PILAR PILAR AL-MAIDAH:51

PILAR PILAR AL-MAIDAH:51

Buku risalah ini sedang dalam penyelesaian. Selanjutnya akan diterbitkan.

Judul: PILAR PILAR AL-MAIDAH:51

Penulis: Kelana Delapan Penjuru Angin

Thema:

  • KAJIAN AL-QUR’AN SURAT AL-MAIDAH:51, Memahami konteks dan tujuan
  • KEWAJIBAN UMAT ISLAM UNTUK MEMILIH DAN MENGANGKAT SEORANG  PEMIMPIN DARI KALANGAN ISLAM,SEBAGAIMANA MEREKA GOLONGAN NON ISLAM AKAN MEMILIH DAN MENGANGKAT PEMIMPINNYA DARI GOLONGAN MEREKA SENDIRI

DAFTAR ISI :

  • TADABUR PERISTIWA
  • PARA PENDUSTA DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN
  • KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN DIZAMAN NABI MUHAMMAD SAW
  • KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN ZAMAN NABI NABI TERDAHULU
  • AKAN ADA KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN  SEPANJANG  ZAMAN
  • HAKEKAT KEBERADAAN KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN
  • CARA MENSIKAPI DAN MENGHADAPI KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN
  • KAJIAN AL-QUR’AN SURAT AL-MAIDAH:51
  • KONSEP KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM
  • TUNTUNAN MEMILIH PEMIMPIN ISLAM
  • CARA MEMILIH PEMIMPIN YANG SESUAI PERINTAH ALLAH DALAM AL-QUR’AN
  • AKAN SELALU MUNCUL GOLONGAN ISLAM YANG TERBELAH
  • CARA MENSIKAPI DAN MENANGANII PERPECAHAN DITUBUH ISLAM
  • MEMBANGUN PERADABAN ISLAM YANG KOKOH UNTUK RAHMAT SEMESTA ALAM
  • KESIMPULAN DAN PENUTUP

Islam

Exegess:

Al-Qur’an surat AL-MAIDAH:51, sesungguhnya adalah ayat ekseklusif untuk komunitas umat islam dalam kancah politik. Yang dengan enerji ayat tersebut golongan (baca: kelompok, komunitas, organisasi, partai politik) yang dibawah panji panji islam dapat eksis, bersaing dan berjaya serta dapat tampil sebagai pemenang dalam setiap kompeitisi untuk urusan kemaslahatan umat.

Yakin 1000 % bila yang menjadi umat islam itu tunduk luruh terhadap kalam sucii tersebut tanpa reserve, tanpa kepentingan duniawi, tanpa jumawa mengatas namakan AHLI ilmu dalil, tafsyir, gramatika dan sebagainya, dengan berbagai debat  tolol, mengupas, mengorek orek tafsyir hingga ruwet, hingga malah mempertontonkan perpecahan, kebingungan, kekocar kaciran ditengah umat sendiri.

Sementara ada ironi terpampang nyata, dari sikap golongan / umat non muslim, betapa mereka (jama’ahnya) begitu patuh dan tunduk luruh terhadap ayat ayat suci mereka, terhadap fatwa fatwa dari para imam, ulama, pemimpin pemimpin rohani dari kalangan mereka, tanpa reserve, tanpa koar koar, tanpa debat tolol menggali gali dan merangkai dalil dalil pembenaran diantara mereka. Maka menanglah mereka dalam setiap percaturan politik dan kepentingan, cukup dengan satu komando dari pemimpin mereka: ”PILIH WAKIL TUHAN KITA”. Maka merekapun mengikutinya tanpa reserve. Tanpa demo, tanpa aksi aksi yang menguras energi.

Bukankah berbeda dengan keadaan yang dipertontonkan oleh umat islam kini ? Sangat jelas. Atau, O…wahai kaum muslimin pewaris ‘khairu ummatan’, apakah pandangan qalbu kalian masih terhalang oleh tuhan tuhan mazab dan aliran?

Giliran partainya, calon pemimpin yang diangkatnya kalah atau ketika ada perkara yang dianggapnyasebagai ’pelecehan, penistaan  agama, kita begitu sensitif dengan lantangnya meneriakkan ketersinggungan, sakit hati, hingga ramai ramai heboh danmusti repot repot mengadakan unjuk aksi saling membangga banggakan kelompok, mazabnya masing masing, yang malah menampilkan kepingan kepingan ketidak harmonisan dalam tubuh islam.O, betapa bodoh dan bebalnya ‘aqalku…..’

BAB I

TADABUR PERISTIWA

Abad abad diakhir zaman ini adalah masa abad yang sangat menyedihkan dan memprihatinkan bagi kehidupan umat islam. Yaitu harus menyaksikan nasib dan keadaan generasi umat Islam kini yang hidup tidak bersatu, bercerai berai, saling curiga mencurigai, saling bertikai, saling bunuh membunuh sesama saudaranya sendiri, dengan mengatas namakan kebenaran dan Tuhan, saling cemooh, sindir menyindir, saling berdebat mencari pembenaran masing masing dengan serangkaian dalil dalil dan tafsyir. Silahkan lihat saja diberbagai media, jejaring sosial, komunitas online dan dalam kehidupan sehari hari ditengah masyarakat, yang isinya saling profokasi, menulis, memuat dan membagi info yang bernada tendensius saling menjelekkan antar aliran dan organisasi.

LIHATLAH POTRET KETERPURUKAN UMAT ISLAM DIPENJURU BUMI. PERANG BODOH DIWILAYAH TIMUR TENGAH, PEMBANTAIAN UMAT ISLAM DI MYANMAR, DERITA PALESTINA, AFRIKA DAN BELAHAN BUMI LAINNYA.

Sementara dinegeri non muslim, umat islam yang minoritas sedang meregang nyawa mengantri kematian karena dianiaya, dibantai oleh penganut mayoritas yang benci dan anti Islam tanpa mampu melawan, tanpa persiapan dan tanpa pertolongan dari umat islam lainnya, sebab saudara seagamanya itu tengah sibuk dengan perdebatan, dengan berebut kedudukan dan persaingan duniawi, bahkan lebih gigih memperjuangkan dan menjadi pendukung golongan diluar Islam, sementara lainnya asyik dengan saling membangga banggakan kelompok dan organisasinya masing masing.

Sehingga perlahan baik disadari maupun tidak disadari atau bahkan bagi yang tak peduli dengan apa yang terjadi, maka umat islam telah tergilas oleh roda waktu bersama ribuan muslim yang terusir dari kampung halamannya, bersama ribuan lainnya yang tewas mengenaskan, dibantai oleh kaum yang benci dan anti Islam maupun sebab pertumpahan darah sesama Islamnya sendiri, hingga kemudian perlahan baik disadari maupun tidak disadari atau bahkan bagi umat islam awam yang masa bodoh dengan Islamnya sendiri, maka perlahan tapi pasti, umat Islam kini menuju kearah kebinasaan.

Jangan menyalahkan non muslim menjadi pemimpin, sebab mereka menduduki kursi kepemimpinan karena menang pemilu dan terpilih. Maka salahkanlah diri kita sendiri mengapa sebagai umat islam Indonesia yang katanya mayoritas? Tetapi mengapa tidak bersatu memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan muslim sendiri?

O,umat….. pewaris ‘khairu ummatan’,

O, banyak orang islam begitu menjadi pejabat atau pemimpin banyak yang korupsi dan mementingkan diri sendiri? MasyaAllah….! Lantas mengapa seperti kebakaran jenggot saat kalangan islamnya kalah dalam pemilihan sehingga kepemimpinan dimenangkan non muslim? Malah saling adu debat berebut benar, saling berselisih dan bercerai berai hingga saling kafir mengkafirkan sendiri?

Maka yang model begini yang ‘ngerasa’ katanya paling benar, yang paling diridhai oleh Allah, yang ngotot islam lebih berhak menjadi penguasa (Khalifah), namun lupa kita sendiri kotor, kita sendiri tak becus memimpin, kita sendiri tidak becus dalam menegakkan kesatuan dan persatuan islam (ukhuwah islamiyah) dengan benar sesuai perintah-Nya, kita sendiri tidak beriman islam dengan benar. Hingga kita sendiri tidak memperhatikan betapa marahnya Allah kepada kita generasi umat islam yang model begini. Maka tanyakan pada nurani kita sendiri. Sudahkah kita beriman islam dengan benar? Sudahkah kita faham terhadap islamnya sendiri?

Dalam Al-Qur’an, Allah menyindir peradaban umat Islam yang dalam keadaan model begini:

“Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)? “(QS.4.An-Nisaa:109)

Dan ini adalah sindiran Allah untuk umat Islam yang hari hari saling ejek mengejek, saling mengolok olok, saling memprofokasi, saling takfiri (kafir mengkafirkan) dan saling berdebat berebut benar antar kelompok, antar aliran dalam islamnya sendiri.

“Beginilah kamu, kamu ini bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”.(QS.6.Ali’Imran:66)

Maka wahai kaum muslimin muslimat, segeralah secepat mungkin tinggalkan perpecahan, Jika tidak, jangan harap islam tampil menjadi rahmatan lil’ alamin. Sebab islam generasi model begini akan dihapus oleh Allah.

O, berarti harus kembali ke sistim kekhalifahan seperti masa lalu. Pasti islam akan terkemuka kembali. Pasti akan menjadikan umat islam bersatu dan kuat kembali. Sebab ini syareat islam, pasti diridhai Allah. Begitulah kini suara suara kenangan peradaban masa lalu semakin santer mengiang.

Jangankan bermimpi khalifah global, mengurus negara kecil dengan mengatas namakan negara islam saja berantakan, saling bertikai antar aliran, apalagi skoup global. Ujung ujungnya cari pengaruh, kedudukan, rebutan kekuasaan antar aliran seperti masa lalu.

KHALIFAH? Memang sudah paham apa itu KHALIFAH?

(Baca ’keruntuhan sistim khalifah masa lalu’)

(Baca ’karakter bangsa Arab’)

Maka wahai kaum muslimin muslimat, berfikir ! Gunakan logika sederhana saja, tak perlu rumit, ‘njlimet’ ! Islam Indonesia mayoritas, anggap saja 75%. Satukan hati dan jiwa islam. Bebaskan diri dari nafsyu duniawi, kepentingan dan keuntungan pribadi. Saat pemilihan kepemimpinan, persiapkanlah. Kemudian angkat dan pilih saja calon dari Islam yang paling alim (kapabel), bulatkan suara, pilihlah itu. Maka jadilah kepemimpinan dimenangkan islam, dan memimpinlah dengan nilai nilai islam, bangun negeri, bangun mental, bangun kesejahteraan dan kemajuan bangsa serta negara. Wujudkan cita cita Indonesia yang jaya, Indonesia yang rahmatan lil’alamin, Indonesia yang terkemuka di dunia.

BAB II

PARA PENDUSTA DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN

Banyak peristiwa dalam kehidupan dunia ini sesungguhnya sarat akan limpahan pelajaran dan peringatan bagi manusia manusia yang berakal, berfikir dan merenung dalam diam. Pada 2 Desember 2016, terjadi peristiwa akbar yang terjadi secara serentak di berbagai kota besar Indonesia, khususnya di Ibu kota, yang telah menyita perhatian publik dan menjadi sorotan dunia, bahkan disebut sebagai unjuk rasa terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia, yaitu terjadi unjuk rasa besar besaran dari kaum muslimin yang melakukan gerakan yang terkenal dengan sebutan aksi DAMAI 212 Bela Islam III. Hari itu Jakarta berubah menjadi lautan manusia yang berjumlah jutaan berkumpul melakukan aksi gelar do’a bersama dan menyuarakan aspirasi menuntut pemerintah agar menangkap dan mengadili segera gubernur DKI, Ahok, yang telah menista Al-Qur’an dan  melecehkan Islam. Gelombang kemarahan dari umat islam dipicu dari ucapan Ahok gubernur DKI didepan publik dalam lawatan dinasnya di Kepulauan Seribu pada27 September2016

Mengutip dari www.edunews.id , berikut bagian transkrip ucapan Ahok di Kepulauan Seribu :

“………..ini pemilihan kan dimajuin, jadi kalo saya tidak terpilih pun bapak ibu, saya berhentinya oktober 2017. jadi kalo program ini kita jalankan dengan baik pun, bapak ibu masih sempat panen sama saya. sekalipun saya tidak terpilih jadi gubernur. jadi saya ingin ceritanya bapak ibu semangat. jadi gak usah pikiran, ah, nanti kalo gak kepilih, pasti, Ahok programnya bubar. gak, saya sampai oktober 2017.

jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu, gak bisa pilih saya, ya — dibohongin pake surat Al Maidah surat 51 macam-macam gitu lho. itu hak bapak ibu. ya. jadi kalo bapak ibu, perasaan, gak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gak papa…. “.

Demikian bagian transkrip ucapan Ahok di Kepulauan Seribu, selengkapnya silahkan googling saja, maka akan banyak ditemukan konten dan beritanya disana, oleh karena kita disini tidak membahas kasus ’Ahok’nya, namun mengungkap hakekat apa yang keluar dari mulutnya.

Bahwa sesungguhnya kasus Ahok dan atau pernyataan miring yang keluar dari mulut Ahok dan Ahok itu sendiri, tidaklah berdiri sendiri. Semua realitas itu adalah cerminan dari sebuah ungkapan hati / jiwa / sikap atas komunitas umat diluar golongan Islam yang sejak dahulu pernah ada terjadi dan akan ada hal serupa hingga akhir zaman nanti.

“Ahok”, hanyalah sebuah representasi icon pengungkapan suatu hujjah penolakan atau ‘penistaan’ (mewakili performa sikap secara umum) terhadap ayat ayat Al-Qur’an  dari golongan umat / agama diluar Islam yang dipelopori / dipropagandakan oleh para pemimpin agama, ulama, imam imam mereka, yang anti / tidak menyukai risalah Islam (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah SWT,  melalui nabi Muhammad SAW. Dan tuduhan tuduhan miring maupun olok olok merendahkan dan pengingkaran terhadap Al-Qur’an tersebut lazim dilafazkan dalam khotbah khotbah ibadah kebaktian mereka. Sehingga telah menjadi perkataan perkataan kebiasaan dan telah menjadi doktrin kepercayaan yang ditanamkan kedalam jiwa pemahaman setiap umatnya / jemaatnya. Maka tak heran bila pemahaman penganut agama diluar Islam terhadap agama Islam hanya sebatas apa yang telah didoktrinkan oleh para ulama mereka, memahami Islam sebagai agama primitif, agama barbar, agama buatan Muhammad, Al-Qur’an ayat ayat bualan Muhammad, ajaran syetan sesat (lucifer), dan sebagainya hingga ejekan ejekan yang kasar serta ekstrim terumbar dimana mana seperti di sosial media, pada ajang diskusi, di portal situs maupun dalam obrolan perlecehan dikomunitas publik.Sehingga memancing kejengkelan dari komunitas penganut Islam dan yang akhirnya saling membalas baik halus maupun ada yang jadi kasar.

Dalam transkrip ucapan gubernur DKI Jakarta periode: 2012-2017 , di Kepulauan Seribu seperti yang tertulis diatas, maka jika diintisarikan dari seluruh perkataan Ahok tersebut akan memunculkan sebuah kalimat pikiran utama yang menggetarkan qalbu. Kalimat pikiran utamanya itu jatuh / menyorot pada transkrip kalimat yang berbunyi ‘dibohongi’ (pake surat Al Maidah surat 51}. Itulah rahasia sebenarnya dari pokok persoalan, mengapa umat Islam marah dan melakukan aksi bela Al-Qur’an.

Dan ternyata hujah hujah tuduhan miring yang dilontarkan oleh golongan anti Islam dan atau umat diluar Islam, baik sengaja maupun bersifat ”keceplosan”, maka hakekatnya adalah lontaran olok olok merendahkan yang menyiratkan adanya pengingkaran dari qalbu mereka terhadap keberadaan Al-Qur’an maupun risalah Ilahi yang diturunkan kepada para rasul. Maka realitas yang demikian sesungguhnya telah ada terjadi sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak zaman nabi nabi terdahulu sebelum nabi Muhammad SAW.

Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan [25] ayat 4.

Terjemahan ayat tersebut berbunyi, “Dan orang-orang kafir berkata, ‘Al-Quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain.’ Maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezhaliman dan dusta yang besar.”

Dalam redaksi ayat tersebut Allah SWT memberi penegasan adanya tiga obyek dan predikat dari perbuatan suatu kaum penista / pengingkar Al-Qur’an, yakni:

  1. Al-Qur’an dan Muhammad sebagai obyeknya, sementara orang yang menuduh / mengingkari Al-Qur’an dan Muhammad diberi predikat oleh Allah sebagai golongan ’ orang-orang kafir’.
  2. Setiap acara yang diselenggarakan oleh mereka merupakan obyek kesempatan / moment untuk berkata kata / berpidato / berhujjah baik secara eksplisit maupun implisit yang  pada hakekatnya adalah menyuarakan suara suara penolakan, olok olok dan mendustai terhadap keberadaan Al-Qur’an, sementara orang orang / team / koalisi disekelilngnya yang membantu suksesi kepemimpinan dari golongan mereka diberi predikat oleh Allah sebagai golongan ’kaum yang lain’ yaitu tentu diluar golongan kafirin sebagaimana dimaksud pada item pertama, tetapi dari golongan lainnya seperti orang orang ’munafikin’ (islam ikut, kekafiran ikut), kemudian dari golongan ’musyrikin (kaum penyembah berhala) dan lainnya berikut para supporternya.
  3. Sedang setiap laku perbuatan sebagaimana disebut diatas merupakan obyeknya dan kumpulan para pelakunya (yaitu terdiri dari orang pelaku, team, koalisi yang membantunya) yang telah melakukan perbuatan menyuarakan suara suara kebathilan seperti yang dimaksud pada item 1 dan 2 tersebut diatas, diberi predikat oleh Allah sebagai perbuatan ’zhalim dan dusta besar’.

Terkait ayat ini, Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala menerangkan, “Sungguh, mereka telah menciptakan suatu komentar kebathilan, padahal mereka mengetahui bahwa hal itu adalah kebathilan dan mereka pun mengetahui kedustaan diri-diri mereka terhadap apa yang telah mereka tuduhkan.”

Kemudian menurut K.H. Muhammad Arifin Ilham menambahkan bahwa, merupakan salah satu bukti benarnya Al-Qur’an dalam mengabarkan: “telah dan akan ada orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan kebohongan, alat berbohong, dan sejenisnya”.

Silahkan renungkan sekali lagi, kesimpulan inti dari makna Al-Qur’an surat Al-Furqan [25] ayat 4 dalam konteks yang lebih luas adalah : saat ada orang / golongan yang mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan alat kebohongan atau berisi kebohongan,  maka Al-Qur’an juga sekaligus mengungkap, bahwa akan ada kehadiran dari orang-orang munafiq, musyrik dan lainnya, untuk membela orang tersebut. Dan selanjutnya Al-Qur’an  menegaskan pula status orang / golongan yang ber-hujjah tersebut serta yang membelanya / para pendukungnya, resmi disebut Al-Qur’an dalam ayat ini sebagai ‘Pelaku dusta dan kezhaliman yang sangat besar.’  (luar biasa na’udzubillah).

Itulah rahasia mengapa Allah menurunkan surat Al-Maidah:51. Dan surat ini tidak berdiri sendiri, namun dijabarkan kedalam berbagai ayat yang diantaranya ya dalam surat Al-Furqan (25):4, ini dan QS.(2).Al-Baqarah:120 serta dalam belasan ayat lainnya.

Dengan demikian, jelas sekali bahwa makna surat Al-Maidah:51 adalah pasal perintah Allah bagi kaum muslimin untuk memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan muslim itu sendiri, tanpa reserve, tanpa debat dan tanpa mengurai dalil dan tafsyir yang lebih ‘njelimet’ lagi. Tetapi memang begitulah manusia, pasti akan ada orang yang berdalih lagi dengan kata kata, bahwa :”jangan kaitkan agama dengan politik, tidak relevan”, atau ada yang berkata : “dalilnya multi tafsyir, Islam boleh kok memilih pemimpin dari non muslim, yang penting kinerja dan kemampuannya bagus”. Nah, bukankah ada orang orang yang berargumentasi demikian? Maka semua itu adalah dalih, mencari cari celah pembenaran untuk tidak termasuk melanggar ayat ayat Al-Qur’an.

MERENUNGI REDAKSI AYAT TENTANG : SIAPA PELAKU “DUSTA-SIAPA GOLONGAN KAFIR”?

LABEL KAFIR

Pengertian ”Kafir” salah kaprah, dianggap hanya cap bagi orang diluar islam saja. Sedang justru Al-Qur’an menekan label kekafiran itu pada orang islamnya sendiri.

PENJABARAN:

Berikut kalimat kalimat tuduhan / lecehan yang lazim mereka lontarkan terhadap Islam / Al-Qur’an:

  1. Dalam faham mereka, Islam adalah penyembah batu dan sesat
  2. Al-Qur’an buatan Muhammad, yang berisi bualan orang orang jaman dulu
  3. Al-Qur’an adalah ayat ayat syetan (Salman Rusydi)
  4. Islam agama pedang, barbar serta teroris
  5. Dll

(Silahkan googling, link hujjah mereka)

MERENUNGI REDAKSI AYAT TENTANG : SIAPA ORANG ORANG DISEKELILINGNYA YANG “MEMBANTU”?:

Dalam kaitan surat Al-Maidah:51 yang merupakan pasal perintah Allah bagi kaum muslimin untuk tidak mendukung dan memilih pemimpin dari luar golongan islam, maka bahasa lain dari ayat tersebut adalah merupakan perintah sesungguhnya dari Allah untuk kaum muslim wajib memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan muslim itu sendiri, dengan hikmah agar syiar dan kemaslahatan Islam dapat berjalan dan berkembang baik. Akan tetapi ketika umat islamnya tidak mentaati perintah itu hingga malah berpecah belah dan kemudian justru mendukung dan memilih pemimpin dari luar golongan islam, maka pesan dari ayat Al-Maidah:51 lainnya adalah bahwa kepemimpin dari luar golongan islam akan menimbulkan kemudharatan bagi umat islam. Sebab mengapa, yakni karena golongan kafirin dan musyrikin tidak suka dan anti kepada umat islam, yang salah satunya dalam bentuk tudingan bahwa Al-Qur’an adalah kebohongan dan golongan mereka saling bekerja sama satu sama lain untuk kepentingan mereka. Seperti yang dilansir dalam surat Al-Furqan [25] ayat 4.

(Bukankah dapat kita perhatikan ketika sejak pertama ‘Ahok’ tampil dalam pencalonan untuk menjadi pemimpin DKI Jakarta hingga kemudian ketika ‘Ahok’ tersandung kasus penistaan agama hingga harus menjalani proses hukum dan masuk ke persidangan, maka bukankah disekeliling Ahok muncul para pendukungnya dari orang orang / golongan Islam munafik dan golongan lainnya seperti penyandang dana, para konglomerat, para oportunis dan lainnya? Silahkan perhatikanlah dan renungkanlah dengan seksama akan kenyataan ini).

Maka hakekatnya dalam perkara ini sesungguhnya adalah soal pilihan bagi umat Islam, yaitu: apakah kita sebagai umat yang telah dianugerahi kenikmatan iman islam ini termasuk ke dalam kriteria yang dilansir seperti dalam ayat Al-Qur’an tersebut atau bukan, yakni:

  1. Apakah kita sebagai umat islam yang tidak memilih dan mengangkat pemimpin dari non muslim, atau
  2. Apakah kita sebagai umat islam yang justru menjadi pendukung, memilih dan mengangkat pemimpin dari non muslim.

Seterang itu sebenarnya dalam membaca suatu esensi kejadian atau suatu perkara. Namun akan sulit terbaca bagi orang orang awam dan bagi orang orang yang mata hati dan mata batinnya tersekat oleh sumbatan Az-Zhulmun (kegelapan materi), yang berupa nafs materi jasadiyah,  mengejar kepentingan pribadi, kedudukan serta jabatan yang kesemua itu hakekatnya adalah lebih memilih keuntungan duniawi dari pada nilai nilai keIlahian (ukhrawi).

Maka bagi orang orang yang mata hati dan mata batinnya telah tersumbat oleh dinding dinding keduniawian tersebut, secara otomatis sinyal sinyal hidayah dari Ilahi juga akan menutup (closed) pada dirinya. Jika sudah tertutup maka ia akan jauh dari cahaya petunjuk kebenaran. Itulah mengapa orang orang yang mengaku diri sebagai islam namun kehilangan daya pancar keislamannya, hingga kemudian nafs syetaninya akan membisikkan dan menggiring kearah lorong lorong Az-Zhur (kepalsuan) yang penuh dengan jebakan berupa pemikiran pemikiran kebenaran yang semu dan bias yang berlindung dibalik serangkaian pendalilan dan penafsyiran. Tak heran orang orang model begini akan selalu menyuarakan pemikiran kontroversial yang membingungkan umat sebab dibungkus dengan serangkaian  penjabaran dalil dan tafsyir yang sudah nash / qot’i (baku) namun masih dijabar jabarkan lagi dengan rangkain penafsyiran penafsyiran njelimet yang disesuaikan dengan posisi dan kepentingan yang sedang diperolehnya.

MERENUNGI REDAKSI AYAT TENTANG : SIAPA YANG MENDAPAT PREDIKAT SEBAGAI “PENDUSTA DAN ZALIM”?

BAB III

KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN  DIZAMAN NABI MUHAMMAD SAW

BAB IV

KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN  ZAMAN NABI NABI TERDAHULU

KAUM ANTI DAN PENISTA AL-QUR’AN   ZAMAN NABI NABI TERDAHULU

Begitu banyak ayat ayat Al-Qur’an yang memberitakan tentang adanya kaum / orang / golongan yang mengatakan bahwa ajaran kebenaran yang datang dari Tuhan yang disampaikan melalui para nabi nabi terdahulu sebelum nabi Muhammad, dianggap sebagai kebohongan atau berisi kebohongan atau mengada ada:

BAB V

AKAN ADA KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM /  AL-QUR’AN  SEPANJANG  ZAMAN

Mereka memiliki situs resmi yang digunakan untuk berdakwah secara tendensius menggiring faham yang menyesatkan kepada publik, secara halus, yang jika dicermati tulisan tulisannya  mengandung upaya upaya pemurtadan dengan menanamkan pemahaman bahwa islam / alqur’an merupakan kebohongan, serta hanyalah buatan Muhammad.

Ini salah satu link situs propaganda mereka dengan modus dan cara kerja sebagai berikut:

  1. Banyak memasang iklan diportal dan situs  web
  2. Berkamuflase ciri keislaman, namun isinya tuduhan miring terhadap Islam
  3. Komentar dibatasi hanya tiga baris
  4. Ketika koment harus login dengan akun email
  5. Begitu sudah diperoleh alamat email, mereka gencar kirim email berisi tuduhan miring tentang ayat ayat  Al-Qur’an dan menggiring untuk mengikuti  iman mereka

(http://www.isadanislam.com/al-quran/benarkah-al-quran-seratus-persen-firman-allah)

BAB VI

HAKEKAT KEBERADAAN KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN

HAKEKAT KEBERADAAN KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN

TUJUAN PARA PENDUSTA ISLAM / AL-QUR’AN

MEMADAMKAN CAHAYA ISLAM (QS.9.At-Taubah:32, QS.61.As-Shaf:8)

MENYUSAHKAN UMAT ISLAM KARENA KEBENCIAN (QS.3.Ali Imran:118)

PENYEBAB MEREKA MENDUSTAKAN ISLAM / AL-QUR’AN

                -KARENA TIDAK BERPENGETAHUAN AGAMA KEBENARAN MENGIKUTI KESESATAN NENEK MOYANG (QS.18.Al-Kahfi:5)

-Meniru kekafiran umat terdahulu (QS.9.At-Taubah:30)

CARA KERJA KAUM PENDUSTA ISLAM / AL-QUR’AN

                Dengan menyebarkan berita bohong (QS.24.An-Nur:15, QS.5.Al-Maaidah:41)

BAB VII

CARA MENSIKAPI DAN MENGHADAPI KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN

CARA MENSIKAPI / MENGHADAPI KAUM ANTI DAN PENISTA AL-QUR’AN DAN KAUM ANTI ISLAM KINI DAN NANTI

BAB VIII

KAJIAN AL-QUR’AN SURAT AL-MAIDAH:51

KEWAJIBAN UMAT ISLAM UNTUK MENDALAMI, MEMAHAMI DAN MERENUNGI MAKNA AYAT AYAT AL-QUR’AN, KEMUDIAN MENGAPLIKASIKANNYA.

Sahabat, apakah anda masih dalam kebiasaan memperlakukan Al-Qur’an sehari hari hanya sebatas bacaan tadarus saja tanpa membaca terjemahannya, kemudian memahami maknanya? Mari mulai kini jadikan Al-Qur’an sebagai An-Nuur Al-Hidayah, milikilah Al-Qur’an yang dilengkapi terjemahannya, kemudian berikan waktu dan kesempatan cahaya Al-Qur’an menyinari qalbu dan jiwa  anda dengan membaca artinya kemudian merenungi maknanya, kemudian mintalah bimbingan seorang yang berilmu Al-Qur’an, insyaAllah nanti kita akan mendapat pancaran nur hidayah dari Allah dan dari energi Al-Qur’an, yang dengan itu langkah hidup kita akan selalu mendapat petunjuk kemudahan, keselamatan serta ketenangan, terhindar dari pilihan jalan yang salah, kesulitan dan kekhawatiran. Mari dalami ayat ayat Al-Qur’an dengan maknanya.

SEJARAH TURUNNYA AL-MAIDAH;51 DAN TAFSYIR

RIWAYAT ABU BAKR DAN UMAR BIN KHATAB R.A

(DALAM PENYUSUNAN)

Resume:

PENJELASAN (QS Al-Maidah, 5: 51).

Ayat ini adalah satu dari belasan ayat yang berhubungan dengan larangan mengangkat pimpinan dari kalangan non muslim. Oleh karena itu, penafsirannya harus dipadukan satu sama lain. Kecuali itu, penafsiran surah Al-Maidah ayat 51 ini pun tidak bisa hanya sepotong ayat. Sebab, potongan ayat selanjutna (sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain) adalah alasan atau dasar adanya larangan tersebut.

Kata WALI atau AULIYA (jamak) memiliki makna tidak kurang dari sepuluh makna. Antara lain teman, kawan setia, penolong, sekutu, pelindung, pemimpin, kekasih, dan lainnya. Pada ayat ini semua makna tersebut bisa berlaku, sebab substansinya adalah bahwa orang beriman dilarang masuk dalam lingkungan pengaruh atau kekuasaan mereka.

Dari mana makna itu diperoleh? Dari dasar atau alasan adanya larangan tersebut, yaitu “sebagian mereka adalah wali/auliya bagi sebagian lainnya”. Maksudnya adalah, ”Orang-orang beriman jangan menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali, sebab mereka itu hanya akan jadi wali di kalangan mereka sendiri. Orang Yahudi jadi wali bagi orang Yahudi sendiri sesuai dengan keyakinannya. Begitu juga orang Nasrani. Maka, kalau orang beriman menjadikan mereka sebagai wali, pasti akan masuk dalam kendali kepentingan ke-walian mereka.

(Makna seperti ini hanya akan dipahami dengan ilmu ma’ani. Tanpa ilmu ini, kita tidak bisa menghubungkan penggalan ayat seperti itu). Untuk memastikan makna tersebut silahkan rujuk QS 2:20. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” Rujuk pula QS 3: 118, QS.3: 149-150, QS. 9:23, dll. Untuk membuktikannya silahkan perhatikan konspirasi dunia sekarang, bahkan sepanjang zaman. Di manakah Islam dalam permainan bangsa-bangsa besar non muslim?

Surah Al-Maidah ayat 51 itu diakhiri dengan ungkapan, “Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” Sangat jelas sekali, ayat ini mewanti-wanti bahwa orang beriman yang mengangkat wali dari orang kafir akan diseret untuk jadi kafir juga. Dan, kalau pun mengaku muslim, dia hanyalah sebagai muslim zalim yang sudah dijauhkan dari petunjuk Allah.

Kalau mengambil orang kafir sebagai wali (dalam arti teman dekat, sekutu, atau penolong) sudah dilarang, padahal hubungan tersebut tidak menimbulkan otoritas kuat untuk mengatur sekutunya, larangan itu menjadi lebih kuat jika mengangkatnya sebagai wali dalam arti pemimpin. Oleh karena itu, penafsiran atau penerjemahan kata WALI atau AULIYA itu dengan PEMIMPIN sebenarnya lebih lunak. Sebab, itu masih membuka peluang untuk menjadikannya sebagai teman dekat atau sekutu, selama tidak terseret kepada lingkup pengaruh yang tidak diizinkan.

***

Mengenai sebab turun ayat tersebut, benar ada periwayatan yang menghubungkannya dengan kondisi perang. Akan tetapi, itu hanya sebagian saja dari beberapa periwayatan tentang sebab turunnya yang dikemukakan oleh para ahli tafsir.

Setidaknya ada empat katagori periwayatan yang berbeda terkait peristiwa, waktu/situasi, dan pelakunya. Ada yang meriwayatkan dalam kondisi perang, pasca perang, perangnya juga berbeda-beda, orang atau pelakunya juga berbeda-beda. Ada pula yang meriwayatkan dalam kondisi normal (bukan perang). Sedangkan ayat-ayat yang melarang mengangkat kafir sebagai wali yang tidak terkait dengan situasi perang justru lebih banyak, baik dalam bentuk larangan langsung atau bentuk pemberitaan.

Oleh karena itu, dalam hal hubungan sebab turun ayat dengan ayatnya, para ulama tafsir meletakkan kaidah baku sebagai metodologi penafsirannya. Yaitu, al-Ibrah bi Umul lafdzi la bi khusu Sabab (Titik pertimbangannya terletak pada generalitas makna ayat bukan pada khususnya sebab turun). Tentu saja sebab turun ayat itu penting, setidaknya untuk melihat orientasi makna. Tapi peristiwa dan situasi yang bersifat temporal tidak mungkin mereduksi pernyataan-pernyataan banyak ayat yang sangat tegas dan general. Untuk membuktikan nya silahkan rujuk QS. 3: 28, QS. 4: 138-139, QS. 4: 144, QS. 60: 13, QS. 5: 80-81, QS. 58: 14-15, dll.

***

Mengenai Rasulullah saw. tidak menolak kepemimpinan pamannya, yaitu Abu Thalib, itu memang benar adanya. Kalau Alquran diturunkan sekaligus, tidak berangsur, masalah tersebut boleh jadi layak dipertanyakan. Akan tetapi, kenyataan berbicara lain, Alquran diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Saat Abu Thalib masih hidup adalah saat awal perjuangan Islam di Mekkah.

Ayat-ayat yang diturunkan di sana baru menyangkut masalah-masalah pokok akidah. Adapun ayat-ayat syariah tentang berbagai kewajiban, seperti zakat, shaum, haji, termasuk masalah pemerintahan turun di Madinah. Itu terjadi jauh setelah Abu Thalib meninggal dunia. Jadi, di Mekkah itu belum ada aturan tentang kepeminpinan. Lagi pula, di saat itu Abu Thalib adalah satu-satunya tokoh Quraisy (yang tidak beriman) yang memberikan perhatian dan perlindungan kepada Rasulullah saw.

Dengan demikian, dalam penafsiran Alquran itu memerlukan ilmu pendukungnya, tidak bisa dikira-kira, apalagi diseret oleh keinginan atau kepentingan tertentu. Setiap lompatan atau penggalan kalimat dalam satu ayat, baik menggunakan kata sambung atau tidak, pasti mengandung makna yang dalam. Begitu pula pengulangan konsep sama yang tersebar pada beberapa ayat dan surat berbeda. Untuk mengungkap rahasia maknanya ada ilmunya, yaitu ilmu manasabah.

Maka apabila suatu masalah diungkapkan dalam banyak ayat tidak bisa hanya dikaji dan disimpulkan dari satu ayat. Ayat-ayat yang berhubungan tersebut harus dicari korelasinya, sehingga terjadi penafsiran ayat dengan ayat. Inilah derajat tafsir yang paling tinggi.

***

Sekarang ini muncul perbedaan pendapat di kalangan orang muslim tentang kriteria pemimpin. Perbedaan tersebut muncul antara lain karena adanya keriteria pemimpin yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah. Hanya ada dua kriteria pemimpin yang beliau sampaikan, yaitu al-qawiyy dan al-amien. Al-qawiyy adalah orang yang memiliki kemampuan dan kompetensi yang baik untuk menjalankan tugas kepemimpinannya, sedangkan al-amien adalah orang yang jujur.

Dari sinilah timbul pendapat yang menyatakan bahwa yang penting pemimpin itu punya kompetensi memadai dan jujur. Iman tidak lagi harus jadi pertimbangan. Ini adalah kekeliruan besar, sebab al-amien yang dimaksud oleh Imam itu merupakan aktualisasi dari nilai intinya, yaitu khasyyatullah (takut kepada Allah) atau ketakwaan yang mendalam kepada Allah (Anda bisa merujuk buku aslinya al-Siyasah al-Syariyyah).

Hal ini sama kelirunya dengan menetapkan keriteria Shidiq, Amanah, fathonah, dan tabligh yang dibiarkan terbuka dan tidak dirujukan kepada nilai intinya. Padahal sifat-sifat tersebut adalah sifat Rasulullah saw. yang secara tergas dinyatakan bahwa beliau tidak mengatkan apapun dan tidak melakukan apapun kecuali atas bimbingan wahyu.

Jadi shidik (benar) itu standarnya apa? Yang pasti hanya Alquran. Amanah (jujur) itu jujur kepada siapa? Yang pasti hanya jujur kepada Allah. Rasulullah saw. sering mengalami cobaan berat, seperti saat dilempari batu di Thaif, tapi beliau tetap bersedia menerima penderitan lebih berat sekalipun asal tetap bisa jujur kepada Allah sehingga menggapai ridha-Nya. ***

Sumber: (Penulis Dr. Aam Abdussalam M.Ag)

IKHTILAF

-TOKOH ISLAM YANG MELARANG MENGANGKAT PEMIMPIN UMAT DILUAR ISLAM

–TOKOH ISLAM YANG MEMBOLEHKAN MENGANGKAT PEMIMPIN UMAT DILUAR ISLAM

(Dalam penyusunan)

BAB IX

KONSEP KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

ARTI PEMIMPIN DALAM ISLAM

-Kepemimpinan dalam islam adalah ketika ada keberadaan, ada  komunitas, ada masyarakat, ada organisasi, ada partai, ada negara yang penduduknya mayoritas islam, maka Al-Qur’an surat Al-Maidah:51, berikut rangkaian dalam ayat lainnya berlaku, yaitu memilih dan mengangkat pemimpin wajib dari kalangan islam.

Akan berbeda lagi ketika umat islam tinggal dinegara yang bukan mayoritas muslim, maka berlaku pedoman Al-Qur’an surat, yang lainnya.

Sebab sistim negara adalah demokrasi kerakyatan / suara rakyat dengan mengadakan pemilu, berbeda jika sistim kerajaan.

PEMIMPIN DALAM SEGALA HAL

-Pemimpin dalam keluarga, dalam organisasi,dll

TUNTUNAN MEMILIH PEMIMPIN ISLAM

Bahwa filosofinya adalah: Ukhuwah Islamiyyah. Ini adalah konsep Allah secara tegas dalam Al-Qur’an untuk umat Islam, yang merupakan metode tak tertawarkan agar umat Islam selalu memenangkan kompetisi dalam segala hal termasuk dalam hal memilih seorang pemimpin dari kalangan Islam sendiri.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS.surat Ali Imraan:103)

Masih hendak didebat juga ayat tegas ini dengan berbagai penafsyiran dan dalil dalil menurut angan masing masing? Kebangetan manusia, manusia !

Indonesia adalah negara republik. Sebab cara memilih dan mengkat seorang pemimpin / presiden dilakukan dengan cara menadakan pemilu (suara rakyat) maka surat Al-Maidah:51 ini berlaku bagi umat Islam. Jika negara Indonesia dikepalai oleh seorang raja, maka akan berbeda pedomannya bagi umat islam dalam memilih dan mengkat seorang pemimpin / presiden, maka ayat-lainnya-yang ditekankan bagi umat islam Indonesia.

Umat Islam dalam memilih dan mengangkat seorang pemimpin untuk urusan kemaslahatan orang banyak (strategis), maka sudah sepatutnya selalu menseleksi dan memilih calonnyadari kalangan Islamnya sendiriyangbenarbenarislamnya. Dalam hal ini faktor intelektualitas, pengetahuan serta wawasan dari umat Islamnya sendiri sebagai pemilih, sangatlah dipentingkan. Oleh karena itu jangan berharap banyak umat Islam bisa selalu memenangkan calon pemimpinnya sendiri jika umat pemilihnya tidak memahami nilai nilai Islam. Jika kondisinya seperti ini maka jangan harap kepemimpinan akan dimenangkan dari kalangan Islam. Disinilah pangkal persoalannya, yaitu wawasan keislaman umat Islam itu sangat vital.

Maka saat umat Islam seluruhnya telah menjiwai nilai nilai Islam, tak perlu melalui keadaan rumit pasti kepemimpinan akan selalu dikuasai / dimenangkan umat Islam. Ini sesuatu yang sudah otomatis. Maka sesungguhnya Al-Qur’an mengajari kita hukum hukum otomatis.

Kemudian jika menginginkan umat Islamnya cerdas dan berbobot / berpengetahuan serta menjiwai nilai nilai Islam, tentu dibutuhkan para ulamanya, kyainya atau pendidiknya juga yang cerdas cerdas dan berwawasan luas, tidak sempit pikir dan pemahaman. Dan wawasan yang luas itu diperoleh dengan terus menimba ilmu disegala bidang baik agama maupun umum.

BAB X

TUNTUNAN MEMILIH PEMIMPIN ISLAM

 (Indonesia menjadi incaran negara / paham lain untuk dikuasai), Ingin Islam-dan- pancasila lenyap. Ada revolusi besar nantinya. Harus dibangun sekarang untuk mencegah kehancuran Indonesia.

Dalam kehidupan berbangsa di dunia ini sudah menjadi suatu kelaziman bahwa mayoritas akan memilih pemimpin dari kalangannya sendiri…..Indonesia adalah negara didunia dengan penduduk beragama Islam terbesar, artinya mayoritas muslim. Suatu kewajaran bahkan keharusan bagi umatnya untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegaranya dengan kepemimpinan dari kalangan sendiri. Sebagaimana negara Katolik Italia yang mayoritas penganut Katholik, maka kepemimpinan berbangsa dan bernegaranya juga dikuasai / dalam kepemimpinan Katholik . Apakah umat Islam yang minoritas disana ngotot untuk memimpin? Demikian juga Indonesia, sepatutnya umatnya memilih pemimpin dari kalangan / golongannya sendiri. Itulah makna ayat ayat Al-Qur’an yang sesungguhnya memberitahu kita tentang keharusan memilih pemimpin dari golongannya sendiri. Maka patutkah seorang Islam tidak menjadikan pesan pesan Ilahi itu untuk ditaati?

Sementara ayat ayat Al-Qur’an telah mengingatkan umat Islam untuk memilih pemimpin dari golongannya sendiri agar hajat hidup berbangsa dan bernegaranya berjalan dinamis memenuhi kemaslahatan.

Namun sayangnya yang menjadi umat Islamnya sendiri berpecah belah dengan pembenaran dalil masing masing, bahkan rela meninggalkan persatuan Islamnya dengan gigih mendukung / berdiri pada barisan kepemimpinan non muslim.

Cobalah renungkan hikmah hikmah Al-Qur’an berikut ini:

Ketika Allah mengharamkan umat Islam memakan daging babi dengan hanya 4 ayat saja, maka seluruh umat Islam mematuhinya (taqwa), namun anehnya Ketika Allah mengharamkan umat Islam untuk tidak memilih kepemimpinan dari selain kalangan Islam, padahal Allah memberitahu rahasia rahasianya dengan belasan ayat, mengapa justru umat Islam banyak yang berani tidak mematuhinya (taqwa)?. Malah berpecah belah dengan argumentasi pembenaran pada kelompok yang dibungkus dengan rangkaian dalil? Sungguh Ironi umat Islam lebih larut tenggelam dalam saling pertikaian, peperangan, pembantaian saudara saudaranya sendiri. Tanya MENGAPA?

Ternyata kebanyakan umat islam dan tokoh Islamnya sendiri lebih cinta dengan kedudukan, pamor, uang dibanding ukhuwah islamnya.

Ingat jika begini Allah murka dan ingat generasi yang model seperti ini oleh Allah bakal diancam dengan pembinasaan generasi untuk kemudian akan diganti dengan generasi umat Islam yang baru. (ayat)

“Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian”. (QS. 4. An Nisaa’ :133)

PERBANDINGAN AYAT YANG DITAATI SECARA SOLID DENGAN YANG TIDAK OLEH UMAT ISLAMNYA SENDIRI

NO HARAM MAKAN

DAGING BABI

JML

AYAT

KET. HARAM MEMILIH

PEMIMPIN KAFIR

JML

AYAT

KET.
1 QS.2:173 1 ditaati QS.3:28 1
2 QS.5:3 1 ditaati QS.3:118 1
3 QS.6:145 1 ditaati QS.3:149-150 2
4 QS.16:115 1 ditaati QS.4:138-139 2
5 QS.4:144 1
6 QS.5:51 1
7 QS.5:57 1
8 QS.5:80-81 2
9 QS.9:16 1
10 QS.9:23 1
11 QS.28:86 1
12 QS.50:12-15 2
13 QS.60:1 1
14 QS.60:13 1
15 QS.2:120 1
16 QS.2:145 1
17 QS.25:52 1
18 QS.6:70 1
TOTAL 4 Ayat TOTAL 22 Ayat

BAB XI

CARA MEMILIH PEMIMPIN YANG SESUAI PERINTAH ALLAH DALAM AL-QUR’AN

CARA MEMILIH PEMIMPIN YANG SESUAI PERINTAH ALLAH DALAM AL-QUR’AN

                -MEMILIH PEMIMPIN UNTUK KEUTUHAN NKRI

BAB XII

AKAN SELALU MUNCUL GOLONGAN ISLAM YANG TERBELAH

AKAN SELALU MUNCUL GOLONGAN ISLAM YANG TERBELAH, TERHADAP PEMAHAMAN  AYAT  AYAT AL-QUR’AN YANG BERBENTURAN DENGAN KEPENTINGAN  PRIBADI / KELOMPOK

sebagai berikut : Al-Furqaan sendiri artinya PEMBEDA

  1. Golongan Islam SAMI’NA WA’ATOKNA tanpa reserve terhadap Al-Maidah:51
  2. Golongan Islam ABU-ABU (Sekuler) akan berdiri di golongan mana saja yang menguntungkan pribadi, yang pembenarannya akan berlindung dibalik rangkaian penafsiran dalil dalil cangkang.
  3. Golongan Islam MASA BODOH

BAB XIII

CARA MENSIKAPI DAN MENANGANII PERPECAHAN DITUBUH ISLAM

BAB XIV

MEMBANGUN PERADABAN ISLAM YANG KOKOH UNTUK RAHMAT SEMESTA ALAM

KESIMPULAN DAN PENUTUP

PENUTUP

UMAT ISLAM HARUS MELEK ILMU KEISLAMAN

Agar tampil menjadi umat Islam yang berkualitas (Al-insanul kamil), atau setidaknya menjadi bagian golongan ulul ’ilm, ulul albab sehingga tidak mudah terjebak kedalam lorong lorong Az-Zhulmun (kegelapan) dan kisi kisi Az-Zhur (kepalsuan)

Note:

Risalah ringan ini hanya resume singkat yang di intisarikan dari buku / kitab risalah yang masih dalam penyelesaian,yang berjudul:”HIZBUN NAAS” (Bendera manusia) karya Agus Sholech Al-Qadry,

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin, 03 April 2017

CopyRights@2017

Support & contact:

-Email: kelanadelapanpenjuruangin@gmail.com

-Facebook@https://web.facebook.com/kelana.delapanpenjuruangin

-Phone: +62878-378-22133

Iklan
RISALAH RINGKAS TENTANG ZAKAT

RISALAH RINGKAS TENTANG ZAKAT

PANDUAN BERZAKAT DAN ZAKAT FITRAH, PENGELOLAAN SERTA DASAR HUKUMNYA

SALAH KAPRAH PEMAHAMAN TENTANG ‘AMIL

PANITIA DADAKAN PENGUMPUL ZAKAT BUKAN KATEGORI AMIL ASNAF 8, TIDAK SAH MENGAMBIL BAGIAN DARI HARTA ZAKAT

10 KEBERUNTUNGAN DAHSYAT DIPEROLEH DENGAN ZAKAT

*Risalah ini berasal dari tulisan/kitab ringan berbahasa Jawa karya Al-fakir Kyai Syamsuddin-Prembun Kranggan-Kebumen-Jawa Tengah, dengan judul aslinya : “RISALATU FI SYAHRU RAMADHAN”. Dan kemudian diterjemahkan serta disusun lengkapi oleh Agus Sholech Al-Qadry. Untuk dijadikan pengetahuan bermanfaat bagi umat.
DAFTAR ISI :
  • DASAR HUKUM
  • MANFAAT/FAEDAH MENUNAIKAN ZAKAT
  • KRITERIA WAJIB ZAKAT (Muzakki)
  • KRITERIA TIDAK WAJIB ZAKAT
  • KRITERIA PENERIMA ZAKAT
  • KRITERIA BUKAN PENERIMA ZAKAT
  • BENTUK ZAKAT DAN BESARAN
  • TATA CARA BERZAKAT
  • KEWAJIBAN ZAKAT LAIN DILUAR ZAKAT FITRAH
  • BABUL AWAMIL FIZZAKATI (PENGELOLAAN ZAKAT OLEH PANITIA)
  • HUKUM MEMBENTUK ‘AMIL
  • SYARAT BERAT MENJADI ‘AMIL
  • PEMBENTUKAN ‘AMIL YANG TEPAT/IDEAL
  • KESIMPULAN

ZAKAT1

Kata zakat didalam Al-Quran terdapat pada 26 ayat yang tersebar pada 15 surat. Ayat dan surat tersebut yaitu sebagai berikut: Didalam Q.S Al Baqoroh ayat: 42, 84, 110, 177, 277. Annisa ayat: 77 dan 162. Al-Maidah ayat: 12 dan 55. Al-A’raaf ayat: 156.At-Taubah ayat: 5, 11, 18, dan 71, Al-Anbiya ayat: 73, Al-Hajj ayat: 41 dan 78. An-Nur ayat: 37 dan 56. Annaml ayat: 3. Luqman ayat: 4, Al-Ahzab ayat: 37, Fushilat ayat: 7.  Al-Mujadillah ayat: 13. Al Muz’amil ayat: 20, Al-Bayyinah ayat: 5.

Juga hadits riwayat muttafaqun alaihi yang artinya: “Islam didirikan diatas lima dasar: Mengikrarkan bahwa tidak ada tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh, mendirikan sholat, membayar zakat, menunaikan haji, dan berpuasa pada bulan Romadhon”. (H.R. Muttafaq ‘alaih)

“Shodaqotul fitri wajibatun ‘amalan laa i’tiqodan ‘alal hurril muslimil maliki linishab. Fadhillin ‘anil hawaijil ashliyati wawaqotu ada’an shodaqotil fitri qobla shalatil ‘ied,

“Zakat fitrah telah diwajibkan atas kaum muslim dengan diamalkan, tak cukup hanya dengan niat dalam hati saja. Yaitu atas orang Islam yang mempunyai sesuatu (makanan, harta, atau uang) yang lebih daripada keperluan diri sendiri dan keperluan orang yang ditanggung nafkahnya. Sedang waktu membayar zakat fitrahnya sampai dengan sebelum dimulai shalat iedul fitri”.

(maka waktu yang wajib adalah sejak terbenamnya matahari dimalam hari raya hingga saat shalat ied. Maka jika dibayarkan ba’da shalat ied hukumnya makruh namun syah.Dan jika melewati hari raya maka itu qadla tapi harus).

Reff: (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III :367 no:1503, Muslim II: 277 no:279/984 dan 986, Tirmidzi II : 92 dan 93 no: 670 dan 672, ‘Aunul Ma’bud V:4-5 no: 1595 dan 1596, Nasa’i V:45, Ibnu Majah I: 584 no:1826 dan dalam Sunan Ibnu Majah ini tidak terdapat “WA AMARA BIHA…”).

BERIKUT JENIS JENIS WAKTU MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH

  1. Waktu wajib: Sejak terbenam matahariakhir ramadhan hingga terbit matahari esoknya (hari raya).
  2. Waktu paling afdhal: Sebelum Sholat Hari Raya.
  3. Waktu sunat: Sepanjang bulan Ramadhan.
  4. Waktu makruh: Selepas sholat Ied hingga terbenam matahari pada satu Syawal.
  5. Waktu haram: Selepas terbenam matahari satu Syawal.

KEDUDUKAN ZAKAT DALAM ISLAM

Zakat adalah salah satu rukun Islam dan termasuk salah satu di antara fardhu-fardhuNya.

Dari Ibnu Umar r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Islam ditegakkan di atas lima (perkara): (pertama) bersaksi bahwa tiada Ilah (yang patut diibadahi) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul utusan Allah, (kedua) menegakkan shalat, (ketiga) mengeluarkan zakat, (keempat) menunaikan ibadah haji, dan (kelima) melaksanakan shiyam (puasa) Ramadhan.”

(Muttafaqun’alaih: Muslim I : 45 no:16-20 dan lafadz ini baginya, Fathul Bari I: 49 no: 8, Tirmidzi IV: 119 no: 2736 dan Nasa’i VIII: 107). Di dalam al-Qur’an, kata zakat diiringi oleh kata shalat dalam delapan puluh dua ayat.

Dorongan Agar Menunaikan Zakat

Allah SWT berfirman, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”(At-Taubah: 103)

Dan Allah SWT berfirman, “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).” (QS.Ar-Ruum:39).

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,“Barangsiapa yang bershadaqah sesuatu senilai harga satu tamar (kurma kering) dari hasil usaha yang halal, dan Allah tidak akan menerima kecuali yang halal, maka Allah menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia memeliharanya untuk pelakunya sebagaimana seorang diantara kamu memelihara anak kandungnya sampai seperti gunung.” (Muttafaqun’alaih: Fathul Bari III:278 no: 1410 dan lafadz ini baginya, Muslim II : 702 no: 1014, Tirmidzi II: 85 no: 656 dan Nasa’i  V:57).

MANFAAT/FAEDAH MENUNAIKAN ZAKAT

bebas

Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, “Rasulullah saw. telah mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan yang kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum (selesai) shalat ‘id, maka itu adalah zakat yang diterima (oleh Allah); dan siapa saja yang mengeluarkannya sesuai shalat ‘id, maka itu adalah shadaqah biasa, (bukan zakat fitrah).” (Hasan : Shahihul Ibnu Majah no: 1480, Ibnu Majah I: 585 no: 1827 dan ‘Aunul Ma’bud V: 3 no:1594).

kitabsalaf

Bahkan dalam kitab Durratun Nashihin dijelaskan:

(Ruwiya ‘annabiy SAW, annahu qolaa: “Man a’to shodaqotal fitri kanalahuu assharotu ashyaa’a : “Al-awwalu yathurru jasaduhu minaddzunubi wasshafi ya’tiqu minannaar, watsalitsu yashirru shaumatu ma’bulan, warabbi’atu yastaujibul jannah, walkhamishu yakhruju min qobrihi amina, watssadishu yu’baluma minal khairati fi tilkas shanaati, was tsabi’u tajibulahuu syafa’ati yaumil qiyaamah, was tsaminu yamru ‘alal qiraati kalbarqul khatiif, wat tashi’ yurjahu mizanuhu minal hasanati wal ‘ashiruu yamhullahu ta’ala, ismuhu min diwanil ashqiyyaa’i”. (Dari serangkaian Ayat&Al-hadits yang diintisarikan dalam kitab Durratun Nashihin-shahifah 279).

Sabda Rasulullah saw : “Barang siapa memberikan zakat fitrah maka orang tersebut akan memiliki sepuluh perkara (keberuntungan), yakni :

  1. Jiwanya disucikan dari dosa dosanya (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)
  2. Bebas dari api neraka (HR. Al Bukhari 6539, Muslim 1016,16)
  3. Diterima segala amal ibadah puasanya
  4. Hak/wajib masuk syorga (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)
  5. Mendapat keamanan ketika dibangkitkan dari kubur (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873)
  6. Diterima Allah amal kebaikan yang dilakukannya selama setahun
  7. Hak/wajib atas syafa’at Rasulullah saw
  8. Melewati jembatan shirotol mustaqiem pada hari kiamat bagai kilat yang menyambar
  9. Bobot amal kebaikannya dineraca Al-mizan menjadi berat kebaikannya (HR. At Tirmidzi 662, ia berkata: “hasan shahih”)
  10. Allah SWT menghapus namanya dari daftar yang celaka yang telah tercatat dibukunya.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, begitu murahnya Allah pada umatnya, yang hanya dengan mengeluarkan 2.5 Kg beras setiap tahun sekali saja sudah demikian untungnya. Maka cobalah berpikir, bagaimana jika kita dalam hari harinya hidup selalu dalam berbuat amal kebaikan? (tidak merasa eman/sayang dengan harta benda untuk loman/suka bersedekah. Begitu sebaliknya Allah mengancam bagi orang yang kikir enggan bersedekah maka ketika mati tak satupun harta kekayaannya dibawa serta bahkan akan dikalungkan dilehernya sangat berat dibawa kesana kemari terseok seok dipadang masyaar).

syt5

“…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, Lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35)

Hukum Orang Yang Mencegah Membayar Zakat

Dalam Fiqhus Sunnah I: 281, Syaikh Sayyid Sabiq menulis, “Zakat adalah salah satu amalan fardhu, sehingga termasuk Dharurriyatud din (pengetahuan yang pokok dalam agama), yang mana andaikata ada seseorang mengingkari wajibnya zakat, maka dinyatakan keluar dari Islam (kafir). Kecuali jika hal itu terjadi pada seseorang yang baru masuk Islam, maka dimaafkan karena belum mengerti hukum-hukum Islam.”

 “Adapun orang-orang yang enggan membayar zakat, namun meyakininya sebagai kewajiban, maka ia hanya berdosa besar karena enggan membayarnya, tidak sampai keluar dari Islam. Dan, penguasa yang sah berwenang memungut zakat tersebut darinya dengan paksa”. Dalam hal ini penguasa berhak  menyita separoh harta kekayaannya sebagai sangsi baginya, hal ini berdasar pada hadits dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari datuknya r.a. ia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Pada setiap unta yang digembalakan ada zakatnya, setiap 40 ekor (zakatnya) adalah seekor anak unta betina yang selesai menyusu; unta tidak dipisahkan dari perhitungannya; barangsiapa yang membayar zakat itu untuk memperoleh pahala, maka ia pasti akan mendapat pahala itu, tetapi orang yang tidak membayarnya kami akan memungut zakat itu beserta separuh kekayaannya. Ini merupakan salah satu ketentuan tegas dari Rabb kita, yang mana bagi keluarga Muhammad tidak halal menerimanya sedikitpun.” (Hasan : Shahihul Jami’us Shaghir no: 4265, ‘Aunul Ma’bud IV:452 no:1560, Nasa’i V:25, al-Fathur Rabbani VIII:217 no:28).

KRITERIA WAJIB ZAKAT

            SYARAT ZAKAT FITRAH :

  1. Islam
  2. Mempunyai sesuatu (makanan, harta, atau uang) yang lebih daripada keperluan diri sendiri dan keperluan orang yang ditanggung nafkahnya untuk satu hari siang dan malam Hari Raya itu.
  3. Dapat menemui dua masa yakni akhir Ramadan dan awal Syawal. (Orang yang meninggal dunia sebelum terbenam matahari atau anak yang dilahirkan selepas matahari terbenam malam satu Syawal itu tidak wajib fitrah ke atasnya).

Kewajiban zakat fitrah

  1. Kepala keluarga wajib membayar zakat fitrah untuk dirinya dan juga tanggungannya.
  2. Jika salah satu dari tanggungannya meninggal dalam bulan puasa, maka orang itu terlepas daripada membayar zakat fitrah.

Rukun-Rukun Zakat Fitrah

  • Niat untuk menunaikan zakat fitrah dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT
  • Terdapat pemberi zakat fitrah atau musakki
  • Terdapat penerima zakat fitrah atau mustahik
  • Terdapat makanan pokok yang dizakatkan
  • Besar zakat fitrah yang dikeluarkan sesuai agama islam

KRITERIA TIDAK WAJIB ZAKAT

Meskipun zakat fitrah ini wajib hukumnya bagi semua orang islam yang mukallaf baik laki laki maupun perempuan, namun ada keterkecualian tentang siapa yang tidak terkena kewajiban mengeluarkan zakat yakni golonan fakir dan miskin (orang yang hidupnya kekurangan dan atau tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup), bahkan golongan ini sebagai yang berhak menerima zakat fitrah tersebut. Atau hakekatnya adalah orang yang pada saat jatuh temponya wajib zakat tiba namun tidak memiliki harta/simpanan untuk dizakatkan maka dirinya termasuk yang berhak menerima zakat/sedekah.

KRITERIA PENERIMA ZAKAT

SASARAN PEMBAGIAN  ZAKAT (Annashrof fizzakati)

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya zakat-zakat ini, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, untuk orang-orang yang berhutang, untuk di jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah:60).

(Ibnu Katsir r.a. ketika menafsirkan ayat ini dalam kitab tafsirnya II: 364 mengatakan,  “Tatkala Allah SWT menyebutkan penentangan orang-orang munafik yang bodoh itu atas penjelasan Nabi saw. dan mereka mengecam Rasulullah mengenai pembagian zakat, maka kemudian Allah SWT menerangkan dengan gamblang bahwa Dialah yang membaginya. Dialah yang menetapkan ketentuannya, dan Dialah pula yang memproses ketentuan-ketentuan zakat itu, sendirian, tanpa campur tangan siapapun. Dia tidak pernah menyerahkan masalah pembagian ini kepada siapapun selain Dia. Maka Dia membagi-bagikannya kepada orang-orang yang telah disebutkan dalam ayat di atas).

Apakah Delapan Golongan (Ashnaf 8) Harus Mendapatkan Bagian Semua ?

Ahli tafsir Ibnu Katsir menegaskan bahwa para ulama’ berbeda pendapat (ikhtilaf) mengenai delapan kelompok ini, apakah mereka harus mendapatkan bagian semua, ataukah boleh diberikan kepada sebagian di antara mereka ? Dalam hal ini, ada dua pendapat :

  1. Pendapat pertama, mengatakan bahwa zakat itu harus dibagikan kepada semua delapan kelompok itu. Ini  adalah pendapat Imam Syafi’I dan sejumlah ulama’ yang lain.
  1. Pendapat kedua, menyatakan bahwa tidak harus dibagikan kepada mereka semua, boleh saja, dibagikan pada satu kelompok saja diantara mereka, seluruh zakat diberikan kepada kelompok tersebut, walaupun ada kelompok-kelompok yang lain. Ini adalah pendapat Imam Malik dan sejumlah ulama’ salaf dan khalaf, di antara mereka ialah Umar bin Khatab, Hudzifah Ibnul Yaman, Ibnu Abbas Abul’Aliyah, Sa’id bin Jubair, Maimun bin Mahcar, Ibnu Jarir mengatakan, “Ini adalah pendapat mayoritas ahli ilmu. Oleh karena itu, penulis, (Abdul ‘Azhim bin Badawi) menyebutkan semua golongan yang berhak menerima zakat di sini hanyalah untuk menjelaskan pengertian masing-masing golongan, bukan karena keharusan memberikan zakat itu kepada semuanya.

Golongan pertama ; Orang-orang fakir

Dari Abdullah Ibnu Umar bin al-Ash r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Zakat tidak halal bagi orang yang kaya dan tidak (pula) bagi orang yang sehat dan kuat,” 

(Shahih : Shahihul Jami’ no: 7251, Tirmidzi II: 81 no: 647, ‘Aunul Ma’bud V:42 no:1618, dan Abu Hurairah meriwayatkannya lihat Ibnu Majah I:589 no: 1839 dan Nasa’i V:39).

Dari Ubaidillah bin ‘Adi bin al-Khiyar r.a. bahwa ada dua orang sahabat mengabarkan kepadanya bahwa  mereka berdua pernah menemui Nabi saw. meminta zakat kepadanya, maka Rasulullah memperhatikan mereka berdua dengan seksama dan Rasulullah mendapatkan mereka sebagai orang-orang yang gagah. Kemudian Rasulullah bersabda, “Jika kamu berdua mau, akan saya beri, tetapi (sesungguhnya) orang yang kaya dan orang yang kuat berusaha tidak mempunyai bagian untuk menerima zakat,” (Shahih : Shahih Abu Daud no: 1438, ‘Aunul Ma’bud V: 41 serta Nasa’i   V:99).
Golongan kedua; Orang-Orang Miskin

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling minta-minta agar diberi sesuap dua suap makanan dan satu biji kurma,” (Kemudian) para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, (kalau begitu) siapa yang dimaksud orang miskin itu?” Jawab Beliau, “Salah mereka yang yang hidupnya tidak berkecukupan dan dia tidak punya kepandaian untuk itu, lalau diberi shadaqah, dan mereka tidak mau minta-minta kepada orang lain.” (Muttafaqun ‘alaih:Muslim II : 719 no:1039 dan lafadz baginya, Fathul Bari III : 341 no: 1479, Nasa’i V:85 dan Abu Daud V:39 no: 1615).
Golongan ketiga: Para Amil Zakat
Untuk bab golongan ‘amil ini akan diurai dan dijelaskan secara lugas dibagian akhir/bawah.

Golongan keempat : Orang-orang Muallaf

Kelompok muallaf ini terbagi menjadi beberapa bagian.

1.Orang yang diberi sebagian zakat agar kemudian memeluk Islam. Sebagai misal Nabi saw. pernah memberi Shafwan bin Umayyah sebagian dari hasil rampasan perang Hunain, dimana waktu itu ia ikut berperang bersama kaum Muslimin:

“Nabi saw. selalu memberi kepada hingga beliau menjadi orang yang paling kucintai, setelah sebelumnya beliau menjadi orang yang paling kubenci.” (Shahih : Mukhtashar Muslim no: 1558, Muslim II:754 no:168 dan 1072, ‘Aunul Ma’bud VIII: 205-208 no: 2969, dan Nasa’i V:105-106).

2.Golongan orang yang diberi zakat dengan harapan agar keislamannya kian baik dan hatinya semakin mantap.

Seperti pada waktu perang Hunain juga,ada sekelompok prajurit beserta pemukanya diberi seratus unta, kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya aku benar-benar memberi zakat kepada seorang laki-laki, walaupun selain dia lebih kucintai daripadanya (laki-laki tersebut) karena khawatir Allah akan mencampakkannya ke (jurang) neraka Jahanam.” 

(Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari I: 79 no:27, Muslim I:132 no:150, ‘Aunul Ma’bud XII : 440 no:4659, dan Nasa’i  VIII:103).

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan dari Abu Sa’id r.a. bahwa Ali r.a. pernah diutus menghadap kepada Nabi saw. dari Yaman dengan membawa emas yang masih berdebu, lalu dibagi oleh beliau saw. kepada empat orang (pertama) al-Aqra’ bin Habis, (kedua) Uyainah bin Badr, (ketiga) ‘Alqamah bin ‘Alatsah, dan (keempat) Zaid al-Khair, lalu Rasulullah bersabda, “Aku menarik hati mereka.” (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III: 67 no:4351, Muslim II:741 no:1064, ‘Aunul Ma’bud XIII : 109 no:4738).

3.Bagian ini ialah orang-orang muallaf yang diberi zakat lantaran rekan-rekan mereka yang masih diharapkan juga memeluk Islam.

4.Mereka yang mendapat bagian zakat agar menarik zakat dari rekan-rekannya, atau agar membantu ikut mengamankan kaum Muslimin yang sedang bertugas di daerah perbatasan. Wallahu a’lam.

(Apakah muallaf sepeninggal Nabi saw. masih berhak mendapatkan bagian dari zakat ?

Ibnu Katsir r.a. mengatakan bahwa dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama’ bahwa para muallaf tidak usah diberi bagian dari zakat setelah beliau wafat, karena Allah telah memperkuat agama Islam dan para pemeluknya serta telah memberi kedudukan yang kuat kepada mereka di bumi dan telah menjadikan hamba-hambaNya tunduk pada mereka (kaum muslimin).

Kelompok yang lain berpendapat, bahwa para muallaf itu tetap harus diberi, karena Rasulullah saw. pernah memberi mereka zakat setelah penaklukan kota Mekkah dan penaklukan Hawazin, zakat ini kadang-kadang amat dibutuhkan oleh mereka, sehingga mereka harus mendapat alokasi bagian dari zakat).

Golongan kelima :RIQAB (Untuk memerdekakan Budak)

Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri, Muqatil bin Hayyan, Umar bin Abdul Aziz, Sa’id bin Jubair, an-Nakha’i, az-Zuhri, Ibnu  Zaid bahwa yang dimaksud riqab, bentuk jama’ dari raqabah “budak belian” ialah hamba mukatab (hama yang telah menyatakan perjanjian dengan tuannya bilamana sanggup menghasilkan harta dengan nilai tertentu dia akan dimerdekakan, pent). Diriwayatkan juga pendapat yang semisal dengan pendapat tersebut dari Abu Musa al-Asy’ari, dan ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan al-Lain.

Ibnu Abbas dan al-Hasan berkata, “Tidak mengapa memerdekakan budak belian dengan uang dari zakat.” Ini juga menjadi pendapat Mazhab Imam Ahmad, Imam Malik, dan Imam Ishaq. Yaitu bahwa kata riqab lebih menyeluruh ma’nanya daripada sekedar memberi zakat kepada hamba mukatab, atau sekedar membeli budak lalu dimerdekakan.

Ada banyak hadits yang menerangkan besarnya pahala memerdekakan budak, dan Allah SWT untuk setiap anggota badan budak tersebut memerdekakan satu anggota badan orang yang memerdekakannya dari api neraka, sampai untuk kemaluan sang budak Allah memerdekakan kemaluan orang yang memerdekakannya. Sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits berikut :

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang telah memerdekakan seorang budak mukmin, niscaya Allah dengan setiap anggota badannya akan membebaskannya anggota badan (orang yang memerdekakannya) dari api neraka, hingga orang itu memerdekakan (masalah) kemaluan dengan kemaluan.” (Shahih : Shahihul Jami’us Shaghir no:6051, Tirmidzi III:49 no: 1581).

Hal itu tidak lain, karena balasan suatu amal perbuatan sejenis dengan amal yang dilakukannya. Allah berfirman, “Dan  kamu  tidak  diberi pembalasan, melainkan apa yang telah kamu lakukan. (QS.ash-Shaffat.39).

Golongan keenam : GHORIMIN (Orang-orang yang Banyak Berhutang)

Mereka terbagi menjadi beberapa bagian : Pertama, orang yang mempunyai tanggungan atau dia menjamin suatu hutang lalu menjadi wajib baginya untuk melunasinya kemudian meludeskan seluruh hartanya karena hutang tersebut; kedua, orang yang bangkrut; ketiga, orang yang berhutang untuk menutupi hutangnya; dan keempat, orang yang berlumuran maksiat, lalu bertaubat. Maka mereka semua layak menerima bagian dari zakat.

Dasar yang menjadikan pijakan untuk masalah ini ialah hadits dari Qubaishah bin Mukhariq al-Hilali r.a. ia berkata, Aku pernah mempunyai tanggungan (untuk mendamaikan dua pihak yang bersengketa), kemudian aku datang kepada Rasulullah saw. menanyakan perihal beban tanggungan itu. Maka Beliau bersabda, “Tegakkanlah, hingga datang zakat untuk kuberikan kepadamu!” Rasulullah saw. melanjutkan sabdanya, “Ya Qubaishah sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi tiga golongan: (Pertama) orang-orang yang memikul beban untuk mendamaikan dua pihak yang bersengketa, maka dihalalkan baginya meminta, sampai berhasil mendapatkannya, sehingga berhenti memintanya. (Kedua), orang yang tertimpa kebingungan yang sangat, karena rusaknya harta bendanya, maka kepadanya dihalalkan meminta zakat, sehingga ia mendapatkan kekuatan untuk menutupi kebutuhan hidupnya. (Ketiga), orang yang mendapatkan kesulitan hidup hingga tiga orang dari pemuka kaumnya berdiri (lalu bertutur), bahwa kesulitan hidup telah menimpa si fulan, maka baginya dihalalkan meminta hingga mempunyai kekuatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka tidak ada hak bagi selain yang tiga kelompok itu untuk meminta wahai Qubaishah!”

(Shahih : Mukhtashar Muslim no: 568, Muslim II: 722 no:1044, ‘Aunul Ma’bud V:49 no: 1624, dan Nasa’i  V:96).

Golongan ketujuh : FISABILILLAH

Berbagai pendapat (ikhtilaf) dari para ulama dalam menafsyirkan makna Fi sabilillah ini, berikut :

Fi sabilillah ialah para mujahid sukarelawan (ghuzah) yang berjuang di jalan Allah yang tidak memiliki bagian atau gaji yang tetap dari kas negara. Sementara al-fakir Kyai Syamsuddin memperkaya khasanahnya bahwa Fi sabilillah adalah golongan orang yang berperang melawan hawa nafsyu yang berjuang, berkarya di jalan Alloh (kebaikan) yang dengan ikhlas mengabdi tanpa pamrih dan upah tetap seperti contoh para ulama, kyai/guru ngaji, modin/kaum dan lainnya.

“Ahli sabilillahi al-uzzatul mutatawwi’una bil jihadi wain kanuu aghniyya’a in’anatal jihadi wayaadhullu fi dalika tulabatul ‘ilmissyaari waraawadul haqqi watulabul ‘adli wa muqimul inshafi wal wa’dli wal irsyaadi wanashirad dinil hanif…..”. (kitab Jauharul Bahri-shahifah 173).

“wataqolal quflu ‘an ba’dil fuqahaai fahum ajarru sharfa shodaqoti ilaa jami’i wajuuhil khairi min takfinil mautaa wabinaail husuni waimaratil masjidi, lianna qaulahu ta’ala fi sabilillahi ‘amma fil kulli……….ila ayat……(tafsyir munir –juzz awal-shahifah 244)

Dalam kitab ini diterangkan bahwa makna fi sabilillah itu luas tidak hanya orang sedang dalam perang sabil fisik, tetapi termasuk siapa siapa yang sedang melakukan perjuangan bakti kebaikan yang dijalan Alloh seperti ahli ceramah agama, advisor spiritual, guru ngaji, para penolong agama Alloh dan pejuang/pengabdi kemanfaatan ditengah masyarakat.

Golongan kedelapan : Ibnu Sabil

Adalah seorang yang musafir melintas di suatu negeri tanpa membawa bekal yang cukup untuk kepentingan perjalanannya, maka dia pantas mendapat alokasi dari bagian zakat yang cukup hingga kembali ke negerinya sendiri, meskipun ia seorang yang mempunyai harta.

Demikian juga hukum yang diterapkan kepada orang yang mengadakan safar dari negerinya ke negeri orang dan dia ia tidak membawa bekal sedikitpun, maka ia berhak diberi bagian dari zakat yang sekiranya cukup untuk pulang dan pergi. Adapun dalilnya ialah ayat enam puluh surah at-Taubah dan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Ibnu Majah.

Dari Ma’mar dari Yasid bin Aslam, dari ‘Atha’ bin Yassar dari Abi Sa’id r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Zakat tidak halal bagi orang yang kaya, kecuali bagi lima (kelompok): (pertama) orang kaya yang menjadi amil zakat, (kedua) orang kaya yang membeli barang zakat dengan harta pribadinya, (ketiga) orang yang berutang; (keempat) orang kaya yang ikut berperang di jalan Allah, (kelima) orang miskin  yang mendapat bagian zakat, lalu dihadiahkannya kembali kepada orang kaya,”

 (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 7250, ‘Aunul Ma’bud V : 44 no : 1619, dan Ibnu Majah I: 590 no :1841). Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 439 – 448.

KRITERIA BUKAN PENERIMA ZAKAT

Golongan Yang Haram Menerima Zakat

Ada beberpa golongan yang tidak berhak (haram) menerima zakat dan tidak shah zakat jika diserahkan kepada mereka, antara lain sebagai berikut:

  1. Orang kafir atau musyrik (kecuali yang masuk dalam koridor asnaf 8)
  2. Orang tua dan anak termasuk ayah, ibu, kakek, nenek, anak kandung dan cucu laki-laki dan perempuan Istri, karena nafkahnya wajib bagi suami
  3. Orang kaya dan orang yang memiliki pekerjaaan dengan gaji kecukupan

Dari Abdullah Ibnu Umar bin al-Ash r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Zakat tidak halal bagi orang yang kaya dan tidak (pula) bagi orang yang sehat dan kuat,” 

(Shahih : Shahihul Jami’ no: 7251, Tirmidzi II: 81 no: 647, ‘Aunul Ma’bud V:42 no:1618, dan Abu Hurairah meriwayatkannya lihat Ibnu Majah I:589 no: 1839 dan Nasa’i V:39).

  1. Keluarga Rasulullah saw yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Berdasarkan hadist yang diriwayatkan dari Abdul Muttalib bin Rabiah bin Harks, sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya shadaqah (zakat) itu adalah kotoran manusia, sesungguhnya ia tidak halal (haram) bagi Muhammad dan bagi sanak keluarganya. (HR Muslim)

BENTUK ZAKAT DAN BESARAN

zakatberas

  1. ZAKAT FITRAH

Individu wajib mengeluarkan zakat fitrah sebesar setengah sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ kismis, atau satu sha’ gandum (jenis lain) atau satu sha’ susu kering, atau yang semisal dengan itu yang termasuk makanan pokok, misalnya beras, jagung dan semisalnya yang termasuk makanan pokok. Di Indonesia telah disepakati ulama bahwa besaran zakat fitrah adalah 2.5 Kg/jiwa atau 3.5 liter beras.

(Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III:371 no: 1506, Muslim II:678 no:985, Tirmizi II: 91 no :668, ‘Aunul Ma’bud V:13 no:1601, Nasa’i  V:51 dan Ibnu Majah I:585 no:1829).

Bolehkah mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang, bukan beras?
Di kalangan ulama terjadi perbedaan pendapat mengenai boleh tidaknya. Salah satu ulama yang membolehkannya adalah Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Beliu beralasan karena pada zaman Nabi tidak semua orang dapat memiliki dinar, sekalipun mempunyai bahan pokok di rumahnya, karena keadaan waktu itu. Bahkan akses mereka untuk memperoleh bahan pokok jauh lebih mudah kala itu.  Dengan demikian, perintah Rasulullah untuk mengeluarkan zakat dengan bahan pokok waktu itu adalah sebuah kemaslahatan bagi umatnya, sehingga jika sekarang dikeluarkan pendapat bolehnya dengan dengan uang juga karena alasan kemaslahatan dimana uang jauh lebih mudah diperoleh, terlebih lagi di akhir bulan Ramadhan karena melonjaknya permintaan menyebabkan bahan pokok menjadi tidak mudah didapatkan.

JALAN TENGAH CARA ZAKAT FITRAH DENGAN UANG

Dengan berbagai ikhtilaf di kalangan ulama maka lebih lanjut al-fakir Kyai Syamsuddin memberikan jalan tengahnya secara bijak, yakni bagaimana cara membayar zakat dengan uang namun tidak keluar dari rel syareat. Adalah sebagai berikut ;

  1. Muzaki menuju ke tempat orang yang akan diberi zakatnya, kemudian menyampaikan maksudnya bahwa akan memberi zakat dengan uang,
  2. Kemudian muzaki terlebih dahulu melafazkan itiqod niat dihadapan mustahik tersebut begini : “Baca basmallah, lalu mengucapkan niat : “Niat ingsun tumbas uwos kangge mitrahi badan kulo lan keluarga kulo, lillahi ta’ala’/NIAT SAYA MEMBELI BERAS UNTUK FITRAHI DIRI SAYA, KELUARGA SAYA KARENA ALLAH TA’ALA.

(maka seyogyanya pihak mustahik sebelumnya telah menyanding/menyiapkan sekantong beras 2.5 kg/secukupnya sebagai simbolis akad dan uang yang untuk zakatnya diletakan diatas beras tersebut/serahkan pada mustahiknya)

  1. Setelah itu muzaki barulah meniatkan membayar zakat fitrahnya dihadapan mustahiknya. (untuk lebih afdhol si muzaki melafazkan niat zakat fitrahny sambil menyentuh beras simbolis tersebut).

Demikianlah cara bijak membayar zakat fitrah dengan uang tanpa ragu ragu, sebab sesungguhnya syareat islam sangat luwes tak perlu bersempit pikir dalam memaknai perbedaan kaul/pendapat para ulama besar. Sebab sabda Rasulullah SAW mengatakan bahwa “Ikhtilaf (perbedaan pendapat) ditengah umatku adalah rahmat”. Maka janganlah kita ngotot ngototan dalil secara sempit untuk mencari pembenaran atau memaksa orang untuk menuruti pemahaman diri sendiri.

Menghitung zakat fitrah –

Adapun nilainya, maka dihitung dari harga beras sebanyak 2,5 kg dari yang biasa dikomsumsi setiap hari. Misalnya saja harga beras per kg adalah Rp. 10.000 maka zakat yang harus dikeluarkan adalah Rp. 25.000 per orang. Jika ada 5 orang dalam satu keluarga, termasuk ayah, ibu dan anak yang masih kecil, maka wajib mengeluarkan Rp. 125.000.

Batasan Orang yang Wajib Menunaikan Zakat Fitrah :

Ulama berbeda pendapat tentang batasan orang yang wajib menunaikan zakat fitrah.

  1. Orang yang berkewajiban membayar zakat fitrah adalah mereka yang memiliki harta satu nishab, sebagaimana zakat mal. Ini adalah pendapat ulama Kufah.
  2. Orang yang wajib membayar zakat fitrah adalah mereka yang memiliki kelebihan makanan di luar kebutuhannya ketika hari raya, sekalipun dia tidak memiliki kelebihan harta lainnya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, diantaranya Az-Zuhri, As-Sya’bi, Ibnu Sirrin, Ibnul Mubarok, Imam As-Syafii, Imam Ahmad dan yang lainnya. (Ma’alim As-Sunan karya Al-Khithabi, 2/49).

Selanjutnya Al-Khithabi mengutip keterangan Imam As-Syafii, yang menjelaskan,

إذا فضل عن قوت المرء وقوت أهله مقدار ما يؤدي عن زكاة الفطر وجبت عليه

“Apabila makanan seseorang melebihi kebutuhan dirinya dan keluarganya, seukuran untuk membayar zakat fitrah, maka dia wajib mengeluarkan zakatnya.” (Ma’alim As-Sunan karya Al-Khithabi, 2/49).

Diantara dalil yang menguatkan pendapat mayoritas ulama adalah hadis dari Ibn Umar radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, kepada setiap budak atau orang merdeka, laki-laki atau wanita, anak maupun dewasa, dari kalangan kaum muslimin. (HR. Bukhari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah kepada seluruh kaum muslimin, tanpa pandang status. Baik kaya maupun miskin, lelaki maupun wanita. dan mereka yang sama sekali tidak memiliki harta, zakat fitrahnya ditanggung oleh orang yang menanggung nafkahnya.

Sebagai contoh untuk memperjelas keterangan di atas, misalnya si A memiliki 1 istri dan 5 anak. Malam hari raya, si A hanya memiliki beras ‘raskin’ 10 kg dan uang Rp 20 ribu. Apakah si A wajib membayar zakat fitrah?

Analisis:

Contoh, kebutuhan si A dan keluarga dalam sehari menghabiskan 3 Kg beras + lauk pauk senilai 15 ribu. Itu artinya, si A pada saat hari raya memiliki sisa beras 7 kg, dan uang Rp. 5 ribu.

Berdasarkan pendapat mayoritas ulama dan keterangan As-Syafii, si A tetap wajib zakat. Karena si A memiliki sisa makanan yang cukup untuk dirinya dan keluarganya pada saat hari raya. Beras 7 kg sisa di tangan si A, harus dibayarkan untuk zakat fitrah untuk dirinya dan keluarganya.

KEWAJIBAN ZAKAT LAIN DILUAR ZAKAT FITRAH (Zakat Maal)

Aturan zakat fitrah berbeda dengan aturan zakat mal. Sebagaimana aturan zakat mal juga berbeda dengan aturan zakat pertanian atau zakat hewan ternak. Karena itu, kita tidak mengqiyaskan (menyamakan) aturan zakat fitrah dengan aturan yang berlaku pada zakat mal atau zakat pertanian.

Pada aturan zakat mal, orang yang wajib menunaikan zakat adalah mereka yang memiliki harta satu nishab, tabungan senilai 85 gr emas (sekitar Rp 50 juta) dan telah tersimpan selama setahun. Dengan kata lain, orang yang berkewajiban menunaikan zakat mal hanya orang yang mamp/kaya.

Maka kesimpulannya adalah bahwa Zakat secara umum diwajibkan atas setiap muslim yang merdeka dan memiliki harta benda yang sudah memenuhi nishab dan telah melewati satu tahun (haul ialah putaran setahun bagi harta yang wajib dikeluarkan zakatnya,  kecuali tanaman, harus dikeluarkan zakatnya pada waktu panennya, bila sudah memenuhi nishabnya (Batas minimal jumlah harta yang dikenai wajib zakat) Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT, “Dan Keluarkanlah zakatnya pada hari panennya.” (QS.Al-An’am:141)

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 419 – 426

Berikut yang wajib dikeluarkan zakatnya yang lain ialah emas dan perak, tanaman, buah-buahan, binatang ternak, dan harta rikaz.

emasperak

  1. Zakat Emas dan Perak
  1. .1.Nishab dan besarnya zakat

Nishab emas adalah dua puluh dinar, dan nishab perak dua ratus Dirham, sedangkan besar zakat keduanya adalah 2 ½ %, sebagaimana yang ditegaskan dalam riwayat berikut.

Dari Ali bin Abi Thalib r.a. dari Nabi saw. bersabda, “Jika kamu memiliki dua ratus dirham dan sudah sampai haul, maka zakatnya lima dirham, dan kamu tidak wajib mengeluarkan zakat yaitu dari emas sebelum kamu memiliki dua puluh dinar. Jika kamu memiliki dua puluh dinar dan sudah sampai haul, maka zakatnya ½ saw. dinar.” (Shahih: Shahih Abu Daud no: 1319, dan ‘Aunul Ma’bud IV: 447 no: 1558).

  1. Zakat Perhiasan

Zakat perhiasan adalah wajib berdasar keumuman ayat dan hadits-hadits; dan orang yang mengeluarkannya dari keumuman tersebut sama sekali tidak memiliki alasan yang kuat, bahkan  banyak nash-nash yang bersifat khusus yang bertalian dengan zakat perhiasan ini, di antaranya :

Dari Ummu Salamah r.a. berkata; Saya pernah memakai kalung emas. Kemudian saya bertanya, “Ya Rasulullah, apakah ini termasuk simpanan (yang terlarang)?” Maka jawab beliau, “Apa-apa yang sudah mencapai wajib zakat, lalu telah dizakati maka dia tidak termasuk (dinamakan) simpanan (yang terlarang).”

(Hasan: Shahihul Jami’us Shaghir no:5582, As Shahihah no:559, ‘Aunul Ma’bud IV:426 no: 1549, dan Daruquthni II: 105).

Dari Aisyah r.a. ia berkata, (Pada suatu hari) Rasulullah saw. mendatangiku, lalu melihat beberapa cincin perak, dijariku, kemudian beliau bertanya, “Apa itu, wahai Aisyah?” Saya jawab, “Saya buat cincin ini sebagai perhiasan di hadapanmu, ya Rasulullah.” Sabda beliau, “Apakah engkau sudah mengeluarkan zakatnya?” Jawab saya, “Belum, atau ‘masya Allah” Rasulullah menjawab selanjutnya, “Cukuplah dia yang dapat menjerumuskanmu ke neraka.” 

(Shahih: Shahih Abu Daud no: 1384, ‘Aunul Ma’bud IV: 427 no: 1550, dan Daruquthni II: 105).

2.Zakat Tanaman dan Buah-buahan :

Dalam hal ini Allah SWT berfirman, “Dan Dialah yang telah menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanaman-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun, dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu), bila dia telah berbuah dan tunaikanlah haknya di hari (panen), memetik hasilnya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”  (Al-An’am:141).

  1. Tanaman-tanaman dan buah-buahan yang terkena wajib zakat hanya ada empat macam. Berdasar hadits dari Abi Burdah dari Abu Musa dan Mu’adz r.a. bahwa Rasulullah saw. pernah mengutus keduanya ke Yaman menjadi da’i di sana, lalu beliau memerintah mereka agar tidak memungut zakat, kecuali dari empat macam ini: gandum sya’ir (sejenis gandum lain), kurma kering, dan anggur kering.” (Shahih: ash-Shahihah no: 879, Mustadrak Hakim I:401, dan Baihaqi IV:125).
  2. Nishabnya: Tanaman dan buah-buahan yang terkena wajib zakat disyaratkan sudah memenuhi nishab yang disebutkan dalam hadits ini.

Dari Abu Sa’id al-Khudri  r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,“Tidak ada zakat pada unta yang kurang dari lima ekor, tidak ada zakat pada perak yang kurang dari lima uqiyah”. 

(Ibnu Hajar berkata, “Kadar satu uqiyah yang dimaksud dalam hal ini ialah empat puluh Dirham dari perak murni, demikian menurut kesepakatan para ulama’) dan tidak ada zakat pada buah-buahan yang kurang dari lima wasaq.” (Lima wasaq ialah enam puluh sha’, menurut ittifaq para ulama’),

Fathul Bari III:364). (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III: 310 no: 1447 dan lafadz ini baginya, Muslim II: 673 no:979, Tirimidzi II:69 no: 622, Nasa’i. V:17 dan Ibnu Majah I: 571 no:1793).

  1. Besar zakat yang wajib dikeluarkan :

Dari Jabir r.a. dari Nabi saw. bersabda, “Tanaman yang dapat air dari sungai dan dari hujan, zakatnya 10%, sedangkan yang diairi dengan bantuan binatang ternak 5%.”

(Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:4271 Muslim II:675 no:981 dan lafadz ini baginya, ‘Aunul Ma’bud IV:486 no:1582, dan Nasa’i V:42).

Dari Ibnu Umar r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, “Tanaman yang diairi oleh hujan, atau oleh mata air, atau merupakan rawa, zakatnya sepersepuluh, dan yang diairi dengan bantuan binatang zakatnya seperduapuluh.”

(Shahih: Shahihhul Jami’us Shaghir no: 427, Fathul Bari III: 347 no: 148333 dan lafadz ini baginya, ‘Aunul Ma’bud IV:485 no:1581, Tirmidzi II:76 no: 635, Nasa’i IV:41 dan Ibnu Majah I: 1817).

  1. Penentuan besar nishab dan zakat untuk kurma dan anggur secara taksiran :

Dari Abu Humaid as-Sa’idi r.a. ia bertutur : “Kami pernah ikut perang Tabuk bersama Rasulullah saw., tatkala sampai di Wadil Qura, tiba-tiba ada seorang perempuan pemilik kebun tanga berada di kebunnya, lalu beliau bersabda kepada para sahabatnya, “Coba kalian taksir (berapa besar zakat kebun ini!” Rasulullah saw. (sendiri) menaksir (besar zakatnya) 10 wasaq. Kemudian Rasulullah bersabda kepada perempuan pemilik kebun itu, “Coba kau hitung (lagi) berapa zakat yang harus dikeluarkan darinya!” Tatkala Rasulullah saw. datang (lagi) ke Wadil Qura, Rasulullah bertanya kepada perempuan itu, “Berapa besar zakat yang dikeluarkan dari kebunmu itu?” Jawabnya, “10 wasaq sebagaimana yang diprediksi oleh Rasulullah SAW.”

(Shahih: Shahih Abu Daud no: 2644, dan Fathul Bari III: 343 no: 1481).

Dari Aisyah r.a. ia bercerita, “Adalah Rasulullah saw. pernah mengutus Abdullah bin Rawahah r.a. untuk menaksir kurma waktu sudah tua sebelum dimakan. Kemudian agar memberi pilihan kepada orang-orang Yahudi, antara para amil zakat memungutnya dengan taksiran itu, dengan mereka menyerahkan hasilnya kepada para amil agar dihitung zakatnya sebelum dimakan dan dipisahkan hasilnya.” (Hasan Lighairihi: Irwa-ul Ghalil  no: 805 dan ‘Aunul Ma’bud IX: 276 : 3396).

3.Zakat Binatang Ternak :

Binatang ternak yang dimaksud disini terdiri atas unta, sapi, dan kambing.

  1. Zakat unta (penjabaran ada di kitab pustaka)
  2. Nishab dan besar zakat sapi

Dari Mu’adz bin Jabal r.a. ia berkata, “Aku pernah diutus oleh Rasulullah saw. ke negeri Yaman dan diperintahkan olehnya untuk memungut zakat sapi, dari setiap empat puluh ekor, zakatnya satu ekor sapi betina yang berumur dua tahun, dan dari tiap tiga puluh ekor, zakatnya satu ekor sapi jantan atau betina yang berumur setahun.”

(Shahih : Shahih Abu Daud no: 1394, Tirmidzi II :68 no: 619, ‘Aunul Ma’bud IV:475  no: 1561, Nasa’i  V:26, dan Ibnu Majah I:576 no:1803 dan lafadz ini terekam dalam Sunan Ibnu Majah; di selainnya terdapat tambahan di bagian akhir).

  1. Nishab dan besar zakat kambing :

Dari Anas r.a. bahwa Abu Bakar r.a. pernah menulis sepucuk surat kepadanya perihal penjelasan zakat wajib yang Allah perintahkan kepada Rasul-Nya (dalam hal zakat kambing yang isinya sebagai berikut), “Kambing yang digembalakan, bila jumlah mencapai empat puluh ekor sampai dengan seratus dua puluh ekor, zakatnya seekor kambing. Jika mencapai seratus dua puluh satu ekor sampai dengan dua ratus ekor, zakatnya dua ekor kambing. Jika sudah mencapai dua ratus lebih sampai dengan tiga ratus, maka zakatnya tiga ekor. Jika sudah mencapai tiga ratus lebih, maka dalam setiap seratus ekor, zakatnya seekor kambing. Manakala kambing yang mencuri makan sendiri itu kurang dari empat puluh ekor, maka pemiliknya tidak wajib mengeluarkan zakat, kecuali kalau ia mau (mengeluarkan sedekah sunnah).”

(Shahih : Shahih Abu Daud no: 1385, Fathul Bari III:317 no: 1454 dan III:316 no: 1453, ‘Aunul Ma’bud IV:431 no: 1552, dan Nasa’i  V:18, Ibnu Majah I:575 no:1800).

  1. Syarat-syarat wajibnya zakat pada binatang ternak :
  2. Mencapai nishab,
  3. Sudah berlalu satu tahun.

Rasulullah saw. bersabda, “Tiada zakat bagi harta benda yang belum mencapai haul (satu tahun).”

(Shahih : Shahihul Jami’ no: 7479, Ibnu Majah I: 571 no: 1792, Daruquthni II: 90 no: 3 dan Baihaqi IV:103).

  1. Hendaknya ternak yang digembalakan di padang rumput yang memang bebas dimanfa’atkan oleh siapa saja, selama setahun (atau lebih dari enam bulan). Ini didasarkan pada sabda Nabi saw. yang artinya,“Kambing yang digembalakan, bila jumlahnya mencapai empat puluh ekor sampai dengan seratus dua puluh, maka zakatnya seekor kambing.” (Hadits ini merupakan bagian dari hadits yang berisi surat Abu Bakar kepada Anas, yang telah dimuat pada beberapa halaman sebelumnya).

Dan Rasulullah saw. juga bersabda yang artinya, “Dalam setiap unta yang cari makan sendiri, yaitu pada setiap empat puluh ekor, zakatnya seekor unta anak betina yang berumur dua tahun masuk tahun ketiga.”

 (Hasan : Shahihul Jami’us Shaghir no: 4265, ‘Aunul Ma’bud IV:452 no: 1560, Nasa’i V:25, dan al-Fathur Rabbani VIII:217 no:28).

  1. Harta yang tidak dipungut zakatnya :

Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw. tatkala mengutus Mu’adz ke negeri Yaman berwasiat kepadanya, “(Wahai Mu’adz), janganlah kamu memungut zakat dari harta benda mereka yang dianggap mulia (oleh mereka),” (Muttafaqun ‘alaih : Fathul Bari III : 357 no: 1496, Muslim I:50 no19, Tirmidzi II:69 no: 261 dan ‘Aunul Ma’bud IV:467 no: 1569, serta Nasa’i V: 55).

Dari Anas r.a. bahwa Abu Bakar saw. pernah menulis surat kepadanya (tentang penjelasan) zakat fardhu, yang Allah perintahkan kepada Rasul-Nya (yang diantara isinya), “Janganlah dikeluarkan zakat berupa binatang yang sudah tua, juga yang cacat dan jangan (pula) yang jantan, kecuali jika dikehendaki oleh orang yang mengeluarkan zakat itu.” (Imam pencatat hadits ini sama dengan riwayat Anas r.a.).

  1. Hukum ternak yang bercampur :

Apabila ada dua orang atau lebih yang mengadakan serikat dari orang-orang yang terkena wajib zakat, sehingga bagian seorang diantara keduanya tidak dapat dipisahkan / dibedakan dari bagian yang lain, maka cukup bagi mereka untuk mengeluarkan zakat seperti untuk satu orang. Sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits berikut.

Dari Anas r.a. bahwa Abu Bakar pernah menulis sepucuk surat kepadanya (tentang penjelasan) zakat fardhu yang telah Allah perintah kepada Rasul-Nya (diantara isinya ialah),

“Tidaklah dikumpulkan antara harta yang terpisah, dan tiada pula dipisahkan antara harta yang terkumpul, karena khawatir mengeluarkan zakatnya. Dan manakala ada dua pencampur ternak, maka keduanya kembali sama-sama berzakat.” (Imam pencatat hadits ini sama dengan riwayat Anas ra).

4.Zakat Barang Galian

Rikaz, barang galian ialah harta karun yang didapat tanpa niat mencari harta terpendam dan tidak perlu bersusah payah.

Zakat dari rikaz ini harus segera dikeluarkan, tanpa dipersyaratkan haul (melewati setahun) dan tidak pula nishab. Berdasarkan keumuman sabda Nabi saw., “Dalam barang rikaz itu ada zakat (yang harus dikeluarkan) sebanyak seperlima bagian (20%).”

(Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari III:364 no:1499, Muslim III:1334 no:1710, Tirmidzi II:77 no:637, Nasa’i  IV:45 dan Ibnu Majah II:839 no:2509 serta ‘Aunul Ma’bud VIII:341 no:3069. Dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan dengan panjang lebar, namun dalam riwayat selain keduanya hanya kalimat tersebut).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 426 – 438.

TATA CARA BERZAKAT

Niat zakat:

Setiap perbuatan harus didahulukan dengan niat. Begitu pula zakat harus diniati ketika akan mengeluarkannya/melaksanakannya. Niat dapat dilafazkan dirumah saat ba’da terbenam matahari malam hari raya dengan menyentuh/menyanding barang yang akan dizakatkan, kemudian dapat diserahkan kepada yang akan dituju saat ba’da maghrib atau esok hari sebelum shalat ied (untuk zakat fitrah) tanpa melafazkan niat lagi, atau niat sekalian menyerahkan zakatnya juga boleh. Berikut tata caranya :

  1. Dahulukan mengucapkan ta’awudz dan basmallah
  2. Bacaan Doa Niat Zakat Fitrah untuk diri sendiri dan keluarga :

niat1

“Nawaitu an uhrija zakatal fitri ‘anna wa ‘an jami’i maa yaddzamuni nafqutuhum syar’an fardzo lillahi ta’ala”.

Artinya : ” Saya niat mengeluarkan zakat atas diri saya dan atas sekalian yang saya wajibkan memberi nafkah pada mereka secara syari’at, fardhu karena Allah ta’ala”.

3.Bacaan Doa Niat Zakat Fitrah untuk diri sendiri :

niatzakat2

“Nawaitu an ahroja zakat fitri annafsi fardholillahi ta’ala”

Artinya : “saya berniat mengeluarkan zakat fitrah atas diri sendiri saya sendiri, fardhu karna Allah Ta’ala.

4.Bacaan Doa Niat Zakat Fitrah untuk istri 

niat-zakat-fitrah-istri

 “Nawaitu an-uhrizakat fitri an zaw jati fardzolillahita ‘ala”.

Artinya : “Saya berniat mengeluarkan zakat fitrah atas istri saya, fardhu karena Allah Ta’ala.

5.Bacaan Doa Niat Zakat Fitrah untuk anak laki-laki kita :

niatzakat3

“Nawaitu an uhrija zakat fitri ‘an waladi (…..) fardzolillahi ta’ala”.

Artinya : “Saya berniat mengeluarkan zakat fitrah atas anak laki-laki saya (sebut namanya) fardhu karena Allah Ta’ala”.

6.Bacaan Doa Niat Zakat Fitrah untuk anak perempuan kita :

niatzakat4

“Nawaitu an uhrija zakat fitri ambinti (…….) fardzolillahita’ala”.

Artinya : “Saya berniat mengeluarkan zakat fitrah atas anak perempuan saya (sebut namanya), fardhu karena Allah ta’ala”.

7.Bacaan Doa Niat Membayar dan Menerima Zakat Fitrah :

Dalam melakukan zakat fitrah terdapat serah terima antara pemberi dan penerima zakat yang disertai dengan doa kedua belah pihak antara lain sebagai berikut :

A.Bacaan Doa Membayar Zakat Fitrah

doabayarzakat

Allahumma j’alhaa maghnaman, walaa taj’alhaa maghraman”.

Artinya : “Ya Allah jadikanlah ia sebagai simpanan yang menguntungkan dan jangan jadikanlah ia pemberian yang merugikan”.

B.Bacaan Doa Menerima Zakat Fitrah 

doa trima zakat

“AAJAROKALLAAHU FIIMAA A’THOITA WABAAROKA FIIMAA ABQOITA WAJA’ALAHU LAKA THOHUURON”.

Artinya : Semoga Allah memberi pahala atas apa yang telah kau berikan, menjadikannya penyuci (jiwa dan harta) untukmu, dan melimpahkan berkah terhadap harta yang tersisa”.

BABUL ‘AWAMIL FIZZAKATI

amilzakat

  1. PENGELOLAAN ZAKAT OLEH ‘AMIL BERWENANG

(‘Amil yang sebenarnya adalah bukan petugas yang dibentuk secara situasional oleh pengurus lokal mesjid untuk membagi bagikan zakat di tengah masyarakat, itu bukan amil secara syar’i tetapi merupakan panitia lokal temporer/wakil dari muzaki).

“Wal’amilu huwa man yab’atsuhu al imamu la akhdi zakati kasya’i wal hasyiri wal qashimi walkatibi wal hashibi wal hafidzi waghoiri dalika wa izadu fihim biqadril hajati a’wajuhum fi ‘aunil ‘ariif”.

Yang namanya ‘amil adalah kelompok orang petugas yang diutus/ditunjuk oleh pemuka Islam/penguasa resmi / presiden (pemerintah) untuk bertugas mengumpulkan zakat kemudian membagikannya kepada mustahik.

  1. HUKUM MEMBENTUK ‘AMIL

Dalil mu’tamad dari para ulama :

“Waqolaa ba’duhum lahu shorfu zakatihi fi ayyi mahaalin fahshushun wahual mu’tamal”.(Reff:Babul Ikhtilafi Qishmizzakati-Kyai Syamsuddin-shahifah 50).

Hukum dasar melaksanakan mengeluarkan zakat adalah individual, artinya setiap jiwa wajib zakat bebas menyerahkan sendiri / langsung kepada mustahik baik pada tetangga maupun saudaranya sendiri yang masuk dalam katagori penerima.

Oleh karena itu membentuk ‘Amil/panitia pengumpul zakat hukumnya tidak wajib, kecuali karena lingkup suatu negeri serta keadaan kebutuhan masyarakatnya yang memang mengharuskannya.

Selama ini banyak terjadi salah paham atau pemahaman yang salah kaprah ditengah masyarakat/umat tentang pengertian ‘Amil zakat. Pembentukan ‘Amil Zakat hukumnya diangkat oleh otoritas penguasa muslim/Imam besar/pemerintah.

  1. Pengertian ‘Amil, SKOUP dan WEWENANG
  1. Pengertian Amil

Amil merupakan pihak yang bertindak mengerjakan yang berkaitan dengan pengumpulan, penyimpanan, penjagaan, pencatatan dan penyaluran atau distribusi harta zakat. Mereka diangkat oleh penguasa (pemerintah) dan memperoleh izin darinya atau dipilih oleh instansi pemerintah yang berwenang atau oleh masyarakat Islam untuk memungut dan membagikan serta tugas lain yang berhubungan dengan zakat.

خُذْ مِنْ أموالهم صَدَقَةً

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka” (QS at Taubah:103).
Sehingga dengan kalimat “Ambillah” pada ayat di atas adalah dalil tegas yang menunjukkan bahwa penguasalah yang memiliki kewenangan untuk mengambil harta zakat. Sebab tidak mungkin masyarakat umum yang akan mengambilnya secara liar. Kemudian penegasannya lagi bahwa ayat ini turun ketika Islam telah memiliki pemerintahan solid di bawah kepemimpinan (Presiden) Rasulullah SAW.

Berikut berbagai fatwa ulama :

  1. H. D Hafidhuddin-Indonesia mengatakan bahwa amil zakat adalah “mereka yang melaksanakan segala kegiatan yang berkaitan dengan urusan zakat, mulai dari proses penghimpunan, penjagaan, pemeliharaan, sampai proses pendistribusiannya, serta tugas pencatatan masuk dan keluarnya dana zakat tersebut.”[1]
  1. Abu Bakar al-Hushaini di dalam Kifayat al-Akhyar, mengatakan bahwa Amil Zakat adalah “orang yang mendapatkan tugas dari negara, organisasi, lembaga atau yayasan untuk mengurusi zakat. Atas kerjanya tersebut seorang amil zakat berhak mendapatkan jatah dari uang zakat. “Amil Zakat adalah orang yang ditugaskan pemimpin negara untuk mengambil zakat kemudian disalurkan kepada yang berhak, sebagaimana yang diperintahkan Allah.“[2]

Dasar  hak amil dalam pembagian zakat adalah firman Allah :

Artinya   : “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. at-Taubah : 60).[3]

Ayat ini dengan jelas menggunakan kata “innama” yang memberi makna hashr (pembatasan). Ini menunjukkan bahwa zakat hanya diberikan untuk delapan golongan tersebut, tidak untuk yang lainnya. Yang dimaksudkan amil zakat di sini menurut tafsiran para ulama adalah adalah “orang yang bertugas mengurus zakat dan ia mendapat bagian dari zakat tersebut dan tidak boleh amil zakat ini berasal dari kerabat (keluarga) Rasulullah SAW yang tidak diperkenankan menerima sedekah.” [4]

Namun sebenarnya tidak sesederhana seperti yang diterangkan di atas. Amil zakat harus memenuhi beberapa syarat sebagaimana keterangan para ulama di bawah ini.

  1. Sayyid Sabiq mengatakan, “Amil zakat adalah orang-orang yang diangkat oleh penguasa atau wakil penguasa untuk bekerja mengumpulkan zakat dari orang-orang kaya. Termasuk amil zakat adalah “orang yang bertugas menjaga harta zakat, penggembala hewan ternak zakat dan juru tulis yang bekerja di kantor amil zakat.”[5)
  1. ‘Adil bin Yusuf Al ‘Azazi berkata, “Yang dimaksud dengan amil zakat adalah “para petugas yang dikirim oleh penguasa untuk mengumpulkan zakat dari orang-orang yang berkewajiban membayar zakat. Demikian pula termasuk amil adalah orang-orang yang menjaga harta zakat serta orang-orang yang membagi dan mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Mereka itulah yang berhak diberi zakat meski sebenarnya mereka adalah orang-orang yang kaya.”[6]
  1. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Amil zakat adalah “orang-orang yang diangkat oleh penguasa untuk mengambil zakat dari orang-orang yang berkewajiban untuk menunaikannya lalu menjaga dan mendistribusikannya. Mereka diberi zakat sesuai dengan kadar kerja mereka meski mereka sebenarnya adalah orang-orang kaya.”[7]

Sedangkan orang biasa yang menjadi wakil orang yang berzakat untuk mendistribusikan zakatnya bukanlah termasuk amil zakat. Sehingga mereka tidak berhak mendapatkan harta zakat sedikitpun disebabkan status mereka sebagai wakil. Akan tetapi jika mereka dengan penuh kerelaan hati mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan penuh amanah dan kesungguhan maka mereka turut mendapatkan pahala. Namun jika mereka meminta upah karena telah mendistribusikan zakat maka orang yang berzakat berkewajiban memberinya upah dari hartanya yang lain bukan dari zakat.

Dengan demikian, orang yang diberi zakat dan diminta untuk membagikan kepada yang berhak menerimanya, ia tidak disebut ‘amil. Bahkan statusnya hanyalah sebagai wakil atau orang yang diberi upah. Perbedaan antara amil dan wakil begitu jelas. Jika harta zakat itu rusak di tangan amil, maka si muzakki (orang yang menunaikan zakat) gugur kewajibannya. Sedangkan jika harta zakat rusak di tangan wakil yang bertugas membagi zakat (tanpa kecerobohannya), maka si muzakki belum gugur kewajibannya.”[8]

Berdasarkan paparan di atas jelaslah bahwa syarat agar bisa disebut sebagai ‘amil zakat adalah:

(1) Diangkat dan

(2) Diberi otoritas (kuasa) oleh penguasa muslim/pemerintah untuk mengambil zakat dan mendistribusikannya.

Sehingga panitia-panitia zakat yang ada di berbagai masjid serta orang-orang yang mengangkat dirinya sebagai amil bukanlah amil secara syar’i. Hal ini sesuai dengan istilah ‘amil karena yang disebut ‘amil adalah pekerja yang dipekerjakan oleh pihak tertentu serta memiliki otoritas untuk mengambil dan mengumpulkan zakat adalah sebuah keniscayaan bagi ‘amil karena ‘amil memiliki kewajiban untuk mengambil zakat secara paksa dari orang-orang yang menolak untuk membayar zakat.

Namun demikian, tidaklah tepat menyatakan takmir (pengurus) masjid sebagai ‘amil zakat, yang tepat mereka adalah wakil dari muzakki sebagaimana keterangan para ulama di atas. Sehingga mereka tidak boleh seenaknya memotong atau mengambil bagian dari zakat dari para muzakki. Jika mereka memotongnya, itu sama saja memakan harta orang dengan cara yang batil. Jadi hanya sekedar menyalurkan dan pekerjaan mereka bersifat sosial. Untuk itu, perlu diberikan upah, tidak diambil dari harta zakat namun dari dana lainnya.

2.Fungsi Amil

Sesuai dengan namanya, profesi utama amil zakat adalah berfungsi sebagai pengurus zakat. Jika dia memiliki pekerjaan lain, maka dianggap pekerjaan sampingan atau sambilan yang tidak boleh mengalahkan pekerjaan utamanya yaitu ‘amil zakat. Karena waktu dan potensi, serta tenaganya dicurahkan untuk mengurusi zakat tersebut, maka dia berhak mendapatkan bagian dari zakat.

Adapun jika dia mempunyai profesi tertentu, seperti dokter, guru, direktur perusahaan, pengacara, pedagang, yang sehari-harinya bekerja dengan profesi tersebut, kemudian jika ada waktu, dia ikut membantu mengurusi zakat, maka orang seperti ini tidak dinamakan ‘amil zakat, kecuali jika dia telah mendapatkan tugas secara resmi dari Negara atau lembaga untuk mengurusi zakat sesuai dengan aturan yang berlaku. “Bahkan jika ada gubernur, bupati, camat, lurah yang ditugaskan oleh pemimpin Negara untuk mengurusi zakat, diapun tidak berhak mengambil bagian dari zakat, karena dia sudah mendapatkan gaji dari kas Negara sesuai dengan jabatannya.”[9]

Dasar pengangkatan ‘amil zakat ini adalah hadits Abu Humaid as-Sa’idi :

Dari Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu berkata : Nabi shallallahu a’laihi wasallam memperkerjakan seorang laki-laki dari suku al-Azdi yang bernama Ibnu Lutbiah sebagai pemungut zakat. Ketika datang dari tugasnya, dia berkata: “Ini untuk kalian sebagai zakat dan ini dihadiahkan untukku”. Beliau bersabda : “Cobalah dia duduk saja di rumah ayahnya atau ibunya, dan menunggu apakah akan ada yang memberikan kepadanya hadiah? Dan demi Dzat yag jiwaku di tangan-Nya, tidak seorangpun yang mengambil sesuatu dari zakat ini, kecuali dia akan datang pada hari qiyamat dengan dipikulkan di atas lehernya berupa unta yang berteriak, atau sapi yang melembuh atau kambing yang mengembik”. Kemudian beliau mengangkat tangan-nya,  sehingga terlihat oleh kami ketiak beliau yang putih dan (berkata,): “Ya Allah bukan kah aku sudah sampaikan, bukankah aku sudah sampaikan”, sebanyak tiga kali. [10]

Berdasarkan hadist di atas, amil zakat ini harus diangkat secara resmi oleh Negara,  organisasi, lembaga, yayasan. Tidak boleh sembarang bekerja secara serabutan dan tanpa pengawasan.

Tugas ‘Amil sebagai berikut :

  1. Membuat rencana kerja
  2. Melaksanakan operasional pengelolaan zakat sesuai rencana kerja yang telah disahkan dan sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan.
  3. Menyusun laporan tahunan
  4. Menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada pemerintah
  5. Bertindak dan bertanggungjawab atas nama Badan Amil Zakat.[11]

Salah satu tugas penting lain dari lembaga pengelola zakat adalah melakukan sosialisasi tentang zakat kepada masyarakat secara terus-menerus dan berkesinambungan, melalui berbagai forum dan media, seperti khutbah jum’at, majelis tak’lim, seminar, diskusi dan lokakarya, melalui media surat kabar, majalah, radio, internet maupun televisi. Dengan sosialisasi yang baik dan optimal, diharapkan masyarakat muzakki akan semakin sadar untuk membayar zakat melalui lembaga zakat yang kuat, amanah dan terpercaya.

4.LINGKUP/WEWENANG ‘AMIL DALAM MENARIK ZAKAT

baznas

“Walau farroqul malikazzakati shaqoto shahmul ‘amil”. (Fathul mu’in-shahifah 53)

“Ketika telah memisahkan siapa orang (orang yang berzakat) atas zakatnya, maka gugurlah bagian (wewenang) ‘amil”.

Maksud dalil ini adalah :

Ketika seseorang telah berniat mengeluarkan zakatnya kemudian telah menujukan/memisah misahkan barang zakat tersebut untuk orang orang yang dipilihnya sendiri diluar golongan ‘amil, maka ‘amil/panitia nashruf dilarang mencabut atau memaksa mengalihkan serta mengambil zakat orang tersebut. Maka itu menjadi haram.

BERBAGAI BIDANG TUGAS ‘AMIL YANG NAMANYA SEBAGAI BERIKUT :

  1. SHA’I adalah orang yang berkeliling menarki zakat
  2. HASHR orang yang mengumpulkan barang zakat
  3. QOSHIM orang yang mendistribusikan zakat
  4. KATIB adalah orang yang mencatat/menulis lalulintas barang zakat, dari awal hingga akhir.
  5. HASHIB adalah orang yang menghitung/mengkalkulasi/mengatur manajemen zakat ,ia ahli hukum dengan kecakapan mampu mengatur segalanya dengan benar.
  6. HAFIDH adalah orang yang menjaga/mengawasi benda zakat, baik yang berupa uang, padi/beras, perhiasan maupun yang berupa ternak.

JALAN TENGAH / SOLUSI BIJAK JIKA HENDAK MEMBENTUK PANITIA PENGELOLA ZAKAT (Wakil Muzaki) DI MASYARAKAT LOKAL /Masjid masjid.

amil2

Lebih lanjut Kyai Syamsuddin memberikan fatwanya :

“wonten ing meriki perlu kulo caosi dalan tengah ingkang leres menggah hukum Islam supados boten menyalahi hukumipun Gusti Allah”.(Dalam lembar “Babun Nashrofizzakati” – shahifah 52).

Tarjamah: “Oleh karena itu maka saya berikan jalan tengah secara bijak menurut hukum islam agar kita tidak melanggar hukum hukum Alloh’.

Berikut uraian praktek sederhananya :

  1. Imam/Kyai setempat atau kuasanya memanggil santri santri senior, takmir masjid, tokoh tokoh masyarakat, perangkat desa/kaum dan lainnya yang berkapasitas untuk bermusyawarah merencanakan membentuk panitia kecil mengurus/pengumpul zakat.
  2. Setelah terbentuk panitianya sesuai kaidah kaidah syar’i/telah memenuhi syarat agama, maka pengurus tersebut segera bekerja dengan memberikan informasi/pengumumam kepada warga masyarakat bahwa panitia pengumpul zakat telah sedia/ada.
  3. Imam/Kyai setempat atau kuasanya dan Panitia zakat mempunyai kewajiban moral untuk memberikan nasehat, pengajian/pengetahuan tentang zakat fitrah, zakat lainnya yang benar/cukup sesuai syareat agama kepada umat/masyarakat, agar umat/masyarakat mengetahui/memahami hak dan kewajiban, tatacara maupun lingkup seputar zakat fitrah serta berbagai permasalahannya.
  4. Kemudian panitia nashruf/pengumpul zakat tersebut juga harus mengadakan sarana penunjang kerjanya seperti tersedianya kantor, gudang, area tamu serta sarana lainnya.
  5. Panitia nashruf/pengumpul zakat harus membagi bidang tugas masing masing.sesuai keahliannya.
  6. Dalam hal kinerja, maka panitia nashruf/pengumpul zakat tidak dibenarkan menghalangi /menekankan/membujuk masyarakat/muzaki untuk memberikan zakat fitrahnya pada golongan tertentu atau memaksa untuk menyalurkan kepada panitia zakat atau pada ‘amil resmi. Kecuali sekedar memberi informasi tentang siapa saja orang orang yang berhak/patut menerima zakat dilingkungan itu.
  7. Dalam hal menyalurkan zakat maka panitia nashruf/pengumpul zakat harus adil artinya adil bukan samarata tetapi bijak menurut keadaannya sehingga dalam menyalurkan zakat maka jangan melihat si A si B nya sudah banyak dapat hingga tidak dibagi lagi, tidak demikian dan sebagainya.
  8. Dalam hal pembagian untuk personil/pengurus/ panitia nashruf/pengumpul zakat sendiri maka tidak dibenarkan mengambil jatahnya dari barang zakat para mustahik, tetapi mengambil dari dana/kas masjid atau dari penyumbang pribadi. Sebab telah diuraikan diatas bahwa secara syar’i panitia nashruf/pengumpul zakat temporer adalah bukan ‘amil dan diluar golongan penerima zakat. Maka apa yang dijatahkan merupakan upah kerja sosialnya.
  1. SYARAT BERAT MENJADI ‘AMIL / PANITIA PENYALUR ZAKAT

1).Islam 2).Mukalaf 3). Merdeka, tanpa tekanan 4). Adil,  amanah, jujur 5). Tengin/peka/tidak tuli 6). Awas,  Memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas 7). Ahli fiqih (Mengerti dan memahami hukum-hukum zakat) 8). Pria berpengetahuan (tidak bodoh).

Dengan delapan persyarat yang telah diurai tersebut maka yang harus menjadi perhatian bagi para pembentuk ‘amil/pengurus/ panitia nashruf/pengumpul zakat adalah :

Bahwa semua orang mungkin mampu memenuhi syarat keislamannya, mukalafnya, kemerdekaannya, namun mampukah memenuhi syarat adil, peka dan ahli fiqih?

KESIMPULAN

Maka secara hakekat bahwa zakat merupakan program tandingan dari Allah swt untuk melawan praktek praktek kapitalisme yang biasa dilakukan oleh golongan fasikin seperti praktek praktek riba yang telah diungkap dalam Al-qur’an surat Ar-Ruum:39 tersebut diatas.

Demikian risalah ini kami susun dan kami ketengahkan untuk jama’ah semuanya, semoga menjadi renungan dan manfaat.

Salam rahmatan lil ‘alamin

 

Prembun, 1 Ramadhan 1437

Senin, 6 Juni 2016,

Penulis/penyusun : Agus Sholech Al-Qadry

Dari :“RISALATU FI SYAHRU RAMADHAN”-karya Al-fakir Kyai Syamsuddin bin Mabrur bin Mahmud

Kelana Delapan Penjuru Angin

CopyRights@2016,

Web:http://www.kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com
Email:kelanadelapanpenjuruangin@gmail.com
Contact us: +6288808064118

Maraji’ (Daftar Pustaka):

Maraji’ (Daftar Pustaka):
1. “RISALATU FI SYAHRU RAMADHAN” karya Al-fakir Kyai Syamsuddin-Prembun-Kebumen-Jawa Tengah.

  1. Al-Qur’anul Kariem
  2. Tafsir Aththabariy.
  3. Tafsir Ibnu Katsier.
  4. Irwaa-Ul Ghaliel, Nashiruddin Al-Albani.
  5. Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq.
  6. Tamaamul Minnah
  7. Duratun Nasihin
  8. Fathul Mu’in
  9. Jauharul bahri
  10. Tafsyir Munir
  11. Mutafaq alaih, sahih Bukhari Muslim, dll.

Catatan kaki:

1] K.H.Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian Modern, (Jakarta: Gema Insani, 2002), hal.127

[2]Abu Bakar al-Hushaini Kifayat al-Akhyar, diterjemahkan oleh Ahmad Zain An Najah, hal. 279

[3]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, (Bandung: CV. Diponogoro, 2001), hal. 156.

[4]Syaikh Husaini bin Audah Al-‘Awaisyah, al-Mausu’ah al- Fiqhiyah al-Muyarah, (Daar Ibnu Ahmad / al-marktabah al-Islamiyah) hal. 312

[5]Sayyid Sabiq diterjemahkan oleh Khairul Amru Harahap dan Masrukhin, Fikih Sunnah, Jilid 2, (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2008), hal. 142.

[6]‘Adil bin Yusuf Al‘Azazi, Tamamul Minnah, tt. hal.. 290

[7] Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Enksiklopedi Zakat, Fatwa Zakat Utsaimin, (Pustaka A-Sunnah, 2002) hal. 39

[8]Ibid., hal. 42

[9]Shahih Fiqh Sunnah, Shahih Fiqhus Sunnah wa Adillatuhu, Jilid 2, (Beirut: Dar al-Fikr, 1988) hal.  69

[10] Imam Bukhary, Shahih Bukhary, Juzu` I, (Maktabah Dahlan, Indonesia, t.t.), hal. 210.

[11] K.H.Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonomian…, hal.132

Web.

-http://www.artikelsiana.com/2015/06/bacaan-doa-niat-zakat-fitrah-membayar-menerima.html

-http://www.blogkhususdoa.com/2015/06/doa-ketika-menerima-zakat-maal-dan-zakat-fitrah.html
**TERTIPU DI DUNIA, TERTIPU JUGA DI AKHERAT**

**TERTIPU DI DUNIA, TERTIPU JUGA DI AKHERAT**

SEBUAH RENUNGAN PENUH HIKMAH

DARI KISAH PERJALANAN MANUSIA DI AKHERAT

PETAKA 1000 CAMBUK API ANGIN

   Saat menyadari kita menjadi ikut tersangkut dan terlibat dalam kasus kriminal gara gara kita mengikuti ajakan/bujuk rayu orang lain, sehingga diri kita ikut kena dampak hukum, maka betapa dongkolnya dan sakit hati ini. Bahkan bersumpah serapah penuh dendam kesumat, jika ketemu dengan orangnya, ingin langsung menghajarnya dengan tendangan bertubi tubi serta menginjak injaknya di tanah.

INJEK INJEK

   Bahkan tatkala otak pelaku telah diamankan Polisi, kita masih beringas dan berteriak pada sang Polisi untuk menyerahkan orang yang menjerumuskan kita itu, dengan berteriak :

“Udah lepasin aja Pak Polisi kasih ke kita, biar kita injek injek aja tuh orang, klo perlu mampusin sekalian…! gara gara die, saya jadi kena getahnya, gara gara die, saya jadi ikut sengsara”.

   Ini adalah potret dalam kehidupan sehari hari yang sering terjadi disekeliling kita. Banyak penjahat, penipu dan penyesat, yang suka mengiming ngimingi dan membujuk rayu kita untuk mengikuti jalannya, sehingga tanpa disadari pada akhirnya kita menjadi ikut bernasib buruk terkena dampaknya.

   Hanya bedanya jika urusan dunia, maka ada batas masanya. Atau mengalami kesengsaraan/kerugian tidak berlangsung selamanya lamanya. Bahkan dapat diselesaikan dengan ganti rugi atau berbagai cara.

   Tetapi tidak untuk di negeri akherat. Saat kita terjerumus dalam kesesatan dan perbuatan kedzaliman gara gara mengikuti ajakan penyesat atau menjadi pengikut golongan sesat sewaktu di dunia, sehingga kita ikut mendapat siksaan menghinakan di Jahannam, maka rasa penyesalan, rasa kedongkolan hati kita hanya akan tercekat ditenggorokan, tak berguna, tak berampun, tak ada tebusan dan tak ada tempat berlari/bersembunyi. (NO MERCY, NO ESCAPE).

   Persis sama dengan peristiwa didunia, maka diakheratpun saat itu kita bersumpah serapah, ingin menghajar orang yang telah membuat kita menjadi sesat, dzalim, kafir dan musyrik, sehingga kita termasuk yang diseret dan disiksa dalam neraka. Bahkan ketika penyesat itu ada dalam genggaman petugas Neraka Jahannam, kita beramai ramai mendatangi Malaikat penjaga itu dan memintanya untuk menyerahkan pelakunya supaya bertanggung jawab dan sekalian menghajarnya.

Peristiwa ini terekam dan diabadikan dalam Al-Qur’an :

“Dan orang-orang kafir berkata (di hari kiamat), `Wahai Rabb kami, tunjukkanlah (untuk diserahkan) kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami, baik dari jin maupun manusia, agar kami letakkan keduanya di bawah telapak-telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang rendah/hina.” (QS.41. Fushshilat:29).

Siapa yang dimaksud ,“dua jenis orang yang telah menyesatkan kami” ?

Yang satu adalah Iblis pembujuk/pembisik (syetan Jin) dan satunya lagi adalah orang / pemimpin disekeliling kita yang kita ikuti namun ternyata menjerumuskan/mengajak kita pada kekufuran (syetan jenis manusia).

Apakah iblis yang membujuk rayu kita itu bertanggung jawab diakherat tersebut? Tentu tidak, sebab Iblis malah menyalahkan diri kita sendiri dengan berujar,

“Lah, salah lu sendiri napa mau ngikutin ajakan gue, sumpahin aja diri lu sendiri ?”

(Diabadikan dalam Al-Qur’an, QS.14.Ibrahim:22).

Diiringi rasa kesal dan dongkol teramat sangat, kemudian diri kita segera mencari lagi satu orang yang dulu menjadi pemimpin yang mengajak kita ke dalam kekufuran untuk minta pertanggungjawaban kepadanya. Akhirnya setelah bertemu, terjadi percekcokan/bantah bantahan, ternyata jawabannya lebih “ngeselin” lagi, yaitu :

“Salah lu sendiri napa bego, Tong? Lah gue sendiri aja kaga slamet. Sorry gue ga bisa nolong lu, lagian lu juga kaga bisa nolongin gue.”

(Transkrip asli diabadikan dalam Al-Qur’an, QS.40.Al-Mu’min: 47-48)

Ketika rasa frustasi teramat sangat telah menghantui kita, akhirrnya kita memelas dihadapan petugas Jahannam,

“Ya, Malik. Tolonglah kami, hentikan siksaan ini barang sehari saja?”

Dijawab oleh Opsir Neraka :

“Bukannya dulu udah didatengin Rasul Rasul ngingetin kalian?”

“Iya”. Tukas kami getir.

“Kalo begitu, berdo’a aja kalian sama Allah !”

Jawab petugas neraka dengan angkuh dan garang seraya tangannya melepaskan 1000 cambuk logam api angin ke arah kita hingga diiringi suara lecutan yang menggelegar dahsyat memuncratkan bunga api yang bertebaran membakar kulit daging kami hingga hangus kering, untuk kemudian pulih lagi seperti sediakala.

(Transkrip asli Diabadikan dalam Al-Qur’an, QS.40.Al-Mu’min: 49-50 dan QS.22.Al-Hajj:21).

Tak tahan dengan adzab yang bertubi tubi ini, semua orang berlari tunggang langgang menjauh dari petugas Jahannam itu diiringi jeritan dan lolongan panjang menyayat pedih, seraya berseru,

“Hai, Malik. Lebih baek matiin aja kami daripada begini.”

“Tidak, kalian tetep tinggal disinih !”

   Jawab Malaikat Malik membahana dan sekelebat bayangannya yang secepat kilat itu tiba tiba telah muncul di hadapan kita kembali, mencegat dengan muka berapi api, seraya memperlihatkan pemandangan teror yang lebih mengerikan lagi, yaitu orang yang dulu sebagai pemimpin penyesat manusia, terlihat diseret kasar kemudian dilempar keras ke tanah kerontang yang mengeluarkan uap panas dan saat orang itu belum sempat bangun, si penjaga neraka langsung melemparkan selimut api yang berkobar kobar ke tubuhnya dan seketika itu tubuhnya hangus terbakar diiringi teriakan menyayat memohon ampun agar apinya dipadamkan. Dan saat itu juga sang penjaga neraka menyiramkan air diatas kepala orang itu, namun bukannya api menjadi padam bahkan tubuhnya meleleh hancur hingga perut perutnya, sebab ternyata air yang disiramkan adalah air sangat panas yang baru mendidih level 70.000 derajat.

syt5

(Peristiwa ini terabadikan dalam Al-Qur’an, dan terangkai bagai Roll slideshow pita magnetik film, yakni pada QS.43.Az-Zukhruuf: 77 dan QS.7.Al-A’raaf:38 dan QS.22.Al-Hajj: 19-20) dan lainnya.

—————-0o—————-

Seluruh peristiwa yang akan terjadi dimasa depan nanti itu merupakan salah satu jabaran dari ribuan jabaran ayat Al-Qur’an, (QS.36.Yaasiin:58-59)

Menyusul adanya peristiwa sambutan di gerbang Planet Daar Es-Salm setelah golongan mukmin yang selamat dievakuasi dari lembah penantian Planet Mahsyaar, dimana Allah Subhanahu Wata’ala mengucapkan qalam selamat datangnya yang terkenal dengan :

“Salamun’qauwlam MinRabbirRahim, Wamtazul Yauma Ayyuhal Mujrimun …….”

(Salam keselamatan dari Yang Maha Kasih, yang senantiasa menaungi golongan mukmin-muslim, dan Selamat jalan wahai para penjahat).

Semoga menjadi renungan kita semua

Salam Cahaya-Nya,
Kelana Delapan Penjuru Angin,
Lembah Tenggilis-Bekasi, 9 Maret 2015,
CopyRights@2015.

Reff:
-Adz Dzikru As-Salam : K.H. M. Syamsuddin – Prembun – Jawa Tengah
-Al-Qur’anul Karim : Tarjamah DEPAG RI
https://chairurrijal.wordpress.com
-Daqoiqul Akhbar

**DEMI MASA,UMUR MANUSIA HIDUP DI DUNIA RATA RATA HANYA 1 s/d 1.5 JAM SAJA**

DIMENSI RUANG DAN WAKTU ALAM SEMESTA YANG BERBEDA
SATU HARI AKHERAT EQUIVALENT DENGAN 1000 TAHUN MASA BUMI
DAN BOLEH JADI, SISA UMUR DUNIA INI TAK LEBIH DARI HITUNGAN 1/2 – 1 HARI SAJA
SURAT AL-ASHR : 1-3 BER-GENRE LAMPAU TETAPI BERPLAT FORM UNIVERSAL FUTURISTIC.

1400 tahunan silam, ketika ayat ini turun, dan dibacakan oleh Nabi Muhammad dihadapan publik.

Al-ashr

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS.103.Al-Ashr: 1-3).

Adalah kebiasaan bangsa arab di waktu sore hari, mereka sering duduk duduk tanpa manfaat dan tanpa ada aktifitas, tanpa mengingat akan adanya keberadaan Tuhan, tanpa berpikir adanya kehidupan akherat. Mereka hanya berleha leha, bersantai santai, sambil mengobrol dan bergosip tentang urusan dunia, tentang kemegahan, kedudukan, kekayaan dan kemewahan hidup. Yang tak jarang mengakibatkan pertengkaran, muncul rasa iri dan permusuhan diantara mereka. Hingga tak menyadari waktu terus berjalan, tak menyadari hari memasuki rembang petang dan kemudian dengan cepat kegelapan malampun menyelimuti bumi. Mereka tak puas dengan waktu. Merasa kurang, merasa obrolannya belum tuntas, mereka lama lama menyalahkan waktu.
(Reff: Asbabunnuzul – Syekh Muhammad Abduh).

Kemudian, ketika Nabi Muhammad menghampiri mereka dan membacakan surat Al-Ashr tersebut ke hadapan mereka, bukannya mereka sadar akan kekeliruannya justru mereka kesal dan mencemooh Nabi SAW, menganggap sebagai pengganggu saja. Kini, sikap manusia modern saat ini sepertinya tak berbeda jauh dengan sikap sikap umat jahiliyyah 1400 tahunan lalu, hanya beda bentuk dan kondisi, yaitu Larut oleh kerepotan hidup dan kesibukan urusan duniawi, melupakan pengabdian dan ibadah kepada-Nya.

Surat Al-Ashr sepertinya hanya dipandang/dimaknai secara lahiriyah saja oleh kebanyakan umat, yakni asal sekadar berbuat kebaikan, asal ibadah, asal sekadar mengingatkan. Setelah itu cukup terhenti dibatas itu saja. Hari hari lain lalai lagi dan berbuat dosa lagi. Saling sengketa lagi, saling sikut sikutan lagi, saling korupsi lagi, saling iri dan dengki lagi, saling zalim menzalimi dan sebagainya.

Sobat fillah, mari kita renungi lebih jauh hakekat surat Al-Ashr ini. Sebagaimana dengan surat surat dan ayat ayat dalam Al-Qur’an lainnya, maka tidak hanya cukup di maknai secara harafiahnya saja melainkan sangat luas dan padat dengan berbagai makna dan hakekat. Demikian juga dengan kedalaman surat AL-Ashr ini.
Redaksi surat Al-Ashr ini ber-genre lampau tetapi berplat form universal futuristic. Artinya, telah terjadi dan pasti akan terjadi (menemui /menyaksikan keadaan itu sepanjang zaman hingga di hari masa depan nanti). Sedangkan dari plat form (kerangka) universal futuristic maknanya bahwa ayat ayat dalam Al-ashr ini berkaitan dengan dimensi ruang dan waktu atas alam kehidupan semesta (universal) yang berbeda tetapi bagi makhluk kehidupan ciptaan-Nya, bertahap akan memasuki (bertransformasi) ke arah sana (the future).

Itulah mengapa surat Al-Ashr ini tidak dimulai dengan ayat : “Alladzina amanu…” (kepada orang orang yang beriman…)”, tetapi dimulai dengan redaksi, “Wal ‘Ashri…” (demi masa). Yang maknanya adalah bahwa dimensi ruang dan waktu alam kehidupan semesta ini telah dalam genggaman-Nya, telah di hitung-Nya, telah ditetapkan-Nya dan seluruh makhluk pasti akan menemui serta mengalami kejadiannya dimasa depan nanti.
Sebab Allah telah mengetahui keadaan demikian, maka Dia mengingatkan kepada manusia manusia yang masih tersisa diakhir zaman ini agar jangan mengalami nasib naas seperti umat umat terdahulu. Dan dalam memberi peringatan itu, Allah tidak langsung berkata kata dengan manusia secara langsung sebab tidak mungkin benda saling berbicara dengan bayangan didalam cermin dan adalah manusia itu hanyalah merupakan “bayangan-Nya”. Oleh karena itu Allah mengadakan perantara/media, yakni terakhir melalui Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya yang terakhir untuk alam semesta. Dan ketika Nabi Muhammad kini telah tiada, maka Allah masih memiliki Muhammad lain yakni : Al-Qur’an yang kemudian diestafetkan kepada para pengikut pengikut Muhammad, para pembaca qalam-Nya, para penebar kebenaran kebenaran-Nya dan para alim ulama yang kesemuanya itu merupakan Muhammad Muhammad lain dan Wali yang di hadirkan oleh Allah. Maka menjadilah kita Muhammad Muhammad-Nya. Jadi, janganlah menjadikan Muhammad itu hanya sebatas sosok, obyek pengkultusan dan bemper untuk segala argumentasi dengan serangkaian dalil manakala kita berdebat saling berebut benar. Jadi, jadikanlah Muhammad itu subyek didalam jiwa, di dalam diri kita umat, yang katanya mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW. Kemudian obyeknya adalah laku perbuatan yang bernilai Muhammad. Jangan kebalik, Muhammad hanya dijadikan obyek alasan untuk gontok gontokan mencari pembenaran. Itulah salah satu alasan mengapa sosok Nabi Muhammad SAW tidak bergambar, tidak divisualisasikan dengan lukisan ataupun foto seperti manusia manusia agung lainnya. Sebab ternyata sudah menjadi kecenderungan nafs khayal manusia, yang selalu berlebihan dalam mengagungkan benda materi hingga akhirnya lama kelamaan men-Tuhankan benda/materi, termasuk menuhankan manusia seperti umat umat yang lain. Tuhan mengetahui keadaan ini dan sejarah telah membuktikan kenyataannya. Maka demikianlah, Allah ingin mengajarkan manusia, janganlah menyembah materi tetapi sembahlah Dia saja dengan memurnikan sesembahan, dengan meniadakan tandingan, dengan melenyapkan pikiran pikiran khayal yang mengarah pada “keserupaan, kesetaraan” dan menyekutukan (Laisa kamislihi syai’uun). Maka demikianlah Muhammad itu bukanlah sosok kultus individu melainkan Muhammad adalah piagam / nilai, Muhammad adalah cahaya, Muhammad adalah kemurnian jiwa diri insan insan yang berderajat muslimin muslimat pengibar bendera kebenaran, yang  terpercaya dalam amanat dan pengkhabaran dan yang menebar kebijaksanaan (silahkan pelajari 4 piagam Muhammad: Shiddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah).

nur-muhammad

Sobat budiman Nusantara,
Hari demi hari berganti mengiringi hidup dan kehidupan kita. Hidup ini bagai roda pedati, tak pernah lesu dan terhenti. Merangkak berjalan tertatih dan menyebar dimuka bumi, beredar berkeliling bersama lintas edar mentari. Dari sejak kita dibuaian hingga diatas keranda berjalan saat datang kematian. Senyum, tangis, suka, duka mewarnai hari hari kita. Dan saat hadir senyum dan suka ria mencumbui kita, maka kita ingin hidup 1000 tahun lamanya. Namun saat kita frustasi kehilangan asa, serasa kita ingin memecat nyawa saat ini juga.

rumah dibakar

Kadang kita merasa begitu lama hidup di dunia, sejak kita dilahirkan hingga saat ini atau sampai tua nanti. Dan kadang kita merasa bahwa dunia ini sudah ada sejak lama dan manusia sudah ada sejak zaman purba hingga masa modern kini dan merasa kehidupan ini masih akan berlangsung lama.
Sehingga sepertinya manusia masih merasa memiliki waktu yang lama untuk berbuat kejahatan terhadap lainnya. Dan sementara sebagian manusia merasa kesal dengan kejahatan yang dilakukan manusia lain tanpa bisa berbuat apa apa. Dan bagi sebagian orang tertentu, kadang jengkel dengan kesombongan dan keangkuhan manusia lainnya, berharap mengapa tak binasa saja, namun malah umurnya panjang dan kian merajalela. Kadang hati ini rasanya sakit, pedih, kecewa (sakitnya ku di sini….).
Tapi, tenang. Jangan khawatir dan janganlah kita merasa putus asa. Masih ada Yang Maha Adil., masih ada Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Masih ada Yang Maha berhitung dan masih ada Yang Maha Pembalas, Ada Tuhan Rabb Semesta Alam, Sang Maha Raja Diraja, Sang Penguasa, yang telah bersumpah :

“Wal ‘ashri…….wal ‘ashri !” (demi masa…demi masa)

Yang akan mengadili setiap kejahatan dan kebaikan. Yang akan mengasihi dan menyayangi hamba hamba-Nya yang berlaku kasih dan sayang. Yang akan memperhitungkan setiap nafas langkah dan perbuatan makhluknya. Dan yang akan membalaskan orang orang yang telah membuat rasa sakit, pedih dan kecewa kita. Oleh sebab itu ketahuilah rahasianya, mengapa Allah bersumpah demi masa ? Sebab sesungguhnya hidup dan umur manusia serta kehidupan panggung dunia ini sesungguhnya tak berlangsung lama, hanya sebentar saja, hanya dalam hitungan jam saja. Mari kita singkap rahasia mengapa Allah bersumpah demi masa. Mari kita jabarkan teori relatifitas masa yang pernah dikemukakan oleh Albert Einstein, dan sesuai dengan surat Al-Ashr yang tersebut diatas.

Adalah :
Masa dunia dengan masa akherat berbeda jauh akibat perbedaan dimensi ruang dan waktu. Hal ini telah diinformasikan oleh Allah dengan rumusan, salah satunya sebagai berikut :

supermassive_black_hole3

*Satu hari akherat setara dengan seribu tahun waktu bumi*

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya SEHARI disisi Tuhanmu adalah seperti SERIBU TAHUN menurut perhitunganmu.” (QS.Al Hajj:47).

Dari ayat tersebut diatas, kita memperoleh suatu formula (teori relatifitas) yang dapat dianalogikan sebagai berikut :

Yaitu dikenal dengan formula 1:1000 (satu banding seribu), atau 1 hari akhirat = 1000 tahun waktu bumi .

Jika 1 hari = 24 jam, maka :
1 hari (24 Jam) akherat = 12.000 bulan waktu bumi atau 1000 tahun
½ hari (12 jam) akherat = 6.000 bulan waktu bumi atau 500 tahun
¼ hari (6 jam) akherat = 3.000 bulan waktu bumi atau 250 tahun
1/8 hari (3 jam) akherat = 1.500 bulan waktu bumi atau 125 tahun
1/16 hari (1.5 jam) akherat = 750 bulan waktu bumi atau 62.5 tahun
Maka jika :
Menurut data sensus dunia, bahwa tingkat rata rata harapan hidup manusia sekitar 62.5 – 70 tahun.
Jika dikonversi dengan masa akherat, maka :

62.5 (usia) X 12 bulan = 750 bulan atau 22.500 hari atau 540.000 jam,
= 540.000 : 22.500 = 24
= 24 : 16 = 1.5
Atau = 1/16 hari masa akherat.
(ternyata Al-Qur’an itu matematik loh).

Artinya, jika tingkat rata rata harapan hidup manusia sekitar 62.5 – 70 tahun, maka lamanya hidup manusia di dunia ini menurut waktu langit hanya dalam waktu 1,5 jam s/d 1.7 jam saja !

Baik, sampai di sini cobalah renung dulu sejenak, jangan melanjutkan membaca. Kemudian cobalah buka lembar Al-Qur’an dan coba renungi kembali hakekat surat Al-Ashr dalam dalam, kemudian tengok surat QS. 23.Al-Mu’minuun:114.

Maka artinya, hidup manusia di dunia ini oleh Allah, hanya diberi waktu cuma 1.5 jam saja. Ini baru pada perhitungan surat Al-Ashr, belum jika di konvert dengan teori masa pada dimensi ruang dan waktu menurut planet akherat yang lainnya, seperti dalam formula surat : QS.70.Al-Ma’aarij :4, yang kadar masanya lebih jauh lagi yakni 1 hari sama dengan 50.000 tahun.

Maka, pantas tidak jika Allah menurunkan ayat tersebut? Maka patut tidak jika Nabi Muhammad SAW selalu mengingatkan kepada kita akan masalah waktu?

Pantesan kita di ingatkan dengan seruan :
“WAL ‘ASHRI….WAL ‘ASHRI…..”
(Demi waktu….demi waktu !)

188275_439978499405755_877269751_n

*Sebab ternyata hanya dengan 1.5 jam saja kehidupan abadi kita ditentukan, hendak di Surga atau Neraka. (QS 98:8 , 41:28 ).

* Sebab ternyata hanya 1.5 jam saja cobaan, ujian hidup, tangis kepedihan, kesengsaraan dan kesulitan berlangsung. Pantesan Allah selalu mewanti wanti kita untuk tetap dalam sabar. (QS 74:7, 52:48 , 39:10).

* Ternyata hanya 1.5 jam saja kita disuruh menahan nafsu amarah, lawammah dan mengganti dengan pedoman-Nya (QS 12:53 , 33:38).

*Ternyata hanya memerlukan waktu 1.5 jam saja untuk menjalani sebuah perjuangan yang teramat singkat dalam menghadapi kehidupan dan problematika. Dan Allah SWT akan mengganti dengan Ridho-Nya. (QS 9:72, 98:8, 4:114).

*Dan hanya 1.5 jam, perjuangan untuk mencari bekal perjalanan panjang menuju kemenangan nanti. (QS 59:18, 42:20, 3:148, 28:77).

Maka sebagaimana hanya dalam waktu 1.5 jam saja kita disuruh untuk berbuat bakti, beribadah mengabdi kepada Tuhannya, maka hanya selama 1.5 jam sajalah manusia diberi kebebasan untuk bergelimang dalam perbuatan dosa dan kesesatan. Maka, pantaslah Tuhan menyebut bahwa banyak manusia yang merugi karena itu. (QS.103.Al-Ashr:2).

Kemudian, Tuhan menekankan lagi :

“Kamu tidak tinggal ( dibumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui” . (QS 23:114)

Dan manusia benar benar mengetahui dan membuktikan hal ini setelah matinya, setelah berbaring di liang lahat, setelah sanak familinya menaburkan kembang kenanga kemudian menangis tersedu di hadapan batu nisan yang bertuliskan :

*Herdo Subroto*
Lahir : 12 Februari 1980
Wafat : 13 Maret 2014
——-0o0——–

RIP

Sobat budiman, segeralah secepat mungkin menengok kembali peta perjalanan kita dalam menuju kepada-Nya. Mumpung masih diberi waktu, selagi masih dapat, selagi masih diberi kesempatan…….Berbuatlah manfaat, tolong menolonglah dalam kebaikan.

Maka segeralah secepat mungkin tinggalkan kesombongan, sok sok-an, keangkuhan, kekikiran, keangkara murkaan, kejahatan, kekafiran dan kesesatan. Sebelum onggokan daging terbenam dalam lumpur tanah, membusuk dalam kesendirian, dalam nestapa dan dalam kegelapan di bumi liang lahat. Bersama larva larva yang berpesta pora, bersama cacing cacing pengurai jasad.

Inilah salah satu makna dari ribuan makna ayat-Nya dalam Al-Ashr : 1-3.

Semoga menjadi renungan,
Salam 1.5 jam saja,

Kelana Delapan Penjuru Angin,
Lembah Sumur Batu Keramat – Bekasi Timur, 31 Januari 2015.
CopyRights@2015.

Reff:

-Asbabunnuzul-Sheikh Muhammad Abduh
-K.H. M.Syamsuddin – Pantai Selatan – Jawa Tengah
-Abah Sang Pencerah-Kota Tegal & Cilacap
-Al-Qur’an terjemahan DEPAG RI
–Tauziahti Umi Sharifah Khasanah Mukim-Queen Al-Iraqi
-Haqeqatul ‘ilmi al-Jama’atul tareqatul Qadariyyati wan Naqsabandiyati was Shatariyyah

** ALLAH, RABB,ILAAH dan TUHAN **

MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “HU” (Dia –laki laki), DALAM AL-QUR’AN ?

KONTROVERSI PENYEBUTAN “TUHAN”,DAN ASAL USULNYA.

HARAM DAN MURTADKAH MENYEBUT ALLAH DENGAN TUHAN, GUSTI, PENGERAN ?

SIAPA ALLAH, SIAPA HU, SIAPA RABB, SIAPA ILAAH, SIAPA TUHAN, SIAPA GUSTI, PENGERAN ?

SEBUAH RISALAH JAWABAN BUAT ORANG YANG TANPA ILMU PENGETAHUAN, MELEMPARKAN TUDUHAN TERHADAP “ALLAH”, SEBAGAI TUHAN BERHALA BANGSA ARAB,BABYLON.

sujud

SESEMBAHAN MANUSIA

Disadari atau tidak disadari,manusia akan merindukan Sang Pencipta dan Pelindungnya (QS.39:08 , 49).Fitrah diri manusia bersuara menjerit memanggil manggil Rabb nya manakala manusia itu tengah menghadapi malapetaka,bahaya maupun kesulitan dahsyat.Saat itu manusia tunduk,tawaqqal dan lemah dihadapan-Nya.(QS.31:32 , QS.17:66-69).

Mengapa manusia mencari dan menyembah Tuhan?

Umat Islam menyembah Allah,umat Kristen menyembah Tuhan Yesus,umat Hindhu menyembah para Dewa,umat Budha menyembah Sang Budha, Umat Tiongkok menyembah Tian,umat Hindhu menyembah para Dewa,dan sebagainya.Sepertinya Tuhan itu berjumlah banyak,sebab masing masing umat memiliki Tuhan.Demikiankah?

KONTROVERSI PENYEBUTAN “TUHAN”.

Dari aspek aqidah, bagi umat Islam yang telah beriman, mengakui adanya tuhan-tuhan selain Allah adalah sebuah kemusyrikan dan dosa tak berampun,sebab Ketauhidan sudah menjadi logika agama terunggul.(untuk PEMAHAMAN AQIDAH), Silahkan pahami pada link :

https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/09/03/mutaqod-50-64-doktrin-tauhid-dasar/

Lalu, mengapa di dalam Al-Qur’an Tarjamah Tafsiriyah ,Al-Qur’an terjemahan DEPAG RI,kata “Ilaahun” dan “Rabbun” diterjemahkan sebagai ‘tuhan’?
Apa bedanya dengan terjemah harafiah tradisional yang juga menerjemahkan istilah yang sama dengan arti yang sama pula? Contoh dalam budaya pesantren dan masyarakat Islam di Jawa menggunakan kata “GUSTI , PENGERAN” untuk kata ganti Tuhan.
Kemudian bukankah kosakata “Tuhan” masuk ke dalam bahasa Indonesia, akibat pengaruh teologi yang dibawa oleh kaum kolonial ? Jika demikian apakah sebaiknya kata ‘ilaahun‘ dan‘rabbun’ tidak perlu diterjemahkan sebagai tuhan, biarkan saja dalam bahasa aslinya ?

Pertanyaan semacam ini sering mengemuka dikalangan umat Islam pada umumnya,dan juga dari para pembaca kritis Al-Qur’an terjemahan, termasuk para tokoh dan aktivis Islam.Bahkan yang mengherankan ada juga orang yang mencantumkan gelar ustadz mempersoalkan istilah ini. Sepertinya merasa anti dan alergi menggunakan kata “Tuhan, Gusti, Pengeran ”, yang dianggap melenceng dari aqidah dan berasal dari doktrin non Islam.

HARAM DAN MURTADKAH MENYEBUT ALLAH DENGAN TUHAN ?

tuhan utk semua

Mengganti lafaz Allah dengan Tuhan jelas itu sebuah kejahatan serius,sebab disamping perbuatan kemusyrikan,juga “GHADAB” (perbuatan golongan orang orang yang dimurkai Allah).Tetapi bagaimana jika kita menyebut Allah dengan kata ganti lain ? Seperti kadang dalam menulis atau saat sedang berucap dan berdo’a, kita tidak menggunakan kata Allah tetapi dengan kata “TUHAN” , ”GUSTI” dan atau “PENGERAN”, Apakah termasuk perbuatan kemusyrikan dan ghadab ? Maka dalam perkara ini seyogyanya setiap muslim tidak asal mengharamkan atau meng-kafirkan sesama Islam,jika kita belum memahami segala sesuatunya dengan ilmu pengetahuan.

Maka sobat budiman,mari kita mencari tahu ilmu pengetahuannya pada risalah yang saya rangkum selanjutnya ini,agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang orang yang asal (asal bicara, asal nulis, asal berdakwah). Malulah kita apalagi kadang kita saksikan sesama teman muslim adu otot berebut benar pendapatnya masing masing,saling benci membenci hanya gara gara mempertahankan perkara yang kita tidak memiliki ilmu pengetahuannya atau kurang,tetapi hanya didasarkan atas “perasaan” .
(merasa apa yang telah diajarkan gurunya paling benar,merasa cukup dari membaca buku sudah paling benar,dsb).

Nah,lebih runyam lagi ketika kita mendapat pertanyaan miring tentang agama Islam,tentang makna ayat ayat Al-Qur’an, dari orang yang non muslim yang tiada pengetahuannya tentang ke-Islaman, sementara kita kebingungan menjawabnya.Ujung ujungnya hanya bisa dongkol,sakit hati dan balas memaki atau menghina.

SIAPA TUHAN, SIAPA ILLAH, SIAPA RABB, SIAPA GUSTI, PENGERAN ?

kaligrafi Alloh

Tuhan ya Allah,Illah ya Allah,Rabb ya Allah,Gusti,Pengeran ya Allah.Maka :

“Serulah Allah atau serulah Yang Maha Pengasih (ar-Rahman) Dengan nama apa saja kamu menyeru Dia; maka Dia memiliki nama-nama yang indah (asma-ul-husna)” – Qs. 17 al-Israa’ : 110

*Dari ayat diatas, jelas bahwa al-Qur’an memperkenalkan Tuhan yang universal, serulah Tuhan dengan nama apapun yang baik dan indah serta tentunya tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan sifat-sifat kemuliaan-Nya.

Sebab suatu hal yang pasti adalah bahwa bahasa Arab bukan satu-satunya bahasa yang ada ditengah masyarakat dunia. Oleh karena itu secara logika, keberagaman penyebutan terhadap Tuhan tidak dapat dihindari. Bangsa Afrika Selatan (Zulu) menyebut Tuhan dengan nama uMVELINQANGI, umat India mengenal istilah PRAMATMA, Bangsa Aborigin di Australia Selatan memanggil Tuhannya dengan istilah ATMATU,bangsa Jepang mengistilahkan Tuhannya “KAMI”, dan sebagainya.

(see at : Ahmed Deedat, Allah dalam dalam Yahudi, Masehi, Islam, terj.H. Salim Basyarahil, H. Mul Renreng, Penerbit Gema Insani Press, Jakarta, 1994, hal. 21-28).

Seorang ahli tafsir Al-Qur’an dari Indonesia, M. Quraish Shihab menyatakan bahwa wahyu-wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad juga tidak mempergunakan istilah Allah untuk kata ganti Tuhan melainkan memakai istilah Rabbuka dan baru pada wahyu ke-7 yaitu surah ke-87 istilah Allah diperkenalkan kedalam al-Qur’an.

(see at : Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A. Wawasan Al-Quran : Tafsir Maudhu’I atas pelbagai persoalan umat, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, dalam Catatan kaki hal. 23-24).

Kata Allah sendiri terbentuk dari kata AL dan iLah.
(see at : Abu Iman ‘Abd ar-Rahman Robert Squires, http://www.muslim-answers.org/allah.htm, dalam “Who is ALLAH”) ,

Dimana kata AL sama seperti penggunaan kata THE dalam bahasa Inggris, yaitu sebagai kata sandang atau penegasan tertentu. Sementara kata iLah memiliki arti Tuhan. Sehingga istilah Allah berarti Tuhan yang satu itu.
Dan konsep ini sesuai dengan pengajaran para Nabi :

“Dialah Allah yang Satu Tempat semuanya bergantung ;Tidak pernah Dia beranak dan tidak pula pernah Dia diperanakkan Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya .”– Qs. 112 al-Ikhlas : 1 – 4

Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa. – Perjanjian Baru : Injil Markus 12:29

Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia – Perjanjian Lama : Kitab Ulangan 4:35

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa – Perjanjian Lama : Kitab Ulangan 6:4

Dengan demikian maka perbedaan yang terjadi dalam menyebut Allah,akibat pengaruh bahasa masing masing umat dunia yang beragam,jadi janganlah membuat kita menjadi umat Islam yang sempit pemahaman.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal .”– Qs. 49 al-hujuraat : 13

Allah telah memilih umat Islam sebagai umat yang terbaik, maka buktikan kepada umat lainnya bahwa umat Islam memang umat yang cerdas,berpengetahuan luas, menyebarkan perdamaian, menjadi rahmat untuk semua alam.(Qs. 3 ali Imron : 110– Qs. 2 al-Baqarah : 143 – Qs. 5 al-Maidah : 8).

ASAL USUL KATA “TUHAN” MENJADI KOSAKATA BAKU BAHASA INDONESIA

kamus

Menurut riwayat, bahwa kosakata “Tuhan” adalah bebernama rasal dari “plesetan” kata “Tuan”, Hal ini terjadi disinyalir karena ungkapan perkataan dari seorang Belanda yang Leijdecker pada tahun 1678.Juga ditemukan dalam Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ. “Arti kata ‘Tuhan’ ada hubungannya dengan kata Melayu ‘tuan’ yang berarti atasan/penguasa/pemilik”. Keterangan ini dikaitkan dengan terjemahan Brouwerius, 1668, untuk istilah Yunani, Kyrios, sebutan bagi Isa Almasih. Maksudnya Tuan Yesus, tapi dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan, Tuhan Yesus.

Diterangkan secara lugas oleh Alif Danya Munsyi di majalah Tiara (1984).Dalam makalahnya itu, Alif menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi sebagai salah satu gejala paramasuai, yaitu penambahan bunyi ‘h’ yang nirguna pada kata-kata tertentu, misalnya embus menjadi hembus,empas menjadi hempas, asut menjadi hasut, dan tuan menjadi TUHAN.

Gejala itu timbul karena dialek tradisional yang kemudian dipengaruhi oleh dialek dialek dari bangsa kolonial yang acapkali mengucapkan bahasa bahasa setempat,namun aksennya berbeda atau berubah,sehingga kalimat yang diucapkan oleh bangsa penjajah itulah yang menjadi istilah populer dikalangan ahli kitab serta masyarakat pribumi.

Lingua Franca Melayu yang dipakai bangsa-bangsa Eropa antara lain Portugis dan Belanda sebagai bahasa administrasi untuk kegiatan ekonomi dan politik di seantero Nusantara, juga dipakai dalam kepentingan penyiaran agama Nasrani (agama umum yang dianut bangsa Eropa).Mereka (bangsa Eropa) biasa menyebut Isa dengan panggilan “TUAN”, yang dalam bahasa Yunani adalah ‘Kyrios’, dalam bahasa Portugis ‘senor’, dalam bahasa Belanda ‘heere’, dalam bahasa Perancis ‘seigneur’ dan dalam bahasa Inggris ‘lord’. Contohnya kalimat :

“The grace of or lord Jesus Christ be with your spirit”.

Ketika penghayatan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mula-mula oleh bangsa Portugis yang bernama Browerius, pada tahun 1663, sebutan Isa Al Masih masih TUAN, tetapi ketika orang Belanda yang bernama Leijdecker pada tahun 1678 menerjemahkan surat-surat Paulus itu, sebutan TUAN telah mengalami paramasuai yakni ada tambahan sisipan konsonan “H”,sehingga menjadikan penulisannyapun berubah menjadi”TUHAN”.

Selanjutnya kata Tuhan itu dibakukan sebagai kosakata baru, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta (Katolik), tanpa memberikan keterangan apapun tentang kata TUHAN. Kemudian kata “TUHAN” ini digunakan secara finish oleh para team penerjemah,untuk menterjemahkan kata “ILAAHUN” , “RABB” dalam bahasa Arab, dengan padanan kosakata “TUHAN”,hingga sekarang sebab tidak adanya padanan kata lain selain “TUHAN”.(ini yang disebut “menurut bahasa kaumnya”).
Terlepas dari parasuai dialek bahasa maka yang pasti setiap bahasa memiliki keterbatasan padanan kata dari kosa kata bahasa lain. Problem keterbatasan kosa kata ini, biasa terjadi pada setiap bahasa apapun di dunia ini. Akan tetapi, bila suatu kata dalam bahasa asing yang sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia tidak boleh diterjemahkan, niscaya akan menyulitkan pembaca yang ingin memahami maknanya.

*Upaya penerjemahan suatu bahasa ke bahasa lain, aspek intelektualitas dan budaya pengguna bahasa sangat menentukan kekayaan kosa kata suatu bahasa. Dalam kaitan ini, untuk menjelaskan kata ‘tuhan’ sebagai terjemah dari kata ‘ilaahun‘ dan ‘rabbun‘, haruslah dipahami argumentasi bangsa Arab yang menerjemahkan kata ‘tuhan’ dan ‘dewa’ sebagai ilaahun.
Sebagai contoh, kata dewa dan tuhan dalam bahasa Indonesia, terjemahan Arabnya sama, yaitu ilaahun. Padahal pengertian kata Dewa dan Tuhan dalam bahasa Indonesia sangat jauh berbeda.
Kata Tuhan pengertiannya adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb. Sedangkan kata dewa pengertiannya adalah makhluk Tuhan yang berasal dari cahaya suci kegaiban yang ditugasi mengendalikan kekuatan alam atau orang/manusia, juga berarti sesuatu yang sangat dipuja. (KBBI, 1990)

Oleh karena itu, jika kata ilaahun dan rabbun tidak diterjemahkan dengan kosakata yang populer dalam bahasa Indonesia, justru mempersulit pembaca untuk memahami kata ilaahun dan rabbun. Padahal terjemahan itu bertujuan untuk mempermudah pembaca memahami makna kalimat yang dibaca.

PRONOMINA (KATA GANTI) ‘YHWH’ DAN ‘TUHAN ALLAH’ DALAM PL/PB

Menurut New Advent Catholic Encyclopedia, Bangsa Yahudi mengenal tiga sebutan nama untuk Tuhan, yaitu El, Elohim dan Eloah, di samping nama YHWH (Tetragrammaton/ Yahweh). Perkataan Yahweh ini terdapat sekitar 6000 kali dalam Perjanjian Lama, Elohim 2570, Eloah 57 kali dan El 226 kali. Walaupun masih menjadi perdebatan para ahli Kitab Suci, dikatakan bahwa kemungkinan kata Allah berasal dari kata El ini, yang berarti Tuhan yang Mahabesar/Mahakuasa (lih. Kel 6:2) yang secara derivatif dapat pula berarti “Ia yang dikejar oleh semua orang, Ia yang menjadi tujuan semua orang, ia yang kepada-Nya semua orang mencari perlindungan dan bimbingan, Ia yang kepada-Nya seseorang mendekatkan dirinya, dst”. Diskusi argumen tentang asal usul kata ini, setuju atau tidak setuju akan makna derivatif-nya akan menghasilkan pembicaraan yang terlalu jauh.

Sedangkan nama Tuhan sebagai YHWH yang diterima oleh Musa, merupakan nama yang sangat sakral, maka menurut tradisi Yahudi, mereka dilarang menyebutkan nama YHWH tersebut. Penyebutan nama YHWH (Yahweh) hanya dilakukan setahun sekali oleh Imam Agung, yang dilakukan di Bait Allah, pada pesta Yom Kippur. Karena kesakralan kata YHWH ini, maka tak sembarang orang menyebutkannya; dan di dalam pembacaan Kitab suci, mereka mengganti kata YHWH tersebut dengan Adonai. Septuagint dan Vulgate kemudian menerjemahkan Adonai ini dengan Kyrios/ Dominus.

Paus Benediktus XVI dalam bukunya Jesus of Nazareth condong kepada hasil studi para ahli Kitab Suci yang mengatakankan bahwa pengakuan Petrus akan Yesus sebagai Mesias, Putra Allah yang hidup (Mat 16:13-15), jatuh pada peringatan hari Yom Kippur ini (lihat buku karangan Bapa Paus Benedict XVI, Jesus of Nazareth p. 306); yang menunjukkan penggenapan sebutan Allah YHWH/ Adonai ini di dalam diri Kristus Yesus.

‘Kurios’ itu adalah ‘Tuhan’ (Lord) yang diambil dari bahasa Yunani, yang merupakan bahasa penulisan kitab Perjanjian Baru. Sedangkan kata “Tuhan” (Lord) dalam Kitab Perjanjian Lama (PL) dalam bahasa Ibrani-nya adalah “Adonai”. Dalam PL, kata “Adonai” (Tuhan/ Lord) ini dipakai sebagai kata ganti bagi YHWH (Yahwe) dan digunakan bersama- sama kata “Elohim (Allah/ God)” (lih. Mzm 38:15; Mzm 8:1,9), walaupun kata “adonai” ini memang juga menggambarkan hubungan antara tuan dan hamba (lihat: Kej 24:9,20,12,14,27; Kel 21:4-6) antara suami dan istri ( Kej 18:12, Yud 19:27; Mzm 45:12).

Demikianlah contoh ayat-ayat di mana kata ‘YHWH’, ‘Tuhan’ (Lord) dan ‘Allah’ (God) digunakan untuk mengacu kepada Allah yang satu dan sama:

“Sebab kepada-Mu, ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], aku berharap; Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan [Adonai], Allahku [Elohim].” (Mzm 38:15)

“Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! …. Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! (Mzm 8:1,9).

Di kitab Perjanjian Baru, terdapat ayat-ayat, di mana kata “kurios” diterjemahkan sebagai “Tuhan” (Lord), dan mengacu kepada Allah (God), seperti halnya pada Luk 1:32; 2:9, Kis 5:19), dan kata “kurios” ini juga mengacu kepada Yesus (lih. Rom 10:9, 1Kor 12:3; Flp 2:11; Why 19:15); Kata Ibrani “Adonai” diterjemahkan di dalam Kitab Septuaginta (PL dalam bahasa Yunani) dengan kata Yunani, yaitu “Kurios” (Lord). Kata “Kurios” ini juga digunakan untuk menterjemahkan kata YHWH (God). Kata Adonai dalam Perjanjian Lama adalah kata ganti terhadap kata YHWH [Yehovah/ Yahwe], yaitu kata yang penggunaannya terbatas, oleh karena bangsa Yahudi menolak untuk mengucapkan kata tersebut karena takut menyebutkannya dengan tidak hormat, dan dengan demikian melanggar perintah Allah, “Janganlah menyebut nama Tuhan [YHWH/ Yehovah] Allah-mu [Elohim] dengan tidak hormat” (lih. Kel 20: 7).

ALLAH SENDIRI MENGGUNAKAN PENYEBUTAN “TUHAN” DAN KATA GANTI LAIN DALAM AL-QUR’AN

Alloh

I. PENGERTIAN ILAAHUN
*Kata ilaahun terdiri atas tiga huruf: hamzah, lam, ha, sebagai pecahan dari kata laha – yalihu – laihan, yang berarti Tuhan yang Mahapelindung, Mahaperkasa. Ilaahun, jamaknya Aalihatun, bentuk kata kerjanya adalah alaha, yang artinya sama dengan ‘abada, yaitu ‘mengabdi’. Dengan demikian ilaahun artinya sama dengan ma’budun, ‘yang diabdi’. Lawannya adalah ‘abdun, ‘yang mengabdi’, atau ‘hamba’, atau ‘budak’.

Selain ilaahun, dalam Al-Qur’an juga terdapat kata Rabbun yang digunakan untuk menyebut Tuhan. Kata rabbun terdiri atas dua huruf: ra dan ba, adalah pecahan dari kata tarbiyah, yang artinya Tuhan yang Mahapengasuh. Secara harfiah rabbun berarti pembimbing, atau pengendali. Selain dimaknai Allah, kata rabbun juga digunakan untuk sebutan tuhan selain Allah, seperti paragraf ayat:
“ arbaban min dunillah”, menjadikan pendeta, pastur, dan Isa Al-Masih sebagai tuhan-tuhan selain Allah.
Dalam Al-Qur’an kata ilaahun juga dipakai untuk menyebut berhala, hawa nafsu, dewa. Semua istilah tersebut dalam Al-Qur’an menggunakan kata ilaahun, jamaknya aalihatun.

1.1. Allah Swt. Menyatakan Dia sebagai ilaahun.

… إِنَّمَا ٱلله إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ سُبْحَٰنَهُۥ أَن يَكُونَ لَهُۥ وَلَدٌ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ وَكَفَىٰ بِٱللهِ وَكِيلً

“… Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Esa, Mahasuci Allah dari mem¬punyai anak. Semua yang ada di langit dan di bumi hanyalah milik-Nya. Cukuplah Allah sebagai saksi atas kebenaran keesaan-Nya.” (Qs. An-Nisaa’ 4:171)

1.2. Disisi lain Allah Swt. Menyatakan hawa nafsu yang diikuti orang kafir ,juga sebagai ilaahun.

أَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

“Wahai Muhammad, apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang ka-fir yang menuhankan hawa nafsunya? Apakah kamu punya kekuasaan untuk memberi hidayah kepada mereka?” (QS. Al-Furqan, 25: 43)

1.3. Allah Swt. Menyatakan sesembahan orang musyrik sebagai ilaahun :

… فَمَآ أَغْنَتْ عَنْهُمْ ءَالِهَتُهُمُ ٱلَّتِى يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللهِ مِن شَىْءٍۢ لَّمَّا جَآءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ

“… Maka Tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah itu tidak dapat menolong mereka sedikit pun ketika datang adzab dari Tuhanmu. Tuhan-tuhan itu justru menambah kerugian yang sangat besar.” (QS. Hud, 11: 101)

1.4. Allah Swt. Menyatakan para pendeta sebagai rabbun :

ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَٰنَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللهِ وَٱلْمَسِيحَ ٱبْنَ مَرْيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوٓا۟ إِلَٰهًا وَٰحِدًا لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Kaum Yahudi dan Nasrani telah menjadikan pendeta-pendeta mereka, pastur-pastur mereka, dan Al-Masih bin Maryam sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Padahal mereka hanya diperintah untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Allah. Mahasuci Allah dari semua keyakinan syirik yang mereka buat-buat.” (Qs. At-Taubah, 9:31)

Maka kata ilaahun dan rabbun sesungguhnya adalah bahasa asli Arab jahiliyah yang dipertahankan penggunaannya dalam Al-Qur’an, sebagaimana contoh di atas,dimaksud bahwa Allah menyesuaikan dengan pemahaman bahasa yang dimengerti kaumnya.
(Bayangkan jika Al-Qur’an tidak cerdas,bahasanya tidak difahami oleh orang Arab,tentu akan semakin diolok-olok oleh kaum jahiliyyah).

Orang-orang Arab sebelum Islam, memahami makna kata ilaahun sebagai dewa atau berhala, dan mereka gunakan dalam percakapan sehari-hari. Apabila orang Arab Jahiliyah menyebut dewa cinta, maka mereka mengatakan ilaahul hubbi, dan ilaahatul hubbi untuk menyebut dewi cinta. Kaum penyembah berhala (animisme), atau aliran kepercayaan di zaman kita sekarang, sebagaimana orang-orang Arab Jahiliyah, menganggap tuhan mereka berjenis kelamin, laki dan perempuan.

Demikian sobat, Maka sekarang bolehkah umat Islam menyebut Allah dengan nama-nama dari bahasa-bahasa non-Arab ? Secara bijaksana ,jawabnya boleh-boleh saja, toh kita di Indonesia juga menggunakan istilah Tuhan untuk menterjemahkan istilah Robb, dan itu tidak perlu dipermasalahkan.Namun yang perlu diwaspadai oleh umat Islam adalah jangan sampai terjebak pada nama-nama yang mengarah pada keberhalaan (bersifat syirik) :

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-namaNya, Kelak, mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” – Qs. 7 al-a’raaf : 180

Bagaimana sekarang ? Sudah memahami semua ini ? Sebab akupun kini telah memahami dari tulisan yang ku susun sendiri ini. Oleh karena itu, sobat budiman pembaca terjemah Al-Qur’an tidak perlu alergi terhadap kata “Tuhan” sebagai terjemahan dari kata ilaahun dan rabbun. Umat Islam yang kini sudah mengetahui ilmunya tidak perlu harus merasa khawatir luntur aqidahnya, karena ini hanya problem bahasa masing masing umat dan keterbatasan kosa kata bahasa Indonesia.

2. PENGERTIAN RABB DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH.

(Oleh Sheikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan) :

Rabb adalah bentuk mashdar, berasal dari “Rabba–Ya Rubbu”,yang berarti mengembangkan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain,sampai pada keadaan yang sempurna.

Jadi, Rabb adalah kata mashdar yang dipinjam untuk fa’il (pelaku). Kata-kata Ar-Rabb tidak disebut sendirian, kecuali untuk Allah Ta’ala yang menjamin kemaslahatan seluruh makhluk. Adapun jika diidhafahkan (ditambahkan kepada yang lain), maka hal itu bisa untuk Allah dan bisa untuk lainNya. Seperti Firman Allah Ta’ala:

“Tuhamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu,”.(QS Asy-Syuara: 26).

Dikatakan “rabbuddaari” dalam ayat tersebut berarti tuan rumah, pemilik rumah, atau pemilik kuda, dan diantaranya lagi dalah perkataan Nabi Yusuf alaihissalam yang difirmankan oleh Allah Ta’ala:

“Dan Yusuf Berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.”.(QS.Yusuf:42).

Dan Firman Allah Ta’ala:

“Raja berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang Telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha mengetahui tipu daya mereka.” (QS Yusuf: 50).

“Hai kedua penghuni penjara: “Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi Maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)”.(QS.Yusuf:41).

Rasulullah bersabda dalam hadist “unta yang hilang,”
“sampai sang pemilik menemukannya.”

Maka jelaslah bahwa kata Rabb diperuntukkan untuk Allah, jika ma’rifat dan mudhaf, sehingga kita mengatakan misalnya: “Rabbu” (Tuhan Allah), “Rabbul’alamiin” (Penguasa semesta alam), atau “Rabbunnas” (Tuhan manusia).Dan tidak diperuntukkan kepada selain Allah Ta’ala kecuali jika diidhafahkan, misalnya: “Rabbuddaar” (tuan rumah), atau “Rabbul ibiil” (pemilik unta), dan lainnya.

Makna “Rabbul’alamiin” adalah Allah Ta’ala Pencipta alam semesta, Pemilik, Pengurus, dan Pembimbing mereka dengan segala nikmatNya, serta dengan mengutus para rasulNya, menurunkan kitab-kitabNya, dan Pemberi balasan atas segala perbuatan makhlukNya.

MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “HU” (Dia Laki-Laki), DALAM AL-QUR’AN ?

Apa maksudnya ? Apakah berarti Tuhan itu lebih dari satu ? Apakah berarti bahwa tuhan itu bergender ?

Sahabat,perkara ini telah sering menjadikan perdebatan kusir diantara sesama dan bahkan telah menjadi ajang pembenaran argumentasi pihak non muslim bahwa Tuhan itu dapat bersifat plural atau dapat disetarakan dengan unsur-unsur lain.

Dan sebenarnya pertanyaan-pertanyaan ini sudah dijawab dari sejak jaman dulu oleh Ulama alim dan Ahli Tafsir,dimana para ulama dari agama lain selalu mempertanyakan,setiap kali melihat terjemahan Al-Quran semacam ini dari masa-ke-masa, MENYANGKA dan BERTANYA apakah kata “KAMI” dan “HU” (Dia Laki-Laki),dalam Al-Quran adalah “Tuhan yang dapat disetarakan dengan unsur lain,serta bergender”. Padahal dalam ayat lain Al-Qur’an sudah mengunci jawaban, yakni bahwa Allah Swt itu Tunggal .Seperti salah satunya ditegaskan dalam Surah QS.112.Al-Ikhlas:01.

Tak kenal maka tak sayang,ketidak tahuan akan membuat kita tenggelam ke dalam kebimbangan dan kegelapan alam pikir.

BERIKUT PENJABARANNYA :

Semua perkara yang tersebut diatas sesungguhnya hanya masalah tata bahasa.Di antara uslub (metode) bahasa Arab adalah bahwa seseorang dapat menyatakan tentang dirinya dengan kata ganti ‘nahnu’ (kami) untuk menunjukkan penghormatan. Atau Allah menyebut dirinya dengan dhamir (kata ganti) ‘أنا’ (saya) atau dengan kata ganti ketiga seperti : هو’ (dia).

PRONOMINA atau DHAMIR atau KATA GANTI ALLAH,RABB dan BENDA lain dalam AL-QUR’AN :

pronomina

Bahwa tata bahasa AL-QUR’AN itu berbeda jauh dengan tata bahasa bangsa manapun didunia dalam hal penjabaran pemaknaan dari sebuah kalimat maupun padanan kata.Dalam bahasa AL-QUR’AN,jika sebuah kalimat dirubah satu tanda bacanya saja akan merubah artinya,apalagi menambah/merubah satu huruf,maka akan jauh berbeda maknanya,juga padanan kata.

1. MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “AKU”

Dalam tata bahasa Arab,(GRAMMAR/NAHU SARAF), ada kata ganti (DHAMIR / PRONOMINA) pertama (singular) “AKU”,dengan kalimat :”Ana” ,Dan ada kata ganti pertama (plural) “AKU”,dengan kalimat : “Nahnu”. Akan tetapi dalam bahasa Arab, kata ganti pertama plural dapat dan sering, difungsikan sebagai singular. Hal ini disebut “Al-Mutakallim Al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”, Adalah kata ganti pertama yang memuat makna sebagai tanda “PENGHORMATAN”.

Metode ini terdapat dalam Al-Quran dan Allah Ta’ala menyampaikan kepada bangsa Arab apa yang dipahami dalam bahasa mereka”.(Fatawa Lajnah Daimah, 4/143)
Allah SWT terkadang menyebutkan dirinya dengan sighoh mufrad (sendiri) secara nampak atau mudhmar (tersembunyi). Tekadang dengan shigoh jama’. Seperti firman-Nya,

“Sesungguhnya kami telah taklukkan bagi kamu (Muhammad) dengan penaklukan yang nyata…..”.

Maka Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan nama-Nya dengan shighoh tatsniyah (bentuk dua). Karena shigoh jama’ mengandung pengagungan yang layak bagi-Nya. Terkadang menunjukkan makna nama-nama-Nya. Sementara sighoh tatsniyah (bentuk dua) menunjukkan bilangan tertentu. Dan Dia tersucikan dari itu.
(Reff:‘Al-Aqidah At-Tadmuriyah karangan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 75).

Lafaz “Inna” ( إنا)) dan “Nahnu” (نحن) atau selainnya termasuk bentuk jamak, tapi dapat diucapkan untuk menunjukkan seseorang yang mewakili kelompoknya, atau dapat pula disampaikan mewakili seseorang yang nomor satu. Sebagaimana dilakukan oleh Presiden apabila ia mengeluarkan keputusan atau ketetapan, maka dia berkata, “Kami tetapkan…” atau semacamnya, padahal dia yang menetapkan itu hanyalah satu orang. Akan tetapi diungkapkan demikian untuk menunjukkan keagungan. Maka yang paling berhak diagungkan oleh setiap orang adalah Allah Azza wa Jalla. Maka jika Allah mengatakan dalam Kitab-Nya, (إنا), sesungguhnya Kami, atau (نحن), kami, itu adalah bentuk pengagungan, bukan menunjukkan bilangan.
Ini karena dhamir ‘NAHNU’ yang dalam Tata Bahasa umum sebagai bentuk jamak yang diartikan sebagai “kita” atau “kami” (plural),tetapi dalam ilmu NAHU SOROF,kalimat “NAHNU” tersebut diartikan sebagai bermakna :”AKU / SAYA” dalam bentuk singular/Tunggal yang merupakan bentuk kalimat penghormatan atau bahasa sopan (Kromo inggil-Jawa).

Karena dalam tata bahasa bangsa lain tidak memiliki perbendaharaan seperti dalam Tata Bahasa Arab ini,maka kalimat ‘NAHNU”(Aku dengan konotasi penghormatan), hanya bisa diterjemahkan dengan kalimat “KAMI” ke dalam bahasa Indonesia atau “WE” dalam Bahasa Inggris,sehingga bagi yang tidak memahami seolah bermakna “jamak”.

Selain kata ‘Nahnu’, ada juga kata ‘ANTUM (KAMU), yang sering digunakan untuk menyapa lawan bicara meski hanya satu orang. Padahal makna `antum` adalah kalian (jamak).

Maka terjemahan “ANTUM” dalam bahasa Arab yang berarti “KAMU”,ketika kita menyapa lawan bicara kita dengan panggilan ‘antum’, maka secara kandungan bahasa, merupakan panggilan sopan dan ramah serta sebagai penghormatan ketimbang menggunakan sapaan “Anta , Ente”

Atau dalam bahasa sehari-hari kita,memanggil lawan bicara dengan panggilan :

-“KAMU , LOE , SITU”,maka akan berkesan adanya penghormatan jika diganti dengan kata, ”Anda, Gus atau “Tuan, Nyonya/Ibu/Bapak”.

Dalam bahasa Jawa, Sunda :

-Koe / rika / nyong /awakmu,aing dan sebagainya,maka akan lebih mengapresiasikan penghormatan dengan kalimat panggilan : “Panjenengan/sampeyan/sliramu/abdi/anjeun”, dan sebagainya. (Ini disebut “Ngajeni” /sopan dalam bahasa Jawa/Sunda)

Dalam bahasa Inggris :

-I (am) = saya, aku.
-You = kamu
-We = kami
-They = Mereka
-He = dia (laki-laki)
-She = dia (wanita)
-It = dia (benda & hewan)

BANDINGKAN DENGAN BAHASA ARAB :

-Huwa = dia (laki-laki)
-Huma = dia berdua (laki-laki)
-Hum = mereka (laki-laki)
-Hiya = dia (perempuan)
-Huma = dia berdua (perempuan)
-Hunna = mereka (perempuan)
-Anta = kamu (laki-laki)
-Antuma = kamu berdua (laki-laki)
-Antum = kalian (laki-laki)
-Anti = kamu (perempuan)
-Antumah = kamu berdua (perempuan)
-Antunna = kalian (perempuan)
-Ana = Saya, Aku
-Nahnu ( kami-aku, dengan bahasa penghormatan)

Dari perbendaharaan kata diatas, jika kita rangkai kalimat atau digabungkan dengan ‘kata kerja’, maka akan mengalami perubahan.

Contoh kata ,”fa’ala” =melakukan / “do” dalam Inggris,jika ditempatkan dengan kata-kata diatas maka akan menjadi:

a). “yaf’alu” =dia (seorang lak-laki) melakukan…,
b). “yaf’alaani”=dia dua orang lak-laki melakukan…,
c).”yaf’aluuna” =mereka (laki-laki) melakukan…,

Maka Kata ‘Nahnu’ (Kami,Alloh) yang berasal dari akar kata “ANNA”, dalam Al-Qur’an,tidak bermakna banyak, tetapi tetap bermakna “AKU TUNGGAL” yang menunjukkan keagungan Allah SWT,Tuhan Semesta Alam. Ini dipelajari dalam ilmu balaghah.

Contoh:
Dalam bahasa kita ada juga penggunaan kata “Kami” tapi bermakna tunggal. Misalnya seorang Lurah dalam pidato sambutan berkata.

”Kami sebagai Lurah berpesan…bla …bla….”

Padahal si Lurah hanya dia sendiri dan tidak banyak, tapi dia bilang “Kami”. Lalu apakah kalimat itu bermakna bahwa seorang Lurah yang sedang pidato itu berjumlah banyak?

Contoh lain :

Pada orang-orang yang telah fasih dengan Tata Bahasa Arab tentu akan paham, atau setidaknya orang pesantren “klotokan” yang bahasa sehari-harinya lazim menggunakan bahasa Arab Seperti di Pondok Pesantren Gontor,Tebu Ireng dan lainnya, tentu akan paham makna penggunaan kata “Nahnu” (kami).

-Maka kalimat,”Nahnu” (kami), dapat digunakan untuk lebih dari satu yaitu “kami” (plural – jamak),namun dapat juga untuk “satu orang” yaitu yang dimaksudkan “saya-sendiri” dengan makna “Bahasa santun”. (dalam Bahasa Arab).

Contoh lain lagi :

Penggunaan kata : “Antum” (kalian), memang bisa digunakan untuk lebih dari satu yaitu “Kalian” (plural – jamak), Namun dapat juga untuk satu orang, yaitu yang dimaksudkan “Anda” ,”Tuan” , “Bapak/Ibu”,dengan makna bahasa santun ,dalam Bahasa Arab.Bandingkan dengan jika kita mengatakan kata,”KAMU, LOE , SITU, ENTE”,yang diucapkan kepada orang tua atau Bos.

Maka bukan berarti “Antum” ini bermakna “kalian” (jamak) akan tetapi bermakna tunggal sebagai PENGHORMATAN dan PENGAGUNGAN. Inilah yang disebut “Al-Mutakallim Al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”.

Cobalah RENUNGKAN akan hal ini !

-Maka penyebutan kata “KAMI” yang digunakan dalam Al-Qur’an ketika Allah berfirman,(yang dalam bahasa Arab adalah “NAHNU” juga “INNA” atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf “NAA”),adalah merupakan bentuk kalimat pengagungan yang tetap bermakna, “AKU”, Tuhan Yang Tunggal dan Maha Perkasa.

-Juga acapkali Allah Swt,menggunakan kata “AKU”, “DIA”, didalam Al Qur’an.(dalam bahasa Arab adalah “ANA” , “INNI” dan “HUWA“, atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf “TU”, atau juga langsung dengan lafadz “Allah” sendiri, begitu pula dengan kata “Dia” / “Huwa”).Maka tata bahasa seperti ini tidak ada dalam tata bahasa bangsa lain termasuk dalam tata bahasa Indonesia.

2. Mengapa Allah Swt menggunakan kata ganti (dhamir) “HU” (Dia- laki-laki) untuk diri-Nya dalam al-Qur’an?

*Sebab mengapa Allah Swt dalam Al-Qur’an menggunakan “HU” (kata ganti ketiga-Maskulin) untuk diri-Nya adalah lantaran Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan penggunaan “HU” (pronomina III -Maskulin), bagi Allah Swt telah sesuai dengan kaidah dan sastra bahasa Arab.

Karena Allah Swt bukan muannats (feminim) hakiki dan juga bukan mudzakkar (maskulin) hakiki dan juga tidak menggunakan penggunaan qiyâsi (mengikuti kaidah tertentu) dan simâi muannats majâzi (figuratif). Karena itu, berdasarkan kaidah bahasa Arab yang harus digunakan untuk Zat Allah Swt adalah pronomina dalam bentuk maskulin figuratif (mudzakkar majâzi). Di samping itu, tanda-tanda literal maskulin dan feminin bukan sebagai penjelas kedudukan dan derajat yang mengandung nilai (value).

Bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab. Bahasa Arab berbeda dengan bahasa-bahasa lainnya menggunakan dua jenis kata ganti dan pronomina (dhamir) orang ketiga laki-laki (mudzakkar) dan kata ganti orang ketiga perempuan (muannats). Suatu hal yang natural bahwa setiap buku atau kitab yang ingin ditulis menggunakan bahasa ini, kendati ia merupakan kitab Ilahi, maka ia harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa tersebut dan gramatikanya.

Bahasa Arab, karena tidak memiliki kata ganti orang ketiga waria (khuntsa), sebagian hal yang tidak memiliki jenis kelamin dinyatakan dengan kata ganti orang ketiga laki-laki (dhamir mudzakkar). Namun, yang semisal dengan masalah ini, juga terdapat dalam bahasa-bahasa yang lain, seperti bahasa Prancis. Dengan bersandar pada poin ini dapat diambil kesimpulan bahwa pernyataan kata ganti orang ketiga laki-laki, sama sekali tidak ada kaitannya dengan sifat kelaki-lakian.

Pada kenyataannya, dapat dikatakan bahwa al-Qur’an tidak didominasi oleh pandangan patriarkial yang berkembang pada budaya zamannya, melainkan sebuah tipologi bahasa yang mengkondisikan pembicaranya supaya memperhatikan dan mematuhi hal tersebut. Karena itu, Al-Qur’an, dengan alasan diturunkan dan diwahyukan dalam bahasa Arab, bertutur kata dengan wacana ini dan menggunakan pronomina-pronomina dan redaksi maskulin (mudzakkar) yang selaras dan sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab.

Dengan kata lain, dari satu sisi, dalam bahasa Arab, nomina-nomina (asmâ) dan verba-verba (af’âl) (selain verba kata ganti orang pertama tunggal [mutakkalim wahdah] dan kata ganti orang pertama jamak [mutakallim ma’a al-ghair]) memiliki dua jenis: laki-laki atau maskulin (mudzakkar) dan perempuan atau feminin (muannats). Maskulin dan feminin ini terbagi lagi menjadi hakiki dan majâzi (figuratif). Seluruh entitas yang memiliki alat kelamin pria dan wanita adalah maskulin dan feminin hakiki (mudzakkar dan muannats hakiki). Selainnya adalah figuratif (majâzi).

Maskulin hakiki seperti “rajul” (pria) dan “jamal” (unta jantan). Feminin hakiki seperti “imraat” (wanita) dan “naqah” (unta betina). Maskulin figuratif (mudzakkar majazi) seperti “qalâm” (pena) dan “jidâr” (dinding). Feminin figuratif (muannats majazi) seperti “dâr” (rumah) dan “ghurfah” (kamar). Penggunaan muannats majazi dalam hal-hal seperti nama-nama kota, anggota badan yang berpasangan memiliki kaidah dan dalam hal-hal lainnya tidak mengikut kaidah tertentu (qiyâsi) dan bersifat simâi. Simâi artinya bahwa yang menjadi kriteria adalah semata-mata mendengar orang-orang yang berbahasa Arab dan harus diperhatikan orang-orang Arab menggunakannya dalam bidang apa. Apabila hal tersebut bukan termasuk muannats hakiki dan muannats majâzi dan juga bukan mudzakkar hakiki maka tentulah ia merupakan mudzakkar majâzi.[1]

Dari sisi lain, karena Allah Swt tidak melahirkan juga tidak dilahirkan. Demikian juga tiada yang menyerupainya[2] dan juga bukan termasuk hal-hal yang terkait dengan penggunaan qiyâsi (mengikuti kaidah tertentu) dan simai muannats majâzi. Karena itu, berdasarkan kaidah bahasa Arab yang harus digunakan untuk Zat Allah Swt adalah kata ganti-kata ganti, nama-nama dan sifat-sifat dalam bentuk mudzakkar majâzi (maskulin figuratif).

Poin ini juga harus mendapat perhatian bahwa tanda-tanda literal muannats dan mudzakkar tidak mengandung nilai tertentu dan tidak menunjukkan tanda dan dalil atas kemuliaan dan kedudukan seseorang. Karena itu, apabila tanda-tanda literal mudzakkar, menunjukkan kemuliaan dan kedudukan tertentu seseorang, dan memiliki nilai tertentu, maka untuk selain manusia dan sebagian makhluk rendah seperti setan dan iblis… tidak boleh menggunakan kata kerja-kata kerja atau nomina-nomina atau pronomina-pronomina dan seterusnya yang memuat tanda-tanda literal mudzakkar.
Demikian juga, apabila tanda-tanda literal muannats merupakan dalil dan tanda kekurangan dan minus nilai maka entitas-entitas yang sarat nilai seperti matahari (syams), bumi (ardh), kaum pria (al-Rijal), air (ma’) dan sebagainya dan sebaik-baik perbuatan dan kedudukan seperti sembahyang (shalat), zakat, surga (jannat) tidak akan dinyatakan dalam bentuk literal muannats.[3]
Reff:
[1]. Sharf Sâdeh, hal. 28 dan 145.
[2]. Lam yalid wa lam yulad (Qs. Al-Ikhlas [114]:3). Laisa kamitsli syai (Qs. Al-Syura [42]:11)
[3]. Silahkan lihat, Zan dar Âine Jalâl wa Jamâl, Jawadi Amuli, hal. 78.
*http://quran.al-shia.org/id/lib/101.html

PENERAPAN KALIMAT ALLAH DAN PRONOMINA “TUHAN-AKU-DIA-KAMI DAN RABB”, DALAM AL-QUR’AN :

Telah diketahui bahwa terjemahan “Tuhan” berasal dari “ILAAHUN” dan “RABB”, kemudian kata ganti “AKU” dari “ANA”, kata ganti “DIA” dari “HU”, sedangkan kata ganti “KAMI” dari “INNA / NAHNU”,maka pecahan pecahan tersebut semuanya berasal dari satu sumber kalimat agung, yakni berasal dari kalimah “ALLAH”.

Mari kita jabarkan :

Lafaz ALLAH terdiri dari empat huruf,yaitu : ALIF-LAM-LAM dan HA.

1. Jika huruf pertama ditiadakan, maka yang ada lafaz “LILLAH”.
2. Jika huruf LAM pertama ditiadakan,maka yang ada lafaz “ILAAHUN”.
3. Jika kedua huruf LAM ditiadakan, maka yang ada lafaz “HU”.
4. Jika tiga huruf terakhir ditiadakan, maka muncul symbol “ALIF”.

Makna LILLAH :
Mengejawantahkan dzat bagi “TEMPAT SEMUA KEMBALI atau SEGALA SESUATU HANYA DARI,UNTUK dan PADA ALLAH,entah segala penciptaan,peribadatan,pengabdian serta ketergantungan seluruh alam semesta dan makhluk makhluk-Nya.

Makna ILAAHUN :
Kata ilaahun terdiri atas tiga huruf: hamzah, lam, ha, sebagai pecahan dari kata laha – yalihu – laihan, yang berarti Tuhan yang Mahapelindung, Mahaperkasa. Ilaahun, jamaknya Aalihatun, bentuk kata kerjanya adalah alaha, yang artinya sama dengan ‘abada, yaitu ‘mengabdi’. Dengan demikian ilaahun artinya sama dengan ma’budun, ‘yang diabdi’. Lawannya adalah ‘abdun, ‘yang mengabdi’, atau ‘hamba’, atau ‘budak’.Maka ILAAHUN yang dalam bahasa Indonesia Tuhan Yang Maha Esa, mengejawantahkan Dia,Tuhan, Allah yang tidak ada tuhan tuhan lain dan sembahan sembahan lain selain Allah,tanpa reserve.

Makna HU :
“HU”,yang berasal dari bagian asma Allah,di dalamnya tersembunyi hakekat ”HUWA”,adalah Dia Yang Maha Mutlak,tak terbanding dan setarakan(awyakta-Sanskert).Karena sebelum datangnya islam bangsa Arab jahiliyyah menganggap bila Tuhan itu dapat setara dengan materi dan berjenis kelamin laki laki.Maka setelah dunia yang jahil diterangi Islam,Allah meminjam kosa kata yang telah dipahami oleh bangsa Arab ini sebagai bentuk tandingan,bahwa “HU” (Dia,Tuhan yang bukan laki laki maupun perempuan dan tak dapat disetarakan dengan lainnya),dengan di idhafahkan menjadi : “Hu, Allahhu ahad,Allahussomad – Dia,Allah Yang Maha Esa,tempat semua bergantung,tidak beranak dan diperanakkan”, artinya Allah tidak dapat disetarakan dengan materi, gender laki laki/perempuan.(QS.112.Al-Ikhlas :1-4).

alif

Symbol ALIF :
Sedangkan symbol ALIF merupakan kata sandang “AL” atau dalam bahasa Indonesia adalah “SANG” atau dalam bahasa Inggris “THE”,yang mengejawantahkan bahwa ALLAH adalah dzat Maha Tersembunyi namun exis. Dan dari symbol ALIF memancar 99 asmaul Husna,yang huruf ALIF tersebut hanya satu karakter yakni bentuk karakter garis strip vertikal tunggal yang mempunyai makna rahasia paling rahasia yang direliefkan dalam beberapa awalan surat surat Al-Qur’an yakni ALIF-LAAM-RAA , ALIF – LAAM – MIM , yang setiap nama nama ASMAUL HUSNA selalu menggunakan kata sandang “AL”,yang dawalii dengan huruf Alif, kemudian ayat pertama turun diawali dengan huruf ALIF,yang setiap membaca ayat-ayat-Nya dimulai dengan Bismillah,sedang huruf bismillah diawali dengan karakter ALIF.

Selain ilaahun, dalam Al-Qur’an juga terdapat kata Rabbun yang digunakan untuk menyebut Tuhan. Kata rabbun terdiri atas dua huruf: ra dan ba, adalah pecahan dari kata tarbiyah, yang artinya Tuhan yang Mahapengasuh. Secara harfiah rabbun berarti Pembimbing, Pemelihara dan Pengendali.

A.PENERAPAN KALIMAT “AKU” :

Ketika Alloh menggunakan kata ganti diri-Nya dengan kalimat “aku/Ana”,maka dipergunakan untuk menegaskan kepemilikan dan sumber tuju atas segala sesuatu yang ada dialam semesta ini.Maka Allah Yang Maha berkuasa, tempat meminta dan berhak memberi sesuai kehendak-Nya.Tiada yang lain yang berkemampuan seperti ini,tidak ada libatan pengaruh maupun tekanan dari makhluk lain.Segala sesuatu yang langsung ditangani dibawah kekuasaan dan kekuatan-Nya.Inilah merupakan bentuk “LITTA’DZHIIM” (menunjukkan Keagungan dan Kebesaran seorang diri/Tunggal tanpa melibatkan unsur lain saat berkehendak).

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS.Adz Dzaariyaat : 56)

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”.(QS. 2. Al Baqarah:152).

B.PENGGUNAAN KALIMAT “ALLAH” PADA DIRINYA SENDIRI:

Lafaz Allah adalah lafzhul Jalalah, lafaz yang tidak dapat dirubah hurufnya dan diganti menjadi lafaz lain.Nama yang asing bagi bangsa Arab dan dunia sebelum datangnya Islam.Kosakata yang belum pernah ada sebelumnya.Dia sendiri yang menamai dirinya dengan ALLAH (QS.28:68-70).

Digunakan untuk menunjukkan jatidiri serta keberadaannya (existensi) untuk diketahui dan dikenal,bahwa Dia,Tuhan Sang Penguasa alam semesta dengan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat,yang tidak ada makhluq lainpun yang dapat menyamai Keagungan dan Kekuatan –Nya.Hanya kepada Allah saja semua makhluk mengabdi.

Contoh penggunaan kalimat yang menyebut Allah dengan nama dirinya sendiri:

يُظْلَمُونَ لا وَهُمْ كَسَبَتْ بِمَا نَفْسٍ كُلُّ جْزَىتُلِوَبِالْحَقِّ وَالأرْضَ السَّمَاوَاتِ اللَّهُ وَخَلَقَ

“Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan”. (QS.Al-Jaatsiyah : 22).

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.” (QS.Al-Israa’: 99).

C. PENGGUNAAN KALIMAT “DIA” :

Merupakan kata ganti yang menekankan kemutlakan dan “TANDINGAN”,atas lainnya,Digunakan untuk menunjukkan bahwa Dia,adalah Allah satu satunya Tuhan penguasa alam semesta dengan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat,yang tidak ada makhluq lainpun yang dapat mampu menandingi/menyamai Kemaha Mampuannya,tiada yang bisa disetarakan dengan-Nya dan hanya kepada Dia saja semua makhluk harusmenyembah.

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).”(QS.Al-Baqarah: 255).

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (Tunggal).” (QS.Al-Ikhlas: 1)

D. PENGGUNAAN KALIMAT “KAMI” :

Merupakan kata ganti yang menekankan sisi proses atas segala sesuatu yang dikehendaki dan terjadi menurut kekuasaan dan ke-Maha Kehendak-Nya. Digunakan untuk menunjukkan bahwa “KAMI”,adalah Allah satu satunya Tuhan penguasa alam semesta dengan kekuasaan-Nya,yang menetapkan,mengawasi dan mengendalikan sistem Qada-Qadar dan Takdir-Nya. Dan berjalannya sistem tersebut adalah melalui proses/ mekanisme/tahapan.

Allah mengadakan/menugaskan para wali-Nya,yakni para Malaikat,para Nabi , Rasul dan mekanisme alam semesta,untuk menyampaikan pesan/signal kehendak-Nya,petunjuk petunjuk-Nya,ilmu pengetahuan dan perintah serta larangan-Nya.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (QS.Al-Hujuraat: 13)

Maka maknanya bahwa Allah dalam menciptakan manusia setelah penciptaan langsung Adam,tidak satu persatu lagi secara langsung,melainkan melalui mekanisme biologis,yakni dimana proses manusia berkembang biak. Maka inilah RAHASIA bahasa AL-QUR’AN mengapa Allah Swt. menggunakan lafadz/kalimat “NAHNU (KAMI)”.

“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam”. (QS.Al-Anbiyaa’ : 107)

Kata Arsalna ( أَرْسَلْنَا ‘Kami mengutus’) berasal dari kata dasar “Arsala” أَرْسَلْ
(bermakna : mengutus, memberikan risalah, mengantarkan risalah).Sebagaimana penjelasan sebelumnya diatas, maka kata “KAMI” yang Allah Swt. maksudkan karena ADANYA PROSES PENGUTUSAN,atau adanya mekanisme pengiriman wahyu yaitu melalui “MALAIKAT JIBRIL” SEBAGAI PENGANTAR WAHYU ALLAH SWT,kemudian hingga sampai pada Rasul/Nabi nabi-Nya. Sebab tidak harus Allah berkehendak memberi petunjuk/risalah untuk manusia kemudian mengantarkan sendiri langsung ke makhluk-Nya. Makanya Allah Swt. menggunakan Kata “NAHNU” (KAMI).

Demikian maksud penerapan kata ganti “KAMI / NAHNU,selain sebagai bentuk penghormatan dan bermakna “kami” tunggal,juga menegaskan adanya mekanisme penugasan melalui para malaikat,para Nabi dan para Rasul rasul-Nya.

KESIMPULAN

ilm

Dari seluruh uraian mengenai kata ganti Allah,penyebutan Tuhan,Lord,Gusti maupun Pengeran dan lain sebagainya, telah dijabar dari berbagai sudut al-ilm, baik secara dalil ‘aqli maupun naqli.Artinya telah memenuhi standar ilmu pengetahuan yang bersumber dari Al-Qur’an,As Sunnah yang kemudian ditambah dengan penjabaran oleh para alim ulama yang luas pengetahuannya.Dan ketahuilah bahwa terjemahan kata “TUHAN” telah disebut sebanyak lebih dari 507 kali dalam ayat Al-Qur’an.

Maka,satu esensi dapat ditarik hakekatnya yakni :

1- Apapun nama nama lain Allah yang kita sebut dengan bahasa ibu pertiwi masing masing seperti yang telah diurai diatas saat kita berdoa,memohon,merintih,melolong berharap pertolongan Allah,maka tak bermasalah sepanjang penyebutan penyebutannya ditujukan dari keikhlasan hati dan niat suci hanya kepada Allah Ta’ala,bukan menuju yang selain Allah.Dan sepanjang penyebutan penyebutan nama lain Allah tidak bermakna buruk atau bernada pelecehan. Sedangkan menyebut Allah dengan panggilan lain menurut bahasa daerah yang familier seperti Gusti, Pengeran,Kang Murbehing Dumadi dan lainnya,maka tidak masalah sebab bermakna luhur dan merupakan sebutan kehormatan diwilayah budaya masing masing. Semua hanya ada dalam hati dan penyimpangan dari semua itu menjadi konskuensi individu.

-Uraian pengetahuan ini telah jelas dipapar.Manakala ada orang ataupun yang mendakwa dirinya ustadz,tokoh aim kemudian membuat tulisan tulisan menolak atau mengharamkan/melarang penyebutan Tuhan,Gusti dan Pengeran dan lain sebagainya dengan mendasari berbagai rangkaian dalil (kadang penerapan dalilnya dalil mentah) dengan argumen bahwa kata “Tuhan,Gusti,Pengeran” dan lainnya adalah tidak ada dalilnya serta dianggap berasal dari ajaran kafir,maka hal ini telah terbantahkan sebab penjabaran yang telah diurai diatas ini lebih komprehensif,lengkap,memenuhi seluruh aspek ilmu kaji serta hukum hukum syareat serta logika agama (Al-Hikmah). Maka tinggal penyerapannya diserahkan kepada para pembaca masing masing.

2. inilah salah satu tanda keagungan mengapa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.Jikalau Alquran itu diturunkan dengan semua bahasa, tentu akan banyak perbedaan penafsiran kata disetiap wilayah dan perubahan yang susah dipantau dan dideteksi kebenarannya.Jikalau Al-Qur’an di Indonesia dimusnahkan dan dibakar, akan datang jutaan Hafidz (Penghafal) Al-Qur’an dari seluruh penjuru dunia untuk menggantikannya dengan hafalan yang sama, surah yang sama, ayat yang sama, dan huruf yang sama. begitulah salah satu cara Allah Swt. menjamin kemurnian Al-Qur’an.

3. Inilah hikmah al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab. Nabi Muhammad SAW adalah orang arab, dan masyarakat di sekeliling Nabi adalah orang arab, mereka sangat arif dengan bahasa mereka, dan mereka faham apa yang diturunkan dalam bahasa mereka. Masalah berkaitan perkataan KAMI ini tidak timbul ketika itu, kerana mereka faham bahasa mereka, bahawa KAMI yang dimaksudkan bukanlah bermaksud jamak, tetapi membawa arti satu penghormatan dan keagungan, dan ia tetap merujuk kepada Tuhan Yang Tunggal.

4. Tafsiran-tafsiran yang dalam dan luas seperti ini tidak akan kita temukan dalam Al-Qur’an terjemahan DEPAG RI maupun yang digital.Oleh karena itu,hanya dengan melalui para alim Ulama Tafsir yang fasih yang luas ilmunya yang dapat menjabarkan Tafsir Al-Qur’an ini,yang menandakan betapa Ilmu Al-Qur’an /Ilmu Tuhan itu sangat luas,lebih luas dari samudera langit dan bumi.

5. ALLAH JUGA TUHAN UMAT KRISTEN YANG DISEBUT DALAM INJIL :

Ketika kebanyakan dari mereka umat Kristiani juga merasa anti serta risih menyebut nama Allah,yang dianggap sebagai bukan Tuhannya mereka dan dianggap tidak sesuai dengan iman mereka,maka bagamana mungkin hal ini bisa tetap terus dijadikan anggapan ? Sedangkan nama Allah adalah kalimat yang juga disebut dan menjadi istilah di dalam kitab suci Injil PL maupun PB,seperti yang telah diterangkan diatas.

6. JANGAN MEN-TUHANKAN DALIL :

Ketika berargumen,berdakwah,berorasi,berdebat dan menulis kemudian bersikeras yang paling benar dan lainnya salah,sesat,kafir dan murtad hanya mendasari segala sesuatunya tidak ada dalilnya,maka itu yang disebut mencari “PEMBENARAN” dan hal demikian itulah yang disebut “MEN-TUHANKAN” dalil,mengesampingkan aspek aspek hakekat Kemaha Besaran Allah. Sementara ketika mendasari pemikiran bahwa kebenaran itu harus terlihat menurut apa apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW sehari hari,maka mengapa orang orang yang seperti ini tidak mengikuti sunnahnya secara konskuen? Yakni mengapa masih memakai setelan jas,sarung,peci,celana levis? Sedang Rasulullah SAW tak pernah memakai jas,sarung dan celana levis.Apalagi sedan,apalagi beli elektronik TV,laptop,gadget android,dan lain sebagainya, yang notabene buatan dan budaya non muslim.

7. Namun demikian,kita juga jangan mentang mentang bahwa kata ganti Allah seperti Tuhan,Gusti,Pengeran,Lord dan lain sebagainya itu boleh dan sah diucapkan,tetapi jangan dijadikan prioritas kebiasaan atau bahkan malah mengganti sebutan Allah dengan yang lain dan melupakan penyebutan ALLAH sama sekali, sebab kalimat Allah lebih utama dan unggul dibanding sebutan sebutan selain Allah.

Semoga menjadikan renungan di sanubari terdalam.

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Lembah Duren Sawit,11 Juli 2013 – 16 desember 2014

CopyRights@2013

Reff :
-Al-Qur’an terjemah DEPAG RI

http://teaching4muallaf.blogspot.com

http://www.muslim-menjawab.com

http://imanulhassan.blogspot.com

– TafsirIbnu Katsir, Tafsir Al Jalalein

– TafsirAl Mishbah, dari Prof. DR. Quraisy Shihab
http://www.arrahmah.com/read/2012/12/10/25356-kontroversi-kata-tuhan.html
-http://quran.al-shia.org/id/lib/101.html
-http://mudamudimuslim.blogspot.com/2011/12/benarkah-penyebutan-kata-tuhan-allah.html
-http://www.mukminun.com/2013/12/pengertian-rabb-dalam-al-quran-dan-as.html#_
-http://tausyah.wordpress.com/2010/07/10/benarkah-nama-tuhan-adalah-allah/
https://farisna.wordpress.com/2011/06/19/penyebutan-gusti-allah-dan-kanjeng-nabi/
-http://katolisitas.org/1800/tentang-sebutan-tuhan-allah-dan-yahweh-samakah

ILMU TORIQOH atau TAREKAT, ILMU JALAN SAMPAI KEPADA TUHAN

ILMU TORIQOH atau TAREKAT, ILMU JALAN SAMPAI KEPADA TUHAN

Logoyrsa

bismillah

tarekat 4

KENALI ESENSI TAREKAT

ANTARA AMALAN, ANTARA RITUAL, ANTARA IBADAH DAN ANTARA JALAN RAHASIA UNTUK SAMPAI PADA TUHANNYA

“WANITA BERSUAMI YANG MASIH MENGEMBAN FUNGSI TANGGUNG JAWAB RUMAH TANGGANYA, SEBAIKNYA JANGANLAH LARUT DALAM KEGIATAN TAREKAT BERBAI’AT, TANPA KOMPROMI DENGAN SUAMI / KELUARGA”

Pernah mendengar kata-kata “TAREKAT” seperti judul tulisan yang tersebut diatas? Atau justru anda adalah pelaku / pengamal Tarekat fanatik dari salah satu organisasi Tarekat? Atau masih samar-samar akan pengetahuan dan pemahaman tentang Tarekat ?
Maka bagi yang benar-benar belum mengetahui tentang ilmu Tarekat, semoga tulisan ini dapat mengawali pengetahuan tentang hal itu. Dan bagi yang telah familier serta rajin menjalankan amalan-amalan Tarekat, bahkan aktif dalam organisasi ketarekatan, maka semoga paparan berikut dapat semakin mengisi cakrawala ilmu pengetahuan ketarekatan. Sementara bagi yang masih samar-samar atau setengah-setengah dalam pengetahuan tentang Tarekat, maka semoga penjabaran ringkas berikut ini dapat menambah kejelasan dan pengetahuan serta dapat menjadikan inspirasi, alternatif dalam  memperbanyak amalan shalihan, beribadah mengabdi kepada Tuhannya secara ikhlas.

BERBAGAI JALAN MENUJU TUHANNYA, ANTARA REALITA DAN PROBLEMATIKA

Sepertinya telah sering kita saksikan disekitar kehidupan kita, baik melalui media maupun menyaksikan langsung, banyak dari sekelompok umat islam dalam menjalankan ritual keagamaan, dalam mengamalkan amalan ibadah tertentu secara berjama’ah, tampak dengan begitu khidmat saat berdzikir menggeleng-gelengkan kepala dengan ritme spesifik secara dinamis, ke kanan ke kiri, ke atas ke bawah, kemudian seluruh badan dan kepala terselubung rapat oleh kerudung / kain putih atau berseragam tertentu, seraya tak lepas jari-jemarinya menghitung bulir-bulir tasbih diiringi gemuruh gumam do’a dan sholawat hingga ribuan kali. Begitu khusyu’ dan berkonsentrasi tinggi tanpa peduli dengan urusan lain. Begitulah cara para salik mencari jalan sampai kepada Tuhannya dan mempersembahkan bakti untuk Tuhannya.

Sementara dapat juga kita saksikan bagaimana dari komunitas lainnya begitu kuat dan fanatik dalam melakukan amalan amalan tertentu menurut faham yang dianut dan diyakini masing masing. Ada yang khsusyu’ menjalani tirakatan berhari hari bahkan bulanan dengan mengabaikan kondisi diri, berprihatin diri, menjauh dari gemerlap duniawi. Ada juga yang lebih ekstrim dalam menjalankan amal bakti, berjihad kepada Tuhannya dengan rela mengorbankan harta maupun jiwa.

Sementara sering kita lihat di media ketika pemerintah mengumumkan penentuan hari Raya Iedul Fitri ataupun Hari Raya Qurban, maka ada kelompok tertentu atau jama’ah Tarekat tertentu di wilayah Jawa, Aceh, Sumatera Barat, Sulawesi dan wilayah lainnya ada yang merayakannya dua hari sebelum maupun ada yang merayakan dua hari setelah penentuan yang ditetapkan oleh pemerintah karena masing masing mempunai faham dan keyakinan tersendiri. Begitulah berbagai ragam cara manusia menyembah, mengabdi dan mencari jalan menuju kepada Sang Khalik, berlomba-lomba berburu ridho Allah. 
Saat-saat hari tertentu pula kita maklumi terdapat jama’ah majelis dzikir, tarekat mengadakan pengajian yang dibimbing oleh seorang guru atau syeikh yang dikenal dengan istilah ‘selapanan, mujahadahan atau tawasulan’. Kesan execlusive tampak kental mewarnai jama’ah jama’ah ini dengan berpakaian seragam tertentu, rapat dengan gamis serta sorban atau ikat kepala serba hitam, sementara kelompok lainnya ada yang putih-putih dan sebagainya. Itulah ciri jama’ah tarekat. Di Indonesia kelompok jama’ah tarekat terbilang berciri moderat atau lebih tampak menampilkan acara-acara ritual yang damai dan cenderung berkonsentrasi di tempat-tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota. Namun di sebagian wilayah negara di Timur Tengah, kelompok jama’ah tarekat banyak yang melaksanakan ritual ekstrim di keramaian orang banyak, seperti ritual mencambuk-cambuk / melukai badannya sendiri hingga berdarah.

“WANITA BERSUAMI YANG MASIH MENGEMBAN FUNGSI TANGGUNG JAWAB RUMAH TANGGANYA, SEBAIKNYA JANGANLAH LARUT DALAM KEGIATAN TAREKAT BERBAI’AT, TANPA KOMPROMI DENGAN SUAMI / KELUARGA”

Bagi sebagian kelompok umat, pelaksanaan Tarekat telah menjadi amalan baku dan dapat menjalaninya dengan lancar tanpa masalah. Hal tersebut terutama bagi insan-insan berkeluarga yang benar-benar telah memahami ilmu pengetahuan bertarekat. Namun bagi kelompok keluarga yang diantara anggota keluarga tersebut ada yang tidak setaraf ilmu pengetahuan Tarekatnya, maka akan banyak menimbulkan masalah, apalagi bagi yang hanya sekedar ikut-ikutan atau hanya karena faktor diajak pengajian oleh rekannya namun tidak tahu kalau kelompok pengajian yang diikutinya tersebut adalah pengajian dari salah satu organisasi Tarekat. Hal ini lazim terjadi ditengah-tengah keluarga kita dan di sekitar lingkungan kita. Biasanya ibu-ibu rumah tangga begitu antusias mengikuti ajakan rekan tetangga atau teman maya mengikuti pengajian pada seorang guru / Syeikh ke suatu tempat jauh kadang diluar kota hingga harus menginap, meninggalkan anak / suami. Begitu pulang langsung hari-hari disibukkan dengan bacaan-bacaan wirid sekian ribu kali, puasa ini, puasa itu selama berhari hari bahkan berbulan bulan, hingga sering terjadi problem rumah tangga karena suami kesal sang istrinya banyak lalai / meninggalkan tanggung jawab fungsi sebagai ibu rumah tangga yang semestinya. Keluarga, anak tak diperhatikan / tak terurusi namun justru sibuk dengan ritual-ritual yang ditekankan oleh majlisnya tersebut setiap hari. Demikian juga sebaliknya ada suami yang meninggalkan keluarganya berhari-hari tanpa kompromi yang jelas dan tanpa memikirkan kebutuhan ekonomi bagi keluarga yang ditinggalkannya dalam perkara yang sama.

Maka sebaiknya bagi wanita bersuami / ibu rumah tangga yang kapasitas dan tanggung jawabnya sangat dibutuhkan untuk keluarganya, semestinya janganlah larut sibuk mengamalkan ritual-ritual tarekat berbai’at setiap harinya tanpa ijin dan kompromi dengan keluarga / suami, apalagi taqlid buta terhadap ritual ritual tersebut. Sebab jika hal demikian tetap dilakukan dengan alasan keyakinan / keimanan buta menurut prasangka pribadi sendiri, maka sungguh akan banyak mendapatkan mudharat daripada manfaat yang lebih besar.Ibarat menangguk air dengan keranjang bolong.
Sementara disisi lain sangat disayangkan dari guru pembimbingnya sendiri (tidak semua-red.), yang berorganisasi dan menjalankan / memimpin Tarekat lembaga, dengan banyak anggota / jama’ahnya tidak memperhatikan akan perkara ini yaitu apakah jama’ahnya dalam kondisi sedang memikul tanggung jawab keluarganya atau tidak, malah kadang langsung main “Bai’at” saja, tanpa memberikan pemahaman akan esensi tarekat yang sesungguhnya. Atau tak ditanya apakah masuk tarekat hanya ikut-ikutan atau karena telah berpengetahuan.

Salah satu contoh komunikasi bijak seorang guru pembimbing dengan calon jama’ah perempuan:

“Ibu, Jika ibu masih banyak tugas dan tanggung jawab dalam keluarga, masih menyusui, masih ngurusi pekerjaan rumah tangga, masih ngurusi anak / suami silahkan ibu pulang kembali dan amalkan tarekat bersama keluarga saja dirumah, sebab melaksanakan tugas dan kewajiban seorang istri, taat dan mematuhi suami adalah sama nilainya dengan bertarekat juga.”

Cobalah renungkan perkara ini.

Baik sobat budiman Nusantara,
Mari kita gali lebih dalam pengetahuan tentang TAREKAT ini. Tulisan ini penulis persembahkan kepada ikhwan fillah sebangsa setanah air dalam maksud menambah cakrawala pengetahuan dan pemahaman akan nlai-nilai agama agar dapat menjadikan referensi, inspirasi, penambah keimanan dan kecerdasan pikir dalam menjalani kehidupan, beribadah mengabdi kepada Sang Maha Pencipta. Dan tulisan ini tersusun dan terangkum berdasarkan pengamatan, pengalaman, pengelanaan dan mengaji langsung dengan Ulama / Kyai, serta digali dari berbagai sumber.

MAKNA DAN ESENSI TAREKAT

 tarekat 2

TINGKATAN / JENJANG ILMU DAN AMALIAH ORANG MUKMIN DALAM KEILMUAN AGAMA :

Sebelum melanjutkan risalah tentang memahami ilmu tarekat, maka mari kita renungi makna islam dan kedudukannya terlebih dahulu.

Makna Islam itu adalah Ad-dinul islam yang terdiri dari tiga pilar, yaitu meliputi: nilai nilai agama islam itu sendiri (Ad-dien Al-Islam),  nilai nilai Keimanan (Al-Iman) dan nilai nilai kemuhsinan / selalu mengadakan perbaikan (Al-Muhsin).

Itu yang dimaksud makna islam secara keseluruhan yaitu meliputi substansi dan filosofinya (nilai dan orangnya). Sehingga pelaku / pemeluknya tidak dapat meninggalkan dari salah satunya.

Oleh karena itu bagi golongan MUSLIMIN belum termasuk katagori islam kafah jika hanya mengaku secara dzahir saja. Maka hanya akan menjadi Umat Islam rata rata (awam), yaitu orang orang yang mengaku beragama islam, yang sekedar bersyahadat dan sekedar menjalankan ibadah mengikuti syareat saja.

-Dalam Ayat Al-Qur’an dikatakan: “Kami telah beriman“. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah berislam (tunduk)’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”. (QS. Al Hujuraat [49] : 14)

Oleh sebab itu pula untuk memasuki agama islam yang sesungguhnya, maka seorang islam juga harus BERIMAN, barulah akan masuk ke dalam katagori golongan MUKMININ, adalah orang orang yang menjalankan agama islam secara keseluruhan baik lahir maupun batin, yaitu : Ibadahnya dilaksanakan secara lahir dan batin (sampai qalbu), kemudian dibuktikan dengan amal perbuatan nyata sehari hari secara lahir dan batin pula. Sebab iman itu adalah perkara hati, yakin benar dari hati. Maka penjabaran iman itu adalah: Tasdiqu bil qolbi (diyakini dalam hati), Iqrou billisan (diucapkan dengan lisan), Amalu bil arkan (diwujudkan dengan perbuatan),

(Al-Imanu yazid wa ya’us (iman kadang naik kadang turun, Yazid bit tho’ah wa ya’us bil maksiat naik dengan ketaatan dan turun karena kemaksiatan).

Ayat tentang  golongan islam dengan keimanan:

”Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh” (QS. An Nisa’ : 57).

Kemudian setelah berislam dan beriman dengan baik, maka seorang muslimin dan mukminin juga harus MUHSININ. Adalah orang orang yang memperbagus ibadah dan amalannya. Muhsin ada dua tingkatan :

  1. Musyahadah yaitu seseorang beribadah kepada Allah, seakan-akan dia melihat dan diperhatikan Allah.
  2. Muraqabah yaitu seseorang beribadah kepada Allah, seakan-akan dia berada dekat dengan Allah dan merasa Allah menilainya.

(Silahkan renungi Ayat ayat Al-Qur’an: 2:195, 3:134, 3:148, 5:13, 5:93).

Note: Untuk memahami lebih dalam penjabaran Islam-Iman dan Muhsin, silahkan mengaji lebih banyak kepada para alim ulama, ustadz atau guru spiritual terdekat disekeliling wilayah anda tinggal.

Berikutnya setelah seorang islam dengan kriteria diatas tersebut terus melakukan upaya perbaikan dan menambah kualitas keislamannya, maka akan menghasilkan tingkatan / maqam seorang islam dengan penjabaran sebagai berikut:

TANGGA ILMU DALAM ISLAM

Ilmu pengetahuan / intelektualitas (ilmu yang telah dicapai seseorang) itu bersifat individu. Berikutnya tinggal menilai bobot / kualitasnya, maka akan terkait pada pendalaman masing masing, Oleh karena itu pula antara satu individu dengan individu lainnya akan berbeda pemahamannya / pemikirannya, sesuai daya serapnya.

Sedang jenjang / tingkatan ilmu keislaman itu, populer dengan istilah sbb:

  1. Ilmu SYAREAT

-Adalah Ilmu kerangka, pedoman dasar / S.O.P, yang bersumber dari Al-qur’an dan As-sunnah, meliputi ilmu tafsyir, fiqih, nahu, balaghah, mantik, adab islam, dsb).

  1. Ilmu HAKEKAT

-Adalah tingkat ilmu  hati (qalbu, nurani), esensi (jati diri), filosofi, kesadaran siapa diri. (Kesadaran mengaplikasikan keislaman dan keimanan dari sisi dzahir dan qalbu)

  1. Ilmu MA’RIFAT
-Adalah tingkat ilmu orientasi, ilmu dedikasi, ilmu tujuan, ilmu bakti, ilmu untuk sampai pada Allah (Wushul).
(Note: Untuk ilmu Hakekat dan Ma’rifat, serta panduan Tareqat ada kitab / literaturnya sendiri, berikut tatacara pengamalannya dan lafaz lafaz dzikr serta ritualnya. Dalam pustaka dan merupakan kurikulum baku untuk Majelis As-shalihin. Ilmu pengetahuan ini tidak diajarkan secara akademis di dunia  pendidikan formal).

Dari tingkatan keilmuan tsb akan menghasilkan tingkat / level keilmuan seseorang, yang berkait paut dengan bobot pemahaman / kadar nalar / daya serap masing-masing, dengan jabaran sbb:

1.Orang yang hanya memahami atau mengaplikasikan ilmu SYAREAT saja :

  1. Orang dengan tingkat ini, pemahaman menjalankan agama sebatas memenuhi kewajiban syareatnya saja (wajib dan Sunnah).
  2. Golongan ini melahirkan maqam/ kedudukan: Sebagai pengikut (folower, jamaah) saja, yang tingkat keilmuan dan pemikirannya cukup hanya mengikuti apa yang didengarnya, apa yang didapatinya, apa yang diperintahkan oleh para ulamanya, para gurunya, alirannya dan apa yang dihapalnya.
  3. Pada tingkat ini, orang sudah bisa menjadi Guru, ustadz, penceramah, pemimpin do’a / imam shalat, yang penting banyak tahu / hapalan amalan amalan, ayat, hadits maupun fiqih atau ang penting lancar bahasa Arabnya.
  4. Pada tingkat ini, biasanya praktis berpikir tektual (mendasari segala sesuatu mutlak harus dengan dalil, gampang menyalahkan ini, itu dan mudah terjebak dalam lingkaran emosi perdebatan, perbedaan)
  5. Umat tingkatan ini cenderung taqlid buta dengan faham sektarian, mazab, dengan aliran, organisasi (kultus individu), mudah terprofokasi, mudah tersulut emosi, mudah ikut ikutan.
  6. Dll
  • Note: Pada tingkat ini, seseorang mustinya terus meningkatkan keilmuannya, jangan merasa diri cukup (Al-istighna).

2.Orang yang telah mencapai pemahaman HAKEKAT, yakni:

  1. Orang yang telah mencapai tingkat kesadaran lahir dan batin dalam menjalankan syareat, dalam beribadah dan dalam memahami hakekat siapa diri dan untuk apa diri.
  2. Golongan ini akan berpikir dan berfaham lebih mendalam dan meluas dari sekedar hukum wajib dan sunnah.
  3. Pada tingkat ini, orang cenderung akan mudah memahami setiap perkara dan peristiwa yang terjadi.
  4. Berdakwah, berargumen (hujjah) mendasari dengan ilmu dan kecerdasan.
  5. dll

3.Hamba Allah yang tengah mencari atau telah memahami jalan MA’RIFAT, yakni:

  1. Pada tingkat awal disebut SALIK (seorang yang sedang menjalani kesufian). Golongan ini akan mengaplikasikan syareat dan hakekat dengan baik, semakin hati hati dan semakin takut dengan kaidah kaidah syareat dan hakekat.
  2. Hamba Allah pada tingkat ini, akan menjalani hidupnya, ibadahnya, amaliahnya dengan melakukan tareqat tareqat ekseklusive, banyak wirid dan berdzikir, gemar bersedekah, tidak pelit dan tidak nafsu menumpuk numpuk harta, tidak memburu pangkat / jabatan / pamor.
  3. Pada tingkat ini, orang akan mengaplikasikan hidup, dedikasi dan bakti, seluruhnya ditujukan semata untuk Tuhannya, tidak berpamrih.
  4. Pada tingkat ini, orang akan mengabaikan apa yang terjadi pada dirinya, sudah tidak memikirkan besok mau dapat apa, mau makan apa, mau kerja dimana.
  5. Berdakwah dengan jalan hikmah, sesuai dengan hidayah (bukan maunya sendiri) dan selalu menghindar dari perbuatan perbuatan sia sia.
  6. Ciri ciri : Hati hati dalam bersikap dan berbuat, sabar, tawaduk, za’uk, kona’ah, fathonah, istikomah,
  7. Dsb

DARI SESEORANG YANG BERUSAHA MENGAPLIKASIKAN KETIGA TINGKATAN TERSEBUT DIATAS, MAKA AKAN MELAHIRKAN MAQAM :

  1. ORANG ORANG ULUL ‘ILMI (orang yang berpengetahuan),
  2. ULUL ALBAB (orang yang berilmu dan bijak),
  3. ULUL ABSYAR (orang yang berpandangan tajam), dsb.

Realitas kebanyakan yang terjadi:

  1. Masih dalam tingkat pengetahuan Syareat namun merasa sudah diatasnya.
  2. Orang sudah merasa mencapai ilmu Hakekat atau Ma’rifat, tapi tidak mengaplikasikan, tidak menjalankan atau mengabaikan ilmu syareat
  3. Merasa telah mencapai ilmu Hakekat dan Ma’rifat, namun masih suka angkara murka, masih melakukan perbuatan keji, masih suka terjerumus ke dalam perdebatan bodoh, masih suka menebar, membalas berita berita hoax, masih  terlibat urusan politik mendukung ini, itu dan masih suka berkata dusta, dsb.
  4. Merasa telah menjalani ilmu Syareat, Hakekat dan Ma’rifat namun tidak dengan atau tidak menggunakan piranti TAREQAT yang baik. (Tareqat adalah: Tehnik / cara / jalan sampai menuju Allah).
  • Contoh: Menjalankan ibadah, mengamalkan amalan, ritual, amaliah dan kebaktian tidak dengan tata cara atau tidak mengetahui caranya, tidak dengan adab serta tidak dengan bimbingan seorang guru mursyid (menurut angannya sendiri).
  • Note: Ilmu Tareqat ada penjabarannya sendiri.

Mereka mereka yang tetap berada pada alam Al-istighna akan menemui / memasuki lorong lorong pekat (Az-zhulmun) di dalam goa goa At-taqlid faham sektarian, aliran dan mazab yang penuh dengan tirai jebakan yang direnda dengan benang benang dalil,  dan tafsyir, yang bisa mengarah pada jalur kesesatan (Az-zhur),

Sehingga  tak heran antar golongan Al-istighna ini seringkali mengalami benturan pada dinding dinding faham sektarian, aliran dan mazab.

Maka banyak umat yang tak pernah menemukan ujung lorong dalam goa tersebut dan itu membuat semakin jauhnya dari menemukan cahaya-Nya. Hasilnya, adalah luka tersayat oleh kerikil kerikil adu debat dalil, tafsyir dan yang direalisasikan dengan perdebatan absurd (debat kusir), mudah terjebak ke dalam lingkaran fitnah dunia.

Demikian pula bagi mereka yang terdampar digurun hakekat tanpa perbekalan dan peta syareat guna petunjuk, alat, kompas dan nafigasi yang cukup terlebih dahulu, maka ia akan menghadapi badai dan sengatan matahari gurun hakekat yang membekukan dan menghanguskan jiwa diri.

Pohon pengetahuan (Sajaratu al-‘ilm)

Sajaratu Al-ilm

PANGKAT DAN KEDUDUKAN UMAT ISLAM DAN MANUSIA DISISI ALLAH SWT

Ini adalah manajemen Allah, penjabaran sebagai berikut :

  1. Telah diketahui bahwa makna islam adalah nilai nilai agama islam (Ad-dien Al-Islam) yang dalam kesatuan nilai nilai Keislaman, Keimanan dan kemuhsinan.
  2. Sedang yang disebut golongan umat Islam adalah golongan umat yang memilih Islam menjadi agamanya / anutannya, kemudian ia melaksanakan keislamannya itu dengan benar benar berislam, beriman dan berMuhsin secara kaffah (total). Yang kemudian masing masing akan mendapatkan pangkat, kedudukan keislamannya yang beragam dihadapan Allah Swt, sesuai dengan bobot amal ibadah serta pengabdian kepada-Nya.
  3. Sedang pangkat dan kedudukan keislaman seorang muslim itu dapat diraih melalui jalur tahapan pencapaian ilmu syareat-Hakekat dan Makrifat yang dijalankan dengan cara (tareqat) yang baik dan benar.
  4. Sedang bobot amal ibadah serta pengabdian seorang muslim kepada Allah Swt itu ditentukan oleh seberapa besar ia mengimplementasikan amalan amalan ibadahnya dalam kehidupan sehari harinya.
  5. Sedang Bentuk implementasi amalan ibadah dan pengabdian kepada Allah Swt untuk setiap umat islam adalah terbagi dua macam, yaitu : Amal ibadah secara Hablum minallah dan Hablum minannaas. , bagaimana : Syahadatnya (Aqidahnya), Shalatnya, Zakat dan sedekahnya, Puasanya serta nili nilai Hajinya.
  6. Sedang Hablum minannaas adalah bentuk sikap pengabdian kepada Allah swt dengan implementasi laku perbuatan yang penuh kemanfaatan bagi diri serta orang lain serta lingkungan alam semestanya.

Maka dari semua nilai nilai keislaman dan kedudukannya masing masing yang dapat dicapai oleh seorang pencari Tuhan (sufi), Allah membaginya dalam golongan golongan sebagai berikut:

PANGKAT MANUSIA GOLONGAN KANAN

  1. GOLONGAN SHALIHIEN
  2. GOLONGAN SHABIRIEN
  3. GOLONGAN MUKHLASIN
  4. GOLONGAN MUHSININ
  5. GOLONGAN TA’IBIEN
  6. GOLONGAN MUHTADIEN golongan orang orang yang telah mendapat petunjuk-
  7. GOLONGAN SHIDDIQIEN Adalah golongan orang orang yang teguh dalam mengikuti kebenaran, dari Al-Qur’an, kebenaran para nabi….(QS.An-Nisaa:69-70)
  8. GOLONGAN MUTTAQIEN
  9. GOLONGAN MUFLIHUUN Adalah golongan orang orang yang beruntung.

Lawannya adalah : PANGKAT MANUSIA GOLONGAN KIRI:

  1. GOLONGAN MUSYRIKIN (Menyekutukan Allah)-QS.Al-Baqarah:276
  2. GOLONGAN KAFIRIN (Ingkar dan durhaka)
  3. GOLONGAN FASIQIEN (berbuat keji)-QS.83:12,QS.2:99
  4. GOLONGAN KADIBIEN (pendusta)
  5. GOLONGAN MUNAFIQIEN (Khianat)-QS.2:8
  6. GOLONGAN MUFSIDIEN (perusak, suka membuat kerusakan)-QS.5:64
  7. GOLONGAN MU’TADIEN (melampaui batas)-QS.2:190
  8. GOLONGAN DZALIMIEN (berbuat aniaya)-QS.Fathir:32
  9. GOLONGAN MUJRIMIEN (pendosa)
  10. GOLONGAN GHADIBIEN (terkutuk)
  11. GOLONGAN KHASIRIEN (merugi) QS.An-Nahl:107-109

Kesimpulan sekali lagi pada makna islam dan kedudukannya, yaitu :

Dari keterangan yang telah diurai diatas bahwa dalam Islam telah dikenal adanya tahapan/ jenjang / derajat keilmuan dalam menjalankan amaliah agama yakni :
-Tahapan SYAREAT dan HAKEKAT dan MAKRIFAT.

Maka, ketiga jenjang amaliah ini harus diaplikasikan dengan metode yang benar, yakni dengan TORIQOH / TAREKAT yang benar. Orang menjalankan Syareat musti harus dengan TAREKAT yang benar, demikian juga orang menjalankan HAKEKAT musti harus dengan TAREKAT yang benar pula, demikian juga seorang salik dalam usaha menjalankan laku MAKRIFAT, maka musti harus dengan TAREKAT yang benar pula.

(Sementara tingkatan Ma’rifat adalah tingkatan halus dan lebih spesifik dari jenjang Syareat dan Hakekat, sebab merupakan pangkat (maqam) execlusive pemberian Allah (hak prerogativ Allah) kepada hamba-Nya tertentu yang dikehendaki-Nya). Artinya, belum tentu pasti seseorang yang mencapai jenjang Syareat dan Hakekat langsung otomatic mencapai / menguasai “Makrifat”. Tidak demikian. Namun yang jelas bahwa jika seseorang yang dengan ikhlas menjalankan syareat, hakekat maka insyaAllah ia akan menuju TAQWA). Kemudian bahwa kita tidak dapat mengukur prosentase seseorang itu telah mencapai tingkat hakekat maupun Makrifat sampai seberapa tinggi, sebab itu hak Allah, manajemen Allah dan rahasia Allah dan kita hanya diperintahkan untuk menambah, memperbaiki, berusaha meningkatkan jenjang keimanan secara terus menerus.

DARI URAIAN TINGKATAN KEILMUAN KEISLAMAN TERSEBUT, DISIMPULKAN DEFINISI RINGKASNYA, sebagai berikut:

  1. ILMU SYAREAT Adalah Ilmu kerangka, pedoman dasar, adalah dimensi amaliah (perundang-undangan) dasar, (S.O.P), yang bersumber dari Al-qur’an dan As-sunnah, meliputi ilmu Qalam (Mu’taqod / Aqidah), tafsyir, fiqih, nahu, balaghah, mantik, adab islam, dsb).
  2. Sementara ILMU HAKEKAT (Esensi)

    a-Adalah tingkat ilmu  hati (qalbu, nurani), esensi (jati diri), filosofi, kesadaran siapa diri. (Kesadaran mengaplikasikan keislaman dan keimanan dari sisi dzahir dan qalbu).

    b-Adalah dimensi titik tujuan yang dapat membuka kesadaran pemahaman secara global, atau tingkatan yang dapat mejadikan orang memahami makna kehidupan dan agama serta Tuhannya.

  3. Sedang lmu MA’RIFAT

    -Adalah tingkat ilmu orientasi, ilmu dedikasi, ilmu tujuan, ilmu bakti, ilmu untuk sampai pada Allah (Wushul)

  4. Sedangkan ILMU TAREKAT adalah dimensi cara pengamalannya (metode / jalan sampai kepada Allah),

Note: Maka, Syariat laksana baju sedangkan hakikat ibarat badan, sedang Makrifat adalah performen rasa. (Orang mengenakan baju harus dengan cara, demikian juga orang merawat badan juga harus dengan cara, dan orang dapat merasakan citra juga harus dengan cara). Dan Tareqat atau cara atau jalan, itu ibarat sebuah kendaraan. Seseorang mempunyai sebuah kendaraan mewah, alat komplit, bahan bakar full. Kemudian berencana atau ingin pergi ke sebuah kota harapan, namun ia tak memiliki seorang sopir/pengemudi handal untuk menjalankan kendaraan tersebut. Apa yang terjadi? tentu keinginannya tak pernah kesampaian sebab kendaraannya tidak jalan. Atau kita hanya duduk saja didepan kemudi karena tak bisa menyopir, kita hanya bergumam sendiri membayangkan kendaraannya melaju sedang keadaan kendaraan dalam posisi tak dikontak, tidak dihidupkan, tidak mengoper porsneling hanya gerendeng bersuara mulutnya saja, “bremmm….bremmmm….bremmmm….. “. Maka apa yang terjadi? Adalah kedaraan tersebut tak akan pernah melaju alias berhenti ditempat sampai kiamat. Begitulah gambaran orang berislam, beribadah tetapi tidak memahami tata caranya.

Berikutnya, jika dianalogikan ke dalam tataran bahasa akademis, maka Syareat merupakan ilmu Praktis, Tarekat adalah Metodologis, Haqeqat adalah Teoritis, sedangkan maqam Ma’rifat adalah dimensi Filosofis.

Imam Malik mengatakan bahwa seorang mukmin sejati adalah orang yang mengamalkan syariat dan hakikat secara bersamaan tanpa meninggalkan salah satunya.

Adagium populer : “Hakikat tanpa syariat adalah kepalsuan, sedang syariat tanpa hakikat adalah sia-sia (kosong tak berkualitas).”

Imam Malik berkata, “Barangsiapa bersyariat tanpa berhakikat, niscaya ia akan menjadi fasik (mudah terjebak dalam kejahiliyahan). Sedang yang berhakikat tanpa bersyariat, niscaya ia akan menjadi zindik (mendustai agama) .Barangsiapa menghimpun keduanya [syariat dan hakikat], ia benar-benar telah ber-hakikat.”
*Syariat adalah hukum-hukum atau aturan-aturan dari Allah yang disampaikan oleh Nabi untuk dijadikan pedoman kepada manusia, baik aturan ibadah maupun yang lainnya. Apa yang tertulis dalam Al-Qur’an hanya berupa pokok ajaran dan bersifat universal, karenanya Nabi yang merupakan orang paling dekat dengan Allah dan paling memahami Al-Qur’an menjelaskan aturan pokok tersebut lewat ucapan dan tindakan Beliau, para sahabat menjadikan sebagai pedoman kedua yang dikenal sebagai hadist. Ucapan Nabi bernilai tinggi dan masih sarat dengan simbol-simbol yang memerlukan keahlian untuk menafsirkannya.

Tarqat

KAJIAN ILMU TAREQAT

Tarekat berasal dari kata “Toro – Thariqah” yang berarti jalan.Tarekat adalah jalan-jalan yang ditempuh para sufi sebagai jalan yang berpangkal dari syariat sebab jalan utama disebut syar’, sedangkan anak jalan tersebut thariq. Kata turun ini menunjukkan bahwa bagi para sufi, dimensi keruhanian merupakan cabang dari jalan utama yang terdiri dari hukum ilahi, tempat berpijak bagi setiap muslim. Tidak mungkin jika ada anak jalan /gang,bila tidak ada jalan utama tempat berpangkal.Dimensi kebatinan seseorang tidak mungkin diraih bila perintah syariat yang mengikat itu tidak ditaati.
Jika seorang yang mengaku muslim namun hanya sekedar menjalankan perintah agama secara standar saja, (asal memenuhi kewajiban), maka ia dalam katagori bersyareat saja. Sedangkan bagi seseorang yang telah berpengetahuan syareat kemudian ingin meningkatkan qualitas ibadahnya serta berniat ingin mencari jalan mendapatkan ridho Tuhan maka ia telah memasuki tahapan lanjutan dalam agama yakni ber-HAKEKAT. Inilah jalan yang harus ditempuh oleh seorang calon sufi agar ia berada sedekat mungkin dengan Allah.
Namun jika seseorang yang mengaku muslim hanya menjalankan dimensi hakekat saja dengan mengabaikan Syareat, maka itu sebuah kedustaan belaka. Dan jika seseorang hanya taqlid mempelajari / mengamalkan dimensi Hakekat tanpa belajar / mengetahui dan memenuhi batasan batasan syareatnya, maka ia akan mengarah pada jalur kesesatan.

HUBUNGAN ANTARA TAREKAT DAN TASAWUF :

tarekat 1

Tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tarekat itu adalah cara dan jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian ,Tarekat dan Tasawuf adalah jalan atau cara yang ditempuh oleh para salik (pelaku tarekat dan tasawuf) untuk mendekatkan diri pada Allah, dalam rangka melaksanakan perintah Allah. Seperti dalam surat Al-maidah : 35 ,

“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS.Al Maidah: 35).

Maka Tarekat ada dua katagori :
1.TORIQATU AMALIAH  أمالية طريقة (Tareqat Praksis atau amaliah dan ibadah standar sesuai syar’i)
2.TORIQATU JAM’IYAH  الجماعة طريقة (Tareqat LEMBAGA dibawah bai’at seorang guru mursyid)

-Tarekat Amaliah adalah tarekat yang tidak berkaitan dengan kelembagaan yang sengaja dibentuk / diikuti dengan mengamalkan suatu ritual-ritual yang diajarkan oleh seorang Guru / Syeikh tertentu, melainkan amalan-amalan baku yang seseorang secara personal  maupun bersama sama dengan jama’ah majelis ta’lim, kemudian menjalankannya dengan khusyu dan ikhlas setiap harinya dengan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW yang bersumber / berpedoman pada syareat dan as sunnah (Al-Quran dan Al-Hadits), yang cara-cara menjalankan dan pengamalan ibadahnya didapat dari mengaji / diajarkan oleh para guru ngaji / Ustadz, dari pesantren, dari sekolah, dan umum lainnya, kemudian ia terus berupaya meningkatkan kualitas amalannya.

-Sedangkan Tarekat Jam’iyah adalah menjalankan amalan-amalan ibadah yang diikat dengan berbai’at dan tata cara pengamalannya dilakukan dengan cara-cara tertentu berdasar bimbingan seorang guru mursyid / Syeikh yang tergabung ke dalam suatu lembaga / organisasi ketarekatan yang eksklusif. Kemudian tiap tarikat mempunyai syaikh, upacara ritual, dan bentuk zikir, wirid tersendiri serta memiliki alur silsilah ahli tareqat masing masing hingga berujung pada wali kutub As-Saikh Abdul Qadir Al-Jaelani, dan berhulu pada Nabi Muhammad SAW. Di timur tengah, dikenal dengan “ta’ifdah” . Ada juga dikenal kelompok muslim kebatinan dengan nama Ikhwan Al-Safa*. Anggotanya cenderung para pemuda.
Kemudian setiap anggota dilakukan upacara “pengambilan sumpah” / Bai’at, yang menandakan telah resmi bergabung ke dalam organisasi sebagai anggota dan merupakan deklair kepatuhan serta ketaatan terhadap ritual-ritual yang diamalkan jama’ah organisasi serta fatwa sang guru. Kemudian pada waktu waktu tertentu selalu diadakan pengajian akbar untuk para anggota, jama’ah, lazim disebut pengajian tawasulan, selapanan, mujahadahan, istighosah, dsb.

Sumber dalil untuk tiap tiap orang beriman dalam mengaplikasikan agama (tuntunan hidup) harus dengan cara/metode/tarekat adalah berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an diantaranya dalam surat : Al- Ahzab 41-43 , An- Nur 36-37 , Al- A’raaf 205 , An -Naziat 37-41.

SEJARAH TAREKAT

Pada masa Nabi Muhammad SAW tidak dikenal adanya tarekat lembaga atau terdengar adanya istilah “Tarekat Muhammad Rasulullah”, tidak ada itu, sebab Rasulullah SAW saat itu secara tidak langsung bertindak sebagai lembaga itu sendiri. Nabi secara langsung mengajari umat untuk bertarekat dengan berdakwah membimbing umat agar manusia menyembah hanya kepada Allah Yang Esa. Kemudian setelah mendapatkan risalah baku yakni Al-Qur’an, yang kemudian dijadikan sebagai Syareat/pedoman baku (S.O.P), bagi seluruh umat manusia dan bagi yang mengikuti millah Beliau, maka barulah Rasulullah mengajarkan Tarekat Amaliah secara nyata (praksis langsung), mengajarkan laku perbuatan nilai-nilai Islam secara langsung maupun secara perkataan (As-Sunnah), bersama para sahabatnya, pengikutnya dengan cara melaksanakan sholat, Zakat, Puasa, berhaji serta berbuat kebaikan, bersedekah, berkasih sayang, berbuat manfaat, menyerukan persatuan, hindari/jauhi faham faham sektarian/sekte dan beramar ma’ruf nahi munkar. Itulah Tarekat yang lebih besar tingkatannya. Sedangkan masakini banyak aliran aliran organisasi/kelompok mazabis cenderung eksklusif, kebanyakan berorientasi mengumpulkan amal untuk kepentingan pahala pribadi/jama’ahnya. Bahkan melaksanakan sholat saja wajib hanya bersama kelompoknya saja, enggan bahkan “mengharamkan” bermakmum dengan luar kelompoknya. Kemudian mereka mendirikan masjid masjid ekseklusif dan sebagainya. Ini jauh dari nilai nilai tarekat itu sendiri.

Setelah Nabi Muhammad SAW,maka seolah umat Islam bagai “anak ayam kehilangan induk semang”, tiada sosok panutan yang kharismatik, agung dan utama. Saat zaman itulah umat-umat Islam mencari jati diri masing-masing dalam mencari jalan mendekatkan diri pada Tuhannya. Kemudian berkembanglah ilmu tasawuf, bermunculanlah tokoh-tokoh sufi bersifat personal. Kemudian tokoh-tokoh sufi yang telah dalam ilmu pengetahuannya memiliki kharisma,kemudian memiliki banyak murid/pengikut yang sejak masa itulah mulai dikenal adanya Tarekat lembaga atau cabang tasawuf yang berorganisasi.Metamorfosa ini tidak terlepas dari perkembangan dan pengaruh ajaran tarekat para pelaku tasawuf itu sendiri yang seolah sangat didambakan umat Islam saat itu.Semakin luas pengaruh tokoh tasawufnya,semakin banyak umat berhasrat menjadi pengikutnya.Maka berkembanglah aliran tarekat yang dibimbing oleh seorang guru/Syeikh dengan berbagai corak dan cirinya.

*Sulit menentukan kapan aliran tarekat dijalankan sebagai suatu lembaga dimulai.Menurut Harun Nasution , bahwa setalah Al Ghozali menghalalkan tasawuf yang sebelumnya dikatakan sesat, tasawuf berkembang dari dunia islam, tetapi perkembangannya melalui tarekat. Tarekat adalah organisasi dari pengikut sufi-sufi besar yang bertujuan untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf gurunya. Tarekat ini memakai suatu tempat pusat kegiatan yang disebut ribat – organisasi serupa mulai timbul pada abad XII M, tetapi baru Nampak perkembangannya pada abad-abad berikutnya.Tarekat diartikan sebagai jalan yang khusus di peruntukkan bagi mereka para pencari Tuhan yang merupakan perpaduan antara iman dan islam dalam bentuk ihsan.
Secara amaliyah (praksis) tarekat personal timbul dan berkembang semenjak abad-abad pertama hijriah dalam bentuk pelaku zuhud dengan berdasarkan pada Al Qur’an dan Al Sunnah. Zuhud bertujuan agar manusia dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungan terhadap kenikmatan duniawiyah secara berlebihan.
Sejak abad VI dan VII hijriyah (XII dan XIII M) tarekat-tarekat lembaga telah memulai jaringannya di seluruh dunia islam, taraf organisasinya beraneka ragam. Perbedaannya yang pertama dari semua itu terletak pada upacara dan dzikir, keanggotaannya sangat heterogen. Kemudian sejak abad VIII H (XIV M) menyebar dari sinegal ke cina. Semenjak itu cabang-cabang tarekat berkembang dengan ciri masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya.

*BERBAGAI CABANG ORGANISASI TAREKAT

tarekat 3

(Silahkan dijadikan referensi bagi sobat yang berminat masuk Tarekat)

1. Tarekat Qodariyah
Tarekat ini didirikan oleh Muhyi al-Din Abu Muhamad ‘Adb al Qodir bin Musa bin ‘Abdullah bin Musa (470-561 H 1077/1166 M) pengikutnya menyebar ke berbagai pelosok dunia islam sampai ke Asia barat dan Mesir. Pada abad XIX M bercabang sampai ke Maroko dan Indonesia. Tarekat ini dinilai sebagai tarekat paling progresif tapi tidak jauh dari faham salf. Tarekat ini lebih berkonsentrasi kepada pemurnian Tauhidullah dan zduhur dalam ibadah. Ia memiliki keunggulan dalam ihwal kedermawanan, kesalehan dan kerendahan hati serta ketidaksetujuan terhadap fanatisme agama dan politik.
Diantara ajaran pokoknya ialah : bercita-cita tinggi (“Aluw al Himmah) menghindari segala yang haram, memelihara hikmah, merealisasikan maksud dan mengagungkan nikmat Allah, beberapa sebab keberhasilan tarekat ini dalam rekkrutmen murid dan calon murid adalah ketaatan yang teguh dalam syariat dan realisasi ajaran salaf, kencamannya yang gencar terhadap paham yang menyandarkan keimanan semata sebagai alat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam kecamannya terhadap paham reinkarnasi /(tanasukh al ruh). Ajaran-ajarannya dilandaskn secara kuat kepada AL Qur’an dan AL Sunnah.

2. Tarekat Rifa’iyah
Tarekat Rifa’iyah didirikan oleh Ahmad al Rifa’i (570 H / 1173 M) didorong oleh kondisi mengendornya hubungan antara cabang-cabang Qodiriyah dan lahirnya ranting ranting baru yang independen. Tarekat ini dinilai lebih fanatik, memiliki tradisi yang sangat ketat dalam mematikan hawa nafsu dan ketat dengan protokol-protokol seremoni pelantikan/Bai’at yang luar biasa. Pengikutnya yang melakukan dzikir secara baik akan dapat terbawa ke alam fana (dimensi ruhani),dalam keadaan fana’ itu bisa melakukan hal-hal yang menakjubkan seperti sihir(metafisika).

3. Tarekat Suhrowardiyah
Didirikan oleh Syihab al Din al Suhbowardi inspirasi seorang ahli dari Maghrib, Nur al Din Ahmad bin ‘Abdullah al Syadzali. Pengikutnya tersebar di Tunis- karena pemerintah mencemaskannya, sang imam cenderung menyingkir ke Alexandria di mesir keberhasilannya sangat cepat juga di afrika.

4. Tarekat Ahmadiyah / Badawiyah
Tarekat ini disebut juga tarekat badawiyah karena pendirinya bernama Ahmad bi ‘Aly al Husainy al Badawy
Tarekat ini sangat konsisten dengan Al Qur’an dan As Sunnah, ia sangat diminati karena antara lain : mendorong para pengikut / muridnya untuk pandai, kaya dan dermawan, saling mengasihi dan juga karena doktrin-doktrin sifistiknya yang menarik.

5. Tarekat Maulawiyah / Al Rumiyah
Maulana Jalaludin Rumi Muhammad bin Hasain al Khattabi al Kbakri (Jalaludin Rumi) atau sering juga disebut Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di balk (sekarang Afganistan).Kesufian Rumidi mulai ketika beliau sudah berumur lepas dewasa, 48 tahun.
Rumi memang bukan sekedar penyair, tapi ia juga tokoh sufi ayng berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu pada tarekat maulawiyah. Sebuah tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang disekitarnya. Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan-pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran.
Dalam sistem pengajarannya, Rumi mempergunakan penjelasan dan latihan mental, pemikiran dan meditasi, kerja dan bermain. Tindakan dan diam. Gerakan-gerakan tubuh pikiran dari pra darwis berputar dibarengi dengan musik toup untuk mengiringi gerakan-gerakan tersebut merupakan hasil dri metode khusus yang dirancang untuk membawa seseorang salik mencapai afinitas dengan arus mistis untuk ditransformasikan melalui cara ini.

6. Tarekat Syadzaliyah
Abu Hasan al Syadzali mendirikan tarekat ini setelah beliau mendapatkan khirqoh / ijazah dari gurunya Abu ‘Abdullah bin Ali bin Hazam dari Abdullah ‘abd. Al Salam bin Majisy. Kelebihan dari tarekat ini terletak pada lima (5) ajaran pokoknya yaitu :
1.Takwa kepada Allah dalam segala keadaan.
2.Konsisten dalam mengikuti Al-Sunnah,
3.Ridho dalam ketentuan dan pemberian Allah SWT,
4.Saling menghormati,menghargai sesama manusia, dan
5.Suka kembali kepada Allah (taubat) dalam susah/senang.

Sedangkan tiga hal pokok yang menjadi landasan/ azas tarekat ini adalah :
1.Terus mencari ilmu (belajar tak berhenti),
2.Memperbanyak Dzikrulah dan
3.Duhur Ilaallah.

Ketiga hal pokok ini selalu menjadi penekanan kepada murid-murid Al Syadzali, beliau tidak menganjurkan mujahadah seperti tarekat-tarekat lain. Kebenaran baginya, didalam diri manusia itu ada nur ashli/ nur potensial yang akan menjadi kuat, berkembang dan subur bila diperkuat dengan nur ilmu yang lahir akibat dzikrullah.
Tarekat ini menjauhi ramalan-ramalan /anti memprediksi pada hal hal yang belum ataupun bakal terjadi termasuk mengartikan segala kemungkinan dan akibat yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang,(Hari-hari dijalani cukup dengan aktifberkarya,beribadah,memprogram langkah,tak berandai-andai hari ini ya hari ini,nanti ya apa kata nanti).
Doktrin ini diperdalam oleh Ibn Atho’illah dan menjadi doktrin utamanya.Komunitas Syadzaliyah terutama mereka di kalangan kelas menengah, pengusaha, pejabat dan pegawai pemerintah. Oleh karenanya, ciri khas yang kemudian menonjol dari anggota tarekat ini adalah kerapihan mereka dalam berpakaian, ketenangan yang terpancar dari tulisan-tulisan para tokohnya.
Tarekat Syadzaliyah ini tidak menentukan syarat-syarat yang erat kepada syaikh tariqoh, kecuali mereka harus meninggalkan segala perbuatan maksiat, memelihara segala ibadah-ibadah sunnah semampunya, zikir kepada Allah sebanyak mungkin, sekurang-kurangnya seribu kali sehari semalam dan beberapa zikir yang lain.

7. Tarekat Tijaniyah
Didirikan oleh Abul Abbas Ahmad Bin Muhammad Bin Al Mukhtar At Tijani (1733-1815 M) salah seorang tokoh dari gerakan neosufisme. Ciri dari garakan ini ialah penolakannya terhadap sisi eksatik dan metafisis sufisme dan lebih menyukai pengalaman secara ketat ketentuan-ketentuan syariat dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan ruh nabi Muhammad sebagai ganti untuk menyatu dengan Allah.

8. Tarekat Syattariyah
Tarekat Syattariyah adalah tarekat yang pertama kali muncul di india abad XV M, tarekat ini dinisbatkan pada tokoh yang berjasa dan mem-populerkannya,yakni Abdullah Asy Syattar.
Sebagaimana hal tarekat-tarekat lain, Syattariyah menonjolkan aspek dzikir di dalam ajarannya.Dikenal 7 macam dzikir muqodimah sebagai peralatan/tangga untuk masuk kedalam tarekat Syattariyah, yang disesuaikan dengan 7 nafsu pada manusia. Dzikir ini hanya dapat dikuasai melalui bimbingan seorang pembimbing spiritual, guru/Syaikh.

9. Tarekat Naqsabandiyah
Pendirinya adalah Muhammad Baha’ Al Din Al Naqsabandi Al Bukhori (717-791 H / 1317-1388 M). Naqsabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebarannya. Terutama di wilayah asia .
Ciri menonjol dari tarekat ini ialah diikutinya syareat secara ketat, keseriusan dalam beribadah, menolak music dan tari budaya barat, lebih ngutamakan berdzikir dalam hati,namun tidak mengharamkan politik dan cenderung mau terlibat didalamnya .

10. Tarekat Kholwatiyah
Tarekat Khalwatiyah, tidak sebagaimana lazimnya tarekat pada umumnya yang diambil dari nama pendirinya. Penamaan ini justru didasarkan kepada kebiasaan sang guru pendiri tarekat ini syekh Muhammad Al Khalwati (w 717 H), yang seringkali melakukan kholwat di tempat-tempat sepi. Tarekat khalwatiyah merupakan cabang dari tarekat As Sahidiyah, cabang dari Al Abhariyah dan cabang dari Al Shrowardiyah yang didirikan oleh Syekh Syihab Al Din Abu Hafsh ‘umar Al Suhrowardi Al Baghdadi.
Ajaran dan dzikir tarekat Khalwatiyah menetapkan adanya sebuah amalan yang disebut Al Asma’ Al Sab’ah (tujuh nama) yakni tujuh macam dzikir /tujuh tingkatan jiwa yang harus dikembangkan oleh setiap salik.
Dzikir pertama melafadzkan kalimat : لا إله إلاالله , Dzikir kedua : الله ,Dzikir ketiga : هو (dia) ,Dzikir keempat : حقّ (maha benar) ,Dzikir kelima : حيّ (maha hidup) ,Dzikir keenam : قيوم (maha jaga) ,Dzikir ketujuh : قهار (maha perkasa).
Ketujuh tingkatan dzikir ini intinya bersumber dalam ayat AL Qur’an.

11. Tarekat Sammaniyah
Tarekat ini didirikan oleh syeikh Muhammad bin Abd Al- Karim Al Samman Al Madani Al Qodiri Al Qubaisi dan lebih dikenal dengan sebutan Syeikh Samman. Semula ia belajar toriqoh kholwatiyah dari damaskus,pada masa berikutnya beliau mulai mengajarkan pengajian yang berisi teknik berdzikir, wirid dan ajaran teosofi lainnya. Beliau menyusun cara pendekatan diri dengan Allah yang kemudian dikenal sebagai toriqoh sammaniyah, sehingga ada yang mengatakan bahwa toriqoh sammaniyah adalah cabang dari khalwatiyah.
Di Indonesia tarekat ini berkembang di sumatera Kalimantan dan jawa. Sammaniyah masuk ke Indonesia pada penghujung abad 18 yang banyak mendapat pengikut karena popularitas Imam Samman.
Ajarannya yang khas ialah memperbanyak dzikrullah dan shalat, lemah lembut kepada fakir miskin, tidak mencintai dunia, menukar akal masyariyah dangan akal robbaniyah dan mentauhidkan Allah dalam dzat, sifat dan af’alnnya. Pengaruh Sammaniyah di Indonesia diabadikan di dalam tariah ruda.

PEDOMAN UTAMA DALAM MENGIKUTI TAREKAT LEMBAGA / JAM’IYAH YANG HAQ :

  1. Niatkan terlebih dahulu tujuan kita apa mengikuti/menjalankan amalan amalan tarekat. Sekedar ikut ikutan atau karena telah dibekali pengetahuan.
  2. Pastikan mental spiritual kita telah siap dengan kuat
  3. Niatkan karena Allah tanpa pamrih
  4. Jangan bersikap taqlid buta terhadap mazhab/kelompok/guru pembimbingnya.
  5. Tetaplah berlaku perbuatan kemanfaatan bagi diri dan sekelilingnya.
  6. Bagi wanita berumah tangga yang mengemban tanggung jawabnya, haruslah berkompromi dengan suami/keluarganya.

TANDA TANDA KELOMPOK / JAMA’AH TAREKAT YANG HAQ :

  1. Mengajarkan pilar pilar dasar ketauhidan (Aqidah Uluhiyah dan Rubbubiyah)
  2. Mengajarkan dan membuahkan kemanfaatan bagi diri serta sekelilingnya.
  3. Berdakwah terbuka untuk semua kalangan
  4. Tidak berorientasi materi/sumbangan sumbangan keuangan yang ditentukan.

TANDA TANDA KELOMPOK / JAMA’AH TAREKAT YANG BATIL :

  1. Meniadakan asma Allah atau mengkamuflase ayat ayat Allah dengan mantra mantra tak jelas.
  2. Mengajarkan ritual ritual yang menganiaya diri dan pergaulan bebas.
  3. Mengajarkan ekseklusifisme ( yang melahirkan keangkuhan,kesombongan).
  4. Mengajarkan menghalalkan harta benda yang diluar kelompoknya.
  5. Mengajarkan/membiarkan umatnya taqlid buta terhadap guru pembimbingnya (penghormatan yang terlalu berlebihan).
  6. Mengajarkan doktrin doktrin sempit/dangkal (Melawan aturan pemerintah,menolak Pancasila, menekankan bahwa ajarannya yang paling benar,meng-kafirkan pihak lain / takfiri, dan sebagainya)

MANFAAT MENGAMALKAN TAREKAT YANG DIBIMBING GURU MURSYID HAQ

Telah diketahui bahwa Tarekat ada dua katagori.Tarekat pertama jelas merupakan keharusan bagi setiap umat Islam untuk selalu mencari jalan kepada Tuhannya.Dalam kitab Sulam Taufiq disebutkan bahwa :

فصل : يجب على كافة المكلفين الدخول فى دين الإسلام والثبوت فيه على الدوام والتزام مالزم عليه من الأحكام
“Setiap orang yang telah dewasa (mukallaf) wajib memasuki atau memeluk agama Islam secara kaffah dan tetap dalam agama itu untuk selama-lamanya serta melaksanakan segala kewajiban yang berkenaan dengan hukum-hukumnya , mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala”.

Maka seseorang yang berupaya meniti jalan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya,(bertarekat) hidupnya selalu dalam kedamaian (anti galau) dan dimudahkan segala persoalan (selalu mendapatkan pertolongan-Nya).Sebab ketika kita mendekat maka Tuhanpun memeluk erat.Kemudian balasan keselamatanpun hingga sampai di hari akherat.Maka jalanilah tarekat katagori apa saja,yang penting niatnya.Maka Pilihlah amalan tarekat yang sesuai dengan keadaan/kapasitas diri.

Sebagaimana kita berniat menuju sebuah titik kota tujuan,tentu ada berbagai sarana jalan untuk mencapainya.Ada jalan yang biasa,ada jalan yang sedang dan ada jalan yang khusus/tol.Jika kita tidak paham betul medan jalan yang akan ditempuh atau masih blank harus memilih jalan yang baik dan cepat yang mana,tentu kita seperti orang buta yang tak tahu arah kiri kanan.Sehingga waktu tempuh yang seharusnya dalam waktu singkat,ini sampai berhari-hari,bahkan berbulan-bulan atau bertahun-tahun.Oleh karena itulah kita memerlukan ahli pemandu,GPS,kompas,dsb.
Demikian pula seperti bertarekat dengan Tarekat organisasi, maka kita di beri bimbingan oleh seorang guru pembimbing untuk mencapai tujuan dengan jalan khusus/pintas.Sebab mereka para guru mursyid yang sebenarnya,telah mencapai derajat ilmu pengetahuan yang lebih luas dibanding kita, maka tentulah beralasan jika telah lebih banyak mengetahui cara maupun rahasia menuju jalan-Nya.

Contoh :
Suatu ketika kita sedang mendapatkan masalah atau cobaan berat,pelik dan membuat depresi.Sudah kesana kemari buntu tiada yang menolong dan tiada yang ahli dalam mengakhiri problematika.Maka daripada berlarut-larut persoalan yang menyesakkan tiada kunjung berakhir,cobalah “sowan” (berkunjung) mendatangi seorang Kyai atau guru spiritual atau guru tarekat.Kemudian sharing dan utarakan niatnya meminta bantuan agar masalah yang menimpanya dapat segera berakhir melalui media sang Kyai tersebut.Maka sang Kyai tersebut tentu akan membantu mendo’akan kita meminta kepada Allah SWT,yang secara lahiriahnya kadang dalam bentuk, dengan cara memerintahkan kita untuk melaksanakan amalan-amalan tertentu,melaksanakan qorban atau melaksanakan puasa sekian hari,dan sebagainya.Hal demikian sah-sah saja,sebab memang realitasnya banyak orang yang telah berhasil bangkit kembali atau berhasil keluar dari lilitan masalah kehidupan.

KEDUDUKAN/HUKUM BER-TAREKAT

tarekat 5

1.Adalah fardhu a’in atau wajib atas umat islam yang telah mukallaf,bertarekat secara amaliah.Yakni ikutilah ajaran tarekat yang tidak menyimpang dan yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Jika menemui ajaran tarekat yang menyimpang dan tidak sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasullullah, tinggalkanlah.
Paling aman adalah ikuti saja cara yang sudah ditetapkan Rasulullah seperti membaca Qur’an secara rutin setiap hari dengan memahami maknanya, shalat sunah seperti sunah rawatib, tahajud, dhuha, puasa senin kamis, berzikir didalam hati ketika berdiri, duduk dan berbaring, dzikir setiap pagi dan petang hari, dzikir setiap selesai shalat.
(Melaksanakan amalan tarekat yang standar saja kesulitan, apalagi mengamalkan kegiatan ritual tarekat organisasi, yang begitu rumit dan melelahkan dengan keharusan mengamalkan wirid,tasbih ribuan kali setiap hari).
Namun,itu jalur biasa,buat orang biasa.Maka jika kita ingin meningkat ke derajat yang lebih eksklusive lagi dan mengetahui lebih dalam jalan menuju rahasia-Nya,silahkan masuk ke dalam dunia tarekat.Ajaran tasawuf dan tarekat merupakan pengembangan dari perintah Al Qur’an tentang dzikir mendekatkan diri pada Allah dan mengendalikan hawa nafsu,yang dipelopori oleh para sufi.Untuk bertarekat Bai’at maka ,Hanya cara dan pelaksanaannya harus memenuhi kaidah atau keadaan tertentu seperti telah terurai diatas.
2.Sunah mengikuti tarekat bai’at jika amalan tarekat standar telah dipenuhi.
3.Makruh mengikuti tarekat bai’at jika tarekat yang diikuti terlalu berat dan mengganggu kewajiban keluarga serta amalan yang wajib saja masih sering ditinggalkan.
4.Dilarang jika tarekat bai’at yang diikuti menyimpang dari aqidah Islam.

PRIA / WANITA YANG DAPAT BEBAS MENGAMALKAN TAREKAT BAI’AT

Adalah orang baik pria maupun wanita yang dalam kapasitas kehidupannya tidak mengabaikan fungsi dan tanggung jawab masing-masing dalam kehidupan rumah tangga maupun keluarga.
Bagi pria yang berkeluarga dalam menjalankan amalan tarekat bai’at seyogyanya telah mempersiapkan diri,mem-back up ekonomi bagi keluarganya sehingga ketika sering meninggalkan rumah tidak menelantarkan anak dan istrinya.
Maka bagi wanita bersuami dan ibu rumah tangga yang kapasitas dan tanggung jawabnya sangat dibutuhkan untuk keluarga,semestinya janganlah larut sibuk atau ikut menjadi anggota jama’ah Tarekat dengan sibuk mengamalkan ritual-ritual setiap harinya tanpa ijin dan kompromi dengan keluarga/ suami.Sebab jika hal demikian tetap dilakukan dengan alasan keyakinan/keimanan menurut prasangka pribadi sendiri,maka sungguh akan banyak mendapatkan mudharat daripada manfaat yang lebih besar.Ibarat menangguk air dengan keranjang bolong.
Kecuali wanita-wanita bebas seperti masih lajang,tidak bersuami/janda atau wanita bersuami namun telah diijinkan oleh suaminya bahkan mendorongnya karena suatu alasan tertentu,atau justru suami ikut mendampinginya bersama sama maka hal demikian adalah baik.

DEVIASI AMALAN TAREKAT (PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN YANG TERJADI PADA JAMA’AH TAREKAT)

Beberapa penyimpangan yang ditemukan antara lain :

1.Penghormatan pada guru secara berlebihan (Qultus individu/taqlid buta) hingga berani tidak mematuhi/taat suami,
2.Larut mengamalkan amalan perintah guru dengan mengabaikan kewajiban keluarga yang semestinya dilaksanakan.
3.Meminum bekas wudhu guru, berebut meminum air sisa guru dan lain sebagainya .
4.Berdzikir dengan suara keras sambil menari dan menghentakan kaki dan badan hingga mengganggu orang lain beristirahat, berdzikir dengan jumlah hitungan melampaui batas kekuatan fisik.
5.Memakai pakaian yang buruk tanpa memperhitungkan keadaan,
6.Membenci kehidupan dunia secara berlebihan, menyebabkan meninggalkan keadaan lemah pada keluarga.
7.Menyakiti diri , menjampi-jampi orang lain agar celaka.
8.Mencampur kegiatan ritual pada Allah dengan ritual untuk jin dan sihir,
Maka semua itu merupakan penyimpangan bertarekat yang tidak sesuai dengan ajaran Qur’an dan Rasulullah.

KESIMPULAN

Umat Islam dalam menjalankan ibadah , mengabdi kepada Allah Ta’ala hendaknya dilakukan secara ikhlas tanpa pamrih.Ikuti tahapan ilmu agama secara berjenjang dan terarah. Tarekat hanya sebagian dari cara mendekatkan diri kepada-Nya, selain mengamalkan tarekat bai’at masih banyak jalan-jalan lain dalam mencari ridho Allah SWT.

Maka dalam hal sering terjadinya masalah dan penyimpangan penyimpangan dalam pengaplikasian pemahaman serta dalam menjalankan tarekat seseorang hanya ada dua katagori, yakni :

1.Karena gurunya yang salah mengajar, atau ajarannya memang salah, atau
2.Karena muridnya atau jama’ahnya yang tingkat intelektualitasnya rendah (bebal dari asalnya) atau faktor background pendidikannya, sehingga tidak mampu menerap ajaran dengan baik, sehingga salah dalam menerjemahkan ajaran sang guru.

PERHATIAN: Bagi para pengamal (salik) yang hendak berniat mengamalkan ilmu Hakekat-Ma’rifat serta mempelajari Tareqatnya, maka hendaknya terlebih dahulu mendalami ilmu MU’TAQOD atau ilmu qalam atau ilmu ‘aqidah.

Sekian, semoga bermanfaat dan sukses menjadi sufi yang diridhai Allah swt.

Sekian,semoga bermanfaat.
Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin,
Bukit Ciketing, 15 Muharam 1436 H / 8 November 2014
CopyRights@2014

LOGOYRSA2
MAJELIS DZIKIR AS-SHALIHIN
-TAREQAT QADARIYYAH WA NAQSABANDIYYAH WA SHATARIYYAH (TQNS)
MASJID BAITUT TA’IBIN-PREMBUN KRANGGAN-KEBUMEN-JAWA TENGAH-INDONESIA.54394

Pengasuh: Ust. AGUS SHOLECH AL-QADRY

Email: majelisdzikirasshalihin@gmail.com
FB: Kelana Delapan Penjuru Anginhttps://web.facebook.com/kelana.delapanpenjuruangin
MARAJI’ / Reff:
-Risalatul Islam, risalatu Muhimah karya K.H. M. Syamsuddin – Prembun – Jawa Tengah.
-Majelis Tareqah Qadariah, wa Naqsabandiah, wa Satariah Al-Husaini – Tuban dan An-Nawawi-Purworejo.
-Kitab Sulam Taufiq, Fafiru, Ad-Dalailul Khairat, Daqo’ikhul Akhbar-Al-Imam Nawawi, dsb.
-http://www.fadhilza.com/2014/07/tadabbur/mengenal-ajaran-tarekat-dan-tasawuf.html
-http://www.metafisika-center.org/2012/06/beberapa-ajaran-tarekat-qadiriyah-wa_06.html
-Al-Qur’anul Karim Terjemah DEPAG RI
-Pengantar pemikiran Neoplatonis, Persaudaraan Kesucian (Ikhwan Al-Safa)-Ian Richard Newton
Note: Bahwa risalah tentang ilmu keislaman dan tareqat ini telah diperbaiki redaksi maupun paragraf kalimatnya serta diperkaya dengan tambahan khasanahnya, agar lebih mudah untuk dicerna dengan tidak menghilangkan dan mengurangi substansi maupun makna hakekatnya. Update pada : 26 Sya’ban 1438H / 24 Mei 2017

**KITA SEMUA MEMILIKI SIFAT TERORIS **

*SEMUA MANUSIA MEMILIKI SIFAT-SIFAT TERORISME (AL-IRHAB)

*ANCAMAN DARI JIWA-JIWA TERORIS YANG ADA DI SEKELILING KEHIDUPAN KITA LEBIH BERBAHAYA DIBANDING DENGAN TERORIS PROFFESIONAL YANG BERAKSI !

* TERORIS BERBEDA DENGAN JIHAD DAN JIHAD BUKANLAH TERORIS
*TERORISME KEMUNGKARAN BUKAN AJARAN AGAMA MANAPUN,TETAPI LAKU PERBUATAN EGO (KE-AKU-AN) MANUSIA
*TERORISME KEMUNGKARAN YANG ADA DALAM JIWA MANUSIA LEBIH BERBAHAYA DIBANDING TERORISME DALAM PEPERANGAN / PERJUANGAN
*TERORISME (AL-IRHAB) DALAM ISLAM YANG WAJIB DAN YANG DILARANG KERAS

Teroris4

PENDAHULUAN

Saat ini begitu marak terjadinya ancaman,serangan serta pembunuhan terhadap seseorang dengan seseorang lainnya atau antara kelompok satu dengan lainnya atau pembunuhan kepada petugas keamanan oleh orang tak dikenal ,yang oleh public mengarahkan / mengalamatkan para pelaku semua ini sebagai ulah TERORIS.

Peristiwa teror dan pembunuhan terhadap aparat keamanan di Indonesia terakhir menimpa Bripda Sukardi yang tewas ditembak oleh orang tak dikenal di depan gedung KPK-Jl.Rasuna Said-Jakarta pada 11 September 2013,menyusul rentetan kejadian peristiwa serupa sebelumnya di wilayah lain,yang korbannya adalah petugas keamanan.Sehingga disebarkan pemahaman bahwa : “Pihak keamanan saja tidak aman apalagi sipil”.

Maka semestinya saat ini kita tak perlu mengkhawatirkan tentang pemahaman itu sebab berbeda sasaran.Dimana keadaan yang terjadi sampai saat ini bahwa tidak ada pihak teroris yang melakukan penyerangan membabi buta terhadap masyarakat umum,tetapi hanya kepada institusi tertentu yang menjadi lawan politiknya.Namun tetap kita sangat prihatin mendalam atas situasi ini dan mengutuk pelakunya.

Tragedi semacam ini tak hanya berlaku di Indonesia,di Mexico para Teroris dari kelompok gang / mafia narkoba juga saling bunuh-bunuhan dengan aparat kemanan secara brutal,juga di Coloumbia serta di Negara lainnya.Di Negara Timur Tengah seperti Suriah,Irak bahkan lebih parah lagi,yakni setiap hari terjadi tindak terorisme dan saling bunuh antar umat sendiri hanya karena pertentangan mazab.

Maka justru yg harus dikhawatirkan adalah sifat terorisme yang ada didalam diri kita sendiri yang telah nyata-nyata berbuat teror pada orang-orang terdekat dan pada masyarakat disekeliling kita sendiri,yakni dalam bentuk terjadinya tawuran,persengketaan,perang antar warga dan KDRT dalam keluarga sendiri,yang justru dampak korban harta benda serta nyawa jauh lebih banyak ketimbang dengan peristiwa petugas keamanan yang dibunuh oleh apa yang disebut sebagai kelompok Teroris.

war

I. DEFINISI TEROR / TEROSRISME / TERORIS (AL-IRHAB)

Tidak ada satu pun definisi terorisme yang dapat distandarkan atau diterima kesepakatannya secara universal.Pendefinisian kata Terorisme masih merupakan istilah yang kabur dan bermakna ganda (ambiguous). Baik di kalangan akademisi , ilmuan sosial-politik pun tidak ada kesepakatan tentang batasan pengertian (definisi) ini.

Oleh karena itu,cap teroris masih menjadi sifat saling tuduh antar pribadi maupun kelompok yang berbeda kepentingan.Suatu contoh real,ketika Negara Israel menginvasi negeri Palestina pada tahun 1947,maka mendapat perlawanan hebat dari rakyat Palestina hingga sekarang.Namun pihak Israel akan menge-cap militant HAMAS sebagai TERORIS ketika melakukan serangan terhadap pasukan negaranya,sedangkan ketika militer Israel membantai rakyat Palestine,mereka tidak mau disebut Teroris melainkan menyebutnya sebagai pembalasan.Dan juga ketika pasukan Amerika menginvasi Irak,dan nyata-nyata telah menghancurkan peradaban dan mengakibatkan banyak rakyat negeri Irak yang mati terbunuh,maka Amerika tidak mau disebut sebagai TERORIS,melainkan hanya melaksanakan resolusi PBB.

Terorisme memiliki karakter spesifik, yaitu penggunaan kekuasaan ego pribadi maupun kelompok besar orang / satuan tertentu dengan memunculkan penekanan,ancaman hingga dinyatakan dengan laku perbuatan kekerasan,kefasikan,kezaliman fisik baik secara sistematis maupun sporadis untuk mencapai target kepuasan pribadi maupun politik .

1.Menurut KBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah :

-Te•ror /téror/ n usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan;
-me•ne•ror v berbuat kejam (sewenang-wenang dsb) untuk menimbulkan rasa ngeri atau takut: mereka ~ rakyat dengan melakukan penculikan dan penangkapan .
-teror n -horor, kepanikan, ketakutan; intimidasi;
-meneror v –
1) bergaduh, bertimba karang, mengacau, menggaduhkan, mengharu biru, mengusutkan, meributkan, merusuhkan;
2) mengancam, mengintimidasi, merisau,
3) mengintai, mengintip (bahaya)

2. Menurut UU No. 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Bab III pasal 6 :

-Setiap orang dipidana karena melakukan Tindak Pidana Terorisme, jika: Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan, menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional.

Teroris3

3. Menurut bahasa dan istilah :

*Secara Etimologis (lughawi), terorisme (terrorism) / Al-Irhab adalah (isim maqshur),berasal dari kata IRHAB / teror.
* Secara Terminologis (istilah) TERORISME adalah :
Menurut Oxford Paperback Dictionary, terror artinya extreme fear (rasa takut yang luar biasa), a terrifying person or thing (seseorang atau sesuatu yang mengerikan). Terrorism diartikan sebagai use of violence and intimidation, especially for political purposes (penggunaan kekerasan dan intimidasi, utamanya bagi tujuan-tujuan politik).

MAKA DEFINISI / HAKEKAT TERORISME ADALAH :

“Laku perbuatan orang baik individu maupun kelompok atau sebuah satuan bangsa/negara yang pertama-tama memunculkan ancaman,ultimatum,yang mengandung rencana melakukan penyerangan,gangguan dan menciptakan ketakutan dsb kepada pihak lain baik individu (termasuk pada jiwa pribadi sendiri),maupun orang banyak dan kemudian melaksanakan perbuatannya tersebut.Atau pendek kata adalah pihak yang memulai melakukan ancaman,gangguan keamanan, penyerangan dan atau kejahatan terlebih dahulu kepada jiwa diri sendiri maupun kepada jiwa orang lain”.
(Kelana Delapan Penjuru Angin@2013)

TERORISME TERBAGI MENJADI DUA JENIS :

Yaitu TERORISME SIFAT (Attitude Terorism) dan TERORISME LAKU (Behavior Terorism).

1. TERORISME SIFAT (Attitude Terorism)

Adalah sifat-sifat bakat terorisme yang berasal dari nafs diri manusia itu sendiri yang merupakan bakat manusia sejak lahir hingga selama kehidupannya,yang suka menekan,memaksa dan mengancam baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.Ini adalah hal nyata sehari-hari yang telah menjadi sifat kita.
Sifat-sifat terrorism bakat yang ada didalam diri kita tersebut berasal dari sifat-sifat Ruh Nurani dan pecahan dari sifat Ruh Ruhani yakni dari Nafs Al-Hayawaniyyah, Al-Musawwillah, Al-Ammarah, Al-Lawwamah dan Nafs Supiyah.

-Untuk pemahaman selengkapnya silahkan baca artikel tentang : 9 unsur Ruh yg ada dlm diri manusia pada link berikut :

https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/07/26/9-sembilan-unsur-roh-yang-terdapat-dalam-diri-manusia/

PD Sukses

Contoh sifat-sifat terorisme sejak masa balita hingga usia remaja :

-Ketika kita masih balita sampai usia remaja,sifat terorisme kita dimunculkan dalam bentuk naluri ingin menguasai barang mainan atau barang-barang yang di inginkan,dsb dengan cara mengancam,menekan,merebut sesuatu kepada pihak lain agar terpenuhi keinginannya dalam hal ini si anak merengek menangis,marah,ngambek,kepada temannya atau kepada orang tuanya sendiri (Ini sifat-sifat terrorism asal),yang kemudian jika tidak terpenuhi keinginannya menjadikan si anak memukul,merusak dan kadang melukai orang lain maupun diri sendiri.

Contoh sifat-sifat terorisme di masa dewasa :

-Saat kita telah dewasa maka sifat-sifat terorisme yang kita ungkapkan bobotnya lebih meningkat lagi yaitu dengan menekan,mengancam orang lain yang telah dikuasainya agar menuruti apa yang kita kehendaki.Seperti sikap mengancamnya seorang guru kepada muridnya atau sebaliknya,juga seorang atasan kepada bawahannya atau seorang Bos kepada anak buahnya,yang mengancam,menakut-nakuti dengan pemberian surat peringatan atau dengan ancaman gajinya akan dipotong hingga ancaman pemecatan tanpa pesangon,dan atau sebaliknya.

-Pada skoup keluarga sifat terrorism ini juga dilakukan oleh semua anggota keluarga,seperti suami/istri yang melakukan ancaman dan KDRT,anak mengancam dan menyiksa orang tua,dsb.(silahkan lihat saja tragedi-tragedi dikeluarga terjadi dibanyak tempat dan diberitakan)

-Pada tingkat massal di masyarakat, sifat “terrorism”nya dimunculkan dalam bentuk naluri menebalkan rasa ego kelompok, kesukuan,aliran dan merasa paling benar,merasa jatidirinya paling unggul,dsb, sehingga ketika terjadi salah paham atau masalah sepele yang bermula dari ulah segelintir oknum syetan manusia ,akhirnya dapat menyulut fitnah dan angkara murka seluruh warga kampung hingga berakhir dengan terjadinya tawuran,persengketaan,perang antar warga,rumah-rumah dibakar, jatuhnya korban harta benda serta nyawa yang skalanya jauh lebih banyak ketimbang dengan jumlah petugas keamanan yang dibunuh oleh apa yang disebut sebagai kelompok Teroris belakangan ini.

rumah dibakar

MAKA JUSTRU INILAH TERORIS YANG LEBIH BERBAHAYA DI SEKELILING KEHIDUPAN KITA DIBANDING DENGAN TERORIS PROFFESIONAL YANG BERAKSI,yang dengan nyata-nyata telah membuat teror serta kerugian harta,jiwa pada orang-orang terdekat dan pada masyarakat disekeliling kita sendiri.
(Lihatlah realita tragedy yang terjadi disekeliling kita,seperti terjadinya perang antar warga Puger di Jember–Jawa Timur akhir-akhir ini ,di NTB,di Makasar dan wilayah-wilayah lain di Indonesia ,yang pada akhirnya hanya meninggalkan duka lara,kesengsaraan,kehilangan rumah-rumah karena dibakar,kerusakan harta benda,korban jiwa tak sedikit,belum lagi tawuran antar murid sekolah dimana-mana yg memakan korban jiwa juga).

2. TERORISME LAKU (Behavior Terorism)

Adalah tindak laku perbuatan terrorism professional gabungan dari sifat-sifat teroris kepribadian (Attitude Terorism) yang menyatu,berkelompok merencanakan aksi terornya (Terorism yang terorganisir dan terselubung), dengan berbagai tujuan masing-masing,baik karena factor ideologis yang dipahaminya maupun karena tujuan politik kekuasaan serta ekonomi.
SASARAN TERORISM pada tingkat ini meliputi psikologis / pemikiran serta fisik terhadap satuan-satuan institusi atau lembaga bahkan tingkat negara yang dilakukan secara professional terorganisir dengan saling menghancurkan untuk menguasai satu sama lain.Hingga demikianlah terjadinya penyerbuan,peperangan antar bangsa/Negara.Maka boleh direnungi bahwa model terrorism yang seperti ini tidaklah seberbahaya terrorism sifat individu yang ada dalam masyarakat,sebab operasi terrorism yang professional ini tidak terjadi setiap saat di suatu wilayah.Sedangkan laku terorisme individu di masyarakat selalu sering terjadi kapanpun,dimanapun akibat sifat ego individu manusia.

korban

Dari penjabaran makna TERORISME yang telah dipaparkan diatas maka dengan demikian sebenarnya setiap individu,kelompok,bangsa dan Negara,sebenarnya secara tidak langsung telah merencanakan dan melakukan praktek-praktek TERORISME. Dalam skoup bangsa / Negara dinyatakan dengan adanya perlombaan mempersiapkan,membuat senjata pemusnah massal,nuklir,latihan perang,pertunjukan peralatan dan teknologi perang,dsb.Sementara dalam skala individu,maka dinyatakan dengan mempersiapkan senjata tajam maupun api dirumah masing-masing.Kemudian dari sisi sikap,maka seseorang individu bertindak angkuh,tidak mau mengalah , saling injak dan saling mencari pengaruh masing-masing.

II. TERORISME DALAM ISLAM

TERORISME atau Al-Irhâb dalam istilah bahasa Arab adalah melakukan sesuatu yang menyebabkan kepanikan, ketakutan, membuat gelisah orang-orang yang aman, menyebabkan kegoncangan jiwa dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dan menyebabkan terhentinya aktivitas mereka serta menimbulkan gangguan rasa aman.

Teroris

1.TERORISME YANG DILARANG ISLAM

Jika definisi Terorisme telah dipaparkan seperti tersebut diatas, yaitu menebarkan teror dan ketakutan,berbuat kezaliman,kejahatan di tengah masyarakat yang aman dan tidak sedang dalam medan peperangan,atau tidak tahu menahu dan terlibat masalah yang terjadi,maka jika ada pihak-pihak yang mengaku dari kelompok Islam melakukan perbuatan tersebut,sungguh hal demikian tidak dibenarkan dan merupakan larangan sangat keras dalam ajaran Islam. jelas hal ini adalah perbuatan tercela dan bukan merupakan nilai-nilai Muhammad SAW.
Esensi hadirnya Islam sebagai panduan kehidupan bagi seluruh umat manusia didunia ini sungguh telah sangat jelas yaitu untuk memberikan maslahah (kemanfaatan) dan mencegah mafsadah (kerusakan). Maka yang dikenal dalam nilai-nilai Islam adalah menjaga laku perbuatan (agama), jiwa, akal, nasab, harta dan kehormatan. Sedangkan laku perbuatan terorisme seperti model diatas jelas-jelas menimbulkan banyak kerusakan, hilangnya rasa aman, serta hilang harta dan nyawa umat.

Silahkan renungi nilai-nilai Islam dalam ayat berikut :

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa”.( QS.11. Huud :116)

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.(QS. 16. An Nahl :90)

Maka jika ada pihak-pihak yang mengaku dari kelompok Islam melakukan perbuatan terorisme seperti tersebut diatas,sungguh hal demikian merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai Muhammad SAW,antara lain:

1. Hadits Nabi Muhammad SAW,
“Janganlah kalian membahayakan dan saling merugikan” (HR. Ibnu Majah, Ad Daruquthni, hasan).

2. Hadits Nabi Muhammad SAW,

“Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan terbunuhnya seorang muslim” (HR. Tirmidzi 1395, shahih).

3.Bukan muslim dan mukmin sejati, jika ia membuat umat merasa tidak aman dan tidak tenang. Rasulullah bersabda,
“Mu’min adalah orang yang orang lain merasa aman darinya. Muslim adalah orang yang kaum Muslimin merasa aman dari gangguan lisan atau tangannya” (HR. Ahmad 11/137, shahih).

4. Cabang iman yang terendah adalah mencegah kemudharatan terhadap umat yang lain, walaupun berupa hal kecil. Nabi bersabda,
“Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang, yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan” (HR. Muslim 35).

Maka sahabat silahkan renungi dari nurani terdalam,bagaimana mungkin kita yang mengaku beriman Islam malah meledakkan bom,membunuh orang di jalanan di tempat-tempat yang damai dan banyak orang?

Teroris2

2.TERORISME atau AL-IRHAB YANG WAJIB DILAKSANAKAN DALAM ISLAM
Terbagi dalam 2 bagian yakni SKALA NASIONAL (Umah) dan SKALA INDIVIDU (Nafs) :

-DILAKUKAN SECARA DEFFENSIVE DAN SECARA AKTIVE:

(2.1). Al-Irhab SKALA NASIONAL:
-DILAKUKAN SECARA DEFFENSIVE :
Yaitu melakukan kewaspadaan di dalam negeri dari ancaman gangguan keamanan dari pihak luar dengan cara mempersiapkan diri, menambah kekuatan, latihan senjata (militer), membuat senjata dan menyiapkan kekuatan yang membuat irhâb (Menggentarkan) terhadap ancaman musuh sehingga membuat pihak musuh tidak lancang atau mengecilkan kekuatan kita, atau pendek kata bermaksud membuat pihak musuh berpikir 1000 X untuk mengganggu kehormatan dan kedaulatan kita / Negara,adalah merupakan bentuk terorisme yang wajar menurut pandangan setiap orang yang berakal sehat dalam menciptakan keamanan dan kesejahteraan manusia. Dan bukanlah melakukan tindak terorisme seperti model yang terjadi saat ini.
Maka hendaknya setiap individu tidak dilalaikan oleh Al-Lahwu (godaan yang tidak menjadikan manfaat),seperti iming-iming perhiasan dan gemerlapnya kehidupan dan harta benda,sehingga menimbulkan khianat diantara kekuatan sendiri.

Sifat kewaspadaan ini di tunjukkan oleh Allah Ta’âla :

وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian meng-irhâb (teror) musuh Allah dan musuh kalian”. (QS. Al-Anfâl : 60).

Ayat ini jelas memerintahkan kita atau pada sebuah bangsa / Negara,bukan untuk melakukan penyerangan membabi buta secara zalim terhadap kelompok lain melainkan bersifat Defensive / mempersiapkan / siaga diri terhadap kemungkinan serangan /gangguan musuh,sehingga dengan persiapan (show power) terhadap musuh ini dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan pada musuh sehingga mereka mengurungkan niat yang buruk terhadap kemapanan umat. Inilah hakekat kalimat :

“Kamu meng-irhâb (teror) musuh Allah dan musuh kalian”. (QS. Al-Anfâl : 60).

Muahmmad SAW bersabda,

وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ
“Saya ditolong dengan Ar-Ru’bi (timbulnya rasa takut/gentar pada musuh) selama perjalanan satu bulan”.

Jihad

-Secara AKTIVE (JIHAD FI SABILILLAH)

Yaitu melakukan perjuangan segenap jiwa raga ketika diserang oleh musuh dan ketika dalam medan pertempuran yang tak terhindarkan,dengan cara gagah berani,maju pantang mundur namun dengan kecerdasan akal (politik tempur) yang tinggi,membuat gebrakan menakuti,menteror musuh agar nyalinya menjadi takut / lenyap.

Juga ketika terjadi suatu keadaan peperangan antara negara muslim dan negara harby. Kalau negara (muslim) memerangi negara lain dan tidak ada antara keduanya mu’âhad atau hilif (perjanjian) dan antara keduanya saling menyerang secara tiba-tiba, maka dalam keadaan ini (boleh) bagi kaum muslimin / warga negara untuk melakukan apa yang dengannya bisa mengalahkan musuh (tindakan terror),dengan tujuan menahan musuh dan kezholimannya, mengembalikan harta benda,menjaga bumi dan kehormatan bangsa. Semua ini dianggap perkara yang boleh. Adapun apa yang berkaitan dengan irhâb terhadap orang-orang yang aman dan lengah dari laki-laki dan perempuan apapun agama dan latar belakangnya, maka mereka itu tidak boleh diserang secara tiba-tiba.

Ayat-ayat yang berkaitan tentang pantang mundur / pantang gentar dalam peperangan :

“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”. (QS. 8. Al Anfaal :45)

“…….dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi”. (QS.5. Al Maa’idah:21).

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar”.(QS. 3. Ali ‘Imran :146).

“Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama”! (QS.4. An Nisaa’ :71).

Ini adalah ayat untuk memunculkan sikap TERORISME ketika dalam peperangan :

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang…..”. (QS.8. Al Anfaal :65).

(2.2). Al-Irhab SKALA INDIVIDU:

SIFAT TERORISM POSITIF SKOUP TERKECIL YANG HARUS DI TERAPKAN PADA INDIVIDU KELUARGA :

Sifat-sifat terorisme yang ada dalam diri kita tidak sepenuhnya negatif,namun ada juga sifat terorisme yang ada dalam diri kita yang bermanfaat bagi diri,keluarga dan sekelilingnya ,yaitu :

1. Menekan,memaksa anak istri agar patuh dan taat pada agama serta menjalankan ibadah,kemudian disertai dengan ancaman yang telah difirmankan Tuhan,seperti dalam ayat berikut :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(QS. 66. At Tahrim :6).

Juga dalam (QS. 4. An Nisaa’ :34).

2. Menekan,memaksa anak istri agar berlaku perbuatan baik,bertindak dan bersikap sesuai dengan norma-norma kesopan santunan dalam kemasyarakatan,kemudian disertai dengan ancaman yang telah difirmankan Tuhan,seperti dalam ayat berikut :

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (QS. 16. An Nahl :90).

3.Memberi ancaman pada pihak luar / orang lain yang hendak berbuat kezaliman atau kejahatan yang akan merugikan diri dan keluarga kita dengan cara akan dilaporkan kepada pihak berwajib,dsb.

Sang Pencerah Islam

III. TERORIS ANGKARA MURKA BERBEDA DENGAN JIHAD DAN BERJIHAD BUKANLAH TERORIS

Tindak terorisme angkara murka seperti yang telah disebutkan diatas jelas tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.Sedangkan JIHAD adalah :

Jihad menurut arti bahasa berarti mengerahkan dan mencurahkan segala kemampuannya baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan menurut istilah syari’ah berarti seorang muslim lahir batin mengerahkan dan mencurahkan segala kemampuannya untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai Islam dalam setiap langkah kehidupannya demi mencapai ridha Allah SWT. Oleh karena itu kata-kata jihad selalu diiringi dengan fi sabilillah (Dijalan Tuhan),untuk menunjukkan bahwa jihad yang dilakukan umat Islam harus sesuai dengan ajaran Islam serta hanya berharap keridhaan-Nya semata.

Seorang muslim sejati tidaklah hidup kecuali dengan jihad,
” Berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad” (QS Al-Hajj 78).

Macam-Macam Jihad fi Sabilillah untuk menegakkan nilai-nilai Islam, adalah :

1. Jihad dengan lisan, yaitu menyampaikan, mengajarkan dan menda’wahkan ajaran Islam kepada manusia serta menjawab tuduhan sesat yang diarahkan pada Islam. Termasuk dalam jihad dengan lisan adalah, tabligh, ta’lim, da’wah, amar ma’ruf nahi mungkar dan aktifitas politik yang bertujuan menegakkan kalimat Allah.

2. Jihad dengan harta, yaitu menginfakkan harta kekayaan di jalan Allah khususnya bagi perjuangan dan peperangan untuk menegakkan kalimat Allah serta menyiapkan keluarga mujahid yang ditinggal berjihad.

3. Jihad dengan jiwa, yaitu memerangi musuh yang memerangi Islam dan umat Islam. Jihad ini disebut dengan qital (berperang di jalan Allah).

TINGKATAN JIHAD :

Yang paling rendah adalah melakukan perang ketika Islam dan Umat Islam diserbu atau diperangi oleh musuh.Sedangkan jihad paling tinggi dan besar adalah jihad memerangi hawa nafsyu.Jadi jika umat Islam dalam melakukan jihadnya tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam tersebut diatas maka tidaklah termasuk dalam katagori jihad.Apalagi kondisi keluarga masih morat marit dan seharusnya mendapat perlindungan,pembinaan,pendidikan serta kemapanan.

Untuk lebih mendalami makna jihad yang sesungguhnya silahkan sahabat pelajari dengan ulama setempat didekat anda atau cukup jelajah pada link-link google.
Maka janganlah kita terjebak ke dalam jalur jihad yang angkara murka,sehingga kita termasuk ke dalam golongan para pelaku terorisme yang sesat.

Dengan demikian pelaku daripada terorisme angkara murka ini disebut TERORIS / IRHAB ZULMUN,sedangkan lawannya sifat-sifat terrorism angkara murka yang ada didalam jiwa/nafs manusia adalah nafs JIHAD FI SABILILLAH yang merupakan manifestasi dari ruh Nurani,yang selalu menangisi jiwanya memanggil-manggil Tuhannya.

Sedangkan dzat yang menguasai segala sifat terorism dalam kehidupan dialam semesta ini adalah zat Sang Maha Teror Allah SWT yang merupakan manifestasi dari Zat-Nya Yang Maha Mengancam,Maha Penghancur (Al-Muntaqiem / The Avenger),Maha Mematikan (Al-Mummit / The Destroyer) dan Maha Pembalas,Maha Pemberi Derita (Ad-Dhaar / The Distressor ).

Kesimpulan :

-Sebaik-baik sifat terorism yang ada dalam diri kita adalah yang mengadakan teror pada jiwa /nafs kefasikan yang ada didalam diri kita sendiri,dengan mengalahkan nafs-nafs Ke-egoan,kejahatan dan kegelapan hati,dengan cara :

-Mengancam pada jiwa/nafs kefasikan kita dengan Ruh Nurani kita dan Ruhani kita,untuk jangan coba-coba membisikkan perbuatan kejahatan,jika tidak ingin mendapat terror yang lebih berat dari Sang Maha Teror(Siksa),dengan cara menjauhi bisikan-bisikan jiwa terror kita atau mengabaikan sifat-sfat terror yang ada dalam jiwa kita manakala membisikkan untuk melakukan kejahatan.

-Bunuh dan hancurkan jiwa kefasikan kita yang selalu menteror jiwa tenang kita dengan cara :

Bertobat,mengingat-Nya,bersabar,mengalah serta mengganti dengan sifat berbuat manfaat pada diri maupun sekelilingnya.Kemudian menyadari bahwa sifat teroris yang ada dalam kita sesungguhnya lemah karena hanya menempel pada jasad / fisik kita,jika jasad / fisik kita dimatikan oleh Tuhannya maka sifat teroris yang ada didalam jiwa kita tak berfungsi,artinya ketika manusia dengan segala keangkuhan sifat terorisnya,keangkaramurkaannya maka ujung-ujungnya kita akan mati binasa,jasadnya meleleh kembali menjadi onggokan tanah di kuburan.

-Terus berusaha meningkatkan ilmu pengetahuan / mengaji dengan menggunakan hati nurani sehingga terhindar dari pemahaman-pemahaman yang menyimpang.

Semoga menjadikan renungan dari qalbu yang jernih

Salam jiwa sebening embun,

Kelana Delapan Penjuru Angin,
Jakarta-Lembah Pulo Harapan,13 September 2013
CopyRights@2013

Reff :
-Al-Qur’an terjemah DEPAG RI
-http://buletin.muslim.or.id/manhaj/terorisme-berkedok-jihad
-http://jihadbukankenistaan.com/terorisme/makna-terorisme-dalam-syari%E2%80%99at-islam.html
-http://haroky2000.wordpress.com/2011/12/25/definisi-terorisme/
– Al-Irhâb Fii Mîzân Asy-Syarî’ah karya DR. ‘Âdil ‘Abdul Jabbâr hal. 20,
– Al-Irhâb Mazhôhiruhu wa Asykâluhu karya Prof. DR. Muhammad Al-Husainy hal. 8
– Haqiqutul Irhâb karya DR. Muthî’ullah Al-Harby hal. 8.
-http://www.dakwatuna.com/2008/01/15/355/jihad-jalan-kami/#axzz2enGGGQ4r