RISALAH RINGKAS TENTANG ZAKAT

PANDUAN BERZAKAT DAN ZAKAT FITRAH, PENGELOLAAN SERTA DASAR HUKUMNYA

SALAH KAPRAH PEMAHAMAN TENTANG ‘AMIL

PANITIA DADAKAN PENGUMPUL ZAKAT BUKAN KATEGORI AMIL ASNAF 8, TIDAK SAH MENGAMBIL BAGIAN DARI HARTA ZAKAT

10 KEBERUNTUNGAN DAHSYAT DIPEROLEH DENGAN ZAKAT

*Risalah ini berasal dari tulisan/kitab ringan berbahasa Jawa karya Al-fakir Kyai Syamsuddin-Prembun Kranggan-Kebumen-Jawa Tengah, dengan judul aslinya : “RISALATU FI SYAHRU RAMADHAN”. Dan kemudian diterjemahkan serta disusun lengkapi oleh Agus Sholech Al-Qadry. Untuk dijadikan pengetahuan bermanfaat bagi umat.
DAFTAR ISI :
  • DASAR HUKUM
  • MANFAAT/FAEDAH MENUNAIKAN ZAKAT
  • KRITERIA WAJIB ZAKAT (Muzakki)
  • KRITERIA TIDAK WAJIB ZAKAT
  • KRITERIA PENERIMA ZAKAT
  • KRITERIA BUKAN PENERIMA ZAKAT
  • BENTUK ZAKAT DAN BESARAN
  • TATA CARA BERZAKAT
  • KEWAJIBAN ZAKAT LAIN DILUAR ZAKAT FITRAH
  • BABUL AWAMIL FIZZAKATI (PENGELOLAAN ZAKAT OLEH PANITIA)
  • HUKUM MEMBENTUK ‘AMIL
  • SYARAT BERAT MENJADI ‘AMIL
  • PEMBENTUKAN ‘AMIL YANG TEPAT/IDEAL
  • KESIMPULAN

ZAKAT1

Kata zakat didalam Al-Quran terdapat pada 26 ayat yang tersebar pada 15 surat. Ayat dan surat tersebut yaitu sebagai berikut: Didalam Q.S Al Baqoroh ayat: 42, 84, 110, 177, 277. Annisa ayat: 77 dan 162. Al-Maidah ayat: 12 dan 55. Al-A’raaf ayat: 156.At-Taubah ayat: 5, 11, 18, dan 71, Al-Anbiya ayat: 73, Al-Hajj ayat: 41 dan 78. An-Nur ayat: 37 dan 56. Annaml ayat: 3. Luqman ayat: 4, Al-Ahzab ayat: 37, Fushilat ayat: 7.  Al-Mujadillah ayat: 13. Al Muz’amil ayat: 20, Al-Bayyinah ayat: 5.

Juga hadits riwayat muttafaqun alaihi yang artinya: “Islam didirikan diatas lima dasar: Mengikrarkan bahwa tidak ada tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh, mendirikan sholat, membayar zakat, menunaikan haji, dan berpuasa pada bulan Romadhon”. (H.R. Muttafaq ‘alaih)

“Shodaqotul fitri wajibatun ‘amalan laa i’tiqodan ‘alal hurril muslimil maliki linishab. Fadhillin ‘anil hawaijil ashliyati wawaqotu ada’an shodaqotil fitri qobla shalatil ‘ied,

“Zakat fitrah telah diwajibkan atas kaum muslim dengan diamalkan, tak cukup hanya dengan niat dalam hati saja. Yaitu atas orang Islam yang mempunyai sesuatu (makanan, harta, atau uang) yang lebih daripada keperluan diri sendiri dan keperluan orang yang ditanggung nafkahnya. Sedang waktu membayar zakat fitrahnya sampai dengan sebelum dimulai shalat iedul fitri”.

(maka waktu yang wajib adalah sejak terbenamnya matahari dimalam hari raya hingga saat shalat ied. Maka jika dibayarkan ba’da shalat ied hukumnya makruh namun syah.Dan jika melewati hari raya maka itu qadla tapi harus).

Reff: (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III :367 no:1503, Muslim II: 277 no:279/984 dan 986, Tirmidzi II : 92 dan 93 no: 670 dan 672, ‘Aunul Ma’bud V:4-5 no: 1595 dan 1596, Nasa’i V:45, Ibnu Majah I: 584 no:1826 dan dalam Sunan Ibnu Majah ini tidak terdapat “WA AMARA BIHA…”).

BERIKUT JENIS JENIS WAKTU MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH

  1. Waktu wajib: Sejak terbenam matahariakhir ramadhan hingga terbit matahari esoknya (hari raya).
  2. Waktu paling afdhal: Sebelum Sholat Hari Raya.
  3. Waktu sunat: Sepanjang bulan Ramadhan.
  4. Waktu makruh: Selepas sholat Ied hingga terbenam matahari pada satu Syawal.
  5. Waktu haram: Selepas terbenam matahari satu Syawal.

KEDUDUKAN ZAKAT DALAM ISLAM

Zakat adalah salah satu rukun Islam dan termasuk salah satu di antara fardhu-fardhuNya.

Dari Ibnu Umar r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Islam ditegakkan di atas lima (perkara): (pertama) bersaksi bahwa tiada Ilah (yang patut diibadahi) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul utusan Allah, (kedua) menegakkan shalat, (ketiga) mengeluarkan zakat, (keempat) menunaikan ibadah haji, dan (kelima) melaksanakan shiyam (puasa) Ramadhan.”

(Muttafaqun’alaih: Muslim I : 45 no:16-20 dan lafadz ini baginya, Fathul Bari I: 49 no: 8, Tirmidzi IV: 119 no: 2736 dan Nasa’i VIII: 107). Di dalam al-Qur’an, kata zakat diiringi oleh kata shalat dalam delapan puluh dua ayat.

Dorongan Agar Menunaikan Zakat

Allah SWT berfirman, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”(At-Taubah: 103)

Dan Allah SWT berfirman, “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).” (QS.Ar-Ruum:39).

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,“Barangsiapa yang bershadaqah sesuatu senilai harga satu tamar (kurma kering) dari hasil usaha yang halal, dan Allah tidak akan menerima kecuali yang halal, maka Allah menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia memeliharanya untuk pelakunya sebagaimana seorang diantara kamu memelihara anak kandungnya sampai seperti gunung.” (Muttafaqun’alaih: Fathul Bari III:278 no: 1410 dan lafadz ini baginya, Muslim II : 702 no: 1014, Tirmidzi II: 85 no: 656 dan Nasa’i  V:57).

MANFAAT/FAEDAH MENUNAIKAN ZAKAT

bebas

Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, “Rasulullah saw. telah mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan yang kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum (selesai) shalat ‘id, maka itu adalah zakat yang diterima (oleh Allah); dan siapa saja yang mengeluarkannya sesuai shalat ‘id, maka itu adalah shadaqah biasa, (bukan zakat fitrah).” (Hasan : Shahihul Ibnu Majah no: 1480, Ibnu Majah I: 585 no: 1827 dan ‘Aunul Ma’bud V: 3 no:1594).

kitabsalaf

Bahkan dalam kitab Durratun Nashihin dijelaskan:

(Ruwiya ‘annabiy SAW, annahu qolaa: “Man a’to shodaqotal fitri kanalahuu assharotu ashyaa’a : “Al-awwalu yathurru jasaduhu minaddzunubi wasshafi ya’tiqu minannaar, watsalitsu yashirru shaumatu ma’bulan, warabbi’atu yastaujibul jannah, walkhamishu yakhruju min qobrihi amina, watssadishu yu’baluma minal khairati fi tilkas shanaati, was tsabi’u tajibulahuu syafa’ati yaumil qiyaamah, was tsaminu yamru ‘alal qiraati kalbarqul khatiif, wat tashi’ yurjahu mizanuhu minal hasanati wal ‘ashiruu yamhullahu ta’ala, ismuhu min diwanil ashqiyyaa’i”. (Dari serangkaian Ayat&Al-hadits yang diintisarikan dalam kitab Durratun Nashihin-shahifah 279).

Sabda Rasulullah saw : “Barang siapa memberikan zakat fitrah maka orang tersebut akan memiliki sepuluh perkara (keberuntungan), yakni :

  1. Jiwanya disucikan dari dosa dosanya (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)
  2. Bebas dari api neraka (HR. Al Bukhari 6539, Muslim 1016,16)
  3. Diterima segala amal ibadah puasanya
  4. Hak/wajib masuk syorga (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)
  5. Mendapat keamanan ketika dibangkitkan dari kubur (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873)
  6. Diterima Allah amal kebaikan yang dilakukannya selama setahun
  7. Hak/wajib atas syafa’at Rasulullah saw
  8. Melewati jembatan shirotol mustaqiem pada hari kiamat bagai kilat yang menyambar
  9. Bobot amal kebaikannya dineraca Al-mizan menjadi berat kebaikannya (HR. At Tirmidzi 662, ia berkata: “hasan shahih”)
  10. Allah SWT menghapus namanya dari daftar yang celaka yang telah tercatat dibukunya.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, begitu murahnya Allah pada umatnya, yang hanya dengan mengeluarkan 2.5 Kg beras setiap tahun sekali saja sudah demikian untungnya. Maka cobalah berpikir, bagaimana jika kita dalam hari harinya hidup selalu dalam berbuat amal kebaikan? (tidak merasa eman/sayang dengan harta benda untuk loman/suka bersedekah. Begitu sebaliknya Allah mengancam bagi orang yang kikir enggan bersedekah maka ketika mati tak satupun harta kekayaannya dibawa serta bahkan akan dikalungkan dilehernya sangat berat dibawa kesana kemari terseok seok dipadang masyaar).

syt5

“…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, Lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35)

Hukum Orang Yang Mencegah Membayar Zakat

Dalam Fiqhus Sunnah I: 281, Syaikh Sayyid Sabiq menulis, “Zakat adalah salah satu amalan fardhu, sehingga termasuk Dharurriyatud din (pengetahuan yang pokok dalam agama), yang mana andaikata ada seseorang mengingkari wajibnya zakat, maka dinyatakan keluar dari Islam (kafir). Kecuali jika hal itu terjadi pada seseorang yang baru masuk Islam, maka dimaafkan karena belum mengerti hukum-hukum Islam.”

 “Adapun orang-orang yang enggan membayar zakat, namun meyakininya sebagai kewajiban, maka ia hanya berdosa besar karena enggan membayarnya, tidak sampai keluar dari Islam. Dan, penguasa yang sah berwenang memungut zakat tersebut darinya dengan paksa”. Dalam hal ini penguasa berhak  menyita separoh harta kekayaannya sebagai sangsi baginya, hal ini berdasar pada hadits dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari datuknya r.a. ia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Pada setiap unta yang digembalakan ada zakatnya, setiap 40 ekor (zakatnya) adalah seekor anak unta betina yang selesai menyusu; unta tidak dipisahkan dari perhitungannya; barangsiapa yang membayar zakat itu untuk memperoleh pahala, maka ia pasti akan mendapat pahala itu, tetapi orang yang tidak membayarnya kami akan memungut zakat itu beserta separuh kekayaannya. Ini merupakan salah satu ketentuan tegas dari Rabb kita, yang mana bagi keluarga Muhammad tidak halal menerimanya sedikitpun.” (Hasan : Shahihul Jami’us Shaghir no: 4265, ‘Aunul Ma’bud IV:452 no:1560, Nasa’i V:25, al-Fathur Rabbani VIII:217 no:28).

KRITERIA WAJIB ZAKAT

            SYARAT ZAKAT FITRAH :

  1. Islam
  2. Mempunyai sesuatu (makanan, harta, atau uang) yang lebih daripada keperluan diri sendiri dan keperluan orang yang ditanggung nafkahnya untuk satu hari siang dan malam Hari Raya itu.
  3. Dapat menemui dua masa yakni akhir Ramadan dan awal Syawal. (Orang yang meninggal dunia sebelum terbenam matahari atau anak yang dilahirkan selepas matahari terbenam malam satu Syawal itu tidak wajib fitrah ke atasnya).

Kewajiban zakat fitrah

  1. Kepala keluarga wajib membayar zakat fitrah untuk dirinya dan juga tanggungannya.
  2. Jika salah satu dari tanggungannya meninggal dalam bulan puasa, maka orang itu terlepas daripada membayar zakat fitrah.

Rukun-Rukun Zakat Fitrah

  • Niat untuk menunaikan zakat fitrah dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT
  • Terdapat pemberi zakat fitrah atau musakki
  • Terdapat penerima zakat fitrah atau mustahik
  • Terdapat makanan pokok yang dizakatkan
  • Besar zakat fitrah yang dikeluarkan sesuai agama islam

KRITERIA TIDAK WAJIB ZAKAT

Meskipun zakat fitrah ini wajib hukumnya bagi semua orang islam yang mukallaf baik laki laki maupun perempuan, namun ada keterkecualian tentang siapa yang tidak terkena kewajiban mengeluarkan zakat yakni golonan fakir dan miskin (orang yang hidupnya kekurangan dan atau tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup), bahkan golongan ini sebagai yang berhak menerima zakat fitrah tersebut. Atau hakekatnya adalah orang yang pada saat jatuh temponya wajib zakat tiba namun tidak memiliki harta/simpanan untuk dizakatkan maka dirinya termasuk yang berhak menerima zakat/sedekah.

KRITERIA PENERIMA ZAKAT

SASARAN PEMBAGIAN  ZAKAT (Annashrof fizzakati)

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya zakat-zakat ini, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, untuk orang-orang yang berhutang, untuk di jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah:60).

(Ibnu Katsir r.a. ketika menafsirkan ayat ini dalam kitab tafsirnya II: 364 mengatakan,  “Tatkala Allah SWT menyebutkan penentangan orang-orang munafik yang bodoh itu atas penjelasan Nabi saw. dan mereka mengecam Rasulullah mengenai pembagian zakat, maka kemudian Allah SWT menerangkan dengan gamblang bahwa Dialah yang membaginya. Dialah yang menetapkan ketentuannya, dan Dialah pula yang memproses ketentuan-ketentuan zakat itu, sendirian, tanpa campur tangan siapapun. Dia tidak pernah menyerahkan masalah pembagian ini kepada siapapun selain Dia. Maka Dia membagi-bagikannya kepada orang-orang yang telah disebutkan dalam ayat di atas).

Apakah Delapan Golongan (Ashnaf 8) Harus Mendapatkan Bagian Semua ?

Ahli tafsir Ibnu Katsir menegaskan bahwa para ulama’ berbeda pendapat (ikhtilaf) mengenai delapan kelompok ini, apakah mereka harus mendapatkan bagian semua, ataukah boleh diberikan kepada sebagian di antara mereka ? Dalam hal ini, ada dua pendapat :

  1. Pendapat pertama, mengatakan bahwa zakat itu harus dibagikan kepada semua delapan kelompok itu. Ini  adalah pendapat Imam Syafi’I dan sejumlah ulama’ yang lain.
  1. Pendapat kedua, menyatakan bahwa tidak harus dibagikan kepada mereka semua, boleh saja, dibagikan pada satu kelompok saja diantara mereka, seluruh zakat diberikan kepada kelompok tersebut, walaupun ada kelompok-kelompok yang lain. Ini adalah pendapat Imam Malik dan sejumlah ulama’ salaf dan khalaf, di antara mereka ialah Umar bin Khatab, Hudzifah Ibnul Yaman, Ibnu Abbas Abul’Aliyah, Sa’id bin Jubair, Maimun bin Mahcar, Ibnu Jarir mengatakan, “Ini adalah pendapat mayoritas ahli ilmu. Oleh karena itu, penulis, (Abdul ‘Azhim bin Badawi) menyebutkan semua golongan yang berhak menerima zakat di sini hanyalah untuk menjelaskan pengertian masing-masing golongan, bukan karena keharusan memberikan zakat itu kepada semuanya.

Golongan pertama ; Orang-orang fakir

Dari Abdullah Ibnu Umar bin al-Ash r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Zakat tidak halal bagi orang yang kaya dan tidak (pula) bagi orang yang sehat dan kuat,” 

(Shahih : Shahihul Jami’ no: 7251, Tirmidzi II: 81 no: 647, ‘Aunul Ma’bud V:42 no:1618, dan Abu Hurairah meriwayatkannya lihat Ibnu Majah I:589 no: 1839 dan Nasa’i V:39).

Dari Ubaidillah bin ‘Adi bin al-Khiyar r.a. bahwa ada dua orang sahabat mengabarkan kepadanya bahwa  mereka berdua pernah menemui Nabi saw. meminta zakat kepadanya, maka Rasulullah memperhatikan mereka berdua dengan seksama dan Rasulullah mendapatkan mereka sebagai orang-orang yang gagah. Kemudian Rasulullah bersabda, “Jika kamu berdua mau, akan saya beri, tetapi (sesungguhnya) orang yang kaya dan orang yang kuat berusaha tidak mempunyai bagian untuk menerima zakat,” (Shahih : Shahih Abu Daud no: 1438, ‘Aunul Ma’bud V: 41 serta Nasa’i   V:99).
Golongan kedua; Orang-Orang Miskin

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling minta-minta agar diberi sesuap dua suap makanan dan satu biji kurma,” (Kemudian) para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, (kalau begitu) siapa yang dimaksud orang miskin itu?” Jawab Beliau, “Salah mereka yang yang hidupnya tidak berkecukupan dan dia tidak punya kepandaian untuk itu, lalau diberi shadaqah, dan mereka tidak mau minta-minta kepada orang lain.” (Muttafaqun ‘alaih:Muslim II : 719 no:1039 dan lafadz baginya, Fathul Bari III : 341 no: 1479, Nasa’i V:85 dan Abu Daud V:39 no: 1615).
Golongan ketiga: Para Amil Zakat
Untuk bab golongan ‘amil ini akan diurai dan dijelaskan secara lugas dibagian akhir/bawah.

Golongan keempat : Orang-orang Muallaf

Kelompok muallaf ini terbagi menjadi beberapa bagian.

1.Orang yang diberi sebagian zakat agar kemudian memeluk Islam. Sebagai misal Nabi saw. pernah memberi Shafwan bin Umayyah sebagian dari hasil rampasan perang Hunain, dimana waktu itu ia ikut berperang bersama kaum Muslimin:

“Nabi saw. selalu memberi kepada hingga beliau menjadi orang yang paling kucintai, setelah sebelumnya beliau menjadi orang yang paling kubenci.” (Shahih : Mukhtashar Muslim no: 1558, Muslim II:754 no:168 dan 1072, ‘Aunul Ma’bud VIII: 205-208 no: 2969, dan Nasa’i V:105-106).

2.Golongan orang yang diberi zakat dengan harapan agar keislamannya kian baik dan hatinya semakin mantap.

Seperti pada waktu perang Hunain juga,ada sekelompok prajurit beserta pemukanya diberi seratus unta, kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya aku benar-benar memberi zakat kepada seorang laki-laki, walaupun selain dia lebih kucintai daripadanya (laki-laki tersebut) karena khawatir Allah akan mencampakkannya ke (jurang) neraka Jahanam.” 

(Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari I: 79 no:27, Muslim I:132 no:150, ‘Aunul Ma’bud XII : 440 no:4659, dan Nasa’i  VIII:103).

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan dari Abu Sa’id r.a. bahwa Ali r.a. pernah diutus menghadap kepada Nabi saw. dari Yaman dengan membawa emas yang masih berdebu, lalu dibagi oleh beliau saw. kepada empat orang (pertama) al-Aqra’ bin Habis, (kedua) Uyainah bin Badr, (ketiga) ‘Alqamah bin ‘Alatsah, dan (keempat) Zaid al-Khair, lalu Rasulullah bersabda, “Aku menarik hati mereka.” (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III: 67 no:4351, Muslim II:741 no:1064, ‘Aunul Ma’bud XIII : 109 no:4738).

3.Bagian ini ialah orang-orang muallaf yang diberi zakat lantaran rekan-rekan mereka yang masih diharapkan juga memeluk Islam.

4.Mereka yang mendapat bagian zakat agar menarik zakat dari rekan-rekannya, atau agar membantu ikut mengamankan kaum Muslimin yang sedang bertugas di daerah perbatasan. Wallahu a’lam.

(Apakah muallaf sepeninggal Nabi saw. masih berhak mendapatkan bagian dari zakat ?

Ibnu Katsir r.a. mengatakan bahwa dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama’ bahwa para muallaf tidak usah diberi bagian dari zakat setelah beliau wafat, karena Allah telah memperkuat agama Islam dan para pemeluknya serta telah memberi kedudukan yang kuat kepada mereka di bumi dan telah menjadikan hamba-hambaNya tunduk pada mereka (kaum muslimin).

Kelompok yang lain berpendapat, bahwa para muallaf itu tetap harus diberi, karena Rasulullah saw. pernah memberi mereka zakat setelah penaklukan kota Mekkah dan penaklukan Hawazin, zakat ini kadang-kadang amat dibutuhkan oleh mereka, sehingga mereka harus mendapat alokasi bagian dari zakat).

Golongan kelima :RIQAB (Untuk memerdekakan Budak)

Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri, Muqatil bin Hayyan, Umar bin Abdul Aziz, Sa’id bin Jubair, an-Nakha’i, az-Zuhri, Ibnu  Zaid bahwa yang dimaksud riqab, bentuk jama’ dari raqabah “budak belian” ialah hamba mukatab (hama yang telah menyatakan perjanjian dengan tuannya bilamana sanggup menghasilkan harta dengan nilai tertentu dia akan dimerdekakan, pent). Diriwayatkan juga pendapat yang semisal dengan pendapat tersebut dari Abu Musa al-Asy’ari, dan ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan al-Lain.

Ibnu Abbas dan al-Hasan berkata, “Tidak mengapa memerdekakan budak belian dengan uang dari zakat.” Ini juga menjadi pendapat Mazhab Imam Ahmad, Imam Malik, dan Imam Ishaq. Yaitu bahwa kata riqab lebih menyeluruh ma’nanya daripada sekedar memberi zakat kepada hamba mukatab, atau sekedar membeli budak lalu dimerdekakan.

Ada banyak hadits yang menerangkan besarnya pahala memerdekakan budak, dan Allah SWT untuk setiap anggota badan budak tersebut memerdekakan satu anggota badan orang yang memerdekakannya dari api neraka, sampai untuk kemaluan sang budak Allah memerdekakan kemaluan orang yang memerdekakannya. Sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits berikut :

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang telah memerdekakan seorang budak mukmin, niscaya Allah dengan setiap anggota badannya akan membebaskannya anggota badan (orang yang memerdekakannya) dari api neraka, hingga orang itu memerdekakan (masalah) kemaluan dengan kemaluan.” (Shahih : Shahihul Jami’us Shaghir no:6051, Tirmidzi III:49 no: 1581).

Hal itu tidak lain, karena balasan suatu amal perbuatan sejenis dengan amal yang dilakukannya. Allah berfirman, “Dan  kamu  tidak  diberi pembalasan, melainkan apa yang telah kamu lakukan. (QS.ash-Shaffat.39).

Golongan keenam : GHORIMIN (Orang-orang yang Banyak Berhutang)

Mereka terbagi menjadi beberapa bagian : Pertama, orang yang mempunyai tanggungan atau dia menjamin suatu hutang lalu menjadi wajib baginya untuk melunasinya kemudian meludeskan seluruh hartanya karena hutang tersebut; kedua, orang yang bangkrut; ketiga, orang yang berhutang untuk menutupi hutangnya; dan keempat, orang yang berlumuran maksiat, lalu bertaubat. Maka mereka semua layak menerima bagian dari zakat.

Dasar yang menjadikan pijakan untuk masalah ini ialah hadits dari Qubaishah bin Mukhariq al-Hilali r.a. ia berkata, Aku pernah mempunyai tanggungan (untuk mendamaikan dua pihak yang bersengketa), kemudian aku datang kepada Rasulullah saw. menanyakan perihal beban tanggungan itu. Maka Beliau bersabda, “Tegakkanlah, hingga datang zakat untuk kuberikan kepadamu!” Rasulullah saw. melanjutkan sabdanya, “Ya Qubaishah sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi tiga golongan: (Pertama) orang-orang yang memikul beban untuk mendamaikan dua pihak yang bersengketa, maka dihalalkan baginya meminta, sampai berhasil mendapatkannya, sehingga berhenti memintanya. (Kedua), orang yang tertimpa kebingungan yang sangat, karena rusaknya harta bendanya, maka kepadanya dihalalkan meminta zakat, sehingga ia mendapatkan kekuatan untuk menutupi kebutuhan hidupnya. (Ketiga), orang yang mendapatkan kesulitan hidup hingga tiga orang dari pemuka kaumnya berdiri (lalu bertutur), bahwa kesulitan hidup telah menimpa si fulan, maka baginya dihalalkan meminta hingga mempunyai kekuatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka tidak ada hak bagi selain yang tiga kelompok itu untuk meminta wahai Qubaishah!”

(Shahih : Mukhtashar Muslim no: 568, Muslim II: 722 no:1044, ‘Aunul Ma’bud V:49 no: 1624, dan Nasa’i  V:96).

Golongan ketujuh : FISABILILLAH

Berbagai pendapat (ikhtilaf) dari para ulama dalam menafsyirkan makna Fi sabilillah ini, berikut :

Fi sabilillah ialah para mujahid sukarelawan (ghuzah) yang berjuang di jalan Allah yang tidak memiliki bagian atau gaji yang tetap dari kas negara. Sementara al-fakir Kyai Syamsuddin memperkaya khasanahnya bahwa Fi sabilillah adalah golongan orang yang berperang melawan hawa nafsyu yang berjuang, berkarya di jalan Alloh (kebaikan) yang dengan ikhlas mengabdi tanpa pamrih dan upah tetap seperti contoh para ulama, kyai/guru ngaji, modin/kaum dan lainnya.

“Ahli sabilillahi al-uzzatul mutatawwi’una bil jihadi wain kanuu aghniyya’a in’anatal jihadi wayaadhullu fi dalika tulabatul ‘ilmissyaari waraawadul haqqi watulabul ‘adli wa muqimul inshafi wal wa’dli wal irsyaadi wanashirad dinil hanif…..”. (kitab Jauharul Bahri-shahifah 173).

“wataqolal quflu ‘an ba’dil fuqahaai fahum ajarru sharfa shodaqoti ilaa jami’i wajuuhil khairi min takfinil mautaa wabinaail husuni waimaratil masjidi, lianna qaulahu ta’ala fi sabilillahi ‘amma fil kulli……….ila ayat……(tafsyir munir –juzz awal-shahifah 244)

Dalam kitab ini diterangkan bahwa makna fi sabilillah itu luas tidak hanya orang sedang dalam perang sabil fisik, tetapi termasuk siapa siapa yang sedang melakukan perjuangan bakti kebaikan yang dijalan Alloh seperti ahli ceramah agama, advisor spiritual, guru ngaji, para penolong agama Alloh dan pejuang/pengabdi kemanfaatan ditengah masyarakat.

Golongan kedelapan : Ibnu Sabil

Adalah seorang yang musafir melintas di suatu negeri tanpa membawa bekal yang cukup untuk kepentingan perjalanannya, maka dia pantas mendapat alokasi dari bagian zakat yang cukup hingga kembali ke negerinya sendiri, meskipun ia seorang yang mempunyai harta.

Demikian juga hukum yang diterapkan kepada orang yang mengadakan safar dari negerinya ke negeri orang dan dia ia tidak membawa bekal sedikitpun, maka ia berhak diberi bagian dari zakat yang sekiranya cukup untuk pulang dan pergi. Adapun dalilnya ialah ayat enam puluh surah at-Taubah dan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Ibnu Majah.

Dari Ma’mar dari Yasid bin Aslam, dari ‘Atha’ bin Yassar dari Abi Sa’id r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Zakat tidak halal bagi orang yang kaya, kecuali bagi lima (kelompok): (pertama) orang kaya yang menjadi amil zakat, (kedua) orang kaya yang membeli barang zakat dengan harta pribadinya, (ketiga) orang yang berutang; (keempat) orang kaya yang ikut berperang di jalan Allah, (kelima) orang miskin  yang mendapat bagian zakat, lalu dihadiahkannya kembali kepada orang kaya,”

 (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 7250, ‘Aunul Ma’bud V : 44 no : 1619, dan Ibnu Majah I: 590 no :1841). Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 439 – 448.

KRITERIA BUKAN PENERIMA ZAKAT

Golongan Yang Haram Menerima Zakat

Ada beberpa golongan yang tidak berhak (haram) menerima zakat dan tidak shah zakat jika diserahkan kepada mereka, antara lain sebagai berikut:

  1. Orang kafir atau musyrik (kecuali yang masuk dalam koridor asnaf 8)
  2. Orang tua dan anak termasuk ayah, ibu, kakek, nenek, anak kandung dan cucu laki-laki dan perempuan Istri, karena nafkahnya wajib bagi suami
  3. Orang kaya dan orang yang memiliki pekerjaaan dengan gaji kecukupan

Dari Abdullah Ibnu Umar bin al-Ash r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Zakat tidak halal bagi orang yang kaya dan tidak (pula) bagi orang yang sehat dan kuat,” 

(Shahih : Shahihul Jami’ no: 7251, Tirmidzi II: 81 no: 647, ‘Aunul Ma’bud V:42 no:1618, dan Abu Hurairah meriwayatkannya lihat Ibnu Majah I:589 no: 1839 dan Nasa’i V:39).

  1. Keluarga Rasulullah saw yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Berdasarkan hadist yang diriwayatkan dari Abdul Muttalib bin Rabiah bin Harks, sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya shadaqah (zakat) itu adalah kotoran manusia, sesungguhnya ia tidak halal (haram) bagi Muhammad dan bagi sanak keluarganya. (HR Muslim)

BENTUK ZAKAT DAN BESARAN

zakatberas

  1. ZAKAT FITRAH

Individu wajib mengeluarkan zakat fitrah sebesar setengah sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ kismis, atau satu sha’ gandum (jenis lain) atau satu sha’ susu kering, atau yang semisal dengan itu yang termasuk makanan pokok, misalnya beras, jagung dan semisalnya yang termasuk makanan pokok. Di Indonesia telah disepakati ulama bahwa besaran zakat fitrah adalah 2.5 Kg/jiwa atau 3.5 liter beras.

(Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III:371 no: 1506, Muslim II:678 no:985, Tirmizi II: 91 no :668, ‘Aunul Ma’bud V:13 no:1601, Nasa’i  V:51 dan Ibnu Majah I:585 no:1829).

Bolehkah mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang, bukan beras?
Di kalangan ulama terjadi perbedaan pendapat mengenai boleh tidaknya. Salah satu ulama yang membolehkannya adalah Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Beliu beralasan karena pada zaman Nabi tidak semua orang dapat memiliki dinar, sekalipun mempunyai bahan pokok di rumahnya, karena keadaan waktu itu. Bahkan akses mereka untuk memperoleh bahan pokok jauh lebih mudah kala itu.  Dengan demikian, perintah Rasulullah untuk mengeluarkan zakat dengan bahan pokok waktu itu adalah sebuah kemaslahatan bagi umatnya, sehingga jika sekarang dikeluarkan pendapat bolehnya dengan dengan uang juga karena alasan kemaslahatan dimana uang jauh lebih mudah diperoleh, terlebih lagi di akhir bulan Ramadhan karena melonjaknya permintaan menyebabkan bahan pokok menjadi tidak mudah didapatkan.

JALAN TENGAH CARA ZAKAT FITRAH DENGAN UANG

Dengan berbagai ikhtilaf di kalangan ulama maka lebih lanjut al-fakir Kyai Syamsuddin memberikan jalan tengahnya secara bijak, yakni bagaimana cara membayar zakat dengan uang namun tidak keluar dari rel syareat. Adalah sebagai berikut ;

  1. Muzaki menuju ke tempat orang yang akan diberi zakatnya, kemudian menyampaikan maksudnya bahwa akan memberi zakat dengan uang,
  2. Kemudian muzaki terlebih dahulu melafazkan itiqod niat dihadapan mustahik tersebut begini : “Baca basmallah, lalu mengucapkan niat : “Niat ingsun tumbas uwos kangge mitrahi badan kulo lan keluarga kulo, lillahi ta’ala’/NIAT SAYA MEMBELI BERAS UNTUK FITRAHI DIRI SAYA, KELUARGA SAYA KARENA ALLAH TA’ALA.

(maka seyogyanya pihak mustahik sebelumnya telah menyanding/menyiapkan sekantong beras 2.5 kg/secukupnya sebagai simbolis akad dan uang yang untuk zakatnya diletakan diatas beras tersebut/serahkan pada mustahiknya)

  1. Setelah itu muzaki barulah meniatkan membayar zakat fitrahnya dihadapan mustahiknya. (untuk lebih afdhol si muzaki melafazkan niat zakat fitrahny sambil menyentuh beras simbolis tersebut).

Demikianlah cara bijak membayar zakat fitrah dengan uang tanpa ragu ragu, sebab sesungguhnya syareat islam sangat luwes tak perlu bersempit pikir dalam memaknai perbedaan kaul/pendapat para ulama besar. Sebab sabda Rasulullah SAW mengatakan bahwa “Ikhtilaf (perbedaan pendapat) ditengah umatku adalah rahmat”. Maka janganlah kita ngotot ngototan dalil secara sempit untuk mencari pembenaran atau memaksa orang untuk menuruti pemahaman diri sendiri.

Menghitung zakat fitrah –

Adapun nilainya, maka dihitung dari harga beras sebanyak 2,5 kg dari yang biasa dikomsumsi setiap hari. Misalnya saja harga beras per kg adalah Rp. 10.000 maka zakat yang harus dikeluarkan adalah Rp. 25.000 per orang. Jika ada 5 orang dalam satu keluarga, termasuk ayah, ibu dan anak yang masih kecil, maka wajib mengeluarkan Rp. 125.000.

Batasan Orang yang Wajib Menunaikan Zakat Fitrah :

Ulama berbeda pendapat tentang batasan orang yang wajib menunaikan zakat fitrah.

  1. Orang yang berkewajiban membayar zakat fitrah adalah mereka yang memiliki harta satu nishab, sebagaimana zakat mal. Ini adalah pendapat ulama Kufah.
  2. Orang yang wajib membayar zakat fitrah adalah mereka yang memiliki kelebihan makanan di luar kebutuhannya ketika hari raya, sekalipun dia tidak memiliki kelebihan harta lainnya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, diantaranya Az-Zuhri, As-Sya’bi, Ibnu Sirrin, Ibnul Mubarok, Imam As-Syafii, Imam Ahmad dan yang lainnya. (Ma’alim As-Sunan karya Al-Khithabi, 2/49).

Selanjutnya Al-Khithabi mengutip keterangan Imam As-Syafii, yang menjelaskan,

إذا فضل عن قوت المرء وقوت أهله مقدار ما يؤدي عن زكاة الفطر وجبت عليه

“Apabila makanan seseorang melebihi kebutuhan dirinya dan keluarganya, seukuran untuk membayar zakat fitrah, maka dia wajib mengeluarkan zakatnya.” (Ma’alim As-Sunan karya Al-Khithabi, 2/49).

Diantara dalil yang menguatkan pendapat mayoritas ulama adalah hadis dari Ibn Umar radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, kepada setiap budak atau orang merdeka, laki-laki atau wanita, anak maupun dewasa, dari kalangan kaum muslimin. (HR. Bukhari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah kepada seluruh kaum muslimin, tanpa pandang status. Baik kaya maupun miskin, lelaki maupun wanita. dan mereka yang sama sekali tidak memiliki harta, zakat fitrahnya ditanggung oleh orang yang menanggung nafkahnya.

Sebagai contoh untuk memperjelas keterangan di atas, misalnya si A memiliki 1 istri dan 5 anak. Malam hari raya, si A hanya memiliki beras ‘raskin’ 10 kg dan uang Rp 20 ribu. Apakah si A wajib membayar zakat fitrah?

Analisis:

Contoh, kebutuhan si A dan keluarga dalam sehari menghabiskan 3 Kg beras + lauk pauk senilai 15 ribu. Itu artinya, si A pada saat hari raya memiliki sisa beras 7 kg, dan uang Rp. 5 ribu.

Berdasarkan pendapat mayoritas ulama dan keterangan As-Syafii, si A tetap wajib zakat. Karena si A memiliki sisa makanan yang cukup untuk dirinya dan keluarganya pada saat hari raya. Beras 7 kg sisa di tangan si A, harus dibayarkan untuk zakat fitrah untuk dirinya dan keluarganya.

KEWAJIBAN ZAKAT LAIN DILUAR ZAKAT FITRAH (Zakat Maal)

Aturan zakat fitrah berbeda dengan aturan zakat mal. Sebagaimana aturan zakat mal juga berbeda dengan aturan zakat pertanian atau zakat hewan ternak. Karena itu, kita tidak mengqiyaskan (menyamakan) aturan zakat fitrah dengan aturan yang berlaku pada zakat mal atau zakat pertanian.

Pada aturan zakat mal, orang yang wajib menunaikan zakat adalah mereka yang memiliki harta satu nishab, tabungan senilai 85 gr emas (sekitar Rp 50 juta) dan telah tersimpan selama setahun. Dengan kata lain, orang yang berkewajiban menunaikan zakat mal hanya orang yang mamp/kaya.

Maka kesimpulannya adalah bahwa Zakat secara umum diwajibkan atas setiap muslim yang merdeka dan memiliki harta benda yang sudah memenuhi nishab dan telah melewati satu tahun (haul ialah putaran setahun bagi harta yang wajib dikeluarkan zakatnya,  kecuali tanaman, harus dikeluarkan zakatnya pada waktu panennya, bila sudah memenuhi nishabnya (Batas minimal jumlah harta yang dikenai wajib zakat) Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT, “Dan Keluarkanlah zakatnya pada hari panennya.” (QS.Al-An’am:141)

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 419 – 426

Berikut yang wajib dikeluarkan zakatnya yang lain ialah emas dan perak, tanaman, buah-buahan, binatang ternak, dan harta rikaz.

emasperak

  1. Zakat Emas dan Perak
  1. .1.Nishab dan besarnya zakat

Nishab emas adalah dua puluh dinar, dan nishab perak dua ratus Dirham, sedangkan besar zakat keduanya adalah 2 ½ %, sebagaimana yang ditegaskan dalam riwayat berikut.

Dari Ali bin Abi Thalib r.a. dari Nabi saw. bersabda, “Jika kamu memiliki dua ratus dirham dan sudah sampai haul, maka zakatnya lima dirham, dan kamu tidak wajib mengeluarkan zakat yaitu dari emas sebelum kamu memiliki dua puluh dinar. Jika kamu memiliki dua puluh dinar dan sudah sampai haul, maka zakatnya ½ saw. dinar.” (Shahih: Shahih Abu Daud no: 1319, dan ‘Aunul Ma’bud IV: 447 no: 1558).

  1. Zakat Perhiasan

Zakat perhiasan adalah wajib berdasar keumuman ayat dan hadits-hadits; dan orang yang mengeluarkannya dari keumuman tersebut sama sekali tidak memiliki alasan yang kuat, bahkan  banyak nash-nash yang bersifat khusus yang bertalian dengan zakat perhiasan ini, di antaranya :

Dari Ummu Salamah r.a. berkata; Saya pernah memakai kalung emas. Kemudian saya bertanya, “Ya Rasulullah, apakah ini termasuk simpanan (yang terlarang)?” Maka jawab beliau, “Apa-apa yang sudah mencapai wajib zakat, lalu telah dizakati maka dia tidak termasuk (dinamakan) simpanan (yang terlarang).”

(Hasan: Shahihul Jami’us Shaghir no:5582, As Shahihah no:559, ‘Aunul Ma’bud IV:426 no: 1549, dan Daruquthni II: 105).

Dari Aisyah r.a. ia berkata, (Pada suatu hari) Rasulullah saw. mendatangiku, lalu melihat beberapa cincin perak, dijariku, kemudian beliau bertanya, “Apa itu, wahai Aisyah?” Saya jawab, “Saya buat cincin ini sebagai perhiasan di hadapanmu, ya Rasulullah.” Sabda beliau, “Apakah engkau sudah mengeluarkan zakatnya?” Jawab saya, “Belum, atau ‘masya Allah” Rasulullah menjawab selanjutnya, “Cukuplah dia yang dapat menjerumuskanmu ke neraka.” 

(Shahih: Shahih Abu Daud no: 1384, ‘Aunul Ma’bud IV: 427 no: 1550, dan Daruquthni II: 105).

2.Zakat Tanaman dan Buah-buahan :

Dalam hal ini Allah SWT berfirman, “Dan Dialah yang telah menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanaman-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun, dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu), bila dia telah berbuah dan tunaikanlah haknya di hari (panen), memetik hasilnya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”  (Al-An’am:141).

  1. Tanaman-tanaman dan buah-buahan yang terkena wajib zakat hanya ada empat macam. Berdasar hadits dari Abi Burdah dari Abu Musa dan Mu’adz r.a. bahwa Rasulullah saw. pernah mengutus keduanya ke Yaman menjadi da’i di sana, lalu beliau memerintah mereka agar tidak memungut zakat, kecuali dari empat macam ini: gandum sya’ir (sejenis gandum lain), kurma kering, dan anggur kering.” (Shahih: ash-Shahihah no: 879, Mustadrak Hakim I:401, dan Baihaqi IV:125).
  2. Nishabnya: Tanaman dan buah-buahan yang terkena wajib zakat disyaratkan sudah memenuhi nishab yang disebutkan dalam hadits ini.

Dari Abu Sa’id al-Khudri  r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,“Tidak ada zakat pada unta yang kurang dari lima ekor, tidak ada zakat pada perak yang kurang dari lima uqiyah”. 

(Ibnu Hajar berkata, “Kadar satu uqiyah yang dimaksud dalam hal ini ialah empat puluh Dirham dari perak murni, demikian menurut kesepakatan para ulama’) dan tidak ada zakat pada buah-buahan yang kurang dari lima wasaq.” (Lima wasaq ialah enam puluh sha’, menurut ittifaq para ulama’),

Fathul Bari III:364). (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III: 310 no: 1447 dan lafadz ini baginya, Muslim II: 673 no:979, Tirimidzi II:69 no: 622, Nasa’i. V:17 dan Ibnu Majah I: 571 no:1793).

  1. Besar zakat yang wajib dikeluarkan :

Dari Jabir r.a. dari Nabi saw. bersabda, “Tanaman yang dapat air dari sungai dan dari hujan, zakatnya 10%, sedangkan yang diairi dengan bantuan binatang ternak 5%.”

(Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:4271 Muslim II:675 no:981 dan lafadz ini baginya, ‘Aunul Ma’bud IV:486 no:1582, dan Nasa’i V:42).

Dari Ibnu Umar r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, “Tanaman yang diairi oleh hujan, atau oleh mata air, atau merupakan rawa, zakatnya sepersepuluh, dan yang diairi dengan bantuan binatang zakatnya seperduapuluh.”

(Shahih: Shahihhul Jami’us Shaghir no: 427, Fathul Bari III: 347 no: 148333 dan lafadz ini baginya, ‘Aunul Ma’bud IV:485 no:1581, Tirmidzi II:76 no: 635, Nasa’i IV:41 dan Ibnu Majah I: 1817).

  1. Penentuan besar nishab dan zakat untuk kurma dan anggur secara taksiran :

Dari Abu Humaid as-Sa’idi r.a. ia bertutur : “Kami pernah ikut perang Tabuk bersama Rasulullah saw., tatkala sampai di Wadil Qura, tiba-tiba ada seorang perempuan pemilik kebun tanga berada di kebunnya, lalu beliau bersabda kepada para sahabatnya, “Coba kalian taksir (berapa besar zakat kebun ini!” Rasulullah saw. (sendiri) menaksir (besar zakatnya) 10 wasaq. Kemudian Rasulullah bersabda kepada perempuan pemilik kebun itu, “Coba kau hitung (lagi) berapa zakat yang harus dikeluarkan darinya!” Tatkala Rasulullah saw. datang (lagi) ke Wadil Qura, Rasulullah bertanya kepada perempuan itu, “Berapa besar zakat yang dikeluarkan dari kebunmu itu?” Jawabnya, “10 wasaq sebagaimana yang diprediksi oleh Rasulullah SAW.”

(Shahih: Shahih Abu Daud no: 2644, dan Fathul Bari III: 343 no: 1481).

Dari Aisyah r.a. ia bercerita, “Adalah Rasulullah saw. pernah mengutus Abdullah bin Rawahah r.a. untuk menaksir kurma waktu sudah tua sebelum dimakan. Kemudian agar memberi pilihan kepada orang-orang Yahudi, antara para amil zakat memungutnya dengan taksiran itu, dengan mereka menyerahkan hasilnya kepada para amil agar dihitung zakatnya sebelum dimakan dan dipisahkan hasilnya.” (Hasan Lighairihi: Irwa-ul Ghalil  no: 805 dan ‘Aunul Ma’bud IX: 276 : 3396).

3.Zakat Binatang Ternak :

Binatang ternak yang dimaksud disini terdiri atas unta, sapi, dan kambing.

  1. Zakat unta (penjabaran ada di kitab pustaka)
  2. Nishab dan besar zakat sapi

Dari Mu’adz bin Jabal r.a. ia berkata, “Aku pernah diutus oleh Rasulullah saw. ke negeri Yaman dan diperintahkan olehnya untuk memungut zakat sapi, dari setiap empat puluh ekor, zakatnya satu ekor sapi betina yang berumur dua tahun, dan dari tiap tiga puluh ekor, zakatnya satu ekor sapi jantan atau betina yang berumur setahun.”

(Shahih : Shahih Abu Daud no: 1394, Tirmidzi II :68 no: 619, ‘Aunul Ma’bud IV:475  no: 1561, Nasa’i  V:26, dan Ibnu Majah I:576 no:1803 dan lafadz ini terekam dalam Sunan Ibnu Majah; di selainnya terdapat tambahan di bagian akhir).

  1. Nishab dan besar zakat kambing :

Dari Anas r.a. bahwa Abu Bakar r.a. pernah menulis sepucuk surat kepadanya perihal penjelasan zakat wajib yang Allah perintahkan kepada Rasul-Nya (dalam hal zakat kambing yang isinya sebagai berikut), “Kambing yang digembalakan, bila jumlah mencapai empat puluh ekor sampai dengan seratus dua puluh ekor, zakatnya seekor kambing. Jika mencapai seratus dua puluh satu ekor sampai dengan dua ratus ekor, zakatnya dua ekor kambing. Jika sudah mencapai dua ratus lebih sampai dengan tiga ratus, maka zakatnya tiga ekor. Jika sudah mencapai tiga ratus lebih, maka dalam setiap seratus ekor, zakatnya seekor kambing. Manakala kambing yang mencuri makan sendiri itu kurang dari empat puluh ekor, maka pemiliknya tidak wajib mengeluarkan zakat, kecuali kalau ia mau (mengeluarkan sedekah sunnah).”

(Shahih : Shahih Abu Daud no: 1385, Fathul Bari III:317 no: 1454 dan III:316 no: 1453, ‘Aunul Ma’bud IV:431 no: 1552, dan Nasa’i  V:18, Ibnu Majah I:575 no:1800).

  1. Syarat-syarat wajibnya zakat pada binatang ternak :
  2. Mencapai nishab,
  3. Sudah berlalu satu tahun.

Rasulullah saw. bersabda, “Tiada zakat bagi harta benda yang belum mencapai haul (satu tahun).”

(Shahih : Shahihul Jami’ no: 7479, Ibnu Majah I: 571 no: 1792, Daruquthni II: 90 no: 3 dan Baihaqi IV:103).

  1. Hendaknya ternak yang digembalakan di padang rumput yang memang bebas dimanfa’atkan oleh siapa saja, selama setahun (atau lebih dari enam bulan). Ini didasarkan pada sabda Nabi saw. yang artinya,“Kambing yang digembalakan, bila jumlahnya mencapai empat puluh ekor sampai dengan seratus dua puluh, maka zakatnya seekor kambing.” (Hadits ini merupakan bagian dari hadits yang berisi surat Abu Bakar kepada Anas, yang telah dimuat pada beberapa halaman sebelumnya).

Dan Rasulullah saw. juga bersabda yang artinya, “Dalam setiap unta yang cari makan sendiri, yaitu pada setiap empat puluh ekor, zakatnya seekor unta anak betina yang berumur dua tahun masuk tahun ketiga.”

 (Hasan : Shahihul Jami’us Shaghir no: 4265, ‘Aunul Ma’bud IV:452 no: 1560, Nasa’i V:25, dan al-Fathur Rabbani VIII:217 no:28).

  1. Harta yang tidak dipungut zakatnya :

Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw. tatkala mengutus Mu’adz ke negeri Yaman berwasiat kepadanya, “(Wahai Mu’adz), janganlah kamu memungut zakat dari harta benda mereka yang dianggap mulia (oleh mereka),” (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III : 357 no: 1496, Muslim I:50 no19, Tirmidzi II:69 no: 261 dan ‘Aunul Ma’bud IV:467 no: 1569, serta Nasa’i V: 55).

Dari Anas r.a. bahwa Abu Bakar saw. pernah menulis surat kepadanya (tentang penjelasan) zakat fardhu, yang Allah perintahkan kepada Rasul-Nya (yang diantara isinya), “Janganlah dikeluarkan zakat berupa binatang yang sudah tua, juga yang cacat dan jangan (pula) yang jantan, kecuali jika dikehendaki oleh orang yang mengeluarkan zakat itu.” (Imam pencatat hadits ini sama dengan riwayat Anas r.a.).

  1. Hukum ternak yang bercampur :

Apabila ada dua orang atau lebih yang mengadakan serikat dari orang-orang yang terkena wajib zakat, sehingga bagian seorang diantara keduanya tidak dapat dipisahkan / dibedakan dari bagian yang lain, maka cukup bagi mereka untuk mengeluarkan zakat seperti untuk satu orang. Sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits berikut.

Dari Anas r.a. bahwa Abu Bakar pernah menulis sepucuk surat kepadanya (tentang penjelasan) zakat fardhu yang telah Allah perintah kepada Rasul-Nya (diantara isinya ialah),

“Tidaklah dikumpulkan antara harta yang terpisah, dan tiada pula dipisahkan antara harta yang terkumpul, karena khawatir mengeluarkan zakatnya. Dan manakala ada dua pencampur ternak, maka keduanya kembali sama-sama berzakat.” (Imam pencatat hadits ini sama dengan riwayat Anas ra).

4.Zakat Barang Galian

Rikaz, barang galian ialah harta karun yang didapat tanpa niat mencari harta terpendam dan tidak perlu bersusah payah.

Zakat dari rikaz ini harus segera dikeluarkan, tanpa dipersyaratkan haul (melewati setahun) dan tidak pula nishab. Berdasarkan keumuman sabda Nabi saw., “Dalam barang rikaz itu ada zakat (yang harus dikeluarkan) sebanyak seperlima bagian (20%).”

(Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari III:364 no:1499, Muslim III:1334 no:1710, Tirmidzi II:77 no:637, Nasa’i  IV:45 dan Ibnu Majah II:839 no:2509 serta ‘Aunul Ma’bud VIII:341 no:3069. Dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan dengan panjang lebar, namun dalam riwayat selain keduanya hanya kalimat tersebut).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 426 – 438.

TATA CARA BERZAKAT

Niat zakat:

Setiap perbuatan harus didahulukan dengan niat. Begitu pula zakat harus diniati ketika akan mengeluarkannya/melaksanakannya. Niat dapat dilafazkan dirumah saat ba’da terbenam matahari malam hari raya dengan menyentuh/menyanding barang yang akan dizakatkan, kemudian dapat diserahkan kepada yang akan dituju saat ba’da maghrib atau esok hari sebelum shalat ied (untuk zakat fitrah) tanpa melafazkan niat lagi, atau niat sekalian menyerahkan zakatnya juga boleh. Berikut tata caranya :

  1. Dahulukan mengucapkan ta’awudz dan basmallah
  2. Bacaan Doa Niat Zakat Fitrah untuk diri sendiri dan keluarga :

niat1

“Nawaitu an uhrija zakatal fitri ‘anna wa ‘an jami’i maa yaddzamuni nafqutuhum syar’an fardzo lillahi ta’ala”.

Artinya : ” Saya niat mengeluarkan zakat atas diri saya dan atas sekalian yang saya wajibkan memberi nafkah pada mereka secara syari’at, fardhu karena Allah ta’ala”.

3.Bacaan Doa Niat Zakat Fitrah untuk diri sendiri :

niatzakat2

“Nawaitu an ahroja zakat fitri annafsi fardholillahi ta’ala”

Artinya : “saya berniat mengeluarkan zakat fitrah atas diri sendiri saya sendiri, fardhu karna Allah Ta’ala.

4.Bacaan Doa Niat Zakat Fitrah untuk istri 

niat-zakat-fitrah-istri

 “Nawaitu an-uhrizakat fitri an zaw jati fardzolillahita ‘ala”.

Artinya : “Saya berniat mengeluarkan zakat fitrah atas istri saya, fardhu karena Allah Ta’ala.

5.Bacaan Doa Niat Zakat Fitrah untuk anak laki-laki kita :

niatzakat3

“Nawaitu an uhrija zakat fitri ‘an waladi (…..) fardzolillahi ta’ala”.

Artinya : “Saya berniat mengeluarkan zakat fitrah atas anak laki-laki saya (sebut namanya) fardhu karena Allah Ta’ala”.

6.Bacaan Doa Niat Zakat Fitrah untuk anak perempuan kita :

niatzakat4

“Nawaitu an uhrija zakat fitri ambinti (…….) fardzolillahita’ala”.

Artinya : “Saya berniat mengeluarkan zakat fitrah atas anak perempuan saya (sebut namanya), fardhu karena Allah ta’ala”.

7.Bacaan Doa Niat Membayar dan Menerima Zakat Fitrah :

Dalam melakukan zakat fitrah terdapat serah terima antara pemberi dan penerima zakat yang disertai dengan doa kedua belah pihak antara lain sebagai berikut :

A.Bacaan Doa Membayar Zakat Fitrah

doabayarzakat

Allahumma j’alhaa maghnaman, walaa taj’alhaa maghraman”.

Artinya : “Ya Allah jadikanlah ia sebagai simpanan yang menguntungkan dan jangan jadikanlah ia pemberian yang merugikan”.

B.Bacaan Doa Menerima Zakat Fitrah 

doa trima zakat

“AAJAROKALLAAHU FIIMAA A’THOITA WABAAROKA FIIMAA ABQOITA WAJA’ALAHU LAKA THOHUURON”.

Artinya : Semoga Allah memberi pahala atas apa yang telah kau berikan, menjadikannya penyuci (jiwa dan harta) untukmu, dan melimpahkan berkah terhadap harta yang tersisa”.

BABUL ‘AWAMIL FIZZAKATI

amilzakat

  1. PENGELOLAAN ZAKAT OLEH ‘AMIL BERWENANG

(‘Amil yang sebenarnya adalah bukan petugas yang dibentuk secara situasional oleh pengurus lokal mesjid untuk membagi bagikan zakat di tengah masyarakat, itu bukan amil secara syar’i tetapi merupakan panitia lokal temporer/wakil dari muzaki).

“Wal’amilu huwa man yab’atsuhu al imamu la akhdi zakati kasya’i wal hasyiri wal qashimi walkatibi wal hashibi wal hafidzi waghoiri dalika wa izadu fihim biqadril hajati a’wajuhum fi ‘aunil ‘ariif”.

Yang namanya ‘amil adalah kelompok orang petugas yang diutus/ditunjuk oleh pemuka Islam/penguasa resmi / presiden (pemerintah) untuk bertugas mengumpulkan zakat kemudian membagikannya kepada mustahik.

  1. HUKUM MEMBENTUK ‘AMIL

Dalil mu’tamad dari para ulama :

“Waqolaa ba’duhum lahu shorfu zakatihi fi ayyi mahaalin fahshushun wahual mu’tamal”.(Reff:Babul Ikhtilafi Qishmizzakati-Kyai Syamsuddin-shahifah 50).

Hukum dasar melaksanakan mengeluarkan zakat adalah individual, artinya setiap jiwa wajib zakat bebas menyerahkan sendiri / langsung kepada mustahik baik pada tetangga maupun saudaranya sendiri yang masuk dalam katagori penerima.

Oleh karena itu membentuk ‘Amil/panitia pengumpul zakat hukumnya tidak wajib, kecuali karena lingkup suatu negeri serta keadaan kebutuhan masyarakatnya yang memang mengharuskannya.

Selama ini banyak terjadi salah paham atau pemahaman yang salah kaprah ditengah masyarakat/umat tentang pengertian ‘Amil zakat. Pembentukan ‘Amil Zakat hukumnya diangkat oleh otoritas penguasa muslim/Imam besar/pemerintah.

  1. Pengertian ‘Amil, SKOUP dan WEWENANG
  1. Pengertian Amil

Amil merupakan pihak yang bertindak mengerjakan yang berkaitan dengan pengumpulan, penyimpanan, penjagaan, pencatatan dan penyaluran atau distribusi harta zakat. Mereka diangkat oleh penguasa (pemerintah) dan memperoleh izin darinya atau dipilih oleh instansi pemerintah yang berwenang atau oleh masyarakat Islam untuk memungut dan membagikan serta tugas lain yang berhubungan dengan zakat.

خُذْ مِنْ أموالهم صَدَقَةً

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka” (QS at Taubah:103).
Sehingga dengan kalimat “Ambillah” pada ayat di atas adalah dalil tegas yang menunjukkan bahwa penguasalah yang memiliki kewenangan untuk mengambil harta zakat. Sebab tidak mungkin masyarakat umum yang akan mengambilnya secara liar. Kemudian penegasannya lagi bahwa ayat ini turun ketika Islam telah memiliki pemerintahan solid di bawah kepemimpinan (Presiden) Rasulullah SAW.

Berikut berbagai fatwa ulama :

  1. H. D Hafidhuddin-Indonesia mengatakan bahwa amil zakat adalah “mereka yang melaksanakan segala kegiatan yang berkaitan dengan urusan zakat, mulai dari proses penghimpunan, penjagaan, pemeliharaan, sampai proses pendistribusiannya, serta tugas pencatatan masuk dan keluarnya dana zakat tersebut.”[1]
  1. Abu Bakar al-Hushaini di dalam Kifayat al-Akhyar, mengatakan bahwa Amil Zakat adalah “orang yang mendapatkan tugas dari negara, organisasi, lembaga atau yayasan untuk mengurusi zakat. Atas kerjanya tersebut seorang amil zakat berhak mendapatkan jatah dari uang zakat. “Amil Zakat adalah orang yang ditugaskan pemimpin negara untuk mengambil zakat kemudian disalurkan kepada yang berhak, sebagaimana yang diperintahkan Allah.“[2]

Dasar  hak amil dalam pembagian zakat adalah firman Allah :

Artinya   : “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. at-Taubah : 60).[3]

Ayat ini dengan jelas menggunakan kata “innama” yang memberi makna hashr (pembatasan). Ini menunjukkan bahwa zakat hanya diberikan untuk delapan golongan tersebut, tidak untuk yang lainnya. Yang dimaksudkan amil zakat di sini menurut tafsiran para ulama adalah adalah “orang yang bertugas mengurus zakat dan ia mendapat bagian dari zakat tersebut dan tidak boleh amil zakat ini berasal dari kerabat (keluarga) Rasulullah SAW yang tidak diperkenankan menerima sedekah.” [4]

Namun sebenarnya tidak sesederhana seperti yang diterangkan di atas. Amil zakat harus memenuhi beberapa syarat sebagaimana keterangan para ulama di bawah ini.

  1. Sayyid Sabiq mengatakan, “Amil zakat adalah orang-orang yang diangkat oleh penguasa atau wakil penguasa untuk bekerja mengumpulkan zakat dari orang-orang kaya. Termasuk amil zakat adalah “orang yang bertugas menjaga harta zakat, penggembala hewan ternak zakat dan juru tulis yang bekerja di kantor amil zakat.”[5)
  1. ‘Adil bin Yusuf Al ‘Azazi berkata, “Yang dimaksud dengan amil zakat adalah “para petugas yang dikirim oleh penguasa untuk mengumpulkan zakat dari orang-orang yang berkewajiban membayar zakat. Demikian pula termasuk amil adalah orang-orang yang menjaga harta zakat serta orang-orang yang membagi dan mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Mereka itulah yang berhak diberi zakat meski sebenarnya mereka adalah orang-orang yang kaya.”[6]
  1. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Amil zakat adalah “orang-orang yang diangkat oleh penguasa untuk mengambil zakat dari orang-orang yang berkewajiban untuk menunaikannya lalu menjaga dan mendistribusikannya. Mereka diberi zakat sesuai dengan kadar kerja mereka meski mereka sebenarnya adalah orang-orang kaya.”[7]

Sedangkan orang biasa yang menjadi wakil orang yang berzakat untuk mendistribusikan zakatnya bukanlah termasuk amil zakat. Sehingga mereka tidak berhak mendapatkan harta zakat sedikitpun disebabkan status mereka sebagai wakil. Akan tetapi jika mereka dengan penuh kerelaan hati mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan penuh amanah dan kesungguhan maka mereka turut mendapatkan pahala. Namun jika mereka meminta upah karena telah mendistribusikan zakat maka orang yang berzakat berkewajiban memberinya upah dari hartanya yang lain bukan dari zakat.

Dengan demikian, orang yang diberi zakat dan diminta untuk membagikan kepada yang berhak menerimanya, ia tidak disebut ‘amil. Bahkan statusnya hanyalah sebagai wakil atau orang yang diberi upah. Perbedaan antara amil dan wakil begitu jelas. Jika harta zakat itu rusak di tangan amil, maka si muzakki (orang yang menunaikan zakat) gugur kewajibannya. Sedangkan jika harta zakat rusak di tangan wakil yang bertugas membagi zakat (tanpa kecerobohannya), maka si muzakki belum gugur kewajibannya.”[8]

Berdasarkan paparan di atas jelaslah bahwa syarat agar bisa disebut sebagai ‘amil zakat adalah:

(1) Diangkat dan

(2) Diberi otoritas (kuasa) oleh penguasa muslim/pemerintah untuk mengambil zakat dan mendistribusikannya.

Sehingga panitia-panitia zakat yang ada di berbagai masjid serta orang-orang yang mengangkat dirinya sebagai amil bukanlah amil secara syar’i. Hal ini sesuai dengan istilah ‘amil karena yang disebut ‘amil adalah pekerja yang dipekerjakan oleh pihak tertentu serta memiliki otoritas untuk mengambil dan mengumpulkan zakat adalah sebuah keniscayaan bagi ‘amil karena ‘amil memiliki kewajiban untuk mengambil zakat secara paksa dari orang-orang yang menolak untuk membayar zakat.

Namun demikian, tidaklah tepat menyatakan takmir (pengurus) masjid sebagai ‘amil zakat, yang tepat mereka adalah wakil dari muzakki sebagaimana keterangan para ulama di atas. Sehingga mereka tidak boleh seenaknya memotong atau mengambil bagian dari zakat dari para muzakki. Jika mereka memotongnya, itu sama saja memakan harta orang dengan cara yang batil. Jadi hanya sekedar menyalurkan dan pekerjaan mereka bersifat sosial. Untuk itu, perlu diberikan upah, tidak diambil dari harta zakat namun dari dana lainnya.

2.Fungsi Amil

Sesuai dengan namanya, profesi utama amil zakat adalah berfungsi sebagai pengurus zakat. Jika dia memiliki pekerjaan lain, maka dianggap pekerjaan sampingan atau sambilan yang tidak boleh mengalahkan pekerjaan utamanya yaitu ‘amil zakat. Karena waktu dan potensi, serta tenaganya dicurahkan untuk mengurusi zakat tersebut, maka dia berhak mendapatkan bagian dari zakat.

Adapun jika dia mempunyai profesi tertentu, seperti dokter, guru, direktur perusahaan, pengacara, pedagang, yang sehari-harinya bekerja dengan profesi tersebut, kemudian jika ada waktu, dia ikut membantu mengurusi zakat, maka orang seperti ini tidak dinamakan ‘amil zakat, kecuali jika dia telah mendapatkan tugas secara resmi dari Negara atau lembaga untuk mengurusi zakat sesuai dengan aturan yang berlaku. “Bahkan jika ada gubernur, bupati, camat, lurah yang ditugaskan oleh pemimpin Negara untuk mengurusi zakat, diapun tidak berhak mengambil bagian dari zakat, karena dia sudah mendapatkan gaji dari kas Negara sesuai dengan jabatannya.”[9]

Dasar pengangkatan ‘amil zakat ini adalah hadits Abu Humaid as-Sa’idi :

Dari Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu berkata : Nabi shallallahu a’laihi wasallam memperkerjakan seorang laki-laki dari suku al-Azdi yang bernama Ibnu Lutbiah sebagai pemungut zakat. Ketika datang dari tugasnya, dia berkata: “Ini untuk kalian sebagai zakat dan ini dihadiahkan untukku”. Beliau bersabda : “Cobalah dia duduk saja di rumah ayahnya atau ibunya, dan menunggu apakah akan ada yang memberikan kepadanya hadiah? Dan demi Dzat yag jiwaku di tangan-Nya, tidak seorangpun yang mengambil sesuatu dari zakat ini, kecuali dia akan datang pada hari qiyamat dengan dipikulkan di atas lehernya berupa unta yang berteriak, atau sapi yang melembuh atau kambing yang mengembik”. Kemudian beliau mengangkat tangan-nya,  sehingga terlihat oleh kami ketiak beliau yang putih dan (berkata,): “Ya Allah bukan kah aku sudah sampaikan, bukankah aku sudah sampaikan”, sebanyak tiga kali. [10]

Berdasarkan hadist di atas, amil zakat ini harus diangkat secara resmi oleh Negara,  organisasi, lembaga, yayasan. Tidak boleh sembarang bekerja secara serabutan dan tanpa pengawasan.

Tugas ‘Amil sebagai berikut :

  1. Membuat rencana kerja
  2. Melaksanakan operasional pengelolaan zakat sesuai rencana kerja yang telah disahkan dan sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan.
  3. Menyusun laporan tahunan
  4. Menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada pemerintah
  5. Bertindak dan bertanggungjawab atas nama Badan Amil Zakat.[11]

Salah satu tugas penting lain dari lembaga pengelola zakat adalah melakukan sosialisasi tentang zakat kepada masyarakat secara terus-menerus dan berkesinambungan, melalui berbagai forum dan media, seperti khutbah jum’at, majelis tak’lim, seminar, diskusi dan lokakarya, melalui media surat kabar, majalah, radio, internet maupun televisi. Dengan sosialisasi yang baik dan optimal, diharapkan masyarakat muzakki akan semakin sadar untuk membayar zakat melalui lembaga zakat yang kuat, amanah dan terpercaya.

4.LINGKUP/WEWENANG ‘AMIL DALAM MENARIK ZAKAT

baznas

“Walau farroqul malikazzakati shaqoto shahmul ‘amil”. (Fathul mu’in-shahifah 53)

“Ketika telah memisahkan siapa orang (orang yang berzakat) atas zakatnya, maka gugurlah bagian (wewenang) ‘amil”.

Maksud dalil ini adalah :

Ketika seseorang telah berniat mengeluarkan zakatnya kemudian telah menujukan/memisah misahkan barang zakat tersebut untuk orang orang yang dipilihnya sendiri diluar golongan ‘amil, maka ‘amil/panitia nashruf dilarang mencabut atau memaksa mengalihkan serta mengambil zakat orang tersebut. Maka itu menjadi haram.

BERBAGAI BIDANG TUGAS ‘AMIL YANG NAMANYA SEBAGAI BERIKUT :

  1. SHA’I adalah orang yang berkeliling menarki zakat
  2. HASHR orang yang mengumpulkan barang zakat
  3. QOSHIM orang yang mendistribusikan zakat
  4. KATIB adalah orang yang mencatat/menulis lalulintas barang zakat, dari awal hingga akhir.
  5. HASHIB adalah orang yang menghitung/mengkalkulasi/mengatur manajemen zakat ,ia ahli hukum dengan kecakapan mampu mengatur segalanya dengan benar.
  6. HAFIDH adalah orang yang menjaga/mengawasi benda zakat, baik yang berupa uang, padi/beras, perhiasan maupun yang berupa ternak.

JALAN TENGAH / SOLUSI BIJAK JIKA HENDAK MEMBENTUK PANITIA PENGELOLA ZAKAT (Wakil Muzaki) DI MASYARAKAT LOKAL /Masjid masjid.

amil2

Lebih lanjut Kyai Syamsuddin memberikan fatwanya :

“wonten ing meriki perlu kulo caosi dalan tengah ingkang leres menggah hukum Islam supados boten menyalahi hukumipun Gusti Allah”.(Dalam lembar “Babun Nashrofizzakati” – shahifah 52).

Tarjamah: “Oleh karena itu maka saya berikan jalan tengah secara bijak menurut hukum islam agar kita tidak melanggar hukum hukum Alloh’.

Berikut uraian praktek sederhananya :

  1. Imam/Kyai setempat atau kuasanya memanggil santri santri senior, takmir masjid, tokoh tokoh masyarakat, perangkat desa/kaum dan lainnya yang berkapasitas untuk bermusyawarah merencanakan membentuk panitia kecil mengurus/pengumpul zakat.
  2. Setelah terbentuk panitianya sesuai kaidah kaidah syar’i/telah memenuhi syarat agama, maka pengurus tersebut segera bekerja dengan memberikan informasi/pengumumam kepada warga masyarakat bahwa panitia pengumpul zakat telah sedia/ada.
  3. Imam/Kyai setempat atau kuasanya dan Panitia zakat mempunyai kewajiban moral untuk memberikan nasehat, pengajian/pengetahuan tentang zakat fitrah, zakat lainnya yang benar/cukup sesuai syareat agama kepada umat/masyarakat, agar umat/masyarakat mengetahui/memahami hak dan kewajiban, tatacara maupun lingkup seputar zakat fitrah serta berbagai permasalahannya.
  4. Kemudian panitia nashruf/pengumpul zakat tersebut juga harus mengadakan sarana penunjang kerjanya seperti tersedianya kantor, gudang, area tamu serta sarana lainnya.
  5. Panitia nashruf/pengumpul zakat harus membagi bidang tugas masing masing.sesuai keahliannya.
  6. Dalam hal kinerja, maka panitia nashruf/pengumpul zakat tidak dibenarkan menghalangi /menekankan/membujuk masyarakat/muzaki untuk memberikan zakat fitrahnya pada golongan tertentu atau memaksa untuk menyalurkan kepada panitia zakat atau pada ‘amil resmi. Kecuali sekedar memberi informasi tentang siapa saja orang orang yang berhak/patut menerima zakat dilingkungan itu.
  7. Dalam hal menyalurkan zakat maka panitia nashruf/pengumpul zakat harus adil artinya adil bukan samarata tetapi bijak menurut keadaannya sehingga dalam menyalurkan zakat maka jangan melihat si A si B nya sudah banyak dapat hingga tidak dibagi lagi, tidak demikian dan sebagainya.
  8. Dalam hal pembagian untuk personil/pengurus/ panitia nashruf/pengumpul zakat sendiri maka tidak dibenarkan mengambil jatahnya dari barang zakat para mustahik, tetapi mengambil dari dana/kas masjid atau dari penyumbang pribadi. Sebab telah diuraikan diatas bahwa secara syar’i panitia nashruf/pengumpul zakat temporer adalah bukan ‘amil dan diluar golongan penerima zakat. Maka apa yang dijatahkan merupakan upah kerja sosialnya.
  1. SYARAT BERAT MENJADI ‘AMIL / PANITIA PENYALUR ZAKAT

1).Islam 2).Mukalaf 3). Merdeka, tanpa tekanan 4). Adil,  amanah, jujur 5). Tengin/peka/tidak tuli 6). Awas,  Memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas 7). Ahli fiqih (Mengerti dan memahami hukum-hukum zakat) 8). Pria berpengetahuan (tidak bodoh).

Dengan delapan persyarat yang telah diurai tersebut maka yang harus menjadi perhatian bagi para pembentuk ‘amil/pengurus/ panitia nashruf/pengumpul zakat adalah :

Bahwa semua orang mungkin mampu memenuhi syarat keislamannya, mukalafnya, kemerdekaannya, namun mampukah memenuhi syarat adil, peka dan ahli fiqih?

KESIMPULAN

Maka secara hakekat bahwa zakat merupakan program tandingan dari Allah swt untuk melawan praktek praktek kapitalisme yang biasa dilakukan oleh golongan fasikin seperti praktek praktek riba yang telah diungkap dalam Al-qur’an surat Ar-Ruum:39 tersebut diatas.

Demikian risalah ini kami susun dan kami ketengahkan untuk jama’ah semuanya, semoga menjadi renungan dan manfaat.

Salam rahmatan lil ‘alamin

 

Prembun, 1 Ramadhan 1437

Senin, 6 Juni 2016,

Penulis/penyusun : Agus Sholech Al-Qadry

Dari :“RISALATU FI SYAHRU RAMADHAN”-karya Al-fakir Kyai Syamsuddin bin Mabrur bin Mahmud

Kelana Delapan Penjuru Angin

CopyRights@2016,

Web:http://www.kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com
Email:kelanadelapanpenjuruangin@gmail.com
Contact us: +6288808064118

Maraji’ (Daftar Pustaka):

Maraji’ (Daftar Pustaka):
1. “RISALATU FI SYAHRU RAMADHAN” karya Al-fakir Kyai Syamsuddin-Prembun-Kebumen-Jawa Tengah.

  1. Al-Qur’anul Kariem
  2. Tafsir Aththabariy.
  3. Tafsir Ibnu Katsier.
  4. Irwaa-Ul Ghaliel, Nashiruddin Al-Albani.
  5. Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq.
  6. Tamaamul Minnah
  7. Duratun Nasihin
  8. Fathul Mu’in
  9. Jauharul bahri
  10. Tafsyir Munir
  11. Mutafaq alaih, sahih Bukhari Muslim, dll.

Catatan kaki:

1] K.H.Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian Modern, (Jakarta: Gema Insani, 2002), hal.127

[2]Abu Bakar al-Hushaini Kifayat al-Akhyar, diterjemahkan oleh Ahmad Zain An Najah, hal. 279

[3]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung: CV. Diponogoro, 2001), hal. 156.

[4]Syaikh Husaini bin Audah Al-‘Awaisyah, al-Mausu’ah al- Fiqhiyah al-Muyarah, (Daar Ibnu Ahmad / al-marktabah al-Islamiyah) hal. 312

[5]Sayyid Sabiq diterjemahkan oleh Khairul Amru Harahap dan Masrukhin, Fikih Sunnah, Jilid 2, (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2008), hal. 142.

[6]‘Adil bin Yusuf Al‘Azazi, Tamamul Minnah, tt. hal.. 290

[7] Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Enksiklopedi Zakat, Fatwa Zakat Utsaimin, (Pustaka A-Sunnah, 2002) hal. 39

[8]Ibid., hal. 42

[9]Shahih Fiqh Sunnah, Shahih Fiqhus Sunnah wa Adillatuhu, Jilid 2, (Beirut: Dar al-Fikr, 1988) hal.  69

[10] Imam Bukhary, Shahih Bukhary, Juzu` I, (Maktabah Dahlan, Indonesia, t.t.), hal. 210.

[11] K.H.Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian…, hal.132

Web.

-http://www.artikelsiana.com/2015/06/bacaan-doa-niat-zakat-fitrah-membayar-menerima.html

-http://www.blogkhususdoa.com/2015/06/doa-ketika-menerima-zakat-maal-dan-zakat-fitrah.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s