BOLEHKAH MENULISKAN KATA SALAM, SHALAWAT DAN DO’A  DENGAN DISINGKAT DAN MASALAH TYPO ?

BOLEHKAH MENULISKAN KATA SALAM, SHALAWAT DAN DO’A DENGAN DISINGKAT DAN MASALAH TYPO ?

BOLEHKAH MENULISKAN KATA SALAM, SHALAWAT DAN DO’A,DENGAN DISINGKAT DAN MASALAH TYPO ?

singkatan

DAFTAR ISI:

  • LATAR BELAKANG
  • HUKUM MENYINGKAT KATA SALAM, SHALAWAT DAN SEJENISNYA.
  • MASALAH TYPO
  • KESIMPULAN

HUKUM MENYINGKAT KATA SALAM, SHALAWAT DAN SEJENISNYA

DAN MASALAH TYPO

bismillah

LATAR BELAKANG

Di media sosial sering kita mendapat pesan dari teman atau dari orang orang yang menyebarkan pesan yang berisi ajakan untuk tidak menulis / mengucapkan salam, shalawat dan sejenisnya dengan disingkat yang diklaim berakibat salah makna secara fatal. Dan biasanya diembel-embeli dengan berbagai dalil dan tafsyir, yang menekankan bahawa islam itu harus begini begitu, jangan mengkuti budaya kafir dan sebagainya. Sehingga bagi umat yang menerima pesan tersebut serta merta langsung membagikan / menyebarkannya kepada lainnya, tanpa mendasari ilmu. Efek dari hal tersebut membuat kebingungan dan bertanya tanya dalam hati. Dan bagi sebagian lainnya tanpa berfikir langsung menyebarkannya tanpa reserve.

Berikut contoh selebaran yang dibagikan (share) hingga menjadi berantai dan menyebar di sosial media (sosmed) :

*GANTI UCAPAN KITA DENGAN DOA.*

Jangan ucapkan ‘0k’, ucapkan “In syaa  Allah”(- اللَّهُ شَاءَ إِنْ -)

Jangan ucapkan “wow”, ucapkan “SubhaanAllah”(- اللَّهُ سُبْحَانَ -)

Jangan ucapkan “hebat”, ucapkan “Maa syaa Allah”(- مَاشَآءَاللّهُ -).

Jangan ucapkan “saya baik2 saja”, ucapkan “Allhamdulillah”(- اللَّهُ الْحَمْدُ -)

Jangan ucapkan “Terimakasih”, ucapkan “Jazaka (ki,kumu) llahu Khairan”(- خَيْرًا اللهُ جَزَاك -)

Jangan ucapkan “Hati2 ya…sampai jumpa”, ucapkan “Fii Amanillah”(- اللَّهُ أَمَانِ فِي -)

Jangan ucapkan “.Hello”, ucapkan “Assalamu alaikkum Warahmatullah”(- اللهِ وَرَحْمَةُ عَلَيْكُمْ السَّلاَمُ -)

Doa yg indah untuk berterima kasih pada Allah, pada semua kesempatan.

“Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika  wa husni  ‘ibadatika”

‎ ‎عِبَادَتِكَ وَحُسْنِ وَشُكْرِكَ ذِكْرِكَ عَلَى أَعِنِّى اللَّهُمَّ

Mari kita sama-sama membetulkan :

  • Aamiin,
  • In Syaa Allah , dan
  • Menyingkat kata Assalamu’alaikum.

Dalam bahasa Arab ada 4 kata amin yg berbeda makna :

  • – Amin = Aman
  • – Aamin = Meminta perlindungan
  • – Amiin = Jujur
  • – Aamiin = Ya Allah, kabulkanlah do’a kami

Kita seharusnya tidak menulis :

  • *Insya Allah* = Menciptakan Allah (naudzubillah)

Tapi pastikan kita menulis :

  • *In Syaa Allah = dengan izin Allah

Assalamualaikum, jgn disingkat, karena ;

  1. As = Orang bodoh ; keledai
  2. Ass = Pantat
  3. Askum = Celakalah kamu
  4. Assamu = Racun
  5. Samlekum = Matilah kamu
  6. Mikum = dari bahasa Ibrani, Mari Bercinta.

Salam pendek, Salam sedang dan Salam panjang telah dicontohkan oleh Nabi  dan tidak merubah  makna aslinya :

  • *Salam pendek* : “Assalamualaikum”. (Dengan 10 kebaikan).
  • *Salam sedang* : “Assalamualaikum warahmatullah”. (Dengan 20 kebaikan).
  • *Salam panjang* : “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. (Dengan kebaikan sempurna).

Dengan penjelasan ini, mudah-mudahan tidak ada lagi yang menyingkat karena dapat merubah maksud.

– Bila menurut anda ini  ada manfaatnya,  beritahu ke yg lain.

SHARE JIKA INGIN YANG LAIN DAPAT MANFAAT.

*Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala, seperti org yg melakukannya.*(HR. Muslim 3509).

*Semoga kita termasuk hamba Allah yang memperoleh kebaikan dari membaca artikel Islami serta dapat mengamalkan-nya.*

Demikian rangkaian selebaran yang sering beredar dan diedarkan ditengah komunitas dunia sosial media (medsos). Maka bagi insan islam yang cerdas dan mendasari segala sesuatunya dengan ilmu pengetahuan tentu dalam dirinya akan melontarkan ide pertanyaan:

“Benarkah demikian?”

Atau jika divisualisasikan dengan dialek lokall kira-kira akan seperti ini:

”Ada ape lagi, nih. Bener kaga’ neh inpo. Kayenye ribet amat agama islam”.

Begitu kira-kira kasak kusuk yang lazim terjadi ditengah umat.

Baiklah saudaraku, ikhwan fillah, sobat dumay dimana saja berada. Mari bersama sama kita membahas perkara ini dengan melandasi ilmu pengetahuan, dengan akal logika. Bukan dengan okol (asal).

Kita mulai dari situasi yang sering terjadi (realitas) ditengah umat, di dunia interaksi sosial media.

  1. Kebiasaan / kelaziman orang dalam mengetik atau menulis kata kata dengan disingkat.

Sudah menjadi kebiasaan / kelaziman orang dalam dunia ketik mengetik atau menulis kata kata, itu sering dengan disingkat. Baik yang bersifat komunikasi surat menyurat resmi atau pun personal, maka sudah menjadi kelaziman. Hanya bedanya untuk yang resmi masih diberi penjelasan dengan menambah kalimat penjelasannya didalam tanda kurung atau dengan foot note. Sedang di dunia sosial media terutama dunia perpesanan online (chating), maka penyingkatan kata tidak terelakkan. Nah, kata kata dengan ketikan yang disingkat singkat itu kalimat umum. Bagaimana jika kata kata yang disingkat itu adalah kalimat salam, shalawat dan sejenisnya?

Kita semua tentu telah mengerti akan sebuah kaidah dasar, bahwa kalimat atau lafal-lafal kalam Ilahi (ayat ayat) dalam Al-Qur’an, yang berhuruf dan berbahasa Arab dan didalamnya berisi kalimah salam, shalawat dan doa, maka rangkaian kalimat ayat ayatnya, hurufnya itu tidak dapat dan tidak boleh dikurangi atau ditambah barang satupun, sebab dapat merubah isi dan makna. Dengan demikian jika seseorang atau kumpulan orang hendak mencetak serta memperbanyak Al-Qur’an, maka harus ditulis / dicetak dengan sempurna sesuai aslinya tanpa kurang dan lebih. Dan begitu pula bagi para qira’ah (pembaca Al-Qur’an), maka harus diucapkan (melafalkan) dengan langkap dan sempurna, tidak menyingkatnya bahkan salah membacanya. Begitu pula rangkaian Al-hadits, tidak boleh dikurang dan tambahi dari teks aslinya.

Itu teks asli ayat ayat Al-Qur’an ataupun Hadits. Sehingga lafal salam, Sholawat dan lainnya harus tertulis dan diucapkan lengkap, sempurna seperti bacaan : “Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Demikian juga mengucapkan salam harus diucapkan lengkap, sempurna seperti: “Assalaamu’alaikum warahmatullaaahi wa barokaatuhu”.

Namun permasalahannya adalah banyak kita dapati kaum muslimin yang menyingkat-nyingkat lafal salam, shalawat dan sejenisnya tersebut, untuk sebuah alasan kepraktisan demi menyingkat waktu dalam penulisan atau pengetikan. Dan saya meyakini bahwa anda sama sekali tidak berniat meremehkan keagungan ayat-ayat tersebut.

Terbukti pada kenyataannya, tidak ada seorang muslimpun yang mengucapkan / menjawab doa dengan disingkat. Setiap muslim ketika memberi salam kepada saudaranya dengan ucapan maka iapun membalas ucapannya dengan sempurna, demikian juga saat bersholawat kepada Nabi, kita mengucapkan doa sholawat tersebut dengan sempurna.

Coba kita ilustrasikan:

Si A kepada si B: “Assalaamu’alaikum”

Si B tentu akan membalas: ”Wa’alaikum salam”.

Apa ada yang begini:

Si A kepada si B: “Assalaamu’alaikum”

Si B membalas: ”kumsal”. Ada yang begitu ???

Lagi:

Apa ada yang begini:

Si A menulis salam (disingkat) kepada si B: “Ass..”

Si B membalas: ”Bukan, gue bukan As, gue Katmi”. Ada yang begitu ???

Jika demikian perkaranya berarti ini hanya tentang menyingkat kata-kata dalam tulisan / pengetikan di dunia interaksi komunikasi publik, bukan dalam ucapan, bukan dalam pembuatan atau pencetakan Al-Qur’an dan kumpulan Hadits. Nah, jika realitasnya seperti itu, apakah hukumnya haram, disiksa, masuk noraka, digebugin malaikat? Ataukah dibolehkan dan sesuatu yang ma’fu (kelaziman dialek) ??!

Sobat, mari ikuti dan renungi risalah ini hingga selesai, saya tidak akan meminta upah ataupun  hendak membuka lipatan bekas bungkus permen untuk kemudian berkeliling ke hadapan anda berharap sumbangan   sekedar koin  belel, itupun bekas untuk kerokan.

Pembahasan berikutnya adalah tentang:

  1. Kebiasaan / kelaziman orang dalam mengetik atau menulis kata kata dengan terjadi typo

miwbrrhts4zlf2cb7lpv

(kumparan.com)

Jika perkara yang telah disebut diatas adalah masalah menyingkat kalimat salam, shalawat dan sejenisnya, maka berikut ini adalah permasalahan lainnya, yaitu tentang typo. Sudah kita ketahui bersama bahwa dalam interaksi dunia komunikasi, orang lazim melakukan kesalahan dalam menulis atau mengetikkan kata kata.

Seperti dalam rangkaian komunikasi penuh typo, sebagai berikut:

“slaam unutk kleuraga… seaht slealu…ttpatp snmgaat “.

(Tulisan normal: Salam untuk keluarga, sehat selalu, tetap semangat).

Sadar atau tidak anda baru saja membaca sebuah rangkaian kalimat / tulisan yang berantakan (typo). Namun anda mampu menerjemahkannya. Inilah kehebatan otak manusia, karunia Tuhan Yang Maha Sempurna. Maka bagi yang bisa membaca model tulisan typo tersebut, berarti otak kanan dan kiri anda masih berfungsi dengan baik . Maka bagi yang sering menuliskan dan mengetik salah (typo), tidak musti (keharusan) dikoreksi.

  1. HUKUM MENYINGKAT KATA SALAM, SHALAWAT DAN SEJENISNYA.

Pendapat para Ulama besar

Berikut berbagai pendapat dari para ulama besar, yang juga dilansir oleh sebuah situs media dakwah online, firanda.com sebagai berikut:

Syaikh Al-Albani rahimahullah pernah ditanya tentang permasalahan ini :

Pertanyaan :

ما حكم كتابة الحرف ( ص ) بعد لفظة النبي صلى الله عليه وسلم في الكتاب.؟
Apa hukum penulisan huruf shad (ص) setelah penulisan lafal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di buku?

Jawab :

لا مانع من ذلك، بخلاف ما يفعله بعضهم قديما (صلعم) إختصار أوسع،أكثر حرفا من (ص) لأن ذلك أُوهم أنها كلمة،وبعض العامة والجهلة لا يفقهها،وأما (ص) فأصبحت رمزا للصلاة على النبي صلي الله عليه وسلم، لذلك أنا ما أرى مانعا من إستعمال هذه اللفظة لأنها لا يُسئ فهمها

“Tidak mengapa, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sebagian orang dahulu dengan menulis singkatan “صلعم” (yaitu ringkasan dari صـلـى الله عليه وسلم -pen), yaitu bentuk ringkasan yang lebih luas dan lebih banyak hurufnya daripada (ص), karena tulisan (صلعم) mengesankan adalah sebuah kata (shol’am), dan sebagian orang awam serta orang-orang bodoh tidak memahaminya (kalau itu hanya singkatan-pen). Adapun singkatan (ص) maka menjadi simbol bagi sholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karenanya aku memandang tidak mengapa menggunakan lafal ini (ص )-(sebagai ringkasan shalawat-pen) karena tidak disalah fahami” .

(Transkrip dari kaset Silsilah Al-Hudaa wa An-Nuur, kaset no 165, dapat lihat di:http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=6110)

Sangat jelas dari perkataan Syaikh Al-Albani bahwasanya jika lafal salam, shalawat dan sejenisnya dalampenulisadigantidengansimbol (di singkat) tidak menimbulkan kesalah fahaman bagi orang awam maka tidak mengapa untuk digunakan. Karena tujuan dari simbol tersebut bukanlah untuk dibaca, tapi yang dibaca adalah sholawatnya secara lengkap. Simbol tersebut hanyalah sebagai pemberitahuan gelar / atribut (untuk salam, sholawat dan sejenisnya didalam penulisan terbatas – red).

Dari jawaban Syaikh Al-Albani di atas maka bisa kita simpulkan akan bolehnya menyingkat shalawat kepada Nabi dengan sinkatan / simbol huruf ”shad” ( ص ). Itu risalah kitab dalam bahasa Arab. Sedang dalam tulis menulis dengan bahasa lain seperti dalam bahasa Indonesia, maka singkatan shalawat atas nabi menjadi “SAW”, yang sudah lazim digunakan oleh kalangan umat islam diIndonesia dan tentunya semua orang telah tahu cara mengucapkannya yaitu, shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga menyingkat salam dengan “Ass Wr Wb”, atau menjawab salam secara tulisan tersebut dengan “Wlkm wr wb”, atau yang semisalnya yang tentunya telah dipahami maksudnya oleh pembaca.
Walaupun pendapat Syaikh Al-Albani rahimahullah ini ada juga ulama yang tidak sependapat. Dimana sebagian ulama yang kontra tersebut memandang bahwa penyingkatan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makruh.

(Dapat dilihat fatwa-fatwa mereka)  di :

http://www.artikelmuslim.com/2012/02/fatwa-ulama-seputar-hukum-menyingkat.htmlhttp://www.konsultasisyariah.com/hukum-menyingkat-tulisan-shalawat-nabi/ 

Sementara dari SaikhAs-Sakhoowi rahimahullah (wafat 902 H) dalam kitabnya Fathul Mughiits (Syarah 1000 bait Al-Haafiz al-‘Irooqi), lebih cenderung kepada pendapat bahwa penyingkatan tersebut hanya masuk pada kategori خِلاَفُ الأَوْلَى “……”, yaitu ”Menyelisihi yang lebih utama”, dan tidak sampai pada kategori makruh. Berikut pernyataan beliau rahimahullah:
واجتنب أيها الكاتب الرمز لها أي للصلاة على رسول الله صلى الله عليه و سلم في خطك بأن تقتصر منها على حرفين ونحو ذلك فتكون منقوصة صورة كما يفعله الكسائي والجهلة من أبناء العجم غالبا وعوام الطلبة فيكتبون بدلا صلى الله عليه وسلم ص أو صم أو صلم أو صلعم فذلك لما فيه من نقص الأجر لنقص الكتابة خلاف الأولى.
وتصريح المصنف فيه وفيما بعده بالكراهة ليس على بابه …لكن وجد بخط الذهبي وبعض الحفاظ كتابتها هكذا صلى الله علم وربما اقتفيت أثرهم فيه بزيادة لام أخرى قبل الميم مع التلفظ بهما غالبا والأولى خلافة

“Wahai sang penulis, hendaknya engkau menjauhi penulisan simbol untuk bersholawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tulisanmu, yaitu engkau menyingkatnya menjadi dua huruf dan yang semisalnya. Maka jadilah bentuk sholawatnya menjadi berkurang, sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Kisaai, orang-orang jahil dari orang-orang ‘ajam secara umum, dan juga para penuntut ilmu yang awam. Sebagai pengganti صلى الله عليه وسلم mereka tulis (ص) atau (صم) atau (صلم) atau (صلعم). Hal ini dikarenakan akan mengurangi pahala dikarenakan kurangnya tulisan. Ini adalah “menyelisihi yang lebih utama”.

Maka pernyataan dialog diatas adalah tentang saran untuk penulisan simbol shalawat hendaknya tidak satu karakter, sebaiknya ditambah setidaknya dua atau empat huruf, shad dan mim atau shad-lam-‘ain-mim (……./………). Dengan demikian dialog tersebut bukan tentang penolakan untuk penyingkatan tulisan shalawat.

Menambahkan pula sang penulis buku risalah pendapat para ulama tentang penyingkatan salam tersebut, Yaitu Al-Haafiz Al-‘Irooqi rahimahullah, di bait ini dan juga pada bait setelahnya adalah penegasan akan makruhnya ”Menyelisihi yang lebih utama”, (seperti tersebut diatas). Maka bukanlah pada makna makruh yang berkaitan dengan hukum syar’i. (pen.).

Kemudian dari pendapat lainnya adalah:

“Telah ditemukannya khot (tulisan tangan) Al-Imam Adz-Dzahabi dan juga sebagian para huffaz penulisan shalawat kepada Nabi,dengan penulisan simbol / penyingkatan seperti ini: (صلى الله علم), dan terkadang aku mengikuti cara mereka (dalam penyingkatan-pen) dengan menambah huruf “laam” yang lain sebelum huruf “miim” (yaitu menjadi: صلى الله عللم -pen) dengan biasanya disertai melafalkan sholawat dan salam. Dan yang lebih utama adalah tidak melakukannya”

(Fathul Mughiits 3/70-71, tahqiq Ali Husain Ali, cetakan Wizaaroh Asy-Syu’uun Al-Islaamiyah wal Awqoof wa Ad-Da’wah wa Al-Irsyaad)

Dengan demikian pernyataan dari SaikhAs-Sakhoowi, yaitu :makruhnya (hal ini) maka bukanlah pada makna biasanya, menunjukkan beliau tidak setuju bahwa penyingkatan shalawat dalam tulisan dihukumi makruh. Sehingga beliau menafsirkan kata “makruh” yang disebutkan oleh Al-Haafiz al-‘Irooqi bahwa makruh tersebut bukan pada makna makruh yang berkaitan dalam hukum fikih syar’i. Dengan demikian pernyataan Saikh As-Sakhoowi hanya memandang makruh tersebut dalam adab saja bukan dalam hukum syar’i. Karenanya beliau menegaskan bahwa beliau juga melakukan penyingkatan tersebut terkadang akan tetapi hanya dalam tulisan, dan tatkala beliau menyingkat dalam tulisan mulut beliau tetap mengucapkan sholawat dan dan salam kepada Nabi dalam bentuk ucapan penuh. Oleh karena itu beliau tetap memandang bahwa menyingkat hanyalah menyelisihi yang lebih utama. Dengan kata lain, ”Menyingkat lafal salam, shalawat dan sejenisnya” dari tulisan penuh itu masih dapat ditolerir (tidak termasuk menyalahi hukum syar’i  – red). 

Resume:
Pendapat As-Sakhoowi rahimahullah ini similar dengan pendapat Syaikh Al-Albani, bahwasanya penyingkatan shalawat hukumnya boleh, hanya saja menyelisihi yang lebih utama, karena tentunya dengan menulisnya secara lengkap akan mendapatkan pahala menulis sholawat tersebut, selain juga mendapatkan pahala mengucapkan secara lisan sholawat tersebut.

Pendapat Syaikh As-Sakhowi dan Al-Albani cukup kuat (logis), mengingat :

Pertama : “Makruh” salah satu bentuk vonis hukum dalam hukum-hukum fikih. Tentunya vonis tersebut butuh dalil, sebagaimana pernyataan “mubaah”, “sunnah”, “haram”, dan “wajib” juga butuh dalil. Dan dalam hal penyingkatan shalawat maka hukum asalnya adalah mubaah (boleh), kecuali ada dalil yang memalingkan kepada makruh.

Kedua : Tujuan dari tulisan adalah dibaca, karenanya huruf-huruf untuk mengungkapkan sesuatu ucapan bisa saja berbeda-beda. Untuk mengungkapkan sholawat kepada Nabi yaitu dengan ucapan (صلى الله عليه وسلم) bisa dengan menggunakan huruf Arab (huruf hijaiyah) atau dengan huruf latin, atau dengan huruf cina atau jepang, atau huruf jawa kuno, dll. Yang intinya dibuatnya tulisan adalah untuk dibaca, jika suatu tulisan sudah dipahami maksud bacaannya maka telah tercapai tujuan tulisan tersebut, karena tulisan adalah wasilah/sarana saja, tujuannya adalah bacaan. Jika tujuannya telah tercapai dengan tulisan huruf apapun maka wallahu A’lam tidak mengapa.

  • Karenanya syaikh Al-Albani rahimahullah memandang tidak mengapa jika lafal sholawat disingkat menjadi (ص) karena orang yang membacanya sudah paham tujuan dari tulisan huruf shood ini, yaitu untuk bershalawat.
  • Akan tetapi beliau kurang setuju dengan singkatan (صلعم) karena dikawatirkan akan disalah pahami sehingga akan dibaca oleh orang yang tidak mengerti dengan “Shol’ama” yang tidak tahu bahwa itu adalah singkatan dari sholawat kepada Nabi. Artinya beliau kawatir tujuan dari tulisan tidak tercapai.
  • Dengan demikian jika tujuan dari tulisan huruf-huruf telah tercapai maka hukumnya tidak mengapa. Sebagaimana tulisan SAW, saya rasa rata-rata orang akan faham maksudnya adalah untuk bersholawat kepada Nabi dengan mengucapkan “Shallallahu ‘Alaihi Wasallam”, dan bukan dibaca “saw’.

Ketiga : Jika kita menjadikan teks tulisan yang tertera sebagai tujuan maka yang hanya bisa mengungkapkan sholawat kepada Nabi dengan tepat adalah huruf Arab hijaiyah. Adapun huruf latin, huruf jawa kuno, huruf jepang, apalagi huruf cina tentu tidak akan bisa mengungkapkan sholawat dengan tepat. Sebagai contoh :

  • di dalam bahasa Inggris, atau bahasa, jawa, dan juga huruf cina dan jepang, kemungkinan besar tidak ada yang bisa mewakili huruf (ع) ‘ain, demikian juga huruf (ص).
  • Karenanya kalau kita hanya bersandar kepada teks yang tertulis dengan melalaikan bahwa teks tersebut hanyalah sarana dan bukan tujuan, maka kita katakan penulisan sholawat dalam bahasa Indonesia sebagai berikut merupakan kesalahan : “Salalahu alaihi wa salam”. Ini adalah kesalahan karena jika dibaca leterlek maka tidak akan mewakili sholawat yang benar, karena tidak mewakili huruf shood, dan malah cenderung mewakili huruf siin, demikian juga tidak mewakili huruf ‘ain, tetapi lebih cenderung mewakili huruf hamzah, demikian juga huruf lam nya tidak didouble. Yang paling mendekati kebenaran adalan “Shollallahu ‘alaihi wa sallam”

Keempat : Dari penjelasan poin di atas maka saya kurang setuju dengan penghukuman sebagian orang yang menyatakan bahwa menyingkat (السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ) dengan Ass wr wb adalah kesalahan, dikarenakan makna “Ass” dalam bahasa Inggris adalah makna yang jorok. Hal ini dikarenakan sbb :

  • Tujuan dari tulisan adalah bacaan, dan tujuan penulisan “Ass wr wb” bukanlah maksudnya dibaca secara leterlek “Ass”. Saya rasa ini dipahami oleh semua orang yang berakal. Demikian juga kalau tujuannya hanya membaca teks secara leterlek maka bagaimana mau dibaca “wr” dan “wb”??
  • Penulisan singkatan tersebut (yaitu Ass wr wb) dimaksudkan adalah dalam bahasa Indonesia, karenanya janganlah dibawa kepada makna bahasa-bahasa yang lain. Jika caranya demikian maka bisa jadi kita akan terjerumus dalam banyak kesalahan. Sebagai contoh :
  1. kata “butuh” dalam bahasa Indonesia adalah maknanya “perlu”, tapi dalam bahasa Malaysia maknanya konon adalah “kemaluan”.
  2. Demikian juga misalnya kata “naik” dalam bahasa Indonesia artinya beranjak dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi, akan tetapi dalam bahasa Arab artinya “berhubungan tubuh/seks”
  • Jika kita membawa tulisan Indonesia ke makna-makna dalam bahasa lain, seperti Ass dalam bahasa inggris artinya “pantat” maka jadilah penyingkatan ini menjadi haram, bukan hanya makruh.
  • Demikian juga mungkin saja kata “SAW” dalam bahasa-bahasa yang lain bisa jadi bermakna buruk. Padahal mayoritas ulama hanya menyatakan hukumnya sekedar makruh dan tidak sampai pada derajat haram. Cobalah renungkan.

Kelima : Sering kita butuh pada singkatan-singkatan tersebut dalam menulis sms dalam rangka untuk menghemat biaya dan menghemat waktu. Karena sebagaimana kita ketahui bersama bahwasanya kecepatan mengucapkan (berbicara dengan lisan) lebih cepat daripada kecepatan pengungkapan dengan tulisan.

Keenam : Kita juga mendapati para ulama melakukan penyingkatan, seperti :

  • (نا) yang merupakan singkatan dari (حدثنا),
  • demikian juga misalnya kata (بسملة) yang merupakan singkatan dari (بسم الله الرحمن الرحيم),
  • juga kata (حمدلة) singkatan dari (الحمد لله),
  • juga kata (حيفلة) singkatan dari (حي على الفلاح)
  • juga kata (حولقة) yang merupakan singkatan dari (لا حول ولا قوة إلا بالله).

Ketujuh : Diriwayatkan bahwsanya sebagian ahlil hadits menuliskan kata “Nabi” tanpa menuliskan (صلى الله عليه وسلم), akan tetapi hanya mencukupkan mengucapkan sholawat kepada Nabi dengan lisan tidak dengan tulisan. Jika perkaranya dibolehkan maka tentu menulis singkatan sholawat dalam rangka untuk mengingatkan pembaca agar bersholawat juga dibolehkan. Wallahu A’lam bis Showaab.

  1. Contoh dari kitab kitab salaf (klasik) yang menyingkat lafal salam atau shalawat

-photo

  1. Jenis Komunikasi dan Hakekatnya

A.Komunikasi Baku risalah

Komunikasi baku risalah adalah komunikasi klausual (bahasa hukum) yang diterapkan penulisan maupun pengucapannya tertulis dan tersusun sempurna menurut kaidah tata bahasa baku dan resmi serta orisinil dari sumber asalnya. Sehingga ketika hendak disalin atau digandakan guna kepentingan rujukan atau pustaka, maka tidak boleh ada distorsi barang satu hurufpun.

Jenis komunikasi baku:

  1. Ayat ayat Al-Qur’an
  2. Klausul Hadits
  3. Kitab hukum dan undang undang
  4. Formula rumus maupun bahasa pemrograman.

 

B.Komunikasi Praktis percakapan

Komunikasi praktis percakapan adalah komunikasi dialektikal (bahasa gaul) yang dipengaruhi oleh budaya, kebiasaan maupun bahasa masing masing yang maksud dan tujuannya akan dimengerti dan dipahami oleh masing-masing.Jika jenis komunikasi praktis (gaul) dikaitkan dengan kaidah hukum baku syareat, seperti hujjah dalam selebaran tersebut, maka akan terjadi banyak kerancuan, ketidak nyambungan dalam komunikasi bahkan dapat menimbulkan konflik ataupun kesalah pahaman

Coba kita simulasikan, berikut :

*GANTI UCAPAN KITA DENGAN DOA.*

  1. Jangan ucapkan ‘0k’, ucapkan “In syaa Allah”(- اللَّهُ شَاءَ إِنْ -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Pak Eddy (Atasan si Anto): ”Anto, tolong antarin file karyawan ke saya”.

– Anto (Karyawan) : ” In syaa  Allah, Pak”.

Dari dialog tersebut, kira kira ’nyambung’ tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri. (apalagi di sosial media seperti chat).

  1. Jangan ucapkan “wow”, ucapkan “SubhaanAllah”(-  سُبْحَانَاللَّهُ  -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Arman (Kekasih Anna): ”Sun dwong yang”.

– Anna (Kekasih Arman) : ” SubhaanAllah”.

Dari dialog tersebut, kira kira ’nyambung’ tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “hebat”, ucapkan “Maa syaa Allah” (- مَاشَآءَاللّهُ -).
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Fina (Anak): ”Ibu, Fina udah bisa jawab soal nomer 5”.

– Sukesih (Ibunda Fina) : Maa syaa Allah”.

Dari dialog tersebut, kira kira ’pas’’ tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “saya baik2 saja”, ucapkan “Allhamdulillah” (- الْحَمْدُاللَّهُ  -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Narto (Kawan Fredi): ”Di, kamu lolos ga dari kejaran polisi, jangan lupa hasil jambretan bagi dua”.

– Fredi (Kawan Narto) : Allhamdulillah aman, tenang aje”.

Dari dialog tersebut, kira kira patut tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “Terimakasih”, ucapkan “Jazaka (ki,kumu) llahu Khairan” (- خَيْرًا اللهُ جَزَاك -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online antara Toko online dengan customer melalui chat box online, seperti ini dialognya :

– Pembeli online: ”konfirmasi, saya pesan prodak no 345 dengan pembayaran COD”.

– Toko online : ” Jazakallahu Khairan”, telah bertransaksi dengan kami, pesanan anda akan segera diproses.

Dari dialog tersebut, kira kira pas tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “Hati2 ya…sampai jumpa”, ucapkan “Fii Amanillah”(- اللَّهُ أَمَانِ فِي -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi, seperti ini dialognya :

– Arini (teman Susi): ”Susi, dah dulu ya, gue mo klabing dolo”.

– Susi (teman Arini) : ” Fii Amanillah”.

Dari dialog tersebut, kira kira patut tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “.Hello, halo, hai, woi, dsb”, tapi ucapkan “Assalamu alaikkum Warahmatullah” (- اللهِ وَرَحْمَةُ عَلَيْكُمْ السَّلاَمُ -)
    • Jawab :
  • Frasa kata “Assalamu alaikkum Warahmatullah” terdiri dari 29 huruf dan butuh waktu 29 detik untuk mengetiknya (bisa lebih jika anda masih memikirkan ejaan ataupun typo dalam menulisnya). Saat anda sedang dalam situasi darurat dan harus segera menghubungi seseorang melalui media sosial, maka berkomunikasi dengan mode pengetikan sejumlah 29 huruf serta menghamburkan waktu selama 29 detik itu akan membuat anda sakit hati sebab kehilangan momen penting. Sedang jika menggunakan frasa kata ”Halo”, maka cukup tekan 4 huruf dan dalam 1 detik pesan anda sampai.
  • Lainnya, bagaimana jika ada linteraksi komunikasi antara orang Indonesia dengan orang asing (bule), seperti ini dialognya :

– Fendi berkenalan dengan orang asing dan memulai percakapannya :

””Assalamu alaikkum Warahmatullah””.

Dari dialog tersebut, kira kira efektif dan pas tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Cobala renungkan akan semua ini.

Berikutnya, mari kita membahas kalimat selebaran yang ini.

“Mari kita sama-sama membetulkan : Aamiin, In Syaa Allah , dan Menyingkat kata Assalamu’alaikum”.

Dalam bahasa Arab ada 4 kata amin yg berbeda makna :

  • – Amin = Aman
  • – Aamin = Meminta perlindungan
  • – Amiin = Jujur
  • – Aamiin = Ya Allah, kabulkanlah do’a kami

–           Jawab :

Literatur dan kaidah tata bahasa Arab dengan bahasa Indonesia sangat jauh berbeda. Saat frasa kata ”amin” ( أَمِيْنٌ) dalam huruf Arab yang mengandung berbagai makna jika dengan ditandai harakat, maka kata amin dalam bahasa Indonesia tetap satu kata ”A-M-I-N”. Orang Indonesia tidak akan ambil pusing dengan multi makna kata tersebut, sebab telah familier lafal itu sebagai ucapan sautan dalam shalat dan pembacaan do’a. Sehingga ketika ada tulisan amin tersebut, secara otomatis sudah dipahami maksud dan kapan diucapkan.

Baik, guna menambah pengetahuan, berikut kita bahas multi makna ”amin”  ( أَمِيْنٌ) dalam tata bahasa Arab, yang dilafalkan oleh bangsa Arab dan dipahami oleh orang serta dialek lokal Arab (ingat, kita orang dan bangsa Indonesia yang berdialek dan berbahasa Indonesia, tak perlu menjadi Arab)

Ada beberapa multi makna untuk kata  “Aamiin“.( أَمِيْنٌ), yang biasa kita dengar dan ucapkan dalam shalat, sebagai berikut:

Ada yang menjabarkan sebagai berikut:

  1. Amin (alif dan mim sama-sama pendek), artinya Aman, Tentram
  2. Aamin (alif panjang & mim pendek), artinya Meminta Perlindungan Keamanan
  3. Amiin (alif pendek & mim panjang), artinya Jujur Terpercaya
  4. Aamiin (alif & mim sama-sama panjang), artinya Ya Allah, Kabulkanlah Do’a Kami

Ada yang menjabarkan sebagai berikut:

  1. أَمِيْنٌ(a:pendek, min:panjang), artinya ‘orang yang amanah atau terpercaya’.
  2. أٰمِنْ(a:panjang, min:pendek), artinya ‘berimanlah’ atau ‘berilah jaminan keamanan’.

Ketika shalat, kita tidak boleh membaca “Amin” dengan dua cara baca di atas.

  1. آمِّيْنَ(a:panjang 5 harakat, mim:bertasydid, dan min: panjang), artinya ‘orang yang bermaksud menuju suatu tempat’.

Ada sebagian ulama yang memperbolehkan membaca “Amin” dalam shalat dengan bentuk bacaan semacam ini. Demikian keterangan Al-Wahidi. Imam An-Nawawi mengatakan, “Ini adalah pendapat yang sangat aneh. Kebanyakan ahli bahasa menganggapnya sebagai kesalahan pengucapan orang awam. Beberapa ulama mazhab kami (Mazhab Syafi’i) mengatakan, ‘Siapa saja yang membaca ‘Amin’ dengan model ini dalam shalatnya maka shalatnya batal.’” (At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, hlm. 134)

  1. أٰمِيْنَ(a:panjang 2 harakat karena mengikuti mad badalmin:panjang 4–6 harakat karena mengikuti mad ‘aridh lis sukun, dan nun dibaca mati), artinya ‘kabulkanlah’. Inilah bacaan “Amin” yang benar.

Read more https://konsultasisyariah.com/5467-lafal-amin-yang-benar.html

Itu lafal dalam bahasa Arab, yang merupakan lafal tetap (kalimat pasal) dalam ayat atau klausul dalam rangkaian hadits yang penjabaran serta multi maknanya diterapkan menurut fungsi dan tempatnya masing masing. Sesuai penjabaran dan penggunaan makna ‘amin’ yang telah diurai diatas yaitu mana amin yang digunakan dalam shalat, mana amin yang digunakan dalam dalil dan penerapan lainnya. Sedang ini adalah interaksi sosial, bahasa chating ataupun gaul, dalam bahasa Indonesia oleh komunitas orang Indonesia, maka tidak bisa dikaitkan dengan kaidah baku perdalilan maupun per-fiqih-an. Sebab ketika orang menulis kata amin (dalam bahasa Indonesia), entah mau dipanjangin atau bentuk pendek maka orang akan tahu maksudnya tanpa harus ‘ribet’ mengkaitkan multi makna amin yang digunakan untuk klausul hadits.(hidup kok ruwet kadang orang).

Coba jika kita simulasikan, sebagai berikut:

Sedang terjadi dialog urusan bisnis antara Bos dengan karyawan, lalu mengkaitkan amin menurut kaidah kaidah baku perdalilan::

Karyawan kepada bosnya: “Bos, sukses selalu untuk bos”.

Bos kepada karyawannya:” Aamin”.

Karyawan merespon: “wah, jangan ‘a’ panjang:bos aminnya, itu artinya meminta Perlindungan Keamanan.

Bos kepada karyawannya:”Ribet loeh….. saya pecat kamu”.

Bahasan berikutnya tentang pemahaman:

”Kita seharusnya tidak menulis’:*Insya Allah* = Menciptakan Allah (naudzubillah).

Tapi pastikan kita menulis :*In Syaa Allah =  dengan izin Allah.

Jawaban sama seperti uraian diatas:

Bahwa itu lafal dalam bahasa Arab, yang merupakan lafal tetap (kalimat pasal) dalam ayat atau klausul dalam rangkaian hadits yang penjabaran serta multi maknanya diterapkan menurut fungsi dan tempatnya masing masing. Sesuai penjabaran dan penggunaan makna ‘In Syaa Allah’ yang telah diurai diatas yaitu mana In Syaa Allah yang digunakan dalam ayat, mana In Syaa Allah yang digunakan dalam dalil dan penerapan lainnya. Sedang ini adalah interaksi sosial, bahasa chating ataupun gaul, dalam bahasa Indonesia oleh komunitas orang Indonesia, maka tidak bisa dikaitkan dengan kaidah baku perdalilan maupun per-fiqih-an. Sebab ketika orang menulis kata In Syaa Allah (dalam bahasa Indonesia), entah mau dipisah atau bentuk pendek bahkan typo, maka orang akan tahu maksudnya tanpa harus ‘ribet’ mengkaitkan multi makna Insyaa Allah yang digunakan untuk klausul hadits.(hidup kok ribet kadang orang).

Bahasan berikutnya tentang pemahaman:

Assalamualaikum, jangan disingkat karena ;

  1. As = Orang bodoh ; keledai
  2. Ass = Pantat
  3. Askum = Celakalah kamu
  4. Assamu = Racun
  5. Samlekum = Matilah kamu
  6. Mikum = dari bahasa Ibrani, Mari Bercinta.

Salam pendek, Salam sedang dan Salam panjang telah dicontohkan oleh Nabi  dan tidak merubah  makna aslinya :

  • *Salam pendek* : “Assalamualaikum”. (Dengan 10 kebaikan).
  • *Salam sedang* : “Assalamualaikum warahmatullah”. (Dengan 20 kebaikan).
  • *Salam panjang* : “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. (Dengan kebaikan sempurna).

Jawaban sama seperti uraian diatas:

Bahwa itu lafal dalam bahasa Arab, yang merupakan lafal tetap (kalimat pasal) dalam ayat atau klausul dalam rangkaian hadits yang penjabaran serta multi maknanya diterapkan menurut fungsi dan tempatnya masing masing. Sesuai penjabaran dan penggunaan makna As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum, Mikum dan sebagainya,.seperti yang telah diurai diatas yaitu mana As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum yang digunakan dalam ayat, mana As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum yang digunakan dalam dalil dan penerapan lainnya. Sedang ini adalah interaksi sosial, bahasa chating ataupun gaul, dalam bahasa Indonesia oleh komunitas orang Indonesia, maka tidak bisa dikaitkan dengan kaidah baku perdalilan maupun per-fiqih-an. Sebab ketika orang menulis kata As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum (dalam bahasa Indonesia), entah mau dipisah atau bentuk pendek bahkan typo, maka orang akan tahu maksudnya tanpa harus ‘rumit’ mengkaitkan multi makna frasa kata tersebut yang digunakan untuk klausul hadits.

Jika modelnya mau dikait kaitkan, maka ketahuilah dalam Al-Qur’an terdapat lafal lafal yang jika dikaitkan dengan bahasa lain akan bermakna negatif, contoh sebagai berikut:

  1. Dalam Al-Qur’an terdapat: lafal : “asu”, artinya: Timur,keelokan, padahal dalam bahasa Jawa bermakna anjing. Kemudian,
  2. La tai-asu min rahmatillah,” اللهرحمة من تيأسوا لا “(Janganlah kalian putus asa dengan rahmat Allah). padahal dalam bahasa Jawa bermakna kotoran anjing.
  • MASALAH TYPO
  1. Arti typo:

Typo berasal dari Bahasa Inggris “type” yang artinya mengetik. Karena salah dalam mengetik, tulisannya menjadi typo. Maka arti dari typo sendiri adalah “salah ketik”. (Sebagian orang yang belum mengetahui istilah typo, biasanya menyebutnya ”saltik”.

  1. Pendapat para ahli psikologi bahasa tentang typo

Menurut penelitian para ahli psikologi bahasa dan ilmu kognitif manusia dari Universitas besar dan internasional, urutan huruf dalam kata tidak penting. Cukup huruf pertama dan terakhir yang ada pada tempatnya. Kalimat bisa ditulis berantakan, tetapi kita dapat membacanya dan menangkap maksudnya. Ini disebabkan karena sistim syaraf otak ktia tidak membaca huruf per huruf, bukan kata per kata, melainkan rangkaian kalimat yang dibacanya sejak interaksi dari awal. (kelenjar syaraf di otak akan menangkap maksud pembicaraan, bukan pada hurufnya). Ini memang hal yang luar biasa.

Kecenderungan terjadi typo saat mengetik.

Kadang sering kita tidak menyadari adanya kesalahan saat mengetikkan sesuatu. Maka menurut penelitian para ahli, hal demikian itu normal.

Saat anda menuliskan kalimat di papan keyboard handphone atau komputer untuk membalas sebuah pesan atau mengetik tulisan, anda merasa telah menyusunnya sedemikian rupa sehingga maksud pesan yang disampaikan dapat segera terbaca oleh penerima dan merasa bisa dipahami.

Namun saat tulisan anda sampai ke benak pembaca, justru yang mereka dapati adalah serangkaian kalimat dan atau tulisan yang tidak berurutan hurufnya dalam satu kata, alias salah ketik seperti ilustrasi di atas.

Bagi sebagian orang, typo kadang menyebalkan hingga membuat mereka akan mengesampingkan maksud tulisan yang anda tuangkan, atau membuat tulisan anda tak selesai dibaca dan hanya menjadi sampah digital yang sia sia.

Dan bagi sebagian lainnya, tyipo hanya membuat orang membuang waktunya sedikit untuk mengernyitkan dahi sejenak mencerna maksud tulisan typo tersebut, untuk kemudian baru bisa dimengerti.

Kemudian bagi sebagian lainya yang telah familier dengan dunia interaksi media sosial, maka tulisan typo bukanlah persoalan, sehingga cepat direspon. Bahkan dengan balasan balik yang penuh typo juga.

Dalam hal ini bergembiralah anda    karena ada penjelasan untuk hal tersebut dan ada pembelaan ketika Anda justru sangat sulit menemukan kesalahan dalam tulisan Anda sendiri.

Menurut seorang pakar psikologi bahasa yang juga dilansir oleh kumparan.com*,

Dr Tom Stafford, adalah peneliti di bidang psikologi dan ilmu kognitif manusia yang juga menjadi pengajar di Universitas Sheffield, Inggris telah melakukan penelitian secara khusus tentang eror atau kekeliruan dalam sebuah tulisan.

“Ketika Anda sedang menulis, Anda tengah berusaha untuk menyampaikan sebuah pesan. Sebuah makna. Dan itu adalah pekerjaan tingkat tinggi,” katanya, dilansir dari Business Insider.

Ia mengatakan, bahwa kegiatan menulis memaksa seseorang untuk secara bersamaan melihat segalanya sebagai “percampuran antara data pasti yang diterima sensor indera dan ekspektasi kita akan suatu hal”.
Read more at https://kumparan.com/tio/mengapa-kita-tidak-sadar-melakukan-typo#Qy2LLE68DHpcpvVt.99

Sederhananya, kita sulit menyadari adanya suatu kesalahan karena pikiran kita telah terpaku pada bayangan ideal tentang apa yang kita tulis.

“Ini terjadi setiap saat. Masalahnya adalah persepsi. Kesalahan ketik kita akan sangat sulit untuk disadari, murni karena kita tahu apa yang kita maksud di tulisan kita. Dan ini menghalangi pembacaan sensorik atas apa yang benar-benar telah kita tulis,” jelas peneliti asal Inggris tersebut.

Bahkan menurutnya, bukan hanya penulis yang akan kesulitan menyadari kesalahan ketik. “Semakin pembaca paham akan isi tulisan Anda, semakin ia terfokus pada makna dan pesan dari tulisan itu. Ia akan cenderung mengabaikan detail-detailnya, seperti typo,” ujarnya.

Berbeda dengan menulis secara tradisional dengan pena, mengetik membutuhkan kelihaian motorik yang lebih tinggi. Kemudahan yang ditawarkan dengan teknologi pengetikan juga membawa ancaman kesalahan tulis yang lebih tinggi.

“Dalam tulisan tangan prosesnya akan lebih sulit (untuk melakukan typo). Ini dikarenakan ‘urutan’ huruf dalam sebuah kata telah tersimpan dalam benak dan kemampuan motorik kita secara lebih mendalam,” katanya menjelaskan sedikitnya typo di tulisan tangan.

Pemisahan secara fisik dari huruf-huruf di teknologi pengetikan modern membuat kesalahan urutan huruf-huruf dalam sebuah kata lebih mudah dilakukan.

“Sangat langka Anda melakukan kesalahan urutan huruf dalam sebuah kata. Itu karena otak Anda mempersiapkan kata-kata dengan lebih mendalam, karena Anda akan lebih pelan ketika menulis tangan,” ujarnya.

“Berbeda dengan menggunakan mesin. Huruf per huruf dipisah, memungkinkan kesalahan lebih sering dilakukan karena Anda harus memproses lagi huruf mana yang didahulukan dari huruf lainnya,” lanjutnya lagi.

Bagaimana Cara Menghindarinya?

Sayangnya, tidak semua dari kita memiliki tim editing yang akan memeriksa kesalahan yang kita buat. Meski begitu, tips ini mungkin bisa Anda coba.

  • Salah satunya adalah dengan beranjak sejenak dari tulisan tersebut dan menghabiskan beberapa waktu sebelum membacanya ulang. Otak Anda, menurut Stafford, akan lebih segar dan lebih mudah untuk menyadari adanya kesalahan.
  • Yang kedua adalah membacanya dengan keras-keras. Suara akan didengar oleh telinga Anda, yang tentunya akan menyadari kesalahan dalam suatu tulisan. Anda juga cenderung akan menyadari kesalahan sebelum mengatakannya keras-keras.
  • Yang terakhir adalah membuat orang yang ada di sekeliling Anda, terutama yang tidak paham akan isi tulisan, untuk membacanya kembali dengan suara yang terdengar. Ini akan memaksanya membaca dengan lebih hati-hati karena ia tidak memiliki bayangan ideal tentang pesan dari tulisan Anda.

Lembaga dan media profesional yang tak luput terjadi typo

Typo atau pengetikan salah tidak hanya dilakukan oleh orang orang umum. Lembaga resmi atau media terkenalpun acapkali mengalami hal typo dalam pengetikan dan terlanjur tayang dalam siarannya.

Beberapa contoh sebagai berikut :

Typo-yang Terpublikasi Oleh TV One:

TYPO-TVONE

Lesmana (2015)

 

  1. Jangan menyengaja typo

Namun demikian kita jangan serta merta sengaja typo. Mentang mentang suatu kewajaran akhirnya kita sengaja typo disetiap komunikasi melalui tulisan / ketikan.

“Kmpert luo, ……gw dkdalni, …..swueek…”

Sebab mengapa? Karena kadang kita menghadapi komunikasi dengan orang yang majemuk latar belakang intelektualitasnya. Ada yang paham ada yang tidak paham. Ada yang familier ada yang ’gapfek’. Jika kita menemui orang yang tidak mengerti pembicaraan / dialog, maka typo akan menjadi masalah, baik memunculkan ketersinggungan, salah paham dan lain sebagainya, sehingga komunikasi menjadi tidak efektif alias tidak menyambung.

  1. KESIMPULAN

Dengan demikian, well sobat ikhwan fillah, kita semua sedang membicarakan tentang perkara praktis dalam dunia komunikasi yang multi dialek dan karakter orang. Diluar orang itu benar atau salah, diluar orang itu bodoh afau pintar. Jadi, berfikirlah yang simpel, mudah dan luas. Jangan kita persulit, dibuat ruwet dan disempitkan dengan agumentasi mendasari serangkaian dalil cangkang. Ini katagori fiqih praktis bung, Oom, mbak, teteh, pak de, pak lek. Yang disana esensinya adalah menjabarkan ,menafsyirkan ayat ayat Ilahi dengan berbagai multi pendapat (ikhtilaf) dan argumentasi, yang kesemuanya dipengaruhi oleh latar belakang keilmuan para pen-tafsyirnya, oleh ruang, waktu dan peradaban. Oleh karena itu janganlah perkara praktis interaksi komunikasi dengan dialek dan bahasa lokal masing masing atau menurut caranya masing masing ini dikaitkan dengan kaidah sunnah, hadits, dalil ini dalil itu  atau lebih menggelikan lagi dikaitkan dengan aqidah. Sedang kita sendiri kebanyakan tidak mengerti apa makna aqidah itu sendiri.

Untuk kita renungkan:

  1. Keadaan Salam, Shalawat dan sejenisnya yang dibolehkan dengan disingkat :
  • Hanya terjadi dunia interaksi komunikasi publik dan media sosial (sosmed).
  • Penulisan dalam mukadimah, surat, catatan kaki.
  1. Keadaan Salam, Shalawat dan sejenisnya yang tidak dibolehkan dengan disingkat dan typo:
  • Pembuatan, pencetakan ayat Al-Qur’an, Hadits.
  • Klausul untuk undang undang.
  • Formula rumus dan bahasa pemrograman.
  1. Orang yang familier dengan karakter tulisan akan tahu maksud tulisan walaupun disingkat, walaupun typo. (Apalagi anda yang doyan chating di medsos)
  2. Ayat ayat Al-Qur’an pun pada mulanya tampil dalam keadaan gundul, polos, mentah seperti bentuk simbol dan karakter mentah, dan asalnya pun qalamullah dalam wujud transkrip agung yang ter-encrypt (penuh singkatan dan maha kode kode).(ayat)
  1. Maka janganlah kita mudah terjebak dengan penghakiman buruk (takfiri) atas datangnya sebuah tulisan, bacaan dan opini, yang dibungkus dengan serangkaian klausul dalil secara literal (cangkang).(ayat) 
  1. Jangan mudah membagi tulisan yang kita tidak mengetahui / mengerti hukum maupun hakekat kebenarannya, alias jangan mudah mengimani suatu berita tanpa tahu kebenarannya.(ayat)
  1. Dan pada pemikiran secara global, maka janganlah kita men-Tuhankan dalil, agama, kebendaan dan sosok.

Demikian saudaraku kaum muslimin dan muslimat, semoga menjadikan spirit untuk menuju dan menjadi umat terbaik, cerdas, luas cakrawala benaknya dan menjadi bagian dari golongan Insan Kamil (intelek).

“Kita mesti telanjang dan benad benar bersih, suci lahir dan di dalam batin”(Abid Ghoffar Aboe Dja’far-1977)

Semoga menjadikan keluasan fikir.

Salam cahaya-Nya

Kelana Delapan Penjuru Angin,

MAJELIS DZIKIR AS-SHALIHIN

MASJID BAITUT TAIBIN

PREMBUN KRANGGAN

‎‎Published on:26 ‎Desember ‎2017, ‏‎1:55:18

Created:28 ‎Nopember ‎2017, ‏‎7:53:38
‎Modified:25 ‎Desember ‎2017, ‏‎21:59:18
‎Accessed:25 ‎Desember ‎2017, ‏‎21:59:18

CopyRights@2017

——0o0—–

DAFTAR RUJUKAN:
*Apresiator. (23 Mei 2014). Mengenal Bahasa Prokem A.K.A Bahasa Gaul (BonusKamusnya Gan).
Forum Kaskus
.(http://www.kaskus.co.id/thread/537e41a6c2cb176b178b4582/mengenal-bahasa-prokem-aka-bahasa-gaul-bonus-kamusnya-gan/), diakses pada 28Desember 2015.Departemen Pendidikan Nasional. (2008).
Kamus Besar Bahasa Indonesia
 (Keempat ed.). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Jawalsen, R. (2012).
 Dasar Negara Diganti, Kehidupan Berbangsa Bubar 
,(http://jaringnews.com/politik-peristiwa/wakil-rakyat/16019/dasar-negara-diganti-kehidupan-berbangsa-bubar), diakses pada 27 Desember 2015.Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional. 2009.
Peraturan MenteriPendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2009 tentangPedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan.
 Jakarta:Pusat Bahasa Kemdiknas.Keraf, G. (1980).
Komposisi.
 Flores: Percetakan Arnoldus Ende.Kurosaki, M. N. (2012).
 Makalah Efesiensi Bahasa Indonesia
,(http://nurkurosaki.blogspot.co.id/2012/11/makalah-efesiensi-bahasa-indonesia.html), diakses pada 31 Desember 2015.Kusno, G. (2015).
KBBI Ternyata Tidak Konsisten dengan Kaidahnya
,(http://www.kompasiana.com/gustaafkusno/kbbi-ternyata-tidak-konsisten-dengan-kaidahnya_552e21d76ea83492068b4588), diakses pada 27Desember 2015.Lesmana, I. (2015).
Kumpulan Typo TV One Kocak 
, (http://www.blog-netizen.com/kumpulan-typo-tvone-kocak/), diakses pada 26 Desember2015.Namakume. (2014).
Pengertian Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar 
,(http://media-online.id/2014/08/bahasa-indonesia-yang-baik-dan-benar.html), diakses pada 29 Desember 2015.Ningsih, D. L. (2015).
 Lima Salah Ketik “Typo” Sederhana Berakibat Bencana
,(http://m.log.viva.co.id/news/read/673709-lima-salah-ketik–typo–sederhana-berakibat-bencana), diakses pada 27 Desember 2015.
18Nizbah, F. (2013).
Pengertian Masalah Menurut Para Ahli
,(http://faizalnizbah.blogspot.co.id/2013/10/pengertian-masalah-menurut-para-ahli.html), diakses pada 31 Desember 2015.Peretasputih. (08 November 2013). [SHARE] Bahasa Gaul yang Ente Tau (WithUpdate).
Forum kaskus
,(http://www.kaskus.co.id/thread/527cd11bbdcb179213000005/share-bahasa-gaul-yang-ente-tau-with-update/), diakses pada 28 Desember 2015.Priyanto, I. J. (2008).
 Mengaji dan Mengkaji
,(https://pustakabahasa.wordpress.com/2009/01/22/mengaji-dan-mengkaji/), diakses pada 27 Desember 2015.Puspitarini, M. (2012).
 Asal Usul Perkembangan Bahasa Alay
,(http://news.okezone.com/read/2012/11/28/373/724664/asal-usul-perkembangan-bahasa-alay), diakses pada 28 Desember 2015.Rangkuti, A. F. (2015).
 Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar, Seperti ApaSih?
 (http://www.kompasiana.com/annisa_rangkuti/berbahasa-indonesia-yang-baik-dan-benar-seperti-apa-sih_5517c59fa33311bc06b66303),diakses pada 31 Desember 2015.Rusdi12. (06 Juni 2012). Pancasila Diganti, Indonesia Bisa Bubar
. Forum Detik 
,(http://forum.detik.com/pancasila-diganti-indonesia-bisa-bubar-t436510.html), diakses 27 Desember 2015.Rusyanti, H. (2013).
Pengertian Bahasa Menurut Ahli?
 (http://www.kajianteori.com/2013/03/pengertian-bahasa-menurut-ahli.html), diakses pada 29 Desember 2015.Sativa, R. L. (2012).
 Hati-hati, Sring Typo Saat Ngetik SMS Bisa Jadi PertandaStroke
,(http://health.detik.com/read/2012/12/28/170809/2129091/763/hati-hati-sering-typo-saat-ngetik-sms-bisa-jadi-pertanda-stroke), diakses pada 28Desember 2015.Suyudi, I.
Pengantar Linguistik Umum.
 Depok: Penerbit Gunadarma.Widyartono, D. (2015).
 Bahasa Indonesia Riset: Panduan Menulis Karya Ilmiahdi Perguruan Tinggi
 (Revisi ed.). Malang: Universitas Negeri Malang.

 

Iklan
BURAQ, SYMBOL PESAWAT ANTAR GALAXY, ANTAR LANGIT  DENGAN KECEPATAN MAHA CAHAYA, TEKNOLOGI SANG MAHA KARYA

BURAQ, SYMBOL PESAWAT ANTAR GALAXY, ANTAR LANGIT DENGAN KECEPATAN MAHA CAHAYA, TEKNOLOGI SANG MAHA KARYA

PENGGAMBARAN BURAQ KENDARA ISRA’ MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW YANG DIVISUALISASIKAN DALAM BENTUK HEWAN KELEDAI , TERLALU DANGKAL DAN CENDERUNG MENYESATKAN

buraq (2)
NABI MUHAMMAD SAW TIDAK PERNAH MENYATAKAN RUPA BURAQ SEBAGAI  SOSOK ‘HEWAN KELEDAI’ DALAM PERJALANAN ISRA’ MI’RAJ DARI MASJIDIL HARAM HINGGA SIDRATIL MUNTAHA.

KONTROVERSI BURAQ KENDARA ISRA’ MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW

Penggambaran Buraq yang merupakan kendaraan pembawa Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan Isra’ Mi’raj dari bumi menuju ke lingkar luar langit lapis ke tujuh jika diartikan secara harafiah (mentah) menurut hadits yang ada, maka akan menghasilkan analogi Buraq sebagai hewan tunggangan berupa kuda, keledai, kambing dan lain lain. Bahkan akhirnya malah menjadi bahan pelecehan / ejekan oleh golongan kafir yang melukis / menggambarkan sebuah Buraq itu sebagai keledai tunggangan berkepala wanita cantik. Sungguh dangkal nian intelektualitas kekinian kita jika turut larut dengan konotasi yang demikian.

buraq

Note:

 Shorter Encyclopedia of Islam karya Hamilton Alexander Rusken Gibb dan J. H. Kramers yang diterbitkan oleh penerbit E. J. Brill – Leiden – Belanda dan Luzac and co – London – Inggris tahun 1961, jilid I halaman 65. Nama Buraq dikaitkan dengan Barqun yaitu lightning (kilat / cahaya).

Dalam rilis berikutnya, Gibb dan Kramers mengutip T. W. Arnold di dalam bukunya painting in Islam (Oxford, 1928) mengatakan: There are long descriptions of Buraq, who is represented as a mare with a woman’s head and peacock’s tail (dalam waktu yang lama Buraq dipaparkan sebagai sesuatu yang mewakili seekor kuda betina dengan kepala seorang perempuan dan dengan ekor burung merak). Gerardy Saintine dalam bukunya trios ans en judèe (Paris, 1860)menyebutkan bahwa di dalam mesjid al-Shakhra di Yerusalem ada sebuah batu yang diziarahi yang dipandang sebagai saddle Buraq.

Kesimpulan bahwa Buraq versi hadis-hadis Nabi SAW sangat berbeda dengan Buraq versi non islam / Yahudi.

Sebagai seorang muslim kini yang telah dianugerahi kenikmatan oleh Allah Swt dengan mengalami hidup diperadaban teknologi maju dan dijital, tentunya kita hanya meyakini Buraq yang di ceritakan oleh Nabi SAW saja dan tidak yang selain itu, dalam mengartikulasikan keberadaan Buraq dengan menggunakan akal logika intelektualitas keilmuan modern.

Sehingga dalam mengartikulasikan sosok Buraq sebagai alat kendara Isra Miraj Nabi Muhammad SAW tidak sedangkal itu. Paragraf Haditsnya tentu tidak ada yang salah, kita sendiri yang salah dalam memahaminya serta mengartikulasikannya.

Sementara yang harus perlu diketahui oleh umat kini, bahwa penggambaran tentang bentuk fisik Buraq masih terjadi ikhtilaf (perbedaan pendapat) di kalangan para Mufatsir, alim ulama. Hingga saat ini, belum ada yang dapat memastikan bagaimana sebenarnya rupa Buraq itu.

Sedangkan sejumlah riwayat shahih hanya menyebutkan tentang ukuran. Mengutip tulisan DR. H. Zulkarnain, MA, Mari kita perhatikan kalimat haditsnya:

Di dalam hadis riwayat Imam Muslim yang nama lengkapnya al-Imam abi al-Husein Muslim ibn Hajjaj ibn Muslim al-Qusyairi al-Nisaburi, (Dalam kitabnya al-Jami’ al-Sahih juz I halaman 99,

Bersumber dari sahabat Anas bin Malik, ia berkata: adalah Rasulullah SAW. bersabda:

“Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu dabbah yang berwarna putih (abyadh), bertubuh panjang (thawil), lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dan sekali ia menjejakkan kakinya yang berkuku bergerak sejauh mata memandang”.

Dari redaksi dalil diatas, silahkan cermati kalimat pernyataan Nabi Muhammad SAW: “Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu dabbah. bahwa beliau tidak mengatakan Buraq itu sebagai للحيوانات  -Al-Hayawanah (hewan :kuda, keledai, baghal atau lainnya), tetapi dengan kosa kata dabbah.

Maa adrakamaa dabbath (Apakah Dabbath itu)?

Mari perhatikan makna dabbath dari dalil induknya yakni Al-Qur’an, sebagai berikut:

  1. Dalam Qs. 42. Asy Syuura:29:

“Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan DABBATH (makhluk-makhluk yang melata) Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya”.

  1. Dalam Qs. 8. Al Anfaal:22:

“Sesungguhnya DABBATH (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli, yang tidak mengerti apa-apapun”.

Dari konteks ayat ayat di atas bahwa kosa kata Dabbah adalah benda hidup / makhluk yang berada pada samawat (langit) dan Ardh (bumi). Ingat makna makhluk = benda jamak, ciptaan Allah. Sementara tafsyir dalam bahasa Indonesia sepertinya sulit untuk mengejawantahkan itu, sebab keterbatasan perbendaharaan bahasa sehingga dabbath lebih diringkas pengertiannya dengan terjemahan ’hewan melata’.

Dengan demikian makna luas dabbath itu tidak hanya terbatas berkonotasi binatang saja.

Kesimpulan sekali lagi dari beberapa ayat diatas bahwa Dabbah tidaklah sekedar Binatang Melata saja akan tetapi Dabbah ialah seluruh jenis MAHLUK YANG BERAKTIFITAS, CIPTAAN ALLAH SWT YANG MENEMPATI ALAM, RUANG DAN WAKTU MASING MASING ” (termasuk MANUSIA dan benda semesta lainnya).

Menurut seorang ulama terkemuka dari kalangan mazhab Syafi’I dalam hal ini adalah Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi yang dikenal dengan sebutan Imam al-Nawawi di dalam kitabnya Sahih Muslim bi Syarhi al-Nawawi, jilid I, halaman 170-171 menerangkan tentang Buraq, bahwa menurut ahli bahasa Buraq adalah nama ‘hewan’ yang dikendarai Rasulullah SAW pada malam Isra’ dan Mi’raj.

Menurut Imam al-Nawawi, mengutip al-Zubaidi di dalam kitabnya Mukhtasharul ‘ain dan sahabat al-Tahriy, bahwa Buraq adalah ‘hewan’ yang digunakan oleh para nabi sebagai kendaraan mereka. Menurut Imam al-Nawawi, dikatakan Buraq untuk menggambarkan kecepatannya (lisur’atihi) dan dikatakan seperti itu karena sifatnya yang cepat seperti cahaya dan kilat. Sedangkan al-abyadh (putih) menurut Imam Nawawi adalah warna bulunya.

Imam al-Baihagi dalam kitab al-Dalail memuat hadis tentang Buraq melalui jalur sanad Abdurrahman dari Hasyim bin Hasyim bin ‘Utbah bin Abi Waqqas dari Anas bin Malik ia berkata, ketika Jibril datang dengan Buraq kepada Rasul SAW, di mana seolah-olah Buraq itu menegakkan telinganya, maka JIbril berkata kepada sang Buraq, “Wahai Buraq jangan begitu, demi Allah engkau tidak pernah dikendarai oleh seorang seperti dia”, kemudian Rasulullah SAW pun berangkat dengan Buraq itu.

Dalam hal ini, ibnu Dihyah dan al-Munir mengatakan bahwa Buraq sulit dikendarai karena ta’ajub dan gembira terhadap Nabi SAW yang akan mengendarainya (Tarikh al-Dimasyqi, karya Ibnu Asakir, jilid III, hlm 311).

Di dalam hadis yang lain Imam al-Baihaqi, melalui jalur periwayatan sahabat Abu Said al-Khudri, Nabi SAW bersabda:”Tiba-tiba ada ‘seekor hewan’ yang ‘menyerupai hewan’ kalian, yaitu baghal kalian ini, telinganya bergelombang (bergerigi)”.

Imam Jalaluddin al-Suyuti mengatakan, “Abu al-Fadhal bin Umar…. Dari Qonan bin Abdullah al-Nuhmi dari Abu Tibyan al-Janbi dari Abu ‘Ubaidah, yaitu Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, :

” Jibril mendatangiku dengan ‘seekor hewan’ yang tingginya di atas keledai dan di bawah baghal, lalu Jibril menaikkanku di atas hewan itu kemudian bergerak bersama kami, setiap kali naik maka kedua kakinya yang belakang sejajar dengan kedua kaki depannya, dan setiap kali turun kedua kaki depannya sejajar dengan kedua kaki belakangnya”.

(al-Said ‘Alawi al-Maliki al-Hasani di dalam kitabnya al-Anwar al-Bahiyyah min Isra’ wa Mi’raj Khair al-Bariyyah, halaman 111)

Jadi analogi Buraq saat zaman itu karena peradaban manusia belum mencapai teknologi modern seperti saat ini, (belum mengenal teknologi pesawat terbang, pesawat angkasa luar, dsb), yang hanya bisa menggambarkan Buraq menurut alam pikir peradaban terbatas saat itu.

(Ingat film berjudul The God must be crazy, dimana tokoh Nixau dari suku Kalahari yang belum mengenal peradaban maju melihat pesawat terbang dengan sebutan “burung”.

Hafiz Ibnu Hajar mengatakan,

“Bukan begal dan melebihi keledai putih.’ Demikianlah disebutkan dikarenakan ia adalah binatang tunggangan atau dengan melihat lafaz ‘buraq’. Hikmah penyifatan itu adalah sebagai isyarat bahwa orang yang menungganginya adalah dalam keadaan nyaman bukan dalam keadaan perang atau ketakutan. Atau pula untuk menampakkan mukjizat yang terjadi karena kecepatannya yang sangat cepat dengan menunggangi seekor binatang yang tidak pernah disifatkan dengan sifat seperti itu jika menurut keadaan normal.”

Maka sejatinya penggambaran Buraq oleh para periwayat yang ada saat itu merupakan bahasa ungkapan : ‘kira-kira’, ‘seperti’, ‘bagaikan’, yang mengartikan bahwa Buraq sebagai ‘hewan’, BUKAN MAKNA SESUNGGUHNYA.

Dengan demikian artinya, bahwa redaksi hadits yang menggambarkan Buraq dengan diterjemahkan sebagai sosok hewan, merupakan penggambaran yang disesuaikan dengan alam pikir akal manusia pada saat itu yang hanya mengenal jenis alat transportasi terbatas hanya pada binatang angkut, (kuda, onta, keledai, gajah, dsb). Bayangkan jika peradaban modern saat ini yang telah mengenal teknologi alat transortasi canggih telah dikenal pada zaman itu, tentu penggambaran tentang Buraq tidak akan demikian.

buraq

Maka menurut intelektual saint modern saat ini, akal manusia secara logika tidak akan menggambarkan Buraq itu sebagai sosok hewan seperti kuda / keledai, namun merupakan pesawat transformer antar galaxy, antar langit, dengan kecepatan maha super kecepatan cahaya, berteknologi maha canggih milik Allah swt, yang bukan jenis hewan.
Ingat kata ‘Buraq’ adalah kilat yang berkonotasi kecepatan, bukan pada bentuk penggambaran sosok hewan untuk tunggangan. (Bersambung……)

Semoga menjadi renungan

Salam Cahaya-Nya….

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Bogowati, 30 Rajab 1438 H

CopyRights@2017

Maraji:

Al-Qur’anul Karim Terjemah DEPAG RI

-BuraQ Menurut Hadist Nabi Muhammad SAW (Oleh: DR. H. Zulkarnain, MA)

-Risalah Ustadz Sigit Pranowo Lc-www.eramuslim.com

-Risalatun nabi Muhammad saw-K.H.M. Syamsuddin–Prembun

-Etc

SALAH KAPRAH BAHASA, MENGARTIKAN MAKNA IDUL FITRI

fitri

ARTI IDUL FITRI BUKAN “Kembali suci” ?

JUGA TAK SERTA MERTA : “bagai bayi yang baru dilahirkan, suci dari semua dosa” ! BENARKAH ?

Kita selama ini  memahami arti IDUL FITRI = “Kembali suci”, bahkan dari para pendakwah, sering menyuarakan, mengartikan idul fitri dengan “kembali suci”. Kata ‘IED diartikan dengan makna “kembali” dan FITRI diartikan sebagai “suci”.

Para pendakwah seringkali memberi kabar gembira kepada umat yang telah menyelesaikan ibadah selama ramadhan, bahwa pada saat idul fitri diri kita telah kembali suci, bersih dari semua dosa antara diri dengan Allah. Hingga ada dipadankan sebagai bayi yang baru dilahirkan (mengkaitkan hal ini karena ada kata, ‘Iedul fitri). Pecahan dari pemaknaan ini, sebagian masyarakat sering menyebut untuk tanggal 1 syawal dengan ungkapan ‘hari yang fitri’

Ikhwan fillah, mari kita gali dengan ilmu pengetahuan.

Terjadi dua kesalah kaprahan dalam mengartikan perkara tersebut diatas. Pertama, memaknai idul fitri dengan kembali suci, ini kesalahan lughawi, bahasa. Sedang Kedua, pemahaman bahwa ketika idul fitri, semua muslim suci/dosanya diampuni.

Berikut jabarannya :

Arti Idul Fitri secara Bahasa

Idul fitri berasal dari dua kata; id [arab: عيد] dan al-fitri [arab: الفطر].

Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu [arab: عاد – يعود], yang artinya kembali. Hari raya disebut ‘id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama. Ibnul A’rabi mengatakan,

سمي العِيدُ عيداً لأَنه يعود كل سنة بِفَرَحٍ مُجَدَّد

Hari raya dinamakan id karena berulang setiap tahun dengan kegembiraan yang baru. (Lisan Al-Arab, 3/315).

Ada juga yang mengatakan, kata id merupakan turunan kata Al-Adah [arab: العادة], yang artinya kebiasaan. Karena masyarakat telah menjadikan kegiatan ini menyatu dengan kebiasaan dan adat mereka. (Tanwir Al-Ainain, hlm. 5).

Berikutnya jabaran arti kata fitri.

Silahkan digaris bawahi bahwa kosa kata “fitri” TIDAK sama dengan “fitrah”. Fitri dan fitrah adalah dua kata yang berbeda. Beda arti dan penggunaannya. Namun, mengingat cara pengucapannya yang hampir sama, banyak kita umat/masyarakat indonesia menyangka bahwa itu dua kata yang sama. Berikut jabaran masing-masing:

Pertama, Kata Fitrah

Kata fitrah, Allah menyebutkan dalam Al-Quran,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

Hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (QS. Ar-Rum: 30).

Ibnul Jauzi menjelaskan makna fitrah,

الخلقة التي خلق عليها البشر

“Kondisi awal penciptaan, dimana manusia diciptakan pada kondisi tersebut.” (Zadul Masir, 3/422).

Dengan demikian, setiap manusia yang dilahirkan, dia dalam keadaan fitrah. Telah mengenal Allah sebagai sesembahan yang Esa, namun kemudian mengalami gesekan dengan lingkungannya, sehingga ada yang menganut ajaran nasrani atau agama lain. Ringkasnya, bahwa makna fitrah adalah keadaan suci tanpa dosa dan kesalahan.

Kedua, kata Fitri

Kata fitri berasal dari kata afthara – yufthiru [arab: أفطر – يفطر], yang artinya berbuka atau tidak lagi berpuasa. Disebut idul fitri, karena hari raya ini dimeriahkan bersamaan dengan keadaan kaum muslimin yang tidak lagi berpuasa ramadhan.

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan hal ini, diantaranya

  1. Hadis tentang anjuran untuk menyegerahkan berbuka,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يزال الدين ظاهراً، ما عجّل النّاس الفطر؛ لأنّ اليهود والنّصارى يؤخّرون

“Agama Islam akan senantiasa menang, selama masyarakat (Islam) menyegerakan berbuka. Karena orang yahudi dan nasrani mengakhirkan waktu berbuka.” (HR. Ahmad 9810, Abu Daud 2353, Ibn Hibban 3509 dan statusnya hadia hasan).

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تزال أمَّتي على سُنَّتي ما لم تنتظر بفطرها النّجوم

“Umatku akan senantiasa berada di atas sunahku, selama mereka tidak menunggu waktu berbuka dengan terbitnya bintang.” (HR. Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya 3/275, dan sanadnya shahih).

Kata Al-Fithr pada hadis di atas maknanya adalah berbuka, bukan suci. Makna hadis ini menjadi aneh, jika kata Al-Fithr kita artikan suci.

“Umatku akan senantiasa berada di atas sunahku, selama mereka tidak menunggu waktu berSUCI dengan terbitnya bintang”

Dan tentu saja, ini keluar dari konteks hadis.

  1. Hadis tentang cara penentuan tanggal 1 ramadhan dan 1 syawal

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ

“Hari mulai berpuasa (tanggal 1 ramadhan) adalah hari di mana kalian semua berpuasa. Hari berbuka (hari raya 1 syawal) adalah hari di mana kalian semua berbuka.” (HR. Turmudzi 697, Abu Daud 2324, dan dishahihkan Al-Albani).

Makna hadis di atas akan menjadi aneh, ketika kita artikan Al-Fithr dengan suci.

Hari suci adalah hari dimana kalian semua bersuci”.dan semacam ini tidak ada dalam islam.

Karena itu sungguh aneh ketika fitri diartikan suci, yang sama sekali tidak dikenal dalam bahasa arab.

Kembali Suci Seperti Bayi ? yang bagaimana ?

Konsekuensi dari kesalah kaprahan mengartikan idul fitri, yang dengan pemahaman bahwa idul fitri = kembali suci, banyak orang menjadi berpemahaman/keyakinan bahwa ketika idul fitri, semua orang yang menjalankan puasa ramadhan, semua dosanya diampuni dan menjadi suci.

Maka pemahaman/Keyakinan semacam ini termasuk kekeliruan sebagai: gurunya yang  salah ngajar atau murid/umatnya yang salah menterjemahkan, (alias tidak nyambung).

Berikut  dua alasan untuk menunjukkan kesalah kaprahan pemahaman/keyakinan ini:

Pertama, keyakinan bahwa semua orang yang menjalankan puasa ramadhan, dosanya diampuni dan menjadi suci, sama dengan memastikan bahwa seluruh amal puasa kaum muslimin telah diterima oleh Allah, dan menjadi kaffarah (penghapus) terhadap semua dosa yang meraka lakukan, baik dosa besar maupun dosa kecil. Padahal tidak ada orang yang bisa memastikan hal ini, karena tidak ada satupun makhluk yang tahu apakah amalnya diterima oleh Allah ataukah tidak.

Terkait dengan penilaian amal, ada dua hal yang perlu kita bedakan, antara keabsahan amal dan diterimanya amal.

  1. Keabsahan amal.

Amal yang sah artinya tidak perlu diulangi dan telah menggugurkan kewajibannya. Manusia bisa memberikan penilaian apakah amalnya sah ataukah tidak, berdasarkan ciri lahiriah. Selama amal itu telah memenuhi syarat, wajib, dan rukunnya maka amal itu dianggap sah.

  1. Diterimanya amal

Untuk yang kedua ini, manusia tidak bisa memastikannya dan tidak bisa mengetahuinya. Karena murni menjadi hak Allah. Tidak semua amal yang sah diterima oleh Allah, namun semua amal yang diterima oleh Allah, sudah tentu amal yang sah.

Karena itulah, terkait diterimanya amal, kita hanya bisa berharap dan berdoa. Memohon kepada Allah, agar amal yang kita lakukan diterima oleh-Nya. Seperti inilah yang dilakukan oleh orang-orang shalieh masa silam. Mereka tidak memastikan amalnya diterima oleh Allah, namun yang mereka lakukan adalah memohon dan berdoa kepada Allah agar amalnya diterima.

Dibandingkan dengan Nabi Ibrahim ‘AS saja, Selesai memperbaiki bangunan Ka’bah, beliau tidak ujub dan memastikan amalnya diterima. Namun yang berliau lakukan adalah berdoa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Ya Allah, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 127).

Demikian pula yang dilakukan oleh para sahabat dan generasi pengikut mereka. Yang mereka lakukan adalah berdoa dan bukan memastikan.

Mu’alla bin Fadl mengatakan:

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang bulan Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka ketika di bulan Ramadhan.” (Lathaiful Ma›arif, Ibnu Rajab, hal.264)

Karena itu, ketika bertemu sesama kaum muslimin seusai ramadhan, mereka saling mendoakan,

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم

“Semoga Allah menerima amal kami dan kalian”

Jadi kita berharap, berdoa memohon kepada Allah agar amalnya diterima dan tidak mampu memastikan amal kita diterima. (ya to……ya to…..yoi khan?)

Kedua, sesungguhnya ramadhan hanya bisa menghapuskan dosa kecil, dan bukan dosa besar. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِر

“Antara shalat 5 waktu, jumatan ke jumatan berikutnya, ramadhan hingga ramadhan berikutnya, akan menjadi kaffarah dosa yang dilakukan diantara amal ibadah itu, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Ahmad 9197 dan Muslim 233).

Kita perhatikan, ibadah besar seperti shalat lima waktu, jumatan, dan puasa ramadhan, memang bisa menjadi kaffarah dan penebus dosa yang kita lakukan sebelumnya. Hanya saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan syarat: ‘selama dosa-dosa besar dijauhi.’ Adanya syarat ini menunjukkan bahwa amal ibadah yang disebutkan dalam hadis, tidak menggugurkan dosa besar dengan sendirinya. Yang bisa digugurkan hanyalah dosa kecil.

Lantas bagaimana dosa besar bisa digugurkan?

Caranya adalah dengan bertaubat secara khusus, memohon ampun kepada Allah atas dosa tersebut. Sebagaimana Allah telah tunjukkan hal ini dalam Al-Quran,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. An-Nisa: 31).

KESIMPULAN

riset

Bahwa arti iedul fitri secara lughawi/etimologi adalah : Hari kembali berbuka, hari raya tidak puasa. Sedang makna secara hakekat/terminologi, idul fitri adalah hari kemenangan melawan hawa nafsyu (bagi yang benar benar melaksanakan hakekat puasa dengan baik, khusyu, ikhlas dan benar loh yah !) yang Alloh memberikan pangkat taqwa (QS. Al Baqarah: 183), kemudian sebagai hari berterima kasih (Thanks Giving Day) QS.2. Al Baqarah:185

Namun jika ada yang mengartikan lainnya, silahkan bebas. Yang utama saya urai menurut berbagai sumber dan dengan jelas.

Demikian ikhwan, semoga menjadi khazanah dalam cakrawala fikir kita.

Salam Cahaya Ramadhan-Nya,

 

Tal Kandangan, 26 Ramadhan 1437 H/ 1 Juli 2016

Kelana Delapan Penjuru Angin

Ref:

-Alqur’anul Karim-terjemah DEPAG RI

Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina-KonsultasiSyariah.com)

-www.Dakwatuna.com

**DEMI MASA,UMUR MANUSIA HIDUP DI DUNIA RATA RATA HANYA 1 s/d 1.5 JAM SAJA**

DIMENSI RUANG DAN WAKTU ALAM SEMESTA YANG BERBEDA
SATU HARI AKHERAT EQUIVALENT DENGAN 1000 TAHUN MASA BUMI
DAN BOLEH JADI, SISA UMUR DUNIA INI TAK LEBIH DARI HITUNGAN 1/2 – 1 HARI SAJA
SURAT AL-ASHR : 1-3 BER-GENRE LAMPAU TETAPI BERPLAT FORM UNIVERSAL FUTURISTIC.

1400 tahunan silam, ketika ayat ini turun, dan dibacakan oleh Nabi Muhammad dihadapan publik.

Al-ashr

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS.103.Al-Ashr: 1-3).

Adalah kebiasaan bangsa arab di waktu sore hari, mereka sering duduk duduk tanpa manfaat dan tanpa ada aktifitas, tanpa mengingat akan adanya keberadaan Tuhan, tanpa berpikir adanya kehidupan akherat. Mereka hanya berleha leha, bersantai santai, sambil mengobrol dan bergosip tentang urusan dunia, tentang kemegahan, kedudukan, kekayaan dan kemewahan hidup. Yang tak jarang mengakibatkan pertengkaran, muncul rasa iri dan permusuhan diantara mereka. Hingga tak menyadari waktu terus berjalan, tak menyadari hari memasuki rembang petang dan kemudian dengan cepat kegelapan malampun menyelimuti bumi. Mereka tak puas dengan waktu. Merasa kurang, merasa obrolannya belum tuntas, mereka lama lama menyalahkan waktu.
(Reff: Asbabunnuzul – Syekh Muhammad Abduh).

Kemudian, ketika Nabi Muhammad menghampiri mereka dan membacakan surat Al-Ashr tersebut ke hadapan mereka, bukannya mereka sadar akan kekeliruannya justru mereka kesal dan mencemooh Nabi SAW, menganggap sebagai pengganggu saja. Kini, sikap manusia modern saat ini sepertinya tak berbeda jauh dengan sikap sikap umat jahiliyyah 1400 tahunan lalu, hanya beda bentuk dan kondisi, yaitu Larut oleh kerepotan hidup dan kesibukan urusan duniawi, melupakan pengabdian dan ibadah kepada-Nya.

Surat Al-Ashr sepertinya hanya dipandang/dimaknai secara lahiriyah saja oleh kebanyakan umat, yakni asal sekadar berbuat kebaikan, asal ibadah, asal sekadar mengingatkan. Setelah itu cukup terhenti dibatas itu saja. Hari hari lain lalai lagi dan berbuat dosa lagi. Saling sengketa lagi, saling sikut sikutan lagi, saling korupsi lagi, saling iri dan dengki lagi, saling zalim menzalimi dan sebagainya.

Sobat fillah, mari kita renungi lebih jauh hakekat surat Al-Ashr ini. Sebagaimana dengan surat surat dan ayat ayat dalam Al-Qur’an lainnya, maka tidak hanya cukup di maknai secara harafiahnya saja melainkan sangat luas dan padat dengan berbagai makna dan hakekat. Demikian juga dengan kedalaman surat AL-Ashr ini.
Redaksi surat Al-Ashr ini ber-genre lampau tetapi berplat form universal futuristic. Artinya, telah terjadi dan pasti akan terjadi (menemui /menyaksikan keadaan itu sepanjang zaman hingga di hari masa depan nanti). Sedangkan dari plat form (kerangka) universal futuristic maknanya bahwa ayat ayat dalam Al-ashr ini berkaitan dengan dimensi ruang dan waktu atas alam kehidupan semesta (universal) yang berbeda tetapi bagi makhluk kehidupan ciptaan-Nya, bertahap akan memasuki (bertransformasi) ke arah sana (the future).

Itulah mengapa surat Al-Ashr ini tidak dimulai dengan ayat : “Alladzina amanu…” (kepada orang orang yang beriman…)”, tetapi dimulai dengan redaksi, “Wal ‘Ashri…” (demi masa). Yang maknanya adalah bahwa dimensi ruang dan waktu alam kehidupan semesta ini telah dalam genggaman-Nya, telah di hitung-Nya, telah ditetapkan-Nya dan seluruh makhluk pasti akan menemui serta mengalami kejadiannya dimasa depan nanti.
Sebab Allah telah mengetahui keadaan demikian, maka Dia mengingatkan kepada manusia manusia yang masih tersisa diakhir zaman ini agar jangan mengalami nasib naas seperti umat umat terdahulu. Dan dalam memberi peringatan itu, Allah tidak langsung berkata kata dengan manusia secara langsung sebab tidak mungkin benda saling berbicara dengan bayangan didalam cermin dan adalah manusia itu hanyalah merupakan “bayangan-Nya”. Oleh karena itu Allah mengadakan perantara/media, yakni terakhir melalui Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya yang terakhir untuk alam semesta. Dan ketika Nabi Muhammad kini telah tiada, maka Allah masih memiliki Muhammad lain yakni : Al-Qur’an yang kemudian diestafetkan kepada para pengikut pengikut Muhammad, para pembaca qalam-Nya, para penebar kebenaran kebenaran-Nya dan para alim ulama yang kesemuanya itu merupakan Muhammad Muhammad lain dan Wali yang di hadirkan oleh Allah. Maka menjadilah kita Muhammad Muhammad-Nya. Jadi, janganlah menjadikan Muhammad itu hanya sebatas sosok, obyek pengkultusan dan bemper untuk segala argumentasi dengan serangkaian dalil manakala kita berdebat saling berebut benar. Jadi, jadikanlah Muhammad itu subyek didalam jiwa, di dalam diri kita umat, yang katanya mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW. Kemudian obyeknya adalah laku perbuatan yang bernilai Muhammad. Jangan kebalik, Muhammad hanya dijadikan obyek alasan untuk gontok gontokan mencari pembenaran. Itulah salah satu alasan mengapa sosok Nabi Muhammad SAW tidak bergambar, tidak divisualisasikan dengan lukisan ataupun foto seperti manusia manusia agung lainnya. Sebab ternyata sudah menjadi kecenderungan nafs khayal manusia, yang selalu berlebihan dalam mengagungkan benda materi hingga akhirnya lama kelamaan men-Tuhankan benda/materi, termasuk menuhankan manusia seperti umat umat yang lain. Tuhan mengetahui keadaan ini dan sejarah telah membuktikan kenyataannya. Maka demikianlah, Allah ingin mengajarkan manusia, janganlah menyembah materi tetapi sembahlah Dia saja dengan memurnikan sesembahan, dengan meniadakan tandingan, dengan melenyapkan pikiran pikiran khayal yang mengarah pada “keserupaan, kesetaraan” dan menyekutukan (Laisa kamislihi syai’uun). Maka demikianlah Muhammad itu bukanlah sosok kultus individu melainkan Muhammad adalah piagam / nilai, Muhammad adalah cahaya, Muhammad adalah kemurnian jiwa diri insan insan yang berderajat muslimin muslimat pengibar bendera kebenaran, yang  terpercaya dalam amanat dan pengkhabaran dan yang menebar kebijaksanaan (silahkan pelajari 4 piagam Muhammad: Shiddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah).

nur-muhammad

Sobat budiman Nusantara,
Hari demi hari berganti mengiringi hidup dan kehidupan kita. Hidup ini bagai roda pedati, tak pernah lesu dan terhenti. Merangkak berjalan tertatih dan menyebar dimuka bumi, beredar berkeliling bersama lintas edar mentari. Dari sejak kita dibuaian hingga diatas keranda berjalan saat datang kematian. Senyum, tangis, suka, duka mewarnai hari hari kita. Dan saat hadir senyum dan suka ria mencumbui kita, maka kita ingin hidup 1000 tahun lamanya. Namun saat kita frustasi kehilangan asa, serasa kita ingin memecat nyawa saat ini juga.

rumah dibakar

Kadang kita merasa begitu lama hidup di dunia, sejak kita dilahirkan hingga saat ini atau sampai tua nanti. Dan kadang kita merasa bahwa dunia ini sudah ada sejak lama dan manusia sudah ada sejak zaman purba hingga masa modern kini dan merasa kehidupan ini masih akan berlangsung lama.
Sehingga sepertinya manusia masih merasa memiliki waktu yang lama untuk berbuat kejahatan terhadap lainnya. Dan sementara sebagian manusia merasa kesal dengan kejahatan yang dilakukan manusia lain tanpa bisa berbuat apa apa. Dan bagi sebagian orang tertentu, kadang jengkel dengan kesombongan dan keangkuhan manusia lainnya, berharap mengapa tak binasa saja, namun malah umurnya panjang dan kian merajalela. Kadang hati ini rasanya sakit, pedih, kecewa (sakitnya ku di sini….).
Tapi, tenang. Jangan khawatir dan janganlah kita merasa putus asa. Masih ada Yang Maha Adil., masih ada Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Masih ada Yang Maha berhitung dan masih ada Yang Maha Pembalas, Ada Tuhan Rabb Semesta Alam, Sang Maha Raja Diraja, Sang Penguasa, yang telah bersumpah :

“Wal ‘ashri…….wal ‘ashri !” (demi masa…demi masa)

Yang akan mengadili setiap kejahatan dan kebaikan. Yang akan mengasihi dan menyayangi hamba hamba-Nya yang berlaku kasih dan sayang. Yang akan memperhitungkan setiap nafas langkah dan perbuatan makhluknya. Dan yang akan membalaskan orang orang yang telah membuat rasa sakit, pedih dan kecewa kita. Oleh sebab itu ketahuilah rahasianya, mengapa Allah bersumpah demi masa ? Sebab sesungguhnya hidup dan umur manusia serta kehidupan panggung dunia ini sesungguhnya tak berlangsung lama, hanya sebentar saja, hanya dalam hitungan jam saja. Mari kita singkap rahasia mengapa Allah bersumpah demi masa. Mari kita jabarkan teori relatifitas masa yang pernah dikemukakan oleh Albert Einstein, dan sesuai dengan surat Al-Ashr yang tersebut diatas.

Adalah :
Masa dunia dengan masa akherat berbeda jauh akibat perbedaan dimensi ruang dan waktu. Hal ini telah diinformasikan oleh Allah dengan rumusan, salah satunya sebagai berikut :

supermassive_black_hole3

*Satu hari akherat setara dengan seribu tahun waktu bumi*

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya SEHARI disisi Tuhanmu adalah seperti SERIBU TAHUN menurut perhitunganmu.” (QS.Al Hajj:47).

Dari ayat tersebut diatas, kita memperoleh suatu formula (teori relatifitas) yang dapat dianalogikan sebagai berikut :

Yaitu dikenal dengan formula 1:1000 (satu banding seribu), atau 1 hari akhirat = 1000 tahun waktu bumi .

Jika 1 hari = 24 jam, maka :
1 hari (24 Jam) akherat = 12.000 bulan waktu bumi atau 1000 tahun
½ hari (12 jam) akherat = 6.000 bulan waktu bumi atau 500 tahun
¼ hari (6 jam) akherat = 3.000 bulan waktu bumi atau 250 tahun
1/8 hari (3 jam) akherat = 1.500 bulan waktu bumi atau 125 tahun
1/16 hari (1.5 jam) akherat = 750 bulan waktu bumi atau 62.5 tahun
Maka jika :
Menurut data sensus dunia, bahwa tingkat rata rata harapan hidup manusia sekitar 62.5 – 70 tahun.
Jika dikonversi dengan masa akherat, maka :

62.5 (usia) X 12 bulan = 750 bulan atau 22.500 hari atau 540.000 jam,
= 540.000 : 22.500 = 24
= 24 : 16 = 1.5
Atau = 1/16 hari masa akherat.
(ternyata Al-Qur’an itu matematik loh).

Artinya, jika tingkat rata rata harapan hidup manusia sekitar 62.5 – 70 tahun, maka lamanya hidup manusia di dunia ini menurut waktu langit hanya dalam waktu 1,5 jam s/d 1.7 jam saja !

Baik, sampai di sini cobalah renung dulu sejenak, jangan melanjutkan membaca. Kemudian cobalah buka lembar Al-Qur’an dan coba renungi kembali hakekat surat Al-Ashr dalam dalam, kemudian tengok surat QS. 23.Al-Mu’minuun:114.

Maka artinya, hidup manusia di dunia ini oleh Allah, hanya diberi waktu cuma 1.5 jam saja. Ini baru pada perhitungan surat Al-Ashr, belum jika di konvert dengan teori masa pada dimensi ruang dan waktu menurut planet akherat yang lainnya, seperti dalam formula surat : QS.70.Al-Ma’aarij :4, yang kadar masanya lebih jauh lagi yakni 1 hari sama dengan 50.000 tahun.

Maka, pantas tidak jika Allah menurunkan ayat tersebut? Maka patut tidak jika Nabi Muhammad SAW selalu mengingatkan kepada kita akan masalah waktu?

Pantesan kita di ingatkan dengan seruan :
“WAL ‘ASHRI….WAL ‘ASHRI…..”
(Demi waktu….demi waktu !)

188275_439978499405755_877269751_n

*Sebab ternyata hanya dengan 1.5 jam saja kehidupan abadi kita ditentukan, hendak di Surga atau Neraka. (QS 98:8 , 41:28 ).

* Sebab ternyata hanya 1.5 jam saja cobaan, ujian hidup, tangis kepedihan, kesengsaraan dan kesulitan berlangsung. Pantesan Allah selalu mewanti wanti kita untuk tetap dalam sabar. (QS 74:7, 52:48 , 39:10).

* Ternyata hanya 1.5 jam saja kita disuruh menahan nafsu amarah, lawammah dan mengganti dengan pedoman-Nya (QS 12:53 , 33:38).

*Ternyata hanya memerlukan waktu 1.5 jam saja untuk menjalani sebuah perjuangan yang teramat singkat dalam menghadapi kehidupan dan problematika. Dan Allah SWT akan mengganti dengan Ridho-Nya. (QS 9:72, 98:8, 4:114).

*Dan hanya 1.5 jam, perjuangan untuk mencari bekal perjalanan panjang menuju kemenangan nanti. (QS 59:18, 42:20, 3:148, 28:77).

Maka sebagaimana hanya dalam waktu 1.5 jam saja kita disuruh untuk berbuat bakti, beribadah mengabdi kepada Tuhannya, maka hanya selama 1.5 jam sajalah manusia diberi kebebasan untuk bergelimang dalam perbuatan dosa dan kesesatan. Maka, pantaslah Tuhan menyebut bahwa banyak manusia yang merugi karena itu. (QS.103.Al-Ashr:2).

Kemudian, Tuhan menekankan lagi :

“Kamu tidak tinggal ( dibumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui” . (QS 23:114)

Dan manusia benar benar mengetahui dan membuktikan hal ini setelah matinya, setelah berbaring di liang lahat, setelah sanak familinya menaburkan kembang kenanga kemudian menangis tersedu di hadapan batu nisan yang bertuliskan :

*Herdo Subroto*
Lahir : 12 Februari 1980
Wafat : 13 Maret 2014
——-0o0——–

RIP

Sobat budiman, segeralah secepat mungkin menengok kembali peta perjalanan kita dalam menuju kepada-Nya. Mumpung masih diberi waktu, selagi masih dapat, selagi masih diberi kesempatan…….Berbuatlah manfaat, tolong menolonglah dalam kebaikan.

Maka segeralah secepat mungkin tinggalkan kesombongan, sok sok-an, keangkuhan, kekikiran, keangkara murkaan, kejahatan, kekafiran dan kesesatan. Sebelum onggokan daging terbenam dalam lumpur tanah, membusuk dalam kesendirian, dalam nestapa dan dalam kegelapan di bumi liang lahat. Bersama larva larva yang berpesta pora, bersama cacing cacing pengurai jasad.

Inilah salah satu makna dari ribuan makna ayat-Nya dalam Al-Ashr : 1-3.

Semoga menjadi renungan,
Salam 1.5 jam saja,

Kelana Delapan Penjuru Angin,
Lembah Sumur Batu Keramat – Bekasi Timur, 31 Januari 2015.
CopyRights@2015.

Reff:

-Asbabunnuzul-Sheikh Muhammad Abduh
-K.H. M.Syamsuddin – Pantai Selatan – Jawa Tengah
-Abah Sang Pencerah-Kota Tegal & Cilacap
-Al-Qur’an terjemahan DEPAG RI
–Tauziahti Umi Sharifah Khasanah Mukim-Queen Al-Iraqi
-Haqeqatul ‘ilmi al-Jama’atul tareqatul Qadariyyati wan Naqsabandiyati was Shatariyyah

** ALLAH, RABB,ILAAH dan TUHAN **

MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “HU” (Dia –laki laki), DALAM AL-QUR’AN ?

KONTROVERSI PENYEBUTAN “TUHAN”,DAN ASAL USULNYA.

HARAM DAN MURTADKAH MENYEBUT ALLAH DENGAN TUHAN, GUSTI, PENGERAN ?

SIAPA ALLAH, SIAPA HU, SIAPA RABB, SIAPA ILAAH, SIAPA TUHAN, SIAPA GUSTI, PENGERAN ?

SEBUAH RISALAH JAWABAN BUAT ORANG YANG TANPA ILMU PENGETAHUAN, MELEMPARKAN TUDUHAN TERHADAP “ALLAH”, SEBAGAI TUHAN BERHALA BANGSA ARAB,BABYLON.

sujud

SESEMBAHAN MANUSIA

Disadari atau tidak disadari,manusia akan merindukan Sang Pencipta dan Pelindungnya (QS.39:08 , 49).Fitrah diri manusia bersuara menjerit memanggil manggil Rabb nya manakala manusia itu tengah menghadapi malapetaka,bahaya maupun kesulitan dahsyat.Saat itu manusia tunduk,tawaqqal dan lemah dihadapan-Nya.(QS.31:32 , QS.17:66-69).

Mengapa manusia mencari dan menyembah Tuhan?

Umat Islam menyembah Allah,umat Kristen menyembah Tuhan Yesus,umat Hindhu menyembah para Dewa,umat Budha menyembah Sang Budha, Umat Tiongkok menyembah Tian,umat Hindhu menyembah para Dewa,dan sebagainya.Sepertinya Tuhan itu berjumlah banyak,sebab masing masing umat memiliki Tuhan.Demikiankah?

KONTROVERSI PENYEBUTAN “TUHAN”.

Dari aspek aqidah, bagi umat Islam yang telah beriman, mengakui adanya tuhan-tuhan selain Allah adalah sebuah kemusyrikan dan dosa tak berampun,sebab Ketauhidan sudah menjadi logika agama terunggul.(untuk PEMAHAMAN AQIDAH), Silahkan pahami pada link :

https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/09/03/mutaqod-50-64-doktrin-tauhid-dasar/

Lalu, mengapa di dalam Al-Qur’an Tarjamah Tafsiriyah ,Al-Qur’an terjemahan DEPAG RI,kata “Ilaahun” dan “Rabbun” diterjemahkan sebagai ‘tuhan’?
Apa bedanya dengan terjemah harafiah tradisional yang juga menerjemahkan istilah yang sama dengan arti yang sama pula? Contoh dalam budaya pesantren dan masyarakat Islam di Jawa menggunakan kata “GUSTI , PENGERAN” untuk kata ganti Tuhan.
Kemudian bukankah kosakata “Tuhan” masuk ke dalam bahasa Indonesia, akibat pengaruh teologi yang dibawa oleh kaum kolonial ? Jika demikian apakah sebaiknya kata ‘ilaahun‘ dan‘rabbun’ tidak perlu diterjemahkan sebagai tuhan, biarkan saja dalam bahasa aslinya ?

Pertanyaan semacam ini sering mengemuka dikalangan umat Islam pada umumnya,dan juga dari para pembaca kritis Al-Qur’an terjemahan, termasuk para tokoh dan aktivis Islam.Bahkan yang mengherankan ada juga orang yang mencantumkan gelar ustadz mempersoalkan istilah ini. Sepertinya merasa anti dan alergi menggunakan kata “Tuhan, Gusti, Pengeran ”, yang dianggap melenceng dari aqidah dan berasal dari doktrin non Islam.

HARAM DAN MURTADKAH MENYEBUT ALLAH DENGAN TUHAN ?

tuhan utk semua

Mengganti lafaz Allah dengan Tuhan jelas itu sebuah kejahatan serius,sebab disamping perbuatan kemusyrikan,juga “GHADAB” (perbuatan golongan orang orang yang dimurkai Allah).Tetapi bagaimana jika kita menyebut Allah dengan kata ganti lain ? Seperti kadang dalam menulis atau saat sedang berucap dan berdo’a, kita tidak menggunakan kata Allah tetapi dengan kata “TUHAN” , ”GUSTI” dan atau “PENGERAN”, Apakah termasuk perbuatan kemusyrikan dan ghadab ? Maka dalam perkara ini seyogyanya setiap muslim tidak asal mengharamkan atau meng-kafirkan sesama Islam,jika kita belum memahami segala sesuatunya dengan ilmu pengetahuan.

Maka sobat budiman,mari kita mencari tahu ilmu pengetahuannya pada risalah yang saya rangkum selanjutnya ini,agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang orang yang asal (asal bicara, asal nulis, asal berdakwah). Malulah kita apalagi kadang kita saksikan sesama teman muslim adu otot berebut benar pendapatnya masing masing,saling benci membenci hanya gara gara mempertahankan perkara yang kita tidak memiliki ilmu pengetahuannya atau kurang,tetapi hanya didasarkan atas “perasaan” .
(merasa apa yang telah diajarkan gurunya paling benar,merasa cukup dari membaca buku sudah paling benar,dsb).

Nah,lebih runyam lagi ketika kita mendapat pertanyaan miring tentang agama Islam,tentang makna ayat ayat Al-Qur’an, dari orang yang non muslim yang tiada pengetahuannya tentang ke-Islaman, sementara kita kebingungan menjawabnya.Ujung ujungnya hanya bisa dongkol,sakit hati dan balas memaki atau menghina.

SIAPA TUHAN, SIAPA ILLAH, SIAPA RABB, SIAPA GUSTI, PENGERAN ?

kaligrafi Alloh

Tuhan ya Allah,Illah ya Allah,Rabb ya Allah,Gusti,Pengeran ya Allah.Maka :

“Serulah Allah atau serulah Yang Maha Pengasih (ar-Rahman) Dengan nama apa saja kamu menyeru Dia; maka Dia memiliki nama-nama yang indah (asma-ul-husna)” – Qs. 17 al-Israa’ : 110

*Dari ayat diatas, jelas bahwa al-Qur’an memperkenalkan Tuhan yang universal, serulah Tuhan dengan nama apapun yang baik dan indah serta tentunya tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan sifat-sifat kemuliaan-Nya.

Sebab suatu hal yang pasti adalah bahwa bahasa Arab bukan satu-satunya bahasa yang ada ditengah masyarakat dunia. Oleh karena itu secara logika, keberagaman penyebutan terhadap Tuhan tidak dapat dihindari. Bangsa Afrika Selatan (Zulu) menyebut Tuhan dengan nama uMVELINQANGI, umat India mengenal istilah PRAMATMA, Bangsa Aborigin di Australia Selatan memanggil Tuhannya dengan istilah ATMATU,bangsa Jepang mengistilahkan Tuhannya “KAMI”, dan sebagainya.

(see at : Ahmed Deedat, Allah dalam dalam Yahudi, Masehi, Islam, terj.H. Salim Basyarahil, H. Mul Renreng, Penerbit Gema Insani Press, Jakarta, 1994, hal. 21-28).

Seorang ahli tafsir Al-Qur’an dari Indonesia, M. Quraish Shihab menyatakan bahwa wahyu-wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad juga tidak mempergunakan istilah Allah untuk kata ganti Tuhan melainkan memakai istilah Rabbuka dan baru pada wahyu ke-7 yaitu surah ke-87 istilah Allah diperkenalkan kedalam al-Qur’an.

(see at : Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A. Wawasan Al-Quran : Tafsir Maudhu’I atas pelbagai persoalan umat, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, dalam Catatan kaki hal. 23-24).

Kata Allah sendiri terbentuk dari kata AL dan iLah.
(see at : Abu Iman ‘Abd ar-Rahman Robert Squires, http://www.muslim-answers.org/allah.htm, dalam “Who is ALLAH”) ,

Dimana kata AL sama seperti penggunaan kata THE dalam bahasa Inggris, yaitu sebagai kata sandang atau penegasan tertentu. Sementara kata iLah memiliki arti Tuhan. Sehingga istilah Allah berarti Tuhan yang satu itu.
Dan konsep ini sesuai dengan pengajaran para Nabi :

“Dialah Allah yang Satu Tempat semuanya bergantung ;Tidak pernah Dia beranak dan tidak pula pernah Dia diperanakkan Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya .”– Qs. 112 al-Ikhlas : 1 – 4

Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa. – Perjanjian Baru : Injil Markus 12:29

Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia – Perjanjian Lama : Kitab Ulangan 4:35

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa – Perjanjian Lama : Kitab Ulangan 6:4

Dengan demikian maka perbedaan yang terjadi dalam menyebut Allah,akibat pengaruh bahasa masing masing umat dunia yang beragam,jadi janganlah membuat kita menjadi umat Islam yang sempit pemahaman.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal .”– Qs. 49 al-hujuraat : 13

Allah telah memilih umat Islam sebagai umat yang terbaik, maka buktikan kepada umat lainnya bahwa umat Islam memang umat yang cerdas,berpengetahuan luas, menyebarkan perdamaian, menjadi rahmat untuk semua alam.(Qs. 3 ali Imron : 110– Qs. 2 al-Baqarah : 143 – Qs. 5 al-Maidah : 8).

ASAL USUL KATA “TUHAN” MENJADI KOSAKATA BAKU BAHASA INDONESIA

kamus

Menurut riwayat, bahwa kosakata “Tuhan” adalah bebernama rasal dari “plesetan” kata “Tuan”, Hal ini terjadi disinyalir karena ungkapan perkataan dari seorang Belanda yang Leijdecker pada tahun 1678.Juga ditemukan dalam Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ. “Arti kata ‘Tuhan’ ada hubungannya dengan kata Melayu ‘tuan’ yang berarti atasan/penguasa/pemilik”. Keterangan ini dikaitkan dengan terjemahan Brouwerius, 1668, untuk istilah Yunani, Kyrios, sebutan bagi Isa Almasih. Maksudnya Tuan Yesus, tapi dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan, Tuhan Yesus.

Diterangkan secara lugas oleh Alif Danya Munsyi di majalah Tiara (1984).Dalam makalahnya itu, Alif menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi sebagai salah satu gejala paramasuai, yaitu penambahan bunyi ‘h’ yang nirguna pada kata-kata tertentu, misalnya embus menjadi hembus,empas menjadi hempas, asut menjadi hasut, dan tuan menjadi TUHAN.

Gejala itu timbul karena dialek tradisional yang kemudian dipengaruhi oleh dialek dialek dari bangsa kolonial yang acapkali mengucapkan bahasa bahasa setempat,namun aksennya berbeda atau berubah,sehingga kalimat yang diucapkan oleh bangsa penjajah itulah yang menjadi istilah populer dikalangan ahli kitab serta masyarakat pribumi.

Lingua Franca Melayu yang dipakai bangsa-bangsa Eropa antara lain Portugis dan Belanda sebagai bahasa administrasi untuk kegiatan ekonomi dan politik di seantero Nusantara, juga dipakai dalam kepentingan penyiaran agama Nasrani (agama umum yang dianut bangsa Eropa).Mereka (bangsa Eropa) biasa menyebut Isa dengan panggilan “TUAN”, yang dalam bahasa Yunani adalah ‘Kyrios’, dalam bahasa Portugis ‘senor’, dalam bahasa Belanda ‘heere’, dalam bahasa Perancis ‘seigneur’ dan dalam bahasa Inggris ‘lord’. Contohnya kalimat :

“The grace of or lord Jesus Christ be with your spirit”.

Ketika penghayatan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mula-mula oleh bangsa Portugis yang bernama Browerius, pada tahun 1663, sebutan Isa Al Masih masih TUAN, tetapi ketika orang Belanda yang bernama Leijdecker pada tahun 1678 menerjemahkan surat-surat Paulus itu, sebutan TUAN telah mengalami paramasuai yakni ada tambahan sisipan konsonan “H”,sehingga menjadikan penulisannyapun berubah menjadi”TUHAN”.

Selanjutnya kata Tuhan itu dibakukan sebagai kosakata baru, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta (Katolik), tanpa memberikan keterangan apapun tentang kata TUHAN. Kemudian kata “TUHAN” ini digunakan secara finish oleh para team penerjemah,untuk menterjemahkan kata “ILAAHUN” , “RABB” dalam bahasa Arab, dengan padanan kosakata “TUHAN”,hingga sekarang sebab tidak adanya padanan kata lain selain “TUHAN”.(ini yang disebut “menurut bahasa kaumnya”).
Terlepas dari parasuai dialek bahasa maka yang pasti setiap bahasa memiliki keterbatasan padanan kata dari kosa kata bahasa lain. Problem keterbatasan kosa kata ini, biasa terjadi pada setiap bahasa apapun di dunia ini. Akan tetapi, bila suatu kata dalam bahasa asing yang sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia tidak boleh diterjemahkan, niscaya akan menyulitkan pembaca yang ingin memahami maknanya.

*Upaya penerjemahan suatu bahasa ke bahasa lain, aspek intelektualitas dan budaya pengguna bahasa sangat menentukan kekayaan kosa kata suatu bahasa. Dalam kaitan ini, untuk menjelaskan kata ‘tuhan’ sebagai terjemah dari kata ‘ilaahun‘ dan ‘rabbun‘, haruslah dipahami argumentasi bangsa Arab yang menerjemahkan kata ‘tuhan’ dan ‘dewa’ sebagai ilaahun.
Sebagai contoh, kata dewa dan tuhan dalam bahasa Indonesia, terjemahan Arabnya sama, yaitu ilaahun. Padahal pengertian kata Dewa dan Tuhan dalam bahasa Indonesia sangat jauh berbeda.
Kata Tuhan pengertiannya adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb. Sedangkan kata dewa pengertiannya adalah makhluk Tuhan yang berasal dari cahaya suci kegaiban yang ditugasi mengendalikan kekuatan alam atau orang/manusia, juga berarti sesuatu yang sangat dipuja. (KBBI, 1990)

Oleh karena itu, jika kata ilaahun dan rabbun tidak diterjemahkan dengan kosakata yang populer dalam bahasa Indonesia, justru mempersulit pembaca untuk memahami kata ilaahun dan rabbun. Padahal terjemahan itu bertujuan untuk mempermudah pembaca memahami makna kalimat yang dibaca.

PRONOMINA (KATA GANTI) ‘YHWH’ DAN ‘TUHAN ALLAH’ DALAM PL/PB

Menurut New Advent Catholic Encyclopedia, Bangsa Yahudi mengenal tiga sebutan nama untuk Tuhan, yaitu El, Elohim dan Eloah, di samping nama YHWH (Tetragrammaton/ Yahweh). Perkataan Yahweh ini terdapat sekitar 6000 kali dalam Perjanjian Lama, Elohim 2570, Eloah 57 kali dan El 226 kali. Walaupun masih menjadi perdebatan para ahli Kitab Suci, dikatakan bahwa kemungkinan kata Allah berasal dari kata El ini, yang berarti Tuhan yang Mahabesar/Mahakuasa (lih. Kel 6:2) yang secara derivatif dapat pula berarti “Ia yang dikejar oleh semua orang, Ia yang menjadi tujuan semua orang, ia yang kepada-Nya semua orang mencari perlindungan dan bimbingan, Ia yang kepada-Nya seseorang mendekatkan dirinya, dst”. Diskusi argumen tentang asal usul kata ini, setuju atau tidak setuju akan makna derivatif-nya akan menghasilkan pembicaraan yang terlalu jauh.

Sedangkan nama Tuhan sebagai YHWH yang diterima oleh Musa, merupakan nama yang sangat sakral, maka menurut tradisi Yahudi, mereka dilarang menyebutkan nama YHWH tersebut. Penyebutan nama YHWH (Yahweh) hanya dilakukan setahun sekali oleh Imam Agung, yang dilakukan di Bait Allah, pada pesta Yom Kippur. Karena kesakralan kata YHWH ini, maka tak sembarang orang menyebutkannya; dan di dalam pembacaan Kitab suci, mereka mengganti kata YHWH tersebut dengan Adonai. Septuagint dan Vulgate kemudian menerjemahkan Adonai ini dengan Kyrios/ Dominus.

Paus Benediktus XVI dalam bukunya Jesus of Nazareth condong kepada hasil studi para ahli Kitab Suci yang mengatakankan bahwa pengakuan Petrus akan Yesus sebagai Mesias, Putra Allah yang hidup (Mat 16:13-15), jatuh pada peringatan hari Yom Kippur ini (lihat buku karangan Bapa Paus Benedict XVI, Jesus of Nazareth p. 306); yang menunjukkan penggenapan sebutan Allah YHWH/ Adonai ini di dalam diri Kristus Yesus.

‘Kurios’ itu adalah ‘Tuhan’ (Lord) yang diambil dari bahasa Yunani, yang merupakan bahasa penulisan kitab Perjanjian Baru. Sedangkan kata “Tuhan” (Lord) dalam Kitab Perjanjian Lama (PL) dalam bahasa Ibrani-nya adalah “Adonai”. Dalam PL, kata “Adonai” (Tuhan/ Lord) ini dipakai sebagai kata ganti bagi YHWH (Yahwe) dan digunakan bersama- sama kata “Elohim (Allah/ God)” (lih. Mzm 38:15; Mzm 8:1,9), walaupun kata “adonai” ini memang juga menggambarkan hubungan antara tuan dan hamba (lihat: Kej 24:9,20,12,14,27; Kel 21:4-6) antara suami dan istri ( Kej 18:12, Yud 19:27; Mzm 45:12).

Demikianlah contoh ayat-ayat di mana kata ‘YHWH’, ‘Tuhan’ (Lord) dan ‘Allah’ (God) digunakan untuk mengacu kepada Allah yang satu dan sama:

“Sebab kepada-Mu, ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], aku berharap; Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan [Adonai], Allahku [Elohim].” (Mzm 38:15)

“Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! …. Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! (Mzm 8:1,9).

Di kitab Perjanjian Baru, terdapat ayat-ayat, di mana kata “kurios” diterjemahkan sebagai “Tuhan” (Lord), dan mengacu kepada Allah (God), seperti halnya pada Luk 1:32; 2:9, Kis 5:19), dan kata “kurios” ini juga mengacu kepada Yesus (lih. Rom 10:9, 1Kor 12:3; Flp 2:11; Why 19:15); Kata Ibrani “Adonai” diterjemahkan di dalam Kitab Septuaginta (PL dalam bahasa Yunani) dengan kata Yunani, yaitu “Kurios” (Lord). Kata “Kurios” ini juga digunakan untuk menterjemahkan kata YHWH (God). Kata Adonai dalam Perjanjian Lama adalah kata ganti terhadap kata YHWH [Yehovah/ Yahwe], yaitu kata yang penggunaannya terbatas, oleh karena bangsa Yahudi menolak untuk mengucapkan kata tersebut karena takut menyebutkannya dengan tidak hormat, dan dengan demikian melanggar perintah Allah, “Janganlah menyebut nama Tuhan [YHWH/ Yehovah] Allah-mu [Elohim] dengan tidak hormat” (lih. Kel 20: 7).

ALLAH SENDIRI MENGGUNAKAN PENYEBUTAN “TUHAN” DAN KATA GANTI LAIN DALAM AL-QUR’AN

Alloh

I. PENGERTIAN ILAAHUN
*Kata ilaahun terdiri atas tiga huruf: hamzah, lam, ha, sebagai pecahan dari kata laha – yalihu – laihan, yang berarti Tuhan yang Mahapelindung, Mahaperkasa. Ilaahun, jamaknya Aalihatun, bentuk kata kerjanya adalah alaha, yang artinya sama dengan ‘abada, yaitu ‘mengabdi’. Dengan demikian ilaahun artinya sama dengan ma’budun, ‘yang diabdi’. Lawannya adalah ‘abdun, ‘yang mengabdi’, atau ‘hamba’, atau ‘budak’.

Selain ilaahun, dalam Al-Qur’an juga terdapat kata Rabbun yang digunakan untuk menyebut Tuhan. Kata rabbun terdiri atas dua huruf: ra dan ba, adalah pecahan dari kata tarbiyah, yang artinya Tuhan yang Mahapengasuh. Secara harfiah rabbun berarti pembimbing, atau pengendali. Selain dimaknai Allah, kata rabbun juga digunakan untuk sebutan tuhan selain Allah, seperti paragraf ayat:
“ arbaban min dunillah”, menjadikan pendeta, pastur, dan Isa Al-Masih sebagai tuhan-tuhan selain Allah.
Dalam Al-Qur’an kata ilaahun juga dipakai untuk menyebut berhala, hawa nafsu, dewa. Semua istilah tersebut dalam Al-Qur’an menggunakan kata ilaahun, jamaknya aalihatun.

1.1. Allah Swt. Menyatakan Dia sebagai ilaahun.

… إِنَّمَا ٱلله إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ سُبْحَٰنَهُۥ أَن يَكُونَ لَهُۥ وَلَدٌ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ وَكَفَىٰ بِٱللهِ وَكِيلً

“… Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Esa, Mahasuci Allah dari mem¬punyai anak. Semua yang ada di langit dan di bumi hanyalah milik-Nya. Cukuplah Allah sebagai saksi atas kebenaran keesaan-Nya.” (Qs. An-Nisaa’ 4:171)

1.2. Disisi lain Allah Swt. Menyatakan hawa nafsu yang diikuti orang kafir ,juga sebagai ilaahun.

أَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

“Wahai Muhammad, apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang ka-fir yang menuhankan hawa nafsunya? Apakah kamu punya kekuasaan untuk memberi hidayah kepada mereka?” (QS. Al-Furqan, 25: 43)

1.3. Allah Swt. Menyatakan sesembahan orang musyrik sebagai ilaahun :

… فَمَآ أَغْنَتْ عَنْهُمْ ءَالِهَتُهُمُ ٱلَّتِى يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللهِ مِن شَىْءٍۢ لَّمَّا جَآءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ

“… Maka Tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah itu tidak dapat menolong mereka sedikit pun ketika datang adzab dari Tuhanmu. Tuhan-tuhan itu justru menambah kerugian yang sangat besar.” (QS. Hud, 11: 101)

1.4. Allah Swt. Menyatakan para pendeta sebagai rabbun :

ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَٰنَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللهِ وَٱلْمَسِيحَ ٱبْنَ مَرْيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوٓا۟ إِلَٰهًا وَٰحِدًا لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Kaum Yahudi dan Nasrani telah menjadikan pendeta-pendeta mereka, pastur-pastur mereka, dan Al-Masih bin Maryam sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Padahal mereka hanya diperintah untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Allah. Mahasuci Allah dari semua keyakinan syirik yang mereka buat-buat.” (Qs. At-Taubah, 9:31)

Maka kata ilaahun dan rabbun sesungguhnya adalah bahasa asli Arab jahiliyah yang dipertahankan penggunaannya dalam Al-Qur’an, sebagaimana contoh di atas,dimaksud bahwa Allah menyesuaikan dengan pemahaman bahasa yang dimengerti kaumnya.
(Bayangkan jika Al-Qur’an tidak cerdas,bahasanya tidak difahami oleh orang Arab,tentu akan semakin diolok-olok oleh kaum jahiliyyah).

Orang-orang Arab sebelum Islam, memahami makna kata ilaahun sebagai dewa atau berhala, dan mereka gunakan dalam percakapan sehari-hari. Apabila orang Arab Jahiliyah menyebut dewa cinta, maka mereka mengatakan ilaahul hubbi, dan ilaahatul hubbi untuk menyebut dewi cinta. Kaum penyembah berhala (animisme), atau aliran kepercayaan di zaman kita sekarang, sebagaimana orang-orang Arab Jahiliyah, menganggap tuhan mereka berjenis kelamin, laki dan perempuan.

Demikian sobat, Maka sekarang bolehkah umat Islam menyebut Allah dengan nama-nama dari bahasa-bahasa non-Arab ? Secara bijaksana ,jawabnya boleh-boleh saja, toh kita di Indonesia juga menggunakan istilah Tuhan untuk menterjemahkan istilah Robb, dan itu tidak perlu dipermasalahkan.Namun yang perlu diwaspadai oleh umat Islam adalah jangan sampai terjebak pada nama-nama yang mengarah pada keberhalaan (bersifat syirik) :

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-namaNya, Kelak, mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” – Qs. 7 al-a’raaf : 180

Bagaimana sekarang ? Sudah memahami semua ini ? Sebab akupun kini telah memahami dari tulisan yang ku susun sendiri ini. Oleh karena itu, sobat budiman pembaca terjemah Al-Qur’an tidak perlu alergi terhadap kata “Tuhan” sebagai terjemahan dari kata ilaahun dan rabbun. Umat Islam yang kini sudah mengetahui ilmunya tidak perlu harus merasa khawatir luntur aqidahnya, karena ini hanya problem bahasa masing masing umat dan keterbatasan kosa kata bahasa Indonesia.

2. PENGERTIAN RABB DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH.

(Oleh Sheikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan) :

Rabb adalah bentuk mashdar, berasal dari “Rabba–Ya Rubbu”,yang berarti mengembangkan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain,sampai pada keadaan yang sempurna.

Jadi, Rabb adalah kata mashdar yang dipinjam untuk fa’il (pelaku). Kata-kata Ar-Rabb tidak disebut sendirian, kecuali untuk Allah Ta’ala yang menjamin kemaslahatan seluruh makhluk. Adapun jika diidhafahkan (ditambahkan kepada yang lain), maka hal itu bisa untuk Allah dan bisa untuk lainNya. Seperti Firman Allah Ta’ala:

“Tuhamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu,”.(QS Asy-Syuara: 26).

Dikatakan “rabbuddaari” dalam ayat tersebut berarti tuan rumah, pemilik rumah, atau pemilik kuda, dan diantaranya lagi dalah perkataan Nabi Yusuf alaihissalam yang difirmankan oleh Allah Ta’ala:

“Dan Yusuf Berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.”.(QS.Yusuf:42).

Dan Firman Allah Ta’ala:

“Raja berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang Telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha mengetahui tipu daya mereka.” (QS Yusuf: 50).

“Hai kedua penghuni penjara: “Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi Maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)”.(QS.Yusuf:41).

Rasulullah bersabda dalam hadist “unta yang hilang,”
“sampai sang pemilik menemukannya.”

Maka jelaslah bahwa kata Rabb diperuntukkan untuk Allah, jika ma’rifat dan mudhaf, sehingga kita mengatakan misalnya: “Rabbu” (Tuhan Allah), “Rabbul’alamiin” (Penguasa semesta alam), atau “Rabbunnas” (Tuhan manusia).Dan tidak diperuntukkan kepada selain Allah Ta’ala kecuali jika diidhafahkan, misalnya: “Rabbuddaar” (tuan rumah), atau “Rabbul ibiil” (pemilik unta), dan lainnya.

Makna “Rabbul’alamiin” adalah Allah Ta’ala Pencipta alam semesta, Pemilik, Pengurus, dan Pembimbing mereka dengan segala nikmatNya, serta dengan mengutus para rasulNya, menurunkan kitab-kitabNya, dan Pemberi balasan atas segala perbuatan makhlukNya.

MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “HU” (Dia Laki-Laki), DALAM AL-QUR’AN ?

Apa maksudnya ? Apakah berarti Tuhan itu lebih dari satu ? Apakah berarti bahwa tuhan itu bergender ?

Sahabat,perkara ini telah sering menjadikan perdebatan kusir diantara sesama dan bahkan telah menjadi ajang pembenaran argumentasi pihak non muslim bahwa Tuhan itu dapat bersifat plural atau dapat disetarakan dengan unsur-unsur lain.

Dan sebenarnya pertanyaan-pertanyaan ini sudah dijawab dari sejak jaman dulu oleh Ulama alim dan Ahli Tafsir,dimana para ulama dari agama lain selalu mempertanyakan,setiap kali melihat terjemahan Al-Quran semacam ini dari masa-ke-masa, MENYANGKA dan BERTANYA apakah kata “KAMI” dan “HU” (Dia Laki-Laki),dalam Al-Quran adalah “Tuhan yang dapat disetarakan dengan unsur lain,serta bergender”. Padahal dalam ayat lain Al-Qur’an sudah mengunci jawaban, yakni bahwa Allah Swt itu Tunggal .Seperti salah satunya ditegaskan dalam Surah QS.112.Al-Ikhlas:01.

Tak kenal maka tak sayang,ketidak tahuan akan membuat kita tenggelam ke dalam kebimbangan dan kegelapan alam pikir.

BERIKUT PENJABARANNYA :

Semua perkara yang tersebut diatas sesungguhnya hanya masalah tata bahasa.Di antara uslub (metode) bahasa Arab adalah bahwa seseorang dapat menyatakan tentang dirinya dengan kata ganti ‘nahnu’ (kami) untuk menunjukkan penghormatan. Atau Allah menyebut dirinya dengan dhamir (kata ganti) ‘أنا’ (saya) atau dengan kata ganti ketiga seperti : هو’ (dia).

PRONOMINA atau DHAMIR atau KATA GANTI ALLAH,RABB dan BENDA lain dalam AL-QUR’AN :

pronomina

Bahwa tata bahasa AL-QUR’AN itu berbeda jauh dengan tata bahasa bangsa manapun didunia dalam hal penjabaran pemaknaan dari sebuah kalimat maupun padanan kata.Dalam bahasa AL-QUR’AN,jika sebuah kalimat dirubah satu tanda bacanya saja akan merubah artinya,apalagi menambah/merubah satu huruf,maka akan jauh berbeda maknanya,juga padanan kata.

1. MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “AKU”

Dalam tata bahasa Arab,(GRAMMAR/NAHU SARAF), ada kata ganti (DHAMIR / PRONOMINA) pertama (singular) “AKU”,dengan kalimat :”Ana” ,Dan ada kata ganti pertama (plural) “AKU”,dengan kalimat : “Nahnu”. Akan tetapi dalam bahasa Arab, kata ganti pertama plural dapat dan sering, difungsikan sebagai singular. Hal ini disebut “Al-Mutakallim Al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”, Adalah kata ganti pertama yang memuat makna sebagai tanda “PENGHORMATAN”.

Metode ini terdapat dalam Al-Quran dan Allah Ta’ala menyampaikan kepada bangsa Arab apa yang dipahami dalam bahasa mereka”.(Fatawa Lajnah Daimah, 4/143)
Allah SWT terkadang menyebutkan dirinya dengan sighoh mufrad (sendiri) secara nampak atau mudhmar (tersembunyi). Tekadang dengan shigoh jama’. Seperti firman-Nya,

“Sesungguhnya kami telah taklukkan bagi kamu (Muhammad) dengan penaklukan yang nyata…..”.

Maka Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan nama-Nya dengan shighoh tatsniyah (bentuk dua). Karena shigoh jama’ mengandung pengagungan yang layak bagi-Nya. Terkadang menunjukkan makna nama-nama-Nya. Sementara sighoh tatsniyah (bentuk dua) menunjukkan bilangan tertentu. Dan Dia tersucikan dari itu.
(Reff:‘Al-Aqidah At-Tadmuriyah karangan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 75).

Lafaz “Inna” ( إنا)) dan “Nahnu” (نحن) atau selainnya termasuk bentuk jamak, tapi dapat diucapkan untuk menunjukkan seseorang yang mewakili kelompoknya, atau dapat pula disampaikan mewakili seseorang yang nomor satu. Sebagaimana dilakukan oleh Presiden apabila ia mengeluarkan keputusan atau ketetapan, maka dia berkata, “Kami tetapkan…” atau semacamnya, padahal dia yang menetapkan itu hanyalah satu orang. Akan tetapi diungkapkan demikian untuk menunjukkan keagungan. Maka yang paling berhak diagungkan oleh setiap orang adalah Allah Azza wa Jalla. Maka jika Allah mengatakan dalam Kitab-Nya, (إنا), sesungguhnya Kami, atau (نحن), kami, itu adalah bentuk pengagungan, bukan menunjukkan bilangan.
Ini karena dhamir ‘NAHNU’ yang dalam Tata Bahasa umum sebagai bentuk jamak yang diartikan sebagai “kita” atau “kami” (plural),tetapi dalam ilmu NAHU SOROF,kalimat “NAHNU” tersebut diartikan sebagai bermakna :”AKU / SAYA” dalam bentuk singular/Tunggal yang merupakan bentuk kalimat penghormatan atau bahasa sopan (Kromo inggil-Jawa).

Karena dalam tata bahasa bangsa lain tidak memiliki perbendaharaan seperti dalam Tata Bahasa Arab ini,maka kalimat ‘NAHNU”(Aku dengan konotasi penghormatan), hanya bisa diterjemahkan dengan kalimat “KAMI” ke dalam bahasa Indonesia atau “WE” dalam Bahasa Inggris,sehingga bagi yang tidak memahami seolah bermakna “jamak”.

Selain kata ‘Nahnu’, ada juga kata ‘ANTUM (KAMU), yang sering digunakan untuk menyapa lawan bicara meski hanya satu orang. Padahal makna `antum` adalah kalian (jamak).

Maka terjemahan “ANTUM” dalam bahasa Arab yang berarti “KAMU”,ketika kita menyapa lawan bicara kita dengan panggilan ‘antum’, maka secara kandungan bahasa, merupakan panggilan sopan dan ramah serta sebagai penghormatan ketimbang menggunakan sapaan “Anta , Ente”

Atau dalam bahasa sehari-hari kita,memanggil lawan bicara dengan panggilan :

-“KAMU , LOE , SITU”,maka akan berkesan adanya penghormatan jika diganti dengan kata, ”Anda, Gus atau “Tuan, Nyonya/Ibu/Bapak”.

Dalam bahasa Jawa, Sunda :

-Koe / rika / nyong /awakmu,aing dan sebagainya,maka akan lebih mengapresiasikan penghormatan dengan kalimat panggilan : “Panjenengan/sampeyan/sliramu/abdi/anjeun”, dan sebagainya. (Ini disebut “Ngajeni” /sopan dalam bahasa Jawa/Sunda)

Dalam bahasa Inggris :

-I (am) = saya, aku.
-You = kamu
-We = kami
-They = Mereka
-He = dia (laki-laki)
-She = dia (wanita)
-It = dia (benda & hewan)

BANDINGKAN DENGAN BAHASA ARAB :

-Huwa = dia (laki-laki)
-Huma = dia berdua (laki-laki)
-Hum = mereka (laki-laki)
-Hiya = dia (perempuan)
-Huma = dia berdua (perempuan)
-Hunna = mereka (perempuan)
-Anta = kamu (laki-laki)
-Antuma = kamu berdua (laki-laki)
-Antum = kalian (laki-laki)
-Anti = kamu (perempuan)
-Antumah = kamu berdua (perempuan)
-Antunna = kalian (perempuan)
-Ana = Saya, Aku
-Nahnu ( kami-aku, dengan bahasa penghormatan)

Dari perbendaharaan kata diatas, jika kita rangkai kalimat atau digabungkan dengan ‘kata kerja’, maka akan mengalami perubahan.

Contoh kata ,”fa’ala” =melakukan / “do” dalam Inggris,jika ditempatkan dengan kata-kata diatas maka akan menjadi:

a). “yaf’alu” =dia (seorang lak-laki) melakukan…,
b). “yaf’alaani”=dia dua orang lak-laki melakukan…,
c).”yaf’aluuna” =mereka (laki-laki) melakukan…,

Maka Kata ‘Nahnu’ (Kami,Alloh) yang berasal dari akar kata “ANNA”, dalam Al-Qur’an,tidak bermakna banyak, tetapi tetap bermakna “AKU TUNGGAL” yang menunjukkan keagungan Allah SWT,Tuhan Semesta Alam. Ini dipelajari dalam ilmu balaghah.

Contoh:
Dalam bahasa kita ada juga penggunaan kata “Kami” tapi bermakna tunggal. Misalnya seorang Lurah dalam pidato sambutan berkata.

”Kami sebagai Lurah berpesan…bla …bla….”

Padahal si Lurah hanya dia sendiri dan tidak banyak, tapi dia bilang “Kami”. Lalu apakah kalimat itu bermakna bahwa seorang Lurah yang sedang pidato itu berjumlah banyak?

Contoh lain :

Pada orang-orang yang telah fasih dengan Tata Bahasa Arab tentu akan paham, atau setidaknya orang pesantren “klotokan” yang bahasa sehari-harinya lazim menggunakan bahasa Arab Seperti di Pondok Pesantren Gontor,Tebu Ireng dan lainnya, tentu akan paham makna penggunaan kata “Nahnu” (kami).

-Maka kalimat,”Nahnu” (kami), dapat digunakan untuk lebih dari satu yaitu “kami” (plural – jamak),namun dapat juga untuk “satu orang” yaitu yang dimaksudkan “saya-sendiri” dengan makna “Bahasa santun”. (dalam Bahasa Arab).

Contoh lain lagi :

Penggunaan kata : “Antum” (kalian), memang bisa digunakan untuk lebih dari satu yaitu “Kalian” (plural – jamak), Namun dapat juga untuk satu orang, yaitu yang dimaksudkan “Anda” ,”Tuan” , “Bapak/Ibu”,dengan makna bahasa santun ,dalam Bahasa Arab.Bandingkan dengan jika kita mengatakan kata,”KAMU, LOE , SITU, ENTE”,yang diucapkan kepada orang tua atau Bos.

Maka bukan berarti “Antum” ini bermakna “kalian” (jamak) akan tetapi bermakna tunggal sebagai PENGHORMATAN dan PENGAGUNGAN. Inilah yang disebut “Al-Mutakallim Al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”.

Cobalah RENUNGKAN akan hal ini !

-Maka penyebutan kata “KAMI” yang digunakan dalam Al-Qur’an ketika Allah berfirman,(yang dalam bahasa Arab adalah “NAHNU” juga “INNA” atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf “NAA”),adalah merupakan bentuk kalimat pengagungan yang tetap bermakna, “AKU”, Tuhan Yang Tunggal dan Maha Perkasa.

-Juga acapkali Allah Swt,menggunakan kata “AKU”, “DIA”, didalam Al Qur’an.(dalam bahasa Arab adalah “ANA” , “INNI” dan “HUWA“, atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf “TU”, atau juga langsung dengan lafadz “Allah” sendiri, begitu pula dengan kata “Dia” / “Huwa”).Maka tata bahasa seperti ini tidak ada dalam tata bahasa bangsa lain termasuk dalam tata bahasa Indonesia.

2. Mengapa Allah Swt menggunakan kata ganti (dhamir) “HU” (Dia- laki-laki) untuk diri-Nya dalam al-Qur’an?

*Sebab mengapa Allah Swt dalam Al-Qur’an menggunakan “HU” (kata ganti ketiga-Maskulin) untuk diri-Nya adalah lantaran Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan penggunaan “HU” (pronomina III -Maskulin), bagi Allah Swt telah sesuai dengan kaidah dan sastra bahasa Arab.

Karena Allah Swt bukan muannats (feminim) hakiki dan juga bukan mudzakkar (maskulin) hakiki dan juga tidak menggunakan penggunaan qiyâsi (mengikuti kaidah tertentu) dan simâi muannats majâzi (figuratif). Karena itu, berdasarkan kaidah bahasa Arab yang harus digunakan untuk Zat Allah Swt adalah pronomina dalam bentuk maskulin figuratif (mudzakkar majâzi). Di samping itu, tanda-tanda literal maskulin dan feminin bukan sebagai penjelas kedudukan dan derajat yang mengandung nilai (value).

Bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab. Bahasa Arab berbeda dengan bahasa-bahasa lainnya menggunakan dua jenis kata ganti dan pronomina (dhamir) orang ketiga laki-laki (mudzakkar) dan kata ganti orang ketiga perempuan (muannats). Suatu hal yang natural bahwa setiap buku atau kitab yang ingin ditulis menggunakan bahasa ini, kendati ia merupakan kitab Ilahi, maka ia harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa tersebut dan gramatikanya.

Bahasa Arab, karena tidak memiliki kata ganti orang ketiga waria (khuntsa), sebagian hal yang tidak memiliki jenis kelamin dinyatakan dengan kata ganti orang ketiga laki-laki (dhamir mudzakkar). Namun, yang semisal dengan masalah ini, juga terdapat dalam bahasa-bahasa yang lain, seperti bahasa Prancis. Dengan bersandar pada poin ini dapat diambil kesimpulan bahwa pernyataan kata ganti orang ketiga laki-laki, sama sekali tidak ada kaitannya dengan sifat kelaki-lakian.

Pada kenyataannya, dapat dikatakan bahwa al-Qur’an tidak didominasi oleh pandangan patriarkial yang berkembang pada budaya zamannya, melainkan sebuah tipologi bahasa yang mengkondisikan pembicaranya supaya memperhatikan dan mematuhi hal tersebut. Karena itu, Al-Qur’an, dengan alasan diturunkan dan diwahyukan dalam bahasa Arab, bertutur kata dengan wacana ini dan menggunakan pronomina-pronomina dan redaksi maskulin (mudzakkar) yang selaras dan sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab.

Dengan kata lain, dari satu sisi, dalam bahasa Arab, nomina-nomina (asmâ) dan verba-verba (af’âl) (selain verba kata ganti orang pertama tunggal [mutakkalim wahdah] dan kata ganti orang pertama jamak [mutakallim ma’a al-ghair]) memiliki dua jenis: laki-laki atau maskulin (mudzakkar) dan perempuan atau feminin (muannats). Maskulin dan feminin ini terbagi lagi menjadi hakiki dan majâzi (figuratif). Seluruh entitas yang memiliki alat kelamin pria dan wanita adalah maskulin dan feminin hakiki (mudzakkar dan muannats hakiki). Selainnya adalah figuratif (majâzi).

Maskulin hakiki seperti “rajul” (pria) dan “jamal” (unta jantan). Feminin hakiki seperti “imraat” (wanita) dan “naqah” (unta betina). Maskulin figuratif (mudzakkar majazi) seperti “qalâm” (pena) dan “jidâr” (dinding). Feminin figuratif (muannats majazi) seperti “dâr” (rumah) dan “ghurfah” (kamar). Penggunaan muannats majazi dalam hal-hal seperti nama-nama kota, anggota badan yang berpasangan memiliki kaidah dan dalam hal-hal lainnya tidak mengikut kaidah tertentu (qiyâsi) dan bersifat simâi. Simâi artinya bahwa yang menjadi kriteria adalah semata-mata mendengar orang-orang yang berbahasa Arab dan harus diperhatikan orang-orang Arab menggunakannya dalam bidang apa. Apabila hal tersebut bukan termasuk muannats hakiki dan muannats majâzi dan juga bukan mudzakkar hakiki maka tentulah ia merupakan mudzakkar majâzi.[1]

Dari sisi lain, karena Allah Swt tidak melahirkan juga tidak dilahirkan. Demikian juga tiada yang menyerupainya[2] dan juga bukan termasuk hal-hal yang terkait dengan penggunaan qiyâsi (mengikuti kaidah tertentu) dan simai muannats majâzi. Karena itu, berdasarkan kaidah bahasa Arab yang harus digunakan untuk Zat Allah Swt adalah kata ganti-kata ganti, nama-nama dan sifat-sifat dalam bentuk mudzakkar majâzi (maskulin figuratif).

Poin ini juga harus mendapat perhatian bahwa tanda-tanda literal muannats dan mudzakkar tidak mengandung nilai tertentu dan tidak menunjukkan tanda dan dalil atas kemuliaan dan kedudukan seseorang. Karena itu, apabila tanda-tanda literal mudzakkar, menunjukkan kemuliaan dan kedudukan tertentu seseorang, dan memiliki nilai tertentu, maka untuk selain manusia dan sebagian makhluk rendah seperti setan dan iblis… tidak boleh menggunakan kata kerja-kata kerja atau nomina-nomina atau pronomina-pronomina dan seterusnya yang memuat tanda-tanda literal mudzakkar.
Demikian juga, apabila tanda-tanda literal muannats merupakan dalil dan tanda kekurangan dan minus nilai maka entitas-entitas yang sarat nilai seperti matahari (syams), bumi (ardh), kaum pria (al-Rijal), air (ma’) dan sebagainya dan sebaik-baik perbuatan dan kedudukan seperti sembahyang (shalat), zakat, surga (jannat) tidak akan dinyatakan dalam bentuk literal muannats.[3]
Reff:
[1]. Sharf Sâdeh, hal. 28 dan 145.
[2]. Lam yalid wa lam yulad (Qs. Al-Ikhlas [114]:3). Laisa kamitsli syai (Qs. Al-Syura [42]:11)
[3]. Silahkan lihat, Zan dar Âine Jalâl wa Jamâl, Jawadi Amuli, hal. 78.
*http://quran.al-shia.org/id/lib/101.html

PENERAPAN KALIMAT ALLAH DAN PRONOMINA “TUHAN-AKU-DIA-KAMI DAN RABB”, DALAM AL-QUR’AN :

Telah diketahui bahwa terjemahan “Tuhan” berasal dari “ILAAHUN” dan “RABB”, kemudian kata ganti “AKU” dari “ANA”, kata ganti “DIA” dari “HU”, sedangkan kata ganti “KAMI” dari “INNA / NAHNU”,maka pecahan pecahan tersebut semuanya berasal dari satu sumber kalimat agung, yakni berasal dari kalimah “ALLAH”.

Mari kita jabarkan :

Lafaz ALLAH terdiri dari empat huruf,yaitu : ALIF-LAM-LAM dan HA.

1. Jika huruf pertama ditiadakan, maka yang ada lafaz “LILLAH”.
2. Jika huruf LAM pertama ditiadakan,maka yang ada lafaz “ILAAHUN”.
3. Jika kedua huruf LAM ditiadakan, maka yang ada lafaz “HU”.
4. Jika tiga huruf terakhir ditiadakan, maka muncul symbol “ALIF”.

Makna LILLAH :
Mengejawantahkan dzat bagi “TEMPAT SEMUA KEMBALI atau SEGALA SESUATU HANYA DARI,UNTUK dan PADA ALLAH,entah segala penciptaan,peribadatan,pengabdian serta ketergantungan seluruh alam semesta dan makhluk makhluk-Nya.

Makna ILAAHUN :
Kata ilaahun terdiri atas tiga huruf: hamzah, lam, ha, sebagai pecahan dari kata laha – yalihu – laihan, yang berarti Tuhan yang Mahapelindung, Mahaperkasa. Ilaahun, jamaknya Aalihatun, bentuk kata kerjanya adalah alaha, yang artinya sama dengan ‘abada, yaitu ‘mengabdi’. Dengan demikian ilaahun artinya sama dengan ma’budun, ‘yang diabdi’. Lawannya adalah ‘abdun, ‘yang mengabdi’, atau ‘hamba’, atau ‘budak’.Maka ILAAHUN yang dalam bahasa Indonesia Tuhan Yang Maha Esa, mengejawantahkan Dia,Tuhan, Allah yang tidak ada tuhan tuhan lain dan sembahan sembahan lain selain Allah,tanpa reserve.

Makna HU :
“HU”,yang berasal dari bagian asma Allah,di dalamnya tersembunyi hakekat ”HUWA”,adalah Dia Yang Maha Mutlak,tak terbanding dan setarakan(awyakta-Sanskert).Karena sebelum datangnya islam bangsa Arab jahiliyyah menganggap bila Tuhan itu dapat setara dengan materi dan berjenis kelamin laki laki.Maka setelah dunia yang jahil diterangi Islam,Allah meminjam kosa kata yang telah dipahami oleh bangsa Arab ini sebagai bentuk tandingan,bahwa “HU” (Dia,Tuhan yang bukan laki laki maupun perempuan dan tak dapat disetarakan dengan lainnya),dengan di idhafahkan menjadi : “Hu, Allahhu ahad,Allahussomad – Dia,Allah Yang Maha Esa,tempat semua bergantung,tidak beranak dan diperanakkan”, artinya Allah tidak dapat disetarakan dengan materi, gender laki laki/perempuan.(QS.112.Al-Ikhlas :1-4).

alif

Symbol ALIF :
Sedangkan symbol ALIF merupakan kata sandang “AL” atau dalam bahasa Indonesia adalah “SANG” atau dalam bahasa Inggris “THE”,yang mengejawantahkan bahwa ALLAH adalah dzat Maha Tersembunyi namun exis. Dan dari symbol ALIF memancar 99 asmaul Husna,yang huruf ALIF tersebut hanya satu karakter yakni bentuk karakter garis strip vertikal tunggal yang mempunyai makna rahasia paling rahasia yang direliefkan dalam beberapa awalan surat surat Al-Qur’an yakni ALIF-LAAM-RAA , ALIF – LAAM – MIM , yang setiap nama nama ASMAUL HUSNA selalu menggunakan kata sandang “AL”,yang dawalii dengan huruf Alif, kemudian ayat pertama turun diawali dengan huruf ALIF,yang setiap membaca ayat-ayat-Nya dimulai dengan Bismillah,sedang huruf bismillah diawali dengan karakter ALIF.

Selain ilaahun, dalam Al-Qur’an juga terdapat kata Rabbun yang digunakan untuk menyebut Tuhan. Kata rabbun terdiri atas dua huruf: ra dan ba, adalah pecahan dari kata tarbiyah, yang artinya Tuhan yang Mahapengasuh. Secara harfiah rabbun berarti Pembimbing, Pemelihara dan Pengendali.

A.PENERAPAN KALIMAT “AKU” :

Ketika Alloh menggunakan kata ganti diri-Nya dengan kalimat “aku/Ana”,maka dipergunakan untuk menegaskan kepemilikan dan sumber tuju atas segala sesuatu yang ada dialam semesta ini.Maka Allah Yang Maha berkuasa, tempat meminta dan berhak memberi sesuai kehendak-Nya.Tiada yang lain yang berkemampuan seperti ini,tidak ada libatan pengaruh maupun tekanan dari makhluk lain.Segala sesuatu yang langsung ditangani dibawah kekuasaan dan kekuatan-Nya.Inilah merupakan bentuk “LITTA’DZHIIM” (menunjukkan Keagungan dan Kebesaran seorang diri/Tunggal tanpa melibatkan unsur lain saat berkehendak).

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS.Adz Dzaariyaat : 56)

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”.(QS. 2. Al Baqarah:152).

B.PENGGUNAAN KALIMAT “ALLAH” PADA DIRINYA SENDIRI:

Lafaz Allah adalah lafzhul Jalalah, lafaz yang tidak dapat dirubah hurufnya dan diganti menjadi lafaz lain.Nama yang asing bagi bangsa Arab dan dunia sebelum datangnya Islam.Kosakata yang belum pernah ada sebelumnya.Dia sendiri yang menamai dirinya dengan ALLAH (QS.28:68-70).

Digunakan untuk menunjukkan jatidiri serta keberadaannya (existensi) untuk diketahui dan dikenal,bahwa Dia,Tuhan Sang Penguasa alam semesta dengan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat,yang tidak ada makhluq lainpun yang dapat menyamai Keagungan dan Kekuatan –Nya.Hanya kepada Allah saja semua makhluk mengabdi.

Contoh penggunaan kalimat yang menyebut Allah dengan nama dirinya sendiri:

يُظْلَمُونَ لا وَهُمْ كَسَبَتْ بِمَا نَفْسٍ كُلُّ جْزَىتُلِوَبِالْحَقِّ وَالأرْضَ السَّمَاوَاتِ اللَّهُ وَخَلَقَ

“Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan”. (QS.Al-Jaatsiyah : 22).

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.” (QS.Al-Israa’: 99).

C. PENGGUNAAN KALIMAT “DIA” :

Merupakan kata ganti yang menekankan kemutlakan dan “TANDINGAN”,atas lainnya,Digunakan untuk menunjukkan bahwa Dia,adalah Allah satu satunya Tuhan penguasa alam semesta dengan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat,yang tidak ada makhluq lainpun yang dapat mampu menandingi/menyamai Kemaha Mampuannya,tiada yang bisa disetarakan dengan-Nya dan hanya kepada Dia saja semua makhluk harusmenyembah.

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).”(QS.Al-Baqarah: 255).

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (Tunggal).” (QS.Al-Ikhlas: 1)

D. PENGGUNAAN KALIMAT “KAMI” :

Merupakan kata ganti yang menekankan sisi proses atas segala sesuatu yang dikehendaki dan terjadi menurut kekuasaan dan ke-Maha Kehendak-Nya. Digunakan untuk menunjukkan bahwa “KAMI”,adalah Allah satu satunya Tuhan penguasa alam semesta dengan kekuasaan-Nya,yang menetapkan,mengawasi dan mengendalikan sistem Qada-Qadar dan Takdir-Nya. Dan berjalannya sistem tersebut adalah melalui proses/ mekanisme/tahapan.

Allah mengadakan/menugaskan para wali-Nya,yakni para Malaikat,para Nabi , Rasul dan mekanisme alam semesta,untuk menyampaikan pesan/signal kehendak-Nya,petunjuk petunjuk-Nya,ilmu pengetahuan dan perintah serta larangan-Nya.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (QS.Al-Hujuraat: 13)

Maka maknanya bahwa Allah dalam menciptakan manusia setelah penciptaan langsung Adam,tidak satu persatu lagi secara langsung,melainkan melalui mekanisme biologis,yakni dimana proses manusia berkembang biak. Maka inilah RAHASIA bahasa AL-QUR’AN mengapa Allah Swt. menggunakan lafadz/kalimat “NAHNU (KAMI)”.

“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam”. (QS.Al-Anbiyaa’ : 107)

Kata Arsalna ( أَرْسَلْنَا ‘Kami mengutus’) berasal dari kata dasar “Arsala” أَرْسَلْ
(bermakna : mengutus, memberikan risalah, mengantarkan risalah).Sebagaimana penjelasan sebelumnya diatas, maka kata “KAMI” yang Allah Swt. maksudkan karena ADANYA PROSES PENGUTUSAN,atau adanya mekanisme pengiriman wahyu yaitu melalui “MALAIKAT JIBRIL” SEBAGAI PENGANTAR WAHYU ALLAH SWT,kemudian hingga sampai pada Rasul/Nabi nabi-Nya. Sebab tidak harus Allah berkehendak memberi petunjuk/risalah untuk manusia kemudian mengantarkan sendiri langsung ke makhluk-Nya. Makanya Allah Swt. menggunakan Kata “NAHNU” (KAMI).

Demikian maksud penerapan kata ganti “KAMI / NAHNU,selain sebagai bentuk penghormatan dan bermakna “kami” tunggal,juga menegaskan adanya mekanisme penugasan melalui para malaikat,para Nabi dan para Rasul rasul-Nya.

KESIMPULAN

ilm

Dari seluruh uraian mengenai kata ganti Allah,penyebutan Tuhan,Lord,Gusti maupun Pengeran dan lain sebagainya, telah dijabar dari berbagai sudut al-ilm, baik secara dalil ‘aqli maupun naqli.Artinya telah memenuhi standar ilmu pengetahuan yang bersumber dari Al-Qur’an,As Sunnah yang kemudian ditambah dengan penjabaran oleh para alim ulama yang luas pengetahuannya.Dan ketahuilah bahwa terjemahan kata “TUHAN” telah disebut sebanyak lebih dari 507 kali dalam ayat Al-Qur’an.

Maka,satu esensi dapat ditarik hakekatnya yakni :

1- Apapun nama nama lain Allah yang kita sebut dengan bahasa ibu pertiwi masing masing seperti yang telah diurai diatas saat kita berdoa,memohon,merintih,melolong berharap pertolongan Allah,maka tak bermasalah sepanjang penyebutan penyebutannya ditujukan dari keikhlasan hati dan niat suci hanya kepada Allah Ta’ala,bukan menuju yang selain Allah.Dan sepanjang penyebutan penyebutan nama lain Allah tidak bermakna buruk atau bernada pelecehan. Sedangkan menyebut Allah dengan panggilan lain menurut bahasa daerah yang familier seperti Gusti, Pengeran,Kang Murbehing Dumadi dan lainnya,maka tidak masalah sebab bermakna luhur dan merupakan sebutan kehormatan diwilayah budaya masing masing. Semua hanya ada dalam hati dan penyimpangan dari semua itu menjadi konskuensi individu.

-Uraian pengetahuan ini telah jelas dipapar.Manakala ada orang ataupun yang mendakwa dirinya ustadz,tokoh aim kemudian membuat tulisan tulisan menolak atau mengharamkan/melarang penyebutan Tuhan,Gusti dan Pengeran dan lain sebagainya dengan mendasari berbagai rangkaian dalil (kadang penerapan dalilnya dalil mentah) dengan argumen bahwa kata “Tuhan,Gusti,Pengeran” dan lainnya adalah tidak ada dalilnya serta dianggap berasal dari ajaran kafir,maka hal ini telah terbantahkan sebab penjabaran yang telah diurai diatas ini lebih komprehensif,lengkap,memenuhi seluruh aspek ilmu kaji serta hukum hukum syareat serta logika agama (Al-Hikmah). Maka tinggal penyerapannya diserahkan kepada para pembaca masing masing.

2. inilah salah satu tanda keagungan mengapa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.Jikalau Alquran itu diturunkan dengan semua bahasa, tentu akan banyak perbedaan penafsiran kata disetiap wilayah dan perubahan yang susah dipantau dan dideteksi kebenarannya.Jikalau Al-Qur’an di Indonesia dimusnahkan dan dibakar, akan datang jutaan Hafidz (Penghafal) Al-Qur’an dari seluruh penjuru dunia untuk menggantikannya dengan hafalan yang sama, surah yang sama, ayat yang sama, dan huruf yang sama. begitulah salah satu cara Allah Swt. menjamin kemurnian Al-Qur’an.

3. Inilah hikmah al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab. Nabi Muhammad SAW adalah orang arab, dan masyarakat di sekeliling Nabi adalah orang arab, mereka sangat arif dengan bahasa mereka, dan mereka faham apa yang diturunkan dalam bahasa mereka. Masalah berkaitan perkataan KAMI ini tidak timbul ketika itu, kerana mereka faham bahasa mereka, bahawa KAMI yang dimaksudkan bukanlah bermaksud jamak, tetapi membawa arti satu penghormatan dan keagungan, dan ia tetap merujuk kepada Tuhan Yang Tunggal.

4. Tafsiran-tafsiran yang dalam dan luas seperti ini tidak akan kita temukan dalam Al-Qur’an terjemahan DEPAG RI maupun yang digital.Oleh karena itu,hanya dengan melalui para alim Ulama Tafsir yang fasih yang luas ilmunya yang dapat menjabarkan Tafsir Al-Qur’an ini,yang menandakan betapa Ilmu Al-Qur’an /Ilmu Tuhan itu sangat luas,lebih luas dari samudera langit dan bumi.

5. ALLAH JUGA TUHAN UMAT KRISTEN YANG DISEBUT DALAM INJIL :

Ketika kebanyakan dari mereka umat Kristiani juga merasa anti serta risih menyebut nama Allah,yang dianggap sebagai bukan Tuhannya mereka dan dianggap tidak sesuai dengan iman mereka,maka bagamana mungkin hal ini bisa tetap terus dijadikan anggapan ? Sedangkan nama Allah adalah kalimat yang juga disebut dan menjadi istilah di dalam kitab suci Injil PL maupun PB,seperti yang telah diterangkan diatas.

6. JANGAN MEN-TUHANKAN DALIL :

Ketika berargumen,berdakwah,berorasi,berdebat dan menulis kemudian bersikeras yang paling benar dan lainnya salah,sesat,kafir dan murtad hanya mendasari segala sesuatunya tidak ada dalilnya,maka itu yang disebut mencari “PEMBENARAN” dan hal demikian itulah yang disebut “MEN-TUHANKAN” dalil,mengesampingkan aspek aspek hakekat Kemaha Besaran Allah. Sementara ketika mendasari pemikiran bahwa kebenaran itu harus terlihat menurut apa apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW sehari hari,maka mengapa orang orang yang seperti ini tidak mengikuti sunnahnya secara konskuen? Yakni mengapa masih memakai setelan jas,sarung,peci,celana levis? Sedang Rasulullah SAW tak pernah memakai jas,sarung dan celana levis.Apalagi sedan,apalagi beli elektronik TV,laptop,gadget android,dan lain sebagainya, yang notabene buatan dan budaya non muslim.

7. Namun demikian,kita juga jangan mentang mentang bahwa kata ganti Allah seperti Tuhan,Gusti,Pengeran,Lord dan lain sebagainya itu boleh dan sah diucapkan,tetapi jangan dijadikan prioritas kebiasaan atau bahkan malah mengganti sebutan Allah dengan yang lain dan melupakan penyebutan ALLAH sama sekali, sebab kalimat Allah lebih utama dan unggul dibanding sebutan sebutan selain Allah.

Semoga menjadikan renungan di sanubari terdalam.

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Lembah Duren Sawit,11 Juli 2013 – 16 desember 2014

CopyRights@2013

Reff :
-Al-Qur’an terjemah DEPAG RI

http://teaching4muallaf.blogspot.com

http://www.muslim-menjawab.com

http://imanulhassan.blogspot.com

– TafsirIbnu Katsir, Tafsir Al Jalalein

– TafsirAl Mishbah, dari Prof. DR. Quraisy Shihab
http://www.arrahmah.com/read/2012/12/10/25356-kontroversi-kata-tuhan.html
-http://quran.al-shia.org/id/lib/101.html
-http://mudamudimuslim.blogspot.com/2011/12/benarkah-penyebutan-kata-tuhan-allah.html
-http://www.mukminun.com/2013/12/pengertian-rabb-dalam-al-quran-dan-as.html#_
-http://tausyah.wordpress.com/2010/07/10/benarkah-nama-tuhan-adalah-allah/
https://farisna.wordpress.com/2011/06/19/penyebutan-gusti-allah-dan-kanjeng-nabi/
-http://katolisitas.org/1800/tentang-sebutan-tuhan-allah-dan-yahweh-samakah

**TEORY MENEMBUS LORONG WAKTU BERSUMBER DARI AL-QUR’AN**

supermassive_black_hole3
INGIN UMUR AWET MUDA,SEHAT DAN ANTI PENYAKIT?

ATAU INGIN MENGALAMI KEHIDUPAN RATUSAN TAHUN DIMASA DEPAN ?

RAHASIANYA ADA DI AL-QUR’AN.

KISAH 7 PEMUDA ASHABUL KAHFI MENJADI ACUAN TEORY MENEMBUS LORONG WAKTU OLEH PARA ILMUWAN.

Salam sejahtera sahabat budiman semua,

Semua orang takut mengalami penyakit,penuaan,keriput dan renta tak berdaya.Tetapi sayangnya semua orang tak mampu menghindari itu semua.

Namun beberapa hamba-Nya ada yang telah diberi karunia kesehatan,berumur panjang , awet muda dan anti penuaan,bahkan ada yang masih hidup dari sejak dulu zaman Adam hingga sekarang,seperti yang dikisahkan dalam Al-Qur’an diantaranya adalah :

1.Nabi Adam,mengalami usia hingga 1000 tahun.

2.Nabi Idris ,hingga kini masih hidup di langit ke empat

3.Nabi Nuh, mengalami usia hingga 950 tahun

4.Nabi Khidir ,adalah salah satu anak Adam dari Nabi Tsits namun hingga sekarang masih hidup dan berkelana memberi pengajaran hikmah pada hamba-hamba-Nya tertentu.

5.Nabi Ilyas dan Nabi Isa AS,hingga kini masih hidup di langit ke dua beribadah sepanjang harinya.

6.Dan lain-lainnya, seperti kisah pemuda Ashabul Kahfi ,Nabi Isa AS serta Nabi Muhammad yang pernah mengalami perjalanan menembus waktu dalam peristiwa Isra ’Mi’raj.

timetunnel2

KINI,AWET MUDA,ANTI PENUAAN DAN MENEMBUS LORONG WAKTU MULAI DAPAT DIJELASKAN SECARA ILMIAH :

I.PENJELASAN ILMIAH PADA RIWAYAT 7 PEMUDA ASHABUL KAHFI :

Pada riwayat Ashabul Kahfi yang mengalami menembus waktu dan memasuki kehidupan pada zaman 309 tahun kemudian,

Berikut uraian ilmiahnya oleh ilmuwan Fisika Quantum:

Berdasar info dalam Al-Qur’an :

“ (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” [QS.18.Al-Kahfi :10]

“Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu”. [QS 18.Al-Kahfi :11]

“Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami bolak balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka”. [QS.18.Al-Kahfi :18]

“Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”.Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”.Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi kekota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun”. [QS.18.Al-Kahfi :19]

“Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)”. (QS.18.Al-Kahfi :25]

Maka sebuah pertanyaan besar muncul :

Mengapa ayat Al-Qur’an tersebut menggunakan kalimat,” mereka dibolak balik? “,dimana pada ketika turunnya ayat tersebut 1400 tahun lalu tentu membuat umat manusia kala itu tak paham betul.

Sedangkan kini telah terungkap ilmu pengetahuan tentang “Teory perputaran,Relatifitas,Teory Arus Electric,Teory Turbulency,dsb” yang sehingga dapat memberi penjelasan makna kalimat dalam ayat tersebut.

“…Kami balik-balikkan mereka kekanan dan kekiri…” yang berarti mereka di dalam gua mengalami gaya gerak (digerakkan) atau mengalami gaya putaran.Maka pada saat itu telah terjadi peristiwa yang berkaitan dengan Teory Relatifitas,yaitu adanya gaya putar dengan kecepatan tertentu.Berapa kecepatan mereka, sehingga mereka dapat hidup megalami menembus waktu dan melintasi zaman?

Dari data-data Al-Quran,berikut hasil paparan ahli analisis untuk menjawab pertanyaan tersebut, sekaligus pembuktian kebenaran riwayat Ashabul Kahfi.

(Note: Paparan dibawah ini sebagian aku copas dari artikel di sebuah blog,banyak yg menulisnya entah siapa namun aku ucapkan terimakasih pada mereka yg telah menulisnya,kemudian aku intisarikan dengan bahasa yang mudah untuk kita pahami bersama,maklum aku bukan seorang ahli fisika)

Dari Al-Quran diperoleh data bahwa waktu menurut mereka (Ashabul Kahfi yang mengalami gaya gerak) adalah dapat diproyeksikan ke dalam sebuah rumus :

t0 *t=t

t0=1 hari.

*t=waktu tempuh t = 309 tahun .

= 109386 hari (Dalam tahun Qomariah,1 tahun = 354 hari).

Dan jika nilai t1 dan t0 dimasukkan kedalam rumus :

Maka,kecepatan gaya putar yang dialami oleh Ashabul Kahfi mencapai :

V2 = 0,99999.C2
V = 0,999999C

Ini adalah kecepatan gerak yang mendekati kecepatan cahaya, maka ini membuktikan bahwa peristiwa tersebut sangatlah masuk akal untuk terjadi (Fisika).

Ditambah dengan suatu pertanyaan kembali,

Mengapa ayat berikutnya menggunakan kalimat,”jika orang melihat mereka,akan ketakutan?”

“…Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka…”

Seperti penjelasan teori relativitas diatas, bahwa jika suatu benda bergerak dengan kecepatan tinggi maka selalu mengalami Dilatasi waktu juga mengalamai kontraksi panjang dengan perumusan ;

Jika V mendekati kecepatan cahaya, maka nilai L1 ( panjang benda yang diamati oleh kerangka acuan yang berbeda) akan mendekati nol. Ini berarti Ashabul Kahfi sudah hampir tidak terlihat wujudnya jika ada orang yang melihatnya dari luar.

Namun bahwa mereka digerakkan ke kanan dan ke kiri , yang berarti mereka bergerak bolak balik, sesuai dengan teori fisika bahwa sebuah benda yang bergerak dengan arah yang berlawanan dengan arah semula, maka benda tersebut akan mengalami “Berhenti sesaat” sebelum berbalik arah. Pada saat berhenti sesaat ini, maka panjangnnya akan kembali seperti semula. Sehingga setiap saat mereka akan berubah dari ukuran semula… mengecil… menghilang… membesar… kemudian kembali ke ukuran semula. Begitu seterusnya. Dengan kecepatan yang sangat tinggi. Bisa dibayangkan bagaimana wujud mereka. Tentulah sangat menakjubkan,bahasa Al-Quran nya=dapat membuat takut.

Yakni karena gerakan bolak balik mereka berkecapatan cahaya,sehingga tidak dapat diikuti oleh penglihatan mata jasad,saking cepatnya seolah bagi yang melihat itu seperti melihat sosok manusia yang sedang berdiam (posisi yoga ataupun terbaring diam),tiba-tiba berubah mengecil,menghilang,kemudian muncul lagi membesar lagi seperti bentuk semula,terus menerus begitu.(Bagaimana ga takut jika ada yang melihat?)

(takut bagi yang tak paham-benar-benar luar biasa ayat ini)?

Kemudian timbul sebuah tanda Tanya besar,yakni mengapa telinga mereka ditutup?

gua-ashabul-kahfi1

Ini berkaitan dengan Teory Effect Getar /Resonansi gelombang suara.

Fisika modern telah diketahui bahwa bunyi ditimbulkan dari suatu benda yang bergetar atau bergerak dan getaran benda itu merambat melalui udara yang jika dalam kekuatan besar dapat menggetarkan udara maupun benda-benda fisik disekitarnya atau pada obyek yang sedang mengalami gaya putar dahsyat.Selanjutnya udara tersebut menggetarkan selaput telinga, gendang telinga yang frekwensigetarannya sama dengan getaran frekwensi getaran benda, maka kita dapat mendengarbunyi.

Namun apabila suatu benda bergerak diatas kecepatan suara, maka akan terjadi patahan gelombang suara (supersonic fracture) yangmenimbulkan ledakan suara yang luar biasa kuatnya, bahkan dapat mengakibatkan pecahnya kaca dan bangunan-bangunan sekitarnya. Misalnya pada pengemudian pesawat supersonic yang membuat effect suara yang meledak-ledak dahsyat.

Begitulah contoh:

Ketika kita naik pesawat terbang,jika kita berada diluar dekat pesawat,maka suara pesawat akan dapat memecahkan gendang telinga kita.

Demikian pula dengan Ashabul Kahfi. Sebagaimana telah diuraikan diatas, bahwa gerakannnya mendekati kecepatan cahaya sehingga juga berlaku terjadinya patahan-patahan gelombang suara, yang akan menimbulkan effect ledakan suara bagi yang bersangkutan,seperti halnya kita berada dalam dekat pesawat supersonic. Oleh karena itu sesuai dengan Al-Qur’an Surat.18. Al Kahfi :11, telinga mereka ditutup selama beberapa tahun, ternyata guna melindungi gendang telinga meraka dari ledakan-ledakan suara supersonic,yang hanya terasakan oleh mereka namun tidak bagi orang di luar area itu.(Bahasa,”telinga mereka ditutup”,menurut bahasa fisikanya adalah terjadinya gaya kompresi).

Maka pada sebuah benda hidup jika mengalami /memasuki gaya perputaran dengan kecepatancahaya,akan mengakibatkan terhentinya segala aktifitas biologis pada makhluk hidup tersebut,dan mengalami gaya 0 grafitasi yang akan “me-non aktifkan”aliran darah,syaraf dan metabolism tubuh,sehingga menjadi bersifat“freeze”,beku atau awet (konstan),namun tetap hidup.

Sehingga ternyata apa yang dialami oleh Ashabul Kahfi itulah menjadikan mereka “freeze”(konstan) dan ketika masa gaya putarnya terhenti membuat kesadaran mereka kembali namun tak menyadari bahwa “diam”nya mereka ternyata telah berlangsung selama 309 tahun,maka begitulah mereka dapat mengalami menembus waktu hingga 309 tahun di masa depan dg kondisi masih awet muda seperti usia pada 309 tahun sebelumnya.

Bouraq

II.PENJELASAN ILMIAH PADA PERJALANAN MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW :

Demikian pula apa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW adalah terjadinya peristiwa menembus lorong waktu dengan pesawat superlight milik Sang Pencipta (Bouraq),yang mampu menembus jalur cosmic bintang-bintang di langit angkasa raya jauh,dengan jarak milyaran tahun cahaya hanya dalam waktu semalam bolak balik dan sehingga mengalami peristiwa yang terjadi di masa ribuan tahun ke depan bahkan apa yang terjadi dimasa akherat nanti.

TEMUAN ILMIAH MODERN :

Pada teory gravitas Isaac Newton.

1.Jika sebuah objek yg dilemparkan tegak lurus ke atas, maka ia akan terlepas dari pengaruh gravitasi Bumi setelah mencapai kecepatan lebih dari 11 km/s.

2.Di dalam kaidah fisika, besaran gaya gravitasi berbanding terbalik dengan kuadrat jarak atau dirumuskan :

F µ 1/r2.

3.Ingatlah bahwa cepat rambat cahaya di angkasa luar mencapai 300 juta meter per detik.

4.Pada gaya lontaran maha cepat akan membuat ketentuan-ketentuan soal jarak dan waktu berlaku hukum kebalikan / gaya Lorent.

5.Kemudian Albert Einstein memperkenalkan Teori Relativitas Umum. Einstein menunjukkan bahwa massa dapat membuat ruang waktu melengkung/ terlipat,semakin besar massa, semakin melengkung ruang waktu.

6.Pada pusat-pusat galaxy di angkasa raya terdapat keberadaan Wormhole yang erat kaitannya dengan Blackhole,adalah sebuah obyek alam semesta yang dikenal memiliki gravitasi amat kuat. Wormhole itu menghubungkan antara sebuah blackhole (luban ghitam) dengan sebuah whitehole (lubang putih). Blackhole sendiri adalah radiasi gravitasi positif dengan gravitasi menekan apa saja ke dalam pusatnya sedangkan Whitehole adalah radiasi gravitasi negatif yang memuntahkan apa saja.(bertolak belakang).

7.Maka menurut batasan fisika-modern, Wormhole adalah bagian dari alam semesta yang dapat digunakan sebagai jalan pintas perjalanan yang sangat jauh,namun letaknya hingga kini belum bisa diketahui. Fenomena ini adalah semacam lorong magnetik yang di dalamnya memiliki gravitasi kuat yang mampu menarik apapun yang masuk ke dalamnya kemudian mendorongnya ke ujung lorong yang lain hanya dalam beberapa saat Langsung sampai, kemudian yang dimaksud dg ”ujung lorong lain”adalah pintu dari alam semesta paralel kita,atau bisa juga pintu-pintu rahasia alam semesta lain di gugusan galaksi .

8.Teknologi tentang Lorong Waktu ,pada sebuah makalah riset di tahun 2005 mengemukakan bahwa selama manusia dapat meneliti dan menciptakan ”generator penembus lorong waktu” maka akan dapat merealisasikan impian perjalanan dari bumi ke planet mars hanya membutuhkan waktu 3 jam. Bahkan terbang menuju ke planet di luar dengan jarak 11 tahun cahaya juga bisa ditempuh hanya dalam waktu 80 hari.Seperti diungkapkan majalah New Scientist edisi Januari 2006 lalu bahwa dasar teori ”generator penembus lorong waktu” adalah ”multi dimensi”. Sebuah teori struktural alam semesta yang penuh perdebatan. Dan yang pertama kali dikemukakan oleh fisikawan Jerman bernama Burkhard Heim pada 1950-an menyebutkan bahwa jika ”generator penembus lorong waktu” menghasilkan sebuah medan magnet atau medan gravitasi yang cukup kuat, maka benda yang berada di ruangnya seperti pesawat antariksa akan ”masuk”ke sebuah ”multidimensi” lain yang berbeda.

9.Bahkan Prof.Hazhe mengatakan bahwa ”generator penembus lorong waktu” dapat digunakan untuk mengadakan perjalanan antar planet antara galaksi yang tidak sama. Menurut konsepnya, ”generator penembus lorong waktu” dapat mempercepat perjalanan manusia ke angkasa secara signifikan.

Maka dari penjelasan ilmiah modern tersebut,apa yang terjadi pada perjalanan Mi’raj Nabi Muhammad SAW adalah sebagai berikut :

1.Bahwa Nabi Muhammad SAW dapat menembus lorong waktu karena menggunakan sarana alat (Pesawat super canggih dengan kecepatan mega cahaya),atau pada penjelasan ilmiah diatas adalah Bouraqnya sebagai “Generator penembus lorong waktu”,yang dipiloti oleh Jibril sehingga mampu menembus lapisan-lapisan langit ke 7 (baca: menembus jalur Whitehole antara Wormholes dan Black Holes dipusat—pusat Galaxy),yang berjarak milyaran tahun cahaya.

2.Bahwa obyek yang terlontar dan mengalami gaya putar sangat cepat itu (baca:yang terbang ke atas),bukanlah Nabi Muhammad SAW dan Jibril,tetapi obyeknya adalah pesawat itu sendiri (Bouraq-berasal dari kata Al-Birque=kilat),sehingga Muhammad dan Jibril hanyalah sebagai “penumpang” yang berada dalam peswat tersebut yang tidak akan merasakan pengaruh effect gaya grafitasi ataupun turbulency,

(Hal ini sama seperti seseorang yang menumpang pesawat jet dengan kecepatan tinggi,ia merasakan nyaman saja dalam pesawat,kemudian dalam waktu singkat tak terasa sampai pada kota tujuan yang berjarak ribuan kilometer.Nah ketika sampai di kota tujuan ia dapat menyaksikan segala aktifitas kehidupan dikota tersebut pada saat itu,yang tidak dapat iaalami atau terlihat ketika ia masih di kota asal beberapa jam lalu).

3.Sehingga apa yang dialami oleh nabi Muhammad SAW adalah :

-Sesuai dengan kaidah fisika,yakni mengalami besaran gaya gravitasi yang berbanding terbalik dengan kuadrat jarak,yang dirumuskan dg : F µ 1/r2,dan mengalami gaya cepat rambat cahaya di angkasa luar dengan kecepatan lebih dari jutaan kilo meter/detik,sehingga berlaku gaya lontaran maha cepat yang membuat hukum-hukum jarak dan waktu mengalami hukum kebalikan / gaya lorent dan mengalami gaya relatifitas yakni terjadinya massa ruang waktu melengkung/ terlipat dengan singkat.(baca: menembus waktu lain pada dimensi lain).

(Pantesan Nabi Muhammad dahulu di cap sebagai orang gila oleh masyarakat Arab yang tidak beriman,karena ternyata berkaitan dengan otak manusia yang kerdil di masa itu atau menilai sesuatu tidak dengan kacamata ilmu pengetahuan).

4.Bahwa sebelum Nabi Muhammad SAW “diajak”melakukan perjalanan menembus waktu tersebut ke angkasa raya yang jauh,maka sebelumnya telah dilakukan operasi bedah“pencucian dada” Muhammad oleh Jibril dengan menggunakan air zam-zam,maka bermakna bahwa Muhammad diberi/dibekali latihan fisik dan pshicologis terlebih dahulu guna kesiapan dan kekuatan mental spiritual nanti melakukan perjalanan berat dan jauh,yang tak akan dapat sukses jika kondisi mental fisiknya lemah.

(maka hal demikian sama dengan prosedur modern saat ini dimana setiap calon astronot harus mendapatkan atau melakukan test uji fisik dan mental dengan latihan-latihan berat serta ketat berbulan-bulan,guna kesiapan mereka terbang menempuh jarak jauh dari bumi ke angkasa luar).

(Maka dalam hal melakukan perjalanan menembus waktu seperti paparan tersebut diatas, juga dialami pada Nabi Isa,Idris dan Khidr).

NABI KHIDR atau (Melkisedek-Injil-Ibr.7:1)

Khusus Nabi Khidr, pada waktu-waktu tertentu Beliau mengadakan perjalanan terbang (kemungkinan bersama pesawat Malaikat), memasuki angkasa luar dg kecepatan cahaya,kemudian sesekali turun ke bumi ,berkelana secara misterius memberi pengajaran hikmah pada hamba-hamba-Nya tertentu….oleh karena itulah Nabi Khidr masih awet sekarang dan dapat menembus waktu di zaman apapun hingga hari kiamat tiba.

Black Hole3

III.HIKMAH MENEMBUS LORONG WAKTU YANG DIKISAHKAN DALAM AL-QUR’AN,BAGI UMAT UMUMNYA :

Kita sebagai umat manusia pada umumnya yang tidak termasuk sebagai hamba-hamba-Nya yang diberi karunia dapat menembus lorong waktu ke masa depan ataupun awet muda dengan berumur ribuan tahun,maka ternyataTuhan juga tak pelit-pelit amat untuk kita dapat ikut merasakan setidaknya mengalami hidup dengan sehat dan awet muda dengan tidak cepat mengalami keriput dan renta secara cepat yang menurut kapasitas kita,yakni :

Ternyata ilmunya juga dapat kita peroleh dari hikmah-hikmah ayat Al-Qur’an.

BERIKUT RAHASIA AGAR TETAP BERUMUR SEHAT DAN AWET MUDA TANPA MENGALAMI PENUAAN SECARA SINGKAT SESUAI INFORMASI DALAM AL-QUR’AN :

Rama-Krsina2

DILAKUKAN DENGAN CARA PROSES BERTAHAP NAMUN KONTINUE:

1. Ketika ilmu medis merekomendasikan untuk menjalani pola hidup sehat dan awet muda dengan memakan makanan sehat,seperti bahan harus bersih,jauhi lemak berlebihan,tanpa bahan pengawet,makanan segar,sayuran,buah-buahan dan teratur pola makannya.

http://polahidupsehat.net/

-Maka Tuhan dalam Al-Qur’an memerintahkan kita untuk berpola hidup yang baik dan memakan makanan yang halal juga Thoyyiban (sehat,baik).

Pantesan Allah selalu mengingatkan kita untuk berpola hidup sesuai ayat ini :

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah,jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”.(QS. 16. An Nahl:114) ,ayat senada : (QS. 20. Thaahaa:81),dll

2.Ketika ilmu medis mengatakan,bahwa seseorang jika ingin sehat dan awet muda,maka harus banyak aktifitas gerak serta rajin berolah raga.

-Maka Al-Qur’an memerintahkan kita untuk giat bekerja,rajin dan disiplin melaksanakan sholat,serta perbanyak silaturahmi.Maka ternyata para ahli analisis masa kini menyebutkan bahwa pada gerakan-gerakan dalam sholat terdapat gerakan sinergis setara dengan melakukan sport selama 4 jam yang dapat melancarkan metabolism tubuh dan membuat kondisi syaraf maupun biologis seseorang menjadi terbarukan,sehat dan dapat membuat seseorang awet muda.Demikian juga dengan perintah untuk kita giat bekerja dan saling bergerak kunjung mengunjungi dalam silaturahmi yang ternyata mengandung faedah banyak gerak/aktifitas yg pada gilirannya akan membuat kelancaran metabolism secara fisik maupun psiokologi.

-Juga Al-Qur’an memerintahkan umat Islam yg mampu untuk mengadakan perjalanan ke Mekah / Naik Haji,mengelilingi Ka’bah,ternyata mengelilingi Ka’bah adalah melakukan gerak Fisika,yg memuat faedah menyehatkan jasmani dan ruhani,awet muda da panjang umur..

-Pantesan Allah selalu mengingatkan kita untuk giat bekerja,Sholat dan silaturahmi serta berhaji :

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.(QS.62. AlJumu’ah:10)

Pantesan Allah memerintahkan berhaji (bagi yg mampu,yg tidak mampu Alloh menggantinya dg sholat Jum’at serta ibadah khusyu’ yg nilainya setara dg Haji).

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata ( diantara ) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya ( Baitullah itu ) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah maha kaya ( tidak memerlukan sesuatu ) dari semesta alam. ( QS. Ali Imran : 97 ).

Ali r.a meriwayatkan dalam sebuah hadist SAW,

“Barangsiapa yang mengambil tanggung jawab atas suatu perkara, aku akan menjamin baginya empat perkara.Barangsiapa bersilaturahmi, umurnya akan dipanjangkan, kawan-kawannya akan cinta kepadanya, rezekinya akan dipalangkan, dan ia aman masuk ke dalam surge”.

3. Ketika ilmu medis memaparkan temuan bahwa seseorang jika ingin sehat dan awet muda,maka lakukan puasa,sebab dengan puasa akan membuat keadaan :

– Keseimbangan anabolisme dan katabolisme, Tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah,Memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerja sel ,Pembaruan pada sel darah manusia akan dinamis dan menjauhkan penyakit diabetes, Penurunan glukosa dan berat badan,Bermanfaat Bagi Jantung, efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, Penurunan berbagai hormon salah satu rahasia hidup jangka panjang, Bermanfaat dalam pembentukan sperma, Memperbaiki hormon testoteron dan performa seksual, Bermanfaat untuk penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis, Memperbaiki kondisi mental secara bermakna, Menurunkan adrenalin,dsb.

-Pantesan Allah dalam Al-Qur’an menyuruh kita untuk melaksanakan kewajiban berpuasa.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.(QS. 2. AlBaqarah:183)

4.Ketika Dokter ahli psikologi memaparkan bahwa mengumbar rasa benci dan emosional yang berlebihan akan membuat kontraksi syaraf otak dan hati bekerja terlalu berat dan dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan pada syaraf tersebut,sehingga akan mengakibatkan gangguan kesehatan serta menjadikan seseorang lebih cepat mengalami proses penuaan.

-Maka ternyata Allah dalam Al-Qur’an memerintahkan kita untuk selalu berdzikir,berlaku ikhlas,sabar dan tawakal,Tidak gampang marah,suka membenci :

أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah,hanya dengan mengingat Allah (zikrullah) hati menjadi tenang”.(Q-S Ar-Ra’d:28).

“Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan)agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar”.(QS. 4. An Nisaa’:146)

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan duaratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.(QS.8. Al Anfaal:66)

-Pantesan Allah mengingatkan kita untuk selalu berdzikir,berlaku ikhlas , sabar dan jangan suka membenci yang ternyata dapat menghilangkan rahmat. (=karunia hidup sehat,awet muda dan berkah).

“Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”.(QS. 108. Al Kautsar:3)

Dengan ayat-ayat tersebut ternyata rahasianya bahwa Tuhan menghendaki agar umat manusia yang beriman selalu sehat kuat dan awet muda sehingga dengan secara otomatic pula akan menguatkan serta meneguhkan golongan hamba-hamba-Nya yang baik dan berqualitas, agar selalu dapat menjalankan ibadah dan mengabdi kepada-Nya,dengan khusyu’ dan dalam masa yang panjang, (dikaruniai kesehatan,awet muda dan umur yang berkah).

O,my God…kini ilmu pengetahuan telah membuka mata kami akan kebenaran-Mu yang telah Engkau siratkan dalam ayat-ayat suci-Mu….betapa kami memang manusia lemah yang kadang tak mengerti akan kebesaran-Mu,…ampuni kami ya,Rabb….Tuhan Penguasa Semesta Alam…

Semoga bermanfaat,

Mohon maaf lahir batin,Selamat hari raya Iedul Fitri 1434 H.

Salam Time Tunel…

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Jakarta,10 Agustus 2013

CopyRights@2013

Sumber :

-Risalatu Ashabul Kahfi karya K.H.M.Syamsuddin-Kranggan-Jateng.

-Kitab Fafiru dan Daqo’

-http://reviewofreligions.blogspot.com/2012/10/melkisedek-adalah-nabi-khidir.html

http://alternatifmasadepanpras.blogspot.com/2013/02/jelajah-alam-semesta-big-bang-wormhole.html

-http://pustaka.abatasa.co.id/pustaka/detail/hikmah/allsub/947/20-mukjizat-puasa-terhadap-kesehatan-manusia.html

http://www.astronomi.us/search/label/Fisika

-Al-Qur’an terjemah DEPAG RI

-http://detikislam.blogspot.com/2011/02/siapakah-sebenarnya-7-pemuda-dalam.html