BOLEHKAH MENULISKAN KATA SALAM, SHALAWAT DAN DO’A  DENGAN DISINGKAT DAN MASALAH TYPO ?

BOLEHKAH MENULISKAN KATA SALAM, SHALAWAT DAN DO’A DENGAN DISINGKAT DAN MASALAH TYPO ?

BOLEHKAH MENULISKAN KATA SALAM, SHALAWAT DAN DO’A,DENGAN DISINGKAT DAN MASALAH TYPO ?

singkatan

DAFTAR ISI:

  • LATAR BELAKANG
  • HUKUM MENYINGKAT KATA SALAM, SHALAWAT DAN SEJENISNYA.
  • MASALAH TYPO
  • KESIMPULAN

HUKUM MENYINGKAT KATA SALAM, SHALAWAT DAN SEJENISNYA

DAN MASALAH TYPO

bismillah

LATAR BELAKANG

Di media sosial sering kita mendapat pesan dari teman atau dari orang orang yang menyebarkan pesan yang berisi ajakan untuk tidak menulis / mengucapkan salam, shalawat dan sejenisnya dengan disingkat yang diklaim berakibat salah makna secara fatal. Dan biasanya diembel-embeli dengan berbagai dalil dan tafsyir, yang menekankan bahawa islam itu harus begini begitu, jangan mengkuti budaya kafir dan sebagainya. Sehingga bagi umat yang menerima pesan tersebut serta merta langsung membagikan / menyebarkannya kepada lainnya, tanpa mendasari ilmu. Efek dari hal tersebut membuat kebingungan dan bertanya tanya dalam hati. Dan bagi sebagian lainnya tanpa berfikir langsung menyebarkannya tanpa reserve.

Berikut contoh selebaran yang dibagikan (share) hingga menjadi berantai dan menyebar di sosial media (sosmed) :

*GANTI UCAPAN KITA DENGAN DOA.*

Jangan ucapkan ‘0k’, ucapkan “In syaa  Allah”(- اللَّهُ شَاءَ إِنْ -)

Jangan ucapkan “wow”, ucapkan “SubhaanAllah”(- اللَّهُ سُبْحَانَ -)

Jangan ucapkan “hebat”, ucapkan “Maa syaa Allah”(- مَاشَآءَاللّهُ -).

Jangan ucapkan “saya baik2 saja”, ucapkan “Allhamdulillah”(- اللَّهُ الْحَمْدُ -)

Jangan ucapkan “Terimakasih”, ucapkan “Jazaka (ki,kumu) llahu Khairan”(- خَيْرًا اللهُ جَزَاك -)

Jangan ucapkan “Hati2 ya…sampai jumpa”, ucapkan “Fii Amanillah”(- اللَّهُ أَمَانِ فِي -)

Jangan ucapkan “.Hello”, ucapkan “Assalamu alaikkum Warahmatullah”(- اللهِ وَرَحْمَةُ عَلَيْكُمْ السَّلاَمُ -)

Doa yg indah untuk berterima kasih pada Allah, pada semua kesempatan.

“Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika  wa husni  ‘ibadatika”

‎ ‎عِبَادَتِكَ وَحُسْنِ وَشُكْرِكَ ذِكْرِكَ عَلَى أَعِنِّى اللَّهُمَّ

Mari kita sama-sama membetulkan :

  • Aamiin,
  • In Syaa Allah , dan
  • Menyingkat kata Assalamu’alaikum.

Dalam bahasa Arab ada 4 kata amin yg berbeda makna :

  • – Amin = Aman
  • – Aamin = Meminta perlindungan
  • – Amiin = Jujur
  • – Aamiin = Ya Allah, kabulkanlah do’a kami

Kita seharusnya tidak menulis :

  • *Insya Allah* = Menciptakan Allah (naudzubillah)

Tapi pastikan kita menulis :

  • *In Syaa Allah = dengan izin Allah

Assalamualaikum, jgn disingkat, karena ;

  1. As = Orang bodoh ; keledai
  2. Ass = Pantat
  3. Askum = Celakalah kamu
  4. Assamu = Racun
  5. Samlekum = Matilah kamu
  6. Mikum = dari bahasa Ibrani, Mari Bercinta.

Salam pendek, Salam sedang dan Salam panjang telah dicontohkan oleh Nabi  dan tidak merubah  makna aslinya :

  • *Salam pendek* : “Assalamualaikum”. (Dengan 10 kebaikan).
  • *Salam sedang* : “Assalamualaikum warahmatullah”. (Dengan 20 kebaikan).
  • *Salam panjang* : “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. (Dengan kebaikan sempurna).

Dengan penjelasan ini, mudah-mudahan tidak ada lagi yang menyingkat karena dapat merubah maksud.

– Bila menurut anda ini  ada manfaatnya,  beritahu ke yg lain.

SHARE JIKA INGIN YANG LAIN DAPAT MANFAAT.

*Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala, seperti org yg melakukannya.*(HR. Muslim 3509).

*Semoga kita termasuk hamba Allah yang memperoleh kebaikan dari membaca artikel Islami serta dapat mengamalkan-nya.*

Demikian rangkaian selebaran yang sering beredar dan diedarkan ditengah komunitas dunia sosial media (medsos). Maka bagi insan islam yang cerdas dan mendasari segala sesuatunya dengan ilmu pengetahuan tentu dalam dirinya akan melontarkan ide pertanyaan:

“Benarkah demikian?”

Atau jika divisualisasikan dengan dialek lokall kira-kira akan seperti ini:

”Ada ape lagi, nih. Bener kaga’ neh inpo. Kayenye ribet amat agama islam”.

Begitu kira-kira kasak kusuk yang lazim terjadi ditengah umat.

Baiklah saudaraku, ikhwan fillah, sobat dumay dimana saja berada. Mari bersama sama kita membahas perkara ini dengan melandasi ilmu pengetahuan, dengan akal logika. Bukan dengan okol (asal).

Kita mulai dari situasi yang sering terjadi (realitas) ditengah umat, di dunia interaksi sosial media.

  1. Kebiasaan / kelaziman orang dalam mengetik atau menulis kata kata dengan disingkat.

Sudah menjadi kebiasaan / kelaziman orang dalam dunia ketik mengetik atau menulis kata kata, itu sering dengan disingkat. Baik yang bersifat komunikasi surat menyurat resmi atau pun personal, maka sudah menjadi kelaziman. Hanya bedanya untuk yang resmi masih diberi penjelasan dengan menambah kalimat penjelasannya didalam tanda kurung atau dengan foot note. Sedang di dunia sosial media terutama dunia perpesanan online (chating), maka penyingkatan kata tidak terelakkan. Nah, kata kata dengan ketikan yang disingkat singkat itu kalimat umum. Bagaimana jika kata kata yang disingkat itu adalah kalimat salam, shalawat dan sejenisnya?

Kita semua tentu telah mengerti akan sebuah kaidah dasar, bahwa kalimat atau lafal-lafal kalam Ilahi (ayat ayat) dalam Al-Qur’an, yang berhuruf dan berbahasa Arab dan didalamnya berisi kalimah salam, shalawat dan doa, maka rangkaian kalimat ayat ayatnya, hurufnya itu tidak dapat dan tidak boleh dikurangi atau ditambah barang satupun, sebab dapat merubah isi dan makna. Dengan demikian jika seseorang atau kumpulan orang hendak mencetak serta memperbanyak Al-Qur’an, maka harus ditulis / dicetak dengan sempurna sesuai aslinya tanpa kurang dan lebih. Dan begitu pula bagi para qira’ah (pembaca Al-Qur’an), maka harus diucapkan (melafalkan) dengan langkap dan sempurna, tidak menyingkatnya bahkan salah membacanya. Begitu pula rangkaian Al-hadits, tidak boleh dikurang dan tambahi dari teks aslinya.

Itu teks asli ayat ayat Al-Qur’an ataupun Hadits. Sehingga lafal salam, Sholawat dan lainnya harus tertulis dan diucapkan lengkap, sempurna seperti bacaan : “Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Demikian juga mengucapkan salam harus diucapkan lengkap, sempurna seperti: “Assalaamu’alaikum warahmatullaaahi wa barokaatuhu”.

Namun permasalahannya adalah banyak kita dapati kaum muslimin yang menyingkat-nyingkat lafal salam, shalawat dan sejenisnya tersebut, untuk sebuah alasan kepraktisan demi menyingkat waktu dalam penulisan atau pengetikan. Dan saya meyakini bahwa anda sama sekali tidak berniat meremehkan keagungan ayat-ayat tersebut.

Terbukti pada kenyataannya, tidak ada seorang muslimpun yang mengucapkan / menjawab doa dengan disingkat. Setiap muslim ketika memberi salam kepada saudaranya dengan ucapan maka iapun membalas ucapannya dengan sempurna, demikian juga saat bersholawat kepada Nabi, kita mengucapkan doa sholawat tersebut dengan sempurna.

Coba kita ilustrasikan:

Si A kepada si B: “Assalaamu’alaikum”

Si B tentu akan membalas: ”Wa’alaikum salam”.

Apa ada yang begini:

Si A kepada si B: “Assalaamu’alaikum”

Si B membalas: ”kumsal”. Ada yang begitu ???

Lagi:

Apa ada yang begini:

Si A menulis salam (disingkat) kepada si B: “Ass..”

Si B membalas: ”Bukan, gue bukan As, gue Katmi”. Ada yang begitu ???

Jika demikian perkaranya berarti ini hanya tentang menyingkat kata-kata dalam tulisan / pengetikan di dunia interaksi komunikasi publik, bukan dalam ucapan, bukan dalam pembuatan atau pencetakan Al-Qur’an dan kumpulan Hadits. Nah, jika realitasnya seperti itu, apakah hukumnya haram, disiksa, masuk noraka, digebugin malaikat? Ataukah dibolehkan dan sesuatu yang ma’fu (kelaziman dialek) ??!

Sobat, mari ikuti dan renungi risalah ini hingga selesai, saya tidak akan meminta upah ataupun  hendak membuka lipatan bekas bungkus permen untuk kemudian berkeliling ke hadapan anda berharap sumbangan   sekedar koin  belel, itupun bekas untuk kerokan.

Pembahasan berikutnya adalah tentang:

  1. Kebiasaan / kelaziman orang dalam mengetik atau menulis kata kata dengan terjadi typo

miwbrrhts4zlf2cb7lpv

(kumparan.com)

Jika perkara yang telah disebut diatas adalah masalah menyingkat kalimat salam, shalawat dan sejenisnya, maka berikut ini adalah permasalahan lainnya, yaitu tentang typo. Sudah kita ketahui bersama bahwa dalam interaksi dunia komunikasi, orang lazim melakukan kesalahan dalam menulis atau mengetikkan kata kata.

Seperti dalam rangkaian komunikasi penuh typo, sebagai berikut:

“slaam unutk kleuraga… seaht slealu…ttpatp snmgaat “.

(Tulisan normal: Salam untuk keluarga, sehat selalu, tetap semangat).

Sadar atau tidak anda baru saja membaca sebuah rangkaian kalimat / tulisan yang berantakan (typo). Namun anda mampu menerjemahkannya. Inilah kehebatan otak manusia, karunia Tuhan Yang Maha Sempurna. Maka bagi yang bisa membaca model tulisan typo tersebut, berarti otak kanan dan kiri anda masih berfungsi dengan baik . Maka bagi yang sering menuliskan dan mengetik salah (typo), tidak musti (keharusan) dikoreksi.

  1. HUKUM MENYINGKAT KATA SALAM, SHALAWAT DAN SEJENISNYA.

Pendapat para Ulama besar

Berikut berbagai pendapat dari para ulama besar, yang juga dilansir oleh sebuah situs media dakwah online, firanda.com sebagai berikut:

Syaikh Al-Albani rahimahullah pernah ditanya tentang permasalahan ini :

Pertanyaan :

ما حكم كتابة الحرف ( ص ) بعد لفظة النبي صلى الله عليه وسلم في الكتاب.؟
Apa hukum penulisan huruf shad (ص) setelah penulisan lafal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di buku?

Jawab :

لا مانع من ذلك، بخلاف ما يفعله بعضهم قديما (صلعم) إختصار أوسع،أكثر حرفا من (ص) لأن ذلك أُوهم أنها كلمة،وبعض العامة والجهلة لا يفقهها،وأما (ص) فأصبحت رمزا للصلاة على النبي صلي الله عليه وسلم، لذلك أنا ما أرى مانعا من إستعمال هذه اللفظة لأنها لا يُسئ فهمها

“Tidak mengapa, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sebagian orang dahulu dengan menulis singkatan “صلعم” (yaitu ringkasan dari صـلـى الله عليه وسلم -pen), yaitu bentuk ringkasan yang lebih luas dan lebih banyak hurufnya daripada (ص), karena tulisan (صلعم) mengesankan adalah sebuah kata (shol’am), dan sebagian orang awam serta orang-orang bodoh tidak memahaminya (kalau itu hanya singkatan-pen). Adapun singkatan (ص) maka menjadi simbol bagi sholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karenanya aku memandang tidak mengapa menggunakan lafal ini (ص )-(sebagai ringkasan shalawat-pen) karena tidak disalah fahami” .

(Transkrip dari kaset Silsilah Al-Hudaa wa An-Nuur, kaset no 165, dapat lihat di:http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=6110)

Sangat jelas dari perkataan Syaikh Al-Albani bahwasanya jika lafal salam, shalawat dan sejenisnya dalampenulisadigantidengansimbol (di singkat) tidak menimbulkan kesalah fahaman bagi orang awam maka tidak mengapa untuk digunakan. Karena tujuan dari simbol tersebut bukanlah untuk dibaca, tapi yang dibaca adalah sholawatnya secara lengkap. Simbol tersebut hanyalah sebagai pemberitahuan gelar / atribut (untuk salam, sholawat dan sejenisnya didalam penulisan terbatas – red).

Dari jawaban Syaikh Al-Albani di atas maka bisa kita simpulkan akan bolehnya menyingkat shalawat kepada Nabi dengan sinkatan / simbol huruf ”shad” ( ص ). Itu risalah kitab dalam bahasa Arab. Sedang dalam tulis menulis dengan bahasa lain seperti dalam bahasa Indonesia, maka singkatan shalawat atas nabi menjadi “SAW”, yang sudah lazim digunakan oleh kalangan umat islam diIndonesia dan tentunya semua orang telah tahu cara mengucapkannya yaitu, shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga menyingkat salam dengan “Ass Wr Wb”, atau menjawab salam secara tulisan tersebut dengan “Wlkm wr wb”, atau yang semisalnya yang tentunya telah dipahami maksudnya oleh pembaca.
Walaupun pendapat Syaikh Al-Albani rahimahullah ini ada juga ulama yang tidak sependapat. Dimana sebagian ulama yang kontra tersebut memandang bahwa penyingkatan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makruh.

(Dapat dilihat fatwa-fatwa mereka)  di :

http://www.artikelmuslim.com/2012/02/fatwa-ulama-seputar-hukum-menyingkat.htmlhttp://www.konsultasisyariah.com/hukum-menyingkat-tulisan-shalawat-nabi/ 

Sementara dari SaikhAs-Sakhoowi rahimahullah (wafat 902 H) dalam kitabnya Fathul Mughiits (Syarah 1000 bait Al-Haafiz al-‘Irooqi), lebih cenderung kepada pendapat bahwa penyingkatan tersebut hanya masuk pada kategori خِلاَفُ الأَوْلَى “……”, yaitu ”Menyelisihi yang lebih utama”, dan tidak sampai pada kategori makruh. Berikut pernyataan beliau rahimahullah:
واجتنب أيها الكاتب الرمز لها أي للصلاة على رسول الله صلى الله عليه و سلم في خطك بأن تقتصر منها على حرفين ونحو ذلك فتكون منقوصة صورة كما يفعله الكسائي والجهلة من أبناء العجم غالبا وعوام الطلبة فيكتبون بدلا صلى الله عليه وسلم ص أو صم أو صلم أو صلعم فذلك لما فيه من نقص الأجر لنقص الكتابة خلاف الأولى.
وتصريح المصنف فيه وفيما بعده بالكراهة ليس على بابه …لكن وجد بخط الذهبي وبعض الحفاظ كتابتها هكذا صلى الله علم وربما اقتفيت أثرهم فيه بزيادة لام أخرى قبل الميم مع التلفظ بهما غالبا والأولى خلافة

“Wahai sang penulis, hendaknya engkau menjauhi penulisan simbol untuk bersholawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tulisanmu, yaitu engkau menyingkatnya menjadi dua huruf dan yang semisalnya. Maka jadilah bentuk sholawatnya menjadi berkurang, sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Kisaai, orang-orang jahil dari orang-orang ‘ajam secara umum, dan juga para penuntut ilmu yang awam. Sebagai pengganti صلى الله عليه وسلم mereka tulis (ص) atau (صم) atau (صلم) atau (صلعم). Hal ini dikarenakan akan mengurangi pahala dikarenakan kurangnya tulisan. Ini adalah “menyelisihi yang lebih utama”.

Maka pernyataan dialog diatas adalah tentang saran untuk penulisan simbol shalawat hendaknya tidak satu karakter, sebaiknya ditambah setidaknya dua atau empat huruf, shad dan mim atau shad-lam-‘ain-mim (……./………). Dengan demikian dialog tersebut bukan tentang penolakan untuk penyingkatan tulisan shalawat.

Menambahkan pula sang penulis buku risalah pendapat para ulama tentang penyingkatan salam tersebut, Yaitu Al-Haafiz Al-‘Irooqi rahimahullah, di bait ini dan juga pada bait setelahnya adalah penegasan akan makruhnya ”Menyelisihi yang lebih utama”, (seperti tersebut diatas). Maka bukanlah pada makna makruh yang berkaitan dengan hukum syar’i. (pen.).

Kemudian dari pendapat lainnya adalah:

“Telah ditemukannya khot (tulisan tangan) Al-Imam Adz-Dzahabi dan juga sebagian para huffaz penulisan shalawat kepada Nabi,dengan penulisan simbol / penyingkatan seperti ini: (صلى الله علم), dan terkadang aku mengikuti cara mereka (dalam penyingkatan-pen) dengan menambah huruf “laam” yang lain sebelum huruf “miim” (yaitu menjadi: صلى الله عللم -pen) dengan biasanya disertai melafalkan sholawat dan salam. Dan yang lebih utama adalah tidak melakukannya”

(Fathul Mughiits 3/70-71, tahqiq Ali Husain Ali, cetakan Wizaaroh Asy-Syu’uun Al-Islaamiyah wal Awqoof wa Ad-Da’wah wa Al-Irsyaad)

Dengan demikian pernyataan dari SaikhAs-Sakhoowi, yaitu :makruhnya (hal ini) maka bukanlah pada makna biasanya, menunjukkan beliau tidak setuju bahwa penyingkatan shalawat dalam tulisan dihukumi makruh. Sehingga beliau menafsirkan kata “makruh” yang disebutkan oleh Al-Haafiz al-‘Irooqi bahwa makruh tersebut bukan pada makna makruh yang berkaitan dalam hukum fikih syar’i. Dengan demikian pernyataan Saikh As-Sakhoowi hanya memandang makruh tersebut dalam adab saja bukan dalam hukum syar’i. Karenanya beliau menegaskan bahwa beliau juga melakukan penyingkatan tersebut terkadang akan tetapi hanya dalam tulisan, dan tatkala beliau menyingkat dalam tulisan mulut beliau tetap mengucapkan sholawat dan dan salam kepada Nabi dalam bentuk ucapan penuh. Oleh karena itu beliau tetap memandang bahwa menyingkat hanyalah menyelisihi yang lebih utama. Dengan kata lain, ”Menyingkat lafal salam, shalawat dan sejenisnya” dari tulisan penuh itu masih dapat ditolerir (tidak termasuk menyalahi hukum syar’i  – red). 

Resume:
Pendapat As-Sakhoowi rahimahullah ini similar dengan pendapat Syaikh Al-Albani, bahwasanya penyingkatan shalawat hukumnya boleh, hanya saja menyelisihi yang lebih utama, karena tentunya dengan menulisnya secara lengkap akan mendapatkan pahala menulis sholawat tersebut, selain juga mendapatkan pahala mengucapkan secara lisan sholawat tersebut.

Pendapat Syaikh As-Sakhowi dan Al-Albani cukup kuat (logis), mengingat :

Pertama : “Makruh” salah satu bentuk vonis hukum dalam hukum-hukum fikih. Tentunya vonis tersebut butuh dalil, sebagaimana pernyataan “mubaah”, “sunnah”, “haram”, dan “wajib” juga butuh dalil. Dan dalam hal penyingkatan shalawat maka hukum asalnya adalah mubaah (boleh), kecuali ada dalil yang memalingkan kepada makruh.

Kedua : Tujuan dari tulisan adalah dibaca, karenanya huruf-huruf untuk mengungkapkan sesuatu ucapan bisa saja berbeda-beda. Untuk mengungkapkan sholawat kepada Nabi yaitu dengan ucapan (صلى الله عليه وسلم) bisa dengan menggunakan huruf Arab (huruf hijaiyah) atau dengan huruf latin, atau dengan huruf cina atau jepang, atau huruf jawa kuno, dll. Yang intinya dibuatnya tulisan adalah untuk dibaca, jika suatu tulisan sudah dipahami maksud bacaannya maka telah tercapai tujuan tulisan tersebut, karena tulisan adalah wasilah/sarana saja, tujuannya adalah bacaan. Jika tujuannya telah tercapai dengan tulisan huruf apapun maka wallahu A’lam tidak mengapa.

  • Karenanya syaikh Al-Albani rahimahullah memandang tidak mengapa jika lafal sholawat disingkat menjadi (ص) karena orang yang membacanya sudah paham tujuan dari tulisan huruf shood ini, yaitu untuk bershalawat.
  • Akan tetapi beliau kurang setuju dengan singkatan (صلعم) karena dikawatirkan akan disalah pahami sehingga akan dibaca oleh orang yang tidak mengerti dengan “Shol’ama” yang tidak tahu bahwa itu adalah singkatan dari sholawat kepada Nabi. Artinya beliau kawatir tujuan dari tulisan tidak tercapai.
  • Dengan demikian jika tujuan dari tulisan huruf-huruf telah tercapai maka hukumnya tidak mengapa. Sebagaimana tulisan SAW, saya rasa rata-rata orang akan faham maksudnya adalah untuk bersholawat kepada Nabi dengan mengucapkan “Shallallahu ‘Alaihi Wasallam”, dan bukan dibaca “saw’.

Ketiga : Jika kita menjadikan teks tulisan yang tertera sebagai tujuan maka yang hanya bisa mengungkapkan sholawat kepada Nabi dengan tepat adalah huruf Arab hijaiyah. Adapun huruf latin, huruf jawa kuno, huruf jepang, apalagi huruf cina tentu tidak akan bisa mengungkapkan sholawat dengan tepat. Sebagai contoh :

  • di dalam bahasa Inggris, atau bahasa, jawa, dan juga huruf cina dan jepang, kemungkinan besar tidak ada yang bisa mewakili huruf (ع) ‘ain, demikian juga huruf (ص).
  • Karenanya kalau kita hanya bersandar kepada teks yang tertulis dengan melalaikan bahwa teks tersebut hanyalah sarana dan bukan tujuan, maka kita katakan penulisan sholawat dalam bahasa Indonesia sebagai berikut merupakan kesalahan : “Salalahu alaihi wa salam”. Ini adalah kesalahan karena jika dibaca leterlek maka tidak akan mewakili sholawat yang benar, karena tidak mewakili huruf shood, dan malah cenderung mewakili huruf siin, demikian juga tidak mewakili huruf ‘ain, tetapi lebih cenderung mewakili huruf hamzah, demikian juga huruf lam nya tidak didouble. Yang paling mendekati kebenaran adalan “Shollallahu ‘alaihi wa sallam”

Keempat : Dari penjelasan poin di atas maka saya kurang setuju dengan penghukuman sebagian orang yang menyatakan bahwa menyingkat (السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ) dengan Ass wr wb adalah kesalahan, dikarenakan makna “Ass” dalam bahasa Inggris adalah makna yang jorok. Hal ini dikarenakan sbb :

  • Tujuan dari tulisan adalah bacaan, dan tujuan penulisan “Ass wr wb” bukanlah maksudnya dibaca secara leterlek “Ass”. Saya rasa ini dipahami oleh semua orang yang berakal. Demikian juga kalau tujuannya hanya membaca teks secara leterlek maka bagaimana mau dibaca “wr” dan “wb”??
  • Penulisan singkatan tersebut (yaitu Ass wr wb) dimaksudkan adalah dalam bahasa Indonesia, karenanya janganlah dibawa kepada makna bahasa-bahasa yang lain. Jika caranya demikian maka bisa jadi kita akan terjerumus dalam banyak kesalahan. Sebagai contoh :
  1. kata “butuh” dalam bahasa Indonesia adalah maknanya “perlu”, tapi dalam bahasa Malaysia maknanya konon adalah “kemaluan”.
  2. Demikian juga misalnya kata “naik” dalam bahasa Indonesia artinya beranjak dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi, akan tetapi dalam bahasa Arab artinya “berhubungan tubuh/seks”
  • Jika kita membawa tulisan Indonesia ke makna-makna dalam bahasa lain, seperti Ass dalam bahasa inggris artinya “pantat” maka jadilah penyingkatan ini menjadi haram, bukan hanya makruh.
  • Demikian juga mungkin saja kata “SAW” dalam bahasa-bahasa yang lain bisa jadi bermakna buruk. Padahal mayoritas ulama hanya menyatakan hukumnya sekedar makruh dan tidak sampai pada derajat haram. Cobalah renungkan.

Kelima : Sering kita butuh pada singkatan-singkatan tersebut dalam menulis sms dalam rangka untuk menghemat biaya dan menghemat waktu. Karena sebagaimana kita ketahui bersama bahwasanya kecepatan mengucapkan (berbicara dengan lisan) lebih cepat daripada kecepatan pengungkapan dengan tulisan.

Keenam : Kita juga mendapati para ulama melakukan penyingkatan, seperti :

  • (نا) yang merupakan singkatan dari (حدثنا),
  • demikian juga misalnya kata (بسملة) yang merupakan singkatan dari (بسم الله الرحمن الرحيم),
  • juga kata (حمدلة) singkatan dari (الحمد لله),
  • juga kata (حيفلة) singkatan dari (حي على الفلاح)
  • juga kata (حولقة) yang merupakan singkatan dari (لا حول ولا قوة إلا بالله).

Ketujuh : Diriwayatkan bahwsanya sebagian ahlil hadits menuliskan kata “Nabi” tanpa menuliskan (صلى الله عليه وسلم), akan tetapi hanya mencukupkan mengucapkan sholawat kepada Nabi dengan lisan tidak dengan tulisan. Jika perkaranya dibolehkan maka tentu menulis singkatan sholawat dalam rangka untuk mengingatkan pembaca agar bersholawat juga dibolehkan. Wallahu A’lam bis Showaab.

  1. Contoh dari kitab kitab salaf (klasik) yang menyingkat lafal salam atau shalawat

-photo

  1. Jenis Komunikasi dan Hakekatnya

A.Komunikasi Baku risalah

Komunikasi baku risalah adalah komunikasi klausual (bahasa hukum) yang diterapkan penulisan maupun pengucapannya tertulis dan tersusun sempurna menurut kaidah tata bahasa baku dan resmi serta orisinil dari sumber asalnya. Sehingga ketika hendak disalin atau digandakan guna kepentingan rujukan atau pustaka, maka tidak boleh ada distorsi barang satu hurufpun.

Jenis komunikasi baku:

  1. Ayat ayat Al-Qur’an
  2. Klausul Hadits
  3. Kitab hukum dan undang undang
  4. Formula rumus maupun bahasa pemrograman.

 

B.Komunikasi Praktis percakapan

Komunikasi praktis percakapan adalah komunikasi dialektikal (bahasa gaul) yang dipengaruhi oleh budaya, kebiasaan maupun bahasa masing masing yang maksud dan tujuannya akan dimengerti dan dipahami oleh masing-masing.Jika jenis komunikasi praktis (gaul) dikaitkan dengan kaidah hukum baku syareat, seperti hujjah dalam selebaran tersebut, maka akan terjadi banyak kerancuan, ketidak nyambungan dalam komunikasi bahkan dapat menimbulkan konflik ataupun kesalah pahaman

Coba kita simulasikan, berikut :

*GANTI UCAPAN KITA DENGAN DOA.*

  1. Jangan ucapkan ‘0k’, ucapkan “In syaa Allah”(- اللَّهُ شَاءَ إِنْ -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Pak Eddy (Atasan si Anto): ”Anto, tolong antarin file karyawan ke saya”.

– Anto (Karyawan) : ” In syaa  Allah, Pak”.

Dari dialog tersebut, kira kira ’nyambung’ tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri. (apalagi di sosial media seperti chat).

  1. Jangan ucapkan “wow”, ucapkan “SubhaanAllah”(-  سُبْحَانَاللَّهُ  -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Arman (Kekasih Anna): ”Sun dwong yang”.

– Anna (Kekasih Arman) : ” SubhaanAllah”.

Dari dialog tersebut, kira kira ’nyambung’ tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “hebat”, ucapkan “Maa syaa Allah” (- مَاشَآءَاللّهُ -).
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Fina (Anak): ”Ibu, Fina udah bisa jawab soal nomer 5”.

– Sukesih (Ibunda Fina) : Maa syaa Allah”.

Dari dialog tersebut, kira kira ’pas’’ tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “saya baik2 saja”, ucapkan “Allhamdulillah” (- الْحَمْدُاللَّهُ  -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Narto (Kawan Fredi): ”Di, kamu lolos ga dari kejaran polisi, jangan lupa hasil jambretan bagi dua”.

– Fredi (Kawan Narto) : Allhamdulillah aman, tenang aje”.

Dari dialog tersebut, kira kira patut tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “Terimakasih”, ucapkan “Jazaka (ki,kumu) llahu Khairan” (- خَيْرًا اللهُ جَزَاك -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online antara Toko online dengan customer melalui chat box online, seperti ini dialognya :

– Pembeli online: ”konfirmasi, saya pesan prodak no 345 dengan pembayaran COD”.

– Toko online : ” Jazakallahu Khairan”, telah bertransaksi dengan kami, pesanan anda akan segera diproses.

Dari dialog tersebut, kira kira pas tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “Hati2 ya…sampai jumpa”, ucapkan “Fii Amanillah”(- اللَّهُ أَمَانِ فِي -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi, seperti ini dialognya :

– Arini (teman Susi): ”Susi, dah dulu ya, gue mo klabing dolo”.

– Susi (teman Arini) : ” Fii Amanillah”.

Dari dialog tersebut, kira kira patut tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “.Hello, halo, hai, woi, dsb”, tapi ucapkan “Assalamu alaikkum Warahmatullah” (- اللهِ وَرَحْمَةُ عَلَيْكُمْ السَّلاَمُ -)
    • Jawab :
  • Frasa kata “Assalamu alaikkum Warahmatullah” terdiri dari 29 huruf dan butuh waktu 29 detik untuk mengetiknya (bisa lebih jika anda masih memikirkan ejaan ataupun typo dalam menulisnya). Saat anda sedang dalam situasi darurat dan harus segera menghubungi seseorang melalui media sosial, maka berkomunikasi dengan mode pengetikan sejumlah 29 huruf serta menghamburkan waktu selama 29 detik itu akan membuat anda sakit hati sebab kehilangan momen penting. Sedang jika menggunakan frasa kata ”Halo”, maka cukup tekan 4 huruf dan dalam 1 detik pesan anda sampai.
  • Lainnya, bagaimana jika ada linteraksi komunikasi antara orang Indonesia dengan orang asing (bule), seperti ini dialognya :

– Fendi berkenalan dengan orang asing dan memulai percakapannya :

””Assalamu alaikkum Warahmatullah””.

Dari dialog tersebut, kira kira efektif dan pas tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Cobala renungkan akan semua ini.

Berikutnya, mari kita membahas kalimat selebaran yang ini.

“Mari kita sama-sama membetulkan : Aamiin, In Syaa Allah , dan Menyingkat kata Assalamu’alaikum”.

Dalam bahasa Arab ada 4 kata amin yg berbeda makna :

  • – Amin = Aman
  • – Aamin = Meminta perlindungan
  • – Amiin = Jujur
  • – Aamiin = Ya Allah, kabulkanlah do’a kami

–           Jawab :

Literatur dan kaidah tata bahasa Arab dengan bahasa Indonesia sangat jauh berbeda. Saat frasa kata ”amin” ( أَمِيْنٌ) dalam huruf Arab yang mengandung berbagai makna jika dengan ditandai harakat, maka kata amin dalam bahasa Indonesia tetap satu kata ”A-M-I-N”. Orang Indonesia tidak akan ambil pusing dengan multi makna kata tersebut, sebab telah familier lafal itu sebagai ucapan sautan dalam shalat dan pembacaan do’a. Sehingga ketika ada tulisan amin tersebut, secara otomatis sudah dipahami maksud dan kapan diucapkan.

Baik, guna menambah pengetahuan, berikut kita bahas multi makna ”amin”  ( أَمِيْنٌ) dalam tata bahasa Arab, yang dilafalkan oleh bangsa Arab dan dipahami oleh orang serta dialek lokal Arab (ingat, kita orang dan bangsa Indonesia yang berdialek dan berbahasa Indonesia, tak perlu menjadi Arab)

Ada beberapa multi makna untuk kata  “Aamiin“.( أَمِيْنٌ), yang biasa kita dengar dan ucapkan dalam shalat, sebagai berikut:

Ada yang menjabarkan sebagai berikut:

  1. Amin (alif dan mim sama-sama pendek), artinya Aman, Tentram
  2. Aamin (alif panjang & mim pendek), artinya Meminta Perlindungan Keamanan
  3. Amiin (alif pendek & mim panjang), artinya Jujur Terpercaya
  4. Aamiin (alif & mim sama-sama panjang), artinya Ya Allah, Kabulkanlah Do’a Kami

Ada yang menjabarkan sebagai berikut:

  1. أَمِيْنٌ(a:pendek, min:panjang), artinya ‘orang yang amanah atau terpercaya’.
  2. أٰمِنْ(a:panjang, min:pendek), artinya ‘berimanlah’ atau ‘berilah jaminan keamanan’.

Ketika shalat, kita tidak boleh membaca “Amin” dengan dua cara baca di atas.

  1. آمِّيْنَ(a:panjang 5 harakat, mim:bertasydid, dan min: panjang), artinya ‘orang yang bermaksud menuju suatu tempat’.

Ada sebagian ulama yang memperbolehkan membaca “Amin” dalam shalat dengan bentuk bacaan semacam ini. Demikian keterangan Al-Wahidi. Imam An-Nawawi mengatakan, “Ini adalah pendapat yang sangat aneh. Kebanyakan ahli bahasa menganggapnya sebagai kesalahan pengucapan orang awam. Beberapa ulama mazhab kami (Mazhab Syafi’i) mengatakan, ‘Siapa saja yang membaca ‘Amin’ dengan model ini dalam shalatnya maka shalatnya batal.’” (At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, hlm. 134)

  1. أٰمِيْنَ(a:panjang 2 harakat karena mengikuti mad badalmin:panjang 4–6 harakat karena mengikuti mad ‘aridh lis sukun, dan nun dibaca mati), artinya ‘kabulkanlah’. Inilah bacaan “Amin” yang benar.

Read more https://konsultasisyariah.com/5467-lafal-amin-yang-benar.html

Itu lafal dalam bahasa Arab, yang merupakan lafal tetap (kalimat pasal) dalam ayat atau klausul dalam rangkaian hadits yang penjabaran serta multi maknanya diterapkan menurut fungsi dan tempatnya masing masing. Sesuai penjabaran dan penggunaan makna ‘amin’ yang telah diurai diatas yaitu mana amin yang digunakan dalam shalat, mana amin yang digunakan dalam dalil dan penerapan lainnya. Sedang ini adalah interaksi sosial, bahasa chating ataupun gaul, dalam bahasa Indonesia oleh komunitas orang Indonesia, maka tidak bisa dikaitkan dengan kaidah baku perdalilan maupun per-fiqih-an. Sebab ketika orang menulis kata amin (dalam bahasa Indonesia), entah mau dipanjangin atau bentuk pendek maka orang akan tahu maksudnya tanpa harus ‘ribet’ mengkaitkan multi makna amin yang digunakan untuk klausul hadits.(hidup kok ruwet kadang orang).

Coba jika kita simulasikan, sebagai berikut:

Sedang terjadi dialog urusan bisnis antara Bos dengan karyawan, lalu mengkaitkan amin menurut kaidah kaidah baku perdalilan::

Karyawan kepada bosnya: “Bos, sukses selalu untuk bos”.

Bos kepada karyawannya:” Aamin”.

Karyawan merespon: “wah, jangan ‘a’ panjang:bos aminnya, itu artinya meminta Perlindungan Keamanan.

Bos kepada karyawannya:”Ribet loeh….. saya pecat kamu”.

Bahasan berikutnya tentang pemahaman:

”Kita seharusnya tidak menulis’:*Insya Allah* = Menciptakan Allah (naudzubillah).

Tapi pastikan kita menulis :*In Syaa Allah =  dengan izin Allah.

Jawaban sama seperti uraian diatas:

Bahwa itu lafal dalam bahasa Arab, yang merupakan lafal tetap (kalimat pasal) dalam ayat atau klausul dalam rangkaian hadits yang penjabaran serta multi maknanya diterapkan menurut fungsi dan tempatnya masing masing. Sesuai penjabaran dan penggunaan makna ‘In Syaa Allah’ yang telah diurai diatas yaitu mana In Syaa Allah yang digunakan dalam ayat, mana In Syaa Allah yang digunakan dalam dalil dan penerapan lainnya. Sedang ini adalah interaksi sosial, bahasa chating ataupun gaul, dalam bahasa Indonesia oleh komunitas orang Indonesia, maka tidak bisa dikaitkan dengan kaidah baku perdalilan maupun per-fiqih-an. Sebab ketika orang menulis kata In Syaa Allah (dalam bahasa Indonesia), entah mau dipisah atau bentuk pendek bahkan typo, maka orang akan tahu maksudnya tanpa harus ‘ribet’ mengkaitkan multi makna Insyaa Allah yang digunakan untuk klausul hadits.(hidup kok ribet kadang orang).

Bahasan berikutnya tentang pemahaman:

Assalamualaikum, jangan disingkat karena ;

  1. As = Orang bodoh ; keledai
  2. Ass = Pantat
  3. Askum = Celakalah kamu
  4. Assamu = Racun
  5. Samlekum = Matilah kamu
  6. Mikum = dari bahasa Ibrani, Mari Bercinta.

Salam pendek, Salam sedang dan Salam panjang telah dicontohkan oleh Nabi  dan tidak merubah  makna aslinya :

  • *Salam pendek* : “Assalamualaikum”. (Dengan 10 kebaikan).
  • *Salam sedang* : “Assalamualaikum warahmatullah”. (Dengan 20 kebaikan).
  • *Salam panjang* : “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. (Dengan kebaikan sempurna).

Jawaban sama seperti uraian diatas:

Bahwa itu lafal dalam bahasa Arab, yang merupakan lafal tetap (kalimat pasal) dalam ayat atau klausul dalam rangkaian hadits yang penjabaran serta multi maknanya diterapkan menurut fungsi dan tempatnya masing masing. Sesuai penjabaran dan penggunaan makna As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum, Mikum dan sebagainya,.seperti yang telah diurai diatas yaitu mana As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum yang digunakan dalam ayat, mana As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum yang digunakan dalam dalil dan penerapan lainnya. Sedang ini adalah interaksi sosial, bahasa chating ataupun gaul, dalam bahasa Indonesia oleh komunitas orang Indonesia, maka tidak bisa dikaitkan dengan kaidah baku perdalilan maupun per-fiqih-an. Sebab ketika orang menulis kata As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum (dalam bahasa Indonesia), entah mau dipisah atau bentuk pendek bahkan typo, maka orang akan tahu maksudnya tanpa harus ‘rumit’ mengkaitkan multi makna frasa kata tersebut yang digunakan untuk klausul hadits.

Jika modelnya mau dikait kaitkan, maka ketahuilah dalam Al-Qur’an terdapat lafal lafal yang jika dikaitkan dengan bahasa lain akan bermakna negatif, contoh sebagai berikut:

  1. Dalam Al-Qur’an terdapat: lafal : “asu”, artinya: Timur,keelokan, padahal dalam bahasa Jawa bermakna anjing. Kemudian,
  2. La tai-asu min rahmatillah,” اللهرحمة من تيأسوا لا “(Janganlah kalian putus asa dengan rahmat Allah). padahal dalam bahasa Jawa bermakna kotoran anjing.
  • MASALAH TYPO
  1. Arti typo:

Typo berasal dari Bahasa Inggris “type” yang artinya mengetik. Karena salah dalam mengetik, tulisannya menjadi typo. Maka arti dari typo sendiri adalah “salah ketik”. (Sebagian orang yang belum mengetahui istilah typo, biasanya menyebutnya ”saltik”.

  1. Pendapat para ahli psikologi bahasa tentang typo

Menurut penelitian para ahli psikologi bahasa dan ilmu kognitif manusia dari Universitas besar dan internasional, urutan huruf dalam kata tidak penting. Cukup huruf pertama dan terakhir yang ada pada tempatnya. Kalimat bisa ditulis berantakan, tetapi kita dapat membacanya dan menangkap maksudnya. Ini disebabkan karena sistim syaraf otak ktia tidak membaca huruf per huruf, bukan kata per kata, melainkan rangkaian kalimat yang dibacanya sejak interaksi dari awal. (kelenjar syaraf di otak akan menangkap maksud pembicaraan, bukan pada hurufnya). Ini memang hal yang luar biasa.

Kecenderungan terjadi typo saat mengetik.

Kadang sering kita tidak menyadari adanya kesalahan saat mengetikkan sesuatu. Maka menurut penelitian para ahli, hal demikian itu normal.

Saat anda menuliskan kalimat di papan keyboard handphone atau komputer untuk membalas sebuah pesan atau mengetik tulisan, anda merasa telah menyusunnya sedemikian rupa sehingga maksud pesan yang disampaikan dapat segera terbaca oleh penerima dan merasa bisa dipahami.

Namun saat tulisan anda sampai ke benak pembaca, justru yang mereka dapati adalah serangkaian kalimat dan atau tulisan yang tidak berurutan hurufnya dalam satu kata, alias salah ketik seperti ilustrasi di atas.

Bagi sebagian orang, typo kadang menyebalkan hingga membuat mereka akan mengesampingkan maksud tulisan yang anda tuangkan, atau membuat tulisan anda tak selesai dibaca dan hanya menjadi sampah digital yang sia sia.

Dan bagi sebagian lainnya, tyipo hanya membuat orang membuang waktunya sedikit untuk mengernyitkan dahi sejenak mencerna maksud tulisan typo tersebut, untuk kemudian baru bisa dimengerti.

Kemudian bagi sebagian lainya yang telah familier dengan dunia interaksi media sosial, maka tulisan typo bukanlah persoalan, sehingga cepat direspon. Bahkan dengan balasan balik yang penuh typo juga.

Dalam hal ini bergembiralah anda    karena ada penjelasan untuk hal tersebut dan ada pembelaan ketika Anda justru sangat sulit menemukan kesalahan dalam tulisan Anda sendiri.

Menurut seorang pakar psikologi bahasa yang juga dilansir oleh kumparan.com*,

Dr Tom Stafford, adalah peneliti di bidang psikologi dan ilmu kognitif manusia yang juga menjadi pengajar di Universitas Sheffield, Inggris telah melakukan penelitian secara khusus tentang eror atau kekeliruan dalam sebuah tulisan.

“Ketika Anda sedang menulis, Anda tengah berusaha untuk menyampaikan sebuah pesan. Sebuah makna. Dan itu adalah pekerjaan tingkat tinggi,” katanya, dilansir dari Business Insider.

Ia mengatakan, bahwa kegiatan menulis memaksa seseorang untuk secara bersamaan melihat segalanya sebagai “percampuran antara data pasti yang diterima sensor indera dan ekspektasi kita akan suatu hal”.
Read more at https://kumparan.com/tio/mengapa-kita-tidak-sadar-melakukan-typo#Qy2LLE68DHpcpvVt.99

Sederhananya, kita sulit menyadari adanya suatu kesalahan karena pikiran kita telah terpaku pada bayangan ideal tentang apa yang kita tulis.

“Ini terjadi setiap saat. Masalahnya adalah persepsi. Kesalahan ketik kita akan sangat sulit untuk disadari, murni karena kita tahu apa yang kita maksud di tulisan kita. Dan ini menghalangi pembacaan sensorik atas apa yang benar-benar telah kita tulis,” jelas peneliti asal Inggris tersebut.

Bahkan menurutnya, bukan hanya penulis yang akan kesulitan menyadari kesalahan ketik. “Semakin pembaca paham akan isi tulisan Anda, semakin ia terfokus pada makna dan pesan dari tulisan itu. Ia akan cenderung mengabaikan detail-detailnya, seperti typo,” ujarnya.

Berbeda dengan menulis secara tradisional dengan pena, mengetik membutuhkan kelihaian motorik yang lebih tinggi. Kemudahan yang ditawarkan dengan teknologi pengetikan juga membawa ancaman kesalahan tulis yang lebih tinggi.

“Dalam tulisan tangan prosesnya akan lebih sulit (untuk melakukan typo). Ini dikarenakan ‘urutan’ huruf dalam sebuah kata telah tersimpan dalam benak dan kemampuan motorik kita secara lebih mendalam,” katanya menjelaskan sedikitnya typo di tulisan tangan.

Pemisahan secara fisik dari huruf-huruf di teknologi pengetikan modern membuat kesalahan urutan huruf-huruf dalam sebuah kata lebih mudah dilakukan.

“Sangat langka Anda melakukan kesalahan urutan huruf dalam sebuah kata. Itu karena otak Anda mempersiapkan kata-kata dengan lebih mendalam, karena Anda akan lebih pelan ketika menulis tangan,” ujarnya.

“Berbeda dengan menggunakan mesin. Huruf per huruf dipisah, memungkinkan kesalahan lebih sering dilakukan karena Anda harus memproses lagi huruf mana yang didahulukan dari huruf lainnya,” lanjutnya lagi.

Bagaimana Cara Menghindarinya?

Sayangnya, tidak semua dari kita memiliki tim editing yang akan memeriksa kesalahan yang kita buat. Meski begitu, tips ini mungkin bisa Anda coba.

  • Salah satunya adalah dengan beranjak sejenak dari tulisan tersebut dan menghabiskan beberapa waktu sebelum membacanya ulang. Otak Anda, menurut Stafford, akan lebih segar dan lebih mudah untuk menyadari adanya kesalahan.
  • Yang kedua adalah membacanya dengan keras-keras. Suara akan didengar oleh telinga Anda, yang tentunya akan menyadari kesalahan dalam suatu tulisan. Anda juga cenderung akan menyadari kesalahan sebelum mengatakannya keras-keras.
  • Yang terakhir adalah membuat orang yang ada di sekeliling Anda, terutama yang tidak paham akan isi tulisan, untuk membacanya kembali dengan suara yang terdengar. Ini akan memaksanya membaca dengan lebih hati-hati karena ia tidak memiliki bayangan ideal tentang pesan dari tulisan Anda.

Lembaga dan media profesional yang tak luput terjadi typo

Typo atau pengetikan salah tidak hanya dilakukan oleh orang orang umum. Lembaga resmi atau media terkenalpun acapkali mengalami hal typo dalam pengetikan dan terlanjur tayang dalam siarannya.

Beberapa contoh sebagai berikut :

Typo-yang Terpublikasi Oleh TV One:

TYPO-TVONE

Lesmana (2015)

 

  1. Jangan menyengaja typo

Namun demikian kita jangan serta merta sengaja typo. Mentang mentang suatu kewajaran akhirnya kita sengaja typo disetiap komunikasi melalui tulisan / ketikan.

“Kmpert luo, ……gw dkdalni, …..swueek…”

Sebab mengapa? Karena kadang kita menghadapi komunikasi dengan orang yang majemuk latar belakang intelektualitasnya. Ada yang paham ada yang tidak paham. Ada yang familier ada yang ’gapfek’. Jika kita menemui orang yang tidak mengerti pembicaraan / dialog, maka typo akan menjadi masalah, baik memunculkan ketersinggungan, salah paham dan lain sebagainya, sehingga komunikasi menjadi tidak efektif alias tidak menyambung.

  1. KESIMPULAN

Dengan demikian, well sobat ikhwan fillah, kita semua sedang membicarakan tentang perkara praktis dalam dunia komunikasi yang multi dialek dan karakter orang. Diluar orang itu benar atau salah, diluar orang itu bodoh afau pintar. Jadi, berfikirlah yang simpel, mudah dan luas. Jangan kita persulit, dibuat ruwet dan disempitkan dengan agumentasi mendasari serangkaian dalil cangkang. Ini katagori fiqih praktis bung, Oom, mbak, teteh, pak de, pak lek. Yang disana esensinya adalah menjabarkan ,menafsyirkan ayat ayat Ilahi dengan berbagai multi pendapat (ikhtilaf) dan argumentasi, yang kesemuanya dipengaruhi oleh latar belakang keilmuan para pen-tafsyirnya, oleh ruang, waktu dan peradaban. Oleh karena itu janganlah perkara praktis interaksi komunikasi dengan dialek dan bahasa lokal masing masing atau menurut caranya masing masing ini dikaitkan dengan kaidah sunnah, hadits, dalil ini dalil itu  atau lebih menggelikan lagi dikaitkan dengan aqidah. Sedang kita sendiri kebanyakan tidak mengerti apa makna aqidah itu sendiri.

Untuk kita renungkan:

  1. Keadaan Salam, Shalawat dan sejenisnya yang dibolehkan dengan disingkat :
  • Hanya terjadi dunia interaksi komunikasi publik dan media sosial (sosmed).
  • Penulisan dalam mukadimah, surat, catatan kaki.
  1. Keadaan Salam, Shalawat dan sejenisnya yang tidak dibolehkan dengan disingkat dan typo:
  • Pembuatan, pencetakan ayat Al-Qur’an, Hadits.
  • Klausul untuk undang undang.
  • Formula rumus dan bahasa pemrograman.
  1. Orang yang familier dengan karakter tulisan akan tahu maksud tulisan walaupun disingkat, walaupun typo. (Apalagi anda yang doyan chating di medsos)
  2. Ayat ayat Al-Qur’an pun pada mulanya tampil dalam keadaan gundul, polos, mentah seperti bentuk simbol dan karakter mentah, dan asalnya pun qalamullah dalam wujud transkrip agung yang ter-encrypt (penuh singkatan dan maha kode kode).(ayat)
  1. Maka janganlah kita mudah terjebak dengan penghakiman buruk (takfiri) atas datangnya sebuah tulisan, bacaan dan opini, yang dibungkus dengan serangkaian klausul dalil secara literal (cangkang).(ayat) 
  1. Jangan mudah membagi tulisan yang kita tidak mengetahui / mengerti hukum maupun hakekat kebenarannya, alias jangan mudah mengimani suatu berita tanpa tahu kebenarannya.(ayat)
  1. Dan pada pemikiran secara global, maka janganlah kita men-Tuhankan dalil, agama, kebendaan dan sosok.

Demikian saudaraku kaum muslimin dan muslimat, semoga menjadikan spirit untuk menuju dan menjadi umat terbaik, cerdas, luas cakrawala benaknya dan menjadi bagian dari golongan Insan Kamil (intelek).

“Kita mesti telanjang dan benad benar bersih, suci lahir dan di dalam batin”(Abid Ghoffar Aboe Dja’far-1977)

Semoga menjadikan keluasan fikir.

Salam cahaya-Nya

Kelana Delapan Penjuru Angin,

MAJELIS DZIKIR AS-SHALIHIN

MASJID BAITUT TAIBIN

PREMBUN KRANGGAN

‎‎Published on:26 ‎Desember ‎2017, ‏‎1:55:18

Created:28 ‎Nopember ‎2017, ‏‎7:53:38
‎Modified:25 ‎Desember ‎2017, ‏‎21:59:18
‎Accessed:25 ‎Desember ‎2017, ‏‎21:59:18

CopyRights@2017

——0o0—–

DAFTAR RUJUKAN:
*Apresiator. (23 Mei 2014). Mengenal Bahasa Prokem A.K.A Bahasa Gaul (BonusKamusnya Gan).
Forum Kaskus
.(http://www.kaskus.co.id/thread/537e41a6c2cb176b178b4582/mengenal-bahasa-prokem-aka-bahasa-gaul-bonus-kamusnya-gan/), diakses pada 28Desember 2015.Departemen Pendidikan Nasional. (2008).
Kamus Besar Bahasa Indonesia
 (Keempat ed.). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Jawalsen, R. (2012).
 Dasar Negara Diganti, Kehidupan Berbangsa Bubar 
,(http://jaringnews.com/politik-peristiwa/wakil-rakyat/16019/dasar-negara-diganti-kehidupan-berbangsa-bubar), diakses pada 27 Desember 2015.Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional. 2009.
Peraturan MenteriPendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2009 tentangPedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan.
 Jakarta:Pusat Bahasa Kemdiknas.Keraf, G. (1980).
Komposisi.
 Flores: Percetakan Arnoldus Ende.Kurosaki, M. N. (2012).
 Makalah Efesiensi Bahasa Indonesia
,(http://nurkurosaki.blogspot.co.id/2012/11/makalah-efesiensi-bahasa-indonesia.html), diakses pada 31 Desember 2015.Kusno, G. (2015).
KBBI Ternyata Tidak Konsisten dengan Kaidahnya
,(http://www.kompasiana.com/gustaafkusno/kbbi-ternyata-tidak-konsisten-dengan-kaidahnya_552e21d76ea83492068b4588), diakses pada 27Desember 2015.Lesmana, I. (2015).
Kumpulan Typo TV One Kocak 
, (http://www.blog-netizen.com/kumpulan-typo-tvone-kocak/), diakses pada 26 Desember2015.Namakume. (2014).
Pengertian Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar 
,(http://media-online.id/2014/08/bahasa-indonesia-yang-baik-dan-benar.html), diakses pada 29 Desember 2015.Ningsih, D. L. (2015).
 Lima Salah Ketik “Typo” Sederhana Berakibat Bencana
,(http://m.log.viva.co.id/news/read/673709-lima-salah-ketik–typo–sederhana-berakibat-bencana), diakses pada 27 Desember 2015.
18Nizbah, F. (2013).
Pengertian Masalah Menurut Para Ahli
,(http://faizalnizbah.blogspot.co.id/2013/10/pengertian-masalah-menurut-para-ahli.html), diakses pada 31 Desember 2015.Peretasputih. (08 November 2013). [SHARE] Bahasa Gaul yang Ente Tau (WithUpdate).
Forum kaskus
,(http://www.kaskus.co.id/thread/527cd11bbdcb179213000005/share-bahasa-gaul-yang-ente-tau-with-update/), diakses pada 28 Desember 2015.Priyanto, I. J. (2008).
 Mengaji dan Mengkaji
,(https://pustakabahasa.wordpress.com/2009/01/22/mengaji-dan-mengkaji/), diakses pada 27 Desember 2015.Puspitarini, M. (2012).
 Asal Usul Perkembangan Bahasa Alay
,(http://news.okezone.com/read/2012/11/28/373/724664/asal-usul-perkembangan-bahasa-alay), diakses pada 28 Desember 2015.Rangkuti, A. F. (2015).
 Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar, Seperti ApaSih?
 (http://www.kompasiana.com/annisa_rangkuti/berbahasa-indonesia-yang-baik-dan-benar-seperti-apa-sih_5517c59fa33311bc06b66303),diakses pada 31 Desember 2015.Rusdi12. (06 Juni 2012). Pancasila Diganti, Indonesia Bisa Bubar
. Forum Detik 
,(http://forum.detik.com/pancasila-diganti-indonesia-bisa-bubar-t436510.html), diakses 27 Desember 2015.Rusyanti, H. (2013).
Pengertian Bahasa Menurut Ahli?
 (http://www.kajianteori.com/2013/03/pengertian-bahasa-menurut-ahli.html), diakses pada 29 Desember 2015.Sativa, R. L. (2012).
 Hati-hati, Sring Typo Saat Ngetik SMS Bisa Jadi PertandaStroke
,(http://health.detik.com/read/2012/12/28/170809/2129091/763/hati-hati-sering-typo-saat-ngetik-sms-bisa-jadi-pertanda-stroke), diakses pada 28Desember 2015.Suyudi, I.
Pengantar Linguistik Umum.
 Depok: Penerbit Gunadarma.Widyartono, D. (2015).
 Bahasa Indonesia Riset: Panduan Menulis Karya Ilmiahdi Perguruan Tinggi
 (Revisi ed.). Malang: Universitas Negeri Malang.

 

Iklan
BENTUK BENTUK KEKUFURAN UMAT PADA TUHANNYA SEPANJANG ZAMAN, YANG DIAKHIRI DENGAN PENIMPAAN BENCANA DAN GENOCIDA (PEMUSNAHAN) SUATU UMAT

BENTUK BENTUK KEKUFURAN UMAT PADA TUHANNYA SEPANJANG ZAMAN, YANG DIAKHIRI DENGAN PENIMPAAN BENCANA DAN GENOCIDA (PEMUSNAHAN) SUATU UMAT

ENSIKLOPEDIA AZAB DAN BENCANA

images (1)

NO PERISTIWA ZAMAN / MASA BENTUK KEKUFURAN HUKUMAN / AZAB
1 Peradaban Bangsa Alban-Aljan, (Khalifah bumi pertama) +500 jt SM Selalu berakhir dengan kekafiran

(bertikai / bertumpah darah)

Genocide: Dimusnahkan
2 Penciptaan Adam +1 juta SM Sekelompok Muqarrabun menolak perintah sujud pada Adam Dikutuk menjadi iblis
3 Kasus Pembunuhan pertama kali +8000 SM Qabil membunuh Habil karena kedengkian Golongan penghuni neraka
4 Azab Bani Rasib (Kaum Nuh) +4000 SM Menolak Rasul,

menyembah berhala

Genocide : Dengan banjir bandang
5 Azab Kaum Aad (Kaum Nabi Hud AS) 2450-2320 SM Menolak Rasul,

menyekutukan Tuhan

Genocide: Badai Hyphothermia mematikan
6 Azab Kaum Tsamud (Kaum Nabi Shaleh AS) 2150-2080 SM Menolak Rasul, kufur nikmat Genocide: Gelombang

Suara mematikan +12GdB/20Ghrtz

(normal=120dB/20K.hertz)

7 Azab Kaum Saddum / (Kaum Nabi Luth AS) (1950-1870 SM) Menentang Rasul, merajalela Homosex Genocide: Ditimpa batu dan bumi tinggal dibalik
8 Azab Pemerintahan Namrudz (Kaum Nabi Ibrahim AS) (1861 – 1686 SM) Menentang Rasul, men-Tuhankan kekuasaan Genocide: Serangan serangga beracun mematikan, menghisap darah dan memakan daging
9 Azab bangsa Madyan

(Kaum Nabi Syu’aeb AS)

1550 SM Suka berbuat curang, haram, mengurangi timbangan, memakan hak Sambaran Petir dahsyat

Dan Gempa bumi besar

10 Azab bangsa Yahudi

(Kaum Nabi Musa- Daud -Isa AS)

1450- 1213 SM – hingga kini Kufur nikmat, suka membunuh Nabi dan Rasul-Nya, menyembunyikan kebenaran,berbuat kerusakan Laknat dan kutukan, hilang

Rasa tenteram dan kedamaian, diperangi bangsa lain

11 1.Era duniawi sistim kekhalifahan korup,

2.kolonialisme,

PD I dan II

10 Oktober 680 M

s/d

Abad 19

Men-Tuhankan hawa nafsu, Aliran, Mazab,

BEREBUT KEKUASAAN,

KEDUDUKAN DUNIAWI, berpecah belah

Fitnah, bencana alam,

Peperangan membabi buta

12 Era modern / Digital Abad 20

s/d

HARI INI

THAGHUT : EKONOMI, PAMOR, TEKNOLOGI Persaingan kotor, merajalela Fitnah, Bencana alam, teror, kriminal, pembunuhan, komoditi organ tubuh, peperangan, Kerusakan tatanan kehidupan, dll.
13 Era akhir zaman Abad 21 s/d 22, hingga

Menjelang kiamat

THAGHUT : HEGEMONI, INVASI, TEKNOLOGI, KEDZALIMAN, BERBUAT KERUSAKAN Penghapusan suatu kaum, Hujan meteor, Mega Tsunami, perang besar, Gempa akbar, awan pekat beracun mematikan.
14 GENERASI IBLIS, PEWARIS

BUMI TERAKHIR

TIBA HARI YANG TELAH DIJANJIKAN TIDAK ADA ISLAM, TIDAK ADA KA’BAH, TIDAK ADA AL-QUR’AN,

MENIADAKAN TUHAN

ARMAGEDDON

(PRAHARA KIAMAT, PEMUSNAHAN MANUSIA DAN BUMI)

images (19)

Semoga menjadi renungan,

Salam merenungi QS.7.Al A’raf : Ayat,1-10……,dan

Salam mencari keselamatan diri dan keluarga masing masing

Kelana Delapan Penjuru Angin, 12 Sya’ban 1438 H – 09 Mei 2017

CopyRights@2017

BURAQ, SYMBOL PESAWAT ANTAR GALAXY, ANTAR LANGIT  DENGAN KECEPATAN MAHA CAHAYA, TEKNOLOGI SANG MAHA KARYA

BURAQ, SYMBOL PESAWAT ANTAR GALAXY, ANTAR LANGIT DENGAN KECEPATAN MAHA CAHAYA, TEKNOLOGI SANG MAHA KARYA

PENGGAMBARAN BURAQ KENDARA ISRA’ MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW YANG DIVISUALISASIKAN DALAM BENTUK HEWAN KELEDAI , TERLALU DANGKAL DAN CENDERUNG MENYESATKAN

buraq (2)
NABI MUHAMMAD SAW TIDAK PERNAH MENYATAKAN RUPA BURAQ SEBAGAI  SOSOK ‘HEWAN KELEDAI’ DALAM PERJALANAN ISRA’ MI’RAJ DARI MASJIDIL HARAM HINGGA SIDRATIL MUNTAHA.

KONTROVERSI BURAQ KENDARA ISRA’ MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW

Penggambaran Buraq yang merupakan kendaraan pembawa Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan Isra’ Mi’raj dari bumi menuju ke lingkar luar langit lapis ke tujuh jika diartikan secara harafiah (mentah) menurut hadits yang ada, maka akan menghasilkan analogi Buraq sebagai hewan tunggangan berupa kuda, keledai, kambing dan lain lain. Bahkan akhirnya malah menjadi bahan pelecehan / ejekan oleh golongan kafir yang melukis / menggambarkan sebuah Buraq itu sebagai keledai tunggangan berkepala wanita cantik. Sungguh dangkal nian intelektualitas kekinian kita jika turut larut dengan konotasi yang demikian.

buraq

Note:

 Shorter Encyclopedia of Islam karya Hamilton Alexander Rusken Gibb dan J. H. Kramers yang diterbitkan oleh penerbit E. J. Brill – Leiden – Belanda dan Luzac and co – London – Inggris tahun 1961, jilid I halaman 65. Nama Buraq dikaitkan dengan Barqun yaitu lightning (kilat / cahaya).

Dalam rilis berikutnya, Gibb dan Kramers mengutip T. W. Arnold di dalam bukunya painting in Islam (Oxford, 1928) mengatakan: There are long descriptions of Buraq, who is represented as a mare with a woman’s head and peacock’s tail (dalam waktu yang lama Buraq dipaparkan sebagai sesuatu yang mewakili seekor kuda betina dengan kepala seorang perempuan dan dengan ekor burung merak). Gerardy Saintine dalam bukunya trios ans en judèe (Paris, 1860)menyebutkan bahwa di dalam mesjid al-Shakhra di Yerusalem ada sebuah batu yang diziarahi yang dipandang sebagai saddle Buraq.

Kesimpulan bahwa Buraq versi hadis-hadis Nabi SAW sangat berbeda dengan Buraq versi non islam / Yahudi.

Sebagai seorang muslim kini yang telah dianugerahi kenikmatan oleh Allah Swt dengan mengalami hidup diperadaban teknologi maju dan dijital, tentunya kita hanya meyakini Buraq yang di ceritakan oleh Nabi SAW saja dan tidak yang selain itu, dalam mengartikulasikan keberadaan Buraq dengan menggunakan akal logika intelektualitas keilmuan modern.

Sehingga dalam mengartikulasikan sosok Buraq sebagai alat kendara Isra Miraj Nabi Muhammad SAW tidak sedangkal itu. Paragraf Haditsnya tentu tidak ada yang salah, kita sendiri yang salah dalam memahaminya serta mengartikulasikannya.

Sementara yang harus perlu diketahui oleh umat kini, bahwa penggambaran tentang bentuk fisik Buraq masih terjadi ikhtilaf (perbedaan pendapat) di kalangan para Mufatsir, alim ulama. Hingga saat ini, belum ada yang dapat memastikan bagaimana sebenarnya rupa Buraq itu.

Sedangkan sejumlah riwayat shahih hanya menyebutkan tentang ukuran. Mengutip tulisan DR. H. Zulkarnain, MA, Mari kita perhatikan kalimat haditsnya:

Di dalam hadis riwayat Imam Muslim yang nama lengkapnya al-Imam abi al-Husein Muslim ibn Hajjaj ibn Muslim al-Qusyairi al-Nisaburi, (Dalam kitabnya al-Jami’ al-Sahih juz I halaman 99,

Bersumber dari sahabat Anas bin Malik, ia berkata: adalah Rasulullah SAW. bersabda:

“Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu dabbah yang berwarna putih (abyadh), bertubuh panjang (thawil), lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dan sekali ia menjejakkan kakinya yang berkuku bergerak sejauh mata memandang”.

Dari redaksi dalil diatas, silahkan cermati kalimat pernyataan Nabi Muhammad SAW: “Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu dabbah. bahwa beliau tidak mengatakan Buraq itu sebagai للحيوانات  -Al-Hayawanah (hewan :kuda, keledai, baghal atau lainnya), tetapi dengan kosa kata dabbah.

Maa adrakamaa dabbath (Apakah Dabbath itu)?

Mari perhatikan makna dabbath dari dalil induknya yakni Al-Qur’an, sebagai berikut:

  1. Dalam Qs. 42. Asy Syuura:29:

“Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan DABBATH (makhluk-makhluk yang melata) Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya”.

  1. Dalam Qs. 8. Al Anfaal:22:

“Sesungguhnya DABBATH (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli, yang tidak mengerti apa-apapun”.

Dari konteks ayat ayat di atas bahwa kosa kata Dabbah adalah benda hidup / makhluk yang berada pada samawat (langit) dan Ardh (bumi). Ingat makna makhluk = benda jamak, ciptaan Allah. Sementara tafsyir dalam bahasa Indonesia sepertinya sulit untuk mengejawantahkan itu, sebab keterbatasan perbendaharaan bahasa sehingga dabbath lebih diringkas pengertiannya dengan terjemahan ’hewan melata’.

Dengan demikian makna luas dabbath itu tidak hanya terbatas berkonotasi binatang saja.

Kesimpulan sekali lagi dari beberapa ayat diatas bahwa Dabbah tidaklah sekedar Binatang Melata saja akan tetapi Dabbah ialah seluruh jenis MAHLUK YANG BERAKTIFITAS, CIPTAAN ALLAH SWT YANG MENEMPATI ALAM, RUANG DAN WAKTU MASING MASING ” (termasuk MANUSIA dan benda semesta lainnya).

Menurut seorang ulama terkemuka dari kalangan mazhab Syafi’I dalam hal ini adalah Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi yang dikenal dengan sebutan Imam al-Nawawi di dalam kitabnya Sahih Muslim bi Syarhi al-Nawawi, jilid I, halaman 170-171 menerangkan tentang Buraq, bahwa menurut ahli bahasa Buraq adalah nama ‘hewan’ yang dikendarai Rasulullah SAW pada malam Isra’ dan Mi’raj.

Menurut Imam al-Nawawi, mengutip al-Zubaidi di dalam kitabnya Mukhtasharul ‘ain dan sahabat al-Tahriy, bahwa Buraq adalah ‘hewan’ yang digunakan oleh para nabi sebagai kendaraan mereka. Menurut Imam al-Nawawi, dikatakan Buraq untuk menggambarkan kecepatannya (lisur’atihi) dan dikatakan seperti itu karena sifatnya yang cepat seperti cahaya dan kilat. Sedangkan al-abyadh (putih) menurut Imam Nawawi adalah warna bulunya.

Imam al-Baihagi dalam kitab al-Dalail memuat hadis tentang Buraq melalui jalur sanad Abdurrahman dari Hasyim bin Hasyim bin ‘Utbah bin Abi Waqqas dari Anas bin Malik ia berkata, ketika Jibril datang dengan Buraq kepada Rasul SAW, di mana seolah-olah Buraq itu menegakkan telinganya, maka JIbril berkata kepada sang Buraq, “Wahai Buraq jangan begitu, demi Allah engkau tidak pernah dikendarai oleh seorang seperti dia”, kemudian Rasulullah SAW pun berangkat dengan Buraq itu.

Dalam hal ini, ibnu Dihyah dan al-Munir mengatakan bahwa Buraq sulit dikendarai karena ta’ajub dan gembira terhadap Nabi SAW yang akan mengendarainya (Tarikh al-Dimasyqi, karya Ibnu Asakir, jilid III, hlm 311).

Di dalam hadis yang lain Imam al-Baihaqi, melalui jalur periwayatan sahabat Abu Said al-Khudri, Nabi SAW bersabda:”Tiba-tiba ada ‘seekor hewan’ yang ‘menyerupai hewan’ kalian, yaitu baghal kalian ini, telinganya bergelombang (bergerigi)”.

Imam Jalaluddin al-Suyuti mengatakan, “Abu al-Fadhal bin Umar…. Dari Qonan bin Abdullah al-Nuhmi dari Abu Tibyan al-Janbi dari Abu ‘Ubaidah, yaitu Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, :

” Jibril mendatangiku dengan ‘seekor hewan’ yang tingginya di atas keledai dan di bawah baghal, lalu Jibril menaikkanku di atas hewan itu kemudian bergerak bersama kami, setiap kali naik maka kedua kakinya yang belakang sejajar dengan kedua kaki depannya, dan setiap kali turun kedua kaki depannya sejajar dengan kedua kaki belakangnya”.

(al-Said ‘Alawi al-Maliki al-Hasani di dalam kitabnya al-Anwar al-Bahiyyah min Isra’ wa Mi’raj Khair al-Bariyyah, halaman 111)

Jadi analogi Buraq saat zaman itu karena peradaban manusia belum mencapai teknologi modern seperti saat ini, (belum mengenal teknologi pesawat terbang, pesawat angkasa luar, dsb), yang hanya bisa menggambarkan Buraq menurut alam pikir peradaban terbatas saat itu.

(Ingat film berjudul The God must be crazy, dimana tokoh Nixau dari suku Kalahari yang belum mengenal peradaban maju melihat pesawat terbang dengan sebutan “burung”.

Hafiz Ibnu Hajar mengatakan,

“Bukan begal dan melebihi keledai putih.’ Demikianlah disebutkan dikarenakan ia adalah binatang tunggangan atau dengan melihat lafaz ‘buraq’. Hikmah penyifatan itu adalah sebagai isyarat bahwa orang yang menungganginya adalah dalam keadaan nyaman bukan dalam keadaan perang atau ketakutan. Atau pula untuk menampakkan mukjizat yang terjadi karena kecepatannya yang sangat cepat dengan menunggangi seekor binatang yang tidak pernah disifatkan dengan sifat seperti itu jika menurut keadaan normal.”

Maka sejatinya penggambaran Buraq oleh para periwayat yang ada saat itu merupakan bahasa ungkapan : ‘kira-kira’, ‘seperti’, ‘bagaikan’, yang mengartikan bahwa Buraq sebagai ‘hewan’, BUKAN MAKNA SESUNGGUHNYA.

Dengan demikian artinya, bahwa redaksi hadits yang menggambarkan Buraq dengan diterjemahkan sebagai sosok hewan, merupakan penggambaran yang disesuaikan dengan alam pikir akal manusia pada saat itu yang hanya mengenal jenis alat transportasi terbatas hanya pada binatang angkut, (kuda, onta, keledai, gajah, dsb). Bayangkan jika peradaban modern saat ini yang telah mengenal teknologi alat transortasi canggih telah dikenal pada zaman itu, tentu penggambaran tentang Buraq tidak akan demikian.

buraq

Maka menurut intelektual saint modern saat ini, akal manusia secara logika tidak akan menggambarkan Buraq itu sebagai sosok hewan seperti kuda / keledai, namun merupakan pesawat transformer antar galaxy, antar langit, dengan kecepatan maha super kecepatan cahaya, berteknologi maha canggih milik Allah swt, yang bukan jenis hewan.
Ingat kata ‘Buraq’ adalah kilat yang berkonotasi kecepatan, bukan pada bentuk penggambaran sosok hewan untuk tunggangan. (Bersambung……)

Semoga menjadi renungan

Salam Cahaya-Nya….

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Bogowati, 30 Rajab 1438 H

CopyRights@2017

Maraji:

Al-Qur’anul Karim Terjemah DEPAG RI

-BuraQ Menurut Hadist Nabi Muhammad SAW (Oleh: DR. H. Zulkarnain, MA)

-Risalah Ustadz Sigit Pranowo Lc-www.eramuslim.com

-Risalatun nabi Muhammad saw-K.H.M. Syamsuddin–Prembun

-Etc

PILAR PILAR AL-MAIDAH:51

PILAR PILAR AL-MAIDAH:51

Buku risalah ini sedang dalam penyelesaian. Selanjutnya akan diterbitkan.

Judul: PILAR PILAR AL-MAIDAH:51

Penulis: Kelana Delapan Penjuru Angin

Thema:

  • KAJIAN AL-QUR’AN SURAT AL-MAIDAH:51, Memahami konteks dan tujuan
  • KEWAJIBAN UMAT ISLAM UNTUK MEMILIH DAN MENGANGKAT SEORANG  PEMIMPIN DARI KALANGAN ISLAM,SEBAGAIMANA MEREKA GOLONGAN NON ISLAM AKAN MEMILIH DAN MENGANGKAT PEMIMPINNYA DARI GOLONGAN MEREKA SENDIRI

DAFTAR ISI :

  • TADABUR PERISTIWA
  • PARA PENDUSTA DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN
  • KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN DIZAMAN NABI MUHAMMAD SAW
  • KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN ZAMAN NABI NABI TERDAHULU
  • AKAN ADA KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN  SEPANJANG  ZAMAN
  • HAKEKAT KEBERADAAN KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN
  • CARA MENSIKAPI DAN MENGHADAPI KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN
  • KAJIAN AL-QUR’AN SURAT AL-MAIDAH:51
  • KONSEP KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM
  • TUNTUNAN MEMILIH PEMIMPIN ISLAM
  • CARA MEMILIH PEMIMPIN YANG SESUAI PERINTAH ALLAH DALAM AL-QUR’AN
  • AKAN SELALU MUNCUL GOLONGAN ISLAM YANG TERBELAH
  • CARA MENSIKAPI DAN MENANGANII PERPECAHAN DITUBUH ISLAM
  • MEMBANGUN PERADABAN ISLAM YANG KOKOH UNTUK RAHMAT SEMESTA ALAM
  • KESIMPULAN DAN PENUTUP

Islam

Exegess:

Al-Qur’an surat AL-MAIDAH:51, sesungguhnya adalah ayat ekseklusif untuk komunitas umat islam dalam kancah politik. Yang dengan enerji ayat tersebut golongan (baca: kelompok, komunitas, organisasi, partai politik) yang dibawah panji panji islam dapat eksis, bersaing dan berjaya serta dapat tampil sebagai pemenang dalam setiap kompeitisi untuk urusan kemaslahatan umat.

Yakin 1000 % bila yang menjadi umat islam itu tunduk luruh terhadap kalam sucii tersebut tanpa reserve, tanpa kepentingan duniawi, tanpa jumawa mengatas namakan AHLI ilmu dalil, tafsyir, gramatika dan sebagainya, dengan berbagai debat  tolol, mengupas, mengorek orek tafsyir hingga ruwet, hingga malah mempertontonkan perpecahan, kebingungan, kekocar kaciran ditengah umat sendiri.

Sementara ada ironi terpampang nyata, dari sikap golongan / umat non muslim, betapa mereka (jama’ahnya) begitu patuh dan tunduk luruh terhadap ayat ayat suci mereka, terhadap fatwa fatwa dari para imam, ulama, pemimpin pemimpin rohani dari kalangan mereka, tanpa reserve, tanpa koar koar, tanpa debat tolol menggali gali dan merangkai dalil dalil pembenaran diantara mereka. Maka menanglah mereka dalam setiap percaturan politik dan kepentingan, cukup dengan satu komando dari pemimpin mereka: ”PILIH WAKIL TUHAN KITA”. Maka merekapun mengikutinya tanpa reserve. Tanpa demo, tanpa aksi aksi yang menguras energi.

Bukankah berbeda dengan keadaan yang dipertontonkan oleh umat islam kini ? Sangat jelas. Atau, O…wahai kaum muslimin pewaris ‘khairu ummatan’, apakah pandangan qalbu kalian masih terhalang oleh tuhan tuhan mazab dan aliran?

Giliran partainya, calon pemimpin yang diangkatnya kalah atau ketika ada perkara yang dianggapnyasebagai ’pelecehan, penistaan  agama, kita begitu sensitif dengan lantangnya meneriakkan ketersinggungan, sakit hati, hingga ramai ramai heboh danmusti repot repot mengadakan unjuk aksi saling membangga banggakan kelompok, mazabnya masing masing, yang malah menampilkan kepingan kepingan ketidak harmonisan dalam tubuh islam.O, betapa bodoh dan bebalnya ‘aqalku…..’

BAB I

TADABUR PERISTIWA

Abad abad diakhir zaman ini adalah masa abad yang sangat menyedihkan dan memprihatinkan bagi kehidupan umat islam. Yaitu harus menyaksikan nasib dan keadaan generasi umat Islam kini yang hidup tidak bersatu, bercerai berai, saling curiga mencurigai, saling bertikai, saling bunuh membunuh sesama saudaranya sendiri, dengan mengatas namakan kebenaran dan Tuhan, saling cemooh, sindir menyindir, saling berdebat mencari pembenaran masing masing dengan serangkaian dalil dalil dan tafsyir. Silahkan lihat saja diberbagai media, jejaring sosial, komunitas online dan dalam kehidupan sehari hari ditengah masyarakat, yang isinya saling profokasi, menulis, memuat dan membagi info yang bernada tendensius saling menjelekkan antar aliran dan organisasi.

LIHATLAH POTRET KETERPURUKAN UMAT ISLAM DIPENJURU BUMI. PERANG BODOH DIWILAYAH TIMUR TENGAH, PEMBANTAIAN UMAT ISLAM DI MYANMAR, DERITA PALESTINA, AFRIKA DAN BELAHAN BUMI LAINNYA.

Sementara dinegeri non muslim, umat islam yang minoritas sedang meregang nyawa mengantri kematian karena dianiaya, dibantai oleh penganut mayoritas yang benci dan anti Islam tanpa mampu melawan, tanpa persiapan dan tanpa pertolongan dari umat islam lainnya, sebab saudara seagamanya itu tengah sibuk dengan perdebatan, dengan berebut kedudukan dan persaingan duniawi, bahkan lebih gigih memperjuangkan dan menjadi pendukung golongan diluar Islam, sementara lainnya asyik dengan saling membangga banggakan kelompok dan organisasinya masing masing.

Sehingga perlahan baik disadari maupun tidak disadari atau bahkan bagi yang tak peduli dengan apa yang terjadi, maka umat islam telah tergilas oleh roda waktu bersama ribuan muslim yang terusir dari kampung halamannya, bersama ribuan lainnya yang tewas mengenaskan, dibantai oleh kaum yang benci dan anti Islam maupun sebab pertumpahan darah sesama Islamnya sendiri, hingga kemudian perlahan baik disadari maupun tidak disadari atau bahkan bagi umat islam awam yang masa bodoh dengan Islamnya sendiri, maka perlahan tapi pasti, umat Islam kini menuju kearah kebinasaan.

Jangan menyalahkan non muslim menjadi pemimpin, sebab mereka menduduki kursi kepemimpinan karena menang pemilu dan terpilih. Maka salahkanlah diri kita sendiri mengapa sebagai umat islam Indonesia yang katanya mayoritas? Tetapi mengapa tidak bersatu memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan muslim sendiri?

O,umat….. pewaris ‘khairu ummatan’,

O, banyak orang islam begitu menjadi pejabat atau pemimpin banyak yang korupsi dan mementingkan diri sendiri? MasyaAllah….! Lantas mengapa seperti kebakaran jenggot saat kalangan islamnya kalah dalam pemilihan sehingga kepemimpinan dimenangkan non muslim? Malah saling adu debat berebut benar, saling berselisih dan bercerai berai hingga saling kafir mengkafirkan sendiri?

Maka yang model begini yang ‘ngerasa’ katanya paling benar, yang paling diridhai oleh Allah, yang ngotot islam lebih berhak menjadi penguasa (Khalifah), namun lupa kita sendiri kotor, kita sendiri tak becus memimpin, kita sendiri tidak becus dalam menegakkan kesatuan dan persatuan islam (ukhuwah islamiyah) dengan benar sesuai perintah-Nya, kita sendiri tidak beriman islam dengan benar. Hingga kita sendiri tidak memperhatikan betapa marahnya Allah kepada kita generasi umat islam yang model begini. Maka tanyakan pada nurani kita sendiri. Sudahkah kita beriman islam dengan benar? Sudahkah kita faham terhadap islamnya sendiri?

Dalam Al-Qur’an, Allah menyindir peradaban umat Islam yang dalam keadaan model begini:

“Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)? “(QS.4.An-Nisaa:109)

Dan ini adalah sindiran Allah untuk umat Islam yang hari hari saling ejek mengejek, saling mengolok olok, saling memprofokasi, saling takfiri (kafir mengkafirkan) dan saling berdebat berebut benar antar kelompok, antar aliran dalam islamnya sendiri.

“Beginilah kamu, kamu ini bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”.(QS.6.Ali’Imran:66)

Maka wahai kaum muslimin muslimat, segeralah secepat mungkin tinggalkan perpecahan, Jika tidak, jangan harap islam tampil menjadi rahmatan lil’ alamin. Sebab islam generasi model begini akan dihapus oleh Allah.

O, berarti harus kembali ke sistim kekhalifahan seperti masa lalu. Pasti islam akan terkemuka kembali. Pasti akan menjadikan umat islam bersatu dan kuat kembali. Sebab ini syareat islam, pasti diridhai Allah. Begitulah kini suara suara kenangan peradaban masa lalu semakin santer mengiang.

Jangankan bermimpi khalifah global, mengurus negara kecil dengan mengatas namakan negara islam saja berantakan, saling bertikai antar aliran, apalagi skoup global. Ujung ujungnya cari pengaruh, kedudukan, rebutan kekuasaan antar aliran seperti masa lalu.

KHALIFAH? Memang sudah paham apa itu KHALIFAH?

(Baca ’keruntuhan sistim khalifah masa lalu’)

(Baca ’karakter bangsa Arab’)

Maka wahai kaum muslimin muslimat, berfikir ! Gunakan logika sederhana saja, tak perlu rumit, ‘njlimet’ ! Islam Indonesia mayoritas, anggap saja 75%. Satukan hati dan jiwa islam. Bebaskan diri dari nafsyu duniawi, kepentingan dan keuntungan pribadi. Saat pemilihan kepemimpinan, persiapkanlah. Kemudian angkat dan pilih saja calon dari Islam yang paling alim (kapabel), bulatkan suara, pilihlah itu. Maka jadilah kepemimpinan dimenangkan islam, dan memimpinlah dengan nilai nilai islam, bangun negeri, bangun mental, bangun kesejahteraan dan kemajuan bangsa serta negara. Wujudkan cita cita Indonesia yang jaya, Indonesia yang rahmatan lil’alamin, Indonesia yang terkemuka di dunia.

BAB II

PARA PENDUSTA DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN

Banyak peristiwa dalam kehidupan dunia ini sesungguhnya sarat akan limpahan pelajaran dan peringatan bagi manusia manusia yang berakal, berfikir dan merenung dalam diam. Pada 2 Desember 2016, terjadi peristiwa akbar yang terjadi secara serentak di berbagai kota besar Indonesia, khususnya di Ibu kota, yang telah menyita perhatian publik dan menjadi sorotan dunia, bahkan disebut sebagai unjuk rasa terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia, yaitu terjadi unjuk rasa besar besaran dari kaum muslimin yang melakukan gerakan yang terkenal dengan sebutan aksi DAMAI 212 Bela Islam III. Hari itu Jakarta berubah menjadi lautan manusia yang berjumlah jutaan berkumpul melakukan aksi gelar do’a bersama dan menyuarakan aspirasi menuntut pemerintah agar menangkap dan mengadili segera gubernur DKI, Ahok, yang telah menista Al-Qur’an dan  melecehkan Islam. Gelombang kemarahan dari umat islam dipicu dari ucapan Ahok gubernur DKI didepan publik dalam lawatan dinasnya di Kepulauan Seribu pada27 September2016

Mengutip dari www.edunews.id , berikut bagian transkrip ucapan Ahok di Kepulauan Seribu :

“………..ini pemilihan kan dimajuin, jadi kalo saya tidak terpilih pun bapak ibu, saya berhentinya oktober 2017. jadi kalo program ini kita jalankan dengan baik pun, bapak ibu masih sempat panen sama saya. sekalipun saya tidak terpilih jadi gubernur. jadi saya ingin ceritanya bapak ibu semangat. jadi gak usah pikiran, ah, nanti kalo gak kepilih, pasti, Ahok programnya bubar. gak, saya sampai oktober 2017.

jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu, gak bisa pilih saya, ya — dibohongin pake surat Al Maidah surat 51 macam-macam gitu lho. itu hak bapak ibu. ya. jadi kalo bapak ibu, perasaan, gak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gak papa…. “.

Demikian bagian transkrip ucapan Ahok di Kepulauan Seribu, selengkapnya silahkan googling saja, maka akan banyak ditemukan konten dan beritanya disana, oleh karena kita disini tidak membahas kasus ’Ahok’nya, namun mengungkap hakekat apa yang keluar dari mulutnya.

Bahwa sesungguhnya kasus Ahok dan atau pernyataan miring yang keluar dari mulut Ahok dan Ahok itu sendiri, tidaklah berdiri sendiri. Semua realitas itu adalah cerminan dari sebuah ungkapan hati / jiwa / sikap atas komunitas umat diluar golongan Islam yang sejak dahulu pernah ada terjadi dan akan ada hal serupa hingga akhir zaman nanti.

“Ahok”, hanyalah sebuah representasi icon pengungkapan suatu hujjah penolakan atau ‘penistaan’ (mewakili performa sikap secara umum) terhadap ayat ayat Al-Qur’an  dari golongan umat / agama diluar Islam yang dipelopori / dipropagandakan oleh para pemimpin agama, ulama, imam imam mereka, yang anti / tidak menyukai risalah Islam (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah SWT,  melalui nabi Muhammad SAW. Dan tuduhan tuduhan miring maupun olok olok merendahkan dan pengingkaran terhadap Al-Qur’an tersebut lazim dilafazkan dalam khotbah khotbah ibadah kebaktian mereka. Sehingga telah menjadi perkataan perkataan kebiasaan dan telah menjadi doktrin kepercayaan yang ditanamkan kedalam jiwa pemahaman setiap umatnya / jemaatnya. Maka tak heran bila pemahaman penganut agama diluar Islam terhadap agama Islam hanya sebatas apa yang telah didoktrinkan oleh para ulama mereka, memahami Islam sebagai agama primitif, agama barbar, agama buatan Muhammad, Al-Qur’an ayat ayat bualan Muhammad, ajaran syetan sesat (lucifer), dan sebagainya hingga ejekan ejekan yang kasar serta ekstrim terumbar dimana mana seperti di sosial media, pada ajang diskusi, di portal situs maupun dalam obrolan perlecehan dikomunitas publik.Sehingga memancing kejengkelan dari komunitas penganut Islam dan yang akhirnya saling membalas baik halus maupun ada yang jadi kasar.

Dalam transkrip ucapan gubernur DKI Jakarta periode: 2012-2017 , di Kepulauan Seribu seperti yang tertulis diatas, maka jika diintisarikan dari seluruh perkataan Ahok tersebut akan memunculkan sebuah kalimat pikiran utama yang menggetarkan qalbu. Kalimat pikiran utamanya itu jatuh / menyorot pada transkrip kalimat yang berbunyi ‘dibohongi’ (pake surat Al Maidah surat 51}. Itulah rahasia sebenarnya dari pokok persoalan, mengapa umat Islam marah dan melakukan aksi bela Al-Qur’an.

Dan ternyata hujah hujah tuduhan miring yang dilontarkan oleh golongan anti Islam dan atau umat diluar Islam, baik sengaja maupun bersifat ”keceplosan”, maka hakekatnya adalah lontaran olok olok merendahkan yang menyiratkan adanya pengingkaran dari qalbu mereka terhadap keberadaan Al-Qur’an maupun risalah Ilahi yang diturunkan kepada para rasul. Maka realitas yang demikian sesungguhnya telah ada terjadi sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak zaman nabi nabi terdahulu sebelum nabi Muhammad SAW.

Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan [25] ayat 4.

Terjemahan ayat tersebut berbunyi, “Dan orang-orang kafir berkata, ‘Al-Quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain.’ Maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezhaliman dan dusta yang besar.”

Dalam redaksi ayat tersebut Allah SWT memberi penegasan adanya tiga obyek dan predikat dari perbuatan suatu kaum penista / pengingkar Al-Qur’an, yakni:

  1. Al-Qur’an dan Muhammad sebagai obyeknya, sementara orang yang menuduh / mengingkari Al-Qur’an dan Muhammad diberi predikat oleh Allah sebagai golongan ’ orang-orang kafir’.
  2. Setiap acara yang diselenggarakan oleh mereka merupakan obyek kesempatan / moment untuk berkata kata / berpidato / berhujjah baik secara eksplisit maupun implisit yang  pada hakekatnya adalah menyuarakan suara suara penolakan, olok olok dan mendustai terhadap keberadaan Al-Qur’an, sementara orang orang / team / koalisi disekelilngnya yang membantu suksesi kepemimpinan dari golongan mereka diberi predikat oleh Allah sebagai golongan ’kaum yang lain’ yaitu tentu diluar golongan kafirin sebagaimana dimaksud pada item pertama, tetapi dari golongan lainnya seperti orang orang ’munafikin’ (islam ikut, kekafiran ikut), kemudian dari golongan ’musyrikin (kaum penyembah berhala) dan lainnya berikut para supporternya.
  3. Sedang setiap laku perbuatan sebagaimana disebut diatas merupakan obyeknya dan kumpulan para pelakunya (yaitu terdiri dari orang pelaku, team, koalisi yang membantunya) yang telah melakukan perbuatan menyuarakan suara suara kebathilan seperti yang dimaksud pada item 1 dan 2 tersebut diatas, diberi predikat oleh Allah sebagai perbuatan ’zhalim dan dusta besar’.

Terkait ayat ini, Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala menerangkan, “Sungguh, mereka telah menciptakan suatu komentar kebathilan, padahal mereka mengetahui bahwa hal itu adalah kebathilan dan mereka pun mengetahui kedustaan diri-diri mereka terhadap apa yang telah mereka tuduhkan.”

Kemudian menurut K.H. Muhammad Arifin Ilham menambahkan bahwa, merupakan salah satu bukti benarnya Al-Qur’an dalam mengabarkan: “telah dan akan ada orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan kebohongan, alat berbohong, dan sejenisnya”.

Silahkan renungkan sekali lagi, kesimpulan inti dari makna Al-Qur’an surat Al-Furqan [25] ayat 4 dalam konteks yang lebih luas adalah : saat ada orang / golongan yang mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan alat kebohongan atau berisi kebohongan,  maka Al-Qur’an juga sekaligus mengungkap, bahwa akan ada kehadiran dari orang-orang munafiq, musyrik dan lainnya, untuk membela orang tersebut. Dan selanjutnya Al-Qur’an  menegaskan pula status orang / golongan yang ber-hujjah tersebut serta yang membelanya / para pendukungnya, resmi disebut Al-Qur’an dalam ayat ini sebagai ‘Pelaku dusta dan kezhaliman yang sangat besar.’  (luar biasa na’udzubillah).

Itulah rahasia mengapa Allah menurunkan surat Al-Maidah:51. Dan surat ini tidak berdiri sendiri, namun dijabarkan kedalam berbagai ayat yang diantaranya ya dalam surat Al-Furqan (25):4, ini dan QS.(2).Al-Baqarah:120 serta dalam belasan ayat lainnya.

Dengan demikian, jelas sekali bahwa makna surat Al-Maidah:51 adalah pasal perintah Allah bagi kaum muslimin untuk memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan muslim itu sendiri, tanpa reserve, tanpa debat dan tanpa mengurai dalil dan tafsyir yang lebih ‘njelimet’ lagi. Tetapi memang begitulah manusia, pasti akan ada orang yang berdalih lagi dengan kata kata, bahwa :”jangan kaitkan agama dengan politik, tidak relevan”, atau ada yang berkata : “dalilnya multi tafsyir, Islam boleh kok memilih pemimpin dari non muslim, yang penting kinerja dan kemampuannya bagus”. Nah, bukankah ada orang orang yang berargumentasi demikian? Maka semua itu adalah dalih, mencari cari celah pembenaran untuk tidak termasuk melanggar ayat ayat Al-Qur’an.

MERENUNGI REDAKSI AYAT TENTANG : SIAPA PELAKU “DUSTA-SIAPA GOLONGAN KAFIR”?

LABEL KAFIR

Pengertian ”Kafir” salah kaprah, dianggap hanya cap bagi orang diluar islam saja. Sedang justru Al-Qur’an menekan label kekafiran itu pada orang islamnya sendiri.

PENJABARAN:

Berikut kalimat kalimat tuduhan / lecehan yang lazim mereka lontarkan terhadap Islam / Al-Qur’an:

  1. Dalam faham mereka, Islam adalah penyembah batu dan sesat
  2. Al-Qur’an buatan Muhammad, yang berisi bualan orang orang jaman dulu
  3. Al-Qur’an adalah ayat ayat syetan (Salman Rusydi)
  4. Islam agama pedang, barbar serta teroris
  5. Dll

(Silahkan googling, link hujjah mereka)

MERENUNGI REDAKSI AYAT TENTANG : SIAPA ORANG ORANG DISEKELILINGNYA YANG “MEMBANTU”?:

Dalam kaitan surat Al-Maidah:51 yang merupakan pasal perintah Allah bagi kaum muslimin untuk tidak mendukung dan memilih pemimpin dari luar golongan islam, maka bahasa lain dari ayat tersebut adalah merupakan perintah sesungguhnya dari Allah untuk kaum muslim wajib memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan muslim itu sendiri, dengan hikmah agar syiar dan kemaslahatan Islam dapat berjalan dan berkembang baik. Akan tetapi ketika umat islamnya tidak mentaati perintah itu hingga malah berpecah belah dan kemudian justru mendukung dan memilih pemimpin dari luar golongan islam, maka pesan dari ayat Al-Maidah:51 lainnya adalah bahwa kepemimpin dari luar golongan islam akan menimbulkan kemudharatan bagi umat islam. Sebab mengapa, yakni karena golongan kafirin dan musyrikin tidak suka dan anti kepada umat islam, yang salah satunya dalam bentuk tudingan bahwa Al-Qur’an adalah kebohongan dan golongan mereka saling bekerja sama satu sama lain untuk kepentingan mereka. Seperti yang dilansir dalam surat Al-Furqan [25] ayat 4.

(Bukankah dapat kita perhatikan ketika sejak pertama ‘Ahok’ tampil dalam pencalonan untuk menjadi pemimpin DKI Jakarta hingga kemudian ketika ‘Ahok’ tersandung kasus penistaan agama hingga harus menjalani proses hukum dan masuk ke persidangan, maka bukankah disekeliling Ahok muncul para pendukungnya dari orang orang / golongan Islam munafik dan golongan lainnya seperti penyandang dana, para konglomerat, para oportunis dan lainnya? Silahkan perhatikanlah dan renungkanlah dengan seksama akan kenyataan ini).

Maka hakekatnya dalam perkara ini sesungguhnya adalah soal pilihan bagi umat Islam, yaitu: apakah kita sebagai umat yang telah dianugerahi kenikmatan iman islam ini termasuk ke dalam kriteria yang dilansir seperti dalam ayat Al-Qur’an tersebut atau bukan, yakni:

  1. Apakah kita sebagai umat islam yang tidak memilih dan mengangkat pemimpin dari non muslim, atau
  2. Apakah kita sebagai umat islam yang justru menjadi pendukung, memilih dan mengangkat pemimpin dari non muslim.

Seterang itu sebenarnya dalam membaca suatu esensi kejadian atau suatu perkara. Namun akan sulit terbaca bagi orang orang awam dan bagi orang orang yang mata hati dan mata batinnya tersekat oleh sumbatan Az-Zhulmun (kegelapan materi), yang berupa nafs materi jasadiyah,  mengejar kepentingan pribadi, kedudukan serta jabatan yang kesemua itu hakekatnya adalah lebih memilih keuntungan duniawi dari pada nilai nilai keIlahian (ukhrawi).

Maka bagi orang orang yang mata hati dan mata batinnya telah tersumbat oleh dinding dinding keduniawian tersebut, secara otomatis sinyal sinyal hidayah dari Ilahi juga akan menutup (closed) pada dirinya. Jika sudah tertutup maka ia akan jauh dari cahaya petunjuk kebenaran. Itulah mengapa orang orang yang mengaku diri sebagai islam namun kehilangan daya pancar keislamannya, hingga kemudian nafs syetaninya akan membisikkan dan menggiring kearah lorong lorong Az-Zhur (kepalsuan) yang penuh dengan jebakan berupa pemikiran pemikiran kebenaran yang semu dan bias yang berlindung dibalik serangkaian pendalilan dan penafsyiran. Tak heran orang orang model begini akan selalu menyuarakan pemikiran kontroversial yang membingungkan umat sebab dibungkus dengan serangkaian  penjabaran dalil dan tafsyir yang sudah nash / qot’i (baku) namun masih dijabar jabarkan lagi dengan rangkain penafsyiran penafsyiran njelimet yang disesuaikan dengan posisi dan kepentingan yang sedang diperolehnya.

MERENUNGI REDAKSI AYAT TENTANG : SIAPA YANG MENDAPAT PREDIKAT SEBAGAI “PENDUSTA DAN ZALIM”?

BAB III

KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN  DIZAMAN NABI MUHAMMAD SAW

BAB IV

KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN  ZAMAN NABI NABI TERDAHULU

KAUM ANTI DAN PENISTA AL-QUR’AN   ZAMAN NABI NABI TERDAHULU

Begitu banyak ayat ayat Al-Qur’an yang memberitakan tentang adanya kaum / orang / golongan yang mengatakan bahwa ajaran kebenaran yang datang dari Tuhan yang disampaikan melalui para nabi nabi terdahulu sebelum nabi Muhammad, dianggap sebagai kebohongan atau berisi kebohongan atau mengada ada:

BAB V

AKAN ADA KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM /  AL-QUR’AN  SEPANJANG  ZAMAN

Mereka memiliki situs resmi yang digunakan untuk berdakwah secara tendensius menggiring faham yang menyesatkan kepada publik, secara halus, yang jika dicermati tulisan tulisannya  mengandung upaya upaya pemurtadan dengan menanamkan pemahaman bahwa islam / alqur’an merupakan kebohongan, serta hanyalah buatan Muhammad.

Ini salah satu link situs propaganda mereka dengan modus dan cara kerja sebagai berikut:

  1. Banyak memasang iklan diportal dan situs  web
  2. Berkamuflase ciri keislaman, namun isinya tuduhan miring terhadap Islam
  3. Komentar dibatasi hanya tiga baris
  4. Ketika koment harus login dengan akun email
  5. Begitu sudah diperoleh alamat email, mereka gencar kirim email berisi tuduhan miring tentang ayat ayat  Al-Qur’an dan menggiring untuk mengikuti  iman mereka

(http://www.isadanislam.com/al-quran/benarkah-al-quran-seratus-persen-firman-allah)

BAB VI

HAKEKAT KEBERADAAN KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN

HAKEKAT KEBERADAAN KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN

TUJUAN PARA PENDUSTA ISLAM / AL-QUR’AN

MEMADAMKAN CAHAYA ISLAM (QS.9.At-Taubah:32, QS.61.As-Shaf:8)

MENYUSAHKAN UMAT ISLAM KARENA KEBENCIAN (QS.3.Ali Imran:118)

PENYEBAB MEREKA MENDUSTAKAN ISLAM / AL-QUR’AN

                -KARENA TIDAK BERPENGETAHUAN AGAMA KEBENARAN MENGIKUTI KESESATAN NENEK MOYANG (QS.18.Al-Kahfi:5)

-Meniru kekafiran umat terdahulu (QS.9.At-Taubah:30)

CARA KERJA KAUM PENDUSTA ISLAM / AL-QUR’AN

                Dengan menyebarkan berita bohong (QS.24.An-Nur:15, QS.5.Al-Maaidah:41)

BAB VII

CARA MENSIKAPI DAN MENGHADAPI KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN

CARA MENSIKAPI / MENGHADAPI KAUM ANTI DAN PENISTA AL-QUR’AN DAN KAUM ANTI ISLAM KINI DAN NANTI

BAB VIII

KAJIAN AL-QUR’AN SURAT AL-MAIDAH:51

KEWAJIBAN UMAT ISLAM UNTUK MENDALAMI, MEMAHAMI DAN MERENUNGI MAKNA AYAT AYAT AL-QUR’AN, KEMUDIAN MENGAPLIKASIKANNYA.

Sahabat, apakah anda masih dalam kebiasaan memperlakukan Al-Qur’an sehari hari hanya sebatas bacaan tadarus saja tanpa membaca terjemahannya, kemudian memahami maknanya? Mari mulai kini jadikan Al-Qur’an sebagai An-Nuur Al-Hidayah, milikilah Al-Qur’an yang dilengkapi terjemahannya, kemudian berikan waktu dan kesempatan cahaya Al-Qur’an menyinari qalbu dan jiwa  anda dengan membaca artinya kemudian merenungi maknanya, kemudian mintalah bimbingan seorang yang berilmu Al-Qur’an, insyaAllah nanti kita akan mendapat pancaran nur hidayah dari Allah dan dari energi Al-Qur’an, yang dengan itu langkah hidup kita akan selalu mendapat petunjuk kemudahan, keselamatan serta ketenangan, terhindar dari pilihan jalan yang salah, kesulitan dan kekhawatiran. Mari dalami ayat ayat Al-Qur’an dengan maknanya.

SEJARAH TURUNNYA AL-MAIDAH;51 DAN TAFSYIR

RIWAYAT ABU BAKR DAN UMAR BIN KHATAB R.A

(DALAM PENYUSUNAN)

Resume:

PENJELASAN (QS Al-Maidah, 5: 51).

Ayat ini adalah satu dari belasan ayat yang berhubungan dengan larangan mengangkat pimpinan dari kalangan non muslim. Oleh karena itu, penafsirannya harus dipadukan satu sama lain. Kecuali itu, penafsiran surah Al-Maidah ayat 51 ini pun tidak bisa hanya sepotong ayat. Sebab, potongan ayat selanjutna (sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain) adalah alasan atau dasar adanya larangan tersebut.

Kata WALI atau AULIYA (jamak) memiliki makna tidak kurang dari sepuluh makna. Antara lain teman, kawan setia, penolong, sekutu, pelindung, pemimpin, kekasih, dan lainnya. Pada ayat ini semua makna tersebut bisa berlaku, sebab substansinya adalah bahwa orang beriman dilarang masuk dalam lingkungan pengaruh atau kekuasaan mereka.

Dari mana makna itu diperoleh? Dari dasar atau alasan adanya larangan tersebut, yaitu “sebagian mereka adalah wali/auliya bagi sebagian lainnya”. Maksudnya adalah, ”Orang-orang beriman jangan menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali, sebab mereka itu hanya akan jadi wali di kalangan mereka sendiri. Orang Yahudi jadi wali bagi orang Yahudi sendiri sesuai dengan keyakinannya. Begitu juga orang Nasrani. Maka, kalau orang beriman menjadikan mereka sebagai wali, pasti akan masuk dalam kendali kepentingan ke-walian mereka.

(Makna seperti ini hanya akan dipahami dengan ilmu ma’ani. Tanpa ilmu ini, kita tidak bisa menghubungkan penggalan ayat seperti itu). Untuk memastikan makna tersebut silahkan rujuk QS 2:20. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” Rujuk pula QS 3: 118, QS.3: 149-150, QS. 9:23, dll. Untuk membuktikannya silahkan perhatikan konspirasi dunia sekarang, bahkan sepanjang zaman. Di manakah Islam dalam permainan bangsa-bangsa besar non muslim?

Surah Al-Maidah ayat 51 itu diakhiri dengan ungkapan, “Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” Sangat jelas sekali, ayat ini mewanti-wanti bahwa orang beriman yang mengangkat wali dari orang kafir akan diseret untuk jadi kafir juga. Dan, kalau pun mengaku muslim, dia hanyalah sebagai muslim zalim yang sudah dijauhkan dari petunjuk Allah.

Kalau mengambil orang kafir sebagai wali (dalam arti teman dekat, sekutu, atau penolong) sudah dilarang, padahal hubungan tersebut tidak menimbulkan otoritas kuat untuk mengatur sekutunya, larangan itu menjadi lebih kuat jika mengangkatnya sebagai wali dalam arti pemimpin. Oleh karena itu, penafsiran atau penerjemahan kata WALI atau AULIYA itu dengan PEMIMPIN sebenarnya lebih lunak. Sebab, itu masih membuka peluang untuk menjadikannya sebagai teman dekat atau sekutu, selama tidak terseret kepada lingkup pengaruh yang tidak diizinkan.

***

Mengenai sebab turun ayat tersebut, benar ada periwayatan yang menghubungkannya dengan kondisi perang. Akan tetapi, itu hanya sebagian saja dari beberapa periwayatan tentang sebab turunnya yang dikemukakan oleh para ahli tafsir.

Setidaknya ada empat katagori periwayatan yang berbeda terkait peristiwa, waktu/situasi, dan pelakunya. Ada yang meriwayatkan dalam kondisi perang, pasca perang, perangnya juga berbeda-beda, orang atau pelakunya juga berbeda-beda. Ada pula yang meriwayatkan dalam kondisi normal (bukan perang). Sedangkan ayat-ayat yang melarang mengangkat kafir sebagai wali yang tidak terkait dengan situasi perang justru lebih banyak, baik dalam bentuk larangan langsung atau bentuk pemberitaan.

Oleh karena itu, dalam hal hubungan sebab turun ayat dengan ayatnya, para ulama tafsir meletakkan kaidah baku sebagai metodologi penafsirannya. Yaitu, al-Ibrah bi Umul lafdzi la bi khusu Sabab (Titik pertimbangannya terletak pada generalitas makna ayat bukan pada khususnya sebab turun). Tentu saja sebab turun ayat itu penting, setidaknya untuk melihat orientasi makna. Tapi peristiwa dan situasi yang bersifat temporal tidak mungkin mereduksi pernyataan-pernyataan banyak ayat yang sangat tegas dan general. Untuk membuktikan nya silahkan rujuk QS. 3: 28, QS. 4: 138-139, QS. 4: 144, QS. 60: 13, QS. 5: 80-81, QS. 58: 14-15, dll.

***

Mengenai Rasulullah saw. tidak menolak kepemimpinan pamannya, yaitu Abu Thalib, itu memang benar adanya. Kalau Alquran diturunkan sekaligus, tidak berangsur, masalah tersebut boleh jadi layak dipertanyakan. Akan tetapi, kenyataan berbicara lain, Alquran diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Saat Abu Thalib masih hidup adalah saat awal perjuangan Islam di Mekkah.

Ayat-ayat yang diturunkan di sana baru menyangkut masalah-masalah pokok akidah. Adapun ayat-ayat syariah tentang berbagai kewajiban, seperti zakat, shaum, haji, termasuk masalah pemerintahan turun di Madinah. Itu terjadi jauh setelah Abu Thalib meninggal dunia. Jadi, di Mekkah itu belum ada aturan tentang kepeminpinan. Lagi pula, di saat itu Abu Thalib adalah satu-satunya tokoh Quraisy (yang tidak beriman) yang memberikan perhatian dan perlindungan kepada Rasulullah saw.

Dengan demikian, dalam penafsiran Alquran itu memerlukan ilmu pendukungnya, tidak bisa dikira-kira, apalagi diseret oleh keinginan atau kepentingan tertentu. Setiap lompatan atau penggalan kalimat dalam satu ayat, baik menggunakan kata sambung atau tidak, pasti mengandung makna yang dalam. Begitu pula pengulangan konsep sama yang tersebar pada beberapa ayat dan surat berbeda. Untuk mengungkap rahasia maknanya ada ilmunya, yaitu ilmu manasabah.

Maka apabila suatu masalah diungkapkan dalam banyak ayat tidak bisa hanya dikaji dan disimpulkan dari satu ayat. Ayat-ayat yang berhubungan tersebut harus dicari korelasinya, sehingga terjadi penafsiran ayat dengan ayat. Inilah derajat tafsir yang paling tinggi.

***

Sekarang ini muncul perbedaan pendapat di kalangan orang muslim tentang kriteria pemimpin. Perbedaan tersebut muncul antara lain karena adanya keriteria pemimpin yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah. Hanya ada dua kriteria pemimpin yang beliau sampaikan, yaitu al-qawiyy dan al-amien. Al-qawiyy adalah orang yang memiliki kemampuan dan kompetensi yang baik untuk menjalankan tugas kepemimpinannya, sedangkan al-amien adalah orang yang jujur.

Dari sinilah timbul pendapat yang menyatakan bahwa yang penting pemimpin itu punya kompetensi memadai dan jujur. Iman tidak lagi harus jadi pertimbangan. Ini adalah kekeliruan besar, sebab al-amien yang dimaksud oleh Imam itu merupakan aktualisasi dari nilai intinya, yaitu khasyyatullah (takut kepada Allah) atau ketakwaan yang mendalam kepada Allah (Anda bisa merujuk buku aslinya al-Siyasah al-Syariyyah).

Hal ini sama kelirunya dengan menetapkan keriteria Shidiq, Amanah, fathonah, dan tabligh yang dibiarkan terbuka dan tidak dirujukan kepada nilai intinya. Padahal sifat-sifat tersebut adalah sifat Rasulullah saw. yang secara tergas dinyatakan bahwa beliau tidak mengatkan apapun dan tidak melakukan apapun kecuali atas bimbingan wahyu.

Jadi shidik (benar) itu standarnya apa? Yang pasti hanya Alquran. Amanah (jujur) itu jujur kepada siapa? Yang pasti hanya jujur kepada Allah. Rasulullah saw. sering mengalami cobaan berat, seperti saat dilempari batu di Thaif, tapi beliau tetap bersedia menerima penderitan lebih berat sekalipun asal tetap bisa jujur kepada Allah sehingga menggapai ridha-Nya. ***

Sumber: (Penulis Dr. Aam Abdussalam M.Ag)

IKHTILAF

-TOKOH ISLAM YANG MELARANG MENGANGKAT PEMIMPIN UMAT DILUAR ISLAM

–TOKOH ISLAM YANG MEMBOLEHKAN MENGANGKAT PEMIMPIN UMAT DILUAR ISLAM

(Dalam penyusunan)

BAB IX

KONSEP KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

ARTI PEMIMPIN DALAM ISLAM

-Kepemimpinan dalam islam adalah ketika ada keberadaan, ada  komunitas, ada masyarakat, ada organisasi, ada partai, ada negara yang penduduknya mayoritas islam, maka Al-Qur’an surat Al-Maidah:51, berikut rangkaian dalam ayat lainnya berlaku, yaitu memilih dan mengangkat pemimpin wajib dari kalangan islam.

Akan berbeda lagi ketika umat islam tinggal dinegara yang bukan mayoritas muslim, maka berlaku pedoman Al-Qur’an surat, yang lainnya.

Sebab sistim negara adalah demokrasi kerakyatan / suara rakyat dengan mengadakan pemilu, berbeda jika sistim kerajaan.

PEMIMPIN DALAM SEGALA HAL

-Pemimpin dalam keluarga, dalam organisasi,dll

TUNTUNAN MEMILIH PEMIMPIN ISLAM

Bahwa filosofinya adalah: Ukhuwah Islamiyyah. Ini adalah konsep Allah secara tegas dalam Al-Qur’an untuk umat Islam, yang merupakan metode tak tertawarkan agar umat Islam selalu memenangkan kompetisi dalam segala hal termasuk dalam hal memilih seorang pemimpin dari kalangan Islam sendiri.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS.surat Ali Imraan:103)

Masih hendak didebat juga ayat tegas ini dengan berbagai penafsyiran dan dalil dalil menurut angan masing masing? Kebangetan manusia, manusia !

Indonesia adalah negara republik. Sebab cara memilih dan mengkat seorang pemimpin / presiden dilakukan dengan cara menadakan pemilu (suara rakyat) maka surat Al-Maidah:51 ini berlaku bagi umat Islam. Jika negara Indonesia dikepalai oleh seorang raja, maka akan berbeda pedomannya bagi umat islam dalam memilih dan mengkat seorang pemimpin / presiden, maka ayat-lainnya-yang ditekankan bagi umat islam Indonesia.

Umat Islam dalam memilih dan mengangkat seorang pemimpin untuk urusan kemaslahatan orang banyak (strategis), maka sudah sepatutnya selalu menseleksi dan memilih calonnyadari kalangan Islamnya sendiriyangbenarbenarislamnya. Dalam hal ini faktor intelektualitas, pengetahuan serta wawasan dari umat Islamnya sendiri sebagai pemilih, sangatlah dipentingkan. Oleh karena itu jangan berharap banyak umat Islam bisa selalu memenangkan calon pemimpinnya sendiri jika umat pemilihnya tidak memahami nilai nilai Islam. Jika kondisinya seperti ini maka jangan harap kepemimpinan akan dimenangkan dari kalangan Islam. Disinilah pangkal persoalannya, yaitu wawasan keislaman umat Islam itu sangat vital.

Maka saat umat Islam seluruhnya telah menjiwai nilai nilai Islam, tak perlu melalui keadaan rumit pasti kepemimpinan akan selalu dikuasai / dimenangkan umat Islam. Ini sesuatu yang sudah otomatis. Maka sesungguhnya Al-Qur’an mengajari kita hukum hukum otomatis.

Kemudian jika menginginkan umat Islamnya cerdas dan berbobot / berpengetahuan serta menjiwai nilai nilai Islam, tentu dibutuhkan para ulamanya, kyainya atau pendidiknya juga yang cerdas cerdas dan berwawasan luas, tidak sempit pikir dan pemahaman. Dan wawasan yang luas itu diperoleh dengan terus menimba ilmu disegala bidang baik agama maupun umum.

BAB X

TUNTUNAN MEMILIH PEMIMPIN ISLAM

 (Indonesia menjadi incaran negara / paham lain untuk dikuasai), Ingin Islam-dan- pancasila lenyap. Ada revolusi besar nantinya. Harus dibangun sekarang untuk mencegah kehancuran Indonesia.

Dalam kehidupan berbangsa di dunia ini sudah menjadi suatu kelaziman bahwa mayoritas akan memilih pemimpin dari kalangannya sendiri…..Indonesia adalah negara didunia dengan penduduk beragama Islam terbesar, artinya mayoritas muslim. Suatu kewajaran bahkan keharusan bagi umatnya untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegaranya dengan kepemimpinan dari kalangan sendiri. Sebagaimana negara Katolik Italia yang mayoritas penganut Katholik, maka kepemimpinan berbangsa dan bernegaranya juga dikuasai / dalam kepemimpinan Katholik . Apakah umat Islam yang minoritas disana ngotot untuk memimpin? Demikian juga Indonesia, sepatutnya umatnya memilih pemimpin dari kalangan / golongannya sendiri. Itulah makna ayat ayat Al-Qur’an yang sesungguhnya memberitahu kita tentang keharusan memilih pemimpin dari golongannya sendiri. Maka patutkah seorang Islam tidak menjadikan pesan pesan Ilahi itu untuk ditaati?

Sementara ayat ayat Al-Qur’an telah mengingatkan umat Islam untuk memilih pemimpin dari golongannya sendiri agar hajat hidup berbangsa dan bernegaranya berjalan dinamis memenuhi kemaslahatan.

Namun sayangnya yang menjadi umat Islamnya sendiri berpecah belah dengan pembenaran dalil masing masing, bahkan rela meninggalkan persatuan Islamnya dengan gigih mendukung / berdiri pada barisan kepemimpinan non muslim.

Cobalah renungkan hikmah hikmah Al-Qur’an berikut ini:

Ketika Allah mengharamkan umat Islam memakan daging babi dengan hanya 4 ayat saja, maka seluruh umat Islam mematuhinya (taqwa), namun anehnya Ketika Allah mengharamkan umat Islam untuk tidak memilih kepemimpinan dari selain kalangan Islam, padahal Allah memberitahu rahasia rahasianya dengan belasan ayat, mengapa justru umat Islam banyak yang berani tidak mematuhinya (taqwa)?. Malah berpecah belah dengan argumentasi pembenaran pada kelompok yang dibungkus dengan rangkaian dalil? Sungguh Ironi umat Islam lebih larut tenggelam dalam saling pertikaian, peperangan, pembantaian saudara saudaranya sendiri. Tanya MENGAPA?

Ternyata kebanyakan umat islam dan tokoh Islamnya sendiri lebih cinta dengan kedudukan, pamor, uang dibanding ukhuwah islamnya.

Ingat jika begini Allah murka dan ingat generasi yang model seperti ini oleh Allah bakal diancam dengan pembinasaan generasi untuk kemudian akan diganti dengan generasi umat Islam yang baru. (ayat)

“Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian”. (QS. 4. An Nisaa’ :133)

PERBANDINGAN AYAT YANG DITAATI SECARA SOLID DENGAN YANG TIDAK OLEH UMAT ISLAMNYA SENDIRI

NO HARAM MAKAN

DAGING BABI

JML

AYAT

KET. HARAM MEMILIH

PEMIMPIN KAFIR

JML

AYAT

KET.
1 QS.2:173 1 ditaati QS.3:28 1
2 QS.5:3 1 ditaati QS.3:118 1
3 QS.6:145 1 ditaati QS.3:149-150 2
4 QS.16:115 1 ditaati QS.4:138-139 2
5 QS.4:144 1
6 QS.5:51 1
7 QS.5:57 1
8 QS.5:80-81 2
9 QS.9:16 1
10 QS.9:23 1
11 QS.28:86 1
12 QS.50:12-15 2
13 QS.60:1 1
14 QS.60:13 1
15 QS.2:120 1
16 QS.2:145 1
17 QS.25:52 1
18 QS.6:70 1
TOTAL 4 Ayat TOTAL 22 Ayat

BAB XI

CARA MEMILIH PEMIMPIN YANG SESUAI PERINTAH ALLAH DALAM AL-QUR’AN

CARA MEMILIH PEMIMPIN YANG SESUAI PERINTAH ALLAH DALAM AL-QUR’AN

                -MEMILIH PEMIMPIN UNTUK KEUTUHAN NKRI

BAB XII

AKAN SELALU MUNCUL GOLONGAN ISLAM YANG TERBELAH

AKAN SELALU MUNCUL GOLONGAN ISLAM YANG TERBELAH, TERHADAP PEMAHAMAN  AYAT  AYAT AL-QUR’AN YANG BERBENTURAN DENGAN KEPENTINGAN  PRIBADI / KELOMPOK

sebagai berikut : Al-Furqaan sendiri artinya PEMBEDA

  1. Golongan Islam SAMI’NA WA’ATOKNA tanpa reserve terhadap Al-Maidah:51
  2. Golongan Islam ABU-ABU (Sekuler) akan berdiri di golongan mana saja yang menguntungkan pribadi, yang pembenarannya akan berlindung dibalik rangkaian penafsiran dalil dalil cangkang.
  3. Golongan Islam MASA BODOH

BAB XIII

CARA MENSIKAPI DAN MENANGANII PERPECAHAN DITUBUH ISLAM

BAB XIV

MEMBANGUN PERADABAN ISLAM YANG KOKOH UNTUK RAHMAT SEMESTA ALAM

KESIMPULAN DAN PENUTUP

PENUTUP

UMAT ISLAM HARUS MELEK ILMU KEISLAMAN

Agar tampil menjadi umat Islam yang berkualitas (Al-insanul kamil), atau setidaknya menjadi bagian golongan ulul ’ilm, ulul albab sehingga tidak mudah terjebak kedalam lorong lorong Az-Zhulmun (kegelapan) dan kisi kisi Az-Zhur (kepalsuan)

Note:

Risalah ringan ini hanya resume singkat yang di intisarikan dari buku / kitab risalah yang masih dalam penyelesaian,yang berjudul:”HIZBUN NAAS” (Bendera manusia) karya Agus Sholech Al-Qadry,

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin, 03 April 2017

CopyRights@2017

Support & contact:

-Email: kelanadelapanpenjuruangin@gmail.com

-Facebook@https://web.facebook.com/kelana.delapanpenjuruangin

-Phone: +62878-378-22133

HIRARKI PENGABDIAN DAN KETAATAN PADA TUHAN

SKEMA-KETAATAN

KEKAFIRAN ITU BUKAN ORANG, TETAPI KEKAFIRAN ITU ADALAH KETIDAK TAATAN TERHADAP SISTIM HIRARKI TUHAN (Ibadillah).

Keridhoan Tuhan pada hambanya akan datang bukan karena banyaknya mengerjakan sesembahan ibadah pribadi kepada Tuhannya saja, (ibadah untuk kepentingan pribadi semata), tetapi ketika kita telah melaksanakan pula ketaatan, bakti dan kemanfaatan kepada keluarga, orangtua, suami, masyarakat, bangsa dan negara, Rasul-Nya serta pada alam semesta. Sebab yang demikian telah menjadi sistim dan syareat-Nya. (perintah Al-Qur’an dan As-sunah).

Mari berbuat taat dan bakti pada Ilahi menurut hirarki-Nya (diamalkan, dimulai secara struktural melaui tingkatan / jalur / kedudukan / posisi serta kapasitas) masing-masing agar tidak sesat, menyimpang dan menjadi golongan munkar (label kafir).

Maka, sebelum sampai dan diterimanya amal ibadah seseorang dihadapan Allah, tunaikan terlebih dahulu urusan kebaktian serta ketaatan kita  menurut jalurnya, yakni:

Yang anak berbakti dan taat kepada orangtua, yang isteri pada suami, kepada guru, masyarakat pada alim ulama, pada ulul amri / negara dan pada rasul-Nya. Jangan taat  dan taqlid buta hanya pada satu sisi namun enggan mentaati lainnya.

Janganlah anak taat hanya pada temannya saja tetapi tidak taat pada orang tuanya. Janganlah isteri taat hanya pada gurunya saja tetapi tidak taat pada suaminya, janganlah masyarakat taat hanya pada kelompoknya saja namun ingkar pada aturan bangsa dan negaranya serta Rasul-Nya.

Semoga beruntung.

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Kranggan, 17 Maret 2017

Majelis Dzikir As-Shalihin – Prembun Kranggan – Kebumen – Jawa Tengah

CopyRights@2017

REGISTRASI ALAM KUBUR

REGISTRASI ALAM KUBUR

MASUK ALAM KUBURPUN HARUS MENDAFTAR

PERTANYAAN KUBUR OLEH MALAIKAT TIDAK HARUS DALAM BAHASA ARAB

MENURUT BAHASA MEREKA DAN ZAMAN NABI MASING MASING

MILIKILAH KARTU PASS MASUK ALAM KUBUR YANG DAMAI

download

Bismillahirrahmanirrahim,

Dalam aktifitas manusia hidup dan menjalani kehidupan di alam dunia ini pasti dikenal dengan adanya ketentuan pendaftaran. Sign in atau sign up. Apapun peristiwa yang sedang dialaminya atau yang sedang dalam urusannya. Seperti saat seorang bayi baru dilahirkan, maka ada proses kelahiran dan ada proses pengurusan administratif. Dalam hal ini pihak orangtua diwajibkan melengkapi surat surat, dokumen yang diperlukan untuk mendaftarkan sang bayi kepada pihak yang berwenang sehingga bayi itu mendapat surat keterangan lahir atau akte kelahiran. Itulah proses pendaftaran manusia yang baru lahir agar resmi diakui sebagai warga baru / penduduk baru / anggota keluarga baru, di alam kehidupan baru yang baru dimasukinya. Semua itu guna kepentingan dan hak hak keberadaan dirinya dapat terpenuhi secara hukum. Siapa pihak yang mengatur ketentuan demikian, maka otoritas penguasa / pemerintahlah yang menerapkannya dan yang memfasilitasinya.

Begitu juga dalam hal menjadi pegawai, maka anda pertama kali pasti melakukan pendaftaran dahulu kepada lembaga tersebut agar terdaftar sebagai peserta, itupun belum resmi menjadi pegawai, masih ada proses seleksi dan uji.

Begitu juga dalam hal masuk sekolah, masuk ABRI, masuk menjadi calon anggota DPR, dan sebagainya, pasti harus melalui yang namanya proses pendaftaran (kecuali satu hal yang tak perlu syarat pendaftaran yaitu, masuk angin)

Maka begitu juga anda para pecandu aplikasi sosmed, gamming, pasti dipersyaratkan melakukan pendaftaran dengan mengisi sejumlah pertanyaan, identitas ataupun asal usul.

Sebagaimana dipersyaratkan melakukan pendaftaran untuk memasuki sebuah aplikasi, maka demikian pula seseorang yang baru saja mengakhiri kontrak hidupnya di dunia alias meninggal, maka saat kita memasuki alam baru tersebut, SUDAH TENTU DAN SUDAH PASTI HARUS melalui proses PENDAFTARAN PENGHUNI ALAM KUBUR.

Itulah yang dikenal dengan FITNAH ALAM KUBUR atau PERTANYAAN KUBUR atau Talkim kubur.

5-kejadian-mistis-yang-pernah-terjadi-di-pekuburan-indonesia

Maka sesungguhnya FITNAH ALAM KUBUR atau PERTANYAAN KUBUR yang akan diajukan untuk kita semua nanti, itu adalah merupakan pendaftaran memasuki gerbang kehidupan baru dialam kubur.

Setidaknya, daftar isian ini yang nanti harus anda persiapkan jawabannya :

  1. Pertama : “Man Robbuka”? (Siapakah Tuhan yang kamu sembah)?
  2. Kedua, :“Wa maa diinuka”? (apa agamamu)?
  3. Ketiga, :”Man Nabiyyuka”? ( Siapa Nabimu)?

(Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?)-(”dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini”)?

NOTE:

KRITERIA / LINGKUP PERTANYAAN KUBUR

Pokok pertanyaan oleh Malaikat hanya satu esensi yakni ajuan pertanyaan tentang siapa Tuhan yang menjadi sesembahan, kemudian agama apa yang dipilih, lalu siapa rasul yang diikuti, yaitu sbb:

  1. Tergantung zaman nabinya dan syareatnya masing masing

Maka data jawaban dari calon penghuni kubur itu tidaklah sama sebab tergantung zamannya nabi siapa sebagai pembawa risalah keilahian. Saat umat nabi Nuh yang mati, maka jawaban kenabiannya ya nabi Nuh, bukan lainnya.

  1. Menurut bahasa dan cara masing masing peradaban.

-Orang suku INCA yang mati ya akan ditanya dengan bahasa mereka, tidak akan malaikat menanya dengan bahasa Arab (kan ga mungkin malaikat sendeso itu)

  1. Amalan taqwa seseorang dapat menjadi kartu pass memasuki alam kubur tanpa proses tanya dan penjawaban.

Daftar isian pertanyaan tersebut diatas adalah baru merupakan proses pendaftaran bergabung dialam kubur, belum dan bukan proses uji kelaikan apakah anda dapat diterima menjadi komunitas alam kubur. Masih panjang sobat, petualangan manusia di alam kubur. Belum proses penempatan arwah, belum penggolongan amaliah, belum penempatan barzah. Sedang kiamat apalagi, belum ! Apalagi padang masyar, apalagi hari pembalasan,……jauh…..masih panjang untuk tiap etape ke hari akherat…..apalagi alam syorga atau neraka…….ouw, masih sangat panjang ribuan hingga jutaan tahun kedepan masa yang harus ditempuh.

Saat pada pengisian pendaftaran awal ini saja sudah salah jawab atau alias data invalid, maka jangan merasa bahwa anda sudah diterima di alam sana. Lantas dimana keberadaan orang orang mati yang tidak diterima alam kubur? Dan kemudian berada ditempat mana bagi insan mati yang berhasil lolos uji alam kubur? Semua ada jawabannya, karena semua ada ilmunya……..

Berat sobat, maka marilah kita kursus dahulu selama masih diberi kesempatan kursus didunia ini sebelum engkau memasuki alam jauh disana yang tak akan kau temukan peta jalan pulang kembali.

Saat itulah engkau akan diantar ke taman ILLIYYIN yang penuh kedamaian dan kesejukan,

unduhan-1

Atau akan bernasib lara, dibuang ke puri nestapa lembah SIJJIN dilapis bumi bawah ketujuh yang gelap, penuh petaka sengsara dan tangisan lolongan panjang.

Sobat, mutiara ini hanya ringkasan, semua ada sumbernya, ada ilmunya dalam kitab risalah tebal. Untuk memahami dan merenunginya maka burulah dengan mengaji, carilah ilmunya.

Semoga menjadi renungan dan manfaat

Salam Taman Illiyyin

Kelana Delapan Penjuru Angin,

(Dalam risalah kitab: PERJALANAN PANJANG KE PLANET AKHERAT)

Kranggan, 1 Januari 2016

Sumber utama:

-Hadratussyeik Abuya Kyai Muhammad Syamsuddin-Kranggan

RISALAH AMALAN SUNNAH DIBULAN MUHARRAM YANG PENUH KEUTAMAAN

PRAKATA

SYAREAT UNTUK BERLAKU TERTIB DAN URUT DALAM MENGERJAKAN SUATU AMALAN DAN DIMULAI MENURUT SKALA PRIORITAS

Sering kita temui tulisan yang berisi amalan suatu ibadah atau amalan wirid, dzikir dan shalawatan namun bacaannya tidak berurutan / beraturan. Seperti contoh dalam serangkaian bacaan dzikir, shalawatan, tadarus dan doa, maka  ada bacaan doa yang ditulis di tengah tengah rangkaian dzikir dan shalawatan, sementara bacaan ayat Alqur’an, dzikir dan shalawatan, terpisah pisah disana sini tak berurutan. Juga seperti pada sebuah tulisan/selebaran yang bejudul : “amalan amalan yang disunnahkan Rasulullah SAW pada tanggal 10 Muharam/10 syuro”, yang tidak berurutan tatatertib amalannya.

Yusuf Qardhawi (Lahir, Kairo, Mesir, 9 September 1926),  dalam kitab “fiqh al-awlawiyyat” (fiqh prioritas) atau dikenal sebagai Al-Shahwah al-Islamiyyah bayn al-Juhud wa al-Tatharruf, yaitu fiqh urutan pekerjaan (fiqh maratib al-a’mal). Adalah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum, nilai, dan pelaksanaannya. Pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari’ah yang shahih, yang diberi petunjuk oleh cahaya wahyu, dan diterangi oleh akal. Prioritas dalam berbagai bidang amal Amal-amal yang disyariatkan kepada manusia juga memiliki tingkatan-tingkatan. Ada hal-hal yang perlu disegerakan dan diutamakan, dan ada juga hal-hal yang boleh diakhirkan. Adanya keharusan dalam memprioritaskan amal yang kontinyu atas amal yang terputus-putus, dan prioritas amalan yang luas manfaatnya atas perbuatan yang kurang bermanfaat, serta prioritas terhadap amal perbuatan yang lebih lama manfaatnya dan lebih lama kesannya. Selain itu, prioritas amalan hati atas amalan anggota badan dan perbedaan tingkat keutamaan sesuai dengan tingkat perbedaan waktu, tempat, dan keadaan.

Kaidah tersebut diatas berlaku untuk tingkatan syareat (standar umum), maka untuk tingkatan ilmu tareqat/haqeqat bisa saja diluar kaidah ini sebab tingkatan ini telah memasuki alam kesufian, dimana bersifat kebatinan individual pengamalnya.

JENIS DAN KEDUDUKAN HUKUM SUNNAH

  1. SUNNAH QOULIYYAH adalah sunnah yang dikerjakan berdasar perkataan nabi SAW langsung yang merupakan penjabaran dari rangkaian ayat Al-Qur’an.
  2. SUNNAH FI’LIYYAH adalah sunnah yang dikerjakan berdasar perbuatan nabi SAW sehari hari.
  3. SUNNAH TAKRIRIYYAH adalah suatu amalan/tindakan yang dikerjakan oleh para sahabat, namun mendapatkan persetujuan dari nabi SAW.

Maka berikut tartib dan urut  AMALAN SUNNAH YANG PENUH KEUTAMAAN DI HARI ASYURA (10 MUHARAM) yang sepatutnya menurut urutan bobot dan keutamaannya :

  1. BERPUASA TASYU’A DAN ASYURAA ( 9 dan 10 Muharram)
  2. MEMBACA AYAT QURSIY
  3. MEMBACA SURAT IKHLAS
  4. MEMBACA HASBUNALLAH WA NI’MAL WAQIL (Akhir surat Ali Imraan.3:173 & Al-Anfaal.8:40)
  5. SHOLAT SUNNAH
  6. BERSODAQOH, MEMBERI MAKAN ORANG YANG BERPUASA
  7. MENYANTUNI ANAK YATIM (Memberi sesuatu, menyayangi, mengusap rambutnya)
  8. MELUASKAN BELANJA KELUARGA (mengadakan jamuan istimewa, makan bersama keluarga)
  9. MENINGKATKAN NILAI IBADAH
  10. MANDI ASSYURAA (Sesuci badan)
  11. MEMOTONG KUKU, MERAPIHKAN RAMBUT, MEMAKAI PAKAIAN BAIK, BERSIH, WEWANGIAN, dsb.
  12. MEMAKAI CELAK / SHIFAT,
  13. ZIARAH KE ORANG ORANG ALIM
  14. TA’ZIAH DAN MENGANTAR JENAZAH
  15. MEMBESUK ORANG SAKIT

SEJARAH DAN ASAL USUL

Asyura berasal dari kata ‘asyara, asyrun yang artinya bilangan sepuluh dari bulan Muharram.

Ketika para sahabat bertanya pada Rasulullah saw.: “Ya Rasulullah saw, adakah Allah telah melebihkan hari ‘Asyura daripada hari-hari lain?” Maka berkata Rasulullah saw: ” Ya, memang benar, Allah Ta’ala menjadikan langit dan bumi pada hari ‘Asyura, menjadikan laut pada hari ‘Asyura, menjadikan bukit-bukit pada hari ‘Asyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari ‘Asyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari ‘Asyura, dan Allah SWT menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari ‘Asyura, Allah SWT menenggelamkan Fir’aun pada hari ‘Asyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari ‘Asyura, Allah SWT menerima taubat Nabi Adam pada hari ‘Asyura, Allah SWT mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari ‘Asyura, Allah SWT mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari ‘Asyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Asyura!”.

Hadits lainnya:

Artinya: “Ia adalah hari mendaratnya kapal Nuh di atas gunung “Judi” lalu Nuh berpuasa pada hari itu sebagai wujud rasa syukur.” (Hadits Riwayat Ahmad)

Dari hadits tersebut dan berbagai riwayat alim ulama, terjadi peristiwa besar pada 10 Muharam, yaitu:

  1. Nabi Adam bertaubat kepada Allah dan dipertemukan dengan Siti Hawa di padang Arafah..
  2. Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit.
  3. Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama enam bulan.
  4. Nabi Ibrahim diselamatkan Allah dari pembakaran Raja Namrud.
  5. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa.
  6. Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara.
  7. Penglihatan Nabi Ya’kub yang kabur dipulihkkan Allah.
  8. Nabi Ayub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritainya.
  9. Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam.
  10. Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari tentera Firaun.
  11. Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah.
  12. Nabi Sulaiman dikaruniakan Allah kerajaan yang besar.
  13. Nabi Isa diangkat ke langit.
  14. Nabi Muhammad saw. Lolos dari percobaan pembunuhan dengan racun orang-orang Yahudi.
  15. Hari pertama Allah menciptakan alam.
  16. Hari Pertama Allah menurunkan rahmat.
  17. Hari pertama Allah menurunkan hujan.
  18. Allah menjadikan ‘Arsy.
  19. Allah menjadikan Louh Mahfuz.
  20. Allah menjadikan alam semesta raya.
  21. Allah menjadikan Malaikat Jibril.

Berawal dari tragedi hari berduka atas gugurnya cucu Rasulullah Saw Sayyidina Hassan dan Husein di padang Karbala pada 10 Muharram tahun 61 Hijriyah, bertepatan 10 Oktober 680 Masehi. Yang dibunuh oleh militer Khalifah Bani Umayyah, yang dipimpin jenderal Yazid bin Muawiyah yang membawa dampak sangat besar dalam sejarah perkembangan Islam, sehingga ditahun berikutnya, umat mulai mengadakan acara peringatan mengenang peristiwa tersebut, namun lama kelamaan mulai banyak timbul amalan amalan yang menyimpang dari nilai islam namun mengklaim semua dari tuntunan sunah nabi SAW. Sehingga muncul golongan ahli sunah waljamah untuk meluruskan.

MEMBEDAH SUMBER DALIL / REFERENSI UNTUK AMALAN  SUNNAH DIBULAN MUHARRAM

HADITS SAHIH  UNTUK AMALAN BULAN MUHARAM YANG MERUPAKAN SUNNAH NABI SAW , HANYA MENEKANKAN TENTANG PUASA.

[Di dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari Asyura / Asyuro (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram)]

Hadits yang Pertama:

‘An Abi ‘Abbas ra, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: shauma yaumi ‘asyuraa, au amara bishiamihi”.

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).

Hadits yang Kedua :

‘An Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sha’al ‘an shiama yaumi ‘asyuraa faqoola:”yakfurushanatil madhyah”

Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)

Lainnya:

“Dan puasa pada hari Arafah –aku mengharap dari Allah- menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang. Dan puasa pada hari ‘ASYURA (tanggal 10 Muharram) –aku mengharap dari Allah menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu.” [Shahih riwayat Imam Muslim, Abu Dawud , Ahmad , Baihaqi, dan lain-lain].

AMALAN BULAN MUHARAM LAINNYA HASIL IJTIHAD PARA ULAMA (Ijtima’ / konsensus)

Disebutkan dalam kitab Nihayatuz-Zein – Syekh Nawawi, sebagai berikut ;
Dari ijtihad para Ulama besar, bahwa amal ibadah yang diutamakan di 10 Muharram sbb :

(1. Melaksanakan Shalat sunnah yang paling utama shalat Tasbih, 2. Melakukan Puasa Sunnah, berikut tanggal 9 Muharram-nya, dan paling utama 10 hari, dari tanggal 1 s/d 10 Muharram , 3. Melakukan Sodaqoh, , 4. Melakukan keleluasaan keluarga artinya menambah dana belanja, membelikan baju baru dll., 5. Melakukan Mandi Sunnah,, 6. Melakukan kunjungan pada Alim Ulama yang soleh,, 7. Menengok orang yang sedang sakit, , 8. Mengusap kepala yatim, artinya memberi kasih sayang seperti dengan menyantuni mereka,, 9. Memakai celak mata, , 10. Menggunting kuku, , 11. Membaca surat Al-Ikhlas seribu kali, , 12. Melakukan silaturrahmi terutama kepada saudara dan keluarga, sama seperti pada hari raya).

Melakukan Puasa asyuro dapat menghapus dosa selama setahun, dan melakukan Keleluasaan keluarga adalah berdasar makna redaksi hadits yang sudah tersurat, sedang ibadah yang lainnya (seperti 12 ibadah yang disebutkan di atas) merupakan makna yang tersirat baik dari ayat-ayat Qur’an ataupun hadits-hadits. (Nihayatuz-Zein, hal 196).

RINCIAN:

  1. BERPUASA TASYU’A DAN ASYURAA ( 9 dan 10 Muharram)
  2. Sahabat Rasulullah Saw. Abdullah bin Abas ra. meriwayatkan:

“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah SAW menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan. (HR Muslim)

  1. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah ra., Rasulullah Saw. bersabda:

“Puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”. (HR Abu Daud)

  1. Menurut Imam Nawawi rahimahullah, dua amalan yang dasar hukumnya kuat yaitu: 1. Puasa ‘Asyura dan Tasu’a, 2. Meluaskan belanja (Selain dua amalan di atas, dasar hukumnya lemah. Kecuali bersedekah, karena menurut mazhab Maliki hukumnya sunnah. Wallahua’lam).
  2. Di dalam Kitab Hadits Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan beberapa hadits berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari ‘ASYURA (10 Muharram) dan TASU’A (9 Muharram), yaitu:

1). Dari Ibnu Abbas“Bahwa Rasulullah saw. berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

(‘muttafaq ‘alaihi secara bahasa berarti disepakati atasnya. Istilah ini biasanya digunakan untuk hadits yang diriwayatkan dan disepakati keshahihannya oleh minimal 2 imam hadits besar: Imam Al-Bukhâri dan Imam Muslim, jadi tingkat keshahihannya menempati posisi ‘paling shahih’).

2). Dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah saw. ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) menghapuskan dosa (dosa-dosa kecil) satu tahun yang lalu.”(HR. Muslim)

3). Dari Ibnu Abbas beliau berkata: “Rasulullah saw. bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan.” (HR. Muslim)

4). Cara menyelisihi ritual puasa non muslim karena mereka juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram) :

– Beberapa hadits tentang hal ini:

4.1). “Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari Asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah saw. pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau sampai di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.”

(Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Ahmad, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, Nasa’i dalam Al-Kubra, Al-Humaidi, Al-Baihaqi, Abdurrazaq, Ad-Darimy, Ath-Thohawi dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

4.2).. “Nabi saw. tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Beliau bertanya: “Apa ini?” Mereka menjawab: “Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka kami berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah menjawab: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.”

(Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dalam Al-Kubra, Ahmad, Abdurrazaq, Ibnu Majah, Baihaqi, Al-Humaidi, Ath-Thoyalisi)

  • Dari dua hadits ini menunjukkan bahwa suku Quraisy berpuasa pada hari ‘Asyura di masa jahiliyah, dan “sebelum hijrah” pun Nabi saw. telah mengerjakannya. Kemudian sewaktu tiba di Madinah, beliau temukan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, maka Nabi-pun berpuasa dan mendorong umatnya untuk berpuasa.
  • Pada tanggal 9 Muharram (disebut hari Tasu’a) dinamakan “sunnah taqririyah” dimana Rasulullah belum sempat menjalankan ibadah puasa ini. Orang Yahudi juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram karena sebagai rasa syukur atas diselamatkan Nabi Musa as. dari Fir’aun, kemudian Rasulullah juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram, tetapi salah seorang sahabat ada yang bertanya kepada Rasulullah saw. mengapa kita menyamai umat nabi Musa as. Kemudian Rasulullah SAW menjawab puasa tanggal 10 Muharram ini adalah hakku dan untuk membedakannya maka tahun depan aku akan berpuasa 2 hari (Tasu’a dan ‘Asyura) tetapi Rasulullah belum sempat menjalankannya (karena wafat).

Namun Jumhur Ulama menafsirkan puasa ‘asyura tetap pada makna aslinya yaitu puasa pada tanggal 10 Muharram, akan tetapi diawali dengan puasa tasu’a (9 Muharram) untuk berbeda dengan orang-orang Yahudi. Rasul Saw bersabda sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas: “Puasalah kamu pada hari kesembilan dan kesepuluh janganlah kamu menyerupai orang-orang Yahudi”.

Hadis lain yang menganjurkan untuk melakukan perbuatan baik pada hari ‘asyura adalah sabda Nabi Muhammad Saw: “Siapa-sisapa saja yang melapangkan keluarganya dan familinya pada hari ‘asyuraniscaya Allah melapangkan rezkinya sepanjang tahun (HR. Baihaki). Dan juga Nabi Saw bersabda:Sesungguhnya hari ‘asyura termasuk hari yang dimuliakan Allah Swt, siapa-siapa yang suka berpuasa, berpuasalah” (HR. Bukhari Muslim, Muttafaq ‘alaih).

  1. MEMBACA AYAT QURSIY (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Terdapat 95 hadis, diantaranya :

Dari Abu Umamah, Rasulullah saw bersabda, “Siapapun membaca ayat Kursi tiap selepas shalat fardhu, niscaya tak ada yang menghalanginya dari masuk Jannah kecuali ia harus mati terlebih dahulu.” (HR Nasa`i dalam Sunan Kubra 9848, shahih).

Faedah lainnya adalah setiaf 1 huruf terdapat 40.000 kebaikan, 1000 berkah, 100 rahmat. (Ayat Qursiy mengandung 50 kata, 187 huruf dan 236 karakter).

  1. MEMBACA SURAT IKHLAS (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

“Sesungguhnya seseorang mendengar orang lain membaca “Qulhuwallahu ahad”, dengan mengulang-ulangnya, maka tatkala pagi harinya, ia mendatangi Rasulullah n dan menceritakan hal itu kepadanya, dan seolah-olah orang itu menganggap remeh surat itu, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya surat itu sebanding dengan sepertiga al Qur`an”. (Hadits Abu Sa’id al Khudri RA).

FAEDAH: Membaca surat Al-Ikhlas 1 X setara dengan membaca 1/3 Al-Qur’an, membaca surat Al-Ikhlas 3 X setara dengan khatam Al-Qur’an 30 juzz.(Telah berulang ulan juga dinasehatkan Abuya Kyai M.Syamsuddin-Prembun-Kebumen).

  1. MEMBACA HASBUNALLAH WA NI’MAL WAQIL (Akhir surat Ali Imraan.3:173 & Al-Anfaal.8:40) (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Sahabat Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa “hasbunallah wa ni’mal wakiil” adalah perkataan Nabi ‘Ibrahim ‘alaihis salaam ketika beliau ingin dilempar di api. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kalimat tersebut dalam ayat,

 “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (HR. Bukhari no. 4563)

  1. MELAKSANAKAN SHOLAT SUNNAH (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Sholat ‘Asyura, terjadi ikhtilaf, dikenal oleh masyarakat ada dua macam :

  1. Dilakukan pada Malam Asyuara’, yaitu Sholat empat rokaat membaca Al-Fatihah satu kali dan Surat Al-Ihlas satu kali
  2. Dilakukan pada hari Asyura’ diantara Dhuhur dan Ashar, yaitu Sholat 40 rokaat, setiap satu rokaat membaca Fatihah satu kali, ayat kursi 10 kali, Al-Ikhlas 11 kali, Al-Muawwidzatain 5 kali, dan setelah salam membaca Istighfar 70 kali.

Sholat diatas menurut Syeh Haqi Annazili (pengarang Kitab Khazinah Al-Ashrar) diperbolehkan. Namun mayoritas ulama berpendapat bahwa melakukan shalat ini tidak di perbolehkan (haram) karena rawi hadits yang menerangkan praktek shalat di malam ‘asyura’ termasuk mudtharib (kurangnya kredibilitas dan hafalnya lemah). Sedangkan yang menjelaskan shalat ‘asyura’ di siang hari termasuk hadits maudhu’ (palsu), oleh sebab itu sebaiknya di hindari saja.

Maka jalan tengahnya adalah baik melaksanakan sholat Tasybih, seperti dalam hadits :

“Jika engkau sanggup untuk melakukannya satu kali dalam setiap hari, maka lakukanlah, jika tidak, maka lakukanlah satu kali seminggu, jika tidak maka lakukanlah sebulan sekali, jika tidak maka lakukanlah sekali dalam setahun dan jika tidak maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu” (HR Abu Daud 2/67-68)

  1. BERSODAQOH, MEMBERI MAKAN ORANG YANG BERPUASA (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

“ Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” ( Qs. Al-Baqarah: 261 )

  1. MENYANTUNI ANAK YATIM (Memberi sesuatu, menyayangi, mengusap rambutnya) (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya.[HR al-Bukhari no. 4998 dan 5659]

  1. MENINGKATKAN NILAI IBADAH (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Dalil:

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinyu dikerjakan, meskipun sedikit”.

Demikian pula, ini merupakan kebiasaan Rasulullah. Amaliah beliau sehari-hari diimah (kontinyu), yaitu dikerjakan secara terus menerus, tidak putus darinya. Dan beliau menganjurkan umatnya untuk itu, memperingatkan dari amalan-amalan yang memberatkan yang tidak kuat dipikul oleh seseorang. Sebab hal itu rawan sekali untuk ditinggalkan sehingga tidak berlangsung lama.

Dalam hadits lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai manusia, kerjakanlah amalan yang kalian sanggupi”

Al Qadhi ‘Iyadh menerangkan sabda beliau dengan: Kerjakanlah amalan yang kalian sanggup untuk mengerjakannya dengan kontinyu. Sementara Imam An Nawawi rahimahullah menyimpulkan dari hadits di atas: Di dalamnya terkandung anjuran untuk kontinyu dalam beribadah, dan amalan yang sedikit (tapi) kontinyu lebih baik daripada amalan banyak tapi ditinggalkan].

  1. MANDI ASSYURAA (Sesuci badan), hadits lemah namun boleh dilaksanakan dengan niat menjaga kesehatan dan niatkan ibadah karena Allah Ta’ala.
  2. MEMAKAI CELAK / SHIFAT, hadits lemah namun boleh dilaksanakan dengan niat menjaga kesehatan dan niatkan ibadah karena Allah Ta’ala.
  3. MEMOTONG KUKU, MERAPIHKAN RAMBUT, MEMAKAI PAKAIAN BAIK, BERSIH, WEWANGIAN, dsb. Hadits lemah namun boleh dilaksanakan dengan niat menjaga kesehatan dan niatkan ibadah karena Allah Ta’ala.
  4. MELUASKAN BELANJA KELUARGA (mengadakan jamuan istimewa, makan bersama keluarga), (TERDAPAT IKHTILAF).
  1. ZIARAH KE ORANG ORANG ALIM (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

“Dari Buraidah, ia berkata Rosululloh SAW bersabda “Saya pernah melarang kamu berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad teah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah! Karena perbuatan itu dapat mengingatkan kamu pada akhirat.(Rowahu At-Tarmizi-97 )

Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanya tentang berziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengan melakukan perjalanan khusus ke makam mereka. Beliau menjawab berziarah.ke makam para wali adalah ibadah yamg disunahkan. Demikian pula dengan perjalanan kemakam mereka.” (Al-Fatawi al-Kubra, juz II hlm. 24)

Berziarah ke makam para wali dan orang-orang shaleh telah menjadi tradisi para ulama salaf. Diantaranya adalah Imam al-Syafi’I R.A jika ada hajat, setiap hari beliau berziarah ke makam Imam Abu Hanifah. Seperftipengakuan beliau dalam rfiwayat yang shahih.

Dari Ali bin Maimun berkata” Aku mendengar imam al Syafi’i berkata” Aku selalu bertabaruk dengan Abu Hanifah dan berziarah mendatangi makamnya setiap hari. Apabila aku memiliki hajat, maka aku slat dua rakaat, lalu mendatangi makam beliau,dan aku mohon hajat itu kepada Alloh SWT disisi makamnya, sehingga tidak lama kemudian hajatku terkabul.” ( Tarikh Baghdad,juz 1, hal. 123)

  1. TA’ZIAH DAN MENGANTAR JENAZAH (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menyolatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua qirath”. Ditanyakan kepada beliau, “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar”. (HR. Al-Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945)

Dari Ummu ‘Athiyyah radhiallahu anha dia berkata:

“Kami dilarang untuk turut mengiring jenazah, tetapi (larangan itu) tidak begitu ditekankan atas kami.” (HR. Al-Bukhari no. 1278 dan Muslim no. 1556)

Penjelasan ringkas:

Di antara perkara yang Nabi shallallahu alaihi wasallam jadikan sebagai hak seorang muslim dari muslim lainnya adalah mengantar jenazahnya. Karenanya beliau shallallahu alaihi wasallam memerintahkan dan mewajibkan amalan ini serta beliau menjanjikan pahala yang besar bagi yang mengantar jenazahnya, baik yang mengantarnya dari rumahnya sampai dia dishalati maupun yang mengantarnya hingga selesai dia dikuburkan.

Hanya saja hukum dan keutamaan di atas hanya berlaku untuk laki-laki, tidak untuk perempuan. Karena hukum mengantar jenazah bagi perempuan adalah makruh berdasarkan hadits Ummu Athiyah di atas. Wallahu A’lam

  1. MEMBESUK ORANG SAKIT (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Al-Barra` bin ‘Azib radhiallahu ‘anhuma dia berkata:

 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami dengan tujuh perkara yaitu: Menjenguk orang yang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong yang lemah, menolong orang yang terzhalimi, menebarkan salam, dan menunaikan sumpah orang yang bersumpah.” (HR. Al-Bukhari no. 1239 dan Muslim no. 2066).

Apabila seseorang menjenguk saudaranya Чαπƍ muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih)

RINCIAN SEPUTAR IKHTILAF ULAMA UNTUK AMALAN SUNNAH DI BULAN MUHARAM

BEBERAPA ULAMA BESAR PERAWI HADITS YANG MENEMUKAN/MENYATAKAN KELEMAHAN DARI HADITS SEPUTAR AMALAN 10 MUHARAM INI adalah : As-Subkhi, Ibnu Rajab, Al-Hafidz Ibnu Qayyim, Imam Ahmad, As-Suyuthi.

Berikut rinciannya :

  1. TENTANG AMALAN MANDI ASYURA, ZIARAH, BEZUK ORANG SAKIT, MENGUSAP RAMBUT YATIM, MEMOTONG KUKU, dll :

As-Subkhi berkata (ad-Din al-Khalish 8/417):”Adapun pernyataan sebagian orang yang menganjurkan setelah mandi hari ini (10 Muharram) untuk ziarah kepada orang alim, menengok orang sakit, mengusap kepala anak yatim, memotong kuku, membaca al-Fatihah seribu kali dan bersilaturahmi maka tidak ada dalil yg menunjukkan keutamaan amal-amal itu jika dikerjakan pada hari Asyura. Yang benar amalan-amalan ini diperintahkan oleh syariat di setiap saat, adapun mengkhususkan di hari ini (10 Muharram) maka hukumnya adalah bid’ah.

  1. TENTANG MELUASKAN BELANJA
  2. YANG BERPENDAPAT ADA KEUTAMAAN : Adalah menjamu serta bersedekah pada 10 muharram bukan hanya pada anak yatim tapi keluarga, anak, istri, suami dan orang orang terdekat, karena itu sunnah beliau saw dan pembuka keberkahan hingga setahun penuh.

(FAIDHUL QADIR juz 6 hal 235-236).Diriwayatkan pula bahwa sayyidina Umar ra menjamu tamu dengan jamuan khusus, pada malam 10 muharram (MUSNAD IMAM TABRANI/ TAFSIR IBN KATSIR Juz 3 hal 244)

  1. BERPENDAPAT LAIN : Ibnu Rajab berkata (Latha’iful Ma’arif hal. 53) : “Hadits anjuran memberikan uang belanja lebih dari hari-hari biasa, diriwayatkan dari banyak jalan namun tidak ada satupun yang shahih.
  2. Di antara ulama yang mengatakan demikian adalah Muhammad bin Abdullah bin Al-Hakam Al-Uqaili berkata :”(Hadits itu tidak dikenal)”. Adapun mengadakan ma’tam (kumpulan orang dalam kesusahan, semacam haul) sebagaimana dilakukan oleh Rafidhah dalam rangka mengenang kematian Husain bin Ali Radhiyallahu ‘anhu maka itu adalah perbuatan orang-orang yang tersesat di dunia sedangkan ia menyangka telah berbuat kebaikan. Allah dan RasulNya tidak pernah memerintahkan mengadakan ma’tam pada hari lahir atau wafat para nabi maka bagaimanakah dengan manusia/orang selain mereka”
  1. TENTANG BERCELAK, BERHIAS, SHALAT SUNAH

Pada saat menerangkan kaidah-kaidah untuk mengenal hadits palsu, Al-Hafidz Ibnu Qayyim (al-Manar al-Munif hal. 113 secara ringkas) berkata : “Hadits-hadits tentang bercelak pada hari Asyura, berhias, bersenang-senang, berpesta dan sholat di hari ini dan fadhilah-fadhilah lain tidak ada satupun yang shahih, tidak satupun keterangan yang kuat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selain hadits puasa. Adapun selainnya adalah bathil seperti.

“Barangsiapa memberi kelonggaran pada keluarganya pada hari Asyura, niscaya Allah akan memberikan kelonggaran kepadanya sepanjang tahun”.

  1. Imam Ahmad berkata : “Hadits ini tidak sah/bathil”. Adapun hadits-hadits bercelak, memakai minyak rambut dan memakai wangi-wangian, itu dibuat-buat oleh tukang dusta. Kemudian golongan lain membalas dengan menjadikan hari Asyura sebagai hari kesedihan dan kesusahan. Dua goloangan ini adalah ahli bid’ah yang menyimpang dari As-Sunnah. Sedangkan Ahlus Sunnah melaksanakan puasa pada hari itu yang diperintahkan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi bid’ah-bid’ah yang diperintahkan oleh syaithan”.
  2. Adapun shalat Asyura maka haditsnya bathil. As-Suyuthi dalam Al-Lali 2/29 berkata : “Maudhu’ (hadits palsu)”. Ucapan beliau ini diambil Asy-Syaukani dalam Al-Fawaid Al-Majmu’ah hal.47. Hal senada juga diucapkan oleh Al-Iraqi dalam Tanzihus Syari’ah 2/89 dan Ibnul Jauzi dalam Al-Maudlu’ah 2/122
  3. Ibnu Rajab berkata (Latha’ful Ma’arif) : “Setiap riwayat yang menerangkan keutamaan bercelak, pacar, kutek dan mandi pada hari Asyura adalah maudlu (palsu) tidak sah. Contohnya hadits yang dikatakan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu secara marfu.

“Barangsiapa mandi dan bersuci pada hari Asyura maka tidak akan sakit di tahun itu kecuali sakit yang menyebabkan kematian”. (Hadits ini adalah buatan para pembunuh Husain).

Adapun hadits,

“Barangsiapa bercelak dengan batu ismid di hari Asyura maka matanya tidak akan pernah sakit selamanya”

Maka ulama seperti Ibnu Rajab, Az-Zakarsyi dan As-Sakhawi menilainya sebagai hadits maudlu (palsu).

PERAWI HADITS YANG DINILAI LEMAH

Hadits ini diriwayatkan Ibnul Jauzi dalam Maudlu’at 2/204. Baihaqi dalam Syu’abul Iman 7/379 dan Fadhail Auqat 246 dan Al-Hakim sebagaimana dinukil As-Suyuthi dalam Al-Lali 2/111. Al-Hakim berkata : “Bercelak di hari Asyura tidak ada satu pun atsar/hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hal ini adalah bid’ah yang dibuat oleh para pembunuh Husain Radhiyallahu ‘anhu”.

RESUME JALAN TENGAH PEMAHAMAN DAN PENGAMALAN (Amilul-washathan)

Apabila amalan dan fadhilah tersebut dinilai tidak mempunyai dasar yang kuat (kecuali berpuasa) sebagian besar ulama menganjurkan, sebagai bagian dari “fadhailul a’mal” (penambah keutamaan beribadah). Maka, terlepas dari kontroversi mengenai kekuatan hukumnya, pengamalan amalan tersebut diniatkan pada ketetapan hati serta lillahi Ta’ala saja insyaAllah mendatangkan faedah dan rahmat.

BERIKUT RINCIAN JALAN TENGAH PENGAMALAN

UNTUK AMALAN PUASA SUNNAH : Dari berbagai riwayat dan pendapat, ada 4 Cara Menyikapi Puasa ‘Asyura:

  1. Berpuasa tiga hari pada 9, 10, dan 11 Muharram.
  2. Berpuasa pada hari 9 dan 10 Muharram.
  3. Berpuasa pada hari 10 dan 11 Muharram seandainya pada tanggal 9 Muharram nya tidak berpuasa.
  4. Berpuasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) saja, sebagian saja ulama memakruhkannya karena Nabi saw, memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makruh).

PENJELASANNYA:

(1) BERPUASA 9,10, dan 11 Muharram

“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan SELISIHILAH orang-orang Yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi.

Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany di Dha’iful Jami’. Ibnul Qayyim berkata (dalam Zaadud Ma’al): “Ini adalah derajat yang paling sempurna.” Syaikh Abdul Haq ad-Dahlawi mengatakan:”Inilah yang utama.”

Ibnu Hajar di dalam Fathul Baari juga mengisyaratkan keutamaan cara ini. Dan termasuk yang memilih pendapat puasa tiga hari tersebut (9, 10 dan 11 Muharram) adalah Asy-Syaukani dalam Nailul Authar dan Syaikh Muhamad Yusuf Al-Banury dalam Ma’arifus Sunan.

Namun ulama-ulama yang memilih cara seperti ini adalah dimaksudkan untuk lebih hati-hati. Ibnul Qudamah di dalam Al-Mughni menukil pendapat Imam Ahmad yang memilih cara seperti ini (selama tiga hari) pada saat timbul kerancuan dalam menentukan awal bulan.

Meskipun hadits tersebut dha’if, tetapi secara umum boleh diamalkan jika itu HANYA TERKAIT FADHILAH AMAL yang tidak menyangkut aqidah dan hukum.

Inilah tiga syarat penting diperbolehkannya beramal dengan hadits-hadits dha’if dalam keutamaan amal;

– Hadits itu tidak sampai derajat maudlu’ (=palsu).

– Orang yang mengamalkannya ‘mengetahui’ bahwa hadits itu adalah dha’if.

– Tidak memasyhurkannya sebagaimana halnya beramal dengan hadits shahih.

(2) BERPUASA 9 dan 10 Muharram

MAYORITAS HADITS menunjukkan cara ini. Juga pada Kitab Hadits Riyadhus Shalihin pun hanya dibahas mengenai puasa 9 dan 10 Muharram, dan tidak dikutip dalil satu pun tentang puasa 11 Muharram di sana.

(3) BERPUASA 10 dan 11 Muharram

“Berpuasalah pada hari Asyura dan SELISIHILAH orang Yahudi, puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.”

Hadits marfu’ ini tidak shahih karena ada illat (cacat). Ibnu Rajab berkata (Lathaiful Ma’arif hal 49): “Dalam sebagian riwayat disebutkan “atau sesudahnya” maka kata ‘atau’ di sini mungkin karena keraguan dari perawi atau memang menunjukkan kebolehan….”

Al-Hafidz berkata dalam Fathul Baari: “Dan ini adalah akhir perkara Rasulullah saw., dahulu beliau suka menyocoki ahli kitab dalam hal yang tidak ada perintah, lebih-lebih bila hal itu menyelisihi orang-orang musyrik. Maka setelah Fathu Makkah dan Islam menjadi termahsyur, beliau suka MENYELISIHI AHLI KITAB SEBAGAIMANA DALAM HADITS SHAHIH. Maka ini (masalah puasa ‘Asyura) termasuk dalam hal itu. Bisa menambah sehari sebelum atau sesudahnya untuk menyelisihi ahli kitab.”

(4) BERPUASA 10 Muharram saja

ATTARTIBU AMALAN IBADAH BULAN MUHARAM HASIL IJTIHAD PARA ULAMA (Ijtima’)

Nr. AMALAN WAKTU BOBOT

DALIL

FAEDAH
1 BERPUASA TASYU’A DAN ASYURAA 9-10 Muharam,

Atau 9-10-11

Atau 1-10

Sahih-Bukhari

Ijtihad

Ijtihad

menggugurkan dosa 1 tahun lalu
2 MEMBACA AYAT QURSIY Tiap usai shalat fardlu,

Atau 1-10

 

Sahih

Masuk syorga tanpa halangan,

(1 huruf 40.000 kebaikan, 1000 berkah)

3 MEMBACA SURAT IKHLAS

 

Tiap hari,

Atau 1-10

Sahih 1 X = 1/3 baca Al-Qur’an,

3 X = khatam Al-Qur’an

4 MEMBACA  ALI IMRAN:173&AL-A’RAAF:40,

(HASBUNALLAH WA NI’MAL WAQIL)

Tiap hari,

9-10 Muharam

Ayat,

Hadits

Ketenangan hidup, keamanan, keselamatan
5 SHOLAT SUNNAH MUHARRAM

(Shalat Tasybih, shalat rahmat, dll)

Malem 10 Ijtihad Mendapat rahmat
6 BERSODAQOH, MEMBERI MAKAN ORANG YANG BERPUASA.

 

Tiap hari,

9-10 Muharam

Ayat,

Al-Hadits,

Ijtihad

Panjang umur, menolak penyakit, amal jariyah, harta berkah
7 MENYANTUNI ANAK YATIM

(Memberi sesuatu, menyayangi, mengusap rambutnya)

Tiap hari,

9-10 Muharam

Hadits Bukhari Menempati kedudukan syorga yang tinggi bersama Rasulullah SAW
8 MELUASKAN BELANJA KELUARGA (mengadakan jamuan istimewa, makan bersama keluarga) Malem 10 Ijtihad

(Dari sahih muslim)

Allah meluaskan rizki
9 MENINGKATKAN NILAI IBADAH

 

Tiap hari,

 

Perintah ayat

Ijtihad

Taqwa
10 MANDI ASSYURAA (Sesuci badan) Malem 10 Ijtihad Menjaga kesehatan
11 MEMOTONG KUKU, MERAPIHKAN RAMBUT, MEMAKAI PAKAIAN BAIK, BERSIH, WEWANGIAN, dsb. Malem 10 Ijtihad Menjaga kesehatan
12 MEMAKAI CELAK / SHIFAT, Malem 10 Ijtihad Menjaga kesehatan
13 ZIARAH KE ORANG ORANG ALIM

 

Tanggal 9,

Atau 1-10

Ijtihad

(ibadah disunahkan)

Rahmat dan berkah umur
14 TA’ZIAH DAN MENGANTAR JENAZAH

 

Tanggal 9,

Atau 1-10

Hadits,

Ijtihad

Pahala 2 qirat (2 gunung besar)
15 MEMBESUK ORANG SAKIT

 

Tanggal 9,

Atau 1-10

Ijtihad Rahmat, didoakan 70 ribu malaikat
16 Amal shalih dan berbuat manfaat  lainnya Sehari hari Nilai Islam Untuk mencapai derajat insan kamil

DO’A ASSYURAA / 10 MUHARAM

Mari manfaatkan momen hari ‘Asyura, hari yang penuh keutamaan dan kemuliaan dengan memanjatkan doa.

“Hasbunallahu wani’mal wakiilu ni’mal maulaa wani’man nashiiru, Subhanallahi mil-al miizaani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridhaa wazinatal ‘arsyi, Laa malja-a walaa manja-a minallahi illa ilaihi subhaanallahi ‘adadasy syaf’ir wal witri, Wa ‘adada kalimaatillahittaammaati kulliha nas-alukas salaamata birahmatika yaa arhamar raahimina, Walaa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiimi, Wa huwa hasbuna wa ni’mal wakiilu ni’mal maulaa wa ni’man nashiiru, Wa shallalahu ‘alaa sayyidina muhammadin wa ‘alaa aalihi washahbihii wasallam”.

Artinya:

“Cukuplah Allah menjadi sandaran kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik kekasih, dan sebaik-baik Penolong. Maha Suci Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan dan timbangan ‘arsy. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari Allah, kecuali hanya kepada-Nya. Maha Suci Allah sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat Allah yang sempurna, kami memohon keselamatan dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Paling Penyayang diantara semua yang penyayang. Dan tiada daya upaya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dan Dialah yang mencukupi kami, sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik kekasih, dan sebaik-baik Penolong. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, teriring keluarga dan sahabat beliau.”

DOA HAJAT :

Laa ilaha illallohul haliimul kariimu subhaanallohi robbil ‘arsyil ‘azhiim. Alhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin. As `aluka muujibaari rohmatika wa ‘azaaima maghfirotika wal ghoniimata ming kulli birri wassalaamata ming kulli itsmin Laa tada’ lii dzamban illa ghofartahu walaa hamman illaa farojtahu walaa haajatan hiya laka ridhon illa qodhoitahaa yaa arhamar roohimiin.

Artinya :

Tidak ada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Lembut dan Maha Penyantun. Maha Suci Allah, Tuhan pemelihara Arsy yang Maha Agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Kepada-Mu-lah aku memohon sesuatu yang mewajibkan rahmat-Mu, dan sesuatu yang mendatangkan ampunan-Mu dan memperoleh keuntungan pada tiap-tiap dosa. Janganlah Engkau biarkan dosa daripada diriku, melainkan Engkau ampuni dan tidak ada sesuatu kepentingan, melainkan Engkau beri jalan keluar, dan tidak pula sesuatu hajat yang mendapat kerelaan-Mu, melainkan Engkau kabulkan. Wahai Tuhan Yang Paling Pengasih dan Penyayang.

LAFAZ NIAT PUASA

Lafadz Niat Puasa Tasu’a (puasa 9 Muharram)

NAWAITU SAUMA TASU’A SUNNATALILLAHI TA’ALA
Artinya : “Saya niat puasa hari Tasu’a, sunnah karena Allah ta’ala.”

Lafadz Niat Puasa Asyuro’ (puasa 10 Muharram)
نويت صوم عشر سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA ‘ASYURA SUNNATAN LILLAHI TA’ALA
Artinya : “Saya niat puasa hari ’Asyura , sunnah karena Allah ta’ala”.

(Niat letaknya di hati, melafadzkan untuk menuntun hati).

KESIMPULAN DAN PENUTUP

  1. Maka pandangan mayoritas kaum muslimin Ahli Sunnah wal Jamaah tentang keutamaan dan kemuliaandibulan‘asyura, adalah dengan memanfaatkan momen utama ini diisi dengan memperbanyak dan mempertebal ibadah serta perbuatan amal shalih lainnya seperti yang dijabarkan dalam tabel amalan Muharam diatas.
  1. Sedangkan pandangan bagi kaum Syi’ah dalam satu sisi sama dengan pandangan kaum Sunni dalam hal keutamaan dan kemuliaandibulan‘asyura, hanya yang membedakannya adalah tata cara menyikapi hari ‘asyura, bagi kaum Syi’ah memandangnya sebagai hari kesyukuran sekaligus sebagai hari berduka atas gugurnya cucu Rasulullah Saw Sayyidina Hassan dan Husein di padang Karbala pada 10 Muharram tahun 61 Hijriyah, bertepatan 10 Oktober 680 Masehi. Yang dibunuh oleh militer Khalifah Bani Umayyah, yang dipimpin jenderal Yazid bin Muawiyah yang membawa dampak sangat besar dalam sejarah perkembangan Islam, di satu sisi hati umat Islam merasa tersayat atas perbuatan Yazid yang tidak bertanggung jawab tersebut, dan di sisi lain menimbulkan rasa haru dan kagum terhadap Imam Husein, terutama bagi pengikut keluarga Ali bin Abi Thalib (alawiyah).
  1. Rasa haru dan duka itulah yang mendorong kaum Syiah untuk memperingati hari‘asyura yang pada mulanya diperingati secara sederhana yaitu dengan berziarah ke tempat peristiwa berdarah tersebut, tetapi lama kelamaan peringatan itu membudaya dan menjadi perayaan besar-besaran dengan memakai pakaian berkabung dan mulai melampaui batas, dengan melukai badan mereka sendiri, memukul-mukul dada, mengiris kepala mereka dan anak-anak mereka dengan pisau. Ini dilakukan oleh Syi’ah Imamiah dan Rafidhah  dan adalah merupakan keistimewaan tersendiri bagi mereka yang dapat berdomisili dekat makam Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib, mereka melumurkan seluruh tubuh mereka dengan lumpur, dari tanah yang ada di sekitar makam Al-Husein, karena menurut mereka tanah tersebut mempunyai keistimewaan (sumber: http//dhr 12.com/?a=257), (sumber: http//dhr 12.com/?a=257).
  1. Perbuatan Jahiliyah yang mereka lakukan itu tidak ada hubungan sama sekali dengan Islam. Nabi Muhammad Saw bersabda:Tidak termasuk golongan kami orang-orang yan menampar pipi (wajah), merobek saku, dan melakukan amalkan Jahiliyah (HR. Bukhari no.1294 dan mUslim no.103).
  1. Ibnu Qudamah berkata: Jika ada orang yang melakukan amal yang mengandung nilai “kebaikan/ibadah” maka hal tersebut diperbolehkan, seperti shalat nawafil atau mengerjakan shalat shalat sunah yang membarengi momen hari/bulan utama dan atau Fadhoilul A’maal, maka tidak disyaratkan harus dengan berlandaskan hadits shahih” (Al-Mughny 2/33)
  1. Maka secara marak tradisi bahwa memperingati hari ‘asyura mulai diperingati sejak setahun setelah tragedi Karbala yaitu pada 10 Muharram tahun 62 Hijriyah, atau pada tahun 681 Masehi. Namun secara hakekat bahwa Rasulullah SAW telah melakukan peringatan ‘asyura ini dengan melaksanakan puasa dan melakukan amal shalih lainnya serta memperbanyak ibadah yang berkaitan dengan keutamaan bulan Muharam.

‘Ala kullihal, hari ‘asyura  merupakan hari yang utama dan mulia dalam nilai nilai Islam sekaligus hari tragedi dalam sejarah politik Islam atas pembantaian cucu Rasulullah Saw Al-Hasan dan Husein di Karbala. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk merespon/mentadzaburi hari yang dimuliakan Allah Swt tersebut dengan berpuasa serta melakukan amal shalih lainnya, memperbanyak ibadah namun dilarang merayakannya dengan cara ikut ikutan yang jahil, bathil , berbuat dzalim menyiksa diri dan anggota keluarga sendiri dan sebagainya.

Salamun kaulam min Rabbirrahim, demikian semoga manfaat dan menambah wawasan.

Prembun, 7 Oktober 2016

Diolah dan disusun lengkapi oleh : Agus Sholech Al-Qadry

Maraji/Sumber :

  1. Al-Qur’an terjemah DEPAG RI
  2. M. Nasir, Lc., MA :Penulis: Pimp. Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batubara dan Wakil Sekretaris Dewan Fatwa Pengurus Besar Al Washliyah
  3. Ustadz Aris Munandar bin S.Ahmadi-Surakarta
  4. Attauziah hasanah abuya Kyai M. Syamsuddin-Majelis dzikir As-Shalihin-Masjid Baitut Taibin-Prembun-Kebumen-Jawa Tengah
  5. Pengajian terbuka ponpes Krapyak-Yogyakarta
  6. Sejarah dan tokoh ahli fiqih & perawi hadits-H. Said Aqil MA-Ketua PBNU
  7. http://noternative.blogspot.co.id/2013/11/12-amalan-di-hari-asyura-10-muharram.html
  8. http://ilmuamalan.blogspot.co.id/2014/05/shalat-tasbih-dan-khasiat-shalat-tasbih.html
  9. https://ulamasunnah.wordpress.com/2009/01/01/keutamaan-puasa-di-hari-asyura-10-muharram/
  10. Sumber lain