BOLEHKAH MENULISKAN KATA SALAM, SHALAWAT DAN DO’A  DENGAN DISINGKAT DAN MASALAH TYPO ?

BOLEHKAH MENULISKAN KATA SALAM, SHALAWAT DAN DO’A DENGAN DISINGKAT DAN MASALAH TYPO ?

BOLEHKAH MENULISKAN KATA SALAM, SHALAWAT DAN DO’A,DENGAN DISINGKAT DAN MASALAH TYPO ?

singkatan

DAFTAR ISI:

  • LATAR BELAKANG
  • HUKUM MENYINGKAT KATA SALAM, SHALAWAT DAN SEJENISNYA.
  • MASALAH TYPO
  • KESIMPULAN

HUKUM MENYINGKAT KATA SALAM, SHALAWAT DAN SEJENISNYA

DAN MASALAH TYPO

bismillah

LATAR BELAKANG

Di media sosial sering kita mendapat pesan dari teman atau dari orang orang yang menyebarkan pesan yang berisi ajakan untuk tidak menulis / mengucapkan salam, shalawat dan sejenisnya dengan disingkat yang diklaim berakibat salah makna secara fatal. Dan biasanya diembel-embeli dengan berbagai dalil dan tafsyir, yang menekankan bahawa islam itu harus begini begitu, jangan mengkuti budaya kafir dan sebagainya. Sehingga bagi umat yang menerima pesan tersebut serta merta langsung membagikan / menyebarkannya kepada lainnya, tanpa mendasari ilmu. Efek dari hal tersebut membuat kebingungan dan bertanya tanya dalam hati. Dan bagi sebagian lainnya tanpa berfikir langsung menyebarkannya tanpa reserve.

Berikut contoh selebaran yang dibagikan (share) hingga menjadi berantai dan menyebar di sosial media (sosmed) :

*GANTI UCAPAN KITA DENGAN DOA.*

Jangan ucapkan ‘0k’, ucapkan “In syaa  Allah”(- اللَّهُ شَاءَ إِنْ -)

Jangan ucapkan “wow”, ucapkan “SubhaanAllah”(- اللَّهُ سُبْحَانَ -)

Jangan ucapkan “hebat”, ucapkan “Maa syaa Allah”(- مَاشَآءَاللّهُ -).

Jangan ucapkan “saya baik2 saja”, ucapkan “Allhamdulillah”(- اللَّهُ الْحَمْدُ -)

Jangan ucapkan “Terimakasih”, ucapkan “Jazaka (ki,kumu) llahu Khairan”(- خَيْرًا اللهُ جَزَاك -)

Jangan ucapkan “Hati2 ya…sampai jumpa”, ucapkan “Fii Amanillah”(- اللَّهُ أَمَانِ فِي -)

Jangan ucapkan “.Hello”, ucapkan “Assalamu alaikkum Warahmatullah”(- اللهِ وَرَحْمَةُ عَلَيْكُمْ السَّلاَمُ -)

Doa yg indah untuk berterima kasih pada Allah, pada semua kesempatan.

“Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika  wa husni  ‘ibadatika”

‎ ‎عِبَادَتِكَ وَحُسْنِ وَشُكْرِكَ ذِكْرِكَ عَلَى أَعِنِّى اللَّهُمَّ

Mari kita sama-sama membetulkan :

  • Aamiin,
  • In Syaa Allah , dan
  • Menyingkat kata Assalamu’alaikum.

Dalam bahasa Arab ada 4 kata amin yg berbeda makna :

  • – Amin = Aman
  • – Aamin = Meminta perlindungan
  • – Amiin = Jujur
  • – Aamiin = Ya Allah, kabulkanlah do’a kami

Kita seharusnya tidak menulis :

  • *Insya Allah* = Menciptakan Allah (naudzubillah)

Tapi pastikan kita menulis :

  • *In Syaa Allah = dengan izin Allah

Assalamualaikum, jgn disingkat, karena ;

  1. As = Orang bodoh ; keledai
  2. Ass = Pantat
  3. Askum = Celakalah kamu
  4. Assamu = Racun
  5. Samlekum = Matilah kamu
  6. Mikum = dari bahasa Ibrani, Mari Bercinta.

Salam pendek, Salam sedang dan Salam panjang telah dicontohkan oleh Nabi  dan tidak merubah  makna aslinya :

  • *Salam pendek* : “Assalamualaikum”. (Dengan 10 kebaikan).
  • *Salam sedang* : “Assalamualaikum warahmatullah”. (Dengan 20 kebaikan).
  • *Salam panjang* : “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. (Dengan kebaikan sempurna).

Dengan penjelasan ini, mudah-mudahan tidak ada lagi yang menyingkat karena dapat merubah maksud.

– Bila menurut anda ini  ada manfaatnya,  beritahu ke yg lain.

SHARE JIKA INGIN YANG LAIN DAPAT MANFAAT.

*Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala, seperti org yg melakukannya.*(HR. Muslim 3509).

*Semoga kita termasuk hamba Allah yang memperoleh kebaikan dari membaca artikel Islami serta dapat mengamalkan-nya.*

Demikian rangkaian selebaran yang sering beredar dan diedarkan ditengah komunitas dunia sosial media (medsos). Maka bagi insan islam yang cerdas dan mendasari segala sesuatunya dengan ilmu pengetahuan tentu dalam dirinya akan melontarkan ide pertanyaan:

“Benarkah demikian?”

Atau jika divisualisasikan dengan dialek lokall kira-kira akan seperti ini:

”Ada ape lagi, nih. Bener kaga’ neh inpo. Kayenye ribet amat agama islam”.

Begitu kira-kira kasak kusuk yang lazim terjadi ditengah umat.

Baiklah saudaraku, ikhwan fillah, sobat dumay dimana saja berada. Mari bersama sama kita membahas perkara ini dengan melandasi ilmu pengetahuan, dengan akal logika. Bukan dengan okol (asal).

Kita mulai dari situasi yang sering terjadi (realitas) ditengah umat, di dunia interaksi sosial media.

  1. Kebiasaan / kelaziman orang dalam mengetik atau menulis kata kata dengan disingkat.

Sudah menjadi kebiasaan / kelaziman orang dalam dunia ketik mengetik atau menulis kata kata, itu sering dengan disingkat. Baik yang bersifat komunikasi surat menyurat resmi atau pun personal, maka sudah menjadi kelaziman. Hanya bedanya untuk yang resmi masih diberi penjelasan dengan menambah kalimat penjelasannya didalam tanda kurung atau dengan foot note. Sedang di dunia sosial media terutama dunia perpesanan online (chating), maka penyingkatan kata tidak terelakkan. Nah, kata kata dengan ketikan yang disingkat singkat itu kalimat umum. Bagaimana jika kata kata yang disingkat itu adalah kalimat salam, shalawat dan sejenisnya?

Kita semua tentu telah mengerti akan sebuah kaidah dasar, bahwa kalimat atau lafal-lafal kalam Ilahi (ayat ayat) dalam Al-Qur’an, yang berhuruf dan berbahasa Arab dan didalamnya berisi kalimah salam, shalawat dan doa, maka rangkaian kalimat ayat ayatnya, hurufnya itu tidak dapat dan tidak boleh dikurangi atau ditambah barang satupun, sebab dapat merubah isi dan makna. Dengan demikian jika seseorang atau kumpulan orang hendak mencetak serta memperbanyak Al-Qur’an, maka harus ditulis / dicetak dengan sempurna sesuai aslinya tanpa kurang dan lebih. Dan begitu pula bagi para qira’ah (pembaca Al-Qur’an), maka harus diucapkan (melafalkan) dengan langkap dan sempurna, tidak menyingkatnya bahkan salah membacanya. Begitu pula rangkaian Al-hadits, tidak boleh dikurang dan tambahi dari teks aslinya.

Itu teks asli ayat ayat Al-Qur’an ataupun Hadits. Sehingga lafal salam, Sholawat dan lainnya harus tertulis dan diucapkan lengkap, sempurna seperti bacaan : “Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Demikian juga mengucapkan salam harus diucapkan lengkap, sempurna seperti: “Assalaamu’alaikum warahmatullaaahi wa barokaatuhu”.

Namun permasalahannya adalah banyak kita dapati kaum muslimin yang menyingkat-nyingkat lafal salam, shalawat dan sejenisnya tersebut, untuk sebuah alasan kepraktisan demi menyingkat waktu dalam penulisan atau pengetikan. Dan saya meyakini bahwa anda sama sekali tidak berniat meremehkan keagungan ayat-ayat tersebut.

Terbukti pada kenyataannya, tidak ada seorang muslimpun yang mengucapkan / menjawab doa dengan disingkat. Setiap muslim ketika memberi salam kepada saudaranya dengan ucapan maka iapun membalas ucapannya dengan sempurna, demikian juga saat bersholawat kepada Nabi, kita mengucapkan doa sholawat tersebut dengan sempurna.

Coba kita ilustrasikan:

Si A kepada si B: “Assalaamu’alaikum”

Si B tentu akan membalas: ”Wa’alaikum salam”.

Apa ada yang begini:

Si A kepada si B: “Assalaamu’alaikum”

Si B membalas: ”kumsal”. Ada yang begitu ???

Lagi:

Apa ada yang begini:

Si A menulis salam (disingkat) kepada si B: “Ass..”

Si B membalas: ”Bukan, gue bukan As, gue Katmi”. Ada yang begitu ???

Jika demikian perkaranya berarti ini hanya tentang menyingkat kata-kata dalam tulisan / pengetikan di dunia interaksi komunikasi publik, bukan dalam ucapan, bukan dalam pembuatan atau pencetakan Al-Qur’an dan kumpulan Hadits. Nah, jika realitasnya seperti itu, apakah hukumnya haram, disiksa, masuk noraka, digebugin malaikat? Ataukah dibolehkan dan sesuatu yang ma’fu (kelaziman dialek) ??!

Sobat, mari ikuti dan renungi risalah ini hingga selesai, saya tidak akan meminta upah ataupun  hendak membuka lipatan bekas bungkus permen untuk kemudian berkeliling ke hadapan anda berharap sumbangan   sekedar koin  belel, itupun bekas untuk kerokan.

Pembahasan berikutnya adalah tentang:

  1. Kebiasaan / kelaziman orang dalam mengetik atau menulis kata kata dengan terjadi typo

miwbrrhts4zlf2cb7lpv

(kumparan.com)

Jika perkara yang telah disebut diatas adalah masalah menyingkat kalimat salam, shalawat dan sejenisnya, maka berikut ini adalah permasalahan lainnya, yaitu tentang typo. Sudah kita ketahui bersama bahwa dalam interaksi dunia komunikasi, orang lazim melakukan kesalahan dalam menulis atau mengetikkan kata kata.

Seperti dalam rangkaian komunikasi penuh typo, sebagai berikut:

“slaam unutk kleuraga… seaht slealu…ttpatp snmgaat “.

(Tulisan normal: Salam untuk keluarga, sehat selalu, tetap semangat).

Sadar atau tidak anda baru saja membaca sebuah rangkaian kalimat / tulisan yang berantakan (typo). Namun anda mampu menerjemahkannya. Inilah kehebatan otak manusia, karunia Tuhan Yang Maha Sempurna. Maka bagi yang bisa membaca model tulisan typo tersebut, berarti otak kanan dan kiri anda masih berfungsi dengan baik . Maka bagi yang sering menuliskan dan mengetik salah (typo), tidak musti (keharusan) dikoreksi.

  1. HUKUM MENYINGKAT KATA SALAM, SHALAWAT DAN SEJENISNYA.

Pendapat para Ulama besar

Berikut berbagai pendapat dari para ulama besar, yang juga dilansir oleh sebuah situs media dakwah online, firanda.com sebagai berikut:

Syaikh Al-Albani rahimahullah pernah ditanya tentang permasalahan ini :

Pertanyaan :

ما حكم كتابة الحرف ( ص ) بعد لفظة النبي صلى الله عليه وسلم في الكتاب.؟
Apa hukum penulisan huruf shad (ص) setelah penulisan lafal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di buku?

Jawab :

لا مانع من ذلك، بخلاف ما يفعله بعضهم قديما (صلعم) إختصار أوسع،أكثر حرفا من (ص) لأن ذلك أُوهم أنها كلمة،وبعض العامة والجهلة لا يفقهها،وأما (ص) فأصبحت رمزا للصلاة على النبي صلي الله عليه وسلم، لذلك أنا ما أرى مانعا من إستعمال هذه اللفظة لأنها لا يُسئ فهمها

“Tidak mengapa, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sebagian orang dahulu dengan menulis singkatan “صلعم” (yaitu ringkasan dari صـلـى الله عليه وسلم -pen), yaitu bentuk ringkasan yang lebih luas dan lebih banyak hurufnya daripada (ص), karena tulisan (صلعم) mengesankan adalah sebuah kata (shol’am), dan sebagian orang awam serta orang-orang bodoh tidak memahaminya (kalau itu hanya singkatan-pen). Adapun singkatan (ص) maka menjadi simbol bagi sholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karenanya aku memandang tidak mengapa menggunakan lafal ini (ص )-(sebagai ringkasan shalawat-pen) karena tidak disalah fahami” .

(Transkrip dari kaset Silsilah Al-Hudaa wa An-Nuur, kaset no 165, dapat lihat di:http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=6110)

Sangat jelas dari perkataan Syaikh Al-Albani bahwasanya jika lafal salam, shalawat dan sejenisnya dalampenulisadigantidengansimbol (di singkat) tidak menimbulkan kesalah fahaman bagi orang awam maka tidak mengapa untuk digunakan. Karena tujuan dari simbol tersebut bukanlah untuk dibaca, tapi yang dibaca adalah sholawatnya secara lengkap. Simbol tersebut hanyalah sebagai pemberitahuan gelar / atribut (untuk salam, sholawat dan sejenisnya didalam penulisan terbatas – red).

Dari jawaban Syaikh Al-Albani di atas maka bisa kita simpulkan akan bolehnya menyingkat shalawat kepada Nabi dengan sinkatan / simbol huruf ”shad” ( ص ). Itu risalah kitab dalam bahasa Arab. Sedang dalam tulis menulis dengan bahasa lain seperti dalam bahasa Indonesia, maka singkatan shalawat atas nabi menjadi “SAW”, yang sudah lazim digunakan oleh kalangan umat islam diIndonesia dan tentunya semua orang telah tahu cara mengucapkannya yaitu, shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga menyingkat salam dengan “Ass Wr Wb”, atau menjawab salam secara tulisan tersebut dengan “Wlkm wr wb”, atau yang semisalnya yang tentunya telah dipahami maksudnya oleh pembaca.
Walaupun pendapat Syaikh Al-Albani rahimahullah ini ada juga ulama yang tidak sependapat. Dimana sebagian ulama yang kontra tersebut memandang bahwa penyingkatan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makruh.

(Dapat dilihat fatwa-fatwa mereka)  di :

http://www.artikelmuslim.com/2012/02/fatwa-ulama-seputar-hukum-menyingkat.htmlhttp://www.konsultasisyariah.com/hukum-menyingkat-tulisan-shalawat-nabi/ 

Sementara dari SaikhAs-Sakhoowi rahimahullah (wafat 902 H) dalam kitabnya Fathul Mughiits (Syarah 1000 bait Al-Haafiz al-‘Irooqi), lebih cenderung kepada pendapat bahwa penyingkatan tersebut hanya masuk pada kategori خِلاَفُ الأَوْلَى “……”, yaitu ”Menyelisihi yang lebih utama”, dan tidak sampai pada kategori makruh. Berikut pernyataan beliau rahimahullah:
واجتنب أيها الكاتب الرمز لها أي للصلاة على رسول الله صلى الله عليه و سلم في خطك بأن تقتصر منها على حرفين ونحو ذلك فتكون منقوصة صورة كما يفعله الكسائي والجهلة من أبناء العجم غالبا وعوام الطلبة فيكتبون بدلا صلى الله عليه وسلم ص أو صم أو صلم أو صلعم فذلك لما فيه من نقص الأجر لنقص الكتابة خلاف الأولى.
وتصريح المصنف فيه وفيما بعده بالكراهة ليس على بابه …لكن وجد بخط الذهبي وبعض الحفاظ كتابتها هكذا صلى الله علم وربما اقتفيت أثرهم فيه بزيادة لام أخرى قبل الميم مع التلفظ بهما غالبا والأولى خلافة

“Wahai sang penulis, hendaknya engkau menjauhi penulisan simbol untuk bersholawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tulisanmu, yaitu engkau menyingkatnya menjadi dua huruf dan yang semisalnya. Maka jadilah bentuk sholawatnya menjadi berkurang, sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Kisaai, orang-orang jahil dari orang-orang ‘ajam secara umum, dan juga para penuntut ilmu yang awam. Sebagai pengganti صلى الله عليه وسلم mereka tulis (ص) atau (صم) atau (صلم) atau (صلعم). Hal ini dikarenakan akan mengurangi pahala dikarenakan kurangnya tulisan. Ini adalah “menyelisihi yang lebih utama”.

Maka pernyataan dialog diatas adalah tentang saran untuk penulisan simbol shalawat hendaknya tidak satu karakter, sebaiknya ditambah setidaknya dua atau empat huruf, shad dan mim atau shad-lam-‘ain-mim (……./………). Dengan demikian dialog tersebut bukan tentang penolakan untuk penyingkatan tulisan shalawat.

Menambahkan pula sang penulis buku risalah pendapat para ulama tentang penyingkatan salam tersebut, Yaitu Al-Haafiz Al-‘Irooqi rahimahullah, di bait ini dan juga pada bait setelahnya adalah penegasan akan makruhnya ”Menyelisihi yang lebih utama”, (seperti tersebut diatas). Maka bukanlah pada makna makruh yang berkaitan dengan hukum syar’i. (pen.).

Kemudian dari pendapat lainnya adalah:

“Telah ditemukannya khot (tulisan tangan) Al-Imam Adz-Dzahabi dan juga sebagian para huffaz penulisan shalawat kepada Nabi,dengan penulisan simbol / penyingkatan seperti ini: (صلى الله علم), dan terkadang aku mengikuti cara mereka (dalam penyingkatan-pen) dengan menambah huruf “laam” yang lain sebelum huruf “miim” (yaitu menjadi: صلى الله عللم -pen) dengan biasanya disertai melafalkan sholawat dan salam. Dan yang lebih utama adalah tidak melakukannya”

(Fathul Mughiits 3/70-71, tahqiq Ali Husain Ali, cetakan Wizaaroh Asy-Syu’uun Al-Islaamiyah wal Awqoof wa Ad-Da’wah wa Al-Irsyaad)

Dengan demikian pernyataan dari SaikhAs-Sakhoowi, yaitu :makruhnya (hal ini) maka bukanlah pada makna biasanya, menunjukkan beliau tidak setuju bahwa penyingkatan shalawat dalam tulisan dihukumi makruh. Sehingga beliau menafsirkan kata “makruh” yang disebutkan oleh Al-Haafiz al-‘Irooqi bahwa makruh tersebut bukan pada makna makruh yang berkaitan dalam hukum fikih syar’i. Dengan demikian pernyataan Saikh As-Sakhoowi hanya memandang makruh tersebut dalam adab saja bukan dalam hukum syar’i. Karenanya beliau menegaskan bahwa beliau juga melakukan penyingkatan tersebut terkadang akan tetapi hanya dalam tulisan, dan tatkala beliau menyingkat dalam tulisan mulut beliau tetap mengucapkan sholawat dan dan salam kepada Nabi dalam bentuk ucapan penuh. Oleh karena itu beliau tetap memandang bahwa menyingkat hanyalah menyelisihi yang lebih utama. Dengan kata lain, ”Menyingkat lafal salam, shalawat dan sejenisnya” dari tulisan penuh itu masih dapat ditolerir (tidak termasuk menyalahi hukum syar’i  – red). 

Resume:
Pendapat As-Sakhoowi rahimahullah ini similar dengan pendapat Syaikh Al-Albani, bahwasanya penyingkatan shalawat hukumnya boleh, hanya saja menyelisihi yang lebih utama, karena tentunya dengan menulisnya secara lengkap akan mendapatkan pahala menulis sholawat tersebut, selain juga mendapatkan pahala mengucapkan secara lisan sholawat tersebut.

Pendapat Syaikh As-Sakhowi dan Al-Albani cukup kuat (logis), mengingat :

Pertama : “Makruh” salah satu bentuk vonis hukum dalam hukum-hukum fikih. Tentunya vonis tersebut butuh dalil, sebagaimana pernyataan “mubaah”, “sunnah”, “haram”, dan “wajib” juga butuh dalil. Dan dalam hal penyingkatan shalawat maka hukum asalnya adalah mubaah (boleh), kecuali ada dalil yang memalingkan kepada makruh.

Kedua : Tujuan dari tulisan adalah dibaca, karenanya huruf-huruf untuk mengungkapkan sesuatu ucapan bisa saja berbeda-beda. Untuk mengungkapkan sholawat kepada Nabi yaitu dengan ucapan (صلى الله عليه وسلم) bisa dengan menggunakan huruf Arab (huruf hijaiyah) atau dengan huruf latin, atau dengan huruf cina atau jepang, atau huruf jawa kuno, dll. Yang intinya dibuatnya tulisan adalah untuk dibaca, jika suatu tulisan sudah dipahami maksud bacaannya maka telah tercapai tujuan tulisan tersebut, karena tulisan adalah wasilah/sarana saja, tujuannya adalah bacaan. Jika tujuannya telah tercapai dengan tulisan huruf apapun maka wallahu A’lam tidak mengapa.

  • Karenanya syaikh Al-Albani rahimahullah memandang tidak mengapa jika lafal sholawat disingkat menjadi (ص) karena orang yang membacanya sudah paham tujuan dari tulisan huruf shood ini, yaitu untuk bershalawat.
  • Akan tetapi beliau kurang setuju dengan singkatan (صلعم) karena dikawatirkan akan disalah pahami sehingga akan dibaca oleh orang yang tidak mengerti dengan “Shol’ama” yang tidak tahu bahwa itu adalah singkatan dari sholawat kepada Nabi. Artinya beliau kawatir tujuan dari tulisan tidak tercapai.
  • Dengan demikian jika tujuan dari tulisan huruf-huruf telah tercapai maka hukumnya tidak mengapa. Sebagaimana tulisan SAW, saya rasa rata-rata orang akan faham maksudnya adalah untuk bersholawat kepada Nabi dengan mengucapkan “Shallallahu ‘Alaihi Wasallam”, dan bukan dibaca “saw’.

Ketiga : Jika kita menjadikan teks tulisan yang tertera sebagai tujuan maka yang hanya bisa mengungkapkan sholawat kepada Nabi dengan tepat adalah huruf Arab hijaiyah. Adapun huruf latin, huruf jawa kuno, huruf jepang, apalagi huruf cina tentu tidak akan bisa mengungkapkan sholawat dengan tepat. Sebagai contoh :

  • di dalam bahasa Inggris, atau bahasa, jawa, dan juga huruf cina dan jepang, kemungkinan besar tidak ada yang bisa mewakili huruf (ع) ‘ain, demikian juga huruf (ص).
  • Karenanya kalau kita hanya bersandar kepada teks yang tertulis dengan melalaikan bahwa teks tersebut hanyalah sarana dan bukan tujuan, maka kita katakan penulisan sholawat dalam bahasa Indonesia sebagai berikut merupakan kesalahan : “Salalahu alaihi wa salam”. Ini adalah kesalahan karena jika dibaca leterlek maka tidak akan mewakili sholawat yang benar, karena tidak mewakili huruf shood, dan malah cenderung mewakili huruf siin, demikian juga tidak mewakili huruf ‘ain, tetapi lebih cenderung mewakili huruf hamzah, demikian juga huruf lam nya tidak didouble. Yang paling mendekati kebenaran adalan “Shollallahu ‘alaihi wa sallam”

Keempat : Dari penjelasan poin di atas maka saya kurang setuju dengan penghukuman sebagian orang yang menyatakan bahwa menyingkat (السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ) dengan Ass wr wb adalah kesalahan, dikarenakan makna “Ass” dalam bahasa Inggris adalah makna yang jorok. Hal ini dikarenakan sbb :

  • Tujuan dari tulisan adalah bacaan, dan tujuan penulisan “Ass wr wb” bukanlah maksudnya dibaca secara leterlek “Ass”. Saya rasa ini dipahami oleh semua orang yang berakal. Demikian juga kalau tujuannya hanya membaca teks secara leterlek maka bagaimana mau dibaca “wr” dan “wb”??
  • Penulisan singkatan tersebut (yaitu Ass wr wb) dimaksudkan adalah dalam bahasa Indonesia, karenanya janganlah dibawa kepada makna bahasa-bahasa yang lain. Jika caranya demikian maka bisa jadi kita akan terjerumus dalam banyak kesalahan. Sebagai contoh :
  1. kata “butuh” dalam bahasa Indonesia adalah maknanya “perlu”, tapi dalam bahasa Malaysia maknanya konon adalah “kemaluan”.
  2. Demikian juga misalnya kata “naik” dalam bahasa Indonesia artinya beranjak dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi, akan tetapi dalam bahasa Arab artinya “berhubungan tubuh/seks”
  • Jika kita membawa tulisan Indonesia ke makna-makna dalam bahasa lain, seperti Ass dalam bahasa inggris artinya “pantat” maka jadilah penyingkatan ini menjadi haram, bukan hanya makruh.
  • Demikian juga mungkin saja kata “SAW” dalam bahasa-bahasa yang lain bisa jadi bermakna buruk. Padahal mayoritas ulama hanya menyatakan hukumnya sekedar makruh dan tidak sampai pada derajat haram. Cobalah renungkan.

Kelima : Sering kita butuh pada singkatan-singkatan tersebut dalam menulis sms dalam rangka untuk menghemat biaya dan menghemat waktu. Karena sebagaimana kita ketahui bersama bahwasanya kecepatan mengucapkan (berbicara dengan lisan) lebih cepat daripada kecepatan pengungkapan dengan tulisan.

Keenam : Kita juga mendapati para ulama melakukan penyingkatan, seperti :

  • (نا) yang merupakan singkatan dari (حدثنا),
  • demikian juga misalnya kata (بسملة) yang merupakan singkatan dari (بسم الله الرحمن الرحيم),
  • juga kata (حمدلة) singkatan dari (الحمد لله),
  • juga kata (حيفلة) singkatan dari (حي على الفلاح)
  • juga kata (حولقة) yang merupakan singkatan dari (لا حول ولا قوة إلا بالله).

Ketujuh : Diriwayatkan bahwsanya sebagian ahlil hadits menuliskan kata “Nabi” tanpa menuliskan (صلى الله عليه وسلم), akan tetapi hanya mencukupkan mengucapkan sholawat kepada Nabi dengan lisan tidak dengan tulisan. Jika perkaranya dibolehkan maka tentu menulis singkatan sholawat dalam rangka untuk mengingatkan pembaca agar bersholawat juga dibolehkan. Wallahu A’lam bis Showaab.

  1. Contoh dari kitab kitab salaf (klasik) yang menyingkat lafal salam atau shalawat

-photo

  1. Jenis Komunikasi dan Hakekatnya

A.Komunikasi Baku risalah

Komunikasi baku risalah adalah komunikasi klausual (bahasa hukum) yang diterapkan penulisan maupun pengucapannya tertulis dan tersusun sempurna menurut kaidah tata bahasa baku dan resmi serta orisinil dari sumber asalnya. Sehingga ketika hendak disalin atau digandakan guna kepentingan rujukan atau pustaka, maka tidak boleh ada distorsi barang satu hurufpun.

Jenis komunikasi baku:

  1. Ayat ayat Al-Qur’an
  2. Klausul Hadits
  3. Kitab hukum dan undang undang
  4. Formula rumus maupun bahasa pemrograman.

 

B.Komunikasi Praktis percakapan

Komunikasi praktis percakapan adalah komunikasi dialektikal (bahasa gaul) yang dipengaruhi oleh budaya, kebiasaan maupun bahasa masing masing yang maksud dan tujuannya akan dimengerti dan dipahami oleh masing-masing.Jika jenis komunikasi praktis (gaul) dikaitkan dengan kaidah hukum baku syareat, seperti hujjah dalam selebaran tersebut, maka akan terjadi banyak kerancuan, ketidak nyambungan dalam komunikasi bahkan dapat menimbulkan konflik ataupun kesalah pahaman

Coba kita simulasikan, berikut :

*GANTI UCAPAN KITA DENGAN DOA.*

  1. Jangan ucapkan ‘0k’, ucapkan “In syaa Allah”(- اللَّهُ شَاءَ إِنْ -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Pak Eddy (Atasan si Anto): ”Anto, tolong antarin file karyawan ke saya”.

– Anto (Karyawan) : ” In syaa  Allah, Pak”.

Dari dialog tersebut, kira kira ’nyambung’ tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri. (apalagi di sosial media seperti chat).

  1. Jangan ucapkan “wow”, ucapkan “SubhaanAllah”(-  سُبْحَانَاللَّهُ  -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Arman (Kekasih Anna): ”Sun dwong yang”.

– Anna (Kekasih Arman) : ” SubhaanAllah”.

Dari dialog tersebut, kira kira ’nyambung’ tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “hebat”, ucapkan “Maa syaa Allah” (- مَاشَآءَاللّهُ -).
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Fina (Anak): ”Ibu, Fina udah bisa jawab soal nomer 5”.

– Sukesih (Ibunda Fina) : Maa syaa Allah”.

Dari dialog tersebut, kira kira ’pas’’ tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “saya baik2 saja”, ucapkan “Allhamdulillah” (- الْحَمْدُاللَّهُ  -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online, seperti ini dialognya :

– Narto (Kawan Fredi): ”Di, kamu lolos ga dari kejaran polisi, jangan lupa hasil jambretan bagi dua”.

– Fredi (Kawan Narto) : Allhamdulillah aman, tenang aje”.

Dari dialog tersebut, kira kira patut tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “Terimakasih”, ucapkan “Jazaka (ki,kumu) llahu Khairan” (- خَيْرًا اللهُ جَزَاك -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi online antara Toko online dengan customer melalui chat box online, seperti ini dialognya :

– Pembeli online: ”konfirmasi, saya pesan prodak no 345 dengan pembayaran COD”.

– Toko online : ” Jazakallahu Khairan”, telah bertransaksi dengan kami, pesanan anda akan segera diproses.

Dari dialog tersebut, kira kira pas tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “Hati2 ya…sampai jumpa”, ucapkan “Fii Amanillah”(- اللَّهُ أَمَانِ فِي -)
    • Jawab :
  • Bagaimana jika ada linteraksi komunikasi, seperti ini dialognya :

– Arini (teman Susi): ”Susi, dah dulu ya, gue mo klabing dolo”.

– Susi (teman Arini) : ” Fii Amanillah”.

Dari dialog tersebut, kira kira patut tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Silahkan bayangkan sendiri.

  1. Jangan ucapkan “.Hello, halo, hai, woi, dsb”, tapi ucapkan “Assalamu alaikkum Warahmatullah” (- اللهِ وَرَحْمَةُ عَلَيْكُمْ السَّلاَمُ -)
    • Jawab :
  • Frasa kata “Assalamu alaikkum Warahmatullah” terdiri dari 29 huruf dan butuh waktu 29 detik untuk mengetiknya (bisa lebih jika anda masih memikirkan ejaan ataupun typo dalam menulisnya). Saat anda sedang dalam situasi darurat dan harus segera menghubungi seseorang melalui media sosial, maka berkomunikasi dengan mode pengetikan sejumlah 29 huruf serta menghamburkan waktu selama 29 detik itu akan membuat anda sakit hati sebab kehilangan momen penting. Sedang jika menggunakan frasa kata ”Halo”, maka cukup tekan 4 huruf dan dalam 1 detik pesan anda sampai.
  • Lainnya, bagaimana jika ada linteraksi komunikasi antara orang Indonesia dengan orang asing (bule), seperti ini dialognya :

– Fendi berkenalan dengan orang asing dan memulai percakapannya :

””Assalamu alaikkum Warahmatullah””.

Dari dialog tersebut, kira kira efektif dan pas tidak jika setiap komunikasi diterapkan dengan kaidah hukum baku syareat? Cobala renungkan akan semua ini.

Berikutnya, mari kita membahas kalimat selebaran yang ini.

“Mari kita sama-sama membetulkan : Aamiin, In Syaa Allah , dan Menyingkat kata Assalamu’alaikum”.

Dalam bahasa Arab ada 4 kata amin yg berbeda makna :

  • – Amin = Aman
  • – Aamin = Meminta perlindungan
  • – Amiin = Jujur
  • – Aamiin = Ya Allah, kabulkanlah do’a kami

–           Jawab :

Literatur dan kaidah tata bahasa Arab dengan bahasa Indonesia sangat jauh berbeda. Saat frasa kata ”amin” ( أَمِيْنٌ) dalam huruf Arab yang mengandung berbagai makna jika dengan ditandai harakat, maka kata amin dalam bahasa Indonesia tetap satu kata ”A-M-I-N”. Orang Indonesia tidak akan ambil pusing dengan multi makna kata tersebut, sebab telah familier lafal itu sebagai ucapan sautan dalam shalat dan pembacaan do’a. Sehingga ketika ada tulisan amin tersebut, secara otomatis sudah dipahami maksud dan kapan diucapkan.

Baik, guna menambah pengetahuan, berikut kita bahas multi makna ”amin”  ( أَمِيْنٌ) dalam tata bahasa Arab, yang dilafalkan oleh bangsa Arab dan dipahami oleh orang serta dialek lokal Arab (ingat, kita orang dan bangsa Indonesia yang berdialek dan berbahasa Indonesia, tak perlu menjadi Arab)

Ada beberapa multi makna untuk kata  “Aamiin“.( أَمِيْنٌ), yang biasa kita dengar dan ucapkan dalam shalat, sebagai berikut:

Ada yang menjabarkan sebagai berikut:

  1. Amin (alif dan mim sama-sama pendek), artinya Aman, Tentram
  2. Aamin (alif panjang & mim pendek), artinya Meminta Perlindungan Keamanan
  3. Amiin (alif pendek & mim panjang), artinya Jujur Terpercaya
  4. Aamiin (alif & mim sama-sama panjang), artinya Ya Allah, Kabulkanlah Do’a Kami

Ada yang menjabarkan sebagai berikut:

  1. أَمِيْنٌ(a:pendek, min:panjang), artinya ‘orang yang amanah atau terpercaya’.
  2. أٰمِنْ(a:panjang, min:pendek), artinya ‘berimanlah’ atau ‘berilah jaminan keamanan’.

Ketika shalat, kita tidak boleh membaca “Amin” dengan dua cara baca di atas.

  1. آمِّيْنَ(a:panjang 5 harakat, mim:bertasydid, dan min: panjang), artinya ‘orang yang bermaksud menuju suatu tempat’.

Ada sebagian ulama yang memperbolehkan membaca “Amin” dalam shalat dengan bentuk bacaan semacam ini. Demikian keterangan Al-Wahidi. Imam An-Nawawi mengatakan, “Ini adalah pendapat yang sangat aneh. Kebanyakan ahli bahasa menganggapnya sebagai kesalahan pengucapan orang awam. Beberapa ulama mazhab kami (Mazhab Syafi’i) mengatakan, ‘Siapa saja yang membaca ‘Amin’ dengan model ini dalam shalatnya maka shalatnya batal.’” (At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, hlm. 134)

  1. أٰمِيْنَ(a:panjang 2 harakat karena mengikuti mad badalmin:panjang 4–6 harakat karena mengikuti mad ‘aridh lis sukun, dan nun dibaca mati), artinya ‘kabulkanlah’. Inilah bacaan “Amin” yang benar.

Read more https://konsultasisyariah.com/5467-lafal-amin-yang-benar.html

Itu lafal dalam bahasa Arab, yang merupakan lafal tetap (kalimat pasal) dalam ayat atau klausul dalam rangkaian hadits yang penjabaran serta multi maknanya diterapkan menurut fungsi dan tempatnya masing masing. Sesuai penjabaran dan penggunaan makna ‘amin’ yang telah diurai diatas yaitu mana amin yang digunakan dalam shalat, mana amin yang digunakan dalam dalil dan penerapan lainnya. Sedang ini adalah interaksi sosial, bahasa chating ataupun gaul, dalam bahasa Indonesia oleh komunitas orang Indonesia, maka tidak bisa dikaitkan dengan kaidah baku perdalilan maupun per-fiqih-an. Sebab ketika orang menulis kata amin (dalam bahasa Indonesia), entah mau dipanjangin atau bentuk pendek maka orang akan tahu maksudnya tanpa harus ‘ribet’ mengkaitkan multi makna amin yang digunakan untuk klausul hadits.(hidup kok ruwet kadang orang).

Coba jika kita simulasikan, sebagai berikut:

Sedang terjadi dialog urusan bisnis antara Bos dengan karyawan, lalu mengkaitkan amin menurut kaidah kaidah baku perdalilan::

Karyawan kepada bosnya: “Bos, sukses selalu untuk bos”.

Bos kepada karyawannya:” Aamin”.

Karyawan merespon: “wah, jangan ‘a’ panjang:bos aminnya, itu artinya meminta Perlindungan Keamanan.

Bos kepada karyawannya:”Ribet loeh….. saya pecat kamu”.

Bahasan berikutnya tentang pemahaman:

”Kita seharusnya tidak menulis’:*Insya Allah* = Menciptakan Allah (naudzubillah).

Tapi pastikan kita menulis :*In Syaa Allah =  dengan izin Allah.

Jawaban sama seperti uraian diatas:

Bahwa itu lafal dalam bahasa Arab, yang merupakan lafal tetap (kalimat pasal) dalam ayat atau klausul dalam rangkaian hadits yang penjabaran serta multi maknanya diterapkan menurut fungsi dan tempatnya masing masing. Sesuai penjabaran dan penggunaan makna ‘In Syaa Allah’ yang telah diurai diatas yaitu mana In Syaa Allah yang digunakan dalam ayat, mana In Syaa Allah yang digunakan dalam dalil dan penerapan lainnya. Sedang ini adalah interaksi sosial, bahasa chating ataupun gaul, dalam bahasa Indonesia oleh komunitas orang Indonesia, maka tidak bisa dikaitkan dengan kaidah baku perdalilan maupun per-fiqih-an. Sebab ketika orang menulis kata In Syaa Allah (dalam bahasa Indonesia), entah mau dipisah atau bentuk pendek bahkan typo, maka orang akan tahu maksudnya tanpa harus ‘ribet’ mengkaitkan multi makna Insyaa Allah yang digunakan untuk klausul hadits.(hidup kok ribet kadang orang).

Bahasan berikutnya tentang pemahaman:

Assalamualaikum, jangan disingkat karena ;

  1. As = Orang bodoh ; keledai
  2. Ass = Pantat
  3. Askum = Celakalah kamu
  4. Assamu = Racun
  5. Samlekum = Matilah kamu
  6. Mikum = dari bahasa Ibrani, Mari Bercinta.

Salam pendek, Salam sedang dan Salam panjang telah dicontohkan oleh Nabi  dan tidak merubah  makna aslinya :

  • *Salam pendek* : “Assalamualaikum”. (Dengan 10 kebaikan).
  • *Salam sedang* : “Assalamualaikum warahmatullah”. (Dengan 20 kebaikan).
  • *Salam panjang* : “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. (Dengan kebaikan sempurna).

Jawaban sama seperti uraian diatas:

Bahwa itu lafal dalam bahasa Arab, yang merupakan lafal tetap (kalimat pasal) dalam ayat atau klausul dalam rangkaian hadits yang penjabaran serta multi maknanya diterapkan menurut fungsi dan tempatnya masing masing. Sesuai penjabaran dan penggunaan makna As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum, Mikum dan sebagainya,.seperti yang telah diurai diatas yaitu mana As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum yang digunakan dalam ayat, mana As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum yang digunakan dalam dalil dan penerapan lainnya. Sedang ini adalah interaksi sosial, bahasa chating ataupun gaul, dalam bahasa Indonesia oleh komunitas orang Indonesia, maka tidak bisa dikaitkan dengan kaidah baku perdalilan maupun per-fiqih-an. Sebab ketika orang menulis kata As, Ass,  Askum, Assamu, Samlekum (dalam bahasa Indonesia), entah mau dipisah atau bentuk pendek bahkan typo, maka orang akan tahu maksudnya tanpa harus ‘rumit’ mengkaitkan multi makna frasa kata tersebut yang digunakan untuk klausul hadits.

Jika modelnya mau dikait kaitkan, maka ketahuilah dalam Al-Qur’an terdapat lafal lafal yang jika dikaitkan dengan bahasa lain akan bermakna negatif, contoh sebagai berikut:

  1. Dalam Al-Qur’an terdapat: lafal : “asu”, artinya: Timur,keelokan, padahal dalam bahasa Jawa bermakna anjing. Kemudian,
  2. La tai-asu min rahmatillah,” اللهرحمة من تيأسوا لا “(Janganlah kalian putus asa dengan rahmat Allah). padahal dalam bahasa Jawa bermakna kotoran anjing.
  • MASALAH TYPO
  1. Arti typo:

Typo berasal dari Bahasa Inggris “type” yang artinya mengetik. Karena salah dalam mengetik, tulisannya menjadi typo. Maka arti dari typo sendiri adalah “salah ketik”. (Sebagian orang yang belum mengetahui istilah typo, biasanya menyebutnya ”saltik”.

  1. Pendapat para ahli psikologi bahasa tentang typo

Menurut penelitian para ahli psikologi bahasa dan ilmu kognitif manusia dari Universitas besar dan internasional, urutan huruf dalam kata tidak penting. Cukup huruf pertama dan terakhir yang ada pada tempatnya. Kalimat bisa ditulis berantakan, tetapi kita dapat membacanya dan menangkap maksudnya. Ini disebabkan karena sistim syaraf otak ktia tidak membaca huruf per huruf, bukan kata per kata, melainkan rangkaian kalimat yang dibacanya sejak interaksi dari awal. (kelenjar syaraf di otak akan menangkap maksud pembicaraan, bukan pada hurufnya). Ini memang hal yang luar biasa.

Kecenderungan terjadi typo saat mengetik.

Kadang sering kita tidak menyadari adanya kesalahan saat mengetikkan sesuatu. Maka menurut penelitian para ahli, hal demikian itu normal.

Saat anda menuliskan kalimat di papan keyboard handphone atau komputer untuk membalas sebuah pesan atau mengetik tulisan, anda merasa telah menyusunnya sedemikian rupa sehingga maksud pesan yang disampaikan dapat segera terbaca oleh penerima dan merasa bisa dipahami.

Namun saat tulisan anda sampai ke benak pembaca, justru yang mereka dapati adalah serangkaian kalimat dan atau tulisan yang tidak berurutan hurufnya dalam satu kata, alias salah ketik seperti ilustrasi di atas.

Bagi sebagian orang, typo kadang menyebalkan hingga membuat mereka akan mengesampingkan maksud tulisan yang anda tuangkan, atau membuat tulisan anda tak selesai dibaca dan hanya menjadi sampah digital yang sia sia.

Dan bagi sebagian lainnya, tyipo hanya membuat orang membuang waktunya sedikit untuk mengernyitkan dahi sejenak mencerna maksud tulisan typo tersebut, untuk kemudian baru bisa dimengerti.

Kemudian bagi sebagian lainya yang telah familier dengan dunia interaksi media sosial, maka tulisan typo bukanlah persoalan, sehingga cepat direspon. Bahkan dengan balasan balik yang penuh typo juga.

Dalam hal ini bergembiralah anda    karena ada penjelasan untuk hal tersebut dan ada pembelaan ketika Anda justru sangat sulit menemukan kesalahan dalam tulisan Anda sendiri.

Menurut seorang pakar psikologi bahasa yang juga dilansir oleh kumparan.com*,

Dr Tom Stafford, adalah peneliti di bidang psikologi dan ilmu kognitif manusia yang juga menjadi pengajar di Universitas Sheffield, Inggris telah melakukan penelitian secara khusus tentang eror atau kekeliruan dalam sebuah tulisan.

“Ketika Anda sedang menulis, Anda tengah berusaha untuk menyampaikan sebuah pesan. Sebuah makna. Dan itu adalah pekerjaan tingkat tinggi,” katanya, dilansir dari Business Insider.

Ia mengatakan, bahwa kegiatan menulis memaksa seseorang untuk secara bersamaan melihat segalanya sebagai “percampuran antara data pasti yang diterima sensor indera dan ekspektasi kita akan suatu hal”.
Read more at https://kumparan.com/tio/mengapa-kita-tidak-sadar-melakukan-typo#Qy2LLE68DHpcpvVt.99

Sederhananya, kita sulit menyadari adanya suatu kesalahan karena pikiran kita telah terpaku pada bayangan ideal tentang apa yang kita tulis.

“Ini terjadi setiap saat. Masalahnya adalah persepsi. Kesalahan ketik kita akan sangat sulit untuk disadari, murni karena kita tahu apa yang kita maksud di tulisan kita. Dan ini menghalangi pembacaan sensorik atas apa yang benar-benar telah kita tulis,” jelas peneliti asal Inggris tersebut.

Bahkan menurutnya, bukan hanya penulis yang akan kesulitan menyadari kesalahan ketik. “Semakin pembaca paham akan isi tulisan Anda, semakin ia terfokus pada makna dan pesan dari tulisan itu. Ia akan cenderung mengabaikan detail-detailnya, seperti typo,” ujarnya.

Berbeda dengan menulis secara tradisional dengan pena, mengetik membutuhkan kelihaian motorik yang lebih tinggi. Kemudahan yang ditawarkan dengan teknologi pengetikan juga membawa ancaman kesalahan tulis yang lebih tinggi.

“Dalam tulisan tangan prosesnya akan lebih sulit (untuk melakukan typo). Ini dikarenakan ‘urutan’ huruf dalam sebuah kata telah tersimpan dalam benak dan kemampuan motorik kita secara lebih mendalam,” katanya menjelaskan sedikitnya typo di tulisan tangan.

Pemisahan secara fisik dari huruf-huruf di teknologi pengetikan modern membuat kesalahan urutan huruf-huruf dalam sebuah kata lebih mudah dilakukan.

“Sangat langka Anda melakukan kesalahan urutan huruf dalam sebuah kata. Itu karena otak Anda mempersiapkan kata-kata dengan lebih mendalam, karena Anda akan lebih pelan ketika menulis tangan,” ujarnya.

“Berbeda dengan menggunakan mesin. Huruf per huruf dipisah, memungkinkan kesalahan lebih sering dilakukan karena Anda harus memproses lagi huruf mana yang didahulukan dari huruf lainnya,” lanjutnya lagi.

Bagaimana Cara Menghindarinya?

Sayangnya, tidak semua dari kita memiliki tim editing yang akan memeriksa kesalahan yang kita buat. Meski begitu, tips ini mungkin bisa Anda coba.

  • Salah satunya adalah dengan beranjak sejenak dari tulisan tersebut dan menghabiskan beberapa waktu sebelum membacanya ulang. Otak Anda, menurut Stafford, akan lebih segar dan lebih mudah untuk menyadari adanya kesalahan.
  • Yang kedua adalah membacanya dengan keras-keras. Suara akan didengar oleh telinga Anda, yang tentunya akan menyadari kesalahan dalam suatu tulisan. Anda juga cenderung akan menyadari kesalahan sebelum mengatakannya keras-keras.
  • Yang terakhir adalah membuat orang yang ada di sekeliling Anda, terutama yang tidak paham akan isi tulisan, untuk membacanya kembali dengan suara yang terdengar. Ini akan memaksanya membaca dengan lebih hati-hati karena ia tidak memiliki bayangan ideal tentang pesan dari tulisan Anda.

Lembaga dan media profesional yang tak luput terjadi typo

Typo atau pengetikan salah tidak hanya dilakukan oleh orang orang umum. Lembaga resmi atau media terkenalpun acapkali mengalami hal typo dalam pengetikan dan terlanjur tayang dalam siarannya.

Beberapa contoh sebagai berikut :

Typo-yang Terpublikasi Oleh TV One:

TYPO-TVONE

Lesmana (2015)

 

  1. Jangan menyengaja typo

Namun demikian kita jangan serta merta sengaja typo. Mentang mentang suatu kewajaran akhirnya kita sengaja typo disetiap komunikasi melalui tulisan / ketikan.

“Kmpert luo, ……gw dkdalni, …..swueek…”

Sebab mengapa? Karena kadang kita menghadapi komunikasi dengan orang yang majemuk latar belakang intelektualitasnya. Ada yang paham ada yang tidak paham. Ada yang familier ada yang ’gapfek’. Jika kita menemui orang yang tidak mengerti pembicaraan / dialog, maka typo akan menjadi masalah, baik memunculkan ketersinggungan, salah paham dan lain sebagainya, sehingga komunikasi menjadi tidak efektif alias tidak menyambung.

  1. KESIMPULAN

Dengan demikian, well sobat ikhwan fillah, kita semua sedang membicarakan tentang perkara praktis dalam dunia komunikasi yang multi dialek dan karakter orang. Diluar orang itu benar atau salah, diluar orang itu bodoh afau pintar. Jadi, berfikirlah yang simpel, mudah dan luas. Jangan kita persulit, dibuat ruwet dan disempitkan dengan agumentasi mendasari serangkaian dalil cangkang. Ini katagori fiqih praktis bung, Oom, mbak, teteh, pak de, pak lek. Yang disana esensinya adalah menjabarkan ,menafsyirkan ayat ayat Ilahi dengan berbagai multi pendapat (ikhtilaf) dan argumentasi, yang kesemuanya dipengaruhi oleh latar belakang keilmuan para pen-tafsyirnya, oleh ruang, waktu dan peradaban. Oleh karena itu janganlah perkara praktis interaksi komunikasi dengan dialek dan bahasa lokal masing masing atau menurut caranya masing masing ini dikaitkan dengan kaidah sunnah, hadits, dalil ini dalil itu  atau lebih menggelikan lagi dikaitkan dengan aqidah. Sedang kita sendiri kebanyakan tidak mengerti apa makna aqidah itu sendiri.

Untuk kita renungkan:

  1. Keadaan Salam, Shalawat dan sejenisnya yang dibolehkan dengan disingkat :
  • Hanya terjadi dunia interaksi komunikasi publik dan media sosial (sosmed).
  • Penulisan dalam mukadimah, surat, catatan kaki.
  1. Keadaan Salam, Shalawat dan sejenisnya yang tidak dibolehkan dengan disingkat dan typo:
  • Pembuatan, pencetakan ayat Al-Qur’an, Hadits.
  • Klausul untuk undang undang.
  • Formula rumus dan bahasa pemrograman.
  1. Orang yang familier dengan karakter tulisan akan tahu maksud tulisan walaupun disingkat, walaupun typo. (Apalagi anda yang doyan chating di medsos)
  2. Ayat ayat Al-Qur’an pun pada mulanya tampil dalam keadaan gundul, polos, mentah seperti bentuk simbol dan karakter mentah, dan asalnya pun qalamullah dalam wujud transkrip agung yang ter-encrypt (penuh singkatan dan maha kode kode).(ayat)
  1. Maka janganlah kita mudah terjebak dengan penghakiman buruk (takfiri) atas datangnya sebuah tulisan, bacaan dan opini, yang dibungkus dengan serangkaian klausul dalil secara literal (cangkang).(ayat) 
  1. Jangan mudah membagi tulisan yang kita tidak mengetahui / mengerti hukum maupun hakekat kebenarannya, alias jangan mudah mengimani suatu berita tanpa tahu kebenarannya.(ayat)
  1. Dan pada pemikiran secara global, maka janganlah kita men-Tuhankan dalil, agama, kebendaan dan sosok.

Demikian saudaraku kaum muslimin dan muslimat, semoga menjadikan spirit untuk menuju dan menjadi umat terbaik, cerdas, luas cakrawala benaknya dan menjadi bagian dari golongan Insan Kamil (intelek).

“Kita mesti telanjang dan benad benar bersih, suci lahir dan di dalam batin”(Abid Ghoffar Aboe Dja’far-1977)

Semoga menjadikan keluasan fikir.

Salam cahaya-Nya

Kelana Delapan Penjuru Angin,

MAJELIS DZIKIR AS-SHALIHIN

MASJID BAITUT TAIBIN

PREMBUN KRANGGAN

‎‎Published on:26 ‎Desember ‎2017, ‏‎1:55:18

Created:28 ‎Nopember ‎2017, ‏‎7:53:38
‎Modified:25 ‎Desember ‎2017, ‏‎21:59:18
‎Accessed:25 ‎Desember ‎2017, ‏‎21:59:18

CopyRights@2017

——0o0—–

DAFTAR RUJUKAN:
*Apresiator. (23 Mei 2014). Mengenal Bahasa Prokem A.K.A Bahasa Gaul (BonusKamusnya Gan).
Forum Kaskus
.(http://www.kaskus.co.id/thread/537e41a6c2cb176b178b4582/mengenal-bahasa-prokem-aka-bahasa-gaul-bonus-kamusnya-gan/), diakses pada 28Desember 2015.Departemen Pendidikan Nasional. (2008).
Kamus Besar Bahasa Indonesia
 (Keempat ed.). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Jawalsen, R. (2012).
 Dasar Negara Diganti, Kehidupan Berbangsa Bubar 
,(http://jaringnews.com/politik-peristiwa/wakil-rakyat/16019/dasar-negara-diganti-kehidupan-berbangsa-bubar), diakses pada 27 Desember 2015.Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional. 2009.
Peraturan MenteriPendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2009 tentangPedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan.
 Jakarta:Pusat Bahasa Kemdiknas.Keraf, G. (1980).
Komposisi.
 Flores: Percetakan Arnoldus Ende.Kurosaki, M. N. (2012).
 Makalah Efesiensi Bahasa Indonesia
,(http://nurkurosaki.blogspot.co.id/2012/11/makalah-efesiensi-bahasa-indonesia.html), diakses pada 31 Desember 2015.Kusno, G. (2015).
KBBI Ternyata Tidak Konsisten dengan Kaidahnya
,(http://www.kompasiana.com/gustaafkusno/kbbi-ternyata-tidak-konsisten-dengan-kaidahnya_552e21d76ea83492068b4588), diakses pada 27Desember 2015.Lesmana, I. (2015).
Kumpulan Typo TV One Kocak 
, (http://www.blog-netizen.com/kumpulan-typo-tvone-kocak/), diakses pada 26 Desember2015.Namakume. (2014).
Pengertian Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar 
,(http://media-online.id/2014/08/bahasa-indonesia-yang-baik-dan-benar.html), diakses pada 29 Desember 2015.Ningsih, D. L. (2015).
 Lima Salah Ketik “Typo” Sederhana Berakibat Bencana
,(http://m.log.viva.co.id/news/read/673709-lima-salah-ketik–typo–sederhana-berakibat-bencana), diakses pada 27 Desember 2015.
18Nizbah, F. (2013).
Pengertian Masalah Menurut Para Ahli
,(http://faizalnizbah.blogspot.co.id/2013/10/pengertian-masalah-menurut-para-ahli.html), diakses pada 31 Desember 2015.Peretasputih. (08 November 2013). [SHARE] Bahasa Gaul yang Ente Tau (WithUpdate).
Forum kaskus
,(http://www.kaskus.co.id/thread/527cd11bbdcb179213000005/share-bahasa-gaul-yang-ente-tau-with-update/), diakses pada 28 Desember 2015.Priyanto, I. J. (2008).
 Mengaji dan Mengkaji
,(https://pustakabahasa.wordpress.com/2009/01/22/mengaji-dan-mengkaji/), diakses pada 27 Desember 2015.Puspitarini, M. (2012).
 Asal Usul Perkembangan Bahasa Alay
,(http://news.okezone.com/read/2012/11/28/373/724664/asal-usul-perkembangan-bahasa-alay), diakses pada 28 Desember 2015.Rangkuti, A. F. (2015).
 Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar, Seperti ApaSih?
 (http://www.kompasiana.com/annisa_rangkuti/berbahasa-indonesia-yang-baik-dan-benar-seperti-apa-sih_5517c59fa33311bc06b66303),diakses pada 31 Desember 2015.Rusdi12. (06 Juni 2012). Pancasila Diganti, Indonesia Bisa Bubar
. Forum Detik 
,(http://forum.detik.com/pancasila-diganti-indonesia-bisa-bubar-t436510.html), diakses 27 Desember 2015.Rusyanti, H. (2013).
Pengertian Bahasa Menurut Ahli?
 (http://www.kajianteori.com/2013/03/pengertian-bahasa-menurut-ahli.html), diakses pada 29 Desember 2015.Sativa, R. L. (2012).
 Hati-hati, Sring Typo Saat Ngetik SMS Bisa Jadi PertandaStroke
,(http://health.detik.com/read/2012/12/28/170809/2129091/763/hati-hati-sering-typo-saat-ngetik-sms-bisa-jadi-pertanda-stroke), diakses pada 28Desember 2015.Suyudi, I.
Pengantar Linguistik Umum.
 Depok: Penerbit Gunadarma.Widyartono, D. (2015).
 Bahasa Indonesia Riset: Panduan Menulis Karya Ilmiahdi Perguruan Tinggi
 (Revisi ed.). Malang: Universitas Negeri Malang.

 

Iklan
BENTUK BENTUK KEKUFURAN UMAT PADA TUHANNYA SEPANJANG ZAMAN, YANG DIAKHIRI DENGAN PENIMPAAN BENCANA DAN GENOCIDA (PEMUSNAHAN) SUATU UMAT

BENTUK BENTUK KEKUFURAN UMAT PADA TUHANNYA SEPANJANG ZAMAN, YANG DIAKHIRI DENGAN PENIMPAAN BENCANA DAN GENOCIDA (PEMUSNAHAN) SUATU UMAT

ENSIKLOPEDIA AZAB DAN BENCANA

images (1)

NO PERISTIWA ZAMAN / MASA BENTUK KEKUFURAN HUKUMAN / AZAB
1 Peradaban Bangsa Alban-Aljan, (Khalifah bumi pertama) +500 jt SM Selalu berakhir dengan kekafiran

(bertikai / bertumpah darah)

Genocide: Dimusnahkan
2 Penciptaan Adam +1 juta SM Sekelompok Muqarrabun menolak perintah sujud pada Adam Dikutuk menjadi iblis
3 Kasus Pembunuhan pertama kali +8000 SM Qabil membunuh Habil karena kedengkian Golongan penghuni neraka
4 Azab Bani Rasib (Kaum Nuh) +4000 SM Menolak Rasul,

menyembah berhala

Genocide : Dengan banjir bandang
5 Azab Kaum Aad (Kaum Nabi Hud AS) 2450-2320 SM Menolak Rasul,

menyekutukan Tuhan

Genocide: Badai Hyphothermia mematikan
6 Azab Kaum Tsamud (Kaum Nabi Shaleh AS) 2150-2080 SM Menolak Rasul, kufur nikmat Genocide: Gelombang

Suara mematikan +12GdB/20Ghrtz

(normal=120dB/20K.hertz)

7 Azab Kaum Saddum / (Kaum Nabi Luth AS) (1950-1870 SM) Menentang Rasul, merajalela Homosex Genocide: Ditimpa batu dan bumi tinggal dibalik
8 Azab Pemerintahan Namrudz (Kaum Nabi Ibrahim AS) (1861 – 1686 SM) Menentang Rasul, men-Tuhankan kekuasaan Genocide: Serangan serangga beracun mematikan, menghisap darah dan memakan daging
9 Azab bangsa Madyan

(Kaum Nabi Syu’aeb AS)

1550 SM Suka berbuat curang, haram, mengurangi timbangan, memakan hak Sambaran Petir dahsyat

Dan Gempa bumi besar

10 Azab bangsa Yahudi

(Kaum Nabi Musa- Daud -Isa AS)

1450- 1213 SM – hingga kini Kufur nikmat, suka membunuh Nabi dan Rasul-Nya, menyembunyikan kebenaran,berbuat kerusakan Laknat dan kutukan, hilang

Rasa tenteram dan kedamaian, diperangi bangsa lain

11 1.Era duniawi sistim kekhalifahan korup,

2.kolonialisme,

PD I dan II

10 Oktober 680 M

s/d

Abad 19

Men-Tuhankan hawa nafsu, Aliran, Mazab,

BEREBUT KEKUASAAN,

KEDUDUKAN DUNIAWI, berpecah belah

Fitnah, bencana alam,

Peperangan membabi buta

12 Era modern / Digital Abad 20

s/d

HARI INI

THAGHUT : EKONOMI, PAMOR, TEKNOLOGI Persaingan kotor, merajalela Fitnah, Bencana alam, teror, kriminal, pembunuhan, komoditi organ tubuh, peperangan, Kerusakan tatanan kehidupan, dll.
13 Era akhir zaman Abad 21 s/d 22, hingga

Menjelang kiamat

THAGHUT : HEGEMONI, INVASI, TEKNOLOGI, KEDZALIMAN, BERBUAT KERUSAKAN Penghapusan suatu kaum, Hujan meteor, Mega Tsunami, perang besar, Gempa akbar, awan pekat beracun mematikan.
14 GENERASI IBLIS, PEWARIS

BUMI TERAKHIR

TIBA HARI YANG TELAH DIJANJIKAN TIDAK ADA ISLAM, TIDAK ADA KA’BAH, TIDAK ADA AL-QUR’AN,

MENIADAKAN TUHAN

ARMAGEDDON

(PRAHARA KIAMAT, PEMUSNAHAN MANUSIA DAN BUMI)

images (19)

Semoga menjadi renungan,

Salam merenungi QS.7.Al A’raf : Ayat,1-10……,dan

Salam mencari keselamatan diri dan keluarga masing masing

Kelana Delapan Penjuru Angin, 12 Sya’ban 1438 H – 09 Mei 2017

CopyRights@2017

HIRARKI PENGABDIAN DAN KETAATAN PADA TUHAN

SKEMA-KETAATAN

KEKAFIRAN ITU BUKAN ORANG, TETAPI KEKAFIRAN ITU ADALAH KETIDAK TAATAN TERHADAP SISTIM HIRARKI TUHAN (Ibadillah).

Keridhoan Tuhan pada hambanya akan datang bukan karena banyaknya mengerjakan sesembahan ibadah pribadi kepada Tuhannya saja, (ibadah untuk kepentingan pribadi semata), tetapi ketika kita telah melaksanakan pula ketaatan, bakti dan kemanfaatan kepada keluarga, orangtua, suami, masyarakat, bangsa dan negara, Rasul-Nya serta pada alam semesta. Sebab yang demikian telah menjadi sistim dan syareat-Nya. (perintah Al-Qur’an dan As-sunah).

Mari berbuat taat dan bakti pada Ilahi menurut hirarki-Nya (diamalkan, dimulai secara struktural melaui tingkatan / jalur / kedudukan / posisi serta kapasitas) masing-masing agar tidak sesat, menyimpang dan menjadi golongan munkar (label kafir).

Maka, sebelum sampai dan diterimanya amal ibadah seseorang dihadapan Allah, tunaikan terlebih dahulu urusan kebaktian serta ketaatan kita  menurut jalurnya, yakni:

Yang anak berbakti dan taat kepada orangtua, yang isteri pada suami, kepada guru, masyarakat pada alim ulama, pada ulul amri / negara dan pada rasul-Nya. Jangan taat  dan taqlid buta hanya pada satu sisi namun enggan mentaati lainnya.

Janganlah anak taat hanya pada temannya saja tetapi tidak taat pada orang tuanya. Janganlah isteri taat hanya pada gurunya saja tetapi tidak taat pada suaminya, janganlah masyarakat taat hanya pada kelompoknya saja namun ingkar pada aturan bangsa dan negaranya serta Rasul-Nya.

Semoga beruntung.

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Kranggan, 17 Maret 2017

Majelis Dzikir As-Shalihin – Prembun Kranggan – Kebumen – Jawa Tengah

CopyRights@2017

REGISTRASI ALAM KUBUR

REGISTRASI ALAM KUBUR

MASUK ALAM KUBURPUN HARUS MENDAFTAR

PERTANYAAN KUBUR OLEH MALAIKAT TIDAK HARUS DALAM BAHASA ARAB

MENURUT BAHASA MEREKA DAN ZAMAN NABI MASING MASING

MILIKILAH KARTU PASS MASUK ALAM KUBUR YANG DAMAI

download

Bismillahirrahmanirrahim,

Dalam aktifitas manusia hidup dan menjalani kehidupan di alam dunia ini pasti dikenal dengan adanya ketentuan pendaftaran. Sign in atau sign up. Apapun peristiwa yang sedang dialaminya atau yang sedang dalam urusannya. Seperti saat seorang bayi baru dilahirkan, maka ada proses kelahiran dan ada proses pengurusan administratif. Dalam hal ini pihak orangtua diwajibkan melengkapi surat surat, dokumen yang diperlukan untuk mendaftarkan sang bayi kepada pihak yang berwenang sehingga bayi itu mendapat surat keterangan lahir atau akte kelahiran. Itulah proses pendaftaran manusia yang baru lahir agar resmi diakui sebagai warga baru / penduduk baru / anggota keluarga baru, di alam kehidupan baru yang baru dimasukinya. Semua itu guna kepentingan dan hak hak keberadaan dirinya dapat terpenuhi secara hukum. Siapa pihak yang mengatur ketentuan demikian, maka otoritas penguasa / pemerintahlah yang menerapkannya dan yang memfasilitasinya.

Begitu juga dalam hal menjadi pegawai, maka anda pertama kali pasti melakukan pendaftaran dahulu kepada lembaga tersebut agar terdaftar sebagai peserta, itupun belum resmi menjadi pegawai, masih ada proses seleksi dan uji.

Begitu juga dalam hal masuk sekolah, masuk ABRI, masuk menjadi calon anggota DPR, dan sebagainya, pasti harus melalui yang namanya proses pendaftaran (kecuali satu hal yang tak perlu syarat pendaftaran yaitu, masuk angin)

Maka begitu juga anda para pecandu aplikasi sosmed, gamming, pasti dipersyaratkan melakukan pendaftaran dengan mengisi sejumlah pertanyaan, identitas ataupun asal usul.

Sebagaimana dipersyaratkan melakukan pendaftaran untuk memasuki sebuah aplikasi, maka demikian pula seseorang yang baru saja mengakhiri kontrak hidupnya di dunia alias meninggal, maka saat kita memasuki alam baru tersebut, SUDAH TENTU DAN SUDAH PASTI HARUS melalui proses PENDAFTARAN PENGHUNI ALAM KUBUR.

Itulah yang dikenal dengan FITNAH ALAM KUBUR atau PERTANYAAN KUBUR atau Talkim kubur.

5-kejadian-mistis-yang-pernah-terjadi-di-pekuburan-indonesia

Maka sesungguhnya FITNAH ALAM KUBUR atau PERTANYAAN KUBUR yang akan diajukan untuk kita semua nanti, itu adalah merupakan pendaftaran memasuki gerbang kehidupan baru dialam kubur.

Setidaknya, daftar isian ini yang nanti harus anda persiapkan jawabannya :

  1. Pertama : “Man Robbuka”? (Siapakah Tuhan yang kamu sembah)?
  2. Kedua, :“Wa maa diinuka”? (apa agamamu)?
  3. Ketiga, :”Man Nabiyyuka”? ( Siapa Nabimu)?

(Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?)-(”dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini”)?

NOTE:

KRITERIA / LINGKUP PERTANYAAN KUBUR

Pokok pertanyaan oleh Malaikat hanya satu esensi yakni ajuan pertanyaan tentang siapa Tuhan yang menjadi sesembahan, kemudian agama apa yang dipilih, lalu siapa rasul yang diikuti, yaitu sbb:

  1. Tergantung zaman nabinya dan syareatnya masing masing

Maka data jawaban dari calon penghuni kubur itu tidaklah sama sebab tergantung zamannya nabi siapa sebagai pembawa risalah keilahian. Saat umat nabi Nuh yang mati, maka jawaban kenabiannya ya nabi Nuh, bukan lainnya.

  1. Menurut bahasa dan cara masing masing peradaban.

-Orang suku INCA yang mati ya akan ditanya dengan bahasa mereka, tidak akan malaikat menanya dengan bahasa Arab (kan ga mungkin malaikat sendeso itu)

  1. Amalan taqwa seseorang dapat menjadi kartu pass memasuki alam kubur tanpa proses tanya dan penjawaban.

Daftar isian pertanyaan tersebut diatas adalah baru merupakan proses pendaftaran bergabung dialam kubur, belum dan bukan proses uji kelaikan apakah anda dapat diterima menjadi komunitas alam kubur. Masih panjang sobat, petualangan manusia di alam kubur. Belum proses penempatan arwah, belum penggolongan amaliah, belum penempatan barzah. Sedang kiamat apalagi, belum ! Apalagi padang masyar, apalagi hari pembalasan,……jauh…..masih panjang untuk tiap etape ke hari akherat…..apalagi alam syorga atau neraka…….ouw, masih sangat panjang ribuan hingga jutaan tahun kedepan masa yang harus ditempuh.

Saat pada pengisian pendaftaran awal ini saja sudah salah jawab atau alias data invalid, maka jangan merasa bahwa anda sudah diterima di alam sana. Lantas dimana keberadaan orang orang mati yang tidak diterima alam kubur? Dan kemudian berada ditempat mana bagi insan mati yang berhasil lolos uji alam kubur? Semua ada jawabannya, karena semua ada ilmunya……..

Berat sobat, maka marilah kita kursus dahulu selama masih diberi kesempatan kursus didunia ini sebelum engkau memasuki alam jauh disana yang tak akan kau temukan peta jalan pulang kembali.

Saat itulah engkau akan diantar ke taman ILLIYYIN yang penuh kedamaian dan kesejukan,

unduhan-1

Atau akan bernasib lara, dibuang ke puri nestapa lembah SIJJIN dilapis bumi bawah ketujuh yang gelap, penuh petaka sengsara dan tangisan lolongan panjang.

Sobat, mutiara ini hanya ringkasan, semua ada sumbernya, ada ilmunya dalam kitab risalah tebal. Untuk memahami dan merenunginya maka burulah dengan mengaji, carilah ilmunya.

Semoga menjadi renungan dan manfaat

Salam Taman Illiyyin

Kelana Delapan Penjuru Angin,

(Dalam risalah kitab: PERJALANAN PANJANG KE PLANET AKHERAT)

Kranggan, 1 Januari 2016

Sumber utama:

-Hadratussyeik Abuya Kyai Muhammad Syamsuddin-Kranggan

RISALAH AMALAN SUNNAH DIBULAN MUHARRAM YANG PENUH KEUTAMAAN

PRAKATA

SYAREAT UNTUK BERLAKU TERTIB DAN URUT DALAM MENGERJAKAN SUATU AMALAN DAN DIMULAI MENURUT SKALA PRIORITAS

Sering kita temui tulisan yang berisi amalan suatu ibadah atau amalan wirid, dzikir dan shalawatan namun bacaannya tidak berurutan / beraturan. Seperti contoh dalam serangkaian bacaan dzikir, shalawatan, tadarus dan doa, maka  ada bacaan doa yang ditulis di tengah tengah rangkaian dzikir dan shalawatan, sementara bacaan ayat Alqur’an, dzikir dan shalawatan, terpisah pisah disana sini tak berurutan. Juga seperti pada sebuah tulisan/selebaran yang bejudul : “amalan amalan yang disunnahkan Rasulullah SAW pada tanggal 10 Muharam/10 syuro”, yang tidak berurutan tatatertib amalannya.

Yusuf Qardhawi (Lahir, Kairo, Mesir, 9 September 1926),  dalam kitab “fiqh al-awlawiyyat” (fiqh prioritas) atau dikenal sebagai Al-Shahwah al-Islamiyyah bayn al-Juhud wa al-Tatharruf, yaitu fiqh urutan pekerjaan (fiqh maratib al-a’mal). Adalah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum, nilai, dan pelaksanaannya. Pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari’ah yang shahih, yang diberi petunjuk oleh cahaya wahyu, dan diterangi oleh akal. Prioritas dalam berbagai bidang amal Amal-amal yang disyariatkan kepada manusia juga memiliki tingkatan-tingkatan. Ada hal-hal yang perlu disegerakan dan diutamakan, dan ada juga hal-hal yang boleh diakhirkan. Adanya keharusan dalam memprioritaskan amal yang kontinyu atas amal yang terputus-putus, dan prioritas amalan yang luas manfaatnya atas perbuatan yang kurang bermanfaat, serta prioritas terhadap amal perbuatan yang lebih lama manfaatnya dan lebih lama kesannya. Selain itu, prioritas amalan hati atas amalan anggota badan dan perbedaan tingkat keutamaan sesuai dengan tingkat perbedaan waktu, tempat, dan keadaan.

Kaidah tersebut diatas berlaku untuk tingkatan syareat (standar umum), maka untuk tingkatan ilmu tareqat/haqeqat bisa saja diluar kaidah ini sebab tingkatan ini telah memasuki alam kesufian, dimana bersifat kebatinan individual pengamalnya.

JENIS DAN KEDUDUKAN HUKUM SUNNAH

  1. SUNNAH QOULIYYAH adalah sunnah yang dikerjakan berdasar perkataan nabi SAW langsung yang merupakan penjabaran dari rangkaian ayat Al-Qur’an.
  2. SUNNAH FI’LIYYAH adalah sunnah yang dikerjakan berdasar perbuatan nabi SAW sehari hari.
  3. SUNNAH TAKRIRIYYAH adalah suatu amalan/tindakan yang dikerjakan oleh para sahabat, namun mendapatkan persetujuan dari nabi SAW.

Maka berikut tartib dan urut  AMALAN SUNNAH YANG PENUH KEUTAMAAN DI HARI ASYURA (10 MUHARAM) yang sepatutnya menurut urutan bobot dan keutamaannya :

  1. BERPUASA TASYU’A DAN ASYURAA ( 9 dan 10 Muharram)
  2. MEMBACA AYAT QURSIY
  3. MEMBACA SURAT IKHLAS
  4. MEMBACA HASBUNALLAH WA NI’MAL WAQIL (Akhir surat Ali Imraan.3:173 & Al-Anfaal.8:40)
  5. SHOLAT SUNNAH
  6. BERSODAQOH, MEMBERI MAKAN ORANG YANG BERPUASA
  7. MENYANTUNI ANAK YATIM (Memberi sesuatu, menyayangi, mengusap rambutnya)
  8. MELUASKAN BELANJA KELUARGA (mengadakan jamuan istimewa, makan bersama keluarga)
  9. MENINGKATKAN NILAI IBADAH
  10. MANDI ASSYURAA (Sesuci badan)
  11. MEMOTONG KUKU, MERAPIHKAN RAMBUT, MEMAKAI PAKAIAN BAIK, BERSIH, WEWANGIAN, dsb.
  12. MEMAKAI CELAK / SHIFAT,
  13. ZIARAH KE ORANG ORANG ALIM
  14. TA’ZIAH DAN MENGANTAR JENAZAH
  15. MEMBESUK ORANG SAKIT

SEJARAH DAN ASAL USUL

Asyura berasal dari kata ‘asyara, asyrun yang artinya bilangan sepuluh dari bulan Muharram.

Ketika para sahabat bertanya pada Rasulullah saw.: “Ya Rasulullah saw, adakah Allah telah melebihkan hari ‘Asyura daripada hari-hari lain?” Maka berkata Rasulullah saw: ” Ya, memang benar, Allah Ta’ala menjadikan langit dan bumi pada hari ‘Asyura, menjadikan laut pada hari ‘Asyura, menjadikan bukit-bukit pada hari ‘Asyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari ‘Asyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari ‘Asyura, dan Allah SWT menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari ‘Asyura, Allah SWT menenggelamkan Fir’aun pada hari ‘Asyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari ‘Asyura, Allah SWT menerima taubat Nabi Adam pada hari ‘Asyura, Allah SWT mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari ‘Asyura, Allah SWT mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari ‘Asyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Asyura!”.

Hadits lainnya:

Artinya: “Ia adalah hari mendaratnya kapal Nuh di atas gunung “Judi” lalu Nuh berpuasa pada hari itu sebagai wujud rasa syukur.” (Hadits Riwayat Ahmad)

Dari hadits tersebut dan berbagai riwayat alim ulama, terjadi peristiwa besar pada 10 Muharam, yaitu:

  1. Nabi Adam bertaubat kepada Allah dan dipertemukan dengan Siti Hawa di padang Arafah..
  2. Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit.
  3. Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama enam bulan.
  4. Nabi Ibrahim diselamatkan Allah dari pembakaran Raja Namrud.
  5. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa.
  6. Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara.
  7. Penglihatan Nabi Ya’kub yang kabur dipulihkkan Allah.
  8. Nabi Ayub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritainya.
  9. Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam.
  10. Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari tentera Firaun.
  11. Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah.
  12. Nabi Sulaiman dikaruniakan Allah kerajaan yang besar.
  13. Nabi Isa diangkat ke langit.
  14. Nabi Muhammad saw. Lolos dari percobaan pembunuhan dengan racun orang-orang Yahudi.
  15. Hari pertama Allah menciptakan alam.
  16. Hari Pertama Allah menurunkan rahmat.
  17. Hari pertama Allah menurunkan hujan.
  18. Allah menjadikan ‘Arsy.
  19. Allah menjadikan Louh Mahfuz.
  20. Allah menjadikan alam semesta raya.
  21. Allah menjadikan Malaikat Jibril.

Berawal dari tragedi hari berduka atas gugurnya cucu Rasulullah Saw Sayyidina Hassan dan Husein di padang Karbala pada 10 Muharram tahun 61 Hijriyah, bertepatan 10 Oktober 680 Masehi. Yang dibunuh oleh militer Khalifah Bani Umayyah, yang dipimpin jenderal Yazid bin Muawiyah yang membawa dampak sangat besar dalam sejarah perkembangan Islam, sehingga ditahun berikutnya, umat mulai mengadakan acara peringatan mengenang peristiwa tersebut, namun lama kelamaan mulai banyak timbul amalan amalan yang menyimpang dari nilai islam namun mengklaim semua dari tuntunan sunah nabi SAW. Sehingga muncul golongan ahli sunah waljamah untuk meluruskan.

MEMBEDAH SUMBER DALIL / REFERENSI UNTUK AMALAN  SUNNAH DIBULAN MUHARRAM

HADITS SAHIH  UNTUK AMALAN BULAN MUHARAM YANG MERUPAKAN SUNNAH NABI SAW , HANYA MENEKANKAN TENTANG PUASA.

[Di dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari Asyura / Asyuro (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram)]

Hadits yang Pertama:

‘An Abi ‘Abbas ra, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: shauma yaumi ‘asyuraa, au amara bishiamihi”.

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).

Hadits yang Kedua :

‘An Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sha’al ‘an shiama yaumi ‘asyuraa faqoola:”yakfurushanatil madhyah”

Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)

Lainnya:

“Dan puasa pada hari Arafah –aku mengharap dari Allah- menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang. Dan puasa pada hari ‘ASYURA (tanggal 10 Muharram) –aku mengharap dari Allah menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu.” [Shahih riwayat Imam Muslim, Abu Dawud , Ahmad , Baihaqi, dan lain-lain].

AMALAN BULAN MUHARAM LAINNYA HASIL IJTIHAD PARA ULAMA (Ijtima’ / konsensus)

Disebutkan dalam kitab Nihayatuz-Zein – Syekh Nawawi, sebagai berikut ;
Dari ijtihad para Ulama besar, bahwa amal ibadah yang diutamakan di 10 Muharram sbb :

(1. Melaksanakan Shalat sunnah yang paling utama shalat Tasbih, 2. Melakukan Puasa Sunnah, berikut tanggal 9 Muharram-nya, dan paling utama 10 hari, dari tanggal 1 s/d 10 Muharram , 3. Melakukan Sodaqoh, , 4. Melakukan keleluasaan keluarga artinya menambah dana belanja, membelikan baju baru dll., 5. Melakukan Mandi Sunnah,, 6. Melakukan kunjungan pada Alim Ulama yang soleh,, 7. Menengok orang yang sedang sakit, , 8. Mengusap kepala yatim, artinya memberi kasih sayang seperti dengan menyantuni mereka,, 9. Memakai celak mata, , 10. Menggunting kuku, , 11. Membaca surat Al-Ikhlas seribu kali, , 12. Melakukan silaturrahmi terutama kepada saudara dan keluarga, sama seperti pada hari raya).

Melakukan Puasa asyuro dapat menghapus dosa selama setahun, dan melakukan Keleluasaan keluarga adalah berdasar makna redaksi hadits yang sudah tersurat, sedang ibadah yang lainnya (seperti 12 ibadah yang disebutkan di atas) merupakan makna yang tersirat baik dari ayat-ayat Qur’an ataupun hadits-hadits. (Nihayatuz-Zein, hal 196).

RINCIAN:

  1. BERPUASA TASYU’A DAN ASYURAA ( 9 dan 10 Muharram)
  2. Sahabat Rasulullah Saw. Abdullah bin Abas ra. meriwayatkan:

“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah SAW menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan. (HR Muslim)

  1. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah ra., Rasulullah Saw. bersabda:

“Puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”. (HR Abu Daud)

  1. Menurut Imam Nawawi rahimahullah, dua amalan yang dasar hukumnya kuat yaitu: 1. Puasa ‘Asyura dan Tasu’a, 2. Meluaskan belanja (Selain dua amalan di atas, dasar hukumnya lemah. Kecuali bersedekah, karena menurut mazhab Maliki hukumnya sunnah. Wallahua’lam).
  2. Di dalam Kitab Hadits Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan beberapa hadits berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari ‘ASYURA (10 Muharram) dan TASU’A (9 Muharram), yaitu:

1). Dari Ibnu Abbas“Bahwa Rasulullah saw. berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

(‘muttafaq ‘alaihi secara bahasa berarti disepakati atasnya. Istilah ini biasanya digunakan untuk hadits yang diriwayatkan dan disepakati keshahihannya oleh minimal 2 imam hadits besar: Imam Al-Bukhâri dan Imam Muslim, jadi tingkat keshahihannya menempati posisi ‘paling shahih’).

2). Dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah saw. ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) menghapuskan dosa (dosa-dosa kecil) satu tahun yang lalu.”(HR. Muslim)

3). Dari Ibnu Abbas beliau berkata: “Rasulullah saw. bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan.” (HR. Muslim)

4). Cara menyelisihi ritual puasa non muslim karena mereka juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram) :

– Beberapa hadits tentang hal ini:

4.1). “Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari Asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah saw. pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau sampai di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.”

(Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Ahmad, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, Nasa’i dalam Al-Kubra, Al-Humaidi, Al-Baihaqi, Abdurrazaq, Ad-Darimy, Ath-Thohawi dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

4.2).. “Nabi saw. tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Beliau bertanya: “Apa ini?” Mereka menjawab: “Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka kami berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah menjawab: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.”

(Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dalam Al-Kubra, Ahmad, Abdurrazaq, Ibnu Majah, Baihaqi, Al-Humaidi, Ath-Thoyalisi)

  • Dari dua hadits ini menunjukkan bahwa suku Quraisy berpuasa pada hari ‘Asyura di masa jahiliyah, dan “sebelum hijrah” pun Nabi saw. telah mengerjakannya. Kemudian sewaktu tiba di Madinah, beliau temukan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, maka Nabi-pun berpuasa dan mendorong umatnya untuk berpuasa.
  • Pada tanggal 9 Muharram (disebut hari Tasu’a) dinamakan “sunnah taqririyah” dimana Rasulullah belum sempat menjalankan ibadah puasa ini. Orang Yahudi juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram karena sebagai rasa syukur atas diselamatkan Nabi Musa as. dari Fir’aun, kemudian Rasulullah juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram, tetapi salah seorang sahabat ada yang bertanya kepada Rasulullah saw. mengapa kita menyamai umat nabi Musa as. Kemudian Rasulullah SAW menjawab puasa tanggal 10 Muharram ini adalah hakku dan untuk membedakannya maka tahun depan aku akan berpuasa 2 hari (Tasu’a dan ‘Asyura) tetapi Rasulullah belum sempat menjalankannya (karena wafat).

Namun Jumhur Ulama menafsirkan puasa ‘asyura tetap pada makna aslinya yaitu puasa pada tanggal 10 Muharram, akan tetapi diawali dengan puasa tasu’a (9 Muharram) untuk berbeda dengan orang-orang Yahudi. Rasul Saw bersabda sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas: “Puasalah kamu pada hari kesembilan dan kesepuluh janganlah kamu menyerupai orang-orang Yahudi”.

Hadis lain yang menganjurkan untuk melakukan perbuatan baik pada hari ‘asyura adalah sabda Nabi Muhammad Saw: “Siapa-sisapa saja yang melapangkan keluarganya dan familinya pada hari ‘asyuraniscaya Allah melapangkan rezkinya sepanjang tahun (HR. Baihaki). Dan juga Nabi Saw bersabda:Sesungguhnya hari ‘asyura termasuk hari yang dimuliakan Allah Swt, siapa-siapa yang suka berpuasa, berpuasalah” (HR. Bukhari Muslim, Muttafaq ‘alaih).

  1. MEMBACA AYAT QURSIY (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Terdapat 95 hadis, diantaranya :

Dari Abu Umamah, Rasulullah saw bersabda, “Siapapun membaca ayat Kursi tiap selepas shalat fardhu, niscaya tak ada yang menghalanginya dari masuk Jannah kecuali ia harus mati terlebih dahulu.” (HR Nasa`i dalam Sunan Kubra 9848, shahih).

Faedah lainnya adalah setiaf 1 huruf terdapat 40.000 kebaikan, 1000 berkah, 100 rahmat. (Ayat Qursiy mengandung 50 kata, 187 huruf dan 236 karakter).

  1. MEMBACA SURAT IKHLAS (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

“Sesungguhnya seseorang mendengar orang lain membaca “Qulhuwallahu ahad”, dengan mengulang-ulangnya, maka tatkala pagi harinya, ia mendatangi Rasulullah n dan menceritakan hal itu kepadanya, dan seolah-olah orang itu menganggap remeh surat itu, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya surat itu sebanding dengan sepertiga al Qur`an”. (Hadits Abu Sa’id al Khudri RA).

FAEDAH: Membaca surat Al-Ikhlas 1 X setara dengan membaca 1/3 Al-Qur’an, membaca surat Al-Ikhlas 3 X setara dengan khatam Al-Qur’an 30 juzz.(Telah berulang ulan juga dinasehatkan Abuya Kyai M.Syamsuddin-Prembun-Kebumen).

  1. MEMBACA HASBUNALLAH WA NI’MAL WAQIL (Akhir surat Ali Imraan.3:173 & Al-Anfaal.8:40) (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Sahabat Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa “hasbunallah wa ni’mal wakiil” adalah perkataan Nabi ‘Ibrahim ‘alaihis salaam ketika beliau ingin dilempar di api. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kalimat tersebut dalam ayat,

 “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (HR. Bukhari no. 4563)

  1. MELAKSANAKAN SHOLAT SUNNAH (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Sholat ‘Asyura, terjadi ikhtilaf, dikenal oleh masyarakat ada dua macam :

  1. Dilakukan pada Malam Asyuara’, yaitu Sholat empat rokaat membaca Al-Fatihah satu kali dan Surat Al-Ihlas satu kali
  2. Dilakukan pada hari Asyura’ diantara Dhuhur dan Ashar, yaitu Sholat 40 rokaat, setiap satu rokaat membaca Fatihah satu kali, ayat kursi 10 kali, Al-Ikhlas 11 kali, Al-Muawwidzatain 5 kali, dan setelah salam membaca Istighfar 70 kali.

Sholat diatas menurut Syeh Haqi Annazili (pengarang Kitab Khazinah Al-Ashrar) diperbolehkan. Namun mayoritas ulama berpendapat bahwa melakukan shalat ini tidak di perbolehkan (haram) karena rawi hadits yang menerangkan praktek shalat di malam ‘asyura’ termasuk mudtharib (kurangnya kredibilitas dan hafalnya lemah). Sedangkan yang menjelaskan shalat ‘asyura’ di siang hari termasuk hadits maudhu’ (palsu), oleh sebab itu sebaiknya di hindari saja.

Maka jalan tengahnya adalah baik melaksanakan sholat Tasybih, seperti dalam hadits :

“Jika engkau sanggup untuk melakukannya satu kali dalam setiap hari, maka lakukanlah, jika tidak, maka lakukanlah satu kali seminggu, jika tidak maka lakukanlah sebulan sekali, jika tidak maka lakukanlah sekali dalam setahun dan jika tidak maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu” (HR Abu Daud 2/67-68)

  1. BERSODAQOH, MEMBERI MAKAN ORANG YANG BERPUASA (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

“ Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” ( Qs. Al-Baqarah: 261 )

  1. MENYANTUNI ANAK YATIM (Memberi sesuatu, menyayangi, mengusap rambutnya) (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya.[HR al-Bukhari no. 4998 dan 5659]

  1. MENINGKATKAN NILAI IBADAH (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Dalil:

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinyu dikerjakan, meskipun sedikit”.

Demikian pula, ini merupakan kebiasaan Rasulullah. Amaliah beliau sehari-hari diimah (kontinyu), yaitu dikerjakan secara terus menerus, tidak putus darinya. Dan beliau menganjurkan umatnya untuk itu, memperingatkan dari amalan-amalan yang memberatkan yang tidak kuat dipikul oleh seseorang. Sebab hal itu rawan sekali untuk ditinggalkan sehingga tidak berlangsung lama.

Dalam hadits lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai manusia, kerjakanlah amalan yang kalian sanggupi”

Al Qadhi ‘Iyadh menerangkan sabda beliau dengan: Kerjakanlah amalan yang kalian sanggup untuk mengerjakannya dengan kontinyu. Sementara Imam An Nawawi rahimahullah menyimpulkan dari hadits di atas: Di dalamnya terkandung anjuran untuk kontinyu dalam beribadah, dan amalan yang sedikit (tapi) kontinyu lebih baik daripada amalan banyak tapi ditinggalkan].

  1. MANDI ASSYURAA (Sesuci badan), hadits lemah namun boleh dilaksanakan dengan niat menjaga kesehatan dan niatkan ibadah karena Allah Ta’ala.
  2. MEMAKAI CELAK / SHIFAT, hadits lemah namun boleh dilaksanakan dengan niat menjaga kesehatan dan niatkan ibadah karena Allah Ta’ala.
  3. MEMOTONG KUKU, MERAPIHKAN RAMBUT, MEMAKAI PAKAIAN BAIK, BERSIH, WEWANGIAN, dsb. Hadits lemah namun boleh dilaksanakan dengan niat menjaga kesehatan dan niatkan ibadah karena Allah Ta’ala.
  4. MELUASKAN BELANJA KELUARGA (mengadakan jamuan istimewa, makan bersama keluarga), (TERDAPAT IKHTILAF).
  1. ZIARAH KE ORANG ORANG ALIM (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

“Dari Buraidah, ia berkata Rosululloh SAW bersabda “Saya pernah melarang kamu berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad teah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah! Karena perbuatan itu dapat mengingatkan kamu pada akhirat.(Rowahu At-Tarmizi-97 )

Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanya tentang berziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengan melakukan perjalanan khusus ke makam mereka. Beliau menjawab berziarah.ke makam para wali adalah ibadah yamg disunahkan. Demikian pula dengan perjalanan kemakam mereka.” (Al-Fatawi al-Kubra, juz II hlm. 24)

Berziarah ke makam para wali dan orang-orang shaleh telah menjadi tradisi para ulama salaf. Diantaranya adalah Imam al-Syafi’I R.A jika ada hajat, setiap hari beliau berziarah ke makam Imam Abu Hanifah. Seperftipengakuan beliau dalam rfiwayat yang shahih.

Dari Ali bin Maimun berkata” Aku mendengar imam al Syafi’i berkata” Aku selalu bertabaruk dengan Abu Hanifah dan berziarah mendatangi makamnya setiap hari. Apabila aku memiliki hajat, maka aku slat dua rakaat, lalu mendatangi makam beliau,dan aku mohon hajat itu kepada Alloh SWT disisi makamnya, sehingga tidak lama kemudian hajatku terkabul.” ( Tarikh Baghdad,juz 1, hal. 123)

  1. TA’ZIAH DAN MENGANTAR JENAZAH (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menyolatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua qirath”. Ditanyakan kepada beliau, “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar”. (HR. Al-Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945)

Dari Ummu ‘Athiyyah radhiallahu anha dia berkata:

“Kami dilarang untuk turut mengiring jenazah, tetapi (larangan itu) tidak begitu ditekankan atas kami.” (HR. Al-Bukhari no. 1278 dan Muslim no. 1556)

Penjelasan ringkas:

Di antara perkara yang Nabi shallallahu alaihi wasallam jadikan sebagai hak seorang muslim dari muslim lainnya adalah mengantar jenazahnya. Karenanya beliau shallallahu alaihi wasallam memerintahkan dan mewajibkan amalan ini serta beliau menjanjikan pahala yang besar bagi yang mengantar jenazahnya, baik yang mengantarnya dari rumahnya sampai dia dishalati maupun yang mengantarnya hingga selesai dia dikuburkan.

Hanya saja hukum dan keutamaan di atas hanya berlaku untuk laki-laki, tidak untuk perempuan. Karena hukum mengantar jenazah bagi perempuan adalah makruh berdasarkan hadits Ummu Athiyah di atas. Wallahu A’lam

  1. MEMBESUK ORANG SAKIT (Tidak hanya dihari ‘asyuraa)

Al-Barra` bin ‘Azib radhiallahu ‘anhuma dia berkata:

 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami dengan tujuh perkara yaitu: Menjenguk orang yang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong yang lemah, menolong orang yang terzhalimi, menebarkan salam, dan menunaikan sumpah orang yang bersumpah.” (HR. Al-Bukhari no. 1239 dan Muslim no. 2066).

Apabila seseorang menjenguk saudaranya Чαπƍ muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih)

RINCIAN SEPUTAR IKHTILAF ULAMA UNTUK AMALAN SUNNAH DI BULAN MUHARAM

BEBERAPA ULAMA BESAR PERAWI HADITS YANG MENEMUKAN/MENYATAKAN KELEMAHAN DARI HADITS SEPUTAR AMALAN 10 MUHARAM INI adalah : As-Subkhi, Ibnu Rajab, Al-Hafidz Ibnu Qayyim, Imam Ahmad, As-Suyuthi.

Berikut rinciannya :

  1. TENTANG AMALAN MANDI ASYURA, ZIARAH, BEZUK ORANG SAKIT, MENGUSAP RAMBUT YATIM, MEMOTONG KUKU, dll :

As-Subkhi berkata (ad-Din al-Khalish 8/417):”Adapun pernyataan sebagian orang yang menganjurkan setelah mandi hari ini (10 Muharram) untuk ziarah kepada orang alim, menengok orang sakit, mengusap kepala anak yatim, memotong kuku, membaca al-Fatihah seribu kali dan bersilaturahmi maka tidak ada dalil yg menunjukkan keutamaan amal-amal itu jika dikerjakan pada hari Asyura. Yang benar amalan-amalan ini diperintahkan oleh syariat di setiap saat, adapun mengkhususkan di hari ini (10 Muharram) maka hukumnya adalah bid’ah.

  1. TENTANG MELUASKAN BELANJA
  2. YANG BERPENDAPAT ADA KEUTAMAAN : Adalah menjamu serta bersedekah pada 10 muharram bukan hanya pada anak yatim tapi keluarga, anak, istri, suami dan orang orang terdekat, karena itu sunnah beliau saw dan pembuka keberkahan hingga setahun penuh.

(FAIDHUL QADIR juz 6 hal 235-236).Diriwayatkan pula bahwa sayyidina Umar ra menjamu tamu dengan jamuan khusus, pada malam 10 muharram (MUSNAD IMAM TABRANI/ TAFSIR IBN KATSIR Juz 3 hal 244)

  1. BERPENDAPAT LAIN : Ibnu Rajab berkata (Latha’iful Ma’arif hal. 53) : “Hadits anjuran memberikan uang belanja lebih dari hari-hari biasa, diriwayatkan dari banyak jalan namun tidak ada satupun yang shahih.
  2. Di antara ulama yang mengatakan demikian adalah Muhammad bin Abdullah bin Al-Hakam Al-Uqaili berkata :”(Hadits itu tidak dikenal)”. Adapun mengadakan ma’tam (kumpulan orang dalam kesusahan, semacam haul) sebagaimana dilakukan oleh Rafidhah dalam rangka mengenang kematian Husain bin Ali Radhiyallahu ‘anhu maka itu adalah perbuatan orang-orang yang tersesat di dunia sedangkan ia menyangka telah berbuat kebaikan. Allah dan RasulNya tidak pernah memerintahkan mengadakan ma’tam pada hari lahir atau wafat para nabi maka bagaimanakah dengan manusia/orang selain mereka”
  1. TENTANG BERCELAK, BERHIAS, SHALAT SUNAH

Pada saat menerangkan kaidah-kaidah untuk mengenal hadits palsu, Al-Hafidz Ibnu Qayyim (al-Manar al-Munif hal. 113 secara ringkas) berkata : “Hadits-hadits tentang bercelak pada hari Asyura, berhias, bersenang-senang, berpesta dan sholat di hari ini dan fadhilah-fadhilah lain tidak ada satupun yang shahih, tidak satupun keterangan yang kuat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selain hadits puasa. Adapun selainnya adalah bathil seperti.

“Barangsiapa memberi kelonggaran pada keluarganya pada hari Asyura, niscaya Allah akan memberikan kelonggaran kepadanya sepanjang tahun”.

  1. Imam Ahmad berkata : “Hadits ini tidak sah/bathil”. Adapun hadits-hadits bercelak, memakai minyak rambut dan memakai wangi-wangian, itu dibuat-buat oleh tukang dusta. Kemudian golongan lain membalas dengan menjadikan hari Asyura sebagai hari kesedihan dan kesusahan. Dua goloangan ini adalah ahli bid’ah yang menyimpang dari As-Sunnah. Sedangkan Ahlus Sunnah melaksanakan puasa pada hari itu yang diperintahkan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi bid’ah-bid’ah yang diperintahkan oleh syaithan”.
  2. Adapun shalat Asyura maka haditsnya bathil. As-Suyuthi dalam Al-Lali 2/29 berkata : “Maudhu’ (hadits palsu)”. Ucapan beliau ini diambil Asy-Syaukani dalam Al-Fawaid Al-Majmu’ah hal.47. Hal senada juga diucapkan oleh Al-Iraqi dalam Tanzihus Syari’ah 2/89 dan Ibnul Jauzi dalam Al-Maudlu’ah 2/122
  3. Ibnu Rajab berkata (Latha’ful Ma’arif) : “Setiap riwayat yang menerangkan keutamaan bercelak, pacar, kutek dan mandi pada hari Asyura adalah maudlu (palsu) tidak sah. Contohnya hadits yang dikatakan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu secara marfu.

“Barangsiapa mandi dan bersuci pada hari Asyura maka tidak akan sakit di tahun itu kecuali sakit yang menyebabkan kematian”. (Hadits ini adalah buatan para pembunuh Husain).

Adapun hadits,

“Barangsiapa bercelak dengan batu ismid di hari Asyura maka matanya tidak akan pernah sakit selamanya”

Maka ulama seperti Ibnu Rajab, Az-Zakarsyi dan As-Sakhawi menilainya sebagai hadits maudlu (palsu).

PERAWI HADITS YANG DINILAI LEMAH

Hadits ini diriwayatkan Ibnul Jauzi dalam Maudlu’at 2/204. Baihaqi dalam Syu’abul Iman 7/379 dan Fadhail Auqat 246 dan Al-Hakim sebagaimana dinukil As-Suyuthi dalam Al-Lali 2/111. Al-Hakim berkata : “Bercelak di hari Asyura tidak ada satu pun atsar/hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hal ini adalah bid’ah yang dibuat oleh para pembunuh Husain Radhiyallahu ‘anhu”.

RESUME JALAN TENGAH PEMAHAMAN DAN PENGAMALAN (Amilul-washathan)

Apabila amalan dan fadhilah tersebut dinilai tidak mempunyai dasar yang kuat (kecuali berpuasa) sebagian besar ulama menganjurkan, sebagai bagian dari “fadhailul a’mal” (penambah keutamaan beribadah). Maka, terlepas dari kontroversi mengenai kekuatan hukumnya, pengamalan amalan tersebut diniatkan pada ketetapan hati serta lillahi Ta’ala saja insyaAllah mendatangkan faedah dan rahmat.

BERIKUT RINCIAN JALAN TENGAH PENGAMALAN

UNTUK AMALAN PUASA SUNNAH : Dari berbagai riwayat dan pendapat, ada 4 Cara Menyikapi Puasa ‘Asyura:

  1. Berpuasa tiga hari pada 9, 10, dan 11 Muharram.
  2. Berpuasa pada hari 9 dan 10 Muharram.
  3. Berpuasa pada hari 10 dan 11 Muharram seandainya pada tanggal 9 Muharram nya tidak berpuasa.
  4. Berpuasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) saja, sebagian saja ulama memakruhkannya karena Nabi saw, memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makruh).

PENJELASANNYA:

(1) BERPUASA 9,10, dan 11 Muharram

“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan SELISIHILAH orang-orang Yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi.

Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany di Dha’iful Jami’. Ibnul Qayyim berkata (dalam Zaadud Ma’al): “Ini adalah derajat yang paling sempurna.” Syaikh Abdul Haq ad-Dahlawi mengatakan:”Inilah yang utama.”

Ibnu Hajar di dalam Fathul Baari juga mengisyaratkan keutamaan cara ini. Dan termasuk yang memilih pendapat puasa tiga hari tersebut (9, 10 dan 11 Muharram) adalah Asy-Syaukani dalam Nailul Authar dan Syaikh Muhamad Yusuf Al-Banury dalam Ma’arifus Sunan.

Namun ulama-ulama yang memilih cara seperti ini adalah dimaksudkan untuk lebih hati-hati. Ibnul Qudamah di dalam Al-Mughni menukil pendapat Imam Ahmad yang memilih cara seperti ini (selama tiga hari) pada saat timbul kerancuan dalam menentukan awal bulan.

Meskipun hadits tersebut dha’if, tetapi secara umum boleh diamalkan jika itu HANYA TERKAIT FADHILAH AMAL yang tidak menyangkut aqidah dan hukum.

Inilah tiga syarat penting diperbolehkannya beramal dengan hadits-hadits dha’if dalam keutamaan amal;

– Hadits itu tidak sampai derajat maudlu’ (=palsu).

– Orang yang mengamalkannya ‘mengetahui’ bahwa hadits itu adalah dha’if.

– Tidak memasyhurkannya sebagaimana halnya beramal dengan hadits shahih.

(2) BERPUASA 9 dan 10 Muharram

MAYORITAS HADITS menunjukkan cara ini. Juga pada Kitab Hadits Riyadhus Shalihin pun hanya dibahas mengenai puasa 9 dan 10 Muharram, dan tidak dikutip dalil satu pun tentang puasa 11 Muharram di sana.

(3) BERPUASA 10 dan 11 Muharram

“Berpuasalah pada hari Asyura dan SELISIHILAH orang Yahudi, puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.”

Hadits marfu’ ini tidak shahih karena ada illat (cacat). Ibnu Rajab berkata (Lathaiful Ma’arif hal 49): “Dalam sebagian riwayat disebutkan “atau sesudahnya” maka kata ‘atau’ di sini mungkin karena keraguan dari perawi atau memang menunjukkan kebolehan….”

Al-Hafidz berkata dalam Fathul Baari: “Dan ini adalah akhir perkara Rasulullah saw., dahulu beliau suka menyocoki ahli kitab dalam hal yang tidak ada perintah, lebih-lebih bila hal itu menyelisihi orang-orang musyrik. Maka setelah Fathu Makkah dan Islam menjadi termahsyur, beliau suka MENYELISIHI AHLI KITAB SEBAGAIMANA DALAM HADITS SHAHIH. Maka ini (masalah puasa ‘Asyura) termasuk dalam hal itu. Bisa menambah sehari sebelum atau sesudahnya untuk menyelisihi ahli kitab.”

(4) BERPUASA 10 Muharram saja

ATTARTIBU AMALAN IBADAH BULAN MUHARAM HASIL IJTIHAD PARA ULAMA (Ijtima’)

Nr. AMALAN WAKTU BOBOT

DALIL

FAEDAH
1 BERPUASA TASYU’A DAN ASYURAA 9-10 Muharam,

Atau 9-10-11

Atau 1-10

Sahih-Bukhari

Ijtihad

Ijtihad

menggugurkan dosa 1 tahun lalu
2 MEMBACA AYAT QURSIY Tiap usai shalat fardlu,

Atau 1-10

 

Sahih

Masuk syorga tanpa halangan,

(1 huruf 40.000 kebaikan, 1000 berkah)

3 MEMBACA SURAT IKHLAS

 

Tiap hari,

Atau 1-10

Sahih 1 X = 1/3 baca Al-Qur’an,

3 X = khatam Al-Qur’an

4 MEMBACA  ALI IMRAN:173&AL-A’RAAF:40,

(HASBUNALLAH WA NI’MAL WAQIL)

Tiap hari,

9-10 Muharam

Ayat,

Hadits

Ketenangan hidup, keamanan, keselamatan
5 SHOLAT SUNNAH MUHARRAM

(Shalat Tasybih, shalat rahmat, dll)

Malem 10 Ijtihad Mendapat rahmat
6 BERSODAQOH, MEMBERI MAKAN ORANG YANG BERPUASA.

 

Tiap hari,

9-10 Muharam

Ayat,

Al-Hadits,

Ijtihad

Panjang umur, menolak penyakit, amal jariyah, harta berkah
7 MENYANTUNI ANAK YATIM

(Memberi sesuatu, menyayangi, mengusap rambutnya)

Tiap hari,

9-10 Muharam

Hadits Bukhari Menempati kedudukan syorga yang tinggi bersama Rasulullah SAW
8 MELUASKAN BELANJA KELUARGA (mengadakan jamuan istimewa, makan bersama keluarga) Malem 10 Ijtihad

(Dari sahih muslim)

Allah meluaskan rizki
9 MENINGKATKAN NILAI IBADAH

 

Tiap hari,

 

Perintah ayat

Ijtihad

Taqwa
10 MANDI ASSYURAA (Sesuci badan) Malem 10 Ijtihad Menjaga kesehatan
11 MEMOTONG KUKU, MERAPIHKAN RAMBUT, MEMAKAI PAKAIAN BAIK, BERSIH, WEWANGIAN, dsb. Malem 10 Ijtihad Menjaga kesehatan
12 MEMAKAI CELAK / SHIFAT, Malem 10 Ijtihad Menjaga kesehatan
13 ZIARAH KE ORANG ORANG ALIM

 

Tanggal 9,

Atau 1-10

Ijtihad

(ibadah disunahkan)

Rahmat dan berkah umur
14 TA’ZIAH DAN MENGANTAR JENAZAH

 

Tanggal 9,

Atau 1-10

Hadits,

Ijtihad

Pahala 2 qirat (2 gunung besar)
15 MEMBESUK ORANG SAKIT

 

Tanggal 9,

Atau 1-10

Ijtihad Rahmat, didoakan 70 ribu malaikat
16 Amal shalih dan berbuat manfaat  lainnya Sehari hari Nilai Islam Untuk mencapai derajat insan kamil

DO’A ASSYURAA / 10 MUHARAM

Mari manfaatkan momen hari ‘Asyura, hari yang penuh keutamaan dan kemuliaan dengan memanjatkan doa.

“Hasbunallahu wani’mal wakiilu ni’mal maulaa wani’man nashiiru, Subhanallahi mil-al miizaani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridhaa wazinatal ‘arsyi, Laa malja-a walaa manja-a minallahi illa ilaihi subhaanallahi ‘adadasy syaf’ir wal witri, Wa ‘adada kalimaatillahittaammaati kulliha nas-alukas salaamata birahmatika yaa arhamar raahimina, Walaa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiimi, Wa huwa hasbuna wa ni’mal wakiilu ni’mal maulaa wa ni’man nashiiru, Wa shallalahu ‘alaa sayyidina muhammadin wa ‘alaa aalihi washahbihii wasallam”.

Artinya:

“Cukuplah Allah menjadi sandaran kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik kekasih, dan sebaik-baik Penolong. Maha Suci Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan dan timbangan ‘arsy. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari Allah, kecuali hanya kepada-Nya. Maha Suci Allah sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat Allah yang sempurna, kami memohon keselamatan dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Paling Penyayang diantara semua yang penyayang. Dan tiada daya upaya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dan Dialah yang mencukupi kami, sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik kekasih, dan sebaik-baik Penolong. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, teriring keluarga dan sahabat beliau.”

DOA HAJAT :

Laa ilaha illallohul haliimul kariimu subhaanallohi robbil ‘arsyil ‘azhiim. Alhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin. As `aluka muujibaari rohmatika wa ‘azaaima maghfirotika wal ghoniimata ming kulli birri wassalaamata ming kulli itsmin Laa tada’ lii dzamban illa ghofartahu walaa hamman illaa farojtahu walaa haajatan hiya laka ridhon illa qodhoitahaa yaa arhamar roohimiin.

Artinya :

Tidak ada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Lembut dan Maha Penyantun. Maha Suci Allah, Tuhan pemelihara Arsy yang Maha Agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Kepada-Mu-lah aku memohon sesuatu yang mewajibkan rahmat-Mu, dan sesuatu yang mendatangkan ampunan-Mu dan memperoleh keuntungan pada tiap-tiap dosa. Janganlah Engkau biarkan dosa daripada diriku, melainkan Engkau ampuni dan tidak ada sesuatu kepentingan, melainkan Engkau beri jalan keluar, dan tidak pula sesuatu hajat yang mendapat kerelaan-Mu, melainkan Engkau kabulkan. Wahai Tuhan Yang Paling Pengasih dan Penyayang.

LAFAZ NIAT PUASA

Lafadz Niat Puasa Tasu’a (puasa 9 Muharram)

NAWAITU SAUMA TASU’A SUNNATALILLAHI TA’ALA
Artinya : “Saya niat puasa hari Tasu’a, sunnah karena Allah ta’ala.”

Lafadz Niat Puasa Asyuro’ (puasa 10 Muharram)
نويت صوم عشر سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA ‘ASYURA SUNNATAN LILLAHI TA’ALA
Artinya : “Saya niat puasa hari ’Asyura , sunnah karena Allah ta’ala”.

(Niat letaknya di hati, melafadzkan untuk menuntun hati).

KESIMPULAN DAN PENUTUP

  1. Maka pandangan mayoritas kaum muslimin Ahli Sunnah wal Jamaah tentang keutamaan dan kemuliaandibulan‘asyura, adalah dengan memanfaatkan momen utama ini diisi dengan memperbanyak dan mempertebal ibadah serta perbuatan amal shalih lainnya seperti yang dijabarkan dalam tabel amalan Muharam diatas.
  1. Sedangkan pandangan bagi kaum Syi’ah dalam satu sisi sama dengan pandangan kaum Sunni dalam hal keutamaan dan kemuliaandibulan‘asyura, hanya yang membedakannya adalah tata cara menyikapi hari ‘asyura, bagi kaum Syi’ah memandangnya sebagai hari kesyukuran sekaligus sebagai hari berduka atas gugurnya cucu Rasulullah Saw Sayyidina Hassan dan Husein di padang Karbala pada 10 Muharram tahun 61 Hijriyah, bertepatan 10 Oktober 680 Masehi. Yang dibunuh oleh militer Khalifah Bani Umayyah, yang dipimpin jenderal Yazid bin Muawiyah yang membawa dampak sangat besar dalam sejarah perkembangan Islam, di satu sisi hati umat Islam merasa tersayat atas perbuatan Yazid yang tidak bertanggung jawab tersebut, dan di sisi lain menimbulkan rasa haru dan kagum terhadap Imam Husein, terutama bagi pengikut keluarga Ali bin Abi Thalib (alawiyah).
  1. Rasa haru dan duka itulah yang mendorong kaum Syiah untuk memperingati hari‘asyura yang pada mulanya diperingati secara sederhana yaitu dengan berziarah ke tempat peristiwa berdarah tersebut, tetapi lama kelamaan peringatan itu membudaya dan menjadi perayaan besar-besaran dengan memakai pakaian berkabung dan mulai melampaui batas, dengan melukai badan mereka sendiri, memukul-mukul dada, mengiris kepala mereka dan anak-anak mereka dengan pisau. Ini dilakukan oleh Syi’ah Imamiah dan Rafidhah  dan adalah merupakan keistimewaan tersendiri bagi mereka yang dapat berdomisili dekat makam Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib, mereka melumurkan seluruh tubuh mereka dengan lumpur, dari tanah yang ada di sekitar makam Al-Husein, karena menurut mereka tanah tersebut mempunyai keistimewaan (sumber: http//dhr 12.com/?a=257), (sumber: http//dhr 12.com/?a=257).
  1. Perbuatan Jahiliyah yang mereka lakukan itu tidak ada hubungan sama sekali dengan Islam. Nabi Muhammad Saw bersabda:Tidak termasuk golongan kami orang-orang yan menampar pipi (wajah), merobek saku, dan melakukan amalkan Jahiliyah (HR. Bukhari no.1294 dan mUslim no.103).
  1. Ibnu Qudamah berkata: Jika ada orang yang melakukan amal yang mengandung nilai “kebaikan/ibadah” maka hal tersebut diperbolehkan, seperti shalat nawafil atau mengerjakan shalat shalat sunah yang membarengi momen hari/bulan utama dan atau Fadhoilul A’maal, maka tidak disyaratkan harus dengan berlandaskan hadits shahih” (Al-Mughny 2/33)
  1. Maka secara marak tradisi bahwa memperingati hari ‘asyura mulai diperingati sejak setahun setelah tragedi Karbala yaitu pada 10 Muharram tahun 62 Hijriyah, atau pada tahun 681 Masehi. Namun secara hakekat bahwa Rasulullah SAW telah melakukan peringatan ‘asyura ini dengan melaksanakan puasa dan melakukan amal shalih lainnya serta memperbanyak ibadah yang berkaitan dengan keutamaan bulan Muharam.

‘Ala kullihal, hari ‘asyura  merupakan hari yang utama dan mulia dalam nilai nilai Islam sekaligus hari tragedi dalam sejarah politik Islam atas pembantaian cucu Rasulullah Saw Al-Hasan dan Husein di Karbala. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk merespon/mentadzaburi hari yang dimuliakan Allah Swt tersebut dengan berpuasa serta melakukan amal shalih lainnya, memperbanyak ibadah namun dilarang merayakannya dengan cara ikut ikutan yang jahil, bathil , berbuat dzalim menyiksa diri dan anggota keluarga sendiri dan sebagainya.

Salamun kaulam min Rabbirrahim, demikian semoga manfaat dan menambah wawasan.

Prembun, 7 Oktober 2016

Diolah dan disusun lengkapi oleh : Agus Sholech Al-Qadry

Maraji/Sumber :

  1. Al-Qur’an terjemah DEPAG RI
  2. M. Nasir, Lc., MA :Penulis: Pimp. Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batubara dan Wakil Sekretaris Dewan Fatwa Pengurus Besar Al Washliyah
  3. Ustadz Aris Munandar bin S.Ahmadi-Surakarta
  4. Attauziah hasanah abuya Kyai M. Syamsuddin-Majelis dzikir As-Shalihin-Masjid Baitut Taibin-Prembun-Kebumen-Jawa Tengah
  5. Pengajian terbuka ponpes Krapyak-Yogyakarta
  6. Sejarah dan tokoh ahli fiqih & perawi hadits-H. Said Aqil MA-Ketua PBNU
  7. http://noternative.blogspot.co.id/2013/11/12-amalan-di-hari-asyura-10-muharram.html
  8. http://ilmuamalan.blogspot.co.id/2014/05/shalat-tasbih-dan-khasiat-shalat-tasbih.html
  9. https://ulamasunnah.wordpress.com/2009/01/01/keutamaan-puasa-di-hari-asyura-10-muharram/
  10. Sumber lain

 

MEMBENDUNG UPAYA UPAYA PEMBELOKAN NILAI NILAI ISLAM DARI PEMAHAMAN DANGKAL KAUM FASIKIN

KANTER/JAWABAN BUAT ORANG YANG MENYALAHKAN UCAPAN “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN” SAAT IDUL FITRI

SANGGAHAN BUAT ORANG YANG BERFAHAM : “BAHWA IDUL FITRI bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan”. Dengan anggapan sebagai KEKELIRUAN/SALAH BESAR.

Awalnya ini isu dari media berita online yang dimuat di Muslimedianews.com walaupun rilisan July 2014, namun karena tahun ini muncul kembali isu itu dari tautan yang di share oleh pengguna sosmed sebagai silang tanggapan antar pengguna lain, karena materinya mengandung unsur deviasi/pembiasan pemahaman/syareat islam maka saya mencoba ikut meng-kanter/memberi tanggapan secukupnya dengan maksud mencegah terjadinya kebingungan umat dan timbulnya salah tafsir maupun fitnah.

Berita asalnya dari tautan ini :

http://www.muslimedianews.com/2014/07/jangan-ragu-ucapkan-minal-aidin-wal.html?m=1

Muslimedianews.com ~ Sunday, 27 July 2014

Pada hari-hari di penghujung Ramadhan ini, beredar BC bertajuk ‘Bagaimana Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah?’ Seingat saya, jelang hari raya di tahun-tahun sebelumnya, BC tersebut juga tersebar. Intinya, tulisan itu ‘mempermasalahkan’ beberapa hal yang telah menjadi tradisi kebiasaan umat Islam, khususnya di Indonesia.

Berikut isi lengkap tulisan by no name yang menyebar via BB, WA, atau media sosial lainnya:

BERIKUT ORANG MEM-PUBLIS PEMAHAMAN :

  1. “Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf”.
    “Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri”.
  2. Demikian Rasulullah mengajarkan kita. Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri.
  3. Satu lagi, saat Idul Fithri, yakni mengucapan : “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN”. Arti dari ucapan tersebut adalah: “Kita kembali&meraih kemenangan.”

KITA MAU KEMBALI KEMANA? Apa pada ketaatan atau kemaksiatan? Meraih kemenangan? Kemenangan apa? Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan? 

  1. Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yg ucapkan “Minal‘Aidin wal Faizin” Lantas diikuti dengan kalimat “Mohon Maaf Lahir&Batin ”.

Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh KELIRU luar biasa.

  1. Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain.. PASTI PADA BINGUNG!
  2. Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI.
  3. Ucapan yg lebih baik & dicontohkan langsung oleh para sahabat ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , yaitu :

    “TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM” (Semoga Allah menerima amalku & amal kalian). Jadi lebih baik, ucapan/SMS/BBM kita: Taqobbalallahu minna wa minkum. (Selesai)

INI PERLU DIKANTER, Begini wahai KAUM FASIKIN,(saya pikir penyebar Berita yang karakter tulisan tulisannya model ini-bukan orang islam)

Siapapun Anda/kalian sekelompok umat akhir zaman yang kini mulai banyak semakin menjauhi (kehilangan) ruh ruh kedalaman samudera ilmu hikmah/hakekat Islam, dengarlah :

  1. Masalah pemaham yang memahami perkara pertama, yang menulis/mempublis/menyatakan/berasumsi bahwa : “Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf”. “Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri”.

 Begini :

Tingkatan pemahaman anda/kalian masih pada level: “Seolah-olah”,

Sedang saat Idul Fithri adalah memang moment yang tepat/relijius/khusus untuk saling minta maaf antar saudara/keluarga/orang tua dan sesama.

Renungkan berapa banyak manusia yang sibuk dilibas oleh urusan duniawi yang kadang membuat saling sikut sikutan, rebutan baik antar sesama maupun antar saudara sendiri, yang kadang malah menonjolkan persengketaan dan tak saling mengenal, hingga lupa akan hikmah berkah hubungan silaturahim serta rahmat Allah. Itu sehari hari berlangsung hingga 11 bulan. Maka hakekatnya kita dalam setahun, Alloh memberi anugerah 1 bulan yakni bulan ramadhan yang penuuh berkah, maghfiroh serta peluang bebas api neraka. Maka sebab kecondongan manusia yang suka menjauhi nilai nilai berkah, rahmat dan kasih sayang itulah di ramadhan Alloh memberi kesempatan manusia untuk kembali fitri, bersih diri, agar menjadi pemenang agar berpangkat taqwa.

Bagaimana aktualisasinya? Ya dengan cara (tareqat) saling sadari kealpaan, dosa, kesalahan baik yang sengaja atau tidak sengaja, baik yang sadar atau yang tak disadari dengan saling silaturahim, mudik ke kampung halaman menyambangi orang tua, sanak famili yang selama setahun terberai, terpisah karena waktu dan kehidupan, kemudian saling minta maaf, saling ridho kembali antar nafs masing.

Ingat manusia itu terbentur 2 perkara urusan haq amaliah, yakni melunasi / membebaskan diri dari perkara yang menjadikan rintangan/hambatan/gantungan diterimanya amal ibadah seseorang oleh Sang Pencipta, itulah yang disebut HAQQULLAH dan HAQQUL ADAM.

Ingat amal ibadah seseorang akan ditahan jika masih ada utang/pembatas berupa perbuatan lalai/salah maupun dosa terhadap Tuhannya serta pada sesama makhluk ciptaan-Nya. Jadi janganlah berpikir ““Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf”. “Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri”.

Sebab pasti kita itu tak dapat mengklaim diri suci (bersih dosa) la wong anda/kita saja ga pulang pulang dari rantau menyambangi orang tua, sanak famili yang selama setahun sebab repot urusan perut, kadang malah  bertahun tahun, kontak tidak, kirim duit tidak, apalagi tiap saaat minta maaf. Benul tidak ? akui sajalah kita banyak melalaikan perkara HAQQULLAH dan HAQQUL ADAM. Ingat jika manusia mati tetapi masih ada perkara/utang/salah dan tidak terselesaikan, maka itulah perkara HAQQUL ADAM yang bakal menahan/membangkrutkan amal amalmu nanti di akherat.

Jadi jelas pemahaman andalah yang keliru, bukan masyarakat yang keliru, yang dengan tradisi mulia memanfaatkan momen waktu khusus untuk saling maaf memaafkan pada hari raya.

  1. Masalah pemaham yang memahami perkara kedua :

Dengan menulis/mempublis/menyatakan/berasumsi bahwa : Demikian Rasulullah mengajarkan kita. Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri.

Begini,

Justru saya/kami yang balik bertanya pada anda, “Kapan Rasulullah mengajarkan kita : “Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri?

Sama dengan : “Kapan Rasulullah mengajarkan kita untuk menunggangi volvo, Pajero, Fortuner, memakai jas, makan makan di Mc.D**ld, naik Busway, merayakan ulang tahun dengan nyanyi happy birthday to you, meniup lilin, kartu kredit, pinjam bank, dsb? Mengapa anda anda sekarang melakukannya? Padahal Allah dan Nabi bahkan tak menulis dalilnya! Seharusnya anda naiki onta, pakai gamis, potong tangan anak anakmu, keluargamu yang mencuri (mengambil diam diam) sebutir permen dirumahmu/tetanggamu !

PADAHAL keharusan SALING “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri, BAHKAN SETIAP HARI KITA DISURUH UNTUK MENSIFATI NILAI NILAI SALING MOHON MAAF ITU SANGAT ADA DALIL DI QUR’AN/HADITS, HANYA MATA DAN HATI KALIAN TERTUTUP OLEH TUHAN TUHAN DALIL (hanya tahu cangkangnya saja, tak pernah menyelam). Kalian bukan penyelam, kalian hanya turis yang sedang wisata yang hanya duduk manis diatas biduk.Tak tahu kalau dibawahnya ada samudera air yang dalam, yang ada ikannya, pausnya, mutiaranya, intannya,uraniumnya, dsb.

  1. Menjawab masalah pemaham yang memahami perkara ketiga :

Yang menulis : “Satu lagi, saat Idul Fithri, yakni mengucapan : “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN”. Arti dari ucapan tersebut adalah: “Kita kembali&meraih kemenangan.” KITA MAU KEMBALI KEMANA? Apa pada ketaatan atau kemaksiatan? Meraih kemenangan? Kemenangan apa? Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan? 

Begini,

Laa, anda mengartikan makna “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN” saja salah (tidak becus) kok malah sampai ke penjabaran “KITA MAU KEMBALI KEMANA? dan Meraih Kemenangan apa?.

  1. Menjawab masalah pemaham yang memahami perkara keempat : Yang menulis : “Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yg ucapkan “Minal‘Aidin wal Faizin” Lantas diikuti dengan kalimat “Mohon Maaf Lahir&Batin ”.Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh KELIRU luar biasa.

Begini,

Apanya yang harus dipahami la wong anda yang tidak paham dan anda yang “sungguh KELIRU luar biasa…” malah.bahkan bisa jadi orang lain akan menilai anda yang kelihatan “gob**ognya.

  1. Menjawab Tulisan point kelima : : Yang menulis : “Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain.. PASTI PADA BINGUNG!

Begini,

Yang bingung itu anda/kalian, yang nyoba nyoba sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kalian di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain ! saya/kami “ogah” kerajinan amat !

  1. Menjawab Tulisan point ke enam : Yang menulis : “Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI”.

Begini,

“Ogah, emang gue pikirin ?”

  1. Menjawab Tulisan point ke tujuh: Yang menulis : “Ucapan yg lebih baik & dicontohkan langsung oleh para sahabat ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , yaitu :

    “TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM” (Semoga Allah menerima amalku & amal kalian). Jadi lebih baik, ucapan/SMS/BBM kita: Taqobbalallahu minna wa minkum. (Selesai)

Begini,

Lah, lebih baikan dan lebih komplitan ucapan saya/kami :

‘Ja’alanallahu wa iyyakum MINAL ‘AIDIN ilal fithrah WAL FAIZIN bil jannah’ (Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang yang kembali pada fitrah dan menuai kemenangan dengan meraih surga). ”,

“Salaamun Qoulam Mir Robbir Rohiim “, wamtazul yauma ayyuhal mujrimuun”

(QS.Yaasiin:58) Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. 59. Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.

“Taqabbalallahu Minna wa Minkum’, taqabbal ya Kariim”

Jangan Ragu Ucapkan : ‘Minal ‘Aidin wal Faizin’ mohon maaf lahir batin”

komplit pakai stmj (susu telur madu & juzz buah)

 

SEKIAN, semoga dinalar

 

Salam Cahaya Rahmat Semesta Alam,

 

Majelis Dzikir & Salawat As-Shalihin-Kranggan

Senin, 4 Juli 2016/29 Ramadhan 1437 H.

Kelana Delapan Penjuru Angin

 

 

SALAH KAPRAH BAHASA, MENGARTIKAN MAKNA IDUL FITRI

fitri

ARTI IDUL FITRI BUKAN “Kembali suci” ?

JUGA TAK SERTA MERTA : “bagai bayi yang baru dilahirkan, suci dari semua dosa” ! BENARKAH ?

Kita selama ini  memahami arti IDUL FITRI = “Kembali suci”, bahkan dari para pendakwah, sering menyuarakan, mengartikan idul fitri dengan “kembali suci”. Kata ‘IED diartikan dengan makna “kembali” dan FITRI diartikan sebagai “suci”.

Para pendakwah seringkali memberi kabar gembira kepada umat yang telah menyelesaikan ibadah selama ramadhan, bahwa pada saat idul fitri diri kita telah kembali suci, bersih dari semua dosa antara diri dengan Allah. Hingga ada dipadankan sebagai bayi yang baru dilahirkan (mengkaitkan hal ini karena ada kata, ‘Iedul fitri). Pecahan dari pemaknaan ini, sebagian masyarakat sering menyebut untuk tanggal 1 syawal dengan ungkapan ‘hari yang fitri’

Ikhwan fillah, mari kita gali dengan ilmu pengetahuan.

Terjadi dua kesalah kaprahan dalam mengartikan perkara tersebut diatas. Pertama, memaknai idul fitri dengan kembali suci, ini kesalahan lughawi, bahasa. Sedang Kedua, pemahaman bahwa ketika idul fitri, semua muslim suci/dosanya diampuni.

Berikut jabarannya :

Arti Idul Fitri secara Bahasa

Idul fitri berasal dari dua kata; id [arab: عيد] dan al-fitri [arab: الفطر].

Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu [arab: عاد – يعود], yang artinya kembali. Hari raya disebut ‘id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama. Ibnul A’rabi mengatakan,

سمي العِيدُ عيداً لأَنه يعود كل سنة بِفَرَحٍ مُجَدَّد

Hari raya dinamakan id karena berulang setiap tahun dengan kegembiraan yang baru. (Lisan Al-Arab, 3/315).

Ada juga yang mengatakan, kata id merupakan turunan kata Al-Adah [arab: العادة], yang artinya kebiasaan. Karena masyarakat telah menjadikan kegiatan ini menyatu dengan kebiasaan dan adat mereka. (Tanwir Al-Ainain, hlm. 5).

Berikutnya jabaran arti kata fitri.

Silahkan digaris bawahi bahwa kosa kata “fitri” TIDAK sama dengan “fitrah”. Fitri dan fitrah adalah dua kata yang berbeda. Beda arti dan penggunaannya. Namun, mengingat cara pengucapannya yang hampir sama, banyak kita umat/masyarakat indonesia menyangka bahwa itu dua kata yang sama. Berikut jabaran masing-masing:

Pertama, Kata Fitrah

Kata fitrah, Allah menyebutkan dalam Al-Quran,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

Hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (QS. Ar-Rum: 30).

Ibnul Jauzi menjelaskan makna fitrah,

الخلقة التي خلق عليها البشر

“Kondisi awal penciptaan, dimana manusia diciptakan pada kondisi tersebut.” (Zadul Masir, 3/422).

Dengan demikian, setiap manusia yang dilahirkan, dia dalam keadaan fitrah. Telah mengenal Allah sebagai sesembahan yang Esa, namun kemudian mengalami gesekan dengan lingkungannya, sehingga ada yang menganut ajaran nasrani atau agama lain. Ringkasnya, bahwa makna fitrah adalah keadaan suci tanpa dosa dan kesalahan.

Kedua, kata Fitri

Kata fitri berasal dari kata afthara – yufthiru [arab: أفطر – يفطر], yang artinya berbuka atau tidak lagi berpuasa. Disebut idul fitri, karena hari raya ini dimeriahkan bersamaan dengan keadaan kaum muslimin yang tidak lagi berpuasa ramadhan.

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan hal ini, diantaranya

  1. Hadis tentang anjuran untuk menyegerahkan berbuka,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يزال الدين ظاهراً، ما عجّل النّاس الفطر؛ لأنّ اليهود والنّصارى يؤخّرون

“Agama Islam akan senantiasa menang, selama masyarakat (Islam) menyegerakan berbuka. Karena orang yahudi dan nasrani mengakhirkan waktu berbuka.” (HR. Ahmad 9810, Abu Daud 2353, Ibn Hibban 3509 dan statusnya hadia hasan).

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تزال أمَّتي على سُنَّتي ما لم تنتظر بفطرها النّجوم

“Umatku akan senantiasa berada di atas sunahku, selama mereka tidak menunggu waktu berbuka dengan terbitnya bintang.” (HR. Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya 3/275, dan sanadnya shahih).

Kata Al-Fithr pada hadis di atas maknanya adalah berbuka, bukan suci. Makna hadis ini menjadi aneh, jika kata Al-Fithr kita artikan suci.

“Umatku akan senantiasa berada di atas sunahku, selama mereka tidak menunggu waktu berSUCI dengan terbitnya bintang”

Dan tentu saja, ini keluar dari konteks hadis.

  1. Hadis tentang cara penentuan tanggal 1 ramadhan dan 1 syawal

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ

“Hari mulai berpuasa (tanggal 1 ramadhan) adalah hari di mana kalian semua berpuasa. Hari berbuka (hari raya 1 syawal) adalah hari di mana kalian semua berbuka.” (HR. Turmudzi 697, Abu Daud 2324, dan dishahihkan Al-Albani).

Makna hadis di atas akan menjadi aneh, ketika kita artikan Al-Fithr dengan suci.

Hari suci adalah hari dimana kalian semua bersuci”.dan semacam ini tidak ada dalam islam.

Karena itu sungguh aneh ketika fitri diartikan suci, yang sama sekali tidak dikenal dalam bahasa arab.

Kembali Suci Seperti Bayi ? yang bagaimana ?

Konsekuensi dari kesalah kaprahan mengartikan idul fitri, yang dengan pemahaman bahwa idul fitri = kembali suci, banyak orang menjadi berpemahaman/keyakinan bahwa ketika idul fitri, semua orang yang menjalankan puasa ramadhan, semua dosanya diampuni dan menjadi suci.

Maka pemahaman/Keyakinan semacam ini termasuk kekeliruan sebagai: gurunya yang  salah ngajar atau murid/umatnya yang salah menterjemahkan, (alias tidak nyambung).

Berikut  dua alasan untuk menunjukkan kesalah kaprahan pemahaman/keyakinan ini:

Pertama, keyakinan bahwa semua orang yang menjalankan puasa ramadhan, dosanya diampuni dan menjadi suci, sama dengan memastikan bahwa seluruh amal puasa kaum muslimin telah diterima oleh Allah, dan menjadi kaffarah (penghapus) terhadap semua dosa yang meraka lakukan, baik dosa besar maupun dosa kecil. Padahal tidak ada orang yang bisa memastikan hal ini, karena tidak ada satupun makhluk yang tahu apakah amalnya diterima oleh Allah ataukah tidak.

Terkait dengan penilaian amal, ada dua hal yang perlu kita bedakan, antara keabsahan amal dan diterimanya amal.

  1. Keabsahan amal.

Amal yang sah artinya tidak perlu diulangi dan telah menggugurkan kewajibannya. Manusia bisa memberikan penilaian apakah amalnya sah ataukah tidak, berdasarkan ciri lahiriah. Selama amal itu telah memenuhi syarat, wajib, dan rukunnya maka amal itu dianggap sah.

  1. Diterimanya amal

Untuk yang kedua ini, manusia tidak bisa memastikannya dan tidak bisa mengetahuinya. Karena murni menjadi hak Allah. Tidak semua amal yang sah diterima oleh Allah, namun semua amal yang diterima oleh Allah, sudah tentu amal yang sah.

Karena itulah, terkait diterimanya amal, kita hanya bisa berharap dan berdoa. Memohon kepada Allah, agar amal yang kita lakukan diterima oleh-Nya. Seperti inilah yang dilakukan oleh orang-orang shalieh masa silam. Mereka tidak memastikan amalnya diterima oleh Allah, namun yang mereka lakukan adalah memohon dan berdoa kepada Allah agar amalnya diterima.

Dibandingkan dengan Nabi Ibrahim ‘AS saja, Selesai memperbaiki bangunan Ka’bah, beliau tidak ujub dan memastikan amalnya diterima. Namun yang berliau lakukan adalah berdoa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Ya Allah, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 127).

Demikian pula yang dilakukan oleh para sahabat dan generasi pengikut mereka. Yang mereka lakukan adalah berdoa dan bukan memastikan.

Mu’alla bin Fadl mengatakan:

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang bulan Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka ketika di bulan Ramadhan.” (Lathaiful Ma›arif, Ibnu Rajab, hal.264)

Karena itu, ketika bertemu sesama kaum muslimin seusai ramadhan, mereka saling mendoakan,

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم

“Semoga Allah menerima amal kami dan kalian”

Jadi kita berharap, berdoa memohon kepada Allah agar amalnya diterima dan tidak mampu memastikan amal kita diterima. (ya to……ya to…..yoi khan?)

Kedua, sesungguhnya ramadhan hanya bisa menghapuskan dosa kecil, dan bukan dosa besar. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِر

“Antara shalat 5 waktu, jumatan ke jumatan berikutnya, ramadhan hingga ramadhan berikutnya, akan menjadi kaffarah dosa yang dilakukan diantara amal ibadah itu, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Ahmad 9197 dan Muslim 233).

Kita perhatikan, ibadah besar seperti shalat lima waktu, jumatan, dan puasa ramadhan, memang bisa menjadi kaffarah dan penebus dosa yang kita lakukan sebelumnya. Hanya saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan syarat: ‘selama dosa-dosa besar dijauhi.’ Adanya syarat ini menunjukkan bahwa amal ibadah yang disebutkan dalam hadis, tidak menggugurkan dosa besar dengan sendirinya. Yang bisa digugurkan hanyalah dosa kecil.

Lantas bagaimana dosa besar bisa digugurkan?

Caranya adalah dengan bertaubat secara khusus, memohon ampun kepada Allah atas dosa tersebut. Sebagaimana Allah telah tunjukkan hal ini dalam Al-Quran,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. An-Nisa: 31).

KESIMPULAN

riset

Bahwa arti iedul fitri secara lughawi/etimologi adalah : Hari kembali berbuka, hari raya tidak puasa. Sedang makna secara hakekat/terminologi, idul fitri adalah hari kemenangan melawan hawa nafsyu (bagi yang benar benar melaksanakan hakekat puasa dengan baik, khusyu, ikhlas dan benar loh yah !) yang Alloh memberikan pangkat taqwa (QS. Al Baqarah: 183), kemudian sebagai hari berterima kasih (Thanks Giving Day) QS.2. Al Baqarah:185

Namun jika ada yang mengartikan lainnya, silahkan bebas. Yang utama saya urai menurut berbagai sumber dan dengan jelas.

Demikian ikhwan, semoga menjadi khazanah dalam cakrawala fikir kita.

Salam Cahaya Ramadhan-Nya,

 

Tal Kandangan, 26 Ramadhan 1437 H/ 1 Juli 2016

Kelana Delapan Penjuru Angin

Ref:

-Alqur’anul Karim-terjemah DEPAG RI

Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina-KonsultasiSyariah.com)

-www.Dakwatuna.com