PILAR PILAR AL-MAIDAH:51

PILAR PILAR AL-MAIDAH:51

Buku risalah ini sedang dalam penyelesaian. Selanjutnya akan diterbitkan.

Judul: PILAR PILAR AL-MAIDAH:51

Penulis: Kelana Delapan Penjuru Angin

Thema:

  • KAJIAN AL-QUR’AN SURAT AL-MAIDAH:51, Memahami konteks dan tujuan
  • KEWAJIBAN UMAT ISLAM UNTUK MEMILIH DAN MENGANGKAT SEORANG  PEMIMPIN DARI KALANGAN ISLAM,SEBAGAIMANA MEREKA GOLONGAN NON ISLAM AKAN MEMILIH DAN MENGANGKAT PEMIMPINNYA DARI GOLONGAN MEREKA SENDIRI

DAFTAR ISI :

  • TADABUR PERISTIWA
  • PARA PENDUSTA DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN
  • KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN DIZAMAN NABI MUHAMMAD SAW
  • KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN ZAMAN NABI NABI TERDAHULU
  • AKAN ADA KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN  SEPANJANG  ZAMAN
  • HAKEKAT KEBERADAAN KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN
  • CARA MENSIKAPI DAN MENGHADAPI KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN
  • KAJIAN AL-QUR’AN SURAT AL-MAIDAH:51
  • KONSEP KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM
  • TUNTUNAN MEMILIH PEMIMPIN ISLAM
  • CARA MEMILIH PEMIMPIN YANG SESUAI PERINTAH ALLAH DALAM AL-QUR’AN
  • AKAN SELALU MUNCUL GOLONGAN ISLAM YANG TERBELAH
  • CARA MENSIKAPI DAN MENANGANII PERPECAHAN DITUBUH ISLAM
  • MEMBANGUN PERADABAN ISLAM YANG KOKOH UNTUK RAHMAT SEMESTA ALAM
  • KESIMPULAN DAN PENUTUP

Islam

Exegess:

Al-Qur’an surat AL-MAIDAH:51, sesungguhnya adalah ayat ekseklusif untuk komunitas umat islam dalam kancah politik. Yang dengan enerji ayat tersebut golongan (baca: kelompok, komunitas, organisasi, partai politik) yang dibawah panji panji islam dapat eksis, bersaing dan berjaya serta dapat tampil sebagai pemenang dalam setiap kompeitisi untuk urusan kemaslahatan umat.

Yakin 1000 % bila yang menjadi umat islam itu tunduk luruh terhadap kalam sucii tersebut tanpa reserve, tanpa kepentingan duniawi, tanpa jumawa mengatas namakan AHLI ilmu dalil, tafsyir, gramatika dan sebagainya, dengan berbagai debat  tolol, mengupas, mengorek orek tafsyir hingga ruwet, hingga malah mempertontonkan perpecahan, kebingungan, kekocar kaciran ditengah umat sendiri.

Sementara ada ironi terpampang nyata, dari sikap golongan / umat non muslim, betapa mereka (jama’ahnya) begitu patuh dan tunduk luruh terhadap ayat ayat suci mereka, terhadap fatwa fatwa dari para imam, ulama, pemimpin pemimpin rohani dari kalangan mereka, tanpa reserve, tanpa koar koar, tanpa debat tolol menggali gali dan merangkai dalil dalil pembenaran diantara mereka. Maka menanglah mereka dalam setiap percaturan politik dan kepentingan, cukup dengan satu komando dari pemimpin mereka: ”PILIH WAKIL TUHAN KITA”. Maka merekapun mengikutinya tanpa reserve. Tanpa demo, tanpa aksi aksi yang menguras energi.

Bukankah berbeda dengan keadaan yang dipertontonkan oleh umat islam kini ? Sangat jelas. Atau, O…wahai kaum muslimin pewaris ‘khairu ummatan’, apakah pandangan qalbu kalian masih terhalang oleh tuhan tuhan mazab dan aliran?

Giliran partainya, calon pemimpin yang diangkatnya kalah atau ketika ada perkara yang dianggapnyasebagai ’pelecehan, penistaan  agama, kita begitu sensitif dengan lantangnya meneriakkan ketersinggungan, sakit hati, hingga ramai ramai heboh danmusti repot repot mengadakan unjuk aksi saling membangga banggakan kelompok, mazabnya masing masing, yang malah menampilkan kepingan kepingan ketidak harmonisan dalam tubuh islam.O, betapa bodoh dan bebalnya ‘aqalku…..’

BAB I

TADABUR PERISTIWA

Abad abad diakhir zaman ini adalah masa abad yang sangat menyedihkan dan memprihatinkan bagi kehidupan umat islam. Yaitu harus menyaksikan nasib dan keadaan generasi umat Islam kini yang hidup tidak bersatu, bercerai berai, saling curiga mencurigai, saling bertikai, saling bunuh membunuh sesama saudaranya sendiri, dengan mengatas namakan kebenaran dan Tuhan, saling cemooh, sindir menyindir, saling berdebat mencari pembenaran masing masing dengan serangkaian dalil dalil dan tafsyir. Silahkan lihat saja diberbagai media, jejaring sosial, komunitas online dan dalam kehidupan sehari hari ditengah masyarakat, yang isinya saling profokasi, menulis, memuat dan membagi info yang bernada tendensius saling menjelekkan antar aliran dan organisasi.

LIHATLAH POTRET KETERPURUKAN UMAT ISLAM DIPENJURU BUMI. PERANG BODOH DIWILAYAH TIMUR TENGAH, PEMBANTAIAN UMAT ISLAM DI MYANMAR, DERITA PALESTINA, AFRIKA DAN BELAHAN BUMI LAINNYA.

Sementara dinegeri non muslim, umat islam yang minoritas sedang meregang nyawa mengantri kematian karena dianiaya, dibantai oleh penganut mayoritas yang benci dan anti Islam tanpa mampu melawan, tanpa persiapan dan tanpa pertolongan dari umat islam lainnya, sebab saudara seagamanya itu tengah sibuk dengan perdebatan, dengan berebut kedudukan dan persaingan duniawi, bahkan lebih gigih memperjuangkan dan menjadi pendukung golongan diluar Islam, sementara lainnya asyik dengan saling membangga banggakan kelompok dan organisasinya masing masing.

Sehingga perlahan baik disadari maupun tidak disadari atau bahkan bagi yang tak peduli dengan apa yang terjadi, maka umat islam telah tergilas oleh roda waktu bersama ribuan muslim yang terusir dari kampung halamannya, bersama ribuan lainnya yang tewas mengenaskan, dibantai oleh kaum yang benci dan anti Islam maupun sebab pertumpahan darah sesama Islamnya sendiri, hingga kemudian perlahan baik disadari maupun tidak disadari atau bahkan bagi umat islam awam yang masa bodoh dengan Islamnya sendiri, maka perlahan tapi pasti, umat Islam kini menuju kearah kebinasaan.

Jangan menyalahkan non muslim menjadi pemimpin, sebab mereka menduduki kursi kepemimpinan karena menang pemilu dan terpilih. Maka salahkanlah diri kita sendiri mengapa sebagai umat islam Indonesia yang katanya mayoritas? Tetapi mengapa tidak bersatu memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan muslim sendiri?

O,umat….. pewaris ‘khairu ummatan’,

O, banyak orang islam begitu menjadi pejabat atau pemimpin banyak yang korupsi dan mementingkan diri sendiri? MasyaAllah….! Lantas mengapa seperti kebakaran jenggot saat kalangan islamnya kalah dalam pemilihan sehingga kepemimpinan dimenangkan non muslim? Malah saling adu debat berebut benar, saling berselisih dan bercerai berai hingga saling kafir mengkafirkan sendiri?

Maka yang model begini yang ‘ngerasa’ katanya paling benar, yang paling diridhai oleh Allah, yang ngotot islam lebih berhak menjadi penguasa (Khalifah), namun lupa kita sendiri kotor, kita sendiri tak becus memimpin, kita sendiri tidak becus dalam menegakkan kesatuan dan persatuan islam (ukhuwah islamiyah) dengan benar sesuai perintah-Nya, kita sendiri tidak beriman islam dengan benar. Hingga kita sendiri tidak memperhatikan betapa marahnya Allah kepada kita generasi umat islam yang model begini. Maka tanyakan pada nurani kita sendiri. Sudahkah kita beriman islam dengan benar? Sudahkah kita faham terhadap islamnya sendiri?

Dalam Al-Qur’an, Allah menyindir peradaban umat Islam yang dalam keadaan model begini:

“Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)? “(QS.4.An-Nisaa:109)

Dan ini adalah sindiran Allah untuk umat Islam yang hari hari saling ejek mengejek, saling mengolok olok, saling memprofokasi, saling takfiri (kafir mengkafirkan) dan saling berdebat berebut benar antar kelompok, antar aliran dalam islamnya sendiri.

“Beginilah kamu, kamu ini bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”.(QS.6.Ali’Imran:66)

Maka wahai kaum muslimin muslimat, segeralah secepat mungkin tinggalkan perpecahan, Jika tidak, jangan harap islam tampil menjadi rahmatan lil’ alamin. Sebab islam generasi model begini akan dihapus oleh Allah.

O, berarti harus kembali ke sistim kekhalifahan seperti masa lalu. Pasti islam akan terkemuka kembali. Pasti akan menjadikan umat islam bersatu dan kuat kembali. Sebab ini syareat islam, pasti diridhai Allah. Begitulah kini suara suara kenangan peradaban masa lalu semakin santer mengiang.

Jangankan bermimpi khalifah global, mengurus negara kecil dengan mengatas namakan negara islam saja berantakan, saling bertikai antar aliran, apalagi skoup global. Ujung ujungnya cari pengaruh, kedudukan, rebutan kekuasaan antar aliran seperti masa lalu.

KHALIFAH? Memang sudah paham apa itu KHALIFAH?

(Baca ’keruntuhan sistim khalifah masa lalu’)

(Baca ’karakter bangsa Arab’)

Maka wahai kaum muslimin muslimat, berfikir ! Gunakan logika sederhana saja, tak perlu rumit, ‘njlimet’ ! Islam Indonesia mayoritas, anggap saja 75%. Satukan hati dan jiwa islam. Bebaskan diri dari nafsyu duniawi, kepentingan dan keuntungan pribadi. Saat pemilihan kepemimpinan, persiapkanlah. Kemudian angkat dan pilih saja calon dari Islam yang paling alim (kapabel), bulatkan suara, pilihlah itu. Maka jadilah kepemimpinan dimenangkan islam, dan memimpinlah dengan nilai nilai islam, bangun negeri, bangun mental, bangun kesejahteraan dan kemajuan bangsa serta negara. Wujudkan cita cita Indonesia yang jaya, Indonesia yang rahmatan lil’alamin, Indonesia yang terkemuka di dunia.

BAB II

PARA PENDUSTA DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN

Banyak peristiwa dalam kehidupan dunia ini sesungguhnya sarat akan limpahan pelajaran dan peringatan bagi manusia manusia yang berakal, berfikir dan merenung dalam diam. Pada 2 Desember 2016, terjadi peristiwa akbar yang terjadi secara serentak di berbagai kota besar Indonesia, khususnya di Ibu kota, yang telah menyita perhatian publik dan menjadi sorotan dunia, bahkan disebut sebagai unjuk rasa terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia, yaitu terjadi unjuk rasa besar besaran dari kaum muslimin yang melakukan gerakan yang terkenal dengan sebutan aksi DAMAI 212 Bela Islam III. Hari itu Jakarta berubah menjadi lautan manusia yang berjumlah jutaan berkumpul melakukan aksi gelar do’a bersama dan menyuarakan aspirasi menuntut pemerintah agar menangkap dan mengadili segera gubernur DKI, Ahok, yang telah menista Al-Qur’an dan  melecehkan Islam. Gelombang kemarahan dari umat islam dipicu dari ucapan Ahok gubernur DKI didepan publik dalam lawatan dinasnya di Kepulauan Seribu pada27 September2016

Mengutip dari www.edunews.id , berikut bagian transkrip ucapan Ahok di Kepulauan Seribu :

“………..ini pemilihan kan dimajuin, jadi kalo saya tidak terpilih pun bapak ibu, saya berhentinya oktober 2017. jadi kalo program ini kita jalankan dengan baik pun, bapak ibu masih sempat panen sama saya. sekalipun saya tidak terpilih jadi gubernur. jadi saya ingin ceritanya bapak ibu semangat. jadi gak usah pikiran, ah, nanti kalo gak kepilih, pasti, Ahok programnya bubar. gak, saya sampai oktober 2017.

jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu, gak bisa pilih saya, ya — dibohongin pake surat Al Maidah surat 51 macam-macam gitu lho. itu hak bapak ibu. ya. jadi kalo bapak ibu, perasaan, gak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gak papa…. “.

Demikian bagian transkrip ucapan Ahok di Kepulauan Seribu, selengkapnya silahkan googling saja, maka akan banyak ditemukan konten dan beritanya disana, oleh karena kita disini tidak membahas kasus ’Ahok’nya, namun mengungkap hakekat apa yang keluar dari mulutnya.

Bahwa sesungguhnya kasus Ahok dan atau pernyataan miring yang keluar dari mulut Ahok dan Ahok itu sendiri, tidaklah berdiri sendiri. Semua realitas itu adalah cerminan dari sebuah ungkapan hati / jiwa / sikap atas komunitas umat diluar golongan Islam yang sejak dahulu pernah ada terjadi dan akan ada hal serupa hingga akhir zaman nanti.

“Ahok”, hanyalah sebuah representasi icon pengungkapan suatu hujjah penolakan atau ‘penistaan’ (mewakili performa sikap secara umum) terhadap ayat ayat Al-Qur’an  dari golongan umat / agama diluar Islam yang dipelopori / dipropagandakan oleh para pemimpin agama, ulama, imam imam mereka, yang anti / tidak menyukai risalah Islam (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah SWT,  melalui nabi Muhammad SAW. Dan tuduhan tuduhan miring maupun olok olok merendahkan dan pengingkaran terhadap Al-Qur’an tersebut lazim dilafazkan dalam khotbah khotbah ibadah kebaktian mereka. Sehingga telah menjadi perkataan perkataan kebiasaan dan telah menjadi doktrin kepercayaan yang ditanamkan kedalam jiwa pemahaman setiap umatnya / jemaatnya. Maka tak heran bila pemahaman penganut agama diluar Islam terhadap agama Islam hanya sebatas apa yang telah didoktrinkan oleh para ulama mereka, memahami Islam sebagai agama primitif, agama barbar, agama buatan Muhammad, Al-Qur’an ayat ayat bualan Muhammad, ajaran syetan sesat (lucifer), dan sebagainya hingga ejekan ejekan yang kasar serta ekstrim terumbar dimana mana seperti di sosial media, pada ajang diskusi, di portal situs maupun dalam obrolan perlecehan dikomunitas publik.Sehingga memancing kejengkelan dari komunitas penganut Islam dan yang akhirnya saling membalas baik halus maupun ada yang jadi kasar.

Dalam transkrip ucapan gubernur DKI Jakarta periode: 2012-2017 , di Kepulauan Seribu seperti yang tertulis diatas, maka jika diintisarikan dari seluruh perkataan Ahok tersebut akan memunculkan sebuah kalimat pikiran utama yang menggetarkan qalbu. Kalimat pikiran utamanya itu jatuh / menyorot pada transkrip kalimat yang berbunyi ‘dibohongi’ (pake surat Al Maidah surat 51}. Itulah rahasia sebenarnya dari pokok persoalan, mengapa umat Islam marah dan melakukan aksi bela Al-Qur’an.

Dan ternyata hujah hujah tuduhan miring yang dilontarkan oleh golongan anti Islam dan atau umat diluar Islam, baik sengaja maupun bersifat ”keceplosan”, maka hakekatnya adalah lontaran olok olok merendahkan yang menyiratkan adanya pengingkaran dari qalbu mereka terhadap keberadaan Al-Qur’an maupun risalah Ilahi yang diturunkan kepada para rasul. Maka realitas yang demikian sesungguhnya telah ada terjadi sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak zaman nabi nabi terdahulu sebelum nabi Muhammad SAW.

Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan [25] ayat 4.

Terjemahan ayat tersebut berbunyi, “Dan orang-orang kafir berkata, ‘Al-Quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain.’ Maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezhaliman dan dusta yang besar.”

Dalam redaksi ayat tersebut Allah SWT memberi penegasan adanya tiga obyek dan predikat dari perbuatan suatu kaum penista / pengingkar Al-Qur’an, yakni:

  1. Al-Qur’an dan Muhammad sebagai obyeknya, sementara orang yang menuduh / mengingkari Al-Qur’an dan Muhammad diberi predikat oleh Allah sebagai golongan ’ orang-orang kafir’.
  2. Setiap acara yang diselenggarakan oleh mereka merupakan obyek kesempatan / moment untuk berkata kata / berpidato / berhujjah baik secara eksplisit maupun implisit yang  pada hakekatnya adalah menyuarakan suara suara penolakan, olok olok dan mendustai terhadap keberadaan Al-Qur’an, sementara orang orang / team / koalisi disekelilngnya yang membantu suksesi kepemimpinan dari golongan mereka diberi predikat oleh Allah sebagai golongan ’kaum yang lain’ yaitu tentu diluar golongan kafirin sebagaimana dimaksud pada item pertama, tetapi dari golongan lainnya seperti orang orang ’munafikin’ (islam ikut, kekafiran ikut), kemudian dari golongan ’musyrikin (kaum penyembah berhala) dan lainnya berikut para supporternya.
  3. Sedang setiap laku perbuatan sebagaimana disebut diatas merupakan obyeknya dan kumpulan para pelakunya (yaitu terdiri dari orang pelaku, team, koalisi yang membantunya) yang telah melakukan perbuatan menyuarakan suara suara kebathilan seperti yang dimaksud pada item 1 dan 2 tersebut diatas, diberi predikat oleh Allah sebagai perbuatan ’zhalim dan dusta besar’.

Terkait ayat ini, Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala menerangkan, “Sungguh, mereka telah menciptakan suatu komentar kebathilan, padahal mereka mengetahui bahwa hal itu adalah kebathilan dan mereka pun mengetahui kedustaan diri-diri mereka terhadap apa yang telah mereka tuduhkan.”

Kemudian menurut K.H. Muhammad Arifin Ilham menambahkan bahwa, merupakan salah satu bukti benarnya Al-Qur’an dalam mengabarkan: “telah dan akan ada orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan kebohongan, alat berbohong, dan sejenisnya”.

Silahkan renungkan sekali lagi, kesimpulan inti dari makna Al-Qur’an surat Al-Furqan [25] ayat 4 dalam konteks yang lebih luas adalah : saat ada orang / golongan yang mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan alat kebohongan atau berisi kebohongan,  maka Al-Qur’an juga sekaligus mengungkap, bahwa akan ada kehadiran dari orang-orang munafiq, musyrik dan lainnya, untuk membela orang tersebut. Dan selanjutnya Al-Qur’an  menegaskan pula status orang / golongan yang ber-hujjah tersebut serta yang membelanya / para pendukungnya, resmi disebut Al-Qur’an dalam ayat ini sebagai ‘Pelaku dusta dan kezhaliman yang sangat besar.’  (luar biasa na’udzubillah).

Itulah rahasia mengapa Allah menurunkan surat Al-Maidah:51. Dan surat ini tidak berdiri sendiri, namun dijabarkan kedalam berbagai ayat yang diantaranya ya dalam surat Al-Furqan (25):4, ini dan QS.(2).Al-Baqarah:120 serta dalam belasan ayat lainnya.

Dengan demikian, jelas sekali bahwa makna surat Al-Maidah:51 adalah pasal perintah Allah bagi kaum muslimin untuk memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan muslim itu sendiri, tanpa reserve, tanpa debat dan tanpa mengurai dalil dan tafsyir yang lebih ‘njelimet’ lagi. Tetapi memang begitulah manusia, pasti akan ada orang yang berdalih lagi dengan kata kata, bahwa :”jangan kaitkan agama dengan politik, tidak relevan”, atau ada yang berkata : “dalilnya multi tafsyir, Islam boleh kok memilih pemimpin dari non muslim, yang penting kinerja dan kemampuannya bagus”. Nah, bukankah ada orang orang yang berargumentasi demikian? Maka semua itu adalah dalih, mencari cari celah pembenaran untuk tidak termasuk melanggar ayat ayat Al-Qur’an.

MERENUNGI REDAKSI AYAT TENTANG : SIAPA PELAKU “DUSTA-SIAPA GOLONGAN KAFIR”?

LABEL KAFIR

Pengertian ”Kafir” salah kaprah, dianggap hanya cap bagi orang diluar islam saja. Sedang justru Al-Qur’an menekan label kekafiran itu pada orang islamnya sendiri.

PENJABARAN:

Berikut kalimat kalimat tuduhan / lecehan yang lazim mereka lontarkan terhadap Islam / Al-Qur’an:

  1. Dalam faham mereka, Islam adalah penyembah batu dan sesat
  2. Al-Qur’an buatan Muhammad, yang berisi bualan orang orang jaman dulu
  3. Al-Qur’an adalah ayat ayat syetan (Salman Rusydi)
  4. Islam agama pedang, barbar serta teroris
  5. Dll

(Silahkan googling, link hujjah mereka)

MERENUNGI REDAKSI AYAT TENTANG : SIAPA ORANG ORANG DISEKELILINGNYA YANG “MEMBANTU”?:

Dalam kaitan surat Al-Maidah:51 yang merupakan pasal perintah Allah bagi kaum muslimin untuk tidak mendukung dan memilih pemimpin dari luar golongan islam, maka bahasa lain dari ayat tersebut adalah merupakan perintah sesungguhnya dari Allah untuk kaum muslim wajib memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan muslim itu sendiri, dengan hikmah agar syiar dan kemaslahatan Islam dapat berjalan dan berkembang baik. Akan tetapi ketika umat islamnya tidak mentaati perintah itu hingga malah berpecah belah dan kemudian justru mendukung dan memilih pemimpin dari luar golongan islam, maka pesan dari ayat Al-Maidah:51 lainnya adalah bahwa kepemimpin dari luar golongan islam akan menimbulkan kemudharatan bagi umat islam. Sebab mengapa, yakni karena golongan kafirin dan musyrikin tidak suka dan anti kepada umat islam, yang salah satunya dalam bentuk tudingan bahwa Al-Qur’an adalah kebohongan dan golongan mereka saling bekerja sama satu sama lain untuk kepentingan mereka. Seperti yang dilansir dalam surat Al-Furqan [25] ayat 4.

(Bukankah dapat kita perhatikan ketika sejak pertama ‘Ahok’ tampil dalam pencalonan untuk menjadi pemimpin DKI Jakarta hingga kemudian ketika ‘Ahok’ tersandung kasus penistaan agama hingga harus menjalani proses hukum dan masuk ke persidangan, maka bukankah disekeliling Ahok muncul para pendukungnya dari orang orang / golongan Islam munafik dan golongan lainnya seperti penyandang dana, para konglomerat, para oportunis dan lainnya? Silahkan perhatikanlah dan renungkanlah dengan seksama akan kenyataan ini).

Maka hakekatnya dalam perkara ini sesungguhnya adalah soal pilihan bagi umat Islam, yaitu: apakah kita sebagai umat yang telah dianugerahi kenikmatan iman islam ini termasuk ke dalam kriteria yang dilansir seperti dalam ayat Al-Qur’an tersebut atau bukan, yakni:

  1. Apakah kita sebagai umat islam yang tidak memilih dan mengangkat pemimpin dari non muslim, atau
  2. Apakah kita sebagai umat islam yang justru menjadi pendukung, memilih dan mengangkat pemimpin dari non muslim.

Seterang itu sebenarnya dalam membaca suatu esensi kejadian atau suatu perkara. Namun akan sulit terbaca bagi orang orang awam dan bagi orang orang yang mata hati dan mata batinnya tersekat oleh sumbatan Az-Zhulmun (kegelapan materi), yang berupa nafs materi jasadiyah,  mengejar kepentingan pribadi, kedudukan serta jabatan yang kesemua itu hakekatnya adalah lebih memilih keuntungan duniawi dari pada nilai nilai keIlahian (ukhrawi).

Maka bagi orang orang yang mata hati dan mata batinnya telah tersumbat oleh dinding dinding keduniawian tersebut, secara otomatis sinyal sinyal hidayah dari Ilahi juga akan menutup (closed) pada dirinya. Jika sudah tertutup maka ia akan jauh dari cahaya petunjuk kebenaran. Itulah mengapa orang orang yang mengaku diri sebagai islam namun kehilangan daya pancar keislamannya, hingga kemudian nafs syetaninya akan membisikkan dan menggiring kearah lorong lorong Az-Zhur (kepalsuan) yang penuh dengan jebakan berupa pemikiran pemikiran kebenaran yang semu dan bias yang berlindung dibalik serangkaian pendalilan dan penafsyiran. Tak heran orang orang model begini akan selalu menyuarakan pemikiran kontroversial yang membingungkan umat sebab dibungkus dengan serangkaian  penjabaran dalil dan tafsyir yang sudah nash / qot’i (baku) namun masih dijabar jabarkan lagi dengan rangkain penafsyiran penafsyiran njelimet yang disesuaikan dengan posisi dan kepentingan yang sedang diperolehnya.

MERENUNGI REDAKSI AYAT TENTANG : SIAPA YANG MENDAPAT PREDIKAT SEBAGAI “PENDUSTA DAN ZALIM”?

BAB III

KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN  DIZAMAN NABI MUHAMMAD SAW

BAB IV

KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN  ZAMAN NABI NABI TERDAHULU

KAUM ANTI DAN PENISTA AL-QUR’AN   ZAMAN NABI NABI TERDAHULU

Begitu banyak ayat ayat Al-Qur’an yang memberitakan tentang adanya kaum / orang / golongan yang mengatakan bahwa ajaran kebenaran yang datang dari Tuhan yang disampaikan melalui para nabi nabi terdahulu sebelum nabi Muhammad, dianggap sebagai kebohongan atau berisi kebohongan atau mengada ada:

BAB V

AKAN ADA KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM /  AL-QUR’AN  SEPANJANG  ZAMAN

Mereka memiliki situs resmi yang digunakan untuk berdakwah secara tendensius menggiring faham yang menyesatkan kepada publik, secara halus, yang jika dicermati tulisan tulisannya  mengandung upaya upaya pemurtadan dengan menanamkan pemahaman bahwa islam / alqur’an merupakan kebohongan, serta hanyalah buatan Muhammad.

Ini salah satu link situs propaganda mereka dengan modus dan cara kerja sebagai berikut:

  1. Banyak memasang iklan diportal dan situs  web
  2. Berkamuflase ciri keislaman, namun isinya tuduhan miring terhadap Islam
  3. Komentar dibatasi hanya tiga baris
  4. Ketika koment harus login dengan akun email
  5. Begitu sudah diperoleh alamat email, mereka gencar kirim email berisi tuduhan miring tentang ayat ayat  Al-Qur’an dan menggiring untuk mengikuti  iman mereka

(http://www.isadanislam.com/al-quran/benarkah-al-quran-seratus-persen-firman-allah)

BAB VI

HAKEKAT KEBERADAAN KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN

HAKEKAT KEBERADAAN KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN

TUJUAN PARA PENDUSTA ISLAM / AL-QUR’AN

MEMADAMKAN CAHAYA ISLAM (QS.9.At-Taubah:32, QS.61.As-Shaf:8)

MENYUSAHKAN UMAT ISLAM KARENA KEBENCIAN (QS.3.Ali Imran:118)

PENYEBAB MEREKA MENDUSTAKAN ISLAM / AL-QUR’AN

                -KARENA TIDAK BERPENGETAHUAN AGAMA KEBENARAN MENGIKUTI KESESATAN NENEK MOYANG (QS.18.Al-Kahfi:5)

-Meniru kekafiran umat terdahulu (QS.9.At-Taubah:30)

CARA KERJA KAUM PENDUSTA ISLAM / AL-QUR’AN

                Dengan menyebarkan berita bohong (QS.24.An-Nur:15, QS.5.Al-Maaidah:41)

BAB VII

CARA MENSIKAPI DAN MENGHADAPI KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN

CARA MENSIKAPI / MENGHADAPI KAUM ANTI DAN PENISTA AL-QUR’AN DAN KAUM ANTI ISLAM KINI DAN NANTI

BAB VIII

KAJIAN AL-QUR’AN SURAT AL-MAIDAH:51

KEWAJIBAN UMAT ISLAM UNTUK MENDALAMI, MEMAHAMI DAN MERENUNGI MAKNA AYAT AYAT AL-QUR’AN, KEMUDIAN MENGAPLIKASIKANNYA.

Sahabat, apakah anda masih dalam kebiasaan memperlakukan Al-Qur’an sehari hari hanya sebatas bacaan tadarus saja tanpa membaca terjemahannya, kemudian memahami maknanya? Mari mulai kini jadikan Al-Qur’an sebagai An-Nuur Al-Hidayah, milikilah Al-Qur’an yang dilengkapi terjemahannya, kemudian berikan waktu dan kesempatan cahaya Al-Qur’an menyinari qalbu dan jiwa  anda dengan membaca artinya kemudian merenungi maknanya, kemudian mintalah bimbingan seorang yang berilmu Al-Qur’an, insyaAllah nanti kita akan mendapat pancaran nur hidayah dari Allah dan dari energi Al-Qur’an, yang dengan itu langkah hidup kita akan selalu mendapat petunjuk kemudahan, keselamatan serta ketenangan, terhindar dari pilihan jalan yang salah, kesulitan dan kekhawatiran. Mari dalami ayat ayat Al-Qur’an dengan maknanya.

SEJARAH TURUNNYA AL-MAIDAH;51 DAN TAFSYIR

RIWAYAT ABU BAKR DAN UMAR BIN KHATAB R.A

(DALAM PENYUSUNAN)

Resume:

PENJELASAN (QS Al-Maidah, 5: 51).

Ayat ini adalah satu dari belasan ayat yang berhubungan dengan larangan mengangkat pimpinan dari kalangan non muslim. Oleh karena itu, penafsirannya harus dipadukan satu sama lain. Kecuali itu, penafsiran surah Al-Maidah ayat 51 ini pun tidak bisa hanya sepotong ayat. Sebab, potongan ayat selanjutna (sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain) adalah alasan atau dasar adanya larangan tersebut.

Kata WALI atau AULIYA (jamak) memiliki makna tidak kurang dari sepuluh makna. Antara lain teman, kawan setia, penolong, sekutu, pelindung, pemimpin, kekasih, dan lainnya. Pada ayat ini semua makna tersebut bisa berlaku, sebab substansinya adalah bahwa orang beriman dilarang masuk dalam lingkungan pengaruh atau kekuasaan mereka.

Dari mana makna itu diperoleh? Dari dasar atau alasan adanya larangan tersebut, yaitu “sebagian mereka adalah wali/auliya bagi sebagian lainnya”. Maksudnya adalah, ”Orang-orang beriman jangan menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali, sebab mereka itu hanya akan jadi wali di kalangan mereka sendiri. Orang Yahudi jadi wali bagi orang Yahudi sendiri sesuai dengan keyakinannya. Begitu juga orang Nasrani. Maka, kalau orang beriman menjadikan mereka sebagai wali, pasti akan masuk dalam kendali kepentingan ke-walian mereka.

(Makna seperti ini hanya akan dipahami dengan ilmu ma’ani. Tanpa ilmu ini, kita tidak bisa menghubungkan penggalan ayat seperti itu). Untuk memastikan makna tersebut silahkan rujuk QS 2:20. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” Rujuk pula QS 3: 118, QS.3: 149-150, QS. 9:23, dll. Untuk membuktikannya silahkan perhatikan konspirasi dunia sekarang, bahkan sepanjang zaman. Di manakah Islam dalam permainan bangsa-bangsa besar non muslim?

Surah Al-Maidah ayat 51 itu diakhiri dengan ungkapan, “Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” Sangat jelas sekali, ayat ini mewanti-wanti bahwa orang beriman yang mengangkat wali dari orang kafir akan diseret untuk jadi kafir juga. Dan, kalau pun mengaku muslim, dia hanyalah sebagai muslim zalim yang sudah dijauhkan dari petunjuk Allah.

Kalau mengambil orang kafir sebagai wali (dalam arti teman dekat, sekutu, atau penolong) sudah dilarang, padahal hubungan tersebut tidak menimbulkan otoritas kuat untuk mengatur sekutunya, larangan itu menjadi lebih kuat jika mengangkatnya sebagai wali dalam arti pemimpin. Oleh karena itu, penafsiran atau penerjemahan kata WALI atau AULIYA itu dengan PEMIMPIN sebenarnya lebih lunak. Sebab, itu masih membuka peluang untuk menjadikannya sebagai teman dekat atau sekutu, selama tidak terseret kepada lingkup pengaruh yang tidak diizinkan.

***

Mengenai sebab turun ayat tersebut, benar ada periwayatan yang menghubungkannya dengan kondisi perang. Akan tetapi, itu hanya sebagian saja dari beberapa periwayatan tentang sebab turunnya yang dikemukakan oleh para ahli tafsir.

Setidaknya ada empat katagori periwayatan yang berbeda terkait peristiwa, waktu/situasi, dan pelakunya. Ada yang meriwayatkan dalam kondisi perang, pasca perang, perangnya juga berbeda-beda, orang atau pelakunya juga berbeda-beda. Ada pula yang meriwayatkan dalam kondisi normal (bukan perang). Sedangkan ayat-ayat yang melarang mengangkat kafir sebagai wali yang tidak terkait dengan situasi perang justru lebih banyak, baik dalam bentuk larangan langsung atau bentuk pemberitaan.

Oleh karena itu, dalam hal hubungan sebab turun ayat dengan ayatnya, para ulama tafsir meletakkan kaidah baku sebagai metodologi penafsirannya. Yaitu, al-Ibrah bi Umul lafdzi la bi khusu Sabab (Titik pertimbangannya terletak pada generalitas makna ayat bukan pada khususnya sebab turun). Tentu saja sebab turun ayat itu penting, setidaknya untuk melihat orientasi makna. Tapi peristiwa dan situasi yang bersifat temporal tidak mungkin mereduksi pernyataan-pernyataan banyak ayat yang sangat tegas dan general. Untuk membuktikan nya silahkan rujuk QS. 3: 28, QS. 4: 138-139, QS. 4: 144, QS. 60: 13, QS. 5: 80-81, QS. 58: 14-15, dll.

***

Mengenai Rasulullah saw. tidak menolak kepemimpinan pamannya, yaitu Abu Thalib, itu memang benar adanya. Kalau Alquran diturunkan sekaligus, tidak berangsur, masalah tersebut boleh jadi layak dipertanyakan. Akan tetapi, kenyataan berbicara lain, Alquran diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Saat Abu Thalib masih hidup adalah saat awal perjuangan Islam di Mekkah.

Ayat-ayat yang diturunkan di sana baru menyangkut masalah-masalah pokok akidah. Adapun ayat-ayat syariah tentang berbagai kewajiban, seperti zakat, shaum, haji, termasuk masalah pemerintahan turun di Madinah. Itu terjadi jauh setelah Abu Thalib meninggal dunia. Jadi, di Mekkah itu belum ada aturan tentang kepeminpinan. Lagi pula, di saat itu Abu Thalib adalah satu-satunya tokoh Quraisy (yang tidak beriman) yang memberikan perhatian dan perlindungan kepada Rasulullah saw.

Dengan demikian, dalam penafsiran Alquran itu memerlukan ilmu pendukungnya, tidak bisa dikira-kira, apalagi diseret oleh keinginan atau kepentingan tertentu. Setiap lompatan atau penggalan kalimat dalam satu ayat, baik menggunakan kata sambung atau tidak, pasti mengandung makna yang dalam. Begitu pula pengulangan konsep sama yang tersebar pada beberapa ayat dan surat berbeda. Untuk mengungkap rahasia maknanya ada ilmunya, yaitu ilmu manasabah.

Maka apabila suatu masalah diungkapkan dalam banyak ayat tidak bisa hanya dikaji dan disimpulkan dari satu ayat. Ayat-ayat yang berhubungan tersebut harus dicari korelasinya, sehingga terjadi penafsiran ayat dengan ayat. Inilah derajat tafsir yang paling tinggi.

***

Sekarang ini muncul perbedaan pendapat di kalangan orang muslim tentang kriteria pemimpin. Perbedaan tersebut muncul antara lain karena adanya keriteria pemimpin yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah. Hanya ada dua kriteria pemimpin yang beliau sampaikan, yaitu al-qawiyy dan al-amien. Al-qawiyy adalah orang yang memiliki kemampuan dan kompetensi yang baik untuk menjalankan tugas kepemimpinannya, sedangkan al-amien adalah orang yang jujur.

Dari sinilah timbul pendapat yang menyatakan bahwa yang penting pemimpin itu punya kompetensi memadai dan jujur. Iman tidak lagi harus jadi pertimbangan. Ini adalah kekeliruan besar, sebab al-amien yang dimaksud oleh Imam itu merupakan aktualisasi dari nilai intinya, yaitu khasyyatullah (takut kepada Allah) atau ketakwaan yang mendalam kepada Allah (Anda bisa merujuk buku aslinya al-Siyasah al-Syariyyah).

Hal ini sama kelirunya dengan menetapkan keriteria Shidiq, Amanah, fathonah, dan tabligh yang dibiarkan terbuka dan tidak dirujukan kepada nilai intinya. Padahal sifat-sifat tersebut adalah sifat Rasulullah saw. yang secara tergas dinyatakan bahwa beliau tidak mengatkan apapun dan tidak melakukan apapun kecuali atas bimbingan wahyu.

Jadi shidik (benar) itu standarnya apa? Yang pasti hanya Alquran. Amanah (jujur) itu jujur kepada siapa? Yang pasti hanya jujur kepada Allah. Rasulullah saw. sering mengalami cobaan berat, seperti saat dilempari batu di Thaif, tapi beliau tetap bersedia menerima penderitan lebih berat sekalipun asal tetap bisa jujur kepada Allah sehingga menggapai ridha-Nya. ***

Sumber: (Penulis Dr. Aam Abdussalam M.Ag)

IKHTILAF

-TOKOH ISLAM YANG MELARANG MENGANGKAT PEMIMPIN UMAT DILUAR ISLAM

–TOKOH ISLAM YANG MEMBOLEHKAN MENGANGKAT PEMIMPIN UMAT DILUAR ISLAM

(Dalam penyusunan)

BAB IX

KONSEP KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

ARTI PEMIMPIN DALAM ISLAM

-Kepemimpinan dalam islam adalah ketika ada keberadaan, ada  komunitas, ada masyarakat, ada organisasi, ada partai, ada negara yang penduduknya mayoritas islam, maka Al-Qur’an surat Al-Maidah:51, berikut rangkaian dalam ayat lainnya berlaku, yaitu memilih dan mengangkat pemimpin wajib dari kalangan islam.

Akan berbeda lagi ketika umat islam tinggal dinegara yang bukan mayoritas muslim, maka berlaku pedoman Al-Qur’an surat, yang lainnya.

Sebab sistim negara adalah demokrasi kerakyatan / suara rakyat dengan mengadakan pemilu, berbeda jika sistim kerajaan.

PEMIMPIN DALAM SEGALA HAL

-Pemimpin dalam keluarga, dalam organisasi,dll

TUNTUNAN MEMILIH PEMIMPIN ISLAM

Bahwa filosofinya adalah: Ukhuwah Islamiyyah. Ini adalah konsep Allah secara tegas dalam Al-Qur’an untuk umat Islam, yang merupakan metode tak tertawarkan agar umat Islam selalu memenangkan kompetisi dalam segala hal termasuk dalam hal memilih seorang pemimpin dari kalangan Islam sendiri.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS.surat Ali Imraan:103)

Masih hendak didebat juga ayat tegas ini dengan berbagai penafsyiran dan dalil dalil menurut angan masing masing? Kebangetan manusia, manusia !

Indonesia adalah negara republik. Sebab cara memilih dan mengkat seorang pemimpin / presiden dilakukan dengan cara menadakan pemilu (suara rakyat) maka surat Al-Maidah:51 ini berlaku bagi umat Islam. Jika negara Indonesia dikepalai oleh seorang raja, maka akan berbeda pedomannya bagi umat islam dalam memilih dan mengkat seorang pemimpin / presiden, maka ayat-lainnya-yang ditekankan bagi umat islam Indonesia.

Umat Islam dalam memilih dan mengangkat seorang pemimpin untuk urusan kemaslahatan orang banyak (strategis), maka sudah sepatutnya selalu menseleksi dan memilih calonnyadari kalangan Islamnya sendiriyangbenarbenarislamnya. Dalam hal ini faktor intelektualitas, pengetahuan serta wawasan dari umat Islamnya sendiri sebagai pemilih, sangatlah dipentingkan. Oleh karena itu jangan berharap banyak umat Islam bisa selalu memenangkan calon pemimpinnya sendiri jika umat pemilihnya tidak memahami nilai nilai Islam. Jika kondisinya seperti ini maka jangan harap kepemimpinan akan dimenangkan dari kalangan Islam. Disinilah pangkal persoalannya, yaitu wawasan keislaman umat Islam itu sangat vital.

Maka saat umat Islam seluruhnya telah menjiwai nilai nilai Islam, tak perlu melalui keadaan rumit pasti kepemimpinan akan selalu dikuasai / dimenangkan umat Islam. Ini sesuatu yang sudah otomatis. Maka sesungguhnya Al-Qur’an mengajari kita hukum hukum otomatis.

Kemudian jika menginginkan umat Islamnya cerdas dan berbobot / berpengetahuan serta menjiwai nilai nilai Islam, tentu dibutuhkan para ulamanya, kyainya atau pendidiknya juga yang cerdas cerdas dan berwawasan luas, tidak sempit pikir dan pemahaman. Dan wawasan yang luas itu diperoleh dengan terus menimba ilmu disegala bidang baik agama maupun umum.

BAB X

TUNTUNAN MEMILIH PEMIMPIN ISLAM

 (Indonesia menjadi incaran negara / paham lain untuk dikuasai), Ingin Islam-dan- pancasila lenyap. Ada revolusi besar nantinya. Harus dibangun sekarang untuk mencegah kehancuran Indonesia.

Dalam kehidupan berbangsa di dunia ini sudah menjadi suatu kelaziman bahwa mayoritas akan memilih pemimpin dari kalangannya sendiri…..Indonesia adalah negara didunia dengan penduduk beragama Islam terbesar, artinya mayoritas muslim. Suatu kewajaran bahkan keharusan bagi umatnya untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegaranya dengan kepemimpinan dari kalangan sendiri. Sebagaimana negara Katolik Italia yang mayoritas penganut Katholik, maka kepemimpinan berbangsa dan bernegaranya juga dikuasai / dalam kepemimpinan Katholik . Apakah umat Islam yang minoritas disana ngotot untuk memimpin? Demikian juga Indonesia, sepatutnya umatnya memilih pemimpin dari kalangan / golongannya sendiri. Itulah makna ayat ayat Al-Qur’an yang sesungguhnya memberitahu kita tentang keharusan memilih pemimpin dari golongannya sendiri. Maka patutkah seorang Islam tidak menjadikan pesan pesan Ilahi itu untuk ditaati?

Sementara ayat ayat Al-Qur’an telah mengingatkan umat Islam untuk memilih pemimpin dari golongannya sendiri agar hajat hidup berbangsa dan bernegaranya berjalan dinamis memenuhi kemaslahatan.

Namun sayangnya yang menjadi umat Islamnya sendiri berpecah belah dengan pembenaran dalil masing masing, bahkan rela meninggalkan persatuan Islamnya dengan gigih mendukung / berdiri pada barisan kepemimpinan non muslim.

Cobalah renungkan hikmah hikmah Al-Qur’an berikut ini:

Ketika Allah mengharamkan umat Islam memakan daging babi dengan hanya 4 ayat saja, maka seluruh umat Islam mematuhinya (taqwa), namun anehnya Ketika Allah mengharamkan umat Islam untuk tidak memilih kepemimpinan dari selain kalangan Islam, padahal Allah memberitahu rahasia rahasianya dengan belasan ayat, mengapa justru umat Islam banyak yang berani tidak mematuhinya (taqwa)?. Malah berpecah belah dengan argumentasi pembenaran pada kelompok yang dibungkus dengan rangkaian dalil? Sungguh Ironi umat Islam lebih larut tenggelam dalam saling pertikaian, peperangan, pembantaian saudara saudaranya sendiri. Tanya MENGAPA?

Ternyata kebanyakan umat islam dan tokoh Islamnya sendiri lebih cinta dengan kedudukan, pamor, uang dibanding ukhuwah islamnya.

Ingat jika begini Allah murka dan ingat generasi yang model seperti ini oleh Allah bakal diancam dengan pembinasaan generasi untuk kemudian akan diganti dengan generasi umat Islam yang baru. (ayat)

“Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian”. (QS. 4. An Nisaa’ :133)

PERBANDINGAN AYAT YANG DITAATI SECARA SOLID DENGAN YANG TIDAK OLEH UMAT ISLAMNYA SENDIRI

NO HARAM MAKAN

DAGING BABI

JML

AYAT

KET. HARAM MEMILIH

PEMIMPIN KAFIR

JML

AYAT

KET.
1 QS.2:173 1 ditaati QS.3:28 1
2 QS.5:3 1 ditaati QS.3:118 1
3 QS.6:145 1 ditaati QS.3:149-150 2
4 QS.16:115 1 ditaati QS.4:138-139 2
5 QS.4:144 1
6 QS.5:51 1
7 QS.5:57 1
8 QS.5:80-81 2
9 QS.9:16 1
10 QS.9:23 1
11 QS.28:86 1
12 QS.50:12-15 2
13 QS.60:1 1
14 QS.60:13 1
15 QS.2:120 1
16 QS.2:145 1
17 QS.25:52 1
18 QS.6:70 1
TOTAL 4 Ayat TOTAL 22 Ayat

BAB XI

CARA MEMILIH PEMIMPIN YANG SESUAI PERINTAH ALLAH DALAM AL-QUR’AN

CARA MEMILIH PEMIMPIN YANG SESUAI PERINTAH ALLAH DALAM AL-QUR’AN

                -MEMILIH PEMIMPIN UNTUK KEUTUHAN NKRI

BAB XII

AKAN SELALU MUNCUL GOLONGAN ISLAM YANG TERBELAH

AKAN SELALU MUNCUL GOLONGAN ISLAM YANG TERBELAH, TERHADAP PEMAHAMAN  AYAT  AYAT AL-QUR’AN YANG BERBENTURAN DENGAN KEPENTINGAN  PRIBADI / KELOMPOK

sebagai berikut : Al-Furqaan sendiri artinya PEMBEDA

  1. Golongan Islam SAMI’NA WA’ATOKNA tanpa reserve terhadap Al-Maidah:51
  2. Golongan Islam ABU-ABU (Sekuler) akan berdiri di golongan mana saja yang menguntungkan pribadi, yang pembenarannya akan berlindung dibalik rangkaian penafsiran dalil dalil cangkang.
  3. Golongan Islam MASA BODOH

BAB XIII

CARA MENSIKAPI DAN MENANGANII PERPECAHAN DITUBUH ISLAM

BAB XIV

MEMBANGUN PERADABAN ISLAM YANG KOKOH UNTUK RAHMAT SEMESTA ALAM

KESIMPULAN DAN PENUTUP

PENUTUP

UMAT ISLAM HARUS MELEK ILMU KEISLAMAN

Agar tampil menjadi umat Islam yang berkualitas (Al-insanul kamil), atau setidaknya menjadi bagian golongan ulul ’ilm, ulul albab sehingga tidak mudah terjebak kedalam lorong lorong Az-Zhulmun (kegelapan) dan kisi kisi Az-Zhur (kepalsuan)

Note:

Risalah ringan ini hanya resume singkat yang di intisarikan dari buku / kitab risalah yang masih dalam penyelesaian,yang berjudul:”HIZBUN NAAS” (Bendera manusia) karya Agus Sholech Al-Qadry,

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin, 03 April 2017

CopyRights@2017

Support & contact:

-Email: kelanadelapanpenjuruangin@gmail.com

-Facebook@https://web.facebook.com/kelana.delapanpenjuruangin

-Phone: +62878-378-22133

Iklan

** ALLAH, RABB,ILAAH dan TUHAN **

MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “HU” (Dia –laki laki), DALAM AL-QUR’AN ?

KONTROVERSI PENYEBUTAN “TUHAN”,DAN ASAL USULNYA.

HARAM DAN MURTADKAH MENYEBUT ALLAH DENGAN TUHAN, GUSTI, PENGERAN ?

SIAPA ALLAH, SIAPA HU, SIAPA RABB, SIAPA ILAAH, SIAPA TUHAN, SIAPA GUSTI, PENGERAN ?

SEBUAH RISALAH JAWABAN BUAT ORANG YANG TANPA ILMU PENGETAHUAN, MELEMPARKAN TUDUHAN TERHADAP “ALLAH”, SEBAGAI TUHAN BERHALA BANGSA ARAB,BABYLON.

sujud

SESEMBAHAN MANUSIA

Disadari atau tidak disadari,manusia akan merindukan Sang Pencipta dan Pelindungnya (QS.39:08 , 49).Fitrah diri manusia bersuara menjerit memanggil manggil Rabb nya manakala manusia itu tengah menghadapi malapetaka,bahaya maupun kesulitan dahsyat.Saat itu manusia tunduk,tawaqqal dan lemah dihadapan-Nya.(QS.31:32 , QS.17:66-69).

Mengapa manusia mencari dan menyembah Tuhan?

Umat Islam menyembah Allah,umat Kristen menyembah Tuhan Yesus,umat Hindhu menyembah para Dewa,umat Budha menyembah Sang Budha, Umat Tiongkok menyembah Tian,umat Hindhu menyembah para Dewa,dan sebagainya.Sepertinya Tuhan itu berjumlah banyak,sebab masing masing umat memiliki Tuhan.Demikiankah?

KONTROVERSI PENYEBUTAN “TUHAN”.

Dari aspek aqidah, bagi umat Islam yang telah beriman, mengakui adanya tuhan-tuhan selain Allah adalah sebuah kemusyrikan dan dosa tak berampun,sebab Ketauhidan sudah menjadi logika agama terunggul.(untuk PEMAHAMAN AQIDAH), Silahkan pahami pada link :

https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/09/03/mutaqod-50-64-doktrin-tauhid-dasar/

Lalu, mengapa di dalam Al-Qur’an Tarjamah Tafsiriyah ,Al-Qur’an terjemahan DEPAG RI,kata “Ilaahun” dan “Rabbun” diterjemahkan sebagai ‘tuhan’?
Apa bedanya dengan terjemah harafiah tradisional yang juga menerjemahkan istilah yang sama dengan arti yang sama pula? Contoh dalam budaya pesantren dan masyarakat Islam di Jawa menggunakan kata “GUSTI , PENGERAN” untuk kata ganti Tuhan.
Kemudian bukankah kosakata “Tuhan” masuk ke dalam bahasa Indonesia, akibat pengaruh teologi yang dibawa oleh kaum kolonial ? Jika demikian apakah sebaiknya kata ‘ilaahun‘ dan‘rabbun’ tidak perlu diterjemahkan sebagai tuhan, biarkan saja dalam bahasa aslinya ?

Pertanyaan semacam ini sering mengemuka dikalangan umat Islam pada umumnya,dan juga dari para pembaca kritis Al-Qur’an terjemahan, termasuk para tokoh dan aktivis Islam.Bahkan yang mengherankan ada juga orang yang mencantumkan gelar ustadz mempersoalkan istilah ini. Sepertinya merasa anti dan alergi menggunakan kata “Tuhan, Gusti, Pengeran ”, yang dianggap melenceng dari aqidah dan berasal dari doktrin non Islam.

HARAM DAN MURTADKAH MENYEBUT ALLAH DENGAN TUHAN ?

tuhan utk semua

Mengganti lafaz Allah dengan Tuhan jelas itu sebuah kejahatan serius,sebab disamping perbuatan kemusyrikan,juga “GHADAB” (perbuatan golongan orang orang yang dimurkai Allah).Tetapi bagaimana jika kita menyebut Allah dengan kata ganti lain ? Seperti kadang dalam menulis atau saat sedang berucap dan berdo’a, kita tidak menggunakan kata Allah tetapi dengan kata “TUHAN” , ”GUSTI” dan atau “PENGERAN”, Apakah termasuk perbuatan kemusyrikan dan ghadab ? Maka dalam perkara ini seyogyanya setiap muslim tidak asal mengharamkan atau meng-kafirkan sesama Islam,jika kita belum memahami segala sesuatunya dengan ilmu pengetahuan.

Maka sobat budiman,mari kita mencari tahu ilmu pengetahuannya pada risalah yang saya rangkum selanjutnya ini,agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang orang yang asal (asal bicara, asal nulis, asal berdakwah). Malulah kita apalagi kadang kita saksikan sesama teman muslim adu otot berebut benar pendapatnya masing masing,saling benci membenci hanya gara gara mempertahankan perkara yang kita tidak memiliki ilmu pengetahuannya atau kurang,tetapi hanya didasarkan atas “perasaan” .
(merasa apa yang telah diajarkan gurunya paling benar,merasa cukup dari membaca buku sudah paling benar,dsb).

Nah,lebih runyam lagi ketika kita mendapat pertanyaan miring tentang agama Islam,tentang makna ayat ayat Al-Qur’an, dari orang yang non muslim yang tiada pengetahuannya tentang ke-Islaman, sementara kita kebingungan menjawabnya.Ujung ujungnya hanya bisa dongkol,sakit hati dan balas memaki atau menghina.

SIAPA TUHAN, SIAPA ILLAH, SIAPA RABB, SIAPA GUSTI, PENGERAN ?

kaligrafi Alloh

Tuhan ya Allah,Illah ya Allah,Rabb ya Allah,Gusti,Pengeran ya Allah.Maka :

“Serulah Allah atau serulah Yang Maha Pengasih (ar-Rahman) Dengan nama apa saja kamu menyeru Dia; maka Dia memiliki nama-nama yang indah (asma-ul-husna)” – Qs. 17 al-Israa’ : 110

*Dari ayat diatas, jelas bahwa al-Qur’an memperkenalkan Tuhan yang universal, serulah Tuhan dengan nama apapun yang baik dan indah serta tentunya tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan sifat-sifat kemuliaan-Nya.

Sebab suatu hal yang pasti adalah bahwa bahasa Arab bukan satu-satunya bahasa yang ada ditengah masyarakat dunia. Oleh karena itu secara logika, keberagaman penyebutan terhadap Tuhan tidak dapat dihindari. Bangsa Afrika Selatan (Zulu) menyebut Tuhan dengan nama uMVELINQANGI, umat India mengenal istilah PRAMATMA, Bangsa Aborigin di Australia Selatan memanggil Tuhannya dengan istilah ATMATU,bangsa Jepang mengistilahkan Tuhannya “KAMI”, dan sebagainya.

(see at : Ahmed Deedat, Allah dalam dalam Yahudi, Masehi, Islam, terj.H. Salim Basyarahil, H. Mul Renreng, Penerbit Gema Insani Press, Jakarta, 1994, hal. 21-28).

Seorang ahli tafsir Al-Qur’an dari Indonesia, M. Quraish Shihab menyatakan bahwa wahyu-wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad juga tidak mempergunakan istilah Allah untuk kata ganti Tuhan melainkan memakai istilah Rabbuka dan baru pada wahyu ke-7 yaitu surah ke-87 istilah Allah diperkenalkan kedalam al-Qur’an.

(see at : Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A. Wawasan Al-Quran : Tafsir Maudhu’I atas pelbagai persoalan umat, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, dalam Catatan kaki hal. 23-24).

Kata Allah sendiri terbentuk dari kata AL dan iLah.
(see at : Abu Iman ‘Abd ar-Rahman Robert Squires, http://www.muslim-answers.org/allah.htm, dalam “Who is ALLAH”) ,

Dimana kata AL sama seperti penggunaan kata THE dalam bahasa Inggris, yaitu sebagai kata sandang atau penegasan tertentu. Sementara kata iLah memiliki arti Tuhan. Sehingga istilah Allah berarti Tuhan yang satu itu.
Dan konsep ini sesuai dengan pengajaran para Nabi :

“Dialah Allah yang Satu Tempat semuanya bergantung ;Tidak pernah Dia beranak dan tidak pula pernah Dia diperanakkan Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya .”– Qs. 112 al-Ikhlas : 1 – 4

Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa. – Perjanjian Baru : Injil Markus 12:29

Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia – Perjanjian Lama : Kitab Ulangan 4:35

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa – Perjanjian Lama : Kitab Ulangan 6:4

Dengan demikian maka perbedaan yang terjadi dalam menyebut Allah,akibat pengaruh bahasa masing masing umat dunia yang beragam,jadi janganlah membuat kita menjadi umat Islam yang sempit pemahaman.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal .”– Qs. 49 al-hujuraat : 13

Allah telah memilih umat Islam sebagai umat yang terbaik, maka buktikan kepada umat lainnya bahwa umat Islam memang umat yang cerdas,berpengetahuan luas, menyebarkan perdamaian, menjadi rahmat untuk semua alam.(Qs. 3 ali Imron : 110– Qs. 2 al-Baqarah : 143 – Qs. 5 al-Maidah : 8).

ASAL USUL KATA “TUHAN” MENJADI KOSAKATA BAKU BAHASA INDONESIA

kamus

Menurut riwayat, bahwa kosakata “Tuhan” adalah bebernama rasal dari “plesetan” kata “Tuan”, Hal ini terjadi disinyalir karena ungkapan perkataan dari seorang Belanda yang Leijdecker pada tahun 1678.Juga ditemukan dalam Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ. “Arti kata ‘Tuhan’ ada hubungannya dengan kata Melayu ‘tuan’ yang berarti atasan/penguasa/pemilik”. Keterangan ini dikaitkan dengan terjemahan Brouwerius, 1668, untuk istilah Yunani, Kyrios, sebutan bagi Isa Almasih. Maksudnya Tuan Yesus, tapi dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan, Tuhan Yesus.

Diterangkan secara lugas oleh Alif Danya Munsyi di majalah Tiara (1984).Dalam makalahnya itu, Alif menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi sebagai salah satu gejala paramasuai, yaitu penambahan bunyi ‘h’ yang nirguna pada kata-kata tertentu, misalnya embus menjadi hembus,empas menjadi hempas, asut menjadi hasut, dan tuan menjadi TUHAN.

Gejala itu timbul karena dialek tradisional yang kemudian dipengaruhi oleh dialek dialek dari bangsa kolonial yang acapkali mengucapkan bahasa bahasa setempat,namun aksennya berbeda atau berubah,sehingga kalimat yang diucapkan oleh bangsa penjajah itulah yang menjadi istilah populer dikalangan ahli kitab serta masyarakat pribumi.

Lingua Franca Melayu yang dipakai bangsa-bangsa Eropa antara lain Portugis dan Belanda sebagai bahasa administrasi untuk kegiatan ekonomi dan politik di seantero Nusantara, juga dipakai dalam kepentingan penyiaran agama Nasrani (agama umum yang dianut bangsa Eropa).Mereka (bangsa Eropa) biasa menyebut Isa dengan panggilan “TUAN”, yang dalam bahasa Yunani adalah ‘Kyrios’, dalam bahasa Portugis ‘senor’, dalam bahasa Belanda ‘heere’, dalam bahasa Perancis ‘seigneur’ dan dalam bahasa Inggris ‘lord’. Contohnya kalimat :

“The grace of or lord Jesus Christ be with your spirit”.

Ketika penghayatan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mula-mula oleh bangsa Portugis yang bernama Browerius, pada tahun 1663, sebutan Isa Al Masih masih TUAN, tetapi ketika orang Belanda yang bernama Leijdecker pada tahun 1678 menerjemahkan surat-surat Paulus itu, sebutan TUAN telah mengalami paramasuai yakni ada tambahan sisipan konsonan “H”,sehingga menjadikan penulisannyapun berubah menjadi”TUHAN”.

Selanjutnya kata Tuhan itu dibakukan sebagai kosakata baru, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta (Katolik), tanpa memberikan keterangan apapun tentang kata TUHAN. Kemudian kata “TUHAN” ini digunakan secara finish oleh para team penerjemah,untuk menterjemahkan kata “ILAAHUN” , “RABB” dalam bahasa Arab, dengan padanan kosakata “TUHAN”,hingga sekarang sebab tidak adanya padanan kata lain selain “TUHAN”.(ini yang disebut “menurut bahasa kaumnya”).
Terlepas dari parasuai dialek bahasa maka yang pasti setiap bahasa memiliki keterbatasan padanan kata dari kosa kata bahasa lain. Problem keterbatasan kosa kata ini, biasa terjadi pada setiap bahasa apapun di dunia ini. Akan tetapi, bila suatu kata dalam bahasa asing yang sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia tidak boleh diterjemahkan, niscaya akan menyulitkan pembaca yang ingin memahami maknanya.

*Upaya penerjemahan suatu bahasa ke bahasa lain, aspek intelektualitas dan budaya pengguna bahasa sangat menentukan kekayaan kosa kata suatu bahasa. Dalam kaitan ini, untuk menjelaskan kata ‘tuhan’ sebagai terjemah dari kata ‘ilaahun‘ dan ‘rabbun‘, haruslah dipahami argumentasi bangsa Arab yang menerjemahkan kata ‘tuhan’ dan ‘dewa’ sebagai ilaahun.
Sebagai contoh, kata dewa dan tuhan dalam bahasa Indonesia, terjemahan Arabnya sama, yaitu ilaahun. Padahal pengertian kata Dewa dan Tuhan dalam bahasa Indonesia sangat jauh berbeda.
Kata Tuhan pengertiannya adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb. Sedangkan kata dewa pengertiannya adalah makhluk Tuhan yang berasal dari cahaya suci kegaiban yang ditugasi mengendalikan kekuatan alam atau orang/manusia, juga berarti sesuatu yang sangat dipuja. (KBBI, 1990)

Oleh karena itu, jika kata ilaahun dan rabbun tidak diterjemahkan dengan kosakata yang populer dalam bahasa Indonesia, justru mempersulit pembaca untuk memahami kata ilaahun dan rabbun. Padahal terjemahan itu bertujuan untuk mempermudah pembaca memahami makna kalimat yang dibaca.

PRONOMINA (KATA GANTI) ‘YHWH’ DAN ‘TUHAN ALLAH’ DALAM PL/PB

Menurut New Advent Catholic Encyclopedia, Bangsa Yahudi mengenal tiga sebutan nama untuk Tuhan, yaitu El, Elohim dan Eloah, di samping nama YHWH (Tetragrammaton/ Yahweh). Perkataan Yahweh ini terdapat sekitar 6000 kali dalam Perjanjian Lama, Elohim 2570, Eloah 57 kali dan El 226 kali. Walaupun masih menjadi perdebatan para ahli Kitab Suci, dikatakan bahwa kemungkinan kata Allah berasal dari kata El ini, yang berarti Tuhan yang Mahabesar/Mahakuasa (lih. Kel 6:2) yang secara derivatif dapat pula berarti “Ia yang dikejar oleh semua orang, Ia yang menjadi tujuan semua orang, ia yang kepada-Nya semua orang mencari perlindungan dan bimbingan, Ia yang kepada-Nya seseorang mendekatkan dirinya, dst”. Diskusi argumen tentang asal usul kata ini, setuju atau tidak setuju akan makna derivatif-nya akan menghasilkan pembicaraan yang terlalu jauh.

Sedangkan nama Tuhan sebagai YHWH yang diterima oleh Musa, merupakan nama yang sangat sakral, maka menurut tradisi Yahudi, mereka dilarang menyebutkan nama YHWH tersebut. Penyebutan nama YHWH (Yahweh) hanya dilakukan setahun sekali oleh Imam Agung, yang dilakukan di Bait Allah, pada pesta Yom Kippur. Karena kesakralan kata YHWH ini, maka tak sembarang orang menyebutkannya; dan di dalam pembacaan Kitab suci, mereka mengganti kata YHWH tersebut dengan Adonai. Septuagint dan Vulgate kemudian menerjemahkan Adonai ini dengan Kyrios/ Dominus.

Paus Benediktus XVI dalam bukunya Jesus of Nazareth condong kepada hasil studi para ahli Kitab Suci yang mengatakankan bahwa pengakuan Petrus akan Yesus sebagai Mesias, Putra Allah yang hidup (Mat 16:13-15), jatuh pada peringatan hari Yom Kippur ini (lihat buku karangan Bapa Paus Benedict XVI, Jesus of Nazareth p. 306); yang menunjukkan penggenapan sebutan Allah YHWH/ Adonai ini di dalam diri Kristus Yesus.

‘Kurios’ itu adalah ‘Tuhan’ (Lord) yang diambil dari bahasa Yunani, yang merupakan bahasa penulisan kitab Perjanjian Baru. Sedangkan kata “Tuhan” (Lord) dalam Kitab Perjanjian Lama (PL) dalam bahasa Ibrani-nya adalah “Adonai”. Dalam PL, kata “Adonai” (Tuhan/ Lord) ini dipakai sebagai kata ganti bagi YHWH (Yahwe) dan digunakan bersama- sama kata “Elohim (Allah/ God)” (lih. Mzm 38:15; Mzm 8:1,9), walaupun kata “adonai” ini memang juga menggambarkan hubungan antara tuan dan hamba (lihat: Kej 24:9,20,12,14,27; Kel 21:4-6) antara suami dan istri ( Kej 18:12, Yud 19:27; Mzm 45:12).

Demikianlah contoh ayat-ayat di mana kata ‘YHWH’, ‘Tuhan’ (Lord) dan ‘Allah’ (God) digunakan untuk mengacu kepada Allah yang satu dan sama:

“Sebab kepada-Mu, ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], aku berharap; Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan [Adonai], Allahku [Elohim].” (Mzm 38:15)

“Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! …. Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! (Mzm 8:1,9).

Di kitab Perjanjian Baru, terdapat ayat-ayat, di mana kata “kurios” diterjemahkan sebagai “Tuhan” (Lord), dan mengacu kepada Allah (God), seperti halnya pada Luk 1:32; 2:9, Kis 5:19), dan kata “kurios” ini juga mengacu kepada Yesus (lih. Rom 10:9, 1Kor 12:3; Flp 2:11; Why 19:15); Kata Ibrani “Adonai” diterjemahkan di dalam Kitab Septuaginta (PL dalam bahasa Yunani) dengan kata Yunani, yaitu “Kurios” (Lord). Kata “Kurios” ini juga digunakan untuk menterjemahkan kata YHWH (God). Kata Adonai dalam Perjanjian Lama adalah kata ganti terhadap kata YHWH [Yehovah/ Yahwe], yaitu kata yang penggunaannya terbatas, oleh karena bangsa Yahudi menolak untuk mengucapkan kata tersebut karena takut menyebutkannya dengan tidak hormat, dan dengan demikian melanggar perintah Allah, “Janganlah menyebut nama Tuhan [YHWH/ Yehovah] Allah-mu [Elohim] dengan tidak hormat” (lih. Kel 20: 7).

ALLAH SENDIRI MENGGUNAKAN PENYEBUTAN “TUHAN” DAN KATA GANTI LAIN DALAM AL-QUR’AN

Alloh

I. PENGERTIAN ILAAHUN
*Kata ilaahun terdiri atas tiga huruf: hamzah, lam, ha, sebagai pecahan dari kata laha – yalihu – laihan, yang berarti Tuhan yang Mahapelindung, Mahaperkasa. Ilaahun, jamaknya Aalihatun, bentuk kata kerjanya adalah alaha, yang artinya sama dengan ‘abada, yaitu ‘mengabdi’. Dengan demikian ilaahun artinya sama dengan ma’budun, ‘yang diabdi’. Lawannya adalah ‘abdun, ‘yang mengabdi’, atau ‘hamba’, atau ‘budak’.

Selain ilaahun, dalam Al-Qur’an juga terdapat kata Rabbun yang digunakan untuk menyebut Tuhan. Kata rabbun terdiri atas dua huruf: ra dan ba, adalah pecahan dari kata tarbiyah, yang artinya Tuhan yang Mahapengasuh. Secara harfiah rabbun berarti pembimbing, atau pengendali. Selain dimaknai Allah, kata rabbun juga digunakan untuk sebutan tuhan selain Allah, seperti paragraf ayat:
“ arbaban min dunillah”, menjadikan pendeta, pastur, dan Isa Al-Masih sebagai tuhan-tuhan selain Allah.
Dalam Al-Qur’an kata ilaahun juga dipakai untuk menyebut berhala, hawa nafsu, dewa. Semua istilah tersebut dalam Al-Qur’an menggunakan kata ilaahun, jamaknya aalihatun.

1.1. Allah Swt. Menyatakan Dia sebagai ilaahun.

… إِنَّمَا ٱلله إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ سُبْحَٰنَهُۥ أَن يَكُونَ لَهُۥ وَلَدٌ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ وَكَفَىٰ بِٱللهِ وَكِيلً

“… Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Esa, Mahasuci Allah dari mem¬punyai anak. Semua yang ada di langit dan di bumi hanyalah milik-Nya. Cukuplah Allah sebagai saksi atas kebenaran keesaan-Nya.” (Qs. An-Nisaa’ 4:171)

1.2. Disisi lain Allah Swt. Menyatakan hawa nafsu yang diikuti orang kafir ,juga sebagai ilaahun.

أَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

“Wahai Muhammad, apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang ka-fir yang menuhankan hawa nafsunya? Apakah kamu punya kekuasaan untuk memberi hidayah kepada mereka?” (QS. Al-Furqan, 25: 43)

1.3. Allah Swt. Menyatakan sesembahan orang musyrik sebagai ilaahun :

… فَمَآ أَغْنَتْ عَنْهُمْ ءَالِهَتُهُمُ ٱلَّتِى يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللهِ مِن شَىْءٍۢ لَّمَّا جَآءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ

“… Maka Tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah itu tidak dapat menolong mereka sedikit pun ketika datang adzab dari Tuhanmu. Tuhan-tuhan itu justru menambah kerugian yang sangat besar.” (QS. Hud, 11: 101)

1.4. Allah Swt. Menyatakan para pendeta sebagai rabbun :

ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَٰنَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللهِ وَٱلْمَسِيحَ ٱبْنَ مَرْيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوٓا۟ إِلَٰهًا وَٰحِدًا لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Kaum Yahudi dan Nasrani telah menjadikan pendeta-pendeta mereka, pastur-pastur mereka, dan Al-Masih bin Maryam sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Padahal mereka hanya diperintah untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Allah. Mahasuci Allah dari semua keyakinan syirik yang mereka buat-buat.” (Qs. At-Taubah, 9:31)

Maka kata ilaahun dan rabbun sesungguhnya adalah bahasa asli Arab jahiliyah yang dipertahankan penggunaannya dalam Al-Qur’an, sebagaimana contoh di atas,dimaksud bahwa Allah menyesuaikan dengan pemahaman bahasa yang dimengerti kaumnya.
(Bayangkan jika Al-Qur’an tidak cerdas,bahasanya tidak difahami oleh orang Arab,tentu akan semakin diolok-olok oleh kaum jahiliyyah).

Orang-orang Arab sebelum Islam, memahami makna kata ilaahun sebagai dewa atau berhala, dan mereka gunakan dalam percakapan sehari-hari. Apabila orang Arab Jahiliyah menyebut dewa cinta, maka mereka mengatakan ilaahul hubbi, dan ilaahatul hubbi untuk menyebut dewi cinta. Kaum penyembah berhala (animisme), atau aliran kepercayaan di zaman kita sekarang, sebagaimana orang-orang Arab Jahiliyah, menganggap tuhan mereka berjenis kelamin, laki dan perempuan.

Demikian sobat, Maka sekarang bolehkah umat Islam menyebut Allah dengan nama-nama dari bahasa-bahasa non-Arab ? Secara bijaksana ,jawabnya boleh-boleh saja, toh kita di Indonesia juga menggunakan istilah Tuhan untuk menterjemahkan istilah Robb, dan itu tidak perlu dipermasalahkan.Namun yang perlu diwaspadai oleh umat Islam adalah jangan sampai terjebak pada nama-nama yang mengarah pada keberhalaan (bersifat syirik) :

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-namaNya, Kelak, mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” – Qs. 7 al-a’raaf : 180

Bagaimana sekarang ? Sudah memahami semua ini ? Sebab akupun kini telah memahami dari tulisan yang ku susun sendiri ini. Oleh karena itu, sobat budiman pembaca terjemah Al-Qur’an tidak perlu alergi terhadap kata “Tuhan” sebagai terjemahan dari kata ilaahun dan rabbun. Umat Islam yang kini sudah mengetahui ilmunya tidak perlu harus merasa khawatir luntur aqidahnya, karena ini hanya problem bahasa masing masing umat dan keterbatasan kosa kata bahasa Indonesia.

2. PENGERTIAN RABB DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH.

(Oleh Sheikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan) :

Rabb adalah bentuk mashdar, berasal dari “Rabba–Ya Rubbu”,yang berarti mengembangkan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain,sampai pada keadaan yang sempurna.

Jadi, Rabb adalah kata mashdar yang dipinjam untuk fa’il (pelaku). Kata-kata Ar-Rabb tidak disebut sendirian, kecuali untuk Allah Ta’ala yang menjamin kemaslahatan seluruh makhluk. Adapun jika diidhafahkan (ditambahkan kepada yang lain), maka hal itu bisa untuk Allah dan bisa untuk lainNya. Seperti Firman Allah Ta’ala:

“Tuhamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu,”.(QS Asy-Syuara: 26).

Dikatakan “rabbuddaari” dalam ayat tersebut berarti tuan rumah, pemilik rumah, atau pemilik kuda, dan diantaranya lagi dalah perkataan Nabi Yusuf alaihissalam yang difirmankan oleh Allah Ta’ala:

“Dan Yusuf Berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.”.(QS.Yusuf:42).

Dan Firman Allah Ta’ala:

“Raja berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang Telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha mengetahui tipu daya mereka.” (QS Yusuf: 50).

“Hai kedua penghuni penjara: “Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi Maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)”.(QS.Yusuf:41).

Rasulullah bersabda dalam hadist “unta yang hilang,”
“sampai sang pemilik menemukannya.”

Maka jelaslah bahwa kata Rabb diperuntukkan untuk Allah, jika ma’rifat dan mudhaf, sehingga kita mengatakan misalnya: “Rabbu” (Tuhan Allah), “Rabbul’alamiin” (Penguasa semesta alam), atau “Rabbunnas” (Tuhan manusia).Dan tidak diperuntukkan kepada selain Allah Ta’ala kecuali jika diidhafahkan, misalnya: “Rabbuddaar” (tuan rumah), atau “Rabbul ibiil” (pemilik unta), dan lainnya.

Makna “Rabbul’alamiin” adalah Allah Ta’ala Pencipta alam semesta, Pemilik, Pengurus, dan Pembimbing mereka dengan segala nikmatNya, serta dengan mengutus para rasulNya, menurunkan kitab-kitabNya, dan Pemberi balasan atas segala perbuatan makhlukNya.

MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “HU” (Dia Laki-Laki), DALAM AL-QUR’AN ?

Apa maksudnya ? Apakah berarti Tuhan itu lebih dari satu ? Apakah berarti bahwa tuhan itu bergender ?

Sahabat,perkara ini telah sering menjadikan perdebatan kusir diantara sesama dan bahkan telah menjadi ajang pembenaran argumentasi pihak non muslim bahwa Tuhan itu dapat bersifat plural atau dapat disetarakan dengan unsur-unsur lain.

Dan sebenarnya pertanyaan-pertanyaan ini sudah dijawab dari sejak jaman dulu oleh Ulama alim dan Ahli Tafsir,dimana para ulama dari agama lain selalu mempertanyakan,setiap kali melihat terjemahan Al-Quran semacam ini dari masa-ke-masa, MENYANGKA dan BERTANYA apakah kata “KAMI” dan “HU” (Dia Laki-Laki),dalam Al-Quran adalah “Tuhan yang dapat disetarakan dengan unsur lain,serta bergender”. Padahal dalam ayat lain Al-Qur’an sudah mengunci jawaban, yakni bahwa Allah Swt itu Tunggal .Seperti salah satunya ditegaskan dalam Surah QS.112.Al-Ikhlas:01.

Tak kenal maka tak sayang,ketidak tahuan akan membuat kita tenggelam ke dalam kebimbangan dan kegelapan alam pikir.

BERIKUT PENJABARANNYA :

Semua perkara yang tersebut diatas sesungguhnya hanya masalah tata bahasa.Di antara uslub (metode) bahasa Arab adalah bahwa seseorang dapat menyatakan tentang dirinya dengan kata ganti ‘nahnu’ (kami) untuk menunjukkan penghormatan. Atau Allah menyebut dirinya dengan dhamir (kata ganti) ‘أنا’ (saya) atau dengan kata ganti ketiga seperti : هو’ (dia).

PRONOMINA atau DHAMIR atau KATA GANTI ALLAH,RABB dan BENDA lain dalam AL-QUR’AN :

pronomina

Bahwa tata bahasa AL-QUR’AN itu berbeda jauh dengan tata bahasa bangsa manapun didunia dalam hal penjabaran pemaknaan dari sebuah kalimat maupun padanan kata.Dalam bahasa AL-QUR’AN,jika sebuah kalimat dirubah satu tanda bacanya saja akan merubah artinya,apalagi menambah/merubah satu huruf,maka akan jauh berbeda maknanya,juga padanan kata.

1. MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “AKU”

Dalam tata bahasa Arab,(GRAMMAR/NAHU SARAF), ada kata ganti (DHAMIR / PRONOMINA) pertama (singular) “AKU”,dengan kalimat :”Ana” ,Dan ada kata ganti pertama (plural) “AKU”,dengan kalimat : “Nahnu”. Akan tetapi dalam bahasa Arab, kata ganti pertama plural dapat dan sering, difungsikan sebagai singular. Hal ini disebut “Al-Mutakallim Al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”, Adalah kata ganti pertama yang memuat makna sebagai tanda “PENGHORMATAN”.

Metode ini terdapat dalam Al-Quran dan Allah Ta’ala menyampaikan kepada bangsa Arab apa yang dipahami dalam bahasa mereka”.(Fatawa Lajnah Daimah, 4/143)
Allah SWT terkadang menyebutkan dirinya dengan sighoh mufrad (sendiri) secara nampak atau mudhmar (tersembunyi). Tekadang dengan shigoh jama’. Seperti firman-Nya,

“Sesungguhnya kami telah taklukkan bagi kamu (Muhammad) dengan penaklukan yang nyata…..”.

Maka Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan nama-Nya dengan shighoh tatsniyah (bentuk dua). Karena shigoh jama’ mengandung pengagungan yang layak bagi-Nya. Terkadang menunjukkan makna nama-nama-Nya. Sementara sighoh tatsniyah (bentuk dua) menunjukkan bilangan tertentu. Dan Dia tersucikan dari itu.
(Reff:‘Al-Aqidah At-Tadmuriyah karangan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 75).

Lafaz “Inna” ( إنا)) dan “Nahnu” (نحن) atau selainnya termasuk bentuk jamak, tapi dapat diucapkan untuk menunjukkan seseorang yang mewakili kelompoknya, atau dapat pula disampaikan mewakili seseorang yang nomor satu. Sebagaimana dilakukan oleh Presiden apabila ia mengeluarkan keputusan atau ketetapan, maka dia berkata, “Kami tetapkan…” atau semacamnya, padahal dia yang menetapkan itu hanyalah satu orang. Akan tetapi diungkapkan demikian untuk menunjukkan keagungan. Maka yang paling berhak diagungkan oleh setiap orang adalah Allah Azza wa Jalla. Maka jika Allah mengatakan dalam Kitab-Nya, (إنا), sesungguhnya Kami, atau (نحن), kami, itu adalah bentuk pengagungan, bukan menunjukkan bilangan.
Ini karena dhamir ‘NAHNU’ yang dalam Tata Bahasa umum sebagai bentuk jamak yang diartikan sebagai “kita” atau “kami” (plural),tetapi dalam ilmu NAHU SOROF,kalimat “NAHNU” tersebut diartikan sebagai bermakna :”AKU / SAYA” dalam bentuk singular/Tunggal yang merupakan bentuk kalimat penghormatan atau bahasa sopan (Kromo inggil-Jawa).

Karena dalam tata bahasa bangsa lain tidak memiliki perbendaharaan seperti dalam Tata Bahasa Arab ini,maka kalimat ‘NAHNU”(Aku dengan konotasi penghormatan), hanya bisa diterjemahkan dengan kalimat “KAMI” ke dalam bahasa Indonesia atau “WE” dalam Bahasa Inggris,sehingga bagi yang tidak memahami seolah bermakna “jamak”.

Selain kata ‘Nahnu’, ada juga kata ‘ANTUM (KAMU), yang sering digunakan untuk menyapa lawan bicara meski hanya satu orang. Padahal makna `antum` adalah kalian (jamak).

Maka terjemahan “ANTUM” dalam bahasa Arab yang berarti “KAMU”,ketika kita menyapa lawan bicara kita dengan panggilan ‘antum’, maka secara kandungan bahasa, merupakan panggilan sopan dan ramah serta sebagai penghormatan ketimbang menggunakan sapaan “Anta , Ente”

Atau dalam bahasa sehari-hari kita,memanggil lawan bicara dengan panggilan :

-“KAMU , LOE , SITU”,maka akan berkesan adanya penghormatan jika diganti dengan kata, ”Anda, Gus atau “Tuan, Nyonya/Ibu/Bapak”.

Dalam bahasa Jawa, Sunda :

-Koe / rika / nyong /awakmu,aing dan sebagainya,maka akan lebih mengapresiasikan penghormatan dengan kalimat panggilan : “Panjenengan/sampeyan/sliramu/abdi/anjeun”, dan sebagainya. (Ini disebut “Ngajeni” /sopan dalam bahasa Jawa/Sunda)

Dalam bahasa Inggris :

-I (am) = saya, aku.
-You = kamu
-We = kami
-They = Mereka
-He = dia (laki-laki)
-She = dia (wanita)
-It = dia (benda & hewan)

BANDINGKAN DENGAN BAHASA ARAB :

-Huwa = dia (laki-laki)
-Huma = dia berdua (laki-laki)
-Hum = mereka (laki-laki)
-Hiya = dia (perempuan)
-Huma = dia berdua (perempuan)
-Hunna = mereka (perempuan)
-Anta = kamu (laki-laki)
-Antuma = kamu berdua (laki-laki)
-Antum = kalian (laki-laki)
-Anti = kamu (perempuan)
-Antumah = kamu berdua (perempuan)
-Antunna = kalian (perempuan)
-Ana = Saya, Aku
-Nahnu ( kami-aku, dengan bahasa penghormatan)

Dari perbendaharaan kata diatas, jika kita rangkai kalimat atau digabungkan dengan ‘kata kerja’, maka akan mengalami perubahan.

Contoh kata ,”fa’ala” =melakukan / “do” dalam Inggris,jika ditempatkan dengan kata-kata diatas maka akan menjadi:

a). “yaf’alu” =dia (seorang lak-laki) melakukan…,
b). “yaf’alaani”=dia dua orang lak-laki melakukan…,
c).”yaf’aluuna” =mereka (laki-laki) melakukan…,

Maka Kata ‘Nahnu’ (Kami,Alloh) yang berasal dari akar kata “ANNA”, dalam Al-Qur’an,tidak bermakna banyak, tetapi tetap bermakna “AKU TUNGGAL” yang menunjukkan keagungan Allah SWT,Tuhan Semesta Alam. Ini dipelajari dalam ilmu balaghah.

Contoh:
Dalam bahasa kita ada juga penggunaan kata “Kami” tapi bermakna tunggal. Misalnya seorang Lurah dalam pidato sambutan berkata.

”Kami sebagai Lurah berpesan…bla …bla….”

Padahal si Lurah hanya dia sendiri dan tidak banyak, tapi dia bilang “Kami”. Lalu apakah kalimat itu bermakna bahwa seorang Lurah yang sedang pidato itu berjumlah banyak?

Contoh lain :

Pada orang-orang yang telah fasih dengan Tata Bahasa Arab tentu akan paham, atau setidaknya orang pesantren “klotokan” yang bahasa sehari-harinya lazim menggunakan bahasa Arab Seperti di Pondok Pesantren Gontor,Tebu Ireng dan lainnya, tentu akan paham makna penggunaan kata “Nahnu” (kami).

-Maka kalimat,”Nahnu” (kami), dapat digunakan untuk lebih dari satu yaitu “kami” (plural – jamak),namun dapat juga untuk “satu orang” yaitu yang dimaksudkan “saya-sendiri” dengan makna “Bahasa santun”. (dalam Bahasa Arab).

Contoh lain lagi :

Penggunaan kata : “Antum” (kalian), memang bisa digunakan untuk lebih dari satu yaitu “Kalian” (plural – jamak), Namun dapat juga untuk satu orang, yaitu yang dimaksudkan “Anda” ,”Tuan” , “Bapak/Ibu”,dengan makna bahasa santun ,dalam Bahasa Arab.Bandingkan dengan jika kita mengatakan kata,”KAMU, LOE , SITU, ENTE”,yang diucapkan kepada orang tua atau Bos.

Maka bukan berarti “Antum” ini bermakna “kalian” (jamak) akan tetapi bermakna tunggal sebagai PENGHORMATAN dan PENGAGUNGAN. Inilah yang disebut “Al-Mutakallim Al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”.

Cobalah RENUNGKAN akan hal ini !

-Maka penyebutan kata “KAMI” yang digunakan dalam Al-Qur’an ketika Allah berfirman,(yang dalam bahasa Arab adalah “NAHNU” juga “INNA” atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf “NAA”),adalah merupakan bentuk kalimat pengagungan yang tetap bermakna, “AKU”, Tuhan Yang Tunggal dan Maha Perkasa.

-Juga acapkali Allah Swt,menggunakan kata “AKU”, “DIA”, didalam Al Qur’an.(dalam bahasa Arab adalah “ANA” , “INNI” dan “HUWA“, atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf “TU”, atau juga langsung dengan lafadz “Allah” sendiri, begitu pula dengan kata “Dia” / “Huwa”).Maka tata bahasa seperti ini tidak ada dalam tata bahasa bangsa lain termasuk dalam tata bahasa Indonesia.

2. Mengapa Allah Swt menggunakan kata ganti (dhamir) “HU” (Dia- laki-laki) untuk diri-Nya dalam al-Qur’an?

*Sebab mengapa Allah Swt dalam Al-Qur’an menggunakan “HU” (kata ganti ketiga-Maskulin) untuk diri-Nya adalah lantaran Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan penggunaan “HU” (pronomina III -Maskulin), bagi Allah Swt telah sesuai dengan kaidah dan sastra bahasa Arab.

Karena Allah Swt bukan muannats (feminim) hakiki dan juga bukan mudzakkar (maskulin) hakiki dan juga tidak menggunakan penggunaan qiyâsi (mengikuti kaidah tertentu) dan simâi muannats majâzi (figuratif). Karena itu, berdasarkan kaidah bahasa Arab yang harus digunakan untuk Zat Allah Swt adalah pronomina dalam bentuk maskulin figuratif (mudzakkar majâzi). Di samping itu, tanda-tanda literal maskulin dan feminin bukan sebagai penjelas kedudukan dan derajat yang mengandung nilai (value).

Bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab. Bahasa Arab berbeda dengan bahasa-bahasa lainnya menggunakan dua jenis kata ganti dan pronomina (dhamir) orang ketiga laki-laki (mudzakkar) dan kata ganti orang ketiga perempuan (muannats). Suatu hal yang natural bahwa setiap buku atau kitab yang ingin ditulis menggunakan bahasa ini, kendati ia merupakan kitab Ilahi, maka ia harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa tersebut dan gramatikanya.

Bahasa Arab, karena tidak memiliki kata ganti orang ketiga waria (khuntsa), sebagian hal yang tidak memiliki jenis kelamin dinyatakan dengan kata ganti orang ketiga laki-laki (dhamir mudzakkar). Namun, yang semisal dengan masalah ini, juga terdapat dalam bahasa-bahasa yang lain, seperti bahasa Prancis. Dengan bersandar pada poin ini dapat diambil kesimpulan bahwa pernyataan kata ganti orang ketiga laki-laki, sama sekali tidak ada kaitannya dengan sifat kelaki-lakian.

Pada kenyataannya, dapat dikatakan bahwa al-Qur’an tidak didominasi oleh pandangan patriarkial yang berkembang pada budaya zamannya, melainkan sebuah tipologi bahasa yang mengkondisikan pembicaranya supaya memperhatikan dan mematuhi hal tersebut. Karena itu, Al-Qur’an, dengan alasan diturunkan dan diwahyukan dalam bahasa Arab, bertutur kata dengan wacana ini dan menggunakan pronomina-pronomina dan redaksi maskulin (mudzakkar) yang selaras dan sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab.

Dengan kata lain, dari satu sisi, dalam bahasa Arab, nomina-nomina (asmâ) dan verba-verba (af’âl) (selain verba kata ganti orang pertama tunggal [mutakkalim wahdah] dan kata ganti orang pertama jamak [mutakallim ma’a al-ghair]) memiliki dua jenis: laki-laki atau maskulin (mudzakkar) dan perempuan atau feminin (muannats). Maskulin dan feminin ini terbagi lagi menjadi hakiki dan majâzi (figuratif). Seluruh entitas yang memiliki alat kelamin pria dan wanita adalah maskulin dan feminin hakiki (mudzakkar dan muannats hakiki). Selainnya adalah figuratif (majâzi).

Maskulin hakiki seperti “rajul” (pria) dan “jamal” (unta jantan). Feminin hakiki seperti “imraat” (wanita) dan “naqah” (unta betina). Maskulin figuratif (mudzakkar majazi) seperti “qalâm” (pena) dan “jidâr” (dinding). Feminin figuratif (muannats majazi) seperti “dâr” (rumah) dan “ghurfah” (kamar). Penggunaan muannats majazi dalam hal-hal seperti nama-nama kota, anggota badan yang berpasangan memiliki kaidah dan dalam hal-hal lainnya tidak mengikut kaidah tertentu (qiyâsi) dan bersifat simâi. Simâi artinya bahwa yang menjadi kriteria adalah semata-mata mendengar orang-orang yang berbahasa Arab dan harus diperhatikan orang-orang Arab menggunakannya dalam bidang apa. Apabila hal tersebut bukan termasuk muannats hakiki dan muannats majâzi dan juga bukan mudzakkar hakiki maka tentulah ia merupakan mudzakkar majâzi.[1]

Dari sisi lain, karena Allah Swt tidak melahirkan juga tidak dilahirkan. Demikian juga tiada yang menyerupainya[2] dan juga bukan termasuk hal-hal yang terkait dengan penggunaan qiyâsi (mengikuti kaidah tertentu) dan simai muannats majâzi. Karena itu, berdasarkan kaidah bahasa Arab yang harus digunakan untuk Zat Allah Swt adalah kata ganti-kata ganti, nama-nama dan sifat-sifat dalam bentuk mudzakkar majâzi (maskulin figuratif).

Poin ini juga harus mendapat perhatian bahwa tanda-tanda literal muannats dan mudzakkar tidak mengandung nilai tertentu dan tidak menunjukkan tanda dan dalil atas kemuliaan dan kedudukan seseorang. Karena itu, apabila tanda-tanda literal mudzakkar, menunjukkan kemuliaan dan kedudukan tertentu seseorang, dan memiliki nilai tertentu, maka untuk selain manusia dan sebagian makhluk rendah seperti setan dan iblis… tidak boleh menggunakan kata kerja-kata kerja atau nomina-nomina atau pronomina-pronomina dan seterusnya yang memuat tanda-tanda literal mudzakkar.
Demikian juga, apabila tanda-tanda literal muannats merupakan dalil dan tanda kekurangan dan minus nilai maka entitas-entitas yang sarat nilai seperti matahari (syams), bumi (ardh), kaum pria (al-Rijal), air (ma’) dan sebagainya dan sebaik-baik perbuatan dan kedudukan seperti sembahyang (shalat), zakat, surga (jannat) tidak akan dinyatakan dalam bentuk literal muannats.[3]
Reff:
[1]. Sharf Sâdeh, hal. 28 dan 145.
[2]. Lam yalid wa lam yulad (Qs. Al-Ikhlas [114]:3). Laisa kamitsli syai (Qs. Al-Syura [42]:11)
[3]. Silahkan lihat, Zan dar Âine Jalâl wa Jamâl, Jawadi Amuli, hal. 78.
*http://quran.al-shia.org/id/lib/101.html

PENERAPAN KALIMAT ALLAH DAN PRONOMINA “TUHAN-AKU-DIA-KAMI DAN RABB”, DALAM AL-QUR’AN :

Telah diketahui bahwa terjemahan “Tuhan” berasal dari “ILAAHUN” dan “RABB”, kemudian kata ganti “AKU” dari “ANA”, kata ganti “DIA” dari “HU”, sedangkan kata ganti “KAMI” dari “INNA / NAHNU”,maka pecahan pecahan tersebut semuanya berasal dari satu sumber kalimat agung, yakni berasal dari kalimah “ALLAH”.

Mari kita jabarkan :

Lafaz ALLAH terdiri dari empat huruf,yaitu : ALIF-LAM-LAM dan HA.

1. Jika huruf pertama ditiadakan, maka yang ada lafaz “LILLAH”.
2. Jika huruf LAM pertama ditiadakan,maka yang ada lafaz “ILAAHUN”.
3. Jika kedua huruf LAM ditiadakan, maka yang ada lafaz “HU”.
4. Jika tiga huruf terakhir ditiadakan, maka muncul symbol “ALIF”.

Makna LILLAH :
Mengejawantahkan dzat bagi “TEMPAT SEMUA KEMBALI atau SEGALA SESUATU HANYA DARI,UNTUK dan PADA ALLAH,entah segala penciptaan,peribadatan,pengabdian serta ketergantungan seluruh alam semesta dan makhluk makhluk-Nya.

Makna ILAAHUN :
Kata ilaahun terdiri atas tiga huruf: hamzah, lam, ha, sebagai pecahan dari kata laha – yalihu – laihan, yang berarti Tuhan yang Mahapelindung, Mahaperkasa. Ilaahun, jamaknya Aalihatun, bentuk kata kerjanya adalah alaha, yang artinya sama dengan ‘abada, yaitu ‘mengabdi’. Dengan demikian ilaahun artinya sama dengan ma’budun, ‘yang diabdi’. Lawannya adalah ‘abdun, ‘yang mengabdi’, atau ‘hamba’, atau ‘budak’.Maka ILAAHUN yang dalam bahasa Indonesia Tuhan Yang Maha Esa, mengejawantahkan Dia,Tuhan, Allah yang tidak ada tuhan tuhan lain dan sembahan sembahan lain selain Allah,tanpa reserve.

Makna HU :
“HU”,yang berasal dari bagian asma Allah,di dalamnya tersembunyi hakekat ”HUWA”,adalah Dia Yang Maha Mutlak,tak terbanding dan setarakan(awyakta-Sanskert).Karena sebelum datangnya islam bangsa Arab jahiliyyah menganggap bila Tuhan itu dapat setara dengan materi dan berjenis kelamin laki laki.Maka setelah dunia yang jahil diterangi Islam,Allah meminjam kosa kata yang telah dipahami oleh bangsa Arab ini sebagai bentuk tandingan,bahwa “HU” (Dia,Tuhan yang bukan laki laki maupun perempuan dan tak dapat disetarakan dengan lainnya),dengan di idhafahkan menjadi : “Hu, Allahhu ahad,Allahussomad – Dia,Allah Yang Maha Esa,tempat semua bergantung,tidak beranak dan diperanakkan”, artinya Allah tidak dapat disetarakan dengan materi, gender laki laki/perempuan.(QS.112.Al-Ikhlas :1-4).

alif

Symbol ALIF :
Sedangkan symbol ALIF merupakan kata sandang “AL” atau dalam bahasa Indonesia adalah “SANG” atau dalam bahasa Inggris “THE”,yang mengejawantahkan bahwa ALLAH adalah dzat Maha Tersembunyi namun exis. Dan dari symbol ALIF memancar 99 asmaul Husna,yang huruf ALIF tersebut hanya satu karakter yakni bentuk karakter garis strip vertikal tunggal yang mempunyai makna rahasia paling rahasia yang direliefkan dalam beberapa awalan surat surat Al-Qur’an yakni ALIF-LAAM-RAA , ALIF – LAAM – MIM , yang setiap nama nama ASMAUL HUSNA selalu menggunakan kata sandang “AL”,yang dawalii dengan huruf Alif, kemudian ayat pertama turun diawali dengan huruf ALIF,yang setiap membaca ayat-ayat-Nya dimulai dengan Bismillah,sedang huruf bismillah diawali dengan karakter ALIF.

Selain ilaahun, dalam Al-Qur’an juga terdapat kata Rabbun yang digunakan untuk menyebut Tuhan. Kata rabbun terdiri atas dua huruf: ra dan ba, adalah pecahan dari kata tarbiyah, yang artinya Tuhan yang Mahapengasuh. Secara harfiah rabbun berarti Pembimbing, Pemelihara dan Pengendali.

A.PENERAPAN KALIMAT “AKU” :

Ketika Alloh menggunakan kata ganti diri-Nya dengan kalimat “aku/Ana”,maka dipergunakan untuk menegaskan kepemilikan dan sumber tuju atas segala sesuatu yang ada dialam semesta ini.Maka Allah Yang Maha berkuasa, tempat meminta dan berhak memberi sesuai kehendak-Nya.Tiada yang lain yang berkemampuan seperti ini,tidak ada libatan pengaruh maupun tekanan dari makhluk lain.Segala sesuatu yang langsung ditangani dibawah kekuasaan dan kekuatan-Nya.Inilah merupakan bentuk “LITTA’DZHIIM” (menunjukkan Keagungan dan Kebesaran seorang diri/Tunggal tanpa melibatkan unsur lain saat berkehendak).

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS.Adz Dzaariyaat : 56)

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”.(QS. 2. Al Baqarah:152).

B.PENGGUNAAN KALIMAT “ALLAH” PADA DIRINYA SENDIRI:

Lafaz Allah adalah lafzhul Jalalah, lafaz yang tidak dapat dirubah hurufnya dan diganti menjadi lafaz lain.Nama yang asing bagi bangsa Arab dan dunia sebelum datangnya Islam.Kosakata yang belum pernah ada sebelumnya.Dia sendiri yang menamai dirinya dengan ALLAH (QS.28:68-70).

Digunakan untuk menunjukkan jatidiri serta keberadaannya (existensi) untuk diketahui dan dikenal,bahwa Dia,Tuhan Sang Penguasa alam semesta dengan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat,yang tidak ada makhluq lainpun yang dapat menyamai Keagungan dan Kekuatan –Nya.Hanya kepada Allah saja semua makhluk mengabdi.

Contoh penggunaan kalimat yang menyebut Allah dengan nama dirinya sendiri:

يُظْلَمُونَ لا وَهُمْ كَسَبَتْ بِمَا نَفْسٍ كُلُّ جْزَىتُلِوَبِالْحَقِّ وَالأرْضَ السَّمَاوَاتِ اللَّهُ وَخَلَقَ

“Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan”. (QS.Al-Jaatsiyah : 22).

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.” (QS.Al-Israa’: 99).

C. PENGGUNAAN KALIMAT “DIA” :

Merupakan kata ganti yang menekankan kemutlakan dan “TANDINGAN”,atas lainnya,Digunakan untuk menunjukkan bahwa Dia,adalah Allah satu satunya Tuhan penguasa alam semesta dengan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat,yang tidak ada makhluq lainpun yang dapat mampu menandingi/menyamai Kemaha Mampuannya,tiada yang bisa disetarakan dengan-Nya dan hanya kepada Dia saja semua makhluk harusmenyembah.

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).”(QS.Al-Baqarah: 255).

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (Tunggal).” (QS.Al-Ikhlas: 1)

D. PENGGUNAAN KALIMAT “KAMI” :

Merupakan kata ganti yang menekankan sisi proses atas segala sesuatu yang dikehendaki dan terjadi menurut kekuasaan dan ke-Maha Kehendak-Nya. Digunakan untuk menunjukkan bahwa “KAMI”,adalah Allah satu satunya Tuhan penguasa alam semesta dengan kekuasaan-Nya,yang menetapkan,mengawasi dan mengendalikan sistem Qada-Qadar dan Takdir-Nya. Dan berjalannya sistem tersebut adalah melalui proses/ mekanisme/tahapan.

Allah mengadakan/menugaskan para wali-Nya,yakni para Malaikat,para Nabi , Rasul dan mekanisme alam semesta,untuk menyampaikan pesan/signal kehendak-Nya,petunjuk petunjuk-Nya,ilmu pengetahuan dan perintah serta larangan-Nya.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (QS.Al-Hujuraat: 13)

Maka maknanya bahwa Allah dalam menciptakan manusia setelah penciptaan langsung Adam,tidak satu persatu lagi secara langsung,melainkan melalui mekanisme biologis,yakni dimana proses manusia berkembang biak. Maka inilah RAHASIA bahasa AL-QUR’AN mengapa Allah Swt. menggunakan lafadz/kalimat “NAHNU (KAMI)”.

“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam”. (QS.Al-Anbiyaa’ : 107)

Kata Arsalna ( أَرْسَلْنَا ‘Kami mengutus’) berasal dari kata dasar “Arsala” أَرْسَلْ
(bermakna : mengutus, memberikan risalah, mengantarkan risalah).Sebagaimana penjelasan sebelumnya diatas, maka kata “KAMI” yang Allah Swt. maksudkan karena ADANYA PROSES PENGUTUSAN,atau adanya mekanisme pengiriman wahyu yaitu melalui “MALAIKAT JIBRIL” SEBAGAI PENGANTAR WAHYU ALLAH SWT,kemudian hingga sampai pada Rasul/Nabi nabi-Nya. Sebab tidak harus Allah berkehendak memberi petunjuk/risalah untuk manusia kemudian mengantarkan sendiri langsung ke makhluk-Nya. Makanya Allah Swt. menggunakan Kata “NAHNU” (KAMI).

Demikian maksud penerapan kata ganti “KAMI / NAHNU,selain sebagai bentuk penghormatan dan bermakna “kami” tunggal,juga menegaskan adanya mekanisme penugasan melalui para malaikat,para Nabi dan para Rasul rasul-Nya.

KESIMPULAN

ilm

Dari seluruh uraian mengenai kata ganti Allah,penyebutan Tuhan,Lord,Gusti maupun Pengeran dan lain sebagainya, telah dijabar dari berbagai sudut al-ilm, baik secara dalil ‘aqli maupun naqli.Artinya telah memenuhi standar ilmu pengetahuan yang bersumber dari Al-Qur’an,As Sunnah yang kemudian ditambah dengan penjabaran oleh para alim ulama yang luas pengetahuannya.Dan ketahuilah bahwa terjemahan kata “TUHAN” telah disebut sebanyak lebih dari 507 kali dalam ayat Al-Qur’an.

Maka,satu esensi dapat ditarik hakekatnya yakni :

1- Apapun nama nama lain Allah yang kita sebut dengan bahasa ibu pertiwi masing masing seperti yang telah diurai diatas saat kita berdoa,memohon,merintih,melolong berharap pertolongan Allah,maka tak bermasalah sepanjang penyebutan penyebutannya ditujukan dari keikhlasan hati dan niat suci hanya kepada Allah Ta’ala,bukan menuju yang selain Allah.Dan sepanjang penyebutan penyebutan nama lain Allah tidak bermakna buruk atau bernada pelecehan. Sedangkan menyebut Allah dengan panggilan lain menurut bahasa daerah yang familier seperti Gusti, Pengeran,Kang Murbehing Dumadi dan lainnya,maka tidak masalah sebab bermakna luhur dan merupakan sebutan kehormatan diwilayah budaya masing masing. Semua hanya ada dalam hati dan penyimpangan dari semua itu menjadi konskuensi individu.

-Uraian pengetahuan ini telah jelas dipapar.Manakala ada orang ataupun yang mendakwa dirinya ustadz,tokoh aim kemudian membuat tulisan tulisan menolak atau mengharamkan/melarang penyebutan Tuhan,Gusti dan Pengeran dan lain sebagainya dengan mendasari berbagai rangkaian dalil (kadang penerapan dalilnya dalil mentah) dengan argumen bahwa kata “Tuhan,Gusti,Pengeran” dan lainnya adalah tidak ada dalilnya serta dianggap berasal dari ajaran kafir,maka hal ini telah terbantahkan sebab penjabaran yang telah diurai diatas ini lebih komprehensif,lengkap,memenuhi seluruh aspek ilmu kaji serta hukum hukum syareat serta logika agama (Al-Hikmah). Maka tinggal penyerapannya diserahkan kepada para pembaca masing masing.

2. inilah salah satu tanda keagungan mengapa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.Jikalau Alquran itu diturunkan dengan semua bahasa, tentu akan banyak perbedaan penafsiran kata disetiap wilayah dan perubahan yang susah dipantau dan dideteksi kebenarannya.Jikalau Al-Qur’an di Indonesia dimusnahkan dan dibakar, akan datang jutaan Hafidz (Penghafal) Al-Qur’an dari seluruh penjuru dunia untuk menggantikannya dengan hafalan yang sama, surah yang sama, ayat yang sama, dan huruf yang sama. begitulah salah satu cara Allah Swt. menjamin kemurnian Al-Qur’an.

3. Inilah hikmah al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab. Nabi Muhammad SAW adalah orang arab, dan masyarakat di sekeliling Nabi adalah orang arab, mereka sangat arif dengan bahasa mereka, dan mereka faham apa yang diturunkan dalam bahasa mereka. Masalah berkaitan perkataan KAMI ini tidak timbul ketika itu, kerana mereka faham bahasa mereka, bahawa KAMI yang dimaksudkan bukanlah bermaksud jamak, tetapi membawa arti satu penghormatan dan keagungan, dan ia tetap merujuk kepada Tuhan Yang Tunggal.

4. Tafsiran-tafsiran yang dalam dan luas seperti ini tidak akan kita temukan dalam Al-Qur’an terjemahan DEPAG RI maupun yang digital.Oleh karena itu,hanya dengan melalui para alim Ulama Tafsir yang fasih yang luas ilmunya yang dapat menjabarkan Tafsir Al-Qur’an ini,yang menandakan betapa Ilmu Al-Qur’an /Ilmu Tuhan itu sangat luas,lebih luas dari samudera langit dan bumi.

5. ALLAH JUGA TUHAN UMAT KRISTEN YANG DISEBUT DALAM INJIL :

Ketika kebanyakan dari mereka umat Kristiani juga merasa anti serta risih menyebut nama Allah,yang dianggap sebagai bukan Tuhannya mereka dan dianggap tidak sesuai dengan iman mereka,maka bagamana mungkin hal ini bisa tetap terus dijadikan anggapan ? Sedangkan nama Allah adalah kalimat yang juga disebut dan menjadi istilah di dalam kitab suci Injil PL maupun PB,seperti yang telah diterangkan diatas.

6. JANGAN MEN-TUHANKAN DALIL :

Ketika berargumen,berdakwah,berorasi,berdebat dan menulis kemudian bersikeras yang paling benar dan lainnya salah,sesat,kafir dan murtad hanya mendasari segala sesuatunya tidak ada dalilnya,maka itu yang disebut mencari “PEMBENARAN” dan hal demikian itulah yang disebut “MEN-TUHANKAN” dalil,mengesampingkan aspek aspek hakekat Kemaha Besaran Allah. Sementara ketika mendasari pemikiran bahwa kebenaran itu harus terlihat menurut apa apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW sehari hari,maka mengapa orang orang yang seperti ini tidak mengikuti sunnahnya secara konskuen? Yakni mengapa masih memakai setelan jas,sarung,peci,celana levis? Sedang Rasulullah SAW tak pernah memakai jas,sarung dan celana levis.Apalagi sedan,apalagi beli elektronik TV,laptop,gadget android,dan lain sebagainya, yang notabene buatan dan budaya non muslim.

7. Namun demikian,kita juga jangan mentang mentang bahwa kata ganti Allah seperti Tuhan,Gusti,Pengeran,Lord dan lain sebagainya itu boleh dan sah diucapkan,tetapi jangan dijadikan prioritas kebiasaan atau bahkan malah mengganti sebutan Allah dengan yang lain dan melupakan penyebutan ALLAH sama sekali, sebab kalimat Allah lebih utama dan unggul dibanding sebutan sebutan selain Allah.

Semoga menjadikan renungan di sanubari terdalam.

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Lembah Duren Sawit,11 Juli 2013 – 16 desember 2014

CopyRights@2013

Reff :
-Al-Qur’an terjemah DEPAG RI

http://teaching4muallaf.blogspot.com

http://www.muslim-menjawab.com

http://imanulhassan.blogspot.com

– TafsirIbnu Katsir, Tafsir Al Jalalein

– TafsirAl Mishbah, dari Prof. DR. Quraisy Shihab
http://www.arrahmah.com/read/2012/12/10/25356-kontroversi-kata-tuhan.html
-http://quran.al-shia.org/id/lib/101.html
-http://mudamudimuslim.blogspot.com/2011/12/benarkah-penyebutan-kata-tuhan-allah.html
-http://www.mukminun.com/2013/12/pengertian-rabb-dalam-al-quran-dan-as.html#_
-http://tausyah.wordpress.com/2010/07/10/benarkah-nama-tuhan-adalah-allah/
https://farisna.wordpress.com/2011/06/19/penyebutan-gusti-allah-dan-kanjeng-nabi/
-http://katolisitas.org/1800/tentang-sebutan-tuhan-allah-dan-yahweh-samakah

** INDONESIA JAVADVIPA,PUSAT PERADABAN DUNIA DAN ATLANTIS RAYA **

INDONESIA AWAL PERADABAN MANUSIA MENGENAL BERCOCOK TANAM PADI DI SAWAH LADANG **

INDONESIA SYORGA YANG HILANG (PERADABAN BANGSA BESAR ATLANTIS RAYA SEJAK 8000 – 9000 TAHUN LALU 

KEBERADAAN INDONESIA DISEBUT DALAM AL-QUR’AN?

AtlantisCitra diatas adalah sketsa Kota Atlantis Raya,sebagai “Syorga Yang Hilang”, yang Ternyata menghebohkan adalah penelitian yang dilakukan oleh Aryso Santos, seorang ilmuwan asal Brazil. Santos menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang ini disebut Indonesia. Dalam penelitiannya selama 30 tahun yang ditulis dalam sebuah buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization” dia menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

see more et : http://artikelq.weebly.com/kota-atlantis-ada-di-indonesia.html

Jika demikian memang adanya,maka betapa Indonesia adalah bangsa yang besar dan bangsa yang umatnya begitu penuh dengan karunia Tuhan dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia dimasa lalu.Namun entah pada suatu lingkaran masa sepertinya karunia kemakmuran bangsa Indonesia dahulu seolah tercabut. Maka perlu menjadikan suatu renungan kembali bahwa disamping bangsa Indonesia disinyalir sebagai lokasi kota yang hilang ATLANTIS,juga Indonesia menurut ahli sejarah purba telah dikaruniai Tuhan sebagai pemula atau awal memiliki peradaban bercocok tanam padi sejak ribuan tahun lalu.

Gunung Padang,situs megaliticum berusia 8000 – 9000 SM,  menggemparkan dunia.

“Pada tahun 2011, situs Gunung Padang tiba-tiba meraih perhatian masyarakat luas. Media massa nasional mulai memberitakan hasil penelitian tim Katastropik Purba. Namun, entah mengapa, perbincangan justru diramaikan dengan kabar tentang adanya “piramida”, “harta”, dan “rongga”.

Kompasiana.com : 05 September 2012 | 04:03

Situs Gunung Padang terletak di Dusun Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat. Keberadaan situs ini sudah dilaporkan peneliti sejak tahun 1914. Sejak 1980-an beberapa penelitian sudah dilakukan dan akhirnya masyarakat dapat berkunjung sebagai wisatawan sejak tahun 1990-an.

Gunung Padang di Cianjur diperkirakan merupakan pyramid kuno yang usianya bisa mencapai 4700 hingga 10,000 tahun.  Itu menurut Andi Arif, staf khusus presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam yang sekarang juga menjadi  Dewan Pengarah di Tim Terpadu Mandiri Gunung Padang.  Andi Arif yang dalam pekerjaannya dibidang bansos dan bencana alam melakukan pencitraan digital untuk areal-areal bencana menyadarai bahwa terdapat unsur logam dibawah permukaan gunung padang.   Asumsi Andi logam itu mungkin saja emas.  Kalaupun ternyata bukan emas logam tersebut menunjukkan adanya peradaban maju berumur 8000 tahun yang sudah bisa mengolah logam.  Andi Arief juga yakin jika asumsinya terbukti benar maka hal itu akan mengguncang sejarah umat manusia.

konstruksi-tersembunyi_di_gunung_padangAWAL PERADABAN MANUSIA MENGENAL BERCOCOK TANAM PADI DI SAWAH LADANG BERASAL DARI INDONESIA RIBUAN TAHUN LALU

Nasi merupakan makanan pokok yang sangat kaya akan gizi dan protein.Dapat diolah menjadi berbagai masakan yang dapat digabung dengan bahan makanan lain.Disamping itu beras/nasi berperan penting dalam jamuan pada setiap acara tradisional serta keagamaan. Maka nasi bermula dari beras,dan beras bermula dari padi dan padi bermula dari hasil bercocok tanam pada area yang dikenal dengan nama persawahan (sawah ladang). Berarti secara historis,bahwa harus ada sejarah mulanya peradaban manusia dalam mengenal bercocok tanam padi.Darimanakah awal mulanya ?

Al-Qur’an menyiratkan adanya peradaban mula MANUSIA MENGENAL SAWAH (bercocok tanam padi) yang menyebutnya sebagai “AL-HARATSI”: Digambarkan pada surah (QS.3.Ali-Imran:14) :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan SAWAH ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.

padi2 ASAL MULA PADI BERASAL DARI PERADABAN NUSWANTARAH (nama kuno Indonesia-red.)

Para ahli sejarah percaya bahawa BERAS / NASI merupakan makanan terbaik yang mudah penanamannya dan telah tersebar luas dimuka bumi ini,yang peradaban awalnya berasal dari Asia Timur (Nuswantarah-nama kuno Indonesia-red.),pada sekitar 10000-9000 tahun lalu. Kemudian menyebar seiring dengan penyebaran manusia dan ditanam di kawasan tinggi Himalaya,daratan Tionghoa,Eropah Timur, Australia,Barat Afrika dan di Amerika.

Masyarakat Tiong Hua suka memakannya sebagai bubur, masyarakat Amerika membuatnya sebagai makanan lembut yang dihidangkan sebagai bahan sereal sarapan pagi.Orang Asia menjadikannya sebagai makanan pokok.Dari beras menjelma menjadi olahan masakan berupa kue, mie, beer dan ‘wine. Tanaman padi tidak hanya bermanfaat menghasilkan beras,dari hasil lain seperti batang padi dapat dijadikan accesoris, bakul, topi,tali,dsb.Kulit padi (merang) bermanfaat dijadikan bahan kayu bakar,shampoo,cosmetik dan makanan binatang.

Di Indonesia legenda padi dikenal dengan Dewi Sri,di Thailand, beras dipercayai mengandung ‘semangat Ibu Tuhan padi’,maka nasi mesti dimasak jauh dari kawasan sawah tempat ia ditanam supaya tidak membuat Ibu Padi marah.Di masyarakat Jepang sangat menghargai padi yang di percayai sebagai bagian dari “KAMI” (Ruh Tuhan).Oleh karena itu orang Jepang tak akan menyisakan nasi barang sebutirpun sebagai apresiasi pada alam.

Dewi Sri PERIODE PERADABAN BERCOCOK TANAM PADI : 1.Bercocok tanam padi telah dikenal peradabannya di Nuswantarah (nama kuno Indonesia-red.),pada sekitar 9000 tahun lalu.(legenda Aji Saka mengenalnya dengan sebutan Jawa Dwipa) 2. Kemudian menyebar ke wilayah utara terus ke Jiangsu, sepanjang Sungai Yangtze China sekitar 6000 -8500 tahun. 3.Di Asia lain diketahui bahwa kawasan timur di Utara India dan Utara Thailand, Korea dan Jepang mengenal bercocok tanam padi pada sekitar 3000-2000 tahun lalu.

4.Kemudian padi dikembangkan kearah Barat. Greek dan Roman Kuno pada abad ke-6 B.C.Walaupun makanan itu tidak disebut didalam kitab Injil tapi ia ada disebut didalam ‘Talmud Yahudi’ yang menengarai ia mula tiba di Timur Tengah pada abad ke-6 sebelum masehi ( B.C.) walaupun padi dianggap sebagai makanan yang jarang dan ganjil diwilayah tersebut. Masyarakat Arab memperkenalkan padi ke Eropah bila mereka mula menanam di kawasan jajahan mereka di Selatan Italy dan Spanyol. (‘Paella’ yang terdiri dari pada nasi, kerang, ayam dan juga sayur-sayuran sekarang ini merupakan makanan terkenal di Sepanyol.)

Pada abad 11 masehi ( A.D.) nasi merupakan makanan utama pada hidangan masyarakat Arab. ( Dolma, daun anggur dimasukkan bersama daging dan nasi merupakan hidangan terkenal di Timur Tengah, Turki dan Greece. Pilaf atau Pilau sejenis lagi makanan Arab dikenali diperingkat antarabangsa, disediakan dengan cara memasak nasi dicampurkan dengan rempah-rempah,daging, ayam atau ikan.

Di Eropah, Nasi dapat menjadi makanan mewah. Sebagai contoh, dilaporkan pada abad ke-13, Henry III di England menganggapnya sebagai makanan asing, luar biasa dan mahal seperti juga di Italy,bahkan komoditi beras dikenakan cukai yang berat sama seperti bahan ‘cinnamon.Diketahui bahwa penanaman padi tidak memerlukan banyak tenaga buruh seperti penanaman barli atau gandum selain itu membuahkan hasil yang melimpah.

Sekarang ini, “ricotto” yang disediakan dalam bentuk nasi dihidangkan bersama tomato, keju dan juga ayam atau lain-lain, merupakan makanan biasa di Italy. Nama itu diperolehi dari orang-orang Italy untuk beras, ‘riso.’ (Nasi),sekarang ini didapati begitu banyak dalam hidangan masyarakat Italy hingga mereka menghasilkan Es krim berbahan beras.

-Beras (padi) dikenal diutara Eropah pada tahun 1747.Sebuah buku masakan Inggris berjudul “The Art of Cooking Made Plain and Easy” mengandungi 20 resep yang menyebut ‘beras / Nasi.’ Seabad kemudian, beras yang telah diketahui dan telah tersebar begitu luas di Asia yang dikatakan sebagai ‘makanan orang miskin’ di Asia Timur,sebelumnya tidak mendapat simpati terkecuali ‘puding nasi’ yang terkenal dikalangan penuntut British untuk beberapa generasi.

Bahkan, nasi menjadi sebagian menu masakan pada perayaan Hari Natal ( christmas ) di Finland.Bubur nasi dinikmati pada malam sebelum Hari Natal lebihannya akan diolah bersama makanan lain pada hari berikutnya. -Penjajah Sepanyol dan Portugis memperkenalkan padi kebagian tengah Amerika. Padi juga ditanam diwilayah jajahan Amerika Utara yang dimulakan oleh masyarakat Inggris.Mulai ditanam di Virginia pada 1620 dan Selatan Carolina pada 1690.Berdasarkan cerita dongeng dinegara itu, penanamanya bukan dirancang tetapi secara kebetulan karena ‘bernasib malang dengan krisis pangan.’

Pusat perusahaan penanaman padi di Amerika sekarang ini beralih ke lembah Mississippi.Creoles di Selatan Amerika dan kawasan Caribbean merupakan pembekal beras didunia. ‘Jambalaya” merupakan makanan nasi yang direbus bersama daging ayam, ikan, bawang dan rempah-rempah.

Panen padi

Kini, 90% perbekalan beras dunia masih datang dari negara-negara Asia dengan China sebagai pemasok utamanya dianggarkan sekitar 180 juta ton setahun, India juga banyak mengusahakan penanaman padi tapi jenis-jenis (varieties) padi tertentu.Hasil padi di Jepang dan Australia tidak seperti tanaman lain, kebanyakan hasil padi disana hanya untuk keperluan setemp dan hanya lebih kurang 3% saja yang diekspor.

Thailand merupakan pengeksport beras utama dunia diikuti oleh USA dan juga Vietnam. Negara China bahkan mempunyai kebijakan ketat dimana tidak meng-eksport berasnya yang berkualitas tinggi ,tetapi hanya mengimport beras jenis kualitas rendah untuk makanan bersubsidi rakyat.

Dari kemanfaatan padi yang kini menjadi bahan makanan yang sangat penting di dunia,maka menunjukkan,bahwa padi (beras) bukanlah makanan remeh tetapi merupakan tumbuhan yang penuh berkah dan memiliki kuasa rahmat Tuhan bagi makhluk-Nya.

Indonesia

Resume : Dari sebuah pemikiran hikmah bahwa betapa Tuhan telah menganugerahkan akal budi manusia yang mengilhami sebuah peradaban tentang bercocok tanam dengan tanaman yang penuh berkah itu (padi-red.) di sawah ladang sejak ribuan tahun lalu,maka sepertinya hal tersebut secara logika bahwa dahulu tentu ada sebuah komunitas awal peradaban manusia yang setidaknya diturunkannya seorang Rasul-Nya untuk bertugas sebagai penyeimbang memberi peringatan akan nikmat-nikmat yang Tuhan berikan. Sementara Tuhan telah menyiratkan bahwa tiada satupun bangsa,peradaban manusia yang berkoloni disuatu wilayah,melainkan telah didatangkannya setidaknya seorang pemberi peringatan (Nabi,Rasul).

“Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang terdahulu”. (QS. 53. An Najm:56)

“……… Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan”. (QS. 35. Faathir:24)

Maka sebagaimana mempercayai bahwa Tuhan telah selalu menurunkan seorang Rasulnya di setiap peradaban bangsa manusia,demikian pula aku percaya bahwa asal usul bangsa Indonesia dahulu adalah bangsa yang telah berperadaban dengan telah dikaruniai-Nya teknologi bercocok tanam padi di sawah ladang yang tentu menegaskan adanya umat pada saat itu yang telah mendapat karunia kemakmuran tinggal di bumi Nuswantarah,yang tentu diiringi pula dengan adanya seorang Rasul.

Tinggal siapakah sosok dan nama Rasul yang pernah di tugaskan di Indonesia dahulu?Maka silahkan telusur dengan akal budi dan nurani serta dengan memadukan temuan-temuan ilmu teknologi modern. Apakah Rasul yang dikabarkan berasal dari Indonesia itu adalah Adam,Tsis dan Nuh? seperti pada sebuah paparan pada link berikut :

https://www.facebook.com/kelana.delapanpenjuruangin/posts/506281139442157?notif_t=like

PENUTUP

Indonesia itu negara amat kaya raya,dibanding bangsa dan negara lain ,tetapi mengapa keadaan rakyatnya masih banyak yang sengsara,hidup dalam keterbatasan? Kekayaan Alam Indonesia sungguh tiada tara.Mungkin jika para penguasa negeri memiliki semangat kemakmuran bangsa,maka sumber kekayaan bumi pertiwi akan membuat kenyang anak anak negeri.Tak ada rakyat miskin.Silahkan kalkulasi saja muatan harta karun bumi pertiwi yang kini banyak dihisap asing,sementara hasil bagi hanya dinikmati segelintir oknum oknum rakus pejabat negeri,dan segelintir kelompok yang hanya menumpuk kekayaan untuk pribadi.Coba jika hasil bumi Indonesia seperti Freeport dikelola anak negeri,dengan perumpamaan sekian juta ton metrik hasil tambang (emas-Tembaga-Uranium) selama puluhan tahun itu dibagi kepada setiap rakyat Indonesia?

Maka semua adalah tanda tanda kebesaran Yang Maha Kuasa.Dan sebagai renungan serta hikmah.Semoga menjadikan khazanah cakrawala pengetahuan.Banggalah Indonesiaku.Jayalah Nusantaraku.rebutlah kembali emas dan permata milik kita dari para gembong gembong tirani.Temukanlah kembali syorga Nuswantara kita yang hilang.

Salam Dewi Sri

Kelana Delapan Penjuru Angin, Kampung Sawah,29 Juli 2013

CopyRights@2013

Sumber :

-Al-Qur’an terjemah DEPAG RI – http://anekaplanta.wordpress.com/2008/03/01/legenda-asal-usul-padi/

http://mforum2.cari.com.my/forum.php?mod=viewthread&tid=734277

-Babad Tanah Jawi-K.H.M.Syamsuddin-Kranggan Jateng.

https://www.facebook.com/kelana.delapanpenjuruangin/posts/506281139442157?comment_id=4021379&offset=0&total_comments=14&ref=notif&notif_t=feed_comment

-http://sejarah.kompasiana.com/2012/09/05/persamaan-piramid-gunung-padang-dan-piramid-bosnia-490987.html

**9 (Sembilan) UNSUR ROH YANG TERDAPAT DALAM DIRI MANUSIA **

JANGAN MENYANGKA JIKA DIRI MANUSIA HANYA BERUNSUR SATU JENIS ROH SAJA

-MENGENAL HAKEKAT DIRI MANUSIA DAN SIFATNYA
-MENGAPA MANUSIA DISEBUT TUHAN SEBAGAI MAKHLUK YANG PALING SEMPURNA?
-MENGAPA MANUSIA DICIPTAKAN DARI BAHAN TANAH?

roh7

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Salam sejahtera sahabat,semoga kita semua selalu dalam kebaikan dan selalu dalam limpahan kasih sayang-Nya.

*Sebuah rahasia dahsyat tentang Roh yang selama ini sulit dianalogikan,namun kini berhasil terungkap secara ringkas*

MOHON DIBACA SECARA PERLAHAN UNTUK KEPADATAN PEMAHAMAN,Ambil manfaatnya,dan sangat mengharap saran dan kritik untuk menyempurnakan sedikit  hal-hal yang masih belum tepat.

Pendahuluan.

Dari seluruh karya tulis yang saya hadirkan buat para sahabat selama ini,maka mengintisarikan tulisan yang berkaitan dengan keberadaan “ROH” yang tengah anda baca saat ini sungguh merupakan sebuah pekerjaan menyusun tulisan yang terberat dan ter-rumit dibanding dengan tulisan-tulisan yang saya persembahkan sebelumnya,Sedangkan telah jelas didalam Al-Qur’an,Allah Ta’ala menyatakan,bila ilmu tentang keberadaan ROH ini yang dapat diungkap pengetahuannya kepada para hamba-Nya,hanyalah sedikit saja.

“Dan mereka bertanya padamu tentang al-ruh. Katakan, ‘al-ruh itu urusan Tuhanku. Dan tidaklah kamu diberi al-i’lm kecuali sedikit.’ (QS. 17:85).

Namun demikian semoga pengetahuan tentang “ROH” yang sedikit ini cukuplah menjadikan kita mampu memetik hikmahnya dan menjadikannya sebagai wahana menuju kesadaran penuh memahami akan tanda-tanda Kebesaran dan Kekuasaan-Nya.Maka dengan dilandasi niat hati yang tulus memohon hidayah serta petunjuk kepada Allah Ta’ala semata dan kemudian menggali lebih banyak hikmah lagi dari buah karya tulisan para ulama alim,dan menyusunnya dengan seksama,maka tulisan ini berhasil saya intisarikan dalam metode bahasa yang mengarah pada pendekatan yang rasional serta mudah untuk dipahami oleh kita yang awam ini.Amin.

KENALI UNSUR ROH UTAMA DALAM DIRI MANUSIA YANG MENJADIKAN KEBERADAANNYA ADA :
Aku,engkau,kalian atau kita manusia,dikatakan ada atau exist keberadaannya jika memenuhi unsur-unsur zat kehidupan yang terpadu di dalam diri.Maka,ternyata unsur yang terdapat dalam diri manusia itu tidak hanya terdiri dari satu jenis ROH saja dengan Jasad.Tetapi ternyata manusia memlilki berbagai unsur Roh.

PENJABARAN TENTANG RUH (ROH) :

Dalam bahasa Arab Kata ruh berasal dari bahasa Al-Qur’an “Al-Ruh” dengan akar kata “RA-WAU-HA” (R-W-H),yang bermakna pancaran zat kehidupan yang menggerakkan suatu makhluk ciptaan-Nya menjadi hidup, yang berasal dari zat Kemaha Hidup-Nya, (Al-Hayyi),Rabb,Tuhan semesta alam, atau dalam perbendaharaan bahasa Indonesia kata “RUH” hanya dapat diterjemahkan dengan “ROH”,atau yang dikenal dengan sebutan “NYAWA”

Ini satu-satunya karakter bahasa yang tidak dimiliki oleh tata bahasa manapun di dunia, kata Al-Ruh berasal dari kalimat Al-Qur’an,yang kemudian hanya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan terjemahan,“ROH”,dalam bahasa Ibrani adalah “RU’ACH”, dalam bahasa Yunani diterjemahkan sebagai “Pneu’ma”,dan dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai “SPIRIT”,

Maka terjemahan secara umum bahwa roh adalah :

“Daya /pancaran kehidupan yang tidak kelihatan,yang memberikan kehidupan kepada semua makhluk hidup”.
Dalam versi Al-Kitab Nasrani,Ruh adalah daya kehidupan yang akan kembali ke asalnya, yaitu Allah.(Ayub 34:14, 15; Mazmur 36:9),

Maka dalam Al-Qur’an diberitakan bahwa seluruh unsur jati diri manusia pada akhirnya bakal kembali kepada Tuhannya.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke sorga-Ku.” (QS. 89.Al-Fajr:27-30).

Kemudian dalam bahasa sehari-hari kita,juga mengenal adanya sebutan, “Jiwa,sukma,Ruh kudus”, Roh Jahat,roh gentayangan,dll.Apakah semua itu?

Maka,tiap manusia itu memiliki 4 elemen / unsur utama zat kehidupan yang “menempel” atau berpadu di dalam dirinya,bahkan beberapa ulama meyakini bahwa 4 elemen ruh itu sebagai tergolong “makhluk” yang ditiupkan (dijadikan unsur) oleh Allah SWT,pada diri manusia tersebut ketika tercipta atau terlahir,sedangkan pada nafs-nafs lain yang terdapat dalam diri manusia,maka disebut sebagai unsur yang “dibekalkan”,karena merupakan jenis sifat :

BERIKUT BERBAGAI UNSUR DAN JENIS-JENIS ROH UTAMA YANG BERSEMAYAM DALAM DIRI MANUSIA :
Unsur manusia terdiri dari :
roh3

1. AR-RUH AL-IDHOFI atau RUH AL-HAYAT / RUH SEGALA SUMBER KEHIDUPAN (bentuk halus/gaib/tidak kasat mata)
2. AL-JASAD / FISIK (Ruh bentuk MATERI / BENDA yang dipengaruhi oleh ruang dan waktu)
3.AR-RUH AL-‘AQL atau ruh intelektual manusia (bentuk halus/gaib/tidak kasat mata)
4.AR-RUH AN-NAFSIY (Ruh kepribadian/Ego) atau Ruh angan/kesadaran (bentuk halus/gaib/tidak kasat mata),

“Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)”, (QS.21. Al Anbiyaa’:64)

I.AR-RUH AL-IDHOFI :

-Ruh Al-Idhafi atau Ruh Al-Hayat atau bahasa kita menyebutnya “Nyawa” :

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”.
(QS.32. As Sajdah:9)

-Adalah roh utama manusia,karena roh inilah maka manusia dapat hidup. Bila roh tersebut keluar dari raga, maka manusia yang bersangkutan akan mati jasadnya. Roh ini sering disebut “NYAWA”.
-Roh Al-Idhofi merupakan sumber kehidupan dan keberadaan adanya manusia,Dan roh Al-Idhofi ini mempengaruhi roh-roh lainnya.Maka ketika manusia masih dalam keadaan belum mengalami kematian namun salah satu jenis roh yang lain keluar dari raga, maka roh Al-Idhofi ini tetap akan tinggal didalam jasad,sehingga manusia tetap hidup/bernyawa.
-Bagi hamba Tuhan yang telah sampai pada tingkat kedekatan Irodat Ilahi atau telah mencapai maqam “MAKRIFAT,maka dapat mengenali roh nya sendiri ini dengan penglihatan kebatinannya(Al-Bashirah). Ia berujud mirip diri sendiri, baik rupa maupun suara serta segala sesuatunya. Bagai berdiri di depan cermin. Meskipun roh-roh yang lain juga demikian, tetapi kita dapat membedakannya dengan roh yang satu ini.Alamnya Ruh Al-Idhofi berupa nur terang benderang dan rasanya sejuk tenteram (bukan dingin).Inilah Ruh yg dikatakan akan kembali kepada Tuhannya saat manusia mati atau dicabut nyawanya.

(Menurut Syeikh Naem As-Saufi dalam kitab Mengenal Ruh : Bermula dari Ruh Idhafi itu maka daripadanya asalnya Jawahir(perwujudan). Ada pun Ruh Idhafi itu ialah Nuktah. Yang mengadakan Nuktah itu Zat Allah yang Maha Suci,Maka Roh Idafi itulah izin Allah(tiupan sebagian Ruh Al-Quds-Nya) didalam diri kita. Maka Ruh Idhafi itulah dinamakan Ujud Idhafi. Maka Ruh Idhafi itulah dinamakan Nyawa Muhammad, Nyawa Adam, Nyawa orang-orang Mukmin dan Nyawa kepada Ruhani. Maka kenyataan Ruh Idhafi itulah bersumber dari Ruhul Quddus. Maka kenyataan Ruhul Quddus itu ialah Ruhani. Kenyataan Ruhani itu ialah Nafas kita. Maka ada pun Ruh Idhafi itu didalam diri. Maka Hakeqat itu diri, dan diri itu didalam Idhafi).

Ruh Al-Idhofi ini terdiri dari :

1. Roh Al-Qudus (Roh Kudus /Roh Suci) dan Roh Al-Hayat (Nyawa):
-Roh Al-Qudus adalah merupakan manisfestasi difusi Ruh suci yang bersumber dari Ruh-Nya yang Maha Al-Hayyu Al-Qayyum,yang ditiupkan langsung oleh Tuhan kepada makhluk-Nya yang tertentu,yang adalah dikhususkan untuk makhluk pilihan-Nya.

-Sedangkan Roh Al-Hayat yang sering disebut “NYAWA” ini,adalah roh nyawa kehidupan yang bersumber (baca:bagian) dari Roh Kudus-Nya tersebut yang “ditiupkan” kepada seluruh makhluk ciptaan Allah baik Malaikat,Jin,Manusia umum yang lahir/tercipta dan merasakan hidup baik di alam dunia maupun alam ghaib lainnya (termasuk tumbuhan dan hewan).

Maka perbedaan Roh Qudus dengan Roh Al-Hayat adalah bahwa :

-Roh Qudus tidak ditiupkan kepada makhluk/manusia umum tapi hanya ditiupkan Roh Al-Hayat,sedangkan yang ditiupkan langsung Roh Qudus-Nya ini diantaranya adalah :

HAMBA-HAMBA TUHAN YANG DITIUPKAN DENGAN RUH AL-QUDUS :

a.Jibril (Malaikat),

“Katakanlah: “Ruhul Qudud,(Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”(QS. 16. An Nahl:102)
b.Adam,yaitu pada penciptaan langsung dahulu,

“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya Ruh -Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.”
(QS.38. Shaad:72)

c.Nabi Isa,yaitu tatkala Ibundanya tanpa suami namun dapat mengandung dan melahirkan Nabi Isa AS:

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus…..”.(QS. 5. Al Maa’idah:110),
Ayat senada silahkan renungi : (QS.Al-Baqarah :87 dan 253)

d.Nabi Muhammad SAW.yang disebut Ruh Al-Amin,adalah esensi dari Nur Muhammad yg merupakan cikal bakal penciptaan segala sesuatu kehidupan makhluk-Nya,maka justru Roh Qudus yang paling tertinggi derajatnya justru yang ditiupkan pada jiwa Muhammad SAW.
Dari sabda Rasulullah Saw :

(Aku dari Allah dan sekalian mukmin dariku.)

-Firman Allah Swt. dalam hadis qudsiy:
“Innallaaha khalaqa ruuhi nabiyyika shalallaahu `alaihi wasallam min dzaatihi”
(Sesungguh-Nya Allah menciptakan ruh/Nur Muhammad Saw. itu dari Zat-Nya/Nurillah.)

Selengkapnya silahkan renungi dalam-dalam riwayat Nur Muhammad ini pada link berikut :

-https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/07/12/the-effulgence-of-mohammed-nur-muhammad/

(Jadi tiupan ruh Al-Qudus tidak hanya disematkan/ditiupkan pada Isa anak maria saja tapi juga pada Jibril,Adam dan Muhammad SAW).

2.Roh Rabani ,

-Adalah Ruh Jiwa yang selalu menangisi diri teringat akan Tuhannya,yang selalu meratap memanggil-manggil Rabb nya.
“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (nafsy dirinya sendiri)”.(QS.75. Al Qiyaamah:2)

(Bila kita berhasil menguasainya maka kita tak mempunyai kehendak apa-apa. Hatipun terasa tenteram).

3. Roh Nurani :

-Roh ini dibawah pengaruh roh-roh Al-Idhofi. Roh Nurani ini mempunyai pembawa sifat terang. Karena adanya roh ini menjadikan manusia yang bersangkutan jadi terang hatinya. Kalau Roh Nurani meninggalkan tubuh maka orang tersebut hatinya menjaid gelap dan gelap pikirannya.
-Roh Nurani ini hanya menguasai nafsu Mutmainah saja. Maka bila manusia ditunggui Roh Nurani maka nafsu Mutmainahnya akan menonjol, mengalahkan nafsu-nafsu lainnya.
Hati orang itu jadi tenteram, perilakunyapun baik dan terpuji. Air mukanya bercahaya, tidak banyak bicara, tidak ragu-ragu dalam menghadapi segala sesuatu, tidak protes bila ditimpa kesusahan.Senyum tangis suka duka,bahagia maupun menderita dipandang sama.

4. Roh Rahmani (Roh Cinta Kasih):

-Roh dibawah kekuasaan Roh Al-Idhofi pula. Roh ini juga disebut Roh Pemurah,yang merupakan manifestasi dari Zat-Nya yang Ar-Rahman dan Ar-Rahim.Roh ini mempengaruhi manusia bersifat sosial,dan berkasih sayang(roh cinta).

Oleh karena adanya unsur Roh cinta inilah maka manusia dapat saling merasakan timbulnya rasa cinta dan sayang,yaitu pada suami sitri,sahabat,keluarga dan antar sesama orang-orang yang bernurani.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.(QS.30. Ar Ruum:21)

Darimana datang ruh cinta ini?
Maka ayat berikut yang mengisahkan riwayat Nabi Musa dengan Fir’aun adalah menyiratkan asal datangnya ruh cinta ini.

“…..Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku, …”(QS.20. Thaahaa:39)

Jelas sekali bahwa manusia terdapat unsur Ruh Cinta yang berasal dari Dzat Ar-Rahman Ar-Rahim-Nya.

II.AL-JASAD :

Terdiri dari :

1. Jasmani / Jasad / Tubuh /daging :

Bahwa salah satu elemen manusia itu adalah Jasad/jasmani yang terdiri dari “cangkang” atau prototype tulang yang diselubungi daging beserta seluruh komponen system metabolismenya,yang asal usulnya berasal dari tanah.

“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah,…….’. “(QS.40.Al Mu’min:67)
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk”. (QS.15.Al-Hijr:26)

-Maka seluruh aktifitas dan mekanisme perkembangan tubuh manusia ini tetap di bawah kekuasaan Roh Al-Idhofi. yang menguasai seluruh peredaran darah dan urat syaraf serta memberi energi listrik pada pergerakan/kerja paru-paru dan jantung.

-Karena adanya roh yang menguasai jasad/jasmani ini maka manusia dapat merasakan adanya rasa sakit, lesu, lelah, segar dan lain-lainnya. Bila Roh Al-Idhofi yang menguasai badan ini keluar dari raganya, maka ditusuk jarumpun tubuh tidak terasa sakit atau tubuh dalam keadaan mati rasa.
-Roh jasmani ini menguasai nafsu amarah dan nafsu hewani. Nafsu hewani ini memiliki sifat dan kegemaran seperti binatang, misalnya: malas, suka setubuh, serakah, mau menang sendiri dan lain sebagainya.

2. Al-Nabati An-Nafsiy (Gen , Cikal Bakal) .

Unsur Al-Nabati dalam diri manusia jika menurut bahasa ilmiahnya adalah Gen atau DNA,seperti yang disiratkan dalam ayat-Nya :

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
(QS.41. Fushshilat:53)

Pada kalimat “Sanurihim ayatina…” yg bermakna “Tuhan menghadirkan tanda-tanda…”,kemudian sambungannya,”Fi Anfusihim…” yang bermakna ,”Sesuatu unsur inti yang tanda-tandanya terdapat dalam diri manusia…”,maka pesan penjabarannya dari ayat tersebut adalah :

“Bahwa didalam unsur manusia terdapat suatu “tanda-tanda” inti zat manusia (lebih kecil dari atom),yang tak akan hilang yang dengan inti itu maka sesuatu yang diam,yang mati dapat tumbuh/dihidupkan kembali,yang semua itu sebagai memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya”.
Dengan apa zat itu dapat diperlihatkan?maka tentu dengan ilmu pengetahuan.Dan jelas sekali ilmu pengetahuan modern telah menemukan adanya unsur Gen,ya DNA itulah yang dimaksud dalam Al-Qur’an.

APA ITU DNA ?
dna

-DNA, kepanjangan dari Deoxyribo Nucleic Acid, merupakan asam nukleat yang menyimpan semua informasi tentang genetika. DNA inilah yang menentukan jenis rambut, warna kulit dan sifat-sifat khusus dari manusia. DNA umumnya terletak di dalam inti sel.

Secara garis besar, peran DNA di dalam sebuah sel adalah sebagai materi genetic, artinya DNA menyimpan cetak biru bagi segala aktivitas sel. Ia mengandung perintah-perintah yang memberitahu sel bagaimana harus bertindak. Ia juga menentukan bagaimana sifat organisme diturunkan dari suatu generasi ke generasi berikutnya.
Selebihnya silahkan kunjungi link tentang DNA :
http://kesehatan707.blogspot.com/2012/05/apa-itu-dna.html
-http://www.arrahmah.com/news/2013/02/17/subhanallah-ayat-suci-dalam-kromosom-manusia.html

Ketika manusia mati,adalah terjadinya suatu peristiwa dimana terjadi pelepasan unsur-unsur atas satu kesatuan pada diri manusia,yakni terpisahnya roh-roh kehidupan seperti yang dijelaskan diatas dengan jasad/badannya,maka yang terjadi pada jasad/fisik adalah kembali melebur menjadi tanah yang memang asal usul bahannya dari sana.

“Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya”.
(QS. 71. Nuh:18)

Namun ada satu unsur yang tak akan hilang pada diri manusia ketika lainnya melebur menjadi tanah,yaitu unsur An-Nafsiy atau Gen/DNA.

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami aka mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain”.(QS. 20. Thaahaa:55)

“Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.(QS.31. Luqman:28)

-Maka hakekat manusia mengapa berasal dari tanah ini yang ternyata adalah bahwa ada keterkaitan sejarah riwayat masa lalu ketika Tuhan menciptakan Makhluk dari bangsa Jin yang bukan berasal dari tanah namun menjadi khalifah dimuka bumi yang kemudian malah membuat kerusakan tanah/bumi sehingga bumi menangis bahwa zatnya hanya dikotori oleh bangsa Jin dahulu.
Maka kemudian Tuhan menjanjikan pada tanah ketika mencipta manusia bahwa nanti akan dikembalikan lagi dan bahkan mendapat kemuliaan tinggal disyorga sebagai penghargaan pada unsur tanah.Hingga bahkan tanah/bumi menjadi bangga karena telah dihadirkannya manusia mulia yang juga dibangga-banggakan oleh penduduk langit termasuk Malaikat dan Bouraq.
Siapa manusia mulia itu,Beliau adalah Muhammad SAW yang hadir memuliakan bumi pertiwi.
Lihat selengkapnya pada riwayat “MAKHLUK-MAKHLUK SEBELUM MANUSIA”,pada link berikut :

https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/07/06/makhluk-makhluk-sebelum-manusia/?fb_source=pubv1

IV.Ruh Al-‘AQL (Ruh Intelektual):

-Adalah Ruh kesadaran dan akal pikir yang terdapat dalam unsur (dalam jiwa diri) manusia yang disematkan oleh Sang Pencipta.

“Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai aqal, (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu”.
(QS.65. Ath-Thalaaq:10)
(QS.26. Asy-Syu’araa’:28)

Elemen Ruh Al-Aql inilah yang membedakan antara makhluk manusia dengan tumbuhan dan binatang.Artinya tumbuhan dan binatang tidak dibekali Ruh ini,hanya dibekali Ruh Al-Hayat dan Nafs-nafs sifat ego.
Namun ternyata justru Ruh Aql ini yang jarang di pergunakan oleh kebanyakan manusia.

“Atau apakah kamu mengira bahwa KEBANYAKAN mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”. (QS.25.Al Furqaan:44)

Ayat senada :
(QS.40. Al Mu’min:57)

“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal”.
(QS.5. Al Maa’idah:58),

Ancaman bagi yang tidak mem-fungsikan aqal yang telah dianugerahkan Tuhan pada manusia :
“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya”.(QS.10. Yunus:100)

V.Ruh An-NAFSIY (Roh REWANI atau SUKMA):
roh5Ruh ini terdiri dari :

1-Roh Rewani (Sukma):

-Ialah roh yang menjaga raga manusia.Ketika manusia hidup dan dalam keadaan sadar serta sehat atau terjaga,maka ruh Rewani /sukma ini komplit nempel ( menyatu) pada diri manusia,
-Bila roh Rewani ini keluar dari tubuh maka orang yang bersangkutan menjadi tidak sadar atau tidur.Maka orang akan terjaga kembali ketika roh Rewaninya ini merasuk kembali ke tubuhnya.
-Juga ketika orang dalam keadaan tidur kemudian bermimpi berjumpa dengan arwah seseorang dialam mimpinya, maka roh Rewani dari orang yang bermimpi itulah yang menjumpainya,bahkan dapat melakukan komunikasi dialamnya tersebut. Jadi mimpi itu hasil kerja roh Rewani yang mengendalikan alam bawah sadar manusia. Roh Rewani ini juga di bawah kekuasaan Roh Idofi. Jadi kepergian Roh Rewani dan kehadirannya kembali diatur oleh Ruh Al-Idhofi.

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Allah memegang jiwa (nafs) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. Maka Dia, tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS.39.Az-Zumar:42)

-Oleh karena itu makanya kita sering dengar orang bilang bahwa kalau orang sedang tidur seperti kaya mati saja ,namun bagi yang tertidur kadang merasa angan dirinya dapat menari-nari terbang bebas kealam luas.

-Maka Ruh Rewani ini merupakan pokoknya Ruh Angan,alam bawah sadar,Roh Rewani adalah duplikat jasad dalam bentuk halus atau SUKMA dalam bahasa kebatinan Jawa.

(Itulah mengapa pada komunitas ahli supranatural dapat memiliki ilmu yang disebut,”Ngerogoh Sukma” alias mampu melakukan perjalanan kebatinan dan mampu berkomunikasi dengan arwah orang-orang yang sudah meninggal,dengan makhluk astral lain atau bahkan mampu melakukan komunikasi jarak jauh/telepati dialam kebatinan).

-Maka ketika manusia mati yg terjadi adalah :
Ia hanya kehilangan fisik,dan Ruh Al-Idhafinya,sedangkan Jiwa,aqal dan angannya masih hidup dialam sana,maka oleh karena itulah di kehidupan sehari-hari,kita dapat mengenal adanya desas desus hal-hal gaib,hantu,roh gentayangan,penampakan,mati suri,masuk ke alam astral,dll,sungguh semua itu sebenarnya dapat dijelaskan.

2. Roh Rohani /Ruh Ego:

Pada Ruh Ar-Ruhani inilah yang merupakan sarana Tuhan dalam mengilhamkan qalbu manusia untuk menggunakan insting memilih jalan negatif atau jalan positif.

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”.
(QS.91. Asy Syams:8)

-Roh inipun juga dikuasai oleh roh Al-Idhofi. Karena adanya roh Rohani ini, maka manusia memiliki kehendak dua rupa. Kadang-kadang suka sesuatu, tetapi di lain waktu ia tak menyukainya. Roh ini mempengaruhi perbuatan baik dan perbuatan buruk. Roh inilah yang menempati pada sifat-sifat/nafsy bakat manusia,sebagai berikut :

Kenali unsur diri Manusia yang pada penciptaan manusia telah disematkan 2 (dua) Nafs/Sifat utama :

I. Unsur Nafs Kiri (Cenderung Negatif) / Nafs Fujurah:

Yang dapat menimbulkan / mengarahkan perilaku manusia pada nafs-nafs keburukan/kefasikan sbb :
1.An-Nafs Al-Hayawaniyyah.
2.An-Nafs Al-Musawwillah
3.An-Nafs Al-Ammarah
4. Nafsu Al-Lawwamah (Nafs ganda yang dapat menghantar ke negatife dan positif)
5. Nafsu Supiyah (Nafs ganda yang dapat menghantar ke negatife dan positif)

II. Unsur Nafs Kanan (Nafsyu positive / At-Taqwa :

Yang dapat menimbulkan / mengarahkan perilaku manusia pada nafs-nafs kebajikan/ketaqwaan sbb :
1.An-Nafs An-Nafsyaniyyah
2.An-Nafs Al-Mulhammah
3.An-Nafs Al-Muthmainnah

Baca selengkapnya tentang Nafsy-nafsy yg terdapat dalam diri manusia di link berikut :

https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/07/25/anasir-anasir-manusia-yang-disematkan-saat-diciptakan-tuhan/

Kalau manusia ditinggalkan oleh roh rohani ini, maka manusia itu tidak mempunyai nafsu lagi, sebab semua nafsu manusia itu roh rohani yang mengendalikannya. Maka, kalau manusia sudah bisa mengendalikan roh rohani ini dengan baik, ia akan hidup dalam kemuliaan. Roh rohani ini sifatnya selalu mengikuti penglihatan yang melihat. Dimana pandangan kita tempatkan, disitu roh rohani berada,namun sebaliknya jika manusia cenderung mengumbar nafsyu negatifnya saja maka keadaan manusia tersebut akan jatuh ke dalam derajat rendah (bahkan lebih rendah dari binatang).

Dengan demikian telah kita pahami bahwa diri manusia itu terdapat unsur 9 (Sembilan) “ROH” yakni :
1.Ruh Al-Hayat
2.Ruh Rabbani
3.Ruh Nurani
4.Ruh Rahmani
5.Ruh Al-Jasad
6.Ruh An-Nabati
7.Ruh Al-Aql
8.Ruh Rewani / Sukma
9.Ruh Rohani / Ego.
Roh1

LANTAS APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN JIWA ?

Maka dari keseluruh unsur Ruh berikut jasad yang melekat pada diri manusia,itulah satu kesatuan unsur/wujud yang disebut “JIWA”,yang mengejawantahkan akan adanya keberadaan jatidiri manusia tersebut baik dalam keadaan hidup atau sesudah matinya.
Dan jiwa pada masing-masing diri seseorang itu,diwakili oleh sebutan namanya masing-masing yang bersifat abadi atau yang disebut,“Ism”

Maka Jiwa mewakili nama dan nama mewakili karakter serta spirit ruh dari orang yang bersangkutan,oleh karena itu demikianlah mengapa nama seseorang itu tak akan pernah musnah biarpun meninggal,tetap saja namanya tak akan hilang,contoh si Badrun meninggal,maka tak akan ganti panggilan menjadi si Bolang,maka tetap saja akan di panggil namanya dengan Badrun,hanya saja ada tambahan gelar Almarhum didepan namanya.maka dengan demikian nama adalah sebutan/gelar “JIWA” seseorang.
Dari semua ayat yang menyebutkan tentang jiwa dalam Al-Qur’an,maka sekaligus merupakan definisi tegas tentang jiwa itu sendiri.

-Berikut ayat yang mendefinisikan tentang jiwa,yang mengejawantahkan keseluruhan unsur zat manusia secara utuh ketika hidup :

“Berjihadlah dengan harta dan jiwamu…. “(QS.49. Al Hujuraat:15)
Artinya:”Berjuanglah dijalan-Nya dengan segenap kemampuan yg dimiliki dari seluruh unsur jasmani dan ruhaninya”.
Juga pada : (QS.40. Al Mu’min:17) , (QS.31. Luqman:28)

Pada contoh bait lagu,coba ingat-ingat akan sebuah lagu nasional,yang berbunyi :
“Bagimu negeri,jiwa raga kami….”,
Atau pada sebuah pelaksanaan program pemerintah ketika diadakan Sensus Penduduk,maka dikatakan “Cacah Jiwa”,satuannya adalah jiwa.(bukan cacah orang atau cacah manusia,kan?)
Maka demikianlah semua itu mengejawantahkan sebagai bentuk utuh manusia itu sendiri yang terdiri dari unsur ruh -ruh seperti tersebut diatas,atau keseluruhan jasmani dan ruhaninya.

-Berikut ayat yang mendefinisikan tentang jiwa,yang mengejawantahkan jatidiri manusia ketika setelah matinya :

“Hai jiwa yang tenang”.(QS. 89. Al-Fajr:27)
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa firman Allah ini turun berkenaan dengan Hamzah yang gugur (mati) sebagai syahid.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Buraidah.)

-Berikut ayat yang mendefinisikan tentang jiwa,yang mengejawantahkan jatidiri manusia ketika di alam akherat (Setelah alam kubur):
“Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan”.(QS. 39. Az Zumar:70)

KEADAAN UNSUR JIWA MANUSIA MENURUT ALAM KEHIDUPANNYA :

1.KETIKA MANUSIA MASIH HIDUP DIALAM DUNIA :

-Maka keseluruh unsur zat manusia yang terdiri dari Ruh-ruh Al-Idhofi,Jasad,Aql dan An-nafsiy beserta seluruh sifat Nafs-nafs nya,semua melekat atau komplit bersemayam dalam jati diri jiwa manusia.

2.KETIKA MANUSIA SEDANG DI CABUT NYAWANYA (meninggal) :

-Adalah saat proses dilepasnya seluruh unsur Ruh halus ,ruh-ruh kehidupan pada diri manusia dari jasadnya.

-Pada peristiwa ini maka keadaan manusia ybs seolah mengalami mati rasa,ketidak sadaran,diam,ditusuk benda tajampun akan diam,disiksa orangpun tak akan lari……karena apa? karena ruhnya sedang dilepas…karena nafs-nafsnya sedang mengalami pelepasan dari jasadnya.

-Kemudian dalam riwayat ketika manusia sudah sampai ajalnya dan sedang dicabut nyawanya,(sakarotul maut) diriwayatkan,dalam alam jiwanya mengalami sakit sangat luar biasa,karena adanya suatu proses pelepasan unsur-unsur ruh kehidupan dengan badannya.

“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri)”.(QS. 8.Al-Anfaal:50)
2.KETIKA MANUSIA MENJALANI KEHIDUPAN DIALAM KUBUR/BARZAH :

-Ketika manusia telah berada hidup dialam kubur/Barzah,maka Unsur yang lepas atau meninggalkan jiwanya adalah hanya jasadnya,karena jasad/fisiknya melebur menjadi tanah,sedangkan unsur ruh-ruh lainnya seperti :

Ruh Al-Idhofi, Al-Aql dan Ruh An-Nafsiy nya dikembalikan lagi oleh Allah setelah manusia dibenamkan ke dalam liang lahat dan menjalani kehidupan baru dialam dikubur.
Maka dengan demikian kala manusia berada dialam kubur,Gen atau DNA nya mengalami/merasakan hidup kembali dalam dimensi alam halus dengan Ruh-ruh yang dikembalikan lagi yakni Ruh Al-Idhofi,Ruh Al-Aql dan Ruh An-Nafsiy nya (Sukma)

-Oleh karena itulah ada istilah Merasakan siksa kubur,menangis,menyesali diri,dan ingin kembali ke dunia,dll

Berikut informasi dari ayat Al-Qur’an tentang adanya siksa kubur :

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang,dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.”(QS.40. Al Mu’min:46)
Riwayat tentang adanya siksa kubur silahkan renungi pada link berikut :

-http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/siksaalamkubur.htm
-http://www.sabah.org.my/mns/allPDF/nov06/TAZKIRAH%2070%20311006%20Kebenaran%20Azab%20Kubur.pdf

3.KETIKA MANUSIA DI ALAM AKHERAT SETELAH KIAMAT DAN DIBANGKITKAN :

-Maka diri manusia akan dikembalikan lengkap dengan jiwa raganya,utuh sediakala seperti bentuk ketika hidup dialam dunia,karena Allah menyatukan kembali seluruh unsur ruh dengan jasadnya.
Silahkan perhatikan ayat berikut :

“Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna”.
(QS. 75.Al-Qiyaamah:4)

4.KETIKA MANUSIA BERADA DI ALAM TEMPAT KEMBALI AKHIR :

-MANUSIA YANG BERADA DIALAM SYORGA :
Juga diri manusia akan dikembalikan dengan jiwa yang utuh sediakala seperti bentuk ketika hidup dialam dunia,karena Allah menyatukan kembali seluruh unsur ruh Al-Idhofi,Jasad,Aql dan An-nafsiy dengan jasadnya.
Silahkan perhatikan ayat berikut :

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke sorga-Ku.” (QS.89.Al-Fajr:27-30).

“Di dalam Syorga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu yang sebahagiannya kamu makan”.
(QS. 43. Az Zukhruf:70 s/d 73)

Ayat diatas menggambarkan keadaan manusia di dalam syorga lengkap dengan unsur ruhani dan jasmani,karena ada aktifitas jasadiyah seperti makan,minum,merasakan,dll sama seperti ketika di alam dunia,hanya Nafs-nafs keburukan saja yang telah dilepaskan seluruhnya,karena dalam syorga tidak ada dendam dan sakit hati dan tidak ada sifat-sifat kesia-siaan.

-MANUSIA YANG BERADA DI ALAM NERAKA :
Di alam Neraka,maka diri manusia juga akan dikembalikan lengkap dengan jiwa raganya,utuh sediakala seperti bentuk ketika hidup dialam dunia,karena Allah menyatukan kembali seluruh unsur ruh Al-Idhofi,Jasad,Aql dan An-nafsiy dengan jasadnya.

Silahkan perhatikan ayat berikut :

“Dan tahukan kamu apa huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati.” (Q.S. al-Humazah: 5-7)

“Di hadapannya ada jahanam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati; dan dihadapannya masih ada azab yang berat.” (Q.S. Ibrahim: 16-17)

Ayat diatas menggambarkan keadaan manusia di siksa dalam Neraka lengkap dengan unsur ruhani dan jasmaninya,karena ada aktifitas jasadiyah seperti makan,minum,merasakan,dll,hanya saja semuanya berbentuk api dan kesengsaraan,sama seperti ketika di alam dunia,hanya Nafs-nafs Muthmainnah,Al-Mardiyyah dan Ar-Radhiyahnya saja yang tidak ikut ke neraka,karena didalam neraka tidak ada sifat kedamaian,ketenteraman dan kesenangan.

MANUSIA

torekot naksobandiah

MENGENAL HAKEKAT DIRI MANUSIA DAN UNSURNYA :

Kita selama ini memahami keberadaan manusia hanya sebatas makhluk yang diciptakan Tuhan dari bahan tanah kemudian cukup melakukan penghambaan dan beribadah hanya kepada-Nya saja,kemudian bagi yang taat akan masuk syorga dan bagi yang ingkar akan berakhir dineraka.
Padahal ternyata setelah dilakukan pendalaman dari berbagai sumber ulama alim dan menginti sarikannya lebih dalam lagi,maka bahwa hakekat keberadaan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang lebih mulia dibanding dengan makhluk ciptaan lainnya ini sungguh memuat makna lain yang lebih luas,yang akan menuntun kepada kita (bagi yang mau merenunginya) ini,menuju pada sebuah kesadaran yang lebih dahsyat akan makna sebuah rasa syukur yang teramat sangat kepada Tuhannya dengan sebenar-benar runduk sujud syukur yang dalam lagi dan akan membuat kita lebih khidmat lagi menyadari siapa diri kita yang sungguh tak ada sebutir-butirnya tepung diri kita dibanding dengan karunia Tuhan yang telah diberikan kepada manusia.
(pada kesadaran lain akan timbul rasa malu teramat sangat kita kepada Tuhan,jika kita hanya menjadi makhluk sampah yang tak pernah mempersembahkan sesuatu bakti kepada-Nya).
Mari kita telusuri siapa sesungguhnya diri kita.

MENGAPA MANUSIA DISEBUT TUHAN SEBAGAI MAKHLUK YANG PALING SEMPURNA?

Manusia makhluk paling sempurna dan mulia?
Ah,sepertinya omong kosong.Realitasnya dalam kehidupan dunia saat ini begitu memprihatinkan menyaksikan ulah sepak terjang dan tabiat manusia.Jahat,egois,sadis dan penuh kesombongan,saling injak menginjak,saling hancur menghancurkan,tipu menipu dan saling iri dengki.
Lihat yg jadi penjahat,betapa sadisnya mereka merampok,menjambret,menodong kadang tanpa belas kasihan langsung membacok,membunuh korbannya.Lihat yang saling bunuh-bunuhan antar sesama umat karena dalih membenarkan kelompok/sektenya sendiri.Lihatlah realitas di Suriah,Irak,Mesir,Myanmar,dan dibelahan lain dunia.
Lihat yang saling tawuran ,pertikaian SARA,mereka bunuh-bunuhan dan mati bagai binatang,yang mati dibakar,yang dimutilasi,yang di ambil paksa organ dalam tubuhnya,dll.Lihat para pecandu narkoba,lihat dan lihat realitas dikehidupan kita sehari-hari,maka manusia kelasnya tak lebih baik dari nasib binatang yang mati.
Mau disebut mulia darimana? Padahal Tuhan telah menyiratkan bahwa manusia adalah makhluk yang dilebihkan kemuliaan dan derajatnya dibanding makhluk lainnya :

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.(QS. 17. Al Israa’:70)

Maka jawaban makhluk manusia dapat digolongkan sebagai makhluk mulia jika memenuhi hal-hal sebagai berikut dibawah ini :

Jawaban yang paling mendasar adalah bahwa,ternyata derajat mulia itu,berpasangan dengan kerendahan.Maknanya bahwa manusia jika mau termasuk ke dalam makhluk yang disebut mulia,maka itu harus dengan niat dan berusaha,berupaya mencapainya atau meraihnya.
Maka,

Manusia dapat digolongkan sebagai makhluk mulia terbagi dalam dua katagory:

1.Menurut aspek filsafat global :
*Dalam ilmu mantiq (logika) manusia disebut sebagai Al-Insanu hayawanun nathiq (manusia adalah binatang yang berfikir). Nathiq sama dengan berkata-kata dan mengeluarkan pendapatnya berdasarkan pikirannya. Sebagai binatang yang berpikir manusia berbeda dengan hewan. Walau pada dasarnya fungsi tubuh dan fisiologis manusia tidak berbeda dengan Hewan, namun hewan lebih mengandalkan fungsi-fungsi kebinatangannya, yaitu naluri, pola-pola tingkah laku yang khas, yang pada gilirannya fungsi kebinatangan juga ditentukan oleh struktur susunan syaraf bawaan. Semakin tinggi tingkat perkembangan binatang, semakin fleksibel pola-pola tindakannya dan semakin kurang lengkap penyesuaian struktural yang harus dilakukan pada saat lahirnya.
Pertanyaan tentang jati diri manusia itu mulai timbul atau baru terlacak pada masa Para pemikir kuno Romawi yang konon dimulai dari Thales (abad 6 SM).

Maka,keberadaan manusia berbeda dengan binatang yang tak diberi beban penugasan sebagai khalifah (penguasa bumi),sehingga tak dibekalinya dengan aqal.

Sedangkan manusia yang diberi aqal memungkinkan dapat menerima signal-signal petunjuk atau hidayah dalam menjalani kehidupan sebagai koridor yang mesti diaplikasikannya.

TENTANG SIGNAL HIDAYAH YANG TERTANAM DALAM DIRI MANUSIA

As-Syaikh Musthafa al-Maraghi ketika menafsirkan makna hidayah dalam surat al-Fatihah menerangkan bahwa ada lima macam dan tingkatan hidayah yang dianugerahkan Allah s.w.t. kepada manusia, yaitu:
1. Hidayahal-Ilham gharizah atau (insting).
2. Hidayah al-Hawasy, (indra).
3.Hidayah al- ‘Aql, (akal budi).
4. Hidayah al-Adyan, (agama).
5.Hidayah at-Taufik.

Hidayah al- ‘Aql ,lebih tinggi tingkatannya dari hidayah terdahulu (insting dan indra yang dianugerahkan Tuhan kepada hewan). Dan pada hidayah aql pula yang membedakan antara manusia dan binatang. Di samping itu, di atas akal budi terdapat hidayah agama dan hidayah at-taufiq.

Manusia menurut aspek Ilmu Pengetahuan:
Pada zaman modern pendefinisian manusia banyak dilakukan oleh mereka yang menekuni bidang psikologi.Para penganut teori psikoanalisis menyebut manusia sebagai homo volens (manusia berkeinginan). Menurut aliran ini manusia adalah makhluk yang memiliki perilaku hasil interaksi antara komponen biologis (id), psikologis (ego) dan sosial (superego), Di dalam diri manusia terdapat unsur animal (hewani), rasional (akali), dan moral (nilai).
Maka kesimpulannya,kemakhlukan bahwa manusia lebih mulia entah apapun agamanya dan latar belakangnya.
Yakni :

a.Telah diberinya ruh yang berasal dari Ruh Kemuliaan-Nya,bukan dari ruh Iblis atau syetan atau binatang.(Silahkan renungi kembali tulisan diatas tentang unsur ruh dalam diri manusia).

b.Telah diberinya Akal dan nafs pilihan,yang berbeda dengan hewan,yang dengan akal tersebut manusia diberi ilham untuk berpikir,berbudi daya dan ber nurani.Dengan akal pikir itu manusia mampu mempertahankan hidup dan mampu mengembangkan teknologi,mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan alam semesta.

2.BERDASAR NILAI-NILAI ISLAM :

*Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Allah,Tuhan Pencipta Alam Semesta. Walaupun telah berusaha memahami dirinya selama beribu-ribu tahun, namun gambaran yang pasti dan meyakinkan tak mampu mereka peroleh hanya dengan mengandalkan daya nalarnya yang subyektif. Oleh karena itu manusia memerlukan pengetahuan dari pihak lain yang dapat memandang dirinya secara lebih utuh.Allah Sang Pencipta Alam telah menurunkan Kitab Suci Alquran yang di antara ayat-ayat-Nya menggambarkan keadaan konkret tentang kejadian manusia.

Manusia Makluk Terbaik dan Termulia*
Allah Ta’ala menciptakan manusia itu melalui dua model proses,yakni :

a.Penciptaan langsung (penciptaan Adam) dengan prototype.
b.Penciptaan tidak langsung (proses reproduksi manusia).

-Dalam penciptaan Adam :

Allah Ta’ala langsung membentuknya dengan model / Protoype dari unsur-unsur tanah yang dibentuk dan dengan air, lalu ditiupkan ruh Allah secara langsung (ROH Al-Qudus),sehingga terciptalah Nabi Adam sebagai manusia pertama.
PROSES SEBAGAI BERIKUT :

1) Menggunakan “ Tiin”, yaitu tanah lempung:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنسَانِ مِن طِينٍ
(Tuhan) memulai penciptaan manusia dari tanah lempung. (QS.32.As-Sajadah:7)

Dalam ayat ini, Alquran menyebut kata badaa yang berarti memulai. Ini menunjukkan adanya awal suatu penciptaan dari tiin. Hal ini jelas bermakna tahap yang lain akan segera mengikuti.

2)Menggunakan “ Turaab”, yaitu tanah gemuk sebagaimana disebut dalam ayat:

قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ
ثُمَّ مِن نُّطْفَة ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلاً

“Kawanmu (yang mukmin) berkata kepadanya, sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada Tuhan Yang Menciptakan kamu dari tanah (turaab), kemudian dari setetes air mani lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS.18.Al-Kahfi:37)

3) .Menggunakan “Tiinul laazib”, yaitu tanah lempung yang pekat (tanah liat):

فَاسْتَفْتِهِمْ أَهُمْ أَشَدُّ خَلْقاً أَم مَّنْ خَلَقْنَا إِنَّا خَلَقْنَاهُم مِّن طِينٍ لَّازِبٍ

“Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): “Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?” Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari tanah liat (tiinul laazib). (QS.37.As-Saffaat: 11)

4).Diprototype kan dengan” Salsalun”, yaitu lempung yang dikatakan” Kalfakhkhar”, (seperti tembikar). Citra ayat ini menunjukkan bahwa manusia “dimodelkan”.

5) .Dan dengan, “ Salsalun min hamain masnuun”, (lempung dari Lumpur yang dicetak/diberi bentuk):

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk”. (Q.S. Al-Hijr, 15: 26)

6)Disarikan dengan,” Sulaalatin min tiin”, yaitu dari sari pati tanah.( Sulaalat berarti sesuatu yang disarikan dari sesuatu yang lain):

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَاماً فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْماً ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقاً آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ
أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah (sulaalatin min tiin). Kemudian Kami jadikan saripati air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik”. (QS.23. Al-Mukminun: 12-14)

7)Dicampur dengan Air sebagai unsur penting asal usul seluruh kehidupan:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاء بَشَراً فَجَعَلَهُ نَسَباً وَصِهْراً وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيراً

Dan Dia (Allah) pula yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia (Allah) jadikan manusia itu punya keturunan dan musaharah adalah Tuhanmu Mahakuasa. (QS.25.Al-Furqaan: 54)

8). Peniupan Ruh Al-Qudus,Al-Hayat-Nya:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُ سَاجِدِينَ

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Q.S. Al-Hijr, 15: 29)

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan) Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur”. (Q.S. As-Sajdah, 32: 9)

Demikian model penciptaan langsung nabi Adam yang difirmankan Allah dalam Alquran. Manusia menurut Islam berbeda sama sekali dengan makhluk-makhluk lain, manusia adalah makhluk yang paling terbaik dan sempurna dihadapan Allah. Manusia di samping mempunyai jasad, nyawa, nafsu naluri, dan insting, manusia dilengkapi dengan Ruh Al-Qudus,Al-Hayat-Nya.
Karena kelebihannya itulah manusia memperoleh predikat sebagai makhluk terbaik dan termulia, baik bentuk kejadiannya maupun kedudukannya di alam semesta ini.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (Q.S. At-Tin, 95: 4)

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka ke daratan dan lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (Q.S. Al-Isra, 17: 70)

-Penciptaan melalui proses reproduksi manusia :

PROSES SEBAGAI BERIKUT :
*Kandungan ayat-ayat Al-Quran telah membuka mata pakar dunia di bidang ilmu kedokteran dan embriologi. Mereka terpana akan kesuaian ilmu ilmiah modern yang telah dihasilkan dengan riset-riset mahal dengan wahyu Al-quran yang notabene telah ada sejak 1400 tahunan yang lalu. Hal ini telah membuktikan kebenaran wahyu Alquran dan agama Islam sebagai pedoman hidup manusia.

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ فِي أَيِّ صُورَةٍ مَّا شَاء رَكَّبَكَ

“Hai manusia apakah yang telah memperdaya kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuhmu) seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (Q.S. Al- Infithar, 82: 6-8)

Proses terjadinya manusia merupakan fenomena yang baru saja diketahui setelah diketemukannya alat-alat modern yang serba canggih diperbagai segi. Para pakar sains di bidang kedokteran terkejut tatkala mereka menemukan teori-teori proses terjadinya manusia di dalam Al-quran yang sangat sesuai dengan hasil yang mereka peroleh setelah melakukan penyelidikan berabad-abad lamanya hingga saat ini.
Ilmu tentang proses kejadian manusia dalam Al-Qur’an yang sangat ilmiah:

Proses Kejadian dalam Kandungan (belum ada)

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتاً فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ
ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Mengapa kamu kafir terhadap Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu.”(QS.2. Al-Baqarah: 28)

Al-Qur’an bilang bahwa kita tadinya “mati” alias belum ada.Lho,di manakah kita?Maka ilmu modern telah memberi definisi, bahwa pada waktu itu kita masih berupa unsur-unsur zat-zat anorganis dalam tanah,sedangkan unsur kehidupan (roh-red) berada dalam sumber kekuatan semesta (Allah-red.).
Berikut penjelasan ilmiahnya :

(Unsur-unsur zat asli yang terdapat di dalam tanah akan diserap, baik itu oleh hewan maupun tumbuhan, dan tak terkecuali akan sampai juga kepada manusia, termasuk ayah dan ibu kita. Dalam tubuh ayah, zat-zat tersebut akan terbentuk menjadi sperma, sedang pada ibu akan terwujud ovum (sel telur). Dari kedua benda (sperma dan ovum) inilah nanti akan terwujud sosok manusia yang menakjubkan di dalam rahim ibu).

خُلِقَ مِن مَّاء دَافِق
يَخْرُجُ مِن بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dan apa ia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara bagian seksuil daripada lelaki dan perempuan.”(Q.S. Ath Thariq, 86: 6-7)

أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِيٍّ يُمْنَى

“Bukankah ia dahulu berupa setetes mani yang ditumpahkan.”(Q.S. Al Qiyamah, 75: 37)

Mani atau sperma yang terbentuk di dalam tubuh setelah terjadinya persenyawaan antara zat-zat yang terbawa dari makanan dengan unsur-unsur lain di dalam tubuh inilah yang merupakan salah satu bahan terpenting bagi terwujudnya sosok manusia.

Sebelum lebih jauh tentang reproduksi manusia di dalam Alquran,maka perlu mengetahui dulu bagaimana proses reproduksi manusia menurut ilmu embriologi modern yang telah diperoleh .
Para ahli Embriologi begitu takjub dengan susunan ayat Al-Qur’an yang begitu sistematik mengenai soal-soal reproduksi manusia,yang dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a. Setetes cairan yang menyebabkan pembuahan (facondation).
b. Watak dari zat cair yang membuahi.
c. Menetapnya telur yang sudah dibuahi dalam rahim.
d. Perkembangan embrio di dalam rahim.
Setetes cairan yang menyebabkan pembuahan.
Alquran mengetengahkan soal ini sebelas kali dalam berbagai surah,silahkan perhatikan ayat-ayat ini;

خَلَقَ الإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ
“Dia telah menciptakan manusia dari nutfah, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.”(Q.S. An Nahl, 16: 4)

Kata nutfah dalam ayat ini berasal dari akar kata yang artinya “mengalir”. Kata ini dipakai untuk menunjukkan air yang ingin tetap dalam wadahnya, sehingga sesudah wadah itu dikosongkan. Jadi kata tersebut menunjukkan setetes kecil yang dalam hal ini berarti setetes air sperma (mani), karena dalam ayat lain diterangkan bahwa setetes itu adalah setetes sperma.

أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِيٍّ يُمْنَى

“Bukankah ia dahulu dari setetes mani (sperma) yang ditumpahkan.”(Q.S. Al Qiyamah, 75:37)

Dalam ayat lain setetes itu ditempatkan dalam tempat yang tetap atau kokoh yang dinamai rahim.

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ

“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (sperma) (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).” (Q.S. Al Mu’minun, 23:13)

Inilah ayat-ayat Quran yang menunjukkan ide tentang setitik cairan yang diperlukan untuk pembuahan, hal ini sesuai tepat dengan sains modern yang telah diketahui sekarang.
Watak dari zat cair yang membuahi,
Alquran menunjukkan cairan yang memungkinkan terjadinya pembuahan dengan watak-watak atau sifat yang perlu dicermati,

– Sperma (seperti yang baru dibicarakan)
– Cairan yang terpancar (Q.S. Ath Thariq, 86:6)
– Cairan yang hina (Q.S. Al Mursalaat, 77: 20)
– Cairan yang bercampur/amsyaj (Q.S. Al Insan, 76:2)
Watak cairan yang terakhir perlu digaris bawahi, karena mengandung suatu hal yang menakjubkan yang perlu kita ketahui dan mengerti.

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعاً بَصِيراً
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes nutfah yang bercampur.., (QS Al Insan, 76:2)

Banyak ahli tafsir seperti Hamidullah dan juga ahli-ahli tafsir kuno yang mereka itu belum memiliki ide sedikit pun tentang fisiologi pembuahan, mereka mengira bahwa kata “campuran” itu hanya menunjukkan bertemunya unsur lelaki dan wanita.
Tetapi ahli tafsir modern seperti penulis Muntakhab yang diterbitkan Majelis Tinggi soal-soal Islam di Kairo mengoreksi cara para ahli tafsir kuno dan menerangkan bahwa setetes sperma itu banyak mengandung unsur-unsur. Suatu keterangan yang sangat tepat, walaupun mereka tidak memberikan perinciannya. Apakah unsur-unsur sperma yang bermacam-macam itu? Cairan sperma mengandung unsur-unsur yang bermacam-macam yang berasal dari kelenjar-kelenjar sbb;

– Tetis, buah pelir yang mengeluarkan spermatozoa yaitu sel panjang berekor dan berenang dalam cairan serolife.
– Kantong-kantong benih (besicules seminutes). Organ ini merupakan tempat menyimpan spermatozoa, juga mengeluarkan cairan, tapi tak bersifat membuahi.
– Prostat, mengeluarkan cairan yang memberikan sifat krem serta bau khusus kepada sperma.
– Kelenjar Cooper/mery, mengeluarkan cairan yang lekat.
– Kelenjar letre, yang mengeluarkan semacam lendir.

Inilah unsur-unsur campuran yang dimaksud dalam Alquran.
Betapa menakjubkan, Alquran memberikan hal-hal yang harus diketahui dengan alat-alat modern pada saat ini, yang tidak mungkin diketahui orang-orang pada waktu Alquran diturunkan 15 abad silam. Ini membuktikan bahwa Tuhan yang menguasai jagat inilah yang menurunkan kitabNya kepada manusia sebagai petunjuk dan bukti akan kebenaran yang Mutlak.
Satu lagi para sarjana yang mencoba mempelajari Alquran dibuat kagum dan dengan tulus mereka menyatakan beriman Islam, yaitu bunyi suatu ayat dalam QS.32. As-Sajadah: 8;

ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِن سُلَالَةٍ مِّن مَّاء مَّهِينٍ

“Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.”

Yang dimaksud saripati di ayat ini adalah suatu bahan yang dikeluarkan atau keluar dari bahan yang lain dan merupakan bagian yang terbaik (terpilih) daripada bahan itu (sperma). lebih jelasnya adalah; yang menyebabkan terjadinya pembuahan (sehingga tercipta manusia) pada sel telur (ovum) pada pihak wanita, adalah satu bagian yang berupa sebuah sel panjang yang besarnya kurang lebih 1/10.000 mm. Satu dari beberapa juta sel yang serupa di dalam setetes sperma yang dihasilkan seorang lelaki.
Sejumlah yang sangat besar tetap di jalan dan tidak sampai ke trayek yang menuntun dari kelamin wanita sampai ke sel telur di dalam rongga rahim (uterus dan trompe).
Bagaimana kita tidak terpukau oleh persesuaian antara teks Alquran dengan ilmu pengetahuan ilmiah yang kita miliki sekarang ini (abad modern)!
Menetapnya telur yang sudah dibuahi dalam rahim
Telur yang telah dibuahi dalam “trompe” turun bersarang di dalam rongga rahim (cavum uteri). Inilah yang dinamakan “bersarangnya telur”. Quran menamakan uterus tempat telur dibuahkan itu rahim (kata jamaknya arham).

وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاء إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى

“Dan kami tetapkan dalam rahim apa yang kami hendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.” (Q.S. Al Hajj, 22: 5)

Menetapnya telur dalam rahim terjadi karena tumbuhnya jonjot (villi), yakni perpanjangan telur yang akan mengisap dari dinding rahim zat yang perlu bagi membesamya telur, seperti akar tumbuh-tumbuhan yang masuk dalam tanah. Pertumbuhan semacam ini mengokohkan telur di dalam rahim. Pengetahuan hal ini baru diperoleh manusia pada jaman modem saat ini.
Pelekatan ini disebutkan dalam Alquran 5 kali, salah satunya ada dalam :

خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ

“Yang menciptakan manusia dari sesuatu yang melekat.” Q.S. Al Alaq, 96: 2

“Sesuatu yang melekat” adalah terjemahan kata bahasa arab ‘alaq. Ini adalah arti yang pokok. Arti lainnya adalah gumpalan darah yang sering disebutkan dalam terjemahan Alquran. Ini adalah suatu kekeliruan yang harus kita koreksi. Manusia tidak pernah melewati tahap gumpalan darah. Ada lagi terjemahan ‘alaq yaitu lekatan (adherence) yang juga merupakan kata yang tidak tepat. Arti pokok yaitu “suatu yang melekat” sesuai sekali dengan temuan sains modern. Secara lebih jelasnya adalah sebagai berikut;

Setelah pembuahan antara sperma dengan ovum, kedua sel tersebut akan membelah dari 1,2,4,8,16 dan seterusnya secara cepat sekali. Enam atau tujuh hari setelah pembuahan sel yang banyak menyerupai gelembung kecambah ini menetap dan bersarang pada dinding dalam uterus, yang rupanya seperti bunga karang atau selapis karet busa. Kejadian yang sangat penting ini disebut “nidasi” atau implantasi, maksudnya penyarangan atau penanaman. Selama proses nidasi ini, beberapa pembuluh yang sangat halus dalam jaringan sel sang ibu dibuka. Sisa jaringan yang rusak dan tetes darah kecil yang keluar merupakan makanan untuk sel-sel yang sedang berkembang. Sel-sel ini mengisap makanan dengan cara sama seperti tumbuh-tumbuhan mengisap makanan dari tanah lembab.

Memang, “alaq atau sesuatu yang melekat ini akan dengan segera mengeluarkan semacam jaringan akar-akar yang halus sekali, yang disebut “villi”. Guna akar-akar ini selain untuk menerima zat makanan, juga supaya ‘alaq ini dapat mengikatkan diri dengan kokoh di dalam rahim. Di dalam dinding-dinding inilah ‘alaq akan berkembang mengalami metamorfbrse yang amat dasyat. Tak lama lagi ‘alaq ini makin lama makin berkembang dan besar. Dan berubah setiap jam menjadi apa yang jelas-jelas sebagai makhluk manusia yang mempunyai kepala, tubuh, tangan, kaki, jari-jari, mata, telingan dan hidung.
Ide tentang sesuatu yang melekat (‘alaq), disebutkan di beberapa ayat yang lainnya. Misalnya sebagai berikut;

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً

“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (sesuatu yang melekat).”(Q.S. Al Mu’minun 23:14)

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ

“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari ‘sesuatu yang melekat’. “(Q.S. Al Mu’min 40:67)

أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِيٍّ يُمْنَى
ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى

“Bukankah ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim). Kemudian mani itu menjadi ‘sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempumakannya.”(Q.S. al Qiyaamah 75: 37-38)

Persesuaian ini sungguh mempertebal iman Islam,kepada Allah dan kitab-Nya yang diturunkan kepada Muhammad SAW.
Perkembangan embrio dalam rahim.
Semua hal yang telah disebutkan oleh Alquran di atas telah diketahui oleh manusia saat ini, dan tidak mengandung sedikitpun hal-hal yang dapat dikritik oleh sains. Sekarang kita mulai membicarakan mengenai tahap-tahap perkembangan embrio di dalam rahim.
Setelah kata “sesuatu yang melekat” (‘alaq) yang telah kita lihat kebenarannya, Alquran menyatakan bahwa embrio melalui tahap; secuil daging (seperti daging yang dikunyah), kemudian nampaklah tulang yang diselubungi oleh daging (diterangkan dengan kata lain berarti daging segar).

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَاماً فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْماً ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقاً آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ
أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu Kami jadikan sesuatu yang melekat itu secuil daging dan secuil daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”(Q.S. Al Mu’minun 23:14)

Daging (seperti yang dikunyah) adalah terjemahan kata bahasa arab “mudlghah“, daging (seperti daging segar) adalah terjemahan kata “lahm“. Perbedaannya perlu digarisbawahi, embrio pada permulaannya merupakan benda yang nampak kepada mata biasa, dalam tahap tertentu daripada perkembangan sebagai daging yang dikunyah. Sistem tulang berkembang pada benda tersebut di dalamnya, yang dinamakan “mesenbyme“. Tulang yang sudah terbentuk dibungkus dengan otot-otot, inilah yang dimaksud kata “lahm“
Dalam perkembangan embrio, ada beberapa bagian yang muncul yang tidak seimbang proporsinya dengan yang akan menjadi manusia nanti, sedang bagian-bagian lain tetap seimbang. Bukankah arti bahasa arab “mukhallaq” adalah dibentuk dengan proporsi seimbang?, yang dipakai dalam ayat 5 surat Al Maaidah disebutkan untuk menunjukkan fenomena ini?
Alquran juga menyebutkan munculnya panca indera dan hati (perasaan, afidah)

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ
وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ

“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, pengelihatan dan hati.” (Q.S. As-Sajadah 32: 9)

Terbentuknya seks juga disebutkan dalam Quran surah Faathir ayat 11 dan surah Al Qiyamah 39 juga surah An Najm 45-46 sebagai berikut;

وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنثَى
مِن نُّطْفَةٍ إِذَا تُمْنَى

“Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari mani yang dipancarkan.”(Q.S. An Najm 53: 45-46)

Maka kesimpulannya :
-Bahwa manusia dapat digolongkan sebagai makhluk mulia,jika manusia tersebut mengenali asal usul dirinya darimana berasal dan menyadari hakekat untuk apa manusia itu dilahirkan/diciptakan.

a.Menyadari bahwa manusia diciptakan hanya untuk mengabdi,menyembah kepada Tuhannya
b.Maka pertamakali haruslah beriman
c.Kemudian ber-Islam,dengan mengaplikasikan nilai-nilai Islam,manusia akan diberi petunjuk jalan pintas untuk menemukan dan mencapai derajat kesempurnaa/kemuliaan dirnya.
d.Mengaplikasikan nilai-nilai Muhammad sebagai utusan Tuhan yang terakhir yang laku perbuatannya merupakan cermin yang baik untuk pedoman hidup dan mengabdi pada Tuhan.Nilai-nilai Muhammad SAW adalah rahmatan lil ‘alamin,yakni berbuat manfaat pada diri dan umat serta sekelilingnya.

e.Ketika manusia itu telah mampu memahami hakekat keberadaan dirinya kemudian menenggelami seluruh aspek keber-imanannya,keber-Islamannya dan berlaku perbuatan mensuri tauladani nilai-nilai Muhammad dalam setiap nafas kehidupannya di dunia,maka manusia tersebut akan mencapai posisi derajat / maqam yang tinggi hingga mencapai derajat AL-MUQARRABIN (Yang didekatkan pada Allah Ta’ala),yang posisi ini dapat melebihi derajat Malaikat.

JIKA KITA TELAH MEMAHAMI HAKEKAT BAHWA MANUSIA ITU MAKHLUK YANG PALING MULIA,MAKA KITA AKAN MEMAHAMI PULA MENGAPA TUHAN MENYEBUT MANUSIA ITU DENGAN BERBAGAI ISTILAH,SBB :

tulang rusuk 2
ANALOGY SEBUTAN-SEBUTAN LAIN SPECIES MANUSIA :

1. Al-INSAN : Di tinjau dari habitat/group
-Disebut INSAN (QS.76.Al-Insan:1-2)
-Sebagai aspek dari sisi kecerdasan yakni makhluk terbaik selain hewan,Jin,Malaikat,yang diberi akal sehingga mampu menyerap pengetahuan :

“Dia menciptakan manusia…..Mengajarnya pandai berbicara”. (QS.55.Ar-Rahmaan: 3-4).
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”, (QS.96.Al ‘Alaq:1-4)
-Ditinjau dari Existensi (QS.114.An-Nas:1-6)

2.Al-BASYAR : Ditinjau dari Individu
-Disebut BASYAR (QS.15.Al-Hijr:28, Al-Isra’:93, Maria:26)
-Sebagai aspek biologis manusia yang mencerminkan sifat-sifat fisik-kimia dan biologisnya (QS.23.Al-Mukminun: 33).

3. BANI ADAM :
Ditinjau dari aspek historis manusia yang menunjukkan darimana asal usulnya :
-Disebut BANI ADAM (QS.17.Al-Isra’: 70) , (QS.7.Al-A’raaf:31).
-Nenek Moyang Manusia,bukan dari kera (QS.7. Al- A’raaf:172) , (QS.39.Az-Zumar:06)

4.AN-NAAS :
– Ditinjau dari aspek sosiologisnya yang menunjukkan sifat manusia yang suka berkelompok sesama komunitasnya (QS.2.Al-Baqarah: 21).

5.AL-ABDUN :
-Sebagai aspek dari kedudukannya yang menunjukkan bahwa manusia sebagai hamba Tuhan yang harus tunduk dan patuh kepadanya-Nya (QS.34.Saba’:9).

KEFITRAHAN MANUSIA

Potensi Hanif , Akal, Qalb dan Nafsy

*Kata fithrah (fitrah) merupakan derivasi dari kata fatara, artinya ciptaan, suci, dan seimbang. Louis Ma’ruf dalam kamus Al-Munjid (1980:120) menyebutkan bahwa fitrah adalah sifat yang ada pada setiap yang ada pada awal penciptaannya, sifat alami manusia,pada agama,pada sunnah-Nya.

Menurut imam Al-Maraghi (1974: 200) fitrah adalah kondisi di mana Allah menciptakan manusia yang menghadapkan dirinya kepada kebenaran dan kesiapan untuk menggunakan pikirannya.
Dengan demikian arti fitrah dari segi bahasa dapat diartikan sebagai kondisi awal suatu ciptaan atau kondisi awal manusia yang memiliki potensi untuk mengetahui dan cenderung kepada kebenaran (hanif). Fitrah dalam arti hanif ini sejalan dengan isyarat Alquran:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Ar-Ruum, 30: 30)

Fitrah dalam arti penciptaan tidak hanya dikaitkan dengan arti penciptaan fisik, melainkan juga dalam arti rohaniah, yaitu sifat-sifat dasar manusia yang baik. Karena itu fitrah disebutkan dalam konotasi nilai. Lahirnya fitrah sebagai nilai dasar kebaikan manusia itu dapat dirujukkan kepada ayat:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Q.S. Al-A’raaf, 7: 172)

Ayat di atas merupakan penjelasan dari fitrah yang berarti hanif (kecenderungan kepada kebaikan) yang dimiliki manusia karena terjadinya proses persaksian sebelum digelar ke muka bumi. Persaksian ini merupakan proses fitrah manusia yang selalu memiliki kebutuhan terhadap agama (institusi yang menjelaskan tentang Tuhan), karena itu dalam pandangan ini manusia dianggap sebagai makhluk religius. Ayat di atas juga menjadi dasar bahwa manusia memiliki potensi baik sejak awal kelahirannya. la bukan makhluk amoral, tetapi memiliki potensi moral. Juga bukan makhluk yang kosong seperti kertas putih sebagaimana yang dianut para pengikut teori tabula rasa.
Fitrah dalam arti potensi, yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat dilahirkan ke dunia. Potensi yang dimiliki manusia tersebut dapat dikelompokkan kepada dua hal, yaitu potensi fisik dan potensi rohaniah.
Potensi fisik manusia telah dijelaskan pada bagian yang lalu, sedangkan potensi rohaniah adalah akal, qalb dan nafsu. Akal dalam pengertian bahasa Indonesia berarti pikiran, atau rasio. Harun Nasution (1986) menyebut akal dalam arti asalnya (bahasa Arab), yaitu menahan, dan orang ‘aqil di zaman jahiliah yang dikenal dengan darah panasnya adalah orang yang dapat menahan amarahnya dan oleh karenanya dapat mengambil sikap dan tindakan yang berisi kebijaksanaan dalam mengatasi masalah yang dihadapinya. Senada dengan itu akal dalam Alquran diartikan dengan kebijaksanaan (wisdom), intelegensia (intelligent) dan pengertian (understanding). Dengan demikian di dalam Alquran akal diletakkan bukan hanya pada ranah rasio tetapi juga rasa, bahkan lebih jauh dari itu jika akal diartikan dengan hilunah atau bijaksana.

Al-qalb berasal dari kata qalaba yang berarti berubah, berpindah atau berbalik dan menurut Ibn Sayyidah (Ibn Manzur: 179) berarti hati. Musa Asyari (1992) menyebutkan arti al-qalb dengan dua pengertian, yang pertama pengertian kasar atau fisik, yaitu segumpal daging yang berbentuk bulat panjang, terletak di dada sebelah kiri, yang sering disebut jantung. Sedangkan arti yang kedua adalah pengertian yang halus yang bersifat ketuhanan dan rohaniah yaitu hakikat manusia yang dapat menangkap segala pengertian, berpengetahuan dan arif.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa akal digunakan manusia dalam rangka memikirkan alam sedangkan mengingat Tuhan adalah kegiatan yang berpusat pada qalbu. Keduanya merupakan kesatuan daya rohani untuk dapat memahami kebenaran sehingga manusia dapat memasuki suatu kesadaran tertinggi yang bersatu dengan kebenaran Ilahi.
Adapun nafsu (bahasa Arab: al-hawa, dalam bahasa Indonesia sering disehat hawa nafsu) adalah suatu kekuatan yang mendorong manusia untuk mencapai keinginannya. Dorongan-dorongan ini sering disebut dengan dorongan primitif, karena sifatnya yang bebas tanpa mengenal baik dan buruk. Oleh karena itu nafsu sering disebut sebagai dorongan kehendak bebas. Dengan nafsu manusia dapat bergerak dinamis dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Kecenderungan nafsu yang bebas tersebut jika tidak terkendali dapat menyebabkan manusia memasuki kondisi yang membahayakan dirinya. Untuk mengendalikan nafsu manusia menggunakan akalnya sehingga dorongan-dorongan tersebut dapat menjadi kekuatan positif yang menggerakkan manusia ke arah tujuan yang jelas dan baik. Agar manusia dapat bergerak ke arah yang jelas, maka agama berperan untuk menunjukkan jalan yang akan harus ditempuhnya. Nafsu yang terkendali oleh akal dan berada padajalur yang ditunjukkan agama inilah yang disebut an-nafs al-mutmainnah yang diungkapkan Alquran :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu.” (Q.S. Al-Fajr, 89:27-30)

Dengan demikian manusia ideal adalah manusia yang mampu menjaga fitrah (hanif)-nya dan mampu mengelola dan memadukan potensi akal, qalbu, dan nafsunya secara harmonis.

HAK PREROGATIF MANUSIA

Mempunyai Hak Pilih dan Kebebasan
Pada setiap ciptaan-Nya, Allah telah menentukan qadamya. Qadar sendiri berarti “memberikan ukuran/keterhinggaan/ketetapan). Arti ini dapat diketahui dari ayat-ayat berikut ini:

الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَداً وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيراً

“…yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Q.S. al-Furqan, 25: 2)

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Yasin, 36: 38)

وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَّيْتاً كَذَلِكَ تُخْرَجُونَ

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati,…” [Q.S. az-Zukhruf, 43: 11)

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Q.S. al-Qamar, 54: 49)

قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً

“… Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. ath-Thalaq, 65: 3)

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ هُوَ خَيْراً وَأَعْظَمَ أَجْرا

“… Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu, memperoleh (balasannya) di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya,…” [Q.S. al-Muzamil 73: 20].

وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ عِندَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلاَّ بِقَدَرٍ مَّعْلُومٍ

“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.” (Q.S. al-Hijr 15: 21)

Ide yang terkandung dalam doktrin qadar ini adalah bahwa Allah saja yang tak terhingga secara mutlak, sedang segala sesuatu selain Allah sebagai ciptaanNya memiliki “ukuran/keterhinggaan” atau memilih kapasitas yang terbatas. Menurut al-Qur’an, setiap Allah menciptakan sesuatu hal (khalq), Allah memberikan sifat-sitat, potensi-potensi dan hukum-hukum tingkah laku (amr, “perintah” atau hidayah “petunjuk”) tertentu kepadanya, sehingga ia menuruti sebuah pola tertentu dan menjadi sebuah laktor didalam “kosmos”.

Oleh karena itu segala sesuatu di dalam alam semesta ini bertingkah laku sesuai dengan hukum-hukum yang telah ditentukan padanya secara otomatis mentaati “perintah” Allah-maka keseluruhan alam semesta ini adalah muslim atau tunduk kepada kehendak Allah.
Manusia adalah satu-satunya kekecualian didalam hukum universal ini karena diantara scmuanya, manusialah satu-satunya ciptaan Allah yang diberi kebebasan untuk mentaati atau mengingkari perintah Allah.
Sebagaimana ciptaan yang lain, pada manusia juga telah ditetapkan sifat-sifat, potensi-potensi dan hukum-hukum tingkah laku, yaitu bahwa manusia diciptakan telah dilengkapi dengan perbekalan-perbekalan yang berupa kodrat, pembawaan jiwa (watak) dan perlengkapan-perlengkapan lainnya. Semua ini dapat diarahkan pemakaiannya kearah yang baik maupun ke arah yang buruk. Jadi tidak semata-mata untuk kebaikan atau untuk keburukan saja. Walaupun sebagian orang lebih kuat iradah kebaikannya dan sebagian lain lebih kuat iradah kejahatannya. Semua itu hanya Allah yang tahu ukurannya secara pasti, sebagaimana firman Allah:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا# فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا# قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا# وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا#

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan. Sesungguh-nya beruntunglah orang yang mensucikanjiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S. asy-Syams, 91: 7-10)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah menjadikan manusia dengan sempurna lagi berimbangan dan mengisinya dengan kodrat-kodrat (sarana) yang dapat menerima kebaikan atau kejahatan.
Di samping itu Allah juga telah membekali manusia dengan akal yang dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan juga Allah memberikan kepada manusia tenaga dan kemampuan untuk membenarkan yang haq dan menyalahkan yang bathil, sanggup mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang buruk.
Tidak hanya itu saja, Allah masih mengutus para rasul untuk mewujudkan jalan-jalan kebenaran dan memberikan bimbingan. Allah juga telah merumuskan dalil-dalil (pokok-pokok pedoman) tentang kebenaran dengan diturunkan kitab suci (al-Qur’an) kepada manusia.

Dengan demikian manusia dipandang mukhtar dalam segala perbuatannya, dengan ikhtiar yang hakiki, bukan majazi, karena ia menyukai perbuatan itu dan mempunyai pengaruh dalam meninggalkan perbuatan.
Melihat kelengkapan perbekalan yang diberikan Allah kepada manusia, maka manusia harus mengerahkan kodrat dan kemampuannya untuk memilih jalan kebenaran atau jalan sesat. Sebagaimana firman Allah:

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (Q.S. al-Balad, 90: 10)

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِراً وَإِمَّا كَفُوراً

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (Q.S. al-Insan, 76: 3)

Dengan demikian segala hasil dan akibat dari perbuatan manusia adalah karena ulah manusia sendiri, sebagaimana firman Allah:

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (Q.S. al-Muddatstsir, 74: 38)

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاء فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

“Barang siapa mengerjakan amal sholeh maka (pahalanya) untuk dirinva sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba(Nya).” (Q.S. Fushshilat, 41: 46)

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. ar-Ra’du, 13: 11)

Makna senada dapat dilihat pada beberapa ayat berikut ini:

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَن شَاء فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاء فَلْيَكْفُرْ..

“Dan katakanlah, Kebenaran itu datangnya dan Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin, (kafir) biarlah ia kafir,…” (Q.S. al-Kahfi, 18: 29)

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesangggupannya. la mendapat pahala (dari kebajikan) yang ia usahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (Q.S. al-Baqarah, 2: 286)

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. as-Sajadah, 32: 17)

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Q.S. asy-Syuura, 42: 30)

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merusakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).” (Q.S. ar-Rum, 30: 41)

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (Q.S. an-Najm, 53: 39)

Keterangan di atas menunjukkan bahwa Allah memberikan kebebasnya kepada manusia untuk menggunakan potensi-potensi yang telah diberikan Allah kepada manusia. Dengan demikian perbuatan manusia adalah hasil dari kehendak dan kemampuan manusia sendiri, yaitu kehendak dan kemampuan yang telah diberikan Allah kepada manusia. ,
Dengan potensi dan kemampuan diatas, manusia dibebani taklif, yaitu untuk berbuat baik dan meninggalkan yang buruk; menunaikan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan.
Sebagai konsekwensinya, manusia diminta untuk memperianggungjawabkan atas segala penggunaan potensi-potensi dan kemampuan yang telah diberikan Allah padanya untuk melakukan kebaikan atau keburukan. Jika ia menggunakan potensi-potensi dan kemampuan itu untuk kebaikan, maka Allah akan membalas dengan kebaikan danjika ia menggunakannya untuk melakukan keburukan, maka Allah akan membalas dengan keburukan pula. Demikian itulah keadilan Allah kepada hamba Nya.
Akhimya dapat diketahui bahwa dengan dibekali potensi-potensi, kemampuan dan akal; diberi petunjuk tentang kebaikan dan kejahatan (dengan diutusnya rasul dan diturunkannya kitab suci); dibebani kewajiban dan dimintai tanggung-jawab, maka manusia diberi kebebasan berkehendak/ikhtiar untuk menentukan apa yang dikerjakan sebatas kemampuan yang telah diberikan oleh Allah. Dengan demi-ldan manusia bukanlah makhluk yang terpaksa.
Namun demikian kehendak dan kemampuan manusia bukanlah kehendak dan kemampuan yang bebas tanpa batas. Melainkan semua itu dibatasi oleh sunnatullah, yaitu ketetapan Allah yang telah diberikan Allah kepada makhluk Nya.

Peran Ganda Manusia:

Sebagai Hamba dan Khalifah

Allah menciptakan manusia tidak sekadar untuk permainan, tetapi untuk melaksanakan tugas yang berat (Q.S. al-Mu’minun, 23: 115)

Menunaikan amanah yang manusia memang telah bersedia untuk menerimanya (Q.S. al-Ahzab, 33: 72),

Yaitu melaksanakan fungsinya sebagai khalifah dimuka bumi dan misinya untuk menciptakan kemakmuran di muka bumi. Fungsi sebagi khalifah ditunjukkan oleh ayat:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ
إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. al-Baqarah, 2: 30)

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلاَئِفَ الأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa (khalifah) di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sehagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksanya dan sesungguhnya Dia M aha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. al-An’am, 6: 165)

Misi manusia adalah membuat kemakmuran di muka bumi dengan jalan menegakkan sebuah tata sosial yang bermoral untuk terwujudnya masyarakat yang beradab, adil dan makmur untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Hal ini bisa ditelusuri dalam firman Allah:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. al-Anbiya’, 21: 107)

Di samping kewajiban untuk menunaikan amanah sebagai khalifah, maka kewajiban yang lain yang langsung kepada Allah adalah “Ibadah”. Allah bahkan telah menegaskan bahwa manusia diciptakan memang untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana firman Allah sebagai berikut:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah KU.” (Q.S. adz-Dzariyat, 51: 56)

Oleh karena itu manusia hams mengabdikan diri sepenuhnya untuk menghambakan diri semata-mata karena Allah.
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. al-An’am, 6: 162)

Maka demikianlah yang disebut bahwa seluruh aktivitas manusia sesungguhnya mempunyai nilai ibadah apabila dilakukan dalam rangka penunaian amanah sebagai khalifah untuk menuju tercapainya nilai-nilai Islam yang rahmatan lil’alamin dan mengorientasikan segala laku perbuatannya dipersembahkan hanya kepada Allah Ta’ala saja.

Semoga bermanfaat,

Salam ilmu pengetahuan

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Jakarta,26 Juli 2013
CopyRights@2013

Sumber :
-Risalatu Insan karya K.H.M.Syamsuddin –Kranggan-Jateng.
*-https://wawankardiyanto.wordpress.com/2009/10/07/manusia-dan-alam-semesta-2/#comment-1702
http://islamquest.net/id/archive/question/fa14340
http://pridityo.blogspot.com/2010/08/roh-ruh-dan-al-ruh-dalam-al-quran.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Roh_%28Kristen%29
http://kesehatan707.blogspot.com/2012/05/apa-itu-dna.html
-http://www.arrahmah.com/news/2013/02/17/subhanallah-ayat-suci-dalam-kromosom-manusia.html
-Abah Sang Pencerah –Kota Tegal
-Al-Qur’an terjemah DEPAG RI.

**ANASIR-ANASIR MANUSIA YANG DISEMATKAN SAAT DICIPTAKAN TUHAN* *

NAFS
MENGENAL HAKEKAT NAFS PADA DIRI MANUSIA DAN UNSURNYA :

MENGAPA MANUSIA SUKA BERTUMPAH DARAH DAN SALING MENGHANCURKAN :

Penyebabnya karena manusia :”TIDAK MENGENAL ASAL USUL DIRINYA SENDIRI !”

Sehingga larut dan terseret dlm gelombang buih-buih “3 Api Petaka Iblis”

Kenali unsur diri Manusia yang  pada penciptaan manusia telah disematkan 2 (dua) Nafs/Sifat utama :

I. Unsur Nafs Kiri (Cenderung Negatif) / Nafs Fujurah:

1.An-Nafs Al-Hayawaniyyah.

2.An-Nafs Al-Musawwillah

3.An-Nafs Al-Ammarah

4. Nafsu Al-Lawwamah (Nafs ganda yang dapat menghantar ke negatife dan positif)

5. Nafsu Supiyah (Nafs ganda yang dapat menghantar ke negatife dan positif)

II. Unsur Nafs Kanan (Nafsyu positive / At-Taqwa :

1.An-Nafs An-Nafsyaniyyah

2.An-Nafs Al-Mulhammah

3.An-Nafs Al-Muthmainnah

Dari dua kelompok unsur nafs yg telah disematkan Tuhan pada diri manusia itu,maka ada nafs dasar/bawaan yakni sifat dasar “Adam Ma’rifat” /Sifat unsur kesempurnaan-Nya.

– Yakni An-Nafs Al-Wahidah. (satu penyaksian dg Tuhan)

I. Pembahasan Unsur Nafs Kiri (Cenderung Negatif) / Nafs Fujurah:

I.Karena hakekat jasad manusiawi yg terbentuk dari “Thin”/lempung pekat (At Tin Al-Lazib),dasar inti saripati lempung (Sulalah) dan tanah gemuk Thurab,

Dari unsur/elemen inilah manusia memliki bakat memancarkan “sifat2 Rendah” An-Nafs Al-Hayawaniyyah.

Dari sifat ini muncul kecenderungan pada “Kebendaan”,kegelapan materialistik(Zulmun),

Sifat2 naluri kehewanan (Bahimiyyah),Kesyahwatan,Kufur,Bakhil,Tamak,Zalim,Cinta dunia,

-Semua ini diaplikasikan dlm bntuk “Ke-Aku-an”/EGO..(Nih Aku !,siapa yg brani sama aku.!..nih aku kaya.!..yg lain …keciiiil..!!!)

Maka,jika “Aql” manusia dominan mengumbar/dikuasai “Nafs Al-Hayawaniyyah” ini,akibatnya sungguh lebih merusak dan lebih membinasakan daripada nafsyu hewan aslinya.!

Pada manusia yg tidak berusaha mengendalikan Nafs2 ini,akan ditandai kecenderungan:

1.Ingkar terhadap Nikmat2 Tuhannya.(QS.Ibrahim:34)

2.Mendewakan materi/Thaghut.(An-Nisa:60)

3.Jika mendapat musibah,capat frustasi.(Hud:9)

4.Mudah mendustakan ayat2-Nya.(Al-Maidah:86)

Maka,jika terus dilakukan membabi buta dan tidak bertobat,manusia ini akan jatuh derajatnya pada tingkat paling rendah,yakni golongan”Asfala Safilin”.(At-Tin:5),

Jika terus dalam kezaliman dan kekufuran hingga akan menghantarkannya ke dalam jurang di Puri Nestapa Jahanam Raya.(An-Nisa:168-169)

II. Unsur lain,formula manusia terbentuk dari bahan dasar lumpur (Shalshal),cairan pekat (Nuthfah Many) dg air (Ma’),yg memiliki bakat memancarkan sifat “An-Nafs Al-Musawwillah” dg sifat Jahiliyyah yg dapat membangkitkan insting :

– Menyesatkan/menipu/Keliaran syahwat/Cinta harta benda duniawi.(Ali Imran:14)

– Kesyahwatan menyimpang,Homosex,Lesbianism.(An-Naml:54-55)

– Bersifat kejam (Yusuf:89 , Asy-Syu’araa:130)

– Tidak peka trhdp derita org miskin (Al-Baqarah:273)

– Cenderung hanya mengandalkan akal pikir lahiriyah saja,mengingkari hal2 yg Ghaib (Hud:29 , Saba:3)

Pada tingkat ini,Ke-Aku-an/ EGO manusianya lebih tinggi dari tingkatan pertama diatas.

karena jika diumbar,maka akan menghantar pada nafsyu hewani kebuasan (Syuba’iyyah),yakni mengumbar nafsyu perut,keliaran hewani,maka akan membawa pada kehancuran/kebinasaan lebh dahsyat lagi.

Yakni:

-Suka berdusta,Bersumpah palsu,menghalangi org lain menempuh jalan kebenaran,berpaling dari ayat2 Tuhan,meremehkan kekuasaan Tuhan.(Al-Munafikun:1-5 , At-Taubath:67)

-Menyombongkan diri,bermegah2an(Al-Ahqaf:20)

-Suka makan yg haram , Percaya dan suka ramalan dukun.(Al-Maidah:3)

III. Unsur/elemen formula manusia,lainnya adalah disematkan-Nya,An-Nafs Al-Ammarah (Nafsyu api semangat menyala2),

yg jika tidak dikendalikan maka cenderung mengarah pada nafsyu kejahatan :

-Takabur,Ujub,Riya’,Kibr,Dengki,dendam,Ghibah,Hasad,Hasut,

Namun sekaligus dapat diarahkan pada Sifat2 baik manusia yg dipengaruhi oleh sifat murni Api-Nya:

II. Pembahasan Unsur Nafs Kanan (Nafsyu positive / At-Taqwa :

1.Sifat2 murni-Nya yakni An-Nafs An-Nafsyaniyyah,yakni Wara’ , Khauf , Raja’ , Istiqomah , Ghirrah

Dengan adanya sifat ini,maka pengendalian diri sangat ditekankan,karena jika diumbar nafs negatifnya ini akan gampang terpengaruh/terseret bisikan syetan,

Sekaligus jika dicondongkan ke arah positife maka akan dapat mengantar pada jalan Rahmat Ilahi,teguh dlm jalan tauhid

IV. Kemudian manusia juga disematkan anasir asap,An-Nafs Al-Lawammah,yakni nafsyu2 yg “mencela dan Menyesali diri” (Al-Qiyammah:2)

-Jika tidak dikendalikan maka cenderung akan mengikuti nafsyu hewani (Bahimiyyah),Kebuasan (Suba’iyyah),Setani (Syataniyyah)

yakni sifat2 Rakus,Kufur,iri,dengki,fasik.

-Namun sekaligus jika mampu mengendalikan maka akan menghantar kita pada

rasa sesal,taubath,Tawadlu’,Dza’uq dan Khauf,yg pada giliranya akan menuju pada pintu rahmat Ilahi.

melalui pintu2 Muhasabah,Kaba’ir,Mujahaddah dan Takhalliy.

V. Berikut anasir2 penciptaan manusia dari sisi/unsur positife :

1.Disematkan-Nya Anasir angin “Al-Khafi”,manifestasi dr An-Nafs Al-Mulhammah.(Asy-Syam:7-8)

Dari anasir ini memancarkan sifat2 Ketauhidan,yg membawa manusia pada keyakinan akan kebenaran Ilahi,yg pada giliranya akan menghantar manusia menjadi manusia “Insan Kamil/Manusia Paripurna”

2.Disematkan-Nya Anasir Cahaya “Al-Akfa”,manifestasi dr An-Nafs Al-Muthmainnah.(Al-Fajr:27)

Dr anasir ini memancarkan sifat2 Syukur,Qona’ah,Dza’uq,Mahabbah,Zuhud,Sabar,Ridho,Ikhlas,Ingin mati karena rindu Tuhanya,yg membawa manusia pada keyakinan akan kebenaran perbendaharaan ilmu Al-Yaqin Ilahi,yg pada giliranya akan menghantar manusia pada wahana menuju “Hu”/Dia,yakni citra syorgawi yg merupakan qodrat harapan manusia itu sendiri.

Maka,jika kita sebagai manusia mampu mempertahankan karunia-Nya yg telah memberikan unsur ini pada kita,maka kita akan mencapai pada tingakatan “KEMENANGAN BESAR”(Yunus : 64)

Ini adalah tingkat “Wali Rasa”dimana kita dapat menikmati kenikmatan syorgawi disetiap rasa,kehidupan,makanan-minuman,hawa,pakaian maupun kesyahwatan,tanpa rasa takut,khawatir dalam kehidupannya.

III. Pembahasan Dari Unsur Sifat Dasar Adam Ma’rifat/Sifat unsur kesempurnaan-Nya :

VI. Dari semua unsur penciptaan atas manusia oleh Alloh SWT,maka ada satu unsur inti paripurna,yakni anasir “Ana” yg merupakan wujud dari jiwa pertama Adam,manifestasi dari An-Nafs Al-Wahidah.(Al-A’raf:189),

yakni sumber asal usul kejadian manusia yg tercipta dari “Kedua belah tangan ( kekuasaan)” Alloh SWT.(As-Shad:75),

Yakni yg merupakan pancaran hakiki dari sifat Al-Jalal (Keagungan) dan Al-Jamal-Nya.(Keindahan-Nya).

(Note:utk sifat Al-Jalal dan Al-Jamal ini masih terdapat pengejawantahan lagi yg sangat luas uraiannya dan penuh rahasia dahsyat-Nya)

Maka,oleh karena pada penciptaan manusia awalnya ini telah terpancari anasir Al-Jalal dan Al-Jamal-Nya yg Agung dan Suci yg memiliki unsur Kesempurnaan-Nya (Al-Kamal),karena lantaran inilah maka itu sebabnya dahulu mengapa para Malaikat diperintahkan oleh Alloh SWT,Tuhan Seluruh Alam,untuk sujud pada Adam.( As-Shad:72)

Dari anasir An-Nafs Al-Wahidah inilah dua citra nafsyu murni manusia dapat menyatu (satu penyaksian,bukan manunggaling kawula Gusti secara fisik) dg Sang Ilahi Yang Maha Tinggi,inilah makna dari nafs Al-Mardiyyah dan nafs Ar-Radiyyah.(Menyatunya (satu penyaksian) antara insan manusia dg Sang Penciptanya)/ Adam Ma’rifat.

(Note: Ini jika kita sebagai manusia yg telah di anugerahi unsur Kesempurnaan-Nya,mampu menguasai nafsyu2 tersebut diatas.jika tidak maka kita sebagai manusia masuk ke dalam golongan kiri,yg akan berakhir di lembah azab-Nya )

Oleh karena itu,maka marilah kita senantiasa berusaha lari menuju menjadi INSAN AL-KAMIL.

UNTUK KU,KAU,KALIAN DAN SEMUA MANUSIA,MARI BERLOMBA-LOMBA..!!!

Salam Cahaya-Nya…

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Teluk Sunda Kelapa,16 Desember 2011

** MENGAPA RASUL TERAKHIR, Muhammad SAW DITURUNKAN DI TANAH ARAB ? **

** MENGAPA RASUL TERAKHIR, Muhammad SAW DITURUNKAN DI TANAH ARAB ? **

Jazirah MezopotamiaTag:

-MENGAPA HARUS ADA RASUL TERAKHIR

-PERBEDAAN NABI,RASUL DAN SANG PENCERAH (AN-NADHIR)

-PENJABARAN AHLI SUNAH WAL JAMA’AH

-DARI ISLAM LAHIR ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

-DARI AL-QUR’AN LAHIR ILMU NAHWU SHARAF,TAJWID,FIQIH,HADITS

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

JEJAK PARA RASUL

Jika dibenak kita menyeruak tanda Tanya besar :

“MENGAPA PARA NABI DAN RASUL SEBAGIAN BESAR DITURUNKAN DI JAZIRAH MEZOPOTAMIA…? (jazirah sepanjang sungai Nil -Timur Tengah / Arab hingga laut Byzantium dan lembah Kaukasus).

Jejak Para Rasul

Maka hal demikian merupakan sebuah pertanyaan yang sepintas tak mudah untuk dicari jawabannya.Namun berbekal semangat religius dan sebuah keyakinan bahwa tak ada sesuatu hamparan tanda-tanda kebesaran-Nya dialam semesta ini yang tak bisa dijelaskan.Kemudian dengan niat Lilahi Ta’ala dan terus berusaha menggalinya dari sumber-sumber para ulama hanif, insyaAlloh Tuhan kan memberikan hidayah dan petunjuknya. Maka hal pertama yang dapat memberi penjelasan adalah bahwa  sejarah telah mencatat bahwa peradaban peribadatan manusia (perintah melaksanakan ritual sesembahan kepada Tuhan Yang Esa),dan termasuk tempat / altar peribadatan pertama kali baru ada diwilayah Bakka (nama purba negeri Mekah).

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”. (QS.Ali ‘Imran:96)

Yakni ketika Nabi Adam “lengser keprabon” dari singgasananya di Syorga dan diturunkan ke planet bumi bersama Ibunda Dewi Hawa.
Bapak kita Adam,diturunkan terpisah dengan Ibunda Dewi Hawa, jika Adam di turunkan di wilayah Himalaya-India, (sebagian pendapat dari para alim, Nabi Adam diturunkan di Nuswantarah, (nama kuno Indonesia),yang kemudian berkelana hingga ke daratan India, Himalaya, hingga pada kemudian menurunkan Nabi Tsis, Nuh yang diperintahkan kembali berdakwah ke Nuswantarah / Indonesia dan menurunkan nenek moyang bangsa Indonesia serta pada era Nuh menurunkan bangsa-bangsa didunia). Maka Ibunda Dewi Hawa diturunkan terpisah di Babylonia (nama kuno negeri Irak), namun mereka dipertemukan di Jabbal Rahmah – Padang Arafah setelah ratusan tahun benang benang asmaranya terpisahkan.

(Napak tilas tempat pertemuan ini kini diaplikasikan dalam ritual haji, yakni melakukan Wuquf dan berdo’a di Jabbal Rahmah – Padang Arafah)

Dan kemudian hidup bersama Dewi Hawa dan beranak pinak menurunkan keturunan disana, hingga menurunkan Nabi-nabi berikutnya sepanjang generasi hingga pada era Nabi Nuh. Sehingga jelas bahwa kala itu manusia belum berada dimanapun karena populasinya baru ada disekitar wilayah itu (Jazirah Arab).

ZAMAN NABI NUH, BARULAH POPULASI MANUSIA SEMAKIN BANYAK DAN MENYEBAR KE SELURUH PENJURU DARATAN/BENUA.

Sejak terjadinya Mega Tsunami selama 40 hari, 40 malam pada 8000 tahunan lalu,yang menenggelamkan hampir seluruh permukaan daratan dan membinasakan hampir seluruh manusia, maka Nabi Nuh memulai kehidupannya dengan sisa keturunannya yang selamat (Sam-Ham-Yafeit) yang menyebar ke seluruh antero daratan bumi.

(Bekas banjir bandang Nuh yang tak pernah surut kini dinamakan Black Sea / Laut Hitam sepanjang mediteranian hingga membelah selat Bhosphorus-Mega Disaster-ditayangkan MetroTV, 16 Juli 2013)

Nama anak-anak  Nabi Nuh yg melahirkan cikal bakal ras/bangsa di dunia :
1.Kan’an / Keenan,termasuk yg tewas dlm bencana banjiritu.
2.Ham,menurunkan Ras dan Bangsa kulit hitam / Afrika.
3.Yafeith, menurunkan Ras dan Bangsa kulit putih / Eropa
4.Sam, menurunkan Ras dan Bangsa kulit kuning / Asia.

Sementara Nabi Nuh melanjutkan tugas dakwahnya dinegeri Turkey, Armenia dan hingga Rusia dan hidup hingga usia 950 tahun.

Nah,kini saatnya mengungkap sebuah rahasia besar :
MENGAPA UTUSAN TUHAN YANG TERAKHIR (Nabi MUHAMMAD) DITURUNKAN DI TANAH ARAB ?
“MENGAPA NABI MUHAMMAD itu tidak diturunkan di Era SHOGUN-JEPANG…di Era Dinasti Xia -CHINA…?….DI Suku INCA -INDIAN…?…DI IRIAN JAYA-Suku DHANI…??…DI CONGO-Suku BASUKU…atau di peradaban EROPA…????

Pada 1434 tahun lalu / 14 abad lalu, kehidupan peradaban manusia di bumi ini mengalami kemorosotan akhlak, moral dan nurani.
Populasi manusia sebagai anak keturunan Nuh telah menyebar mengisi relung relung daratan dan benua.Peradaban manusia telah maju,telah mampu menguasai teknologi dan tatanan kehidupan, telah memiliki panduan maupun pedoman hidup, peraturan-peraturan,Undang-undang bernegara dan berbangsa dalam tatanan lingkup Kerajaan-kerajaan. Namun juga diiringi dengan pembiasan-pembiasan dalam agama dan ajaran-ajaran asal dari moyangnya terdahulu.Generasi-generasi umat manusia berikutnya telah melupakan,dan terkikis oleh masa yang sangat panjang pada sambung ingatan akan ajaran asal nenek moyangnya,yakni Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, Musa…

Sehingga, berkembanglah ajaran-ajaran dan buatan agama-agama yang baru,yang sudah keluar dari doktrin asal nenek moyangnya,yakni mengarah pada “MEN-TUHANKAN SELAIN TUHAN YANG ESA”, dalam bentuk Men-Tuhankan benda / materi / nafsyu dan kekuasaan Ego. Maka kali ini Tuhan cukuplah akan menurunkan Sang Pencerah-Nya kepada umat manusia seluruhnya (bukan hanya untuk satu golongan), Untuk kali ini yang terakhir menjelang tibanya hari kiamat (Armagedhon) yang dalam waktu “telah dekat”.

Ketika Muhammad dilahirkan ke dunia ini, yakni di tanah Arab, 1400 tahunan lalu,(Senin, 12 Rabiulawal / 20 April 571 M). Keadaan peradaban manusia kala itu dalam masa-masa gelap akhlak dan moral (Jahiliyyah). Ketika itu didunia ini terdapat dua negara adi daya, yakni Romawi dan Persia.

-Disebelah barat Arab terdapat peradaban maju dibawah adikuasa Kerajaan ROMAWI,yang telah beragama dan memiliki agama resmi, serta memiliki kitab suci. Namun pada masa itu dibawah Kaisar Nerro, pernah melakukan pembakaran terhadap 600 budak dan kepalanya ditancapkan ke tiang-tiang dipinggir jalan dan dijadikan obor. Pada masa-masa penguasa berikutnya, para Raja,pejabat tinggi kerajaan sangat senang dengan hobi “adu orang” dalam arena yang disebut Gladiator.
Didalam arena besar itu mereka mengadakan adu tarung antar orang-orang kuat pilihan,bertarung hingga salah satu ada yang tewas terpenggal mengenaskan. Jika ada yang terpenggal dan mati, maka mereka menyambutnya dengan bertepuk tangan dan sambutan sangat meriah juga dari penonton.dll..

http://erabaru.net/sejarah/56-sejarah/1519-raja-lalim-nero-sejarah-telah-membuktikannya

– Disebelah Timur Arab terdapat peradaban maju dibawah adi kuasa Kerajaan PERSIA,Agama resminya , Zoroastrian. Memiliki kitab suci AVISTA, Rajanya Khoros (Chorus The Great). Telah memiliki kitab Undang-undang hukum HAMURABI, namun Raja memerintah sangat zalim. Peraturan hanya berlaku bagi rakyat jelata. Jika ada yang salah dari kalangan Raja dan bangsawan, maka terbebas dari hukuman, tetapi jika ada rakyat jelata yang melakukan kesalahan, maka dihukum berat dengan dibakar atau dibuang ke hutan.

-Sementara di Nuswantara (nama kuno Indonesia), kala itu ada kerajaan Tarumanegara, ada Kutai, Galuh kuno, sudah beragama, memiliki peraturan dan pedoman. Di Irian Jaya sudah ada peradaban Suku DHANI dan memiliki kepercayaan leluhur, Di Jepang sudah ada Kaisar, Era SHOGUN, sudah memiliki kehidupan religius yang stabil, juga di CHINA ada Dinasti Xia, punya agama resmi, Di Hindhustan sudah ada peradaban Arya – Dravida, sudah memiliki agama Hindhu, Budha, memiliki kitab suci Weda dan peraturan2 kehidupan berbangsa dan bernegara. Di Benua Amerika sudah ada Suku INCA -INDIAN, di Afrika,di CONGO sudah ada peradaban Suku BASUKU. Semua sudah memiliki keyakinan agama dan kepercayaan, sudah ada peraturan2 / wasiat2 leluhur, walaupun disemua wilayah kerajaan peradaban itu banyak terjadi perseteruan dan intrik2 politik, saling berebut kekuasaan.

Maka, ditengah tengah penjuru dunia yang telah berperadaban stabil itu ada terdapat sebuah peradaban yang sangat…sangat sempurna keterbelakangan dan peradabannya, (Jahiliyyah parah / jahilan’bangidth), yakni bangsa Arab. Jahiliyyahnya, kebodohannya, kejahatannya, melebihi peradaban bangsa Romawi, Persia, China, Jepang dan Asia timur.
Maka peradaban pada masyarakat dan bangsa Arab kala itu dalam suatu kondisi :

1-Tidak ada kerajaan absolute yang berkuasa.
2-Tidak ada agama resmi, Tuhan ada 360, menyembah ratusan berhala, ada Tsuwa’, Latta, Uzza, dll
3-Tidak ada peraturan kehidupan, hukum rimba berlaku, saling membunuh, siapa kuat siapa menang, saling merampok, memperkosa.
4-Tidak ada pendidikan, buta huruf ,buta akhlak,buta moral dan buta nurani sangat parah.

Ada sebuah adat yg sangat jahil sekali yakni wanita dikala itu jika ingin menikah dengan laki-laki, maka si wanita memilih pasangan laki-laki yang akan menjadi pilihannya itu dengan menancapkan bendera kecil didepan rumah silaki-laki, nanti si laki-laki akan tahu bahwa ia dipilihnya, kemudian laki-laki itu akan mendatangi si wanita dan si wanita itu “mencobai” laki-laki tsb dengan melakukan hubungan sex, maka jika si wanita itu cocok, langsung mengarah pada pernikahan, tapi jika si wanita setelah “mencobai” si laki-laki itu kemudian tidak cocok, maka si wanita akan mencari lagi laki2 lain dengan cara yang sama, begitu seterusnya.

Tak heran dalam Al-Qur’an, Allah menyebut :

ARAB SANGAT KEKAFIRANA

“Orang-orang Arab Badwi itu, lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS.9. At-Taubah: 97).

Silahkan baca sejarah Jahiliyyah Arabiyah dimasa lalu pada link berikut :

-http://kisahmuslim.com/masyarakat-arab-jahiliyah/
-http://alhafizh84.wordpress.com/2010/04/07/gambaran-masyarakat-arab-jahiliyah-kondisi-politik-dan-agama/

Maka ditengah tengah keadaan gelap gulita itu,ditengah-tengah peradaban manusia yang sangat parah kemerosotan akhlak dan moralnya itu, lahirlah manusia adi…manusia utama…lahirlah sinar terang diufuk kepekatan kelam kehidupan.
Tuhan tak berkehendak diam membiarkan, Dia sungguh Maha Penyeimbang (The Balancing),maka Dia memilih “ARAB” yang tak seimbang keadaan peradaban kehidupan umat manusia itu dibanding keadaan diluar penjuru Arab, untuk dimunculkannya Sang Pencerah-Nya disana.

Senin, 12Rabiulawal /20 April 571 M,Muhammad terlahir.
Nama yang asing ditelinga bangsa dan bahasa Arab.(Muhammad=terpuji)
Ya ,sebersit cahaya-Nya telah menyemburat,

Muhammad value

Adalah MUHAMMAD Bin Abdullah Bin Abdul Muthalib Bin Hasyim Bin Abdi Manaf Bin Qusaiy Bin Kilaab BinMurra Bin Kaab Bin Luaiy Bin Ghlaib bin Fihr bin Malik bin Madher bin Kinanahbin Khuzainah bin Mudrika bin Ilyas bin Mudhor bin Nizar bin Maad bin Adnan.Nasab Adnan berakhir dengan nasab Nabi Ismail bin Ibrahim A.S.
Saat Muhammad masih dlm kandungan ibundanya, ayahnya Abdullah wafat, yatimlah Beliau.Saat usia 6 tahun,kembali Muhammad kehilangan ibunda tercintanya,Aminah Binti Wahab wafat,maka menjadilah beliau yatim piatu, kemudian diasuh oleh kakeknya ,Abdul Muthalib, tak lama kakeknya pun meninggal,kemudian dlm asuhan pamannya, Abu Thalib,kemudian tak lamapun pamannya meninggal dunia.

SATU PERTANYAAN DAN TANDA TANYA BESAR :

MENGAPA BEGITU CEPAT MUHAMMAD DITINGGAL PERGI SATU PERSATU OLEH ORANG-ORANG YG MENGASIHINYA?
MENGAPA MUHAMMAD KALA MASIH BALITA HARUS MENJADI YATIM PIATU TANPA ASUHAN KELAURGA DAN ORANG-ORANG YANG ADA DISEKITARNYA?

Ternyata sungguh jawaban rahasianya begitu sangat fantastic. Yakni :

Karena Tuhan ingin mendidiknya,mengasuhnya sendiri,karena Tuhan berkehendak agar Muhammad tidak dididik oleh manusia,tidak terbentuk oleh karakter bentukan manusia,seperti kita.

“Addabani Rabbi Fa’ahsanaTakdibi”

(Yang mendidikku,kepribadianku,peradabanku,akhlakku dengan sempurna,adalah Alloh ,Rabb,Tuhan Semesta Alam.)

Muhammad tumbuh hingga remaja dan dewasa ditengah-tengah bangsa,masyarakat yang bobrok ,namun Ia tak terkontaminasi dengan kebobrokan itu. Maka sebelum menjadi Nabi,nama Muhammad tidaklah terkenal dan popular dimasyarakat public saat itu, karena beliau hanya orang biasa, pekerja biasa, penggembala biasa.

Maka yang sangat terkenal dan popular kala itu ditengah bangsa/ masyarakat Arab adalah hanya dalam 3 (tiga) hal :

1.As-Sya’ir /penyanyi dan penyair jahil.
2.Kahin / Perdukunan / Paranormal ilmu hitam dan perjudian.
3.Sahir / Tukang sihir / tukang santet,guna-guna,dll

-Maka,Muhammad bukanlah seorang penyanyi/penyair.

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ

“Wamaa’allamna Hushsyi’rowamaa yan’baghillah…” (QS. Yaasiin:69)

-Maka,Muhammad bukanlah seorang dukun / ahli tenung.

وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
“Walaa Bikaulikaahin..” (QS. 69.Al Haaqqah:42 dan Ath Thuur:29)

-Maka,Muhammad bukanlah seorang yang ahli ilmu sihir,menyantet dan mengguna-guna.

Maka,pada masa itu,sedang populer-populernya 3 hal tersebut diatas dan sedang populernya mengadakan sesembahan pada berhala-berhala oleh bangsa Arab. Pada masa-masa keadaan dengan kondisi tersebut, Tiba-tiba Muhammad menyerukan suatu perkataan/ucapan yang sungguh sangat tidak popular,yakni :

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ

“Waliya’lamuladzina utul’ilma annahu alhaqqu min Rabbika fayu’minuubih… (QS.22.Al Hajj:54)

(Bermakna : Hanya dengan ilmu pengetahuanlah,maka segalanya akan menjadi benar, yang datang dari Tuhan…hanya orang yang telah diberi ilmulah yang bisa bertindak benar, yang datangnya dari Al-Haq….).

Bagian II :
supermassive_black_hole_2
*TELAH DEKAT WAKTU “HARI YANG TELAH DIJANJIKAN TIBA *

Jawaban rahasia lainnya dari sebuah pertanyaan :
“MENGAPA NABI MUHAMMAD itu tidak diturunkan di Era SHOGUN-JEPANG…di Era Dinasti Xia-CHINA…?….DI Suku INCA -INDIAN…?…DI IRIAN JAYA-Suku DHANI…??…DICONGO-Suku BASUKU…atau di peradaban EROPA …????
Adalah agar mereka umat / bangsa Arab yg dlm kondisi lebih parah kemerosotan peradabannya dibanding dg bangsa2 lain saat itu,dan telah benar2 lalai / meng-alpakan pada sambung ingatan akan ajaran murni para Rasulnya terdahulu, Adalah :

Agar mereka tidak mengatakan / berdalih / komplin pada Tuhan di Akherat nanti dengan mengatakan :

أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَىٰ طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ

1-“Ya,Tuhan,Mengapa Engkau tidak turunkan / beri kitab atau seorang pemberi peringatan kepada kami seperti umat Musa (Yahudi-red.) dan Isa (Nasrani),sehingga kami terbebas dlm hal ini…?” (QS.6.Al -An’aam : 156 dan 157)

2-“Mengapa kami tak di kirimkan seorang pemberi peringatan sehingga kami lengah dlm hal kembali kepada kebenaran….?” (QS.Al Qashash:47) , (QS.An Nisaa’:165). Hal senada terdapat dlm ayat : QS.Al A’raaf:173

Maka sobat,
Telah diketahui jawaban utamanya diatas,bahwa ketika bangsa2 atau umat dibelahan bumi yg lain telah memiliki system berkehidupan berbangsa dan bernegara,(sudah memiliki Agama,peraturan perundangan,serta system-sistem tata negara)
Maka, tidak bagi bangsa Arab kala itu,sehingga demikianlah alasan rahasia Tuhan :
“MENGAPA NABI MUHAMMAD itu tidak diturunkan di Era SHOGUN-JEPANG…di Era Dinasti Xia-CHINA…?….DI Suku INCA -INDIAN…?…DI IRIAN JAYA-Suku DHANI…??…DICONGO-Suku BASUKU…atau di peradaban EROPA …”dll….

TETAPI DEMIKIANLAH UTUSAN-NYA YANG TERAKHIR MESTI DITURUNKAN / DITUGASKAN DI TANAH BANGSA ARAB. MAKA BAHWA TAK SATUPUN SUATU UMAT / NEGERI / BANGSA YANG HIDUP DIMUKA BUMI INI,MELAINKAN TELAH DIDATANGKANNYA / DIKIRIMKANNYA SEORANG UTUSAN TUHAN / PEMBERI PERINGATAN.

Maka sungguh semua wilayah,negeri,suatu suku / umat manusia itu telah mendapat kiriman,setidaknya seorang “UTUSAN TUHAN” Entah di Eropa,Amerika,China,Afrika termasuk diIndonesia.
-QS.Yunus:47
-QS.Ash Shaaffaat:72
-QS.Ibrahim:4
-QS.An Nahl:36 dan 113
-QS.Al A’raaf:35
-QS.At -Taubah:128

Walaupun kadang kedatangan seorang pemberi peringatan dari bangsanya sendiri sering “diherankan” :
-QS.Shaad:4
-QS.Qaaf:2

Maka,muncul suatu tanda Tanya besar kembali :

MENGAPA HARUS ADA RASUL YANG TERAKHIR ?
(QS.Al Ahzab:40)

Ternyata jawabannya juga sangat simple :
Yakni ,karena Tuhan telah membuat suatu system penciptaan-Nya ,karena Tuhan telah membuat suatu program alam semesta dan kehidupan-Nya ,yang terintegrasi dalam system QADA-QADAR DAN TAKDIR-NYA YANG SEMPURNA! Dan semua telah di-entry-kan ke dalam Mega Data Base-Nya,yakni di Lauhul Mahfuz,
Yakni bahwa :

1.HARI YANG TELAH DIJANJIKAN TELAH DEKAT WAKTUNYA.
(atau dalam bahasa digital sekarang:bhw program aplikasi mendekati finish dan computer segera akan di Restart)
-QS.An Najm:57
-QS.Al Anbiyaa’:1

2.SYAREAT ISLAM YANG DIBAWA OLEH MUHAMMAD SAW,ADALAH RISALAH AGAMA TERAKHIR YANG TELAH DISEMPURNAKAN DAN SEBAGAI PENYEMPURNA DARI RISALAH AGAMA YANG DIBAWA OLEH RASUL TERDAHULU. Bahwa agama Islam adalah Risalah (S.O.P) terakhir sebagai panduan kehidupan umat manusia didunia, bukan hanya utk satu golongan saja tetapi untuk seluruh umat manusia bahkan Jin,bahkan alam semesta.

“Radhitubillahi Robba wabil Islamidinaa,wabi Muhammadin Nabiyyawwa Rasula…”

Dan renungkanlah ayat-ayat Tuhan pada :
-Al Maa’idah:3
-QS.Ibrahim:52
-Ali ‘Imran:19 dan 20
-Al Baqarah:143
-Ali ‘Imran:102 dan 110

Demikian sobat,sedikit akan rahasia-rahasia ilmu-Nya,telah di papar diatas. Kini mari kita jabarkan makna “Sang Utusan-Nya” :

Skoup KENABIAN , RASUL dan AN-NADHIR (Seorang Pemberi Peringatan-Nya) : Tingkatan , tanggung jawab dan beban tugas antara Nabi,Rasul dan An-Nadhir itu berbeda beda tingkatannya :

Berdasar Urutan/Tingkatan :

1.Rasul ,peringkat utama
2.Nabi,
3.Nadhir atau Seorang pemberi peringatan.

-Nabi berasal dari kata An-Naba,adalah, orang yang menceritakan suatu berita dan mereka adalah orang yang diberitahu beritanya (lewat wahyu) yg datang dari Tuhan.

-Rasul berasal dari kata “Irsal “,yang bermakna, membimbing atau memberi arahan yg petunjuk dan pedomannya datang dari Tuhan.

-Nadhir adalah,Pembawa Beriat-berita Peringatan2 yang telah di sampaikan oleh para Nabi dan Rasul.

PERBEDAAN NABI DENGAN RASUL :

1. Skoup Nabi menguatkan / melanjutkan syariat dari Rasul sebelumnya,sedangkan Rasul Diutus dengan membawa syariat baru.
2. Nabi diutus kepada kaum yang sudah tunduk dengan syariat dari rasul sebelumnya atau telah ada yang beriman,sedangkan Rasul diutus kepada kaum baru yang menentang atau belum beriman.
3. Nabi belum tentu Rasul,tapi Rasul sudah tentu Seorang Nabi, Jadi Tingkatan Rasul lebih tinggi.
4. Nabi pertama adalah Adam ‘alaihissalam,sedangkan Rasul pertama adalah Nuh ‘alaihissalam dan Muhammad SAW adalah Rasul yg terakhir.
5. Jumlah Nabi lebih dari 124 ribu orang,sedangkan jumlah Rasul sekitar 315 orang,sedangkan jumlah Nadhir ada pada setiap umat dan masa.
6. Diantara Nabi dan Nadhir dapat berhasil dibunuh oleh manusia,sedangkan seluruh rasul yang diutus,diselamatkan oleh Alloh dari percobaan pembunuhan yang dilancarkan oleh kaumnya.
7. Nabi tidak ada kelompok/golongan khusus,sedangkan Rasul terdapat tingkatan yg utama yg disebut sebagai “ULUL AZMI”
-Ulul Azmi berasal dari kata “‘A-za-m “,bermakna kehendak kuat dan kukuh,sedia dlm pengambilan keputusan untuk menunaikan sebuah pekerjaan dari Tuhan dan komitmen. (Dlm bhs Al-Qur’an disebut sebagai bermakna sabar dan terkadang bermakna setia pada janji ). (Qs. Al-Ahqaf :35)

SKOUP NABI RASUL ULUL AZMI :
1. Memiliki seruan global,setidaknya suatu bangsa.
2. Memiliki syariat (S.O.P) baru dan Penyempurna Agama-Nya (bukan membuat agama baru).
3. Memiliki kitab Suci Ilahi sesuai dg masanya.

Golongan Nabi dan Rasul yang ULUL AZMI :
1.Nuh As, dg Kitab Sucinya disebut SUHUF
2.Ibrahim As, Kitab Sucinya disebut SUHUF.
3. Musa As, Kitab Suci yg diturunkan bernama TAURAT, diutus utk bangsa Israel sampai waktu tertentu.
4. Isa As , Kitab Suci yg diturunkan bernama INJIL, utk kaum Yahudi,Ibrani,Romawi dan sekelilingnya,sampai waktu tertentu .(Matius 15:24 – 10:5,6 – Lukas 24:19)
5.Muhammad SAW, Kitab Suci yg diturunkan bernama AL-QUR’AN, diutus utk Rahmat Seluruh Alam Semesta/umat manusia,Jin sampai berakhirnya kehidupan dunia.

(sedangkan Zabur Nabi Daud bukanlah tergolong Kitab suci dg Risalah/Syareat baru,tetapi merupakan kitab suci dg kumpulan/serat/lembaran yg berisi do’a dan puja puji pada Tuhan Yang Agung).

Sedangkan perbedaan Nabi,Rasul dengan An-Nadhir adalah :

Nabi dan Rasul ada masanya,sedangkan Nadhir tak dibatasi masa atau zaman.

AN-NADHIR ADA DUA KATAGORI :
1.An-Nadhir yang berupa orang/Pelaku,secara langsung.
2.An-Nadhir yang berbentuk Majas / sifat atau tanda2 alam semesta ,secara tidak langsung.

-Maka,para Wali (Memiliki derajat keilmuan tinggi/khusus),para Alim Ulama,para Kyai,Ustadz sepanjang zaman adalah bentuk Utusan Tuhan dlm bentuk sisi “Orang/Manusianya”,yg memberitakan seruan2 kelanjutan dari seruan2 para Nabi dan Rasul terdahulu.Termasuk orang2 yg ada disekeliling kita,tanpa kita sadari,termasuk tokoh /seorang presenter,seperti Mario Teguh dsb,maka jika dlm perkataannya memuat unsur2 nasehat dan peringatan kebaikan dan ayat2 Tuhan didalamnya,maka mereka itu termasuk dalam golongan “Utusan Tuhan”dlm kelompok yg disebut,An-Nadhir yg berupa orang/pelaku.

-Sedangkan peringatan2 yg datang dari tanda-tanda alam semesta adalah system “Pemberi Peringatan-Nya yang dalam bentuk Majas/sifat”,Seperti tanda-tanda terjadinya suatu dinamika alam dan kehidupan,seperti media / pengkabaran melalui media elektronik,Radio,penyiaran2/Live broadcasting atau news papper/artikel2 kebaikan dan advis,maka yang demikian adalah termasuk sebagai salah satu “An-Nadhir/Pemberi Peringatan-Nya” yg tersistem otomatic pada alam semesta,atau An-Nadhir dlm bentuk Majas / Sifat.

Oleh karena itu,ketika ada siaran TV yang men-syiarkan kumandang Adzan,maka itu bentuk “Peringatan Tuhan” yang secara tidak langsung, alam semesta telah menjalankan sistem “Pemberi Peringatan-Nya” yang secara otomatic tersyiar,walaupun asalnya dari manusia,tetapi secara hakekat,Tuhanlah yang menggerakkan/mendorong hati manusia untuk “mensyiarkan” tanda2 peringatan-Nya dengan melalui teknologi peradaban manusia. Maka termasuk juga berlakunya suatu Undang-undang Negara dan atau peraturan2 resmi lainnya di tengah2 masyarakat,bangsa dan negara.

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang”. (QS. Al-Ma`idah : 48)
……………………………..

Bagian III
the_solar_system(1)
*SEMBURAT CAHAYA-NYA TELAH BERSINAR MENERANGI DUNIA*

Maka jawaban rahasia lainnya dari sebuah pertanyaan :
MENGAPA UTUSAN TUHAN YANG TERAKHIR (MUHAMMAD) DITURUNKAN DI TANAH ARAB ? “MENGAPA NABI MUHAMMAD itu tidak diturunkan di Era SHOGUN-JEPANG…di Era Dinasti Xia-CHINA…?….DI Suku INCA -INDIAN…?…DI IRIAN JAYA-Suku DHANI…??…DICONGO-Suku BASUKU…atau di peradaban EROPA …????

-Karena Tuhan ingin memperlihatkan kepada makhluknya yang telah dikaruniai akal pikiran bahwa segala kehidupan alam semesta itu berjalan bergerak berputar / beredar mengitari /mengelilingi porosnya sesuai dengan garis edar / lintasannya masing-masing secara dinamis. Seperti orbit sebuah planet,maka ia akan beredar berputar mengelilingi sumbunya 360°,seperti garis edar planet bulan,maka ia akan beredar mengelilingi bumi 360° selama 30 hari,seperti semua peredaran tatasurya mengelilingi planet matahari sebagai sumbunya,seperti semua galaxy,mereka semua berkeliling melintasi garis edarnya masing-masing secara dinamis dari garis O kembali ke garis O. Maka,Tuhan tidak peduli kepada makhluknya mau percaya atau tidak,tetap saja hukum2 dinamis Tuhan yang sempurna tetap berjalan sesuai garis edarnya (Baca:menurut garis QADA-QADAR DAN TAKDIRNYA).

‘Walau Karihalkafiruun…walau karihal munafikuun…”
(Biarpun orang-orang mengingkarinya,biarpun orang-orang menafikannya)

1.Maka,demikianlah sama dalam hal KERASULAN-NYA, dalam hal PENUGASAN UTUSAN-UTUSAN-NYA, yakni diturunkan-Nya berdasar tahapan,berdasar masa,berdasar keliling berputar mengawal roda kehidupan dari sejak Adam kala belum banyak manusia yg menyembah kepada-Nya,hingga mesti harus ada Rasul yang terakhir,ketika umat manusia telah menuju peradaban mutakhir dan akhir,karena memang harus berjalan berputar sesuai dengan kapasitas,sesuai dengan Quantitas,sesuai dengan Qualitas nilai2 kehidupan dan pengabdian hamba-Nya kepada Tuhannya pada zamannya masing-masing.
Dari sejak pertama kali sesembahan makhluknya dilakukan/dipersembahkan kepada Sang Penciptanya yakni di BAKKA,maka pada akhirnya sesembahan makhluknya akan terakumulasi/terkonsentrasi disana dan berakhir disana.Maka BAKKA adalah garis Start sekaligus garis Finish.
(Ingat bukan batu yang di Mekah/Ka’bah itu yang disembah atau dianggap sebagai sesembahan,tetapi sebagai Kiblat/tanda/poros.Bodoh sekali orang yang menganggap batu Ka’bah sebagai sesembahan agama Islam).

Kini ilmu pengetahuan modern telah membuktikan kebenaran dinamis-Nya,bahwa BAKKA (Mekah / Ka’bah) adalah poros bumi / mercusuar dunia. Maka dengan demikian Tuhan akan melihat,akan menyaring,akan mengevaluasi hamba-hambanya apakah mereka manusia yang telah diberi karunia hidup itu mempersembahkan pengabdian hidup,beribadah kepada Tuhannya sesuai dengan garis edar-Nya (baca:Petunjuk-Nya) yang Dia tetapkan atau tidak,mengikuti jejak para Rasul-Nya atau tidak.

2.Bahwa Tuhan ingin memperlihatkan :
SETELAH TURUNNYA RASUL TERAKHIR DI TANAH ARAB,DILENGKAPI DENGAN CAHAYA ILMU PENGETAHUAN (AL-QUR’AN),SEBAGAI PENERANG,SEBAGAI PENYEMPURNA PANDUAN PERADABAN KEHIDUPAN MANUSIA DARI PANDUAN-PANDUAN SEBELUMNYA UNTUK DIJADIKAN PEDOMAN TERAKHIR BAGI SELURUH UMAT DAN MANUSIA SAMPAI TIBANYA HARI YANG TELAH DIJANJIKAN.

Maka bagai hamparan dunia yang sebelumnya dalam kegelapan,kemudian masih remang-remang,maka kini dunia telah disirami cahaya penerang-Nya :

-Ilmu Pengetahuan bermekaran,teknologi, Ilmu Medic,Biology,Fisika dll, berkembang menghantar peradaban kehidupan umat manusia.
http://www.kawansejati.org/samudera_minda/ms-14-sejarah-pendidikan-islam.html

Yang dulu peradaban begitu merosot maka setelah datangnya Islam banyak perubahan,manusia mulai mengenal HAM,Undang-undang perlindungan hak sipil,warga bernegara dibuat, yang baik dan ditaati,sudah tidak ada lagi diadakan GLADIATOR SAMPAI MATI,
Dan menyebar ke seluruh penjuru dunia,menjadikan manusia semakin memiliki sisi HUMAN atau nilai2 manusia per individu mulai dihormati,dll. Yang dulu wanita tak mendapat perlindungan hak,begitu datangnya ilmu Islam maka wanita diangkat derajatnya,diakui hak-hak emansipasinya,kehormatannya,kesetaraannya. Yang dulu hukum ada ditangan Raja, sewenang-wenang,kini begitu Ilmu Islam terkuak,maka mulai ada penerapan Undang-undang setara dimata hukum,tidak ada orang kuat,tidak ada yg kebal hukum. Maka semua perubahan dimulai dari nilai-nilai Al-Qur’an.maka semula bermulai dari sinar Islam,dari cahaya-Nya, Dan kemudian Ilmu Pengetahuan dari Al-Qur’an terkupas :

Maka nilai-nilai Al-Qur’an tercermin dari laku perbuatan Muhammad sebagai Rasul/Utusan-Nya yang terakhir untuk diikiti,disuri tauladani oleh seluruh umat dan manusia.

NILAI-NILAI MUHAMMAD SAW :

-Segala kemanfaatan dan kebaikan dari laku perbuatan manusia tidak dapat dinilai berdasar sekedar penampilan atau cashing belaka.
-Ketaqwaan seseorang tidak cukup hanya dinilai dari sukanya memakai peci dan sarung,sorban gelayut,gamis tebal,jenggot panjang,atau tidak cukup hanya dengan kelihatannya dan kelihatannya,dll…
Tetapi laku perbuatan/ketaqwaan seseorang yg dinilai,yang bermartabat adalah :

-Sejauh mana nilai-nilai MUHAMMAD SAW yg berciri menghadirkan kemanfaatan bagi diri sendiri dan sekelilingnya itu diaplikasikan dlm kehidupan sehari-hari”.
Karena Al-Quran adalah = Ilmu Pengetahuan,cerminnya adalah Rasulullah SAW,yang mengajak untuk berlomba-lomba dlm kebaikan dan menciptakan ilmu pengetahuan.
Maka dari relief-relief Al-Qur’an itu memunculkan berkembangnya ilmu pokok,yakni :
Satu hal kecil bukti bahwa dari segi pembacaan,bahasa dan huruf ayat-ayat Al-Qur’an telah melahirkan berbagai disiplin ilmu :

I.LAHIRNYA ILMU NAHWU SHARAF / HARAKAT:

( Tata Bahasa Arab dan melengkapi huruf-huruf Al-Qur’an dengan tanda baca) :
Ketika Muhammad pertama kali memperkenalkan Al-Qur’an,huruf-huruf nya masih dalam keadaan polos / gundul,seperti huruf kanji-Jepang klasik,tidak ada titik,tidak ada tanda pembacaan,seperti huruf A-BA-TA-TSA, Maka orang masih bingung membacanya,belum sempurna,maka karena ingin benar dan supaya menjadi benar,

-Maka pada tahun 67 H,orang bernama Abul Aswad Ad Dualy menciptakan ilmu TATA BAHASA Al-Qur’an,/ NAHWU SHARAF,diberilah titik dan tanda lain.
-Sudah diberi titik,masih saja ada yg salah dlm hal membaca Al-Qur’an,maka orang bernama Imam Ahmad Al-Fardhai ,(wafat tahun 185 H), Abu ‘Umar Hafs Ad-Duri dan Ibnul Jazari menciptakan ilmu harakat seperti Dhomah,Kasrah,Tajwid,Sukun,Fathain,dsb.
-Sudah ada tanda baca titik dan harakat,masih saja ada yg tak pas dlm membaca panjang pendeknya,

Seperti orang-orang di wilayah Jawa, Kebumen, Banyumas, Purwokerto, Banjarnegara, Brebes dan sekelilingnya (Hanya ilustrasi,jangan diambil hati loh yah…),
Sampai sekarang kalau membaca Al-Qur’an :

Bacaan,”INNALLOHA WASI’UN ‘ALIIM…” membacanya ,”INNALLOHAWASINGUN NGALIIM…”..
“MA’ASSHABIRIIN..” membacanya,” MANGAS SOBIRIIN…”
“SHALIHIIN..” MEMBACANYA,” SOLIKIIN..”
“SHAFA’AT..” membacanya,”SAPANGAT..”,…..
Maka artinya,suara mengeluarkan huruf atau disebut “MAKHRAJ” ,masih belum sempurna.

II.LAHIRLAH ILMU TAJWID :

Seorang bernama Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim Ibnu Salam (Wafat tahun 224 H) menciptakan sebuah ilmu pembacaan Al-Qur’an yg disebut Ilmu Tajwid, Barulah ada istilah Idham,Idghar,Ikhwa’,Ikhlab,dll.

Jika tidak ada Ilmu ini maka,tulisan “ALIF-LAAM-MIIM”,bisa dibaca “ALAM”,dan atau tidak keluar gaya panjang pendeknya.

III.LAHIRLAH ILMU “MUSHALAHUL HADITS” :

Demikianlah munculnya ilmu Tajwid,dengan adanya ilmu ini maka terkuaklah ketidak benaran,kepalsuan ilmu-ilmu yg berkembang saat itu,yakni pada masa-masa akhir abad pertama Hijriyah,terdapat banyak hadits palsu. Maka seorang Khalifah,Umar Bin Abdul Aziz,yakni Khalifah ke-8 dari dinasti Bani Umayyah ( 99-101 H ) men-seleksi semua Hadist yang ada, kemudian disempurnakan oleh Abu Muhammad ar-Ramaal-Hurmuzi ( wafat 260 ) dengan menciptakan ilmu “MUSHALAHUL HADITS”
Disaringlah mana hadits yang Sahih,mana yg Hasan,mana yg Dlaif, mana yg Hasan Ghairi,mana yg Izzati,mana yg Maktub,mana yg Mursal.
Dan terungkaplah sebuah keadaan dimana,Al-Imam Al-Bukhari telah hapal sekitar 600.000 Hadits,setelah diseleksi dg ilmu ini,maka terseleksi bahwa hadits yg valid hanya 400.000 hadits,lainnya tergolong lemah,sesat dan atau palsu.

IV.LAHIRLAH ILMU FIQIH :

Ketika Imam Syafi’I (nama asli : Abu ‘Abdillah Muhammad bin Idris bin Al ‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ ,Lahir tahun 150 H –wafat tahun 204 H),ditanya oleh Gubernur Abdurrahman Al-Mahdi tentang :
“BAGAIMANA CARA MEMAHAMI ISLAM DAN AL-QUR’AN?”
Maka,Imam Syafi’I memanggil muridnya bernama Ar Robi’ bin Sulaiman Al Marodiy untuk menyusun risalah jawaban kepada Gubernur Abdurrahman Al-Mahdi.
(belakangan diketahuilah bahwa risalah tersebut yg berjumlah hingga 300 halaman ini,adalah yang kemudian hari menjadi sebuah cabang ilmu baru yg disebut “USHULUL FIQIH atau USHUL FIQIH”
Yang berisi diantaranya :

1.Jika anda ingin memahami Islam,maka pahamilah/galilah Al-Qur’an,
Dan ketahuilah bahwa dlm ayat2 Al-Qur’an terdapat multi ilmu pemahaman/Tafsir.
(artinya makna dlm ayat2 Al-Qur’an tak sedangkal sekadar baris dalil atau literal/textual belaka)

-Karena didalamnya ada golongan ayat-ayat yg disebut :
– MUHKAMAT /TERSIRAT.
(ada ayat Muhkamat yg bisa ditakwil,ada yg tidak bisa ditakwil)
-MUTASYABIHAT.
(ada jg ayat Mutasyabihat yg bisa ditakwil tapi memuat berbagai pemahaman/penafsiran sesuai tingkatan ilmu pengetahuan/derajat orang tsb)
-MUTLAK / ABSOLUT
-MUQADDAT / Terikat / Terbatas.
-ABDZAL
-KHOS / SPECIAL
-HAKIKI,
-MAJAS / METAFOR
-NASIKH DAN MANSUKH

2.Jika dalam Al-Qur’an masih belum mendapatkan pemahamannya,maka galilah di Hadits/As-Sunnah.
Demikian juga di dalam Hadits terdapat golongan Hadits yg disebut :
-MUTAWWATIR,
“Huwajam’un wa jam’in”
-MANSYUR / POPULER
-AZIZ
-AHAD / INDIVIDUAL.

3.Jika dalam Hadits pun belum terdapati pemahamannya secara komprehensif utk sebuah penyelesaian perkara,maka gunakanlah AQAL BUDI,dengan HATI NURANI,dengan cara :
“MENGUMPULKAN PARA ALIM ULAMA,CENDEKIAWAN UNTUK DILAKUKAN KESEPAKATAN, BERSAMA MENGAMBIL KEPUTUSAN DAN DIKELUARKANNYA FATWA.
Inilah yang disebut : “IJMA’ / KONSENSUS”
-Jika musyawarah dan pengambilan keputusan itu dilakukan oleh perorangan/lokal,maka itulah yg disebut “QIYAS”
Maka,IJMA’ dan QIYAS itu merupakan Metodology,analisys berdasar objectifitas Rasional,sebagai jangkauan /sarana petunjuk untuk memahami/menjabarkan makna-makna ayat-ayat Al-Qur’an maupun Al-Hadits.
Dengan adanya IJMA’dan QIYAS inilah,maka lahirlah ilmu baru yakni AL-FIQIH.
Contoh :
-Dalam ayat Al-Qur’an berulang-ulang dikatakan,”AQIMUSSHOLAH… AQIMUSSHOLAH…!”…
”Ayo,dirikanlah Sholat..kerjakan Sholat…!”,
Maka di Al-Qur’an itu tidak didetailkan yg namanya Sholat itu seperti apa,berapa kali,cara dan rukunnya apa saja ? Maka barulah diterangkan sebagian di dalam Hadits.
Di dalam Hadits masih belum didetailkan,seperti :
-SYARAT SHOLAT (yg hrs dipenuhi sebelum melakukan Shalat)
-RUKUN SHALAT (yg harus dipenuhi didalam melakukan Sholat)
-NAWAKIB / MURJILAT (apa saja yg membatalkan Shalat),
Maka barulah di detailkan didalam ilmu FIQIH,demikianlah rangkaian tata cara sholat ini dijabarkan dari hasil IJMA’ /konsensus para Ulama.Yang terangkum dalam ILMU FIQIH.
IJMA’yang dilakukan oleh para Ulama lainnya adalah termasuk tata cara berhaji,berqurban,dll.
Maka dengan demikian kita tidak dapat berpraktek menjalankan tata cara beragama dg benar tanpa menggunakan kaidah-kaidah FIQIH.
Dengan demikian,maka IJMA’, QIYAS,FIQIH itu bukan buatan Muhammad SAW,tetapi hasil consensus para Ulama murni,yg didasari ilmu pengetahuan,yg menggunakan dasar2 metode analisis,rasional,objektif dan realistis.
Oleh karena itu,
“JANGANLAH KITA SOK MENJUSTICE,MENGKLAIM INI BENAR ITU SALAH HANYA KARENA MENDASARI SEGALA SESUATU ITU DENGAN DALIL TERTULIS SEMATA,HANYA KARENA BERANGGAPAN DI AL-QUR’AN TIDAK ADA,DI HADITS TIDAK ADA !”,
Tetapi menjustice itu,mengklaim diri kita/golongan/mazab kita paling benar itu,karena diri kita sendirilah sesungguhnya yang dangkal dan kerdil.

V.LAHIRLAH ILMU TAFSIR AL-QUR’AN :

Ilmu tafsir Al-Qur’an pertama oleh JAFAR IBNU JALIL AT-THOBARI,lengkap 10 jilid dari awal hingga akhir.Sedangkan Tafsir IBNU ABAS masih tergolong hanya sebagian atau sedikit.

VI.LAHIRNYA NILAI-NILAI HAKEKAT SPIRITUAL “AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH” :

1.Secara Etimologi ,“AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH” adalah :
-Ahli adalah orang pribadi yang dari dasar hati nuraninya bersikap laku tunduk patuh pada aturan Tuhan dan Rasul-Nya,dengan berlaku perbuatan Islami,bermanfaat bagi diri dan sekelilingnya yang bersama-sama dengan  kelompok/keluarga/pengikut Muhammad SAW lainnya yang memiliki orientasi yang sama entah apapun golongan,sekte maupun alirannya.

-AS-Sunah adalah laku perbuatan Rasulullah nyata sehari-hari yang merupakan cerminan/manifestasi dari nilai-nilai aturan Tuhan yang tertuang dalam Al Qur’an dan tuntunan yang di serukan oleh Muhammad SAW ,yang bersifat universal.(Utswatun Khasanah Nabi SAW).

– Al Jama’ah yaitu Al-Ummah ( Al-Munjid),sekumpulan orang-orang beriman yang bersama-sama memiliki orientasi tunduk patuh pada As-Sunah dengan bimbingan/di pimpin oleh seorang ahli spiritual/imam yang hanif,untuk saling bekerjasama dan Yang consist dalam menjaga solidaritas serta mengaplikasikan nilai-nilai Muhammad SAW.

2.Menurut istilah :
-Ahli Sunah wal Jama’ah adalah sekelompok orang yang meniru/menjalankan laku perbuatan Rasulullah secara berjama’ah, atau satu golongan umat yang beriman di bawah satu komando untuk urusan menjalankan kehidupan religius sesuai dengan ajaran Rasulullah dan para sahabatnya yg berciri menghadirkan kemanfaatan bagi diri sendiri dan sekelilingnya.

-Maka jika ada seorang imam/pimpinan Islam malah menyuruh melakukan perbuatan hasad,hasut dan anarkisme atau tidak mencerminkan sikap Rahmatan Lil ‘Alamin,maka ia bukan termasuk sebagai seorang ahli spiritual atau seorang Imam yang baik.(jangan diikuti)

-Dan juga jika ada orang mengaku sebagai golongan Ahli Sunah Wal Jama’ah,tetapi dlm praktek sehari2nya masih mengedepankan ego dan KE-AKU-AN yang tinggi,merasa benar sendiri,suka membenci,dan menyombongkan diri,maka jelas type seperti ini bukan bagian dari golongan “Ahli Sunah Wal Jama’ah”.

Kesimpulan AHLI SUNAH WAL JAMA’AH :

1.Bahwa sebenarnya Islam itu tidak bermacam-macam,Islam itu tetap satu,hanya umatnyalah yang membuatnya bermacam-macam dengan timbulnya berbagai kelompok bernama aliran,sekte,Mazab,yang saling berebut benar sendiri yang dibangun berdasarkan benang-benang dalil yang menurut angan pikirannya sendiri dan semua mengaku sebagai golongan Ahli Sunah wal Jama’ah.

2.Maka Ahli Sunah wal Jama’ah adalah bukan dari salah satu dari kelompok,aliran,sekte dan organisasi yang dibuat oleh pemeluk Islam.Karena Ahli Sunah wal Jama’ah bukanlah aliran,sekte ataupun organisasi,tetapi Ahli Sunah wal Jama’ah adalah :

-AHLI adalah “HATI” adalah pelaku pribadi perorangan,entah ia dari golongan mana,aliran mana yang dengan tanpa reserve bersikap patuh,tunduk dan taat pada aturan Tuhan dan Rasul-Nya,sehingga hanya hati pribadinya dengan tuhannya yang tahu,yang dengan berpasrah diri menghamba pada Tuhannya dengan berlaku perbuatan manfaat bagi dirinya dan sekelilingnya,dengan mensuri tauladani laku perbuatan Muhammad SAW.

-Jadi naif sekali kalau orang mengaku dirinya seorang Ahli Sunah wal Jama’ah,tetapi perilaku pribadinya tidak membuat kemanfaatan bagi diri maupun sekelilingnya,rajin beribadah tetapi dalam kehidupan sehari-hari masih suka membenci,syirik,dengki,tidak akur dengan tetangga,menipu dan berbuat keburukan lainnya.

BERIKUT PENJABARAN DARI SISI “USTWATUN KHASANAH” (MENCONTOH/MENGIKUTI PERILAKU MULIA NABI SAW) :

YAKNI PADA PENJABARAN TENTANG AS-SUNAH NABI SAW:

Ada 3 katagori :
1.SUNNAH QAULIYYAT=Sabda Nabi langsung.
2.SUNNAH FI’LIYYAT=Perilaku/suri tauladan Rasulullah SAW nyata sehari-hari.
3.SUNNAH TAQRIRIYYAH / TAKLIFIYAH adalah Sunnah Pengakuan,yakni Rasulullah tidak pernah bersabda,memerintahkan,melakukan tetapi ada sahabat yang mengerjakannya namun dibenarkan oleh Nabi.
(Sunnah kategori ini yg banyak tak dipahami oleh umat).

Contoh :
1-Seorang sahabat Rasulullah bernama BILAL BIN RABBAH,suatu ketika selesai berwudlu,melakukan sholat 2 raka’at,padahal tidak ada tuntunannya dari Rasulullah.
Maka kemudian Rasulullah bertanya pada Bilal,
“Sholat apa kamu,wahai Bilal ?”
“Sholat Ba’diyyah Wudlu,Ya Rasulullah !”,jawab Bilal.
“Oh,bagus…bagus…”,
Tanggap Rasulullah,dan bahkan Beliau pun malah akhirnya ikut mengerjakannya.

2. Seorang sahabat Rasulullah juga pernah memuji muji Rasulullah dg syair2 yg sangat indah,(termasuk dlm syair2 Al-Barjanji),
Tidak pernah Rasulullah memerintah,menyuruh,namun hal yg diperbuat oleh sahabatnya,
Beliau tak menyalahkannya,tak melarangnya dan tak mengatakan.
”Ya sahabat,jangan kaulakukan itu,salah besar itu,sesat itu…”,
SAMA SEKALI RASULULLAH TIDAK MELARANGNYA !

(Oh,My God…bagaimana mungkin kita bisa menjustice orang lain yang melakukan amalan kebaikan yang hanya karena tidak ada contoh Rasul / tidak tertulis di dalil itu dicap sebagai perbuatan Sesat,Bid’ah dan salah…?????
Bagaimana mungkin ada orang yg mengadakan penghormatan kepada Nabi Muhammad dengan mengadakan Maulid Nabi SAW itu dicap HARAM,SESAT,BID’AH…????
Sementara kita kalau menghadap Atasan,Bos,manusia lain begitu takutnya kita..begitu hormatnya kita…!!!!…
Bagaimana mungkin ada orang yang mengadakan do’a TAHLIL,MENDO’AKAN KELUARGA YG TELAH MENINGGAL,dsb… kita cap HARAM,SESAT,BID’AH…????…)…
Oh My God !
Silahkan renungi sendiri….

Ilmu Pengetahuan adalah “KUNCI” guna mengenal diri siapa aku,siapa kamu dan siapa kalian !
“SALAAMUN’KAULAM MIN’RABBIR RAHIIM…”

Semoga kita termasuk golongan insan yg mendapat ucapan kehormatan ini nanti di Planet Daar Es-Salm after Masehi

”Salam selamat sejahtera dari Tuhan mu Yang Maha Kasih…”
===TAMMAT===

Sumber :
-Al-Qura’an Terjemahan DEPAG RI
-Al-Kamil Fittari,Imam Ibnil Azil
-Tarikhul Mulk,Attobarri
-Tarikhu Muhoddun
-Makalah Prof.Dr.KH.Said Agil
-Risalatu Islam karya KH.M.Syamsuddin-Jawa Tengah
-Abah Sang Pencerah-Kota Tegal
-dll

MEMAHAMI QADHA, QADAR DAN TAKDIR ILAHI

MEMAHAMI QADHA, QADAR DAN TAKDIR ILAHI

GarismuPENJABARAN , QADHA , QADAR DAN TAKDIR :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ-

“In the Name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful”.

Jika kita membaca ayat-ayat Al-Quran maupun Al-Hadits, ataupun kitab-kitab para alim ulama yang memberitakan / membahas tentang Qada-Qadar dan Takdir, maka kita akan mendapati kalimat-kalimat yang mengesankan banyak hal yang ‘nampak’ seperti penuh ‘kontradiksi dan membingungkan’. Namun, kalau kita menyimaknya dengan penuh kejernihan hati, kecermatan logika yang optimal, dan disertai dengan permohonan bimbingan dari Allah SWT, kemudian menggali lagi dari para Alim Ulama yang luas pemahaman dan tingkat ilmu hakekatnya sudah tinggi, maka kerumitan dan ‘kontradiksi’ tersebut pelan-pelan akan dapat kita pahami dengan baik serta akan mendapati sebuah makna hakekat terdalam dari sebuah penjabaran tentang Qadha – Qadar dan Takdir-Nya, InsyaAllah.

Maka sahabat, ikhwan fillah yang dirahmati Allah,

Berbicara tentang QADHA, QADAR DAN TAKDIR, yang merupakan rukun ke-6 dari Rukun Iman ini, adalah membicarakan hakekat yang sama dari asal kalimatnya, yakni merupakan kalimat majemuk / kata sifat yang mengalami perubahan bentuk menjadi bentuk kata kerja dan kata jadian.

*Kadang sering muncul pertanyaan : “APAKAH TAQDIR BISA DITOLAK DENGAN TAQDIR..?”

Itu bahasa istilah umum yang sering terdengar di tengah umat, sedikit salah kaprah sebenarnya, sebab takdir sesungguhnya tidak dapat ditolak, tetapi bisa berubah/dirobah oleh Sang Maha Robah (Bi Iradatillah). Maka yang lebih tepat adalah: “APAKAH TAKDIR DAPAT BERUBAH?”

Pengertiannya sbb:
Bicara takdir maka perlu diketahui asal kata (masdar) nya, yakni: Masdar (asal kata) dari qadara-yaqdaru-qadaran, bentuk jama’nya Aqdaar

Dari kata tersebut, Allah menetapkan definisinya, sbb:
1.QADHA = sistim ketetapan dasar (pokok / FRAME) atas segala sesuatu yang diciptakan, berikut segala ketentuannya.
2.QADAR = sistim ukuran / volume atas segala sesuatu yang diciptakan.
3.TAKDIR = sistim, mekanisme hukum hukum, aturan, kepastian segala perkara kehidupan, yang berkait paut dengan sebab akibat.

Maka, khusus mengenai takdir dapat berubah / dirubah dengan 4 hal:
1. Dengan do’a
2.Dengan sedekah
3.Dengan dzikr/wirid
4.Dengan shalawat

Ini esensi yang paling sederhana, Sehingga makna QADHA, QADAR DAN TAKDIR akan memuat perbedaan makna dan penjabaran.

BERIKUT PENJABARAN ,QADHA , QADAR DAN TAKDIR :

download (12)

1.QADHA.

-Qadha memiliki beberapa arti yaitu hukum, ketetapan, perintah, kehendak, pemberitahuan, dan penciptaan secara dasar (kerangka awal). Sedangkan menurut istilah, Qadha adalah ketentuan atau ketetapan Allah SWT dari sejak zaman azali tentang segala sesuatu. (QS.41.Fushshilat:12)

Maka, menurut istilah bahasa digitalnya , QADHA merupakan :

-PROGRAM SISTEM SOFTWARE DAN HARDWARE (FRAME) PENCIPTAAN SEGALA SESUATU. ( RANGKA DASAR PENCIPTAAN atau CETAK BIRU PENCIPTAAN ATAS SEGALA SESUATU).

2.QADAR.

-Menurut bahasa, QADAR, berarti kepastian, peraturan, dan ukuran. Sedangkan menurut istilah, qadar adalah perwujudan dari ketetapan (Qadha) terhadap segala sesuatu yang berkenaan dengan makhluk-Nya, (hal-hal yg diciptakan-Nya), yang telah ada sejak zaman azali sesuai dengan iradah-Nya.

Maka, menurut istilah bahasa digitalnya, QADAR merupakan :

-PROGRAM SISTEM VOLUME-NYA . (Segala sesuatu penciptaan berdasar Penentuan Kapasitas / Kadar / ukuran, atas segala sesuatu yang diciptakan)

3.TAKDIR.

-TAKDIR, merupakan bentuk jamak / hasil perubahan kata dari QADHA DAN QADAR yang menjadi bentuk “kata kerja”.

Maka, menurut istilah bahasa digitalnya , TAKDIR merupakan :

-PROGRAM / SISTEM APLIKASI atau MEKANISME segala sesuatu kepastian perkara yang telah ditentukan / dipastikan, yang  berkait paut dengan sebab akibat.

JIKA DIANALOGIKAN SECARA SEDERHANA, MAKA DAPAT DISIMPULKAN BAHWA :

I.QADHA adalah :

-KETENTUAN DASAR ATAS SEGALA SESUATU YANG DICIPTAKAN ALLAH atau Penetapan  dasar / pokok atas segala sesuatu yang  diciptakan oleh Allah SWT.

Contoh:

Allah memprogramkan, menentukan dan menetapkan apa yang akan diciptakan-Nya, seperti :

-Menciptakan Nur Muhammad (Asal usul segala sesuatu kehidupan (Software) cikal bakal system kehidupan)

-Menciptakan Arsy’ (“Singgasana” atau suatu pusat kendali Kekuasaan-Nya)

-Menciptakan QALAM ( cikal bakal alam semesta dan isinya)

-Menciptakan LAUHUL MAHFUZ (Pusat Penyimpanan, pengaturan, pengoperasian segala urusan yang diatur dalam Data Induk / data base).

-Menciptakan dimensi berbagai alam seperti alam yang 3 (Malakut, Jabarut dan Mulk).

-Menciptakan alam semesta berikut isinya.

-Dll,

II. QADAR adalah :

-PENENTUAN ATAS SEGALA SESUATU YANG DICIPTAKAN BERDASAR UKURAN ,KAPASITAS, MEKANISME SERTA SIFAT-SIFATNYA. ( Sunnatullah fi khalqihi ).

الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

“…Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya”. (QS.25.Al-Furqaan:2)

Maka dalam hal ini ketika Allah Ta’ala menetapkan ukuran atas SEGALA SESUATU YANG DICIPTAKAN-NYA , MAKHLUK CIPTAAN-NYA TIDAK DAPAT MEMILIHNYA karena merupakan sesuatu yang telah ditetapkan atas KEHENDAK-NYA.

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka…”.(QS.28.Al-Qashash:68)

Seperti :

1-Allah SWT menciptakan alam semesta raya ( langit, galaxi , Tata Surya, Bumi dan isi, berikut ukuran, mekanismenya, jenis serta sifat-sifatnya),

2-Makhluk hidup dan kehidupannya (Malaikat, Jin, Manusia, Hewan dan tumbuhan, serta makhluk lainnya) berikut ukuran, mekanismenya, jenis serta sifat-sifatnya),

3-Menciptakan Syorga dan Neraka, berikut ukuran, mekanismenya, jenis serta sifat-sifatnya),

4-Dll,

Contoh:

-Allah menciptakan manusia berjenis Laki-laki, maka kita tak dapat menolak atau memilih untuk jadi perempuan., begitu juga sebaliknya. Kemudian Allah membuat sifat-sifat makhluknya, manusia diciptakan dengan disertai nafs positif dan nafs negatif, sementara hewan diciptakan hanya dengan disematkannya nafs insting (nafsyu hewani tanpa aqal)

-Dll,

-Tuhan menciptakan Siang dan malam, maka kita tak dapat merubah keadaan itu.

-Tuhan menciptakan Syorga dan Neraka, maka , kita tidak dapat menolaknya….dsb…

III. TAKDIR adalah :

(Merupakan bentuk kata kerja dari QADHA DAN QADAR yang berkaitan dengan hukum sebab akibat).

-SEGALA SESUATU PERISTIWA KEHIDUPAN YANG DIALAMI ATAU DIJALANKAN OLEH MAKHLUK-NYA DIATAS QADHA DAN QADAR-NYA, YANG AKAN MAUPUN TELAH TERJADI DAN KESEMUANYA TERCATAT DALAM DATA BASE LAUHUL MAHFUZ, YANG BERKAITAN DENGAN GARIS-GARIS SISTEM PERUNTUNGAN, NASIB, BAIK, BURUK DAN HUKUM SEBAB AKIBAT, YANG TELAH DITETAPKAN seperti tersebut diatas.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan(tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS.57.Al Hadiid:22)

Juga Renungi : (QS.Al-Isro’ 17:13-15), (QS.Al-Hadiid 57:22-24)

download (11)

Hal ini disebut GARIS-GARIS TAKDIR :

Yakni :

1-Penetapan mekanisme kehidupan ( jodoh, rejeki ) dan kematian.

2-Penetapan garis-garis jalan positif dan jalan negativ.

3-Penetapan garis-garis keberuntungan dan kenaasan.

4-Penetapan garis-garis hasil usaha perbuatan / sebab akibat.

5-Penetapan garis-garis nasib / hasil.

6.Dll,

Contoh :

1.Seseorang telah berjodoh dengan si A, kemudian bernasib kaya atau miskin, kemudian ada masa meninggalnya, maka mereka telah masuk ke dalam system / garis-garis TAKDIR dari Jodoh, rejeki serta kematiannya.

2.Seseorang memilih jahat, maka ia masuk ke dalam garis takdir jalan kejahatan, demikian pula seseorang berbuat baik, maka ia telah memilih garis takdir jalan positif-Nya.

3.Seseorang karena perbuatan jahatnya menjadikan ia bernasib sial, dihukum, dipenjara atau bahkan celaka, maka ia telah masuk ke dalam garis takdir hukum sebab akibat-Nya.

4.Dll,

TAKDIR ADA 2 KATAGORI :

1) TAKDIR  Mubram.

2) TAKDIR  Muallaq.

  1. TAKDIR Mubram (MUTLAK / FIXED).

-Segala sesuatu yang telah ditetapkan kejadian maupun alur kepastian peristiwanya yang Merupakan HAK PREROGATIF ALLAH, (namun bisa saja Tuhan meniadakannya / membatalkannya).QS.13.Ar-Ra’d:39

-Langit, Bumi, Air, Binatang, Tumbuhan telah di takdirkan Allah, diciptakan sebagai benda yang demikian , maka mereka tak punya pilihan untuk berubah menjadi makhluk lain atau ingin bernasib lain, karena mereka adalah diciptakan sebagai sarana atau media bagi makhluk manusia, Jin serta Malaikat.

Juga seperti matahari berjalan menurut poros dan garis edarnya, maka itu takdir keadaannya telah tetap demikian dan matahari tidak mampu menghindarinya. (QS.36.Yaasiin:38).

-Penetepan rejeki tetap (penghidupan) dan kematian,

(Bahwa Allah telah menentukan rejeki rata-ratanya kepada makhluknya serta penentuan kapasitas maupun umurnya)

-Terjadinya musibah, bencana, epidemic (Pageblug) , penyakit pada suatu wilayah, ditetapkan oleh Allah karena berkaitan dengan hukum sebab akibat pada mekanisme kehidupan, disebabkan dan berkaitan atas perbuatan makhluknya itu sendiri.

(Beberapa ulama menjelaskan rahasia, bahwa pada bulan Sapar, Malaikat atas ijin Alloh menyebarkan segumpal awan musibah yang berisi 1000 malapetaka diangkasa, sekaligus Dia juga menyebarkan segumpal awan yang berisi 1000 Rahmat diangkasa, yang bergerak kesana kemari meliputi sepak terjang perbuatan umat manusia),

Maka begitulah para ulama menganjurkan kita umat yang beriman untuk selalu memanjatkan doa perlindungan agar tidak terkena / terjaring oleh gumpalan awan naas tsb, karena awan malapetaka tsb akan menghampiri orang orang yang berbuat kejahatan, sehingga dengan doa mohon perlindungan tsb, maka gumpalan awan malapetaka tsb menjauh dan kita akan dihampiri awan Rahmat-Nya,

Itulah kenapa dibeberapa adat wilayah negeri ada yang mengadakan seremoni upacara tolak bala’ yg disebut “REBO WEKASAN” dan ada upacara Sekaten “1 SURA” di adat keraton Jogjakarta, ”GREBEGAN”, dsb), itulah kearifan lokal.

Muhammad SAW bersabda :

“La Yuroddul qadha’ illa biddua’

“ Maksudnya:

” Tidak akan terubah takdir melainkan dengan doa.”

2.TAKDIR Muallaq ( Iradah dari sifat Jaiz Allah / WENANG / OPTION):

(TAKDIR dengan dibuatnya Jalur pilihan / Option yang berhubungan dengan ikhtiar makhluk-Nya).

Adalah ketetapan yang telah dibuat oleh Allah tetapi makhluknya (manusia dan Jin), diberi kesempatan untuk merubah dan memilihnya, kemudian Allah yang menentukannya kemudian / berkehendak.

-Dalam hal ini Allah memberikan kebebasan pilihan pada manusia untuk memilih jalan nasibnya, Kaya miskin, baik, jahat, jalur Syorga atau Neraka, dsb,

-Namun yang harus diingat bahwa Allah menghendaki agar manusia mengikuti perintahnya untuk memilih dan berusaha agar masuk ke dalam SISTEM2-NYA YANG SELAMAT SEJAHTERA.

Contoh:

-Manusia menjadi jahat, maka itu bukan takdir, tetapi manusia itu sendiri yang memilihnya, sedangkan Allah sudah memberi petunjuk jalan yangg lurus.

(Jika Suatu hari sampai manusia mati dan tetap dalam kejahatan, maka ia akan masuk ke dalam garis takdir-Nya yaitu masuk Neraka) .

-Manusia menjadi miskin (miskin lahir batin), maka itu bukan takdir, tapi Allah telah memberi garis garis besar petunjuk manusia untuk kaya, yakni dengan ikhtiar / usaha.

Nah, jika ia miskin, maka pasti ada yang salah dari manusianya, maka akhirnya ia masuk ke dalam sistem ketetapan garis garis “MISKIN”, dsb….

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. “,(QS.13.Ar Ra’d:11)

Juga renungi : (QS.Ar-Ruum:36-37)

-Manusia menjadi sesat / ingkar / jahat, maka itu bukan takdir bagi orang tsb, tetapi manusia itu sendiri yang memilih pilihannya ke jalur takdir sesat.

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”(QS.76.Ad-Dahr/Al Insaan:3)

Cara Merubah Takdir yang telah ditetapkan Allah :

Allah yang menetapkan takdir kita, maka Allah juga memiliki kuasa untuk merubahnya, artinya takdir baru bagi kita. Mengubah takdir artinya Allah menggantinya dengan takdir baru. Tetap, Allah yang menetapkan takdir.
1. Cara pertama ialah dengan berdo’a seperti yang dijelaskan pada hadits :
Hadits dari Imam Turmudzi dan Hakim, diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi SAW Bersabda : “Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdo’a, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya do’a bermanfa’at bagi sesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak taqdir kecuali do’a, maka berpeganglah wahai hamba Allah pada do’a”. (HR Turmudzi dan Hakim)

2. Cara Kedua adalah bersedekah. Rasulullah SAW pernah bersabda : “Silaturrahmi dapat memperpanjang umur dan sedekah dapat merubah taqdir yang mubram” (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Imam Ahmad)

Bisa jadi kita akan menagalami celaka atau mengalami kerugian, namun bisa jadi tidak terjadi karena kita melakukan sedekah. Oleh karena itu, mari kita tingkatkan sedekah, mudah-mudahan kita terhindar dari takdir-takdir yang tidak kita sukai dan diubah oleh Allah menjadi takdir yang menambah kebaikan bagi kita.

3. Cara Ketiga adalah bertasbih. Ada hadits yang diriwayatkan dari Sa’ad Ibnu Abi Waqosh, Rasulullah bersabda :

Maukah kalian Aku beritahu sesuatu do’a, yang jika kalian memanfa’atkan itu ketika ditimpa kesedihan atau bencana, maka Allah akan menghilangkan kesedihan itu?  Para sahabat menjawab : “Ya, wahai Rasululullah, Rasul bersabda “Yaitu do’a “Dzun-Nun : “LA ILAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINADH-DHOLIMIN” (Tidak ada Tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk diantara orang-orang yang dholim”). (H.R. Imam Ahmad, At-Turmudzi dan Al-Hakim)

4. Cara keempat ialah dengan bershalawat ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ubay Ibnu Ka’ab, bahwa ada seorang laki-laki telah mendedikasikan semua pahala sholawatnya untuk Rasulullah SAW, maka Rasul berkata kepada orang tersebut : “Jika begitu lenyaplah kesedihanmu, dan dosamu akan diampuni(H.R Imam Ahmad At-Tabroni)

Saat dalam kesedihan, teruslah bershalawat. Rasulullah SAW satu satunya hamba Allah yang diberi hak prerogatif yang dapat memberikan safaat / memberi pertolongan keselamatan. Dengan kita rajin bershalawat efeknya akan kembali kepada kita, diantaranya dilenyapkannya kesedihan kita. Dan Shalawat juga sebagai bukti cinta kita kepada Rasulullah SAW.

Jadi, jangan pernah berhenti berdo’a dan berusaha(ikhtiar). Seburuk apa pun kondisi yangterjadi, semuanya masih bisa berubah. Bagaimana pun pahitnya pengalaman kita dimasa lalu, masih bisa berubah. Optimis selalu  bisa mengubah takdir Anda menjadi lebih baik.

Janganlah ada alasan bahwa semua kelemahan, kesedihan, dan kemiskinan adalah sudah menjadi takdir. Yang lalu biarlah berlalu, itu sudah takdir kita. Sekarang, mari guratkan harapan agar Allah mengubah takdir pahit menjadi takdir manis.

“Harapan dapat membuat orang tetap hidup, selamat)”, maka berdo’alah dan teruslah berusaha.

Read more: https://www.motivasi-islami.com/rahasia-mengubah-takdir/#ixzz4hOVxLYcH
Maka,
Marilah kita menulis takdir kita sendiri menuju GARIS GARIS KETETAPAN KESELAMATAN YANG DIRIDHOI-NYA…

Salam Cahaya-Nya…

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Jatiwaringin, 17 Juni 2013

CopyRights@2013

Maraji’ / Reff.:

-KH.M.Syamsuddin-Kranggan-Jateng
-Abah Sang Pencerah Kota Tegal
-Al-Qur’an terjemah DEPAG R.I
http://kamarudintoyoas-sabahi.blogspot.com/2011/11/qadha-dan-qadr-menurut-ahli-sunnah-wal.html.
– Hadis Arbain an-Nawawi
-Asas Akidah al-Islam,
-Kitab Tijaanud Daraarii ( Sifat 20 )
*Telah direview dan diperbaiki paragraf kalimat serta penambahan khasanahnya tanpa mengurangi, menghilangkan konteks maupun maknanya, pada Rabu, 17 M ei 2017