RISALAH AMALAN SUNNAH DIBULAN MUHARRAM YANG PENUH KEUTAMAAN

PRAKATA

SYAREAT UNTUK BERLAKU TERTIB DAN URUT DALAM MENGERJAKAN SUATU AMALAN DAN DIMULAI MENURUT SKALA PRIORITAS

Sering kita temui tulisan yang berisi amalan suatu ibadah atau amalan wirid, dzikir dan shalawatan namun bacaannya tidak berurutan / beraturan. Seperti contoh dalam serangkaian bacaan dzikir, shalawatan, tadarus dan doa, maka  ada bacaan doa yang ditulis di tengah tengah rangkaian dzikir dan shalawatan, sementara bacaan ayat Alqur’an, dzikir dan shalawatan, terpisah pisah disana sini tak berurutan. Juga seperti pada sebuah tulisan/selebaran yang bejudul : “amalan amalan yang disunnahkan Rasulullah SAW pada tanggal 10 Muharam/10 syuro”, yang tidak berurutan tatatertib amalannya.

Yusuf Qardhawi (Lahir, Kairo, Mesir, 9 September 1926),  dalam kitab “fiqh al-awlawiyyat” (fiqh prioritas) atau dikenal sebagai Al-Shahwah al-Islamiyyah bayn al-Juhud wa al-Tatharruf, yaitu fiqh urutan pekerjaan (fiqh maratib al-a’mal). Adalah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum, nilai, dan pelaksanaannya. Pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari’ah yang shahih, yang diberi petunjuk oleh cahaya wahyu, dan diterangi oleh akal. Prioritas dalam berbagai bidang amal Amal-amal yang disyariatkan kepada manusia juga memiliki tingkatan-tingkatan. Ada hal-hal yang perlu disegerakan dan diutamakan, dan ada juga hal-hal yang boleh diakhirkan. Adanya keharusan dalam memprioritaskan amal yang kontinyu atas amal yang terputus-putus, dan prioritas amalan yang luas manfaatnya atas perbuatan yang kurang bermanfaat, serta prioritas terhadap amal perbuatan yang lebih lama manfaatnya dan lebih lama kesannya. Selain itu, prioritas amalan hati atas amalan anggota badan dan perbedaan tingkat keutamaan sesuai dengan tingkat perbedaan waktu, tempat, dan keadaan.

Kaidah tersebut diatas berlaku untuk tingkatan syareat (standar umum), maka untuk tingkatan ilmu tareqat/haqeqat bisa saja diluar kaidah ini sebab tingkatan ini telah memasuki alam kesufian, dimana bersifat kebatinan individual pengamalnya.

JENIS DAN KEDUDUKAN HUKUM SUNNAH

  1. SUNNAH QOULIYYAH adalah sunnah yang dikerjakan berdasar perkataan nabi SAW langsung yang merupakan penjabaran dari rangkaian ayat Al-Qur’an.
  2. SUNNAH FI’LIYYAH adalah sunnah yang dikerjakan berdasar perbuatan nabi SAW sehari hari.
  3. SUNNAH TAKRIRIYYAH adalah suatu amalan/tindakan yang dikerjakan oleh para sahabat, namun mendapatkan persetujuan dari nabi SAW.

Maka berikut tartib dan urut  AMALAN SUNNAH YANG PENUH KEUTAMAAN DI HARI ASYURA (10 MUHARAM) yang sepatutnya menurut urutan bobot dan keutamaannya :

  1. BERPUASA TASYU’A DAN ASYURAA ( 9 dan 10 Muharram)
  2. MEMBACA AYAT QURSIY
  3. MEMBACA SURAT IKHLAS
  4. MEMBACA HASBUNALLAH WA NI’MAL WAQIL (Akhir surat Ali Imraan.3:173 & Al-Anfaal.8:40)
  5. SHOLAT SUNNAH
  6. BERSODAQOH, MEMBERI MAKAN ORANG YANG BERPUASA
  7. MENYANTUNI ANAK YATIM (Memberi sesuatu, menyayangi, mengusap rambutnya)
  8. MELUASKAN BELANJA KELUARGA (mengadakan jamuan istimewa, makan bersama keluarga)
  9. MENINGKATKAN NILAI IBADAH
  10. MANDI ASSYURAA (Sesuci badan)
  11. MEMOTONG KUKU, MERAPIHKAN RAMBUT, MEMAKAI PAKAIAN BAIK, BERSIH, WEWANGIAN, dsb.
  12. MEMAKAI CELAK / SHIFAT,
  13. ZIARAH KE ORANG ORANG ALIM
  14. TA’ZIAH DAN MENGANTAR JENAZAH
  15. MEMBESUK ORANG SAKIT

SEJARAH DAN ASAL USUL

Asyura berasal dari kata ‘asyara, asyrun yang artinya bilangan sepuluh dari bulan Muharram.

Ketika para sahabat bertanya pada Rasulullah saw.: “Ya Rasulullah saw, adakah Allah telah melebihkan hari ‘Asyura daripada hari-hari lain?” Maka berkata Rasulullah saw: ” Ya, memang benar, Allah Ta’ala menjadikan langit dan bumi pada hari ‘Asyura, menjadikan laut pada hari ‘Asyura, menjadikan bukit-bukit pada hari ‘Asyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari ‘Asyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari ‘Asyura, dan Allah SWT menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari ‘Asyura, Allah SWT menenggelamkan Fir’aun pada hari ‘Asyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari ‘Asyura, Allah SWT menerima taubat Nabi Adam pada hari ‘Asyura, Allah SWT mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari ‘Asyura, Allah SWT mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari ‘Asyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Asyura!”.

Hadits lainnya:

Artinya: “Ia adalah hari mendaratnya kapal Nuh di atas gunung “Judi” lalu Nuh berpuasa pada hari itu sebagai wujud rasa syukur.” (Hadits Riwayat Ahmad)

Dari hadits tersebut dan berbagai riwayat alim ulama, terjadi peristiwa besar pada 10 Muharam, yaitu:

  1. Nabi Adam bertaubat kepada Allah dan dipertemukan dengan Siti Hawa di padang Arafah..
  2. Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit.
  3. Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama enam bulan.
  4. Nabi Ibrahim diselamatkan Allah dari pembakaran Raja Namrud.
  5. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa.
  6. Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara.
  7. Penglihatan Nabi Ya’kub yang kabur dipulihkkan Allah.
  8. Nabi Ayub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritainya.
  9. Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam.
  10. Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari tentera Firaun.
  11. Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah.
  12. Nabi Sulaiman dikaruniakan Allah kerajaan yang besar.
  13. Nabi Isa diangkat ke langit.
  14. Nabi Muhammad saw. Lolos dari percobaan pembunuhan dengan racun orang-orang Yahudi.
  15. Hari pertama Allah menciptakan alam.
  16. Hari Pertama Allah menurunkan rahmat.
  17. Hari pertama Allah menurunkan hujan.
  18. Allah menjadikan ‘Arsy.
  19. Allah menjadikan Louh Mahfuz.
  20. Allah menjadikan alam semesta raya.
  21. Allah menjadikan Malaikat Jibril.

Berawal dari tragedi hari berduka atas gugurnya cucu Rasulullah Saw Sayyidina Hassan dan Husein di padang Karbala pada 10 Muharram tahun 61 Hijriyah, bertepatan 10 Oktober 680 Masehi. Yang dibunuh oleh militer Khalifah Bani Umayyah, yang dipimpin jenderal Yazid bin Muawiyah yang membawa dampak sangat besar dalam sejarah perkembangan Islam, sehingga ditahun berikutnya, umat mulai mengadakan acara peringatan mengenang peristiwa tersebut, namun lama kelamaan mulai banyak timbul amalan amalan yang menyimpang dari nilai islam namun mengklaim semua dari tuntunan sunah nabi SAW. Sehingga muncul golongan ahli sunah waljamah untuk meluruskan.

MEMBEDAH SUMBER DALIL / REFERENSI UNTUK AMALAN  SUNNAH DIBULAN MUHARRAM

HADITS SAHIH  UNTUK AMALAN BULAN MUHARAM YANG MERUPAKAN SUNNAH NABI SAW , HANYA MENEKANKAN TENTANG PUASA.

[Di dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari Asyura / Asyuro (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram)]

Hadits yang Pertama:

‘An Abi ‘Abbas ra, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: shauma yaumi ‘asyuraa, au amara bishiamihi”.

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).

Hadits yang Kedua :

‘An Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sha’al ‘an shiama yaumi ‘asyuraa faqoola:”yakfurushanatil madhyah”

Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)

Lainnya:

“Dan puasa pada hari Arafah –aku mengharap dari Allah- menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang. Dan puasa pada hari ‘ASYURA (tanggal 10 Muharram) –aku mengharap dari Allah menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu.” [Shahih riwayat Imam Muslim, Abu Dawud , Ahmad , Baihaqi, dan lain-lain].

AMALAN BULAN MUHARAM LAINNYA HASIL IJTIHAD PARA ULAMA (Ijtima’ / konsensus)

Disebutkan dalam kitab Nihayatuz-Zein – Syekh Nawawi, sebagai berikut ;
Dari ijtihad para Ulama besar, bahwa amal ibadah yang diutamakan di 10 Muharram sbb :

(1. Melaksanakan Shalat sunnah yang paling utama shalat Tasbih, 2. Melakukan Puasa Sunnah, berikut tanggal 9 Muharram-nya, dan paling utama 10 hari, dari tanggal 1 s/d 10 Muharram , 3. Melakukan Sodaqoh, , 4. Melakukan keleluasaan keluarga artinya menambah dana belanja, membelikan baju baru dll., 5. Melakukan Mandi Sunnah,, 6. Melakukan kunjungan pada Alim Ulama yang soleh,, 7. Menengok orang yang sedang sakit, , 8. Mengusap kepala yatim, artinya memberi kasih sayang seperti dengan menyantuni mereka,, 9. Memakai celak mata, , 10. Menggunting kuku, , 11. Membaca surat Al-Ikhlas seribu kali, , 12. Melakukan silaturrahmi terutama kepada saudara dan keluarga, sama seperti pada hari raya).

Melakukan Puasa asyuro dapat menghapus dosa selama setahun, dan melakukan Keleluasaan keluarga adalah berdasar makna redaksi hadits yang sudah tersurat, sedang ibadah yang lainnya (seperti 12 ibadah yang disebutkan di atas) merupakan makna yang tersirat baik dari ayat-ayat Qur’an ataupun hadits-hadits. (Nihayatuz-Zein, hal 196).

RINCIAN:

  1. BERPUASA TASYU’A DAN ASYURAA ( 9 dan 10 Muharram)
  2. Sahabat Rasulullah Saw. Abdullah bin Abas ra. meriwayatkan:

“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah SAW menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan. (HR Muslim)

  1. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah ra., Rasulullah Saw. bersabda:

“Puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”. (HR Abu Daud)

  1. Menurut Imam Nawawi rahimahullah, dua amalan yang dasar hukumnya kuat yaitu: 1. Puasa ‘Asyura dan Tasu’a, 2. Meluaskan belanja (Selain dua amalan di atas, dasar hukumnya lemah. Kecuali bersedekah, karena menurut mazhab Maliki hukumnya sunnah. Wallahua’lam).
  2. Di dalam Kitab Hadits Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan beberapa hadits berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari ‘ASYURA (10 Muharram) dan TASU’A (9 Muharram), yaitu:

1). Dari Ibnu Abbas“Bahwa Rasulullah saw. berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

(‘muttafaq ‘alaihi secara bahasa berarti disepakati atasnya. Istilah ini biasanya digunakan untuk hadits yang diriwayatkan dan disepakati keshahihannya oleh minimal 2 imam hadits besar: Imam Al-Bukhâri dan Imam Muslim, jadi tingkat keshahihannya menempati posisi ‘paling shahih’).

2). Dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah saw. ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) menghapuskan dosa (dosa-dosa kecil) satu tahun yang lalu.”(HR. Muslim)

3). Dari Ibnu Abbas beliau berkata: “Rasulullah saw. bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan.” (HR. Muslim)

4). Cara menyelisihi ritual puasa non muslim karena mereka juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram) :

– Beberapa hadits tentang hal ini:

4.1). “Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari Asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah saw. pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau sampai di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.”

(Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Ahmad, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, Nasa’i dalam Al-Kubra, Al-Humaidi, Al-Baihaqi, Abdurrazaq, Ad-Darimy, Ath-Thohawi dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

4.2).. “Nabi saw. tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Beliau bertanya: “Apa ini?” Mereka menjawab: “Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka kami berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah menjawab: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.”

(Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dalam Al-Kubra, Ahmad, Abdurrazaq, Ibnu Majah, Baihaqi, Al-Humaidi, Ath-Thoyalisi)

  • Dari dua hadits ini menunjukkan bahwa suku Quraisy berpuasa pada hari ‘Asyura di masa jahiliyah, dan “sebelum hijrah” pun Nabi saw. telah mengerjakannya. Kemudian sewaktu tiba di Madinah, beliau temukan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, maka Nabi-pun berpuasa dan mendorong umatnya untuk berpuasa.
  • Pada tanggal 9 Muharram (disebut hari Tasu’a) dinamakan “sunnah taqririyah” dimana Rasulullah belum sempat menjalankan ibadah puasa ini. Orang Yahudi juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram karena sebagai rasa syukur atas diselamatkan Nabi Musa as. dari Fir’aun, kemudian Rasulullah juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram, tetapi salah seorang sahabat ada yang bertanya kepada Rasulullah saw. mengapa kita menyamai umat nabi Musa as. Kemudian Rasulullah SAW menjawab puasa tanggal 10 Muharram ini adalah hakku dan untuk membedakannya maka tahun depan aku akan berpuasa 2 hari (Tasu’a dan ‘Asyura) tetapi Rasulullah belum sempat menjalankannya (karena wafat).

Namun Jumhur Ulama menafsirkan puasa ‘asyura tetap pada makna aslinya yaitu puasa pada tanggal 10 Muharram, akan tetapi diawali dengan puasa tasu’a (9 Muharram) untuk berbeda dengan orang-orang Yahudi. Rasul Saw bersabda sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas: “Puasalah kamu pada hari kesembilan dan kesepuluh janganlah kamu menyerupai orang-orang Yahudi”.

Hadis lain yang menganjurkan untuk melakukan perbuatan baik pada hari ‘asyura adalah sabda Nabi Muhammad Saw: “Siapa-sisapa saja yang melapangkan keluarganya dan familinya pada hari ‘asyuraniscaya Allah melapangkan rezkinya sepanjang tahun (HR. Baihaki). Dan juga Nabi Saw bersabda:Sesungguhnya hari ‘asyura termasuk hari yang dimuliakan Allah Swt, siapa-siapa yang suka berpuasa, berpuasalah” (HR. Bukhari Muslim, Muttafaq ‘alaih).

  1. MEMBACA AYAT QURSIY (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Terdapat 95 hadis, diantaranya :

Dari Abu Umamah, Rasulullah saw bersabda, “Siapapun membaca ayat Kursi tiap selepas shalat fardhu, niscaya tak ada yang menghalanginya dari masuk Jannah kecuali ia harus mati terlebih dahulu.” (HR Nasa`i dalam Sunan Kubra 9848, shahih).

Faedah lainnya adalah setiaf 1 huruf terdapat 40.000 kebaikan, 1000 berkah, 100 rahmat. (Ayat Qursiy mengandung 50 kata, 187 huruf dan 236 karakter).

  1. MEMBACA SURAT IKHLAS (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

“Sesungguhnya seseorang mendengar orang lain membaca “Qulhuwallahu ahad”, dengan mengulang-ulangnya, maka tatkala pagi harinya, ia mendatangi Rasulullah n dan menceritakan hal itu kepadanya, dan seolah-olah orang itu menganggap remeh surat itu, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya surat itu sebanding dengan sepertiga al Qur`an”. (Hadits Abu Sa’id al Khudri RA).

FAEDAH: Membaca surat Al-Ikhlas 1 X setara dengan membaca 1/3 Al-Qur’an, membaca surat Al-Ikhlas 3 X setara dengan khatam Al-Qur’an 30 juzz.(Telah berulang ulan juga dinasehatkan Abuya Kyai M.Syamsuddin-Prembun-Kebumen).

  1. MEMBACA HASBUNALLAH WA NI’MAL WAQIL (Akhir surat Ali Imraan.3:173 & Al-Anfaal.8:40) (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Sahabat Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa “hasbunallah wa ni’mal wakiil” adalah perkataan Nabi ‘Ibrahim ‘alaihis salaam ketika beliau ingin dilempar di api. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kalimat tersebut dalam ayat,

 “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (HR. Bukhari no. 4563)

  1. MELAKSANAKAN SHOLAT SUNNAH (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Sholat ‘Asyura, terjadi ikhtilaf, dikenal oleh masyarakat ada dua macam :

  1. Dilakukan pada Malam Asyuara’, yaitu Sholat empat rokaat membaca Al-Fatihah satu kali dan Surat Al-Ihlas satu kali
  2. Dilakukan pada hari Asyura’ diantara Dhuhur dan Ashar, yaitu Sholat 40 rokaat, setiap satu rokaat membaca Fatihah satu kali, ayat kursi 10 kali, Al-Ikhlas 11 kali, Al-Muawwidzatain 5 kali, dan setelah salam membaca Istighfar 70 kali.

Sholat diatas menurut Syeh Haqi Annazili (pengarang Kitab Khazinah Al-Ashrar) diperbolehkan. Namun mayoritas ulama berpendapat bahwa melakukan shalat ini tidak di perbolehkan (haram) karena rawi hadits yang menerangkan praktek shalat di malam ‘asyura’ termasuk mudtharib (kurangnya kredibilitas dan hafalnya lemah). Sedangkan yang menjelaskan shalat ‘asyura’ di siang hari termasuk hadits maudhu’ (palsu), oleh sebab itu sebaiknya di hindari saja.

Maka jalan tengahnya adalah baik melaksanakan sholat Tasybih, seperti dalam hadits :

“Jika engkau sanggup untuk melakukannya satu kali dalam setiap hari, maka lakukanlah, jika tidak, maka lakukanlah satu kali seminggu, jika tidak maka lakukanlah sebulan sekali, jika tidak maka lakukanlah sekali dalam setahun dan jika tidak maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu” (HR Abu Daud 2/67-68)

  1. BERSODAQOH, MEMBERI MAKAN ORANG YANG BERPUASA (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

“ Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” ( Qs. Al-Baqarah: 261 )

  1. MENYANTUNI ANAK YATIM (Memberi sesuatu, menyayangi, mengusap rambutnya) (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya.[HR al-Bukhari no. 4998 dan 5659]

  1. MENINGKATKAN NILAI IBADAH (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Dalil:

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinyu dikerjakan, meskipun sedikit”.

Demikian pula, ini merupakan kebiasaan Rasulullah. Amaliah beliau sehari-hari diimah (kontinyu), yaitu dikerjakan secara terus menerus, tidak putus darinya. Dan beliau menganjurkan umatnya untuk itu, memperingatkan dari amalan-amalan yang memberatkan yang tidak kuat dipikul oleh seseorang. Sebab hal itu rawan sekali untuk ditinggalkan sehingga tidak berlangsung lama.

Dalam hadits lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai manusia, kerjakanlah amalan yang kalian sanggupi”

Al Qadhi ‘Iyadh menerangkan sabda beliau dengan: Kerjakanlah amalan yang kalian sanggup untuk mengerjakannya dengan kontinyu. Sementara Imam An Nawawi rahimahullah menyimpulkan dari hadits di atas: Di dalamnya terkandung anjuran untuk kontinyu dalam beribadah, dan amalan yang sedikit (tapi) kontinyu lebih baik daripada amalan banyak tapi ditinggalkan].

  1. MANDI ASSYURAA (Sesuci badan), hadits lemah namun boleh dilaksanakan dengan niat menjaga kesehatan dan niatkan ibadah karena Allah Ta’ala.
  2. MEMAKAI CELAK / SHIFAT, hadits lemah namun boleh dilaksanakan dengan niat menjaga kesehatan dan niatkan ibadah karena Allah Ta’ala.
  3. MEMOTONG KUKU, MERAPIHKAN RAMBUT, MEMAKAI PAKAIAN BAIK, BERSIH, WEWANGIAN, dsb. Hadits lemah namun boleh dilaksanakan dengan niat menjaga kesehatan dan niatkan ibadah karena Allah Ta’ala.
  4. MELUASKAN BELANJA KELUARGA (mengadakan jamuan istimewa, makan bersama keluarga), (TERDAPAT IKHTILAF).
  1. ZIARAH KE ORANG ORANG ALIM (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

“Dari Buraidah, ia berkata Rosululloh SAW bersabda “Saya pernah melarang kamu berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad teah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah! Karena perbuatan itu dapat mengingatkan kamu pada akhirat.(Rowahu At-Tarmizi-97 )

Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanya tentang berziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengan melakukan perjalanan khusus ke makam mereka. Beliau menjawab berziarah.ke makam para wali adalah ibadah yamg disunahkan. Demikian pula dengan perjalanan kemakam mereka.” (Al-Fatawi al-Kubra, juz II hlm. 24)

Berziarah ke makam para wali dan orang-orang shaleh telah menjadi tradisi para ulama salaf. Diantaranya adalah Imam al-Syafi’I R.A jika ada hajat, setiap hari beliau berziarah ke makam Imam Abu Hanifah. Seperftipengakuan beliau dalam rfiwayat yang shahih.

Dari Ali bin Maimun berkata” Aku mendengar imam al Syafi’i berkata” Aku selalu bertabaruk dengan Abu Hanifah dan berziarah mendatangi makamnya setiap hari. Apabila aku memiliki hajat, maka aku slat dua rakaat, lalu mendatangi makam beliau,dan aku mohon hajat itu kepada Alloh SWT disisi makamnya, sehingga tidak lama kemudian hajatku terkabul.” ( Tarikh Baghdad,juz 1, hal. 123)

  1. TA’ZIAH DAN MENGANTAR JENAZAH (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menyolatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua qirath”. Ditanyakan kepada beliau, “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar”. (HR. Al-Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945)

Dari Ummu ‘Athiyyah radhiallahu anha dia berkata:

“Kami dilarang untuk turut mengiring jenazah, tetapi (larangan itu) tidak begitu ditekankan atas kami.” (HR. Al-Bukhari no. 1278 dan Muslim no. 1556)

Penjelasan ringkas:

Di antara perkara yang Nabi shallallahu alaihi wasallam jadikan sebagai hak seorang muslim dari muslim lainnya adalah mengantar jenazahnya. Karenanya beliau shallallahu alaihi wasallam memerintahkan dan mewajibkan amalan ini serta beliau menjanjikan pahala yang besar bagi yang mengantar jenazahnya, baik yang mengantarnya dari rumahnya sampai dia dishalati maupun yang mengantarnya hingga selesai dia dikuburkan.

Hanya saja hukum dan keutamaan di atas hanya berlaku untuk laki-laki, tidak untuk perempuan. Karena hukum mengantar jenazah bagi perempuan adalah makruh berdasarkan hadits Ummu Athiyah di atas. Wallahu A’lam

  1. MEMBESUK ORANG SAKIT (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Al-Barra` bin ‘Azib radhiallahu ‘anhuma dia berkata:

 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami dengan tujuh perkara yaitu: Menjenguk orang yang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong yang lemah, menolong orang yang terzhalimi, menebarkan salam, dan menunaikan sumpah orang yang bersumpah.” (HR. Al-Bukhari no. 1239 dan Muslim no. 2066).

Apabila seseorang menjenguk saudaranya Чαπƍ muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih)

RINCIAN SEPUTAR IKHTILAF ULAMA UNTUK AMALAN SUNNAH DI BULAN MUHARAM

BEBERAPA ULAMA BESAR PERAWI HADITS YANG MENEMUKAN/MENYATAKAN KELEMAHAN DARI HADITS SEPUTAR AMALAN 10 MUHARAM INI adalah : As-Subkhi, Ibnu Rajab, Al-Hafidz Ibnu Qayyim, Imam Ahmad, As-Suyuthi.

Berikut rinciannya :

  1. TENTANG AMALAN MANDI ASYURA, ZIARAH, BEZUK ORANG SAKIT, MENGUSAP RAMBUT YATIM, MEMOTONG KUKU, dll :

As-Subkhi berkata (ad-Din al-Khalish 8/417):”Adapun pernyataan sebagian orang yang menganjurkan setelah mandi hari ini (10 Muharram) untuk ziarah kepada orang alim, menengok orang sakit, mengusap kepala anak yatim, memotong kuku, membaca al-Fatihah seribu kali dan bersilaturahmi maka tidak ada dalil yg menunjukkan keutamaan amal-amal itu jika dikerjakan pada hari Asyura. Yang benar amalan-amalan ini diperintahkan oleh syariat di setiap saat, adapun mengkhususkan di hari ini (10 Muharram) maka hukumnya adalah bid’ah.

  1. TENTANG MELUASKAN BELANJA
  2. YANG BERPENDAPAT ADA KEUTAMAAN : Adalah menjamu serta bersedekah pada 10 muharram bukan hanya pada anak yatim tapi keluarga, anak, istri, suami dan orang orang terdekat, karena itu sunnah beliau saw dan pembuka keberkahan hingga setahun penuh.

(FAIDHUL QADIR juz 6 hal 235-236).Diriwayatkan pula bahwa sayyidina Umar ra menjamu tamu dengan jamuan khusus, pada malam 10 muharram (MUSNAD IMAM TABRANI/ TAFSIR IBN KATSIR Juz 3 hal 244)

  1. BERPENDAPAT LAIN : Ibnu Rajab berkata (Latha’iful Ma’arif hal. 53) : “Hadits anjuran memberikan uang belanja lebih dari hari-hari biasa, diriwayatkan dari banyak jalan namun tidak ada satupun yang shahih.
  2. Di antara ulama yang mengatakan demikian adalah Muhammad bin Abdullah bin Al-Hakam Al-Uqaili berkata :”(Hadits itu tidak dikenal)”. Adapun mengadakan ma’tam (kumpulan orang dalam kesusahan, semacam haul) sebagaimana dilakukan oleh Rafidhah dalam rangka mengenang kematian Husain bin Ali Radhiyallahu ‘anhu maka itu adalah perbuatan orang-orang yang tersesat di dunia sedangkan ia menyangka telah berbuat kebaikan. Allah dan RasulNya tidak pernah memerintahkan mengadakan ma’tam pada hari lahir atau wafat para nabi maka bagaimanakah dengan manusia/orang selain mereka”
  1. TENTANG BERCELAK, BERHIAS, SHALAT SUNAH

Pada saat menerangkan kaidah-kaidah untuk mengenal hadits palsu, Al-Hafidz Ibnu Qayyim (al-Manar al-Munif hal. 113 secara ringkas) berkata : “Hadits-hadits tentang bercelak pada hari Asyura, berhias, bersenang-senang, berpesta dan sholat di hari ini dan fadhilah-fadhilah lain tidak ada satupun yang shahih, tidak satupun keterangan yang kuat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selain hadits puasa. Adapun selainnya adalah bathil seperti.

“Barangsiapa memberi kelonggaran pada keluarganya pada hari Asyura, niscaya Allah akan memberikan kelonggaran kepadanya sepanjang tahun”.

  1. Imam Ahmad berkata : “Hadits ini tidak sah/bathil”. Adapun hadits-hadits bercelak, memakai minyak rambut dan memakai wangi-wangian, itu dibuat-buat oleh tukang dusta. Kemudian golongan lain membalas dengan menjadikan hari Asyura sebagai hari kesedihan dan kesusahan. Dua goloangan ini adalah ahli bid’ah yang menyimpang dari As-Sunnah. Sedangkan Ahlus Sunnah melaksanakan puasa pada hari itu yang diperintahkan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi bid’ah-bid’ah yang diperintahkan oleh syaithan”.
  2. Adapun shalat Asyura maka haditsnya bathil. As-Suyuthi dalam Al-Lali 2/29 berkata : “Maudhu’ (hadits palsu)”. Ucapan beliau ini diambil Asy-Syaukani dalam Al-Fawaid Al-Majmu’ah hal.47. Hal senada juga diucapkan oleh Al-Iraqi dalam Tanzihus Syari’ah 2/89 dan Ibnul Jauzi dalam Al-Maudlu’ah 2/122
  3. Ibnu Rajab berkata (Latha’ful Ma’arif) : “Setiap riwayat yang menerangkan keutamaan bercelak, pacar, kutek dan mandi pada hari Asyura adalah maudlu (palsu) tidak sah. Contohnya hadits yang dikatakan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu secara marfu.

“Barangsiapa mandi dan bersuci pada hari Asyura maka tidak akan sakit di tahun itu kecuali sakit yang menyebabkan kematian”. (Hadits ini adalah buatan para pembunuh Husain).

Adapun hadits,

“Barangsiapa bercelak dengan batu ismid di hari Asyura maka matanya tidak akan pernah sakit selamanya”

Maka ulama seperti Ibnu Rajab, Az-Zakarsyi dan As-Sakhawi menilainya sebagai hadits maudlu (palsu).

PERAWI HADITS YANG DINILAI LEMAH

Hadits ini diriwayatkan Ibnul Jauzi dalam Maudlu’at 2/204. Baihaqi dalam Syu’abul Iman 7/379 dan Fadhail Auqat 246 dan Al-Hakim sebagaimana dinukil As-Suyuthi dalam Al-Lali 2/111. Al-Hakim berkata : “Bercelak di hari Asyura tidak ada satu pun atsar/hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hal ini adalah bid’ah yang dibuat oleh para pembunuh Husain Radhiyallahu ‘anhu”.

RESUME JALAN TENGAH PEMAHAMAN DAN PENGAMALAN (Amilul-washathan)

Apabila amalan dan fadhilah tersebut dinilai tidak mempunyai dasar yang kuat (kecuali berpuasa) sebagian besar ulama menganjurkan, sebagai bagian dari “fadhailul a’mal” (penambah keutamaan beribadah). Maka, terlepas dari kontroversi mengenai kekuatan hukumnya, pengamalan amalan tersebut diniatkan pada ketetapan hati serta lillahi Ta’ala saja insyaAllah mendatangkan faedah dan rahmat.

BERIKUT RINCIAN JALAN TENGAH PENGAMALAN

UNTUK AMALAN PUASA SUNNAH : Dari berbagai riwayat dan pendapat, ada 4 Cara Menyikapi Puasa ‘Asyura:

  1. Berpuasa tiga hari pada 9, 10, dan 11 Muharram.
  2. Berpuasa pada hari 9 dan 10 Muharram.
  3. Berpuasa pada hari 10 dan 11 Muharram seandainya pada tanggal 9 Muharram nya tidak berpuasa.
  4. Berpuasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) saja, sebagian saja ulama memakruhkannya karena Nabi saw, memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makruh).

PENJELASANNYA:

(1) BERPUASA 9,10, dan 11 Muharram

“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan SELISIHILAH orang-orang Yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi.

Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany di Dha’iful Jami’. Ibnul Qayyim berkata (dalam Zaadud Ma’al): “Ini adalah derajat yang paling sempurna.” Syaikh Abdul Haq ad-Dahlawi mengatakan:”Inilah yang utama.”

Ibnu Hajar di dalam Fathul Baari juga mengisyaratkan keutamaan cara ini. Dan termasuk yang memilih pendapat puasa tiga hari tersebut (9, 10 dan 11 Muharram) adalah Asy-Syaukani dalam Nailul Authar dan Syaikh Muhamad Yusuf Al-Banury dalam Ma’arifus Sunan.

Namun ulama-ulama yang memilih cara seperti ini adalah dimaksudkan untuk lebih hati-hati. Ibnul Qudamah di dalam Al-Mughni menukil pendapat Imam Ahmad yang memilih cara seperti ini (selama tiga hari) pada saat timbul kerancuan dalam menentukan awal bulan.

Meskipun hadits tersebut dha’if, tetapi secara umum boleh diamalkan jika itu HANYA TERKAIT FADHILAH AMAL yang tidak menyangkut aqidah dan hukum.

Inilah tiga syarat penting diperbolehkannya beramal dengan hadits-hadits dha’if dalam keutamaan amal;

– Hadits itu tidak sampai derajat maudlu’ (=palsu).

– Orang yang mengamalkannya ‘mengetahui’ bahwa hadits itu adalah dha’if.

– Tidak memasyhurkannya sebagaimana halnya beramal dengan hadits shahih.

(2) BERPUASA 9 dan 10 Muharram

MAYORITAS HADITS menunjukkan cara ini. Juga pada Kitab Hadits Riyadhus Shalihin pun hanya dibahas mengenai puasa 9 dan 10 Muharram, dan tidak dikutip dalil satu pun tentang puasa 11 Muharram di sana.

(3) BERPUASA 10 dan 11 Muharram

“Berpuasalah pada hari Asyura dan SELISIHILAH orang Yahudi, puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.”

Hadits marfu’ ini tidak shahih karena ada illat (cacat). Ibnu Rajab berkata (Lathaiful Ma’arif hal 49): “Dalam sebagian riwayat disebutkan “atau sesudahnya” maka kata ‘atau’ di sini mungkin karena keraguan dari perawi atau memang menunjukkan kebolehan….”

Al-Hafidz berkata dalam Fathul Baari: “Dan ini adalah akhir perkara Rasulullah saw., dahulu beliau suka menyocoki ahli kitab dalam hal yang tidak ada perintah, lebih-lebih bila hal itu menyelisihi orang-orang musyrik. Maka setelah Fathu Makkah dan Islam menjadi termahsyur, beliau suka MENYELISIHI AHLI KITAB SEBAGAIMANA DALAM HADITS SHAHIH. Maka ini (masalah puasa ‘Asyura) termasuk dalam hal itu. Bisa menambah sehari sebelum atau sesudahnya untuk menyelisihi ahli kitab.”

(4) BERPUASA 10 Muharram saja

ATTARTIBU AMALAN IBADAH BULAN MUHARAM HASIL IJTIHAD PARA ULAMA (Ijtima’)

Nr. AMALAN WAKTU BOBOT

DALIL

FAEDAH
1 BERPUASA TASYU’A DAN ASYURAA 9-10 Muharam,

Atau 9-10-11

Atau 1-10

Sahih-Bukhari

Ijtihad

Ijtihad

menggugurkan dosa 1 tahun lalu
2 MEMBACA AYAT QURSIY Tiap usai shalat fardlu,

Atau 1-10

 

Sahih

Masuk syorga tanpa halangan,

(1 huruf 40.000 kebaikan, 1000 berkah)

3 MEMBACA SURAT IKHLAS

 

Tiap hari,

Atau 1-10

Sahih 1 X = 1/3 baca Al-Qur’an,

3 X = khatam Al-Qur’an

4 MEMBACA  ALI IMRAN:173&AL-A’RAAF:40,

(HASBUNALLAH WA NI’MAL WAQIL)

Tiap hari,

9-10 Muharam

Ayat,

Hadits

Ketenangan hidup, keamanan, keselamatan
5 SHOLAT SUNNAH MUHARRAM

(Shalat Tasybih, shalat rahmat, dll)

Malem 10 Ijtihad Mendapat rahmat
6 BERSODAQOH, MEMBERI MAKAN ORANG YANG BERPUASA.

 

Tiap hari,

9-10 Muharam

Ayat,

Al-Hadits,

Ijtihad

Panjang umur, menolak penyakit, amal jariyah, harta berkah
7 MENYANTUNI ANAK YATIM

(Memberi sesuatu, menyayangi, mengusap rambutnya)

Tiap hari,

9-10 Muharam

Hadits Bukhari Menempati kedudukan syorga yang tinggi bersama Rasulullah SAW
8 MELUASKAN BELANJA KELUARGA (mengadakan jamuan istimewa, makan bersama keluarga) Malem 10 Ijtihad

(Dari sahih muslim)

Allah meluaskan rizki
9 MENINGKATKAN NILAI IBADAH

 

Tiap hari,

 

Perintah ayat

Ijtihad

Taqwa
10 MANDI ASSYURAA (Sesuci badan) Malem 10 Ijtihad Menjaga kesehatan
11 MEMOTONG KUKU, MERAPIHKAN RAMBUT, MEMAKAI PAKAIAN BAIK, BERSIH, WEWANGIAN, dsb. Malem 10 Ijtihad Menjaga kesehatan
12 MEMAKAI CELAK / SHIFAT, Malem 10 Ijtihad Menjaga kesehatan
13 ZIARAH KE ORANG ORANG ALIM

 

Tanggal 9,

Atau 1-10

Ijtihad

(ibadah disunahkan)

Rahmat dan berkah umur
14 TA’ZIAH DAN MENGANTAR JENAZAH

 

Tanggal 9,

Atau 1-10

Hadits,

Ijtihad

Pahala 2 qirat (2 gunung besar)
15 MEMBESUK ORANG SAKIT

 

Tanggal 9,

Atau 1-10

Ijtihad Rahmat, didoakan 70 ribu malaikat
16 Amal shalih dan berbuat manfaat  lainnya Sehari hari Nilai Islam Untuk mencapai derajat insan kamil

DO’A ASSYURAA / 10 MUHARAM

Mari manfaatkan momen hari ‘Asyura, hari yang penuh keutamaan dan kemuliaan dengan memanjatkan doa.

“Hasbunallahu wani’mal wakiilu ni’mal maulaa wani’man nashiiru, Subhanallahi mil-al miizaani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridhaa wazinatal ‘arsyi, Laa malja-a walaa manja-a minallahi illa ilaihi subhaanallahi ‘adadasy syaf’ir wal witri, Wa ‘adada kalimaatillahittaammaati kulliha nas-alukas salaamata birahmatika yaa arhamar raahimina, Walaa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiimi, Wa huwa hasbuna wa ni’mal wakiilu ni’mal maulaa wa ni’man nashiiru, Wa shallalahu ‘alaa sayyidina muhammadin wa ‘alaa aalihi washahbihii wasallam”.

Artinya:

“Cukuplah Allah menjadi sandaran kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik kekasih, dan sebaik-baik Penolong. Maha Suci Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan dan timbangan ‘arsy. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari Allah, kecuali hanya kepada-Nya. Maha Suci Allah sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat Allah yang sempurna, kami memohon keselamatan dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Paling Penyayang diantara semua yang penyayang. Dan tiada daya upaya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dan Dialah yang mencukupi kami, sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik kekasih, dan sebaik-baik Penolong. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, teriring keluarga dan sahabat beliau.”

DOA HAJAT :

Laa ilaha illallohul haliimul kariimu subhaanallohi robbil ‘arsyil ‘azhiim. Alhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin. As `aluka muujibaari rohmatika wa ‘azaaima maghfirotika wal ghoniimata ming kulli birri wassalaamata ming kulli itsmin Laa tada’ lii dzamban illa ghofartahu walaa hamman illaa farojtahu walaa haajatan hiya laka ridhon illa qodhoitahaa yaa arhamar roohimiin.

Artinya :

Tidak ada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Lembut dan Maha Penyantun. Maha Suci Allah, Tuhan pemelihara Arsy yang Maha Agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Kepada-Mu-lah aku memohon sesuatu yang mewajibkan rahmat-Mu, dan sesuatu yang mendatangkan ampunan-Mu dan memperoleh keuntungan pada tiap-tiap dosa. Janganlah Engkau biarkan dosa daripada diriku, melainkan Engkau ampuni dan tidak ada sesuatu kepentingan, melainkan Engkau beri jalan keluar, dan tidak pula sesuatu hajat yang mendapat kerelaan-Mu, melainkan Engkau kabulkan. Wahai Tuhan Yang Paling Pengasih dan Penyayang.

LAFAZ NIAT PUASA

Lafadz Niat Puasa Tasu’a (puasa 9 Muharram)

NAWAITU SAUMA TASU’A SUNNATALILLAHI TA’ALA
Artinya : “Saya niat puasa hari Tasu’a, sunnah karena Allah ta’ala.”

Lafadz Niat Puasa Asyuro’ (puasa 10 Muharram)
نويت صوم عشر سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA ‘ASYURA SUNNATAN LILLAHI TA’ALA
Artinya : “Saya niat puasa hari ’Asyura , sunnah karena Allah ta’ala”.

(Niat letaknya di hati, melafadzkan untuk menuntun hati).

KESIMPULAN DAN PENUTUP

  1. Maka pandangan mayoritas kaum muslimin Ahli Sunnah wal Jamaah tentang keutamaan dan kemuliaandibulan‘asyura, adalah dengan memanfaatkan momen utama ini diisi dengan memperbanyak dan mempertebal ibadah serta perbuatan amal shalih lainnya seperti yang dijabarkan dalam tabel amalan Muharam diatas.
  1. Sedangkan pandangan bagi kaum Syi’ah dalam satu sisi sama dengan pandangan kaum Sunni dalam hal keutamaan dan kemuliaandibulan‘asyura, hanya yang membedakannya adalah tata cara menyikapi hari ‘asyura, bagi kaum Syi’ah memandangnya sebagai hari kesyukuran sekaligus sebagai hari berduka atas gugurnya cucu Rasulullah Saw Sayyidina Hassan dan Husein di padang Karbala pada 10 Muharram tahun 61 Hijriyah, bertepatan 10 Oktober 680 Masehi. Yang dibunuh oleh militer Khalifah Bani Umayyah, yang dipimpin jenderal Yazid bin Muawiyah yang membawa dampak sangat besar dalam sejarah perkembangan Islam, di satu sisi hati umat Islam merasa tersayat atas perbuatan Yazid yang tidak bertanggung jawab tersebut, dan di sisi lain menimbulkan rasa haru dan kagum terhadap Imam Husein, terutama bagi pengikut keluarga Ali bin Abi Thalib (alawiyah).
  1. Rasa haru dan duka itulah yang mendorong kaum Syiah untuk memperingati hari‘asyura yang pada mulanya diperingati secara sederhana yaitu dengan berziarah ke tempat peristiwa berdarah tersebut, tetapi lama kelamaan peringatan itu membudaya dan menjadi perayaan besar-besaran dengan memakai pakaian berkabung dan mulai melampaui batas, dengan melukai badan mereka sendiri, memukul-mukul dada, mengiris kepala mereka dan anak-anak mereka dengan pisau. Ini dilakukan oleh Syi’ah Imamiah dan Rafidhah  dan adalah merupakan keistimewaan tersendiri bagi mereka yang dapat berdomisili dekat makam Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib, mereka melumurkan seluruh tubuh mereka dengan lumpur, dari tanah yang ada di sekitar makam Al-Husein, karena menurut mereka tanah tersebut mempunyai keistimewaan (sumber: http//dhr 12.com/?a=257), (sumber: http//dhr 12.com/?a=257).
  1. Perbuatan Jahiliyah yang mereka lakukan itu tidak ada hubungan sama sekali dengan Islam. Nabi Muhammad Saw bersabda:Tidak termasuk golongan kami orang-orang yan menampar pipi (wajah), merobek saku, dan melakukan amalkan Jahiliyah (HR. Bukhari no.1294 dan mUslim no.103).
  1. Ibnu Qudamah berkata: Jika ada orang yang melakukan amal yang mengandung nilai “kebaikan/ibadah” maka hal tersebut diperbolehkan, seperti shalat nawafil atau mengerjakan shalat shalat sunah yang membarengi momen hari/bulan utama dan atau Fadhoilul A’maal, maka tidak disyaratkan harus dengan berlandaskan hadits shahih” (Al-Mughny 2/33)
  1. Maka secara marak tradisi bahwa memperingati hari ‘asyura mulai diperingati sejak setahun setelah tragedi Karbala yaitu pada 10 Muharram tahun 62 Hijriyah, atau pada tahun 681 Masehi. Namun secara hakekat bahwa Rasulullah SAW telah melakukan peringatan ‘asyura ini dengan melaksanakan puasa dan melakukan amal shalih lainnya serta memperbanyak ibadah yang berkaitan dengan keutamaan bulan Muharam.

‘Ala kullihal, hari ‘asyura  merupakan hari yang utama dan mulia dalam nilai nilai Islam sekaligus hari tragedi dalam sejarah politik Islam atas pembantaian cucu Rasulullah Saw Al-Hasan dan Husein di Karbala. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk merespon/mentadzaburi hari yang dimuliakan Allah Swt tersebut dengan berpuasa serta melakukan amal shalih lainnya, memperbanyak ibadah namun dilarang merayakannya dengan cara ikut ikutan yang jahil, bathil , berbuat dzalim menyiksa diri dan anggota keluarga sendiri dan sebagainya.

Salamun kaulam min Rabbirrahim, demikian semoga manfaat dan menambah wawasan.

Prembun, 7 Oktober 2016

Diolah dan disusun lengkapi oleh : Agus Sholech Al-Qadry

Maraji/Sumber :

  1. Al-Qur’an terjemah DEPAG RI
  2. M. Nasir, Lc., MA :Penulis: Pimp. Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batubara dan Wakil Sekretaris Dewan Fatwa Pengurus Besar Al Washliyah
  3. Ustadz Aris Munandar bin S.Ahmadi-Surakarta
  4. Attauziah hasanah abuya Kyai M. Syamsuddin-Majelis dzikir As-Shalihin-Masjid Baitut Taibin-Prembun-Kebumen-Jawa Tengah
  5. Pengajian terbuka ponpes Krapyak-Yogyakarta
  6. Sejarah dan tokoh ahli fiqih & perawi hadits-H. Said Aqil MA-Ketua PBNU
  7. http://noternative.blogspot.co.id/2013/11/12-amalan-di-hari-asyura-10-muharram.html
  8. http://ilmuamalan.blogspot.co.id/2014/05/shalat-tasbih-dan-khasiat-shalat-tasbih.html
  9. https://ulamasunnah.wordpress.com/2009/01/01/keutamaan-puasa-di-hari-asyura-10-muharram/
  10. Sumber lain

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s