**MENGAPA DALAM AL-QUR’AN,ALLOH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” ?**

Alloh

PENJABARAN MAKNA KETIKA ALLAH MENGGUNAKAN KALIMAT “AKU” , “KAMI”dalam AL-QUR’AN :

APA MAKSUDNYA ?
APAKAH BERARTI TUHAN ITU LEBIH DARI SATU ?

Sahabat,perkara ini telah sering menjadikan pertanyaan dibenak kita dan bahkan telah menjadi ajang pembenaran argumentasi bahwa Tuhan itu dapat bersifat plural atau dapat disetarakan dengan unsur-unsur lain.
Dan sebenarnya pertanyaan-pertanyaan ini sudah dijawab dari sejak jaman dulu oleh Ulama alim dan Ahli Tafsir.dimana para ulama dari agama lain selalu mempertanyakan,setiap kali melihat terjemahan Al-Quran semacam ini dari masa-ke-masa, MENYANGKA dan BERTANYA apakah kata “KAMI” dalam Al-Quran adalah “Tuhan yang dapat disetarakan dengan unsur lain”, PADAHAL dalam ayat lain Al-Qur’an sudah membantahnya bahwa Allah Swt. Itu Tunggal .
Seperti salah satunya yang ditegaskan dalam Surah , (Q.S. 112.Al-Ikhlas: 1).

Maka,tak kenal maka tak sayang,tak tahu rahasianya maka tenggelamlah kita ke dalam kebimbangan dan kegelapan alam pikir.

BERIKUT RAHASIA DAN PENJABARANNYA :

RAHASIANYA ternyata sangat sepele,iz very…very….simple….
Bahwa tata bahasa Arab itu berbeda jauh dengan tata bahasa bangsa manapun didunia dalam hal memuat makna dari sebuah kalimat.

Dalam tata bahasa Arab,(GRAMMER/NAHU SARAF), ada kata ganti pertama ( singular) “AKU”,dengan kalimat :”Ana” ,
Dan ada kata ganti pertama( plural) “AKU”,dg kalimat : “Nahnu”.
Akan tetapi dalam bahasa Arab, kata ganti pertama plural dapat dan sering, difungsikan sebagai singular.
Hal ini disebut “Al-Mutakallim Al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”,
Adalah kata ganti pertama yang memuat makna sebagai tanda “PENGHORMATAN”.

Ini karena dhamir ‘NAHNU’ yang dalam Tata Bahasa umum sebagai bentuk jamak yang diartikan sebagai “kita” atau “kami” (banyak),tetapi dalam ilmu NAHU SOROF,kalimat “NAHNU” tersebut diartikan sebagai bermakna :”AKU”,/” SAYA” dalam bentuk singular/Tunggal sebagai bentuk kalimat penghormatan atau bahasa sopan (Kromo alus-Jawa).

Karena dalam tata bahasa bangsa lain tidak memiliki perbendaharaan seperti dalam Tata Bahasa Arab ini,maka kalimat ‘NAHNU”(Aku dg penghormatan), hanya bisa diterjemahkan dg kalimat “KAMI” kedalam bahasa Indonesia atau “WE” dalam Bahasa Inggris,sehingga bagi yang tidak memahami seolah bermakna “jamak”.

Selain kata ‘Nahnu”, ada juga kata ‘ANTUM ’(KAMU), yang sering digunakan untuk menyapa lawan bicara meski hanya satu orang. Padahal makna `antum` adalah kalian (jamak).

Maka terjemahan “ANTUM” dalam bahasa Arab yang berarti “KAMU”,ketika kita menyapa lawan bicara kita dengan panggilan ‘antum’, maka secara kandungan bahasa, merupakan panggilan sopan dan ramah serta sebagai penghormatan ketimbang menggunakan sapaan “Anta”,”Ente”

Atau dalam bahasa sehari-hari kita,memanggil lawan bicara dengan panggilan :

-“KAMU” “LOE”,”SITU”,maka akan berkesan adanya penghormatan jika diganti dengan kata,”Anda” atau “Tuan/Ibu/Bapak”

Dalam bahasa Jawa/Sunda :

-Koe / Rika / Nyong /awakmu,Aing,,dsb
Maka akan lebih bernuansa penghormatan jika memanggil dengan kalimat :
“Panjenengan/Sampeyan/Sliramu/Abdi/Anjeun”, dsb.

(Ini disebut “Ngajeni” /sopan dalam bahasa Jawa/Sunda)

Yuk mari kita belajar bahasa Inggris sedikit :

-I (am) = saya, aku.
-You = kamu
-We = kami
-They = Mereka
-He = dia (laki-laki)
-She = dia (wanita)
-It = dia (benda & hewan)

BANDINGKAN DENGAN BAHASA ARAB :

-Huwa = dia (laki-laki)
-Huma = dia berdua (laki-laki)
-Hum = mereka (laki-laki)
-Hiya = dia (perempuan)
-Huma = dia berdua (perempuan)
-Hunna = mereka (perempuan)
-Anta = kamu (laki-laki)
-Antuma = kamu berdua (laki-laki)
-Antum = kalian (laki-laki)
-Anti = kamu (perempuan)
-Antuma = kamu berdua (perempuan)
-Antunna = kalian (perempuan)
-Ana = Saya, Aku
-Nahnu = Aku dg bhs sopan

Dari perbendaharaan kata diatas, jika kita rangkai kalimat atau digabungkan dengan ‘kata kerja’, maka akan mengalami perubahan.

Contoh kata ,”fa’ala” =melakukan / “do” dalam Inggris,jika ditempatkan dengan kata-kata diatas maka akan menjadi:

– “yaf’alu” =dia (seorang lak-laki) melakukan…,
-“yaf’alaani”=dia dua orang lak-laki melakukan…,
– “yaf’aluuna” =mereka (laki-laki) melakukan…,

Maka Kata ‘Nahnu’ (Kami,Alloh) yang berasal dari akar kata “ANA”,dalam Al-Qur’an,tidak bermakna banyak, tetapi tetap bermakna “AKU TUNGGAL” yang menunjukkan keagungan Allah SWT,Tuhan Semesta Alam.

(Ini dipelajari dalam ilmu balaghah).

Contoh:
Dalam bahasa kita ada juga penggunaan kata “Kami” tapi bermakna tunggal. Misalnya seorang Kepala Desa dalam pidato sambutan berkata.

”Kami sebagai Kepala Desa berpesan…bla …bla….”

Padahal Kepala Desa hanya dia sendiri dan tidak banyak, tapi dia bilang “Kami”. Lalu apakah kalimat itu bermakna bahwa Kepala Desa yang sedang pidato itu berjumlah banyak?

Lagi :

Pada orang-orang yang telah fasih dengan Tata Bahasa Arab tentu akan paham, atau setidaknya orang pesantren “klotokan” yang bahasa sehari-harinya lazim menggunakan bahasa Arab Seperti di Pondok Pesantren Gontor,Tebu Ireng dan lainnya, tentu akan paham makna penggunaan kata “Nahnu” (kami).

-Maka kalimat,”Nahnu (kami)” dapat digunakan untuk lebih dari satu yaitu “kami” (plural – jamak – banyak),
-Namun dapat juga untuk “satu orang” yaitu yang dimaksudkan “saya-sendiri” dengan makna “Bahasa santun”. (dalam Bahasa Arab)

Contoh lain lagi :
Penggunaan kata : “Antum (kalian)” memang bisa digunakan untuk lebih dari satu yaitu “Kalian” (plural – jamak – banyak),
Namun dapat juga untuk “satu orang” yaitu yang dimaksudkan “Anda” ,”Tuan” , “Bapak/Ibu”,dengan makna ” Bahasa santun “,dalam Bahasa Arab.

Bandingkan dengan jika kita mengatakan kata,”KAMU”, “LOE” , “SITU”, “ENTE”,yang diucapkan kepada kepada orang tua atau Bos.

Juga kata “Antum (kalian)”, biasanya digunakan oleh para Santri /Murid untuk memanggil Guru/Kyai nya (yangg seorang diri – bukan jamak/plural).
Artinya sangat dianggap KURANG AJAR jika Santri mengobrol dengan Kyai-nya memanggil dengan kata “ANTA (kamu)”, bukan “ANTUM”.
Maka Bukan berarti “Antum” ini bermakna “kalian” (jamak) akan tetapi BERMAKNA sebagai “PENGHORMATAN” dan “PENGAGUNGAN”.

RENUNGKAN !

-Maka Kata “KAMI” yang digunakan dalam Al-Qur’an ketika Tuhan berbicara,(yang dalam bahasa Arab adalah “NAHNU” juga “INNA” atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf “NAA”).
Adalah merupakan sebuah kalimat Keagungan yang tetap bermakna,“AKU” Tuhan Yang Tunggal dan Maha Perkasa.

-Juga Allah Swt,menggunakan kata “AKU”, “ALLAH”, “DIA”, didalam Al Qur’an.
(dalam bahasa Arab adalah “ANA” juga “INNI” atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf “TU”, atau juga langsung dengan lafadz “Allah” sendiri, begitu pula dengan kata “Dia” / “Huwa”).

Maka tata bahasa seperti ini tidak ada dalam tata bahasa bangsa lain termasuk dalam tata bahasa Indonesia.

PENERAPAN PENGGUNAAN KALIMAT “AKU” , “Dia” dan “KAMI” dalam AL-QUR’AN :

1.PENGGUNAAN KALIMAT “AKU” :

-Kalimat “AKU” dalam Ayat Al-Qur’an di pergunakan manakala terjadi aktifitas Tuhan yang langsung ditangani sendiri,tidak mendapat campur tangan dari unsur lain atau dalam hal ini tidak ada libatan proses dengan para Malaikat,atau mekanisme alam.

Maka ketika Tuhan mengadakan SUATU PENCIPTAAN YANG TIDAK MELIBATKAN MAKHLUK MANAPUN, ALLAH SWT akan menggunakan kata “ANA” / “INNI” (AKU) atau juga “HUWA” (DIA) bisa juga lafadz “ALLAH” sendiri.
Yang demikian maknanya adalah menunjukkan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat. tidak ada makhluq lainpun yang dapat menyamai Keagungan dan Kekuatan Penciptaan-Nya Yang Luar Biasa.

Contoh :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS.Adz Dzaariyaat : 56)

Contoh lain yang menggunakan kalimat “AKU” :

Di ayat yang lain, ALLAH SWT menunjukkan kata “INNI” (AKU) disamping “NAHNU” (KAMI) didalam Al-Qur’an adalah merupakan bentuk “LITTA’DZHIIM” (menunjukkan Keagungan dan Kebesaran seorang diri/Tunggal tanpa melibatkan unsur lain ketika dalam proses).

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”.
(QS. 2. Al Baqarah:152)

2.PENGGUNAAN KALIMAT “ALLAH” PADA DIRINYA SENDIRI:

Digunakan untuk menunjukkan bahwa Dia,Tuhan Sang Penguasa alam semesta dengan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat,yang tidak ada makhluq lainpun yang dapat menyamai Keagungan dan Kekuatan -Nya Yang Luar Biasa.

Contoh penggunaan kalimat yang menyebut Allah dengan nama dirinya sendiri:

 

     وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِالْحَقِّ وَ لِتُجْزَىكُلُّ نَفْسٍ بِمَاكَسَبَتْ وَهُمْوَلايُظْلَمُونَ

“Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.” (QS.Al-Jaatsiyah : 22)

Contoh lain :

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ وَجَعَلَ لَهُمْ أَجَلا لا رَيْبَ فِيهِ فَأَبَى الظَّالِمُونَ إِلا كُفُورًا

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.” (QS.Al-Israa’: 99)

3. PENGGUNAAN KALIMAT “DIA” :

Digunakan untuk menunjukkan bahwa Dia,Tuhan Sang Penguasa alam semesta dengan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat,yang tidak ada makhluq lainpun yang dapat mampu menandingi/menyamai Kemaha Mampuannya dan hanya kepada-Nya / Dia saja siapapun harus menyembah.

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).”
(QS.Al-Baqarah: 255)

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (Maha Satu).”
(QS.Al-Ikhlas: 1)

4. PENGGUNAAN KALIMAT “KAMI” :

-Kalimat “KAMI (ALLAH)” dalam Ayat Al-Qur’an di pergunakan manakala terjadi aktifitas Tuhan yang berkaitan dengan adanya tahapan/PROSES yang progressnya berlangsung dibawah pengawasan dan kekuasaan-Nya, namun melibatkan unsur lain dalam hal ini terdapat libatan unsur para Malaikat,dan adanya unsur proses mekanisme alam.

Oleh karena itu, ketika Allah Swt. menciptakan manusia, dalam ayat digunakan kata “KAMI” karena merupakan peristiwa penciptaan yang melalui “PROSES/TAHAPAN” sehingga melibatkan “aktifitas kerja” dengan unsur lain pada PROSES PENCIPTAANNYA.

Contoh penggunaan kalimat yang menyebut Allah dengan lafaz NAHNU / “KAMI” :

Dalam ayat ini,Allah Swt. Mengatakan, “Kholaqnaa” yaitu “Kami (menciptakan)”

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (QS.Al-Hujuraat: 13)

Maka maknanya bahwa Tuhan dalam menciptakan manusia setelah penciptaan langsung Adam, berikutnya adalah melalui proses biologis,yaitu adanya perkawinan ,kemudian bertemunya sel sperma laki-laki dan sel telur/ovum perempuan,maka terjadi PROSES,tahapan biologis,dsb,maka inilah RAHASIA bahasa AL-QUR’AN mengapa Allah Swt. menggunakan lafadz/kalimat “NAHNU (KAMI)”.

Contoh lainnya :

وَمَااأَرْسَلْنَاكَ إِلارَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam”. (QS.Al-Anbiyaa’ : 107)

Kata Arsalna ( أَرْسَلْنَا ‘Kami mengutus’) berasal dari kata dasar “Arsala” أَرْسَلْ
(yg mempunyai arti; mengutus, memberikan risalah, mengantarkan risalah).

Sebagaimana penjelasan sebelumnya diatas, maka kata “KAMI” yang Allah Swt. maksudkan karena ADANYA LIBATAN UNSUR LAIN DALAM PROSES PENGUTUSAN,atau adanya mekanisme yaitu “MALAIKAT JIBRIL” SEBAGAI PENGANTAR WAHYU ALLAH SWT. makanya Allah Swt. menggunakan Kata “NAHNU” (KAMI).

Maka,”Menjadi Rahmat” tidak berarti hanya “diri Nabi Muhammad saw.” saja, akan tetapi dengan “MUKJIZAT AL-QURAN – dari Allah Swt. melalui Malaikat Jibril dan hingga menuju target kepada hamba-Nya yang dipilih untuk mengemban wahyu tersebut yakni Rasul.
Sehingga dengan wahyu tersebut menjadikan perilaku perbuatan para Rasul sesuai dengan nilai-nilai wahyu yang diturunkan,yang menjadikan membawa rahmat bagi umat seperti cermin perilaku Nabi Muhammad yang dikenal dengan SUNNAH NABI SAW (perilaku dan akhlaq beliau selama hidup).

Contoh lain :

مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ

“Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.” (QS.Al-Ahqaaf : 3)

Maka kesimpulannya :

1. inilah salah satu tanda keagungan mengapa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.

Jikalau Alquran itu diturunkan dengan semua bahasa, tentu akan banyak perbedaan penafsiran kata disetiap wilayah dan perubahan yang susah dipantau dan dideteksi kebenarannya.

Jikalau Al-Qur’an di Indonesia dimusnahkan dan dibakar, akan datang jutaan Hafidz (Penghafal) Al-Qur’an dari seluruh penjuru dunia untuk menggantikannya dengan hafalan yang sama, surah yang sama, ayat yang sama, dan huruf yang sama. begitulah salah satu cara Allah Swt. menjamin kemurnian Al-Qur’an.

2. Inilah hikmah al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab. Nabi Muhammad SAW adalah orang arab, dan masyarakat di sekeliling Nabi adalah orang arab, mereka sangat arif dengan bahasa mereka, dan mereka faham apa yang diturunkan dalam bahasa mereka. Masalah berkaitan perkataan KAMI ini tidak timbul ketika itu, kerana mereka faham bahasa mereka, bahawa KAMI yang dimaksudkan bukanlah bermaksud jamak, tetapi membawa arti satu penghormatan dan keagungan, dan ia tetap merujuk kepada Tuhan Yang Tunggal.

3. Tafsiran-tafsiran yang dalam dan luas seperti ini tidak akan kita temukan dalam Al-Qur’an Terjemahan DEPAG RI maupun yang digital. Oleh karena itu,hanya dengan melalui para alim Ulama Tafsir yang Fasih yang Luas Ilmunya yang dapat menjabarkan Tafsir Al-Qur’an ini,yang menandakan betapa Ilmu Al-Qur’an /Ilmu Tuhan itu sangat luas seluas samudera langit bumi.

Demikian semoga menjadikan pengetahuan dalam rangka memahami sesuatu hal yang tidak kita ketahui dan kadang sering dijadikan bahan olok-olok bagi yang tidak berilmu pengetahuan..

Salam kasih Ramadhan,

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Duren Sawit,11 Juli 2013

CopyRights@2013

Sumber :

-Al-Qur’an terjemah DEPAG RI

http://teaching4muallaf.blogspot.com

http://www.muslim-menjawab.com

http://imanulhassan.blogspot.com

– Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Jalalein

– Tafsir Al Mishbah, dari Prof. DR. Quraisy Shihab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s