BOLEHKAH MENULISKAN KATA SALAM, SHALAWAT DAN DO’A DENGAN DISINGKAT DAN MASALAH TYPO ?

BOLEHKAH MENULISKAN KATA SALAM, SHALAWAT DAN DO’A,DENGAN DISINGKAT DAN MASALAH TYPO ?

singkatan

DAFTAR ISI:

  • LATAR BELAKANG
  • HUKUM MENYINGKAT KATA SALAM, SHALAWAT DAN SEJENISNYA.
  • MASALAH TYPO
  • KESIMPULAN

HUKUM MENYINGKAT KATA SALAM, SHALAWAT DAN SEJENISNYA

DAN MASALAH TYPO

bismillah

LATAR BELAKANG

Di media sosial sering kita mendapat pesan dari teman atau dari orang orang yang menyebarkan pesan yang berisi ajakan untuk tidak menulis / mengucapkan salam, shalawat dan sejenisnya dengan disingkat yang diklaim berakibat salah makna secara fatal. Dan biasanya diembel-embeli dengan berbagai dalil dan tafsyir, yang menekankan bahawa islam itu harus begini begitu, jangan mengkuti budaya kafir dan sebagainya. Sehingga bagi umat yang menerima pesan tersebut serta merta langsung membagikan / menyebarkannya kepada lainnya, tanpa mendasari ilmu. Efek dari hal tersebut membuat kebingungan dan bertanya tanya dalam hati. Dan bagi sebagian lainnya tanpa berfikir langsung menyebarkannya tanpa reserve.

Berikut contoh selebaran yang dibagikan (share) hingga menjadi berantai dan menyebar di sosial media (sosmed) :

*GANTI UCAPAN KITA DENGAN DOA.*

Jangan ucapkan ‘0k’, ucapkan “In syaa  Allah”(- اللَّهُ شَاءَ إِنْ -)

Jangan ucapkan “wow”, ucapkan “SubhaanAllah”(- اللَّهُ سُبْحَانَ -)

Jangan ucapkan “hebat”, ucapkan “Maa syaa Allah”(- مَاشَآءَاللّهُ -).

Jangan ucapkan “saya baik2 saja”, ucapkan “Allhamdulillah”(- اللَّهُ الْحَمْدُ -)

Jangan ucapkan “Terimakasih”, ucapkan “Jazaka (ki,kumu) llahu Khairan”(- خَيْرًا اللهُ جَزَاك -)

Jangan ucapkan “Hati2 ya…sampai jumpa”, ucapkan “Fii Amanillah”(- اللَّهُ أَمَانِ فِي -)

Jangan ucapkan “.Hello”, ucapkan “Assalamu alaikkum Warahmatullah”(- اللهِ وَرَحْمَةُ عَلَيْكُمْ السَّلاَمُ -)

Doa yg indah untuk berterima kasih pada Allah, pada semua kesempatan.

“Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika  wa husni  ‘ibadatika”

‎ ‎عِبَادَتِكَ وَحُسْنِ وَشُكْرِكَ ذِكْرِكَ عَلَى أَعِنِّى اللَّهُمَّ

Mari kita sama-sama membetulkan :

  • Aamiin,
  • In Syaa Allah , dan
  • Menyingkat kata Assalamu’alaikum.

Dalam bahasa Arab ada 4 kata amin yg berbeda makna :

  • – Amin = Aman
  • – Aamin = Meminta perlindungan
  • – Amiin = Jujur
  • – Aamiin = Ya Allah, kabulkanlah do’a kami

Kita seharusnya tidak menulis :

  • *Insya Allah* = Menciptakan Allah (naudzubillah)

Tapi pastikan kita menulis :

  • *In Syaa Allah = dengan izin Allah

Assalamualaikum, jgn disingkat, karena ;

  1. As = Orang bodoh ; keledai
  2. Ass = Pantat
  3. Askum = Celakalah kamu
  4. Assamu = Racun
  5. Samlekum = Matilah kamu
  6. Mikum = dari bahasa Ibrani, Mari Bercinta.

Salam pendek, Salam sedang dan Salam panjang telah dicontohkan oleh Nabi  dan tidak merubah  makna aslinya :

  • *Salam pendek* : “Assalamualaikum”. (Dengan 10 kebaikan).
  • *Salam sedang* : “Assalamualaikum warahmatullah”. (Dengan 20 kebaikan).
  • *Salam panjang* : “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. (Dengan kebaikan sempurna).

Dengan penjelasan ini, mudah-mudahan tidak ada lagi yang menyingkat karena dapat merubah maksud.

– Bila menurut anda ini  ada manfaatnya,  beritahu ke yg lain.

SHARE JIKA INGIN YANG LAIN DAPAT MANFAAT.

*Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala, seperti org yg melakukannya.*(HR. Muslim 3509).

*Semoga kita termasuk hamba Allah yang memperoleh kebaikan dari membaca artikel Islami serta dapat mengamalkan-nya.*

Demikian rangkaian selebaran yang sering beredar dan diedarkan ditengah komunitas dunia sosial media (medsos). Maka bagi insan islam yang cerdas dan mendasari segala sesuatunya dengan ilmu pengetahuan tentu dalam dirinya akan melontarkan ide pertanyaan:

“Benarkah demikian?”

Atau jika divisualisasikan dengan dialek lokall kira-kira akan seperti ini:

”Ada ape lagi, nih. Bener kaga’ neh inpo. Kayenye ribet amat agama islam”.

Begitu kira-kira kasak kusuk yang lazim terjadi ditengah umat.

Baiklah saudaraku, ikhwan fillah, sobat dumay dimana saja berada. Mari bersama sama kita membahas perkara ini dengan melandasi ilmu pengetahuan, dengan akal logika. Bukan dengan okol (asal).

Kita mulai dari situasi yang sering terjadi (realitas) ditengah umat, di dunia interaksi sosial media.

  1. Kebiasaan / kelaziman orang dalam mengetik atau menulis kata kata dengan disingkat.

Sudah menjadi kebiasaan / kelaziman orang dalam dunia ketik mengetik atau menulis kata kata, itu sering dengan disingkat. Baik yang bersifat komunikasi surat menyurat resmi atau pun personal, maka sudah menjadi kelaziman. Hanya bedanya untuk yang resmi masih diberi penjelasan dengan menambah kalimat penjelasannya didalam tanda kurung atau dengan foot note. Sedang di dunia sosial media terutama dunia perpesanan online (chating), maka penyingkatan kata tidak terelakkan. Nah, kata kata dengan ketikan yang disingkat singkat itu kalimat umum. Bagaimana jika kata kata yang disingkat itu adalah kalimat salam, shalawat dan sejenisnya?

Kita semua tentu telah mengerti akan sebuah kaidah dasar, bahwa kalimat atau lafal-lafal kalam Ilahi (ayat ayat) dalam Al-Qur’an, yang berhuruf dan berbahasa Arab dan didalamnya berisi kalimah salam, shalawat dan doa, maka rangkaian kalimat ayat ayatnya, hurufnya itu tidak dapat dan tidak boleh dikurangi atau ditambah barang satupun, sebab dapat merubah isi dan makna. Dengan demikian jika seseorang atau kumpulan orang hendak mencetak serta memperbanyak Al-Qur’an, maka harus ditulis / dicetak dengan sempurna sesuai aslinya tanpa kurang dan lebih. Dan begitu pula bagi para qira’ah (pembaca Al-Qur’an), maka harus diucapkan (melafalkan) dengan langkap dan sempurna, tidak menyingkatnya bahkan salah membacanya. Begitu pula rangkaian Al-hadits, tidak boleh dikurang dan tambahi dari teks aslinya.

Itu teks asli ayat ayat Al-Qur’an ataupun Hadits. Sehingga lafal salam, Sholawat dan lainnya harus tertulis dan diucapkan lengkap, sempurna seperti bacaan : “Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Demikian juga mengucapkan salam harus diucapkan lengkap, sempurna seperti: “Assalaamu’alaikum warahmatullaaahi wa barokaatuhu”.

Namun permasalahannya adalah banyak kita dapati kaum muslimin yang menyingkat-nyingkat lafal salam, shalawat dan sejenisnya tersebut, untuk sebuah alasan kepraktisan demi menyingkat waktu dalam penulisan atau pengetikan. Dan saya meyakini bahwa anda sama sekali tidak berniat meremehkan keagungan ayat-ayat tersebut.

Terbukti pada kenyataannya, tidak ada seorang muslimpun yang mengucapkan / menjawab doa dengan disingkat. Setiap muslim ketika memberi salam kepada saudaranya dengan ucapan maka iapun membalas ucapannya dengan sempurna, demikian juga saat bersholawat kepada Nabi, kita mengucapkan doa sholawat tersebut dengan sempurna.

Coba kita ilustrasikan:

Si A kepada si B: “Assalaamu’alaikum”

Si B tentu akan membalas: ”Wa’alaikum salam”.

Apa ada yang begini:

Si A kepada si B: “Assalaamu’alaikum”

Si B membalas: ”kumsal”. Ada yang begitu ???

Lagi:

Apa ada yang begini:

Si A menulis salam (disingkat) kepada si B: “Ass..”

Si B membalas: ”Bukan, gue bukan As, gue Katmi”. Ada yang begitu ???

Jika demikian perkaranya berarti ini hanya tentang menyingkat kata-kata dalam tulisan / pengetikan di dunia interaksi komunikasi publik, bukan dalam ucapan, bukan dalam pembuatan atau pencetakan Al-Qur’an dan kumpulan Hadits. Nah, jika realitasnya seperti itu, apakah hukumnya haram, disiksa, masuk noraka, digebugin malaikat? Ataukah dibolehkan dan sesuatu yang ma’fu (kelaziman dialek) ??!

Sobat, mari ikuti dan renungi risalah ini hingga selesai, saya tidak akan meminta upah ataupun  hendak membuka lipatan bekas bungkus permen untuk kemudian berkeliling ke hadapan anda berharap sumbangan   sekedar koin  belel, itupun bekas untuk kerokan.

Pembahasan berikutnya adalah tentang:

  1. Kebiasaan / kelaziman orang dalam mengetik atau menulis kata kata dengan terjadi typo

miwbrrhts4zlf2cb7lpv

(kumparan.com)

Jika perkara yang telah disebut diatas adalah masalah menyingkat kalimat salam, shalawat dan sejenisnya, maka berikut ini adalah permasalahan lainnya, yaitu tentang typo. Sudah kita ketahui bersama bahwa dalam interaksi dunia komunikasi, orang lazim melakukan kesalahan dalam menulis atau mengetikkan kata kata.

Seperti dalam rangkaian komunikasi penuh typo, sebagai berikut:

“slaam unutk kleuraga… seaht slealu…ttpatp snmgaat “.

(Tulisan normal: Salam untuk keluarga, sehat selalu, tetap semangat).

Sadar atau tidak anda baru saja membaca sebuah rangkaian kalimat / tulisan yang berantakan (typo). Namun anda mampu menerjemahkannya. Inilah kehebatan otak manusia, karunia Tuhan Yang Maha Sempurna. Maka bagi yang bisa membaca model tulisan typo tersebut, berarti otak kanan dan kiri anda masih berfungsi dengan baik . Maka bagi yang sering menuliskan dan mengetik salah (typo), tidak musti (keharusan) dikoreksi.

  1. HUKUM MENYINGKAT KATA SALAM, SHALAWAT DAN SEJENISNYA.

Pendapat para Ulama besar

Berikut berbagai pendapat dari para ulama besar, yang juga dilansir oleh sebuah situs media dakwah online, firanda.com sebagai berikut:

Syaikh Al-Albani rahimahullah pernah ditanya tentang permasalahan ini :

Pertanyaan :

ما حكم كتابة الحرف ( ص ) بعد لفظة النبي صلى الله عليه وسلم في الكتاب.؟
Apa hukum penulisan huruf shad (ص) setelah penulisan lafal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di buku?

Jawab :

لا مانع من ذلك، بخلاف ما يفعله بعضهم قديما (صلعم) إختصار أوسع،أكثر حرفا من (ص) لأن ذلك أُوهم أنها كلمة،وبعض العامة والجهلة لا يفقهها،وأما (ص) فأصبحت رمزا للصلاة على النبي صلي الله عليه وسلم، لذلك أنا ما أرى مانعا من إستعمال هذه اللفظة لأنها لا يُسئ فهمها

“Tidak mengapa, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sebagian orang dahulu dengan menulis singkatan “صلعم” (yaitu ringkasan dari صـلـى الله عليه وسلم -pen), yaitu bentuk ringkasan yang lebih luas dan lebih banyak hurufnya daripada (ص), karena tulisan (صلعم) mengesankan adalah sebuah kata (shol’am), dan sebagian orang awam serta orang-orang bodoh tidak memahaminya (kalau itu hanya singkatan-pen). Adapun singkatan (ص) maka menjadi simbol bagi sholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karenanya aku memandang tidak mengapa menggunakan lafal ini (ص )-(sebagai ringkasan shalawat-pen) karena tidak disalah fahami” .

(Transkrip dari kaset Silsilah Al-Hudaa wa An-Nuur, kaset no 165, dapat lihat di:http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=6110)

Sangat jelas dari perkataan Syaikh Al-Albani bahwasanya jika lafal salam, shalawat dan sejenisnya dalampenulisadigantidengansimbol (di singkat) tidak menimbulkan kesalah fahaman bagi orang awam maka tidak mengapa untuk digunakan. Karena tujuan dari simbol tersebut bukanlah untuk dibaca, tapi yang dibaca adalah sholawatnya secara lengkap. Simbol tersebut hanyalah sebagai pemberitahuan gelar / atribut (untuk salam, sholawat dan sejenisnya didalam penulisan terbatas – red).

Dari jawaban Syaikh Al-Albani di atas maka bisa kita simpulkan akan bolehnya menyingkat shalawat kepada Nabi dengan sinkatan / simbol huruf ”shad” ( ص ). Itu risalah kitab dalam bahasa Arab. Sedang dalam tulis menulis dengan bahasa lain seperti dalam bahasa Indonesia, maka singkatan shalawat atas nabi menjadi “SAW”, yang sudah lazim digunakan oleh kalangan umat islam diIndonesia dan tentunya semua orang telah tahu cara mengucapkannya yaitu, shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga menyingkat salam dengan “Ass Wr Wb”, atau menjawab salam secara tulisan tersebut dengan “Wlkm wr wb”, atau yang semisalnya yang tentunya telah dipahami maksudnya oleh pembaca.
Walaupun pendapat Syaikh Al-Albani rahimahullah ini ada juga ulama yang tidak sependapat. Dimana sebagian ulama yang kontra tersebut memandang bahwa penyingkatan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makruh.

(Dapat dilihat fatwa-fatwa mereka)  di :

http://www.artikelmuslim.com/2012/02/fatwa-ulama-seputar-hukum-menyingkat.htmlhttp://www.konsultasisyariah.com/hukum-menyingkat-tulisan-shalawat-nabi/ 

Sementara dari SaikhAs-Sakhoowi rahimahullah (wafat 902 H) dalam kitabnya Fathul Mughiits (Syarah 1000 bait Al-Haafiz al-‘Irooqi), lebih cenderung kepada pendapat bahwa penyingkatan tersebut hanya masuk pada kategori خِلاَفُ الأَوْلَى “……”, yaitu ”Menyelisihi yang lebih utama”, dan tidak sampai pada kategori makruh. Berikut pernyataan beliau rahimahullah:
واجتنب أيها الكاتب الرمز لها أي للصلاة على رسول الله صلى الله عليه و سلم في خطك بأن تقتصر منها على حرفين ونحو ذلك فتكون منقوصة صورة كما يفعله الكسائي والجهلة من أبناء العجم غالبا وعوام الطلبة فيكتبون بدلا صلى الله عليه وسلم ص أو صم أو صلم أو صلعم فذلك لما فيه من نقص الأجر لنقص الكتابة خلاف الأولى.
وتصريح المصنف فيه وفيما بعده بالكراهة ليس على بابه …لكن وجد بخط الذهبي وبعض الحفاظ كتابتها هكذا صلى الله علم وربما اقتفيت أثرهم فيه بزيادة لام أخرى قبل الميم مع التلفظ بهما غالبا والأولى خلافة

“Wahai sang penulis, hendaknya engkau menjauhi penulisan simbol untuk bersholawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tulisanmu, yaitu engkau menyingkatnya menjadi dua huruf dan yang semisalnya. Maka jadilah bentuk sholawatnya menjadi berkurang, sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Kisaai, orang-orang jahil dari orang-orang ‘ajam secara umum, dan juga para penuntut ilmu yang awam. Sebagai pengganti صلى الله عليه وسلم mereka tulis (ص) atau (صم) atau (صلم) atau (صلعم). Hal ini dikarenakan akan mengurangi pahala dikarenakan kurangnya tulisan. Ini adalah “menyelisihi yang lebih utama”.

Maka pernyataan dialog diatas adalah tentang saran untuk penulisan simbol shalawat hendaknya tidak satu karakter, sebaiknya ditambah setidaknya dua atau empat huruf, shad dan mim atau shad-lam-‘ain-mim (……./………). Dengan demikian dialog tersebut bukan tentang penolakan untuk penyingkatan tulisan shalawat.

Menambahkan pula sang penulis buku risalah pendapat para ulama tentang penyingkatan salam tersebut, Yaitu Al-Haafiz Al-‘Irooqi rahimahullah, di bait ini dan juga pada bait setelahnya adalah penegasan akan makruhnya ”Menyelisihi yang lebih utama”, (seperti tersebut diatas). Maka bukanlah pada makna makruh yang berkaitan dengan hukum syar’i. (pen.).

Kemudian dari pendapat lainnya adalah:

“Telah ditemukannya khot (tulisan tangan) Al-Imam Adz-Dzahabi dan juga sebagian para huffaz penulisan shalawat kepada Nabi,dengan penulisan simbol / penyingkatan seperti ini: (صلى الله علم), dan terkadang aku mengikuti cara mereka (dalam penyingkatan-pen) dengan menambah huruf “laam” yang lain sebelum huruf “miim” (yaitu menjadi: صلى الله عللم -pen) dengan biasanya disertai melafalkan sholawat dan salam. Dan yang lebih utama adalah tidak melakukannya”

(Fathul Mughiits 3/70-71, tahqiq Ali Husain Ali, cetakan Wizaaroh Asy-Syu’uun Al-Islaamiyah wal Awqoof wa Ad-Da’wah wa Al-Irsyaad)

Dengan demikian pernyataan dari SaikhAs-Sakhoowi, yaitu :makruhnya (hal ini) maka bukanlah pada makna biasanya, menunjukkan beliau tidak setuju bahwa penyingkatan shalawat dalam tulisan dihukumi makruh. Sehingga beliau menafsirkan kata “makruh” yang disebutkan oleh Al-Haafiz al-‘Irooqi bahwa makruh tersebut bukan pada makna makruh yang berkaitan dalam hukum fikih syar’i. Dengan demikian pernyataan Saikh As-Sakhoowi hanya memandang makruh tersebut dalam adab saja bukan dalam hukum syar’i. Karenanya beliau menegaskan bahwa beliau juga melakukan penyingkatan tersebut terkadang akan tetapi hanya dalam tulisan, dan tatkala beliau menyingkat dalam tulisan mulut beliau tetap mengucapkan sholawat dan dan salam kepada Nabi dalam bentuk ucapan penuh. Oleh karena itu beliau tetap memandang bahwa menyingkat hanyalah menyelisihi yang lebih utama. Dengan kata lain, ”Menyingkat lafal salam, shalawat dan sejenisnya” dari tulisan penuh itu masih dapat ditolerir (tidak termasuk menyalahi hukum syar’i  – red). 

Resume:
Pendapat As-Sakhoowi rahimahullah ini similar dengan pendapat Syaikh Al-Albani, bahwasanya penyingkatan shalawat hukumnya boleh, hanya saja menyelisihi yang lebih utama, karena tentunya dengan menulisnya secara lengkap akan mendapatkan pahala menulis sholawat tersebut, selain juga mendapatkan pahala mengucapkan secara lisan sholawat tersebut.

Pendapat Syaikh As-Sakhowi dan Al-Albani cukup kuat (logis), mengingat :

Pertama : “Makruh” salah satu bentuk vonis hukum dalam hukum-hukum fikih. Tentunya vonis tersebut butuh dalil, sebagaimana pernyataan “mubaah”, “sunnah”, “haram”, dan “wajib” juga butuh dalil. Dan dalam hal penyingkatan shalawat maka hukum asalnya adalah mubaah (boleh), kecuali ada dalil yang memalingkan kepada makruh.

Kedua : Tujuan dari tulisan adalah dibaca, karenanya huruf-huruf untuk mengungkapkan sesuatu ucapan bisa saja berbeda-beda. Untuk mengungkapkan sholawat kepada Nabi yaitu dengan ucapan (صلى الله عليه وسلم) bisa dengan menggunakan huruf Arab (huruf hijaiyah) atau dengan huruf latin, atau dengan huruf cina atau jepang, atau huruf jawa kuno, dll. Yang intinya dibuatnya tulisan adalah untuk dibaca, jika suatu tulisan sudah dipahami maksud bacaannya maka telah tercapai tujuan tulisan tersebut, karena tulisan adalah wasilah/sarana saja, tujuannya adalah bacaan. Jika tujuannya telah tercapai dengan tulisan huruf apapun maka wallahu A’lam tidak mengapa.

  • Karenanya syaikh Al-Albani rahimahullah memandang tidak mengapa jika lafal sholawat disingkat menjadi (ص) karena orang yang membacanya sudah paham tujuan dari tulisan huruf shood ini, yaitu untuk bershalawat.
  • Akan tetapi beliau kurang setuju dengan singkatan (صلعم) karena dikawatirkan akan disalah pahami sehingga akan dibaca oleh orang yang tidak mengerti dengan “Shol’ama” yang tidak tahu bahwa itu adalah singkatan dari sholawat kepada Nabi. Artinya beliau kawatir tujuan dari tulisan tidak tercapai.
  • Dengan demikian jika tujuan dari tulisan huruf-huruf telah tercapai maka hukumnya tidak mengapa. Sebagaimana tulisan SAW, saya rasa rata-rata orang akan faham maksudnya adalah untuk bersholawat kepada Nabi dengan mengucapkan “Shallallahu ‘Alaihi Wasallam”, dan bukan dibaca “saw’.

Ketiga : Jika kita menjadikan teks tulisan yang tertera sebagai tujuan maka yang hanya bisa mengungkapkan sholawat kepada Nabi dengan tepat adalah huruf Arab hijaiyah. Adapun huruf latin, huruf jawa kuno, huruf jepang, apalagi huruf cina tentu tidak akan bisa mengungkapkan sholawat dengan tepat. Sebagai contoh :

  • di dalam bahasa Inggris, atau bahasa, jawa, dan juga huruf cina dan jepang, kemungkinan besar tidak ada yang bisa mewakili huruf (ع) ‘ain, demikian juga huruf (ص).
  • Karenanya kalau kita hanya bersandar kepada teks yang tertulis dengan melalaikan bahwa teks tersebut hanyalah sarana dan bukan tujuan, maka kita katakan penulisan sholawat dalam bahasa Indonesia sebagai berikut merupakan kesalahan : “Salalahu alaihi wa salam”. Ini adalah kesalahan karena jika dibaca leterlek maka tidak akan mewakili sholawat yang benar, karena tidak mewakili huruf shood, dan malah cenderung mewakili huruf siin, demikian juga tidak mewakili huruf ‘ain, tetapi lebih cenderung mewakili huruf hamzah, demikian juga huruf lam nya tidak didouble. Yang paling mendekati kebenaran adalan “Shollallahu ‘alaihi wa sallam”

Keempat : Dari penjelasan poin di atas maka saya kurang setuju dengan penghukuman sebagian orang yang menyatakan bahwa menyingkat (السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ) dengan Ass wr wb adalah kesalahan, dikarenakan makna “Ass” dalam bahasa Inggris adalah makna yang jorok. Hal ini dikarenakan sbb :

  • Tujuan dari tulisan adalah bacaan, dan tujuan penulisan “Ass wr wb” bukanlah maksudnya dibaca secara leterlek “Ass”. Saya rasa ini dipahami oleh semua orang yang berakal. Demikian juga kalau tujuannya hanya membaca teks secara leterlek maka bagaimana mau dibaca “wr” dan “wb”??
  • Penulisan singkatan tersebut (yaitu Ass wr wb) dimaksudkan adalah dalam bahasa Indonesia, karenanya janganlah dibawa kepada makna bahasa-bahasa yang lain. Jika caranya demikian maka bisa jadi kita akan terjerumus dalam banyak kesalahan. Sebagai contoh :
  1. kata “butuh” dalam bahasa Indonesia adalah maknanya “perlu”, tapi dalam bahasa Malaysia maknanya konon adalah “kemaluan”.
  2. Demikian juga misalnya kata “naik” dalam bahasa Indonesia artinya beranjak dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi, akan tetapi dalam bahasa Arab artinya “berhubungan tubuh/seks”
  • Jika kita membawa tulisan Indonesia ke makna-makna dalam bahasa lain, seperti Ass dalam bahasa inggris artinya “pantat” maka jadilah penyingkatan ini menjadi haram, bukan hanya makruh.
  • Demikian juga mungkin saja kata “SAW” dalam bahasa-bahasa yang lain bisa jadi bermakna buruk. Padahal mayoritas ulama hanya menyatakan hukumnya sekedar makruh dan tidak sampai pada derajat haram. Cobalah renungkan.

Kelima : Sering kita butuh pada singkatan-singkatan tersebut dalam menulis sms dalam rangka untuk menghemat biaya dan menghemat waktu. Karena sebagaimana kita ketahui bersama bahwasanya kecepatan mengucapkan (berbicara dengan lisan) lebih cepat daripada kecepatan pengungkapan dengan tulisan.

Keenam : Kita juga mendapati para ulama melakukan penyingkatan, seperti :

  • (نا) yang merupakan singkatan dari (حدثنا),
  • demikian juga misalnya kata (بسملة) yang merupakan singkatan dari (بسم الله الرحمن الرحيم),
  • juga kata (حمدلة) singkatan dari (الحمد لله),
  • juga kata (حيفلة) singkatan dari (حي على الفلاح)
  • juga kata (حولقة) yang merupakan singkatan dari (لا حول ولا قوة إلا بالله).

Ketujuh : Diriwayatkan bahwsanya sebagian ahlil hadits menuliskan kata “Nabi” tanpa menuliskan (صلى الله عليه وسلم), akan tetapi hanya mencukupkan mengucapkan sholawat kepada Nabi dengan lisan tidak dengan tulisan. Jika perkaranya dibolehkan maka tentu menulis singkatan sholawat dalam rangka untuk mengingatkan pembaca agar bersholawat juga dibolehkan. Wallahu A’lam bis Showaab.

  1. Contoh dari kitab kitab salaf (klasik) yang menyingkat lafal salam atau shalawat

-photo

  1. Jenis Komunikasi dan Hakekatnya

A.Komunikasi Baku risalah

Komunikasi baku risalah adalah komunikasi klausual (bahasa hukum) yang diterapkan penulisan maupun pengucapannya tertulis dan tersusun sempurna menurut kaidah tata bahasa baku dan resmi serta orisinil dari sumber asalnya. Sehingga ketika hendak disalin atau digandakan guna kepentingan rujukan atau pustaka, maka tidak boleh ada distorsi barang satu hurufpun.

Jenis komunikasi baku:

  1. Ayat ayat Al-Qur’an
  2. Klausul Hadits
  3. Kitab hukum dan undang undang
  4. Formula rumus maupun bahasa pemrograman.

 

B.Komunikasi Praktis percakapan

Komunikasi praktis percakapan adalah komunikasi dialektikal (bahasa gaul) yang dipengaruhi oleh budaya, kebiasaan maupun bahasa masing masing yang maksud dan tujuannya akan dimengerti dan dipahami oleh masing-masing.Jika jenis komunikasi praktis (gaul) dikaitkan dengan kaidah hukum baku syareat, seperti hujjah dalam selebaran tersebut, maka akan terjadi banyak kerancuan, ketidak nyambungan dalam komunikasi bahkan dapat menimbulkan konflik ataupun kesalah pahaman

Coba kita simulasikan, berikut :

*GANTI UCAPAN KITA DENGAN DOA.*

  1. Jangan ucapkan ‘0k’, ucapkan “In syaa Allah”(- اللَّهُ شَاءَ إِنْ -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Pak Eddy (Atasan si Anto): ”Anto, tolong antarin file karyawan ke saya”.

– Anto (Karyawan) : ” In syaa  Allah, Pak”.

Dari dialog tersebut, kira kira ’nyambung’ tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri. (apalagi di sosial media seperti chat).

  1. Jangan ucapkan “wow”, ucapkan “SubhaanAllah”(-  سُبْحَانَاللَّهُ  -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Arman (Kekasih Anna): ”Sun dwong yang”.

– Anna (Kekasih Arman) : ” SubhaanAllah”.

Dari dialog tersebut, kira kira ’nyambung’ tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “hebat”, ucapkan “Maa syaa Allah” (- مَاشَآءَاللّهُ -).
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Fina (Anak): ”Ibu, Fina udah bisa jawab soal nomer 5”.

– Sukesih (Ibunda Fina) : Maa syaa Allah”.

Dari dialog tersebut, kira kira ’pas’’ tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “saya baik2 saja”, ucapkan “Allhamdulillah” (- الْحَمْدُاللَّهُ  -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Narto (Kawan Fredi): ”Di, kamu lolos ga dari kejaran polisi, jangan lupa hasil jambretan bagi dua”.

– Fredi (Kawan Narto) : Allhamdulillah aman, tenang aje”.

Dari dialog tersebut, kira kira patut tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “Terimakasih”, ucapkan “Jazaka (ki,kumu) llahu Khairan” (- خَيْرًا اللهُ جَزَاك -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online antara Toko online dengan customer melalui chat box online, seperti ini dialognya :

– Pembeli online: ”konfirmasi, saya pesan prodak no 345 dengan pembayaran COD”.

– Toko online : ” Jazakallahu Khairan”, telah bertransaksi dengan kami, pesanan anda akan segera diproses.

Dari dialog tersebut, kira kira pas tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “Hati2 ya…sampai jumpa”, ucapkan “Fii Amanillah”(- اللَّهُ أَمَانِ فِي -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi, seperti ini dialognya :

– Arini (teman Susi): ”Susi, dah dulu ya, gue mo klabing dolo”.

– Susi (teman Arini) : ” Fii Amanillah”.

Dari dialog tersebut, kira kira patut tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “.Hello, halo, hai, woi, dsb”, tapi ucapkan “Assalamu alaikkum Warahmatullah” (- اللهِ وَرَحْمَةُ عَلَيْكُمْ السَّلاَمُ -)
    • Jawab :
  • Frasa kata “Assalamu alaikkum Warahmatullah” terdiri dari 29 huruf dan butuh waktu 29 detik untuk mengetiknya (bisa lebih jika anda masih memikirkan ejaan ataupun typo dalam menulisnya). Saat anda sedang dalam situasi darurat dan harus segera menghubungi seseorang melalui media sosial, maka berkomunikasi dengan mode pengetikan sejumlah 29 huruf serta menghamburkan waktu selama 29 detik itu akan membuat anda sakit hati sebab kehilangan momen penting. Sedang jika menggunakan frasa kata ”Halo”, maka cukup tekan 4 huruf dan dalam 1 detik pesan anda sampai.
  • Lainnya, bagaimana jika ada linteraksi komunikasi antara orang Indonesia dengan orang asing (bule), seperti ini dialognya :

– Fendi berkenalan dengan orang asing dan memulai percakapannya :

””Assalamu alaikkum Warahmatullah””.

Dari dialog tersebut, kira kira efektif dan pas tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Cobala renungkan akan semua ini.

Berikutnya, mari kita membahas kalimat selebaran yang ini.

“Mari kita sama-sama membetulkan : Aamiin, In Syaa Allah , dan Menyingkat kata Assalamu’alaikum”.

Dalam bahasa Arab ada 4 kata amin yg berbeda makna :

  • – Amin = Aman
  • – Aamin = Meminta perlindungan
  • – Amiin = Jujur
  • – Aamiin = Ya Allah, kabulkanlah do’a kami

–           Jawab :

Literatur dan kaidah tata bahasa Arab dengan bahasa Indonesia sangat jauh berbeda. Saat frasa kata ”amin” ( أَمِيْنٌ) dalam huruf Arab yang mengandung berbagai makna jika dengan ditandai harakat, maka kata amin dalam bahasa Indonesia tetap satu kata ”A-M-I-N”. Orang Indonesia tidak akan ambil pusing dengan multi makna kata tersebut, sebab telah familier lafal itu sebagai ucapan sautan dalam shalat dan pembacaan do’a. Sehingga ketika ada tulisan amin tersebut, secara otomatis sudah dipahami maksud dan kapan diucapkan.

Baik, guna menambah pengetahuan, berikut kita bahas multi makna ”amin”  ( أَمِيْنٌ) dalam tata bahasa Arab, yang dilafalkan oleh bangsa Arab dan dipahami oleh orang serta dialek lokal Arab (ingat, kita orang dan bangsa Indonesia yang berdialek dan berbahasa Indonesia, tak perlu menjadi Arab)

Ada beberapa multi makna untuk kata  “Aamiin“.( أَمِيْنٌ), yang biasa kita dengar dan ucapkan dalam shalat, sebagai berikut:

Ada yang menjabarkan sebagai berikut:

  1. Amin (alif dan mim sama-sama pendek), artinya Aman, Tentram
  2. Aamin (alif panjang & mim pendek), artinya Meminta Perlindungan Keamanan
  3. Amiin (alif pendek & mim panjang), artinya Jujur Terpercaya
  4. Aamiin (alif & mim sama-sama panjang), artinya Ya Allah, Kabulkanlah Do’a Kami

Ada yang menjabarkan sebagai berikut:

  1. أَمِيْنٌ(a:pendek, min:panjang), artinya ‘orang yang amanah atau terpercaya’.
  2. أٰمِنْ(a:panjang, min:pendek), artinya ‘berimanlah’ atau ‘berilah jaminan keamanan’.

Ketika shalat, kita tidak boleh membaca “Amin” dengan dua cara baca di atas.

  1. آمِّيْنَ(a:panjang 5 harakat, mim:bertasydid, dan min: panjang), artinya ‘orang yang bermaksud menuju suatu tempat’.

Ada sebagian ulama yang memperbolehkan membaca “Amin” dalam shalat dengan bentuk bacaan semacam ini. Demikian keterangan Al-Wahidi. Imam An-Nawawi mengatakan, “Ini adalah pendapat yang sangat aneh. Kebanyakan ahli bahasa menganggapnya sebagai kesalahan pengucapan orang awam. Beberapa ulama mazhab kami (Mazhab Syafi’i) mengatakan, ‘Siapa saja yang membaca ‘Amin’ dengan model ini dalam shalatnya maka shalatnya batal.’” (At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, hlm. 134)

  1. أٰمِيْنَ(a:panjang 2 harakat karena mengikuti mad badalmin:panjang 4–6 harakat karena mengikuti mad ‘aridh lis sukun, dan nun dibaca mati), artinya ‘kabulkanlah’. Inilah bacaan “Amin” yang benar.

Read more https://konsultasisyariah.com/5467-lafal-amin-yang-benar.html

Itu lafal dalam bahasa Arab, yang merupakan lafal tetap (kalimat pasal) dalam ayat atau klausul dalam rangkaian hadits yang penjabaran serta multi maknanya diterapkan menurut fungsi dan tempatnya masing masing. Sesuai penjabaran dan penggunaan makna ‘amin’ yang telah diurai diatas yaitu mana amin yang digunakan dalam shalat, mana amin yang digunakan dalam dalil dan penerapan lainnya. Sedang ini adalah interaksi sosial, bahasa chating ataupun gaul, dalam bahasa Indonesia oleh komunitas orang Indonesia, maka tidak bisa dikaitkan dengan kaidah baku perdalilan maupun per-fiqih-an. Sebab ketika orang menulis kata amin (dalam bahasa Indonesia), entah mau dipanjangin atau bentuk pendek maka orang akan tahu maksudnya tanpa harus ‘ribet’ mengkaitkan multi makna amin yang digunakan untuk klausul hadits.(hidup kok ruwet kadang orang).

Coba jika kita simulasikan, sebagai berikut:

Sedang terjadi dialog urusan bisnis antara Bos dengan karyawan, lalu mengkaitkan amin menurut kaidah kaidah baku perdalilan::

Karyawan kepada bosnya: “Bos, sukses selalu untuk bos”.

Bos kepada karyawannya:” Aamin”.

Karyawan merespon: “wah, jangan ‘a’ panjang:bos aminnya, itu artinya meminta Perlindungan Keamanan.

Bos kepada karyawannya:”Ribet loeh….. saya pecat kamu”.

Bahasan berikutnya tentang pemahaman:

”Kita seharusnya tidak menulis’:*Insya Allah* = Menciptakan Allah (naudzubillah).

Tapi pastikan kita menulis :*In Syaa Allah =  dengan izin Allah.

Jawaban sama seperti uraian diatas:

Bahwa itu lafal dalam bahasa Arab, yang merupakan lafal tetap (kalimat pasal) dalam ayat atau klausul dalam rangkaian hadits yang penjabaran serta multi maknanya diterapkan menurut fungsi dan tempatnya masing masing. Sesuai penjabaran dan penggunaan makna ‘In Syaa Allah’ yang telah diurai diatas yaitu mana In Syaa Allah yang digunakan dalam ayat, mana In Syaa Allah yang digunakan dalam dalil dan penerapan lainnya. Sedang ini adalah interaksi sosial, bahasa chating ataupun gaul, dalam bahasa Indonesia oleh komunitas orang Indonesia, maka tidak bisa dikaitkan dengan kaidah baku perdalilan maupun per-fiqih-an. Sebab ketika orang menulis kata In Syaa Allah (dalam bahasa Indonesia), entah mau dipisah atau bentuk pendek bahkan typo, maka orang akan tahu maksudnya tanpa harus ‘ribet’ mengkaitkan multi makna Insyaa Allah yang digunakan untuk klausul hadits.(hidup kok ribet kadang orang).

Bahasan berikutnya tentang pemahaman:

Assalamualaikum, jangan disingkat karena ;

  1. As = Orang bodoh ; keledai
  2. Ass = Pantat
  3. Askum = Celakalah kamu
  4. Assamu = Racun
  5. Samlekum = Matilah kamu
  6. Mikum = dari bahasa Ibrani, Mari Bercinta.

Salam pendek, Salam sedang dan Salam panjang telah dicontohkan oleh Nabi  dan tidak merubah  makna aslinya :

  • *Salam pendek* : “Assalamualaikum”. (Dengan 10 kebaikan).
  • *Salam sedang* : “Assalamualaikum warahmatullah”. (Dengan 20 kebaikan).
  • *Salam panjang* : “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. (Dengan kebaikan sempurna).

Jawaban sama seperti uraian diatas:

Bahwa itu lafal dalam bahasa Arab, yang merupakan lafal tetap (kalimat pasal) dalam ayat atau klausul dalam rangkaian hadits yang penjabaran serta multi maknanya diterapkan menurut fungsi dan tempatnya masing masing. Sesuai penjabaran dan penggunaan makna As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum, Mikum dan sebagainya,.seperti yang telah diurai diatas yaitu mana As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum yang digunakan dalam ayat, mana As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum yang digunakan dalam dalil dan penerapan lainnya. Sedang ini adalah interaksi sosial, bahasa chating ataupun gaul, dalam bahasa Indonesia oleh komunitas orang Indonesia, maka tidak bisa dikaitkan dengan kaidah baku perdalilan maupun per-fiqih-an. Sebab ketika orang menulis kata As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum (dalam bahasa Indonesia), entah mau dipisah atau bentuk pendek bahkan typo, maka orang akan tahu maksudnya tanpa harus ‘rumit’ mengkaitkan multi makna frasa kata tersebut yang digunakan untuk klausul hadits.

Jika modelnya mau dikait kaitkan, maka ketahuilah dalam Al-Qur’an terdapat lafal lafal yang jika dikaitkan dengan bahasa lain akan bermakna negatif, contoh sebagai berikut:

  1. Dalam Al-Qur’an terdapat: lafal : “asu”, artinya: Timur,keelokan, padahal dalam bahasa Jawa bermakna anjing. Kemudian,
  2. La tai-asu min rahmatillah,” اللهرحمة من تيأسوا لا “(Janganlah kalian putus asa dengan rahmat Allah). padahal dalam bahasa Jawa bermakna kotoran anjing.
  • MASALAH TYPO
  1. Arti typo:

Typo berasal dari Bahasa Inggris “type” yang artinya mengetik. Karena salah dalam mengetik, tulisannya menjadi typo. Maka arti dari typo sendiri adalah “salah ketik”. (Sebagian orang yang belum mengetahui istilah typo, biasanya menyebutnya ”saltik”.

  1. Pendapat para ahli psikologi bahasa tentang typo

Menurut penelitian para ahli psikologi bahasa dan ilmu kognitif manusia dari Universitas besar dan internasional, urutan huruf dalam kata tidak penting. Cukup huruf pertama dan terakhir yang ada pada tempatnya. Kalimat bisa ditulis berantakan, tetapi kita dapat membacanya dan menangkap maksudnya. Ini disebabkan karena sistim syaraf otak ktia tidak membaca huruf per huruf, bukan kata per kata, melainkan rangkaian kalimat yang dibacanya sejak interaksi dari awal. (kelenjar syaraf di otak akan menangkap maksud pembicaraan, bukan pada hurufnya). Ini memang hal yang luar biasa.

Kecenderungan terjadi typo saat mengetik.

Kadang sering kita tidak menyadari adanya kesalahan saat mengetikkan sesuatu. Maka menurut penelitian para ahli, hal demikian itu normal.

Saat anda menuliskan kalimat di papan keyboard handphone atau komputer untuk membalas sebuah pesan atau mengetik tulisan, anda merasa telah menyusunnya sedemikian rupa sehingga maksud pesan yang disampaikan dapat segera terbaca oleh penerima dan merasa bisa dipahami.

Namun saat tulisan anda sampai ke benak pembaca, justru yang mereka dapati adalah serangkaian kalimat dan atau tulisan yang tidak berurutan hurufnya dalam satu kata, alias salah ketik seperti ilustrasi di atas.

Bagi sebagian orang, typo kadang menyebalkan hingga membuat mereka akan mengesampingkan maksud tulisan yang anda tuangkan, atau membuat tulisan anda tak selesai dibaca dan hanya menjadi sampah digital yang sia sia.

Dan bagi sebagian lainnya, tyipo hanya membuat orang membuang waktunya sedikit untuk mengernyitkan dahi sejenak mencerna maksud tulisan typo tersebut, untuk kemudian baru bisa dimengerti.

Kemudian bagi sebagian lainya yang telah familier dengan dunia interaksi media sosial, maka tulisan typo bukanlah persoalan, sehingga cepat direspon. Bahkan dengan balasan balik yang penuh typo juga.

Dalam hal ini bergembiralah anda    karena ada penjelasan untuk hal tersebut dan ada pembelaan ketika Anda justru sangat sulit menemukan kesalahan dalam tulisan Anda sendiri.

Menurut seorang pakar psikologi bahasa yang juga dilansir oleh kumparan.com*,

Dr Tom Stafford, adalah peneliti di bidang psikologi dan ilmu kognitif manusia yang juga menjadi pengajar di Universitas Sheffield, Inggris telah melakukan penelitian secara khusus tentang eror atau kekeliruan dalam sebuah tulisan.

“Ketika Anda sedang menulis, Anda tengah berusaha untuk menyampaikan sebuah pesan. Sebuah makna. Dan itu adalah pekerjaan tingkat tinggi,” katanya, dilansir dari Business Insider.

Ia mengatakan, bahwa kegiatan menulis memaksa seseorang untuk secara bersamaan melihat segalanya sebagai “percampuran antara data pasti yang diterima sensor indera dan ekspektasi kita akan suatu hal”.
Read more at https://kumparan.com/tio/mengapa-kita-tidak-sadar-melakukan-typo#Qy2LLE68DHpcpvVt.99

Sederhananya, kita sulit menyadari adanya suatu kesalahan karena pikiran kita telah terpaku pada bayangan ideal tentang apa yang kita tulis.

“Ini terjadi setiap saat. Masalahnya adalah persepsi. Kesalahan ketik kita akan sangat sulit untuk disadari, murni karena kita tahu apa yang kita maksud di tulisan kita. Dan ini menghalangi pembacaan sensorik atas apa yang benar-benar telah kita tulis,” jelas peneliti asal Inggris tersebut.

Bahkan menurutnya, bukan hanya penulis yang akan kesulitan menyadari kesalahan ketik. “Semakin pembaca paham akan isi tulisan Anda, semakin ia terfokus pada makna dan pesan dari tulisan itu. Ia akan cenderung mengabaikan detail-detailnya, seperti typo,” ujarnya.

Berbeda dengan menulis secara tradisional dengan pena, mengetik membutuhkan kelihaian motorik yang lebih tinggi. Kemudahan yang ditawarkan dengan teknologi pengetikan juga membawa ancaman kesalahan tulis yang lebih tinggi.

“Dalam tulisan tangan prosesnya akan lebih sulit (untuk melakukan typo). Ini dikarenakan ‘urutan’ huruf dalam sebuah kata telah tersimpan dalam benak dan kemampuan motorik kita secara lebih mendalam,” katanya menjelaskan sedikitnya typo di tulisan tangan.

Pemisahan secara fisik dari huruf-huruf di teknologi pengetikan modern membuat kesalahan urutan huruf-huruf dalam sebuah kata lebih mudah dilakukan.

“Sangat langka Anda melakukan kesalahan urutan huruf dalam sebuah kata. Itu karena otak Anda mempersiapkan kata-kata dengan lebih mendalam, karena Anda akan lebih pelan ketika menulis tangan,” ujarnya.

“Berbeda dengan menggunakan mesin. Huruf per huruf dipisah, memungkinkan kesalahan lebih sering dilakukan karena Anda harus memproses lagi huruf mana yang didahulukan dari huruf lainnya,” lanjutnya lagi.

Bagaimana Cara Menghindarinya?

Sayangnya, tidak semua dari kita memiliki tim editing yang akan memeriksa kesalahan yang kita buat. Meski begitu, tips ini mungkin bisa Anda coba.

  • Salah satunya adalah dengan beranjak sejenak dari tulisan tersebut dan menghabiskan beberapa waktu sebelum membacanya ulang. Otak Anda, menurut Stafford, akan lebih segar dan lebih mudah untuk menyadari adanya kesalahan.
  • Yang kedua adalah membacanya dengan keras-keras. Suara akan didengar oleh telinga Anda, yang tentunya akan menyadari kesalahan dalam suatu tulisan. Anda juga cenderung akan menyadari kesalahan sebelum mengatakannya keras-keras.
  • Yang terakhir adalah membuat orang yang ada di sekeliling Anda, terutama yang tidak paham akan isi tulisan, untuk membacanya kembali dengan suara yang terdengar. Ini akan memaksanya membaca dengan lebih hati-hati karena ia tidak memiliki bayangan ideal tentang pesan dari tulisan Anda.

Lembaga dan media profesional yang tak luput terjadi typo

Typo atau pengetikan salah tidak hanya dilakukan oleh orang orang umum. Lembaga resmi atau media terkenalpun acapkali mengalami hal typo dalam pengetikan dan terlanjur tayang dalam siarannya.

Beberapa contoh sebagai berikut :

Typo-yang Terpublikasi Oleh TV One:

TYPO-TVONE

Lesmana (2015)

 

  1. Jangan menyengaja typo

Namun demikian kita jangan serta merta sengaja typo. Mentang mentang suatu kewajaran akhirnya kita sengaja typo disetiap komunikasi melalui tulisan / ketikan.

“Kmpert luo, ……gw dkdalni, …..swueek…”

Sebab mengapa? Karena kadang kita menghadapi komunikasi dengan orang yang majemuk latar belakang intelektualitasnya. Ada yang paham ada yang tidak paham. Ada yang familier ada yang ’gapfek’. Jika kita menemui orang yang tidak mengerti pembicaraan / dialog, maka typo akan menjadi masalah, baik memunculkan ketersinggungan, salah paham dan lain sebagainya, sehingga komunikasi menjadi tidak efektif alias tidak menyambung.

  1. KESIMPULAN

Dengan demikian, well sobat ikhwan fillah, kita semua sedang membicarakan tentang perkara praktis dalam dunia komunikasi yang multi dialek dan karakter orang. Diluar orang itu benar atau salah, diluar orang itu bodoh afau pintar. Jadi, berfikirlah yang simpel, mudah dan luas. Jangan kita persulit, dibuat ruwet dan disempitkan dengan agumentasi mendasari serangkaian dalil cangkang. Ini katagori fiqih praktis bung, Oom, mbak, teteh, pak de, pak lek. Yang disana esensinya adalah menjabarkan ,menafsyirkan ayat ayat Ilahi dengan berbagai multi pendapat (ikhtilaf) dan argumentasi, yang kesemuanya dipengaruhi oleh latar belakang keilmuan para pen-tafsyirnya, oleh ruang, waktu dan peradaban. Oleh karena itu janganlah perkara praktis interaksi komunikasi dengan dialek dan bahasa lokal masing masing atau menurut caranya masing masing ini dikaitkan dengan kaidah sunnah, hadits, dalil ini dalil itu  atau lebih menggelikan lagi dikaitkan dengan aqidah. Sedang kita sendiri kebanyakan tidak mengerti apa makna aqidah itu sendiri.

Untuk kita renungkan:

  1. Keadaan Salam, Shalawat dan sejenisnya yang dibolehkan dengan disingkat :
  • Hanya terjadi dunia interaksi komunikasi publik dan media sosial (sosmed).
  • Penulisan dalam mukadimah, surat, catatan kaki.
  1. Keadaan Salam, Shalawat dan sejenisnya yang tidak dibolehkan dengan disingkat dan typo:
  • Pembuatan, pencetakan ayat Al-Qur’an, Hadits.
  • Klausul untuk undang undang.
  • Formula rumus dan bahasa pemrograman.
  1. Orang yang familier dengan karakter tulisan akan tahu maksud tulisan walaupun disingkat, walaupun typo. (Apalagi anda yang doyan chating di medsos)
  2. Ayat ayat Al-Qur’an pun pada mulanya tampil dalam keadaan gundul, polos, mentah seperti bentuk simbol dan karakter mentah, dan asalnya pun qalamullah dalam wujud transkrip agung yang ter-encrypt (penuh singkatan dan maha kode kode).(ayat)
  1. Maka janganlah kita mudah terjebak dengan penghakiman buruk (takfiri) atas datangnya sebuah tulisan, bacaan dan opini, yang dibungkus dengan serangkaian klausul dalil secara literal (cangkang).(ayat) 
  1. Jangan mudah membagi tulisan yang kita tidak mengetahui / mengerti hukum maupun hakekat kebenarannya, alias jangan mudah mengimani suatu berita tanpa tahu kebenarannya.(ayat)
  1. Dan pada pemikiran secara global, maka janganlah kita men-Tuhankan dalil, agama, kebendaan dan sosok.

Demikian saudaraku kaum muslimin dan muslimat, semoga menjadikan spirit untuk menuju dan menjadi umat terbaik, cerdas, luas cakrawala benaknya dan menjadi bagian dari golongan Insan Kamil (intelek).

“Kita mesti telanjang dan benad benar bersih, suci lahir dan di dalam batin”(Abid Ghoffar Aboe Dja’far-1977)

Semoga menjadikan keluasan fikir.

Salam cahaya-Nya

Kelana Delapan Penjuru Angin,

MAJELIS DZIKIR AS-SHALIHIN

MASJID BAITUT TAIBIN

PREMBUN KRANGGAN

‎‎Published on:26 ‎Desember ‎2017, ‏‎1:55:18

Created:28 ‎Nopember ‎2017, ‏‎7:53:38
‎Modified:25 ‎Desember ‎2017, ‏‎21:59:18
‎Accessed:25 ‎Desember ‎2017, ‏‎21:59:18

CopyRights@2017

——0o0—–

DAFTAR RUJUKAN:
*Apresiator. (23 Mei 2014). Mengenal Bahasa Prokem A.K.A Bahasa Gaul (BonusKamusnya Gan).
Forum Kaskus
.(http://www.kaskus.co.id/thread/537e41a6c2cb176b178b4582/mengenal-bahasa-prokem-aka-bahasa-gaul-bonus-kamusnya-gan/), diakses pada 28Desember 2015.Departemen Pendidikan Nasional. (2008).
Kamus Besar Bahasa Indonesia
 (Keempat ed.). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Jawalsen, R. (2012).
 Dasar Negara Diganti, Kehidupan Berbangsa Bubar 
,(http://jaringnews.com/politik-peristiwa/wakil-rakyat/16019/dasar-negara-diganti-kehidupan-berbangsa-bubar), diakses pada 27 Desember 2015.Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional. 2009.
Peraturan MenteriPendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2009 tentangPedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan.
 Jakarta:Pusat Bahasa Kemdiknas.Keraf, G. (1980).
Komposisi.
 Flores: Percetakan Arnoldus Ende.Kurosaki, M. N. (2012).
 Makalah Efesiensi Bahasa Indonesia
,(http://nurkurosaki.blogspot.co.id/2012/11/makalah-efesiensi-bahasa-indonesia.html), diakses pada 31 Desember 2015.Kusno, G. (2015).
KBBI Ternyata Tidak Konsisten dengan Kaidahnya
,(http://www.kompasiana.com/gustaafkusno/kbbi-ternyata-tidak-konsisten-dengan-kaidahnya_552e21d76ea83492068b4588), diakses pada 27Desember 2015.Lesmana, I. (2015).
Kumpulan Typo TV One Kocak 
, (http://www.blog-netizen.com/kumpulan-typo-tvone-kocak/), diakses pada 26 Desember2015.Namakume. (2014).
Pengertian Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar 
,(http://media-online.id/2014/08/bahasa-indonesia-yang-baik-dan-benar.html), diakses pada 29 Desember 2015.Ningsih, D. L. (2015).
 Lima Salah Ketik “Typo” Sederhana Berakibat Bencana
,(http://m.log.viva.co.id/news/read/673709-lima-salah-ketik–typo–sederhana-berakibat-bencana), diakses pada 27 Desember 2015.
18Nizbah, F. (2013).
Pengertian Masalah Menurut Para Ahli
,(http://faizalnizbah.blogspot.co.id/2013/10/pengertian-masalah-menurut-para-ahli.html), diakses pada 31 Desember 2015.Peretasputih. (08 November 2013). [SHARE] Bahasa Gaul yang Ente Tau (WithUpdate).
Forum kaskus
,(http://www.kaskus.co.id/thread/527cd11bbdcb179213000005/share-bahasa-gaul-yang-ente-tau-with-update/), diakses pada 28 Desember 2015.Priyanto, I. J. (2008).
 Mengaji dan Mengkaji
,(https://pustakabahasa.wordpress.com/2009/01/22/mengaji-dan-mengkaji/), diakses pada 27 Desember 2015.Puspitarini, M. (2012).
 Asal Usul Perkembangan Bahasa Alay
,(http://news.okezone.com/read/2012/11/28/373/724664/asal-usul-perkembangan-bahasa-alay), diakses pada 28 Desember 2015.Rangkuti, A. F. (2015).
 Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar, Seperti ApaSih?
 (http://www.kompasiana.com/annisa_rangkuti/berbahasa-indonesia-yang-baik-dan-benar-seperti-apa-sih_5517c59fa33311bc06b66303),diakses pada 31 Desember 2015.Rusdi12. (06 Juni 2012). Pancasila Diganti, Indonesia Bisa Bubar
. Forum Detik 
,(http://forum.detik.com/pancasila-diganti-indonesia-bisa-bubar-t436510.html), diakses 27 Desember 2015.Rusyanti, H. (2013).
Pengertian Bahasa Menurut Ahli?
 (http://www.kajianteori.com/2013/03/pengertian-bahasa-menurut-ahli.html), diakses pada 29 Desember 2015.Sativa, R. L. (2012).
 Hati-hati, Sring Typo Saat Ngetik SMS Bisa Jadi PertandaStroke
,(http://health.detik.com/read/2012/12/28/170809/2129091/763/hati-hati-sering-typo-saat-ngetik-sms-bisa-jadi-pertanda-stroke), diakses pada 28Desember 2015.Suyudi, I.
Pengantar Linguistik Umum.
 Depok: Penerbit Gunadarma.Widyartono, D. (2015).
 Bahasa Indonesia Riset: Panduan Menulis Karya Ilmiahdi Perguruan Tinggi
 (Revisi ed.). Malang: Universitas Negeri Malang.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s