’illah dan menjadi doktrin utamanya.Komunitas Syadzaliyah terutama mereka di kalangan kelas menengah, pengusaha, pejabat dan pegawai pemerintah. Oleh karenanya, ciri khas yang kemudian menonjol dari anggota tarekat ini adalah kerapihan mereka dalam berpakaian, ketenangan yang terpancar dari tulisan-tulisan para tokohnya.
Tarekat Syadzaliyah ini tidak menentukan syarat-syarat yang erat kepada syaikh tariqoh, kecuali mereka harus meninggalkan segala perbuatan maksiat, memelihara segala ibadah-ibadah sunnah semampunya, zikir kepada Allah sebanyak mungkin, sekurang-kurangnya seribu kali sehari semalam dan beberapa zikir yang lain.

7. Tarekat Tijaniyah
Didirikan oleh Abul Abbas Ahmad Bin Muhammad Bin Al Mukhtar At Tijani (1733-1815 M) salah seorang tokoh dari gerakan neosufisme. Ciri dari garakan ini ialah penolakannya terhadap sisi eksatik dan metafisis sufisme dan lebih menyukai pengalaman secara ketat ketentuan-ketentuan syariat dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan ruh nabi Muhammad sebagai ganti untuk menyatu dengan Allah.

8. Tarekat Syattariyah
Tarekat Syattariyah adalah tarekat yang pertama kali muncul di india abad XV M, tarekat ini dinisbatkan pada tokoh yang berjasa dan mem-populerkannya,yakni Abdullah Asy Syattar.
Sebagaimana hal tarekat-tarekat lain, Syattariyah menonjolkan aspek dzikir di dalam ajarannya.Dikenal 7 macam dzikir muqodimah sebagai peralatan/tangga untuk masuk kedalam tarekat Syattariyah, yang disesuaikan dengan 7 nafsu pada manusia. Dzikir ini hanya dapat dikuasai melalui bimbingan seorang pembimbing spiritual, guru/Syaikh.

9. Tarekat Naqsabandiyah
Pendirinya adalah Muhammad Baha’ Al Din Al Naqsabandi Al Bukhori (717-791 H / 1317-1388 M). Naqsabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebarannya. Terutama di wilayah asia .
Ciri menonjol dari tarekat ini ialah diikutinya syareat secara ketat, keseriusan dalam beribadah, menolak music dan tari budaya barat, lebih ngutamakan berdzikir dalam hati,namun tidak mengharamkan politik dan cenderung mau terlibat didalamnya .

10. Tarekat Kholwatiyah
Tarekat Khalwatiyah, tidak sebagaimana lazimnya tarekat pada umumnya yang diambil dari nama pendirinya. Penamaan ini justru didasarkan kepada kebiasaan sang guru pendiri tarekat ini syekh Muhammad Al Khalwati (w 717 H), yang seringkali melakukan kholwat di tempat-tempat sepi. Tarekat khalwatiyah merupakan cabang dari tarekat As Sahidiyah, cabang dari Al Abhariyah dan cabang dari Al Shrowardiyah yang didirikan oleh Syekh Syihab Al Din Abu Hafsh ‘umar Al Suhrowardi Al Baghdadi.
Ajaran dan dzikir tarekat Khalwatiyah menetapkan adanya sebuah amalan yang disebut Al Asma’ Al Sab’ah (tujuh nama) yakni tujuh macam dzikir /tujuh tingkatan jiwa yang harus dikembangkan oleh setiap salik.
Dzikir pertama melafadzkan kalimat : لا إله إلاالله , Dzikir kedua : الله ,Dzikir ketiga : هو (dia) ,Dzikir keempat : حقّ (maha benar) ,Dzikir kelima : حيّ (maha hidup) ,Dzikir keenam : قيوم (maha jaga) ,Dzikir ketujuh : قهار (maha perkasa).
Ketujuh tingkatan dzikir ini intinya bersumber dalam ayat AL Qur’an.

11. Tarekat Sammaniyah
Tarekat ini didirikan oleh syeikh Muhammad bin Abd Al- Karim Al Samman Al Madani Al Qodiri Al Qubaisi dan lebih dikenal dengan sebutan Syeikh Samman. Semula ia belajar toriqoh kholwatiyah dari damaskus,pada masa berikutnya beliau mulai mengajarkan pengajian yang berisi teknik berdzikir, wirid dan ajaran teosofi lainnya. Beliau menyusun cara pendekatan diri dengan Allah yang kemudian dikenal sebagai toriqoh sammaniyah, sehingga ada yang mengatakan bahwa toriqoh sammaniyah adalah cabang dari khalwatiyah.
Di Indonesia tarekat ini berkembang di sumatera Kalimantan dan jawa. Sammaniyah masuk ke Indonesia pada penghujung abad 18 yang banyak mendapat pengikut karena popularitas Imam Samman.
Ajarannya yang khas ialah memperbanyak dzikrullah dan shalat, lemah lembut kepada fakir miskin, tidak mencintai dunia, menukar akal masyariyah dangan akal robbaniyah dan mentauhidkan Allah dalam dzat, sifat dan af’alnnya. Pengaruh Sammaniyah di Indonesia diabadikan di dalam tariah ruda.

PEDOMAN UTAMA DALAM MENGIKUTI TAREKAT LEMBAGA/JAM’IYAH YANG HAQ :

  1. Niatkan terlebih dahulu tujuan kita apa mengikuti/menjalankan amalan amalan tarekat. Sekedar ikut ikutan atau karena telah dibekali pengetahuan.
  2. Pastikan mental spiritual kita telah siap dengan kuat
  3. Niatkan karena Allah tanpa pamrih
  4. Jangan bersikap taqlid buta terhadap mazhab/kelompok/guru pembimbingnya.
  5. Tetaplah berlaku perbuatan kemanfaatan bagi diri dan sekelilingnya.
  6. Bagi wanita berumah tangga yang mengemban tanggung jawabnya, haruslah berkompromi dengan suami/keluarganya.

TANDA TANDA KELOMPOK / JAMA’AH TAREKAT YANG HAQ :

  1. Mengajarkan pilar pilar dasar ketauhidan (Aqidah Uluhiyah dan Rubbubiyah)
  2. Mengajarkan dan membuahkan kemanfaatan bagi diri serta sekelilingnya.
  3. Berdakwah terbuka untuk semua kalangan
  4. Tidak berorientasi materi/sumbangan sumbangan keuangan yang ditentukan.

TANDA TANDA KELOMPOK / JAMA’AH TAREKAT YANG BATIL :

  1. Meniadakan asma Allah atau mengkamuflase ayat ayat Allah dengan mantra mantra tak jelas.
  2. Mengajarkan ritual ritual yang menganiaya diri dan pergaulan bebas.
  3. Mengajarkan ekseklusifisme ( yang melahirkan keangkuhan,kesombongan).
  4. Mengajarkan menghalalkan harta benda yang diluar kelompoknya.
  5. Mengajarkan/membiarkan umatnya taqlid buta terhadap guru pembimbingnya (penghormatan yang terlalu berlebihan).
  6. Mengajarkan doktrin doktrin sempit/dangkal (Melawan aturan pemerintah,menolak Pancasila, menekankan bahwa ajarannya yang paling benar,meng-kafirkan pihak lain / takfiri, dan sebagainya)

MANFAAT MENGAMALKAN TAREKAT YANG DIBIMBING GURU MURSYID HAQ

Telah diketahui bahwa Tarekat ada dua katagori.Tarekat pertama jelas merupakan keharusan bagi setiap umat Islam untuk selalu mencari jalan kepada Tuhannya.Dalam kitab Sulam Taufiq disebutkan bahwa :

فصل : يجب على كافة المكلفين الدخول فى دين الإسلام والثبوت فيه على الدوام والتزام مالزم عليه من الأحكام
“Setiap orang yang telah dewasa (mukallaf) wajib memasuki atau memeluk agama Islam secara kaffah dan tetap dalam agama itu untuk selama-lamanya serta melaksanakan segala kewajiban yang berkenaan dengan hukum-hukumnya , mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala”.

Maka seseorang yang berupaya meniti jalan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya,(bertarekat) hidupnya selalu dalam kedamaian (anti galau) dan dimudahkan segala persoalan (selalu mendapatkan pertolongan-Nya).Sebab ketika kita mendekat maka Tuhanpun memeluk erat.Kemudian balasan keselamatanpun hingga sampai di hari akherat.Maka jalanilah tarekat katagori apa saja,yang penting niatnya.Maka Pilihlah amalan tarekat yang sesuai dengan keadaan/kapasitas diri.

Sebagaimana kita berniat menuju sebuah titik kota tujuan,tentu ada berbagai sarana jalan untuk mencapainya.Ada jalan yang biasa,ada jalan yang sedang dan ada jalan yang khusus/tol.Jika kita tidak paham betul medan jalan yang akan ditempuh atau masih blank harus memilih jalan yang baik dan cepat yang mana,tentu kita seperti orang buta yang tak tahu arah kiri kanan.Sehingga waktu tempuh yang seharusnya dalam waktu singkat,ini sampai berhari-hari,bahkan berbulan-bulan atau bertahun-tahun.Oleh karena itulah kita memerlukan ahli pemandu,GPS,kompas,dsb.
Demikian pula seperti bertarekat dengan Tarekat organisasi, maka kita di beri bimbingan oleh seorang guru pembimbing untuk mencapai tujuan dengan jalan khusus/pintas.Sebab mereka para guru mursyid yang sebenarnya,telah mencapai derajat ilmu pengetahuan yang lebih luas dibanding kita, maka tentulah beralasan jika telah lebih banyak mengetahui cara maupun rahasia menuju jalan-Nya.

Contoh :
Suatu ketika kita sedang mendapatkan masalah atau cobaan berat,pelik dan membuat depresi.Sudah kesana kemari buntu tiada yang menolong dan tiada yang ahli dalam mengakhiri problematika.Maka daripada berlarut-larut persoalan yang menyesakkan tiada kunjung berakhir,cobalah “sowan” (berkunjung) mendatangi seorang Kyai atau guru spiritual atau guru tarekat.Kemudian sharing dan utarakan niatnya meminta bantuan agar masalah yang menimpanya dapat segera berakhir melalui media sang Kyai tersebut.Maka sang Kyai tersebut tentu akan membantu mendo’akan kita meminta kepada Allah SWT,yang secara lahiriahnya kadang dalam bentuk, dengan cara memerintahkan kita untuk melaksanakan amalan-amalan tertentu,melaksanakan qorban atau melaksanakan puasa sekian hari,dan sebagainya.Hal demikian sah-sah saja,sebab memang realitasnya banyak orang yang telah berhasil bangkit kembali atau berhasil keluar dari lilitan masalah kehidupan.

KEDUDUKAN/HUKUM BER-TAREKAT

tarekat 5

1.Adalah fardhu a’in atau wajib atas umat islam yang telah mukallaf,bertarekat secara amaliah.Yakni ikutilah ajaran tarekat yang tidak menyimpang dan yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Jika menemui ajaran tarekat yang menyimpang dan tidak sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasullullah, tinggalkanlah.
Paling aman adalah ikuti saja cara yang sudah ditetapkan Rasulullah seperti membaca Qur’an secara rutin setiap hari dengan memahami maknanya, shalat sunah seperti sunah rawatib, tahajud, dhuha, puasa senin kamis, berzikir didalam hati ketika berdiri, duduk dan berbaring, dzikir setiap pagi dan petang hari, dzikir setiap selesai shalat.
(Melaksanakan amalan tarekat yang standar saja kesulitan, apalagi mengamalkan kegiatan ritual tarekat organisasi, yang begitu rumit dan melelahkan dengan keharusan mengamalkan wirid,tasbih ribuan kali setiap hari).
Namun,itu jalur biasa,buat orang biasa.Maka jika kita ingin meningkat ke derajat yang lebih eksklusive lagi dan mengetahui lebih dalam jalan menuju rahasia-Nya,silahkan masuk ke dalam dunia tarekat.Ajaran tasawuf dan tarekat merupakan pengembangan dari perintah Al Qur’an tentang dzikir mendekatkan diri pada Allah dan mengendalikan hawa nafsu,yang dipelopori oleh para sufi.Untuk bertarekat Bai’at maka ,Hanya cara dan pelaksanaannya harus memenuhi kaidah atau keadaan tertentu seperti telah terurai diatas.
2.Sunah mengikuti tarekat bai’at jika amalan tarekat standar telah dipenuhi.
3.Makruh mengikuti tarekat bai’at jika tarekat yang diikuti terlalu berat dan mengganggu kewajiban keluarga serta amalan yang wajib saja masih sering ditinggalkan.
4.Dilarang jika tarekat bai’at yang diikuti menyimpang dari aqidah Islam.

PRIA / WANITA YANG DAPAT BEBAS MENGAMALKAN TAREKAT BAI’AT

Adalah orang baik pria maupun wanita yang dalam kapasitas kehidupannya tidak mengabaikan fungsi dan tanggung jawab masing-masing dalam kehidupan rumah tangga maupun keluarga.
Bagi pria yang berkeluarga dalam menjalankan amalan tarekat bai’at seyogyanya telah mempersiapkan diri,mem-back up ekonomi bagi keluarganya sehingga ketika sering meninggalkan rumah tidak menelantarkan anak dan istrinya.
Maka bagi wanita bersuami dan ibu rumah tangga yang kapasitas dan tanggung jawabnya sangat dibutuhkan untuk keluarga,semestinya janganlah larut sibuk atau ikut menjadi anggota jama’ah Tarekat dengan sibuk mengamalkan ritual-ritual setiap harinya tanpa ijin dan kompromi dengan keluarga/ suami.Sebab jika hal demikian tetap dilakukan dengan alasan keyakinan/keimanan menurut prasangka pribadi sendiri,maka sungguh akan banyak mendapatkan mudharat daripada manfaat yang lebih besar.Ibarat menangguk air dengan keranjang bolong.
Kecuali wanita-wanita bebas seperti masih lajang,tidak bersuami/janda atau wanita bersuami namun telah diijinkan oleh suaminya bahkan mendorongnya karena suatu alasan tertentu,atau justru suami ikut mendampinginya bersama sama maka hal demikian adalah baik.

DEVIASI AMALAN TAREKAT (PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN YANG TERJADI PADA JAMA’AH TAREKAT)

Beberapa penyimpangan yang ditemukan antara lain :

1.Penghormatan pada guru secara berlebihan (Qultus individu/taqlid buta) hingga berani tidak mematuhi/taat suami,
2.Larut mengamalkan amalan perintah guru dengan mengabaikan kewajiban keluarga yang semestinya dilaksanakan.
3.Meminum bekas wudhu guru, berebut meminum air sisa guru dan lain sebagainya .
4.Berdzikir dengan suara keras sambil menari dan menghentakan kaki dan badan hingga mengganggu orang lain beristirahat, berdzikir dengan jumlah hitungan melampaui batas kekuatan fisik.
5.Memakai pakaian yang buruk tanpa memperhitungkan keadaan,
6.Membenci kehidupan dunia secara berlebihan, menyebabkan meninggalkan keadaan lemah pada keluarga.
7.Menyakiti diri , menjampi-jampi orang lain agar celaka.
8.Mencampur kegiatan ritual pada Allah dengan ritual untuk jin dan sihir,
Maka semua itu merupakan penyimpangan bertarekat yang tidak sesuai dengan ajaran Qur’an dan Rasulullah.

KESIMPULAN

Umat Islam dalam menjalankan ibadah ,mengabdi kepada Allah Ta’ala hendaknya dilakukan secara ikhlas tanpa pamrih.Ikuti tahapan ilmu agama secara berjenjang dan terarah.Tarekat hanya sebagian dari cara mendekatkan diri kepada-Nya,selain mengamalkan tarekat bai’at masih banyak jalan-jalan lain dalam mencari ridho Allah SWT.

Maka dalam hal sering terjadinya masalah dan penyimpangan penyimpangan dalam pengaplikasian pemahaman serta dalam menjalankan tarekat seseorang hanya ada dua katagori,yakni :

1.Karena gurunya yang salah mengajar,atau ajarannya memang salah,atau
2.Karena murid/jama’ahnya yang salah menerjemahkan ajaran sang guru.

Sekian,semoga bermanfaat dan sukses menjadi sufi .

Sekian,semoga bermanfaat.
Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin,
Bukit Ciketing,15 Muharam 1436 H / 8 November 2014
CopyRights@2014

Reff:
-Risalatul Islam karya K.H. M.Syamsuddin – Prembun – Jawa Tengah.
-Kitab Sulam Taufiq
-http://www.fadhilza.com/2014/07/tadabbur/mengenal-ajaran-tarekat-dan-tasawuf.html
-http://www.metafisika-center.org/2012/06/beberapa-ajaran-tarekat-qadiriyah-wa_06.html
-Al-Qur’anul Karim Terjemah DEPAG RI
-Pengantar pemikiran Neoplatonis,Persaudaraan Kesucian (Ikhwan Al-Safa)-Ian Richard Newton