HAKEKAT KAFIR DAN KEKAFIRAN

HAKEKAT KAFIR DAN KEKAFIRAN

KAJIAN MELUAS TENTANG KAFIR DAN KEKAFIRAN

KEDUDUKAN, ISTILAH KAFIR DAN KEKAFIRAN

BOLEHKAH MENG-KAFIRKAN ORANG LAIN ?

BELAJARLAH ILMU AGAMA ISLAM SECARA MELUAS, JANGAN SETENGAH SETENGAH

menuduh-bidah

DAFTAR ISI :

  • MUKADIMAH
  • EXEGESSE
  • DEFINISI, KATAGORI DAN KEDUDUKAN KAFIR SERTA KEKAFIRAN
  • SEJARAH DAN RIWAYAT KEKAFIRAN
  • STIGMA KAFIR DAN KEKAFIRAN
  • LARANGAN MUSLIM UNTUK TIDAK SALING MENGKAFIRKAN SESAMA MUSLIM
  • PRAKTEK ATAU IMPLEMENTASI MENDUDUKKAN ISTILAH KAFIR DAN KEKAFIRAN SECARA BIJAK
  • RESUME DAN PENUTUP

MUKADIMAH

Isyue terbesar saat ini adalah istilah kafir diganti non muslim. Nah, pada ribut, pada kasak kusuk, saling adu teriak tanpa dasar, saling menghina, saling fitnah. Hal ini karena dipengaruhi oleh sentimen emosional kelompok, karena ada kepentingan ingin membenturkan Nahdlatul Ulama (NU) dengan kelompok sektarian lainnya, atau juga ditambah karena ada kepentingan politik praktis.

Semestinya tak harus bersikap berlebihan dalam menemui perkara muamallah dalam kehidupan beriman islam. Dan semestinya yang harus disikapi adalah sikap intelektual ketimbang emosional sebab kedangkalan wawasan atau pengetahuan.

Semestinya yaitu pergilah keluar untuk mencari ilmu tentang apa itu kafir dan kekafiran, apa itu nilai nilai islam, apa itu nilai nilai adab dan etika islam. Maka seharusnya pertanyaan ini yang kudu di telusuri, yaitu :

  • Bolehkah mengkafirkan orang lain ?
  • Bolehkah menuduh orang lain kafir ?
  • Bolehkah menyebut orang lain kafir
  • Bolehkah menyeru (ngata-ngatain) orang lain kafir ?
  • Bolehkah mem-vonis orang lain kafir ?

Dan,

  • Bolehkah penyebutan kafir diganti dengan istilah lain ?

Maka jawabannya adalah bisa boleh bisa tidak. Kemudian lanjutan dari pertanyaan tersebut adalah : “Kapan boleh dan kapan tidak, mana yang boleh mana yang tidak”. Harusnya demikian saudara.

Umat islam kini sepertinya dalam situasi yang memprihatinkan. Kadang kita mudah terjebak dalam memaknai dalil dalil cangkang (literal). Menganggap bahwa agama hanya sebatas mengartikan barisan dalil dalil kulit (terjemahan lahiriyah) semata. Tidak memahami hakekat dan kedalaman nilai nilai luhur agama. Kadang begitu terjebak ke dalam istilah istilah dalam syareat dan muammalah agama. Kita kadang mudah mengecam, menghina atau membuat pernyataan klaim benar dan salah sementara kita kurang ilmu atau bahkan tidak tahu ilmunya.

Dalam kesempatan ini saya sekedar berbagi cakrawala pikir yang meluas dengan bahasan tentang hakekat kafir dan kekafiran, definisi, katagori, kedudukan dan istilah istilah yang berkaitan dengan kata kafir dan kekafiran. Sehingga diharapkan kita tidak menjadi umat yang sempit pola pikir dan dangkal wawasan serta tidak menjadi umat pembebek yang mudah terombang ambing oleh arus fitnah dan adu domba.

Bismillahirrahmanirrahiim, dengan ini saya niatkan sedekah berbagi ilmu pengetahuan buat saudaraku semua sebangsa dan setanah air.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, hadits dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893)

Lebih lanjut silahkan baca dan renungi hakekat kafir dan kekafiran ini berikut paparan historikalnya. Risalah ini di susun secara independen dan mendasari referensi ilmu Al-Qur’an, hadits dan, literatur kitab kitab dari berbagai sumber keilmuan lainnya. Hasil, penyerapan pemahaman tergantung intelektualitas masing masing dan setiap orang memang berbeda kapasitasnya. Kebenaran hakiki hanya milik Allah. Semoga bermanfaat.

EXEGESSE

Ketik banyak umat islam awam yang sering bingung dengan datangnya istilah istilah dalam syareat agama dan hukum hukum islam. Maka ketika ada datang pernyataan atau fatwa fatwa dari para alim ulama pada suatu ketika dianggapnya aneh dan menyalahi hukum islam. Itu sebab karena banyak umat islam yang tidak memahami dan mendalami ilmu agama islam secara meluas sehingga sering timbul penolakan, ketidak yakinan dan kesempitan fikir karena ketidak berpengetahuan. Hasilnya, umat islam yang sempit cakrawala ilmunya mudah mengkafirkan orang, mudah menghukumi haram halal dan mudah membid’ahkan suatu amal kebaikan yang dilaksanakan oleh umat.

Ketika sejarah mencatat bahwa para sahabat nabi, tokoh islam banyak yang  meninggal sebab dibunuh juga karena kegelapan pikir dan kekerdilan faham, menganggap orang lain yang tidak sepaham, sealiran, segolongan dengan dirinya di cap kafir, sementara dirinya, kelompoknya menganggap sebagai islam yang benar dan murni.

Ketika islam pecah menjadi 73 sekte / aliran, maka masing masing mengklaim dirinya sebagai umat islam yang murni dan menganggap pihak lain yang tidak sefaham dengan doktrin alirannya di labeli sebagai kafir. Sehingga itulah mengapa kita banyak menjumpai sesama islam saling bertikai dan bertumpah darah. Itulah sinyalir “mentuhankan hawa nafsyu”.

Dan lihatlah di zaman sekarang ini banyak kelompok dari jama’ah islam atau dari aliran tertentu yang mudah menjustis kafir terhadap orang lain bahkan terhadap sesama umat islam yang tidak sejalan dengan pemahamannya. Lebih lacur lagi mempropagandakan anti Pancasila dan simbol simbol negara dan kehendak menggantikan falsafah negara. Dan lacurnya lagi hal demikian di dakwahkan terang terangan oleh okum oknum ustadz  sektarian yang baru dan banyak bermunculan di zaman ini melalui majelis srta media mereka.

DEFINISI, KATAGORI DAN KEDUDUKAN KAFIR SERTA KEKAFIRAN

you-kafir-620x330-576x330
Iustrasi dari islami.com

Pengertian kafir

            Kata kafir (Arab: كافر  = kafir), dalam bentuk plural : (كفّار = kuffar) secara harfiah berarti orang yang menutupi,  menyembunyikan sesuatu, atau menyembunyikan kebaikan yang telah diterima atau tidak berterima kasih atau mengingkari kebenaran.

            Dalam Al-Quran, kata kafir dengan konotasi serta berbagai bentuk kata jadiannya disebutkan lebih dari 525 kali. Kata kafir digunakan dalam Al-quran dikaitan dengan laku sikap dan perbuatan yang berhubungan dengan eksistensi keilahian,  seperti :

  • Mengingkari nikmat Tuhan dan tidak berterima kasih kepada-Nya (QS.16:55, QS. 30:34)
  • Lari dari tanggung jawab (QS.14:22)
  • Menolak hukum Allah (QS. 5;44)
  • Meninggalkan amal soleh yang diperintahkan Allah (QS. 30:44)
  • Dsb,

            Dalam terminologi kultural kata kafir digunakan dalam agama Islam untuk merujuk kepada orang-orang yang mengingkari nikmat Allah (sebagai lawan dari kata syakir, yang berarti orang yang bersyukur dan kafir sekaligus kebalikan dari iman). Namun dominan, stigma kafir dalam Al-Quran dinisbatkan bagi para pendusta, pengingkar dan anti taat terhadap Allah Swt dan Rasul-RasulNya, khususnya pada masa dakwah nabi Muhammad SAW dan ajaran-ajaran yang dibawanya.

Dari aspek etimologi (Lughawi / bahasa), kata kafir tidak selamanya hanya dinisbatkan bagi orang yang diluar agama islam (non muslim), tetapi juga bisa disandang oleh orang islam itu sendiri. Sebab ada penggunaan kata kafir atau pecahan dari kata kafir seperti kufur, yang bermakna ingkar saja, tidak sampai mengeluarkan seseorang dari keislaman. Contohnya kufur nikmat, yaitu orang yang tidak pandai/mensyukuri nikmat Allah, atau dalam istilah lain disebut sebagai “kufrun duuna kufrin” (kekufuran yang tidak sampai membawa pelakunya kafir/keluar dari islam).

Pra Islam, istilah kafir digunakan untuk para petani yang sedang menanam benih di ladang, kemudian menutup / menguburnya dengan tanah. Ini diabadikan dalam Al-Qur’an :

  • “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani (Kamasali ghaisin a’jabalkuffaara nabatuhu) …..”.(QS.57.Al-Hadid:20)

Jadi petani yang menanam benih di ladang, kemudian menutup / menguburnya dengan tanah dalam Al-Qur’an diistilahkan dengan “kuffaara-kafir”. Sehingga dari sanalah terminologi kafir pada masa islam dianalogikan menjadi “seseorang yang bersembunyi atau menutup diri”.

Kata kafir dalam Al-Qur’an :

Dalam Al-Qur’an, kata kafir dan variannya digunakan dalam narasi yang berbeda, diantaranya  :

  1. Kufur At-Tauhid (Menolak tauhid) :
  • Dinisbatkan kepada mereka yang menolak dakwah tauhid nabi dan rasul-Nya.
  • “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman”.(QS.2.Al-Baqarah:6)
  1. Kufur Al-ni`mah (mengingkari nikmat Allah) :
  • Dialamatkan kepada mereka yang tidak mau bersyukur kepada Tuhan.
  • “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (la takfurun)”.(QS.2.Al-Baqarah : 152)
  1. Kufur At-Tabarri (melepaskan diri)  :
  • “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu (kafarna bikum)…” (QS.Al-Mumtahanah: 4)
  1. Kufur Al-Juhud  :
  • Mengingkari sesuatu setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui kebenarannya / buktinya, mereka lalu ingkar (kafaru)(QS.2.Al-Baqarah: 89)
  1. Kufur At-Taghtiyah: (menanam/mengubur sesuatu=menutupi)  :
  • “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani (Kamasali ghaisin a’jabalkuffaara nabatuhu) …..”.(QS.57.Al-Hadid:20)

Kemudian setelah islam berkembang berikut menyusul keilmuan agama islam meluas dipenuhi oleh para sahabat, tabi’it, tabi’in dan generasi alim ulama selanjutnya, maka terminologi dan narasi kafir dikelompokkan ke dalam berbagai jenis, sebagai berikut :

            Merujuk kepada makna bahasa dan beragam makna kafir dalam ayat Al-Qur’an, Kafir terbagi menjadi beberapa golongan, diantaranya adalah  :

Jenis-jenis kafir dan kekafiran :

  1. Kafir Harbi,
  • Yaitu golongan kafir yang berbuat makar, memerangi dan yang memusuhi Islam.
  • “Mereka senantiasa ingin memecah belah orang-orang mukmin dan bekerja sama dengan orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu ….”. (QS. 9.At-Taubah:107), QS.47.Muhammad:4, QS.5.Al-Maidah:33, dsb).
  1. Kafir ’Inad,
  • Yaitu golongan kafir yang percaya adanya Tuhan dengan hati dan mengakui-Nya dengan lidah, tetapi tidak mau melaksanakan perintah Allah, mengingkari tanda-tanda kekuasaan Allah, mendurhakai rasul-rasul Allah Swt, dan cenderung menuruti perintah hawa nafsyu kejahatan dan menuruti perintah penguasa yang sewenang-wenang menentang kebenaran dan berbuat kerusakan. Dan lebih cinta dunia.
  • “Dan itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran)”. (QS.11.Huud:59, Ayat senada, QS. An-Nahl:101-109)
  1. Kafir Inkar,
  • Yaitu kafir atheis yang mengingkari Tuhan secar lahir dan batin, Rasul-rasul-Nya serta ajaran al-haq yang dibawanya, dan hari kemudian. Mereka menolak hal-hal yang bersifat ghaib dan mengingkari eksistensi Tuhan sebagi pencipta, pemelihara dan pengatur alam ini. (QS. Al-Furqon:11, QS.2. Al Baqarah:39).
  1. Kafir Syirik (Musyrik),
  • Adalah kafir menyekutukan Allah, beribadah kepada selain Allah. Dalam term ini, kekafirannya dinamai musyrik.
  • Dalam QS.9. At-Taubah: 30-33, menunjukkan bahwa orang kafir bisa disebut musyrik dan musyrik bisa disebut kafir. Ayat lain dan hadits yang menunjukkan demikian banyak sekali.
  • An Nawawi mengatakan, “Istilah kekafiran dan kemusyrikan terkadang digunakan dalam pengertian kafir kepada Allah. Namun kedua kata tersebut terkadang maknanya berbeda. Kemusyrikan dikerucutkan dalam pengertian beribadah kepada patung atau makhluk lainnya diiringi pengakuan dan keimanan kepada Allah. Dalam kondisi ini kekafiran itu lebih luas cakupannya dari pada kemusyrikan”. (Syarh Shahih Muslim 2/71).
  1. Kafir Kitabi, 
  • Kafir kitabi ini mempunyai ciri khas tersendiri di banding dengan kafir-kafir yang lain, karena kafir kitabi ini meyakini beberapa kepercayaan pokok yang dianut Islam. Akan tetapi kepercayaan mereka tidak utuh, cacat dan parsial. Mereka membuat diskriminasi terhadap rasul-rasul Allah dan kitab-kitab suci-Nya, terutama terhadap Nabi Muhammad dan Al-Quran. Dalam al-Quran mereka disebut sebagai ahlul kitab, dari golongan yahudi dan nasrani. (QS.9. At-Taubah: 30-31).
  1. Kafir Dzimi, 
  • Yaitu orang kafir (non muslim) yang tunduk pada penguasa islam dan membayar jizyah/upeti. (QS.9.At-Taubah:29)
  1. Kafir Muahad, 
  • Yaitu orang tidak beragama islam yang tinggal di negara bukan islam, yang ada perjanjian damai dengan Negara islam.
  • “Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat”. (QS.8.Al-Anfaal:58)
  1. Kafir Musta’man, 
  • Yaitu orang non muslim yang masuk ke Negara islam, dan mendapatkan jaminan keamanan dari pemerintah. (QS.9.At-Taubah:6)
  1. Dan lainnya

Dari aspek bobot / volume, katagori kafir dibagi dua, yaitu :

  • Kafir besar
  • Kafir kecil

Dari aspek perbuatan, katagori kafir dibagi dua :

  • Kafir Zahr / Sharih (terang terangan)
  • Kafir Nifaq / Ta’wil (tersembunyi)

Note :

  • Syekh Ibnu Taimiyah membagi kufur menjadi dua macam, yaitu kafir zahir dan kafir nifaq (kafir yang terang-terangan dan kafir yang disembunyikan).
  • Syekh Muhammad Shiddiq Khan juga membagi kafir menjadi dua macam, yaitu kafir sharih (jelas) dan kafir ta’wil.
  • Sementara pendapat Muhammad Hasan Khan memerlukan penjelasan lebih  lanjut, dimana bentuk kafir yang kedua (kafir ta’wil), jika yang  ia maksudkan adalah kafir kecil (ashghar), maka ia tidak termasuk ke dalam  macam-macam kekafiran dalam pembahasan ini (kafir besar). Hal ini, karena  seseorang yang melakukan kafir yang besar kadang-kadang berdasarkan  penafsiran (ta’wil) yang ia lakukan, dan ia dapat diampuni karena beberapa  alasan seperti penafsiran itu sendiri.

Uraian macam-Macam Kekafiran :

  1. Kufur besar (Al-Kufru Al-Akbar), 

Yaitu kekafiran pokok, menentang pokok pokok keimanan (aqidah islamiyyah) yang mengeluarkan seseorang dari Islam dan menggugurkan keimanannya. Ditandai dengan perkataan atau perbuatan yang menunjukkan  unsur unsur kekafiran tersebut. Menurut Ibnu Qayyim, “Kufur akbar terdiri  dari lima macam, yaitu :

  • Kafir karena dusta :
  • Allah berfirman : “Maka siapakah yang  lebih dzalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan  mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya. Bukankah di neraka Jahannam  tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?”(QS.Az-Zumar: 32)
  • Kufur karena takabbur dan enggan  percaya :
  • Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabbur dan adalah  dia termasuk golongan orang-orang yang kafir?” (QS.Al-Baqarah: 34)
  • Kufur karena berpaling :
  • Allah berfirman, “Kami tiada menciptakan  langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan  (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang  kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.” (QS.Al-Ahqaaf: 3)
  • Kufur karena ragu :
  • silahkan lihat dalam QS.Al-Kahfi: 34-37.
  • Kufur karena nifaq  (munafiq) :
  • Allah berfirman, “Yang demikian itu adalah karena  bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu  hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti.” (QS.Al-Munafiquun: 3)
  1. Kufur kecil (Al-kufru Al-Ashghar),

Tindakan yang tidak bertentangan dengan pokok keimanan, tetapi  perbuatan tersebut berkaiatan dengan cabang-cabang iman, tingkatannya, dan  hal-hal yang dapat menyempurnakannya, sehingga tidak mengeluarkan seseorang  dari lingkaran agama Islam. Sebab, pokok iman masih melekat pada dirinya,  selama tidak ada penentangnya, baik dari perkataan maupun perbuatan.

Pada  kekafiran semacam ini, yang hilang adalah kesempurnaan iman dan derajat yang dapat meningkatkan pokok iman dan tingkatan keislamannya, bukan semata-mata  iman. Untuk menglompokkan ini, para ulama mempunyai istilah  khusus seperti sebutan ‘kufrun duuna kufrin’ (kekafiran di bawah kekafiran),  kezaliman di bawah kezaliman dan kefasikan di bawah kefasikan.

Ijtihad dalam hal pembagian dan pengelompokan hakekat kafir dan kekafiran yang dilakukan oleh para ulama tentu telah melalui kaidah secara syar’i dan melalui penelitian dan dengan banyak pertimbangan, baik secara historikal dan keilmiyahan.

               Sehingga dapat dijadikan acuan secara valid bagi dunia akademisi. Juga sebagai peringatan dan penjelasan kepada manusia supaya mereka  mempelajarinya dan tidak terjerumus ke dalam kekafiran itu. Sebab tentang kekafiran ini bukan hal main main, ini tentang nasib manusia di akherat apakah selamat atau siksa pedih di neraka.

Nah, dari pembagian jenis jenis kafir dan kekafiran oleh alim ulama islam seperti terurai diatas adalah katagori pemilahan atau pengelompokan, bukan narasi tafsyir. Sedang peristiwa serta penulisan maupun tentang pengucapan atau penyuaraannya terhadap orang lain yang ada selama ini, baru itu tafsyir atau pendapat (opini). Sedang bobot pendapat adalah relatif dan bisa jadi subyektif tergantung sejauh mana intelektualitas si pentafsyir dan si pemaham.

KEDUDUKAN ISTILAH KAFIR DAN KEKAFIRAN

Orang orang yang menyuarakan atau menuduh atau menuding kafir kepada orang lain, itu tafsyir. Tetapi ketika ada yang membacakan ayat Al-Qur’an atau hadits tentang narasi kafir dan kekafiran, itu bukan tafsyir melainkan pembacaan dalil atau pengutipan yang disuarakan pada majelis dakwah, pengajian maupun kajian ilmiah secara spiritual maupun akademik. Maka hendaknya umat harus memahami kedudukan ini.

Selanjutnya dari narasi ayat ayat Al-Qur’an tentang istilah kafir dan kekafiran tersebut di atas, maka semua itu jenis ayat mutlaq / absolut atau bersifat otokratis. Dimana kedudukan dan narasi kafir serta kekafiran adalah merupakan hak (domain) Allah untuk penetapannya (stigma), untuk pelabelannya, untuk maklumatnya. Atau kata lain, hanya Allah yang berhak menyuarakannya, men-stigma, men-justis kepada seseorang apakah ia kafir atau tidak. Sebagaimana Allah juga punya otoritas untuk menetapkan predikat hina dan rendah kepada seseorang manakala orang tersebut melakukan perbuatan kejahatan dan kenistaan.

Dari seluruh isi Al-Qur’an yang berjumlah 6236 ayat tersebut tak satupun ada ayat yang berjenis fi’il ‘amar (kata perintah) bagi manusia untuk menyuarakan label kafir terhadap seseorang lainnya. Dengan kata lain, tidak ada dalil satupun yang memerintahkan, menyuruh, membolehkan seseorang menuduh, menyuarakan kafir kepada orang lain. Bahkan dalil yang ada justru melarang menyuarakan kafir kepada orang lain.

Maka ini masalah adab, masalah etika, masalah budi pekerti bagaimana manusia itu berinteraksi dan bersikap ketika hidup dan bergaul dengan manusia lain yang majemuk dan dalam menemui situasi kekafiran.

Narasi Al-Qur’an jelas tidak dapat di amandemen. Orang orang diluar islampun tahu akan hal itu apalagi para alim ulamanya islam itu sendiri.

Maka yang dapat dilakukan adalah bukan mengamandemen ayat Al-Qur’an melainkan meluruskan adab dan etika umat. Ini baru boleh bahkan merupakan keharusan. Yaitu bagaimana meluruskan umat untuk tidak lantang saling kafir mengkafirkan satu sama lain., untuk tidak taqlid buta terhadap faham kelompok, untuk tidak berebut benar dan saling meng-klaim fahamnya masing masing paling benar.

SEJARAH DAN RIWAYAT KEKAFIRAN

Dari sejak dahulu kala, bahkan sebelum Allah menciptakan manusia, kafir dan kekafiran telah terjadi dan dilakukan oleh makhluk dari bangsa jin. (lihat sejarah : “Makhluk makhluk sebelum manusia”, pada link berikut :

https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/07/06/makhluk-makhluk-sebelum-manusia/

Kemudian dari sejak zaman para nabi dan rasul dahulu kalapun, kafir dan kekafiran berulang kembali oleh makhluk bangsa manusia. (lihat sejarah : “Bentuk bentuk kekufuran sepanjang zaman”, pada link berikut :

https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2017/05/09/bentuk-bentuk-kekufuran-umat-pada-tuhannya-sepanjang-zaman-yang-diakhiri-dengan-penimpaan-bencana-dan-genocida-pemusnahan-suatu-umat/

Dan zaman akhir kinipun umat manusia kembali melakukan praktek praktek kafir dan kekafiran.

STIGMA  KAFIR DAN KEKAFIRAN

Stigma kafir adalah label otokrasi Allah. Tidak satupun dalam Al-Qur’an memerintahkan kita untuk mengata katakan kafir terhadap orang lain. Seluruh ayat ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang stigma kafir adalah ayat ayat berjenis “pemaparan dan riwayat” yaitu, menyatakan tentang keadaan, tentang predikat, tentang sikap dan perbuatan manusia yang semua itu hak Allah yang melabelnya. Sementara kita hanya dapat melihat tanda tanda seseorang itu kafir atau tidak, bukan untuk men-justis dan menyuarakannya.

“Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah: “Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?” Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali”.(QS.22.Al-Hajj:72)

Bicara tentang kekafiran adalah perkara hati. Manusia tidak dapat memastikan seseorang itu benar benar kafir atau tidak sebab hal demikian perkara hati dan hanya Allah yang tahu. Belum tentu kafir orang yang kita katakan kafir. Kita hanya diperintah untuk beriman sedang yang menolak beriman maka akan menanggung resiko dan konsekuensinya sendiri.

“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (Q.S. Al-Kahf [18]: 29)

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu juga menuturkan hal yang sama dari Rasulullah SAW :

((مَنْ دَعَا رَجُلاً بِالْكُفْرِ , أَوْ قَالَ : عَدُوَّ اللهِ, وَ لَيْسَ كَذَلِكَ إِلاَّ حَارَ عَلَيْهِ))

“Siapa yang menyeru kepada seseorang dengan sebutan kekafiran atau ia mengatakan: Wahai musuh Allah, sementara yang dituduhnya itu tidak demikian maka sebutan tersebut kembali kepadanya.” (Shahih, HR. Muslim no. 61)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Pengkafiran itu adalah hak Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu tidaklah seseorang itu kafir kecuali orang yang dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya.”

Noye : (Irsyad Ulil Abshar wal Albab linail Fiqh Biaqrabith Thuruq wa Aysarul Asbab, hal. 198)

Menurut Dr. Zakir Naik, “Secara bahasa kata kafir berarti orang yang ingkar. Kafir berasal dari kata kufr, yang berarti menyembunyikan atau ingkar. Dalam terminologi Islam, kafir berarti orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran Islam dan orang yang menolak Islam. Dalam bahasa Inggris, mereka disebut non-Muslim,” jelas Dr. Zakir Naik.

LARANGAN MUSLIM UNTUK TIDAK SALING MENGKAFIRKAN SESAMA MUSLIM

Jangan kita nodai kemuliyaan agama islam dan Allah tidak ridho dengan pelanggaran kehormatan yang terjadi. Rasulullah SAW bersabda :

(( إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَ أَمْوَالَكُمْ وَ أعْرَاضَكُمْ حَرَمٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا ))

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian haram bagi kalian seperti keharaman negeri ini, bulan ini dan hari ini.” (HR. Al-Bukhari no. 68 dan Muslim no. 1679)

PRAKTEK ATAU IMPLEMENTASI MENDUDUKKAN ISTILAH KAFIR DAN KEKAFIRAN SECARA BIJAK

Jika kita sudah mengetahui kedudukan dan narasi kafir serta kekafiran adalah merupakan hak (domain) Allah untuk penetapannya (stigma) dan memahami arti serta konsekuensi dari kata kafir secara terminologi adalah sama dengan non muslim, kemudian mengetahui pula bahwa dalam hal penyuaraan terhadap sesama manusia lainnya mesti harus dengan adab dan etika, maka berikut penerapannya :

  • Di majelis kajian keagamaan baik internal maupun akademis :

Hanya sebagai kutipan / referensi :

Penyebutan istilah kafir dan kekafiran dapat disuarakan atau dinyatakan pada kegiatan kegiatan dakwah, pengajian, majelis taklim, bedah kitab dan pada dunia pendidikan akademis, simposium dan lainnya dengan bentuk kutipan atau pemaparan yang mendasari ayat ayat Al-Qur’an dan hadits sebagai referensi.

Hanya dalam pembacaan ayat / dalil :

Yaitu saat diperdengarkan atau sedang membaca ayat Al-Qur’an dan kalimat hadits, mengaji dan membaca kitab kitab ilmu agama islam. Seperti tilawah, pembacaan terjemahan Al-Qur’an, kitab kitab dan sebagainya.

  • Dalam konteks interaksi sosial dan kebangsaan :

            Dalam konteks kehidupan sehari-hari dan kebangsaan, janganlah seorang muslim memanggil orang yang tidak beragama islam dengan sebutan kafir (wahai orang kafir), meskipun dalam Al-Qur’an telah menggaris bahwa orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya (nabi Muhammad SAW) adalah kafir.

            Rasulullah SAW dalam berinteraksi dengan orang-orang yahudi, orang musyrik, kafir quraisy dan orang nasrani, maka Rasulullah tidak memanggil mereka dengan sebutan ”ya kafir”. Tapi beliau memilih dengan menyebut mereka dengan “wahai orang yahudi, nasrani, qurays, dan sebagainya. Bahkan ketika mengirim surat ke raja Romawi menggunakan kata-kata ”Ya adhimu ruum”.

KATAGORI KAFIR

Kekafiran bukan momopoli orang diluar agama islam. Bahkan kekafiran itu juga ditujukan dan bisa jadi kita umat islam bisa menjadi kafir dan masuk ke dalam katagori telah kafir. Ayat ayat Al-Qur’annya menyebutkan banyak sekali, diantaranya :

“Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zhalim”. (QS Âli ‘Imrân [3]: 86)

“Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima taubatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat.”(QS.3. Âli ‘Imrân: 90)

ISTILAH KAFIR

Istilah kafir berlaku dan pernah disuarakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam seruan dakwah tauhidnya ketika di Makkah yaitu untuk menyebut orang-orang penyembah berhala yang tidak memiliki kitab suci, yang tidak memiliki agama yang benar. Tapi, setelah Nabi Muhammad hijrah ke Kota Madinah, maka tak ada istilah kafir untuk warga negara Madinah yang non muslim. (lihat sejarah : Tarikh Perjalanan Nabi Muhammad SAW)

RESUME DAN PENUTUP

STIGMA KAFIR HAK PREROGATIF ALLAH, MANUSIA TIDAK BERHAK MENGKAFIRKAN ORANG LAIN

Sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi SAW, bersabda:

(( قَالَ الله عَزَّ وَ جَلَّ : اَلْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَ الْعَظَمَةُ إِزَارِي, فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ))

“Allah Azza wa Jalla berfirman: Kesombongan itu adalah pakaian-Ku dan keagungan itu adalah kain-Ku maka siapa yang menentang-Ku pada salah satu dari keduanya niscaya akan Aku campakkan dia ke dalam neraka.” (Syarhu Kasyfisy Syubuhat, hal. 41-42)

Sedang dalil hadits tentang larangan saling takfiri lainnya telah diurai di bagian atas. Silahkan scoll kembali dan boleh di ulangi pembacaannya berulang ulang agar smakin faham.

Maka, PENYEBUTAN KAFIR TERHADAP SESAMA MUSLIM DAN GOLONGAN YANG TIDAK BERIMAN ISLAM adalah :

Ini masalah adab (etika) dan ranah (domain). Pengembangan kalimat senada dari konteks penyebutan “Bolehkah mengkafirkan orang lain ?”, adalah :

  • Bolehkah menuduh orang lain kafir ?
  • Bolehkah menyebut orang lain kafir
  • Bolehkah menyeru (ngata-ngatain) orang lain kafir ?
  • Bolehkah mem-vonis orang lain kafir ?
  • Bolehkah penyebutan kafir diganti dengan istilah lain ?

Maka jawabannya : Bisa boleh bisa tidak. Lanjutan dari perkara ini adalah : Kapan boleh dan kapan tidak mana yang boleh dan mana yang tidak. Maka jawabannya telah diurai secara gamblang dan meluas di atas.

Tadzabur :

TAKFIRI

Stigma dan penyebutan “KAFIR” adalah domain Allah. Bayangkan, disuatu halaman berita / media ormas memuat kalimat :

  • “Profil keluarga Prabowo : “Ibunda dan kakak adik Prabowo adalah “KAFIR”.

Sementara di media nasional menulis :

  • “Profil keluarga Prabowo : “Ibunda dan kakak adik Prabowo adalah “NON MUSLIM”.

Kira kira, mana ungkapan yang lebih beradab …..???

Berikut ini saya lampirkan kutipan artikel yang berjudul “DOKTOR KAFIR”, dari penulis saudara Wajidi Sayadi.

DOKTOR KAFIR

Pada tahun 1991, dosen saya di IAIN Alauddin Makassar Jurusan Tafsir Hadis bernama Dr. H. Harifuddin Cawidu disebut sebagai Doktor Kafir, sebab Beliau meraih gelar Doktor karena menulis Disertasi berjudul Konsep Kafir dalam Al-Qur’an Suatu Kajian Teologis dengan Pendekatan Tafsir Tematik.

Begitu juga dosen saya di Jurusan yang sama bernama Prof. Dr. Muhammad Ghalib, MA. Juga menulis Disertasi berjudul Ahlul Kitab Makna dan Cakupannya dalam Al-Qur’an.

Kedua Disertasi dan buku ini sangat bagus dan penting menjadi referensi untuk membincang tentang istilah kafir menurut al-Qur’an.

Dulu ramai perbincangan tentang istilah kafir lebih karena semangat kajian ilmiah, berbeda hari ini cenderung sensitivitas istilah kafir lebih karena sentiment emosional dan momentum politik dari pada kajian ilmiah.

Beberapa hari terakhir ini istilah kafir dan non muslim menjadi viral di media sosial on line, sebagai respon terhadap hasil pembahasan dalam Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU), di Banjar Jawa Barat. Istilah non-muslim digunakan bagi warga negara yang bukan beragama dalam konteks berbangsa dan bernegara dalam konstitusi negara kebangsaan, tidak menggunakan istilah kafir.

Pembahasan istilah kafir dan non muslim dalam Munas Alim Ulama NU ini bukan pada aspek akidah atau teologis, sebab hal itu sudah sangat jelas.

Namun di masyarakat dan media sosial on line, justru yang ramai dan viral seolah-olah ulama NU ingin merubah istilah kafir dalam al-Qur’an, merubah akidah, mengamandemen akidah, bahkan ada yang lebih nyinyir sekalian surat al-Kafirun dalam al-Qur’an diganti menjadi surat al-nonmuslim.

Saya tidak tahu, apakah respon seperti ini karena dipengaruhi oleh sentimen emosional kelompok karena ada kepentingan ingin membenturkan Nahdlatul Ulama (NU) dengan kelompok lainnya, atau karena ada kepentingan politik praktis atau karena faktor lainnya. Tapi inilah faktanya, terkadang bukan masalah, tapi karena momentum hiruk pikuk politik praktis, maka dipermasalahkan. Mudah-mudahan, pemilihan presiden dan wakil presiden segera selesai dan berakhir, pasti suasananya berubah.

Atas dasar inilah, maka hasil penelitian Doktor “Kafir” H. Harifuddin Cawidu menjadi penting diungkap kembali. Menurut Beliau istilah Kafir dengan segala macam bentuknya disebutkan dalam al-Qur’an sampai 525 kali. Dari jumlah tersebut, kafir diklasifikasi atas beberapa macam, yaitu:

  1. Kafir Inkar, yaitu mengingkari, menolak, atau mendustkan eksistensi Allah, para Rasul, dan ajaran yang disampaikan.
  2. Kafir Juhud, yaitu mengingkari dengan pernyataan lidahnya (kebenaran Rasul dan ajaran yang dibawanya), walaupun mengakuinya dalam hati.
  3. Kafir Munafiq, yaitu mengingkari dalam hati, tapi mengakui dengan ucapan lidah. Kebalikan dari kafir Juhud, yang mengingkari dengan lidah, tapi mengakui dalam hati.
  4. Kafir Syirik, yaitu mempersekutukan Allah dengan menjadikan sesuatu selain-Nya, sebagai sesembahan, objek pemujaan, dan atau tempat menggantungkan harapan dan dambaan.
  5. Kafir Nikmat, yaitu melupakan atau menyembunyikan nikmat Allah. Penyalahgunaan nikmat, penempatan bukan pada tempatnya, penggunaannya bukan pada jalan yang diridhai Allah sebagai pemberi nikmat, mengingkari nikmat Allah.
  6. Kafir Murtad, Murtad atau disebut riddah, yaitu berbalik kembali, maksudnya kembali kepada kekafiran dari keadaan beriman.
  7. Ahlul Kitab, atau istilah lainnya أوتوا الكتاب,أوتوا نصيبا من الكتاب , اليهود, الذين هادوا,بني إسرائيل , النصارى .

Setiap jenis kekafiran tersebut mempunyai karakteristik masing-masing, bahkan secara khusus Ahli Kitab mempunyai karakteristik yang berbeda sebagaimana istilahnya juga berbeda-beda.

Pembahasan tentang kafir tersebut secara teologis atau berdasarkan akidah Islam.

Ketika Allah memanggil orang-orang kafir dengan sebutan WAHAI ORANG-ORANG KAFIR, hanya 2 kali disebut dari 525 kata kafir itu.

Pertama, قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُون (Katakanlah, Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. (QS. Al-Kafirun, 109: 1).

Kedua, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَعْتَذِرُوا الْيَوْمَ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (Wahai orang-orang kafir! Janganlah kamu mengemukakan alasan pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At-Tahrim, 66: 7).

Orang-orang kafir yang dipanggil secara terang-terangan dalam ayat tersebut adalah para penyembah berhala.

Ketika memanggil manusia secara umum dengan sebutan WAHAI SEKALIAN MANUSIA (يا أَيُّهَا النَّاسُ) hingga 19 kali. Kata an-Nas yang berarti wahai sekalian manusia, di dalamnya tercakup juga orang-orang kafir. Ini suatu makna dan pesan yang bisa diambil mengenai etika berkomunikasi terutama dalam komunikasi public social politik, walaupun diketahui bahwa mereka itu orang-orang kafir yang tidak seakidah, tapi dipanggil istilah yang lebih halus, yakni wahai sekalian manusia.

Dalam beberapa hadis, Rasulullah SAW. menyebutkannya dengan istilah MU’AHADAH dan AHLI DZIMMAH. Beliau bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

Siapa membunuh seorang MU’AHADAH, maka ia tidak akan mencium aroma bau surga. Sesungguhnya aroma bau surga itu akan tercium dari jarak perjalanan 40 tahun. (HR. Bukhari dari Abdullah bin ‘Amr).

Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW. bersabda:

مَنْ قَتَلَ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ لَمْ يَجِدْ رِيحَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ سَبْعِينَ عَامًا

Siapa yang membunuh seorang laki-laki dari AHLI DZIMMAH ia tidak akan mencium aroma bau surga. Sesungguhnya aromanya dicium dari jarak 70 tahun. (HR. Nasai dari ).

Mengapa Nabi Muhammad SAW. tidak menyebut secara langsung dan tegas “Siapa yang membunuh ORANG KAFIR? Beliau hanya menyebutnya MU’AHADAH, dan AHLI DZIMMAH? Padahal MU’AHADAH dan AHLI DZIMMAH secara akidah adalah orang kafir.

Rasulullah SAW. menyebut sebagai MU’AHADAH dan AHLI DZIMMAH secara sosial politik, sebagai warga negara Madinah, yang terikat perjanjian damai dan dilindungi oleh pemerintah Negara Madinah.

Dalam Piagam Madinah yang dibuat Rasulullah SAW. terdiri atas 47 Pasal, perjanjian antara umat Islam dengan Yahudi, terdapat 21 suku orang-orang Yahudi disebutkan secara rinci dalam piagam itu. Namun mereka tidak diberi label dan disebut sebagai orang-orang kafir, kecuali hanya pada pasal 14 disebutkan: “ولا يقتل مؤمن مؤمنا فى كافر ولا ينصر كافرا على مؤمن (Seorang mukmin tidak boleh membunuh orang mukmin lainnya karena (membunuh) orang kafir. Tidak boleh pula orang mukmin membantu orang kafir untuk (membunuh) orang mukmin).

Piagam Madinah ini adalah piagam politik yang memuat perjanjian damai dalam konteks bermasyarakat, bertetangga, berbangsa dan bernegara. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang menyesuaikan konteksnya.

Hadis Rasulullah SAW. tersebut dan Piagam Madinah yang dibuat oleh Rasulullah SAW. menggunakan istilah Mu’ahadah dan Ahli Dzimmah, tidak menggunakan istilah Kafir, atau langsung menyebut nama agama yang bersangkutan sebagaimana dalam Piagam Madinah.

Bukan berarti merubah dan mengganti istilah kafir, apalagi sampai merubah keyakinan.

Ucapan dan perilaku Rasulullah SAW. adalah contoh konkrit dari praktek dan pengamalan dari al-Qur’an. Itulah sebabnya, para ulama mengajarkan bahwa membaca dan memahami al-Qur’an harusnya merujuk juga pada hadis dan sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW. dan penjelasan para ulama serta kaedah-kaedah tafsir.

Makanya jangan salahkan ketika lihat dan baca papan nama penunjuk arah jalan di Saudi Arabia tertulis kalimat طريق غير المسلمين For Non Muslim (Jalan bagi Non Muslim), papan nama lainnya tertulis للمسلمين فقط Muslims only (khusus untuk umat Islam) di sampingnya tertulis غير المسلمين Non Muslims (bagi yang bukan muslim), mengapa tidak ditulis طريق للكافرين For Kafirs (Jalan orang-orang kafir), للكافرين فقط Kafirs only (khusus untuk orang-orang kafir).

Kenapa?

Apakah masyarakat di Saudi Arabia merubah bahasa al-Qur’an?

Apakah merubah dan mengamandemen akidahnya, hanya karena menggunakan istilah non muslim?

Penggunaan istilah non muslim bagian dari etika sosial, etika komunikasi public, sosial politik, walaupun secara akidah atau teologis mereka yang mengingkari Allah dan Rasulullah SAW. dan rukun iman lainnya adalah kafir.

Misalnya, dalam satu keluarga, orang tuanya bukan muslim, saudara-saudaranya juga penganut agama lain, secara akidah diakui bahwa mereka kafir, tapi pada tataran komunikasi sosial budaya atau pun politik dia disebut sebagai keturunan non muslim, tidak disebut dia keturunan orang kafir.

Misalnya, Anda memimpin doa bersama, izinkan saya memimpin pembacaan doa ini sesuai ajaran Islam, bagi saudara-saudara NON MUSLIM, silakan berdoa sesuai kepercayaan agama masing-masing.

Apakah Anda mengatakan izinkan saya memimpin pembacaan doa ini sesuai ajaran Islam, bagi saudara-saudara YANG KAFIR, silakan berdoa sesuai kekafirannya?

Wallahu A’lam.

Pontianak, 3 Maret 2019. DOKTOR KAFIR

Oleh: Wajidi Sayadi

https://www.facebook.com/masowieq.masrur.50/posts/152025462471760

—-0o0—

Demikian risalah ini diketengahkan, semoga dapat dijadikan renungan dan bermanfaat. Akhirul kalam, wabillahittaufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh.

Semoga menjadikan tambahan wawasan kita semua.

Salam Cahaya-Nya.

 

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Lembah Kranggan, Jumadi Akhir, Rajab 24-1440 H / Jum’at, 1 Maret 2019

Penulis : Ust. Agus Sholech Al-Qadry

MAJELIS DZIKIR & SHALAWAT AS-SHALIHIN

JAM’IYYAH AHLITH THORIQOH

AL-QADARIYYAH WANNAQSABANDIYYAH WA SYATTARIYYAH

PREMBUN –  KEBUMEN – JAWA TENGAH

CopyRights@2019

Maraji / Reff.

  • Al-Qur’anul Karim
  • Sulamuttaufiq
  • Al-Jahlu bi Masaailil I’tiqaad wa Hukmuhu, Abdur Razzaq bin Thahir bin Ahmad Ma’as
  • Irsyad Ulil Abshar wal Albab linail Fiqh Biaqrabith Thuruq wa Aysarul Asbab, hal. 198
  • Riyadusshalihin
  • Duratunnashihin
  • Daqoikul Akbar – Al-Imam An-Nawawi Al-Bantani
  • Kitab Tarikhus Shalat – K.H M. Syamsuddin
  • Rishalatu Al-ban wa Al-jan – K.H M. Syamsuddin
  • Tarikh perjalanan Nabi Muhammad SAW
  • Ilmu thareqah, hakekat ma’rifat Jam’iyyah Ahlith Thariqah Qadariyyah wannaqsabandiyyah wasyattariyyah.
  • Psikologi bahasa Al-Qur’an
  • etc

Artikel :

Iklan
GENERASI UMAT YANG BODOH

GENERASI UMAT YANG BODOH

GENERASI UMAT YANG BODOH ….

O, Allah …..

Hari hari orang orang saling menghina ….

Hari hari orang orang gemar dan saling menyebar fitnah dan hoax ….

Hari hari orang orang gemar dan saling mengejek dan merendahkan orang lain ….

Hanya karena pilihan calon presiden ….

Hanya karena beda kelompok ….

Hanya karena beda pilihan dan dukungan ….

Mengapa banyak umat yg bodoh ….

Mengapa banyak umat yg menyembah partai, menyembah agama, menyembah aliran, menyembah kefanatikan …..

Katanya mengaku orang islam …

Katanya mengaku pengikut murni Rasulullah ….

Katanya mengaku manhaj salaf ……

Katanya mengaku penegak Al-Qur’an dan As-Sunnah …..

WAHAI UMAT ….

APAKAH DG JADINYA SEORANG CALON YG KAU FANATIKI DAN KAU DUKUNG MATI MATIAN MENJADI PRESIDEN, LALU APAKAH KAU LANGSUNG MENDAPAT UANG MILYARAN DAN MENJADI ORANG KAYA ……?

TETAP SAJA HARI HARI ENGKAU HANYA SEORANG PETANI ….

TETAP SAJA HARI HARI ENGKAU HANYA SEORANG BURUH ….

TETAP SAJA HARI HARI ENGKAU HANYA SEORANG IBU RUMAH TANGGA ….

TETAP SAJA HARI HARI ENGKAU HANYA SEORANG RAKYAT JELATA ….

YANG HARUS BERKERINGAT MEMBANTING TULANG BEKERJA UNTUK HIDUP …. UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN KELUARGA ….. UNTUK MENCICIL UTANG ….

TETAP SAJA ENGKAU HIDUP MENEMUI SUSAH ….

TETAP SAJA ENGKAU HARUS MENGATASI MASALAH SENDIRI ….

INGAT …. !!!

SETIAP TULISANMU …. SETIAP KEBENCIANMU …. SETIAP HOAX YANG KAU TURUT SEBAR ….. SETIAP HINAANMU, SETIAP OLOK OLOKMU TERHADAP ORANG LAIN …..

MAKA AKAN DIMINTAI PERTANGGUNGAN JAWAB KELAK DI AKHERAT …. (QS.17. Al-Israa: 36).

DENGAN SIKSAAN YANG PEDIH …. DENGAN BEBAN DOSA SEGUNUNG YG KAU GOTONG DAN PIKUL PENUH KESENGSARAAN DI AKHERAT…… (QS.24. An-Nuur: 11-20).

AKIBAT LAKU SIKAPMU …. AKIBAT KEBODOHANMU ….

JANGAN ANGGAP ENTENG …..

TUNGGULAH ….. !!!

Semoga menjadi renungan ….

Salam Cahaya-Nya ….

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Lembah Kranggan, 1 Maret 2019

CopyRights@2019

MENJAWAB SELEBARAN TENTANG ISUE ‘ANTI ARAB’ DI MEDSOS

MENJAWAB SELEBARAN TENTANG ISUE ‘ANTI ARAB’ DI MEDSOS

MELAWAN SELEBARAN DAN BERITA HOAX DI DUNIA MAYA

LAWAN HOAX

MELAWAN GEMPURAN FAHAM SEKTARIANISME UNTUK MENJAGA KEUTUHAN INDONESIA

Pada beberapa waktu di pertengahan bulan Nopember 2018 ini beredar selebaran di medsos terutama menyebar di facebook dan group group WA, yang bernada subyektif, tendensius serta bernuansa politis dan isinya tidak menampilkan fakta sejarah secara utuh alias mendistorsi dan terkesan memelintir sejarah. Ini tidak bagus untuk kekondusifan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Jika tidak ada yang melawan atau menghentikan laku perbuatan yang tidak santun seperti ini maka akan menjadi bibit bibit perpecahan rakyat Indonesia.

Berikut kalimat lengkap selebaran bernada tendensius dan terkesan mendistorsi keutuhan fakta sejarah dengan menonjolkan isue ‘arabisme’-nya dibanding semangat nasionalnya.

Selebaran itu berbunyi :

=== Anda ANTI-ARAB? ===

Suka ngata-ngatain ONTA?

Alergi dengan Islam yang dari ARAB?

Mau buat Islam versi Lokal?

BACALAH SEJARAH, MAKA…

1. JADI TAU

Siapa yang pertama memberitakan kemerdekaan Indonesia? koran-koran ARAB.

2. JADI TAU

Siapa yang pertama mengakui kedaulatan Republik Indonesia? ARAB Mesir & Palestina.

3. JADI TAU

Siapa yang pertama mengirim bantuan senjata dari luar Indonesia pasca Proklamasi? ARAB, senjata dari Mesir diangkut atas biaya Arab Saudi.

4. JADI TAU

Siapa tokoh yang pertama mengucapkan selamat atas kemerdekaan Indonesia? ARAB, Syaikh Ismail Husein Mufti Palestina.

5. JADI TAU

Proklamasi 1945 dibacakan di rumah orang ARAB, Faraj Martak. Jalan Proklamasi 56.

6. JADI TAU

Bung Karno sakit beri-beri sebelum proklamasi, sembuh diberi MADU ARAB oleh Faraj Martak.

7. JADI TAU

Kakeknya Bung Hatta belajar di ARAB.

8. JADI TAU

Kyai Ahmad Dahlan dan Kyai Hasyim menimba ilmu di ARAB.

9. JADI TAU

Orang yang dianggap berbahaya oleh Snouck Hurgronje adalah orang yang pulang dari ARAB, karena itu ditandai dengan gelar HAJI.

10. JADI TAU

Yang menyelamatkan Bendera Pusaka saat agresi militer Belanda II 1948 adalah orang ARAB, Mayor Husein Muthahhar. Beliau juga penyusun lagu Dirgahayu Indonesiaku, Hymne Syukur dan Mars Pramuka.

11. JADI TAU

Salah satu bapak pendiri bangsa kita adalah orang ARAB, AR. Baswedan anggota BPUPKI dan Wakil Menteri Penerangan 1946. Kakek Anies Baswedan Gubernur Jakarta.

12. JADI TAU

Lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila, dibuat oleh keturunan ARAB, Syarif Abdul Hamid al-Kadrie. Sultan Pontianak.

13. JADI TAU

Sultan Syarif Kasim II keturunan ARAB, menyerahkan mahkota, istana, dan hampir seluruh kekayaan Kesultanan Siak Sri Inderapura kepada pemerintah RI termasuk Uang sebesar 13 juta gulden setara lebih dari 1000 triliun rupiah…

Segepok uang itulah yang diberikan secara cuma-cuma oleh Sultan Syarif Kasim II kepada Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Sukarno. Belum lapangan minyak Stanvac yang menjadi pemasukan utama NKRI selama 73 tahun ini

please share

BIAR SEMUA TAU

—-0o0—

Demikian bunyi kalimat selebarannya seperti tersebut di atas. Setelah di telusuri lebih jauh, selebaran ini muncul dan di muat di halaman resmi sebuah situs di link ini :

https://www.portal-islam.id/2018/11/bacaan-wajib-bagi-yang-anti-arab.html

Lalu muncul pula di halaman facebook di link ini :

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=719701475066005&id=588578111511676

Dari sumber sumber tersebut diatas akhirnya tersebar kemana mana sebab memang sengaja disebarkan dan sebagian publik lainnya yang tidak cermat atau tidak memahami sesuatu akhirnya ikut ikutan asal menyebarkan.

Dari kalimat judul serta pengantarnya saja sudah menampilkan kesan subyektif atas keberagaman islam di Indonesia. Dengan menonjolkan kalimat : “Anda ANTI-ARAB?, Suka ngata-ngatain ONTA?, Alergi dengan Islam yang dari ARAB?, Mau buat Islam versi Lokal?”,

Maka sejatinya kalimat itu menggiring  dan membuat penekanan terhadap orang bahwa islam yang dari Arab lebih baik dan unggul daripada islam tradisional yang sudah memiliki kemapanan kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara di indonesia.

Hal itu dapat di cermati dengan menuliskan kata kata : “Alergi dengan Islam yang dari ARAB?, Mau buat Islam versi Lokal?”. Itu namanya membangun pemikiran dikotomi yang dapat menimbulkan perpecahan dalam agama islam. Yaitu yang hendak dipropagandakan adalah bahwa islam yang ini murni dan islam yang itu bathil. Padahal siapa sebenarnya yang menggembor gemborkan adanya islam versi lokal dengan membandingkan dengan islam yang dari Arab?

Maka sebenarnya semua itu hanyalah propaganda yang menegaskan bahwa di indonesia ini ada golongan mayoritas umat islam tradisional yang mengaplikasikan keislamannya dari ajaran para wali nusantara yang penuh dengan kurafat, syirik, bid’ah, tidak sesuai dengan sunnah nabi dan sebagainya.

Dengan menonjolkan kata : “Alergi dengan Islam yang dari ARAB?”, maka sebenarnya semua itu hanyalah sebuah propaganda penegasan bahwa mereka adalah golongan islam yang dari Arab yang murni dan paling benar dan menganggap islam mereka sesuai as-sunnah, tegak dan tegar di atas as-sunnah, sedang yang tidak sefaham dan seideologi dengan kelompok mereka dianggap sebagai islam penuh bid’ah dan sesat sebab gemar mengadakan do’a kirim arwah tahlilan, kenduri, merayakan maulid nabi SAW dan sebagainya.

Sungguh upaya mereka, dakwah dakwah mereka dengan mengirimkan ustadz ustadz yang baru bermunculan era ini sangatlah gencar menyuarakan isue bid’ah, takfiri, kembali ke Al-Qur’an dan Hadits, tegak di atas as-sunnah, dan lain lainnya dengan sangat lantang menggugat dan mencela para alim ulama tradisional indonesia. Dan tak jarang mereka menyuarakan anti demokrasi dan Pancasila serta bernafsyu ingin mengganti falsafah negara Indonesia.

menuduh-bidah

Ilustrasi from : https://generasisalaf.wordpress.com/bidah/stop-menuduh-bidah/

Siapa lagi kelompok ini kalau bukan mereka mereka yang telah mendapat didikan ajaran islam faham sektarian ‘Arabisme’. Yang dengan pongah dan bangganya mengklaim diri sebagai golongan islam paling sunnah dan paling benar dan merasa sebagai mujahid tulen yang mempunyai misi Ingin memberantas nilai nilai keislaman tradisional di Indonesia yang selama ini penuh dengan kemapanan dan kearifan lokal yang luhur.

Mereka mendasari dalil dalil cangkang yang ditafsyirkan secara dangkal menurut pemahaman kelompok masing masing sehingga begitu yakin bahwa islam itu harus sesuai dengan tempat asal kelahirannya atau harus yang sesuai dengan budaya Arab. Ini apa apaan? Begitu dangkalnya berpikir bahwa umat islam itu robot yang bisa seenaknya diprogram, diseting dan dikendalikan menurut kemauan ego kelompok manusia yang haus kekuasaan dan mimpi mimpi indah.

Ingat firman Allah swt :

49_13

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.  (QS AL HUJURAT:13).

Dan ingat pula, Allah telah mengakomodir bahwa umat di dunia ini beraneka macam, bersuku suku bangsa dan berbagai muamallah dalam menjalankan kehidupan serta dalam mempersembahkan amal bakti kepada Tuhannya dengan berbagai corak, tradisi serta budaya, sepanjang tidak keluar dari koridor bakunya.

“………. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”. (QS.5.Al-Maa’idah:48).

Baiklah mari kita ulas dan beri jawaban atas selebaran subyektif dan tendensius yang mereka lakukan sebagai pembanding dan penyeimbang informasi serta pengetahuan. Agar publik mampu independen dalam berfikir, bersikap dan merespon segala informasi dari dunia maya sehingga mampu menyaring mana info bodoh dan mana info atau ilmu pengetahuan yang berkualitas dan kamil.

MELAWAN SELEBARAN DAN BERITA HOAX DI DUNIA MAYA

download

Ketika mereka menuduh : Anda ANTI-ARAB?”, maka katakanlah : “Apakah anda anti pancasila dan Indonesia?”

Ketika mereka menuduh : “Anda suka ngata-ngatain ONTA?”, maka katakanlah : “Apakah anda suka ngata-ngatain sesat, bid’ah, kafir, kurafat kepada santri umat islam tradisional Indonesia?”

Ketika mereka mengatakan : “Alergi dengan Islam yang dari ARAB?”, maka katakanlah : “Apakah kalian alergi dengan santri umat islam tradisional Indonesia yang penuh kemapanan dan keluhuran?”.

Ketika mereka mengatakan : “Mau buat Islam versi Lokal?”, maka : “Katakanlah : “Mau buat Islam versi Arab di Indonesia?”.

BACALAH SEJARAH YANG KOMPREHENSIF DAN LUAS, MAKA  …

riset

1. JADI GA ‘BEGO’ 

  • Yaitu, siapa yang pertama memberitakan kemerdekaan Indonesia? (Mereka mengklaim : “koran-koran ARAB”.
  • Maka sejarah mencatat : Hanya dua surat kabar yang pertama kali memuat berita proklamasi. Dan uniknya bukanlah surat kabar terbitan Jakarta, yakni surat kabar Tjahaja yang terbit di Bandung tanggal 19 Agustus 1945, dan Soeara Asia yang terbit di Surabaya 22 Agustus 1945.

2. JADI GA ‘BEGO’

  • Siapa yang pertama mengakui kedaulatan Republik Indonesia? (Mereka mengklaim : “ARAB Mesir & Palestina)”.
  • Maka sejarah mencatat : Dunia yang pertama kali mengakui kedaulatan Republik Indonesia adalah Palestina. Bukan Arab Saudi.

3. JADI GA ‘BEGO’

  • Siapa yang pertama mengirim bantuan senjata dari luar Indonesia pasca Proklamasi? (Mereka mengatakan :“ARAB, senjata dari Mesir diangkut atas biaya Arab Saudi)”.
  • Maka sejarah mencatat : Yang pertama mengirim bantuan senjata dari luar Indonesia pra dan pasca Proklamasi adalah Uni Soviet dan Jerman – Adolf Hitler.

4. JADI GA ‘BEGO’

  • Siapa tokoh yang pertama mengucapkan selamat atas kemerdekaan Indonesia? (Mereka mengatakan : “ARAB, Syaikh Ismail Husein Mufti Palestina)”.
  • Maka sejarah mencatat : Tokoh yang pertama mengucapkan selamat atas kemerdekaan Indonesia adalah Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina, setelah itu menyusul Syria, Iraq, Lebanon, Yaman, Saudi Arabia dan Afghanistan. (Arab Saudi urutan ke 7)

5. JADI GA ‘BEGO’

  • Dimana Proklamasi 1945 dibacakan? Mereka mengatakan : “Di rumah orang ARAB, Faraj Martak. Jalan Proklamasi 56”.
  • Maka sejarah mencatat Bahwa : Proklamasi 1945 dibacakan di rumah milik warga Indonesia bernama Faradj bin Said Awad Martak. Dan beliau adalah pria keturunan Hadramaut, Yaman Selatan. Bukan orang Arab Saudi.

6. JADI GA ‘BEGO’

  • Bagaimana catatan medis Bung Karno? Mereka mengatakan bahwa : “Bung Karno sakit beri-beri sebelum proklamasi, sembuh diberi MADU ARAB oleh Faraj Martak”.
  • Maka sejarah mencatat riwayat medis Bung Karno sebagai berikut :
  • Dokter Soeharto, dokter pribadinya kemudian datang ke rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur Nomer 56 Cikini Jakarta (lokasi di mana kemudian teks proklamasi dibacakan). Setelah diperiksa ternyata Bung karno menderita malaria (mungkin lebih tepatnya malarianya kumat karena penyakit itu mungkin sudah dideritanya di pengasingan). Dokter Soeharto lalu memberi suntikan dan memberinya obat untuk diminum. Setelah itu Bung Karno tidur dan bangun pukul 09.00 WIB dan pada pukul 10.00 WIB membacakan teks proklamasi yang menandai Indonesia merdeka.

7. JADI GA ‘BEGO’

  • Mereka menulis : “Kakeknya Bung Hatta belajar di ARAB”.
  • Publik merespon : Hal biasa siapapun belajar di Arab, Amerika, Eropa, Afrika dan di belahan dunia mana saja.

8. JADI GA ‘BEGO’

  • Mereka menulis : “Kyai Ahmad Dahlan dan Kyai Hasyim menimba ilmu di ARAB”.
  • Sejarah mencatat : K.H. Hasyim Asy’ari menimba ilmu di Pondok pondok Pesantren kuno (tradisional) di Indonesia. Pada tahun 1892 menimba ilmu di Mekah dan kebanyakan gurunya justru berasal dari Indonesia termasuk Syekh Imam Nawawi dan dari Yaman. K.H. Hasjim Asy’ari bermazhab Syafi’i bukan Wahabiah. Bahkan keluarga Syekh Imam Nawawi dibantai oleh kaum Wahabi.
  • Kecuali K.H. Ahmad Dahlan, beliau belajar di Mekah selama lima tahun. Beliau mulai berguru dan berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Namun beliau juga pernah satu perguruan dengan K.H. Hasyim Asy’ari.

9. JADI GA ‘BEGO’

  • Mereka mengatakan : “Orang yang dianggap berbahaya oleh Snouck Hurgronje adalah orang yang pulang dari ARAB, karena itu ditandai dengan gelar HAJI”.
  • Dunia politik mengatakan : Hal biasa dalam politik. Sedang Dr. Snouck Hurgronje adalah seorang misionaris Kristen dari  penjajah Belanda. Tentu akan menganggap berbahaya kepada orang orang yang menjadi penentangnya, sebagaimana kelompok ISIS akan mengkafirkan bahkan membunuh orang orang yang tidak sepaham dengan ideologinya.

10. JADI GA ‘BEGO’

  • Mereka menulis : “Yang menyelamatkan Bendera Pusaka saat agresi militer Belanda II 1948 adalah orang ARAB, Mayor Husein Muthahhar. Beliau juga penyusun lagu Dirgahayu Indonesiaku, Hymne Syukur dan Mars Pramuka.
  • Sejarah mencatat : Husein Muthahhar adalah warg negara Indonesia lahir di semarang tahun 1916. Beliu salah satu ajudan Bung Karno. Ia berpangkat Mayor, ditugaskan oleh Bung Karno untuk mengamankan dan menyelamatkan Bendera Pusaka saat agresi militer Belanda II 1948.
  • Maka wajar siapapun abdi negara bisa mendapat tugas negara darimanapun asalnya.

11. JADI GA ‘BEGO’

  • Mereka mengatakan : “Salah satu bapak pendiri bangsa kita adalah orang ARAB, AR. Baswedan anggota BPUPKI dan Wakil Menteri Penerangan 1946. Kakek Anies Baswedan Gubernur Jakarta”.
  • Sejarah mencatat : Tokoh pendiri bangsa Indonesia (Founding Fathers) berbagai tingkatan. Berikut para anggota BPUPKI, namun non Anggota PPKI serta tidak ikut merumuskan Naskah Proklamasi dan bukan tokoh utama pendiri bangsa adalah :
  • Abdul Kaffar, Abdul Kahar Muzakkir, Agus Muchsin Dasaad, AR Baswedan, BPH Bintoro, R. Kusumaatmadja, Sukiman Wirjosandjojo, KRMH Sosrodiningrat, A.A. Sanusi, Agus Salim, Pangeran Muhammad Nur, Ashar Sutedjo Munandar, RM Panji Surachman Tjokroadisoerjo, R Rooseno Surjohadikusumo, Abdul Halim, KRMTA Wurjoningrat, Abdul Fatah Hassan, KH Mas Mansjur, KH Masjkur, Liem Koen Hian, Mas Aris, A.A Maramis, KRMT Wongsonagoro, Mas Besar Martokusumo, Sutanto Tirtoprodjo, Muhammad Yamin, R Hindromartono, R Mas Sartono, R Panji Singgih, R. Samsudin, R Suwandi, R Sastromuljono, Maria Ulfah Santoso, Siti Sunarjo Mangunpuspito, Oey Tiang Tjoei, Oey Tjong Hauw, P.F. Dahler, Parada Harahap, Pangeran Husein Djajadiningrat, R Jenal Asikin Widjaja Kusuma, R Abdulrahim Pratalykrama, RAA Sumitro Kolopaking Purbonegoro, R Asikin Natanegara, Margono Djojohadikusumo, RMTA Soerjo, R Ruslan Wongsokusumo, Raden Sudirman, Tan Eng Hoa.

12. JADI GA ‘BEGO’

  • Mereka mengatakan : “Lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila, dibuat oleh keturunan ARAB, Syarif Abdul Hamid al-Kadrie. Sultan Pontianak”.
  • Sejarah dan penelitian mencatat : Asal usul Lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila sebagai berikut :

– Untaian kalimat filosofinya berasal dari Sunan Kalijogo,

– Untaian kata kata hakekatnya dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari (Ulama asli Nusantara).

– Perancangnya (design grafis) adalah Sultan Hamid II Kesultanan Pontianak atas perintah tugas dari  Bung Karno.

13. JADI GA ‘BEGO’

  • Mereka menulis : “Sultan Syarif Kasim II keturunan ARAB, menyerahkan mahkota, istana, dan hampir seluruh kekayaan Kesultanan Siak Sri Inderapura kepada pemerintah RI termasuk Uang sebesar 13 juta gulden setara lebih dari 1000 triliun rupiah…Segepok uang itulah yang diberikan secara cuma-cuma oleh Sultan Syarif Kasim II kepada Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Sukarno. Belum lapangan minyak Stanvac yang menjadi pemasukan utama NKRI selama 73 tahun ini”.
  • Sejarah juga mencatat : (Bandingkan dengan sumbangan dari rakyat Aceh) :

– Aceh Jadi Donatur Indonesia di Masa Perjuangan.

-Rakyat Aceh Patungan Lalu Belikan Indonesia Pesawat.

-Aceh Juga Menyumbang Kapal Laut.

-Peran Penting Radio Rimba Raya.

-Menyumbang Emas Monas Sebagai Lambang Kedigdayaan Bangsa.

-Kalkulasi kurs menghitung : 13 juta gulden itu setara dengan 1 triliun rupiah lebih 61 milyar, (Rp. 1,061,733,748,422.38,-)., bukan setara dengan 1000 trilyun.

please share !!!

BIAR GA SEMUA ‘BEGO’ !!!

Mari menjadi generasi muslim santun yang insan kamil, menjaga keutuhan  dan kejayaan indonesia. Bukan malah merongrongnya dan malah menghancurkannya. Islam itu universal.

Semoga menjadi renungan.

Salam.

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Jawa Dwipa – Rabu 21 Nopember 2018.

CopyRights@2018

Reff :

Dari berbagai pustaka

—-0o0—-

BENDERA, SEJARAH, MAKNA DAN FUNGSINYA

BENDERA, SEJARAH, MAKNA DAN FUNGSINYA

SERI ILMU PENGETAHUAN

BENDERA, SEJARAH, MAKNA DAN FUNGSINYA

ArRayah-Liwa

SUDAHKAH KITA MEMBACA ILMU VEXILLOLOGI,(Ilmu Tentang Bendera? Apa fungsinya, apa makna filosofinya)

SUDAHKAH KITA MEMBACA SEJARAH BENDERA RASULULLAH?

APAKAH BENDERA RASULULLAH ITU DINAMAI ‘BENDERA TAUHID’ ?

BERBAGAI BENDERA DENGAN TULISAN KALIMAH THAYYIBAH / TAUHID

Sudahkah tahu apa fungsi dan arti bendera Rasulullah tersebut, kapan dipakai, siapa kompeten memegang, siapa yang berhak mengibarkan? Tiba tiba kini orang-orang meributkan tentang bendera tauhid. Atau bendera dan tauhid? Apa itu bendera? Memangnya sudah paham makna bendera?Apa itu tauhid? Memangnya sudah paham makna tauhid?

Atau hanya umat yang ikut-ikutan emosional mengikuti derasnya arus fitnah akhir zaman? Awam dengan situasi apa yang sebenar terjadi disekeliling kita yang nyaris samar tak dapat terbedakan antara benang al-haq dan al-bathil. Sulit tampaknya menilai sesuatu yang bathil yang dibungkus dengan simbol-simbol atas nama Tuhan. Itulah an-nakirah (ketidak tahuan).

Kecuali memang sebenarnya kita adalah pemain di dalamnya. Maka hanya pengadilan Allah semua sepak terjang kita akan diperhitungkan. Betapa rumit skenario-Mu ya, Rabb.

Tetapi baiklah aku tetap lanjutkan tugas saja  untuk membawa lentera penuntun qalbu kepada orang-orang yang mau diterangi.

PENGANTAR

Memahami bendera termasuk arti, sejarah serta fungsinya maka hasil ulasannya akan berbeda-beda antara risalah satu dengan lainnya sebab tergantung darimana sumbernya. Jika pembahasan tentang bendera bersumber dari kelompok ormas, Partai dan dari kelompok aliran keagamaan tentu semua akan mentafsyirkan menurut urjensi dan kepentingannya masing masing. Dan tentu pula para pengikut atau pendukungnya akan ikut membenarkan dan mencari pembenaran sesuai dengan doktrin kelompok masing masing.

Sang Saka

Nah, di sini akan di ulas kajian tentang makna bendera secara independent dengan  parameter disiplin keilmuan, yang memenuhi sisi historikalnya, tehnisnya, psikologinya maupun sisi fungsinya yang dikumpulkan dari berbagai sumber.

Semoga risalah ini dapat memberikan penjelasan dan penerangan sehingga kita terhindar dari penyimpangan faham ataupun dari ketidak tahuan (An-Nakirah). Sebab jangan sampai kita menjadi malu telah ngotot berhujjah, membela sesuatu hingga sampai berebut benar, namun ternyata pemahaman kita yang dangkal dan salah kaprah. Itu kalau menyadari. Jika telah ada ulasan tentang bendera secara komprehensif ini diketengahkan namun tidak memahami substansi maupun konteksnya juga, maka itu masalah intelektual seseorang. Maklum, dan lebih baik jauhi orang tersebut dan usah lanjutkan perdebatan.

Firman Allah: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS.Al-A’raaf: 199).

Maka kajian ini sekedar mengingatkan pada kalian tentang buih-buih di lautan yang berlarian, bertumbukan, terombang ambing dan kemudian pecah berantakan dihempas sebuah gelombang.

Maka mari kita sama-sama merenung, berpikir….. bangun, sadar dan sejenak picingkan kelopak mata kita….. ada apa disekeliling kita.

Hidup dan kehidupan ini tidak hitam putih seperti yang kita sangka. Tetapi ditengahnya ada garis benang merahnya, putihnya dan yang hitam pekat. (Silahkan renungi makna terdalam QS.35.Al-Fathir:27).

Dunia ini penuh iblis, syetan jin dan syetan manusia. Semua berpolitik (tipu daya). Namun sisi lainnya pula dunia ini penuh juga malaikat. Lalu dalam kehidupan dunia ini pula ada dirimu. Lalu di dalam dirimu ada indera, ada aqal, ada hati, ada nurani. Maka gunakan semua itu untuk menghadapi politik (tipu daya) iblis dan syetanmu. Jika tidak, maka jadilah kita seperti buih-baih pecah berantakan dihantam gulungan ombak kehidupan.

MENGAPA KEBANYAKAN MANUSIA MENJADI BUIH DIBANDING AIR ?

Mengapa umat banyak yang memilih menjadi buih?

Sebab tidak berpaya menyaring dirinya dari limbah-limbah, dari residu-residu kekotoran hati dan nafsyunya. Dibekali aqal (intelektualitas) tidak ‘dipergunakan’. Di beri telinga tidak mau ‘mendengar’, diberi mata tidak mau ‘melihat’ dan dibekali perasa tidak mau peka.

Enggan mikir, enggan mendengar, enggan melihat, enggan menajamkan rasa atas apa yang terjadi disekeliling dirinya, diseputar kehidupannya apalagi pada pelajaran-pelajaran alam semesta. Hingga mengeras, membatu jiwanya semakin tebal tertutup oleh tempurung zulmun (kegelapan pikir) dibanding membuka cakrawala pikir dan pengetahuan.

Hingga begitulah membentuk pribadi yang keras, ‘ngeyelan’, sulit memahami sesuatu, mudah taqlid buta, gampang emosi, mudah terbakar dan mudah diadu domba. Sehingga alat pengasah apapun tak menjadikannya tajam, sulit bersih dan terang kembali karena saking tebalnya kerak Az-zulmunnya. (Biasanya sesuatu yang telah mengeras membatu seperti ini hanya bisa diperbaiki dengan cara didaur ulang atau kadang praktis sang pemilik langsung memecahkannya dengan dimartil hingga berkeping-keping menjadi remuk).

Beginilah keadaan umat islam akhir zaman ini. Jumlahnya banyak di dunia namun banyak menjadi buih daripada kemurnian airnya. Dalam kehidupan beragama, umat semakin bingung dengan ajaran kebenaran, yaitu ditengarai dengan adanya :

  • Menjamurnya beragam aliran kepercayaan / sekte / faham yang saling berebut benar, dengan mendasari rangkaian dalil, mudah menghukumi bid’ah, sesat dan kafir kepada lainnya.
  • Munculnya aliran garis keras (teroris) dan kelompok-kelompok khilafis yang saling bertikai, saling teror meneror dan saling bunuh membunuh lalu mengadakan kekerasan ditengah masyarakat, yang semuanya dengan mengatas namakan kebenaran dan panggilan jihad.
  • Begitu mudahnya umat taqlid buta. Ketika zaman akhir ini mulai bermunculan para pendakwah-pendakwah baru bagai jamur dimusim hujan kemudian berdakwah namun gencar mengajarkan faham-faham sektarian alias doktrin-doktrin kelompok dengan berbangga-bangga dengan benderanya masing-masing. Namun lacurnya begitu mudah umat yang membebek menjadi pengikutnya.

Apakah seperti ini ajaran dan nilai nilai Islam? Apakah seperti ini sunnah Nabi Muhammad SAW?  Apakah begini umat Islam? Padahal ajaran Allah, ajaran  Islam, tuntunan Nabi Muhammad SAW adalah bahwa islam itu selamat, sebagai umat terbaik, pembawa rahmatan lil’alamin? Tetapi mengapa tidak selamat? Mengapa tidak terbaik, mengapa tidak menebar rahmatan lil’alamin?

Lalu ada yang berhujjah : “O ya jadi begini karena umat islam tidak mengkuti Nabi Muhammad SAW menegakkan khilafah, tidak mengganti negara dengan daulah islamiyyah (Negara Islam)”. Kalau ingin dunia aman ya islam harus menguasai dunia.”

            “O, begitu.

Pertanyaannya : Ajaran siapa? Makna khilafah itu apa? Hakekat Daulah Islamiyyah itu apa? Apakah sudah mememahami makna semua itu? Ah, ternyata inilah faham ‘pembebek’ korban propaganda kelompok islam sektarian. Sangat menyedihkan. Inilah buih. Umat islam lebih memilih menjadi buih. Tingkat keislamannya jauh dari pemahaman yang luas (kamil) dan jauh dari predikat ‘rahmatan lil ‘alamin’.

Catatan:

  1. Agama islam di Indonesia telah ada sejak abad ke V Masehi (masa Rasulullah SAW saat itu juga). Dan telah berabad abad selama ini pula, umat islam di Indonesia begitu nyaman, tenang dan khidmat dalam menjalankan ibadah menyembah bakti kepada Allah azza wajalla, baik ibadah yang bersifat mahdloh (fardlu) maupun ibadah yang bersifat sunnah atau muamalah. Dan tentu saja ajaran islam yang didakwahkan atau yang diajarkan oleh para penyebar islam di nusantara sejak awal tersebut pasti sesuai dengan as-sunnah (ajaran islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW), sebab waktunya yang sezaman dengan masa kenabian Muhammad SAW. Hingga turun temurun generasi para penyebar islam itu sampailah pada masa kewalian (Wali Songo) pada abad ke-14 hingga 16 (baca : Sejarah dan periode Wali Songo). Dari ajaran merekalah bangsa Indonesia mengenal agama islam dengan karakter nusantara, yang menghasilkan kearifan lokal Indonesia, pondok pesantren dan santri-santri tradisional yang penuh keluhuran dan kesantunan. Maka selama ini pula umat islam Indonesia khusyu’, tenang menjalankan ritual ibadah dan amaliah islamnya tanpa ribut dan hiruk pikuk memperdebatkan dalil.
  2. Kemudian tiba-tiba kini datang para pendakwah baru yang dengan pongahnya meng-klaim sebagai ahli sunnah dan pengamal sunah yang paling murni dan paling benar. Untuk kemudian lantang dan tajam mencela, mudah mem-bid’ahkan, mudah menghukumi halal-haram, mudah mengkafir-kafirkan dan menuduh sesat atas umat islam lainnya yang pada gilirannya telah menimbulkan suasana keributan, kesimpangsiuran maupun kebingungan umat.
  3. Kemudian tiba-tiba kini datang para ustadz baru deras mengalir secara sistimatis dan terorganisir melakukan dakwah sektariannya ke Indonesia, gencar mendakwahkan (mempropagandakan) faham-faham islam ‘arabisme’ yang kontra dengan kemapanan dan kearifan lokal.
  4. Mereka para pendakwah baru ini berani menerakan umat islam lain sebagai kafir dan sesat dengan isu bid’ahnya, dengan issue / slogan “kembali ke Al-Qur’an dan As-Sunnah”. (apanya yang kembali wong umat islam santri Indonesia sejak dulu tidak kemana mana, beriman islam sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  5. Mereka sangat tajam menggugat dan mengharamkan tradisi muammalah dan atau kearifan lokal umat islam Indonesia seperti acara Maulid Nabi SAW, tahlilan, kenduri, masalah qunut, ziarah kubur dan sebagainya sehingga menimbulkan kegaduhan dan kebingungan umat.
  6. Mereka mengaku kelompok yang paling benar mengaplikasikan islam dan sunnah Nabi SAW. Begitu sinis dan berapi api disetiap dakwahnya menggugat kearifan lokal ajaran para wali dan alim ulama hanif nusantara. Sementara mereka wali bukan, alim ulama hanif bukan, apalagi berderajat tabi’it tabi’in. Begitu naif sekali berani mendudukkan posisi di atas para wali ?
  7. Mereka lebih mengedepankan dan menonjolkan penafsyiran dalil cangkang daripada keutamaan hikmah dan hakekat. Mereka ambigu dengan ideologi Pancasila serta anti demokrasi, dibanding menebarkan dakwah dan syi’ar nilai-nilai hakekat islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Apapun sanggahannya, realitas yang terjadi pada bangsa ini adalah jika dulu Indonesia tenteram tanpa terorisme, radikalisme serta bom bunuh diri. kini keadaan negeri menjadi kisruh, ruwet dan hilang semangat hubbul wathannya serta jiwa kebangsaannya. Banyak umat yang lebih suka menjadi pembebek kelompok sektarian daripada menjayakan bangsanya sendiri. Lebih suka berdalil daripada mengaplikasikan kemanfaatan dan kemaslahatan.

Padahal Islam itu, nilai nilai islam itu, agama itu, ilmu pengetahuan agama dan menjalankan agama itu tidak berhenti pada satu rangkaian dalil dalil apalagi tafsyir. Masih ada parameter lain, masih ada kaidah lain, masih ada tingkatan lain yang cakrawalanya nan luas. Janganlah mencari dan memaksakan kebenaran dan pembenaran di tengah komunitas, tetapi tebarkanlah, carilah nilai-nilah hikmah (solusi, kemanfaatan kedamaian)

BENDERA MERUPAKAN SIMBOL IDENTIFIKASI SEBUAH BANGSA / NEGARA

mujahidin-dengan-ar-rayah

Bendera atau panji atau pataka asalnya diadakan dan dikibarkan oleh seorang pemimpin atau kepala suku sejak awal peradaban purba. Bendera sangat sarat dengan makna. Keberadaannya menjadi simbol yang merepresentasikan kekuasaan, kedaulatan sebuah bangsa negara berikut ideologi, kepribadian, tujuan, cita-cita hingga semangat serta keberlangsungan sebuah peradaban. Lambang bendera tidak bisa dianggap remeh.

Pada masa purba, manusia menggunakan bendera atau panji atau pataka sebagai simbol identifikasi diri dan kelompoknya. Awalnya menggunakan lambang-lambang yang beragam media, diantaranya adalah tiang galah dan batu yang diukir maupun senjata.

Pada periode selanjutnya pada peradaban di Tiongkok dan Persia kuno, bendera atau panji juga biasa digunakan sebagai penanda pasukan ketika berperang. Di medan pertempuran, selalu terdapat benda sebagai tanda-tanda yang digunakan dan berfungsi sebagai bendera. Seperti seorang kepala pasukan yang membawa panji dengan diikatkan pada seutas tali dengan menunggang kuda.

Kira kira sekitar abad ke-17, dunia mulai mengenal bendera dengan kelaziman bentuk seperti sekarang ini, yaitu berbahan kain yang diikat pada sebuah tiang atau penyangga. Tidak hanya sebagai simbol identifikasi kelompok, format bendera tertentu juga dimanfaatkan sebagai sistem komuniaksi atau cara pemberian kode pesan seperti di dunia maritim.

Sebagai lambang identifikasi kelompok, tentu saja bendera dibuat dengan mempertimbangkan banyak hal. Setiap negara yang berdaulat memiliki lambang negara berbentuk bendera yang mewakili ideologi bangsanya. Bagi angsa Indonesia, warna merah dan putih pada bendera melambangkan keberanian dan kesucian.

SEJARAH DAN HAKEKAT BENDERA RASULULLAH, AR-RAYAH DAN LIWA

Ar-RayahLiwa

Ketika muncul kegaduhan di tengah umat islam yang berbagai macam faham, pemikiran serta intelektualitanya menyusul terjadinya insiden pembakaran sebuah bendera yang bertuliskan kalimat thayyibah. Apakah orang-orang itu tidak berfikir bagaimana dan darimana dan siapa yang menggembor-gemborkan penyebutan bendera dengan istilah ‘bendera tauhid? Sedang di masa Rasulullah SAW yang memperkenalkan bendera dengan simbol bertuliskan kalimat thayyibah tersebutpun tidak menyebutnya sebagai bendera tauhid.

Mengapa umat sekarang ini mudah terkecoh dengan tipu daya serta politik para kepentingan golongan, aliran dan faham? Wahai umat week up ……. bangun, melek dan cerdaslah sedikit, di dunia ini penuh dengan tipu daya dan para kumpulan orang-orang yang berebut kepentingan.

Mari kenali tentang apa itu tauhid, apa itu bendera.

HAKEKAT TAUHID :

Keimanan, keislaman seseorang kuncinya di aqidah dan tauhid. Ini perkara yang sangat fundamental. Namun jangan sampai kita tertipu oleh slogan maupun propaganda dari golongan atau kelompok yang mengatasnamakan aqidah dan tauhid. Sebab itu kita mesti mengaji dan mendalaminya. Tauhid itu ada di dalam dada orang-orang beriman, bukan di bendera. Sebab fungsi bendera zaman ini telah tercemari dengan nafsyu duniawi, rebutan pengaruh dan kepentingan kelompok serta acapkali hanya sebagai alat pengecoh umat.

RENUNGAN :

Sobat budiman semua .

Mari kita berfikir jernih dan jangan mempertahankan opini nafsyu dengan amarah membabi buta atas kasus pembakaran bendera, dengan menutup diri dari pemahaman hakekat Tauhid. Cobalah kita ambil pelajaran hikmah dari sebuah peristiwa yang terjadi dengan berdasar ilmu pengetahuan, bukan berdasar nafsyu faham dangkal.

Jika nilai-nilai tauhid bebas divisualisasikan di atas secarik kain bendera dengan tulisan-tulisah tauhid, maka derajat keagungan nilai-nilai tauhid itu dapat jatuh dan menjadi hina sebab bisa terjadi keadaan seperti contoh berikut ini :

44795403_1154656218030753_3802250748041887744_n

Mari kita semua menuju ke tingkatan muslim yang luas pemikiran. Begini :

  1. TIDAK ADA PEMBAKARAN BENDERA TAUHID.

Yang ada adalah pembakaran bendera kelompok (HTI, partai, aliran, dsb), yang bikin bendera dengan tulisan kalimah thayyibah yang kemudian di propagandakan sebagai bendera Tauhid. Sudah. Itu realita. Dan perlu kita ketahui, tidak hanya HTI yang bikin bendera dengan atribut tulisan kalimat thayyibah/tauhid. ISIS juga punya, Arab Saudi juga punya, partai partai islam punya. Lantas letak Tauhidnya dimana ketika kelompok ISIS dengan bendera yang mencatut kalimat agung tersebut dipakai untuk mengebom dan membunuh orang-orang tak berdosa??? Lantas dimana letak tauhidnya ketika Arab saudi dengan bendera bertuliskan kalimat tauhid tersebut mengebom anak anak, orang-orang sipil di Yaman…. Dimana letak tauhidnya ….ketika ada orang marah membakar bendera Arab atau ISIS, mengapa kalian tidak ributkan itu….tidak marah …. Itu membakar kalimat tauhid loh ….

  1. Kasus pembakaran bendera itu begini:

Ada umat sedang memperingati Hari Santri Nasional yang syah dan resmi hajat negara dan bangsa. Semua elemen golongan di undang, diajak sepakat tidak ada atribut bendera kelompok yang dibawa dan dikibarkan. Semua sepakat. Lalu tiba-tiba ada yg melanggar kesepakatan, bawa bendera HTI atau apapun yang ternyata bertuliskan simbol kalimat thayyibah. Sudah di peringati, bandel, maksa, ngotot ….ini siapa???

Lalu spontan bendera di musnahkan. Lebih baik mana? Di musnahkan dengan dibakar agar tidak hina dan direndahkan atau dibiarkan terkena injak, kencing dan terbuang di got???

  1. TAUHID ITU DI DALAM DADA ORANG BERIMAN, BUKAN TULISAN DI BENDA / BENDERA.

Jika kebenaran haq nilai tauhid itu ada pada sebuah tulisan yang ditaruh di bendera, maka derajat nilai tauhid itu bisa menjadi rendah, dan bisa semua orang mengklaim golongannya adalah yang paling bertauhid. Nanti saya bikin komunitas memakai bendera tauhid, lalu saya klaim, kami group yang paling tauhid. Lalu secara psikologis kelompok lainnya lebih rendah karena tidak bertauhid … Seperti itukah derajat Tauhid???

  1. Nah, beginilah jadinya nilai tauhid menjadi rendah dan jadi di rendahkan manusia baik sadar maupun tidak sadar,

Bendera kalimat tauhid di tenteng kesana kemari, hanya buat alas kaki, hanya di pantatin di jog, hanya dihempaskan di lantai,

44972063_1694798967298598_7786959403399249920_n

Wahai sobat, berpikir jernih.

Lebih baik dibakar agar tetap terjaga keagungannya, atau jadi rendah menjadi seperti ini???

Jika kalian tanya sama saya marah tidak kalau ada bendera dengan kalimat thayyibah dibakar, maka saya jawab balik pertanyaan kalian :

“MENGAPA KALIAN TIDAK MERIBUTKAN BENDERA DENGAN TULISAN KALIMAT TAUHID INI, DI DUDUKIN, DIPANTATIN, JADI ALAS KAKI, DILEMPAR DI LANTAI ??? …..

Mengapa kalian angkara murka ketika sebuah bendera dari organisasi yang diarang pemerintah di bakar??? Sementara tulisan arab dengan kalimat tauhid tersebut kalian hinakan sendiri dengan sekedar jadi alas pantat, kaki, ditaruh sembarangan di tanah, dsb seperti ini …???

44715863_2161281923906312_6190544330336239616_n

“MENGAPA KALIAN TIDAK MERIBUTKAN BENDERA DENGAN TULISAN KALIMAT TAUHID INI, DI DUDUKIN, DIPANTATIN, JADI ALAS KAKI, DILEMPAR DI LANTAI ??? …..

Mengapa kalian angkara murka ketika sebuah bendera dari organisasi yang diarang pemerintah di bakar??? Sementara tulisan arab dengan kalimat tauhid tersebut kalian hinakan sendiri dengan sekedar jadi alas pantat, kaki, ditaruh sembarangan di tanah, dsb seperti ini …???

44831616_203777347201555_3542008612173905920_n

“MENGAPA KALIAN TIDAK MERIBUTKAN BENDERA DENGAN TULISAN KALIMAT TAUHID INI, DI DUDUKIN, DIPANTATIN, JADI ALAS KAKI, DILEMPAR DI LANTAI ??? …..

Mengapa kalian angkara murka ketika sebuah bendera dari organisasi yang diarang pemerintah di bakar??? Sementara tulisan arab dengan kalimat tauhid tersebut kalian hinakan sendiri dengan sekedar jadi alas pantat,terinjak-injak kaki, ditaruh sembarangan di tanah, dsb seperti ini …???

44824244_203777280534895_2248387109981257728_n

Bagaimana ini wahai umat…….? Dimana keagungan dan kehormatan tauhidmu???

Ayo,dalami ilmu tauhidmu, penuhi jiwamu dengan luas aqal dan pikir. Jangan terkecoh dengan propaganda faham asing. Lebih baik Hubul wathan. Cintai islam, cintai negerimu sendiri,Bangun….. Jaga Indonesiamu jangan kita rongrong. Majukan, jayakan Islammu dengan islam yang rahmatan lil ‘alamin. Menjadilah generasi muslim santun yang berkarakter Indonesia. Sebelum terlambat.

Berikut ini beberapa kitab kitab yang membahas tentang aqidah dan tauhid. Baik yang dikarang oleh ulama terdahulu maupun sekarang. Ada ratusan kitab tentang ilmu tauhid seperti :

  1. Ushulu As-Sunnah karya Al-Humaidiy (wafat 219H)
  2. Ushulu As-Sunnah karya Al-Imam Ahmad (wafat 241H)
  3. Ushulu As-Sunnah karya Ibni Abi Zamanainiy (324-399H)
  4. Syarhu As-Sunnah karya Al-Muzani (175-264H)
  5. Syarhu As-Sunnah karya Al-Imam Al-Barbahariy (233-329H)
  6. Shariihu As-Sunnah karya Ath-Thabariy (224-310H)
  7. Al Mandhumatu Al-Ha’iyyah fi As-Sunnah karya Abu Dawud As-Sijistaniy (230-316H)
  8. Aqidatu Ar-Raziyainiy , Abu Hatim (275H) dan Abu Zur’ah Ar-Raziy (194-264H)
  9. Kitabu I’tiqadi Ahli As-Sunnah karya Abu Bakar Ahmad bin Ibrahim Al-Isma’iliy (277-371H)
  10. Al-Aqidatu Ath-Thahawiyah karya Abu Ja’far Ath-Thahawiy (239-321H)
  11. Al-Aqidatu Al-Qairawaniyah karya Abu Muhammad Al-Qairawaniy (310-386H)
  12. Al-Iqtishad fi Al-I’tiqad karya Abdulghaniy Al-Maqdisiy (541-600H)
  13. Lum’atu Al-I’tiqad karya Ibnu Qudamah (541-620H)
  14. Al-Aqidatu Al-Washithiyah, kitab ini sampai 16 karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728H)
  15. Al-Mandhumatu Al-Laamiyyah
  16. Al-Qashidatu At-Ta’iyyah fi Al-Qadar
  17. Al-Aqidatu As-Safaaraniyah karya Muhammad As-Safaaraniy (1114-1188H)
  18. Nuniyah Al-Qahthaniy karya Abu Muhammad Al-Andalusiy
  19. Kitabu At-Tauhid, kitab ini sampai 35 karya Imam Muhammad bin Abdilwahhab (wafat 1206H)
  20. Mufidu Al-Mustafid fi Kufri Taariki At-Tauhid
  21. Sittatu Ushuli Adzimah
  22. Al-Ushulu Ats-Tsalatsah
  23. Al-Qowa’idul Al-Arba’
  24. Bab Fadhli Al-Islam
  25. Al-Jami’ li ‘Ibadatillahi wahdah
  26. Masa’ilu Al-Jahiliyyah
  27. Ma’na Ath-Thaghut
  28. Ma Yatamayazu bihi Al-Muslim ‘an Al-Musyrik
  29. Kasyfu Asy-Syubuhat
  30. Nawaqidhul Al Islam
  31. Tafsiru Kalimati At-Tauhid
  32. Aqidah Al-Imam Muhammad bin Abdilwahhab
  33. Ta’limi Ash-Shibyan At-Tauhid
  34. Risalah fi Tauhid Al-Ibadah
  35. Waajibu Al-Abd
  36. Al-Jauharah Al-Faridah, kitab ini sampai kitab ke-38 karya Hafidz Al-Hakamiy (wafat 1377H)
  37. Sulamu Al-Wushul ila Ma’rifati Al-Ushul
  38. Miftahu Dari As-Salam bi Tahqiqi Syahadatai Al-Islam
  39. Al Waajibaat karya Syaikh Abdullah Al-Qar’awiy
  40. Aqidah Ahli As-Sunnah wa Al-Jama’ah karya Syaikh Al-Utsaimin (wafat 1421)
  41. Tathhiru Al-I’tiqad min Adraani Asy-Syirki wa Al-Ilhad karya Imam Sha’aniy (wafat 1182)
  42. Tathhiru Al-Janan wa Al-Arkan karya Syaikh Ahmad bin Hajar Buthamiy Alu Ibni Aly
  43. Al-Arjuzah Al-Maiiyah karya Ibnu Abi Izz Al-Hanafi (731-792H)
  44. Al-Mandhumatu Ar-Ra’iyyah fi As-Sunnah karya Abi Al-Qasim Al-Zanjaniy
  45. As-Sairu ilallah wa Ad-Dari Al-Akhirah, kitab ini sampai kitab ke-47 karya syaikh Abdurrahman As-Sa’diy (1307-1376H)
  46. Mukhtasharu fi Ushuli Al-Aqidah Ad-Diniyyah
  47. Minhaju Al-Haq
  48. Nashihati li Ahli As-Sunnah karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’I
  49. Hadzihi Da’watuna wa Aqidatuna karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’I
  50. Al-Aqidah Al-Islamiyah karya syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Kumpulan matan kitab-kitab tersebut telah dikumpulkan menjadi satu jilid yang diberi judul: الدليل الرشيد إلى متون العقيدة و التوحيد  “Ad Dalilu Ar Rasyid ila Mutuuni Al Aqidah wa At Tauhid”.

Reff:https://ukhuwahislamiah.com/50-kitab-penting-tentang-aqidah-dan-tauhid/

Sudahkah kita mengaji dan membaca kitab tentang ilmu tauhid sehingga memahami apa makna TAUHID yang sejatinya? Sudahkah kita mendalami itu semua?

MAKA TIDAK SATUPUN KITAB PARA ALIM TERSEBUT MENYATAKAN BAHWA TULISAN TAUHID YANG DI JADIKAN ATRIBUT OLEH GOLONGAN, ALIRAN ITU DISEBUT SEBAGAI BENDERA TAUHID.

Sejarah dan fungsi bendera dimasa Rasulullah SAW :

Ketika masa Rasulullah SAW telah kuat umat Islamnya, maka saat itulah beliau memperkenalkan bendera. Dalam bahasa Arab, bendera disebut dengan liwa’ atau alwiyah (dalam bentuk jamak). Istilah liwa’ sering ditemui dalam beberapa riwayat hadis tentang peperangan. Jadi, istilah liwa’ sering digandengkan pemakaiannya dengan rayah (panji perang).

Istilah liwa’ atau disebut juga dengan al-alam (bendera) dan rayah mempunyai fungsi berbeda. Dalam beberapa riwayat disebutkan, rayah yang dipakai Rasulullah SAW berwarna hitam, sedangkan liwa’ (benderanya) berwarna putih. (HR Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah).

Meskipun terdapat juga hadis-hadis lain yang menggambarkan warna-warna lain untuk liwa’ dan rayah, sebagian besar ahli hadis meriwayatkan warna liwa’ dengan warna putih dan rayah dengan warna hitam. Secara ukuran, rayah lebih kecil dari liwa’. Mengenai ukuran panjang dan lebarnya, tidak ditemui riwayat yang menjelaskan secara rinci dari bendera maupun panji-panji Islam pada masa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dalam sebuah hadis dikatakan,

“Panji Rasulullah SAW berwarna hitam, berbentuk segi empat dan terbuat dari kain wol.” (HR Tirmizi).

Rayah dan liwa’ sama-sama bertuliskan La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah. Pada rayah (bendera hitam) ditulis dengan warna putih, sebaliknya pada liwa’ (bendera putih) ditulis dengan warna hitam. Rayah dan liwa’ juga mempunyai fungsi yang berbeda.

Rayah merupakan panji yang dipakai pemimpin atau panglima perang. Rayah menjadi penanda orang yang memakainya merupakan pimpinan dan pusat komando yang menggerakkan seluruh pasukan. Jadi, hanya para komandan (sekuadron, detasemen, dan satuan-satuan pasukan lain) yang memakai rayah.

Rayah diserahkan langsung oleh khalifah kepada panglima perang serta komandan-komandannya. Selanjutnya, rayah dibawa selama berperang di medan peperangan. Karena itulah, rayah disebut juga Ummu al-Harb (Induk Perang).

Mengenai hal ini, bersumber dari hadis dari Ibnu Abbas mengatakan, Rasulullah ketika menjadi panglima di Perang Khandak pernah bersabda, “Aku benar-benar akan memberikan panji (rayah) ini kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah kemudian memberikan rayah tersebut kepada Ali bin Abi Thalib yang saat itu menjadi ketua divisi pasukan Islam. (HR Bukhari).

Ibnu Asyakir dalam bukunya :Tarikh ad-Dimasyq jilid IV/225-226 menyebutkan, rayah milik Rasulullah SAW mempunyai nama. Dalam riwayat disebutkan, nama rayah Rasulullah SAW adalah al-Uqab.

Selain itu, fungsi liwa’ sebagai penanda posisi pemimpin pasukan. Pembawa bendera liwa’ akan terus mengikuti posisi pemimpin pasukan berada. Liwa’ dalam perperangan akan diikat dan digulung pada tombak. Riwayat mengenai liwa’, seperti yang diriwayatkan dari Jabir radi allahu anhu yang mengatakan, Rasulullah membawa liwa’ ketika memasuki Kota Makkah saat Fathul Makkah (pembebasan Kota Makkah). (HR Ibnu Majah).

Setelah masa-masa ekspansi dari daulah Islam berakhir, (3 Maret 1924, Akhir Riwayat Kekhalifahan Islam dunia akibat gejolak politik internal dan eksternal, praktek.korupsi serta saling berebut kekuasaan) kini simbol-simbol menyerupai rayah dan liwa’ kembali muncul. Banyak kelompok dan ormas yang menggunakan simbol tersebut sebagai lambang organisasinya. Dan masing-masing mengklaim bahwa benderanya adalah yang paling bertauhid.

Berikut adalah potongan bendera asli,(Rayah) Rasulullah SAW sewaktu Perang Khaibar. Perhatikan potongan warna merah paling tengah yang tertulis ayat “Nashrun minallah wa fathun qarib wabasysyiril mu’minin. Muhammad”.

Sementara lingkaran merah bagian luar dan potongan warna hijau adalah tambahan dari Kesultanan Turki Utsmani. Lalu dimodifikasi menjadi indah oleh kesultanan Turki Utsmani jadi berharakat seperti foto berikutnya yang kini tersimpan di Museum Topkapi Istanbul-Turkey.

44696029_965058787033582_9103166278880722944_n

44758966_965058813700246_1274236704173064192_n

“Yang masih mau “dikadalin” soal Rayah dan Liwa Rasulullah dari eks ormas terlarang, perlu banyak banyak membaca buku sejarah”. Mengutip Sumber : Kiai Ahmad Baso.

Mengutip pernyataan dari KH Ali Mustafa Ya’qub (Alm.) yang dilansir oleh republika.co.id bahwa sebenarnya tidak ada larangan bagi satu kelompok untuk memakai simbol rayah dan liwa’. Namun, jika tujuannya untuk menipu atau mengecoh umat Islam, tentu itu jelas haram.

Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, kelompok-kelompok ekstremis, seperti Islamic State of Irak and Suriah (ISIS), menggunakan rayah dan liwa’ untuk menipu umat Islam. Hal itu dibuktikan dengan perbuatan mereka yang tidak sesuai dengan slogan yang mereka usung. Penggunaan rayah dan liwa’ hanya sekadar propaganda untuk menarik simpati umat Islam.

Demikian juga tentang fungsi rayah dan liwa’ sebagai bendera umat Islam. Menurut Ali Mustafa, tidak ada dalil kuat yang bisa mengklaim begitu saja bahwa liwa’ merupakan bendera umat Islam. Menurutnya, Islam bukan bendera, melainkan keyakinan. Keberadaan rayah dan liwa’ pada zaman Rasulullah SAW hanya sebagai tanda.

Sumber:

https://republika.co.id/berita/selarung/suluh/18/10/23/ph16ov282-mengenal-arrayah-bendera-tauhid-yang-dibakar-di-garut

Berikut dipetik dari sumber penulis lainnya tentang sejarah dan fungsi bendera dimasa Rasulullah SAW :

Tulisan santri Hadlramaut, sangat layak untuk dibaca. Akhir dari tulisan ini mengisahkan bendera organisasi terlarang yang bertuliskan kalimat tauhid lumrah di bakar, bahkan oleh Masyayikh Yaman.

* Bendera hitam adalah bendera perang, bukan bendera “ummat”.

Sejak kejadian pembakaran bendera tauhid di Garut beberapa hari lalu, saya tertarik untuk menelusuri lebih dalam tentang bendera hitam dalam kitab-kitab Hadits dan Syamail. Prof.Nadirsyah Hosen sebenarnya sudah punya tulisan mengenai masalah ini, tapi kurang mantap rasanya jika tidak ber-ijtihad sendiri dan cuma mengandalkan tulisan orang. Lagi pula kesimpulan Prof Nadir bahwa semua hadits yang berkaitan dengan panji hitam adalah hadits-hadits lemah saya rasa kurang tepat.

Saya juga menelusuri apakah pembakaran bendera tauhid di dunia ini baru dilakukan di Indonesia oleh Banser beberapa hari yang lalu? Bagaimana dengan Yaman Utara tempat dimana bendera-bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid itu juga banyak tersebar sebagai atribut Al-Qaeda ?

Berikut point-point yang bisa saya simpulkan :

  1. Warna Bendera Rasulullah Saw

Semasa hidupnya, Rasulullah Saw memiliki banyak bendera, yang terdiri dari beberapa bendera besar (Ar-Rayah) dan bendera kecil (Al-Liwa’). Syaikh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani dalam kitab Syamail-nya menyebutkan

كانت راية رسول الله صلى الله عليه و سلم سوداء و لواءه ابيض

” bendera besar (Rayah) Rasulullah Saw berwarna hitam, sedangkan bendera kecilnya (liwa’) berwarna putih “

Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam Tarikhul Hawadits berkata :

و كانت له راية سوداء يقال لها العقاب و أخرى صفراء كما في سنن أبي داود و أخرى بيضاء يقال لها الزينة

” Rasulullah Saw memiliki bendera hitam yang dinamakan “Al-Uqob”, beliau juga memiliki bendera berwarna kuning seperti keterangan dalam Sunan Abu Dawud, satu lagi bendera beliau yaitu panji berwarna putih yang dinamakan “Az-Zinah” . “

Dari sini bisa kita ketahui bahwa Rasulullah Saw memiliki beberapa bendera dengan warna yang berbeda-beda, bukan melulu hitam saja. Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar bendera-bendera itu digunakan dalam waktu yang berlainan.

(entah kenapa gerombolan radikal seperti ISIS, Al-Qaeda dll lebih memilih warna hitam dari pada warna Royah Rasulullah lainnya ? kuning misalnya- ? Mungkin karena warna hitam terlihat lebih galak, seram dan sangar.. )

Hadits-Hadits tentang warna Royah dan Liwa’ memiliki derajat yang tak sama, ada pula satu hadits yang diriwayatkan dengan sanad yang berlainan. Hadits Riwayat Al-Hakim yang disebut An-Nabhani diatas memang lemah, bahkan ada yang menyebutnya sebagai hadits Munkar, hanya saja itu tidak menafikan adanya hadits-hadits lain yang berderajat hasan seperti riwayat Imam Tirmidzi :

كانت راية رسول الله سوداء مربعة من نمرة قال

سألت محمدا يعني البخاري فقال حديث حسن

  1. Tulisan dalam bendera Rasulullah Saw

Hanya ada satu hadits yang menyatakan panji hitam Rasulullah Saw bertuliskan kalimat tauhid, yaitu hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan Al-Thabrani dalam kitab Al-Kabir, Abu Assyaikh dalam kitab Al-Akhlaq (153), dan Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid (5/321). yang berbunyi :

كانت راية رسول الله صلى الله عليه و سلم سوداء مكتوب عليها لا إله إلا الله محمد رسول الله

” Royah Rasulullah Saw berwarna hitam bertuliskan La Ilaha Ilallah Muhammadun Rasulullah “

Hadits yang diriwayatkan Abu Assyaikh dinyatakan lemah sanadnya oleh Ibnu Hajar, sedangkan Al-Haitsami mengomentari hadits yang diriwayatkannya : ” semua perawi-nya shahih kecuali Hayyan Bin Abdillah “

Jadi dapat disimpulkan tidak semua panji Rasulullah Saw bertuliskan kalimat tauhid, hanya satu bendera berwarna hitam saja, itupun ulama sekelas Ibnu Hajar masih meragukan adanya kalimat tauhid dalam bendera Rasulullah Saw tersebut.

  1. Fungsi Bendera (Ar-Rayah dan Al-Liwa’) di zaman Rasulullah Saw.

Anggap saja warna dan bentuk bendera Rasulullah Saw memang seperti itu, kita juga harus mengetahui fungsi dan kegunaan bendera Royah dan Liwa’ di masa Rasulullah Saw. Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari-nya :

الراية و اللواء : العلم الذي يحمل في الحرب يعرف به موضع صاحب الجيش و قد يحمله أمير الجيش و قد يدفع لمقدم العسكر و كان الاصل ان يمسكها رئيش الجيش ثم صارت تحمل على رأسه

“Royah dan Liwa’ adalah bendera yang digunakan dalam peperangan dan menjadi tanda dimana posisi pemimpin perang. Bendera ini hanya dibawa oleh komandan perang dan terkadang juga diserahkan pada pasukan yang berada di barisan paling depan.. “

Syaikh Abdullah Said Al-Lahji dalam Muntaha As-Suul berkata :

فالراية هي التي يتولاها صاحب الحرب و يقاتل عليه و إليها تميل المقاتلة

” Royah adalah bendera yang dikuasai pemimpin perang dan ia bertugas untuk mempertahankannya. Peperangan berpusat ke mana arah bendera tersebut. “

Jadi fungsi asli dari Royah dan Liwa’ adalah sebagai bendera perang, oleh karena itu bendera Royah juga dijuluki sebagai “Ummul Harb” atau induk perang. jangan heran jika Imam Bukhori memasukkan pembahasan Liwa’ dan Royah ini dalam kitabul Jihad. Ibnu Qoyyim Al-Jauzi dalam Zad Al-Ma’ad, Syaikh Yusuf An-Nabhani dalam Wasail Al-Wushul, dan Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam Tarikh Al-Hawadits, mereka semua sepakat meletakkan pembahasan bendera ini dalam Babu Silahi Rasulillah Saw : Bab Senjata perang yang dimiliki Rasulullah Saw.

Kesimpulannya : Bendera Royah dan Liwa’ adalah atirbut perang. jadi sangat tidak relevan jika di zaman kini ini bendera-bendera itu malah dikibarkan dalam keadaan tenang, aman dan damai. Bendera-bendera itu tidak layak dibawa dalam majlis-majlis, demo-demo atau acara-acara keagamaan, Apalagi dikibarkan dalam acara hari santri nasional ? Jelas-jelas itu adalah sebuah kedhaliman, wadh’u Assyai fi ghoir mahallihi, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.

pada zaman Rasul Saw Bendera-bendera ini merupakan atribut khusus yang hanya boleh dipegang oleh pemimpin perang, bahkan para pasukan pun dilarang asal membawa bendera jenis ini.

( tapi Sekarang bendera hitam ini malah seenaknya saja dibawa oleh bocah- bocah dan ibu-ibu dalam demo-demo, majlis-majlis dan acara-acara lainnya )

oleh karena itu Ibnu Hajar menyatakan bahwa bendera Royah dan Liwa’ hanya dianjurkan untuk dikibarkan dalam waktu perang, itupun yang boleh membawanya cuma komandan perang atau prajurit yang dipercayainya. Dawuh beliau dalam Fathul Bari :

و في الأحاديث استحباب اتخاذ الأولية في الحروب و أن اللواء يكون مع الأمير او من يقيمه لذلك عند الحرب

Ini jelas menolak anggapan mereka yang berfikir bahwa dulu pada zaman Rasulullah Saw, bendera-bendera hitam ini adalah panji-panji Islam yang dengan indahnya berkibar di jalanan kota makkah-madinah, di depan Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, dan dibawa para Sabahat dalam setiap perkumpulan atau acara keagamaan.

Sekali lagi bendera ini adalah bendera perang, bukan bendera “ummat”. Jangan kaget jika panji-panji hitam ini sekarang menjadi simbol resmi golongan yang hawanya menantang perang dengan dalih jihad seperti ISIS, Al-Qaeda, Jabhat Nushra, HTI dan jama’ah-jama’ah radikal lainnya.

Pada Intinya Bendera-bendera ini sama sekali tidak disunnahkan dikibarkan pada selain waktu perang. Bahkan untuk sekarang ini, tatkala panji-panji hitam ini (Royah Suud) menjadi simbol yang indentik dengan golongan radikal dan bisa memicu fitnah, kekhawatiran dan kekacauan. Hukum membawa bendera ini bisa mencapai taraf “haram” : (Saddan Lid Dzariah)..

  1. Masalah pembakaran bendera

Jelas tidak benar jika kelompok yang melakukan pembakaran bendera dituduh sebagai ormas anti kalimat Tauhid. Juga kita tidak bisa sembarangan menuduh setiap orang yang tidak setuju dengan pembakaran ini sebagai simpatisan HTI atau orang-orang yang terpengaruh dengan ideologi mereka.

Namun menutup “pintu” fitnah itu penting, sama seperti ketika Rasulullah Saw menahan diri untuk memerangi kaum munafikin agar tidak menimbulkan fitnah dan asumsi-asumsi sesat ditengah masyarakat. toh padahal mereka sudah berkali-kali merencanakan makar-makar jahat terhadap Rasulullah Saw.

” aku tidak ingin orang-orang berkata bahwa Muhammad memerangi sahabat-nya sendiri ” begitu sabda Rasulullah Saw waktu itu..

Kemarin saya mendiskusikan masalah ini dengan seorang sahabat asal Hudaidah, salah satu kota di Yaman Utara yang sampai sekarang dilanda konflik tiada henti. di daerah-daerah konflik disana bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid juga banyak tersebar, hanya saja disana panji hitam bukan menjadi bendera HTI, melainkan bendera Al-Qaeda.

” Al-Qaeda di Syimal-Yaman Utara- bukankah juga mempunyai bendera ? “

” Iya punya.. Bendera Hitam bertuliskan La ilaha Illallah “

Saya lalu menceritakan kepadanya kehebohan di Indonesia akibat pembakaran bendera tauhid tempo hari lalu, tanggapanya benar-benar diluar dugaan..

” Aadii.. (Biasa saja)” ucapnya santai. ” di Aden atau di Hudaidah pembakaran bendera-bendera hitam seperti itu sudah biasa terjadi. mereka menyita dan mengumpulkan bendera-bendera itu dalam suatu tempat, menyiramnya dengan bensin lalu membakarnya.. “

” siapa yang melakukannya..? “

” pemerintah.. Masyarakat juga turut andil, bahkan di daerahku sebagian masyaikh juga melakukan itu.. “

” mereka yang membakar juga ahlussunnah.. ? “

” iya.. “

” Maa had takallam ? ( tidak ada yang berkomentar atas pembakaran itu..) ?”

” gak ada.. Biasa aja, bendera-bendera itu adalah penyebab fitnah, jadi sudah seharusnya dilenyapkan, kami mengqiyaskannya dengan Masjid Dhiror ” begitu pendapatnya..

Saya juga menceritakan masalah ini kepada murid-murid saya yang berasal dari Yaman Utara. salah satu dari mereka bernama Ahmad, berasal dari kota Mahwith. iya tampak terkejut ketika mendengar cerita saya, tapi bukan karena Insiden pembakaran bendera (karena menurutnya, pembakaran bendera hitam di daerahnya sudah lumrah dan biasa). Ia malah terkejut karena satu hal : Kok bisa bendera seperti itu ada di Indonesia ?

Setelah kami bertukar cerita panjang lebar, dengan raut wajah sedih ia berkata :

” Allah Yarhamkum ya ustadz. Semoga Allah mengasihani kalian para penduduk Indonesia ustadz.

Wallah..Jika bendera-bendera hitam itu mulai tersebar di negara kalian, itu pertanda awal dari semua kekacauan..”

Saya mengamini doa tulusnya itu. Ia benar. Ditengah badai fitnah, kegaduhan, dan perpecahan yang berkecamuk diantara kita saat ini, betapa butuhnya kita akan pertolongan, kasih sayang dan belas kasih Allah untuk kita.

Irhamna Ya Rabb Ya Rahiim Ya Rahmaan..

** Hanya tulisan pribadi, tidak ada sangkut pautnya dengan ormas, keluarga besar, atau lembaga dimana saya bernaung..

Sumber:

* Ismael Amin Kholil, 24 Oktober, 2018

https://www.facebook.com/kayla.khalwa/posts/2164306357173650

Renungan

BERBAGAI BENDERA DENGAN TULISAN KALIMAH THAYYIBAH / TAUHID:

Lambang (hitam)

  1. PARTAI PSII :

Benderanya bertuliskan kalimah Thoyyiyibah : Laa Ilahha Illaallah Muhammadurrasulullah, berbentuk Bulan Sabit; ada bintang Besrsegi Lima dengan Kalimat Allah pada tiap – tiap sudut bintang, dan tulisan Syarikat Islam dalam lingkaran di tengah bintang. Lambang tersebut mulai dipergunakan sebagai Lambang Syarikat Islam pada tahun 1923. Itu benderanya partai syarekat islam indonesia. Sama memakai kalimat thayibbah.

Jika ada orang membakar bendera partai itu, apakah anda mau mengatakan bahwa itu membakar bendera tauhid? Mengapa tidak protes, ribut dan tersinggung?

  1. PARTAI SYAREKAT ISLAM :

240px-LogoSI.svg

Syarikat Islam (disingkat SI), atau Sarekat Islam, dahulu bernama Syarekat Dagang Islam (disingkat SDI) didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh Haji Samanhudi. Jika ada orang membakar bendera partai itu, apakah anda mau mengatakan bahwa itu membakar bendera tauhid? Mengapa tidak protes, ribut dan tersinggung?

  1. PARTAI INDONESIA BARU :

01. Partai Indonesia Baru

Lambang partai ini malah lebih tinggi maknanya yaitu Asma’ul Husna dasar. itu benderanya partai indonesia baru. Malah menggunakan asmaul husna. Lebih tinggi dari bendera dengan kalimat lainnya.

Ada org bakar bendera partai itu, apakah kalian mau mengatakan bahwa itu membakar bendera tauhid? Kenapa tidak protes,teriak-teriak dan tersinggung?

  1. ARAB SAUDI :

bendera-saudi

Ini benderanya negara Arab Saudi. Sama menggunakan kalimat thayibbah. Arab Saudi memerangi bangsa Yaman, banyak anak-anak dan umat islam mati terkena rudal Saudi.

Ada orang bakar bendera negara itu, apakah anda mau mengatakan bahwa itu membakar bendera tauhid? Kenapa tidak protes,marah,koar-koar?

BENDERA ISIS :

logo-isis

Bendera ISIS juga mencatut kalimat-thayyibah, Sama dengan HTI dan lainnya. Isis yang dikenal sebagai aliran islam radikal dan terkenal dengan tindak terorisme, dan tak segan membantai orang orang yang tidak segolongan dan seideologi.

Apakah ketika ada yang membakar bendera isis kemudian kita katakan itu membakar bendera tauhid? Kenapa tidak protes dan marah dan koar-koar?

PENUTUP

Sangat tak santun bikin bendera group, aliran, sekte, kelompok dengan simbol-simbol kalimat Thayyibah yg kalian terakan di secarik kain bendera …. Terlalu murah menjual nama Agung Tuhan …yang ujung” nya hanya untuk berebut  politik, kursi dan kepentingan kelompok…..

Jika ngotot silahkan Kibarkan itu di Suriah dan Irak …. Lawan ISIS …

Kibarkan di Israel, lawan Yahudi…Jangan merongrong negaranya sendiri.

Islam itu universal. Parameter kebenaran agama, ilmu pengetahuan agama dan menjalankan agama tak sebatas pragmatis (saklek, letterlux) di diatas rangkaian dalil dalil dan tafsir cangkang. Juga tidak cukup dengan bendera dan koar-koar Maka janganlah kalian mempersempit tempurung ke-Islaman-mu. Dengan kata lain, bahwa ketika kita berniat melaksanakan amal kebaikan diluar perintah ibadah yang wajib (mahdloh), maka laksanakan saja tanpa harus ribet mencari cari dalilnya atau terganggu oleh pikiran ini itu ada dalilnya atau tidak. Yang demikian adalah faham sempit dan dangkal. Kita manusia, diciptakan oleh Allah bukan sebagai robot, tetapi sebagai abdun (pengabdi) yang dinamis. Diberi akal untuk berfikir dan berfaham luas, guna mengenali dan memahami siapa diri, untuk apa diri serta kemana diri.

Sebab kebenaran itu aplikasi individual, (dijalankan, diterapkan untuk urusan keselamatan diri sendiri) setelah menyaringnya dengan logika nurani. INGAT !!! ILMU ALLAH ITU TAK SEDAUN KELOR. (tak cukup sebatas satu dua dalil). Semoga menjadi renungan. Maka MENJADILAH GENERASI ISLAM SANTUN YANG SELALU MENEBAR KEDAMAIAN. (ayat)

MENJADILAH GENERASI ISLAM YANG CERDAS, YANG LUAS PIKIR DAN PEMAHAMAN.

DAN MENJADILAH GENERASI ISLAM YANG MENJAYAKAN NUSANTARA UNTUK RAHMAT SEMESTA ALAM (Amemayu Hayuning Bawana).

 

Semoga menjadi renung.

SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL

22 Oktober 2018
*MENJADILAH MUSLIM SANTUN INDONESIA, BERKARAKTER INDONESIA

*KITA ADALAH PEWARIS PARA AULIYA (WALI) NUSANTARA SEJAK DAHULU KALA.

*JANGANLAH MENGADOBSI BUDAYA ‘KEISLAMAN’ BANGSA LAIN

*SEBAB KITA ORANG INDONESIA, BANGSA INDONESIA

*LAHIR DI BUMI INDONESIA

*HIDUP DI NEGARA INDONESIA,

*MAKAN MINUM DAN BUANG HAJAT DI BUMI INDONESIA

*TAK PATUT KITA MENIRU-NIRU KARAKTER DAN BUDAYA ‘KEISLAMAN’ BANGSA LAIN

“BERSAMA SANTRI DAMAILAH NEGERI, JAYALAH INDONESIA ATLANTIS RAYA”
—–0O—-

*MAKNA DAN NILAI-NILAI SANTRI NUSANTARA*
* سنتری*
سالك الى الأخرة ———— (س)
*Santri harus menuju pada jalan syariat
نائب عن المشايخ ———— (ن)
*Santri adalah generasi pengganti para guru (ulama)
تارك عن المعاصي ———— (ت)
*Santri harus mampu menjauhkan diri dari kemaksiatan
راعب في اخیرات ———— (ر)
*Santri harus senang dalam hal kebaikan
يرجو السالمة في الد ين والدنيا والآخرة ———— (ي)
*Santri harus selalu mengharapkan keselamatan di dalam agama, dunia dan akhirat

#generasiislamsantunindonesia#

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Bumi Kranggan,

Published: Senin,29 Oktober 2018
Prepared: Selasa,23 Oktober 2018
CopyRights@2018

untuk bersambung…….

-Dari berbagai sumber

BOLEHKAH MENULISKAN KATA SALAM, SHALAWAT DAN DO’A  DENGAN DISINGKAT DAN MASALAH TYPO ?

BOLEHKAH MENULISKAN KATA SALAM, SHALAWAT DAN DO’A DENGAN DISINGKAT DAN MASALAH TYPO ?

BOLEHKAH MENULISKAN KATA SALAM, SHALAWAT DAN DO’A,DENGAN DISINGKAT DAN MASALAH TYPO ?

singkatan

DAFTAR ISI:

  • LATAR BELAKANG
  • HUKUM MENYINGKAT KATA SALAM, SHALAWAT DAN SEJENISNYA.
  • MASALAH TYPO
  • KESIMPULAN

HUKUM MENYINGKAT KATA SALAM, SHALAWAT DAN SEJENISNYA

DAN MASALAH TYPO

bismillah

LATAR BELAKANG

Di media sosial sering kita mendapat pesan dari teman atau dari orang orang yang menyebarkan pesan yang berisi ajakan untuk tidak menulis / mengucapkan salam, shalawat dan sejenisnya dengan disingkat yang diklaim berakibat salah makna secara fatal. Dan biasanya diembel-embeli dengan berbagai dalil dan tafsyir, yang menekankan bahawa islam itu harus begini begitu, jangan mengkuti budaya kafir dan sebagainya. Sehingga bagi umat yang menerima pesan tersebut serta merta langsung membagikan / menyebarkannya kepada lainnya, tanpa mendasari ilmu. Efek dari hal tersebut membuat kebingungan dan bertanya tanya dalam hati. Dan bagi sebagian lainnya tanpa berfikir langsung menyebarkannya tanpa reserve.

Berikut contoh selebaran yang dibagikan (share) hingga menjadi berantai dan menyebar di sosial media (sosmed) :

*GANTI UCAPAN KITA DENGAN DOA.*

Jangan ucapkan ‘0k’, ucapkan “In syaa  Allah”(- اللَّهُ شَاءَ إِنْ -)

Jangan ucapkan “wow”, ucapkan “SubhaanAllah”(- اللَّهُ سُبْحَانَ -)

Jangan ucapkan “hebat”, ucapkan “Maa syaa Allah”(- مَاشَآءَاللّهُ -).

Jangan ucapkan “saya baik2 saja”, ucapkan “Allhamdulillah”(- اللَّهُ الْحَمْدُ -)

Jangan ucapkan “Terimakasih”, ucapkan “Jazaka (ki,kumu) llahu Khairan”(- خَيْرًا اللهُ جَزَاك -)

Jangan ucapkan “Hati2 ya…sampai jumpa”, ucapkan “Fii Amanillah”(- اللَّهُ أَمَانِ فِي -)

Jangan ucapkan “.Hello”, ucapkan “Assalamu alaikkum Warahmatullah”(- اللهِ وَرَحْمَةُ عَلَيْكُمْ السَّلاَمُ -)

Doa yg indah untuk berterima kasih pada Allah, pada semua kesempatan.

“Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika  wa husni  ‘ibadatika”

‎ ‎عِبَادَتِكَ وَحُسْنِ وَشُكْرِكَ ذِكْرِكَ عَلَى أَعِنِّى اللَّهُمَّ

Mari kita sama-sama membetulkan :

  • Aamiin,
  • In Syaa Allah , dan
  • Menyingkat kata Assalamu’alaikum.

Dalam bahasa Arab ada 4 kata amin yg berbeda makna :

  • – Amin = Aman
  • – Aamin = Meminta perlindungan
  • – Amiin = Jujur
  • – Aamiin = Ya Allah, kabulkanlah do’a kami

Kita seharusnya tidak menulis :

  • *Insya Allah* = Menciptakan Allah (naudzubillah)

Tapi pastikan kita menulis :

  • *In Syaa Allah = dengan izin Allah

Assalamualaikum, jgn disingkat, karena ;

  1. As = Orang bodoh ; keledai
  2. Ass = Pantat
  3. Askum = Celakalah kamu
  4. Assamu = Racun
  5. Samlekum = Matilah kamu
  6. Mikum = dari bahasa Ibrani, Mari Bercinta.

Salam pendek, Salam sedang dan Salam panjang telah dicontohkan oleh Nabi  dan tidak merubah  makna aslinya :

  • *Salam pendek* : “Assalamualaikum”. (Dengan 10 kebaikan).
  • *Salam sedang* : “Assalamualaikum warahmatullah”. (Dengan 20 kebaikan).
  • *Salam panjang* : “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. (Dengan kebaikan sempurna).

Dengan penjelasan ini, mudah-mudahan tidak ada lagi yang menyingkat karena dapat merubah maksud.

– Bila menurut anda ini  ada manfaatnya,  beritahu ke yg lain.

SHARE JIKA INGIN YANG LAIN DAPAT MANFAAT.

*Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala, seperti org yg melakukannya.*(HR. Muslim 3509).

*Semoga kita termasuk hamba Allah yang memperoleh kebaikan dari membaca artikel Islami serta dapat mengamalkan-nya.*

Demikian rangkaian selebaran yang sering beredar dan diedarkan ditengah komunitas dunia sosial media (medsos). Maka bagi insan islam yang cerdas dan mendasari segala sesuatunya dengan ilmu pengetahuan tentu dalam dirinya akan melontarkan ide pertanyaan:

“Benarkah demikian?”

Atau jika divisualisasikan dengan dialek lokall kira-kira akan seperti ini:

”Ada ape lagi, nih. Bener kaga’ neh inpo. Kayenye ribet amat agama islam”.

Begitu kira-kira kasak kusuk yang lazim terjadi ditengah umat.

Baiklah saudaraku, ikhwan fillah, sobat dumay dimana saja berada. Mari bersama sama kita membahas perkara ini dengan melandasi ilmu pengetahuan, dengan akal logika. Bukan dengan okol (asal).

Kita mulai dari situasi yang sering terjadi (realitas) ditengah umat, di dunia interaksi sosial media.

  1. Kebiasaan / kelaziman orang dalam mengetik atau menulis kata kata dengan disingkat.

Sudah menjadi kebiasaan / kelaziman orang dalam dunia ketik mengetik atau menulis kata kata, itu sering dengan disingkat. Baik yang bersifat komunikasi surat menyurat resmi atau pun personal, maka sudah menjadi kelaziman. Hanya bedanya untuk yang resmi masih diberi penjelasan dengan menambah kalimat penjelasannya didalam tanda kurung atau dengan foot note. Sedang di dunia sosial media terutama dunia perpesanan online (chating), maka penyingkatan kata tidak terelakkan. Nah, kata kata dengan ketikan yang disingkat singkat itu kalimat umum. Bagaimana jika kata kata yang disingkat itu adalah kalimat salam, shalawat dan sejenisnya?

Kita semua tentu telah mengerti akan sebuah kaidah dasar, bahwa kalimat atau lafal-lafal kalam Ilahi (ayat ayat) dalam Al-Qur’an, yang berhuruf dan berbahasa Arab dan didalamnya berisi kalimah salam, shalawat dan doa, maka rangkaian kalimat ayat ayatnya, hurufnya itu tidak dapat dan tidak boleh dikurangi atau ditambah barang satupun, sebab dapat merubah isi dan makna. Dengan demikian jika seseorang atau kumpulan orang hendak mencetak serta memperbanyak Al-Qur’an, maka harus ditulis / dicetak dengan sempurna sesuai aslinya tanpa kurang dan lebih. Dan begitu pula bagi para qira’ah (pembaca Al-Qur’an), maka harus diucapkan (melafalkan) dengan langkap dan sempurna, tidak menyingkatnya bahkan salah membacanya. Begitu pula rangkaian Al-hadits, tidak boleh dikurang dan tambahi dari teks aslinya.

Itu teks asli ayat ayat Al-Qur’an ataupun Hadits. Sehingga lafal salam, Sholawat dan lainnya harus tertulis dan diucapkan lengkap, sempurna seperti bacaan : “Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Demikian juga mengucapkan salam harus diucapkan lengkap, sempurna seperti: “Assalaamu’alaikum warahmatullaaahi wa barokaatuhu”.

Namun permasalahannya adalah banyak kita dapati kaum muslimin yang menyingkat-nyingkat lafal salam, shalawat dan sejenisnya tersebut, untuk sebuah alasan kepraktisan demi menyingkat waktu dalam penulisan atau pengetikan. Dan saya meyakini bahwa anda sama sekali tidak berniat meremehkan keagungan ayat-ayat tersebut.

Terbukti pada kenyataannya, tidak ada seorang muslimpun yang mengucapkan / menjawab doa dengan disingkat. Setiap muslim ketika memberi salam kepada saudaranya dengan ucapan maka iapun membalas ucapannya dengan sempurna, demikian juga saat bersholawat kepada Nabi, kita mengucapkan doa sholawat tersebut dengan sempurna.

Coba kita ilustrasikan:

Si A kepada si B: “Assalaamu’alaikum”

Si B tentu akan membalas: ”Wa’alaikum salam”.

Apa ada yang begini:

Si A kepada si B: “Assalaamu’alaikum”

Si B membalas: ”kumsal”. Ada yang begitu ???

Lagi:

Apa ada yang begini:

Si A menulis salam (disingkat) kepada si B: “Ass..”

Si B membalas: ”Bukan, gue bukan As, gue Katmi”. Ada yang begitu ???

Jika demikian perkaranya berarti ini hanya tentang menyingkat kata-kata dalam tulisan / pengetikan di dunia interaksi komunikasi publik, bukan dalam ucapan, bukan dalam pembuatan atau pencetakan Al-Qur’an dan kumpulan Hadits. Nah, jika realitasnya seperti itu, apakah hukumnya haram, disiksa, masuk noraka, digebugin malaikat? Ataukah dibolehkan dan sesuatu yang ma’fu (kelaziman dialek) ??!

Sobat, mari ikuti dan renungi risalah ini hingga selesai, saya tidak akan meminta upah ataupun  hendak membuka lipatan bekas bungkus permen untuk kemudian berkeliling ke hadapan anda berharap sumbangan   sekedar koin  belel, itupun bekas untuk kerokan.

Pembahasan berikutnya adalah tentang:

  1. Kebiasaan / kelaziman orang dalam mengetik atau menulis kata kata dengan terjadi typo

miwbrrhts4zlf2cb7lpv

(kumparan.com)

Jika perkara yang telah disebut diatas adalah masalah menyingkat kalimat salam, shalawat dan sejenisnya, maka berikut ini adalah permasalahan lainnya, yaitu tentang typo. Sudah kita ketahui bersama bahwa dalam interaksi dunia komunikasi, orang lazim melakukan kesalahan dalam menulis atau mengetikkan kata kata.

Seperti dalam rangkaian komunikasi penuh typo, sebagai berikut:

“slaam unutk kleuraga… seaht slealu…ttpatp snmgaat “.

(Tulisan normal: Salam untuk keluarga, sehat selalu, tetap semangat).

Sadar atau tidak anda baru saja membaca sebuah rangkaian kalimat / tulisan yang berantakan (typo). Namun anda mampu menerjemahkannya. Inilah kehebatan otak manusia, karunia Tuhan Yang Maha Sempurna. Maka bagi yang bisa membaca model tulisan typo tersebut, berarti otak kanan dan kiri anda masih berfungsi dengan baik . Maka bagi yang sering menuliskan dan mengetik salah (typo), tidak musti (keharusan) dikoreksi.

  1. HUKUM MENYINGKAT KATA SALAM, SHALAWAT DAN SEJENISNYA.

Pendapat para Ulama besar

Berikut berbagai pendapat dari para ulama besar, yang juga dilansir oleh sebuah situs media dakwah online, firanda.com sebagai berikut:

Syaikh Al-Albani rahimahullah pernah ditanya tentang permasalahan ini :

Pertanyaan :

ما حكم كتابة الحرف ( ص ) بعد لفظة النبي صلى الله عليه وسلم في الكتاب.؟
Apa hukum penulisan huruf shad (ص) setelah penulisan lafal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di buku?

Jawab :

لا مانع من ذلك، بخلاف ما يفعله بعضهم قديما (صلعم) إختصار أوسع،أكثر حرفا من (ص) لأن ذلك أُوهم أنها كلمة،وبعض العامة والجهلة لا يفقهها،وأما (ص) فأصبحت رمزا للصلاة على النبي صلي الله عليه وسلم، لذلك أنا ما أرى مانعا من إستعمال هذه اللفظة لأنها لا يُسئ فهمها

“Tidak mengapa, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sebagian orang dahulu dengan menulis singkatan “صلعم” (yaitu ringkasan dari صـلـى الله عليه وسلم -pen), yaitu bentuk ringkasan yang lebih luas dan lebih banyak hurufnya daripada (ص), karena tulisan (صلعم) mengesankan adalah sebuah kata (shol’am), dan sebagian orang awam serta orang-orang bodoh tidak memahaminya (kalau itu hanya singkatan-pen). Adapun singkatan (ص) maka menjadi simbol bagi sholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karenanya aku memandang tidak mengapa menggunakan lafal ini (ص )-(sebagai ringkasan shalawat-pen) karena tidak disalah fahami” .

(Transkrip dari kaset Silsilah Al-Hudaa wa An-Nuur, kaset no 165, dapat lihat di:http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=6110)

Sangat jelas dari perkataan Syaikh Al-Albani bahwasanya jika lafal salam, shalawat dan sejenisnya dalampenulisadigantidengansimbol (di singkat) tidak menimbulkan kesalah fahaman bagi orang awam maka tidak mengapa untuk digunakan. Karena tujuan dari simbol tersebut bukanlah untuk dibaca, tapi yang dibaca adalah sholawatnya secara lengkap. Simbol tersebut hanyalah sebagai pemberitahuan gelar / atribut (untuk salam, sholawat dan sejenisnya didalam penulisan terbatas – red).

Dari jawaban Syaikh Al-Albani di atas maka bisa kita simpulkan akan bolehnya menyingkat shalawat kepada Nabi dengan sinkatan / simbol huruf ”shad” ( ص ). Itu risalah kitab dalam bahasa Arab. Sedang dalam tulis menulis dengan bahasa lain seperti dalam bahasa Indonesia, maka singkatan shalawat atas nabi menjadi “SAW”, yang sudah lazim digunakan oleh kalangan umat islam diIndonesia dan tentunya semua orang telah tahu cara mengucapkannya yaitu, shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga menyingkat salam dengan “Ass Wr Wb”, atau menjawab salam secara tulisan tersebut dengan “Wlkm wr wb”, atau yang semisalnya yang tentunya telah dipahami maksudnya oleh pembaca.
Walaupun pendapat Syaikh Al-Albani rahimahullah ini ada juga ulama yang tidak sependapat. Dimana sebagian ulama yang kontra tersebut memandang bahwa penyingkatan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makruh.

(Dapat dilihat fatwa-fatwa mereka)  di :

http://www.artikelmuslim.com/2012/02/fatwa-ulama-seputar-hukum-menyingkat.htmlhttp://www.konsultasisyariah.com/hukum-menyingkat-tulisan-shalawat-nabi/ 

Sementara dari SaikhAs-Sakhoowi rahimahullah (wafat 902 H) dalam kitabnya Fathul Mughiits (Syarah 1000 bait Al-Haafiz al-‘Irooqi), lebih cenderung kepada pendapat bahwa penyingkatan tersebut hanya masuk pada kategori خِلاَفُ الأَوْلَى “……”, yaitu ”Menyelisihi yang lebih utama”, dan tidak sampai pada kategori makruh. Berikut pernyataan beliau rahimahullah:
واجتنب أيها الكاتب الرمز لها أي للصلاة على رسول الله صلى الله عليه و سلم في خطك بأن تقتصر منها على حرفين ونحو ذلك فتكون منقوصة صورة كما يفعله الكسائي والجهلة من أبناء العجم غالبا وعوام الطلبة فيكتبون بدلا صلى الله عليه وسلم ص أو صم أو صلم أو صلعم فذلك لما فيه من نقص الأجر لنقص الكتابة خلاف الأولى.
وتصريح المصنف فيه وفيما بعده بالكراهة ليس على بابه …لكن وجد بخط الذهبي وبعض الحفاظ كتابتها هكذا صلى الله علم وربما اقتفيت أثرهم فيه بزيادة لام أخرى قبل الميم مع التلفظ بهما غالبا والأولى خلافة

“Wahai sang penulis, hendaknya engkau menjauhi penulisan simbol untuk bersholawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tulisanmu, yaitu engkau menyingkatnya menjadi dua huruf dan yang semisalnya. Maka jadilah bentuk sholawatnya menjadi berkurang, sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Kisaai, orang-orang jahil dari orang-orang ‘ajam secara umum, dan juga para penuntut ilmu yang awam. Sebagai pengganti صلى الله عليه وسلم mereka tulis (ص) atau (صم) atau (صلم) atau (صلعم). Hal ini dikarenakan akan mengurangi pahala dikarenakan kurangnya tulisan. Ini adalah “menyelisihi yang lebih utama”.

Maka pernyataan dialog diatas adalah tentang saran untuk penulisan simbol shalawat hendaknya tidak satu karakter, sebaiknya ditambah setidaknya dua atau empat huruf, shad dan mim atau shad-lam-‘ain-mim (……./………). Dengan demikian dialog tersebut bukan tentang penolakan untuk penyingkatan tulisan shalawat.

Menambahkan pula sang penulis buku risalah pendapat para ulama tentang penyingkatan salam tersebut, Yaitu Al-Haafiz Al-‘Irooqi rahimahullah, di bait ini dan juga pada bait setelahnya adalah penegasan akan makruhnya ”Menyelisihi yang lebih utama”, (seperti tersebut diatas). Maka bukanlah pada makna makruh yang berkaitan dengan hukum syar’i. (pen.).

Kemudian dari pendapat lainnya adalah:

“Telah ditemukannya khot (tulisan tangan) Al-Imam Adz-Dzahabi dan juga sebagian para huffaz penulisan shalawat kepada Nabi,dengan penulisan simbol / penyingkatan seperti ini: (صلى الله علم), dan terkadang aku mengikuti cara mereka (dalam penyingkatan-pen) dengan menambah huruf “laam” yang lain sebelum huruf “miim” (yaitu menjadi: صلى الله عللم -pen) dengan biasanya disertai melafalkan sholawat dan salam. Dan yang lebih utama adalah tidak melakukannya”

(Fathul Mughiits 3/70-71, tahqiq Ali Husain Ali, cetakan Wizaaroh Asy-Syu’uun Al-Islaamiyah wal Awqoof wa Ad-Da’wah wa Al-Irsyaad)

Dengan demikian pernyataan dari SaikhAs-Sakhoowi, yaitu :makruhnya (hal ini) maka bukanlah pada makna biasanya, menunjukkan beliau tidak setuju bahwa penyingkatan shalawat dalam tulisan dihukumi makruh. Sehingga beliau menafsirkan kata “makruh” yang disebutkan oleh Al-Haafiz al-‘Irooqi bahwa makruh tersebut bukan pada makna makruh yang berkaitan dalam hukum fikih syar’i. Dengan demikian pernyataan Saikh As-Sakhoowi hanya memandang makruh tersebut dalam adab saja bukan dalam hukum syar’i. Karenanya beliau menegaskan bahwa beliau juga melakukan penyingkatan tersebut terkadang akan tetapi hanya dalam tulisan, dan tatkala beliau menyingkat dalam tulisan mulut beliau tetap mengucapkan sholawat dan dan salam kepada Nabi dalam bentuk ucapan penuh. Oleh karena itu beliau tetap memandang bahwa menyingkat hanyalah menyelisihi yang lebih utama. Dengan kata lain, ”Menyingkat lafal salam, shalawat dan sejenisnya” dari tulisan penuh itu masih dapat ditolerir (tidak termasuk menyalahi hukum syar’i  – red). 

Resume:
Pendapat As-Sakhoowi rahimahullah ini similar dengan pendapat Syaikh Al-Albani, bahwasanya penyingkatan shalawat hukumnya boleh, hanya saja menyelisihi yang lebih utama, karena tentunya dengan menulisnya secara lengkap akan mendapatkan pahala menulis sholawat tersebut, selain juga mendapatkan pahala mengucapkan secara lisan sholawat tersebut.

Pendapat Syaikh As-Sakhowi dan Al-Albani cukup kuat (logis), mengingat :

Pertama : “Makruh” salah satu bentuk vonis hukum dalam hukum-hukum fikih. Tentunya vonis tersebut butuh dalil, sebagaimana pernyataan “mubaah”, “sunnah”, “haram”, dan “wajib” juga butuh dalil. Dan dalam hal penyingkatan shalawat maka hukum asalnya adalah mubaah (boleh), kecuali ada dalil yang memalingkan kepada makruh.

Kedua : Tujuan dari tulisan adalah dibaca, karenanya huruf-huruf untuk mengungkapkan sesuatu ucapan bisa saja berbeda-beda. Untuk mengungkapkan sholawat kepada Nabi yaitu dengan ucapan (صلى الله عليه وسلم) bisa dengan menggunakan huruf Arab (huruf hijaiyah) atau dengan huruf latin, atau dengan huruf cina atau jepang, atau huruf jawa kuno, dll. Yang intinya dibuatnya tulisan adalah untuk dibaca, jika suatu tulisan sudah dipahami maksud bacaannya maka telah tercapai tujuan tulisan tersebut, karena tulisan adalah wasilah/sarana saja, tujuannya adalah bacaan. Jika tujuannya telah tercapai dengan tulisan huruf apapun maka wallahu A’lam tidak mengapa.

  • Karenanya syaikh Al-Albani rahimahullah memandang tidak mengapa jika lafal sholawat disingkat menjadi (ص) karena orang yang membacanya sudah paham tujuan dari tulisan huruf shood ini, yaitu untuk bershalawat.
  • Akan tetapi beliau kurang setuju dengan singkatan (صلعم) karena dikawatirkan akan disalah pahami sehingga akan dibaca oleh orang yang tidak mengerti dengan “Shol’ama” yang tidak tahu bahwa itu adalah singkatan dari sholawat kepada Nabi. Artinya beliau kawatir tujuan dari tulisan tidak tercapai.
  • Dengan demikian jika tujuan dari tulisan huruf-huruf telah tercapai maka hukumnya tidak mengapa. Sebagaimana tulisan SAW, saya rasa rata-rata orang akan faham maksudnya adalah untuk bersholawat kepada Nabi dengan mengucapkan “Shallallahu ‘Alaihi Wasallam”, dan bukan dibaca “saw’.

Ketiga : Jika kita menjadikan teks tulisan yang tertera sebagai tujuan maka yang hanya bisa mengungkapkan sholawat kepada Nabi dengan tepat adalah huruf Arab hijaiyah. Adapun huruf latin, huruf jawa kuno, huruf jepang, apalagi huruf cina tentu tidak akan bisa mengungkapkan sholawat dengan tepat. Sebagai contoh :

  • di dalam bahasa Inggris, atau bahasa, jawa, dan juga huruf cina dan jepang, kemungkinan besar tidak ada yang bisa mewakili huruf (ع) ‘ain, demikian juga huruf (ص).
  • Karenanya kalau kita hanya bersandar kepada teks yang tertulis dengan melalaikan bahwa teks tersebut hanyalah sarana dan bukan tujuan, maka kita katakan penulisan sholawat dalam bahasa Indonesia sebagai berikut merupakan kesalahan : “Salalahu alaihi wa salam”. Ini adalah kesalahan karena jika dibaca leterlek maka tidak akan mewakili sholawat yang benar, karena tidak mewakili huruf shood, dan malah cenderung mewakili huruf siin, demikian juga tidak mewakili huruf ‘ain, tetapi lebih cenderung mewakili huruf hamzah, demikian juga huruf lam nya tidak didouble. Yang paling mendekati kebenaran adalan “Shollallahu ‘alaihi wa sallam”

Keempat : Dari penjelasan poin di atas maka saya kurang setuju dengan penghukuman sebagian orang yang menyatakan bahwa menyingkat (السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ) dengan Ass wr wb adalah kesalahan, dikarenakan makna “Ass” dalam bahasa Inggris adalah makna yang jorok. Hal ini dikarenakan sbb :

  • Tujuan dari tulisan adalah bacaan, dan tujuan penulisan “Ass wr wb” bukanlah maksudnya dibaca secara leterlek “Ass”. Saya rasa ini dipahami oleh semua orang yang berakal. Demikian juga kalau tujuannya hanya membaca teks secara leterlek maka bagaimana mau dibaca “wr” dan “wb”??
  • Penulisan singkatan tersebut (yaitu Ass wr wb) dimaksudkan adalah dalam bahasa Indonesia, karenanya janganlah dibawa kepada makna bahasa-bahasa yang lain. Jika caranya demikian maka bisa jadi kita akan terjerumus dalam banyak kesalahan. Sebagai contoh :
  1. kata “butuh” dalam bahasa Indonesia adalah maknanya “perlu”, tapi dalam bahasa Malaysia maknanya konon adalah “kemaluan”.
  2. Demikian juga misalnya kata “naik” dalam bahasa Indonesia artinya beranjak dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi, akan tetapi dalam bahasa Arab artinya “berhubungan tubuh/seks”
  • Jika kita membawa tulisan Indonesia ke makna-makna dalam bahasa lain, seperti Ass dalam bahasa inggris artinya “pantat” maka jadilah penyingkatan ini menjadi haram, bukan hanya makruh.
  • Demikian juga mungkin saja kata “SAW” dalam bahasa-bahasa yang lain bisa jadi bermakna buruk. Padahal mayoritas ulama hanya menyatakan hukumnya sekedar makruh dan tidak sampai pada derajat haram. Cobalah renungkan.

Kelima : Sering kita butuh pada singkatan-singkatan tersebut dalam menulis sms dalam rangka untuk menghemat biaya dan menghemat waktu. Karena sebagaimana kita ketahui bersama bahwasanya kecepatan mengucapkan (berbicara dengan lisan) lebih cepat daripada kecepatan pengungkapan dengan tulisan.

Keenam : Kita juga mendapati para ulama melakukan penyingkatan, seperti :

  • (نا) yang merupakan singkatan dari (حدثنا),
  • demikian juga misalnya kata (بسملة) yang merupakan singkatan dari (بسم الله الرحمن الرحيم),
  • juga kata (حمدلة) singkatan dari (الحمد لله),
  • juga kata (حيفلة) singkatan dari (حي على الفلاح)
  • juga kata (حولقة) yang merupakan singkatan dari (لا حول ولا قوة إلا بالله).

Ketujuh : Diriwayatkan bahwsanya sebagian ahlil hadits menuliskan kata “Nabi” tanpa menuliskan (صلى الله عليه وسلم), akan tetapi hanya mencukupkan mengucapkan sholawat kepada Nabi dengan lisan tidak dengan tulisan. Jika perkaranya dibolehkan maka tentu menulis singkatan sholawat dalam rangka untuk mengingatkan pembaca agar bersholawat juga dibolehkan. Wallahu A’lam bis Showaab.

  1. Contoh dari kitab kitab salaf (klasik) yang menyingkat lafal salam atau shalawat

-photo

  1. Jenis Komunikasi dan Hakekatnya

A.Komunikasi Baku risalah

Komunikasi baku risalah adalah komunikasi klausual (bahasa hukum) yang diterapkan penulisan maupun pengucapannya tertulis dan tersusun sempurna menurut kaidah tata bahasa baku dan resmi serta orisinil dari sumber asalnya. Sehingga ketika hendak disalin atau digandakan guna kepentingan rujukan atau pustaka, maka tidak boleh ada distorsi barang satu hurufpun.

Jenis komunikasi baku:

  1. Ayat ayat Al-Qur’an
  2. Klausul Hadits
  3. Kitab hukum dan undang undang
  4. Formula rumus maupun bahasa pemrograman.

 

B.Komunikasi Praktis percakapan

Komunikasi praktis percakapan adalah komunikasi dialektikal (bahasa gaul) yang dipengaruhi oleh budaya, kebiasaan maupun bahasa masing masing yang maksud dan tujuannya akan dimengerti dan dipahami oleh masing-masing.Jika jenis komunikasi praktis (gaul) dikaitkan dengan kaidah hukum baku syareat, seperti hujjah dalam selebaran tersebut, maka akan terjadi banyak kerancuan, ketidak nyambungan dalam komunikasi bahkan dapat menimbulkan konflik ataupun kesalah pahaman

Coba kita simulasikan, berikut :

*GANTI UCAPAN KITA DENGAN DOA.*

  1. Jangan ucapkan ‘0k’, ucapkan “In syaa Allah”(- اللَّهُ شَاءَ إِنْ -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Pak Eddy (Atasan si Anto): ”Anto, tolong antarin file karyawan ke saya”.

– Anto (Karyawan) : ” In syaa  Allah, Pak”.

Dari dialog tersebut, kira kira ’nyambung’ tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri. (apalagi di sosial media seperti chat).

  1. Jangan ucapkan “wow”, ucapkan “SubhaanAllah”(-  سُبْحَانَاللَّهُ  -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Arman (Kekasih Anna): ”Sun dwong yang”.

– Anna (Kekasih Arman) : ” SubhaanAllah”.

Dari dialog tersebut, kira kira ’nyambung’ tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “hebat”, ucapkan “Maa syaa Allah” (- مَاشَآءَاللّهُ -).
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Fina (Anak): ”Ibu, Fina udah bisa jawab soal nomer 5”.

– Sukesih (Ibunda Fina) : Maa syaa Allah”.

Dari dialog tersebut, kira kira ’pas’’ tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “saya baik2 saja”, ucapkan “Allhamdulillah” (- الْحَمْدُاللَّهُ  -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Narto (Kawan Fredi): ”Di, kamu lolos ga dari kejaran polisi, jangan lupa hasil jambretan bagi dua”.

– Fredi (Kawan Narto) : Allhamdulillah aman, tenang aje”.

Dari dialog tersebut, kira kira patut tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “Terimakasih”, ucapkan “Jazaka (ki,kumu) llahu Khairan” (- خَيْرًا اللهُ جَزَاك -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online antara Toko online dengan customer melalui chat box online, seperti ini dialognya :

– Pembeli online: ”konfirmasi, saya pesan prodak no 345 dengan pembayaran COD”.

– Toko online : ” Jazakallahu Khairan”, telah bertransaksi dengan kami, pesanan anda akan segera diproses.

Dari dialog tersebut, kira kira pas tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “Hati2 ya…sampai jumpa”, ucapkan “Fii Amanillah”(- اللَّهُ أَمَانِ فِي -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi, seperti ini dialognya :

– Arini (teman Susi): ”Susi, dah dulu ya, gue mo klabing dolo”.

– Susi (teman Arini) : ” Fii Amanillah”.

Dari dialog tersebut, kira kira patut tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “.Hello, halo, hai, woi, dsb”, tapi ucapkan “Assalamu alaikkum Warahmatullah” (- اللهِ وَرَحْمَةُ عَلَيْكُمْ السَّلاَمُ -)
    • Jawab :
  • Frasa kata “Assalamu alaikkum Warahmatullah” terdiri dari 29 huruf dan butuh waktu 29 detik untuk mengetiknya (bisa lebih jika anda masih memikirkan ejaan ataupun typo dalam menulisnya). Saat anda sedang dalam situasi darurat dan harus segera menghubungi seseorang melalui media sosial, maka berkomunikasi dengan mode pengetikan sejumlah 29 huruf serta menghamburkan waktu selama 29 detik itu akan membuat anda sakit hati sebab kehilangan momen penting. Sedang jika menggunakan frasa kata ”Halo”, maka cukup tekan 4 huruf dan dalam 1 detik pesan anda sampai.
  • Lainnya, bagaimana jika ada linteraksi komunikasi antara orang Indonesia dengan orang asing (bule), seperti ini dialognya :

– Fendi berkenalan dengan orang asing dan memulai percakapannya :

””Assalamu alaikkum Warahmatullah””.

Dari dialog tersebut, kira kira efektif dan pas tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Cobala renungkan akan semua ini.

Berikutnya, mari kita membahas kalimat selebaran yang ini.

“Mari kita sama-sama membetulkan : Aamiin, In Syaa Allah , dan Menyingkat kata Assalamu’alaikum”.

Dalam bahasa Arab ada 4 kata amin yg berbeda makna :

  • – Amin = Aman
  • – Aamin = Meminta perlindungan
  • – Amiin = Jujur
  • – Aamiin = Ya Allah, kabulkanlah do’a kami

–           Jawab :

Literatur dan kaidah tata bahasa Arab dengan bahasa Indonesia sangat jauh berbeda. Saat frasa kata ”amin” ( أَمِيْنٌ) dalam huruf Arab yang mengandung berbagai makna jika dengan ditandai harakat, maka kata amin dalam bahasa Indonesia tetap satu kata ”A-M-I-N”. Orang Indonesia tidak akan ambil pusing dengan multi makna kata tersebut, sebab telah familier lafal itu sebagai ucapan sautan dalam shalat dan pembacaan do’a. Sehingga ketika ada tulisan amin tersebut, secara otomatis sudah dipahami maksud dan kapan diucapkan.

Baik, guna menambah pengetahuan, berikut kita bahas multi makna ”amin”  ( أَمِيْنٌ) dalam tata bahasa Arab, yang dilafalkan oleh bangsa Arab dan dipahami oleh orang serta dialek lokal Arab (ingat, kita orang dan bangsa Indonesia yang berdialek dan berbahasa Indonesia, tak perlu menjadi Arab)

Ada beberapa multi makna untuk kata  “Aamiin“.( أَمِيْنٌ), yang biasa kita dengar dan ucapkan dalam shalat, sebagai berikut:

Ada yang menjabarkan sebagai berikut:

  1. Amin (alif dan mim sama-sama pendek), artinya Aman, Tentram
  2. Aamin (alif panjang & mim pendek), artinya Meminta Perlindungan Keamanan
  3. Amiin (alif pendek & mim panjang), artinya Jujur Terpercaya
  4. Aamiin (alif & mim sama-sama panjang), artinya Ya Allah, Kabulkanlah Do’a Kami

Ada yang menjabarkan sebagai berikut:

  1. أَمِيْنٌ(a:pendek, min:panjang), artinya ‘orang yang amanah atau terpercaya’.
  2. أٰمِنْ(a:panjang, min:pendek), artinya ‘berimanlah’ atau ‘berilah jaminan keamanan’.

Ketika shalat, kita tidak boleh membaca “Amin” dengan dua cara baca di atas.

  1. آمِّيْنَ(a:panjang 5 harakat, mim:bertasydid, dan min: panjang), artinya ‘orang yang bermaksud menuju suatu tempat’.

Ada sebagian ulama yang memperbolehkan membaca “Amin” dalam shalat dengan bentuk bacaan semacam ini. Demikian keterangan Al-Wahidi. Imam An-Nawawi mengatakan, “Ini adalah pendapat yang sangat aneh. Kebanyakan ahli bahasa menganggapnya sebagai kesalahan pengucapan orang awam. Beberapa ulama mazhab kami (Mazhab Syafi’i) mengatakan, ‘Siapa saja yang membaca ‘Amin’ dengan model ini dalam shalatnya maka shalatnya batal.’” (At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, hlm. 134)

  1. أٰمِيْنَ(a:panjang 2 harakat karena mengikuti mad badalmin:panjang 4–6 harakat karena mengikuti mad ‘aridh lis sukun, dan nun dibaca mati), artinya ‘kabulkanlah’. Inilah bacaan “Amin” yang benar.

Read more https://konsultasisyariah.com/5467-lafal-amin-yang-benar.html

Itu lafal dalam bahasa Arab, yang merupakan lafal tetap (kalimat pasal) dalam ayat atau klausul dalam rangkaian hadits yang penjabaran serta multi maknanya diterapkan menurut fungsi dan tempatnya masing masing. Sesuai penjabaran dan penggunaan makna ‘amin’ yang telah diurai diatas yaitu mana amin yang digunakan dalam shalat, mana amin yang digunakan dalam dalil dan penerapan lainnya. Sedang ini adalah interaksi sosial, bahasa chating ataupun gaul, dalam bahasa Indonesia oleh komunitas orang Indonesia, maka tidak bisa dikaitkan dengan kaidah baku perdalilan maupun per-fiqih-an. Sebab ketika orang menulis kata amin (dalam bahasa Indonesia), entah mau dipanjangin atau bentuk pendek maka orang akan tahu maksudnya tanpa harus ‘ribet’ mengkaitkan multi makna amin yang digunakan untuk klausul hadits.(hidup kok ruwet kadang orang).

Coba jika kita simulasikan, sebagai berikut:

Sedang terjadi dialog urusan bisnis antara Bos dengan karyawan, lalu mengkaitkan amin menurut kaidah kaidah baku perdalilan::

Karyawan kepada bosnya: “Bos, sukses selalu untuk bos”.

Bos kepada karyawannya:” Aamin”.

Karyawan merespon: “wah, jangan ‘a’ panjang:bos aminnya, itu artinya meminta Perlindungan Keamanan.

Bos kepada karyawannya:”Ribet loeh….. saya pecat kamu”.

Bahasan berikutnya tentang pemahaman:

”Kita seharusnya tidak menulis’:*Insya Allah* = Menciptakan Allah (naudzubillah).

Tapi pastikan kita menulis :*In Syaa Allah =  dengan izin Allah.

Jawaban sama seperti uraian diatas:

Bahwa itu lafal dalam bahasa Arab, yang merupakan lafal tetap (kalimat pasal) dalam ayat atau klausul dalam rangkaian hadits yang penjabaran serta multi maknanya diterapkan menurut fungsi dan tempatnya masing masing. Sesuai penjabaran dan penggunaan makna ‘In Syaa Allah’ yang telah diurai diatas yaitu mana In Syaa Allah yang digunakan dalam ayat, mana In Syaa Allah yang digunakan dalam dalil dan penerapan lainnya. Sedang ini adalah interaksi sosial, bahasa chating ataupun gaul, dalam bahasa Indonesia oleh komunitas orang Indonesia, maka tidak bisa dikaitkan dengan kaidah baku perdalilan maupun per-fiqih-an. Sebab ketika orang menulis kata In Syaa Allah (dalam bahasa Indonesia), entah mau dipisah atau bentuk pendek bahkan typo, maka orang akan tahu maksudnya tanpa harus ‘ribet’ mengkaitkan multi makna Insyaa Allah yang digunakan untuk klausul hadits.(hidup kok ribet kadang orang).

Bahasan berikutnya tentang pemahaman:

Assalamualaikum, jangan disingkat karena ;

  1. As = Orang bodoh ; keledai
  2. Ass = Pantat
  3. Askum = Celakalah kamu
  4. Assamu = Racun
  5. Samlekum = Matilah kamu
  6. Mikum = dari bahasa Ibrani, Mari Bercinta.

Salam pendek, Salam sedang dan Salam panjang telah dicontohkan oleh Nabi  dan tidak merubah  makna aslinya :

  • *Salam pendek* : “Assalamualaikum”. (Dengan 10 kebaikan).
  • *Salam sedang* : “Assalamualaikum warahmatullah”. (Dengan 20 kebaikan).
  • *Salam panjang* : “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. (Dengan kebaikan sempurna).

Jawaban sama seperti uraian diatas:

Bahwa itu lafal dalam bahasa Arab, yang merupakan lafal tetap (kalimat pasal) dalam ayat atau klausul dalam rangkaian hadits yang penjabaran serta multi maknanya diterapkan menurut fungsi dan tempatnya masing masing. Sesuai penjabaran dan penggunaan makna As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum, Mikum dan sebagainya,.seperti yang telah diurai diatas yaitu mana As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum yang digunakan dalam ayat, mana As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum yang digunakan dalam dalil dan penerapan lainnya. Sedang ini adalah interaksi sosial, bahasa chating ataupun gaul, dalam bahasa Indonesia oleh komunitas orang Indonesia, maka tidak bisa dikaitkan dengan kaidah baku perdalilan maupun per-fiqih-an. Sebab ketika orang menulis kata As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum (dalam bahasa Indonesia), entah mau dipisah atau bentuk pendek bahkan typo, maka orang akan tahu maksudnya tanpa harus ‘rumit’ mengkaitkan multi makna frasa kata tersebut yang digunakan untuk klausul hadits.

Jika modelnya mau dikait kaitkan, maka ketahuilah dalam Al-Qur’an terdapat lafal lafal yang jika dikaitkan dengan bahasa lain akan bermakna negatif, contoh sebagai berikut:

  1. Dalam Al-Qur’an terdapat: lafal : “asu”, artinya: Timur,keelokan, padahal dalam bahasa Jawa bermakna anjing. Kemudian,
  2. La tai-asu min rahmatillah,” اللهرحمة من تيأسوا لا “(Janganlah kalian putus asa dengan rahmat Allah). padahal dalam bahasa Jawa bermakna kotoran anjing.
  • MASALAH TYPO
  1. Arti typo:

Typo berasal dari Bahasa Inggris “type” yang artinya mengetik. Karena salah dalam mengetik, tulisannya menjadi typo. Maka arti dari typo sendiri adalah “salah ketik”. (Sebagian orang yang belum mengetahui istilah typo, biasanya menyebutnya ”saltik”.

  1. Pendapat para ahli psikologi bahasa tentang typo

Menurut penelitian para ahli psikologi bahasa dan ilmu kognitif manusia dari Universitas besar dan internasional, urutan huruf dalam kata tidak penting. Cukup huruf pertama dan terakhir yang ada pada tempatnya. Kalimat bisa ditulis berantakan, tetapi kita dapat membacanya dan menangkap maksudnya. Ini disebabkan karena sistim syaraf otak ktia tidak membaca huruf per huruf, bukan kata per kata, melainkan rangkaian kalimat yang dibacanya sejak interaksi dari awal. (kelenjar syaraf di otak akan menangkap maksud pembicaraan, bukan pada hurufnya). Ini memang hal yang luar biasa.

Kecenderungan terjadi typo saat mengetik.

Kadang sering kita tidak menyadari adanya kesalahan saat mengetikkan sesuatu. Maka menurut penelitian para ahli, hal demikian itu normal.

Saat anda menuliskan kalimat di papan keyboard handphone atau komputer untuk membalas sebuah pesan atau mengetik tulisan, anda merasa telah menyusunnya sedemikian rupa sehingga maksud pesan yang disampaikan dapat segera terbaca oleh penerima dan merasa bisa dipahami.

Namun saat tulisan anda sampai ke benak pembaca, justru yang mereka dapati adalah serangkaian kalimat dan atau tulisan yang tidak berurutan hurufnya dalam satu kata, alias salah ketik seperti ilustrasi di atas.

Bagi sebagian orang, typo kadang menyebalkan hingga membuat mereka akan mengesampingkan maksud tulisan yang anda tuangkan, atau membuat tulisan anda tak selesai dibaca dan hanya menjadi sampah digital yang sia sia.

Dan bagi sebagian lainnya, tyipo hanya membuat orang membuang waktunya sedikit untuk mengernyitkan dahi sejenak mencerna maksud tulisan typo tersebut, untuk kemudian baru bisa dimengerti.

Kemudian bagi sebagian lainya yang telah familier dengan dunia interaksi media sosial, maka tulisan typo bukanlah persoalan, sehingga cepat direspon. Bahkan dengan balasan balik yang penuh typo juga.

Dalam hal ini bergembiralah anda    karena ada penjelasan untuk hal tersebut dan ada pembelaan ketika Anda justru sangat sulit menemukan kesalahan dalam tulisan Anda sendiri.

Menurut seorang pakar psikologi bahasa yang juga dilansir oleh kumparan.com*,

Dr Tom Stafford, adalah peneliti di bidang psikologi dan ilmu kognitif manusia yang juga menjadi pengajar di Universitas Sheffield, Inggris telah melakukan penelitian secara khusus tentang eror atau kekeliruan dalam sebuah tulisan.

“Ketika Anda sedang menulis, Anda tengah berusaha untuk menyampaikan sebuah pesan. Sebuah makna. Dan itu adalah pekerjaan tingkat tinggi,” katanya, dilansir dari Business Insider.

Ia mengatakan, bahwa kegiatan menulis memaksa seseorang untuk secara bersamaan melihat segalanya sebagai “percampuran antara data pasti yang diterima sensor indera dan ekspektasi kita akan suatu hal”.
Read more at https://kumparan.com/tio/mengapa-kita-tidak-sadar-melakukan-typo#Qy2LLE68DHpcpvVt.99

Sederhananya, kita sulit menyadari adanya suatu kesalahan karena pikiran kita telah terpaku pada bayangan ideal tentang apa yang kita tulis.

“Ini terjadi setiap saat. Masalahnya adalah persepsi. Kesalahan ketik kita akan sangat sulit untuk disadari, murni karena kita tahu apa yang kita maksud di tulisan kita. Dan ini menghalangi pembacaan sensorik atas apa yang benar-benar telah kita tulis,” jelas peneliti asal Inggris tersebut.

Bahkan menurutnya, bukan hanya penulis yang akan kesulitan menyadari kesalahan ketik. “Semakin pembaca paham akan isi tulisan Anda, semakin ia terfokus pada makna dan pesan dari tulisan itu. Ia akan cenderung mengabaikan detail-detailnya, seperti typo,” ujarnya.

Berbeda dengan menulis secara tradisional dengan pena, mengetik membutuhkan kelihaian motorik yang lebih tinggi. Kemudahan yang ditawarkan dengan teknologi pengetikan juga membawa ancaman kesalahan tulis yang lebih tinggi.

“Dalam tulisan tangan prosesnya akan lebih sulit (untuk melakukan typo). Ini dikarenakan ‘urutan’ huruf dalam sebuah kata telah tersimpan dalam benak dan kemampuan motorik kita secara lebih mendalam,” katanya menjelaskan sedikitnya typo di tulisan tangan.

Pemisahan secara fisik dari huruf-huruf di teknologi pengetikan modern membuat kesalahan urutan huruf-huruf dalam sebuah kata lebih mudah dilakukan.

“Sangat langka Anda melakukan kesalahan urutan huruf dalam sebuah kata. Itu karena otak Anda mempersiapkan kata-kata dengan lebih mendalam, karena Anda akan lebih pelan ketika menulis tangan,” ujarnya.

“Berbeda dengan menggunakan mesin. Huruf per huruf dipisah, memungkinkan kesalahan lebih sering dilakukan karena Anda harus memproses lagi huruf mana yang didahulukan dari huruf lainnya,” lanjutnya lagi.

Bagaimana Cara Menghindarinya?

Sayangnya, tidak semua dari kita memiliki tim editing yang akan memeriksa kesalahan yang kita buat. Meski begitu, tips ini mungkin bisa Anda coba.

  • Salah satunya adalah dengan beranjak sejenak dari tulisan tersebut dan menghabiskan beberapa waktu sebelum membacanya ulang. Otak Anda, menurut Stafford, akan lebih segar dan lebih mudah untuk menyadari adanya kesalahan.
  • Yang kedua adalah membacanya dengan keras-keras. Suara akan didengar oleh telinga Anda, yang tentunya akan menyadari kesalahan dalam suatu tulisan. Anda juga cenderung akan menyadari kesalahan sebelum mengatakannya keras-keras.
  • Yang terakhir adalah membuat orang yang ada di sekeliling Anda, terutama yang tidak paham akan isi tulisan, untuk membacanya kembali dengan suara yang terdengar. Ini akan memaksanya membaca dengan lebih hati-hati karena ia tidak memiliki bayangan ideal tentang pesan dari tulisan Anda.

Lembaga dan media profesional yang tak luput terjadi typo

Typo atau pengetikan salah tidak hanya dilakukan oleh orang orang umum. Lembaga resmi atau media terkenalpun acapkali mengalami hal typo dalam pengetikan dan terlanjur tayang dalam siarannya.

Beberapa contoh sebagai berikut :

Typo-yang Terpublikasi Oleh TV One:

TYPO-TVONE

Lesmana (2015)

 

  1. Jangan menyengaja typo

Namun demikian kita jangan serta merta sengaja typo. Mentang mentang suatu kewajaran akhirnya kita sengaja typo disetiap komunikasi melalui tulisan / ketikan.

“Kmpert luo, ……gw dkdalni, …..swueek…”

Sebab mengapa? Karena kadang kita menghadapi komunikasi dengan orang yang majemuk latar belakang intelektualitasnya. Ada yang paham ada yang tidak paham. Ada yang familier ada yang ’gapfek’. Jika kita menemui orang yang tidak mengerti pembicaraan / dialog, maka typo akan menjadi masalah, baik memunculkan ketersinggungan, salah paham dan lain sebagainya, sehingga komunikasi menjadi tidak efektif alias tidak menyambung.

  1. KESIMPULAN

Dengan demikian, well sobat ikhwan fillah, kita semua sedang membicarakan tentang perkara praktis dalam dunia komunikasi yang multi dialek dan karakter orang. Diluar orang itu benar atau salah, diluar orang itu bodoh afau pintar. Jadi, berfikirlah yang simpel, mudah dan luas. Jangan kita persulit, dibuat ruwet dan disempitkan dengan agumentasi mendasari serangkaian dalil cangkang. Ini katagori fiqih praktis bung, Oom, mbak, teteh, pak de, pak lek. Yang disana esensinya adalah menjabarkan ,menafsyirkan ayat ayat Ilahi dengan berbagai multi pendapat (ikhtilaf) dan argumentasi, yang kesemuanya dipengaruhi oleh latar belakang keilmuan para pen-tafsyirnya, oleh ruang, waktu dan peradaban. Oleh karena itu janganlah perkara praktis interaksi komunikasi dengan dialek dan bahasa lokal masing masing atau menurut caranya masing masing ini dikaitkan dengan kaidah sunnah, hadits, dalil ini dalil itu  atau lebih menggelikan lagi dikaitkan dengan aqidah. Sedang kita sendiri kebanyakan tidak mengerti apa makna aqidah itu sendiri.

Untuk kita renungkan:

  1. Keadaan Salam, Shalawat dan sejenisnya yang dibolehkan dengan disingkat :
  • Hanya terjadi dunia interaksi komunikasi publik dan media sosial (sosmed).
  • Penulisan dalam mukadimah, surat, catatan kaki.
  1. Keadaan Salam, Shalawat dan sejenisnya yang tidak dibolehkan dengan disingkat dan typo:
  • Pembuatan, pencetakan ayat Al-Qur’an, Hadits.
  • Klausul untuk undang undang.
  • Formula rumus dan bahasa pemrograman.
  1. Orang yang familier dengan karakter tulisan akan tahu maksud tulisan walaupun disingkat, walaupun typo. (Apalagi anda yang doyan chating di medsos)
  2. Ayat ayat Al-Qur’an pun pada mulanya tampil dalam keadaan gundul, polos, mentah seperti bentuk simbol dan karakter mentah, dan asalnya pun qalamullah dalam wujud transkrip agung yang ter-encrypt (penuh singkatan dan maha kode kode).(ayat)
  1. Maka janganlah kita mudah terjebak dengan penghakiman buruk (takfiri) atas datangnya sebuah tulisan, bacaan dan opini, yang dibungkus dengan serangkaian klausul dalil secara literal (cangkang).(ayat) 
  1. Jangan mudah membagi tulisan yang kita tidak mengetahui / mengerti hukum maupun hakekat kebenarannya, alias jangan mudah mengimani suatu berita tanpa tahu kebenarannya.(ayat)
  1. Dan pada pemikiran secara global, maka janganlah kita men-Tuhankan dalil, agama, kebendaan dan sosok.

Demikian saudaraku kaum muslimin dan muslimat, semoga menjadikan spirit untuk menuju dan menjadi umat terbaik, cerdas, luas cakrawala benaknya dan menjadi bagian dari golongan Insan Kamil (intelek).

“Kita mesti telanjang dan benad benar bersih, suci lahir dan di dalam batin”(Abid Ghoffar Aboe Dja’far-1977)

Semoga menjadikan keluasan fikir.

Salam cahaya-Nya

Kelana Delapan Penjuru Angin,

MAJELIS DZIKIR AS-SHALIHIN

MASJID BAITUT TAIBIN

PREMBUN KRANGGAN

‎‎Published on:26 ‎Desember ‎2017, ‏‎1:55:18

Created:28 ‎Nopember ‎2017, ‏‎7:53:38
‎Modified:25 ‎Desember ‎2017, ‏‎21:59:18
‎Accessed:25 ‎Desember ‎2017, ‏‎21:59:18

CopyRights@2017

——0o0—–

DAFTAR RUJUKAN:
*Apresiator. (23 Mei 2014). Mengenal Bahasa Prokem A.K.A Bahasa Gaul (BonusKamusnya Gan).
Forum Kaskus
.(http://www.kaskus.co.id/thread/537e41a6c2cb176b178b4582/mengenal-bahasa-prokem-aka-bahasa-gaul-bonus-kamusnya-gan/), diakses pada 28Desember 2015.Departemen Pendidikan Nasional. (2008).
Kamus Besar Bahasa Indonesia
 (Keempat ed.). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Jawalsen, R. (2012).
 Dasar Negara Diganti, Kehidupan Berbangsa Bubar 
,(http://jaringnews.com/politik-peristiwa/wakil-rakyat/16019/dasar-negara-diganti-kehidupan-berbangsa-bubar), diakses pada 27 Desember 2015.Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional. 2009.
Peraturan MenteriPendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2009 tentangPedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan.
 Jakarta:Pusat Bahasa Kemdiknas.Keraf, G. (1980).
Komposisi.
 Flores: Percetakan Arnoldus Ende.Kurosaki, M. N. (2012).
 Makalah Efesiensi Bahasa Indonesia
,(http://nurkurosaki.blogspot.co.id/2012/11/makalah-efesiensi-bahasa-indonesia.html), diakses pada 31 Desember 2015.Kusno, G. (2015).
KBBI Ternyata Tidak Konsisten dengan Kaidahnya
,(http://www.kompasiana.com/gustaafkusno/kbbi-ternyata-tidak-konsisten-dengan-kaidahnya_552e21d76ea83492068b4588), diakses pada 27Desember 2015.Lesmana, I. (2015).
Kumpulan Typo TV One Kocak 
, (http://www.blog-netizen.com/kumpulan-typo-tvone-kocak/), diakses pada 26 Desember2015.Namakume. (2014).
Pengertian Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar 
,(http://media-online.id/2014/08/bahasa-indonesia-yang-baik-dan-benar.html), diakses pada 29 Desember 2015.Ningsih, D. L. (2015).
 Lima Salah Ketik “Typo” Sederhana Berakibat Bencana
,(http://m.log.viva.co.id/news/read/673709-lima-salah-ketik–typo–sederhana-berakibat-bencana), diakses pada 27 Desember 2015.
18Nizbah, F. (2013).
Pengertian Masalah Menurut Para Ahli
,(http://faizalnizbah.blogspot.co.id/2013/10/pengertian-masalah-menurut-para-ahli.html), diakses pada 31 Desember 2015.Peretasputih. (08 November 2013). [SHARE] Bahasa Gaul yang Ente Tau (WithUpdate).
Forum kaskus
,(http://www.kaskus.co.id/thread/527cd11bbdcb179213000005/share-bahasa-gaul-yang-ente-tau-with-update/), diakses pada 28 Desember 2015.Priyanto, I. J. (2008).
 Mengaji dan Mengkaji
,(https://pustakabahasa.wordpress.com/2009/01/22/mengaji-dan-mengkaji/), diakses pada 27 Desember 2015.Puspitarini, M. (2012).
 Asal Usul Perkembangan Bahasa Alay
,(http://news.okezone.com/read/2012/11/28/373/724664/asal-usul-perkembangan-bahasa-alay), diakses pada 28 Desember 2015.Rangkuti, A. F. (2015).
 Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar, Seperti ApaSih?
 (http://www.kompasiana.com/annisa_rangkuti/berbahasa-indonesia-yang-baik-dan-benar-seperti-apa-sih_5517c59fa33311bc06b66303),diakses pada 31 Desember 2015.Rusdi12. (06 Juni 2012). Pancasila Diganti, Indonesia Bisa Bubar
. Forum Detik 
,(http://forum.detik.com/pancasila-diganti-indonesia-bisa-bubar-t436510.html), diakses 27 Desember 2015.Rusyanti, H. (2013).
Pengertian Bahasa Menurut Ahli?
 (http://www.kajianteori.com/2013/03/pengertian-bahasa-menurut-ahli.html), diakses pada 29 Desember 2015.Sativa, R. L. (2012).
 Hati-hati, Sring Typo Saat Ngetik SMS Bisa Jadi PertandaStroke
,(http://health.detik.com/read/2012/12/28/170809/2129091/763/hati-hati-sering-typo-saat-ngetik-sms-bisa-jadi-pertanda-stroke), diakses pada 28Desember 2015.Suyudi, I.
Pengantar Linguistik Umum.
 Depok: Penerbit Gunadarma.Widyartono, D. (2015).
 Bahasa Indonesia Riset: Panduan Menulis Karya Ilmiahdi Perguruan Tinggi
 (Revisi ed.). Malang: Universitas Negeri Malang.

 

BENTUK BENTUK KEKUFURAN UMAT PADA TUHANNYA SEPANJANG ZAMAN, YANG DIAKHIRI DENGAN PENIMPAAN BENCANA DAN GENOCIDA (PEMUSNAHAN) SUATU UMAT

BENTUK BENTUK KEKUFURAN UMAT PADA TUHANNYA SEPANJANG ZAMAN, YANG DIAKHIRI DENGAN PENIMPAAN BENCANA DAN GENOCIDA (PEMUSNAHAN) SUATU UMAT

ENSIKLOPEDIA AZAB DAN BENCANA

images (1)

NO PERISTIWA ZAMAN / MASA BENTUK KEKUFURAN HUKUMAN / AZAB
1 Peradaban Bangsa Alban-Aljan, (Khalifah bumi pertama) +500 jt SM Selalu berakhir dengan kekafiran

(bertikai / bertumpah darah)

Genocide: Dimusnahkan
2 Penciptaan Adam +1 juta SM Sekelompok Muqarrabun menolak perintah sujud pada Adam Dikutuk menjadi iblis
3 Kasus Pembunuhan pertama kali +8000 SM Qabil membunuh Habil karena kedengkian Golongan penghuni neraka
4 Azab Bani Rasib (Kaum Nuh) +4000 SM Menolak Rasul,

menyembah berhala

Genocide : Dengan banjir bandang
5 Azab Kaum Aad (Kaum Nabi Hud AS) 2450-2320 SM Menolak Rasul,

menyekutukan Tuhan

Genocide: Badai Hyphothermia mematikan
6 Azab Kaum Tsamud (Kaum Nabi Shaleh AS) 2150-2080 SM Menolak Rasul, kufur nikmat Genocide: Gelombang

Suara mematikan +12GdB/20Ghrtz

(normal=120dB/20K.hertz)

7 Azab Kaum Saddum / (Kaum Nabi Luth AS) (1950-1870 SM) Menentang Rasul, merajalela Homosex Genocide: Ditimpa batu dan bumi tinggal dibalik
8 Azab Pemerintahan Namrudz (Kaum Nabi Ibrahim AS) (1861 – 1686 SM) Menentang Rasul, men-Tuhankan kekuasaan Genocide: Serangan serangga beracun mematikan, menghisap darah dan memakan daging
9 Azab bangsa Madyan

(Kaum Nabi Syu’aeb AS)

1550 SM Suka berbuat curang, haram, mengurangi timbangan, memakan hak Sambaran Petir dahsyat

Dan Gempa bumi besar

10 Azab bangsa Yahudi

(Kaum Nabi Musa- Daud -Isa AS)

1450- 1213 SM – hingga kini Kufur nikmat, suka membunuh Nabi dan Rasul-Nya, menyembunyikan kebenaran,berbuat kerusakan Laknat dan kutukan, hilang

Rasa tenteram dan kedamaian, diperangi bangsa lain

11 1.Era duniawi sistim kekhalifahan korup,

2.kolonialisme,

PD I dan II

10 Oktober 680 M

s/d

Abad 19

Men-Tuhankan hawa nafsu, Aliran, Mazab,

BEREBUT KEKUASAAN,

KEDUDUKAN DUNIAWI, berpecah belah

Fitnah, bencana alam,

Peperangan membabi buta

12 Era modern / Digital Abad 20

s/d

HARI INI

THAGHUT : EKONOMI, PAMOR, TEKNOLOGI Persaingan kotor, merajalela Fitnah, Bencana alam, teror, kriminal, pembunuhan, komoditi organ tubuh, peperangan, Kerusakan tatanan kehidupan, dll.
13 Era akhir zaman Abad 21 s/d 22, hingga

Menjelang kiamat

THAGHUT : HEGEMONI, INVASI, TEKNOLOGI, KEDZALIMAN, BERBUAT KERUSAKAN Penghapusan suatu kaum, Hujan meteor, Mega Tsunami, perang besar, Gempa akbar, awan pekat beracun mematikan.
14 GENERASI IBLIS, PEWARIS

BUMI TERAKHIR

TIBA HARI YANG TELAH DIJANJIKAN TIDAK ADA ISLAM, TIDAK ADA KA’BAH, TIDAK ADA AL-QUR’AN,

MENIADAKAN TUHAN

ARMAGEDDON

(PRAHARA KIAMAT, PEMUSNAHAN MANUSIA DAN BUMI)

images (19)

Semoga menjadi renungan,

Salam merenungi QS.7.Al A’raf : Ayat,1-10……,dan

Salam mencari keselamatan diri dan keluarga masing masing

Kelana Delapan Penjuru Angin, 12 Sya’ban 1438 H – 09 Mei 2017

CopyRights@2017

BURAQ, SYMBOL PESAWAT ANTAR GALAXY, ANTAR LANGIT  DENGAN KECEPATAN MAHA CAHAYA, TEKNOLOGI SANG MAHA KARYA

BURAQ, SYMBOL PESAWAT ANTAR GALAXY, ANTAR LANGIT DENGAN KECEPATAN MAHA CAHAYA, TEKNOLOGI SANG MAHA KARYA

PENGGAMBARAN BURAQ KENDARA ISRA’ MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW YANG DIVISUALISASIKAN DALAM BENTUK HEWAN KELEDAI , TERLALU DANGKAL DAN CENDERUNG MENYESATKAN

buraq (2)
NABI MUHAMMAD SAW TIDAK PERNAH MENYATAKAN RUPA BURAQ SEBAGAI  SOSOK ‘HEWAN KELEDAI’ DALAM PERJALANAN ISRA’ MI’RAJ DARI MASJIDIL HARAM HINGGA SIDRATIL MUNTAHA.

KONTROVERSI BURAQ KENDARA ISRA’ MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW

Penggambaran Buraq yang merupakan kendaraan pembawa Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan Isra’ Mi’raj dari bumi menuju ke lingkar luar langit lapis ke tujuh jika diartikan secara harafiah (mentah) menurut hadits yang ada, maka akan menghasilkan analogi Buraq sebagai hewan tunggangan berupa kuda, keledai, kambing dan lain lain. Bahkan akhirnya malah menjadi bahan pelecehan / ejekan oleh golongan kafir yang melukis / menggambarkan sebuah Buraq itu sebagai keledai tunggangan berkepala wanita cantik. Sungguh dangkal nian intelektualitas kekinian kita jika turut larut dengan konotasi yang demikian.

buraq

Note:

 Shorter Encyclopedia of Islam karya Hamilton Alexander Rusken Gibb dan J. H. Kramers yang diterbitkan oleh penerbit E. J. Brill – Leiden – Belanda dan Luzac and co – London – Inggris tahun 1961, jilid I halaman 65. Nama Buraq dikaitkan dengan Barqun yaitu lightning (kilat / cahaya).

Dalam rilis berikutnya, Gibb dan Kramers mengutip T. W. Arnold di dalam bukunya painting in Islam (Oxford, 1928) mengatakan: There are long descriptions of Buraq, who is represented as a mare with a woman’s head and peacock’s tail (dalam waktu yang lama Buraq dipaparkan sebagai sesuatu yang mewakili seekor kuda betina dengan kepala seorang perempuan dan dengan ekor burung merak). Gerardy Saintine dalam bukunya trios ans en judèe (Paris, 1860)menyebutkan bahwa di dalam mesjid al-Shakhra di Yerusalem ada sebuah batu yang diziarahi yang dipandang sebagai saddle Buraq.

Kesimpulan bahwa Buraq versi hadis-hadis Nabi SAW sangat berbeda dengan Buraq versi non islam / Yahudi.

Sebagai seorang muslim kini yang telah dianugerahi kenikmatan oleh Allah Swt dengan mengalami hidup diperadaban teknologi maju dan dijital, tentunya kita hanya meyakini Buraq yang di ceritakan oleh Nabi SAW saja dan tidak yang selain itu, dalam mengartikulasikan keberadaan Buraq dengan menggunakan akal logika intelektualitas keilmuan modern.

Sehingga dalam mengartikulasikan sosok Buraq sebagai alat kendara Isra Miraj Nabi Muhammad SAW tidak sedangkal itu. Paragraf Haditsnya tentu tidak ada yang salah, kita sendiri yang salah dalam memahaminya serta mengartikulasikannya.

Sementara yang harus perlu diketahui oleh umat kini, bahwa penggambaran tentang bentuk fisik Buraq masih terjadi ikhtilaf (perbedaan pendapat) di kalangan para Mufatsir, alim ulama. Hingga saat ini, belum ada yang dapat memastikan bagaimana sebenarnya rupa Buraq itu.

Sedangkan sejumlah riwayat shahih hanya menyebutkan tentang ukuran. Mengutip tulisan DR. H. Zulkarnain, MA, Mari kita perhatikan kalimat haditsnya:

Di dalam hadis riwayat Imam Muslim yang nama lengkapnya al-Imam abi al-Husein Muslim ibn Hajjaj ibn Muslim al-Qusyairi al-Nisaburi, (Dalam kitabnya al-Jami’ al-Sahih juz I halaman 99,

Bersumber dari sahabat Anas bin Malik, ia berkata: adalah Rasulullah SAW. bersabda:

“Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu dabbah yang berwarna putih (abyadh), bertubuh panjang (thawil), lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dan sekali ia menjejakkan kakinya yang berkuku bergerak sejauh mata memandang”.

Dari redaksi dalil diatas, silahkan cermati kalimat pernyataan Nabi Muhammad SAW: “Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu dabbah. bahwa beliau tidak mengatakan Buraq itu sebagai للحيوانات  -Al-Hayawanah (hewan :kuda, keledai, baghal atau lainnya), tetapi dengan kosa kata dabbah.

Maa adrakamaa dabbath (Apakah Dabbath itu)?

Mari perhatikan makna dabbath dari dalil induknya yakni Al-Qur’an, sebagai berikut:

  1. Dalam Qs. 42. Asy Syuura:29:

“Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan DABBATH (makhluk-makhluk yang melata) Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya”.

  1. Dalam Qs. 8. Al Anfaal:22:

“Sesungguhnya DABBATH (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli, yang tidak mengerti apa-apapun”.

Dari konteks ayat ayat di atas bahwa kosa kata Dabbah adalah benda hidup / makhluk yang berada pada samawat (langit) dan Ardh (bumi). Ingat makna makhluk = benda jamak, ciptaan Allah. Sementara tafsyir dalam bahasa Indonesia sepertinya sulit untuk mengejawantahkan itu, sebab keterbatasan perbendaharaan bahasa sehingga dabbath lebih diringkas pengertiannya dengan terjemahan ’hewan melata’.

Dengan demikian makna luas dabbath itu tidak hanya terbatas berkonotasi binatang saja.

Kesimpulan sekali lagi dari beberapa ayat diatas bahwa Dabbah tidaklah sekedar Binatang Melata saja akan tetapi Dabbah ialah seluruh jenis MAHLUK YANG BERAKTIFITAS, CIPTAAN ALLAH SWT YANG MENEMPATI ALAM, RUANG DAN WAKTU MASING MASING ” (termasuk MANUSIA dan benda semesta lainnya).

Menurut seorang ulama terkemuka dari kalangan mazhab Syafi’I dalam hal ini adalah Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi yang dikenal dengan sebutan Imam al-Nawawi di dalam kitabnya Sahih Muslim bi Syarhi al-Nawawi, jilid I, halaman 170-171 menerangkan tentang Buraq, bahwa menurut ahli bahasa Buraq adalah nama ‘hewan’ yang dikendarai Rasulullah SAW pada malam Isra’ dan Mi’raj.

Menurut Imam al-Nawawi, mengutip al-Zubaidi di dalam kitabnya Mukhtasharul ‘ain dan sahabat al-Tahriy, bahwa Buraq adalah ‘hewan’ yang digunakan oleh para nabi sebagai kendaraan mereka. Menurut Imam al-Nawawi, dikatakan Buraq untuk menggambarkan kecepatannya (lisur’atihi) dan dikatakan seperti itu karena sifatnya yang cepat seperti cahaya dan kilat. Sedangkan al-abyadh (putih) menurut Imam Nawawi adalah warna bulunya.

Imam al-Baihagi dalam kitab al-Dalail memuat hadis tentang Buraq melalui jalur sanad Abdurrahman dari Hasyim bin Hasyim bin ‘Utbah bin Abi Waqqas dari Anas bin Malik ia berkata, ketika Jibril datang dengan Buraq kepada Rasul SAW, di mana seolah-olah Buraq itu menegakkan telinganya, maka JIbril berkata kepada sang Buraq, “Wahai Buraq jangan begitu, demi Allah engkau tidak pernah dikendarai oleh seorang seperti dia”, kemudian Rasulullah SAW pun berangkat dengan Buraq itu.

Dalam hal ini, ibnu Dihyah dan al-Munir mengatakan bahwa Buraq sulit dikendarai karena ta’ajub dan gembira terhadap Nabi SAW yang akan mengendarainya (Tarikh al-Dimasyqi, karya Ibnu Asakir, jilid III, hlm 311).

Di dalam hadis yang lain Imam al-Baihaqi, melalui jalur periwayatan sahabat Abu Said al-Khudri, Nabi SAW bersabda:”Tiba-tiba ada ‘seekor hewan’ yang ‘menyerupai hewan’ kalian, yaitu baghal kalian ini, telinganya bergelombang (bergerigi)”.

Imam Jalaluddin al-Suyuti mengatakan, “Abu al-Fadhal bin Umar…. Dari Qonan bin Abdullah al-Nuhmi dari Abu Tibyan al-Janbi dari Abu ‘Ubaidah, yaitu Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, :

” Jibril mendatangiku dengan ‘seekor hewan’ yang tingginya di atas keledai dan di bawah baghal, lalu Jibril menaikkanku di atas hewan itu kemudian bergerak bersama kami, setiap kali naik maka kedua kakinya yang belakang sejajar dengan kedua kaki depannya, dan setiap kali turun kedua kaki depannya sejajar dengan kedua kaki belakangnya”.

(al-Said ‘Alawi al-Maliki al-Hasani di dalam kitabnya al-Anwar al-Bahiyyah min Isra’ wa Mi’raj Khair al-Bariyyah, halaman 111)

Jadi analogi Buraq saat zaman itu karena peradaban manusia belum mencapai teknologi modern seperti saat ini, (belum mengenal teknologi pesawat terbang, pesawat angkasa luar, dsb), yang hanya bisa menggambarkan Buraq menurut alam pikir peradaban terbatas saat itu.

(Ingat film berjudul The God must be crazy, dimana tokoh Nixau dari suku Kalahari yang belum mengenal peradaban maju melihat pesawat terbang dengan sebutan “burung”.

Hafiz Ibnu Hajar mengatakan,

“Bukan begal dan melebihi keledai putih.’ Demikianlah disebutkan dikarenakan ia adalah binatang tunggangan atau dengan melihat lafaz ‘buraq’. Hikmah penyifatan itu adalah sebagai isyarat bahwa orang yang menungganginya adalah dalam keadaan nyaman bukan dalam keadaan perang atau ketakutan. Atau pula untuk menampakkan mukjizat yang terjadi karena kecepatannya yang sangat cepat dengan menunggangi seekor binatang yang tidak pernah disifatkan dengan sifat seperti itu jika menurut keadaan normal.”

Maka sejatinya penggambaran Buraq oleh para periwayat yang ada saat itu merupakan bahasa ungkapan : ‘kira-kira’, ‘seperti’, ‘bagaikan’, yang mengartikan bahwa Buraq sebagai ‘hewan’, BUKAN MAKNA SESUNGGUHNYA.

Dengan demikian artinya, bahwa redaksi hadits yang menggambarkan Buraq dengan diterjemahkan sebagai sosok hewan, merupakan penggambaran yang disesuaikan dengan alam pikir akal manusia pada saat itu yang hanya mengenal jenis alat transportasi terbatas hanya pada binatang angkut, (kuda, onta, keledai, gajah, dsb). Bayangkan jika peradaban modern saat ini yang telah mengenal teknologi alat transortasi canggih telah dikenal pada zaman itu, tentu penggambaran tentang Buraq tidak akan demikian.

buraq

Maka menurut intelektual saint modern saat ini, akal manusia secara logika tidak akan menggambarkan Buraq itu sebagai sosok hewan seperti kuda / keledai, namun merupakan pesawat transformer antar galaxy, antar langit, dengan kecepatan maha super kecepatan cahaya, berteknologi maha canggih milik Allah swt, yang bukan jenis hewan.
Ingat kata ‘Buraq’ adalah kilat yang berkonotasi kecepatan, bukan pada bentuk penggambaran sosok hewan untuk tunggangan. (Bersambung……)

Semoga menjadi renungan

Salam Cahaya-Nya….

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Bogowati, 30 Rajab 1438 H

CopyRights@2017

Maraji:

Al-Qur’anul Karim Terjemah DEPAG RI

-BuraQ Menurut Hadist Nabi Muhammad SAW (Oleh: DR. H. Zulkarnain, MA)

-Risalah Ustadz Sigit Pranowo Lc-www.eramuslim.com

-Risalatun nabi Muhammad saw-K.H.M. Syamsuddin–Prembun

-Etc