RISALAH AMALAN SUNNAH DIBULAN MUHARRAM YANG PENUH KEUTAMAAN

PRAKATA

SYAREAT UNTUK BERLAKU TERTIB DAN URUT DALAM MENGERJAKAN SUATU AMALAN DAN DIMULAI MENURUT SKALA PRIORITAS

Sering kita temui tulisan yang berisi amalan suatu ibadah atau amalan wirid, dzikir dan shalawatan namun bacaannya tidak berurutan / beraturan. Seperti contoh dalam serangkaian bacaan dzikir, shalawatan, tadarus dan doa, maka  ada bacaan doa yang ditulis di tengah tengah rangkaian dzikir dan shalawatan, sementara bacaan ayat Alqur’an, dzikir dan shalawatan, terpisah pisah disana sini tak berurutan. Juga seperti pada sebuah tulisan/selebaran yang bejudul : “amalan amalan yang disunnahkan Rasulullah SAW pada tanggal 10 Muharam/10 syuro”, yang tidak berurutan tatatertib amalannya.

Yusuf Qardhawi (Lahir, Kairo, Mesir, 9 September 1926),  dalam kitab “fiqh al-awlawiyyat” (fiqh prioritas) atau dikenal sebagai Al-Shahwah al-Islamiyyah bayn al-Juhud wa al-Tatharruf, yaitu fiqh urutan pekerjaan (fiqh maratib al-a’mal). Adalah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum, nilai, dan pelaksanaannya. Pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari’ah yang shahih, yang diberi petunjuk oleh cahaya wahyu, dan diterangi oleh akal. Prioritas dalam berbagai bidang amal Amal-amal yang disyariatkan kepada manusia juga memiliki tingkatan-tingkatan. Ada hal-hal yang perlu disegerakan dan diutamakan, dan ada juga hal-hal yang boleh diakhirkan. Adanya keharusan dalam memprioritaskan amal yang kontinyu atas amal yang terputus-putus, dan prioritas amalan yang luas manfaatnya atas perbuatan yang kurang bermanfaat, serta prioritas terhadap amal perbuatan yang lebih lama manfaatnya dan lebih lama kesannya. Selain itu, prioritas amalan hati atas amalan anggota badan dan perbedaan tingkat keutamaan sesuai dengan tingkat perbedaan waktu, tempat, dan keadaan.

Kaidah tersebut diatas berlaku untuk tingkatan syareat (standar umum), maka untuk tingkatan ilmu tareqat/haqeqat bisa saja diluar kaidah ini sebab tingkatan ini telah memasuki alam kesufian, dimana bersifat kebatinan individual pengamalnya.

JENIS DAN KEDUDUKAN HUKUM SUNNAH

  1. SUNNAH QOULIYYAH adalah sunnah yang dikerjakan berdasar perkataan nabi SAW langsung yang merupakan penjabaran dari rangkaian ayat Al-Qur’an.
  2. SUNNAH FI’LIYYAH adalah sunnah yang dikerjakan berdasar perbuatan nabi SAW sehari hari.
  3. SUNNAH TAKRIRIYYAH adalah suatu amalan/tindakan yang dikerjakan oleh para sahabat, namun mendapatkan persetujuan dari nabi SAW.

Maka berikut tartib dan urut  AMALAN SUNNAH YANG PENUH KEUTAMAAN DI HARI ASYURA (10 MUHARAM) yang sepatutnya menurut urutan bobot dan keutamaannya :

  1. BERPUASA TASYU’A DAN ASYURAA ( 9 dan 10 Muharram)
  2. MEMBACA AYAT QURSIY
  3. MEMBACA SURAT IKHLAS
  4. MEMBACA HASBUNALLAH WA NI’MAL WAQIL (Akhir surat Ali Imraan.3:173 & Al-Anfaal.8:40)
  5. SHOLAT SUNNAH
  6. BERSODAQOH, MEMBERI MAKAN ORANG YANG BERPUASA
  7. MENYANTUNI ANAK YATIM (Memberi sesuatu, menyayangi, mengusap rambutnya)
  8. MELUASKAN BELANJA KELUARGA (mengadakan jamuan istimewa, makan bersama keluarga)
  9. MENINGKATKAN NILAI IBADAH
  10. MANDI ASSYURAA (Sesuci badan)
  11. MEMOTONG KUKU, MERAPIHKAN RAMBUT, MEMAKAI PAKAIAN BAIK, BERSIH, WEWANGIAN, dsb.
  12. MEMAKAI CELAK / SHIFAT,
  13. ZIARAH KE ORANG ORANG ALIM
  14. TA’ZIAH DAN MENGANTAR JENAZAH
  15. MEMBESUK ORANG SAKIT

SEJARAH DAN ASAL USUL

Asyura berasal dari kata ‘asyara, asyrun yang artinya bilangan sepuluh dari bulan Muharram.

Ketika para sahabat bertanya pada Rasulullah saw.: “Ya Rasulullah saw, adakah Allah telah melebihkan hari ‘Asyura daripada hari-hari lain?” Maka berkata Rasulullah saw: ” Ya, memang benar, Allah Ta’ala menjadikan langit dan bumi pada hari ‘Asyura, menjadikan laut pada hari ‘Asyura, menjadikan bukit-bukit pada hari ‘Asyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari ‘Asyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari ‘Asyura, dan Allah SWT menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari ‘Asyura, Allah SWT menenggelamkan Fir’aun pada hari ‘Asyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari ‘Asyura, Allah SWT menerima taubat Nabi Adam pada hari ‘Asyura, Allah SWT mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari ‘Asyura, Allah SWT mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari ‘Asyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Asyura!”.

Hadits lainnya:

Artinya: “Ia adalah hari mendaratnya kapal Nuh di atas gunung “Judi” lalu Nuh berpuasa pada hari itu sebagai wujud rasa syukur.” (Hadits Riwayat Ahmad)

Dari hadits tersebut dan berbagai riwayat alim ulama, terjadi peristiwa besar pada 10 Muharam, yaitu:

  1. Nabi Adam bertaubat kepada Allah dan dipertemukan dengan Siti Hawa di padang Arafah..
  2. Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit.
  3. Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama enam bulan.
  4. Nabi Ibrahim diselamatkan Allah dari pembakaran Raja Namrud.
  5. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa.
  6. Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara.
  7. Penglihatan Nabi Ya’kub yang kabur dipulihkkan Allah.
  8. Nabi Ayub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritainya.
  9. Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam.
  10. Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari tentera Firaun.
  11. Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah.
  12. Nabi Sulaiman dikaruniakan Allah kerajaan yang besar.
  13. Nabi Isa diangkat ke langit.
  14. Nabi Muhammad saw. Lolos dari percobaan pembunuhan dengan racun orang-orang Yahudi.
  15. Hari pertama Allah menciptakan alam.
  16. Hari Pertama Allah menurunkan rahmat.
  17. Hari pertama Allah menurunkan hujan.
  18. Allah menjadikan ‘Arsy.
  19. Allah menjadikan Louh Mahfuz.
  20. Allah menjadikan alam semesta raya.
  21. Allah menjadikan Malaikat Jibril.

Berawal dari tragedi hari berduka atas gugurnya cucu Rasulullah Saw Sayyidina Hassan dan Husein di padang Karbala pada 10 Muharram tahun 61 Hijriyah, bertepatan 10 Oktober 680 Masehi. Yang dibunuh oleh militer Khalifah Bani Umayyah, yang dipimpin jenderal Yazid bin Muawiyah yang membawa dampak sangat besar dalam sejarah perkembangan Islam, sehingga ditahun berikutnya, umat mulai mengadakan acara peringatan mengenang peristiwa tersebut, namun lama kelamaan mulai banyak timbul amalan amalan yang menyimpang dari nilai islam namun mengklaim semua dari tuntunan sunah nabi SAW. Sehingga muncul golongan ahli sunah waljamah untuk meluruskan.

MEMBEDAH SUMBER DALIL / REFERENSI UNTUK AMALAN  SUNNAH DIBULAN MUHARRAM

HADITS SAHIH  UNTUK AMALAN BULAN MUHARAM YANG MERUPAKAN SUNNAH NABI SAW , HANYA MENEKANKAN TENTANG PUASA.

[Di dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari Asyura / Asyuro (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram)]

Hadits yang Pertama:

‘An Abi ‘Abbas ra, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: shauma yaumi ‘asyuraa, au amara bishiamihi”.

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).

Hadits yang Kedua :

‘An Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sha’al ‘an shiama yaumi ‘asyuraa faqoola:”yakfurushanatil madhyah”

Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)

Lainnya:

“Dan puasa pada hari Arafah –aku mengharap dari Allah- menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang. Dan puasa pada hari ‘ASYURA (tanggal 10 Muharram) –aku mengharap dari Allah menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu.” [Shahih riwayat Imam Muslim, Abu Dawud , Ahmad , Baihaqi, dan lain-lain].

AMALAN BULAN MUHARAM LAINNYA HASIL IJTIHAD PARA ULAMA (Ijtima’ / konsensus)

Disebutkan dalam kitab Nihayatuz-Zein – Syekh Nawawi, sebagai berikut ;
Dari ijtihad para Ulama besar, bahwa amal ibadah yang diutamakan di 10 Muharram sbb :

(1. Melaksanakan Shalat sunnah yang paling utama shalat Tasbih, 2. Melakukan Puasa Sunnah, berikut tanggal 9 Muharram-nya, dan paling utama 10 hari, dari tanggal 1 s/d 10 Muharram , 3. Melakukan Sodaqoh, , 4. Melakukan keleluasaan keluarga artinya menambah dana belanja, membelikan baju baru dll., 5. Melakukan Mandi Sunnah,, 6. Melakukan kunjungan pada Alim Ulama yang soleh,, 7. Menengok orang yang sedang sakit, , 8. Mengusap kepala yatim, artinya memberi kasih sayang seperti dengan menyantuni mereka,, 9. Memakai celak mata, , 10. Menggunting kuku, , 11. Membaca surat Al-Ikhlas seribu kali, , 12. Melakukan silaturrahmi terutama kepada saudara dan keluarga, sama seperti pada hari raya).

Melakukan Puasa asyuro dapat menghapus dosa selama setahun, dan melakukan Keleluasaan keluarga adalah berdasar makna redaksi hadits yang sudah tersurat, sedang ibadah yang lainnya (seperti 12 ibadah yang disebutkan di atas) merupakan makna yang tersirat baik dari ayat-ayat Qur’an ataupun hadits-hadits. (Nihayatuz-Zein, hal 196).

RINCIAN:

  1. BERPUASA TASYU’A DAN ASYURAA ( 9 dan 10 Muharram)
  2. Sahabat Rasulullah Saw. Abdullah bin Abas ra. meriwayatkan:

“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah SAW menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan. (HR Muslim)

  1. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah ra., Rasulullah Saw. bersabda:

“Puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”. (HR Abu Daud)

  1. Menurut Imam Nawawi rahimahullah, dua amalan yang dasar hukumnya kuat yaitu: 1. Puasa ‘Asyura dan Tasu’a, 2. Meluaskan belanja (Selain dua amalan di atas, dasar hukumnya lemah. Kecuali bersedekah, karena menurut mazhab Maliki hukumnya sunnah. Wallahua’lam).
  2. Di dalam Kitab Hadits Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan beberapa hadits berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari ‘ASYURA (10 Muharram) dan TASU’A (9 Muharram), yaitu:

1). Dari Ibnu Abbas“Bahwa Rasulullah saw. berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

(‘muttafaq ‘alaihi secara bahasa berarti disepakati atasnya. Istilah ini biasanya digunakan untuk hadits yang diriwayatkan dan disepakati keshahihannya oleh minimal 2 imam hadits besar: Imam Al-Bukhâri dan Imam Muslim, jadi tingkat keshahihannya menempati posisi ‘paling shahih’).

2). Dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah saw. ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) menghapuskan dosa (dosa-dosa kecil) satu tahun yang lalu.”(HR. Muslim)

3). Dari Ibnu Abbas beliau berkata: “Rasulullah saw. bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan.” (HR. Muslim)

4). Cara menyelisihi ritual puasa non muslim karena mereka juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram) :

– Beberapa hadits tentang hal ini:

4.1). “Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari Asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah saw. pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau sampai di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.”

(Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Ahmad, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, Nasa’i dalam Al-Kubra, Al-Humaidi, Al-Baihaqi, Abdurrazaq, Ad-Darimy, Ath-Thohawi dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

4.2).. “Nabi saw. tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Beliau bertanya: “Apa ini?” Mereka menjawab: “Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka kami berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah menjawab: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.”

(Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dalam Al-Kubra, Ahmad, Abdurrazaq, Ibnu Majah, Baihaqi, Al-Humaidi, Ath-Thoyalisi)

  • Dari dua hadits ini menunjukkan bahwa suku Quraisy berpuasa pada hari ‘Asyura di masa jahiliyah, dan “sebelum hijrah” pun Nabi saw. telah mengerjakannya. Kemudian sewaktu tiba di Madinah, beliau temukan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, maka Nabi-pun berpuasa dan mendorong umatnya untuk berpuasa.
  • Pada tanggal 9 Muharram (disebut hari Tasu’a) dinamakan “sunnah taqririyah” dimana Rasulullah belum sempat menjalankan ibadah puasa ini. Orang Yahudi juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram karena sebagai rasa syukur atas diselamatkan Nabi Musa as. dari Fir’aun, kemudian Rasulullah juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram, tetapi salah seorang sahabat ada yang bertanya kepada Rasulullah saw. mengapa kita menyamai umat nabi Musa as. Kemudian Rasulullah SAW menjawab puasa tanggal 10 Muharram ini adalah hakku dan untuk membedakannya maka tahun depan aku akan berpuasa 2 hari (Tasu’a dan ‘Asyura) tetapi Rasulullah belum sempat menjalankannya (karena wafat).

Namun Jumhur Ulama menafsirkan puasa ‘asyura tetap pada makna aslinya yaitu puasa pada tanggal 10 Muharram, akan tetapi diawali dengan puasa tasu’a (9 Muharram) untuk berbeda dengan orang-orang Yahudi. Rasul Saw bersabda sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas: “Puasalah kamu pada hari kesembilan dan kesepuluh janganlah kamu menyerupai orang-orang Yahudi”.

Hadis lain yang menganjurkan untuk melakukan perbuatan baik pada hari ‘asyura adalah sabda Nabi Muhammad Saw: “Siapa-sisapa saja yang melapangkan keluarganya dan familinya pada hari ‘asyuraniscaya Allah melapangkan rezkinya sepanjang tahun (HR. Baihaki). Dan juga Nabi Saw bersabda:Sesungguhnya hari ‘asyura termasuk hari yang dimuliakan Allah Swt, siapa-siapa yang suka berpuasa, berpuasalah” (HR. Bukhari Muslim, Muttafaq ‘alaih).

  1. MEMBACA AYAT QURSIY (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Terdapat 95 hadis, diantaranya :

Dari Abu Umamah, Rasulullah saw bersabda, “Siapapun membaca ayat Kursi tiap selepas shalat fardhu, niscaya tak ada yang menghalanginya dari masuk Jannah kecuali ia harus mati terlebih dahulu.” (HR Nasa`i dalam Sunan Kubra 9848, shahih).

Faedah lainnya adalah setiaf 1 huruf terdapat 40.000 kebaikan, 1000 berkah, 100 rahmat. (Ayat Qursiy mengandung 50 kata, 187 huruf dan 236 karakter).

  1. MEMBACA SURAT IKHLAS (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

“Sesungguhnya seseorang mendengar orang lain membaca “Qulhuwallahu ahad”, dengan mengulang-ulangnya, maka tatkala pagi harinya, ia mendatangi Rasulullah n dan menceritakan hal itu kepadanya, dan seolah-olah orang itu menganggap remeh surat itu, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya surat itu sebanding dengan sepertiga al Qur`an”. (Hadits Abu Sa’id al Khudri RA).

FAEDAH: Membaca surat Al-Ikhlas 1 X setara dengan membaca 1/3 Al-Qur’an, membaca surat Al-Ikhlas 3 X setara dengan khatam Al-Qur’an 30 juzz.(Telah berulang ulan juga dinasehatkan Abuya Kyai M.Syamsuddin-Prembun-Kebumen).

  1. MEMBACA HASBUNALLAH WA NI’MAL WAQIL (Akhir surat Ali Imraan.3:173 & Al-Anfaal.8:40) (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Sahabat Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa “hasbunallah wa ni’mal wakiil” adalah perkataan Nabi ‘Ibrahim ‘alaihis salaam ketika beliau ingin dilempar di api. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kalimat tersebut dalam ayat,

 “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (HR. Bukhari no. 4563)

  1. MELAKSANAKAN SHOLAT SUNNAH (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Sholat ‘Asyura, terjadi ikhtilaf, dikenal oleh masyarakat ada dua macam :

  1. Dilakukan pada Malam Asyuara’, yaitu Sholat empat rokaat membaca Al-Fatihah satu kali dan Surat Al-Ihlas satu kali
  2. Dilakukan pada hari Asyura’ diantara Dhuhur dan Ashar, yaitu Sholat 40 rokaat, setiap satu rokaat membaca Fatihah satu kali, ayat kursi 10 kali, Al-Ikhlas 11 kali, Al-Muawwidzatain 5 kali, dan setelah salam membaca Istighfar 70 kali.

Sholat diatas menurut Syeh Haqi Annazili (pengarang Kitab Khazinah Al-Ashrar) diperbolehkan. Namun mayoritas ulama berpendapat bahwa melakukan shalat ini tidak di perbolehkan (haram) karena rawi hadits yang menerangkan praktek shalat di malam ‘asyura’ termasuk mudtharib (kurangnya kredibilitas dan hafalnya lemah). Sedangkan yang menjelaskan shalat ‘asyura’ di siang hari termasuk hadits maudhu’ (palsu), oleh sebab itu sebaiknya di hindari saja.

Maka jalan tengahnya adalah baik melaksanakan sholat Tasybih, seperti dalam hadits :

“Jika engkau sanggup untuk melakukannya satu kali dalam setiap hari, maka lakukanlah, jika tidak, maka lakukanlah satu kali seminggu, jika tidak maka lakukanlah sebulan sekali, jika tidak maka lakukanlah sekali dalam setahun dan jika tidak maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu” (HR Abu Daud 2/67-68)

  1. BERSODAQOH, MEMBERI MAKAN ORANG YANG BERPUASA (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

“ Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” ( Qs. Al-Baqarah: 261 )

  1. MENYANTUNI ANAK YATIM (Memberi sesuatu, menyayangi, mengusap rambutnya) (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya.[HR al-Bukhari no. 4998 dan 5659]

  1. MENINGKATKAN NILAI IBADAH (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Dalil:

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinyu dikerjakan, meskipun sedikit”.

Demikian pula, ini merupakan kebiasaan Rasulullah. Amaliah beliau sehari-hari diimah (kontinyu), yaitu dikerjakan secara terus menerus, tidak putus darinya. Dan beliau menganjurkan umatnya untuk itu, memperingatkan dari amalan-amalan yang memberatkan yang tidak kuat dipikul oleh seseorang. Sebab hal itu rawan sekali untuk ditinggalkan sehingga tidak berlangsung lama.

Dalam hadits lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai manusia, kerjakanlah amalan yang kalian sanggupi”

Al Qadhi ‘Iyadh menerangkan sabda beliau dengan: Kerjakanlah amalan yang kalian sanggup untuk mengerjakannya dengan kontinyu. Sementara Imam An Nawawi rahimahullah menyimpulkan dari hadits di atas: Di dalamnya terkandung anjuran untuk kontinyu dalam beribadah, dan amalan yang sedikit (tapi) kontinyu lebih baik daripada amalan banyak tapi ditinggalkan].

  1. MANDI ASSYURAA (Sesuci badan), hadits lemah namun boleh dilaksanakan dengan niat menjaga kesehatan dan niatkan ibadah karena Allah Ta’ala.
  2. MEMAKAI CELAK / SHIFAT, hadits lemah namun boleh dilaksanakan dengan niat menjaga kesehatan dan niatkan ibadah karena Allah Ta’ala.
  3. MEMOTONG KUKU, MERAPIHKAN RAMBUT, MEMAKAI PAKAIAN BAIK, BERSIH, WEWANGIAN, dsb. Hadits lemah namun boleh dilaksanakan dengan niat menjaga kesehatan dan niatkan ibadah karena Allah Ta’ala.
  4. MELUASKAN BELANJA KELUARGA (mengadakan jamuan istimewa, makan bersama keluarga), (TERDAPAT IKHTILAF).
  1. ZIARAH KE ORANG ORANG ALIM (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

“Dari Buraidah, ia berkata Rosululloh SAW bersabda “Saya pernah melarang kamu berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad teah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah! Karena perbuatan itu dapat mengingatkan kamu pada akhirat.(Rowahu At-Tarmizi-97 )

Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanya tentang berziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengan melakukan perjalanan khusus ke makam mereka. Beliau menjawab berziarah.ke makam para wali adalah ibadah yamg disunahkan. Demikian pula dengan perjalanan kemakam mereka.” (Al-Fatawi al-Kubra, juz II hlm. 24)

Berziarah ke makam para wali dan orang-orang shaleh telah menjadi tradisi para ulama salaf. Diantaranya adalah Imam al-Syafi’I R.A jika ada hajat, setiap hari beliau berziarah ke makam Imam Abu Hanifah. Seperftipengakuan beliau dalam rfiwayat yang shahih.

Dari Ali bin Maimun berkata” Aku mendengar imam al Syafi’i berkata” Aku selalu bertabaruk dengan Abu Hanifah dan berziarah mendatangi makamnya setiap hari. Apabila aku memiliki hajat, maka aku slat dua rakaat, lalu mendatangi makam beliau,dan aku mohon hajat itu kepada Alloh SWT disisi makamnya, sehingga tidak lama kemudian hajatku terkabul.” ( Tarikh Baghdad,juz 1, hal. 123)

  1. TA’ZIAH DAN MENGANTAR JENAZAH (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menyolatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua qirath”. Ditanyakan kepada beliau, “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar”. (HR. Al-Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945)

Dari Ummu ‘Athiyyah radhiallahu anha dia berkata:

“Kami dilarang untuk turut mengiring jenazah, tetapi (larangan itu) tidak begitu ditekankan atas kami.” (HR. Al-Bukhari no. 1278 dan Muslim no. 1556)

Penjelasan ringkas:

Di antara perkara yang Nabi shallallahu alaihi wasallam jadikan sebagai hak seorang muslim dari muslim lainnya adalah mengantar jenazahnya. Karenanya beliau shallallahu alaihi wasallam memerintahkan dan mewajibkan amalan ini serta beliau menjanjikan pahala yang besar bagi yang mengantar jenazahnya, baik yang mengantarnya dari rumahnya sampai dia dishalati maupun yang mengantarnya hingga selesai dia dikuburkan.

Hanya saja hukum dan keutamaan di atas hanya berlaku untuk laki-laki, tidak untuk perempuan. Karena hukum mengantar jenazah bagi perempuan adalah makruh berdasarkan hadits Ummu Athiyah di atas. Wallahu A’lam

  1. MEMBESUK ORANG SAKIT (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Al-Barra` bin ‘Azib radhiallahu ‘anhuma dia berkata:

 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami dengan tujuh perkara yaitu: Menjenguk orang yang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong yang lemah, menolong orang yang terzhalimi, menebarkan salam, dan menunaikan sumpah orang yang bersumpah.” (HR. Al-Bukhari no. 1239 dan Muslim no. 2066).

Apabila seseorang menjenguk saudaranya Чαπƍ muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih)

RINCIAN SEPUTAR IKHTILAF ULAMA UNTUK AMALAN SUNNAH DI BULAN MUHARAM

BEBERAPA ULAMA BESAR PERAWI HADITS YANG MENEMUKAN/MENYATAKAN KELEMAHAN DARI HADITS SEPUTAR AMALAN 10 MUHARAM INI adalah : As-Subkhi, Ibnu Rajab, Al-Hafidz Ibnu Qayyim, Imam Ahmad, As-Suyuthi.

Berikut rinciannya :

  1. TENTANG AMALAN MANDI ASYURA, ZIARAH, BEZUK ORANG SAKIT, MENGUSAP RAMBUT YATIM, MEMOTONG KUKU, dll :

As-Subkhi berkata (ad-Din al-Khalish 8/417):”Adapun pernyataan sebagian orang yang menganjurkan setelah mandi hari ini (10 Muharram) untuk ziarah kepada orang alim, menengok orang sakit, mengusap kepala anak yatim, memotong kuku, membaca al-Fatihah seribu kali dan bersilaturahmi maka tidak ada dalil yg menunjukkan keutamaan amal-amal itu jika dikerjakan pada hari Asyura. Yang benar amalan-amalan ini diperintahkan oleh syariat di setiap saat, adapun mengkhususkan di hari ini (10 Muharram) maka hukumnya adalah bid’ah.

  1. TENTANG MELUASKAN BELANJA
  2. YANG BERPENDAPAT ADA KEUTAMAAN : Adalah menjamu serta bersedekah pada 10 muharram bukan hanya pada anak yatim tapi keluarga, anak, istri, suami dan orang orang terdekat, karena itu sunnah beliau saw dan pembuka keberkahan hingga setahun penuh.

(FAIDHUL QADIR juz 6 hal 235-236).Diriwayatkan pula bahwa sayyidina Umar ra menjamu tamu dengan jamuan khusus, pada malam 10 muharram (MUSNAD IMAM TABRANI/ TAFSIR IBN KATSIR Juz 3 hal 244)

  1. BERPENDAPAT LAIN : Ibnu Rajab berkata (Latha’iful Ma’arif hal. 53) : “Hadits anjuran memberikan uang belanja lebih dari hari-hari biasa, diriwayatkan dari banyak jalan namun tidak ada satupun yang shahih.
  2. Di antara ulama yang mengatakan demikian adalah Muhammad bin Abdullah bin Al-Hakam Al-Uqaili berkata :”(Hadits itu tidak dikenal)”. Adapun mengadakan ma’tam (kumpulan orang dalam kesusahan, semacam haul) sebagaimana dilakukan oleh Rafidhah dalam rangka mengenang kematian Husain bin Ali Radhiyallahu ‘anhu maka itu adalah perbuatan orang-orang yang tersesat di dunia sedangkan ia menyangka telah berbuat kebaikan. Allah dan RasulNya tidak pernah memerintahkan mengadakan ma’tam pada hari lahir atau wafat para nabi maka bagaimanakah dengan manusia/orang selain mereka”
  1. TENTANG BERCELAK, BERHIAS, SHALAT SUNAH

Pada saat menerangkan kaidah-kaidah untuk mengenal hadits palsu, Al-Hafidz Ibnu Qayyim (al-Manar al-Munif hal. 113 secara ringkas) berkata : “Hadits-hadits tentang bercelak pada hari Asyura, berhias, bersenang-senang, berpesta dan sholat di hari ini dan fadhilah-fadhilah lain tidak ada satupun yang shahih, tidak satupun keterangan yang kuat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selain hadits puasa. Adapun selainnya adalah bathil seperti.

“Barangsiapa memberi kelonggaran pada keluarganya pada hari Asyura, niscaya Allah akan memberikan kelonggaran kepadanya sepanjang tahun”.

  1. Imam Ahmad berkata : “Hadits ini tidak sah/bathil”. Adapun hadits-hadits bercelak, memakai minyak rambut dan memakai wangi-wangian, itu dibuat-buat oleh tukang dusta. Kemudian golongan lain membalas dengan menjadikan hari Asyura sebagai hari kesedihan dan kesusahan. Dua goloangan ini adalah ahli bid’ah yang menyimpang dari As-Sunnah. Sedangkan Ahlus Sunnah melaksanakan puasa pada hari itu yang diperintahkan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi bid’ah-bid’ah yang diperintahkan oleh syaithan”.
  2. Adapun shalat Asyura maka haditsnya bathil. As-Suyuthi dalam Al-Lali 2/29 berkata : “Maudhu’ (hadits palsu)”. Ucapan beliau ini diambil Asy-Syaukani dalam Al-Fawaid Al-Majmu’ah hal.47. Hal senada juga diucapkan oleh Al-Iraqi dalam Tanzihus Syari’ah 2/89 dan Ibnul Jauzi dalam Al-Maudlu’ah 2/122
  3. Ibnu Rajab berkata (Latha’ful Ma’arif) : “Setiap riwayat yang menerangkan keutamaan bercelak, pacar, kutek dan mandi pada hari Asyura adalah maudlu (palsu) tidak sah. Contohnya hadits yang dikatakan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu secara marfu.

“Barangsiapa mandi dan bersuci pada hari Asyura maka tidak akan sakit di tahun itu kecuali sakit yang menyebabkan kematian”. (Hadits ini adalah buatan para pembunuh Husain).

Adapun hadits,

“Barangsiapa bercelak dengan batu ismid di hari Asyura maka matanya tidak akan pernah sakit selamanya”

Maka ulama seperti Ibnu Rajab, Az-Zakarsyi dan As-Sakhawi menilainya sebagai hadits maudlu (palsu).

PERAWI HADITS YANG DINILAI LEMAH

Hadits ini diriwayatkan Ibnul Jauzi dalam Maudlu’at 2/204. Baihaqi dalam Syu’abul Iman 7/379 dan Fadhail Auqat 246 dan Al-Hakim sebagaimana dinukil As-Suyuthi dalam Al-Lali 2/111. Al-Hakim berkata : “Bercelak di hari Asyura tidak ada satu pun atsar/hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hal ini adalah bid’ah yang dibuat oleh para pembunuh Husain Radhiyallahu ‘anhu”.

RESUME JALAN TENGAH PEMAHAMAN DAN PENGAMALAN (Amilul-washathan)

Apabila amalan dan fadhilah tersebut dinilai tidak mempunyai dasar yang kuat (kecuali berpuasa) sebagian besar ulama menganjurkan, sebagai bagian dari “fadhailul a’mal” (penambah keutamaan beribadah). Maka, terlepas dari kontroversi mengenai kekuatan hukumnya, pengamalan amalan tersebut diniatkan pada ketetapan hati serta lillahi Ta’ala saja insyaAllah mendatangkan faedah dan rahmat.

BERIKUT RINCIAN JALAN TENGAH PENGAMALAN

UNTUK AMALAN PUASA SUNNAH : Dari berbagai riwayat dan pendapat, ada 4 Cara Menyikapi Puasa ‘Asyura:

  1. Berpuasa tiga hari pada 9, 10, dan 11 Muharram.
  2. Berpuasa pada hari 9 dan 10 Muharram.
  3. Berpuasa pada hari 10 dan 11 Muharram seandainya pada tanggal 9 Muharram nya tidak berpuasa.
  4. Berpuasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) saja, sebagian saja ulama memakruhkannya karena Nabi saw, memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makruh).

PENJELASANNYA:

(1) BERPUASA 9,10, dan 11 Muharram

“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan SELISIHILAH orang-orang Yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi.

Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany di Dha’iful Jami’. Ibnul Qayyim berkata (dalam Zaadud Ma’al): “Ini adalah derajat yang paling sempurna.” Syaikh Abdul Haq ad-Dahlawi mengatakan:”Inilah yang utama.”

Ibnu Hajar di dalam Fathul Baari juga mengisyaratkan keutamaan cara ini. Dan termasuk yang memilih pendapat puasa tiga hari tersebut (9, 10 dan 11 Muharram) adalah Asy-Syaukani dalam Nailul Authar dan Syaikh Muhamad Yusuf Al-Banury dalam Ma’arifus Sunan.

Namun ulama-ulama yang memilih cara seperti ini adalah dimaksudkan untuk lebih hati-hati. Ibnul Qudamah di dalam Al-Mughni menukil pendapat Imam Ahmad yang memilih cara seperti ini (selama tiga hari) pada saat timbul kerancuan dalam menentukan awal bulan.

Meskipun hadits tersebut dha’if, tetapi secara umum boleh diamalkan jika itu HANYA TERKAIT FADHILAH AMAL yang tidak menyangkut aqidah dan hukum.

Inilah tiga syarat penting diperbolehkannya beramal dengan hadits-hadits dha’if dalam keutamaan amal;

– Hadits itu tidak sampai derajat maudlu’ (=palsu).

– Orang yang mengamalkannya ‘mengetahui’ bahwa hadits itu adalah dha’if.

– Tidak memasyhurkannya sebagaimana halnya beramal dengan hadits shahih.

(2) BERPUASA 9 dan 10 Muharram

MAYORITAS HADITS menunjukkan cara ini. Juga pada Kitab Hadits Riyadhus Shalihin pun hanya dibahas mengenai puasa 9 dan 10 Muharram, dan tidak dikutip dalil satu pun tentang puasa 11 Muharram di sana.

(3) BERPUASA 10 dan 11 Muharram

“Berpuasalah pada hari Asyura dan SELISIHILAH orang Yahudi, puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.”

Hadits marfu’ ini tidak shahih karena ada illat (cacat). Ibnu Rajab berkata (Lathaiful Ma’arif hal 49): “Dalam sebagian riwayat disebutkan “atau sesudahnya” maka kata ‘atau’ di sini mungkin karena keraguan dari perawi atau memang menunjukkan kebolehan….”

Al-Hafidz berkata dalam Fathul Baari: “Dan ini adalah akhir perkara Rasulullah saw., dahulu beliau suka menyocoki ahli kitab dalam hal yang tidak ada perintah, lebih-lebih bila hal itu menyelisihi orang-orang musyrik. Maka setelah Fathu Makkah dan Islam menjadi termahsyur, beliau suka MENYELISIHI AHLI KITAB SEBAGAIMANA DALAM HADITS SHAHIH. Maka ini (masalah puasa ‘Asyura) termasuk dalam hal itu. Bisa menambah sehari sebelum atau sesudahnya untuk menyelisihi ahli kitab.”

(4) BERPUASA 10 Muharram saja

ATTARTIBU AMALAN IBADAH BULAN MUHARAM HASIL IJTIHAD PARA ULAMA (Ijtima’)

Nr. AMALAN WAKTU BOBOT

DALIL

FAEDAH
1 BERPUASA TASYU’A DAN ASYURAA 9-10 Muharam,

Atau 9-10-11

Atau 1-10

Sahih-Bukhari

Ijtihad

Ijtihad

menggugurkan dosa 1 tahun lalu
2 MEMBACA AYAT QURSIY Tiap usai shalat fardlu,

Atau 1-10

 

Sahih

Masuk syorga tanpa halangan,

(1 huruf 40.000 kebaikan, 1000 berkah)

3 MEMBACA SURAT IKHLAS

 

Tiap hari,

Atau 1-10

Sahih 1 X = 1/3 baca Al-Qur’an,

3 X = khatam Al-Qur’an

4 MEMBACA  ALI IMRAN:173&AL-A’RAAF:40,

(HASBUNALLAH WA NI’MAL WAQIL)

Tiap hari,

9-10 Muharam

Ayat,

Hadits

Ketenangan hidup, keamanan, keselamatan
5 SHOLAT SUNNAH MUHARRAM

(Shalat Tasybih, shalat rahmat, dll)

Malem 10 Ijtihad Mendapat rahmat
6 BERSODAQOH, MEMBERI MAKAN ORANG YANG BERPUASA.

 

Tiap hari,

9-10 Muharam

Ayat,

Al-Hadits,

Ijtihad

Panjang umur, menolak penyakit, amal jariyah, harta berkah
7 MENYANTUNI ANAK YATIM

(Memberi sesuatu, menyayangi, mengusap rambutnya)

Tiap hari,

9-10 Muharam

Hadits Bukhari Menempati kedudukan syorga yang tinggi bersama Rasulullah SAW
8 MELUASKAN BELANJA KELUARGA (mengadakan jamuan istimewa, makan bersama keluarga) Malem 10 Ijtihad

(Dari sahih muslim)

Allah meluaskan rizki
9 MENINGKATKAN NILAI IBADAH

 

Tiap hari,

 

Perintah ayat

Ijtihad

Taqwa
10 MANDI ASSYURAA (Sesuci badan) Malem 10 Ijtihad Menjaga kesehatan
11 MEMOTONG KUKU, MERAPIHKAN RAMBUT, MEMAKAI PAKAIAN BAIK, BERSIH, WEWANGIAN, dsb. Malem 10 Ijtihad Menjaga kesehatan
12 MEMAKAI CELAK / SHIFAT, Malem 10 Ijtihad Menjaga kesehatan
13 ZIARAH KE ORANG ORANG ALIM

 

Tanggal 9,

Atau 1-10

Ijtihad

(ibadah disunahkan)

Rahmat dan berkah umur
14 TA’ZIAH DAN MENGANTAR JENAZAH

 

Tanggal 9,

Atau 1-10

Hadits,

Ijtihad

Pahala 2 qirat (2 gunung besar)
15 MEMBESUK ORANG SAKIT

 

Tanggal 9,

Atau 1-10

Ijtihad Rahmat, didoakan 70 ribu malaikat
16 Amal shalih dan berbuat manfaat  lainnya Sehari hari Nilai Islam Untuk mencapai derajat insan kamil

DO’A ASSYURAA / 10 MUHARAM

Mari manfaatkan momen hari ‘Asyura, hari yang penuh keutamaan dan kemuliaan dengan memanjatkan doa.

“Hasbunallahu wani’mal wakiilu ni’mal maulaa wani’man nashiiru, Subhanallahi mil-al miizaani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridhaa wazinatal ‘arsyi, Laa malja-a walaa manja-a minallahi illa ilaihi subhaanallahi ‘adadasy syaf’ir wal witri, Wa ‘adada kalimaatillahittaammaati kulliha nas-alukas salaamata birahmatika yaa arhamar raahimina, Walaa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiimi, Wa huwa hasbuna wa ni’mal wakiilu ni’mal maulaa wa ni’man nashiiru, Wa shallalahu ‘alaa sayyidina muhammadin wa ‘alaa aalihi washahbihii wasallam”.

Artinya:

“Cukuplah Allah menjadi sandaran kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik kekasih, dan sebaik-baik Penolong. Maha Suci Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan dan timbangan ‘arsy. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari Allah, kecuali hanya kepada-Nya. Maha Suci Allah sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat Allah yang sempurna, kami memohon keselamatan dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Paling Penyayang diantara semua yang penyayang. Dan tiada daya upaya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dan Dialah yang mencukupi kami, sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik kekasih, dan sebaik-baik Penolong. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, teriring keluarga dan sahabat beliau.”

DOA HAJAT :

Laa ilaha illallohul haliimul kariimu subhaanallohi robbil ‘arsyil ‘azhiim. Alhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin. As `aluka muujibaari rohmatika wa ‘azaaima maghfirotika wal ghoniimata ming kulli birri wassalaamata ming kulli itsmin Laa tada’ lii dzamban illa ghofartahu walaa hamman illaa farojtahu walaa haajatan hiya laka ridhon illa qodhoitahaa yaa arhamar roohimiin.

Artinya :

Tidak ada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Lembut dan Maha Penyantun. Maha Suci Allah, Tuhan pemelihara Arsy yang Maha Agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Kepada-Mu-lah aku memohon sesuatu yang mewajibkan rahmat-Mu, dan sesuatu yang mendatangkan ampunan-Mu dan memperoleh keuntungan pada tiap-tiap dosa. Janganlah Engkau biarkan dosa daripada diriku, melainkan Engkau ampuni dan tidak ada sesuatu kepentingan, melainkan Engkau beri jalan keluar, dan tidak pula sesuatu hajat yang mendapat kerelaan-Mu, melainkan Engkau kabulkan. Wahai Tuhan Yang Paling Pengasih dan Penyayang.

LAFAZ NIAT PUASA

Lafadz Niat Puasa Tasu’a (puasa 9 Muharram)

NAWAITU SAUMA TASU’A SUNNATALILLAHI TA’ALA
Artinya : “Saya niat puasa hari Tasu’a, sunnah karena Allah ta’ala.”

Lafadz Niat Puasa Asyuro’ (puasa 10 Muharram)
نويت صوم عشر سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA ‘ASYURA SUNNATAN LILLAHI TA’ALA
Artinya : “Saya niat puasa hari ’Asyura , sunnah karena Allah ta’ala”.

(Niat letaknya di hati, melafadzkan untuk menuntun hati).

KESIMPULAN DAN PENUTUP

  1. Maka pandangan mayoritas kaum muslimin Ahli Sunnah wal Jamaah tentang keutamaan dan kemuliaandibulan‘asyura, adalah dengan memanfaatkan momen utama ini diisi dengan memperbanyak dan mempertebal ibadah serta perbuatan amal shalih lainnya seperti yang dijabarkan dalam tabel amalan Muharam diatas.
  1. Sedangkan pandangan bagi kaum Syi’ah dalam satu sisi sama dengan pandangan kaum Sunni dalam hal keutamaan dan kemuliaandibulan‘asyura, hanya yang membedakannya adalah tata cara menyikapi hari ‘asyura, bagi kaum Syi’ah memandangnya sebagai hari kesyukuran sekaligus sebagai hari berduka atas gugurnya cucu Rasulullah Saw Sayyidina Hassan dan Husein di padang Karbala pada 10 Muharram tahun 61 Hijriyah, bertepatan 10 Oktober 680 Masehi. Yang dibunuh oleh militer Khalifah Bani Umayyah, yang dipimpin jenderal Yazid bin Muawiyah yang membawa dampak sangat besar dalam sejarah perkembangan Islam, di satu sisi hati umat Islam merasa tersayat atas perbuatan Yazid yang tidak bertanggung jawab tersebut, dan di sisi lain menimbulkan rasa haru dan kagum terhadap Imam Husein, terutama bagi pengikut keluarga Ali bin Abi Thalib (alawiyah).
  1. Rasa haru dan duka itulah yang mendorong kaum Syiah untuk memperingati hari‘asyura yang pada mulanya diperingati secara sederhana yaitu dengan berziarah ke tempat peristiwa berdarah tersebut, tetapi lama kelamaan peringatan itu membudaya dan menjadi perayaan besar-besaran dengan memakai pakaian berkabung dan mulai melampaui batas, dengan melukai badan mereka sendiri, memukul-mukul dada, mengiris kepala mereka dan anak-anak mereka dengan pisau. Ini dilakukan oleh Syi’ah Imamiah dan Rafidhah  dan adalah merupakan keistimewaan tersendiri bagi mereka yang dapat berdomisili dekat makam Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib, mereka melumurkan seluruh tubuh mereka dengan lumpur, dari tanah yang ada di sekitar makam Al-Husein, karena menurut mereka tanah tersebut mempunyai keistimewaan (sumber: http//dhr 12.com/?a=257), (sumber: http//dhr 12.com/?a=257).
  1. Perbuatan Jahiliyah yang mereka lakukan itu tidak ada hubungan sama sekali dengan Islam. Nabi Muhammad Saw bersabda:Tidak termasuk golongan kami orang-orang yan menampar pipi (wajah), merobek saku, dan melakukan amalkan Jahiliyah (HR. Bukhari no.1294 dan mUslim no.103).
  1. Ibnu Qudamah berkata: Jika ada orang yang melakukan amal yang mengandung nilai “kebaikan/ibadah” maka hal tersebut diperbolehkan, seperti shalat nawafil atau mengerjakan shalat shalat sunah yang membarengi momen hari/bulan utama dan atau Fadhoilul A’maal, maka tidak disyaratkan harus dengan berlandaskan hadits shahih” (Al-Mughny 2/33)
  1. Maka secara marak tradisi bahwa memperingati hari ‘asyura mulai diperingati sejak setahun setelah tragedi Karbala yaitu pada 10 Muharram tahun 62 Hijriyah, atau pada tahun 681 Masehi. Namun secara hakekat bahwa Rasulullah SAW telah melakukan peringatan ‘asyura ini dengan melaksanakan puasa dan melakukan amal shalih lainnya serta memperbanyak ibadah yang berkaitan dengan keutamaan bulan Muharam.

‘Ala kullihal, hari ‘asyura  merupakan hari yang utama dan mulia dalam nilai nilai Islam sekaligus hari tragedi dalam sejarah politik Islam atas pembantaian cucu Rasulullah Saw Al-Hasan dan Husein di Karbala. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk merespon/mentadzaburi hari yang dimuliakan Allah Swt tersebut dengan berpuasa serta melakukan amal shalih lainnya, memperbanyak ibadah namun dilarang merayakannya dengan cara ikut ikutan yang jahil, bathil , berbuat dzalim menyiksa diri dan anggota keluarga sendiri dan sebagainya.

Salamun kaulam min Rabbirrahim, demikian semoga manfaat dan menambah wawasan.

Prembun, 7 Oktober 2016

Diolah dan disusun lengkapi oleh : Agus Sholech Al-Qadry

Maraji/Sumber :

  1. Al-Qur’an terjemah DEPAG RI
  2. M. Nasir, Lc., MA :Penulis: Pimp. Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batubara dan Wakil Sekretaris Dewan Fatwa Pengurus Besar Al Washliyah
  3. Ustadz Aris Munandar bin S.Ahmadi-Surakarta
  4. Attauziah hasanah abuya Kyai M. Syamsuddin-Majelis dzikir As-Shalihin-Masjid Baitut Taibin-Prembun-Kebumen-Jawa Tengah
  5. Pengajian terbuka ponpes Krapyak-Yogyakarta
  6. Sejarah dan tokoh ahli fiqih & perawi hadits-H. Said Aqil MA-Ketua PBNU
  7. http://noternative.blogspot.co.id/2013/11/12-amalan-di-hari-asyura-10-muharram.html
  8. http://ilmuamalan.blogspot.co.id/2014/05/shalat-tasbih-dan-khasiat-shalat-tasbih.html
  9. https://ulamasunnah.wordpress.com/2009/01/01/keutamaan-puasa-di-hari-asyura-10-muharram/
  10. Sumber lain

 

AL-JUNUNUN FUNUNUN (Gila itu bermacam macam)

ADAGIUM SUFI YANG POPULER :

“AL-JUNUNUN FUNUNUN”

“Gila itu bermacam macam”

SIAPAKAH ORANG YANG BENAR BENAR GILA ?

orang-gila-lucu-17-320x320

Gila loe…..loe yang gila…..

Apakah anda beranggapan bahwa orang gila itu adalah :

  1. Orang yang sakit jiwa atau sakit ingatan karena gangguan saraf-nya. Hingga penampilan kusut masai; tidak mandi; berpakaian lusuh; robek acak acakan; berkeliaran telanjang bulat, ngoceh ketawa sendiri; suka marah dan mengamuk tanpa jelas ?
  2. Atau anda termasuk gila karena berbuat menjengkelkan orang hingga sampai dikatain teman, “Dasar gila loe…..emang gue co apaan suruh godaen nenek nenek ?”
  3. Atau mendapat predikat gila karena anda : Gila harta, gila duit, gila daun muda/perempuan, gila hormat, gila judi dsb….
  4. Atau anda mendadak gila karena ditinggalin bini yang semlohe (seksi-red.), atau karena cintanya ditolak, atau karena cita cita tak kesampaian ?
  5. Atau anda dikatain gila karena mobil barunya ditawar teman dengan harga Cuma sejuta, critanya begini :

 “Mas, mobilnya baru yah ? sini gue beli sejuta.”

Anda menjawab : “emang gue gila apa ?”

“Ya kali ente lagi gila”. Ujar temannya menukas……

APAKAH ORANG YANG DISINGGUNG DI DALAM LIMA KATEGORI TERSEBUT ADALAH BENAR BENAR ORANG GILA ?

TERNYATA SOBAT, menurut Rasulullah SAW, bahwa orang-orang yang disinggung di dalam 5 kategori sebagaimana yang diterangkan di atas tidaklah disebut sebagai ORANG GILA !

Orang-orang semacam itu hanya disebutkan oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang sakit atau yang mendapat musibah dari Allah SWT.

MAKA SIAPAKAH SESUNGGUHNYA ORANG YANG GILA SEBENARNYA ?

Syaikh Abdullah Al-Ghazali dalam Risalah Tafsir menyampaikan sebuah riwayat (hadis) sebagai berikut:

“Pada suatu hari Rasulullah SAW ber-jalan melewati sekelompok sahabat yang sedang ber-kumpul. Lalu beliau bertanya kepada mereka:

“Mengapa kalian berkumpul disini” Para sahabat tersebut lalu menjawab: “Ya Rasulullah,  ada orang gila yang sedang mengamuk. Oleh sebab itulah kami ber-kumpul disini.”

Maka Rasulullah SAW lalu bersabda:

“Sesungguhnya  orang  ini  tidaklah  gila  (al-majnun), tapi orang ini hanya sedang mendapat musibah. Tahukah kalian, siapakah orang gila yang sebenar-benarnya disebut gila  (al-majnuun haqqul majnuun) “.

Para sahabat lalu menjawab: “Tidak ya Rasulullah. Hanya Allah dan rasul-Nya jualah yang mengetahuinya.”

Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan: “Orang gila yang sesungguhnya gila (al-majnun haqqul majnun) adalah orang yang berjalan dengan penuh kesombongan; yang membusungkan dadanya; yang memandang orang dengan pandangan yang merendah-kan; lalu berharap Tuhan akan memberinya surga; padahal ia selalu berbuat maksiat kepada-Nya. Selain itu orang-orang yang ada di sekitarnya, tidak pernah merasa aman dari kelakuan buruknya. Dan di sisi yang lain, orang juga tak pernah mengharapkan perbuatan baiknya. Nah, orang semacam inilah yang disebut sebagai orang gila yang sebenar-benarnya gila (al-majnuun haqqul majnuun). Adapun orang yang kalian tonton ini hanyalah  sedang mendapat musibah dari Allah.”

Dari apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW tersebut, maka dapatlah kita simpulkan; Bahwa orang gila yang sesungguhnya gila atau (al-majnuun haqqul majnuun) adalah orang-orang yang sehat jasmani dan ruhani-nya; yang tetap memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan hukum agama yang dibebankan kepadanya. Namun dalam kehidupan masyarakatnya, ia berpenyakit yang sesuai yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW :

  1. Orang yang sombong; yang apabila berjalan ia melangkahkan kakinya dengan  pongah; dan selalu ingin dihormati; serta selalu memandang rendah kepada orang lain. Dan  di balik kesombongannya itu, selalu berharap agar Allah memberinya pahala atas perbuatannya, dan apabila sudah mati ingin pula masuk ke dalam surganya  Allah SWT.

2. Banyak melakukan perbuatan maksiat dan kejahatan; baik nyata maupun tersembunyi, yang oleh sebab ini pula maka banyak orang-orang yang ada di sekitarnya, yang tidak pernah berharap akan kebajikan yang mereka perbuat. Sehingga pada akhirnya orang tidak lagi peduli dengan kebajikan maupun kejahatan yang mereka lakukan.

Kalaupun orang-orang di sekitar mereka menaruh rasa hormat dan simpati, hal itu mungkin disebabkan oleh berbagai macam pertimbangan, agar tidak tumbuh masalah lain, yang berdampak buruk pada tata pergaulan hidup yang ada.

Begitulah mengapa Rasulullah SAW menyatakan, bahwa orang yang sombong dan yang memiliki sifat buruk lainnya, sebagaimana yang disebutkan di atas adalah orang gila yang sebenar-benarnya gila (al-majnun haqqul majnun).

Demikianlah mengapa Allah SWT mewanti wanti kita agar menjauhi sifat sifat angkuh, sombong, takabur dan angkara murka.

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mem-persekutukan-Nya dengan sesuatupun; dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”   (Q.S. An-Nisaa’: 36)

 “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguh-nya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (Q.S.Al-Israa’: 37)

 “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesung-guhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q.S. Luqman: 18)

Rasulullah SAW bersabda :

“Siapa saja yang di dalam hatinya ada sifat sombong, walaupun hanya sebesar dzarrah (sebesar biji atom), maka ia tidak akan masuk surga.”

(Riwayat Imam Muslim dan Bukhari  dari Abdullah bin Mas’ud r.a.)

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin

Kranggan, Jumat 22 Juli 2016,

17 Syawal 1437 H, Pon 16 Sawal 1949 S- Sengara Langkir

CopyRights@2016,

Reff:

 

  1. KH.BACHTIAR AHMAD – http://halamandakwah.blogspot.co.id
  2. Al-Qur’anul Karim – Terjemah DEPAG RI
  3. Riwayat Imam Muslim dan Bukhari  dari Abdullah bin Mas’ud r.a.
  4. Risalatul Insan – K.H. Muhammad Syamsuddin – Prembun Kebumen
  5. others

 

 

 

MEMBENDUNG UPAYA UPAYA PEMBELOKAN NILAI NILAI ISLAM DARI PEMAHAMAN DANGKAL KAUM FASIKIN

KANTER/JAWABAN BUAT ORANG YANG MENYALAHKAN UCAPAN “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN” SAAT IDUL FITRI

SANGGAHAN BUAT ORANG YANG BERFAHAM : “BAHWA IDUL FITRI bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan”. Dengan anggapan sebagai KEKELIRUAN/SALAH BESAR.

Awalnya ini isu dari media berita online yang dimuat di Muslimedianews.com walaupun rilisan July 2014, namun karena tahun ini muncul kembali isu itu dari tautan yang di share oleh pengguna sosmed sebagai silang tanggapan antar pengguna lain, karena materinya mengandung unsur deviasi/pembiasan pemahaman/syareat islam maka saya mencoba ikut meng-kanter/memberi tanggapan secukupnya dengan maksud mencegah terjadinya kebingungan umat dan timbulnya salah tafsir maupun fitnah.

Berita asalnya dari tautan ini :

http://www.muslimedianews.com/2014/07/jangan-ragu-ucapkan-minal-aidin-wal.html?m=1

Muslimedianews.com ~ Sunday, 27 July 2014

Pada hari-hari di penghujung Ramadhan ini, beredar BC bertajuk ‘Bagaimana Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah?’ Seingat saya, jelang hari raya di tahun-tahun sebelumnya, BC tersebut juga tersebar. Intinya, tulisan itu ‘mempermasalahkan’ beberapa hal yang telah menjadi tradisi kebiasaan umat Islam, khususnya di Indonesia.

Berikut isi lengkap tulisan by no name yang menyebar via BB, WA, atau media sosial lainnya:

BERIKUT ORANG MEM-PUBLIS PEMAHAMAN :

  1. “Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf”.
    “Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri”.
  2. Demikian Rasulullah mengajarkan kita. Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri.
  3. Satu lagi, saat Idul Fithri, yakni mengucapan : “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN”. Arti dari ucapan tersebut adalah: “Kita kembali&meraih kemenangan.”

KITA MAU KEMBALI KEMANA? Apa pada ketaatan atau kemaksiatan? Meraih kemenangan? Kemenangan apa? Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan? 

  1. Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yg ucapkan “Minal‘Aidin wal Faizin” Lantas diikuti dengan kalimat “Mohon Maaf Lahir&Batin ”.

Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh KELIRU luar biasa.

  1. Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain.. PASTI PADA BINGUNG!
  2. Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI.
  3. Ucapan yg lebih baik & dicontohkan langsung oleh para sahabat ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , yaitu :

    “TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM” (Semoga Allah menerima amalku & amal kalian). Jadi lebih baik, ucapan/SMS/BBM kita: Taqobbalallahu minna wa minkum. (Selesai)

INI PERLU DIKANTER, Begini wahai KAUM FASIKIN,(saya pikir penyebar Berita yang karakter tulisan tulisannya model ini-bukan orang islam)

Siapapun Anda/kalian sekelompok umat akhir zaman yang kini mulai banyak semakin menjauhi (kehilangan) ruh ruh kedalaman samudera ilmu hikmah/hakekat Islam, dengarlah :

  1. Masalah pemaham yang memahami perkara pertama, yang menulis/mempublis/menyatakan/berasumsi bahwa : “Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf”. “Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri”.

 Begini :

Tingkatan pemahaman anda/kalian masih pada level: “Seolah-olah”,

Sedang saat Idul Fithri adalah memang moment yang tepat/relijius/khusus untuk saling minta maaf antar saudara/keluarga/orang tua dan sesama.

Renungkan berapa banyak manusia yang sibuk dilibas oleh urusan duniawi yang kadang membuat saling sikut sikutan, rebutan baik antar sesama maupun antar saudara sendiri, yang kadang malah menonjolkan persengketaan dan tak saling mengenal, hingga lupa akan hikmah berkah hubungan silaturahim serta rahmat Allah. Itu sehari hari berlangsung hingga 11 bulan. Maka hakekatnya kita dalam setahun, Alloh memberi anugerah 1 bulan yakni bulan ramadhan yang penuuh berkah, maghfiroh serta peluang bebas api neraka. Maka sebab kecondongan manusia yang suka menjauhi nilai nilai berkah, rahmat dan kasih sayang itulah di ramadhan Alloh memberi kesempatan manusia untuk kembali fitri, bersih diri, agar menjadi pemenang agar berpangkat taqwa.

Bagaimana aktualisasinya? Ya dengan cara (tareqat) saling sadari kealpaan, dosa, kesalahan baik yang sengaja atau tidak sengaja, baik yang sadar atau yang tak disadari dengan saling silaturahim, mudik ke kampung halaman menyambangi orang tua, sanak famili yang selama setahun terberai, terpisah karena waktu dan kehidupan, kemudian saling minta maaf, saling ridho kembali antar nafs masing.

Ingat manusia itu terbentur 2 perkara urusan haq amaliah, yakni melunasi / membebaskan diri dari perkara yang menjadikan rintangan/hambatan/gantungan diterimanya amal ibadah seseorang oleh Sang Pencipta, itulah yang disebut HAQQULLAH dan HAQQUL ADAM.

Ingat amal ibadah seseorang akan ditahan jika masih ada utang/pembatas berupa perbuatan lalai/salah maupun dosa terhadap Tuhannya serta pada sesama makhluk ciptaan-Nya. Jadi janganlah berpikir ““Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf”. “Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri”.

Sebab pasti kita itu tak dapat mengklaim diri suci (bersih dosa) la wong anda/kita saja ga pulang pulang dari rantau menyambangi orang tua, sanak famili yang selama setahun sebab repot urusan perut, kadang malah  bertahun tahun, kontak tidak, kirim duit tidak, apalagi tiap saaat minta maaf. Benul tidak ? akui sajalah kita banyak melalaikan perkara HAQQULLAH dan HAQQUL ADAM. Ingat jika manusia mati tetapi masih ada perkara/utang/salah dan tidak terselesaikan, maka itulah perkara HAQQUL ADAM yang bakal menahan/membangkrutkan amal amalmu nanti di akherat.

Jadi jelas pemahaman andalah yang keliru, bukan masyarakat yang keliru, yang dengan tradisi mulia memanfaatkan momen waktu khusus untuk saling maaf memaafkan pada hari raya.

  1. Masalah pemaham yang memahami perkara kedua :

Dengan menulis/mempublis/menyatakan/berasumsi bahwa : Demikian Rasulullah mengajarkan kita. Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri.

Begini,

Justru saya/kami yang balik bertanya pada anda, “Kapan Rasulullah mengajarkan kita : “Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri?

Sama dengan : “Kapan Rasulullah mengajarkan kita untuk menunggangi volvo, Pajero, Fortuner, memakai jas, makan makan di Mc.D**ld, naik Busway, merayakan ulang tahun dengan nyanyi happy birthday to you, meniup lilin, kartu kredit, pinjam bank, dsb? Mengapa anda anda sekarang melakukannya? Padahal Allah dan Nabi bahkan tak menulis dalilnya! Seharusnya anda naiki onta, pakai gamis, potong tangan anak anakmu, keluargamu yang mencuri (mengambil diam diam) sebutir permen dirumahmu/tetanggamu !

PADAHAL keharusan SALING “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri, BAHKAN SETIAP HARI KITA DISURUH UNTUK MENSIFATI NILAI NILAI SALING MOHON MAAF ITU SANGAT ADA DALIL DI QUR’AN/HADITS, HANYA MATA DAN HATI KALIAN TERTUTUP OLEH TUHAN TUHAN DALIL (hanya tahu cangkangnya saja, tak pernah menyelam). Kalian bukan penyelam, kalian hanya turis yang sedang wisata yang hanya duduk manis diatas biduk.Tak tahu kalau dibawahnya ada samudera air yang dalam, yang ada ikannya, pausnya, mutiaranya, intannya,uraniumnya, dsb.

  1. Menjawab masalah pemaham yang memahami perkara ketiga :

Yang menulis : “Satu lagi, saat Idul Fithri, yakni mengucapan : “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN”. Arti dari ucapan tersebut adalah: “Kita kembali&meraih kemenangan.” KITA MAU KEMBALI KEMANA? Apa pada ketaatan atau kemaksiatan? Meraih kemenangan? Kemenangan apa? Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan? 

Begini,

Laa, anda mengartikan makna “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN” saja salah (tidak becus) kok malah sampai ke penjabaran “KITA MAU KEMBALI KEMANA? dan Meraih Kemenangan apa?.

  1. Menjawab masalah pemaham yang memahami perkara keempat : Yang menulis : “Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yg ucapkan “Minal‘Aidin wal Faizin” Lantas diikuti dengan kalimat “Mohon Maaf Lahir&Batin ”.Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh KELIRU luar biasa.

Begini,

Apanya yang harus dipahami la wong anda yang tidak paham dan anda yang “sungguh KELIRU luar biasa…” malah.bahkan bisa jadi orang lain akan menilai anda yang kelihatan “gob**ognya.

  1. Menjawab Tulisan point kelima : : Yang menulis : “Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain.. PASTI PADA BINGUNG!

Begini,

Yang bingung itu anda/kalian, yang nyoba nyoba sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kalian di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain ! saya/kami “ogah” kerajinan amat !

  1. Menjawab Tulisan point ke enam : Yang menulis : “Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI”.

Begini,

“Ogah, emang gue pikirin ?”

  1. Menjawab Tulisan point ke tujuh: Yang menulis : “Ucapan yg lebih baik & dicontohkan langsung oleh para sahabat ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , yaitu :

    “TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM” (Semoga Allah menerima amalku & amal kalian). Jadi lebih baik, ucapan/SMS/BBM kita: Taqobbalallahu minna wa minkum. (Selesai)

Begini,

Lah, lebih baikan dan lebih komplitan ucapan saya/kami :

‘Ja’alanallahu wa iyyakum MINAL ‘AIDIN ilal fithrah WAL FAIZIN bil jannah’ (Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang yang kembali pada fitrah dan menuai kemenangan dengan meraih surga). ”,

“Salaamun Qoulam Mir Robbir Rohiim “, wamtazul yauma ayyuhal mujrimuun”

(QS.Yaasiin:58) Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. 59. Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.

“Taqabbalallahu Minna wa Minkum’, taqabbal ya Kariim”

Jangan Ragu Ucapkan : ‘Minal ‘Aidin wal Faizin’ mohon maaf lahir batin”

komplit pakai stmj (susu telur madu & juzz buah)

 

SEKIAN, semoga dinalar

 

Salam Cahaya Rahmat Semesta Alam,

 

Majelis Dzikir & Salawat As-Shalihin-Kranggan

Senin, 4 Juli 2016/29 Ramadhan 1437 H.

Kelana Delapan Penjuru Angin

 

 

SALAH KAPRAH BAHASA, MENGARTIKAN MAKNA IDUL FITRI

fitri

ARTI IDUL FITRI BUKAN “Kembali suci” ?

JUGA TAK SERTA MERTA : “bagai bayi yang baru dilahirkan, suci dari semua dosa” ! BENARKAH ?

Kita selama ini  memahami arti IDUL FITRI = “Kembali suci”, bahkan dari para pendakwah, sering menyuarakan, mengartikan idul fitri dengan “kembali suci”. Kata ‘IED diartikan dengan makna “kembali” dan FITRI diartikan sebagai “suci”.

Para pendakwah seringkali memberi kabar gembira kepada umat yang telah menyelesaikan ibadah selama ramadhan, bahwa pada saat idul fitri diri kita telah kembali suci, bersih dari semua dosa antara diri dengan Allah. Hingga ada dipadankan sebagai bayi yang baru dilahirkan (mengkaitkan hal ini karena ada kata, ‘Iedul fitri). Pecahan dari pemaknaan ini, sebagian masyarakat sering menyebut untuk tanggal 1 syawal dengan ungkapan ‘hari yang fitri’

Ikhwan fillah, mari kita gali dengan ilmu pengetahuan.

Terjadi dua kesalah kaprahan dalam mengartikan perkara tersebut diatas. Pertama, memaknai idul fitri dengan kembali suci, ini kesalahan lughawi, bahasa. Sedang Kedua, pemahaman bahwa ketika idul fitri, semua muslim suci/dosanya diampuni.

Berikut jabarannya :

Arti Idul Fitri secara Bahasa

Idul fitri berasal dari dua kata; id [arab: عيد] dan al-fitri [arab: الفطر].

Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu [arab: عاد – يعود], yang artinya kembali. Hari raya disebut ‘id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama. Ibnul A’rabi mengatakan,

سمي العِيدُ عيداً لأَنه يعود كل سنة بِفَرَحٍ مُجَدَّد

Hari raya dinamakan id karena berulang setiap tahun dengan kegembiraan yang baru. (Lisan Al-Arab, 3/315).

Ada juga yang mengatakan, kata id merupakan turunan kata Al-Adah [arab: العادة], yang artinya kebiasaan. Karena masyarakat telah menjadikan kegiatan ini menyatu dengan kebiasaan dan adat mereka. (Tanwir Al-Ainain, hlm. 5).

Berikutnya jabaran arti kata fitri.

Silahkan digaris bawahi bahwa kosa kata “fitri” TIDAK sama dengan “fitrah”. Fitri dan fitrah adalah dua kata yang berbeda. Beda arti dan penggunaannya. Namun, mengingat cara pengucapannya yang hampir sama, banyak kita umat/masyarakat indonesia menyangka bahwa itu dua kata yang sama. Berikut jabaran masing-masing:

Pertama, Kata Fitrah

Kata fitrah, Allah menyebutkan dalam Al-Quran,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

Hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (QS. Ar-Rum: 30).

Ibnul Jauzi menjelaskan makna fitrah,

الخلقة التي خلق عليها البشر

“Kondisi awal penciptaan, dimana manusia diciptakan pada kondisi tersebut.” (Zadul Masir, 3/422).

Dengan demikian, setiap manusia yang dilahirkan, dia dalam keadaan fitrah. Telah mengenal Allah sebagai sesembahan yang Esa, namun kemudian mengalami gesekan dengan lingkungannya, sehingga ada yang menganut ajaran nasrani atau agama lain. Ringkasnya, bahwa makna fitrah adalah keadaan suci tanpa dosa dan kesalahan.

Kedua, kata Fitri

Kata fitri berasal dari kata afthara – yufthiru [arab: أفطر – يفطر], yang artinya berbuka atau tidak lagi berpuasa. Disebut idul fitri, karena hari raya ini dimeriahkan bersamaan dengan keadaan kaum muslimin yang tidak lagi berpuasa ramadhan.

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan hal ini, diantaranya

  1. Hadis tentang anjuran untuk menyegerahkan berbuka,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يزال الدين ظاهراً، ما عجّل النّاس الفطر؛ لأنّ اليهود والنّصارى يؤخّرون

“Agama Islam akan senantiasa menang, selama masyarakat (Islam) menyegerakan berbuka. Karena orang yahudi dan nasrani mengakhirkan waktu berbuka.” (HR. Ahmad 9810, Abu Daud 2353, Ibn Hibban 3509 dan statusnya hadia hasan).

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تزال أمَّتي على سُنَّتي ما لم تنتظر بفطرها النّجوم

“Umatku akan senantiasa berada di atas sunahku, selama mereka tidak menunggu waktu berbuka dengan terbitnya bintang.” (HR. Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya 3/275, dan sanadnya shahih).

Kata Al-Fithr pada hadis di atas maknanya adalah berbuka, bukan suci. Makna hadis ini menjadi aneh, jika kata Al-Fithr kita artikan suci.

“Umatku akan senantiasa berada di atas sunahku, selama mereka tidak menunggu waktu berSUCI dengan terbitnya bintang”

Dan tentu saja, ini keluar dari konteks hadis.

  1. Hadis tentang cara penentuan tanggal 1 ramadhan dan 1 syawal

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ

“Hari mulai berpuasa (tanggal 1 ramadhan) adalah hari di mana kalian semua berpuasa. Hari berbuka (hari raya 1 syawal) adalah hari di mana kalian semua berbuka.” (HR. Turmudzi 697, Abu Daud 2324, dan dishahihkan Al-Albani).

Makna hadis di atas akan menjadi aneh, ketika kita artikan Al-Fithr dengan suci.

Hari suci adalah hari dimana kalian semua bersuci”.dan semacam ini tidak ada dalam islam.

Karena itu sungguh aneh ketika fitri diartikan suci, yang sama sekali tidak dikenal dalam bahasa arab.

Kembali Suci Seperti Bayi ? yang bagaimana ?

Konsekuensi dari kesalah kaprahan mengartikan idul fitri, yang dengan pemahaman bahwa idul fitri = kembali suci, banyak orang menjadi berpemahaman/keyakinan bahwa ketika idul fitri, semua orang yang menjalankan puasa ramadhan, semua dosanya diampuni dan menjadi suci.

Maka pemahaman/Keyakinan semacam ini termasuk kekeliruan sebagai: gurunya yang  salah ngajar atau murid/umatnya yang salah menterjemahkan, (alias tidak nyambung).

Berikut  dua alasan untuk menunjukkan kesalah kaprahan pemahaman/keyakinan ini:

Pertama, keyakinan bahwa semua orang yang menjalankan puasa ramadhan, dosanya diampuni dan menjadi suci, sama dengan memastikan bahwa seluruh amal puasa kaum muslimin telah diterima oleh Allah, dan menjadi kaffarah (penghapus) terhadap semua dosa yang meraka lakukan, baik dosa besar maupun dosa kecil. Padahal tidak ada orang yang bisa memastikan hal ini, karena tidak ada satupun makhluk yang tahu apakah amalnya diterima oleh Allah ataukah tidak.

Terkait dengan penilaian amal, ada dua hal yang perlu kita bedakan, antara keabsahan amal dan diterimanya amal.

  1. Keabsahan amal.

Amal yang sah artinya tidak perlu diulangi dan telah menggugurkan kewajibannya. Manusia bisa memberikan penilaian apakah amalnya sah ataukah tidak, berdasarkan ciri lahiriah. Selama amal itu telah memenuhi syarat, wajib, dan rukunnya maka amal itu dianggap sah.

  1. Diterimanya amal

Untuk yang kedua ini, manusia tidak bisa memastikannya dan tidak bisa mengetahuinya. Karena murni menjadi hak Allah. Tidak semua amal yang sah diterima oleh Allah, namun semua amal yang diterima oleh Allah, sudah tentu amal yang sah.

Karena itulah, terkait diterimanya amal, kita hanya bisa berharap dan berdoa. Memohon kepada Allah, agar amal yang kita lakukan diterima oleh-Nya. Seperti inilah yang dilakukan oleh orang-orang shalieh masa silam. Mereka tidak memastikan amalnya diterima oleh Allah, namun yang mereka lakukan adalah memohon dan berdoa kepada Allah agar amalnya diterima.

Dibandingkan dengan Nabi Ibrahim ‘AS saja, Selesai memperbaiki bangunan Ka’bah, beliau tidak ujub dan memastikan amalnya diterima. Namun yang berliau lakukan adalah berdoa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Ya Allah, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 127).

Demikian pula yang dilakukan oleh para sahabat dan generasi pengikut mereka. Yang mereka lakukan adalah berdoa dan bukan memastikan.

Mu’alla bin Fadl mengatakan:

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang bulan Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka ketika di bulan Ramadhan.” (Lathaiful Ma›arif, Ibnu Rajab, hal.264)

Karena itu, ketika bertemu sesama kaum muslimin seusai ramadhan, mereka saling mendoakan,

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم

“Semoga Allah menerima amal kami dan kalian”

Jadi kita berharap, berdoa memohon kepada Allah agar amalnya diterima dan tidak mampu memastikan amal kita diterima. (ya to……ya to…..yoi khan?)

Kedua, sesungguhnya ramadhan hanya bisa menghapuskan dosa kecil, dan bukan dosa besar. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِر

“Antara shalat 5 waktu, jumatan ke jumatan berikutnya, ramadhan hingga ramadhan berikutnya, akan menjadi kaffarah dosa yang dilakukan diantara amal ibadah itu, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Ahmad 9197 dan Muslim 233).

Kita perhatikan, ibadah besar seperti shalat lima waktu, jumatan, dan puasa ramadhan, memang bisa menjadi kaffarah dan penebus dosa yang kita lakukan sebelumnya. Hanya saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan syarat: ‘selama dosa-dosa besar dijauhi.’ Adanya syarat ini menunjukkan bahwa amal ibadah yang disebutkan dalam hadis, tidak menggugurkan dosa besar dengan sendirinya. Yang bisa digugurkan hanyalah dosa kecil.

Lantas bagaimana dosa besar bisa digugurkan?

Caranya adalah dengan bertaubat secara khusus, memohon ampun kepada Allah atas dosa tersebut. Sebagaimana Allah telah tunjukkan hal ini dalam Al-Quran,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. An-Nisa: 31).

KESIMPULAN

riset

Bahwa arti iedul fitri secara lughawi/etimologi adalah : Hari kembali berbuka, hari raya tidak puasa. Sedang makna secara hakekat/terminologi, idul fitri adalah hari kemenangan melawan hawa nafsyu (bagi yang benar benar melaksanakan hakekat puasa dengan baik, khusyu, ikhlas dan benar loh yah !) yang Alloh memberikan pangkat taqwa (QS. Al Baqarah: 183), kemudian sebagai hari berterima kasih (Thanks Giving Day) QS.2. Al Baqarah:185

Namun jika ada yang mengartikan lainnya, silahkan bebas. Yang utama saya urai menurut berbagai sumber dan dengan jelas.

Demikian ikhwan, semoga menjadi khazanah dalam cakrawala fikir kita.

Salam Cahaya Ramadhan-Nya,

 

Tal Kandangan, 26 Ramadhan 1437 H/ 1 Juli 2016

Kelana Delapan Penjuru Angin

Ref:

-Alqur’anul Karim-terjemah DEPAG RI

Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina-KonsultasiSyariah.com)

-www.Dakwatuna.com

RISALAH RINGKAS TENTANG ZAKAT

RISALAH RINGKAS TENTANG ZAKAT

PANDUAN BERZAKAT DAN ZAKAT FITRAH, PENGELOLAAN SERTA DASAR HUKUMNYA

SALAH KAPRAH PEMAHAMAN TENTANG ‘AMIL

PANITIA DADAKAN PENGUMPUL ZAKAT BUKAN KATEGORI AMIL ASNAF 8, TIDAK SAH MENGAMBIL BAGIAN DARI HARTA ZAKAT

10 KEBERUNTUNGAN DAHSYAT DIPEROLEH DENGAN ZAKAT

*Risalah ini berasal dari tulisan/kitab ringan berbahasa Jawa karya Al-fakir Kyai Syamsuddin-Prembun Kranggan-Kebumen-Jawa Tengah, dengan judul aslinya : “RISALATU FI SYAHRU RAMADHAN”. Dan kemudian diterjemahkan serta disusun lengkapi oleh Agus Sholech Al-Qadry. Untuk dijadikan pengetahuan bermanfaat bagi umat.
DAFTAR ISI :
  • DASAR HUKUM
  • MANFAAT/FAEDAH MENUNAIKAN ZAKAT
  • KRITERIA WAJIB ZAKAT (Muzakki)
  • KRITERIA TIDAK WAJIB ZAKAT
  • KRITERIA PENERIMA ZAKAT
  • KRITERIA BUKAN PENERIMA ZAKAT
  • BENTUK ZAKAT DAN BESARAN
  • TATA CARA BERZAKAT
  • KEWAJIBAN ZAKAT LAIN DILUAR ZAKAT FITRAH
  • BABUL AWAMIL FIZZAKATI (PENGELOLAAN ZAKAT OLEH PANITIA)
  • HUKUM MEMBENTUK ‘AMIL
  • SYARAT BERAT MENJADI ‘AMIL
  • PEMBENTUKAN ‘AMIL YANG TEPAT/IDEAL
  • KESIMPULAN

ZAKAT1

Kata zakat didalam Al-Quran terdapat pada 26 ayat yang tersebar pada 15 surat. Ayat dan surat tersebut yaitu sebagai berikut: Didalam Q.S Al Baqoroh ayat: 42, 84, 110, 177, 277. Annisa ayat: 77 dan 162. Al-Maidah ayat: 12 dan 55. Al-A’raaf ayat: 156.At-Taubah ayat: 5, 11, 18, dan 71, Al-Anbiya ayat: 73, Al-Hajj ayat: 41 dan 78. An-Nur ayat: 37 dan 56. Annaml ayat: 3. Luqman ayat: 4, Al-Ahzab ayat: 37, Fushilat ayat: 7.  Al-Mujadillah ayat: 13. Al Muz’amil ayat: 20, Al-Bayyinah ayat: 5.

Juga hadits riwayat muttafaqun alaihi yang artinya: “Islam didirikan diatas lima dasar: Mengikrarkan bahwa tidak ada tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh, mendirikan sholat, membayar zakat, menunaikan haji, dan berpuasa pada bulan Romadhon”. (H.R. Muttafaq ‘alaih)

“Shodaqotul fitri wajibatun ‘amalan laa i’tiqodan ‘alal hurril muslimil maliki linishab. Fadhillin ‘anil hawaijil ashliyati wawaqotu ada’an shodaqotil fitri qobla shalatil ‘ied,

“Zakat fitrah telah diwajibkan atas kaum muslim dengan diamalkan, tak cukup hanya dengan niat dalam hati saja. Yaitu atas orang Islam yang mempunyai sesuatu (makanan, harta, atau uang) yang lebih daripada keperluan diri sendiri dan keperluan orang yang ditanggung nafkahnya. Sedang waktu membayar zakat fitrahnya sampai dengan sebelum dimulai shalat iedul fitri”.

(maka waktu yang wajib adalah sejak terbenamnya matahari dimalam hari raya hingga saat shalat ied. Maka jika dibayarkan ba’da shalat ied hukumnya makruh namun syah.Dan jika melewati hari raya maka itu qadla tapi harus).

Reff: (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III :367 no:1503, Muslim II: 277 no:279/984 dan 986, Tirmidzi II : 92 dan 93 no: 670 dan 672, ‘Aunul Ma’bud V:4-5 no: 1595 dan 1596, Nasa’i V:45, Ibnu Majah I: 584 no:1826 dan dalam Sunan Ibnu Majah ini tidak terdapat “WA AMARA BIHA…”).

BERIKUT JENIS JENIS WAKTU MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH

  1. Waktu wajib: Sejak terbenam matahariakhir ramadhan hingga terbit matahari esoknya (hari raya).
  2. Waktu paling afdhal: Sebelum Sholat Hari Raya.
  3. Waktu sunat: Sepanjang bulan Ramadhan.
  4. Waktu makruh: Selepas sholat Ied hingga terbenam matahari pada satu Syawal.
  5. Waktu haram: Selepas terbenam matahari satu Syawal.

KEDUDUKAN ZAKAT DALAM ISLAM

Zakat adalah salah satu rukun Islam dan termasuk salah satu di antara fardhu-fardhuNya.

Dari Ibnu Umar r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Islam ditegakkan di atas lima (perkara): (pertama) bersaksi bahwa tiada Ilah (yang patut diibadahi) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul utusan Allah, (kedua) menegakkan shalat, (ketiga) mengeluarkan zakat, (keempat) menunaikan ibadah haji, dan (kelima) melaksanakan shiyam (puasa) Ramadhan.”

(Muttafaqun’alaih: Muslim I : 45 no:16-20 dan lafadz ini baginya, Fathul Bari I: 49 no: 8, Tirmidzi IV: 119 no: 2736 dan Nasa’i VIII: 107). Di dalam al-Qur’an, kata zakat diiringi oleh kata shalat dalam delapan puluh dua ayat.

Dorongan Agar Menunaikan Zakat

Allah SWT berfirman, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”(At-Taubah: 103)

Dan Allah SWT berfirman, “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).” (QS.Ar-Ruum:39).

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,“Barangsiapa yang bershadaqah sesuatu senilai harga satu tamar (kurma kering) dari hasil usaha yang halal, dan Allah tidak akan menerima kecuali yang halal, maka Allah menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia memeliharanya untuk pelakunya sebagaimana seorang diantara kamu memelihara anak kandungnya sampai seperti gunung.” (Muttafaqun’alaih: Fathul Bari III:278 no: 1410 dan lafadz ini baginya, Muslim II : 702 no: 1014, Tirmidzi II: 85 no: 656 dan Nasa’i  V:57).

MANFAAT/FAEDAH MENUNAIKAN ZAKAT

bebas

Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, “Rasulullah saw. telah mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan yang kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum (selesai) shalat ‘id, maka itu adalah zakat yang diterima (oleh Allah); dan siapa saja yang mengeluarkannya sesuai shalat ‘id, maka itu adalah shadaqah biasa, (bukan zakat fitrah).” (Hasan : Shahihul Ibnu Majah no: 1480, Ibnu Majah I: 585 no: 1827 dan ‘Aunul Ma’bud V: 3 no:1594).

kitabsalaf

Bahkan dalam kitab Durratun Nashihin dijelaskan:

(Ruwiya ‘annabiy SAW, annahu qolaa: “Man a’to shodaqotal fitri kanalahuu assharotu ashyaa’a : “Al-awwalu yathurru jasaduhu minaddzunubi wasshafi ya’tiqu minannaar, watsalitsu yashirru shaumatu ma’bulan, warabbi’atu yastaujibul jannah, walkhamishu yakhruju min qobrihi amina, watssadishu yu’baluma minal khairati fi tilkas shanaati, was tsabi’u tajibulahuu syafa’ati yaumil qiyaamah, was tsaminu yamru ‘alal qiraati kalbarqul khatiif, wat tashi’ yurjahu mizanuhu minal hasanati wal ‘ashiruu yamhullahu ta’ala, ismuhu min diwanil ashqiyyaa’i”. (Dari serangkaian Ayat&Al-hadits yang diintisarikan dalam kitab Durratun Nashihin-shahifah 279).

Sabda Rasulullah saw : “Barang siapa memberikan zakat fitrah maka orang tersebut akan memiliki sepuluh perkara (keberuntungan), yakni :

  1. Jiwanya disucikan dari dosa dosanya (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)
  2. Bebas dari api neraka (HR. Al Bukhari 6539, Muslim 1016,16)
  3. Diterima segala amal ibadah puasanya
  4. Hak/wajib masuk syorga (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)
  5. Mendapat keamanan ketika dibangkitkan dari kubur (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873)
  6. Diterima Allah amal kebaikan yang dilakukannya selama setahun
  7. Hak/wajib atas syafa’at Rasulullah saw
  8. Melewati jembatan shirotol mustaqiem pada hari kiamat bagai kilat yang menyambar
  9. Bobot amal kebaikannya dineraca Al-mizan menjadi berat kebaikannya (HR. At Tirmidzi 662, ia berkata: “hasan shahih”)
  10. Allah SWT menghapus namanya dari daftar yang celaka yang telah tercatat dibukunya.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, begitu murahnya Allah pada umatnya, yang hanya dengan mengeluarkan 2.5 Kg beras setiap tahun sekali saja sudah demikian untungnya. Maka cobalah berpikir, bagaimana jika kita dalam hari harinya hidup selalu dalam berbuat amal kebaikan? (tidak merasa eman/sayang dengan harta benda untuk loman/suka bersedekah. Begitu sebaliknya Allah mengancam bagi orang yang kikir enggan bersedekah maka ketika mati tak satupun harta kekayaannya dibawa serta bahkan akan dikalungkan dilehernya sangat berat dibawa kesana kemari terseok seok dipadang masyaar).

syt5

“…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, Lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35)

Hukum Orang Yang Mencegah Membayar Zakat

Dalam Fiqhus Sunnah I: 281, Syaikh Sayyid Sabiq menulis, “Zakat adalah salah satu amalan fardhu, sehingga termasuk Dharurriyatud din (pengetahuan yang pokok dalam agama), yang mana andaikata ada seseorang mengingkari wajibnya zakat, maka dinyatakan keluar dari Islam (kafir). Kecuali jika hal itu terjadi pada seseorang yang baru masuk Islam, maka dimaafkan karena belum mengerti hukum-hukum Islam.”

 “Adapun orang-orang yang enggan membayar zakat, namun meyakininya sebagai kewajiban, maka ia hanya berdosa besar karena enggan membayarnya, tidak sampai keluar dari Islam. Dan, penguasa yang sah berwenang memungut zakat tersebut darinya dengan paksa”. Dalam hal ini penguasa berhak  menyita separoh harta kekayaannya sebagai sangsi baginya, hal ini berdasar pada hadits dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari datuknya r.a. ia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Pada setiap unta yang digembalakan ada zakatnya, setiap 40 ekor (zakatnya) adalah seekor anak unta betina yang selesai menyusu; unta tidak dipisahkan dari perhitungannya; barangsiapa yang membayar zakat itu untuk memperoleh pahala, maka ia pasti akan mendapat pahala itu, tetapi orang yang tidak membayarnya kami akan memungut zakat itu beserta separuh kekayaannya. Ini merupakan salah satu ketentuan tegas dari Rabb kita, yang mana bagi keluarga Muhammad tidak halal menerimanya sedikitpun.” (Hasan : Shahihul Jami’us Shaghir no: 4265, ‘Aunul Ma’bud IV:452 no:1560, Nasa’i V:25, al-Fathur Rabbani VIII:217 no:28).

KRITERIA WAJIB ZAKAT

            SYARAT ZAKAT FITRAH :

  1. Islam
  2. Mempunyai sesuatu (makanan, harta, atau uang) yang lebih daripada keperluan diri sendiri dan keperluan orang yang ditanggung nafkahnya untuk satu hari siang dan malam Hari Raya itu.
  3. Dapat menemui dua masa yakni akhir Ramadan dan awal Syawal. (Orang yang meninggal dunia sebelum terbenam matahari atau anak yang dilahirkan selepas matahari terbenam malam satu Syawal itu tidak wajib fitrah ke atasnya).

Kewajiban zakat fitrah

  1. Kepala keluarga wajib membayar zakat fitrah untuk dirinya dan juga tanggungannya.
  2. Jika salah satu dari tanggungannya meninggal dalam bulan puasa, maka orang itu terlepas daripada membayar zakat fitrah.

Rukun-Rukun Zakat Fitrah

  • Niat untuk menunaikan zakat fitrah dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT
  • Terdapat pemberi zakat fitrah atau musakki
  • Terdapat penerima zakat fitrah atau mustahik
  • Terdapat makanan pokok yang dizakatkan
  • Besar zakat fitrah yang dikeluarkan sesuai agama islam

KRITERIA TIDAK WAJIB ZAKAT

Meskipun zakat fitrah ini wajib hukumnya bagi semua orang islam yang mukallaf baik laki laki maupun perempuan, namun ada keterkecualian tentang siapa yang tidak terkena kewajiban mengeluarkan zakat yakni golonan fakir dan miskin (orang yang hidupnya kekurangan dan atau tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup), bahkan golongan ini sebagai yang berhak menerima zakat fitrah tersebut. Atau hakekatnya adalah orang yang pada saat jatuh temponya wajib zakat tiba namun tidak memiliki harta/simpanan untuk dizakatkan maka dirinya termasuk yang berhak menerima zakat/sedekah.

KRITERIA PENERIMA ZAKAT

SASARAN PEMBAGIAN  ZAKAT (Annashrof fizzakati)

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya zakat-zakat ini, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, untuk orang-orang yang berhutang, untuk di jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah:60).

(Ibnu Katsir r.a. ketika menafsirkan ayat ini dalam kitab tafsirnya II: 364 mengatakan,  “Tatkala Allah SWT menyebutkan penentangan orang-orang munafik yang bodoh itu atas penjelasan Nabi saw. dan mereka mengecam Rasulullah mengenai pembagian zakat, maka kemudian Allah SWT menerangkan dengan gamblang bahwa Dialah yang membaginya. Dialah yang menetapkan ketentuannya, dan Dialah pula yang memproses ketentuan-ketentuan zakat itu, sendirian, tanpa campur tangan siapapun. Dia tidak pernah menyerahkan masalah pembagian ini kepada siapapun selain Dia. Maka Dia membagi-bagikannya kepada orang-orang yang telah disebutkan dalam ayat di atas).

Apakah Delapan Golongan (Ashnaf 8) Harus Mendapatkan Bagian Semua ?

Ahli tafsir Ibnu Katsir menegaskan bahwa para ulama’ berbeda pendapat (ikhtilaf) mengenai delapan kelompok ini, apakah mereka harus mendapatkan bagian semua, ataukah boleh diberikan kepada sebagian di antara mereka ? Dalam hal ini, ada dua pendapat :

  1. Pendapat pertama, mengatakan bahwa zakat itu harus dibagikan kepada semua delapan kelompok itu. Ini  adalah pendapat Imam Syafi’I dan sejumlah ulama’ yang lain.
  1. Pendapat kedua, menyatakan bahwa tidak harus dibagikan kepada mereka semua, boleh saja, dibagikan pada satu kelompok saja diantara mereka, seluruh zakat diberikan kepada kelompok tersebut, walaupun ada kelompok-kelompok yang lain. Ini adalah pendapat Imam Malik dan sejumlah ulama’ salaf dan khalaf, di antara mereka ialah Umar bin Khatab, Hudzifah Ibnul Yaman, Ibnu Abbas Abul’Aliyah, Sa’id bin Jubair, Maimun bin Mahcar, Ibnu Jarir mengatakan, “Ini adalah pendapat mayoritas ahli ilmu. Oleh karena itu, penulis, (Abdul ‘Azhim bin Badawi) menyebutkan semua golongan yang berhak menerima zakat di sini hanyalah untuk menjelaskan pengertian masing-masing golongan, bukan karena keharusan memberikan zakat itu kepada semuanya.

Golongan pertama ; Orang-orang fakir

Dari Abdullah Ibnu Umar bin al-Ash r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Zakat tidak halal bagi orang yang kaya dan tidak (pula) bagi orang yang sehat dan kuat,” 

(Shahih : Shahihul Jami’ no: 7251, Tirmidzi II: 81 no: 647, ‘Aunul Ma’bud V:42 no:1618, dan Abu Hurairah meriwayatkannya lihat Ibnu Majah I:589 no: 1839 dan Nasa’i V:39).

Dari Ubaidillah bin ‘Adi bin al-Khiyar r.a. bahwa ada dua orang sahabat mengabarkan kepadanya bahwa  mereka berdua pernah menemui Nabi saw. meminta zakat kepadanya, maka Rasulullah memperhatikan mereka berdua dengan seksama dan Rasulullah mendapatkan mereka sebagai orang-orang yang gagah. Kemudian Rasulullah bersabda, “Jika kamu berdua mau, akan saya beri, tetapi (sesungguhnya) orang yang kaya dan orang yang kuat berusaha tidak mempunyai bagian untuk menerima zakat,” (Shahih : Shahih Abu Daud no: 1438, ‘Aunul Ma’bud V: 41 serta Nasa’i   V:99).
Golongan kedua; Orang-Orang Miskin

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling minta-minta agar diberi sesuap dua suap makanan dan satu biji kurma,” (Kemudian) para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, (kalau begitu) siapa yang dimaksud orang miskin itu?” Jawab Beliau, “Salah mereka yang yang hidupnya tidak berkecukupan dan dia tidak punya kepandaian untuk itu, lalau diberi shadaqah, dan mereka tidak mau minta-minta kepada orang lain.” (Muttafaqun ‘alaih:Muslim II : 719 no:1039 dan lafadz baginya, Fathul Bari III : 341 no: 1479, Nasa’i V:85 dan Abu Daud V:39 no: 1615).
Golongan ketiga: Para Amil Zakat
Untuk bab golongan ‘amil ini akan diurai dan dijelaskan secara lugas dibagian akhir/bawah.

Golongan keempat : Orang-orang Muallaf

Kelompok muallaf ini terbagi menjadi beberapa bagian.

1.Orang yang diberi sebagian zakat agar kemudian memeluk Islam. Sebagai misal Nabi saw. pernah memberi Shafwan bin Umayyah sebagian dari hasil rampasan perang Hunain, dimana waktu itu ia ikut berperang bersama kaum Muslimin:

“Nabi saw. selalu memberi kepada hingga beliau menjadi orang yang paling kucintai, setelah sebelumnya beliau menjadi orang yang paling kubenci.” (Shahih : Mukhtashar Muslim no: 1558, Muslim II:754 no:168 dan 1072, ‘Aunul Ma’bud VIII: 205-208 no: 2969, dan Nasa’i V:105-106).

2.Golongan orang yang diberi zakat dengan harapan agar keislamannya kian baik dan hatinya semakin mantap.

Seperti pada waktu perang Hunain juga,ada sekelompok prajurit beserta pemukanya diberi seratus unta, kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya aku benar-benar memberi zakat kepada seorang laki-laki, walaupun selain dia lebih kucintai daripadanya (laki-laki tersebut) karena khawatir Allah akan mencampakkannya ke (jurang) neraka Jahanam.” 

(Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari I: 79 no:27, Muslim I:132 no:150, ‘Aunul Ma’bud XII : 440 no:4659, dan Nasa’i  VIII:103).

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan dari Abu Sa’id r.a. bahwa Ali r.a. pernah diutus menghadap kepada Nabi saw. dari Yaman dengan membawa emas yang masih berdebu, lalu dibagi oleh beliau saw. kepada empat orang (pertama) al-Aqra’ bin Habis, (kedua) Uyainah bin Badr, (ketiga) ‘Alqamah bin ‘Alatsah, dan (keempat) Zaid al-Khair, lalu Rasulullah bersabda, “Aku menarik hati mereka.” (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III: 67 no:4351, Muslim II:741 no:1064, ‘Aunul Ma’bud XIII : 109 no:4738).

3.Bagian ini ialah orang-orang muallaf yang diberi zakat lantaran rekan-rekan mereka yang masih diharapkan juga memeluk Islam.

4.Mereka yang mendapat bagian zakat agar menarik zakat dari rekan-rekannya, atau agar membantu ikut mengamankan kaum Muslimin yang sedang bertugas di daerah perbatasan. Wallahu a’lam.

(Apakah muallaf sepeninggal Nabi saw. masih berhak mendapatkan bagian dari zakat ?

Ibnu Katsir r.a. mengatakan bahwa dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama’ bahwa para muallaf tidak usah diberi bagian dari zakat setelah beliau wafat, karena Allah telah memperkuat agama Islam dan para pemeluknya serta telah memberi kedudukan yang kuat kepada mereka di bumi dan telah menjadikan hamba-hambaNya tunduk pada mereka (kaum muslimin).

Kelompok yang lain berpendapat, bahwa para muallaf itu tetap harus diberi, karena Rasulullah saw. pernah memberi mereka zakat setelah penaklukan kota Mekkah dan penaklukan Hawazin, zakat ini kadang-kadang amat dibutuhkan oleh mereka, sehingga mereka harus mendapat alokasi bagian dari zakat).

Golongan kelima :RIQAB (Untuk memerdekakan Budak)

Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri, Muqatil bin Hayyan, Umar bin Abdul Aziz, Sa’id bin Jubair, an-Nakha’i, az-Zuhri, Ibnu  Zaid bahwa yang dimaksud riqab, bentuk jama’ dari raqabah “budak belian” ialah hamba mukatab (hama yang telah menyatakan perjanjian dengan tuannya bilamana sanggup menghasilkan harta dengan nilai tertentu dia akan dimerdekakan, pent). Diriwayatkan juga pendapat yang semisal dengan pendapat tersebut dari Abu Musa al-Asy’ari, dan ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan al-Lain.

Ibnu Abbas dan al-Hasan berkata, “Tidak mengapa memerdekakan budak belian dengan uang dari zakat.” Ini juga menjadi pendapat Mazhab Imam Ahmad, Imam Malik, dan Imam Ishaq. Yaitu bahwa kata riqab lebih menyeluruh ma’nanya daripada sekedar memberi zakat kepada hamba mukatab, atau sekedar membeli budak lalu dimerdekakan.

Ada banyak hadits yang menerangkan besarnya pahala memerdekakan budak, dan Allah SWT untuk setiap anggota badan budak tersebut memerdekakan satu anggota badan orang yang memerdekakannya dari api neraka, sampai untuk kemaluan sang budak Allah memerdekakan kemaluan orang yang memerdekakannya. Sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits berikut :

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang telah memerdekakan seorang budak mukmin, niscaya Allah dengan setiap anggota badannya akan membebaskannya anggota badan (orang yang memerdekakannya) dari api neraka, hingga orang itu memerdekakan (masalah) kemaluan dengan kemaluan.” (Shahih : Shahihul Jami’us Shaghir no:6051, Tirmidzi III:49 no: 1581).

Hal itu tidak lain, karena balasan suatu amal perbuatan sejenis dengan amal yang dilakukannya. Allah berfirman, “Dan  kamu  tidak  diberi pembalasan, melainkan apa yang telah kamu lakukan. (QS.ash-Shaffat.39).

Golongan keenam : GHORIMIN (Orang-orang yang Banyak Berhutang)

Mereka terbagi menjadi beberapa bagian : Pertama, orang yang mempunyai tanggungan atau dia menjamin suatu hutang lalu menjadi wajib baginya untuk melunasinya kemudian meludeskan seluruh hartanya karena hutang tersebut; kedua, orang yang bangkrut; ketiga, orang yang berhutang untuk menutupi hutangnya; dan keempat, orang yang berlumuran maksiat, lalu bertaubat. Maka mereka semua layak menerima bagian dari zakat.

Dasar yang menjadikan pijakan untuk masalah ini ialah hadits dari Qubaishah bin Mukhariq al-Hilali r.a. ia berkata, Aku pernah mempunyai tanggungan (untuk mendamaikan dua pihak yang bersengketa), kemudian aku datang kepada Rasulullah saw. menanyakan perihal beban tanggungan itu. Maka Beliau bersabda, “Tegakkanlah, hingga datang zakat untuk kuberikan kepadamu!” Rasulullah saw. melanjutkan sabdanya, “Ya Qubaishah sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi tiga golongan: (Pertama) orang-orang yang memikul beban untuk mendamaikan dua pihak yang bersengketa, maka dihalalkan baginya meminta, sampai berhasil mendapatkannya, sehingga berhenti memintanya. (Kedua), orang yang tertimpa kebingungan yang sangat, karena rusaknya harta bendanya, maka kepadanya dihalalkan meminta zakat, sehingga ia mendapatkan kekuatan untuk menutupi kebutuhan hidupnya. (Ketiga), orang yang mendapatkan kesulitan hidup hingga tiga orang dari pemuka kaumnya berdiri (lalu bertutur), bahwa kesulitan hidup telah menimpa si fulan, maka baginya dihalalkan meminta hingga mempunyai kekuatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka tidak ada hak bagi selain yang tiga kelompok itu untuk meminta wahai Qubaishah!”

(Shahih : Mukhtashar Muslim no: 568, Muslim II: 722 no:1044, ‘Aunul Ma’bud V:49 no: 1624, dan Nasa’i  V:96).

Golongan ketujuh : FISABILILLAH

Berbagai pendapat (ikhtilaf) dari para ulama dalam menafsyirkan makna Fi sabilillah ini, berikut :

Fi sabilillah ialah para mujahid sukarelawan (ghuzah) yang berjuang di jalan Allah yang tidak memiliki bagian atau gaji yang tetap dari kas negara. Sementara al-fakir Kyai Syamsuddin memperkaya khasanahnya bahwa Fi sabilillah adalah golongan orang yang berperang melawan hawa nafsyu yang berjuang, berkarya di jalan Alloh (kebaikan) yang dengan ikhlas mengabdi tanpa pamrih dan upah tetap seperti contoh para ulama, kyai/guru ngaji, modin/kaum dan lainnya.

“Ahli sabilillahi al-uzzatul mutatawwi’una bil jihadi wain kanuu aghniyya’a in’anatal jihadi wayaadhullu fi dalika tulabatul ‘ilmissyaari waraawadul haqqi watulabul ‘adli wa muqimul inshafi wal wa’dli wal irsyaadi wanashirad dinil hanif…..”. (kitab Jauharul Bahri-shahifah 173).

“wataqolal quflu ‘an ba’dil fuqahaai fahum ajarru sharfa shodaqoti ilaa jami’i wajuuhil khairi min takfinil mautaa wabinaail husuni waimaratil masjidi, lianna qaulahu ta’ala fi sabilillahi ‘amma fil kulli……….ila ayat……(tafsyir munir –juzz awal-shahifah 244)

Dalam kitab ini diterangkan bahwa makna fi sabilillah itu luas tidak hanya orang sedang dalam perang sabil fisik, tetapi termasuk siapa siapa yang sedang melakukan perjuangan bakti kebaikan yang dijalan Alloh seperti ahli ceramah agama, advisor spiritual, guru ngaji, para penolong agama Alloh dan pejuang/pengabdi kemanfaatan ditengah masyarakat.

Golongan kedelapan : Ibnu Sabil

Adalah seorang yang musafir melintas di suatu negeri tanpa membawa bekal yang cukup untuk kepentingan perjalanannya, maka dia pantas mendapat alokasi dari bagian zakat yang cukup hingga kembali ke negerinya sendiri, meskipun ia seorang yang mempunyai harta.

Demikian juga hukum yang diterapkan kepada orang yang mengadakan safar dari negerinya ke negeri orang dan dia ia tidak membawa bekal sedikitpun, maka ia berhak diberi bagian dari zakat yang sekiranya cukup untuk pulang dan pergi. Adapun dalilnya ialah ayat enam puluh surah at-Taubah dan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Ibnu Majah.

Dari Ma’mar dari Yasid bin Aslam, dari ‘Atha’ bin Yassar dari Abi Sa’id r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Zakat tidak halal bagi orang yang kaya, kecuali bagi lima (kelompok): (pertama) orang kaya yang menjadi amil zakat, (kedua) orang kaya yang membeli barang zakat dengan harta pribadinya, (ketiga) orang yang berutang; (keempat) orang kaya yang ikut berperang di jalan Allah, (kelima) orang miskin  yang mendapat bagian zakat, lalu dihadiahkannya kembali kepada orang kaya,”

 (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 7250, ‘Aunul Ma’bud V : 44 no : 1619, dan Ibnu Majah I: 590 no :1841). Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 439 – 448.

KRITERIA BUKAN PENERIMA ZAKAT

Golongan Yang Haram Menerima Zakat

Ada beberpa golongan yang tidak berhak (haram) menerima zakat dan tidak shah zakat jika diserahkan kepada mereka, antara lain sebagai berikut:

  1. Orang kafir atau musyrik (kecuali yang masuk dalam koridor asnaf 8)
  2. Orang tua dan anak termasuk ayah, ibu, kakek, nenek, anak kandung dan cucu laki-laki dan perempuan Istri, karena nafkahnya wajib bagi suami
  3. Orang kaya dan orang yang memiliki pekerjaaan dengan gaji kecukupan

Dari Abdullah Ibnu Umar bin al-Ash r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Zakat tidak halal bagi orang yang kaya dan tidak (pula) bagi orang yang sehat dan kuat,” 

(Shahih : Shahihul Jami’ no: 7251, Tirmidzi II: 81 no: 647, ‘Aunul Ma’bud V:42 no:1618, dan Abu Hurairah meriwayatkannya lihat Ibnu Majah I:589 no: 1839 dan Nasa’i V:39).

  1. Keluarga Rasulullah saw yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Berdasarkan hadist yang diriwayatkan dari Abdul Muttalib bin Rabiah bin Harks, sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya shadaqah (zakat) itu adalah kotoran manusia, sesungguhnya ia tidak halal (haram) bagi Muhammad dan bagi sanak keluarganya. (HR Muslim)

BENTUK ZAKAT DAN BESARAN

zakatberas

  1. ZAKAT FITRAH

Individu wajib mengeluarkan zakat fitrah sebesar setengah sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ kismis, atau satu sha’ gandum (jenis lain) atau satu sha’ susu kering, atau yang semisal dengan itu yang termasuk makanan pokok, misalnya beras, jagung dan semisalnya yang termasuk makanan pokok. Di Indonesia telah disepakati ulama bahwa besaran zakat fitrah adalah 2.5 Kg/jiwa atau 3.5 liter beras.

(Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III:371 no: 1506, Muslim II:678 no:985, Tirmizi II: 91 no :668, ‘Aunul Ma’bud V:13 no:1601, Nasa’i  V:51 dan Ibnu Majah I:585 no:1829).

Bolehkah mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang, bukan beras?
Di kalangan ulama terjadi perbedaan pendapat mengenai boleh tidaknya. Salah satu ulama yang membolehkannya adalah Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Beliu beralasan karena pada zaman Nabi tidak semua orang dapat memiliki dinar, sekalipun mempunyai bahan pokok di rumahnya, karena keadaan waktu itu. Bahkan akses mereka untuk memperoleh bahan pokok jauh lebih mudah kala itu.  Dengan demikian, perintah Rasulullah untuk mengeluarkan zakat dengan bahan pokok waktu itu adalah sebuah kemaslahatan bagi umatnya, sehingga jika sekarang dikeluarkan pendapat bolehnya dengan dengan uang juga karena alasan kemaslahatan dimana uang jauh lebih mudah diperoleh, terlebih lagi di akhir bulan Ramadhan karena melonjaknya permintaan menyebabkan bahan pokok menjadi tidak mudah didapatkan.

JALAN TENGAH CARA ZAKAT FITRAH DENGAN UANG

Dengan berbagai ikhtilaf di kalangan ulama maka lebih lanjut al-fakir Kyai Syamsuddin memberikan jalan tengahnya secara bijak, yakni bagaimana cara membayar zakat dengan uang namun tidak keluar dari rel syareat. Adalah sebagai berikut ;

  1. Muzaki menuju ke tempat orang yang akan diberi zakatnya, kemudian menyampaikan maksudnya bahwa akan memberi zakat dengan uang,
  2. Kemudian muzaki terlebih dahulu melafazkan itiqod niat dihadapan mustahik tersebut begini : “Baca basmallah, lalu mengucapkan niat : “Niat ingsun tumbas uwos kangge mitrahi badan kulo lan keluarga kulo, lillahi ta’ala’/NIAT SAYA MEMBELI BERAS UNTUK FITRAHI DIRI SAYA, KELUARGA SAYA KARENA ALLAH TA’ALA.

(maka seyogyanya pihak mustahik sebelumnya telah menyanding/menyiapkan sekantong beras 2.5 kg/secukupnya sebagai simbolis akad dan uang yang untuk zakatnya diletakan diatas beras tersebut/serahkan pada mustahiknya)

  1. Setelah itu muzaki barulah meniatkan membayar zakat fitrahnya dihadapan mustahiknya. (untuk lebih afdhol si muzaki melafazkan niat zakat fitrahny sambil menyentuh beras simbolis tersebut).

Demikianlah cara bijak membayar zakat fitrah dengan uang tanpa ragu ragu, sebab sesungguhnya syareat islam sangat luwes tak perlu bersempit pikir dalam memaknai perbedaan kaul/pendapat para ulama besar. Sebab sabda Rasulullah SAW mengatakan bahwa “Ikhtilaf (perbedaan pendapat) ditengah umatku adalah rahmat”. Maka janganlah kita ngotot ngototan dalil secara sempit untuk mencari pembenaran atau memaksa orang untuk menuruti pemahaman diri sendiri.

Menghitung zakat fitrah –

Adapun nilainya, maka dihitung dari harga beras sebanyak 2,5 kg dari yang biasa dikomsumsi setiap hari. Misalnya saja harga beras per kg adalah Rp. 10.000 maka zakat yang harus dikeluarkan adalah Rp. 25.000 per orang. Jika ada 5 orang dalam satu keluarga, termasuk ayah, ibu dan anak yang masih kecil, maka wajib mengeluarkan Rp. 125.000.

Batasan Orang yang Wajib Menunaikan Zakat Fitrah :

Ulama berbeda pendapat tentang batasan orang yang wajib menunaikan zakat fitrah.

  1. Orang yang berkewajiban membayar zakat fitrah adalah mereka yang memiliki harta satu nishab, sebagaimana zakat mal. Ini adalah pendapat ulama Kufah.
  2. Orang yang wajib membayar zakat fitrah adalah mereka yang memiliki kelebihan makanan di luar kebutuhannya ketika hari raya, sekalipun dia tidak memiliki kelebihan harta lainnya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, diantaranya Az-Zuhri, As-Sya’bi, Ibnu Sirrin, Ibnul Mubarok, Imam As-Syafii, Imam Ahmad dan yang lainnya. (Ma’alim As-Sunan karya Al-Khithabi, 2/49).

Selanjutnya Al-Khithabi mengutip keterangan Imam As-Syafii, yang menjelaskan,

إذا فضل عن قوت المرء وقوت أهله مقدار ما يؤدي عن زكاة الفطر وجبت عليه

“Apabila makanan seseorang melebihi kebutuhan dirinya dan keluarganya, seukuran untuk membayar zakat fitrah, maka dia wajib mengeluarkan zakatnya.” (Ma’alim As-Sunan karya Al-Khithabi, 2/49).

Diantara dalil yang menguatkan pendapat mayoritas ulama adalah hadis dari Ibn Umar radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, kepada setiap budak atau orang merdeka, laki-laki atau wanita, anak maupun dewasa, dari kalangan kaum muslimin. (HR. Bukhari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah kepada seluruh kaum muslimin, tanpa pandang status. Baik kaya maupun miskin, lelaki maupun wanita. dan mereka yang sama sekali tidak memiliki harta, zakat fitrahnya ditanggung oleh orang yang menanggung nafkahnya.

Sebagai contoh untuk memperjelas keterangan di atas, misalnya si A memiliki 1 istri dan 5 anak. Malam hari raya, si A hanya memiliki beras ‘raskin’ 10 kg dan uang Rp 20 ribu. Apakah si A wajib membayar zakat fitrah?

Analisis:

Contoh, kebutuhan si A dan keluarga dalam sehari menghabiskan 3 Kg beras + lauk pauk senilai 15 ribu. Itu artinya, si A pada saat hari raya memiliki sisa beras 7 kg, dan uang Rp. 5 ribu.

Berdasarkan pendapat mayoritas ulama dan keterangan As-Syafii, si A tetap wajib zakat. Karena si A memiliki sisa makanan yang cukup untuk dirinya dan keluarganya pada saat hari raya. Beras 7 kg sisa di tangan si A, harus dibayarkan untuk zakat fitrah untuk dirinya dan keluarganya.

KEWAJIBAN ZAKAT LAIN DILUAR ZAKAT FITRAH (Zakat Maal)

Aturan zakat fitrah berbeda dengan aturan zakat mal. Sebagaimana aturan zakat mal juga berbeda dengan aturan zakat pertanian atau zakat hewan ternak. Karena itu, kita tidak mengqiyaskan (menyamakan) aturan zakat fitrah dengan aturan yang berlaku pada zakat mal atau zakat pertanian.

Pada aturan zakat mal, orang yang wajib menunaikan zakat adalah mereka yang memiliki harta satu nishab, tabungan senilai 85 gr emas (sekitar Rp 50 juta) dan telah tersimpan selama setahun. Dengan kata lain, orang yang berkewajiban menunaikan zakat mal hanya orang yang mamp/kaya.

Maka kesimpulannya adalah bahwa Zakat secara umum diwajibkan atas setiap muslim yang merdeka dan memiliki harta benda yang sudah memenuhi nishab dan telah melewati satu tahun (haul ialah putaran setahun bagi harta yang wajib dikeluarkan zakatnya,  kecuali tanaman, harus dikeluarkan zakatnya pada waktu panennya, bila sudah memenuhi nishabnya (Batas minimal jumlah harta yang dikenai wajib zakat) Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT, “Dan Keluarkanlah zakatnya pada hari panennya.” (QS.Al-An’am:141)

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 419 – 426

Berikut yang wajib dikeluarkan zakatnya yang lain ialah emas dan perak, tanaman, buah-buahan, binatang ternak, dan harta rikaz.

emasperak

  1. Zakat Emas dan Perak
  1. .1.Nishab dan besarnya zakat

Nishab emas adalah dua puluh dinar, dan nishab perak dua ratus Dirham, sedangkan besar zakat keduanya adalah 2 ½ %, sebagaimana yang ditegaskan dalam riwayat berikut.

Dari Ali bin Abi Thalib r.a. dari Nabi saw. bersabda, “Jika kamu memiliki dua ratus dirham dan sudah sampai haul, maka zakatnya lima dirham, dan kamu tidak wajib mengeluarkan zakat yaitu dari emas sebelum kamu memiliki dua puluh dinar. Jika kamu memiliki dua puluh dinar dan sudah sampai haul, maka zakatnya ½ saw. dinar.” (Shahih: Shahih Abu Daud no: 1319, dan ‘Aunul Ma’bud IV: 447 no: 1558).

  1. Zakat Perhiasan

Zakat perhiasan adalah wajib berdasar keumuman ayat dan hadits-hadits; dan orang yang mengeluarkannya dari keumuman tersebut sama sekali tidak memiliki alasan yang kuat, bahkan  banyak nash-nash yang bersifat khusus yang bertalian dengan zakat perhiasan ini, di antaranya :

Dari Ummu Salamah r.a. berkata; Saya pernah memakai kalung emas. Kemudian saya bertanya, “Ya Rasulullah, apakah ini termasuk simpanan (yang terlarang)?” Maka jawab beliau, “Apa-apa yang sudah mencapai wajib zakat, lalu telah dizakati maka dia tidak termasuk (dinamakan) simpanan (yang terlarang).”

(Hasan: Shahihul Jami’us Shaghir no:5582, As Shahihah no:559, ‘Aunul Ma’bud IV:426 no: 1549, dan Daruquthni II: 105).

Dari Aisyah r.a. ia berkata, (Pada suatu hari) Rasulullah saw. mendatangiku, lalu melihat beberapa cincin perak, dijariku, kemudian beliau bertanya, “Apa itu, wahai Aisyah?” Saya jawab, “Saya buat cincin ini sebagai perhiasan di hadapanmu, ya Rasulullah.” Sabda beliau, “Apakah engkau sudah mengeluarkan zakatnya?” Jawab saya, “Belum, atau ‘masya Allah” Rasulullah menjawab selanjutnya, “Cukuplah dia yang dapat menjerumuskanmu ke neraka.” 

(Shahih: Shahih Abu Daud no: 1384, ‘Aunul Ma’bud IV: 427 no: 1550, dan Daruquthni II: 105).

2.Zakat Tanaman dan Buah-buahan :

Dalam hal ini Allah SWT berfirman, “Dan Dialah yang telah menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanaman-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun, dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu), bila dia telah berbuah dan tunaikanlah haknya di hari (panen), memetik hasilnya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”  (Al-An’am:141).

  1. Tanaman-tanaman dan buah-buahan yang terkena wajib zakat hanya ada empat macam. Berdasar hadits dari Abi Burdah dari Abu Musa dan Mu’adz r.a. bahwa Rasulullah saw. pernah mengutus keduanya ke Yaman menjadi da’i di sana, lalu beliau memerintah mereka agar tidak memungut zakat, kecuali dari empat macam ini: gandum sya’ir (sejenis gandum lain), kurma kering, dan anggur kering.” (Shahih: ash-Shahihah no: 879, Mustadrak Hakim I:401, dan Baihaqi IV:125).
  2. Nishabnya: Tanaman dan buah-buahan yang terkena wajib zakat disyaratkan sudah memenuhi nishab yang disebutkan dalam hadits ini.

Dari Abu Sa’id al-Khudri  r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,“Tidak ada zakat pada unta yang kurang dari lima ekor, tidak ada zakat pada perak yang kurang dari lima uqiyah”. 

(Ibnu Hajar berkata, “Kadar satu uqiyah yang dimaksud dalam hal ini ialah empat puluh Dirham dari perak murni, demikian menurut kesepakatan para ulama’) dan tidak ada zakat pada buah-buahan yang kurang dari lima wasaq.” (Lima wasaq ialah enam puluh sha’, menurut ittifaq para ulama’),

Fathul Bari III:364). (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III: 310 no: 1447 dan lafadz ini baginya, Muslim II: 673 no:979, Tirimidzi II:69 no: 622, Nasa’i. V:17 dan Ibnu Majah I: 571 no:1793).

  1. Besar zakat yang wajib dikeluarkan :

Dari Jabir r.a. dari Nabi saw. bersabda, “Tanaman yang dapat air dari sungai dan dari hujan, zakatnya 10%, sedangkan yang diairi dengan bantuan binatang ternak 5%.”

(Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:4271 Muslim II:675 no:981 dan lafadz ini baginya, ‘Aunul Ma’bud IV:486 no:1582, dan Nasa’i V:42).

Dari Ibnu Umar r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, “Tanaman yang diairi oleh hujan, atau oleh mata air, atau merupakan rawa, zakatnya sepersepuluh, dan yang diairi dengan bantuan binatang zakatnya seperduapuluh.”

(Shahih: Shahihhul Jami’us Shaghir no: 427, Fathul Bari III: 347 no: 148333 dan lafadz ini baginya, ‘Aunul Ma’bud IV:485 no:1581, Tirmidzi II:76 no: 635, Nasa’i IV:41 dan Ibnu Majah I: 1817).

  1. Penentuan besar nishab dan zakat untuk kurma dan anggur secara taksiran :

Dari Abu Humaid as-Sa’idi r.a. ia bertutur : “Kami pernah ikut perang Tabuk bersama Rasulullah saw., tatkala sampai di Wadil Qura, tiba-tiba ada seorang perempuan pemilik kebun tanga berada di kebunnya, lalu beliau bersabda kepada para sahabatnya, “Coba kalian taksir (berapa besar zakat kebun ini!” Rasulullah saw. (sendiri) menaksir (besar zakatnya) 10 wasaq. Kemudian Rasulullah bersabda kepada perempuan pemilik kebun itu, “Coba kau hitung (lagi) berapa zakat yang harus dikeluarkan darinya!” Tatkala Rasulullah saw. datang (lagi) ke Wadil Qura, Rasulullah bertanya kepada perempuan itu, “Berapa besar zakat yang dikeluarkan dari kebunmu itu?” Jawabnya, “10 wasaq sebagaimana yang diprediksi oleh Rasulullah SAW.”

(Shahih: Shahih Abu Daud no: 2644, dan Fathul Bari III: 343 no: 1481).

Dari Aisyah r.a. ia bercerita, “Adalah Rasulullah saw. pernah mengutus Abdullah bin Rawahah r.a. untuk menaksir kurma waktu sudah tua sebelum dimakan. Kemudian agar memberi pilihan kepada orang-orang Yahudi, antara para amil zakat memungutnya dengan taksiran itu, dengan mereka menyerahkan hasilnya kepada para amil agar dihitung zakatnya sebelum dimakan dan dipisahkan hasilnya.” (Hasan Lighairihi: Irwa-ul Ghalil  no: 805 dan ‘Aunul Ma’bud IX: 276 : 3396).

3.Zakat Binatang Ternak :

Binatang ternak yang dimaksud disini terdiri atas unta, sapi, dan kambing.

  1. Zakat unta (penjabaran ada di kitab pustaka)
  2. Nishab dan besar zakat sapi

Dari Mu’adz bin Jabal r.a. ia berkata, “Aku pernah diutus oleh Rasulullah saw. ke negeri Yaman dan diperintahkan olehnya untuk memungut zakat sapi, dari setiap empat puluh ekor, zakatnya satu ekor sapi betina yang berumur dua tahun, dan dari tiap tiga puluh ekor, zakatnya satu ekor sapi jantan atau betina yang berumur setahun.”

(Shahih : Shahih Abu Daud no: 1394, Tirmidzi II :68 no: 619, ‘Aunul Ma’bud IV:475  no: 1561, Nasa’i  V:26, dan Ibnu Majah I:576 no:1803 dan lafadz ini terekam dalam Sunan Ibnu Majah; di selainnya terdapat tambahan di bagian akhir).

  1. Nishab dan besar zakat kambing :

Dari Anas r.a. bahwa Abu Bakar r.a. pernah menulis sepucuk surat kepadanya perihal penjelasan zakat wajib yang Allah perintahkan kepada Rasul-Nya (dalam hal zakat kambing yang isinya sebagai berikut), “Kambing yang digembalakan, bila jumlah mencapai empat puluh ekor sampai dengan seratus dua puluh ekor, zakatnya seekor kambing. Jika mencapai seratus dua puluh satu ekor sampai dengan dua ratus ekor, zakatnya dua ekor kambing. Jika sudah mencapai dua ratus lebih sampai dengan tiga ratus, maka zakatnya tiga ekor. Jika sudah mencapai tiga ratus lebih, maka dalam setiap seratus ekor, zakatnya seekor kambing. Manakala kambing yang mencuri makan sendiri itu kurang dari empat puluh ekor, maka pemiliknya tidak wajib mengeluarkan zakat, kecuali kalau ia mau (mengeluarkan sedekah sunnah).”

(Shahih : Shahih Abu Daud no: 1385, Fathul Bari III:317 no: 1454 dan III:316 no: 1453, ‘Aunul Ma’bud IV:431 no: 1552, dan Nasa’i  V:18, Ibnu Majah I:575 no:1800).

  1. Syarat-syarat wajibnya zakat pada binatang ternak :
  2. Mencapai nishab,
  3. Sudah berlalu satu tahun.

Rasulullah saw. bersabda, “Tiada zakat bagi harta benda yang belum mencapai haul (satu tahun).”

(Shahih : Shahihul Jami’ no: 7479, Ibnu Majah I: 571 no: 1792, Daruquthni II: 90 no: 3 dan Baihaqi IV:103).

  1. Hendaknya ternak yang digembalakan di padang rumput yang memang bebas dimanfa’atkan oleh siapa saja, selama setahun (atau lebih dari enam bulan). Ini didasarkan pada sabda Nabi saw. yang artinya,“Kambing yang digembalakan, bila jumlahnya mencapai empat puluh ekor sampai dengan seratus dua puluh, maka zakatnya seekor kambing.” (Hadits ini merupakan bagian dari hadits yang berisi surat Abu Bakar kepada Anas, yang telah dimuat pada beberapa halaman sebelumnya).

Dan Rasulullah saw. juga bersabda yang artinya, “Dalam setiap unta yang cari makan sendiri, yaitu pada setiap empat puluh ekor, zakatnya seekor unta anak betina yang berumur dua tahun masuk tahun ketiga.”

 (Hasan : Shahihul Jami’us Shaghir no: 4265, ‘Aunul Ma’bud IV:452 no: 1560, Nasa’i V:25, dan al-Fathur Rabbani VIII:217 no:28).

  1. Harta yang tidak dipungut zakatnya :

Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw. tatkala mengutus Mu’adz ke negeri Yaman berwasiat kepadanya, “(Wahai Mu’adz), janganlah kamu memungut zakat dari harta benda mereka yang dianggap mulia (oleh mereka),” (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III : 357 no: 1496, Muslim I:50 no19, Tirmidzi II:69 no: 261 dan ‘Aunul Ma’bud IV:467 no: 1569, serta Nasa’i V: 55).

Dari Anas r.a. bahwa Abu Bakar saw. pernah menulis surat kepadanya (tentang penjelasan) zakat fardhu, yang Allah perintahkan kepada Rasul-Nya (yang diantara isinya), “Janganlah dikeluarkan zakat berupa binatang yang sudah tua, juga yang cacat dan jangan (pula) yang jantan, kecuali jika dikehendaki oleh orang yang mengeluarkan zakat itu.” (Imam pencatat hadits ini sama dengan riwayat Anas r.a.).

  1. Hukum ternak yang bercampur :

Apabila ada dua orang atau lebih yang mengadakan serikat dari orang-orang yang terkena wajib zakat, sehingga bagian seorang diantara keduanya tidak dapat dipisahkan / dibedakan dari bagian yang lain, maka cukup bagi mereka untuk mengeluarkan zakat seperti untuk satu orang. Sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits berikut.

Dari Anas r.a. bahwa Abu Bakar pernah menulis sepucuk surat kepadanya (tentang penjelasan) zakat fardhu yang telah Allah perintah kepada Rasul-Nya (diantara isinya ialah),

“Tidaklah dikumpulkan antara harta yang terpisah, dan tiada pula dipisahkan antara harta yang terkumpul, karena khawatir mengeluarkan zakatnya. Dan manakala ada dua pencampur ternak, maka keduanya kembali sama-sama berzakat.” (Imam pencatat hadits ini sama dengan riwayat Anas ra).

4.Zakat Barang Galian

Rikaz, barang galian ialah harta karun yang didapat tanpa niat mencari harta terpendam dan tidak perlu bersusah payah.

Zakat dari rikaz ini harus segera dikeluarkan, tanpa dipersyaratkan haul (melewati setahun) dan tidak pula nishab. Berdasarkan keumuman sabda Nabi saw., “Dalam barang rikaz itu ada zakat (yang harus dikeluarkan) sebanyak seperlima bagian (20%).”

(Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari III:364 no:1499, Muslim III:1334 no:1710, Tirmidzi II:77 no:637, Nasa’i  IV:45 dan Ibnu Majah II:839 no:2509 serta ‘Aunul Ma’bud VIII:341 no:3069. Dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan dengan panjang lebar, namun dalam riwayat selain keduanya hanya kalimat tersebut).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 426 – 438.

TATA CARA BERZAKAT

Niat zakat:

Setiap perbuatan harus didahulukan dengan niat. Begitu pula zakat harus diniati ketika akan mengeluarkannya/melaksanakannya. Niat dapat dilafazkan dirumah saat ba’da terbenam matahari malam hari raya dengan menyentuh/menyanding barang yang akan dizakatkan, kemudian dapat diserahkan kepada yang akan dituju saat ba’da maghrib atau esok hari sebelum shalat ied (untuk zakat fitrah) tanpa melafazkan niat lagi, atau niat sekalian menyerahkan zakatnya juga boleh. Berikut tata caranya :

  1. Dahulukan mengucapkan ta’awudz dan basmallah
  2. Bacaan Doa Niat Zakat Fitrah untuk diri sendiri dan keluarga :

niat1

“Nawaitu an uhrija zakatal fitri ‘anna wa ‘an jami’i maa yaddzamuni nafqutuhum syar’an fardzo lillahi ta’ala”.

Artinya : ” Saya niat mengeluarkan zakat atas diri saya dan atas sekalian yang saya wajibkan memberi nafkah pada mereka secara syari’at, fardhu karena Allah ta’ala”.

3.Bacaan Doa Niat Zakat Fitrah untuk diri sendiri :

niatzakat2

“Nawaitu an ahroja zakat fitri annafsi fardholillahi ta’ala”

Artinya : “saya berniat mengeluarkan zakat fitrah atas diri sendiri saya sendiri, fardhu karna Allah Ta’ala.

4.Bacaan Doa Niat Zakat Fitrah untuk istri 

niat-zakat-fitrah-istri

 “Nawaitu an-uhrizakat fitri an zaw jati fardzolillahita ‘ala”.

Artinya : “Saya berniat mengeluarkan zakat fitrah atas istri saya, fardhu karena Allah Ta’ala.

5.Bacaan Doa Niat Zakat Fitrah untuk anak laki-laki kita :

niatzakat3

“Nawaitu an uhrija zakat fitri ‘an waladi (…..) fardzolillahi ta’ala”.

Artinya : “Saya berniat mengeluarkan zakat fitrah atas anak laki-laki saya (sebut namanya) fardhu karena Allah Ta’ala”.

6.Bacaan Doa Niat Zakat Fitrah untuk anak perempuan kita :

niatzakat4

“Nawaitu an uhrija zakat fitri ambinti (…….) fardzolillahita’ala”.

Artinya : “Saya berniat mengeluarkan zakat fitrah atas anak perempuan saya (sebut namanya), fardhu karena Allah ta’ala”.

7.Bacaan Doa Niat Membayar dan Menerima Zakat Fitrah :

Dalam melakukan zakat fitrah terdapat serah terima antara pemberi dan penerima zakat yang disertai dengan doa kedua belah pihak antara lain sebagai berikut :

A.Bacaan Doa Membayar Zakat Fitrah

doabayarzakat

Allahumma j’alhaa maghnaman, walaa taj’alhaa maghraman”.

Artinya : “Ya Allah jadikanlah ia sebagai simpanan yang menguntungkan dan jangan jadikanlah ia pemberian yang merugikan”.

B.Bacaan Doa Menerima Zakat Fitrah 

doa trima zakat

“AAJAROKALLAAHU FIIMAA A’THOITA WABAAROKA FIIMAA ABQOITA WAJA’ALAHU LAKA THOHUURON”.

Artinya : Semoga Allah memberi pahala atas apa yang telah kau berikan, menjadikannya penyuci (jiwa dan harta) untukmu, dan melimpahkan berkah terhadap harta yang tersisa”.

BABUL ‘AWAMIL FIZZAKATI

amilzakat

  1. PENGELOLAAN ZAKAT OLEH ‘AMIL BERWENANG

(‘Amil yang sebenarnya adalah bukan petugas yang dibentuk secara situasional oleh pengurus lokal mesjid untuk membagi bagikan zakat di tengah masyarakat, itu bukan amil secara syar’i tetapi merupakan panitia lokal temporer/wakil dari muzaki).

“Wal’amilu huwa man yab’atsuhu al imamu la akhdi zakati kasya’i wal hasyiri wal qashimi walkatibi wal hashibi wal hafidzi waghoiri dalika wa izadu fihim biqadril hajati a’wajuhum fi ‘aunil ‘ariif”.

Yang namanya ‘amil adalah kelompok orang petugas yang diutus/ditunjuk oleh pemuka Islam/penguasa resmi / presiden (pemerintah) untuk bertugas mengumpulkan zakat kemudian membagikannya kepada mustahik.

  1. HUKUM MEMBENTUK ‘AMIL

Dalil mu’tamad dari para ulama :

“Waqolaa ba’duhum lahu shorfu zakatihi fi ayyi mahaalin fahshushun wahual mu’tamal”.(Reff:Babul Ikhtilafi Qishmizzakati-Kyai Syamsuddin-shahifah 50).

Hukum dasar melaksanakan mengeluarkan zakat adalah individual, artinya setiap jiwa wajib zakat bebas menyerahkan sendiri / langsung kepada mustahik baik pada tetangga maupun saudaranya sendiri yang masuk dalam katagori penerima.

Oleh karena itu membentuk ‘Amil/panitia pengumpul zakat hukumnya tidak wajib, kecuali karena lingkup suatu negeri serta keadaan kebutuhan masyarakatnya yang memang mengharuskannya.

Selama ini banyak terjadi salah paham atau pemahaman yang salah kaprah ditengah masyarakat/umat tentang pengertian ‘Amil zakat. Pembentukan ‘Amil Zakat hukumnya diangkat oleh otoritas penguasa muslim/Imam besar/pemerintah.

  1. Pengertian ‘Amil, SKOUP dan WEWENANG
  1. Pengertian Amil

Amil merupakan pihak yang bertindak mengerjakan yang berkaitan dengan pengumpulan, penyimpanan, penjagaan, pencatatan dan penyaluran atau distribusi harta zakat. Mereka diangkat oleh penguasa (pemerintah) dan memperoleh izin darinya atau dipilih oleh instansi pemerintah yang berwenang atau oleh masyarakat Islam untuk memungut dan membagikan serta tugas lain yang berhubungan dengan zakat.

خُذْ مِنْ أموالهم صَدَقَةً

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka” (QS at Taubah:103).
Sehingga dengan kalimat “Ambillah” pada ayat di atas adalah dalil tegas yang menunjukkan bahwa penguasalah yang memiliki kewenangan untuk mengambil harta zakat. Sebab tidak mungkin masyarakat umum yang akan mengambilnya secara liar. Kemudian penegasannya lagi bahwa ayat ini turun ketika Islam telah memiliki pemerintahan solid di bawah kepemimpinan (Presiden) Rasulullah SAW.

Berikut berbagai fatwa ulama :

  1. H. D Hafidhuddin-Indonesia mengatakan bahwa amil zakat adalah “mereka yang melaksanakan segala kegiatan yang berkaitan dengan urusan zakat, mulai dari proses penghimpunan, penjagaan, pemeliharaan, sampai proses pendistribusiannya, serta tugas pencatatan masuk dan keluarnya dana zakat tersebut.”[1]
  1. Abu Bakar al-Hushaini di dalam Kifayat al-Akhyar, mengatakan bahwa Amil Zakat adalah “orang yang mendapatkan tugas dari negara, organisasi, lembaga atau yayasan untuk mengurusi zakat. Atas kerjanya tersebut seorang amil zakat berhak mendapatkan jatah dari uang zakat. “Amil Zakat adalah orang yang ditugaskan pemimpin negara untuk mengambil zakat kemudian disalurkan kepada yang berhak, sebagaimana yang diperintahkan Allah.“[2]

Dasar  hak amil dalam pembagian zakat adalah firman Allah :

Artinya   : “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. at-Taubah : 60).[3]

Ayat ini dengan jelas menggunakan kata “innama” yang memberi makna hashr (pembatasan). Ini menunjukkan bahwa zakat hanya diberikan untuk delapan golongan tersebut, tidak untuk yang lainnya. Yang dimaksudkan amil zakat di sini menurut tafsiran para ulama adalah adalah “orang yang bertugas mengurus zakat dan ia mendapat bagian dari zakat tersebut dan tidak boleh amil zakat ini berasal dari kerabat (keluarga) Rasulullah SAW yang tidak diperkenankan menerima sedekah.” [4]

Namun sebenarnya tidak sesederhana seperti yang diterangkan di atas. Amil zakat harus memenuhi beberapa syarat sebagaimana keterangan para ulama di bawah ini.

  1. Sayyid Sabiq mengatakan, “Amil zakat adalah orang-orang yang diangkat oleh penguasa atau wakil penguasa untuk bekerja mengumpulkan zakat dari orang-orang kaya. Termasuk amil zakat adalah “orang yang bertugas menjaga harta zakat, penggembala hewan ternak zakat dan juru tulis yang bekerja di kantor amil zakat.”[5)
  1. ‘Adil bin Yusuf Al ‘Azazi berkata, “Yang dimaksud dengan amil zakat adalah “para petugas yang dikirim oleh penguasa untuk mengumpulkan zakat dari orang-orang yang berkewajiban membayar zakat. Demikian pula termasuk amil adalah orang-orang yang menjaga harta zakat serta orang-orang yang membagi dan mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Mereka itulah yang berhak diberi zakat meski sebenarnya mereka adalah orang-orang yang kaya.”[6]
  1. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Amil zakat adalah “orang-orang yang diangkat oleh penguasa untuk mengambil zakat dari orang-orang yang berkewajiban untuk menunaikannya lalu menjaga dan mendistribusikannya. Mereka diberi zakat sesuai dengan kadar kerja mereka meski mereka sebenarnya adalah orang-orang kaya.”[7]

Sedangkan orang biasa yang menjadi wakil orang yang berzakat untuk mendistribusikan zakatnya bukanlah termasuk amil zakat. Sehingga mereka tidak berhak mendapatkan harta zakat sedikitpun disebabkan status mereka sebagai wakil. Akan tetapi jika mereka dengan penuh kerelaan hati mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan penuh amanah dan kesungguhan maka mereka turut mendapatkan pahala. Namun jika mereka meminta upah karena telah mendistribusikan zakat maka orang yang berzakat berkewajiban memberinya upah dari hartanya yang lain bukan dari zakat.

Dengan demikian, orang yang diberi zakat dan diminta untuk membagikan kepada yang berhak menerimanya, ia tidak disebut ‘amil. Bahkan statusnya hanyalah sebagai wakil atau orang yang diberi upah. Perbedaan antara amil dan wakil begitu jelas. Jika harta zakat itu rusak di tangan amil, maka si muzakki (orang yang menunaikan zakat) gugur kewajibannya. Sedangkan jika harta zakat rusak di tangan wakil yang bertugas membagi zakat (tanpa kecerobohannya), maka si muzakki belum gugur kewajibannya.”[8]

Berdasarkan paparan di atas jelaslah bahwa syarat agar bisa disebut sebagai ‘amil zakat adalah:

(1) Diangkat dan

(2) Diberi otoritas (kuasa) oleh penguasa muslim/pemerintah untuk mengambil zakat dan mendistribusikannya.

Sehingga panitia-panitia zakat yang ada di berbagai masjid serta orang-orang yang mengangkat dirinya sebagai amil bukanlah amil secara syar’i. Hal ini sesuai dengan istilah ‘amil karena yang disebut ‘amil adalah pekerja yang dipekerjakan oleh pihak tertentu serta memiliki otoritas untuk mengambil dan mengumpulkan zakat adalah sebuah keniscayaan bagi ‘amil karena ‘amil memiliki kewajiban untuk mengambil zakat secara paksa dari orang-orang yang menolak untuk membayar zakat.

Namun demikian, tidaklah tepat menyatakan takmir (pengurus) masjid sebagai ‘amil zakat, yang tepat mereka adalah wakil dari muzakki sebagaimana keterangan para ulama di atas. Sehingga mereka tidak boleh seenaknya memotong atau mengambil bagian dari zakat dari para muzakki. Jika mereka memotongnya, itu sama saja memakan harta orang dengan cara yang batil. Jadi hanya sekedar menyalurkan dan pekerjaan mereka bersifat sosial. Untuk itu, perlu diberikan upah, tidak diambil dari harta zakat namun dari dana lainnya.

2.Fungsi Amil

Sesuai dengan namanya, profesi utama amil zakat adalah berfungsi sebagai pengurus zakat. Jika dia memiliki pekerjaan lain, maka dianggap pekerjaan sampingan atau sambilan yang tidak boleh mengalahkan pekerjaan utamanya yaitu ‘amil zakat. Karena waktu dan potensi, serta tenaganya dicurahkan untuk mengurusi zakat tersebut, maka dia berhak mendapatkan bagian dari zakat.

Adapun jika dia mempunyai profesi tertentu, seperti dokter, guru, direktur perusahaan, pengacara, pedagang, yang sehari-harinya bekerja dengan profesi tersebut, kemudian jika ada waktu, dia ikut membantu mengurusi zakat, maka orang seperti ini tidak dinamakan ‘amil zakat, kecuali jika dia telah mendapatkan tugas secara resmi dari Negara atau lembaga untuk mengurusi zakat sesuai dengan aturan yang berlaku. “Bahkan jika ada gubernur, bupati, camat, lurah yang ditugaskan oleh pemimpin Negara untuk mengurusi zakat, diapun tidak berhak mengambil bagian dari zakat, karena dia sudah mendapatkan gaji dari kas Negara sesuai dengan jabatannya.”[9]

Dasar pengangkatan ‘amil zakat ini adalah hadits Abu Humaid as-Sa’idi :

Dari Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu berkata : Nabi shallallahu a’laihi wasallam memperkerjakan seorang laki-laki dari suku al-Azdi yang bernama Ibnu Lutbiah sebagai pemungut zakat. Ketika datang dari tugasnya, dia berkata: “Ini untuk kalian sebagai zakat dan ini dihadiahkan untukku”. Beliau bersabda : “Cobalah dia duduk saja di rumah ayahnya atau ibunya, dan menunggu apakah akan ada yang memberikan kepadanya hadiah? Dan demi Dzat yag jiwaku di tangan-Nya, tidak seorangpun yang mengambil sesuatu dari zakat ini, kecuali dia akan datang pada hari qiyamat dengan dipikulkan di atas lehernya berupa unta yang berteriak, atau sapi yang melembuh atau kambing yang mengembik”. Kemudian beliau mengangkat tangan-nya,  sehingga terlihat oleh kami ketiak beliau yang putih dan (berkata,): “Ya Allah bukan kah aku sudah sampaikan, bukankah aku sudah sampaikan”, sebanyak tiga kali. [10]

Berdasarkan hadist di atas, amil zakat ini harus diangkat secara resmi oleh Negara,  organisasi, lembaga, yayasan. Tidak boleh sembarang bekerja secara serabutan dan tanpa pengawasan.

Tugas ‘Amil sebagai berikut :

  1. Membuat rencana kerja
  2. Melaksanakan operasional pengelolaan zakat sesuai rencana kerja yang telah disahkan dan sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan.
  3. Menyusun laporan tahunan
  4. Menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada pemerintah
  5. Bertindak dan bertanggungjawab atas nama Badan Amil Zakat.[11]

Salah satu tugas penting lain dari lembaga pengelola zakat adalah melakukan sosialisasi tentang zakat kepada masyarakat secara terus-menerus dan berkesinambungan, melalui berbagai forum dan media, seperti khutbah jum’at, majelis tak’lim, seminar, diskusi dan lokakarya, melalui media surat kabar, majalah, radio, internet maupun televisi. Dengan sosialisasi yang baik dan optimal, diharapkan masyarakat muzakki akan semakin sadar untuk membayar zakat melalui lembaga zakat yang kuat, amanah dan terpercaya.

4.LINGKUP/WEWENANG ‘AMIL DALAM MENARIK ZAKAT

baznas

“Walau farroqul malikazzakati shaqoto shahmul ‘amil”. (Fathul mu’in-shahifah 53)

“Ketika telah memisahkan siapa orang (orang yang berzakat) atas zakatnya, maka gugurlah bagian (wewenang) ‘amil”.

Maksud dalil ini adalah :

Ketika seseorang telah berniat mengeluarkan zakatnya kemudian telah menujukan/memisah misahkan barang zakat tersebut untuk orang orang yang dipilihnya sendiri diluar golongan ‘amil, maka ‘amil/panitia nashruf dilarang mencabut atau memaksa mengalihkan serta mengambil zakat orang tersebut. Maka itu menjadi haram.

BERBAGAI BIDANG TUGAS ‘AMIL YANG NAMANYA SEBAGAI BERIKUT :

  1. SHA’I adalah orang yang berkeliling menarki zakat
  2. HASHR orang yang mengumpulkan barang zakat
  3. QOSHIM orang yang mendistribusikan zakat
  4. KATIB adalah orang yang mencatat/menulis lalulintas barang zakat, dari awal hingga akhir.
  5. HASHIB adalah orang yang menghitung/mengkalkulasi/mengatur manajemen zakat ,ia ahli hukum dengan kecakapan mampu mengatur segalanya dengan benar.
  6. HAFIDH adalah orang yang menjaga/mengawasi benda zakat, baik yang berupa uang, padi/beras, perhiasan maupun yang berupa ternak.

JALAN TENGAH / SOLUSI BIJAK JIKA HENDAK MEMBENTUK PANITIA PENGELOLA ZAKAT (Wakil Muzaki) DI MASYARAKAT LOKAL /Masjid masjid.

amil2

Lebih lanjut Kyai Syamsuddin memberikan fatwanya :

“wonten ing meriki perlu kulo caosi dalan tengah ingkang leres menggah hukum Islam supados boten menyalahi hukumipun Gusti Allah”.(Dalam lembar “Babun Nashrofizzakati” – shahifah 52).

Tarjamah: “Oleh karena itu maka saya berikan jalan tengah secara bijak menurut hukum islam agar kita tidak melanggar hukum hukum Alloh’.

Berikut uraian praktek sederhananya :

  1. Imam/Kyai setempat atau kuasanya memanggil santri santri senior, takmir masjid, tokoh tokoh masyarakat, perangkat desa/kaum dan lainnya yang berkapasitas untuk bermusyawarah merencanakan membentuk panitia kecil mengurus/pengumpul zakat.
  2. Setelah terbentuk panitianya sesuai kaidah kaidah syar’i/telah memenuhi syarat agama, maka pengurus tersebut segera bekerja dengan memberikan informasi/pengumumam kepada warga masyarakat bahwa panitia pengumpul zakat telah sedia/ada.
  3. Imam/Kyai setempat atau kuasanya dan Panitia zakat mempunyai kewajiban moral untuk memberikan nasehat, pengajian/pengetahuan tentang zakat fitrah, zakat lainnya yang benar/cukup sesuai syareat agama kepada umat/masyarakat, agar umat/masyarakat mengetahui/memahami hak dan kewajiban, tatacara maupun lingkup seputar zakat fitrah serta berbagai permasalahannya.
  4. Kemudian panitia nashruf/pengumpul zakat tersebut juga harus mengadakan sarana penunjang kerjanya seperti tersedianya kantor, gudang, area tamu serta sarana lainnya.
  5. Panitia nashruf/pengumpul zakat harus membagi bidang tugas masing masing.sesuai keahliannya.
  6. Dalam hal kinerja, maka panitia nashruf/pengumpul zakat tidak dibenarkan menghalangi /menekankan/membujuk masyarakat/muzaki untuk memberikan zakat fitrahnya pada golongan tertentu atau memaksa untuk menyalurkan kepada panitia zakat atau pada ‘amil resmi. Kecuali sekedar memberi informasi tentang siapa saja orang orang yang berhak/patut menerima zakat dilingkungan itu.
  7. Dalam hal menyalurkan zakat maka panitia nashruf/pengumpul zakat harus adil artinya adil bukan samarata tetapi bijak menurut keadaannya sehingga dalam menyalurkan zakat maka jangan melihat si A si B nya sudah banyak dapat hingga tidak dibagi lagi, tidak demikian dan sebagainya.
  8. Dalam hal pembagian untuk personil/pengurus/ panitia nashruf/pengumpul zakat sendiri maka tidak dibenarkan mengambil jatahnya dari barang zakat para mustahik, tetapi mengambil dari dana/kas masjid atau dari penyumbang pribadi. Sebab telah diuraikan diatas bahwa secara syar’i panitia nashruf/pengumpul zakat temporer adalah bukan ‘amil dan diluar golongan penerima zakat. Maka apa yang dijatahkan merupakan upah kerja sosialnya.
  1. SYARAT BERAT MENJADI ‘AMIL / PANITIA PENYALUR ZAKAT

1).Islam 2).Mukalaf 3). Merdeka, tanpa tekanan 4). Adil,  amanah, jujur 5). Tengin/peka/tidak tuli 6). Awas,  Memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas 7). Ahli fiqih (Mengerti dan memahami hukum-hukum zakat) 8). Pria berpengetahuan (tidak bodoh).

Dengan delapan persyarat yang telah diurai tersebut maka yang harus menjadi perhatian bagi para pembentuk ‘amil/pengurus/ panitia nashruf/pengumpul zakat adalah :

Bahwa semua orang mungkin mampu memenuhi syarat keislamannya, mukalafnya, kemerdekaannya, namun mampukah memenuhi syarat adil, peka dan ahli fiqih?

KESIMPULAN

Maka secara hakekat bahwa zakat merupakan program tandingan dari Allah swt untuk melawan praktek praktek kapitalisme yang biasa dilakukan oleh golongan fasikin seperti praktek praktek riba yang telah diungkap dalam Al-qur’an surat Ar-Ruum:39 tersebut diatas.

Demikian risalah ini kami susun dan kami ketengahkan untuk jama’ah semuanya, semoga menjadi renungan dan manfaat.

Salam rahmatan lil ‘alamin

 

Prembun, 1 Ramadhan 1437

Senin, 6 Juni 2016,

Penulis/penyusun : Agus Sholech Al-Qadry

Dari :“RISALATU FI SYAHRU RAMADHAN”-karya Al-fakir Kyai Syamsuddin bin Mabrur bin Mahmud

Kelana Delapan Penjuru Angin

CopyRights@2016,

Web:http://www.kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com
Email:kelanadelapanpenjuruangin@gmail.com
Contact us: +6288808064118

Maraji’ (Daftar Pustaka):

Maraji’ (Daftar Pustaka):
1. “RISALATU FI SYAHRU RAMADHAN” karya Al-fakir Kyai Syamsuddin-Prembun-Kebumen-Jawa Tengah.

  1. Al-Qur’anul Kariem
  2. Tafsir Aththabariy.
  3. Tafsir Ibnu Katsier.
  4. Irwaa-Ul Ghaliel, Nashiruddin Al-Albani.
  5. Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq.
  6. Tamaamul Minnah
  7. Duratun Nasihin
  8. Fathul Mu’in
  9. Jauharul bahri
  10. Tafsyir Munir
  11. Mutafaq alaih, sahih Bukhari Muslim, dll.

Catatan kaki:

1] K.H.Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian Modern, (Jakarta: Gema Insani, 2002), hal.127

[2]Abu Bakar al-Hushaini Kifayat al-Akhyar, diterjemahkan oleh Ahmad Zain An Najah, hal. 279

[3]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung: CV. Diponogoro, 2001), hal. 156.

[4]Syaikh Husaini bin Audah Al-‘Awaisyah, al-Mausu’ah al- Fiqhiyah al-Muyarah, (Daar Ibnu Ahmad / al-marktabah al-Islamiyah) hal. 312

[5]Sayyid Sabiq diterjemahkan oleh Khairul Amru Harahap dan Masrukhin, Fikih Sunnah, Jilid 2, (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2008), hal. 142.

[6]‘Adil bin Yusuf Al‘Azazi, Tamamul Minnah, tt. hal.. 290

[7] Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Enksiklopedi Zakat, Fatwa Zakat Utsaimin, (Pustaka A-Sunnah, 2002) hal. 39

[8]Ibid., hal. 42

[9]Shahih Fiqh Sunnah, Shahih Fiqhus Sunnah wa Adillatuhu, Jilid 2, (Beirut: Dar al-Fikr, 1988) hal.  69

[10] Imam Bukhary, Shahih Bukhary, Juzu` I, (Maktabah Dahlan, Indonesia, t.t.), hal. 210.

[11] K.H.Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian…, hal.132

Web.

-http://www.artikelsiana.com/2015/06/bacaan-doa-niat-zakat-fitrah-membayar-menerima.html

-http://www.blogkhususdoa.com/2015/06/doa-ketika-menerima-zakat-maal-dan-zakat-fitrah.html

**PHOTOGRAPHY DAN VIDEOGRAPHY HARAM ? **

Tag :    SELFY HARAM ? ALBUM PHOTO HARAM ? PRODUKSI FILM ISLAMI HARAM ?

Photograph

Tentang pandapat mendasari Sahih Bukhari :

“Orang yang paling berat hukumannya di akherat adalah tukang photo”

Jika demikian maka SELFY dan dokumentasi resepsi perkawinanpun haram, bahkan produksi film film Islami pun haram sebab berhubungan dengan photography dan videography. Termasuk anda kini yang exist berselancar di jejaring sosial dunia maya dengan memajang album photo dan sebagainya, maka jadinya kita semua umat Islam melakukan sesuatu yang haram. Berapa besar bobot dosa yang kita tumpuk setiap harinya? Sementara pada akhir zaman yang modern ini manusia tak bisa menghindari photography samasekali.

Pada konteks bahasan sesuai judul diatas. Bahwa benarkah photography dan videography haram? Yang dengan demikian para photographernya, para videographernya juga termasuk yang memanfaatkan/user nya itu akan mendapat hukuman berat di akherat?

Mari kita telaah satu persatu, kita pahami esensinya, benarkah Nabi Muhammad mengharamkan photography dan videography ? :

riset

Teks asli hadits tersebut diantaranya sebagai berikut, berbunyi :

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para penggambar.” (HR. Al-Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109)

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya mereka yang membuat gambar-gambar akan disiksa pada hari kiamat. Akan dikatakan kepada mereka, “Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan.” (HR. Al-Bukhari no. 5961 dan Muslim no. 5535)

Perhatikan dalam hadits menyebutkan tentang “TASHWIR – MUSHAWWIR”. Makna tashwir adalah MENGGAMBAR sedang mushawwir adalah ORANG YANG MEMBUAT TASHWIR. Maka makna kalimat ini yang harus kita pahami terlebih dahulu. Kita tahu bahwa saat hadits ini di sabdakan oleh beliau adalah zaman ketika tekhnology photography dan videography belum ada. Hingga berabad abad kemudian sampailah pada ajaran ajaran Islam tumbuh menyebar ke seluruh penjuru dunia dimana bahasa, dialek bangsa bangsa lain tidak menggunakan bahasa Arab tetapi menurut bahasa ibu masing masing.

Kemudian tumbuh pula para generasi alim ulama sebagai penerus syiar Islam yang dalam hal latar belakang kultur budaya akan pasti berbeda beda baik dalam hal tingkat penyerapan, pemahaman nilai nlai Islam maupun dalam hal penterjemahan dari sumber aslinya.

Kembali pada pokok bahasan, mengenai pendapat yang menyatakan bahwa : “tukang photo adalah yang hukumannya paling berat”, yang merujuk pada sahih Bukhari tersebut di atas. Mari kita bedah esensi dengan merujuk pendapat para ulama bahwa larangan tersebut ditujukan untuk photography atau hal lain.

Sebagian ulama berpendapat bahwa photography dan videography keduanya haram. Seperti As-Syaikh Nashiruddin Al-Albani. Beliau adalah ulama besar pada  abad lampau, seorang pakar hadits yang menyatakan keduanya haram mendasari sumber hadits tersebut.

Sementara ulama lainnya, As-Syaikh Abdul Aziz Bin Bazz menyatakan bahwa photography haram sedang videography boleh. Dan berikutnya adalah As-Syaikh Ibnu Al-‘Utsaimin yang menafsirkan hadits ini dari sisi esensi, menyatakan pendapatnya bahwa selama tidak keluar dari aturan syariah, maka keduanya dibolehkan. Ketiga ulama ini adalah ulama besar yang terpercaya, mari kita hormat kepada mereka semua.

Sobat Nusantara, apa sebenarnya yang terjadi ?

Allah Swt berfirman dalam An-Nahl:43 :

“Tanyakanlah kepada orang yang mengetahui jika kamu tidak mengetahui (paham)…”

Maka mereka adalah ulama besar yang ahli dalam bidang Al-Hadits, sedang perkara photography dan videography adalah perkara sains/teknologi. Mereka menyatakan bahwa dalam perkataan Nabi terdapat kata “TASHWIR”. Sampai saat ini dalam bahasa Arab istilah TASHWIR juga digunakan untuk   photography, sedang zaman Nabi belum ada teknologi photography. Maka dari sebagian ulama berpendapat karena disebutkan istilah TASHWIR dalam hadits tersebut. Hingga saat ini, photography diartikan sebagai dalam katagori TASHWIR, maka menjadilah suatu pemahaman yang menjalar bahwa photography hukumnya haram.

Sobat Nusantara, bahasa selalu mengalami perkembangan. Oleh karena itu kita harus menelaah terlebih dahulu apa sesungguhnya pengertiannya (hakekat) suatu kalimat baik dalam ayat ayat Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Dan hal ini tidak kalah penting dengan arti kata itu sendiri, apa sesungguhnya arti kalimat tersebut maksudnya pada zaman itu.

Seperti kita ketahui bahwa pada zaman itu teknologi photography belum ada, maka janganlah tergesa gesa memastikan/memutuskan bahwa photography itu termasuk sebagai TASHWIR” walaupun saat ini bahasa/orang Arab mengistilahkan photography sebagai TASHWIR, padahal banyak kata/istilah yang dapat dibakukan yang tidak harus menggunakan istilah TASHWIR dalam hal ini. Suatu contoh :

Di ketahui/dikenal suatu kata pada suatu zaman, maka akan terus mengalami suatu perubahan makna seiring waktu akibat situasi, dialek maupun budaya disuatu bangsa. Seperti kosakata “BISA” maka pada bahasa suatu negara tertentu akan dapat diartikan sebagai “mampu” ataupun merupakan “racun ular”. Nah mungkin suatu ketika nanti orang tak akan mengartikan “BISA” ini sebagai  bisa ular. Sebab kosakata “bisa ular” lebih pas dengan kosakata “racun ular”.

Sementara sebagian ulama seperti menurut pendapat Syaikh Bin Bazz bahwa photography haram, tetapi videography boleh. Dan sementara kita tahu (sudah sampai pengetahuan) bahwa teknologi videography adalah pengembangan atau vesi canggih dari teknologi photography. Videography adalah photo yang digerakkan dengan kecepatan tinggi yaitu 24-25 frame/detik, maka gambar menjadi bergerak/hidup.

Ulama yang berpendapat bahwa photography tidak haram, menyatakan bahwa makna “TASHWIR” yang disinyalemenkan oleh Nabi SAW adalah “GAMBAR TANGAN/LUKISAN”.

Tashwir

Baik, dalam bahasan ini kita tidak membicarakan ulama/ahli kitab yang jauh dari esensi A-Qur’an dan As-Sunnah yang dengan begitu mudahnya menyatakan/memutuskan suatu perkara amal syareat/agama yang ini haram, yang itu halal, dan sebagainya tanpa pengetahuan luas dan bijak dalam ilmu hakekat. Maka kita sedang dalam kapasitas membahas tentang ulama otentik yang mengikuti hikmah Al-Qur’an/Al-Hadits, bukan yang suka mendasari segala sesuatunya dengan sentimen sekte/mazabiah.

Maka kata “TASHWIR” yang diartikan, yang menterjemahkan bahwa photography dan videography adalah haram oleh sebagian ulama, itu adalah penafsiran/penerjemahan yang salah/keliru paham. Dalam hadits disebutkan bahwa orang yang melakukan tashwir (menggambar tangan makhluk yang bernyawa), maka Allah akan menyuruh mereka menghidupkan gambar tersbut pada hari kiamat, tetapi mereka tidak mampu. Jadi sejatinya makna hadits ini adalah mensinyalemenkan bahwa membuat gambar/melukis makhluk bernyawa seperti hewan, manusia adalah dilarang. Sedangkan photography dan videography adalah semata mata perkembangan teknologi zaman modern yang merupakan teknologi spektrum/pantulan atau refleksi sebuah obyek yang disimpan dalam sebuah media, seperti  kertas.

Maka Nabi SAW tidak pernah mencegah para sahabatnya, keluarganya melihat pantulan/refleksi diri ketika mereka menyisir rambut, merapihkan busana di depan cermin. Bahkan Nabi SAW tidak pernah melarang sahabat untuk bercermin. Jadi BERCERMIN adalah sesuatu yang tidak dilarang. Photography adalah teknologi pantulan yang disimpan ke dalam media lain sehingga para ulama berpendapat bahwa photography tidak dilarang. Tetapi yang perlu diingat adalah segala sesuatu yang halalpun bisa menjadi haram jika hal hal yang halal dilakukan secara salah ataupun menyimpang dari aturan/disalahgunakan.

Kita perlu menggali makna apa sebenarnya yang dipesankan dalam setiap adanya larangan larangan pada ayat ayat Al-Qur’an maupun hadits. Tentu Allah dalam setiap menurunkan syareat (S.O.P) bagi manusia pasti memuat pesan/peringatan yang serius, dimaksud agar manusia tidak “semau gue” atau justru untuk kebaikan manusia itu sendiri. Hanya saja manusia itu kadang terlalu angkuh untuk mengakuinya atau mentaatinya atau manusia itu sebenarnya tidak menggunakan akal pengetahuannya.

menyembah_batu

Mengapa Allah melalui hadits Nabi SAW melarang manusia untuk menggambar makhluk bernyawa. Adalah karena sejarah sepanjang peradaban manusia sejak zaman para rasul terdahulu telah menjadikan kebiasaan “menggambar” yang dilakukan manusia itu pada akhirnya menjadi obyek sesembahan manusia itu sendiri yang dimanifestasikan ke dalam bentuk lukisan, patung yang kemudian di Tuhankan/disembah sembah. Maka Allah sesungguhnya memberi pesan kepada umat Islam agar tidak seperti umat umat lain terdahulu maupun kemudian. Agar Allah memurnikan umat Islam dengan membentuk umat yang berbeda dari umat lainnya, agar Allah memurnikan dan memilih umat Islam sebagai umat terbaik. Walaupun harus dipagar dengan berbagai ujian ketat, berbobot seperti ketat dan beratnya materi ujian pada lembaga yang bonafit maka akan menghasilkan siswa yang berbobot pula yang akan berbeda dengan lulusan lusan lain “yang ecek ecek”. Ingat kalian umat Islam telah  dipilih Tuhan untuk itu. Kecuali kalian tidak punya tujuan dalam hidup, sehingga merasa cukup menjadi “yang ecek ecek” sajalah, maka kita tak perlu susah payah mengikuti/menjadi peserta.

KESIMPULAN

Ini adalah hanya salah satu perkara tafsir tentang hal hal yang “HARAM” dalam syareat Islam. Masih banyak perkara perkara yang dihukumi “haram” dalam rangkaian Al-Hadits/As-Sunnah yang diterjemahkan oleh sebagian ulama, seperti diharamkannya pria memakai perhiasan, larangan wanita memakai wewangian, larangan musik, pengharaman rokok, pengharaman ini itu.

Sehingga praktis banyak perkara yang berhubungan dengan aktifitas kehidupan umat manusia menjadi timbul polemik, kebingungan maupun timbulnya gontok gontokan paham berebut benar dan sebagainya. Disamping terjadi dikalangan umat Islamnya sendiri yang lemah ilmu pengetahuannya (kalangan awam), apalagi dimata non muslim yang buta terhadap pemahaman nilai nilai Islam sehingga menjadilah asumsi/stigma bahwa menjadi orang Islam itu atau ajaran Islam itu sempit, kuno, membatasi, tak manusiawi, melanggar hak asasi manusia, merendahkan martabat wanita, agama barbar   dan segudang anggapan/stigma buruk lainnya.

Maka menjadi ranculah ketika agama Islam diperkenalkan Nabi Muhammad SAW yang katanya membawa rahmat semesta alam, yang katanya memudahkan, yang katanya membuat kesejahteraan, kedamaian, namun terkesan menjadi “ribet”…..hingga ketika umat umat non Islam bertanya, menuduh, menganggap bahwa Islam adalah agama yang berisi ajaran ajaran sesat, kuno dan sebagainya…….kita atau umat Islamnya sendiri kebingungan menjawab tuduhan tuduhan miring tentang nilai nilai Islam seperti rangkaian yang dituduhkan tersebut diatas.

taqlid buta

Maka wahai umat Islam sebangsa dan setanah air, juga wahai umat manusia, mari berpikir menggunakan logika akal pikir, menggunakan intelektualitas, menggunakan nurani, hakekat dan Al-Hikmah. Maka menjadilah insan/umat Islam yang cerdas dalam pikir maupun dalam sikap. Mari pelajari, gali dan dalami kitab sucinya sendiri masing masing dengan sebenar benar belajar dan memahami esensinya serta kebenarannya. Bukan hanya membaca doang tanpa memahami maknanya, bukan hanya menuruti buta apa kata para gurunya/ulamanya/pendetanya dan  apa kata kultur budayanya.

Bayangkan jika anda mudah taqlid buta dengan ajaran yang tak bijak dalam ilmu pengetahuan atau yang saklek dalam menterjemahkan suatu ayat atau hadits, maka anda akan menjadi olok olok zaman.

Seperti :

Kita meyakini buta sebuah pemahaman praktis tentang pengharaman “wanita yang menggunakan wangi wangian”, maka jika dipahami secara saklek, lihatlah akan ada sekelompok wanita tidak akan memakai wewangian apapun hingga tak menyadari atau mengabaikan bau badan yang tak sedap menyeruak kemana mana yang menjadikan orang orang sekelilingnya/keluarga /suami menjadi tak nyaman, Sementara ketika anda saklek anti wewangian tetapi disatu sisi anda tidak konsisten dengan pemahamannya sendiri yakni anda masih mau menggunakan “molto”, masih pakai hairspray, masih pakai sabun saat mandi….dsb….sedangkan barang barang tersebut jelas merupakan wangi wangian. Harusnya ya  konsis jangan memakai apapun yang berhubungan dengan wewangian.

Ada juga kasus dimasyarakat dimana terdapat suatu komunitas “keluarga Islam penganut fahamis” tinggal ditengah masyarakat namun saklek dengan ajaran sekte/mazabiahnya, tampak dari cirikhas berpakaian serta penampilan penampilan yang eksklusif lainnya, yaitu suatu ketika menjemur pakaian diluar dan kemudian di tinggal pergi keluar rumah. Ketika hujan hendak turun jemuran tersebut diangkat oleh tetangganya.

Ketika si pemilik pulang ke rumah mendapati jemurannya telah terangkat dari tali jemuran. Merasa sudah terkena tangan orang lain yang bukan “kelompoknya”, akhirnya jemuran yang bersih itu dicuci kembali. Melihat kenyataan itu jadilah tetangganya kesal, “sudah ditolong tapi menganggap kita orang najis”. Maka hal hal yang demikian akan menjadi masalah sebab kita dalam beragama kadang tidak arif, kadang kita begitu taqlid buta dengan mazab hingga kadang tak menyadari telah menuhankan dalil.

Sobat, didunia ini hanya ada dua keadaan tentang hasil akhir manusia dalam meyakini/mengaplikasikan suatu ajaran nilai nilai ilmu pengetahuan/agama Islam. Kita  menjadi salah,  keliru atau sesat dalam beragama setelah mendapatkan pengajaran dari guru, yakni : Gurunya yang salah mengajar atau mengajarkan pemahaman yang salah  atau murindnya yang salah dalam menerjemahkan/memahami suatu pengajaran.

Sebab guru yang baik, bijak dan luas ilmu pengetahuannya,  maka akan menghasilkan murid yang berkualitas baik (berwawasan luas)  pula.

Semoga menjadi renungan kita semua,

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Bukit Cibeureum, 9 September 2015.

CopyRights@2015.

Reff:

-HR. Al-Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109

-HR. Al-Bukhari no. 5961 dan Muslim no. 5535

-http://al-atsariyyah.com/hukum-menggambar-dalam-islam.html

-Makalah Risalatul Islam, Syaikh Dr. Zakir Naik

Al-Qur’anul Karim Terjemah DEPAG RI

**MENGATASI VIRUS TAG PORNO DI DINDING FACEBOOK ANDA**

VIRUS TAG PORNO DI FACEBOOK

VIRUS “dl.dropboxusercontent.com yang “ngeselin”.

Cara Mengatasi Virus Tag porno di Facebook

Mengatasi_Virus_Tag_Bokep_di_Facebook_(dl_dropboxusercontent_com)

Ketika pertama kali kita membuka akun Facebook punya sendiri, alangkah kaget bukan kepalang : Di dinding kronologi FB kita telah terpampang sebuah tautan video berkonten pornografi (bokep) dengan tajuk berbunyi :

 “ANDA TELAH MEMBAGI KIRIMAN VIDEO “Santri mabuk birahi….bla…bla….atau Gadis hot,….bla…bla…bla”.bersama 16 teman anda….baru saja….”

Seolah kita yang mengirim / tag ke dinding dan membaginya kepada  teman teman kita. Maka runyam kita punya urusan. Padahal kita baru On Line dan belum melakukan kegiatan/menulis status  apapun.

Sobat, bila itu terjadi atau kita alami, maka JANGAN PANIK !

ITU ADALAH VIRUS “dl.dropboxusercontent.com”, yang menempel/menyusup di browser komputer kita.

Salah satu Virus Porno dl.dropboxusercontent.com Tag Bokep menyebar di kronologi Facebook secara otomatis menggunakan situs penyimpanan data dropbox. Salah satu kata kunci tipuan dg judul yang membuat nafsyu untuk meng-klik seperti : “gadis mabuk setelah pesta”, “ini adalah bagaimana pria sejati bertindak”, “HEBOH !!! Gadis Mabuk Mencabuli Sebatang Pohon”, dsb.

Ketika komputer kita telah terkontaminasi virus ini, maka setiap kali anda On Line dengan akun FB manapun, virus ini akan beraksi. Yaitu tanpa kita menulis apapun, tiba tiba ada tag porno muncul seolah kita yang melakukan/mengirimnya, padahal bukan. Nah ketika yang lain ikut meng-klik, maka saat itu juga virus telah menular.

PENYEBAB :

  1. Meng-klik tag berkonten porno tersebut di dinding teman karena penasaran
  2. Main FB / Browsing di Warnet yang telah terkena virus tersebut.
  3. Browsing sendiri kemana mana dengan sengaja/tidak membuka buka situs porno atau karena terjebak link link yang merajalela di internet.
  4. Membuka email spam yang berisi link link semacam / yang tak dikenal.

Kabar yang demikian juga dipublikasikan oleh situs berita detik.com, diposting Senin, 08/12/2014 13:34 WIB – dengan judul Jebakan ‘Gadis Mabuk Setelah Pesata’ di Facebook. Ikut prihatin dengan situasi ini, maka saya berbagi untuk anda untuk mengatasi virus ini agar tidak semakin meresahkan warga facebook khususnya dan tuk sobat nusantara semua.

Silahkan perhatikan langkah langkahnya dan ikuti petunjuknya.

CARA MENGATASI CUKUP MUDAH :

Cara Mengatasi Virus Tag porno di Facebook

LANGKAH I :

Bagi yang belum mengalami.

PENGAMANAN PREFENTIF PADA AKUN FACEBOOK ANDA

  1. Masuk Facebook – Log Aktivitas – Cek Tinjuan Tanda dan Kiriman Anda. Cara ini untuk mengetahui tanda terbaru dan kiriman terbaru yang ada, Kalau ada tag atau kiriman mencurigakan langsung hapus. Perhatikan gambar berikut (Klik gambar untuk perbesar)
  1. Setting tinjauan tanda menjadi menyala, agar ketiap ada yang menandai harus melewati persetujuan terlebih dahulu sebelum tampil ke kronologi. Perhatikan gambar berikut
  2. Jangan klik tautan ‘jebakan’ di kronologi teman anda. Sebab itu adalah awal virus akan masuk. Kalau sudah terlanjur perhatikan tips selanjutnya.

    tutorial_1_1 

LANGKAH II :
Untuk korban / yang telah terkena virus

  1. Logg Out dari semua akun yang telah dibuka ( catatan : pastikan langkah I telah anda lakukan).
  2. Cek add ons – plugins firefox (untuk pengguna firefox) perhatikan sudut kanan atas halaman (firefox terbaru).

Kalau ada plugins serupa ( Terpampang “OPEN H264 VIDEO CODEC Provider By Cisco System,Inc.) – pilih – never aktivate – selesai.
Alasan mengapa harus meng- off kan plugins adalah pembuat bukan dari pihak firefox dan, seperti kutipan berikut dari detik.com :

“situs palsu ini akan meminta korban untuk menginstal sejenis codec jika ingin melihat video menggoda di awal jebakan. Padahal yang diinstal adalah malware dan bukan codec.”
Selanjutnya ingat ! jangan pernah buka kronologi orang yang menyimpan tautan jebakan pada kronologinya, kalau itu dilakukan peluang virus kembali masuk ke kronologi anda sangat besar. Kesimpulan tentang virus ini adalah virus jebakan masal itu sejenis malware disimpan melalui script menggunakan program online open source seperti add ons untuk melancarkan tujuannya.

LANGKAH PUNGKASAN :

  1. Hapus seluruh history perjalanan browsing anda, Tool – history – pilih remove/clear everythink.
  2. Install ulang aplikasi peramban anda di program PC anda. Masuk ke Control Panel – Uninstall Program – pilih program peramban lama yang ter- install – Klik kanan pilih Remove/Uninstall. Selesai.
  3. Install ulang peramban yang baru

 

Pesan / Saran :

Jangan sembarangan membuka situs situs porno tanpa mengetahui ilmunya atau tanpa mengetahui cara browsing aman. Atau tak usah buka buka link porno samasekali, lebih baik dikamar saja bersama istri yang suruh berpose hot / hardcore, atau apa saja didepan kita.

Semoga bermanfaat!

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Bekasi Timur, 3 September 2015,

CopyRights@2015,

Reff:

-http://weblogprogram.blogspot.com/2014/12/mengatasi-virus-tag-bokep-di-facebook.html