**PHOTOGRAPHY DAN VIDEOGRAPHY HARAM ? **

Tag :    SELFY HARAM ? ALBUM PHOTO HARAM ? PRODUKSI FILM ISLAMI HARAM ?

Photograph

Tentang pandapat mendasari Sahih Bukhari :

“Orang yang paling berat hukumannya di akherat adalah tukang photo”

Jika demikian maka SELFY dan dokumentasi resepsi perkawinanpun haram, bahkan produksi film film Islami pun haram sebab berhubungan dengan photography dan videography. Termasuk anda kini yang exist berselancar di jejaring sosial dunia maya dengan memajang album photo dan sebagainya, maka jadinya kita semua umat Islam melakukan sesuatu yang haram. Berapa besar bobot dosa yang kita tumpuk setiap harinya? Sementara pada akhir zaman yang modern ini manusia tak bisa menghindari photography samasekali.

Pada konteks bahasan sesuai judul diatas. Bahwa benarkah photography dan videography haram? Yang dengan demikian para photographernya, para videographernya juga termasuk yang memanfaatkan/user nya itu akan mendapat hukuman berat di akherat?

Mari kita telaah satu persatu, kita pahami esensinya, benarkah Nabi Muhammad mengharamkan photography dan videography ? :

riset

Teks asli hadits tersebut diantaranya sebagai berikut, berbunyi :

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para penggambar.” (HR. Al-Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109)

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya mereka yang membuat gambar-gambar akan disiksa pada hari kiamat. Akan dikatakan kepada mereka, “Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan.” (HR. Al-Bukhari no. 5961 dan Muslim no. 5535)

Perhatikan dalam hadits menyebutkan tentang “TASHWIR – MUSHAWWIR”. Makna tashwir adalah MENGGAMBAR sedang mushawwir adalah ORANG YANG MEMBUAT TASHWIR. Maka makna kalimat ini yang harus kita pahami terlebih dahulu. Kita tahu bahwa saat hadits ini di sabdakan oleh beliau adalah zaman ketika tekhnology photography dan videography belum ada. Hingga berabad abad kemudian sampailah pada ajaran ajaran Islam tumbuh menyebar ke seluruh penjuru dunia dimana bahasa, dialek bangsa bangsa lain tidak menggunakan bahasa Arab tetapi menurut bahasa ibu masing masing.

Kemudian tumbuh pula para generasi alim ulama sebagai penerus syiar Islam yang dalam hal latar belakang kultur budaya akan pasti berbeda beda baik dalam hal tingkat penyerapan, pemahaman nilai nlai Islam maupun dalam hal penterjemahan dari sumber aslinya.

Kembali pada pokok bahasan, mengenai pendapat yang menyatakan bahwa : “tukang photo adalah yang hukumannya paling berat”, yang merujuk pada sahih Bukhari tersebut di atas. Mari kita bedah esensi dengan merujuk pendapat para ulama bahwa larangan tersebut ditujukan untuk photography atau hal lain.

Sebagian ulama berpendapat bahwa photography dan videography keduanya haram. Seperti As-Syaikh Nashiruddin Al-Albani. Beliau adalah ulama besar pada  abad lampau, seorang pakar hadits yang menyatakan keduanya haram mendasari sumber hadits tersebut.

Sementara ulama lainnya, As-Syaikh Abdul Aziz Bin Bazz menyatakan bahwa photography haram sedang videography boleh. Dan berikutnya adalah As-Syaikh Ibnu Al-‘Utsaimin yang menafsirkan hadits ini dari sisi esensi, menyatakan pendapatnya bahwa selama tidak keluar dari aturan syariah, maka keduanya dibolehkan. Ketiga ulama ini adalah ulama besar yang terpercaya, mari kita hormat kepada mereka semua.

Sobat Nusantara, apa sebenarnya yang terjadi ?

Allah Swt berfirman dalam An-Nahl:43 :

“Tanyakanlah kepada orang yang mengetahui jika kamu tidak mengetahui (paham)…”

Maka mereka adalah ulama besar yang ahli dalam bidang Al-Hadits, sedang perkara photography dan videography adalah perkara sains/teknologi. Mereka menyatakan bahwa dalam perkataan Nabi terdapat kata “TASHWIR”. Sampai saat ini dalam bahasa Arab istilah TASHWIR juga digunakan untuk   photography, sedang zaman Nabi belum ada teknologi photography. Maka dari sebagian ulama berpendapat karena disebutkan istilah TASHWIR dalam hadits tersebut. Hingga saat ini, photography diartikan sebagai dalam katagori TASHWIR, maka menjadilah suatu pemahaman yang menjalar bahwa photography hukumnya haram.

Sobat Nusantara, bahasa selalu mengalami perkembangan. Oleh karena itu kita harus menelaah terlebih dahulu apa sesungguhnya pengertiannya (hakekat) suatu kalimat baik dalam ayat ayat Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Dan hal ini tidak kalah penting dengan arti kata itu sendiri, apa sesungguhnya arti kalimat tersebut maksudnya pada zaman itu.

Seperti kita ketahui bahwa pada zaman itu teknologi photography belum ada, maka janganlah tergesa gesa memastikan/memutuskan bahwa photography itu termasuk sebagai TASHWIR” walaupun saat ini bahasa/orang Arab mengistilahkan photography sebagai TASHWIR, padahal banyak kata/istilah yang dapat dibakukan yang tidak harus menggunakan istilah TASHWIR dalam hal ini. Suatu contoh :

Di ketahui/dikenal suatu kata pada suatu zaman, maka akan terus mengalami suatu perubahan makna seiring waktu akibat situasi, dialek maupun budaya disuatu bangsa. Seperti kosakata “BISA” maka pada bahasa suatu negara tertentu akan dapat diartikan sebagai “mampu” ataupun merupakan “racun ular”. Nah mungkin suatu ketika nanti orang tak akan mengartikan “BISA” ini sebagai  bisa ular. Sebab kosakata “bisa ular” lebih pas dengan kosakata “racun ular”.

Sementara sebagian ulama seperti menurut pendapat Syaikh Bin Bazz bahwa photography haram, tetapi videography boleh. Dan sementara kita tahu (sudah sampai pengetahuan) bahwa teknologi videography adalah pengembangan atau vesi canggih dari teknologi photography. Videography adalah photo yang digerakkan dengan kecepatan tinggi yaitu 24-25 frame/detik, maka gambar menjadi bergerak/hidup.

Ulama yang berpendapat bahwa photography tidak haram, menyatakan bahwa makna “TASHWIR” yang disinyalemenkan oleh Nabi SAW adalah “GAMBAR TANGAN/LUKISAN”.

Tashwir

Baik, dalam bahasan ini kita tidak membicarakan ulama/ahli kitab yang jauh dari esensi A-Qur’an dan As-Sunnah yang dengan begitu mudahnya menyatakan/memutuskan suatu perkara amal syareat/agama yang ini haram, yang itu halal, dan sebagainya tanpa pengetahuan luas dan bijak dalam ilmu hakekat. Maka kita sedang dalam kapasitas membahas tentang ulama otentik yang mengikuti hikmah Al-Qur’an/Al-Hadits, bukan yang suka mendasari segala sesuatunya dengan sentimen sekte/mazabiah.

Maka kata “TASHWIR” yang diartikan, yang menterjemahkan bahwa photography dan videography adalah haram oleh sebagian ulama, itu adalah penafsiran/penerjemahan yang salah/keliru paham. Dalam hadits disebutkan bahwa orang yang melakukan tashwir (menggambar tangan makhluk yang bernyawa), maka Allah akan menyuruh mereka menghidupkan gambar tersbut pada hari kiamat, tetapi mereka tidak mampu. Jadi sejatinya makna hadits ini adalah mensinyalemenkan bahwa membuat gambar/melukis makhluk bernyawa seperti hewan, manusia adalah dilarang. Sedangkan photography dan videography adalah semata mata perkembangan teknologi zaman modern yang merupakan teknologi spektrum/pantulan atau refleksi sebuah obyek yang disimpan dalam sebuah media, seperti  kertas.

Maka Nabi SAW tidak pernah mencegah para sahabatnya, keluarganya melihat pantulan/refleksi diri ketika mereka menyisir rambut, merapihkan busana di depan cermin. Bahkan Nabi SAW tidak pernah melarang sahabat untuk bercermin. Jadi BERCERMIN adalah sesuatu yang tidak dilarang. Photography adalah teknologi pantulan yang disimpan ke dalam media lain sehingga para ulama berpendapat bahwa photography tidak dilarang. Tetapi yang perlu diingat adalah segala sesuatu yang halalpun bisa menjadi haram jika hal hal yang halal dilakukan secara salah ataupun menyimpang dari aturan/disalahgunakan.

Kita perlu menggali makna apa sebenarnya yang dipesankan dalam setiap adanya larangan larangan pada ayat ayat Al-Qur’an maupun hadits. Tentu Allah dalam setiap menurunkan syareat (S.O.P) bagi manusia pasti memuat pesan/peringatan yang serius, dimaksud agar manusia tidak “semau gue” atau justru untuk kebaikan manusia itu sendiri. Hanya saja manusia itu kadang terlalu angkuh untuk mengakuinya atau mentaatinya atau manusia itu sebenarnya tidak menggunakan akal pengetahuannya.

menyembah_batu

Mengapa Allah melalui hadits Nabi SAW melarang manusia untuk menggambar makhluk bernyawa. Adalah karena sejarah sepanjang peradaban manusia sejak zaman para rasul terdahulu telah menjadikan kebiasaan “menggambar” yang dilakukan manusia itu pada akhirnya menjadi obyek sesembahan manusia itu sendiri yang dimanifestasikan ke dalam bentuk lukisan, patung yang kemudian di Tuhankan/disembah sembah. Maka Allah sesungguhnya memberi pesan kepada umat Islam agar tidak seperti umat umat lain terdahulu maupun kemudian. Agar Allah memurnikan umat Islam dengan membentuk umat yang berbeda dari umat lainnya, agar Allah memurnikan dan memilih umat Islam sebagai umat terbaik. Walaupun harus dipagar dengan berbagai ujian ketat, berbobot seperti ketat dan beratnya materi ujian pada lembaga yang bonafit maka akan menghasilkan siswa yang berbobot pula yang akan berbeda dengan lulusan lusan lain “yang ecek ecek”. Ingat kalian umat Islam telah  dipilih Tuhan untuk itu. Kecuali kalian tidak punya tujuan dalam hidup, sehingga merasa cukup menjadi “yang ecek ecek” sajalah, maka kita tak perlu susah payah mengikuti/menjadi peserta.

KESIMPULAN

Ini adalah hanya salah satu perkara tafsir tentang hal hal yang “HARAM” dalam syareat Islam. Masih banyak perkara perkara yang dihukumi “haram” dalam rangkaian Al-Hadits/As-Sunnah yang diterjemahkan oleh sebagian ulama, seperti diharamkannya pria memakai perhiasan, larangan wanita memakai wewangian, larangan musik, pengharaman rokok, pengharaman ini itu.

Sehingga praktis banyak perkara yang berhubungan dengan aktifitas kehidupan umat manusia menjadi timbul polemik, kebingungan maupun timbulnya gontok gontokan paham berebut benar dan sebagainya. Disamping terjadi dikalangan umat Islamnya sendiri yang lemah ilmu pengetahuannya (kalangan awam), apalagi dimata non muslim yang buta terhadap pemahaman nilai nilai Islam sehingga menjadilah asumsi/stigma bahwa menjadi orang Islam itu atau ajaran Islam itu sempit, kuno, membatasi, tak manusiawi, melanggar hak asasi manusia, merendahkan martabat wanita, agama barbar   dan segudang anggapan/stigma buruk lainnya.

Maka menjadi ranculah ketika agama Islam diperkenalkan Nabi Muhammad SAW yang katanya membawa rahmat semesta alam, yang katanya memudahkan, yang katanya membuat kesejahteraan, kedamaian, namun terkesan menjadi “ribet”…..hingga ketika umat umat non Islam bertanya, menuduh, menganggap bahwa Islam adalah agama yang berisi ajaran ajaran sesat, kuno dan sebagainya…….kita atau umat Islamnya sendiri kebingungan menjawab tuduhan tuduhan miring tentang nilai nilai Islam seperti rangkaian yang dituduhkan tersebut diatas.

taqlid buta

Maka wahai umat Islam sebangsa dan setanah air, juga wahai umat manusia, mari berpikir menggunakan logika akal pikir, menggunakan intelektualitas, menggunakan nurani, hakekat dan Al-Hikmah. Maka menjadilah insan/umat Islam yang cerdas dalam pikir maupun dalam sikap. Mari pelajari, gali dan dalami kitab sucinya sendiri masing masing dengan sebenar benar belajar dan memahami esensinya serta kebenarannya. Bukan hanya membaca doang tanpa memahami maknanya, bukan hanya menuruti buta apa kata para gurunya/ulamanya/pendetanya dan  apa kata kultur budayanya.

Bayangkan jika anda mudah taqlid buta dengan ajaran yang tak bijak dalam ilmu pengetahuan atau yang saklek dalam menterjemahkan suatu ayat atau hadits, maka anda akan menjadi olok olok zaman.

Seperti :

Kita meyakini buta sebuah pemahaman praktis tentang pengharaman “wanita yang menggunakan wangi wangian”, maka jika dipahami secara saklek, lihatlah akan ada sekelompok wanita tidak akan memakai wewangian apapun hingga tak menyadari atau mengabaikan bau badan yang tak sedap menyeruak kemana mana yang menjadikan orang orang sekelilingnya/keluarga /suami menjadi tak nyaman, Sementara ketika anda saklek anti wewangian tetapi disatu sisi anda tidak konsisten dengan pemahamannya sendiri yakni anda masih mau menggunakan “molto”, masih pakai hairspray, masih pakai sabun saat mandi….dsb….sedangkan barang barang tersebut jelas merupakan wangi wangian. Harusnya ya  konsis jangan memakai apapun yang berhubungan dengan wewangian.

Ada juga kasus dimasyarakat dimana terdapat suatu komunitas “keluarga Islam penganut fahamis” tinggal ditengah masyarakat namun saklek dengan ajaran sekte/mazabiahnya, tampak dari cirikhas berpakaian serta penampilan penampilan yang eksklusif lainnya, yaitu suatu ketika menjemur pakaian diluar dan kemudian di tinggal pergi keluar rumah. Ketika hujan hendak turun jemuran tersebut diangkat oleh tetangganya.

Ketika si pemilik pulang ke rumah mendapati jemurannya telah terangkat dari tali jemuran. Merasa sudah terkena tangan orang lain yang bukan “kelompoknya”, akhirnya jemuran yang bersih itu dicuci kembali. Melihat kenyataan itu jadilah tetangganya kesal, “sudah ditolong tapi menganggap kita orang najis”. Maka hal hal yang demikian akan menjadi masalah sebab kita dalam beragama kadang tidak arif, kadang kita begitu taqlid buta dengan mazab hingga kadang tak menyadari telah menuhankan dalil.

Sobat, didunia ini hanya ada dua keadaan tentang hasil akhir manusia dalam meyakini/mengaplikasikan suatu ajaran nilai nilai ilmu pengetahuan/agama Islam. Kita  menjadi salah,  keliru atau sesat dalam beragama setelah mendapatkan pengajaran dari guru, yakni : Gurunya yang salah mengajar atau mengajarkan pemahaman yang salah  atau murindnya yang salah dalam menerjemahkan/memahami suatu pengajaran.

Sebab guru yang baik, bijak dan luas ilmu pengetahuannya,  maka akan menghasilkan murid yang berkualitas baik (berwawasan luas)  pula.

Semoga menjadi renungan kita semua,

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Bukit Cibeureum, 9 September 2015.

CopyRights@2015.

Reff:

-HR. Al-Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109

-HR. Al-Bukhari no. 5961 dan Muslim no. 5535

-http://al-atsariyyah.com/hukum-menggambar-dalam-islam.html

-Makalah Risalatul Islam, Syaikh Dr. Zakir Naik

Al-Qur’anul Karim Terjemah DEPAG RI

4 thoughts on “**PHOTOGRAPHY DAN VIDEOGRAPHY HARAM ? **

  1. Wew haram ???? ajigile dah

    Menurut saya sih : misalkan photograpy itu haram / dosa ( sin ) maka hal2 yang lain itu haram juga dong , karena photograpy termasuk seni kan , sama halnya dengan musik . Apakah mengaji berirama juga termasuk haram hukumnya ?? … Misalkan jawabnya tidak !! Karena mengaji suatu keharusan ummat beragama islam , berarti tidak juga bagi photograpy , asalkan halal apa yang diperbuat ..

    Menurut logika masing2 seni itu adalah bumbu pelengkap untuk hidup , menuangkan perasaan melalui karya sastra maupun musik , yang akan membuat hati tentram , dan damai yang melihat maupun yang mendengar .

    To the point : apa saja hal2 yang dilakukan seseorang itu pasti halal , ( kecuali hal2 yang murka oleh tuhan ) . Hanya manusia cerdas yang dapat mengambil hikmah dan peluang untuk berkreasi dengan apa yang masih belum dilanggar oleh tuhan . Betul kan ???

  2. Sobat,pemahaman dlm komen anda sudah terakomodir dlm artikel diatas,
    bhw photography/videography tidak diharamkan sepanjang utk kemanfaatan positif.
    Silahkan titi kembali tiap tiap paragraf tulisan dg perlahan,terimakasih telah berkunjung.
    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s