**TERTIPU DI DUNIA, TERTIPU JUGA DI AKHERAT**

**TERTIPU DI DUNIA, TERTIPU JUGA DI AKHERAT**

SEBUAH RENUNGAN PENUH HIKMAH

DARI KISAH PERJALANAN MANUSIA DI AKHERAT

PETAKA 1000 CAMBUK API ANGIN

   Saat menyadari kita menjadi ikut tersangkut dan terlibat dalam kasus kriminal gara gara kita mengikuti ajakan/bujuk rayu orang lain, sehingga diri kita ikut kena dampak hukum, maka betapa dongkolnya dan sakit hati ini. Bahkan bersumpah serapah penuh dendam kesumat, jika ketemu dengan orangnya, ingin langsung menghajarnya dengan tendangan bertubi tubi serta menginjak injaknya di tanah.

INJEK INJEK

   Bahkan tatkala otak pelaku telah diamankan Polisi, kita masih beringas dan berteriak pada sang Polisi untuk menyerahkan orang yang menjerumuskan kita itu, dengan berteriak :

“Udah lepasin aja Pak Polisi kasih ke kita, biar kita injek injek aja tuh orang, klo perlu mampusin sekalian…! gara gara die, saya jadi kena getahnya, gara gara die, saya jadi ikut sengsara”.

   Ini adalah potret dalam kehidupan sehari hari yang sering terjadi disekeliling kita. Banyak penjahat, penipu dan penyesat, yang suka mengiming ngimingi dan membujuk rayu kita untuk mengikuti jalannya, sehingga tanpa disadari pada akhirnya kita menjadi ikut bernasib buruk terkena dampaknya.

   Hanya bedanya jika urusan dunia, maka ada batas masanya. Atau mengalami kesengsaraan/kerugian tidak berlangsung selamanya lamanya. Bahkan dapat diselesaikan dengan ganti rugi atau berbagai cara.

   Tetapi tidak untuk di negeri akherat. Saat kita terjerumus dalam kesesatan dan perbuatan kedzaliman gara gara mengikuti ajakan penyesat atau menjadi pengikut golongan sesat sewaktu di dunia, sehingga kita ikut mendapat siksaan menghinakan di Jahannam, maka rasa penyesalan, rasa kedongkolan hati kita hanya akan tercekat ditenggorokan, tak berguna, tak berampun, tak ada tebusan dan tak ada tempat berlari/bersembunyi. (NO MERCY, NO ESCAPE).

   Persis sama dengan peristiwa didunia, maka diakheratpun saat itu kita bersumpah serapah, ingin menghajar orang yang telah membuat kita menjadi sesat, dzalim, kafir dan musyrik, sehingga kita termasuk yang diseret dan disiksa dalam neraka. Bahkan ketika penyesat itu ada dalam genggaman petugas Neraka Jahannam, kita beramai ramai mendatangi Malaikat penjaga itu dan memintanya untuk menyerahkan pelakunya supaya bertanggung jawab dan sekalian menghajarnya.

Peristiwa ini terekam dan diabadikan dalam Al-Qur’an :

“Dan orang-orang kafir berkata (di hari kiamat), `Wahai Rabb kami, tunjukkanlah (untuk diserahkan) kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami, baik dari jin maupun manusia, agar kami letakkan keduanya di bawah telapak-telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang rendah/hina.” (QS.41. Fushshilat:29).

Siapa yang dimaksud ,“dua jenis orang yang telah menyesatkan kami” ?

Yang satu adalah Iblis pembujuk/pembisik (syetan Jin) dan satunya lagi adalah orang / pemimpin disekeliling kita yang kita ikuti namun ternyata menjerumuskan/mengajak kita pada kekufuran (syetan jenis manusia).

Apakah iblis yang membujuk rayu kita itu bertanggung jawab diakherat tersebut? Tentu tidak, sebab Iblis malah menyalahkan diri kita sendiri dengan berujar,

“Lah, salah lu sendiri napa mau ngikutin ajakan gue, sumpahin aja diri lu sendiri ?”

(Diabadikan dalam Al-Qur’an, QS.14.Ibrahim:22).

Diiringi rasa kesal dan dongkol teramat sangat, kemudian diri kita segera mencari lagi satu orang yang dulu menjadi pemimpin yang mengajak kita ke dalam kekufuran untuk minta pertanggungjawaban kepadanya. Akhirnya setelah bertemu, terjadi percekcokan/bantah bantahan, ternyata jawabannya lebih “ngeselin” lagi, yaitu :

“Salah lu sendiri napa bego, Tong? Lah gue sendiri aja kaga slamet. Sorry gue ga bisa nolong lu, lagian lu juga kaga bisa nolongin gue.”

(Transkrip asli diabadikan dalam Al-Qur’an, QS.40.Al-Mu’min: 47-48)

Ketika rasa frustasi teramat sangat telah menghantui kita, akhirrnya kita memelas dihadapan petugas Jahannam,

“Ya, Malik. Tolonglah kami, hentikan siksaan ini barang sehari saja?”

Dijawab oleh Opsir Neraka :

“Bukannya dulu udah didatengin Rasul Rasul ngingetin kalian?”

“Iya”. Tukas kami getir.

“Kalo begitu, berdo’a aja kalian sama Allah !”

Jawab petugas neraka dengan angkuh dan garang seraya tangannya melepaskan 1000 cambuk logam api angin ke arah kita hingga diiringi suara lecutan yang menggelegar dahsyat memuncratkan bunga api yang bertebaran membakar kulit daging kami hingga hangus kering, untuk kemudian pulih lagi seperti sediakala.

(Transkrip asli Diabadikan dalam Al-Qur’an, QS.40.Al-Mu’min: 49-50 dan QS.22.Al-Hajj:21).

Tak tahan dengan adzab yang bertubi tubi ini, semua orang berlari tunggang langgang menjauh dari petugas Jahannam itu diiringi jeritan dan lolongan panjang menyayat pedih, seraya berseru,

“Hai, Malik. Lebih baek matiin aja kami daripada begini.”

“Tidak, kalian tetep tinggal disinih !”

   Jawab Malaikat Malik membahana dan sekelebat bayangannya yang secepat kilat itu tiba tiba telah muncul di hadapan kita kembali, mencegat dengan muka berapi api, seraya memperlihatkan pemandangan teror yang lebih mengerikan lagi, yaitu orang yang dulu sebagai pemimpin penyesat manusia, terlihat diseret kasar kemudian dilempar keras ke tanah kerontang yang mengeluarkan uap panas dan saat orang itu belum sempat bangun, si penjaga neraka langsung melemparkan selimut api yang berkobar kobar ke tubuhnya dan seketika itu tubuhnya hangus terbakar diiringi teriakan menyayat memohon ampun agar apinya dipadamkan. Dan saat itu juga sang penjaga neraka menyiramkan air diatas kepala orang itu, namun bukannya api menjadi padam bahkan tubuhnya meleleh hancur hingga perut perutnya, sebab ternyata air yang disiramkan adalah air sangat panas yang baru mendidih level 70.000 derajat.

syt5

(Peristiwa ini terabadikan dalam Al-Qur’an, dan terangkai bagai Roll slideshow pita magnetik film, yakni pada QS.43.Az-Zukhruuf: 77 dan QS.7.Al-A’raaf:38 dan QS.22.Al-Hajj: 19-20) dan lainnya.

—————-0o—————-

Seluruh peristiwa yang akan terjadi dimasa depan nanti itu merupakan salah satu jabaran dari ribuan jabaran ayat Al-Qur’an, (QS.36.Yaasiin:58-59)

Menyusul adanya peristiwa sambutan di gerbang Planet Daar Es-Salm setelah golongan mukmin yang selamat dievakuasi dari lembah penantian Planet Mahsyaar, dimana Allah Subhanahu Wata’ala mengucapkan qalam selamat datangnya yang terkenal dengan :

“Salamun’qauwlam MinRabbirRahim, Wamtazul Yauma Ayyuhal Mujrimun …….”

(Salam keselamatan dari Yang Maha Kasih, yang senantiasa menaungi golongan mukmin-muslim, dan Selamat jalan wahai para penjahat).

Semoga menjadi renungan kita semua

Salam Cahaya-Nya,
Kelana Delapan Penjuru Angin,
Lembah Tenggilis-Bekasi, 9 Maret 2015,
CopyRights@2015.

Reff:
-Adz Dzikru As-Salam : K.H. M. Syamsuddin – Prembun – Jawa Tengah
-Al-Qur’anul Karim : Tarjamah DEPAG RI
https://chairurrijal.wordpress.com
-Daqoiqul Akhbar

**DEMI MASA,UMUR MANUSIA HIDUP DI DUNIA RATA RATA HANYA 1 s/d 1.5 JAM SAJA**

DIMENSI RUANG DAN WAKTU ALAM SEMESTA YANG BERBEDA
SATU HARI AKHERAT EQUIVALENT DENGAN 1000 TAHUN MASA BUMI
DAN BOLEH JADI, SISA UMUR DUNIA INI TAK LEBIH DARI HITUNGAN 1/2 – 1 HARI SAJA
SURAT AL-ASHR : 1-3 BER-GENRE LAMPAU TETAPI BERPLAT FORM UNIVERSAL FUTURISTIC.

1400 tahunan silam, ketika ayat ini turun, dan dibacakan oleh Nabi Muhammad dihadapan publik.

Al-ashr

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS.103.Al-Ashr: 1-3).

Adalah kebiasaan bangsa arab di waktu sore hari, mereka sering duduk duduk tanpa manfaat dan tanpa ada aktifitas, tanpa mengingat akan adanya keberadaan Tuhan, tanpa berpikir adanya kehidupan akherat. Mereka hanya berleha leha, bersantai santai, sambil mengobrol dan bergosip tentang urusan dunia, tentang kemegahan, kedudukan, kekayaan dan kemewahan hidup. Yang tak jarang mengakibatkan pertengkaran, muncul rasa iri dan permusuhan diantara mereka. Hingga tak menyadari waktu terus berjalan, tak menyadari hari memasuki rembang petang dan kemudian dengan cepat kegelapan malampun menyelimuti bumi. Mereka tak puas dengan waktu. Merasa kurang, merasa obrolannya belum tuntas, mereka lama lama menyalahkan waktu.
(Reff: Asbabunnuzul – Syekh Muhammad Abduh).

Kemudian, ketika Nabi Muhammad menghampiri mereka dan membacakan surat Al-Ashr tersebut ke hadapan mereka, bukannya mereka sadar akan kekeliruannya justru mereka kesal dan mencemooh Nabi SAW, menganggap sebagai pengganggu saja. Kini, sikap manusia modern saat ini sepertinya tak berbeda jauh dengan sikap sikap umat jahiliyyah 1400 tahunan lalu, hanya beda bentuk dan kondisi, yaitu Larut oleh kerepotan hidup dan kesibukan urusan duniawi, melupakan pengabdian dan ibadah kepada-Nya.

Surat Al-Ashr sepertinya hanya dipandang/dimaknai secara lahiriyah saja oleh kebanyakan umat, yakni asal sekadar berbuat kebaikan, asal ibadah, asal sekadar mengingatkan. Setelah itu cukup terhenti dibatas itu saja. Hari hari lain lalai lagi dan berbuat dosa lagi. Saling sengketa lagi, saling sikut sikutan lagi, saling korupsi lagi, saling iri dan dengki lagi, saling zalim menzalimi dan sebagainya.

Sobat fillah, mari kita renungi lebih jauh hakekat surat Al-Ashr ini. Sebagaimana dengan surat surat dan ayat ayat dalam Al-Qur’an lainnya, maka tidak hanya cukup di maknai secara harafiahnya saja melainkan sangat luas dan padat dengan berbagai makna dan hakekat. Demikian juga dengan kedalaman surat AL-Ashr ini.
Redaksi surat Al-Ashr ini ber-genre lampau tetapi berplat form universal futuristic. Artinya, telah terjadi dan pasti akan terjadi (menemui /menyaksikan keadaan itu sepanjang zaman hingga di hari masa depan nanti). Sedangkan dari plat form (kerangka) universal futuristic maknanya bahwa ayat ayat dalam Al-ashr ini berkaitan dengan dimensi ruang dan waktu atas alam kehidupan semesta (universal) yang berbeda tetapi bagi makhluk kehidupan ciptaan-Nya, bertahap akan memasuki (bertransformasi) ke arah sana (the future).

Itulah mengapa surat Al-Ashr ini tidak dimulai dengan ayat : “Alladzina amanu…” (kepada orang orang yang beriman…)”, tetapi dimulai dengan redaksi, “Wal ‘Ashri…” (demi masa). Yang maknanya adalah bahwa dimensi ruang dan waktu alam kehidupan semesta ini telah dalam genggaman-Nya, telah di hitung-Nya, telah ditetapkan-Nya dan seluruh makhluk pasti akan menemui serta mengalami kejadiannya dimasa depan nanti.
Sebab Allah telah mengetahui keadaan demikian, maka Dia mengingatkan kepada manusia manusia yang masih tersisa diakhir zaman ini agar jangan mengalami nasib naas seperti umat umat terdahulu. Dan dalam memberi peringatan itu, Allah tidak langsung berkata kata dengan manusia secara langsung sebab tidak mungkin benda saling berbicara dengan bayangan didalam cermin dan adalah manusia itu hanyalah merupakan “bayangan-Nya”. Oleh karena itu Allah mengadakan perantara/media, yakni terakhir melalui Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya yang terakhir untuk alam semesta. Dan ketika Nabi Muhammad kini telah tiada, maka Allah masih memiliki Muhammad lain yakni : Al-Qur’an yang kemudian diestafetkan kepada para pengikut pengikut Muhammad, para pembaca qalam-Nya, para penebar kebenaran kebenaran-Nya dan para alim ulama yang kesemuanya itu merupakan Muhammad Muhammad lain dan Wali yang di hadirkan oleh Allah. Maka menjadilah kita Muhammad Muhammad-Nya. Jadi, janganlah menjadikan Muhammad itu hanya sebatas sosok, obyek pengkultusan dan bemper untuk segala argumentasi dengan serangkaian dalil manakala kita berdebat saling berebut benar. Jadi, jadikanlah Muhammad itu subyek didalam jiwa, di dalam diri kita umat, yang katanya mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW. Kemudian obyeknya adalah laku perbuatan yang bernilai Muhammad. Jangan kebalik, Muhammad hanya dijadikan obyek alasan untuk gontok gontokan mencari pembenaran. Itulah salah satu alasan mengapa sosok Nabi Muhammad SAW tidak bergambar, tidak divisualisasikan dengan lukisan ataupun foto seperti manusia manusia agung lainnya. Sebab ternyata sudah menjadi kecenderungan nafs khayal manusia, yang selalu berlebihan dalam mengagungkan benda materi hingga akhirnya lama kelamaan men-Tuhankan benda/materi, termasuk menuhankan manusia seperti umat umat yang lain. Tuhan mengetahui keadaan ini dan sejarah telah membuktikan kenyataannya. Maka demikianlah, Allah ingin mengajarkan manusia, janganlah menyembah materi tetapi sembahlah Dia saja dengan memurnikan sesembahan, dengan meniadakan tandingan, dengan melenyapkan pikiran pikiran khayal yang mengarah pada “keserupaan, kesetaraan” dan menyekutukan (Laisa kamislihi syai’uun). Maka demikianlah Muhammad itu bukanlah sosok kultus individu melainkan Muhammad adalah piagam / nilai, Muhammad adalah cahaya, Muhammad adalah kemurnian jiwa diri insan insan yang berderajat muslimin muslimat pengibar bendera kebenaran, yang  terpercaya dalam amanat dan pengkhabaran dan yang menebar kebijaksanaan (silahkan pelajari 4 piagam Muhammad: Shiddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah).

nur-muhammad

Sobat budiman Nusantara,
Hari demi hari berganti mengiringi hidup dan kehidupan kita. Hidup ini bagai roda pedati, tak pernah lesu dan terhenti. Merangkak berjalan tertatih dan menyebar dimuka bumi, beredar berkeliling bersama lintas edar mentari. Dari sejak kita dibuaian hingga diatas keranda berjalan saat datang kematian. Senyum, tangis, suka, duka mewarnai hari hari kita. Dan saat hadir senyum dan suka ria mencumbui kita, maka kita ingin hidup 1000 tahun lamanya. Namun saat kita frustasi kehilangan asa, serasa kita ingin memecat nyawa saat ini juga.

rumah dibakar

Kadang kita merasa begitu lama hidup di dunia, sejak kita dilahirkan hingga saat ini atau sampai tua nanti. Dan kadang kita merasa bahwa dunia ini sudah ada sejak lama dan manusia sudah ada sejak zaman purba hingga masa modern kini dan merasa kehidupan ini masih akan berlangsung lama.
Sehingga sepertinya manusia masih merasa memiliki waktu yang lama untuk berbuat kejahatan terhadap lainnya. Dan sementara sebagian manusia merasa kesal dengan kejahatan yang dilakukan manusia lain tanpa bisa berbuat apa apa. Dan bagi sebagian orang tertentu, kadang jengkel dengan kesombongan dan keangkuhan manusia lainnya, berharap mengapa tak binasa saja, namun malah umurnya panjang dan kian merajalela. Kadang hati ini rasanya sakit, pedih, kecewa (sakitnya ku di sini….).
Tapi, tenang. Jangan khawatir dan janganlah kita merasa putus asa. Masih ada Yang Maha Adil., masih ada Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Masih ada Yang Maha berhitung dan masih ada Yang Maha Pembalas, Ada Tuhan Rabb Semesta Alam, Sang Maha Raja Diraja, Sang Penguasa, yang telah bersumpah :

“Wal ‘ashri…….wal ‘ashri !” (demi masa…demi masa)

Yang akan mengadili setiap kejahatan dan kebaikan. Yang akan mengasihi dan menyayangi hamba hamba-Nya yang berlaku kasih dan sayang. Yang akan memperhitungkan setiap nafas langkah dan perbuatan makhluknya. Dan yang akan membalaskan orang orang yang telah membuat rasa sakit, pedih dan kecewa kita. Oleh sebab itu ketahuilah rahasianya, mengapa Allah bersumpah demi masa ? Sebab sesungguhnya hidup dan umur manusia serta kehidupan panggung dunia ini sesungguhnya tak berlangsung lama, hanya sebentar saja, hanya dalam hitungan jam saja. Mari kita singkap rahasia mengapa Allah bersumpah demi masa. Mari kita jabarkan teori relatifitas masa yang pernah dikemukakan oleh Albert Einstein, dan sesuai dengan surat Al-Ashr yang tersebut diatas.

Adalah :
Masa dunia dengan masa akherat berbeda jauh akibat perbedaan dimensi ruang dan waktu. Hal ini telah diinformasikan oleh Allah dengan rumusan, salah satunya sebagai berikut :

supermassive_black_hole3

*Satu hari akherat setara dengan seribu tahun waktu bumi*

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya SEHARI disisi Tuhanmu adalah seperti SERIBU TAHUN menurut perhitunganmu.” (QS.Al Hajj:47).

Dari ayat tersebut diatas, kita memperoleh suatu formula (teori relatifitas) yang dapat dianalogikan sebagai berikut :

Yaitu dikenal dengan formula 1:1000 (satu banding seribu), atau 1 hari akhirat = 1000 tahun waktu bumi .

Jika 1 hari = 24 jam, maka :
1 hari (24 Jam) akherat = 12.000 bulan waktu bumi atau 1000 tahun
½ hari (12 jam) akherat = 6.000 bulan waktu bumi atau 500 tahun
¼ hari (6 jam) akherat = 3.000 bulan waktu bumi atau 250 tahun
1/8 hari (3 jam) akherat = 1.500 bulan waktu bumi atau 125 tahun
1/16 hari (1.5 jam) akherat = 750 bulan waktu bumi atau 62.5 tahun
Maka jika :
Menurut data sensus dunia, bahwa tingkat rata rata harapan hidup manusia sekitar 62.5 – 70 tahun.
Jika dikonversi dengan masa akherat, maka :

62.5 (usia) X 12 bulan = 750 bulan atau 22.500 hari atau 540.000 jam,
= 540.000 : 22.500 = 24
= 24 : 16 = 1.5
Atau = 1/16 hari masa akherat.
(ternyata Al-Qur’an itu matematik loh).

Artinya, jika tingkat rata rata harapan hidup manusia sekitar 62.5 – 70 tahun, maka lamanya hidup manusia di dunia ini menurut waktu langit hanya dalam waktu 1,5 jam s/d 1.7 jam saja !

Baik, sampai di sini cobalah renung dulu sejenak, jangan melanjutkan membaca. Kemudian cobalah buka lembar Al-Qur’an dan coba renungi kembali hakekat surat Al-Ashr dalam dalam, kemudian tengok surat QS. 23.Al-Mu’minuun:114.

Maka artinya, hidup manusia di dunia ini oleh Allah, hanya diberi waktu cuma 1.5 jam saja. Ini baru pada perhitungan surat Al-Ashr, belum jika di konvert dengan teori masa pada dimensi ruang dan waktu menurut planet akherat yang lainnya, seperti dalam formula surat : QS.70.Al-Ma’aarij :4, yang kadar masanya lebih jauh lagi yakni 1 hari sama dengan 50.000 tahun.

Maka, pantas tidak jika Allah menurunkan ayat tersebut? Maka patut tidak jika Nabi Muhammad SAW selalu mengingatkan kepada kita akan masalah waktu?

Pantesan kita di ingatkan dengan seruan :
“WAL ‘ASHRI….WAL ‘ASHRI…..”
(Demi waktu….demi waktu !)

188275_439978499405755_877269751_n

*Sebab ternyata hanya dengan 1.5 jam saja kehidupan abadi kita ditentukan, hendak di Surga atau Neraka. (QS 98:8 , 41:28 ).

* Sebab ternyata hanya 1.5 jam saja cobaan, ujian hidup, tangis kepedihan, kesengsaraan dan kesulitan berlangsung. Pantesan Allah selalu mewanti wanti kita untuk tetap dalam sabar. (QS 74:7, 52:48 , 39:10).

* Ternyata hanya 1.5 jam saja kita disuruh menahan nafsu amarah, lawammah dan mengganti dengan pedoman-Nya (QS 12:53 , 33:38).

*Ternyata hanya memerlukan waktu 1.5 jam saja untuk menjalani sebuah perjuangan yang teramat singkat dalam menghadapi kehidupan dan problematika. Dan Allah SWT akan mengganti dengan Ridho-Nya. (QS 9:72, 98:8, 4:114).

*Dan hanya 1.5 jam, perjuangan untuk mencari bekal perjalanan panjang menuju kemenangan nanti. (QS 59:18, 42:20, 3:148, 28:77).

Maka sebagaimana hanya dalam waktu 1.5 jam saja kita disuruh untuk berbuat bakti, beribadah mengabdi kepada Tuhannya, maka hanya selama 1.5 jam sajalah manusia diberi kebebasan untuk bergelimang dalam perbuatan dosa dan kesesatan. Maka, pantaslah Tuhan menyebut bahwa banyak manusia yang merugi karena itu. (QS.103.Al-Ashr:2).

Kemudian, Tuhan menekankan lagi :

“Kamu tidak tinggal ( dibumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui” . (QS 23:114)

Dan manusia benar benar mengetahui dan membuktikan hal ini setelah matinya, setelah berbaring di liang lahat, setelah sanak familinya menaburkan kembang kenanga kemudian menangis tersedu di hadapan batu nisan yang bertuliskan :

*Herdo Subroto*
Lahir : 12 Februari 1980
Wafat : 13 Maret 2014
——-0o0——–

RIP

Sobat budiman, segeralah secepat mungkin menengok kembali peta perjalanan kita dalam menuju kepada-Nya. Mumpung masih diberi waktu, selagi masih dapat, selagi masih diberi kesempatan…….Berbuatlah manfaat, tolong menolonglah dalam kebaikan.

Maka segeralah secepat mungkin tinggalkan kesombongan, sok sok-an, keangkuhan, kekikiran, keangkara murkaan, kejahatan, kekafiran dan kesesatan. Sebelum onggokan daging terbenam dalam lumpur tanah, membusuk dalam kesendirian, dalam nestapa dan dalam kegelapan di bumi liang lahat. Bersama larva larva yang berpesta pora, bersama cacing cacing pengurai jasad.

Inilah salah satu makna dari ribuan makna ayat-Nya dalam Al-Ashr : 1-3.

Semoga menjadi renungan,
Salam 1.5 jam saja,

Kelana Delapan Penjuru Angin,
Lembah Sumur Batu Keramat – Bekasi Timur, 31 Januari 2015.
CopyRights@2015.

Reff:

-Asbabunnuzul-Sheikh Muhammad Abduh
-K.H. M.Syamsuddin – Pantai Selatan – Jawa Tengah
-Abah Sang Pencerah-Kota Tegal & Cilacap
-Al-Qur’an terjemahan DEPAG RI
–Tauziahti Umi Sharifah Khasanah Mukim-Queen Al-Iraqi
-Haqeqatul ‘ilmi al-Jama’atul tareqatul Qadariyyati wan Naqsabandiyati was Shatariyyah

** ALLAH, RABB,ILAAH dan TUHAN **

MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “HU” (Dia –laki laki), DALAM AL-QUR’AN ?

KONTROVERSI PENYEBUTAN “TUHAN”,DAN ASAL USULNYA.

HARAM DAN MURTADKAH MENYEBUT ALLAH DENGAN TUHAN, GUSTI, PENGERAN ?

SIAPA ALLAH, SIAPA HU, SIAPA RABB, SIAPA ILAAH, SIAPA TUHAN, SIAPA GUSTI, PENGERAN ?

SEBUAH RISALAH JAWABAN BUAT ORANG YANG TANPA ILMU PENGETAHUAN, MELEMPARKAN TUDUHAN TERHADAP “ALLAH”, SEBAGAI TUHAN BERHALA BANGSA ARAB,BABYLON.

sujud

SESEMBAHAN MANUSIA

Disadari atau tidak disadari,manusia akan merindukan Sang Pencipta dan Pelindungnya (QS.39:08 , 49).Fitrah diri manusia bersuara menjerit memanggil manggil Rabb nya manakala manusia itu tengah menghadapi malapetaka,bahaya maupun kesulitan dahsyat.Saat itu manusia tunduk,tawaqqal dan lemah dihadapan-Nya.(QS.31:32 , QS.17:66-69).

Mengapa manusia mencari dan menyembah Tuhan?

Umat Islam menyembah Allah,umat Kristen menyembah Tuhan Yesus,umat Hindhu menyembah para Dewa,umat Budha menyembah Sang Budha, Umat Tiongkok menyembah Tian,umat Hindhu menyembah para Dewa,dan sebagainya.Sepertinya Tuhan itu berjumlah banyak,sebab masing masing umat memiliki Tuhan.Demikiankah?

KONTROVERSI PENYEBUTAN “TUHAN”.

Dari aspek aqidah, bagi umat Islam yang telah beriman, mengakui adanya tuhan-tuhan selain Allah adalah sebuah kemusyrikan dan dosa tak berampun,sebab Ketauhidan sudah menjadi logika agama terunggul.(untuk PEMAHAMAN AQIDAH), Silahkan pahami pada link :

https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/09/03/mutaqod-50-64-doktrin-tauhid-dasar/

Lalu, mengapa di dalam Al-Qur’an Tarjamah Tafsiriyah ,Al-Qur’an terjemahan DEPAG RI,kata “Ilaahun” dan “Rabbun” diterjemahkan sebagai ‘tuhan’?
Apa bedanya dengan terjemah harafiah tradisional yang juga menerjemahkan istilah yang sama dengan arti yang sama pula? Contoh dalam budaya pesantren dan masyarakat Islam di Jawa menggunakan kata “GUSTI , PENGERAN” untuk kata ganti Tuhan.
Kemudian bukankah kosakata “Tuhan” masuk ke dalam bahasa Indonesia, akibat pengaruh teologi yang dibawa oleh kaum kolonial ? Jika demikian apakah sebaiknya kata ‘ilaahun‘ dan‘rabbun’ tidak perlu diterjemahkan sebagai tuhan, biarkan saja dalam bahasa aslinya ?

Pertanyaan semacam ini sering mengemuka dikalangan umat Islam pada umumnya,dan juga dari para pembaca kritis Al-Qur’an terjemahan, termasuk para tokoh dan aktivis Islam.Bahkan yang mengherankan ada juga orang yang mencantumkan gelar ustadz mempersoalkan istilah ini. Sepertinya merasa anti dan alergi menggunakan kata “Tuhan, Gusti, Pengeran ”, yang dianggap melenceng dari aqidah dan berasal dari doktrin non Islam.

HARAM DAN MURTADKAH MENYEBUT ALLAH DENGAN TUHAN ?

tuhan utk semua

Mengganti lafaz Allah dengan Tuhan jelas itu sebuah kejahatan serius,sebab disamping perbuatan kemusyrikan,juga “GHADAB” (perbuatan golongan orang orang yang dimurkai Allah).Tetapi bagaimana jika kita menyebut Allah dengan kata ganti lain ? Seperti kadang dalam menulis atau saat sedang berucap dan berdo’a, kita tidak menggunakan kata Allah tetapi dengan kata “TUHAN” , ”GUSTI” dan atau “PENGERAN”, Apakah termasuk perbuatan kemusyrikan dan ghadab ? Maka dalam perkara ini seyogyanya setiap muslim tidak asal mengharamkan atau meng-kafirkan sesama Islam,jika kita belum memahami segala sesuatunya dengan ilmu pengetahuan.

Maka sobat budiman,mari kita mencari tahu ilmu pengetahuannya pada risalah yang saya rangkum selanjutnya ini,agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang orang yang asal (asal bicara, asal nulis, asal berdakwah). Malulah kita apalagi kadang kita saksikan sesama teman muslim adu otot berebut benar pendapatnya masing masing,saling benci membenci hanya gara gara mempertahankan perkara yang kita tidak memiliki ilmu pengetahuannya atau kurang,tetapi hanya didasarkan atas “perasaan” .
(merasa apa yang telah diajarkan gurunya paling benar,merasa cukup dari membaca buku sudah paling benar,dsb).

Nah,lebih runyam lagi ketika kita mendapat pertanyaan miring tentang agama Islam,tentang makna ayat ayat Al-Qur’an, dari orang yang non muslim yang tiada pengetahuannya tentang ke-Islaman, sementara kita kebingungan menjawabnya.Ujung ujungnya hanya bisa dongkol,sakit hati dan balas memaki atau menghina.

SIAPA TUHAN, SIAPA ILLAH, SIAPA RABB, SIAPA GUSTI, PENGERAN ?

kaligrafi Alloh

Tuhan ya Allah,Illah ya Allah,Rabb ya Allah,Gusti,Pengeran ya Allah.Maka :

“Serulah Allah atau serulah Yang Maha Pengasih (ar-Rahman) Dengan nama apa saja kamu menyeru Dia; maka Dia memiliki nama-nama yang indah (asma-ul-husna)” – Qs. 17 al-Israa’ : 110

*Dari ayat diatas, jelas bahwa al-Qur’an memperkenalkan Tuhan yang universal, serulah Tuhan dengan nama apapun yang baik dan indah serta tentunya tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan sifat-sifat kemuliaan-Nya.

Sebab suatu hal yang pasti adalah bahwa bahasa Arab bukan satu-satunya bahasa yang ada ditengah masyarakat dunia. Oleh karena itu secara logika, keberagaman penyebutan terhadap Tuhan tidak dapat dihindari. Bangsa Afrika Selatan (Zulu) menyebut Tuhan dengan nama uMVELINQANGI, umat India mengenal istilah PRAMATMA, Bangsa Aborigin di Australia Selatan memanggil Tuhannya dengan istilah ATMATU,bangsa Jepang mengistilahkan Tuhannya “KAMI”, dan sebagainya.

(see at : Ahmed Deedat, Allah dalam dalam Yahudi, Masehi, Islam, terj.H. Salim Basyarahil, H. Mul Renreng, Penerbit Gema Insani Press, Jakarta, 1994, hal. 21-28).

Seorang ahli tafsir Al-Qur’an dari Indonesia, M. Quraish Shihab menyatakan bahwa wahyu-wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad juga tidak mempergunakan istilah Allah untuk kata ganti Tuhan melainkan memakai istilah Rabbuka dan baru pada wahyu ke-7 yaitu surah ke-87 istilah Allah diperkenalkan kedalam al-Qur’an.

(see at : Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A. Wawasan Al-Quran : Tafsir Maudhu’I atas pelbagai persoalan umat, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, dalam Catatan kaki hal. 23-24).

Kata Allah sendiri terbentuk dari kata AL dan iLah.
(see at : Abu Iman ‘Abd ar-Rahman Robert Squires, http://www.muslim-answers.org/allah.htm, dalam “Who is ALLAH”) ,

Dimana kata AL sama seperti penggunaan kata THE dalam bahasa Inggris, yaitu sebagai kata sandang atau penegasan tertentu. Sementara kata iLah memiliki arti Tuhan. Sehingga istilah Allah berarti Tuhan yang satu itu.
Dan konsep ini sesuai dengan pengajaran para Nabi :

“Dialah Allah yang Satu Tempat semuanya bergantung ;Tidak pernah Dia beranak dan tidak pula pernah Dia diperanakkan Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya .”– Qs. 112 al-Ikhlas : 1 – 4

Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa. – Perjanjian Baru : Injil Markus 12:29

Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia – Perjanjian Lama : Kitab Ulangan 4:35

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa – Perjanjian Lama : Kitab Ulangan 6:4

Dengan demikian maka perbedaan yang terjadi dalam menyebut Allah,akibat pengaruh bahasa masing masing umat dunia yang beragam,jadi janganlah membuat kita menjadi umat Islam yang sempit pemahaman.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal .”– Qs. 49 al-hujuraat : 13

Allah telah memilih umat Islam sebagai umat yang terbaik, maka buktikan kepada umat lainnya bahwa umat Islam memang umat yang cerdas,berpengetahuan luas, menyebarkan perdamaian, menjadi rahmat untuk semua alam.(Qs. 3 ali Imron : 110– Qs. 2 al-Baqarah : 143 – Qs. 5 al-Maidah : 8).

ASAL USUL KATA “TUHAN” MENJADI KOSAKATA BAKU BAHASA INDONESIA

kamus

Menurut riwayat, bahwa kosakata “Tuhan” adalah bebernama rasal dari “plesetan” kata “Tuan”, Hal ini terjadi disinyalir karena ungkapan perkataan dari seorang Belanda yang Leijdecker pada tahun 1678.Juga ditemukan dalam Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ. “Arti kata ‘Tuhan’ ada hubungannya dengan kata Melayu ‘tuan’ yang berarti atasan/penguasa/pemilik”. Keterangan ini dikaitkan dengan terjemahan Brouwerius, 1668, untuk istilah Yunani, Kyrios, sebutan bagi Isa Almasih. Maksudnya Tuan Yesus, tapi dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan, Tuhan Yesus.

Diterangkan secara lugas oleh Alif Danya Munsyi di majalah Tiara (1984).Dalam makalahnya itu, Alif menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi sebagai salah satu gejala paramasuai, yaitu penambahan bunyi ‘h’ yang nirguna pada kata-kata tertentu, misalnya embus menjadi hembus,empas menjadi hempas, asut menjadi hasut, dan tuan menjadi TUHAN.

Gejala itu timbul karena dialek tradisional yang kemudian dipengaruhi oleh dialek dialek dari bangsa kolonial yang acapkali mengucapkan bahasa bahasa setempat,namun aksennya berbeda atau berubah,sehingga kalimat yang diucapkan oleh bangsa penjajah itulah yang menjadi istilah populer dikalangan ahli kitab serta masyarakat pribumi.

Lingua Franca Melayu yang dipakai bangsa-bangsa Eropa antara lain Portugis dan Belanda sebagai bahasa administrasi untuk kegiatan ekonomi dan politik di seantero Nusantara, juga dipakai dalam kepentingan penyiaran agama Nasrani (agama umum yang dianut bangsa Eropa).Mereka (bangsa Eropa) biasa menyebut Isa dengan panggilan “TUAN”, yang dalam bahasa Yunani adalah ‘Kyrios’, dalam bahasa Portugis ‘senor’, dalam bahasa Belanda ‘heere’, dalam bahasa Perancis ‘seigneur’ dan dalam bahasa Inggris ‘lord’. Contohnya kalimat :

“The grace of or lord Jesus Christ be with your spirit”.

Ketika penghayatan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mula-mula oleh bangsa Portugis yang bernama Browerius, pada tahun 1663, sebutan Isa Al Masih masih TUAN, tetapi ketika orang Belanda yang bernama Leijdecker pada tahun 1678 menerjemahkan surat-surat Paulus itu, sebutan TUAN telah mengalami paramasuai yakni ada tambahan sisipan konsonan “H”,sehingga menjadikan penulisannyapun berubah menjadi”TUHAN”.

Selanjutnya kata Tuhan itu dibakukan sebagai kosakata baru, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta (Katolik), tanpa memberikan keterangan apapun tentang kata TUHAN. Kemudian kata “TUHAN” ini digunakan secara finish oleh para team penerjemah,untuk menterjemahkan kata “ILAAHUN” , “RABB” dalam bahasa Arab, dengan padanan kosakata “TUHAN”,hingga sekarang sebab tidak adanya padanan kata lain selain “TUHAN”.(ini yang disebut “menurut bahasa kaumnya”).
Terlepas dari parasuai dialek bahasa maka yang pasti setiap bahasa memiliki keterbatasan padanan kata dari kosa kata bahasa lain. Problem keterbatasan kosa kata ini, biasa terjadi pada setiap bahasa apapun di dunia ini. Akan tetapi, bila suatu kata dalam bahasa asing yang sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia tidak boleh diterjemahkan, niscaya akan menyulitkan pembaca yang ingin memahami maknanya.

*Upaya penerjemahan suatu bahasa ke bahasa lain, aspek intelektualitas dan budaya pengguna bahasa sangat menentukan kekayaan kosa kata suatu bahasa. Dalam kaitan ini, untuk menjelaskan kata ‘tuhan’ sebagai terjemah dari kata ‘ilaahun‘ dan ‘rabbun‘, haruslah dipahami argumentasi bangsa Arab yang menerjemahkan kata ‘tuhan’ dan ‘dewa’ sebagai ilaahun.
Sebagai contoh, kata dewa dan tuhan dalam bahasa Indonesia, terjemahan Arabnya sama, yaitu ilaahun. Padahal pengertian kata Dewa dan Tuhan dalam bahasa Indonesia sangat jauh berbeda.
Kata Tuhan pengertiannya adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb. Sedangkan kata dewa pengertiannya adalah makhluk Tuhan yang berasal dari cahaya suci kegaiban yang ditugasi mengendalikan kekuatan alam atau orang/manusia, juga berarti sesuatu yang sangat dipuja. (KBBI, 1990)

Oleh karena itu, jika kata ilaahun dan rabbun tidak diterjemahkan dengan kosakata yang populer dalam bahasa Indonesia, justru mempersulit pembaca untuk memahami kata ilaahun dan rabbun. Padahal terjemahan itu bertujuan untuk mempermudah pembaca memahami makna kalimat yang dibaca.

PRONOMINA (KATA GANTI) ‘YHWH’ DAN ‘TUHAN ALLAH’ DALAM PL/PB

Menurut New Advent Catholic Encyclopedia, Bangsa Yahudi mengenal tiga sebutan nama untuk Tuhan, yaitu El, Elohim dan Eloah, di samping nama YHWH (Tetragrammaton/ Yahweh). Perkataan Yahweh ini terdapat sekitar 6000 kali dalam Perjanjian Lama, Elohim 2570, Eloah 57 kali dan El 226 kali. Walaupun masih menjadi perdebatan para ahli Kitab Suci, dikatakan bahwa kemungkinan kata Allah berasal dari kata El ini, yang berarti Tuhan yang Mahabesar/Mahakuasa (lih. Kel 6:2) yang secara derivatif dapat pula berarti “Ia yang dikejar oleh semua orang, Ia yang menjadi tujuan semua orang, ia yang kepada-Nya semua orang mencari perlindungan dan bimbingan, Ia yang kepada-Nya seseorang mendekatkan dirinya, dst”. Diskusi argumen tentang asal usul kata ini, setuju atau tidak setuju akan makna derivatif-nya akan menghasilkan pembicaraan yang terlalu jauh.

Sedangkan nama Tuhan sebagai YHWH yang diterima oleh Musa, merupakan nama yang sangat sakral, maka menurut tradisi Yahudi, mereka dilarang menyebutkan nama YHWH tersebut. Penyebutan nama YHWH (Yahweh) hanya dilakukan setahun sekali oleh Imam Agung, yang dilakukan di Bait Allah, pada pesta Yom Kippur. Karena kesakralan kata YHWH ini, maka tak sembarang orang menyebutkannya; dan di dalam pembacaan Kitab suci, mereka mengganti kata YHWH tersebut dengan Adonai. Septuagint dan Vulgate kemudian menerjemahkan Adonai ini dengan Kyrios/ Dominus.

Paus Benediktus XVI dalam bukunya Jesus of Nazareth condong kepada hasil studi para ahli Kitab Suci yang mengatakankan bahwa pengakuan Petrus akan Yesus sebagai Mesias, Putra Allah yang hidup (Mat 16:13-15), jatuh pada peringatan hari Yom Kippur ini (lihat buku karangan Bapa Paus Benedict XVI, Jesus of Nazareth p. 306); yang menunjukkan penggenapan sebutan Allah YHWH/ Adonai ini di dalam diri Kristus Yesus.

‘Kurios’ itu adalah ‘Tuhan’ (Lord) yang diambil dari bahasa Yunani, yang merupakan bahasa penulisan kitab Perjanjian Baru. Sedangkan kata “Tuhan” (Lord) dalam Kitab Perjanjian Lama (PL) dalam bahasa Ibrani-nya adalah “Adonai”. Dalam PL, kata “Adonai” (Tuhan/ Lord) ini dipakai sebagai kata ganti bagi YHWH (Yahwe) dan digunakan bersama- sama kata “Elohim (Allah/ God)” (lih. Mzm 38:15; Mzm 8:1,9), walaupun kata “adonai” ini memang juga menggambarkan hubungan antara tuan dan hamba (lihat: Kej 24:9,20,12,14,27; Kel 21:4-6) antara suami dan istri ( Kej 18:12, Yud 19:27; Mzm 45:12).

Demikianlah contoh ayat-ayat di mana kata ‘YHWH’, ‘Tuhan’ (Lord) dan ‘Allah’ (God) digunakan untuk mengacu kepada Allah yang satu dan sama:

“Sebab kepada-Mu, ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], aku berharap; Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan [Adonai], Allahku [Elohim].” (Mzm 38:15)

“Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! …. Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! (Mzm 8:1,9).

Di kitab Perjanjian Baru, terdapat ayat-ayat, di mana kata “kurios” diterjemahkan sebagai “Tuhan” (Lord), dan mengacu kepada Allah (God), seperti halnya pada Luk 1:32; 2:9, Kis 5:19), dan kata “kurios” ini juga mengacu kepada Yesus (lih. Rom 10:9, 1Kor 12:3; Flp 2:11; Why 19:15); Kata Ibrani “Adonai” diterjemahkan di dalam Kitab Septuaginta (PL dalam bahasa Yunani) dengan kata Yunani, yaitu “Kurios” (Lord). Kata “Kurios” ini juga digunakan untuk menterjemahkan kata YHWH (God). Kata Adonai dalam Perjanjian Lama adalah kata ganti terhadap kata YHWH [Yehovah/ Yahwe], yaitu kata yang penggunaannya terbatas, oleh karena bangsa Yahudi menolak untuk mengucapkan kata tersebut karena takut menyebutkannya dengan tidak hormat, dan dengan demikian melanggar perintah Allah, “Janganlah menyebut nama Tuhan [YHWH/ Yehovah] Allah-mu [Elohim] dengan tidak hormat” (lih. Kel 20: 7).

ALLAH SENDIRI MENGGUNAKAN PENYEBUTAN “TUHAN” DAN KATA GANTI LAIN DALAM AL-QUR’AN

Alloh

I. PENGERTIAN ILAAHUN
*Kata ilaahun terdiri atas tiga huruf: hamzah, lam, ha, sebagai pecahan dari kata laha – yalihu – laihan, yang berarti Tuhan yang Mahapelindung, Mahaperkasa. Ilaahun, jamaknya Aalihatun, bentuk kata kerjanya adalah alaha, yang artinya sama dengan ‘abada, yaitu ‘mengabdi’. Dengan demikian ilaahun artinya sama dengan ma’budun, ‘yang diabdi’. Lawannya adalah ‘abdun, ‘yang mengabdi’, atau ‘hamba’, atau ‘budak’.

Selain ilaahun, dalam Al-Qur’an juga terdapat kata Rabbun yang digunakan untuk menyebut Tuhan. Kata rabbun terdiri atas dua huruf: ra dan ba, adalah pecahan dari kata tarbiyah, yang artinya Tuhan yang Mahapengasuh. Secara harfiah rabbun berarti pembimbing, atau pengendali. Selain dimaknai Allah, kata rabbun juga digunakan untuk sebutan tuhan selain Allah, seperti paragraf ayat:
“ arbaban min dunillah”, menjadikan pendeta, pastur, dan Isa Al-Masih sebagai tuhan-tuhan selain Allah.
Dalam Al-Qur’an kata ilaahun juga dipakai untuk menyebut berhala, hawa nafsu, dewa. Semua istilah tersebut dalam Al-Qur’an menggunakan kata ilaahun, jamaknya aalihatun.

1.1. Allah Swt. Menyatakan Dia sebagai ilaahun.

… إِنَّمَا ٱلله إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ سُبْحَٰنَهُۥ أَن يَكُونَ لَهُۥ وَلَدٌ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ وَكَفَىٰ بِٱللهِ وَكِيلً

“… Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Esa, Mahasuci Allah dari mem¬punyai anak. Semua yang ada di langit dan di bumi hanyalah milik-Nya. Cukuplah Allah sebagai saksi atas kebenaran keesaan-Nya.” (Qs. An-Nisaa’ 4:171)

1.2. Disisi lain Allah Swt. Menyatakan hawa nafsu yang diikuti orang kafir ,juga sebagai ilaahun.

أَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

“Wahai Muhammad, apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang ka-fir yang menuhankan hawa nafsunya? Apakah kamu punya kekuasaan untuk memberi hidayah kepada mereka?” (QS. Al-Furqan, 25: 43)

1.3. Allah Swt. Menyatakan sesembahan orang musyrik sebagai ilaahun :

… فَمَآ أَغْنَتْ عَنْهُمْ ءَالِهَتُهُمُ ٱلَّتِى يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللهِ مِن شَىْءٍۢ لَّمَّا جَآءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ

“… Maka Tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah itu tidak dapat menolong mereka sedikit pun ketika datang adzab dari Tuhanmu. Tuhan-tuhan itu justru menambah kerugian yang sangat besar.” (QS. Hud, 11: 101)

1.4. Allah Swt. Menyatakan para pendeta sebagai rabbun :

ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَٰنَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللهِ وَٱلْمَسِيحَ ٱبْنَ مَرْيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوٓا۟ إِلَٰهًا وَٰحِدًا لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Kaum Yahudi dan Nasrani telah menjadikan pendeta-pendeta mereka, pastur-pastur mereka, dan Al-Masih bin Maryam sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Padahal mereka hanya diperintah untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Allah. Mahasuci Allah dari semua keyakinan syirik yang mereka buat-buat.” (Qs. At-Taubah, 9:31)

Maka kata ilaahun dan rabbun sesungguhnya adalah bahasa asli Arab jahiliyah yang dipertahankan penggunaannya dalam Al-Qur’an, sebagaimana contoh di atas,dimaksud bahwa Allah menyesuaikan dengan pemahaman bahasa yang dimengerti kaumnya.
(Bayangkan jika Al-Qur’an tidak cerdas,bahasanya tidak difahami oleh orang Arab,tentu akan semakin diolok-olok oleh kaum jahiliyyah).

Orang-orang Arab sebelum Islam, memahami makna kata ilaahun sebagai dewa atau berhala, dan mereka gunakan dalam percakapan sehari-hari. Apabila orang Arab Jahiliyah menyebut dewa cinta, maka mereka mengatakan ilaahul hubbi, dan ilaahatul hubbi untuk menyebut dewi cinta. Kaum penyembah berhala (animisme), atau aliran kepercayaan di zaman kita sekarang, sebagaimana orang-orang Arab Jahiliyah, menganggap tuhan mereka berjenis kelamin, laki dan perempuan.

Demikian sobat, Maka sekarang bolehkah umat Islam menyebut Allah dengan nama-nama dari bahasa-bahasa non-Arab ? Secara bijaksana ,jawabnya boleh-boleh saja, toh kita di Indonesia juga menggunakan istilah Tuhan untuk menterjemahkan istilah Robb, dan itu tidak perlu dipermasalahkan.Namun yang perlu diwaspadai oleh umat Islam adalah jangan sampai terjebak pada nama-nama yang mengarah pada keberhalaan (bersifat syirik) :

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-namaNya, Kelak, mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” – Qs. 7 al-a’raaf : 180

Bagaimana sekarang ? Sudah memahami semua ini ? Sebab akupun kini telah memahami dari tulisan yang ku susun sendiri ini. Oleh karena itu, sobat budiman pembaca terjemah Al-Qur’an tidak perlu alergi terhadap kata “Tuhan” sebagai terjemahan dari kata ilaahun dan rabbun. Umat Islam yang kini sudah mengetahui ilmunya tidak perlu harus merasa khawatir luntur aqidahnya, karena ini hanya problem bahasa masing masing umat dan keterbatasan kosa kata bahasa Indonesia.

2. PENGERTIAN RABB DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH.

(Oleh Sheikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan) :

Rabb adalah bentuk mashdar, berasal dari “Rabba–Ya Rubbu”,yang berarti mengembangkan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain,sampai pada keadaan yang sempurna.

Jadi, Rabb adalah kata mashdar yang dipinjam untuk fa’il (pelaku). Kata-kata Ar-Rabb tidak disebut sendirian, kecuali untuk Allah Ta’ala yang menjamin kemaslahatan seluruh makhluk. Adapun jika diidhafahkan (ditambahkan kepada yang lain), maka hal itu bisa untuk Allah dan bisa untuk lainNya. Seperti Firman Allah Ta’ala:

“Tuhamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu,”.(QS Asy-Syuara: 26).

Dikatakan “rabbuddaari” dalam ayat tersebut berarti tuan rumah, pemilik rumah, atau pemilik kuda, dan diantaranya lagi dalah perkataan Nabi Yusuf alaihissalam yang difirmankan oleh Allah Ta’ala:

“Dan Yusuf Berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.”.(QS.Yusuf:42).

Dan Firman Allah Ta’ala:

“Raja berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang Telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha mengetahui tipu daya mereka.” (QS Yusuf: 50).

“Hai kedua penghuni penjara: “Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi Maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)”.(QS.Yusuf:41).

Rasulullah bersabda dalam hadist “unta yang hilang,”
“sampai sang pemilik menemukannya.”

Maka jelaslah bahwa kata Rabb diperuntukkan untuk Allah, jika ma’rifat dan mudhaf, sehingga kita mengatakan misalnya: “Rabbu” (Tuhan Allah), “Rabbul’alamiin” (Penguasa semesta alam), atau “Rabbunnas” (Tuhan manusia).Dan tidak diperuntukkan kepada selain Allah Ta’ala kecuali jika diidhafahkan, misalnya: “Rabbuddaar” (tuan rumah), atau “Rabbul ibiil” (pemilik unta), dan lainnya.

Makna “Rabbul’alamiin” adalah Allah Ta’ala Pencipta alam semesta, Pemilik, Pengurus, dan Pembimbing mereka dengan segala nikmatNya, serta dengan mengutus para rasulNya, menurunkan kitab-kitabNya, dan Pemberi balasan atas segala perbuatan makhlukNya.

MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “HU” (Dia Laki-Laki), DALAM AL-QUR’AN ?

Apa maksudnya ? Apakah berarti Tuhan itu lebih dari satu ? Apakah berarti bahwa tuhan itu bergender ?

Sahabat,perkara ini telah sering menjadikan perdebatan kusir diantara sesama dan bahkan telah menjadi ajang pembenaran argumentasi pihak non muslim bahwa Tuhan itu dapat bersifat plural atau dapat disetarakan dengan unsur-unsur lain.

Dan sebenarnya pertanyaan-pertanyaan ini sudah dijawab dari sejak jaman dulu oleh Ulama alim dan Ahli Tafsir,dimana para ulama dari agama lain selalu mempertanyakan,setiap kali melihat terjemahan Al-Quran semacam ini dari masa-ke-masa, MENYANGKA dan BERTANYA apakah kata “KAMI” dan “HU” (Dia Laki-Laki),dalam Al-Quran adalah “Tuhan yang dapat disetarakan dengan unsur lain,serta bergender”. Padahal dalam ayat lain Al-Qur’an sudah mengunci jawaban, yakni bahwa Allah Swt itu Tunggal .Seperti salah satunya ditegaskan dalam Surah QS.112.Al-Ikhlas:01.

Tak kenal maka tak sayang,ketidak tahuan akan membuat kita tenggelam ke dalam kebimbangan dan kegelapan alam pikir.

BERIKUT PENJABARANNYA :

Semua perkara yang tersebut diatas sesungguhnya hanya masalah tata bahasa.Di antara uslub (metode) bahasa Arab adalah bahwa seseorang dapat menyatakan tentang dirinya dengan kata ganti ‘nahnu’ (kami) untuk menunjukkan penghormatan. Atau Allah menyebut dirinya dengan dhamir (kata ganti) ‘أنا’ (saya) atau dengan kata ganti ketiga seperti : هو’ (dia).

PRONOMINA atau DHAMIR atau KATA GANTI ALLAH,RABB dan BENDA lain dalam AL-QUR’AN :

pronomina

Bahwa tata bahasa AL-QUR’AN itu berbeda jauh dengan tata bahasa bangsa manapun didunia dalam hal penjabaran pemaknaan dari sebuah kalimat maupun padanan kata.Dalam bahasa AL-QUR’AN,jika sebuah kalimat dirubah satu tanda bacanya saja akan merubah artinya,apalagi menambah/merubah satu huruf,maka akan jauh berbeda maknanya,juga padanan kata.

1. MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “AKU”

Dalam tata bahasa Arab,(GRAMMAR/NAHU SARAF), ada kata ganti (DHAMIR / PRONOMINA) pertama (singular) “AKU”,dengan kalimat :”Ana” ,Dan ada kata ganti pertama (plural) “AKU”,dengan kalimat : “Nahnu”. Akan tetapi dalam bahasa Arab, kata ganti pertama plural dapat dan sering, difungsikan sebagai singular. Hal ini disebut “Al-Mutakallim Al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”, Adalah kata ganti pertama yang memuat makna sebagai tanda “PENGHORMATAN”.

Metode ini terdapat dalam Al-Quran dan Allah Ta’ala menyampaikan kepada bangsa Arab apa yang dipahami dalam bahasa mereka”.(Fatawa Lajnah Daimah, 4/143)
Allah SWT terkadang menyebutkan dirinya dengan sighoh mufrad (sendiri) secara nampak atau mudhmar (tersembunyi). Tekadang dengan shigoh jama’. Seperti firman-Nya,

“Sesungguhnya kami telah taklukkan bagi kamu (Muhammad) dengan penaklukan yang nyata…..”.

Maka Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan nama-Nya dengan shighoh tatsniyah (bentuk dua). Karena shigoh jama’ mengandung pengagungan yang layak bagi-Nya. Terkadang menunjukkan makna nama-nama-Nya. Sementara sighoh tatsniyah (bentuk dua) menunjukkan bilangan tertentu. Dan Dia tersucikan dari itu.
(Reff:‘Al-Aqidah At-Tadmuriyah karangan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 75).

Lafaz “Inna” ( إنا)) dan “Nahnu” (نحن) atau selainnya termasuk bentuk jamak, tapi dapat diucapkan untuk menunjukkan seseorang yang mewakili kelompoknya, atau dapat pula disampaikan mewakili seseorang yang nomor satu. Sebagaimana dilakukan oleh Presiden apabila ia mengeluarkan keputusan atau ketetapan, maka dia berkata, “Kami tetapkan…” atau semacamnya, padahal dia yang menetapkan itu hanyalah satu orang. Akan tetapi diungkapkan demikian untuk menunjukkan keagungan. Maka yang paling berhak diagungkan oleh setiap orang adalah Allah Azza wa Jalla. Maka jika Allah mengatakan dalam Kitab-Nya, (إنا), sesungguhnya Kami, atau (نحن), kami, itu adalah bentuk pengagungan, bukan menunjukkan bilangan.
Ini karena dhamir ‘NAHNU’ yang dalam Tata Bahasa umum sebagai bentuk jamak yang diartikan sebagai “kita” atau “kami” (plural),tetapi dalam ilmu NAHU SOROF,kalimat “NAHNU” tersebut diartikan sebagai bermakna :”AKU / SAYA” dalam bentuk singular/Tunggal yang merupakan bentuk kalimat penghormatan atau bahasa sopan (Kromo inggil-Jawa).

Karena dalam tata bahasa bangsa lain tidak memiliki perbendaharaan seperti dalam Tata Bahasa Arab ini,maka kalimat ‘NAHNU”(Aku dengan konotasi penghormatan), hanya bisa diterjemahkan dengan kalimat “KAMI” ke dalam bahasa Indonesia atau “WE” dalam Bahasa Inggris,sehingga bagi yang tidak memahami seolah bermakna “jamak”.

Selain kata ‘Nahnu’, ada juga kata ‘ANTUM (KAMU), yang sering digunakan untuk menyapa lawan bicara meski hanya satu orang. Padahal makna `antum` adalah kalian (jamak).

Maka terjemahan “ANTUM” dalam bahasa Arab yang berarti “KAMU”,ketika kita menyapa lawan bicara kita dengan panggilan ‘antum’, maka secara kandungan bahasa, merupakan panggilan sopan dan ramah serta sebagai penghormatan ketimbang menggunakan sapaan “Anta , Ente”

Atau dalam bahasa sehari-hari kita,memanggil lawan bicara dengan panggilan :

-“KAMU , LOE , SITU”,maka akan berkesan adanya penghormatan jika diganti dengan kata, ”Anda, Gus atau “Tuan, Nyonya/Ibu/Bapak”.

Dalam bahasa Jawa, Sunda :

-Koe / rika / nyong /awakmu,aing dan sebagainya,maka akan lebih mengapresiasikan penghormatan dengan kalimat panggilan : “Panjenengan/sampeyan/sliramu/abdi/anjeun”, dan sebagainya. (Ini disebut “Ngajeni” /sopan dalam bahasa Jawa/Sunda)

Dalam bahasa Inggris :

-I (am) = saya, aku.
-You = kamu
-We = kami
-They = Mereka
-He = dia (laki-laki)
-She = dia (wanita)
-It = dia (benda & hewan)

BANDINGKAN DENGAN BAHASA ARAB :

-Huwa = dia (laki-laki)
-Huma = dia berdua (laki-laki)
-Hum = mereka (laki-laki)
-Hiya = dia (perempuan)
-Huma = dia berdua (perempuan)
-Hunna = mereka (perempuan)
-Anta = kamu (laki-laki)
-Antuma = kamu berdua (laki-laki)
-Antum = kalian (laki-laki)
-Anti = kamu (perempuan)
-Antumah = kamu berdua (perempuan)
-Antunna = kalian (perempuan)
-Ana = Saya, Aku
-Nahnu ( kami-aku, dengan bahasa penghormatan)

Dari perbendaharaan kata diatas, jika kita rangkai kalimat atau digabungkan dengan ‘kata kerja’, maka akan mengalami perubahan.

Contoh kata ,”fa’ala” =melakukan / “do” dalam Inggris,jika ditempatkan dengan kata-kata diatas maka akan menjadi:

a). “yaf’alu” =dia (seorang lak-laki) melakukan…,
b). “yaf’alaani”=dia dua orang lak-laki melakukan…,
c).”yaf’aluuna” =mereka (laki-laki) melakukan…,

Maka Kata ‘Nahnu’ (Kami,Alloh) yang berasal dari akar kata “ANNA”, dalam Al-Qur’an,tidak bermakna banyak, tetapi tetap bermakna “AKU TUNGGAL” yang menunjukkan keagungan Allah SWT,Tuhan Semesta Alam. Ini dipelajari dalam ilmu balaghah.

Contoh:
Dalam bahasa kita ada juga penggunaan kata “Kami” tapi bermakna tunggal. Misalnya seorang Lurah dalam pidato sambutan berkata.

”Kami sebagai Lurah berpesan…bla …bla….”

Padahal si Lurah hanya dia sendiri dan tidak banyak, tapi dia bilang “Kami”. Lalu apakah kalimat itu bermakna bahwa seorang Lurah yang sedang pidato itu berjumlah banyak?

Contoh lain :

Pada orang-orang yang telah fasih dengan Tata Bahasa Arab tentu akan paham, atau setidaknya orang pesantren “klotokan” yang bahasa sehari-harinya lazim menggunakan bahasa Arab Seperti di Pondok Pesantren Gontor,Tebu Ireng dan lainnya, tentu akan paham makna penggunaan kata “Nahnu” (kami).

-Maka kalimat,”Nahnu” (kami), dapat digunakan untuk lebih dari satu yaitu “kami” (plural – jamak),namun dapat juga untuk “satu orang” yaitu yang dimaksudkan “saya-sendiri” dengan makna “Bahasa santun”. (dalam Bahasa Arab).

Contoh lain lagi :

Penggunaan kata : “Antum” (kalian), memang bisa digunakan untuk lebih dari satu yaitu “Kalian” (plural – jamak), Namun dapat juga untuk satu orang, yaitu yang dimaksudkan “Anda” ,”Tuan” , “Bapak/Ibu”,dengan makna bahasa santun ,dalam Bahasa Arab.Bandingkan dengan jika kita mengatakan kata,”KAMU, LOE , SITU, ENTE”,yang diucapkan kepada orang tua atau Bos.

Maka bukan berarti “Antum” ini bermakna “kalian” (jamak) akan tetapi bermakna tunggal sebagai PENGHORMATAN dan PENGAGUNGAN. Inilah yang disebut “Al-Mutakallim Al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”.

Cobalah RENUNGKAN akan hal ini !

-Maka penyebutan kata “KAMI” yang digunakan dalam Al-Qur’an ketika Allah berfirman,(yang dalam bahasa Arab adalah “NAHNU” juga “INNA” atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf “NAA”),adalah merupakan bentuk kalimat pengagungan yang tetap bermakna, “AKU”, Tuhan Yang Tunggal dan Maha Perkasa.

-Juga acapkali Allah Swt,menggunakan kata “AKU”, “DIA”, didalam Al Qur’an.(dalam bahasa Arab adalah “ANA” , “INNI” dan “HUWA“, atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf “TU”, atau juga langsung dengan lafadz “Allah” sendiri, begitu pula dengan kata “Dia” / “Huwa”).Maka tata bahasa seperti ini tidak ada dalam tata bahasa bangsa lain termasuk dalam tata bahasa Indonesia.

2. Mengapa Allah Swt menggunakan kata ganti (dhamir) “HU” (Dia- laki-laki) untuk diri-Nya dalam al-Qur’an?

*Sebab mengapa Allah Swt dalam Al-Qur’an menggunakan “HU” (kata ganti ketiga-Maskulin) untuk diri-Nya adalah lantaran Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan penggunaan “HU” (pronomina III -Maskulin), bagi Allah Swt telah sesuai dengan kaidah dan sastra bahasa Arab.

Karena Allah Swt bukan muannats (feminim) hakiki dan juga bukan mudzakkar (maskulin) hakiki dan juga tidak menggunakan penggunaan qiyâsi (mengikuti kaidah tertentu) dan simâi muannats majâzi (figuratif). Karena itu, berdasarkan kaidah bahasa Arab yang harus digunakan untuk Zat Allah Swt adalah pronomina dalam bentuk maskulin figuratif (mudzakkar majâzi). Di samping itu, tanda-tanda literal maskulin dan feminin bukan sebagai penjelas kedudukan dan derajat yang mengandung nilai (value).

Bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab. Bahasa Arab berbeda dengan bahasa-bahasa lainnya menggunakan dua jenis kata ganti dan pronomina (dhamir) orang ketiga laki-laki (mudzakkar) dan kata ganti orang ketiga perempuan (muannats). Suatu hal yang natural bahwa setiap buku atau kitab yang ingin ditulis menggunakan bahasa ini, kendati ia merupakan kitab Ilahi, maka ia harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa tersebut dan gramatikanya.

Bahasa Arab, karena tidak memiliki kata ganti orang ketiga waria (khuntsa), sebagian hal yang tidak memiliki jenis kelamin dinyatakan dengan kata ganti orang ketiga laki-laki (dhamir mudzakkar). Namun, yang semisal dengan masalah ini, juga terdapat dalam bahasa-bahasa yang lain, seperti bahasa Prancis. Dengan bersandar pada poin ini dapat diambil kesimpulan bahwa pernyataan kata ganti orang ketiga laki-laki, sama sekali tidak ada kaitannya dengan sifat kelaki-lakian.

Pada kenyataannya, dapat dikatakan bahwa al-Qur’an tidak didominasi oleh pandangan patriarkial yang berkembang pada budaya zamannya, melainkan sebuah tipologi bahasa yang mengkondisikan pembicaranya supaya memperhatikan dan mematuhi hal tersebut. Karena itu, Al-Qur’an, dengan alasan diturunkan dan diwahyukan dalam bahasa Arab, bertutur kata dengan wacana ini dan menggunakan pronomina-pronomina dan redaksi maskulin (mudzakkar) yang selaras dan sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab.

Dengan kata lain, dari satu sisi, dalam bahasa Arab, nomina-nomina (asmâ) dan verba-verba (af’âl) (selain verba kata ganti orang pertama tunggal [mutakkalim wahdah] dan kata ganti orang pertama jamak [mutakallim ma’a al-ghair]) memiliki dua jenis: laki-laki atau maskulin (mudzakkar) dan perempuan atau feminin (muannats). Maskulin dan feminin ini terbagi lagi menjadi hakiki dan majâzi (figuratif). Seluruh entitas yang memiliki alat kelamin pria dan wanita adalah maskulin dan feminin hakiki (mudzakkar dan muannats hakiki). Selainnya adalah figuratif (majâzi).

Maskulin hakiki seperti “rajul” (pria) dan “jamal” (unta jantan). Feminin hakiki seperti “imraat” (wanita) dan “naqah” (unta betina). Maskulin figuratif (mudzakkar majazi) seperti “qalâm” (pena) dan “jidâr” (dinding). Feminin figuratif (muannats majazi) seperti “dâr” (rumah) dan “ghurfah” (kamar). Penggunaan muannats majazi dalam hal-hal seperti nama-nama kota, anggota badan yang berpasangan memiliki kaidah dan dalam hal-hal lainnya tidak mengikut kaidah tertentu (qiyâsi) dan bersifat simâi. Simâi artinya bahwa yang menjadi kriteria adalah semata-mata mendengar orang-orang yang berbahasa Arab dan harus diperhatikan orang-orang Arab menggunakannya dalam bidang apa. Apabila hal tersebut bukan termasuk muannats hakiki dan muannats majâzi dan juga bukan mudzakkar hakiki maka tentulah ia merupakan mudzakkar majâzi.[1]

Dari sisi lain, karena Allah Swt tidak melahirkan juga tidak dilahirkan. Demikian juga tiada yang menyerupainya[2] dan juga bukan termasuk hal-hal yang terkait dengan penggunaan qiyâsi (mengikuti kaidah tertentu) dan simai muannats majâzi. Karena itu, berdasarkan kaidah bahasa Arab yang harus digunakan untuk Zat Allah Swt adalah kata ganti-kata ganti, nama-nama dan sifat-sifat dalam bentuk mudzakkar majâzi (maskulin figuratif).

Poin ini juga harus mendapat perhatian bahwa tanda-tanda literal muannats dan mudzakkar tidak mengandung nilai tertentu dan tidak menunjukkan tanda dan dalil atas kemuliaan dan kedudukan seseorang. Karena itu, apabila tanda-tanda literal mudzakkar, menunjukkan kemuliaan dan kedudukan tertentu seseorang, dan memiliki nilai tertentu, maka untuk selain manusia dan sebagian makhluk rendah seperti setan dan iblis… tidak boleh menggunakan kata kerja-kata kerja atau nomina-nomina atau pronomina-pronomina dan seterusnya yang memuat tanda-tanda literal mudzakkar.
Demikian juga, apabila tanda-tanda literal muannats merupakan dalil dan tanda kekurangan dan minus nilai maka entitas-entitas yang sarat nilai seperti matahari (syams), bumi (ardh), kaum pria (al-Rijal), air (ma’) dan sebagainya dan sebaik-baik perbuatan dan kedudukan seperti sembahyang (shalat), zakat, surga (jannat) tidak akan dinyatakan dalam bentuk literal muannats.[3]
Reff:
[1]. Sharf Sâdeh, hal. 28 dan 145.
[2]. Lam yalid wa lam yulad (Qs. Al-Ikhlas [114]:3). Laisa kamitsli syai (Qs. Al-Syura [42]:11)
[3]. Silahkan lihat, Zan dar Âine Jalâl wa Jamâl, Jawadi Amuli, hal. 78.
*http://quran.al-shia.org/id/lib/101.html

PENERAPAN KALIMAT ALLAH DAN PRONOMINA “TUHAN-AKU-DIA-KAMI DAN RABB”, DALAM AL-QUR’AN :

Telah diketahui bahwa terjemahan “Tuhan” berasal dari “ILAAHUN” dan “RABB”, kemudian kata ganti “AKU” dari “ANA”, kata ganti “DIA” dari “HU”, sedangkan kata ganti “KAMI” dari “INNA / NAHNU”,maka pecahan pecahan tersebut semuanya berasal dari satu sumber kalimat agung, yakni berasal dari kalimah “ALLAH”.

Mari kita jabarkan :

Lafaz ALLAH terdiri dari empat huruf,yaitu : ALIF-LAM-LAM dan HA.

1. Jika huruf pertama ditiadakan, maka yang ada lafaz “LILLAH”.
2. Jika huruf LAM pertama ditiadakan,maka yang ada lafaz “ILAAHUN”.
3. Jika kedua huruf LAM ditiadakan, maka yang ada lafaz “HU”.
4. Jika tiga huruf terakhir ditiadakan, maka muncul symbol “ALIF”.

Makna LILLAH :
Mengejawantahkan dzat bagi “TEMPAT SEMUA KEMBALI atau SEGALA SESUATU HANYA DARI,UNTUK dan PADA ALLAH,entah segala penciptaan,peribadatan,pengabdian serta ketergantungan seluruh alam semesta dan makhluk makhluk-Nya.

Makna ILAAHUN :
Kata ilaahun terdiri atas tiga huruf: hamzah, lam, ha, sebagai pecahan dari kata laha – yalihu – laihan, yang berarti Tuhan yang Mahapelindung, Mahaperkasa. Ilaahun, jamaknya Aalihatun, bentuk kata kerjanya adalah alaha, yang artinya sama dengan ‘abada, yaitu ‘mengabdi’. Dengan demikian ilaahun artinya sama dengan ma’budun, ‘yang diabdi’. Lawannya adalah ‘abdun, ‘yang mengabdi’, atau ‘hamba’, atau ‘budak’.Maka ILAAHUN yang dalam bahasa Indonesia Tuhan Yang Maha Esa, mengejawantahkan Dia,Tuhan, Allah yang tidak ada tuhan tuhan lain dan sembahan sembahan lain selain Allah,tanpa reserve.

Makna HU :
“HU”,yang berasal dari bagian asma Allah,di dalamnya tersembunyi hakekat ”HUWA”,adalah Dia Yang Maha Mutlak,tak terbanding dan setarakan(awyakta-Sanskert).Karena sebelum datangnya islam bangsa Arab jahiliyyah menganggap bila Tuhan itu dapat setara dengan materi dan berjenis kelamin laki laki.Maka setelah dunia yang jahil diterangi Islam,Allah meminjam kosa kata yang telah dipahami oleh bangsa Arab ini sebagai bentuk tandingan,bahwa “HU” (Dia,Tuhan yang bukan laki laki maupun perempuan dan tak dapat disetarakan dengan lainnya),dengan di idhafahkan menjadi : “Hu, Allahhu ahad,Allahussomad – Dia,Allah Yang Maha Esa,tempat semua bergantung,tidak beranak dan diperanakkan”, artinya Allah tidak dapat disetarakan dengan materi, gender laki laki/perempuan.(QS.112.Al-Ikhlas :1-4).

alif

Symbol ALIF :
Sedangkan symbol ALIF merupakan kata sandang “AL” atau dalam bahasa Indonesia adalah “SANG” atau dalam bahasa Inggris “THE”,yang mengejawantahkan bahwa ALLAH adalah dzat Maha Tersembunyi namun exis. Dan dari symbol ALIF memancar 99 asmaul Husna,yang huruf ALIF tersebut hanya satu karakter yakni bentuk karakter garis strip vertikal tunggal yang mempunyai makna rahasia paling rahasia yang direliefkan dalam beberapa awalan surat surat Al-Qur’an yakni ALIF-LAAM-RAA , ALIF – LAAM – MIM , yang setiap nama nama ASMAUL HUSNA selalu menggunakan kata sandang “AL”,yang dawalii dengan huruf Alif, kemudian ayat pertama turun diawali dengan huruf ALIF,yang setiap membaca ayat-ayat-Nya dimulai dengan Bismillah,sedang huruf bismillah diawali dengan karakter ALIF.

Selain ilaahun, dalam Al-Qur’an juga terdapat kata Rabbun yang digunakan untuk menyebut Tuhan. Kata rabbun terdiri atas dua huruf: ra dan ba, adalah pecahan dari kata tarbiyah, yang artinya Tuhan yang Mahapengasuh. Secara harfiah rabbun berarti Pembimbing, Pemelihara dan Pengendali.

A.PENERAPAN KALIMAT “AKU” :

Ketika Alloh menggunakan kata ganti diri-Nya dengan kalimat “aku/Ana”,maka dipergunakan untuk menegaskan kepemilikan dan sumber tuju atas segala sesuatu yang ada dialam semesta ini.Maka Allah Yang Maha berkuasa, tempat meminta dan berhak memberi sesuai kehendak-Nya.Tiada yang lain yang berkemampuan seperti ini,tidak ada libatan pengaruh maupun tekanan dari makhluk lain.Segala sesuatu yang langsung ditangani dibawah kekuasaan dan kekuatan-Nya.Inilah merupakan bentuk “LITTA’DZHIIM” (menunjukkan Keagungan dan Kebesaran seorang diri/Tunggal tanpa melibatkan unsur lain saat berkehendak).

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS.Adz Dzaariyaat : 56)

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”.(QS. 2. Al Baqarah:152).

B.PENGGUNAAN KALIMAT “ALLAH” PADA DIRINYA SENDIRI:

Lafaz Allah adalah lafzhul Jalalah, lafaz yang tidak dapat dirubah hurufnya dan diganti menjadi lafaz lain.Nama yang asing bagi bangsa Arab dan dunia sebelum datangnya Islam.Kosakata yang belum pernah ada sebelumnya.Dia sendiri yang menamai dirinya dengan ALLAH (QS.28:68-70).

Digunakan untuk menunjukkan jatidiri serta keberadaannya (existensi) untuk diketahui dan dikenal,bahwa Dia,Tuhan Sang Penguasa alam semesta dengan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat,yang tidak ada makhluq lainpun yang dapat menyamai Keagungan dan Kekuatan –Nya.Hanya kepada Allah saja semua makhluk mengabdi.

Contoh penggunaan kalimat yang menyebut Allah dengan nama dirinya sendiri:

يُظْلَمُونَ لا وَهُمْ كَسَبَتْ بِمَا نَفْسٍ كُلُّ جْزَىتُلِوَبِالْحَقِّ وَالأرْضَ السَّمَاوَاتِ اللَّهُ وَخَلَقَ

“Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan”. (QS.Al-Jaatsiyah : 22).

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.” (QS.Al-Israa': 99).

C. PENGGUNAAN KALIMAT “DIA” :

Merupakan kata ganti yang menekankan kemutlakan dan “TANDINGAN”,atas lainnya,Digunakan untuk menunjukkan bahwa Dia,adalah Allah satu satunya Tuhan penguasa alam semesta dengan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat,yang tidak ada makhluq lainpun yang dapat mampu menandingi/menyamai Kemaha Mampuannya,tiada yang bisa disetarakan dengan-Nya dan hanya kepada Dia saja semua makhluk harusmenyembah.

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).”(QS.Al-Baqarah: 255).

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (Tunggal).” (QS.Al-Ikhlas: 1)

D. PENGGUNAAN KALIMAT “KAMI” :

Merupakan kata ganti yang menekankan sisi proses atas segala sesuatu yang dikehendaki dan terjadi menurut kekuasaan dan ke-Maha Kehendak-Nya. Digunakan untuk menunjukkan bahwa “KAMI”,adalah Allah satu satunya Tuhan penguasa alam semesta dengan kekuasaan-Nya,yang menetapkan,mengawasi dan mengendalikan sistem Qada-Qadar dan Takdir-Nya. Dan berjalannya sistem tersebut adalah melalui proses/ mekanisme/tahapan.

Allah mengadakan/menugaskan para wali-Nya,yakni para Malaikat,para Nabi , Rasul dan mekanisme alam semesta,untuk menyampaikan pesan/signal kehendak-Nya,petunjuk petunjuk-Nya,ilmu pengetahuan dan perintah serta larangan-Nya.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (QS.Al-Hujuraat: 13)

Maka maknanya bahwa Allah dalam menciptakan manusia setelah penciptaan langsung Adam,tidak satu persatu lagi secara langsung,melainkan melalui mekanisme biologis,yakni dimana proses manusia berkembang biak. Maka inilah RAHASIA bahasa AL-QUR’AN mengapa Allah Swt. menggunakan lafadz/kalimat “NAHNU (KAMI)”.

“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam”. (QS.Al-Anbiyaa’ : 107)

Kata Arsalna ( أَرْسَلْنَا ‘Kami mengutus’) berasal dari kata dasar “Arsala” أَرْسَلْ
(bermakna : mengutus, memberikan risalah, mengantarkan risalah).Sebagaimana penjelasan sebelumnya diatas, maka kata “KAMI” yang Allah Swt. maksudkan karena ADANYA PROSES PENGUTUSAN,atau adanya mekanisme pengiriman wahyu yaitu melalui “MALAIKAT JIBRIL” SEBAGAI PENGANTAR WAHYU ALLAH SWT,kemudian hingga sampai pada Rasul/Nabi nabi-Nya. Sebab tidak harus Allah berkehendak memberi petunjuk/risalah untuk manusia kemudian mengantarkan sendiri langsung ke makhluk-Nya. Makanya Allah Swt. menggunakan Kata “NAHNU” (KAMI).

Demikian maksud penerapan kata ganti “KAMI / NAHNU,selain sebagai bentuk penghormatan dan bermakna “kami” tunggal,juga menegaskan adanya mekanisme penugasan melalui para malaikat,para Nabi dan para Rasul rasul-Nya.

KESIMPULAN

ilm

Dari seluruh uraian mengenai kata ganti Allah,penyebutan Tuhan,Lord,Gusti maupun Pengeran dan lain sebagainya, telah dijabar dari berbagai sudut al-ilm, baik secara dalil ‘aqli maupun naqli.Artinya telah memenuhi standar ilmu pengetahuan yang bersumber dari Al-Qur’an,As Sunnah yang kemudian ditambah dengan penjabaran oleh para alim ulama yang luas pengetahuannya.Dan ketahuilah bahwa terjemahan kata “TUHAN” telah disebut sebanyak lebih dari 507 kali dalam ayat Al-Qur’an.

Maka,satu esensi dapat ditarik hakekatnya yakni :

1- Apapun nama nama lain Allah yang kita sebut dengan bahasa ibu pertiwi masing masing seperti yang telah diurai diatas saat kita berdoa,memohon,merintih,melolong berharap pertolongan Allah,maka tak bermasalah sepanjang penyebutan penyebutannya ditujukan dari keikhlasan hati dan niat suci hanya kepada Allah Ta’ala,bukan menuju yang selain Allah.Dan sepanjang penyebutan penyebutan nama lain Allah tidak bermakna buruk atau bernada pelecehan. Sedangkan menyebut Allah dengan panggilan lain menurut bahasa daerah yang familier seperti Gusti, Pengeran,Kang Murbehing Dumadi dan lainnya,maka tidak masalah sebab bermakna luhur dan merupakan sebutan kehormatan diwilayah budaya masing masing. Semua hanya ada dalam hati dan penyimpangan dari semua itu menjadi konskuensi individu.

-Uraian pengetahuan ini telah jelas dipapar.Manakala ada orang ataupun yang mendakwa dirinya ustadz,tokoh aim kemudian membuat tulisan tulisan menolak atau mengharamkan/melarang penyebutan Tuhan,Gusti dan Pengeran dan lain sebagainya dengan mendasari berbagai rangkaian dalil (kadang penerapan dalilnya dalil mentah) dengan argumen bahwa kata “Tuhan,Gusti,Pengeran” dan lainnya adalah tidak ada dalilnya serta dianggap berasal dari ajaran kafir,maka hal ini telah terbantahkan sebab penjabaran yang telah diurai diatas ini lebih komprehensif,lengkap,memenuhi seluruh aspek ilmu kaji serta hukum hukum syareat serta logika agama (Al-Hikmah). Maka tinggal penyerapannya diserahkan kepada para pembaca masing masing.

2. inilah salah satu tanda keagungan mengapa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.Jikalau Alquran itu diturunkan dengan semua bahasa, tentu akan banyak perbedaan penafsiran kata disetiap wilayah dan perubahan yang susah dipantau dan dideteksi kebenarannya.Jikalau Al-Qur’an di Indonesia dimusnahkan dan dibakar, akan datang jutaan Hafidz (Penghafal) Al-Qur’an dari seluruh penjuru dunia untuk menggantikannya dengan hafalan yang sama, surah yang sama, ayat yang sama, dan huruf yang sama. begitulah salah satu cara Allah Swt. menjamin kemurnian Al-Qur’an.

3. Inilah hikmah al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab. Nabi Muhammad SAW adalah orang arab, dan masyarakat di sekeliling Nabi adalah orang arab, mereka sangat arif dengan bahasa mereka, dan mereka faham apa yang diturunkan dalam bahasa mereka. Masalah berkaitan perkataan KAMI ini tidak timbul ketika itu, kerana mereka faham bahasa mereka, bahawa KAMI yang dimaksudkan bukanlah bermaksud jamak, tetapi membawa arti satu penghormatan dan keagungan, dan ia tetap merujuk kepada Tuhan Yang Tunggal.

4. Tafsiran-tafsiran yang dalam dan luas seperti ini tidak akan kita temukan dalam Al-Qur’an terjemahan DEPAG RI maupun yang digital.Oleh karena itu,hanya dengan melalui para alim Ulama Tafsir yang fasih yang luas ilmunya yang dapat menjabarkan Tafsir Al-Qur’an ini,yang menandakan betapa Ilmu Al-Qur’an /Ilmu Tuhan itu sangat luas,lebih luas dari samudera langit dan bumi.

5. ALLAH JUGA TUHAN UMAT KRISTEN YANG DISEBUT DALAM INJIL :

Ketika kebanyakan dari mereka umat Kristiani juga merasa anti serta risih menyebut nama Allah,yang dianggap sebagai bukan Tuhannya mereka dan dianggap tidak sesuai dengan iman mereka,maka bagamana mungkin hal ini bisa tetap terus dijadikan anggapan ? Sedangkan nama Allah adalah kalimat yang juga disebut dan menjadi istilah di dalam kitab suci Injil PL maupun PB,seperti yang telah diterangkan diatas.

6. JANGAN MEN-TUHANKAN DALIL :

Ketika berargumen,berdakwah,berorasi,berdebat dan menulis kemudian bersikeras yang paling benar dan lainnya salah,sesat,kafir dan murtad hanya mendasari segala sesuatunya tidak ada dalilnya,maka itu yang disebut mencari “PEMBENARAN” dan hal demikian itulah yang disebut “MEN-TUHANKAN” dalil,mengesampingkan aspek aspek hakekat Kemaha Besaran Allah. Sementara ketika mendasari pemikiran bahwa kebenaran itu harus terlihat menurut apa apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW sehari hari,maka mengapa orang orang yang seperti ini tidak mengikuti sunnahnya secara konskuen? Yakni mengapa masih memakai setelan jas,sarung,peci,celana levis? Sedang Rasulullah SAW tak pernah memakai jas,sarung dan celana levis.Apalagi sedan,apalagi beli elektronik TV,laptop,gadget android,dan lain sebagainya, yang notabene buatan dan budaya non muslim.

7. Namun demikian,kita juga jangan mentang mentang bahwa kata ganti Allah seperti Tuhan,Gusti,Pengeran,Lord dan lain sebagainya itu boleh dan sah diucapkan,tetapi jangan dijadikan prioritas kebiasaan atau bahkan malah mengganti sebutan Allah dengan yang lain dan melupakan penyebutan ALLAH sama sekali, sebab kalimat Allah lebih utama dan unggul dibanding sebutan sebutan selain Allah.

Semoga menjadikan renungan di sanubari terdalam.

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Lembah Duren Sawit,11 Juli 2013 – 16 desember 2014

CopyRights@2013

Reff :
-Al-Qur’an terjemah DEPAG RI

http://teaching4muallaf.blogspot.com

http://www.muslim-menjawab.com

http://imanulhassan.blogspot.com

– TafsirIbnu Katsir, Tafsir Al Jalalein

– TafsirAl Mishbah, dari Prof. DR. Quraisy Shihab
http://www.arrahmah.com/read/2012/12/10/25356-kontroversi-kata-tuhan.html
-http://quran.al-shia.org/id/lib/101.html
-http://mudamudimuslim.blogspot.com/2011/12/benarkah-penyebutan-kata-tuhan-allah.html
-http://www.mukminun.com/2013/12/pengertian-rabb-dalam-al-quran-dan-as.html#_
-http://tausyah.wordpress.com/2010/07/10/benarkah-nama-tuhan-adalah-allah/
https://farisna.wordpress.com/2011/06/19/penyebutan-gusti-allah-dan-kanjeng-nabi/
-http://katolisitas.org/1800/tentang-sebutan-tuhan-allah-dan-yahweh-samakah

**SATANIC PROJECT / KINERJA SETAN**

*MANUSIA KINI CENDERUNG SEMAKIN TENGGELAM KE DALAM KEANGKARA MURKAAN,ANARKISME DAN KEZALIMAN.

*IBLIS LEBIH KONSISTEN KETIMBANG MANUSIA,IBLIS LEBIH “BERKORBAN” KETIMBANG MANUSIA.

Iblis

Ketika kita menyaksikan berita di media,banyak terjadi peristiwa kerusuhan,tawuran, kejahatan dan kezaliman di Indonesia maupun di luar negeri.Di Indonesia lihatlah Makassar sepertinya akrab dengan kericuhan,baru baru ini terjadi lagi, ketika berlangsung unjuk rasa menolak kenaikan BBM,yang semula damai kemudian tiba tiba berubah menjadi anarkis yang berakhir dengan bentrok berdarah antara aparat,mahasiswa dan warga.Juga di Batam KEPRI,terjadi bentrok antara oknum aparat TNI dengan Brimob.Juga sering terjadinya tawuran anak sekolah,perang antar warga kampung.Dengan batu,dengan bom molotof,anak panah,senjata tajam ,dan lain sebagainya,dengan begitu khidmat,semangat,gempita ,kadang dengan seruan takbir.Hasilnya? Pertumpahan darah,kematian,kerusakan sarana,kerusakan alam.Padahal semua itu hanya berawal dari masalah sepele,masalah yang sungguh tak bernilai.Hanya atas nama “gengsi”.Sepertinya begitu mudah kini manusia larut terseret ke dalam buih buih angkara murka.
Saat menyaksikan semua peristiwa itu,maka janganlah pandang dengan kasat mata ,tetapi cobalah lihat dengan pandangan jauh,dengan mata halus,niscaya engkau akan menyaksikan peristiwa angkara murka itu bukan dilakukan oleh “manusia” melainkan dilakukan oleh jama’ah iblis yang tengah berpesta pora ditengah kerusuhan,kejahatan dan angkara murka yang terjadi.

Oleh karena itu apakah kita Kenal dengan iblis,syetan? Atau masih merasa bahwa kita adalah orang suci / merasa terbebas dari syetan,karena kita merasa telah berbuat baik dan menjadi orang baik baik? Sehingga kita punya pemahaman bahwa syetan itu bukan saya tapi makhluk jahat diluar saya !
Ternyata itu anggapan diri yang terlalu naif sobat.Sebab ternyata syetan itu sesungguhnya ya bagian dari diri kita.Maka syetan itu ya diri kita.Maka kau,aku dan kalian semua ada syetannya. (Saya juga baru tahu).
Maka,kapan dan bagaimana kita itu menjadi syetan,baiklah mari kita telusuri siapa sebenarnya syetan itu.Dan pertama kali saya mesti bilang sama syetan saya,”Tan,sory yah,gue ungkap rahasia loe,walaupun gue tahu rahasia loe yang lain masih banyak dan ga gue ngerti”.

Maka eksistensi syetan itu adalah merupakan bagian dari rahasia Tuhan,yang kadang membuat kita pusing,tak paham akan semua itu.Namun sebagai insan yang beriman,tentu kewajiban kita adalah “mengendalikan syetan”,dan janganlah seluruh hidup kita selalu di kendalikan oleh syetan.

Bacaan Ta'awudz

   بِسْمِااللهِ رَّحْمنِالرَّحِيمِ

Aku berlindung dari godaan syetan (yang hasil perbuatannya dikutuk Tuhan),dan Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

“ Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan “.(QS.6:112).

Segala sesuatu di alam semesta ini,benda dan kehidupannya adalah ciptaan Tuhan.Dan segala sesuatu yang diciptakan Tuhan pasti dalam keadaan berpasang pasangan.Semua itu karena ke-Maha Kehendak-Nya (Iradah-QS.28:68) yang merupakan manifestasi dari Dzat-Nya yang Al-Muqtadir (Maha Berkuasa – QS.18:45 ) yang kemudian diimplementasikan melalui sistim Qada , Qadar dan Taqdir-Nya.

Maka,begitulah dalam kehidupan ini ada pahala ada dosa,ada syorga ada neraka,ada hidup ada mati,ada malaikat ada iblis,ada jin ada manusia,ada petunjuk ada kesesatan,ada syetan ada ketaatan,dan lain sebagainya.Semua itu tidak dapat dipisahkan,atau secuilpun kita tidak dapat menolak maupun menghindar dari ketetapan itu.Sebab tanpa neraka maka tak akan ada syorga,tanpa keburukan maka tak kan ada kebaikan.Begitu juga tanpa keberadaan iblis syetan,maka tak kan ada keimanan dan ketaatan.

KEBERADAAN IBLIS DAN SYETAN

Iblis dan syetan secara subyek itu berdiri sendiri,namun saling berkaitan.Tanpa keberadaan syetan,maka iblis tak dapat beraksi,begitu juga tanpa iblis,maka syetan tak dapat berfungsi.Target iblis adalah Jin dan Manusia,sebab jin dan manusia ditakdirkan memiliki akses untuk dimasuki iblis.
Syetan itu sifat,iblis itu trigernya (pemicu/biang keladi).Jadi saat iblis berhasil menguasai nafs syetani yang ada dalam diri kita,maka saat itulah kita menjadi syetan. Karena syetan itu sifat, maka dia melekat pada makhluk dan bukan berdiri sendiri.
Maka iblis berada di luar manusia,syetan bertahta di dalam diri manusia.

PERBEDAAN IBLIS ,SYETAN , JIN , MANUSIA DAN ASAL USULNYA :

syetan1

Setan adalah sifat untuk menyebut setiap makhluk yang berlaku perbuatan jahat, membangkang, tidak taat, anarkis, suka maksiat, suka melawan aturan, atau semacamnya.
الشيطان في لغة العرب يطلق على كل عاد متمرد

“Syetan dalam perspektif Al-Qur’an digunakan untuk menyebut setiap makhluk yang menentang dan membangkang.” (Alamul Jinni was Syayathin, Hal. 16).

Dinamakan setan, dari kata; syutun (Arab: شطون) yang artinya jauh. Karena setan dijauhkan dari rahmat Allah. (Al-Mu’jam Al-Wasith, kata: الشيطان) ,“(setan yang membisikkan itu) dari golongan jin dan mausia.” (QS. An-Nas: 6).

Dengan demikian jika membicarakan iblis,maka didalamnya termasuk syetan,sedang jika membicarakan syetan,maka di dalamnya termasuk golongan iblis dan manusia iblis.Sebab yang termasuk golongan syetan itu adalah iblis dan manusia.(QS.06:112).

Sedangkan perbedaan jin dan manusia dengan iblis serta syetan adalah bahwa jin dan manusia makhluk yang di ciptakan untuk menyembah,beribadah pada Tuhan. QS.51:56).

Persamaannya antara iblis,syetan,jin dan manusia adalah sama sama memiliki fungsi dan tugas serta tanggung jawab masing masing.(“punya job masing masing mas bro”).

Pengetahuan khusus*
Sebenarnya kesemua itu (iblis , jin , syetan dan manusia) sama sama “pengabdi (melaksanakan tugas)” Tuhan.Maka makna “Aku berlindung dari godaan syetan yang terkutuk” itu adalah : bukannya Tuhan saklek mengutuk si syetan/iblis,melainkan Allah itu mengutuk manusia yang berlaku perbuatan syetan/iblis. Dan ketahuilah,IBLIS ITU LEBIH KONSISTEN KETIMBANG MANUSIA (QS.14:22),dan IBLIS itu LEBIH “BERKORBAN” KETIMBANG MANUSIA (QS.15:30 s/d 42).Mengapa? sebab iblis selama hidupnya tetap menjalankan misinya untuk mengajak manusia masuk ke dalam neraka dan iblis telah rela berkorban sebagai penghuni neraka.Beda dengan manusia kan,yang tidak konsis dan maunya masuk syorga tapi enggan berkorban mengikuti jalan-Nya.Giliran dimasukkan ke neraka,melolong lolong minta ampun.

Untuk penjabaran, asal usul tentang iblis , syetan , jin dan manusia selengkapnya silajkan kunjungi dan baca di link berikut :

https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/07/06/makhluk-makhluk-sebelum-manusia/

HASIL KERJA IBLIS

Maka syetan Iblis itu ada dimana mana.Jangan mengira keberadaan syetan iblis itu hanya ada di dunia kejahatan,perjudian,pelacuran serta perseteruan semata,melainkan syetan iblis itu juga mampu berada pada orang orang baik,para ulama para pendeta,para bhiksu,para ustadz,para cerdik pandai dan ada pada seluruh relung relung kehidupan manusia.Maka syetan iblis itu juga mampu berada di masjid masjid,di gereja gereja,di biara biara dan tempat tempat yang dianggap manusia itu suci.
Semakin tinggi status,martabat,kelas dan derajat keimanan seseorang,maka semakin tinggi pula pangkat dan kesaktian syetan iblis yang mengkutinya.

Jika seseorang itu orang awam,ya jenis syetannya biasa biasa saja, awam.Maka jika kita adalah seorang Kyai / Guru / Ulama,bhiksu,pendeta,maka jenis syetan kita adalah “lebih kyai,lebih guru, lebih bhiksu dan lebih ulama” (ilmunya setingkat lebih -Red.) dari kita.Jika kita baru mampu khatam Al-Qur’an,maka syetan telah lebih dahulu menghafal Al-Qur’an.Jika kita mampu dan menguasai ceramah serta dalil dalil AL Qur’an,Injil,Wheda,maka syetan telah lebih mampu menguasai rahasia rahasia maknanya.
Maka tak heran banyak berita,seorang ustadz/pendeta/bhiksu dsb melakukan tindakan asusila terhadap wanita/murid wanitanya.Atau seorang anggota DPR terhormat tertangkap basah mengkonsumsi narkoba,atau oknum pejabat negara melakukan tindak pidana korupsi,dan sebagainya.Kemudian pada taraf masyarakat umum,maka terjadinya angkara murka,perseteruan dan kejahatan yang merajalela di tengah kehidupan masyarakat,semua itu adalah hasil kinerja iblis yang sukses menciptakan manusia manusia syetan .

CARA KERJA IBLIS MENCETAK MANUSIA MENJADI MANUSIA SYETAN :

*Dalam rangka menyesatkan manusia dari jalan yang lurus, syetan Iblis mempersiapkan cara dan jebakan-jebakan. Ada enam tingkatan jebakan yang dipasang syetan untuk menjerat manusia sebagaimana yang diterangkan para ulama, yaitu :

Pertama : Syetan akan berupaya menjerumuskan manusia ke lembah kekafiran atau kesyirikan.
Bila berhasil maka manusia yang telah terajak itu akan dijadikan kader untuk menjadi tentara iblis. Dan bila langkah tersebut tercapai, inilah puncak keberhasilan perjuangan syetan. Namun bila bani Adam selamat dari jebakan ini syetan akan menggunakan cara berikutnya.

Kedua : Syetan akan berusaha menjatuhkan manusia ke lembah bid’ah sehingga ia mengamalkan bid’ah dan menjadi ahlil bid’ah.
Pilihan lain yang syetan tempuh selanjutnya ini adalah menggiring manusia untuk melakukan ibadah yang telah dimasukkan ke dalamnya unsur-unsur bid’ah. Perbuatan bid’ah lebih dia senangi darpada berbuatan fasik atau maksiat. sebab perbuatan bid’ah membawa nama ibadah, padahal akibatnya justru akan merusak ibadah dari dalam. Apalagi yang melakukan bid’ah adalah tokoh yang terpandang, maka biasanya banyak jamaah yang terpengaruh karenanya.
Namun bila manusia itu termasuk ahli sunnah dan tidak mampu diperdaya, maka syetan akan menggunakan cara berikutnya.

Ketiga : Syetan akan menggoda manusia untuk melakukan dosa-dosa besar.
Bila cara-cara diatas tidak mampu menggoyahkan seorang mukmin, maka setan akan memotivasi dengan bisikan ke dalam hati bahwa tak ada orang lain yang tahu bila sang ahli ibadah melakukan dosa, bila dia tergoda lalu melakukannya, seperti zina, membunuh, mencuri dll maka setan akan melihat apakah sudah layak aib ini diperlihatkan kepada khayalak ramai.
Bila menurut pertimbangan syetan sudah layak, diajaknya orang tersebut untuk berbuat dosa besar didepan orang lain sehingga terbukalah aibnya. Dengan cara ini dia akan dijauhi orang lain, nasihatnya tidak akan didengar lagi, lalu berkuranglah jumlah ulama. Namun bila Allah menjaganya, maka syaithan akan menggoda dengan cara lain.

Keempat : Syetan akan menggoda manusia untuk melakukan dosa-dosa kecil dan menganggapnya remeh,
Bila syetan tak mampu mengajak seorang ahli ibadah untuk melakukan dosa besar, maka dia akan berusaha untuk membawanya agar berbuat dosa yang kecil, sebab dengan berbuat dosa yang kecil, orang akan mudah untuk terus berbuat dosa sehingga akhirnya akan menjadi besar.

Kelima : Syetan akan menyibukkan manusia dengan perkara mubah sehingga mereka lalai dari perkara pokok.
Cara kelima ini juga akan diupayakan syaithan jika cara diatas tidak ampuh. Yaiut syetan akan berupaya untuk menyibukkan dengan perbuatan yang mubah. Yaitu perbuatan yang tidak termasuk dosa dan tidak pula termasuk amal ibadah yang mendapat pahala.
Akan tetapi dengan kesibukannya ini dia akan meninggalkan hal-hal yang berfaedah. Seperti banyak tidur, banyak makan dan minum, banyak begadang tapi tidak untuk beribadah, tapi untuk menonton bola contohnya. dll
Namun bila bani Adam selamat dari perangkap ini, maka syetan akan menggunakan cara yang terakhir.

Keenam : Syetan akan menyibukkan manusia dengan amalan yang rendah nilai pahalanya,
Cara terakhir yang diupayakan setan untuk menggoda manusia adalah membuat manusia tersebut sibuk dengan amal yang kurang utama atau amalan yang rendah nilai pahalanya dibanding dengan amalan yang lebih utama untuk dikerjakan. Dalam hal ini tentu sulit untuk diketahui bahwa itu termasuk program setan juga. misalnya dia menyibukkan bani Adam dengan amal sunnah sehingga melalaikannya dari amal wajib, dan lain sebagainya.
Demikian seterusnya (see at : Madakhilus Syaithon ‘alas shalihin 9-10)
Bila ada seorang yang selamat dari enam perangkap syaithan tersebut, maka dia termasuk hamba Allah yang ikhlas yang tidak dapat digoda oleh syaithan dengan taufiq dan hidayah dari Allah Ta’ala.

AKIBAT DIRI KITA MENJADI SYETAN / MANUSIA IBLIS

NAFS

Akan menghadirkan seluruh laku perbuatan yang menampilkan amarah,kesombongan,angkara murka,kezaliman,pertumpahan darah ,yang pada akhirnya berujung pada kerugian,kematian, kerusakan pada manusia lain,pada lingkungan serta pada alam.
Lihatlah maraknya angkara murka dimana mana.Lihatlah anarkisme dimana mana,di Makassar sedikit sedikit bentrok,sedikit sedikit tawuran,kerusuhan.Juga di Jogyakarta,juga di Jakarta.Juga di anak anak sekolah yang tawuran,juga di gedung DPR,juga di kalangan santri yang mudah di adu domba dan di poltisasi.Dan di belahan negara Timur tengah,Eropa,Rusia kini semakin tak terkendali keangkara murkaan.

SIAPA MANUSIA YANG RENTAN BISA MENJADI MANUSIA SYETAN ITU ?

1.Orang orang musrik ,kafir (ingat ! kekafiran bukan berarti hanya orang orang diluar Islam,kita yang mengaku Islam kadang tak menyadari akan kekafirannya).QS.16:100.
2.Orang orang yang menjadikan syetan sebagai pemimpin.QS.43:36
3.Orang orang yang lupa mengingat Tuhan.QS.58:19
4.Orang orang yang kurang ilmu dan enggan mencari ilmu
5.Orang orang golongan munafik
6.Orang orang golongan fasikin :
-Yang selalu berbuat keji dan kotor.(QS.02: 169)
-Yang selalu berbuat jahat dan kikir .(QS.02:268).
-Yang gemar minuman keras,(narkoba) dan perjudian.(QS.05:90).
-Memelopori permusuhan dan kebengisan serta Menghalangi manusia dari mengingat Tuhan.(QS.05:91).
7.Yang bersikap angkuh penuh kesombongan dan rakus.
8.Yang menyuruh perbuatan munkar.(QS.24:21).
Dan temannya syetan adalah orang orang pemboros,bermewah mewah dan pamer.(QS.17:27).

Ancaman Tuhan di dunia bagi manusia yang berlaku perbuatan syetan :

syt5

1.Mendapat kerugian,selalu menemui kesialan,was was,tidak merasakan nikmat berkah Tuhan,masuk penjara,digebukin orang,kesal,putus asa,dan sebagainya.
2.Tidak mendapat petunjuk-Nya.Yang tadinya harusnya aman menjadi salah jalan hingga mendapat aral,dan sebagainya.

Ancaman Tuhan di akherat bagi yang berlaku perbuatan syetan :

1.Menghadapi hari yang berat di gurun Masyar dan siksa di neraka.
2. Merasakan penyesalan yang menyekat kerongkongan seumur masa di akherat.
(selanjutnya tak perlu dijabarkan disini sebab tentang ancaman Tuhan bagi yang berlaku perbuatan syetan telah banyak keterangan keterangannya,silahkan mengaji saja).

NAMA NAMA /JENIS SYETAN IBLIS YANG MENGUASAI MANUSIA :

syetan2

Ini hanya diantaranya :
*Jenis Iblis yang menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesesatan itu banyak sekali. Bahkan para ulama ada berpendapat bahwa dalam menyesatkan manusia Iblis itu mem¬punyai spesifikasi keahlian tersendiri sesuai dengan bidangnya. Yang ahli menggoda orang shalat tugasnya hanya menggoda orang shalat, yang ahli mengkufurkan orang yang beriman tugasnya hanya mengkufurkan dengan berbagai tipu daya dan propaganda yang menyesatkan, begitu seterusnya.
Bersumber dari Umar bin Khatab ra : Bahwa Keturunan Iblis yang mempunyai tugas menggoda dan menjerumuskan manusia (ke lembah kesesatan) itu ada sembilan, yaitu: Iblis Zailatun,Wawatsin,Akwan,Hafaf,Wamurah,Laqwas,A’war,Al-Wasnan dan Dasim.

Iblis Zailatun (زَيْلَة ٌ )

Iblis ini bertugas untuk menjerumuskan para pedagang di pasar agar berdusta, mau me¬ngurangi timbangan, membuat onar diantara para pedagang, dan melakukan bujuk rayu kepada para pedagang agar melakukan pe¬nyimpangan dan kecurangan dalam aqad jual beli, dengan diiming-imingi agar cepat kaya.
Ajakan Iblis diatas itu jelas bertentangan dengan syari’ah, merusak ekonomi umat, menanamkan mental binatang yang segala cara dalam meraih kesuksesan, serta me¬numbuhkan jiwa egoistisme dan material-isme yang membabi-buta. Kalau ini sudah ditanamkan oleh Iblis, maka dengan sendiri¬nya orang itu akan senang-berenang dalam lumpur kemaksiatan dan kedurhakaan.
Karena itu, ada ancaman berat bagi siapa saja yang mengikuti ajakan Iblis Zailatun untuk melakukan kecurangan dalam jual beli.
Ada keterangan yang bersumber dari Abu Dzar ra., ia berkata: Rasulullah saw pemah bersabda:

ثَلاَثَةُلاَيَنْظُرُاللهُ اِلَيْهِِِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِوَلاَ يُزكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْم

Ada tiga orang dimana Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat (tidak memberikan rahmat), tidak membersihkan dosa mereka, dan mereka (juga) akan mendapat siksaan yang amat pedih.
Abu Dzar ra berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan (hal tersebut) sampai tiga kali :
“Aku berkata: Mereka akan menyesal dan merugi, siapa mereka itu Ya Rasulullah?. Lalu beliau bersabda:
a). Orang yang menurunkan kain¬nya (hingga menutupi kedua mata kakinya)
b). Orang yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya.
c). Dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu. (HR. Muslim)

Larangan untuk melakukan kecurangan dalam jual beli juga disebutkan dalam Al¬-Qur’an
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka mengurangi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan.” (QS. Al-Muthaffifiin :1-6)
Itulah diantara ancaman siksa bagi orang yang mengikuti Iblis Zailatun, yang melaku¬kan kecurangan dalam berdagang.

Cara Iblis Zailatun menjerumuskan para pedagang adalah dengan menakut-nakuti kebangkrutan jika berbuat jujur dalam berdagang, dan mengiming-imingi akan cepat kaya, cepat berhasil dan sukses jika mau berbuat curang dalam berdagang. jika orang yang berdagang itu lemah imannya, ambi¬sius dan materialistis tentu ia akan mudah terjebak dalam bujuk rayu Iblis Zailatun. Akhimya ia akan menjadi pengikut setia Iblius Zailatun.

Iblis Wawatsin

Iblis Wawatsin dalah Iblis yang bertugas menggoda dan menjerumuskan orang yang beriman agar selalu menggerutu, tidak sabar dan tidak ikhlas setiap kali menerima musi¬bah, atau cobaan dari Allah Ta’ala.
“Sesungguhnya wanita-wanita yang merintih (lantaran menerima musibah) ini akan dijadikan kelak di hari kiamat dua barisan dalam neraka jahannam, satu barisan berada disebelah kanan penduduk neraka dan satu barisan lagi berada disebelah kiri, akhirnya mereka menggonggong kepada penduduk ahli neraka, sebagai¬mana layaknya anjing-anjing yang menggonggong.” (HR. Ath-Thabrani).
Padahal orang yang meratapi musibah dengan menggerutu sampai merobek-robek pakaiannya adalah dosa. Tindakan seperti ini merupakan cermin dari ketidak-ikhlasan atas takdir Allah, sepertinya ia menyalahkan Allah, yang menghilangkan kesenangan dirinya, padahal semua apa yang ada di alam ini telah ditentukan oleh Allah masanya atau kehancurannya. Oleh karena itu, sya¬ri’ah memerintahkan untuk bersabar dan ikhlas setiap kali menerima cobaan dan mu¬sibah dari Allah Ta’ala, sebab setiap musibah itu ada hikmah yang terkandung didalam-nya. Allah mengancam akan menyiksa terhadap orang yang tidak bersabar dalam menerima musibah. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang lain disebutkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
“Tidak termasuk umat kami yang sempurna orang yang menampari pipinya sendiri (ketika menerima musibah), merobek-robek leher bajunya sendiri dan meratapi mayat, sebagaimana kebiasaan orang-orang jahiliyah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah diantara ancaman siksa bagi orang yang mengikuti Iblis Wawatsin. Se¬hingga ia selalu mengerutu setiap kali menerima musibah. Iblis ini dalam menjerumus¬kan orang yang beriman ke dalam jurang kemaksiatan dan kekufuran adalah dengan menanamkan rasa ketidak-puasan terhadap takdir Allah, mempengaruhi jiwanya agar memberontak ketika menerima musibah, membakar emosinya dan menghilangkan sifat sabarnya.
Jika seseorang sudah tidak mampu mengendalikan emosinya, maka Iblis dengan mudah menjerumuskan dirinya ke dalam perbuatan munkar. Hanya keima¬nan dan ketakwaan yang kuat serta kesa¬baran yang tinggi yang dapat menangkal¬nya dari gangguan dan bujuk rayu Iblis Wawatsin.

Iblis Akwan

lblis ini bertugas menyesatkan dan mem¬pengaruhi para remaja dan pimpinan umat supaya selalu berbuat dzalim, menjauhi hal-¬hal yang ma’ruf, menanamkan kesenangan berbuat munkar dan maksiat.
Cara yang digunakan oleh Iblis Akwan da¬lam menjerumuskan remaja yang beriman ke dalam lembah kemaksiatan adalah bermacam-macam. Perbuatan yang jelas mun¬karnya itu dikemas dengan baik sehingga tidak terkesan sebagai perbuatan maksiat, hal ini dilakukan-oleh Iblis Akwan untuk menarik simpati dari remaja beriman agar mau melakukannya. Termasuk memper¬halus istilah-istilah yang berbau maksiat dan munkar, ini dilakukan untuk menghilang¬kan kesan maksiat, dengan demikian remaja akan mudah dibujuk dan dirayu untuk di¬jebloskan ke dalam dunia sesat yang jauh dari tuntunan agama.
Hal ini telah dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

“… tetapi setan (Iblis) menjadikan umat-umat itu memandang baik perbutan meeka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka adzab yang sangat pedih. (QS. An-Nahl 16:63)

Dalam menyesatkan para pemimpm umat, Iblis Akwan selalu mendorong para pemim¬pin itu untuk berbuat dzalim, merampas hak rakyat, bertindak sewenang-wenang, korupsi, manipulasi, serta Iblis Akwan juga mena¬namkan rasa ketakutan dihati para pemimpin akan kemiskinan jika mereka tidak mau berbuat dzalim, curang dalam bertindak, mumpung masih berkuasa agar kekuasaan¬nya itu digunakan sebaik mungkin untuk berbuat munkar dan maksiat, baik teihadap rakyatnya maupun terhadap Allah. Kalau ini sudah berhasil, maka Iblis Akwan akan lebih mudah lagi menenggelamkan mereka ke¬dalam lumpur kemaksiatan, akhimya jadilah mereka pemimpin yang durhaka.
Untuk para pemimpin yang berbuat dzalim seperti diatas itu, Allah mengancam akan menyiksanya dengan siksaan yang amat pe¬dih. Sebagaimana disebutkan dalam Firman¬Nya:

“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat adzab yang pedih”. (QS. Asy-Syuura 42:42)

Itulah diantara ancaman siksa bagi siapa yang berbuat dzalim di muka bumi ini dan mengikuti jejak Iblis Akwan.

Iblis Hafaf

Iblis ini bertugas menyesatkan dan menje¬rumuskan kaum muslimin ke lembah nista yang berlumur dosa dengan cara melakukan tipu daya dan bujukan agar kaum muslimin membiasakan minum minuman keras. Sebab jika seseorang sudah minum minuman keras dan mabuk, maka segala bentuk kemung¬karan yang lain dengan mudah ia laksana¬kan. Seperti berzina, membunuh, berbuat aniaya, mencuri dan segala kemungkaran yang lain. Karena tingkah laku orang yang sedang mabuk itu tidak dapat dikendalikan oleh otaknya, jiwanya dan perasaannya sudah dikuasai oleh Iblis. Untuk itu, ia mudah dibimbing oleh Iblis guna dijeblos¬kan ke dalam kemaksiatan dan kekufuran. Banyak sekali orang yang tadinya tidak berani membunuh, merampok dan berzina, akan tetapi setelah ia menenggak minuman keras dan mabuk, maka segala bentuk kemak¬siatan di atas itu dapat dilakukannya dengan mudah, sepertinya tidak ada beban baginya.
Agar tidak mudah tertipu oleh bujuk rayu Iblis Hafaf, Allah telah memperingatkan kaum muslimin agar tidak meminum minuman keras, karena minuman keras adalah identik dengan setan. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (memi¬num) khamer, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-¬perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah 5:90)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
“Jauhilah khamer, sesungguhnya khamer itu adalah sumber segala kejahatan (kemaksiatan).
Didalam hadits lain yang bersumber dari Anas ra, dikatakan sebagai berikut:
Rasulullah sShallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknati sepuluh orang karena khamer, yaitu
1. Orang yang memeras bahan khamer.
2. Orang yang minta diperaskan bahan khamer untuk diminumkan kepada orang lain.
3. Orang yang minum khamer
4. Orang yang membawa khamer
5. Orang yang dituju untuk dibawakan khamer kepadanya.
6. Orang yang menuangkan minuman keras ke gelas atau lainnya.
7, Orang yang menjual minuman keras.
8. Orang yang memakan harta hasil penjualan minuman keras.
9. Orang yang membeli minuman keras.
10. Orang yang dibelikan minuman keras.
(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Demikianlah ancaman bagi orang yang me¬ngikuti Iblis Hafaf, yang mau menenggak minuman keras dan benda yang memabukkan lain¬nya.Ini malah dicampur lagi dengan oplosan tolol seperti saripuspa,spiritus,dan lainnya.Sungguh manusia itu tolol.Ya mampus .

Iblis Wamurah

Iblis Wamurah ini bertugas menjerumus¬kan para penyanyi agar mendendangkan lagu yang penuh maksiat, mengajak berbuat munkar, serta lagu-lagu yang bersyair ke¬bebasan tanpa etika. Juga menjerumuskan para penyanyi agar berpenampilan seronok, yang dapat mengundang luapan nafsu dan maksiat. Dengan demikian orang akan mudah digiring untuk dijebloskan dalam dunia munkar dan maksiat. Nyanyian dan biduanitanya itu termasuk salah satu alat Iblis yang paling ampuh untuk menjerumuskan orang ke dalam jurang kesesatan yang penuh dengan lumuran dosa. Banyak sudah orang yang melakukan kemaksiatan karena terpengaruh oleh syair lagu-lagu maksiat, atau dikarenakan men¬contoh tingkah laku artis yang diidolakan yang senang berbuat munkar, bergaul bebas dan akhlaknya yang buruk.
Oleh karena itu, untuk menangkal bujuk rayu dan propaganda yang menyesatkan yang ditiupkan oleh Iblis Wamurah adalah dengan menanamkan aqidah yang kuat dan akhlak yang mulia. Sebab dengan ber¬pegang teguh pada kedua faktor diatas Insya Allah diri akan selamat dari godaan Iblis Yang jahat ini.

Iblis Laqwas

Iblis Laqwas adalah Iblis yang bertugas mempengaruhi manusia agar tetap kafir, tetap musyrik dan tetap menyembah ber¬hala atau sesembahan lainnya selain Allah. Sudah banyak orang yang disesatkan oleh Iblis Laqwas, terkadang ia mengganti ben¬tuknya seperti seorang syekh lalu memberi¬kan pelajaran atau tuntunan yang meng¬arah kepada kemusyrikan dan pemurtadan dengan berbagai dalih serta promosi yang mengikat, sehingga banyak orang yang le¬mah imannya keluar dari jalur Islam karena mengikuti saran Iblis Laqwas, hanya demi mendapatkan sesuap nasi, jabatan, kedu¬dukan, pekerjaan, fasilitas, bahkan ada yang rela melepaskan keimanannya demi sang kekasih.

Orang yang menyembah selain Allah, berarti dirinya menjadikan Iblis sebagai pelindung¬nya, yang harus diikuti tingkah lakunya. Mereka tidak sadar kalau dirinya telah di¬sesatkan oleh Iblis untuk dijerumuskan ke dalam jurang kekufuran. Sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:

‘Sesungguhnya mereka menjadikan seran-setan pelin¬dung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.’ (QS. Al-A’raf 7:30)

Di dalam ayat yang lain Allah Ta’ala telah memperingatkan kepada umat manusia agar tidak mudah ditipu oleh setan maupun Iblis, sebab makhluk jahat ini dalam menyesatkan dan mengkufurkan manusia menggunakan bujuk rayu dan tipu muslihat yang sangat memikat, maka tidak heran bila banyak orang yang lemah imannya menjadi korban tipu muslihatnya.
Mengenai hal ini Allah Ta’ala berfirman:

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga. (QS. Al-A’raf 7:27)

Meskipun ada peringatan ayat diatas, masih banyak saja orang yang mengikuti Iblis Laqwas melakukan kekufuran dan kemusyrikan. Mereka mengira bahwa apa yang mereka perbuat itu merupakan jalan yang benar dan dapat memberi petunjuk kepada mereka, padahal jalan yang mereka tempuh itu sesat dan dapat mendatangkan siksa Allah. Itulah gambaran orang yang telah dijerumuskan oleh Iblis Laqwas ke¬dalam kesesatan.

Iblis A’war

Iblis ini bertugas untuk mempengaruhi dan menggoda laki-laki dan wanita untuk melakukan perbuatan zina, atau melakukan perbuatan maksiat lainnya.
Iblis A’war menggunakan “Pandangan Mata” sebagai cara yang paling ampuh untuk mem¬bakar nafsu kaum lelaki dan wanita untuk berbuat maksiat.
Mujahid berkata : Ketika wanita itu meng¬hadap, maka Iblis duduk di kepalanya untuk menghiasi Wajah wanita tersebut agar tampak menarik bagi orang yang melihatnya, dan jika wanita itu berpaling ke belakang, maka Iblis duduk di pantatnya untuk meng¬hiasi pantat tersebut agar tampak menarik bagi orang yang melihatnya.
Apa yang dikatakan oleh Mujahid diatas itu memang benar, sebab umumnya lelaki bila melihat wanita ketika berhadapan, maka yang pertama kali diperhatikan adalah wajahnya, sedangkan ketika melihat wanita yang berjalan didepannya, maka yang pertama kali diperhatikan adalah pantatnya, karena itu memang tempatnya Iblis.

Nabi Yahya as pernah ditanya: “Apa yang menjadi penyebab perzinaan?”. Nabi Yahya as menjawab: “Yang menjadi penyebabnya adalah memandang wanita, lalu timbul dalam hati keinginan untuk berzina dengan¬nya. Zina mata itu termasuk dosa kecil, dan hal ini dapat mendekat¬kan pada perbuatan dosa besar, yaitu zina farji. Oleh karena itu, barangsiapa yang tidak mampu menundukkan pandangannya, maka niscaya ia tidak akan mampu menjaga farjinya”. Demikian jawaban Nabi Yahya as ¬terhadap penanya tadi.

Nabi Isa as (Yesus) pernah berkata: ‘Takutlah kamu memandang (wanita), karena sesungguh¬nya memandang itu dapat menumbuhkan syahwat didalam hati, dan ini sudah cukup mendatangkan fitnah”.
Berkatalah Sa’ad bin Jubair ra: “Sesungguh¬nya fitnah yang menimpa Nabi Daud as adalah dari memandang (wanita)”.

Dan masih banyak orang laki-laki maupun wanita yang berbuat zina yang diawali dari kebiasaan memandang lawan jenisnya yang bukan muhrimnya. Karena memandang merupakan panah Iblis yang sangat ampuh untuk menjerumuskan laki-laki dan wanita ke dalam perbuatan nista yang penuh dengan dosa. Sekarang tidak sedikit orang yang men-jadi budak Iblis A’war karena ingin melampiaskan nafsunya. Semoga kita dijauhkan oleh Allah dari godaan lblis ini.

Iblis ini juga tugasnya mengencingi orang supaya malas bangun untuk beribadah. Jika orang sudah malas bangun malam untuk beribadah berarti dirinya mementingkan tidur¬nya, tidak memikirkan tentang kehidupan¬nya nanti di akhirat, tidak mau bermunajat kepada Allah berarti ada hal yang lebih pen¬ting selain bermunajat, apakah itu tidur atau kegiatan-kegiatan lain yang berbau duniawi¬yah. Kalau hal ini sudah menjadi kebiasaan seorang hamba, maka akan mempermudah Iblis menjauhkan dia dari kegiatan agama, lama kelamaan dirinya akan bisa meninggalkan aktivitas ibadah. Kalau sudah begini, Iblis tinggal menggiring dia untuk dijeru¬muskan ke dalam jurang kemaksiatan dan kekufuran.

Iblis Al-Wasnan

Banyak orang terjerumus menjadi ahli mak¬siat, bahkan dirinya sampai rela menanggal¬kan aqidahnya yang disebabkan oleh malas beribadah.
Malas beribadah itu menunjuk¬kan lemah keimanannya, bahkan keimanan¬nya bisa sebagai lipstik belaka, sebagai pe¬manis bibir saja, buktinya ia mengaku ber¬iman tetapi tidak mau beribadah, bahkan perintah agama ia tentang, larangannya ia terjang. Orang-orang seperti inilah yang setia menjadi pengikut Iblis Al-Wasnan, yang malas beribadah tetapi senang bermaksiat. Al-Qur’an telah memperingatkan kaum muslimin agar tidak mengikuti langkah-¬langkah Iblis, sebab Iblis itu menyesatkan, menyauhkan orang agar tidak beribadah ke¬pada Allah Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-An’am 142:

“Dan janganlah kamu mmglkuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al An’am 6:142)”

Dengan demikian, bila ada orang malas ber¬ibadah, senang berbuat munkar, maka dia telah menjadi teman Iblis.

Iblis Dasim

Iblis yang satu ini~bertugas untuk mempe¬ngaruhi, menggoda dan mendorong suami istri untuk melakukan penyelewengan. Dengan terjadinya penyelewengan, maka sudah barang tentu rumah tangganya akan menjadi berantakan, tidak harmonis, jauh dari kebahagiaan yang pada akhimya nanti akan terjadi perceraian. Inilah yang diingin¬kan oleh Iblis Dasim.

Dengan terjadinya perceraian, maka orang akan mudah untuk digiring berbuat munkar dan maksiat, meskipun tidak sedikit orang yang tidak menikah juga tenggelam dalam dunia maksiat. Setidak-tidaknya orang yang sudah bercerai itu dapat dimanfaatkan oleh Iblis untuk dijerumuskan dalam perbuatan nista, seperti zina dan perbuatan munkar lainnya, karena ia sudah tidak mempunyai tempat untuk menyalurkan kebutuhan bio¬logisnya secara halal. Karena diantara tujuan pernikahan adalah untuk menundukkan pandangan mata, menyalurkan kebutuhan biologis secara halal, untuk memperoleh keturunan, disamping menjalankan Sun¬nah Rasulullah saw. Dan masih banyak lagi bahaya atau madlarat yang disebabkan tidak menikah, dan keadaan inilah yang dimanfaat¬kan oleh Iblis Dasim untuk menjerumus¬kan kaum muslimin ke lembah nista yang penuh dengan dosa.
Oleh karena itu, Iblis sangat membenci ter¬hadap keluarga yang rukun, damai dan sejahtera. Sebab kondisi keluarga seperti ini akan mendapat limpahan rahmat dan ber¬kah dari Allah Ta’ala.
Itulah nama-nama Iblis yang dikatakan oleh Umar bin Khathab yang bertugas menye¬satkan manusia untuk dijerumuskan ke dalam kefasikan, kemaksiatan, kemusyrikan dan keku¬furan, yang nanti menjadi temannya di dalam neraka. Semoga Allah menjauhkan dan menyela-matkan kita dari segala tipu daya Iblis ini.

CARA KERJA IBLIS MENGENDALIKAN GERAK MOTORIK MANUSIA

syt6

Tuhan telah menyematkan kepada kita 2 (dua) unsur nafs yakni : akal budi,sekaligus nafs syetani.

*          فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا         *

“Maka Dia mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”,(QS.91:8).

Kedua nafs manusia tersebut dimaksudkan Tuhan sebagai wahana alternatif bagi manusia untuk memilihnya.Sistim,tata cara serta jalur jalurnya telah di berikan pedomannya oleh Tuhan.Bagi yang memilih nafs kebajikan / akal budi sebagai jalan yang ditempuhnya maka Tuhan tentu memberikan apresiasinya.Begitu juga bagi manusia setelah di beri petunjuk / informasi untuk memilih akal budi sebagai jalan yang harus ditempuhnya namun manusia itu tidak mematuhinya dan memilih nafs syetani / jalan kefasikan,maka Tuhanpun telah menyampaikan ancaman / sangsinya.

Nafs kefasikan itulah yang merupakan domisili nafs syetani yang ada dalam diri kita dalam bentuk sifat / bakat asal.Keberadaannya sebenarnya tertutup,tersembunyi dalam relung qalbu yang paling dalam,namun terluar dari inti qalbu yakni “NURANI”.(Oleh karena itu kadang ada ungkapan : “coba renungkan dengan hati nurani yang paling dalam”.).Dengan demikian letak “NURANI” ada pada inti qalbu diselimuti oleh lapisan “Nafs kefasikan” .Antara nafs kefasikan dengan nafs kebajikan tersebut masing masing terdapat saluran lembut (batin) dan terkoneksi dengan “HASRAT” yang terhubung ke jaringan otak manusia,yang merupakan domisili “AQAL” / pikiran dalam benak manusia,yang pada ujung aqal pikiran manusia tersebut terdapat “antena penerima / receiver” untuk menangkap maupun menerima signal signal ilahiyah ( jalur Tuhan memberikan pencerahan,inspirasi maupun ilham) kepada manusia.

Ketika Tuhan memberikan signal petunjuk kepada seseorang,maka receiver aqal pikiran manusia menangkapnya kemudian diteruskan ke dalam qalbu dan qalbu mentransfer ke kedua nafs tersebut,dan masing berebut untuk meng-eksekusinya dengan memerintahkan aqal pikiran untuk memberi perintah kepada anggota badan sesuai niatnya.
Perbedaannya adalah ketika nafs kebajikan akan selalu meng-eksekusi perintah niat baiknya,maka saat bersamaan itu pula secara otomatic nafs kebajikan menutup/menyumbat jaringan nafs kefasikan ,sehingga eksekusi berjalan lancar diiringi gerakan motorik anggota tubuh untuk melaksanakannya,maka lahirlah “PERBUATAN BAIK”.

Nah,ketika iblis mengetahui katub nafs kefasikan tertutup oleh tekanan arus nafs kebajikan,maka saat itulah iblis berupaya merasuk ke dalam qalbu manusia,berusaha untuk membuka katub nafs kefasikan yang tertutup / terhambat oleh nafs kebajikan,kemudian membisikkan bisikan iblis,maka jika nafs kebajikan kalah (tidak ada usaha manusia itu untuk mengendalikan nafsyunya),maka nafs kefasikan menggantikan eksekusi dengan memerintahkan qalbu untuk berniat jahat,maka lahirlah perbuatan negatif,itulah perbuatan syetani,dan berubahlah kita menjadi manusia iblis/syetan.

Cara cara iblis merasuk ke dalam tubuh manusia kemudian bertengger di qalbu dan menguasai nafs kefasikan sebagai berikut :

hati

Caranya sangat banyak,diantaranya melalui pembuluh darah di bagian anggota tubuh bawah,kanan kiri,atas dan depan belakang kita.Jangan menganggap tubuh manusia itu rapat.Manusia itu memiliki pori pori,nah ilmu medis telah mengungkapkan bahwa pori pori manusia itu seperti sebuah lorong lorong berlobang pada jaringan kulit dan daging manusia.Ukurannya sangat kecil,tidak hanya mikron tetapi ukuran nano.Namun bukan penghalang bagi iblis masuk melalui pori pori kita,sebab ia diberikan kemampuan merasuk ke dalam lubang lubang nano.Saat merasuk melalui pori pori manusia,iblis kemudian menumpang aliran darah sepanjang pembuluh darah mengaliri tubuh hingga ia berlabuh di jaringan pembuluh darah hati,kemudian menyusup ke dalam inti hati (Qalbu).Nah,sampailah ia di gerbang Nafs Az-Zulmun (singgasana nafs kefasikan berada).Kemudian iblispun memulai operasinya dari sana.

Demikianlah mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk tidak menuruti hawa nafsyu syetani,untuk tidak mengikuti bisikan syetani.Pantesan Tuhan selalu bilang kepada kita untuk selalu beristighfar memohon ampunan,untuk selalu berdzikir mengingat-Nya.Sebab karena kita selalu cenderung kalah dengan nafs syetani kita,sebab karena kita selalu menuruti hawa nafs syetani kita.Sedangkan istighfar dan dzikir ternyata berfungsi menguatkan nafs Al Muthmainnah yang ada di dalam qalbu kita.
Untuk penjabaran tentang jenis jenis nafs manusia,silahkan buka dan baca pada link berikut :

https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/07/26/9-sembilan-unsur-roh-yang-terdapat-dalam-diri-manusia/

KEMENANGAN IBLIS / SYETAN

syt7

Mengenali keadaan umat manusia yang membuat syetan “PESTA PORA” karena keberhasilan menciptakan “manusia syetan” :

1. Terjadinya perceraian rumah tangga.
Iblis sebagai pengendali syetan selalu memuji semua keberhasilan para syetan (baca: para manusia syetan), tetapi Iblis akan membanggakan kelompok syetan yang berhasil menceraikan suami istri,
“…syetan menggoda untuk menceraikan suami dengan istrinya .”(QS.2:102)

2. Durhaka pada orang tua,menyakiti orang tua,keluarga,dsb
3. Perkelahian,tawuran,anarkisme sampai membunuh atau terbunuh
4. Pecandu khamar – NARKOBA (QS 5:90)
5. Tenggelam dalam kejahatan,perjudian,prostitusi, terus menerus berzina
6. Ketagihan duit haram, seperti penipu, koruptor, perampok, rentenir dan sebagainya
7. “Attakabburru bil hasadi wal intiqoomi” Angkuh sekali dibarengi dengan sifat dengki, pemarah dan dendam kusumat (QS 31:18)
8. Menjadi dukun dan pengikut setia dukun ,menyantet orang,dsb
9.KDRT,pelecehan sexual, penyiksaan,dsb
10.Kikir,pelit,tak peduli dengan sesama,rakus dan bermewah mewahan.
11. Puncak kegembiraan syetan, manusia mati dalam keadaan ma’siyat sampai mati kafir kepada ALLAH,

“Sesungguhnya orang-orang kafir, dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka dilaknat ALLAH, para Malaikat dan manusia seluruhnya” (QS 2:161).

Setelah iblis berhasil mencetak manusia syetan,maka ketika manusia tersebut mengalami celaka,apes dan siksaan akibat laku perbuatannya,maka saat itulah iblis akan tertawa terbahak bahak dan melarikan diri tak menolongnya sedikitpun.(QS.8:48).

CARA MENANGKAL SYETAN IBLIS AGAR KITA TIDAK MENJADI MANUSIA IBLIS :

tarekat 5

Kita memang tidak dapat menghilangkan syetan yang ada dalam diri kita,namun saat kita terjebak dengan nafs syetani kita maka segeralah beristighfar memohon ampunan dan berzikir kepada Allah Ta’ala.Contoh: ketika kita marah,maka ya marah saja tetapi yang beralasan dan jangan lama lama dan segeralah saling menyadari dan maaf memaafkan.Kemudian istighfar (kata orang Jawa “eling”).Karena marah adalah sifat sunatullah kita.Bohong jika orang mengaku suci tak pernah punya amarah.

Hendaklah orang orang yang masih merasa kurang ilmu (awam) ya belajarlah menimba ilmu.Dan bagi kaum intelektual (Kyai,ulama,ustadz,pendeta,bhiksu serta profesional lainnya),hendaklah jangan merasa lebih tinggi dan menyombongkan diri.Ingat bahwa ilmu yang sudah di kuasai adalah hanya setetes dari lautan ilmu Tuhan.Jadi jangan merasa diri cukup atau puas ditempat.Sebab semakin takabur maka semakin iblis menugaskan jenis syetan yang lebih kuat.

Kemudian berlindunglah kepada Tuhan agar dijauhkan dari tipu daya iblis dan syetan kita.
(QS.23 : 97 s/d 98 , 7 : 200 s/d 202 , 113 : 02 s/d 05 , 114 : 01 s/d 06).

Kemudian berlaku perbuatan yang “low profil” saja,berbuat kemanfaatan bagi diri serta sekelilingnya.Dan segera tinggalkanlah situasi situasi yang tidak menguntungkan dan mengarah pada terjadinya angkara murka dan segera hindari zona zona yang bakal dijadikan sebagai pesta poranya syetan dan iblis.Atau kita akan terjebak pada dilema “menjadi tumbal” syetan iblis.

KESIMPULAN

*Maka sesungguhnya syetan iblis itu bisa berupa wujud sebagai manusia berdasi,manusia bersorban,manusia bergamis,berjilbab,ber-rosario,berkalung untaian tasbih tasbih,dan lain sebagainya.
*Setiap syetan sudah pasti iblis dan setiap iblis sudah pasti syetan,tetapi tidak setiap Jin dan Manusia itu iblis dan syetan,yakni manusia manusia yang menyadari bahwa di dalam dirinya terdapat nafs syetani kemudian berusaha untuk menumpasnya dengan selalu beristighfar,berzikir,mudah meminta maaf,kemudian berlaku perbuatan yang bermanfaat bagi diri serta kepada orang lain dan alam semesta.
*Nafs syetani yang ada dalam diri kita tak akan pernah menjelma jika kita kuat dan selalu mengikuti jiwa keilahian dan menutup rapat katub nafs kefasikan.Dan upaya iblis merasuki tubuh kita tak akan terjadi jika kita menebalkan nafs keimanan,ketaqwaan dan kemukhlisan.
QS.16:99
QS.38:82 – 83

Demikian semoga bermanfaat dan diambil hikmahnya,

Salam Cahaya-Nya.

Kelana Delapan Penjuru Angin,
Lembah Burangkeng ,Jum’at 28 Muharram 1436 H / 21 November 2014.
CopyRights@2014.

Reff :
*Risalatul Islam – KH.M.Syamsuddin – Prembun – Jawa Tengah.
*Al Ban Al Jan – KH.M.Syamsuddin – Prembun – Jawa Tengah.
* http://risalaharifin.blogspot.com/2012/01/keberhasilan-setan-menggoda-manusia.html
* http://www.akhirzaman.info/allien-a-ufo/75-alien/871-nama-nama-iblis-yang-menggoda-manusia.html
* http://www.solusiislam.com/2013/04/6-langkah-dan-cara-setan-menggoda.html
*Al Qur’an terjemah DEPAG RI
*Klasifikasi Kandungan Al Qur’an – Choirudin Hadhiri Sp.
*Perjalanan suluk SSJ – Al Ustadz Agus Sunyoto.

**TAREKAT**

tarekat 4

ANTARA ALIRAN DAN AMALAN,ANTARA RITUAL DAN IBADAH

“WANITA BERSUAMI YANG MASIH MENGEMBAN FUNGSI TANGGUNGJAWAB RUMAH TANGGANYA,SEBAIKNYA JANGAN IKUT ORGANISASI TAREKAT”

Pernah mendengar kata-kata tersebut diatas? Atau justru anda adalah pelaku/pengamal Tarekat fanatik dari salah satu organisasi Tarekat? Atau masih samar-samar akan pengetahuan tentang Tarekat ?
Maka bagi anda yang benar-benar belum mengetahui tentang ilmu Tarekat,semoga tulisan ini dapat mengawali pengetahuan tentang hal itu.Dan bagi yang telah familier serta rajin menjalankan amalan-amalan Tarekat,bahkan aktif dalam organisasi ketarekatan ,maka semoga paparan berikut dapat semakin mengisi cakrawala ilmu pengetahuan ketarekatan.Sementara bagi yang masih samar-samar atau setengah-setengah dalam pengetahuan tentang Tarekat,maka semoga penjabaran berikut ini dapat menambah pengetahuan serta dapat menjadikan inspirasi,alternatif dan memperbanyak amalan shalihan dalam rangka beribadah mengabdi kepada Tuhannya.

ANTARA REALITA DAN PROBLEMATIKA

Sepertinya telah sering kita saksikan disekitar kehidupan kita,baik melalui media maupun menyaksikan langsung ,banyak sekelompok umat tampak menjalankan ritual keagamaan tertentu secara berjama’ah dengan khidmat berdzikir menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat,ke kanan ke kiri,ke atas ke bawah,kemudian seluruh badan dan kepala terselubung rapat oleh kerudung/kain putih seraya tak lepas jari-jemarinya menghitung bulir-bulir tasbih diiringi gemuruh gumam do’a dan sholawat hingga ribuan kali.Begitu khusyu’ dan berkonsentrasi tinggi tanpa peduli dengan urusan lain.Sementara sering kita lihat di media ketika pemerintah mengumumkan penentuan hari Raya Iedul Fitri ataupun Hari Raya Qurban,maka ada jama’ah Tarekat tertentu di wilayah Aceh,Sumatera Barat,Sulawesi dan wilayah lainnya ada yang merayakannya dua hari sebelum maupun ada yang merayakan dua hari setelah penentuan yang ditetapkan oleh pemerintah.Begitulah berbagai ragam cara-cara manusia berlomba-lomba mereguk amal,menyembah,mengabdi dan mencari jalan menuju kepada Sang Khalik.
Saat-saat hari tertentu jama’ah tarekat mengadakan pengajian yang dibimbing oleh seorang guru atau syeikh.Kesan execlusive tampak kental mewarnai jama’ah ini dengan berpakaian/gamis serba hitam,kelompok lainnya ada yang putih-putih,dan sebagainya.Di Indonesia kelompok jama’ah tarekat terbilang berciri moderat atau lebih tampak menampilkan acara-acara ritual yang damai dan cenderung berkonsentrasi di tempat-tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota.Namun di sebagian wilayah negara di Timur Tengah,kelompok jama’ah tarekat banyak yang melaksanakan ritual ekstrim di keramaian orang banyak,seperti ritual mencambuk-cambuk/melukai badannya sendiri hingga berdarah.

“WANITA BERSUAMI YANG MASIH MENGEMBAN FUNGSI TANGGUNGJAWAB RUMAH TANGGANYA,SEBAIKNYA JANGAN IKUT ORGANISASI TAREKAT”

Bagi sebagian kelompok umat,pelaksanaan Tarekat telah menjadi amalan baku dan dapat menjalani dengan lancar tanpa masalah.Hal tersebut terutama bagi insan-insan berkeluarga yang benar-benar telah memahami ilmu pengetahuan bertarekat.Namun bagi kelompok keluarga yang diantara anggota keluarga tersebut ada yang tidak setara ilmu pengetahuan Tarekatnya,maka akan banyak menimbulkan masalah,apalagi bagi yang hanya sekedar ikut-ikutan atau hanya karena faktor diajak pengajian oleh rekannya namun tidak tahu kalau kelompok pengajian yang diikutinya tersebut adalah pengajian dari salah satu organisasi Tarekat.Hal ini lazim terjadi ditengah-tengah keluarga kita dan di sekitar lingkungan kita,biasanya ibu-ibu/istri kita begitu antusias mengikuti ajakan rekan tetangga atau teman maya mengikuti pengajian pada seorang guru/Syeikh ke suatu tempat jauh kadang diluar kota hingga harus menginap,meninggalkan anak/suami.Begitu pulang langsung hari-hari disibukkan dengan bacaan-bacaan wirid sekian ribu kali,puasa ini,puasa itu hingga sering terjadi problem rumah tangga karena suami kesal sang istrinya banyak lalai/meninggalkan tanggung jawab fungsi sebagai ibu rumah tangga yang semestinya.Keluarga,Anak tak diperhatikan/terurus namun sibuk dengan ritual-ritual yang diperintahkan oleh sang guru/Syeikhnya tersebut,yang harus diamalkan setiap hari.Demikian juga sebaliknya ada suami yang meninggalkan keluarganya berhari-hari terlantar tanpa back up dan kompromi yang jelas dalam perkara yang sama.

Maka sebaiknya bagi wanita bersuami/ibu rumah tangga yang kapasitas dan tanggung jawabnya sangat dibutuhkan untuk keluarga,semestinya janganlah larut sibuk atau ikut menjadi anggota jama’ah Tarekat dengan sibuk mengamalkan ritual-ritual setiap harinya tanpa ijin dan kompromi dengan keluarga/ suami.Sebab jika hal demikian tetap dilakukan dengan alasan keyakinan/keimanan menurut prasangka pribadi sendiri,maka sungguh akan banyak mendapatkan mudharat daripada manfaat yang lebih besar.Ibarat menangguk air dengan keranjang bolong.
Sementara disisi lain sangat disayangkan beberapa guru/Syeikh (tidak semua-red.), yang berorganisasi dan menjalankan/memimpin Tarekat,dengan banyak anggota/jama’ahnya namun tidak melakukan evaluasi atau seleksi ter-metodis kepada anggotanya apakah kondisinya sedang memikul tanggung jawab dalam keluarganya atau tidak ,malah kadang langsung main “Bai’at” saja,tanpa memberikan informasi yang jelas dan terstruktur akan organisasi tarekat yang dipimpinnya.Kadang tak ditanya apakah hanya ikut-ikutan atau karena telah berpengetahuan.Atau setidaknya ditolak secara edukatif pada calon jama’ahnya dengan mengatakan,

“Ibu,Jika ibu masih banyak tugas dan tanggung jawab dalam keluarga,masih menyusui,masih ngurusi pekerjaan rumah tangga,masih ngurusi anak/ suami,silahkan ibu pulang kembali dan amalkan tarekat bersama keluarga saja dirumah,sebab melaksanakan tugas dan kewajiban seorang istri,taat dan mematuhi suami adalah sama dengan bertarekat juga.”
Ini baru guru/Syeikh mursyid yang bijak.Cobalah renungkan perkara ini.

Baik sobat budiman Nusantara,
Mari kita dalami pengetahuan tentang TAREKAT ini.Tulisan ini aku persembahkan kepada ikhwan fillah sebangsa setanah air dalam maksud menambah cakrawala pengetahuan dan pemahaman akan nlai-nilai agama agar dapat menjadikan referensi,inspirasi,penambah keimanan dan kecerdasan pikir dalam menjalani kehidupan,beribadah mengabdi kepada Sang Maha Pencipta.Dan tulisan ini tersusun dan terangkum berdasarkan pengamatan,pengalaman,pengelanaan.mengaji langsung ,serta digali dari berbagai sumber.

MAKNA TAREKAT

 tarekat 2

TINGKATAN KEILMUAN AGAMA (Maqam Al-Ilm Al-Islam)

Dalam Islam telah dikenal adanya jenjang derajat keilmuan agama yakni :
-Syareat – Tareqat – Haqeqat
(sedang Ma’rifat adalah bukan jenjang keilmuan agama seseorang secara standar, melainkan merupakan pangkat (maqam) execlusive pemberian Tuhan kepada hamba-Nya tertentu yang dikehendaki-Nya).
Syareat adalah dimensi perundang-undangan dasar,(S.O.P),sedangkan Tareqat adalah dimensi pengamalannya,sementara Haqeqat (kebenaran) adalah dimensi titik tujuan yang dapat membuka kesadaran pemahaman secara global,atau tingkatan yang dapat mejadikan orang memahami makna kehidupan dan agama.Syariat laksana baju sedangkan hakikat ibarat badan.

Jika dianalogikan ke dalam tataran bahasa disiplin ilmu,maka Syareat merupakan ilmu Praktis,Tarekat adalah Metodologis,Haqeqat adalah Teoritis,sedangkan maqam Ma’rifat adalah dimensi Filosofis.
Imam Malik mengatakan bahwa seorang mukmin sejati adalah orang yang mengamalkan syariat dan hakikat secara bersamaan tanpa meninggalkan salah satunya.Adagium populer : “Hakikat tanpa syariat adalah kepalsuan, sedang syariat tanpa hakikat adalah sia-sia.” Imam Malik berkata, “Barangsiapa bersyariat tanpa berhakikat, niscaya ia akan menjadi fasik. Sedang yang berhakikat tanpa bersyariat, niscaya ia akan menjadi zindik.Barangsiapa menghimpun keduanya [syariat dan hakikat], ia benar-benar telah berhakikat.”
*Syariat adalah hukum-hukum atau aturan-aturan dari Allah yang disampaikan oleh Nabi untuk dijadikan pedoman kepada manusia, baik aturan ibadah maupun yang lainnya. Apa yang tertulis dalam Al-Qur’an hanya berupa pokok ajaran dan bersifat universal, karenanya Nabi yang merupakan orang paling dekat dengan Allah dan paling memahami Al-Qur’an menjelaskan aturan pokok tersebut lewat ucapan dan tindakan Beliau, para sahabat menjadikan sebagai pedoman kedua yang dikenal sebagai hadist. Ucapan Nabi bernilai tinggi dan masih sarat dengan simbol-simbol yang memerlukan keahlian untuk menafsirkannya.

Tarekat berasal dari kata “Toro – Thariqah” yang berarti jalan.Tarekat adalah jalan-jalan yang ditempuh para sufi sebagai jalan yang berpangkal dari syariat sebab jalan utama disebut syar’, sedangkan anak jalan tersebut thariq. Kata turun ini menunjukkan bahwa bagi para sufi, dimensi keruhanian merupakan cabang dari jalan utama yang terdiri dari hukum ilahi, tempat berpijak bagi setiap muslim. Tidak mungkin jika ada anak jalan /gang,bila tidak ada jalan utama tempat berpangkal.Dimensi kebatinan seseorang tidak mungkin diraih bila perintah syariat yang mengikat itu tidak ditaati.
Jika seorang yang mengaku muslim namun hanya sekedar menjalankan perintah agama secara standar saja,(asal memenuhi kewajiban),maka ia dalam katagori bersyareat saja.Sedangkan bagi seseorang yang telah berpengetahuan syareat kemudian ingin meningkatkan qualitas ibadahnya serta berniat ingin mencari jalan mendapatkan ridho Tuhan maka ia telah memasuki tahapan kedua dalam agama yakni ber-TAREKAT.Inilah jalan yang harus ditempuh oleh seorang calon sufi agar ia berada sedekat mungkin dengan Allah.
Namun jika seseorang yang mengaku muslim hanya menjalankan tarekat saja dengan mengabaikan Syareat,maka itu sebuah kefasikan.Dan jika seseorang hanya mengamalkan Hakekat tanpa belajar/mengetahui dan mengamalkan syareat serta tarekat,maka itu sebuah kesesatan.

HUBUNGAN ANTARA TAREKAT DAN TASAWUF :

tarekat 1

Tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tarekat itu adalah cara dan jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah.Dengan demikian ,Tarekat dan tasawuf adalah jalan atau cara yang ditempuh oleh para salik (pelaku tarekat dan tasawuf) untuk mendekatkan diri pada Allah, dalam rangka melaksanakan perintah Allah.Seperti dalam surat Al-maidah : 35 ,

“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah: 35).

Maka Tarekat ada dua katagori :
1.TAREKAT AMALIAH (Praksis)
2.TAREKAT BAI’AT (LEMBAGA/ORGANISASI)

Tarekat Amaliah adalah tarekat yang tidak berkaitan dengan kelembagaan yang sengaja dibentuk/diikuti dengan mengamalkan suatu ritual-ritual yang diajarkan oleh seorang Guru/Syeikh tertentu, melainkan amalan-amalan baku yang seseorang menjalankannya dengan khusyu dan ikhlas setiap harinya mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW yang bersumber/berpedoman pada syareat dan as sunnah (Al-Quran dan Al-Hadits),yang cara-cara menjalankan dan pengamalan ibadahnya didapat dari mengaji /diajarkan oleh para guru ngaji/Ustadz,dari pesantren,dari sekolah,dan umum lainnya.

Sedangkan Tarekat Bai’at adalah menjalankan amalan-amalan ibadah dengan cara-cara tertentu berdasar bimbingan seorang guru/Syeikh yang tergabung ke dalam suatu lembaga/organisasi ketarekatan yang eksklusif.Kemudian tiap tarikat mempunyai syaikh, upacara ritual, dan bentuk ziir sendiri. Di timur tengah,dikenal dengan “ta’ifdah” .Ada juga dikenal kelompok muslim kebatinan dengan nama Ikhwan Al-Safa*.Anggotanya cenderung para pemuda.
Kemudian setiap anggota dilakukan upacara “pengambilan sumpah” / Bai’at,yang menandakan telah resmi bergabung ke dalam organisasi sebagai anggota dan merupakan deklair kepatuhan serta ketaatan terhadap ritual-ritual yang diamalkan jama’ah organisasi serta fatwa sang guru.

Sumber dalil untuk menjalankan amalan tarekat berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an diantaranya dalam surat : Al- Ahzab 41-43 , An- Nur 36-37 , Al- A’raaf 205 , An -Naziat 37-41.

SEJARAH TAREKAT

Pada masa Nabi Muhammad SAW tidak dikenal adanya tarekat lembaga atau terdengar adanya istilah “Tarekat Muhammad Rasulullah”,tidak ada itu,sebab Rasulullah SAW saat itu bertindak sebagai Nabi berdakwah membimbing umat agar manusia menyembah hanya kepada Allah Yang Esa.Kemudian setelah mendapatkan risalah baku yakni Al-Qur’an,yang kemudian dijadikan sebagai Syareat/pedoman baku (S.O.P),bagi seluruh umat manusia dan bagi yang mengikuti millah Beliau,maka barulah Rasulullah mengajarkan Tarekat Amaliah (praksis langsung),bukan tarekat organisasi yang eksklusif,yakni mengajarkan laku perbuatan nilai-nilai Islam secara langsung maupun secara perkataan (As-Sunnah), bersama para sahabatnya,pengikutnya dengan cara melaksanakan sholat,Zakat,Puasa,berhaji serta berbuat kebaikan,bersedekah,berkasih sayang,berbuat manfaat,menyerukan persatuan dan beramar ma’ruf nahi munkar.Itulah Tarekat yang lebih besar tingkatannya.Sedangkan Tarekat organisasi cenderung eksklusif,kebanyakan berorientasi mengumpulkan amal untuk kepentingan pahala pribadi/jama’ahnya.
Setelah Nabi Muhammad SAW,maka seolah umat Islam bagai “anak ayam kehilangan induk semang”,tiada sosok panutan yang kharismatik,agung dan utama.Saat zaman itulah umat-umat Islam mencari jati diri masing-masing dalam mencari jalan mendekatkan diri pada Tuhannya.Kemudian berkembanglah ilmu tasawuf,bermunculanlah tokoh-tokoh sufi bersifat personal.Kemudian tokoh-tokoh sufi yang telah dalam ilmu pengetahuannya memiliki kharisma,kemudian memiliki banyak murid/pengikut yang sejak masa itulah mulai dikenal adanya Tarekat lembaga atau cabang tasawuf yang berorganisasi.Metamorfosa ini tidak terlepas dari perkembangan dan pengaruh ajaran tarekat para pelaku tasawuf itu sendiri yang seolah sangat didambakan umat Islam saat itu.Semakin luas pengaruh tokoh tasawufnya,semakin banyak umat berhasrat menjadi pengikutnya.Maka berkembanglah aliran tarekat yang dibimbing oleh seorang guru/Syeikh dengan berbagai corak dan cirinya.

*Sulit menentukan kapan aliran tarekat dijalankan sebagai suatu lembaga dimulai.Menurut Harun Nasution , bahwa setalah Al Ghozali menghalalkan tasawuf yang sebelumnya dikatakan sesat, tasawuf berkembang dari dunia islam, tetapi perkembangannya melalui tarekat. Tarekat adalah organisasi dari pengikut sufi-sufi besar yang bertujuan untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf gurunya. Tarekat ini memakai suatu tempat pusat kegiatan yang disebut ribat – organisasi serupa mulai timbul pada abad XII M, tetapi baru Nampak perkembangannya pada abad-abad berikutnya.Tarekat diartikan sebagai jalan yang khusus di peruntukkan bagi mereka para pencari Tuhan yang merupakan perpaduan antara iman dan islam dalam bentuk ihsan.
Secara amaliyah (praksis) tarekat personal timbul dan berkembang semenjak abad-abad pertama hijriah dalam bentuk pelaku zuhud dengan berdasarkan pada Al Qur’an dan Al Sunnah. Zuhud bertujuan agar manusia dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungan terhadap kenikmatan duniawiyah secara berlebihan.
Sejak abad VI dan VII hijriyah (XII dan XIII M) tarekat-tarekat lembaga telah memulai jaringannya di seluruh dunia islam, taraf organisasinya beraneka ragam. Perbedaannya yang pertama dari semua itu terletak pada upacara dan dzikir, keanggotaannya sangat heterogen. Kemudian sejak abad VIII H (XIV M) menyebar dari sinegal ke cina. Semenjak itu cabang-cabang tarekat berkembang dengan ciri masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya.

*BERBAGAI CABANG ORGANISASI TAREKAT

tarekat 3

(Silahkan dijadikan referensi bagi sobat yang berminat masuk Tarekat)

1. Tarekat Qodariyah
Tarekat ini didirikan oleh Muhyi al-Din Abu Muhamad ‘Adb al Qodir bin Musa bin ‘Abdullah bin Musa (470-561 H 1077/1166 M) pengikutnya menyebar ke berbagai pelosok dunia islam sampai ke Asia barat dan Mesir. Pada abad XIX M bercabang sampai ke Maroko dan Indonesia. Tarekat ini dinilai sebagai tarekat paling progresif tapi tidak jauh dari faham salf. Tarekat ini lebih berkonsentrasi kepada pemurnian Tauhidullah dan zduhur dalam ibadah. Ia memiliki keunggulan dalam ihwal kedermawanan, kesalehan dan kerendahan hati serta ketidaksetujuan terhadap fanatisme agama dan politik.
Diantara ajaran pokoknya ialah : bercita-cita tinggi (“Aluw al Himmah) menghindari segala yang haram, memelihara hikmah, merealisasikan maksud dan mengagungkan nikmat Allah, beberapa sebab keberhasilan tarekat ini dalam rekkrutmen murid dan calon murid adalah ketaatan yang teguh dalam syariat dan realisasi ajaran salaf, kencamannya yang gencar terhadap paham yang menyandarkan keimanan semata sebagai alat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam kecamannya terhadap paham reinkarnasi /(tanasukh al ruh). Ajaran-ajarannya dilandaskn secara kuat kepada AL Qur’an dan AL Sunnah.

2. Tarekat Rifa’iyah
Tarekat Rifa’iyah didirikan oleh Ahmad al Rifa’i (570 H / 1173 M) didorong oleh kondisi mengendornya hubungan antara cabang-cabang Qodiriyah dan lahirnya ranting ranting baru yang independen. Tarekat ini dinilai lebih fanatik, memiliki tradisi yang sangat ketat dalam mematikan hawa nafsu dan ketat dengan protokol-protokol seremoni pelantikan/Bai’at yang luar biasa. Pengikutnya yang melakukan dzikir secara baik akan dapat terbawa ke alam fana (dimensi ruhani),dalam keadaan fana’ itu bisa melakukan hal-hal yang menakjubkan seperti sihir(metafisika).

3. Tarekat Suhrowardiyah
Didirikan oleh Syihab al Din al Suhbowardi inspirasi seorang ahli dari Maghrib, Nur al Din Ahmad bin ‘Abdullah al Syadzali. Pengikutnya tersebar di Tunis- karena pemerintah mencemaskannya, sang imam cenderung menyingkir ke Alexandria di mesir keberhasilannya sangat cepat juga di afrika.

4. Tarekat Ahmadiyah / Badawiyah
Tarekat ini disebut juga tarekat badawiyah karena pendirinya bernama Ahmad bi ‘Aly al Husainy al Badawy
Tarekat ini sangat konsisten dengan Al Qur’an dan As Sunnah, ia sangat diminati karena antara lain : mendorong para pengikut / muridnya untuk pandai, kaya dan dermawan, saling mengasihi dan juga karena doktrin-doktrin sifistiknya yang menarik.

5. Tarekat Maulawiyah / Al Rumiyah
Maulana Jalaludin Rumi Muhammad bin Hasain al Khattabi al Kbakri (Jalaludin Rumi) atau sering juga disebut Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di balk (sekarang Afganistan).Kesufian Rumidi mulai ketika beliau sudah berumur lepas dewasa, 48 tahun.
Rumi memang bukan sekedar penyair, tapi ia juga tokoh sufi ayng berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu pada tarekat maulawiyah. Sebuah tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang disekitarnya. Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan-pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran.
Dalam sistem pengajarannya, Rumi mempergunakan penjelasan dan latihan mental, pemikiran dan meditasi, kerja dan bermain. Tindakan dan diam. Gerakan-gerakan tubuh pikiran dari pra darwis berputar dibarengi dengan musik toup untuk mengiringi gerakan-gerakan tersebut merupakan hasil dri metode khusus yang dirancang untuk membawa seseorang salik mencapai afinitas dengan arus mistis untuk ditransformasikan melalui cara ini.

6. Tarekat Syadzaliyah
Abu Hasan al Syadzali mendirikan tarekat ini setelah beliau mendapatkan khirqoh / ijazah dari gurunya Abu ‘Abdullah bin Ali bin Hazam dari Abdullah ‘abd. Al Salam bin Majisy. Kelebihan dari tarekat ini terletak pada lima (5) ajaran pokoknya yaitu :
1.Takwa kepada Allah dalam segala keadaan.
2.Konsisten dalam mengikuti Al-Sunnah,
3.Ridho dalam ketentuan dan pemberian Allah SWT,
4.Saling menghormati,menghargai sesama manusia, dan
5.Suka kembali kepada Allah (taubat) dalam susah/senang.

Sedangkan tiga hal pokok yang menjadi landasan/ azas tarekat ini adalah :
1.Terus mencari ilmu (belajar tak berhenti),
2.Memperbanyak Dzikrulah dan
3.Duhur Ilaallah.

Ketiga hal pokok ini selalu menjadi penekanan kepada murid-murid Al Syadzali, beliau tidak menganjurkan mujahadah seperti tarekat-tarekat lain. Kebenaran baginya, didalam diri manusia itu ada nur ashli/ nur potensial yang akan menjadi kuat, berkembang dan subur bila diperkuat dengan nur ilmu yang lahir akibat dzikrullah.
Tarekat ini menjauhi ramalan-ramalan /anti memprediksi pada hal hal yang belum ataupun bakal terjadi termasuk mengartikan segala kemungkinan dan akibat yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang,(Hari-hari dijalani cukup dengan aktifberkarya,beribadah,memprogram langkah,tak berandai-andai hari ini ya hari ini,nanti ya apa kata nanti).
Doktrin ini diperdalam oleh Ibn Atho’illah dan menjadi doktrin utamanya.Komunitas Syadzaliyah terutama mereka di kalangan kelas menengah, pengusaha, pejabat dan pegawai pemerintah. Oleh karenanya, ciri khas yang kemudian menonjol dari anggota tarekat ini adalah kerapihan mereka dalam berpakaian, ketenangan yang terpancar dari tulisan-tulisan para tokohnya.
Tarekat Syadzaliyah ini tidak menentukan syarat-syarat yang erat kepada syaikh tariqoh, kecuali mereka harus meninggalkan segala perbuatan maksiat, memelihara segala ibadah-ibadah sunnah semampunya, zikir kepada Allah sebanyak mungkin, sekurang-kurangnya seribu kali sehari semalam dan beberapa zikir yang lain.

7. Tarekat Tijaniyah
Didirikan oleh Abul Abbas Ahmad Bin Muhammad Bin Al Mukhtar At Tijani (1733-1815 M) salah seorang tokoh dari gerakan neosufisme. Ciri dari garakan ini ialah penolakannya terhadap sisi eksatik dan metafisis sufisme dan lebih menyukai pengalaman secara ketat ketentuan-ketentuan syariat dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan ruh nabi Muhammad sebagai ganti untuk menyatu dengan Allah.

8. Tarekat Syattariyah
Tarekat Syattariyah adalah tarekat yang pertama kali muncul di india abad XV M, tarekat ini dinisbatkan pada tokoh yang berjasa dan mem-populerkannya,yakni Abdullah Asy Syattar.
Sebagaimana hal tarekat-tarekat lain, Syattariyah menonjolkan aspek dzikir di dalam ajarannya.Dikenal 7 macam dzikir muqodimah sebagai peralatan/tangga untuk masuk kedalam tarekat Syattariyah, yang disesuaikan dengan 7 nafsu pada manusia. Dzikir ini hanya dapat dikuasai melalui bimbingan seorang pembimbing spiritual, guru/Syaikh.

9. Tarekat Naqsabandiyah
Pendirinya adalah Muhammad Baha’ Al Din Al Naqsabandi Al Bukhori (717-791 H / 1317-1388 M). Naqsabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebarannya. Terutama di wilayah asia .
Ciri menonjol dari tarekat ini ialah diikutinya syareat secara ketat, keseriusan dalam beribadah, menolak music dan tari budaya barat, lebih ngutamakan berdzikir dalam hati,namun tidak mengharamkan politik dan cenderung mau terlibat didalamnya .

10. Tarekat Kholwatiyah
Tarekat Khalwatiyah, tidak sebagaimana lazimnya tarekat pada umumnya yang diambil dari nama pendirinya. Penamaan ini justru didasarkan kepada kebiasaan sang guru pendiri tarekat ini syekh Muhammad Al Khalwati (w 717 H), yang seringkali melakukan kholwat di tempat-tempat sepi. Tarekat khalwatiyah merupakan cabang dari tarekat As Sahidiyah, cabang dari Al Abhariyah dan cabang dari Al Shrowardiyah yang didirikan oleh Syekh Syihab Al Din Abu Hafsh ‘umar Al Suhrowardi Al Baghdadi.
Ajaran dan dzikir tarekat Khalwatiyah menetapkan adanya sebuah amalan yang disebut Al Asma’ Al Sab’ah (tujuh nama) yakni tujuh macam dzikir /tujuh tingkatan jiwa yang harus dikembangkan oleh setiap salik.
Dzikir pertama melafadzkan kalimat : لا إله إلاالله , Dzikir kedua : الله ,Dzikir ketiga : هو (dia) ,Dzikir keempat : حقّ (maha benar) ,Dzikir kelima : حيّ (maha hidup) ,Dzikir keenam : قيوم (maha jaga) ,Dzikir ketujuh : قهار (maha perkasa).
Ketujuh tingkatan dzikir ini intinya bersumber dalam ayat AL Qur’an.

11. Tarekat Sammaniyah
Tarekat ini didirikan oleh syeikh Muhammad bin Abd Al- Karim Al Samman Al Madani Al Qodiri Al Qubaisi dan lebih dikenal dengan sebutan Syeikh Samman. Semula ia belajar toriqoh kholwatiyah dari damaskus,pada masa berikutnya beliau mulai mengajarkan pengajian yang berisi teknik berdzikir, wirid dan ajaran teosofi lainnya. Beliau menyusun cara pendekatan diri dengan Allah yang kemudian dikenal sebagai toriqoh sammaniyah, sehingga ada yang mengatakan bahwa toriqoh sammaniyah adalah cabang dari khalwatiyah.
Di Indonesia tarekat ini berkembang di sumatera Kalimantan dan jawa. Sammaniyah masuk ke Indonesia pada penghujung abad 18 yang banyak mendapat pengikut karena popularitas Imam Samman.
Ajarannya yang khas ialah memperbanyak dzikrullah dan shalat, lemah lembut kepada fakir miskin, tidak mencintai dunia, menukar akal masyariyah dangan akal robbaniyah dan mentauhidkan Allah dalam dzat, sifat dan af’alnnya. Pengaruh Sammaniyah di Indonesia diabadikan di dalam tariah ruda.

MANFAAT MENGAMALKAN TAREKAT

Telah diketahui bahwa Tarekat ada dua katagori.Tarekat pertama jelas merupakan keharusan bagi setiap umat Islam untuk selalu mencari jalan kepada Tuhannya.Dalam kitab Sulam Taufiq disebutkan bahwa :

فصل : يجب على كافة المكلفين الدخول فى دين الإسلام والثبوت فيه على الدوام والتزام مالزم عليه من الأحكام
“Setiap orang yang telah dewasa (mukallaf) wajib memasuki atau memeluk agama Islam secara kaffah dan tetap dalam agama itu untuk selama-lamanya serta melaksanakan segala kewajiban yang berkenaan dengan hukum-hukumnya , mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala”.

Maka seseorang yang berupaya meniti jalan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya,(bertarekat) hidupnya selalu dalam kedamaian (anti galau) dan dimudahkan segala persoalan (selalu mendapatkan pertolongan-Nya).Sebab ketika kita mendekat maka Tuhanpun memeluk erat.Kemudian balasan keselamatanpun hingga sampai di hari akherat.Maka jalanilah tarekat katagori apa saja,yang penting niatnya.Maka Pilihlah amalan tarekat yang sesuai dengan keadaan/kapasitas diri.

Sebagaimana kita berniat menuju sebuah titik kota tujuan,tentu ada berbagai sarana jalan untuk mencapainya.Ada jalan yang biasa,ada jalan yang sedang dan ada jalan yang khusus/tol.Jika kita tidak paham betul medan jalan yang akan ditempuh atau masih blank harus memilih jalan yang baik dan cepat yang mana,tentu kita seperti orang buta yang tak tahu arah kiri kanan.Sehingga waktu tempuh yang seharusnya dalam waktu singkat,ini sampai berhari-hari,bahkan berbulan-bulan atau bertahun-tahun.Oleh karena itulah kita memerlukan ahli pemandu,GPS,kompas,dsb.
Demikian pula seperti bertarekat dengan Tarekat organisasi,maka kita di beri bimbingan oleh seorang guru pembimbing untuk mencapai tujuan dengan jalan khusus/pintas.Sebab mereka para guru mursyid yang sebenarnya,telah mencapai derajat ilmu pengetahuan yang lebih luas dibanding kita,maka tentulah beralasan jika telah lebih banyak mengetahui cara maupun rahasia menuju jalan-Nya.

Contoh :
Suatu ketika kita sedang mendapatkan masalah atau cobaan berat,pelik dan membuat depresi.Sudah kesana kemari buntu tiada yang menolong dan tiada yang ahli dalam mengakhiri problematika.Maka daripada berlarut-larut persoalan yang menyesakkan tiada kunjung berakhir,cobalah “sowan” (berkunjung) mendatangi seorang Kyai atau guru spiritual atau guru tarekat.Kemudian sharing dan utarakan niatnya meminta bantuan agar masalah yang menimpanya dapat segera berakhir melalui media sang Kyai tersebut.Maka sang Kyai tersebut tentu akan membantu mendo’akan kita meminta kepada Allah SWT,yang secara lahiriahnya kadang dalam bentuk, dengan cara memerintahkan kita untuk melaksanakan amalan-amalan tertentu,melaksanakan qorban atau melaksanakan puasa sekian hari,dan sebagainya.Hal demikian sah-sah saja,sebab memang realitasnya banyak orang yang telah berhasil bangkit kembali atau berhasil keluar dari lilitan masalah kehidupan.

KEDUDUKAN/HUKUM BER-TAREKAT

tarekat 5

1.Adalah fardhu a’in atau wajib atas umat islam yang telah mukallaf,bertarekat secara amaliah.Yakni ikutilah ajaran tarekat yang tidak menyimpang dan yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Jika menemui ajaran tarekat yang menyimpang dan tidak sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasullullah, tinggalkanlah.
Paling aman adalah ikuti saja cara yang sudah ditetapkan Rasulullah seperti membaca Qur’an secara rutin setiap hari dengan memahami maknanya, shalat sunah seperti sunah rawatib, tahajud, dhuha, puasa senin kamis, berzikir didalam hati ketika berdiri, duduk dan berbaring, dzikir setiap pagi dan petang hari, dzikir setiap selesai shalat.
(Melaksanakan amalan tarekat yang standar saja kesulitan, apalagi mengamalkan kegiatan ritual tarekat organisasi, yang begitu rumit dan melelahkan dengan keharusan mengamalkan wirid,tasbih ribuan kali setiap hari).
Namun,itu jalur biasa,buat orang biasa.Maka jika kita ingin meningkat ke derajat yang lebih eksklusive lagi dan mengetahui lebih dalam jalan menuju rahasia-Nya,silahkan masuk ke dalam dunia tarekat.Ajaran tasawuf dan tarekat merupakan pengembangan dari perintah Al Qur’an tentang dzikir mendekatkan diri pada Allah dan mengendalikan hawa nafsu,yang dipelopori oleh para sufi.Untuk bertarekat Bai’at maka ,Hanya cara dan pelaksanaannya harus memenuhi kaidah atau keadaan tertentu seperti telah terurai diatas.
2.Sunah mengikuti tarekat bai’at jika amalan tarekat standar telah dipenuhi.
3.Makruh mengikuti tarekat bai’at jika tarekat yang diikuti terlalu berat dan mengganggu kewajiban keluarga serta amalan yang wajib saja masih sering ditinggalkan.
4.Dilarang jika tarekat bai’at yang diikuti menyimpang dari aqidah Islam.

PRIA / WANITA YANG DAPAT BEBAS MENGAMALKAN TAREKAT BAI’AT

Adalah orang baik pria maupun wanita yang dalam kapasitas kehidupannya tidak mengabaikan fungsi dan tanggung jawab masing-masing dalam kehidupan rumah tangga maupun keluarga.
Bagi pria yang berkeluarga dalam menjalankan amalan tarekat bai’at seyogyanya telah mempersiapkan diri,mem-back up ekonomi bagi keluarganya sehingga ketika sering meninggalkan rumah tidak menelantarkan anak dan istrinya.
Maka bagi wanita bersuami dan ibu rumah tangga yang kapasitas dan tanggung jawabnya sangat dibutuhkan untuk keluarga,semestinya janganlah larut sibuk atau ikut menjadi anggota jama’ah Tarekat dengan sibuk mengamalkan ritual-ritual setiap harinya tanpa ijin dan kompromi dengan keluarga/ suami.Sebab jika hal demikian tetap dilakukan dengan alasan keyakinan/keimanan menurut prasangka pribadi sendiri,maka sungguh akan banyak mendapatkan mudharat daripada manfaat yang lebih besar.Ibarat menangguk air dengan keranjang bolong.
Kecuali wanita-wanita bebas seperti masih lajang,tidak bersuami/janda atau wanita bersuami namun telah diijinkan oleh suaminya bahkan mendorongnya karena suatu alasan tertentu,atau justru suami ikut mendampinginya bersama sama maka hal demikian adalah baik.

DEVIASI AMALAN TAREKAT (PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN YANG TERJADI PADA JAMA’AH TAREKAT)

Beberapa penyimpangan yang ditemukan antara lain :

1.Penghormatan pada guru secara berlebihan (Qultus individu/taqlid buta) hingga berani tidak mematuhi/taat suami,
2.Larut mengamalkan amalan perintah guru dengan mengabaikan kewajiban keluarga yang semestinya dilaksanakan.
3.Meminum bekas wudhu guru, berebut meminum air sisa guru dan lain sebagainya .
4.Berdzikir dengan suara keras sambil menari dan menghentakan kaki dan badan hingga mengganggu orang lain beristirahat, berdzikir dengan jumlah hitungan melampaui batas kekuatan fisik.
5.Memakai pakaian yang buruk tanpa memperhitungkan keadaan,
6.Membenci kehidupan dunia secara berlebihan, menyebabkan meninggalkan keadaan lemah pada keluarga.
7.Menyakiti diri , menjampi-jampi orang lain agar celaka.
8.Mencampur kegiatan ritual pada Allah dengan ritual untuk jin dan sihir,
Maka semua itu merupakan penyimpangan bertarekat yang tidak sesuai dengan ajaran Qur’an dan Rasulullah.

KESIMPULAN

Umat Islam dalam menjalankan ibadah ,mengabdi kepada Allah Ta’ala hendaknya dilakukan secara ikhlas tanpa pamrih.Ikuti tahapan ilmu agama secara berjenjang dan terarah.Tarekat hanya sebagian dari cara mendekatkan diri kepada-Nya,selain mengamalkan tarekat bai’at masih banyak jalan-jalan lain dalam mencari ridho Allah SWT.

Maka dalam hal sering terjadinya masalah dan penyimpangan penyimpangan dalam pengaplikasian pemahaman serta dalam menjalankan tarekat seseorang hanya ada dua katagori,yakni :

1.Karena gurunya yang salah mengajar,atau ajarannya memang salah,atau
2.Karena murid/jama’ahnya yang salah menerjemahkan ajaran sang guru.

Sekian,semoga bermanfaat dan sukses menjadi sufi .

Sekian,semoga bermanfaat.
Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin,
Bukit Ciketing,15 Muharam 1436 H / 8 November 2014
CopyRights@2014

Reff:
-Risalatul Islam karya K.H. M.Syamsuddin – Prembun – Jawa Tengah.
-Kitab Sulam Taufiq
-http://www.fadhilza.com/2014/07/tadabbur/mengenal-ajaran-tarekat-dan-tasawuf.html
-http://www.metafisika-center.org/2012/06/beberapa-ajaran-tarekat-qadiriyah-wa_06.html
-Al-Qur’anul Karim Terjemah DEPAG RI
-Pengantar pemikiran Neoplatonis,Persaudaraan Kesucian (Ikhwan Al-Safa)-Ian Richard Newton

**KITA SEMUA MEMILIKI SIFAT TERORIS **

*SEMUA MANUSIA MEMILIKI SIFAT-SIFAT TERORISME (AL-IRHAB)

*ANCAMAN DARI JIWA-JIWA TERORIS YANG ADA DI SEKELILING KEHIDUPAN KITA LEBIH BERBAHAYA DIBANDING DENGAN TERORIS PROFFESIONAL YANG BERAKSI !

* TERORIS BERBEDA DENGAN JIHAD DAN JIHAD BUKANLAH TERORIS
*TERORISME KEMUNGKARAN BUKAN AJARAN AGAMA MANAPUN,TETAPI LAKU PERBUATAN EGO (KE-AKU-AN) MANUSIA
*TERORISME KEMUNGKARAN YANG ADA DALAM JIWA MANUSIA LEBIH BERBAHAYA DIBANDING TERORISME DALAM PEPERANGAN / PERJUANGAN
*TERORISME (AL-IRHAB) DALAM ISLAM YANG WAJIB DAN YANG DILARANG KERAS

Teroris4

PENDAHULUAN

Saat ini begitu marak terjadinya ancaman,serangan serta pembunuhan terhadap seseorang dengan seseorang lainnya atau antara kelompok satu dengan lainnya atau pembunuhan kepada petugas keamanan oleh orang tak dikenal ,yang oleh public mengarahkan / mengalamatkan para pelaku semua ini sebagai ulah TERORIS.

Peristiwa teror dan pembunuhan terhadap aparat keamanan di Indonesia terakhir menimpa Bripda Sukardi yang tewas ditembak oleh orang tak dikenal di depan gedung KPK-Jl.Rasuna Said-Jakarta pada 11 September 2013,menyusul rentetan kejadian peristiwa serupa sebelumnya di wilayah lain,yang korbannya adalah petugas keamanan.Sehingga disebarkan pemahaman bahwa : “Pihak keamanan saja tidak aman apalagi sipil”.

Maka semestinya saat ini kita tak perlu mengkhawatirkan tentang pemahaman itu sebab berbeda sasaran.Dimana keadaan yang terjadi sampai saat ini bahwa tidak ada pihak teroris yang melakukan penyerangan membabi buta terhadap masyarakat umum,tetapi hanya kepada institusi tertentu yang menjadi lawan politiknya.Namun tetap kita sangat prihatin mendalam atas situasi ini dan mengutuk pelakunya.

Tragedi semacam ini tak hanya berlaku di Indonesia,di Mexico para Teroris dari kelompok gang / mafia narkoba juga saling bunuh-bunuhan dengan aparat kemanan secara brutal,juga di Coloumbia serta di Negara lainnya.Di Negara Timur Tengah seperti Suriah,Irak bahkan lebih parah lagi,yakni setiap hari terjadi tindak terorisme dan saling bunuh antar umat sendiri hanya karena pertentangan mazab.

Maka justru yg harus dikhawatirkan adalah sifat terorisme yang ada didalam diri kita sendiri yang telah nyata-nyata berbuat teror pada orang-orang terdekat dan pada masyarakat disekeliling kita sendiri,yakni dalam bentuk terjadinya tawuran,persengketaan,perang antar warga dan KDRT dalam keluarga sendiri,yang justru dampak korban harta benda serta nyawa jauh lebih banyak ketimbang dengan peristiwa petugas keamanan yang dibunuh oleh apa yang disebut sebagai kelompok Teroris.

war

I. DEFINISI TEROR / TEROSRISME / TERORIS (AL-IRHAB)

Tidak ada satu pun definisi terorisme yang dapat distandarkan atau diterima kesepakatannya secara universal.Pendefinisian kata Terorisme masih merupakan istilah yang kabur dan bermakna ganda (ambiguous). Baik di kalangan akademisi , ilmuan sosial-politik pun tidak ada kesepakatan tentang batasan pengertian (definisi) ini.

Oleh karena itu,cap teroris masih menjadi sifat saling tuduh antar pribadi maupun kelompok yang berbeda kepentingan.Suatu contoh real,ketika Negara Israel menginvasi negeri Palestina pada tahun 1947,maka mendapat perlawanan hebat dari rakyat Palestina hingga sekarang.Namun pihak Israel akan menge-cap militant HAMAS sebagai TERORIS ketika melakukan serangan terhadap pasukan negaranya,sedangkan ketika militer Israel membantai rakyat Palestine,mereka tidak mau disebut Teroris melainkan menyebutnya sebagai pembalasan.Dan juga ketika pasukan Amerika menginvasi Irak,dan nyata-nyata telah menghancurkan peradaban dan mengakibatkan banyak rakyat negeri Irak yang mati terbunuh,maka Amerika tidak mau disebut sebagai TERORIS,melainkan hanya melaksanakan resolusi PBB.

Terorisme memiliki karakter spesifik, yaitu penggunaan kekuasaan ego pribadi maupun kelompok besar orang / satuan tertentu dengan memunculkan penekanan,ancaman hingga dinyatakan dengan laku perbuatan kekerasan,kefasikan,kezaliman fisik baik secara sistematis maupun sporadis untuk mencapai target kepuasan pribadi maupun politik .

1.Menurut KBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah :

-Te•ror /téror/ n usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan;
-me•ne•ror v berbuat kejam (sewenang-wenang dsb) untuk menimbulkan rasa ngeri atau takut: mereka ~ rakyat dengan melakukan penculikan dan penangkapan .
-teror n -horor, kepanikan, ketakutan; intimidasi;
-meneror v –
1) bergaduh, bertimba karang, mengacau, menggaduhkan, mengharu biru, mengusutkan, meributkan, merusuhkan;
2) mengancam, mengintimidasi, merisau,
3) mengintai, mengintip (bahaya)

2. Menurut UU No. 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Bab III pasal 6 :

-Setiap orang dipidana karena melakukan Tindak Pidana Terorisme, jika: Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan, menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional.

Teroris3

3. Menurut bahasa dan istilah :

*Secara Etimologis (lughawi), terorisme (terrorism) / Al-Irhab adalah (isim maqshur),berasal dari kata IRHAB / teror.
* Secara Terminologis (istilah) TERORISME adalah :
Menurut Oxford Paperback Dictionary, terror artinya extreme fear (rasa takut yang luar biasa), a terrifying person or thing (seseorang atau sesuatu yang mengerikan). Terrorism diartikan sebagai use of violence and intimidation, especially for political purposes (penggunaan kekerasan dan intimidasi, utamanya bagi tujuan-tujuan politik).

MAKA DEFINISI / HAKEKAT TERORISME ADALAH :

“Laku perbuatan orang baik individu maupun kelompok atau sebuah satuan bangsa/negara yang pertama-tama memunculkan ancaman,ultimatum,yang mengandung rencana melakukan penyerangan,gangguan dan menciptakan ketakutan dsb kepada pihak lain baik individu (termasuk pada jiwa pribadi sendiri),maupun orang banyak dan kemudian melaksanakan perbuatannya tersebut.Atau pendek kata adalah pihak yang memulai melakukan ancaman,gangguan keamanan, penyerangan dan atau kejahatan terlebih dahulu kepada jiwa diri sendiri maupun kepada jiwa orang lain”.
(Kelana Delapan Penjuru Angin@2013)

TERORISME TERBAGI MENJADI DUA JENIS :

Yaitu TERORISME SIFAT (Attitude Terorism) dan TERORISME LAKU (Behavior Terorism).

1. TERORISME SIFAT (Attitude Terorism)

Adalah sifat-sifat bakat terorisme yang berasal dari nafs diri manusia itu sendiri yang merupakan bakat manusia sejak lahir hingga selama kehidupannya,yang suka menekan,memaksa dan mengancam baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.Ini adalah hal nyata sehari-hari yang telah menjadi sifat kita.
Sifat-sifat terrorism bakat yang ada didalam diri kita tersebut berasal dari sifat-sifat Ruh Nurani dan pecahan dari sifat Ruh Ruhani yakni dari Nafs Al-Hayawaniyyah, Al-Musawwillah, Al-Ammarah, Al-Lawwamah dan Nafs Supiyah.

-Untuk pemahaman selengkapnya silahkan baca artikel tentang : 9 unsur Ruh yg ada dlm diri manusia pada link berikut :

https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/07/26/9-sembilan-unsur-roh-yang-terdapat-dalam-diri-manusia/

PD Sukses

Contoh sifat-sifat terorisme sejak masa balita hingga usia remaja :

-Ketika kita masih balita sampai usia remaja,sifat terorisme kita dimunculkan dalam bentuk naluri ingin menguasai barang mainan atau barang-barang yang di inginkan,dsb dengan cara mengancam,menekan,merebut sesuatu kepada pihak lain agar terpenuhi keinginannya dalam hal ini si anak merengek menangis,marah,ngambek,kepada temannya atau kepada orang tuanya sendiri (Ini sifat-sifat terrorism asal),yang kemudian jika tidak terpenuhi keinginannya menjadikan si anak memukul,merusak dan kadang melukai orang lain maupun diri sendiri.

Contoh sifat-sifat terorisme di masa dewasa :

-Saat kita telah dewasa maka sifat-sifat terorisme yang kita ungkapkan bobotnya lebih meningkat lagi yaitu dengan menekan,mengancam orang lain yang telah dikuasainya agar menuruti apa yang kita kehendaki.Seperti sikap mengancamnya seorang guru kepada muridnya atau sebaliknya,juga seorang atasan kepada bawahannya atau seorang Bos kepada anak buahnya,yang mengancam,menakut-nakuti dengan pemberian surat peringatan atau dengan ancaman gajinya akan dipotong hingga ancaman pemecatan tanpa pesangon,dan atau sebaliknya.

-Pada skoup keluarga sifat terrorism ini juga dilakukan oleh semua anggota keluarga,seperti suami/istri yang melakukan ancaman dan KDRT,anak mengancam dan menyiksa orang tua,dsb.(silahkan lihat saja tragedi-tragedi dikeluarga terjadi dibanyak tempat dan diberitakan)

-Pada tingkat massal di masyarakat, sifat “terrorism”nya dimunculkan dalam bentuk naluri menebalkan rasa ego kelompok, kesukuan,aliran dan merasa paling benar,merasa jatidirinya paling unggul,dsb, sehingga ketika terjadi salah paham atau masalah sepele yang bermula dari ulah segelintir oknum syetan manusia ,akhirnya dapat menyulut fitnah dan angkara murka seluruh warga kampung hingga berakhir dengan terjadinya tawuran,persengketaan,perang antar warga,rumah-rumah dibakar, jatuhnya korban harta benda serta nyawa yang skalanya jauh lebih banyak ketimbang dengan jumlah petugas keamanan yang dibunuh oleh apa yang disebut sebagai kelompok Teroris belakangan ini.

rumah dibakar

MAKA JUSTRU INILAH TERORIS YANG LEBIH BERBAHAYA DI SEKELILING KEHIDUPAN KITA DIBANDING DENGAN TERORIS PROFFESIONAL YANG BERAKSI,yang dengan nyata-nyata telah membuat teror serta kerugian harta,jiwa pada orang-orang terdekat dan pada masyarakat disekeliling kita sendiri.
(Lihatlah realita tragedy yang terjadi disekeliling kita,seperti terjadinya perang antar warga Puger di Jember–Jawa Timur akhir-akhir ini ,di NTB,di Makasar dan wilayah-wilayah lain di Indonesia ,yang pada akhirnya hanya meninggalkan duka lara,kesengsaraan,kehilangan rumah-rumah karena dibakar,kerusakan harta benda,korban jiwa tak sedikit,belum lagi tawuran antar murid sekolah dimana-mana yg memakan korban jiwa juga).

2. TERORISME LAKU (Behavior Terorism)

Adalah tindak laku perbuatan terrorism professional gabungan dari sifat-sifat teroris kepribadian (Attitude Terorism) yang menyatu,berkelompok merencanakan aksi terornya (Terorism yang terorganisir dan terselubung), dengan berbagai tujuan masing-masing,baik karena factor ideologis yang dipahaminya maupun karena tujuan politik kekuasaan serta ekonomi.
SASARAN TERORISM pada tingkat ini meliputi psikologis / pemikiran serta fisik terhadap satuan-satuan institusi atau lembaga bahkan tingkat negara yang dilakukan secara professional terorganisir dengan saling menghancurkan untuk menguasai satu sama lain.Hingga demikianlah terjadinya penyerbuan,peperangan antar bangsa/Negara.Maka boleh direnungi bahwa model terrorism yang seperti ini tidaklah seberbahaya terrorism sifat individu yang ada dalam masyarakat,sebab operasi terrorism yang professional ini tidak terjadi setiap saat di suatu wilayah.Sedangkan laku terorisme individu di masyarakat selalu sering terjadi kapanpun,dimanapun akibat sifat ego individu manusia.

korban

Dari penjabaran makna TERORISME yang telah dipaparkan diatas maka dengan demikian sebenarnya setiap individu,kelompok,bangsa dan Negara,sebenarnya secara tidak langsung telah merencanakan dan melakukan praktek-praktek TERORISME. Dalam skoup bangsa / Negara dinyatakan dengan adanya perlombaan mempersiapkan,membuat senjata pemusnah massal,nuklir,latihan perang,pertunjukan peralatan dan teknologi perang,dsb.Sementara dalam skala individu,maka dinyatakan dengan mempersiapkan senjata tajam maupun api dirumah masing-masing.Kemudian dari sisi sikap,maka seseorang individu bertindak angkuh,tidak mau mengalah , saling injak dan saling mencari pengaruh masing-masing.

II. TERORISME DALAM ISLAM

TERORISME atau Al-Irhâb dalam istilah bahasa Arab adalah melakukan sesuatu yang menyebabkan kepanikan, ketakutan, membuat gelisah orang-orang yang aman, menyebabkan kegoncangan jiwa dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dan menyebabkan terhentinya aktivitas mereka serta menimbulkan gangguan rasa aman.

Teroris

1.TERORISME YANG DILARANG ISLAM

Jika definisi Terorisme telah dipaparkan seperti tersebut diatas, yaitu menebarkan teror dan ketakutan,berbuat kezaliman,kejahatan di tengah masyarakat yang aman dan tidak sedang dalam medan peperangan,atau tidak tahu menahu dan terlibat masalah yang terjadi,maka jika ada pihak-pihak yang mengaku dari kelompok Islam melakukan perbuatan tersebut,sungguh hal demikian tidak dibenarkan dan merupakan larangan sangat keras dalam ajaran Islam. jelas hal ini adalah perbuatan tercela dan bukan merupakan nilai-nilai Muhammad SAW.
Esensi hadirnya Islam sebagai panduan kehidupan bagi seluruh umat manusia didunia ini sungguh telah sangat jelas yaitu untuk memberikan maslahah (kemanfaatan) dan mencegah mafsadah (kerusakan). Maka yang dikenal dalam nilai-nilai Islam adalah menjaga laku perbuatan (agama), jiwa, akal, nasab, harta dan kehormatan. Sedangkan laku perbuatan terorisme seperti model diatas jelas-jelas menimbulkan banyak kerusakan, hilangnya rasa aman, serta hilang harta dan nyawa umat.

Silahkan renungi nilai-nilai Islam dalam ayat berikut :

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa”.( QS.11. Huud :116)

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.(QS. 16. An Nahl :90)

Maka jika ada pihak-pihak yang mengaku dari kelompok Islam melakukan perbuatan terorisme seperti tersebut diatas,sungguh hal demikian merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai Muhammad SAW,antara lain:

1. Hadits Nabi Muhammad SAW,
“Janganlah kalian membahayakan dan saling merugikan” (HR. Ibnu Majah, Ad Daruquthni, hasan).

2. Hadits Nabi Muhammad SAW,

“Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan terbunuhnya seorang muslim” (HR. Tirmidzi 1395, shahih).

3.Bukan muslim dan mukmin sejati, jika ia membuat umat merasa tidak aman dan tidak tenang. Rasulullah bersabda,
“Mu’min adalah orang yang orang lain merasa aman darinya. Muslim adalah orang yang kaum Muslimin merasa aman dari gangguan lisan atau tangannya” (HR. Ahmad 11/137, shahih).

4. Cabang iman yang terendah adalah mencegah kemudharatan terhadap umat yang lain, walaupun berupa hal kecil. Nabi bersabda,
“Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang, yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan” (HR. Muslim 35).

Maka sahabat silahkan renungi dari nurani terdalam,bagaimana mungkin kita yang mengaku beriman Islam malah meledakkan bom,membunuh orang di jalanan di tempat-tempat yang damai dan banyak orang?

Teroris2

2.TERORISME atau AL-IRHAB YANG WAJIB DILAKSANAKAN DALAM ISLAM
Terbagi dalam 2 bagian yakni SKALA NASIONAL (Umah) dan SKALA INDIVIDU (Nafs) :

-DILAKUKAN SECARA DEFFENSIVE DAN SECARA AKTIVE:

(2.1). Al-Irhab SKALA NASIONAL:
-DILAKUKAN SECARA DEFFENSIVE :
Yaitu melakukan kewaspadaan di dalam negeri dari ancaman gangguan keamanan dari pihak luar dengan cara mempersiapkan diri, menambah kekuatan, latihan senjata (militer), membuat senjata dan menyiapkan kekuatan yang membuat irhâb (Menggentarkan) terhadap ancaman musuh sehingga membuat pihak musuh tidak lancang atau mengecilkan kekuatan kita, atau pendek kata bermaksud membuat pihak musuh berpikir 1000 X untuk mengganggu kehormatan dan kedaulatan kita / Negara,adalah merupakan bentuk terorisme yang wajar menurut pandangan setiap orang yang berakal sehat dalam menciptakan keamanan dan kesejahteraan manusia. Dan bukanlah melakukan tindak terorisme seperti model yang terjadi saat ini.
Maka hendaknya setiap individu tidak dilalaikan oleh Al-Lahwu (godaan yang tidak menjadikan manfaat),seperti iming-iming perhiasan dan gemerlapnya kehidupan dan harta benda,sehingga menimbulkan khianat diantara kekuatan sendiri.

Sifat kewaspadaan ini di tunjukkan oleh Allah Ta’âla :

وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian meng-irhâb (teror) musuh Allah dan musuh kalian”. (QS. Al-Anfâl : 60).

Ayat ini jelas memerintahkan kita atau pada sebuah bangsa / Negara,bukan untuk melakukan penyerangan membabi buta secara zalim terhadap kelompok lain melainkan bersifat Defensive / mempersiapkan / siaga diri terhadap kemungkinan serangan /gangguan musuh,sehingga dengan persiapan (show power) terhadap musuh ini dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan pada musuh sehingga mereka mengurungkan niat yang buruk terhadap kemapanan umat. Inilah hakekat kalimat :

“Kamu meng-irhâb (teror) musuh Allah dan musuh kalian”. (QS. Al-Anfâl : 60).

Muahmmad SAW bersabda,

وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ
“Saya ditolong dengan Ar-Ru’bi (timbulnya rasa takut/gentar pada musuh) selama perjalanan satu bulan”.

Jihad

-Secara AKTIVE (JIHAD FI SABILILLAH)

Yaitu melakukan perjuangan segenap jiwa raga ketika diserang oleh musuh dan ketika dalam medan pertempuran yang tak terhindarkan,dengan cara gagah berani,maju pantang mundur namun dengan kecerdasan akal (politik tempur) yang tinggi,membuat gebrakan menakuti,menteror musuh agar nyalinya menjadi takut / lenyap.

Juga ketika terjadi suatu keadaan peperangan antara negara muslim dan negara harby. Kalau negara (muslim) memerangi negara lain dan tidak ada antara keduanya mu’âhad atau hilif (perjanjian) dan antara keduanya saling menyerang secara tiba-tiba, maka dalam keadaan ini (boleh) bagi kaum muslimin / warga negara untuk melakukan apa yang dengannya bisa mengalahkan musuh (tindakan terror),dengan tujuan menahan musuh dan kezholimannya, mengembalikan harta benda,menjaga bumi dan kehormatan bangsa. Semua ini dianggap perkara yang boleh. Adapun apa yang berkaitan dengan irhâb terhadap orang-orang yang aman dan lengah dari laki-laki dan perempuan apapun agama dan latar belakangnya, maka mereka itu tidak boleh diserang secara tiba-tiba.

Ayat-ayat yang berkaitan tentang pantang mundur / pantang gentar dalam peperangan :

“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”. (QS. 8. Al Anfaal :45)

“…….dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi”. (QS.5. Al Maa’idah:21).

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar”.(QS. 3. Ali ‘Imran :146).

“Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama”! (QS.4. An Nisaa’ :71).

Ini adalah ayat untuk memunculkan sikap TERORISME ketika dalam peperangan :

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang…..”. (QS.8. Al Anfaal :65).

(2.2). Al-Irhab SKALA INDIVIDU:

SIFAT TERORISM POSITIF SKOUP TERKECIL YANG HARUS DI TERAPKAN PADA INDIVIDU KELUARGA :

Sifat-sifat terorisme yang ada dalam diri kita tidak sepenuhnya negatif,namun ada juga sifat terorisme yang ada dalam diri kita yang bermanfaat bagi diri,keluarga dan sekelilingnya ,yaitu :

1. Menekan,memaksa anak istri agar patuh dan taat pada agama serta menjalankan ibadah,kemudian disertai dengan ancaman yang telah difirmankan Tuhan,seperti dalam ayat berikut :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(QS. 66. At Tahrim :6).

Juga dalam (QS. 4. An Nisaa’ :34).

2. Menekan,memaksa anak istri agar berlaku perbuatan baik,bertindak dan bersikap sesuai dengan norma-norma kesopan santunan dalam kemasyarakatan,kemudian disertai dengan ancaman yang telah difirmankan Tuhan,seperti dalam ayat berikut :

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (QS. 16. An Nahl :90).

3.Memberi ancaman pada pihak luar / orang lain yang hendak berbuat kezaliman atau kejahatan yang akan merugikan diri dan keluarga kita dengan cara akan dilaporkan kepada pihak berwajib,dsb.

Sang Pencerah Islam

III. TERORIS ANGKARA MURKA BERBEDA DENGAN JIHAD DAN BERJIHAD BUKANLAH TERORIS

Tindak terorisme angkara murka seperti yang telah disebutkan diatas jelas tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.Sedangkan JIHAD adalah :

Jihad menurut arti bahasa berarti mengerahkan dan mencurahkan segala kemampuannya baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan menurut istilah syari’ah berarti seorang muslim lahir batin mengerahkan dan mencurahkan segala kemampuannya untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai Islam dalam setiap langkah kehidupannya demi mencapai ridha Allah SWT. Oleh karena itu kata-kata jihad selalu diiringi dengan fi sabilillah (Dijalan Tuhan),untuk menunjukkan bahwa jihad yang dilakukan umat Islam harus sesuai dengan ajaran Islam serta hanya berharap keridhaan-Nya semata.

Seorang muslim sejati tidaklah hidup kecuali dengan jihad,
” Berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad” (QS Al-Hajj 78).

Macam-Macam Jihad fi Sabilillah untuk menegakkan nilai-nilai Islam, adalah :

1. Jihad dengan lisan, yaitu menyampaikan, mengajarkan dan menda’wahkan ajaran Islam kepada manusia serta menjawab tuduhan sesat yang diarahkan pada Islam. Termasuk dalam jihad dengan lisan adalah, tabligh, ta’lim, da’wah, amar ma’ruf nahi mungkar dan aktifitas politik yang bertujuan menegakkan kalimat Allah.

2. Jihad dengan harta, yaitu menginfakkan harta kekayaan di jalan Allah khususnya bagi perjuangan dan peperangan untuk menegakkan kalimat Allah serta menyiapkan keluarga mujahid yang ditinggal berjihad.

3. Jihad dengan jiwa, yaitu memerangi musuh yang memerangi Islam dan umat Islam. Jihad ini disebut dengan qital (berperang di jalan Allah).

TINGKATAN JIHAD :

Yang paling rendah adalah melakukan perang ketika Islam dan Umat Islam diserbu atau diperangi oleh musuh.Sedangkan jihad paling tinggi dan besar adalah jihad memerangi hawa nafsyu.Jadi jika umat Islam dalam melakukan jihadnya tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam tersebut diatas maka tidaklah termasuk dalam katagori jihad.Apalagi kondisi keluarga masih morat marit dan seharusnya mendapat perlindungan,pembinaan,pendidikan serta kemapanan.

Untuk lebih mendalami makna jihad yang sesungguhnya silahkan sahabat pelajari dengan ulama setempat didekat anda atau cukup jelajah pada link-link google.
Maka janganlah kita terjebak ke dalam jalur jihad yang angkara murka,sehingga kita termasuk ke dalam golongan para pelaku terorisme yang sesat.

Dengan demikian pelaku daripada terorisme angkara murka ini disebut TERORIS / IRHAB ZULMUN,sedangkan lawannya sifat-sifat terrorism angkara murka yang ada didalam jiwa/nafs manusia adalah nafs JIHAD FI SABILILLAH yang merupakan manifestasi dari ruh Nurani,yang selalu menangisi jiwanya memanggil-manggil Tuhannya.

Sedangkan dzat yang menguasai segala sifat terorism dalam kehidupan dialam semesta ini adalah zat Sang Maha Teror Allah SWT yang merupakan manifestasi dari Zat-Nya Yang Maha Mengancam,Maha Penghancur (Al-Muntaqiem / The Avenger),Maha Mematikan (Al-Mummit / The Destroyer) dan Maha Pembalas,Maha Pemberi Derita (Ad-Dhaar / The Distressor ).

Kesimpulan :

-Sebaik-baik sifat terorism yang ada dalam diri kita adalah yang mengadakan teror pada jiwa /nafs kefasikan yang ada didalam diri kita sendiri,dengan mengalahkan nafs-nafs Ke-egoan,kejahatan dan kegelapan hati,dengan cara :

-Mengancam pada jiwa/nafs kefasikan kita dengan Ruh Nurani kita dan Ruhani kita,untuk jangan coba-coba membisikkan perbuatan kejahatan,jika tidak ingin mendapat terror yang lebih berat dari Sang Maha Teror(Siksa),dengan cara menjauhi bisikan-bisikan jiwa terror kita atau mengabaikan sifat-sfat terror yang ada dalam jiwa kita manakala membisikkan untuk melakukan kejahatan.

-Bunuh dan hancurkan jiwa kefasikan kita yang selalu menteror jiwa tenang kita dengan cara :

Bertobat,mengingat-Nya,bersabar,mengalah serta mengganti dengan sifat berbuat manfaat pada diri maupun sekelilingnya.Kemudian menyadari bahwa sifat teroris yang ada dalam kita sesungguhnya lemah karena hanya menempel pada jasad / fisik kita,jika jasad / fisik kita dimatikan oleh Tuhannya maka sifat teroris yang ada didalam jiwa kita tak berfungsi,artinya ketika manusia dengan segala keangkuhan sifat terorisnya,keangkaramurkaannya maka ujung-ujungnya kita akan mati binasa,jasadnya meleleh kembali menjadi onggokan tanah di kuburan.

-Terus berusaha meningkatkan ilmu pengetahuan / mengaji dengan menggunakan hati nurani sehingga terhindar dari pemahaman-pemahaman yang menyimpang.

Semoga menjadikan renungan dari qalbu yang jernih

Salam jiwa sebening embun,

Kelana Delapan Penjuru Angin,
Jakarta-Lembah Pulo Harapan,13 September 2013
CopyRights@2013

Reff :
-Al-Qur’an terjemah DEPAG RI
-http://buletin.muslim.or.id/manhaj/terorisme-berkedok-jihad
-http://jihadbukankenistaan.com/terorisme/makna-terorisme-dalam-syari%E2%80%99at-islam.html
-http://haroky2000.wordpress.com/2011/12/25/definisi-terorisme/
– Al-Irhâb Fii Mîzân Asy-Syarî’ah karya DR. ‘Âdil ‘Abdul Jabbâr hal. 20,
– Al-Irhâb Mazhôhiruhu wa Asykâluhu karya Prof. DR. Muhammad Al-Husainy hal. 8
– Haqiqutul Irhâb karya DR. Muthî’ullah Al-Harby hal. 8.
-http://www.dakwatuna.com/2008/01/15/355/jihad-jalan-kami/#axzz2enGGGQ4r

**HUKUM BUNGA BANK ( RIBA)**

*TINGGALKAN SISA RIBA (BUNGA BANK) YANG BELUM DIPUNGUT
*BUNGA BANK MENURUT AJARAN AGAMA APAPUN HUKUMNYA HARAM,MAU DIPELINTIR BEGINI ATAUPUN BEGONON TETAP HUKUMNYA HARAM.
*PRODUK-PRODUK PERBANKAN YANG HARAM DAN YANG DIPERBOLEHKAN
*DAMPAK NYATA KESENGSARAAN HIDUP DAN TUMBANGNYA PILAR-PILAR EKONOMI UMAT AKIBAT RIBA BANK

Bunga

PENDAHULUAN

Dalam rangka menyempurnakan laku perbuatan amaliah bagi orang-orang yang telah mengaku beriman,maka tak ada masalah jika ilmu pengetahuan fiqih ini dihadirkan kembali berulang-ulang agar semakin menambah kejelasan dalam sikap dan perbuatan.Maka tulisan ini disusun dan di intisarikan dari berbagai sumber pokok serta hasil dari consensus (Ijma’) para ulama hanif,dikemas dengan bahasa yang simple agar mudah dipahami oleh kita yang awam. Jika sampai saat ini kita masih merasa ragu dengan berbagai statemen yang membingungkan mengenai hukum daripada bunga bank,dimana sebagian orang menyatakan ada yang membolehkan dan sebagian lagi ada yang mengharamkan,maka insyaAllah dalam tulisan ini kita akan mendapatkan penjabaran secara rinci dari sisi syareat,tareqat dan hakekat tentang perkara mana yang haram dan mana yang boleh terhadap produk-produk dari dunia perbankan ini.
Tak dipungkiri bahwa pada era peradaban modern kini manusia sebagian besar tak dapat menghindar dari urusan dengan Bank.Segala aktifitas kehidupan manusia kini sepertinya telah dikendalikan / diatur oleh kekuasaan lembaga perbankan,bahkan penyelenggaraan lembaga keuangan Negara kini harus dikelola melalui perbankan guna mengatur ekonomi rakyatnya.
Bank dahulu belum ada.Keberadaan Bank baru muncul pada sekitar abad ke 13 (Di Spanyol dibangun pada tahun 1401 M),dan pada tahun 1690, didirikan oleh kerajaan Inggris.Artinya pada masa-masa Nabi Muhammad memperkenalkan Islam ataupun sebelum itu,maka kehidupan manusia pada saat itu tidak mengenal adanya Bank.Namun toh peradaban dan kehidupan tetap saja berjalan.Maka artinya dunia perbankan ada karena diadakan oleh peradaban manusia pada generasi berikutnya.
Bank pada dasarnya adalah memperdagangkan uang atau suatu usaha / bisnis dengan obyek yang menjadi dagangannya adalah uang serta mencari keuntungan dari perdagangan uang .Salah satu keuntungan yang di ambil atau didapatkan dari bank adalah dengan “menarik/memungut bunga”.Mau dipelintir kesana atau pelintir kesini atau dengan dalih apapun,maka tetap saja usaha bank tetap tak lepas dari merupakan sebuah usaha yang memperjual belikan dan atau mencari keuntungan dari berdagang uang serta mem-“bunga”-kan uang.

Bank

BANK BUKAN PRODUK ISLAM
Lahirnya adanya sebuah usaha memperjual belikan uang dalam suatu system yang disebut BANK,maka tak lepas dari sejarah ataupun riwayat kehidupan masa lalu.Dimana dahulu ketika manusia belum mengenal system bank,adalah bermula dari “bank-bank” amatir (individu),yang dikenal dengan “Rentenir (lazim ada yang menyebut “Lintah darat”).Yakni ketika pada setiap zaman dalam kehidupan umat manusia yang selalu ada kondisi dimana ada kaum yang miskin dan ada kaum yang kaya.Dan ketika si miskin memerlukan biaya untuk usaha dan hidup karena tidak memiliki modal maka selalu ada pihak yang mampu / memiliki uang banyak yang meminjamkan kepada si miskin namun si miskin harus memgembalikan lebih besar dari pokok pinjaman.Maka sepanjang sejarah telah memperlihatkan realitas terjadinya kehancuran kehidupan si miskin akibat terlilit hutang yang kian menumpuk hingga beban bunga yang harus ditanggung semakin membelit dan mencengkik leher,dan akhirnya membuat kebinasaan.
Nah,itulah yang disebut “Rentenir”.Maka saat ini seiring dengan perkembangan peradaban manusia,modus yang demikian pasti akan menolak jika disebut dengan sebutan itu,kini demikian tampak manis terselubung dibalik lembaga yang diformilkan yang bernama “bank”,dan telah menjadi kelaziman sebagai salah satu teknologi sah peradaban manusia.Maka sifat-sifat “Renten” atau memungut riba itu kini telah berganti nama menjadi “Profit sharing”
Maka,dahulu ketika Islam hadir ditengah-tengah umat yang bobrok peradaban dan akhlak dengan merajalelanya kiprah para golongan “Renten” tersebut,Tuhan melalui Muhammad telah memperingatkan akan larangan RIBA (sistim renten,sekarang bunga bank-red.) dan memperingatkan akan dampak dahsyat bagi kemaslahatan kehidupan umat.

SELURUH ULAMA YANG HANIF TELAH MENGHARAMKAN BUNGA BANK :

Jika ada salah seorang atau dari beberapa ulama masakini yang berani membuat statemen bahwa bunga bank hukumnya tidak haram,maka perlu dipertanyakan kredibilats dan ilmu agama dari oknum ulama tersebut.Dan segeralah secepat mungkin kita menjauhi atau berlepas diri dari mereka.

Renten

PENGERTIAN RIBA

*Di bidang transaksi ekonomi, Islam melarang keras praktik riba. Al-Dhahabi dalam kitab Al-Kabair menjadikan riba sebagai salah satu perilaku dosa besar yang harus dijauhi. Secara sederhana riba berarti menggandakan uang yang dipinjamkan atau dihutangkan pada seseorang.

Dalam hal terjadinya penambahan dari pinjaman pokok yang diperbolehkan adalah manakala bukan datang atau mendapat persyaratan dari si pemberi pinjaman,melainkan atas inisiatif yang meminjam dengan ucapannya sendiri secara kerelaan hati (sighot nadzar).

Dalam Ghayatu al-Talchishi al-Murad Hamisy Bughyatu al-Mustarsyidin, Hlm. 129

عَمَّتِ الْبَلْوَى اَنَّ اَهْلَ الثَّرْوَةِ لاَ يُقْرِضُوْنَ اَحَدًا اِلاَّ بِزِيَادَةٍ، اِمَّا مِنْ نَوْعِ الْمُسْتَقْرِضِ اَوْغَيْرِهِ بِصِيْغَةِ النَّذْرِ … فَالْعُقُوْدُ الْمَذْكُوْرَةُ صَحِيْحَةٌ اِذَا تَوَفَّرَتْ شُرُوْطُهَا وَلاَ يَدْخُلُ ذَلِكَ فِى اَبْوَابِ الرِّبَا.

“Telah menjadi hal yang lumrah, bahwa orang yang memiliki harta tidak meminjamkan pada seorang pun kecuali disertai dengan tambahan. Adakalanya dari jenis yang dipinjamkan atau yang lainnya dengan sighot nadzar…. Maka akad-akad tersebut sah jika syarat-syaratnya sempurna. Dan hal tersebut tidak termasuk bab riba”.

Anjuran kebaikan dari hal pinjam meminjam :
-Ini hal yang baik jika kita meminjam uang dan memberikan tambahan pada si pemberi pinjaman karena atas inisiatif yang meminjam,bukan karena tekanan yang memberi pinjaman.
Dalam Nihayatu az-Zain, 242 :

وَجَازَ مِنْ غَيْرِ كَرَاهَةٍ (نَفْعٌ) يَصِلُ لِمُقْرِضٍ مِنْ مُقْتَرِضٍ (بِلاَ شَرْطٍ) فِى اْلعَقْدِ بَلْ يُسَنُّ ذَلِكَ لِلْمُقْرِضِ لِقَوْلِهِ e: (اِنَّ خِيَارَكُمْ اَحَاسِنُكُمْ قَضَاءً) وَاَحَاسِنُ جَمْعُ اَحْسَنَ. وَفِى رِوَايَةٍ: (اِنَّ خِيَارَكُمْ مَحَاسِنُكُمْ قَضَاءً). اِلَى اَنْ قَالَ : وَاْلاَوْجَهُ اَنَّ اْلإِقْرَاضَ مِمَّنْ تَعُوْدُ الزِّيَادَةُ بِقَصْدِهَا مَكْرُوْهٌ.

“Diperbolehkan tanpa hukum makruh adanya manfaat yang kembali pada orang yang meminjami dari orang yang berhutang jika tidak ada syarat dalam akad, bahkan hal tersebut disunahkan sebagaimana hadits Rasul , “Sesuatu yang paling baik diantara kamu sekalian adalah yang paling baik dalam mengembalikan pinjaman”. Lafad أحاسن disini adalah jama’ dari lafad أحسن . dalam riwayat lain disebutkan, “Sesuatu yang paling baik diantara kamu sekalian adalah yang paling baik dalam mengembalikan pinjaman”. Adapun pinjaman pada orang yang terbiasa meminta tambahan adalah makruh”.

DEFINISI RIBA

Secara etimologis (lughawi) riba (الربا) adalah isim maqshur, berasal dari “rabaa yarbuu”.Asal Arti kata riba adalah ziyadah yakni tambahan atau kelebihan.

Secara terminologis (istilah) riba adalah setiap kelebihan antara nilai barang yang diberikan dengan nilai-tandingnya (nilai barang yang diterimakan).
( Ibnul Arabi) .

RIBA DALAM ISLAM ADA 2 JENIS :

1.Riba Al-fadhl (ربا الفضل)
2.Dan riba Al-nasi’ah (ربا النسيئة).

-Riba al-Fadhl disebut juga dengan riba jual beli adalah terdapat adanya persyaratan penambahan dalam jual-beli barang yang sejenis.

-Riba ini terjadi apabila seseorang menjual sesuatu dengan sejenisnya dengan tambahan,seperti menjual emas dengan emas, mata uang dirham dengan dirham, gandum dengan gandum dan seterusnya.

Dari hadits riwayat Bukhari dan Muslim :

“Bilal datang kepada Rasulullah SAW dengan membawa korma kualitas Barni (baik). Lalu Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Dari mana kurma itu ?”. Ia menjawab , “Kami punya kurma yang buruk lalu kami tukar bdli dua liter dengan satu liter”. Maka Rasulullah bersabda: “Masya Allah, itu juga adalah perbuatan riba. Jangan kau lakukan. Jika kamu mau membeli, juallah dahulu kurmamu itu kemudian kamu beli kurma yang kamu inginkan”.

2.Riba an-Nasi’ah disebut juga riba hutang piutang adalah kelebihan (bunga) yang dikenakan pada orang yang berhutang oleh yang menghutangi pada awal transaksi atau karena penundaan pembayaran hutang.

Riba nasi’ah terbagi dua jenis ,yakni :

(1). A meminjamkan/menghutangkan uang atau benda berharga lain pada B. Bentuknya ada dua:

(a) A menetapkan tambahan (bunga) pada awal transaksi.
(b) A tidak menetapkan bunga di awal transaksi, akan tetap saat B tidak mampu melunasi hutang pada saat yang ditentukan, maka A membolehkan pembayaran ditunda asal dengan bunga.

Dalam I’anatu al-Thalibin, Juz III, 53 :

وَاَمَّا الْقَرْضُ بِشَرْطِ جَرِ نَفْعٍ لِمُقْرِضٍ فَفَاسِدٌ قال ع ش: وَمَعْلُومٌ أَنَّ مَحَلَّ الْفَسَادِ إذَا وَقَعَ الشَّرْطُ فِي صُلْبِ الْعَقْدِ أَمَّا لَوْ تَوَافَقَا عَلَى ذَلِكَ وَلَمْ يَقَعْ شَرْطٌ فِي الْعَقْدِ فَلاَ فَسَادَ وَجُبِرَ ضُعْفُهُ مَجِىْءَ مَعْنَاهُ عَنْ جَمْعٍ مِنَ الصَّحَابَةِ. وَمِنْهُ الْقَرْضُ لِمَنْ يَسْتَأْجِرُ مِلْكَهُ أَىْ مَثَلاً بِأَكْثَرَ مِنْ قِيْمَتِهِ ِلأَجْلِ الْقَرْضِ إنْ وَقَعَ ذَلِكَ شَرْطًا إذْ هُوَ حِيْنَئِذٍ حَرَامٌ إجْمَاعًا وَإلاَّ كُرِهَ عِنْدَنَا وَحَرَامٌ عِنْدَ كَثِيْرٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ قَالَهُ السُّبْكِى.

“Adapun pinjaman dengan syarat mengambil manfaat untuk orang yang meminjami adalah fasid. Asy-syubro Milsy berkata, “Telah diketahui bahwa objek rusaknya akad yakni apabila terjadi syarat dalam penentuan akad”.

(2). A membeli emas atau perak pada B dengan menunda penerimaannya/tidak langsung saling terima.

Perbedaan khasnya, riba nasi’ah adalah jual beli barang yang sama jenisnya tapi tidak secara kontan. Sedangkan riba fadhl adalah jual beli barang dengan kelebihan atau hutang piutang dengan bunga.

Ulama sepakat atas keharaman riba nasi’ah. Sementara terjadi ikhtilaf (beda pendapat) atas keharaman riba fadhl, tapi mayoritas mengharamkannya.

HUKUM RIBA DALAM ISLAM

Hukum riba adalah haram dan termasuk dari dosa besar karena akan menyebabkan kesengsaraan kaum dhuafa, menzalimi orang miskin, eksploitasi si kaya pada si miskin, menutup pintu sedekah dan kebajikan serta membunuh rasa empati antar manusia yang berbeda strata sosial ekonominya.

I. MENGENAL PRODUK PERBANKAN YANG HARAM DAN YANG DIPERBOLEHKAN

Kini sifat bank telah mengalami pergeseran dari masa awal keberadaannya,yakni dari sebuah lembaga resmi yang tadinya hanya melayani pinjaman modal dengan memungut bunga,maka kini telah melayani jasa-jasa dibidang keuangan yang disebut sebagai produk perbankan,meliputi jasa simpan,tarik tunai,pengiriman,deposito,valas,dsb. Maka masa kini sifat perbankan tidak hanya “memungut riba” saja,namun juga telah melayani berbagai produk yang yang tidak tergolong haram.

1. PRODUK PERBANKAN YANG HARAM
BERIKUT ITEM-ITEM HARAM,YANG HARUS DIJAUHI DARI BERURUSAN DENGAN DUNIA PERBANKAN :

(1.1). MEMINJAM UANG DENGAN SYARAT BUNGA DI BANK.
(1.2). KARTU KREDIT dengan mempersyaratkan membayar bunga.
(1.3). MENABUNG / DEPOSITO DENGAN MENGHARAPKAN BUNGA BANK
(1.4). JUAL BELI MATA UANG / VALAS DENGAN NIAT MENGGANDAKAN UANG

PENJABARAN (1.1) :
-MEMINJAM UANG DENGAN SYARAT BUNGA DI BANK.

Meminjam uang atau mendapat tawaran pinjaman uang dari bank dengan mempersyaratkan adanya pengembalian tambahan dari pokok pinjaman yang disebut bunga pinjaman,apapun alasannya maka ini termasuk ke dalam berurusan dengan “RIBA”,maka RIBA / BUNGA UANG MENURUT AJARAN AGAMA APAPUN HUKUMNYA HARAM

PENJABARAN (1.2) :
-KARTU KREDIT

Adalah bentuk pinjaman uang yang telah di bakukan / fix,kemudian nasabah wajib membayar tunai maupun mengangsur dengan mempersyaratkan tambahan bunga yang harus dibayar dalam satu perhitungan pembayaran.

PENJABARAN (1.3) :
– MENABUNG / DEPOSITO DENGAN MENGHARAPKAN BUNGA BANK

Adalah seseorang yang menyimpan uangnya di bank dalam jumlah kecil maupun besar namun didalam hatinya mengharapkan mendapat keuntungan yakni dari bunga simpanan.

PENJABARAN (1.4) :
-JUAL BELI MATA UANG / VALAS DENGAN NIAT MENGGANDAKAN UANG

Adalah bentuk perdagangan mata uang apa saja, dalam jumlah kecil maupun besar namun didalam hatinya mengharapkan mendapat keuntungan dari jual beli uang tersebut.Dalam hal ini termasuk laku perbuatan membeli dolar untuk kemudian ditukarkan kembali ke dalam mata uang lainnya ketika nilai mata uang itu merosot nilainya.

DALIL-DALIL ATAS PENGHARAMAN DARI ITEM-ITEM TERSEBUT DIATAS:

Telah sangat jelas bahwa kriteria dari produk-produk bank tersebut adalah telah timbul adanya persyaratan bunga,yang dalam koridor Islam disebut sebagai RIBA dan telah nyata-nyata diharamkan.

Renten2

Berikut peringatan Tuhan yang melarang berurusan dengan “Bunga Bank” (baca:terlibat dengan RIBA) :

-“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (Q.S.2. Al-Baqarah : 275 )

-“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS.2. Al Baqarah:278)

Sabda Nabi Muhammad SAW :

-“Jabir berkata bahwa Rasulullah mengutuk orang yang menerima riba, orang yang membayarnya, dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda, “Mereka itu semuanya sama.” (H.R Muslim no. 2995 dalam kitab Al-Musaqqah)

Seluruh ‘ulama sepakat mengenai keharaman riba, baik yang dipungut sedikit maupun banyak. Seseorang tidak boleh menguasai harta riba; dan harta itu harus dikembalikan kepada pemiliknya, jika pemiliknya sudah diketahui, dan ia hanya berhak atas pokok hartanya saja.

Berikut dampak dan azab Tuhan,jika nekad berurusan dengan “Bunga Bank” (baca:terlibat dengan RIBA) :

Allah swt berfirman;
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبا لا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.
[QS Al Baqarah (2): 275].

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”.[QS Al Baqarah (2): 279]

Sabda Nabi Muhammad SAW :

دِرْهَمُ رِبَا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتٍّ وَثَلَاثِيْنَ زِنْيَةً

“Satu dirham riba yang dimakan seseorang, dan dia mengetahui (bahwa itu adalah riba), maka itu lebih berat daripada enam puluh kali zina”. (HR Ahmad dari Abdullah bin Hanzhalah).

الرِبَا ثَلاثَةٌَ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ, وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا عَرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمَ

“Riba itu mempunyai 73 pintu, sedang yang paling ringan seperti seorang laki-laki yang menzinai ibunya, dan sejahat-jahatnya riba adalah mengganggu kehormatan seorang muslim”. (HR Ibn Majah).

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّباَ وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ, وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah saw melaknat orang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya, dan dua orang saksinya. Belia bersabda; Mereka semua sama”. (HR Muslim)

Di dalam Kitab al-Mughniy, Ibnu Qudamah mengatakan :

“Riba diharamkan berdasarkan Kitab, Sunnah, dan Ijma’. Adapun Kitab, pengharamannya didasarkan pada firman Allah swt,”Wa harrama al-riba” (dan Allah swt telah mengharamkan riba) (Al-Baqarah:275) dan ayat-ayat berikutnya.

Sedangkan umat Islam telah berkonsensus mengenai keharaman riba.Dan Imam al-Syiraaziy di dalam Kitab al-Muhadzdzab menyatakan; riba merupakan perkara yang diharamkan dan dalam As-Sunnah ,telah diriwayatkan dari Nabi saw bahwasanya beliau bersabda :

“Jauhilah oleh kalian 7 perkara yang membinasakan”. Para shahabat bertanya, “Apa itu, Ya Rasulullah?”. Rasulullah saw menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan, menuduh wanita-wanita Mukmin yang baik-baik berbuat zina”. Juga didasarkan pada sebuah riwayat, bahwa Nabi saw telah melaknat orang yang memakan riba, wakil, saksi, dan penulisnya”.[HR. Imam Bukhari dan Muslim]…

2. PRODUK PERBANKAN YANG DIPERBOLEHKAN (TIDAK HARAM)

Karena dunia perbankan disamping terdapat produk-produk yang haram (terutama dari hal yang telah jelas yakni adanya unsur RIBA,seperti yang dijelaskan diatas),maka juga terdapat produk-produk yang tidak termasuk haram atau artinya kita boleh berurusan dengan bank,yakni dengan pertamakali kita harus “BERI’TIQAD” / meniatkan didalam hati sbb :

1.Memohon ampun kepada Tuhan ketika terpaksa harus berurusan dengan dunia perbankan.
2.Berniat tidak berorientasi mengambil keuntungan bunga uang bank.
3.Berupaya mencari solusi mencari lembaga bank lain yang tidak bersistem “Bunga” dikemudian hari atau selanjutnya.

BERIKUT HAL-HAL YANG DIPERBOLEHKAN KARENA TERPAKSA HARUS BERURUSAN DENGAN DUNIA PERBANKAN :

(2.1). MENYIMPAN UANG /MENABUNG DAN DEPOSITO DI BANK
(2.2). PENGGAJIAN MELALUI BANK (Pay Roll)
(2.3). MEMINJAM UANG DI BANK
(2.4). MEMBELI BARANG DENGAN CARA KREDIT / MENGANGSUR DI BANK
(2.5). MENJADI PEGAWAI DAN MENERIMA GAJI DARI BANK
(2.6). KARTU KREDIT
(2.7).MENERIMA HADIAH DARI PERUSAHAAN BANK
(2.8). JUAL BELI MATA UANG / VALAS

PENJABARAN (2.1) :
– MENYIMPAN UANG /MENABUNG DAN DEPOSITO DI BANK

Hal ini diperbolehkan asal tidak meniatkan diri mengharap bunga tabungan / deposito,tetapi hanya merupakan sarana aman dalam menyimpan uangnya.Perkara timbul bunga simpanan maka itu bukan kehendak kita.Sedangkan jika jumlah simpanannya besar dan menjadikan bunga yang didapat juga besar,maka tambahan dana dari simpanan pokok itu dapat dikatagorikan sebagai bagi hasil dari pihak bank yang telah memanfaatkan uang kita,maka sah-sah saja.Adapun jika kita ragu-ragu dengan uang tambahan tersebut dan menganggap sebagai Riba,maka baik jika tidak dipungut melainkan juga jangan ditolak,tetapi sangat bijak jika di sumbangkan kepada orang-orang yang tidak mampu.

PENJABARAN (2.2) :
– PENGGAJIAN MELALUI BANK (Pay Roll).
Saat ini lazim setiap perusahaan mensyaratkan penggajian pegawainya dibayarkan melalui system bank (Pay Roll),maka diperbolehkan karena tidak ada unsur hutang yang ada bunganya,bahkan kita telah membayar biaya administrasi bulanannya.(ATM)

PENJABARAN (2.3) :
– MEMINJAM UANG DI BANK.

Ketika kita memerlukan suatu pembelian barang namun jika dengan kontan tidak mampu,maka meminjam uang dari bank dengan niat untuk membeli barang yang diperlukan diperbolehkan.Adapun timbulnya bunga bank yang harus dibayar,maka hal tersebut dikatagorikan bukan membayar bunga uang yang dipinjam melainkan telah menjadi satu bagian dari harga barang yang dibeli.Dengan catatan bahwa kita mempunyai penghasilan tetap sehingga tidak khawatir tidak mampu membayar hutangnya.

PENJABARAN (2.4) :
-MEMBELI BARANG DENGAN CARA KREDIT / MENGANGSUR DI BANK

Contoh : Kedit KPR,kendaraan,renovasi,dll,sebab tidak termasuk sebagai berjual beli uang tetapi akad pertamanya adalah barang.Perkara ada bunga yang dipersyaratkan oleh bank,maka itu urusan bank sedangkan bagi kreditur obyeknya adalah barang dan bunga yang di pungut oleh bank bagi kreditur merupakan satu bagian dari harga sah yang tersepakati dan yang harus dibayar walaupun dengan cara mengangsur.

PENJABARAN (2.5) :
MENJADI PEGAWAI DAN MENERIMA GAJI DARI BANK.

Karena keadaan pekerjaan yang sulit dan terpaksa memang harus menghidupi keluarga,maka bekerja di perusahaan bank dan menerima gaji dari bank diperbolehkan,dengan berniat diri tidak mengharap bunga bank.

1.Menurut fatwa Syekh Jad al-Haq, salah satu Mufti Mesir,

-Memperoleh gaji/honorarium dari bank-bank tersebut dapat dibenarkan, bahkan kendati bank-bank konvensional itu melakukan transaksi riba.
-Bekerja dan memperoleh gaji di sana pun masih dapat dibenarkan, selama bank tersebut mempunyai aktivitas lain yang sifatnya halal.

2.Yusuf Qaradhawi termasuk ulama yang mengharamkan bank namun dalam soal gaji pegawai bank ia menyatakan bahwa :

“Apabila pegawai tersebut bekerja karena tidak ada pekerjaan di tempat lain maka ia dalam kondisi darurat. Dalam Islam, kondisi darurat menghalalkan perkara yang asalnya haram. Kebutuhan hidup termasuk kondisi darurat. Dalam konteks ini, maka pekerjaannya di bank hukumnya boleh”.

PENJABARAN (2.6) :
– KARTU KREDIT

Jika kartu kredit itu bukan kita yang bikin atau di beri fasilitas oleh pihak lain dan bukan kita yang berkewajiban membayar angsuran.Dalam hal kita memiliki kartu kredit tidak berniat mengambil uang cash namun untuk keperluan membeli barang,maka masih diperbolehkan.Tetapi para ulama berbeda pendapat,ada yang mengharamkan dan ada yang membolehkan.Maka lebih baik hindari sajalah kartu kredit untuk lebih amannya.

PENJABARAN (2.7) :
-MENERIMA HADIAH DARI PERUSAHAAN BANK.
Hadiah adalah pemberian dari pihak lain kepada pihak kita tanpa mempersyaratkan adanya membayar bunga,maka diperbolehkan entah dari bank atau dari siapapun.

PENJABARAN (2.8) :
– JUAL BELI MATA UANG / VALAS ATAUPUN MONEY CHANGER.

Jika kita karena adanya suatu keperluan dinas maupun bepergian ke lain Negara,yang mengharuskan melakukan penukaran mata uang dengan jual ataupun beli tanpa berniat mencari keuntungan dari penambahan transaksi tesebut,maka diperbolehkan.

miskin

II. DAMPAK NYATA KESENGSARAAN HIDUP AKIBAT BERURUSAN DENGAN BUNGA BANK :

1.Lihat hutang Indonesia DAN TERSEOK-SEOKNYA EKONOMI INDONESIA
-Kemerosotan,krisis,keterpurukan ekonomi Indonesia mau diakui atau tidak,karena akibat berurusan dengan IMF (baca:terlibat dengan RIBA / Rentenir Internasional).
2.Lihat kisah-kisah kebangkrutan ekonomi keluarga dimana saja (termasuk saya sendiri).
3.Lihat krisis ekonomi di Negara-negara berkembang di dunia (baca di berita-berita dunia).
4.Menyebabkan kesengsaraan kaum dhuafa, menzalimi orang miskin, eksploitasi si kaya pada si miskin, menutup pintu sedekah dan kebajikan serta membunuh rasa empati antar manusia yang berbeda strata sosial ekonominya.

III. ULAMA YANG MENGHARAMKAN DAN YANG BERANI MENGHALALKAN BANK KONVENSIONAL:
-ULAMA DAN LEMBAGA YANG MENGHARAMKAN BANK KONVENSIONAL (Bank Kapitalis).

1. Pertemuan 150 Ulama’ terkemuka dalam konferensi Penelitian Islam di bulan Muharram 1385 H, atau Mei 1965 di Kairo, Mesir menyepakati secara aklamasi bahwa segala keuntungan atas berbagai macam pinjaman semua merupakan praktek riba yang diharamkan termasuk bunga bank.
2. Majma’al Fiqh al-Islamy, Negara-negara OKI yang diselenggarakan di Jeddah pada tanggal 10-16 Rabi’ul Awal 1406 H/22 Desember 1985;
3. Majma’ Fiqh Rabithah al’Alam al-Islamy, Keputusan 6 Sidang IX yang diselenggarakan di Makkah, 12-19 Rajab 1406
4. Keputusan Dar It-Itfa, Kerajaan Saudi Arabia, 1979;
5. Keputusan Supreme Shariah Court, Pakistan, 22 Desember 1999;
6. Majma’ul Buhuts al-Islamyyah, di Al-Azhar, Mesir, 1965.
7. Fatwa Dewan Syari’ah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tahun 2000 yang menyatakan bahwa bunga bank tidak sesuai dengan syari’ah.
8. Keputusan Sidang Lajnah Tarjih Muhammadiyah tahun 1968 di Sidoarjo menyatakan bahwa sistem perbankan konvensional tidak sesuai dengan kaidah Islam.
9. Keputusan Munas Alim Ulama dan Konbes NU tahun 1992 di Bandar Lampung.
10. Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia tentang Fatwa Bunga (interest/fa’idah), tanggal 22 Syawal 1424/16 Desember 2003.
11. Keputusan Rapat Komisi Fatwa MUI, tanggal 11 Dzulqa’idah 1424/03 Januari 2004, 28 Dzulqa’idah 1424/17 Januari 2004, dan 05 Dzulhijah 1424/24 Januari 2004.

-ULAMA DAN LEMBAGA YANG MENGHALALKAN BUNGA BANK KONVENSIONAL

1. Syekh Al-Azhar Sayyid Muhammad Thanthawi menilai bunga bank bukan riba dan halal.
2. Dr. Ibrahim Abdullah an-Nashir. dalam buku Sikap Syariah Islam terhadap Perbankan
3. Keputusan Majma al-Buhust al-Islamiyah 2002 membahas soal bank konvensional.
4. A.Hasan Bangil, tokoh Persatuan Islam (PERSIS), secara tegas menyatakan bunga bank itu halal.
5. Dr.Alwi Shihab dalam wawancaranya dengan Metro TV berpendapat bunga bank bukanlah riba dan karena itu halal.

IV. BISAKAH MANUSIA HIDUP TANPA HARUS BERURUSAN DENGAN RIBA (BUNGA BANK)? :

-Sangat bisa.
-Di zaman modern sekarang inipun masih banyak orang-orang yang dapat menjalani kehidupan tanpa berurusan dengan dunia perbankan.Contoh para petani,para pengusaha mikro / kakilima,para pekerja dibidang informal ,dsb.
-Orang-orang yang tidak berurusan dengan dunia bank dapat tetap melangsungkan kehidupannya karena memang kehidupan sehari-harinya dilandasi oleh jiwa yang sederhana,bebas hutang dan tidak kepinginan yang “neko-neko” / macam-macam.Jikalau toh beraktifitas,maka cukup dengan cara konvensional saja atau dengan tunai.

V. APAKAH ADA KEWAJIBAN ZAKAT ATAS UANG SIMPANAN DI BANK

Kewajiban atas zakat bagi setiap umat yang mampu,maka sebenarnya tidak terkait dengan uang simpanan di bank atau tidak.Apalagi jika dikaitkan dengan apakah bunga bank dalam jumlah besar harus dizakati atau tidak,maka justru itu hal yang harus dijauhi.

Maka zakat yang dikeluarkan bagi setiap umat yang mampu bukan berdasar uang simpanan dibank juga bukan dari bunga yang didapatkan,melainkan kewajiban zakat itu timbul ketika kita memiliki /menguasai harta benda ,barang berharga termasuk uang yang kita simpan di rumah atau di bank,kemudian telah mencapai standar nishab,artinya bilamana mencapai setahun dan telah mencapai batas nishab barulah kewajiban kita membayar zakat timbul.

VI. KESIMPULAN :

1.Bahwa bank bukan produk Islam.
*Sudah jelaslah riba bentuk apapun itu dilarang sebagaimana dengan pengharaman arak.

(1.1) -Riba dengan kelebihan/tambahan pembayaran tanpa ada ganti/imbalan, yang disyaratkan bagi salah seorang dari kedua belah pihak yang membuat akad/transaksi
-Sedangkan Bunga adalah sejumlah uang yang dibayar atau untuk penggunaan modal. Jumlah tersebut misalnya dinyatakan dengan satu tingkat atau prosentase modal yang bersangkut paut dengan itu yang dinamakan suku bunga modal.

(1.2) Dalam pandangan Fiqh Muamalah dan Ekonomi Islam bahwa antara riba dan bunga bank adalah sama. Mengapa demikian, dikarenakan secara riil operasional di perbankan konvensional, bunga yang dibayarkan oleh nasabah peminjam kepada pihak atas pinjaman yang dilakukan jelas merupakan tambahan. Karena nasabah melakukan transaksi dengan pihak bank berupa pinjam meminjam berupa uang tunai.

(1.3) Dalam pandangan Fiqh Muamalah dan Ekonomi Islam bahwa hukum antara riba dan bunga bank adalah haram. Karena hukum asal riba adalah haram baik itu dalam Al-Qur’an, Hadis, dan Ijtihad. Seluruh ummat Islam wajib untuk meninggalkannya, serta menjauhinya yakni dengan cara bertaqwa kepada Allah.

2.DAMPAK BERGELIMANG DENGAN RIBA :

(2.1). Bagi jiwa manusia : hal ini akan menimbulkan perasaan egois pada diri, sehingga tidak mengenal melainkan diri sendiri.

(2.2).Bagi masyarakat : Dalam kehidupan masyarakat hal ini akan menimbulkan kasta kasta yang saling bermusuhan.

(2.3). Bagi roda pergerakan ekonomi : Dari segi ekonomi, hal ini akan menyebabkan manusia dalam dua golongan besar yaitu orang miskin sebagai pihak yang tertindas dan orang kaya sebagai pihak yang menindas.

3.Silahkan mau tunduk patuh terhadap peringatan-peringatan-Nya atau tidak,maka segala dampak resiko menjadi tanggung jawab masing-masing diri.

3.Jika kita memang harus terpaksa berurusan dengan dunia perbankan atau produk-produk perbankan tanpa dapat menghindar,maka hendaknya perhatikan saja hal-hal yang boleh dan mana hal yang dilarang Tuhan seperti yang telah dipapar diatas.

4.Maka laku perbuatan niat itu ada di dalam hati,yang tahu hanya diri sendiri dan Tuhannya.”Inna a’malu binniah”,Segala laku perbuatan itu dinilai Tuhan dari niat hatinya,kemudian membuktikannya.

5.Jika sampai saat ini umat beriman yang masih berada dalam keadaan darurat belum dapat menghindar dari beururusan dengan dunia perbankan yang termasuk ke dalam katagory RIBA,(seperti Hutang di bank dengan mempersyaratkan bunga,membuka kartu kredit serta berharap memungut bunga bank,valas ,deposito,dsb),maka hendaknya secepat mungkin menyadari dan meniatkan diri untuk berhenti dari keadaan itu dan atau mengalihkan segala urusannya dengan lembaga pelayanan jasa keuangan yang Islami / sesuai syariah bagi umat yang memang memerlukan teknologi perbankan.

6.Bahwa hal-hal yang telah menjadi larangan Tuhan jika tidak di penuhi,maka memang dalam jangka pendek seolah untung besar dan berasa manis,namun dalam jangka panjang realitas kehidupan telah memperlihatkan pelajaran nyata dengan dialaminya kebinasaan ataupun kebangkrutan ekonomi.

7.Pilihan bebas ada pada kita semua.

Semoga bermanfaat,
Salam kesejahteraan.

Kelana Delapan Penjuru Angin,
Artha Gading-Jakarta,9 September 2013
CopyRights@2013

Sumber :
http://www.surgaberita.com/2011/10/asal-mula-adanya-bank.html
-http://id.wikipedia.org/wiki/Bank
http://www.alkhoirot.net/2012/04/hukum-bank-konvensional-dalam-islam.html
-http://www.hadielislam.com/arabic/index.php?pg=fatawa%2Ffatwa&id=470
-http://cerdasinspirasiku.blogspot.com/2012/04/riba-dan-bunga-bank-dalam-pandangan.html
-http://kuliahhukum12.blogspot.com/2012/04/hukum-perbankan-syariah.html
-http://cherudin.blogspot.com/2010/05/bab-1-pendahuluan-1.html
-Al-Qur’an terjemah DEPAG RI.