MEMBENDUNG UPAYA UPAYA PEMBELOKAN NILAI NILAI ISLAM DARI PEMAHAMAN DANGKAL KAUM FASIKIN

KANTER/JAWABAN BUAT ORANG YANG MENYALAHKAN UCAPAN “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN” SAAT IDUL FITRI

SANGGAHAN BUAT ORANG YANG BERFAHAM : “BAHWA IDUL FITRI bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan”. Dengan anggapan sebagai KEKELIRUAN/SALAH BESAR.

Awalnya ini isu dari media berita online yang dimuat di Muslimedianews.com walaupun rilisan July 2014, namun karena tahun ini muncul kembali isu itu dari tautan yang di share oleh pengguna sosmed sebagai silang tanggapan antar pengguna lain, karena materinya mengandung unsur deviasi/pembiasan pemahaman/syareat islam maka saya mencoba ikut meng-kanter/memberi tanggapan secukupnya dengan maksud mencegah terjadinya kebingungan umat dan timbulnya salah tafsir maupun fitnah.

Berita asalnya dari tautan ini :

http://www.muslimedianews.com/2014/07/jangan-ragu-ucapkan-minal-aidin-wal.html?m=1

Muslimedianews.com ~ Sunday, 27 July 2014

Pada hari-hari di penghujung Ramadhan ini, beredar BC bertajuk ‘Bagaimana Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah?’ Seingat saya, jelang hari raya di tahun-tahun sebelumnya, BC tersebut juga tersebar. Intinya, tulisan itu ‘mempermasalahkan’ beberapa hal yang telah menjadi tradisi kebiasaan umat Islam, khususnya di Indonesia.

Berikut isi lengkap tulisan by no name yang menyebar via BB, WA, atau media sosial lainnya:

BERIKUT ORANG MEM-PUBLIS PEMAHAMAN :

  1. “Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf”.
    “Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri”.
  2. Demikian Rasulullah mengajarkan kita. Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri.
  3. Satu lagi, saat Idul Fithri, yakni mengucapan : “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN”. Arti dari ucapan tersebut adalah: “Kita kembali&meraih kemenangan.”

KITA MAU KEMBALI KEMANA? Apa pada ketaatan atau kemaksiatan? Meraih kemenangan? Kemenangan apa? Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan? 

  1. Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yg ucapkan “Minal‘Aidin wal Faizin” Lantas diikuti dengan kalimat “Mohon Maaf Lahir&Batin ”.

Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh KELIRU luar biasa.

  1. Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain.. PASTI PADA BINGUNG!
  2. Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI.
  3. Ucapan yg lebih baik & dicontohkan langsung oleh para sahabat ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , yaitu :

    “TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM” (Semoga Allah menerima amalku & amal kalian). Jadi lebih baik, ucapan/SMS/BBM kita: Taqobbalallahu minna wa minkum. (Selesai)

INI PERLU DIKANTER, Begini wahai KAUM FASIKIN,(saya pikir penyebar Berita yang karakter tulisan tulisannya model ini-bukan orang islam)

Siapapun Anda/kalian sekelompok umat akhir zaman yang kini mulai banyak semakin menjauhi (kehilangan) ruh ruh kedalaman samudera ilmu hikmah/hakekat Islam, dengarlah :

  1. Masalah pemaham yang memahami perkara pertama, yang menulis/mempublis/menyatakan/berasumsi bahwa : “Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf”. “Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri”.

 Begini :

Tingkatan pemahaman anda/kalian masih pada level: “Seolah-olah”,

Sedang saat Idul Fithri adalah memang moment yang tepat/relijius/khusus untuk saling minta maaf antar saudara/keluarga/orang tua dan sesama.

Renungkan berapa banyak manusia yang sibuk dilibas oleh urusan duniawi yang kadang membuat saling sikut sikutan, rebutan baik antar sesama maupun antar saudara sendiri, yang kadang malah menonjolkan persengketaan dan tak saling mengenal, hingga lupa akan hikmah berkah hubungan silaturahim serta rahmat Allah. Itu sehari hari berlangsung hingga 11 bulan. Maka hakekatnya kita dalam setahun, Alloh memberi anugerah 1 bulan yakni bulan ramadhan yang penuuh berkah, maghfiroh serta peluang bebas api neraka. Maka sebab kecondongan manusia yang suka menjauhi nilai nilai berkah, rahmat dan kasih sayang itulah di ramadhan Alloh memberi kesempatan manusia untuk kembali fitri, bersih diri, agar menjadi pemenang agar berpangkat taqwa.

Bagaimana aktualisasinya? Ya dengan cara (tareqat) saling sadari kealpaan, dosa, kesalahan baik yang sengaja atau tidak sengaja, baik yang sadar atau yang tak disadari dengan saling silaturahim, mudik ke kampung halaman menyambangi orang tua, sanak famili yang selama setahun terberai, terpisah karena waktu dan kehidupan, kemudian saling minta maaf, saling ridho kembali antar nafs masing.

Ingat manusia itu terbentur 2 perkara urusan haq amaliah, yakni melunasi / membebaskan diri dari perkara yang menjadikan rintangan/hambatan/gantungan diterimanya amal ibadah seseorang oleh Sang Pencipta, itulah yang disebut HAQQULLAH dan HAQQUL ADAM.

Ingat amal ibadah seseorang akan ditahan jika masih ada utang/pembatas berupa perbuatan lalai/salah maupun dosa terhadap Tuhannya serta pada sesama makhluk ciptaan-Nya. Jadi janganlah berpikir ““Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf”. “Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri”.

Sebab pasti kita itu tak dapat mengklaim diri suci (bersih dosa) la wong anda/kita saja ga pulang pulang dari rantau menyambangi orang tua, sanak famili yang selama setahun sebab repot urusan perut, kadang malah  bertahun tahun, kontak tidak, kirim duit tidak, apalagi tiap saaat minta maaf. Benul tidak ? akui sajalah kita banyak melalaikan perkara HAQQULLAH dan HAQQUL ADAM. Ingat jika manusia mati tetapi masih ada perkara/utang/salah dan tidak terselesaikan, maka itulah perkara HAQQUL ADAM yang bakal menahan/membangkrutkan amal amalmu nanti di akherat.

Jadi jelas pemahaman andalah yang keliru, bukan masyarakat yang keliru, yang dengan tradisi mulia memanfaatkan momen waktu khusus untuk saling maaf memaafkan pada hari raya.

  1. Masalah pemaham yang memahami perkara kedua :

Dengan menulis/mempublis/menyatakan/berasumsi bahwa : Demikian Rasulullah mengajarkan kita. Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri.

Begini,

Justru saya/kami yang balik bertanya pada anda, “Kapan Rasulullah mengajarkan kita : “Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri?

Sama dengan : “Kapan Rasulullah mengajarkan kita untuk menunggangi volvo, Pajero, Fortuner, memakai jas, makan makan di Mc.D**ld, naik Busway, merayakan ulang tahun dengan nyanyi happy birthday to you, meniup lilin, kartu kredit, pinjam bank, dsb? Mengapa anda anda sekarang melakukannya? Padahal Allah dan Nabi bahkan tak menulis dalilnya! Seharusnya anda naiki onta, pakai gamis, potong tangan anak anakmu, keluargamu yang mencuri (mengambil diam diam) sebutir permen dirumahmu/tetanggamu !

PADAHAL keharusan SALING “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri, BAHKAN SETIAP HARI KITA DISURUH UNTUK MENSIFATI NILAI NILAI SALING MOHON MAAF ITU SANGAT ADA DALIL DI QUR’AN/HADITS, HANYA MATA DAN HATI KALIAN TERTUTUP OLEH TUHAN TUHAN DALIL (hanya tahu cangkangnya saja, tak pernah menyelam). Kalian bukan penyelam, kalian hanya turis yang sedang wisata yang hanya duduk manis diatas biduk.Tak tahu kalau dibawahnya ada samudera air yang dalam, yang ada ikannya, pausnya, mutiaranya, intannya,uraniumnya, dsb.

  1. Menjawab masalah pemaham yang memahami perkara ketiga :

Yang menulis : “Satu lagi, saat Idul Fithri, yakni mengucapan : “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN”. Arti dari ucapan tersebut adalah: “Kita kembali&meraih kemenangan.” KITA MAU KEMBALI KEMANA? Apa pada ketaatan atau kemaksiatan? Meraih kemenangan? Kemenangan apa? Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan? 

Begini,

Laa, anda mengartikan makna “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN” saja salah (tidak becus) kok malah sampai ke penjabaran “KITA MAU KEMBALI KEMANA? dan Meraih Kemenangan apa?.

  1. Menjawab masalah pemaham yang memahami perkara keempat : Yang menulis : “Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yg ucapkan “Minal‘Aidin wal Faizin” Lantas diikuti dengan kalimat “Mohon Maaf Lahir&Batin ”.Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh KELIRU luar biasa.

Begini,

Apanya yang harus dipahami la wong anda yang tidak paham dan anda yang “sungguh KELIRU luar biasa…” malah.bahkan bisa jadi orang lain akan menilai anda yang kelihatan “gob**ognya.

  1. Menjawab Tulisan point kelima : : Yang menulis : “Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain.. PASTI PADA BINGUNG!

Begini,

Yang bingung itu anda/kalian, yang nyoba nyoba sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kalian di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain ! saya/kami “ogah” kerajinan amat !

  1. Menjawab Tulisan point ke enam : Yang menulis : “Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI”.

Begini,

“Ogah, emang gue pikirin ?”

  1. Menjawab Tulisan point ke tujuh: Yang menulis : “Ucapan yg lebih baik & dicontohkan langsung oleh para sahabat ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , yaitu :

    “TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM” (Semoga Allah menerima amalku & amal kalian). Jadi lebih baik, ucapan/SMS/BBM kita: Taqobbalallahu minna wa minkum. (Selesai)

Begini,

Lah, lebih baikan dan lebih komplitan ucapan saya/kami :

‘Ja’alanallahu wa iyyakum MINAL ‘AIDIN ilal fithrah WAL FAIZIN bil jannah’ (Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang yang kembali pada fitrah dan menuai kemenangan dengan meraih surga). ”,

“Salaamun Qoulam Mir Robbir Rohiim “, wamtazul yauma ayyuhal mujrimuun”

(QS.Yaasiin:58) Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. 59. Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.

“Taqabbalallahu Minna wa Minkum’, taqabbal ya Kariim”

Jangan Ragu Ucapkan : ‘Minal ‘Aidin wal Faizin’ mohon maaf lahir batin”

komplit pakai stmj (susu telur madu & juzz buah)

 

SEKIAN, semoga dinalar

 

Salam Cahaya Rahmat Semesta Alam,

 

Majelis Dzikir & Salawat As-Shalihin-Kranggan

Senin, 4 Juli 2016/29 Ramadhan 1437 H.

Kelana Delapan Penjuru Angin

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s