**HUKUM BUNGA BANK ( RIBA)**

*TINGGALKAN SISA RIBA (BUNGA BANK) YANG BELUM DIPUNGUT
*BUNGA BANK MENURUT AJARAN AGAMA APAPUN HUKUMNYA HARAM,MAU DIPELINTIR BEGINI ATAUPUN BEGONON TETAP HUKUMNYA HARAM.
*PRODUK-PRODUK PERBANKAN YANG HARAM DAN YANG DIPERBOLEHKAN
*DAMPAK NYATA KESENGSARAAN HIDUP DAN TUMBANGNYA PILAR-PILAR EKONOMI UMAT AKIBAT RIBA BANK

Bunga

PENDAHULUAN

Dalam rangka menyempurnakan laku perbuatan amaliah bagi orang-orang yang telah mengaku beriman,maka tak ada masalah jika ilmu pengetahuan fiqih ini dihadirkan kembali berulang-ulang agar semakin menambah kejelasan dalam sikap dan perbuatan.Maka tulisan ini disusun dan di intisarikan dari berbagai sumber pokok serta hasil dari consensus (Ijma’) para ulama hanif,dikemas dengan bahasa yang simple agar mudah dipahami oleh kita yang awam. Jika sampai saat ini kita masih merasa ragu dengan berbagai statemen yang membingungkan mengenai hukum daripada bunga bank,dimana sebagian orang menyatakan ada yang membolehkan dan sebagian lagi ada yang mengharamkan,maka insyaAllah dalam tulisan ini kita akan mendapatkan penjabaran secara rinci dari sisi syareat,tareqat dan hakekat tentang perkara mana yang haram dan mana yang boleh terhadap produk-produk dari dunia perbankan ini.
Tak dipungkiri bahwa pada era peradaban modern kini manusia sebagian besar tak dapat menghindar dari urusan dengan Bank.Segala aktifitas kehidupan manusia kini sepertinya telah dikendalikan / diatur oleh kekuasaan lembaga perbankan,bahkan penyelenggaraan lembaga keuangan Negara kini harus dikelola melalui perbankan guna mengatur ekonomi rakyatnya.
Bank dahulu belum ada.Keberadaan Bank baru muncul pada sekitar abad ke 13 (Di Spanyol dibangun pada tahun 1401 M),dan pada tahun 1690, didirikan oleh kerajaan Inggris.Artinya pada masa-masa Nabi Muhammad memperkenalkan Islam ataupun sebelum itu,maka kehidupan manusia pada saat itu tidak mengenal adanya Bank.Namun toh peradaban dan kehidupan tetap saja berjalan.Maka artinya dunia perbankan ada karena diadakan oleh peradaban manusia pada generasi berikutnya.
Bank pada dasarnya adalah memperdagangkan uang atau suatu usaha / bisnis dengan obyek yang menjadi dagangannya adalah uang serta mencari keuntungan dari perdagangan uang .Salah satu keuntungan yang di ambil atau didapatkan dari bank adalah dengan “menarik/memungut bunga”.Mau dipelintir kesana atau pelintir kesini atau dengan dalih apapun,maka tetap saja usaha bank tetap tak lepas dari merupakan sebuah usaha yang memperjual belikan dan atau mencari keuntungan dari berdagang uang serta mem-“bunga”-kan uang.

Bank

BANK BUKAN PRODUK ISLAM
Lahirnya adanya sebuah usaha memperjual belikan uang dalam suatu system yang disebut BANK,maka tak lepas dari sejarah ataupun riwayat kehidupan masa lalu.Dimana dahulu ketika manusia belum mengenal system bank,adalah bermula dari “bank-bank” amatir (individu),yang dikenal dengan “Rentenir (lazim ada yang menyebut “Lintah darat”).Yakni ketika pada setiap zaman dalam kehidupan umat manusia yang selalu ada kondisi dimana ada kaum yang miskin dan ada kaum yang kaya.Dan ketika si miskin memerlukan biaya untuk usaha dan hidup karena tidak memiliki modal maka selalu ada pihak yang mampu / memiliki uang banyak yang meminjamkan kepada si miskin namun si miskin harus memgembalikan lebih besar dari pokok pinjaman.Maka sepanjang sejarah telah memperlihatkan realitas terjadinya kehancuran kehidupan si miskin akibat terlilit hutang yang kian menumpuk hingga beban bunga yang harus ditanggung semakin membelit dan mencengkik leher,dan akhirnya membuat kebinasaan.
Nah,itulah yang disebut “Rentenir”.Maka saat ini seiring dengan perkembangan peradaban manusia,modus yang demikian pasti akan menolak jika disebut dengan sebutan itu,kini demikian tampak manis terselubung dibalik lembaga yang diformilkan yang bernama “bank”,dan telah menjadi kelaziman sebagai salah satu teknologi sah peradaban manusia.Maka sifat-sifat “Renten” atau memungut riba itu kini telah berganti nama menjadi “Profit sharing”
Maka,dahulu ketika Islam hadir ditengah-tengah umat yang bobrok peradaban dan akhlak dengan merajalelanya kiprah para golongan “Renten” tersebut,Tuhan melalui Muhammad telah memperingatkan akan larangan RIBA (sistim renten,sekarang bunga bank-red.) dan memperingatkan akan dampak dahsyat bagi kemaslahatan kehidupan umat.

SELURUH ULAMA YANG HANIF TELAH MENGHARAMKAN BUNGA BANK :

Jika ada salah seorang atau dari beberapa ulama masakini yang berani membuat statemen bahwa bunga bank hukumnya tidak haram,maka perlu dipertanyakan kredibilats dan ilmu agama dari oknum ulama tersebut.Dan segeralah secepat mungkin kita menjauhi atau berlepas diri dari mereka.

Renten

PENGERTIAN RIBA

*Di bidang transaksi ekonomi, Islam melarang keras praktik riba. Al-Dhahabi dalam kitab Al-Kabair menjadikan riba sebagai salah satu perilaku dosa besar yang harus dijauhi. Secara sederhana riba berarti menggandakan uang yang dipinjamkan atau dihutangkan pada seseorang.

Dalam hal terjadinya penambahan dari pinjaman pokok yang diperbolehkan adalah manakala bukan datang atau mendapat persyaratan dari si pemberi pinjaman,melainkan atas inisiatif yang meminjam dengan ucapannya sendiri secara kerelaan hati (sighot nadzar).

Dalam Ghayatu al-Talchishi al-Murad Hamisy Bughyatu al-Mustarsyidin, Hlm. 129

عَمَّتِ الْبَلْوَى اَنَّ اَهْلَ الثَّرْوَةِ لاَ يُقْرِضُوْنَ اَحَدًا اِلاَّ بِزِيَادَةٍ، اِمَّا مِنْ نَوْعِ الْمُسْتَقْرِضِ اَوْغَيْرِهِ بِصِيْغَةِ النَّذْرِ … فَالْعُقُوْدُ الْمَذْكُوْرَةُ صَحِيْحَةٌ اِذَا تَوَفَّرَتْ شُرُوْطُهَا وَلاَ يَدْخُلُ ذَلِكَ فِى اَبْوَابِ الرِّبَا.

“Telah menjadi hal yang lumrah, bahwa orang yang memiliki harta tidak meminjamkan pada seorang pun kecuali disertai dengan tambahan. Adakalanya dari jenis yang dipinjamkan atau yang lainnya dengan sighot nadzar…. Maka akad-akad tersebut sah jika syarat-syaratnya sempurna. Dan hal tersebut tidak termasuk bab riba”.

Anjuran kebaikan dari hal pinjam meminjam :
-Ini hal yang baik jika kita meminjam uang dan memberikan tambahan pada si pemberi pinjaman karena atas inisiatif yang meminjam,bukan karena tekanan yang memberi pinjaman.
Dalam Nihayatu az-Zain, 242 :

وَجَازَ مِنْ غَيْرِ كَرَاهَةٍ (نَفْعٌ) يَصِلُ لِمُقْرِضٍ مِنْ مُقْتَرِضٍ (بِلاَ شَرْطٍ) فِى اْلعَقْدِ بَلْ يُسَنُّ ذَلِكَ لِلْمُقْرِضِ لِقَوْلِهِ e: (اِنَّ خِيَارَكُمْ اَحَاسِنُكُمْ قَضَاءً) وَاَحَاسِنُ جَمْعُ اَحْسَنَ. وَفِى رِوَايَةٍ: (اِنَّ خِيَارَكُمْ مَحَاسِنُكُمْ قَضَاءً). اِلَى اَنْ قَالَ : وَاْلاَوْجَهُ اَنَّ اْلإِقْرَاضَ مِمَّنْ تَعُوْدُ الزِّيَادَةُ بِقَصْدِهَا مَكْرُوْهٌ.

“Diperbolehkan tanpa hukum makruh adanya manfaat yang kembali pada orang yang meminjami dari orang yang berhutang jika tidak ada syarat dalam akad, bahkan hal tersebut disunahkan sebagaimana hadits Rasul , “Sesuatu yang paling baik diantara kamu sekalian adalah yang paling baik dalam mengembalikan pinjaman”. Lafad أحاسن disini adalah jama’ dari lafad أحسن . dalam riwayat lain disebutkan, “Sesuatu yang paling baik diantara kamu sekalian adalah yang paling baik dalam mengembalikan pinjaman”. Adapun pinjaman pada orang yang terbiasa meminta tambahan adalah makruh”.

DEFINISI RIBA

Secara etimologis (lughawi) riba (الربا) adalah isim maqshur, berasal dari “rabaa yarbuu”.Asal Arti kata riba adalah ziyadah yakni tambahan atau kelebihan.

Secara terminologis (istilah) riba adalah setiap kelebihan antara nilai barang yang diberikan dengan nilai-tandingnya (nilai barang yang diterimakan).
( Ibnul Arabi) .

RIBA DALAM ISLAM ADA 2 JENIS :

1.Riba Al-fadhl (ربا الفضل)
2.Dan riba Al-nasi’ah (ربا النسيئة).

-Riba al-Fadhl disebut juga dengan riba jual beli adalah terdapat adanya persyaratan penambahan dalam jual-beli barang yang sejenis.

-Riba ini terjadi apabila seseorang menjual sesuatu dengan sejenisnya dengan tambahan,seperti menjual emas dengan emas, mata uang dirham dengan dirham, gandum dengan gandum dan seterusnya.

Dari hadits riwayat Bukhari dan Muslim :

“Bilal datang kepada Rasulullah SAW dengan membawa korma kualitas Barni (baik). Lalu Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Dari mana kurma itu ?”. Ia menjawab , “Kami punya kurma yang buruk lalu kami tukar bdli dua liter dengan satu liter”. Maka Rasulullah bersabda: “Masya Allah, itu juga adalah perbuatan riba. Jangan kau lakukan. Jika kamu mau membeli, juallah dahulu kurmamu itu kemudian kamu beli kurma yang kamu inginkan”.

2.Riba an-Nasi’ah disebut juga riba hutang piutang adalah kelebihan (bunga) yang dikenakan pada orang yang berhutang oleh yang menghutangi pada awal transaksi atau karena penundaan pembayaran hutang.

Riba nasi’ah terbagi dua jenis ,yakni :

(1). A meminjamkan/menghutangkan uang atau benda berharga lain pada B. Bentuknya ada dua:

(a) A menetapkan tambahan (bunga) pada awal transaksi.
(b) A tidak menetapkan bunga di awal transaksi, akan tetap saat B tidak mampu melunasi hutang pada saat yang ditentukan, maka A membolehkan pembayaran ditunda asal dengan bunga.

Dalam I’anatu al-Thalibin, Juz III, 53 :

وَاَمَّا الْقَرْضُ بِشَرْطِ جَرِ نَفْعٍ لِمُقْرِضٍ فَفَاسِدٌ قال ع ش: وَمَعْلُومٌ أَنَّ مَحَلَّ الْفَسَادِ إذَا وَقَعَ الشَّرْطُ فِي صُلْبِ الْعَقْدِ أَمَّا لَوْ تَوَافَقَا عَلَى ذَلِكَ وَلَمْ يَقَعْ شَرْطٌ فِي الْعَقْدِ فَلاَ فَسَادَ وَجُبِرَ ضُعْفُهُ مَجِىْءَ مَعْنَاهُ عَنْ جَمْعٍ مِنَ الصَّحَابَةِ. وَمِنْهُ الْقَرْضُ لِمَنْ يَسْتَأْجِرُ مِلْكَهُ أَىْ مَثَلاً بِأَكْثَرَ مِنْ قِيْمَتِهِ ِلأَجْلِ الْقَرْضِ إنْ وَقَعَ ذَلِكَ شَرْطًا إذْ هُوَ حِيْنَئِذٍ حَرَامٌ إجْمَاعًا وَإلاَّ كُرِهَ عِنْدَنَا وَحَرَامٌ عِنْدَ كَثِيْرٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ قَالَهُ السُّبْكِى.

“Adapun pinjaman dengan syarat mengambil manfaat untuk orang yang meminjami adalah fasid. Asy-syubro Milsy berkata, “Telah diketahui bahwa objek rusaknya akad yakni apabila terjadi syarat dalam penentuan akad”.

(2). A membeli emas atau perak pada B dengan menunda penerimaannya/tidak langsung saling terima.

Perbedaan khasnya, riba nasi’ah adalah jual beli barang yang sama jenisnya tapi tidak secara kontan. Sedangkan riba fadhl adalah jual beli barang dengan kelebihan atau hutang piutang dengan bunga.

Ulama sepakat atas keharaman riba nasi’ah. Sementara terjadi ikhtilaf (beda pendapat) atas keharaman riba fadhl, tapi mayoritas mengharamkannya.

HUKUM RIBA DALAM ISLAM

Hukum riba adalah haram dan termasuk dari dosa besar karena akan menyebabkan kesengsaraan kaum dhuafa, menzalimi orang miskin, eksploitasi si kaya pada si miskin, menutup pintu sedekah dan kebajikan serta membunuh rasa empati antar manusia yang berbeda strata sosial ekonominya.

I. MENGENAL PRODUK PERBANKAN YANG HARAM DAN YANG DIPERBOLEHKAN

Kini sifat bank telah mengalami pergeseran dari masa awal keberadaannya,yakni dari sebuah lembaga resmi yang tadinya hanya melayani pinjaman modal dengan memungut bunga,maka kini telah melayani jasa-jasa dibidang keuangan yang disebut sebagai produk perbankan,meliputi jasa simpan,tarik tunai,pengiriman,deposito,valas,dsb. Maka masa kini sifat perbankan tidak hanya “memungut riba” saja,namun juga telah melayani berbagai produk yang yang tidak tergolong haram.

1. PRODUK PERBANKAN YANG HARAM
BERIKUT ITEM-ITEM HARAM,YANG HARUS DIJAUHI DARI BERURUSAN DENGAN DUNIA PERBANKAN :

(1.1). MEMINJAM UANG DENGAN SYARAT BUNGA DI BANK.
(1.2). KARTU KREDIT dengan mempersyaratkan membayar bunga.
(1.3). MENABUNG / DEPOSITO DENGAN MENGHARAPKAN BUNGA BANK
(1.4). JUAL BELI MATA UANG / VALAS DENGAN NIAT MENGGANDAKAN UANG

PENJABARAN (1.1) :
-MEMINJAM UANG DENGAN SYARAT BUNGA DI BANK.

Meminjam uang atau mendapat tawaran pinjaman uang dari bank dengan mempersyaratkan adanya pengembalian tambahan dari pokok pinjaman yang disebut bunga pinjaman,apapun alasannya maka ini termasuk ke dalam berurusan dengan “RIBA”,maka RIBA / BUNGA UANG MENURUT AJARAN AGAMA APAPUN HUKUMNYA HARAM

PENJABARAN (1.2) :
-KARTU KREDIT

Adalah bentuk pinjaman uang yang telah di bakukan / fix,kemudian nasabah wajib membayar tunai maupun mengangsur dengan mempersyaratkan tambahan bunga yang harus dibayar dalam satu perhitungan pembayaran.

PENJABARAN (1.3) :
– MENABUNG / DEPOSITO DENGAN MENGHARAPKAN BUNGA BANK

Adalah seseorang yang menyimpan uangnya di bank dalam jumlah kecil maupun besar namun didalam hatinya mengharapkan mendapat keuntungan yakni dari bunga simpanan.

PENJABARAN (1.4) :
-JUAL BELI MATA UANG / VALAS DENGAN NIAT MENGGANDAKAN UANG

Adalah bentuk perdagangan mata uang apa saja, dalam jumlah kecil maupun besar namun didalam hatinya mengharapkan mendapat keuntungan dari jual beli uang tersebut.Dalam hal ini termasuk laku perbuatan membeli dolar untuk kemudian ditukarkan kembali ke dalam mata uang lainnya ketika nilai mata uang itu merosot nilainya.

DALIL-DALIL ATAS PENGHARAMAN DARI ITEM-ITEM TERSEBUT DIATAS:

Telah sangat jelas bahwa kriteria dari produk-produk bank tersebut adalah telah timbul adanya persyaratan bunga,yang dalam koridor Islam disebut sebagai RIBA dan telah nyata-nyata diharamkan.

Renten2

Berikut peringatan Tuhan yang melarang berurusan dengan “Bunga Bank” (baca:terlibat dengan RIBA) :

-“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (Q.S.2. Al-Baqarah : 275 )

-“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS.2. Al Baqarah:278)

Sabda Nabi Muhammad SAW :

-“Jabir berkata bahwa Rasulullah mengutuk orang yang menerima riba, orang yang membayarnya, dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda, “Mereka itu semuanya sama.” (H.R Muslim no. 2995 dalam kitab Al-Musaqqah)

Seluruh ‘ulama sepakat mengenai keharaman riba, baik yang dipungut sedikit maupun banyak. Seseorang tidak boleh menguasai harta riba; dan harta itu harus dikembalikan kepada pemiliknya, jika pemiliknya sudah diketahui, dan ia hanya berhak atas pokok hartanya saja.

Berikut dampak dan azab Tuhan,jika nekad berurusan dengan “Bunga Bank” (baca:terlibat dengan RIBA) :

Allah swt berfirman;
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبا لا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.
[QS Al Baqarah (2): 275].

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”.[QS Al Baqarah (2): 279]

Sabda Nabi Muhammad SAW :

دِرْهَمُ رِبَا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتٍّ وَثَلَاثِيْنَ زِنْيَةً

“Satu dirham riba yang dimakan seseorang, dan dia mengetahui (bahwa itu adalah riba), maka itu lebih berat daripada enam puluh kali zina”. (HR Ahmad dari Abdullah bin Hanzhalah).

الرِبَا ثَلاثَةٌَ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ, وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا عَرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمَ

“Riba itu mempunyai 73 pintu, sedang yang paling ringan seperti seorang laki-laki yang menzinai ibunya, dan sejahat-jahatnya riba adalah mengganggu kehormatan seorang muslim”. (HR Ibn Majah).

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّباَ وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ, وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah saw melaknat orang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya, dan dua orang saksinya. Belia bersabda; Mereka semua sama”. (HR Muslim)

Di dalam Kitab al-Mughniy, Ibnu Qudamah mengatakan :

“Riba diharamkan berdasarkan Kitab, Sunnah, dan Ijma’. Adapun Kitab, pengharamannya didasarkan pada firman Allah swt,”Wa harrama al-riba” (dan Allah swt telah mengharamkan riba) (Al-Baqarah:275) dan ayat-ayat berikutnya.

Sedangkan umat Islam telah berkonsensus mengenai keharaman riba.Dan Imam al-Syiraaziy di dalam Kitab al-Muhadzdzab menyatakan; riba merupakan perkara yang diharamkan dan dalam As-Sunnah ,telah diriwayatkan dari Nabi saw bahwasanya beliau bersabda :

“Jauhilah oleh kalian 7 perkara yang membinasakan”. Para shahabat bertanya, “Apa itu, Ya Rasulullah?”. Rasulullah saw menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan, menuduh wanita-wanita Mukmin yang baik-baik berbuat zina”. Juga didasarkan pada sebuah riwayat, bahwa Nabi saw telah melaknat orang yang memakan riba, wakil, saksi, dan penulisnya”.[HR. Imam Bukhari dan Muslim]…

2. PRODUK PERBANKAN YANG DIPERBOLEHKAN (TIDAK HARAM)

Karena dunia perbankan disamping terdapat produk-produk yang haram (terutama dari hal yang telah jelas yakni adanya unsur RIBA,seperti yang dijelaskan diatas),maka juga terdapat produk-produk yang tidak termasuk haram atau artinya kita boleh berurusan dengan bank,yakni dengan pertamakali kita harus “BERI’TIQAD” / meniatkan didalam hati sbb :

1.Memohon ampun kepada Tuhan ketika terpaksa harus berurusan dengan dunia perbankan.
2.Berniat tidak berorientasi mengambil keuntungan bunga uang bank.
3.Berupaya mencari solusi mencari lembaga bank lain yang tidak bersistem “Bunga” dikemudian hari atau selanjutnya.

BERIKUT HAL-HAL YANG DIPERBOLEHKAN KARENA TERPAKSA HARUS BERURUSAN DENGAN DUNIA PERBANKAN :

(2.1). MENYIMPAN UANG /MENABUNG DAN DEPOSITO DI BANK
(2.2). PENGGAJIAN MELALUI BANK (Pay Roll)
(2.3). MEMINJAM UANG DI BANK
(2.4). MEMBELI BARANG DENGAN CARA KREDIT / MENGANGSUR DI BANK
(2.5). MENJADI PEGAWAI DAN MENERIMA GAJI DARI BANK
(2.6). KARTU KREDIT
(2.7).MENERIMA HADIAH DARI PERUSAHAAN BANK
(2.8). JUAL BELI MATA UANG / VALAS

PENJABARAN (2.1) :
– MENYIMPAN UANG /MENABUNG DAN DEPOSITO DI BANK

Hal ini diperbolehkan asal tidak meniatkan diri mengharap bunga tabungan / deposito,tetapi hanya merupakan sarana aman dalam menyimpan uangnya.Perkara timbul bunga simpanan maka itu bukan kehendak kita.Sedangkan jika jumlah simpanannya besar dan menjadikan bunga yang didapat juga besar,maka tambahan dana dari simpanan pokok itu dapat dikatagorikan sebagai bagi hasil dari pihak bank yang telah memanfaatkan uang kita,maka sah-sah saja.Adapun jika kita ragu-ragu dengan uang tambahan tersebut dan menganggap sebagai Riba,maka baik jika tidak dipungut melainkan juga jangan ditolak,tetapi sangat bijak jika di sumbangkan kepada orang-orang yang tidak mampu.

PENJABARAN (2.2) :
– PENGGAJIAN MELALUI BANK (Pay Roll).
Saat ini lazim setiap perusahaan mensyaratkan penggajian pegawainya dibayarkan melalui system bank (Pay Roll),maka diperbolehkan karena tidak ada unsur hutang yang ada bunganya,bahkan kita telah membayar biaya administrasi bulanannya.(ATM)

PENJABARAN (2.3) :
– MEMINJAM UANG DI BANK.

Ketika kita memerlukan suatu pembelian barang namun jika dengan kontan tidak mampu,maka meminjam uang dari bank dengan niat untuk membeli barang yang diperlukan diperbolehkan.Adapun timbulnya bunga bank yang harus dibayar,maka hal tersebut dikatagorikan bukan membayar bunga uang yang dipinjam melainkan telah menjadi satu bagian dari harga barang yang dibeli.Dengan catatan bahwa kita mempunyai penghasilan tetap sehingga tidak khawatir tidak mampu membayar hutangnya.

PENJABARAN (2.4) :
-MEMBELI BARANG DENGAN CARA KREDIT / MENGANGSUR DI BANK

Contoh : Kedit KPR,kendaraan,renovasi,dll,sebab tidak termasuk sebagai berjual beli uang tetapi akad pertamanya adalah barang.Perkara ada bunga yang dipersyaratkan oleh bank,maka itu urusan bank sedangkan bagi kreditur obyeknya adalah barang dan bunga yang di pungut oleh bank bagi kreditur merupakan satu bagian dari harga sah yang tersepakati dan yang harus dibayar walaupun dengan cara mengangsur.

PENJABARAN (2.5) :
MENJADI PEGAWAI DAN MENERIMA GAJI DARI BANK.

Karena keadaan pekerjaan yang sulit dan terpaksa memang harus menghidupi keluarga,maka bekerja di perusahaan bank dan menerima gaji dari bank diperbolehkan,dengan berniat diri tidak mengharap bunga bank.

1.Menurut fatwa Syekh Jad al-Haq, salah satu Mufti Mesir,

-Memperoleh gaji/honorarium dari bank-bank tersebut dapat dibenarkan, bahkan kendati bank-bank konvensional itu melakukan transaksi riba.
-Bekerja dan memperoleh gaji di sana pun masih dapat dibenarkan, selama bank tersebut mempunyai aktivitas lain yang sifatnya halal.

2.Yusuf Qaradhawi termasuk ulama yang mengharamkan bank namun dalam soal gaji pegawai bank ia menyatakan bahwa :

“Apabila pegawai tersebut bekerja karena tidak ada pekerjaan di tempat lain maka ia dalam kondisi darurat. Dalam Islam, kondisi darurat menghalalkan perkara yang asalnya haram. Kebutuhan hidup termasuk kondisi darurat. Dalam konteks ini, maka pekerjaannya di bank hukumnya boleh”.

PENJABARAN (2.6) :
– KARTU KREDIT

Jika kartu kredit itu bukan kita yang bikin atau di beri fasilitas oleh pihak lain dan bukan kita yang berkewajiban membayar angsuran.Dalam hal kita memiliki kartu kredit tidak berniat mengambil uang cash namun untuk keperluan membeli barang,maka masih diperbolehkan.Tetapi para ulama berbeda pendapat,ada yang mengharamkan dan ada yang membolehkan.Maka lebih baik hindari sajalah kartu kredit untuk lebih amannya.

PENJABARAN (2.7) :
-MENERIMA HADIAH DARI PERUSAHAAN BANK.
Hadiah adalah pemberian dari pihak lain kepada pihak kita tanpa mempersyaratkan adanya membayar bunga,maka diperbolehkan entah dari bank atau dari siapapun.

PENJABARAN (2.8) :
– JUAL BELI MATA UANG / VALAS ATAUPUN MONEY CHANGER.

Jika kita karena adanya suatu keperluan dinas maupun bepergian ke lain Negara,yang mengharuskan melakukan penukaran mata uang dengan jual ataupun beli tanpa berniat mencari keuntungan dari penambahan transaksi tesebut,maka diperbolehkan.

miskin

II. DAMPAK NYATA KESENGSARAAN HIDUP AKIBAT BERURUSAN DENGAN BUNGA BANK :

1.Lihat hutang Indonesia DAN TERSEOK-SEOKNYA EKONOMI INDONESIA
-Kemerosotan,krisis,keterpurukan ekonomi Indonesia mau diakui atau tidak,karena akibat berurusan dengan IMF (baca:terlibat dengan RIBA / Rentenir Internasional).
2.Lihat kisah-kisah kebangkrutan ekonomi keluarga dimana saja (termasuk saya sendiri).
3.Lihat krisis ekonomi di Negara-negara berkembang di dunia (baca di berita-berita dunia).
4.Menyebabkan kesengsaraan kaum dhuafa, menzalimi orang miskin, eksploitasi si kaya pada si miskin, menutup pintu sedekah dan kebajikan serta membunuh rasa empati antar manusia yang berbeda strata sosial ekonominya.

III. ULAMA YANG MENGHARAMKAN DAN YANG BERANI MENGHALALKAN BANK KONVENSIONAL:
-ULAMA DAN LEMBAGA YANG MENGHARAMKAN BANK KONVENSIONAL (Bank Kapitalis).

1. Pertemuan 150 Ulama’ terkemuka dalam konferensi Penelitian Islam di bulan Muharram 1385 H, atau Mei 1965 di Kairo, Mesir menyepakati secara aklamasi bahwa segala keuntungan atas berbagai macam pinjaman semua merupakan praktek riba yang diharamkan termasuk bunga bank.
2. Majma’al Fiqh al-Islamy, Negara-negara OKI yang diselenggarakan di Jeddah pada tanggal 10-16 Rabi’ul Awal 1406 H/22 Desember 1985;
3. Majma’ Fiqh Rabithah al’Alam al-Islamy, Keputusan 6 Sidang IX yang diselenggarakan di Makkah, 12-19 Rajab 1406
4. Keputusan Dar It-Itfa, Kerajaan Saudi Arabia, 1979;
5. Keputusan Supreme Shariah Court, Pakistan, 22 Desember 1999;
6. Majma’ul Buhuts al-Islamyyah, di Al-Azhar, Mesir, 1965.
7. Fatwa Dewan Syari’ah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tahun 2000 yang menyatakan bahwa bunga bank tidak sesuai dengan syari’ah.
8. Keputusan Sidang Lajnah Tarjih Muhammadiyah tahun 1968 di Sidoarjo menyatakan bahwa sistem perbankan konvensional tidak sesuai dengan kaidah Islam.
9. Keputusan Munas Alim Ulama dan Konbes NU tahun 1992 di Bandar Lampung.
10. Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia tentang Fatwa Bunga (interest/fa’idah), tanggal 22 Syawal 1424/16 Desember 2003.
11. Keputusan Rapat Komisi Fatwa MUI, tanggal 11 Dzulqa’idah 1424/03 Januari 2004, 28 Dzulqa’idah 1424/17 Januari 2004, dan 05 Dzulhijah 1424/24 Januari 2004.

-ULAMA DAN LEMBAGA YANG MENGHALALKAN BUNGA BANK KONVENSIONAL

1. Syekh Al-Azhar Sayyid Muhammad Thanthawi menilai bunga bank bukan riba dan halal.
2. Dr. Ibrahim Abdullah an-Nashir. dalam buku Sikap Syariah Islam terhadap Perbankan
3. Keputusan Majma al-Buhust al-Islamiyah 2002 membahas soal bank konvensional.
4. A.Hasan Bangil, tokoh Persatuan Islam (PERSIS), secara tegas menyatakan bunga bank itu halal.
5. Dr.Alwi Shihab dalam wawancaranya dengan Metro TV berpendapat bunga bank bukanlah riba dan karena itu halal.

IV. BISAKAH MANUSIA HIDUP TANPA HARUS BERURUSAN DENGAN RIBA (BUNGA BANK)? :

-Sangat bisa.
-Di zaman modern sekarang inipun masih banyak orang-orang yang dapat menjalani kehidupan tanpa berurusan dengan dunia perbankan.Contoh para petani,para pengusaha mikro / kakilima,para pekerja dibidang informal ,dsb.
-Orang-orang yang tidak berurusan dengan dunia bank dapat tetap melangsungkan kehidupannya karena memang kehidupan sehari-harinya dilandasi oleh jiwa yang sederhana,bebas hutang dan tidak kepinginan yang “neko-neko” / macam-macam.Jikalau toh beraktifitas,maka cukup dengan cara konvensional saja atau dengan tunai.

V. APAKAH ADA KEWAJIBAN ZAKAT ATAS UANG SIMPANAN DI BANK

Kewajiban atas zakat bagi setiap umat yang mampu,maka sebenarnya tidak terkait dengan uang simpanan di bank atau tidak.Apalagi jika dikaitkan dengan apakah bunga bank dalam jumlah besar harus dizakati atau tidak,maka justru itu hal yang harus dijauhi.

Maka zakat yang dikeluarkan bagi setiap umat yang mampu bukan berdasar uang simpanan dibank juga bukan dari bunga yang didapatkan,melainkan kewajiban zakat itu timbul ketika kita memiliki /menguasai harta benda ,barang berharga termasuk uang yang kita simpan di rumah atau di bank,kemudian telah mencapai standar nishab,artinya bilamana mencapai setahun dan telah mencapai batas nishab barulah kewajiban kita membayar zakat timbul.

VI. KESIMPULAN :

1.Bahwa bank bukan produk Islam.
*Sudah jelaslah riba bentuk apapun itu dilarang sebagaimana dengan pengharaman arak.

(1.1) -Riba dengan kelebihan/tambahan pembayaran tanpa ada ganti/imbalan, yang disyaratkan bagi salah seorang dari kedua belah pihak yang membuat akad/transaksi
-Sedangkan Bunga adalah sejumlah uang yang dibayar atau untuk penggunaan modal. Jumlah tersebut misalnya dinyatakan dengan satu tingkat atau prosentase modal yang bersangkut paut dengan itu yang dinamakan suku bunga modal.

(1.2) Dalam pandangan Fiqh Muamalah dan Ekonomi Islam bahwa antara riba dan bunga bank adalah sama. Mengapa demikian, dikarenakan secara riil operasional di perbankan konvensional, bunga yang dibayarkan oleh nasabah peminjam kepada pihak atas pinjaman yang dilakukan jelas merupakan tambahan. Karena nasabah melakukan transaksi dengan pihak bank berupa pinjam meminjam berupa uang tunai.

(1.3) Dalam pandangan Fiqh Muamalah dan Ekonomi Islam bahwa hukum antara riba dan bunga bank adalah haram. Karena hukum asal riba adalah haram baik itu dalam Al-Qur’an, Hadis, dan Ijtihad. Seluruh ummat Islam wajib untuk meninggalkannya, serta menjauhinya yakni dengan cara bertaqwa kepada Allah.

2.DAMPAK BERGELIMANG DENGAN RIBA :

(2.1). Bagi jiwa manusia : hal ini akan menimbulkan perasaan egois pada diri, sehingga tidak mengenal melainkan diri sendiri.

(2.2).Bagi masyarakat : Dalam kehidupan masyarakat hal ini akan menimbulkan kasta kasta yang saling bermusuhan.

(2.3). Bagi roda pergerakan ekonomi : Dari segi ekonomi, hal ini akan menyebabkan manusia dalam dua golongan besar yaitu orang miskin sebagai pihak yang tertindas dan orang kaya sebagai pihak yang menindas.

3.Silahkan mau tunduk patuh terhadap peringatan-peringatan-Nya atau tidak,maka segala dampak resiko menjadi tanggung jawab masing-masing diri.

3.Jika kita memang harus terpaksa berurusan dengan dunia perbankan atau produk-produk perbankan tanpa dapat menghindar,maka hendaknya perhatikan saja hal-hal yang boleh dan mana hal yang dilarang Tuhan seperti yang telah dipapar diatas.

4.Maka laku perbuatan niat itu ada di dalam hati,yang tahu hanya diri sendiri dan Tuhannya.”Inna a’malu binniah”,Segala laku perbuatan itu dinilai Tuhan dari niat hatinya,kemudian membuktikannya.

5.Jika sampai saat ini umat beriman yang masih berada dalam keadaan darurat belum dapat menghindar dari beururusan dengan dunia perbankan yang termasuk ke dalam katagory RIBA,(seperti Hutang di bank dengan mempersyaratkan bunga,membuka kartu kredit serta berharap memungut bunga bank,valas ,deposito,dsb),maka hendaknya secepat mungkin menyadari dan meniatkan diri untuk berhenti dari keadaan itu dan atau mengalihkan segala urusannya dengan lembaga pelayanan jasa keuangan yang Islami / sesuai syariah bagi umat yang memang memerlukan teknologi perbankan.

6.Bahwa hal-hal yang telah menjadi larangan Tuhan jika tidak di penuhi,maka memang dalam jangka pendek seolah untung besar dan berasa manis,namun dalam jangka panjang realitas kehidupan telah memperlihatkan pelajaran nyata dengan dialaminya kebinasaan ataupun kebangkrutan ekonomi.

7.Pilihan bebas ada pada kita semua.

Semoga bermanfaat,
Salam kesejahteraan.

Kelana Delapan Penjuru Angin,
Artha Gading-Jakarta,9 September 2013
CopyRights@2013

Sumber :
http://www.surgaberita.com/2011/10/asal-mula-adanya-bank.html
-http://id.wikipedia.org/wiki/Bank
http://www.alkhoirot.net/2012/04/hukum-bank-konvensional-dalam-islam.html
-http://www.hadielislam.com/arabic/index.php?pg=fatawa%2Ffatwa&id=470
-http://cerdasinspirasiku.blogspot.com/2012/04/riba-dan-bunga-bank-dalam-pandangan.html
-http://kuliahhukum12.blogspot.com/2012/04/hukum-perbankan-syariah.html
-http://cherudin.blogspot.com/2010/05/bab-1-pendahuluan-1.html
-Al-Qur’an terjemah DEPAG RI.

17 thoughts on “**HUKUM BUNGA BANK ( RIBA)**

  1. Mari tidak menyesatkan umat dg opini yg jelas2 salah atau rujukan ulama yg jk di sandarkan ke Al Quran mmg tidak sesuai, jangan membuat hukum jd abu2, yg haram ya haram..jgn di bikin samar
    Anda akan ikut menanggung dosa org2 yg ikut tersesat krn nya
    Byk pekerjaan yg lebih halal, kerja di bank sama dengan ky kerja di pabrik minuman keras, narkotika, dll
    Karena apa yg di kelola dan di kerjakan adalah produk Haram
    Klo alasan nya bekerja di bank, pabrik minuman keras, narkotika karena terpaksa, apakah itu alasan yg sama dgn menghakimi Allah seolah tidak memberikan pekerjaan lain yg halal, atau mmg org itu sendiri yg tidak berusaha dan tidak yakin kepada Allah klo pasti ada dan diberikan pekerjaan yg halal?
    Jgn beralasan, yg sebenarnya menjerumuskan anda sendiri kedalam dosa
    Allah yg mempunyai ketetapan, dan pasti ada kebaikan utk kita manusia

    • Salam Rahmat-Nya,sobat Michael…
      Trims atas sudi mampirnya dan atas responx,sy terima dg senang…
      bhw tulisan yg sy susun ini berjenis jurnalistik paparan,penyuguhan dari berbagai sumber dan versi,
      sy tidak dpt menyesatkan org lain,krn kelurusan/ kesesatan adalah pilihan individu,yg berhak menyesatkan dan memberi petunjuk hny Tuhan,
      Oleh krn itu semoga tulisan ini,cukup diambil hikmahnya saja,yg tidak cocok silahkan jgn diikuti.
      Ini adalah penjabaran fiqih kontemporer.
      jgnkan perkara fiqih,doktrin/aqidah agama baku sj bnyk umat yg berselisih,maka tulisan ini tidak menekankan salah atau benar,sesat atau tidak,tetapi ini adalah khasanah.
      Dpt diambil hikmahnya bagi yg memahami,….
      Maka hal apapun di dunia ini,dpt membuat org itu menjadi sesat atau benar.Bahkan Ayat2 Al-Qur’an sendiri yg jelas2 datang dari Tuhanpun bnyk org yg menjadi ingkar/sesat,..
      maka gunakanlah indera “Al-Bashirah” (mata Esensi,hati/logika/Al-hikmah) dlm mensikapi suatu perkara,…

      Trims sekali lg….
      salam cahaya-Nya….

  2. Saya sangat setuju sekali,apapun jenis perbankan adalah HARAM
    الحلال بين والحرام بين وبينهما امور متشابهات
    LANJUTKAN DAKWAH,HINDARI,JAUHI BANK
    BANK—BANKRUT

  3. akan datang nasib suatu kaum apabila telah marak perzinahan dan praktek ribawi disuatu negeri, maka sesungguhnya penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka di ADZAB oleh ALLAH

  4. Kerja di bank ya ga masuk darurat om… masih banyak kerjaan lain. Cuma banyak yg tergiur sama gajinya pegawai bank. Trus kl udah terlanjur kerja di bank takut gajinya turun, ga dpt kerjaan lagi, dan banyak alasan lainnya yg sifatnya hubbun dunya..

  5. Salamun sobat,
    trims atas semua tambahan khazanahnya,smoga dpt diambil yg manfaat,
    Setuju pendapat sobat Donsatio,bhw semua paparan diatas merupakan ijtima’ para ulama,pasti ada pro/kontra,sikap bijak mungkin silakan ambil yg paling pas/yakin utk situasi masing2, menolak sama sekali jg boleh.
    Yang penting mari sama2 meningkatkan ilmu pengetahuan dan penalaran,
    Salam,

    • Assalamu alaikum saya mau nanyak nie kampus saya kan berlebel islam dan disitu juga ada fakultas agama islama antara lain ada prodi tarbiyah syariah dan ekonomi syariah.sya mau nanyak nie tadi kan sudah jelas bank konvensional itu pasti riba meskipun berbentuk apa.tapi yg sya tanyakan ini dalam kampus saya pembayaran uang spp dll itu diwajibkan untuk membayar ke 2 bank yg sama”bank konvensional bagaimana tanggapan bapak mengenai ini minta tolong referensi sekripsi saya terimakasih wasalamu alaikum wr.wb jawabannya di email sya azura_zara@ymail.co.

  6. Riba yaaaa riba…..gitu aj kok repot…..Toh kita hidup juga d negara yg zolim,..TINGGAL TUNGGU WAKTU AZAB ALLAH SANGATLAH PERIH………kenyataan itu pahit…………..

  7. Barangsiapa yang terlibat dalam urusan riba maka ia termasuk di dalamnya apapun itu alasannya, apalagi bekerja ditempat yang jelas-jelas menghalalkan riba, dan sekecil-kecilnya dosa riba adalah adalah seperti menzinai ibu kandung sendiri. naudzubillahimindzalik…
    Allah Ta’ala berfirman,
    الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
    “Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat) bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah [2]: 275)

  8. Hati2 saudara Muslim.
    ARTIKEL INI SANGAT MENEJERUMUSKAN, disatu sisi mengutip ayat2 yang mengharamkan riba, disisi lain membolehkan dengan alasan yang direkayasa sendiri.
    SETAN SELALU BEKERJA DIAREA ABU2.

    • Aslm sdr Mujidah,
      Jika hendak menyatakan pernyataan, mohon dilengkap argumen anda secara detail.
      Tolong tunjukkan dimana klausul dlm tulisan diatas yg membolehkan riba dengan alasan yang direkayasa sendiri?
      Bhw tulisan yg di susun ini berjenis jurnalistik paparan,penyuguhan dari berbagai sumber dan versi.
      Mohon jgn hny sekilas membaca, tp dalami esensinya, baca lg pelan dr awal hingga akhir.
      jgn sepotong redaksi kalimat dijadikan penilaian, artikel ini 1 paket ditulis menjadi satuan utuh.
      Silakan minta bantuan ahli tafsir bahasa jika kesulitan menyerap esensi risalah ini.

      Resume utk membantu pemahaman anda:
      1. Riba haram (titik)
      2. Dlm penjabaran, ttg bank konvensional, terjadi ikhtilaf ulama, ada yg membolehkan, ada yg mengharamkan (termasuk produk,nasabah, pekerjanya, proses dan bentuk apapun), maka penilaian ‘menjerumuskan silahkan katakan pd ulama yg membolehkan bank.
      3. Jk anda konsis dg hal2 yg riba dr bank berikut semua yg berkaitan, mk anda ada kewajiban menegakkannya. Yaitu anda akan dituntut Allah nanti ketika anda :
      a. Anda nasabah bank jg
      b.Anda bertransaksi dg alat bank (ATM,GIRO,DEPOSIT,TABUNGAN,dll), apapun hajatnya
      c.Membiarkan keluarga, sdr,kerabat pengguna produk / gajian/ bahkan ada yg jd karyawan bank,sebab anda menghukumi smua itu sbg riba tp tak mampu mencegah.
      d.Transfer / terima kiriman uang dr bank
      e.Terima hadiah dr produk / via bank
      f. dll

      Jadi berfikirlah secara cerdas dan global
      Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s