PILAR PILAR AL-MAIDAH:51

PILAR PILAR AL-MAIDAH:51

Buku risalah ini sedang dalam penyelesaian. Selanjutnya akan diterbitkan.

Judul: PILAR PILAR AL-MAIDAH:51

Penulis: Kelana Delapan Penjuru Angin

Thema:

  • KAJIAN AL-QUR’AN SURAT AL-MAIDAH:51, Memahami konteks dan tujuan
  • KEWAJIBAN UMAT ISLAM UNTUK MEMILIH DAN MENGANGKAT SEORANG  PEMIMPIN DARI KALANGAN ISLAM,SEBAGAIMANA MEREKA GOLONGAN NON ISLAM AKAN MEMILIH DAN MENGANGKAT PEMIMPINNYA DARI GOLONGAN MEREKA SENDIRI

DAFTAR ISI :

  • TADABUR PERISTIWA
  • PARA PENDUSTA DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN
  • KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN DIZAMAN NABI MUHAMMAD SAW
  • KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN ZAMAN NABI NABI TERDAHULU
  • AKAN ADA KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN  SEPANJANG  ZAMAN
  • HAKEKAT KEBERADAAN KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN
  • CARA MENSIKAPI DAN MENGHADAPI KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN
  • KAJIAN AL-QUR’AN SURAT AL-MAIDAH:51
  • KONSEP KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM
  • TUNTUNAN MEMILIH PEMIMPIN ISLAM
  • CARA MEMILIH PEMIMPIN YANG SESUAI PERINTAH ALLAH DALAM AL-QUR’AN
  • AKAN SELALU MUNCUL GOLONGAN ISLAM YANG TERBELAH
  • CARA MENSIKAPI DAN MENANGANII PERPECAHAN DITUBUH ISLAM
  • MEMBANGUN PERADABAN ISLAM YANG KOKOH UNTUK RAHMAT SEMESTA ALAM
  • KESIMPULAN DAN PENUTUP

Islam

Exegess:

Al-Qur’an surat AL-MAIDAH:51, sesungguhnya adalah ayat ekseklusif untuk komunitas umat islam dalam kancah politik. Yang dengan enerji ayat tersebut golongan (baca: kelompok, komunitas, organisasi, partai politik) yang dibawah panji panji islam dapat eksis, bersaing dan berjaya serta dapat tampil sebagai pemenang dalam setiap kompeitisi untuk urusan kemaslahatan umat.

Yakin 1000 % bila yang menjadi umat islam itu tunduk luruh terhadap kalam sucii tersebut tanpa reserve, tanpa kepentingan duniawi, tanpa jumawa mengatas namakan AHLI ilmu dalil, tafsyir, gramatika dan sebagainya, dengan berbagai debat  tolol, mengupas, mengorek orek tafsyir hingga ruwet, hingga malah mempertontonkan perpecahan, kebingungan, kekocar kaciran ditengah umat sendiri.

Sementara ada ironi terpampang nyata, dari sikap golongan / umat non muslim, betapa mereka (jama’ahnya) begitu patuh dan tunduk luruh terhadap ayat ayat suci mereka, terhadap fatwa fatwa dari para imam, ulama, pemimpin pemimpin rohani dari kalangan mereka, tanpa reserve, tanpa koar koar, tanpa debat tolol menggali gali dan merangkai dalil dalil pembenaran diantara mereka. Maka menanglah mereka dalam setiap percaturan politik dan kepentingan, cukup dengan satu komando dari pemimpin mereka: ”PILIH WAKIL TUHAN KITA”. Maka merekapun mengikutinya tanpa reserve. Tanpa demo, tanpa aksi aksi yang menguras energi.

Bukankah berbeda dengan keadaan yang dipertontonkan oleh umat islam kini ? Sangat jelas. Atau, O…wahai kaum muslimin pewaris ‘khairu ummatan’, apakah pandangan qalbu kalian masih terhalang oleh tuhan tuhan mazab dan aliran?

Giliran partainya, calon pemimpin yang diangkatnya kalah atau ketika ada perkara yang dianggapnyasebagai ’pelecehan, penistaan  agama, kita begitu sensitif dengan lantangnya meneriakkan ketersinggungan, sakit hati, hingga ramai ramai heboh danmusti repot repot mengadakan unjuk aksi saling membangga banggakan kelompok, mazabnya masing masing, yang malah menampilkan kepingan kepingan ketidak harmonisan dalam tubuh islam.O, betapa bodoh dan bebalnya ‘aqalku…..’

BAB I

TADABUR PERISTIWA

Abad abad diakhir zaman ini adalah masa abad yang sangat menyedihkan dan memprihatinkan bagi kehidupan umat islam. Yaitu harus menyaksikan nasib dan keadaan generasi umat Islam kini yang hidup tidak bersatu, bercerai berai, saling curiga mencurigai, saling bertikai, saling bunuh membunuh sesama saudaranya sendiri, dengan mengatas namakan kebenaran dan Tuhan, saling cemooh, sindir menyindir, saling berdebat mencari pembenaran masing masing dengan serangkaian dalil dalil dan tafsyir. Silahkan lihat saja diberbagai media, jejaring sosial, komunitas online dan dalam kehidupan sehari hari ditengah masyarakat, yang isinya saling profokasi, menulis, memuat dan membagi info yang bernada tendensius saling menjelekkan antar aliran dan organisasi.

LIHATLAH POTRET KETERPURUKAN UMAT ISLAM DIPENJURU BUMI. PERANG BODOH DIWILAYAH TIMUR TENGAH, PEMBANTAIAN UMAT ISLAM DI MYANMAR, DERITA PALESTINA, AFRIKA DAN BELAHAN BUMI LAINNYA.

Sementara dinegeri non muslim, umat islam yang minoritas sedang meregang nyawa mengantri kematian karena dianiaya, dibantai oleh penganut mayoritas yang benci dan anti Islam tanpa mampu melawan, tanpa persiapan dan tanpa pertolongan dari umat islam lainnya, sebab saudara seagamanya itu tengah sibuk dengan perdebatan, dengan berebut kedudukan dan persaingan duniawi, bahkan lebih gigih memperjuangkan dan menjadi pendukung golongan diluar Islam, sementara lainnya asyik dengan saling membangga banggakan kelompok dan organisasinya masing masing.

Sehingga perlahan baik disadari maupun tidak disadari atau bahkan bagi yang tak peduli dengan apa yang terjadi, maka umat islam telah tergilas oleh roda waktu bersama ribuan muslim yang terusir dari kampung halamannya, bersama ribuan lainnya yang tewas mengenaskan, dibantai oleh kaum yang benci dan anti Islam maupun sebab pertumpahan darah sesama Islamnya sendiri, hingga kemudian perlahan baik disadari maupun tidak disadari atau bahkan bagi umat islam awam yang masa bodoh dengan Islamnya sendiri, maka perlahan tapi pasti, umat Islam kini menuju kearah kebinasaan.

Jangan menyalahkan non muslim menjadi pemimpin, sebab mereka menduduki kursi kepemimpinan karena menang pemilu dan terpilih. Maka salahkanlah diri kita sendiri mengapa sebagai umat islam Indonesia yang katanya mayoritas? Tetapi mengapa tidak bersatu memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan muslim sendiri?

O,umat….. pewaris ‘khairu ummatan’,

O, banyak orang islam begitu menjadi pejabat atau pemimpin banyak yang korupsi dan mementingkan diri sendiri? MasyaAllah….! Lantas mengapa seperti kebakaran jenggot saat kalangan islamnya kalah dalam pemilihan sehingga kepemimpinan dimenangkan non muslim? Malah saling adu debat berebut benar, saling berselisih dan bercerai berai hingga saling kafir mengkafirkan sendiri?

Maka yang model begini yang ‘ngerasa’ katanya paling benar, yang paling diridhai oleh Allah, yang ngotot islam lebih berhak menjadi penguasa (Khalifah), namun lupa kita sendiri kotor, kita sendiri tak becus memimpin, kita sendiri tidak becus dalam menegakkan kesatuan dan persatuan islam (ukhuwah islamiyah) dengan benar sesuai perintah-Nya, kita sendiri tidak beriman islam dengan benar. Hingga kita sendiri tidak memperhatikan betapa marahnya Allah kepada kita generasi umat islam yang model begini. Maka tanyakan pada nurani kita sendiri. Sudahkah kita beriman islam dengan benar? Sudahkah kita faham terhadap islamnya sendiri?

Dalam Al-Qur’an, Allah menyindir peradaban umat Islam yang dalam keadaan model begini:

“Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)? “(QS.4.An-Nisaa:109)

Dan ini adalah sindiran Allah untuk umat Islam yang hari hari saling ejek mengejek, saling mengolok olok, saling memprofokasi, saling takfiri (kafir mengkafirkan) dan saling berdebat berebut benar antar kelompok, antar aliran dalam islamnya sendiri.

“Beginilah kamu, kamu ini bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”.(QS.6.Ali’Imran:66)

Maka wahai kaum muslimin muslimat, segeralah secepat mungkin tinggalkan perpecahan, Jika tidak, jangan harap islam tampil menjadi rahmatan lil’ alamin. Sebab islam generasi model begini akan dihapus oleh Allah.

O, berarti harus kembali ke sistim kekhalifahan seperti masa lalu. Pasti islam akan terkemuka kembali. Pasti akan menjadikan umat islam bersatu dan kuat kembali. Sebab ini syareat islam, pasti diridhai Allah. Begitulah kini suara suara kenangan peradaban masa lalu semakin santer mengiang.

Jangankan bermimpi khalifah global, mengurus negara kecil dengan mengatas namakan negara islam saja berantakan, saling bertikai antar aliran, apalagi skoup global. Ujung ujungnya cari pengaruh, kedudukan, rebutan kekuasaan antar aliran seperti masa lalu.

KHALIFAH? Memang sudah paham apa itu KHALIFAH?

(Baca ’keruntuhan sistim khalifah masa lalu’)

(Baca ’karakter bangsa Arab’)

Maka wahai kaum muslimin muslimat, berfikir ! Gunakan logika sederhana saja, tak perlu rumit, ‘njlimet’ ! Islam Indonesia mayoritas, anggap saja 75%. Satukan hati dan jiwa islam. Bebaskan diri dari nafsyu duniawi, kepentingan dan keuntungan pribadi. Saat pemilihan kepemimpinan, persiapkanlah. Kemudian angkat dan pilih saja calon dari Islam yang paling alim (kapabel), bulatkan suara, pilihlah itu. Maka jadilah kepemimpinan dimenangkan islam, dan memimpinlah dengan nilai nilai islam, bangun negeri, bangun mental, bangun kesejahteraan dan kemajuan bangsa serta negara. Wujudkan cita cita Indonesia yang jaya, Indonesia yang rahmatan lil’alamin, Indonesia yang terkemuka di dunia.

BAB II

PARA PENDUSTA DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN

Banyak peristiwa dalam kehidupan dunia ini sesungguhnya sarat akan limpahan pelajaran dan peringatan bagi manusia manusia yang berakal, berfikir dan merenung dalam diam. Pada 2 Desember 2016, terjadi peristiwa akbar yang terjadi secara serentak di berbagai kota besar Indonesia, khususnya di Ibu kota, yang telah menyita perhatian publik dan menjadi sorotan dunia, bahkan disebut sebagai unjuk rasa terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia, yaitu terjadi unjuk rasa besar besaran dari kaum muslimin yang melakukan gerakan yang terkenal dengan sebutan aksi DAMAI 212 Bela Islam III. Hari itu Jakarta berubah menjadi lautan manusia yang berjumlah jutaan berkumpul melakukan aksi gelar do’a bersama dan menyuarakan aspirasi menuntut pemerintah agar menangkap dan mengadili segera gubernur DKI, Ahok, yang telah menista Al-Qur’an dan  melecehkan Islam. Gelombang kemarahan dari umat islam dipicu dari ucapan Ahok gubernur DKI didepan publik dalam lawatan dinasnya di Kepulauan Seribu pada27 September2016

Mengutip dari www.edunews.id , berikut bagian transkrip ucapan Ahok di Kepulauan Seribu :

“………..ini pemilihan kan dimajuin, jadi kalo saya tidak terpilih pun bapak ibu, saya berhentinya oktober 2017. jadi kalo program ini kita jalankan dengan baik pun, bapak ibu masih sempat panen sama saya. sekalipun saya tidak terpilih jadi gubernur. jadi saya ingin ceritanya bapak ibu semangat. jadi gak usah pikiran, ah, nanti kalo gak kepilih, pasti, Ahok programnya bubar. gak, saya sampai oktober 2017.

jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu, gak bisa pilih saya, ya — dibohongin pake surat Al Maidah surat 51 macam-macam gitu lho. itu hak bapak ibu. ya. jadi kalo bapak ibu, perasaan, gak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gak papa…. “.

Demikian bagian transkrip ucapan Ahok di Kepulauan Seribu, selengkapnya silahkan googling saja, maka akan banyak ditemukan konten dan beritanya disana, oleh karena kita disini tidak membahas kasus ’Ahok’nya, namun mengungkap hakekat apa yang keluar dari mulutnya.

Bahwa sesungguhnya kasus Ahok dan atau pernyataan miring yang keluar dari mulut Ahok dan Ahok itu sendiri, tidaklah berdiri sendiri. Semua realitas itu adalah cerminan dari sebuah ungkapan hati / jiwa / sikap atas komunitas umat diluar golongan Islam yang sejak dahulu pernah ada terjadi dan akan ada hal serupa hingga akhir zaman nanti.

“Ahok”, hanyalah sebuah representasi icon pengungkapan suatu hujjah penolakan atau ‘penistaan’ (mewakili performa sikap secara umum) terhadap ayat ayat Al-Qur’an  dari golongan umat / agama diluar Islam yang dipelopori / dipropagandakan oleh para pemimpin agama, ulama, imam imam mereka, yang anti / tidak menyukai risalah Islam (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah SWT,  melalui nabi Muhammad SAW. Dan tuduhan tuduhan miring maupun olok olok merendahkan dan pengingkaran terhadap Al-Qur’an tersebut lazim dilafazkan dalam khotbah khotbah ibadah kebaktian mereka. Sehingga telah menjadi perkataan perkataan kebiasaan dan telah menjadi doktrin kepercayaan yang ditanamkan kedalam jiwa pemahaman setiap umatnya / jemaatnya. Maka tak heran bila pemahaman penganut agama diluar Islam terhadap agama Islam hanya sebatas apa yang telah didoktrinkan oleh para ulama mereka, memahami Islam sebagai agama primitif, agama barbar, agama buatan Muhammad, Al-Qur’an ayat ayat bualan Muhammad, ajaran syetan sesat (lucifer), dan sebagainya hingga ejekan ejekan yang kasar serta ekstrim terumbar dimana mana seperti di sosial media, pada ajang diskusi, di portal situs maupun dalam obrolan perlecehan dikomunitas publik.Sehingga memancing kejengkelan dari komunitas penganut Islam dan yang akhirnya saling membalas baik halus maupun ada yang jadi kasar.

Dalam transkrip ucapan gubernur DKI Jakarta periode: 2012-2017 , di Kepulauan Seribu seperti yang tertulis diatas, maka jika diintisarikan dari seluruh perkataan Ahok tersebut akan memunculkan sebuah kalimat pikiran utama yang menggetarkan qalbu. Kalimat pikiran utamanya itu jatuh / menyorot pada transkrip kalimat yang berbunyi ‘dibohongi’ (pake surat Al Maidah surat 51}. Itulah rahasia sebenarnya dari pokok persoalan, mengapa umat Islam marah dan melakukan aksi bela Al-Qur’an.

Dan ternyata hujah hujah tuduhan miring yang dilontarkan oleh golongan anti Islam dan atau umat diluar Islam, baik sengaja maupun bersifat ”keceplosan”, maka hakekatnya adalah lontaran olok olok merendahkan yang menyiratkan adanya pengingkaran dari qalbu mereka terhadap keberadaan Al-Qur’an maupun risalah Ilahi yang diturunkan kepada para rasul. Maka realitas yang demikian sesungguhnya telah ada terjadi sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak zaman nabi nabi terdahulu sebelum nabi Muhammad SAW.

Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan [25] ayat 4.

Terjemahan ayat tersebut berbunyi, “Dan orang-orang kafir berkata, ‘Al-Quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain.’ Maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezhaliman dan dusta yang besar.”

Dalam redaksi ayat tersebut Allah SWT memberi penegasan adanya tiga obyek dan predikat dari perbuatan suatu kaum penista / pengingkar Al-Qur’an, yakni:

  1. Al-Qur’an dan Muhammad sebagai obyeknya, sementara orang yang menuduh / mengingkari Al-Qur’an dan Muhammad diberi predikat oleh Allah sebagai golongan ’ orang-orang kafir’.
  2. Setiap acara yang diselenggarakan oleh mereka merupakan obyek kesempatan / moment untuk berkata kata / berpidato / berhujjah baik secara eksplisit maupun implisit yang  pada hakekatnya adalah menyuarakan suara suara penolakan, olok olok dan mendustai terhadap keberadaan Al-Qur’an, sementara orang orang / team / koalisi disekelilngnya yang membantu suksesi kepemimpinan dari golongan mereka diberi predikat oleh Allah sebagai golongan ’kaum yang lain’ yaitu tentu diluar golongan kafirin sebagaimana dimaksud pada item pertama, tetapi dari golongan lainnya seperti orang orang ’munafikin’ (islam ikut, kekafiran ikut), kemudian dari golongan ’musyrikin (kaum penyembah berhala) dan lainnya berikut para supporternya.
  3. Sedang setiap laku perbuatan sebagaimana disebut diatas merupakan obyeknya dan kumpulan para pelakunya (yaitu terdiri dari orang pelaku, team, koalisi yang membantunya) yang telah melakukan perbuatan menyuarakan suara suara kebathilan seperti yang dimaksud pada item 1 dan 2 tersebut diatas, diberi predikat oleh Allah sebagai perbuatan ’zhalim dan dusta besar’.

Terkait ayat ini, Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala menerangkan, “Sungguh, mereka telah menciptakan suatu komentar kebathilan, padahal mereka mengetahui bahwa hal itu adalah kebathilan dan mereka pun mengetahui kedustaan diri-diri mereka terhadap apa yang telah mereka tuduhkan.”

Kemudian menurut K.H. Muhammad Arifin Ilham menambahkan bahwa, merupakan salah satu bukti benarnya Al-Qur’an dalam mengabarkan: “telah dan akan ada orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan kebohongan, alat berbohong, dan sejenisnya”.

Silahkan renungkan sekali lagi, kesimpulan inti dari makna Al-Qur’an surat Al-Furqan [25] ayat 4 dalam konteks yang lebih luas adalah : saat ada orang / golongan yang mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan alat kebohongan atau berisi kebohongan,  maka Al-Qur’an juga sekaligus mengungkap, bahwa akan ada kehadiran dari orang-orang munafiq, musyrik dan lainnya, untuk membela orang tersebut. Dan selanjutnya Al-Qur’an  menegaskan pula status orang / golongan yang ber-hujjah tersebut serta yang membelanya / para pendukungnya, resmi disebut Al-Qur’an dalam ayat ini sebagai ‘Pelaku dusta dan kezhaliman yang sangat besar.’  (luar biasa na’udzubillah).

Itulah rahasia mengapa Allah menurunkan surat Al-Maidah:51. Dan surat ini tidak berdiri sendiri, namun dijabarkan kedalam berbagai ayat yang diantaranya ya dalam surat Al-Furqan (25):4, ini dan QS.(2).Al-Baqarah:120 serta dalam belasan ayat lainnya.

Dengan demikian, jelas sekali bahwa makna surat Al-Maidah:51 adalah pasal perintah Allah bagi kaum muslimin untuk memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan muslim itu sendiri, tanpa reserve, tanpa debat dan tanpa mengurai dalil dan tafsyir yang lebih ‘njelimet’ lagi. Tetapi memang begitulah manusia, pasti akan ada orang yang berdalih lagi dengan kata kata, bahwa :”jangan kaitkan agama dengan politik, tidak relevan”, atau ada yang berkata : “dalilnya multi tafsyir, Islam boleh kok memilih pemimpin dari non muslim, yang penting kinerja dan kemampuannya bagus”. Nah, bukankah ada orang orang yang berargumentasi demikian? Maka semua itu adalah dalih, mencari cari celah pembenaran untuk tidak termasuk melanggar ayat ayat Al-Qur’an.

MERENUNGI REDAKSI AYAT TENTANG : SIAPA PELAKU “DUSTA-SIAPA GOLONGAN KAFIR”?

LABEL KAFIR

Pengertian ”Kafir” salah kaprah, dianggap hanya cap bagi orang diluar islam saja. Sedang justru Al-Qur’an menekan label kekafiran itu pada orang islamnya sendiri.

PENJABARAN:

Berikut kalimat kalimat tuduhan / lecehan yang lazim mereka lontarkan terhadap Islam / Al-Qur’an:

  1. Dalam faham mereka, Islam adalah penyembah batu dan sesat
  2. Al-Qur’an buatan Muhammad, yang berisi bualan orang orang jaman dulu
  3. Al-Qur’an adalah ayat ayat syetan (Salman Rusydi)
  4. Islam agama pedang, barbar serta teroris
  5. Dll

(Silahkan googling, link hujjah mereka)

MERENUNGI REDAKSI AYAT TENTANG : SIAPA ORANG ORANG DISEKELILINGNYA YANG “MEMBANTU”?:

Dalam kaitan surat Al-Maidah:51 yang merupakan pasal perintah Allah bagi kaum muslimin untuk tidak mendukung dan memilih pemimpin dari luar golongan islam, maka bahasa lain dari ayat tersebut adalah merupakan perintah sesungguhnya dari Allah untuk kaum muslim wajib memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan muslim itu sendiri, dengan hikmah agar syiar dan kemaslahatan Islam dapat berjalan dan berkembang baik. Akan tetapi ketika umat islamnya tidak mentaati perintah itu hingga malah berpecah belah dan kemudian justru mendukung dan memilih pemimpin dari luar golongan islam, maka pesan dari ayat Al-Maidah:51 lainnya adalah bahwa kepemimpin dari luar golongan islam akan menimbulkan kemudharatan bagi umat islam. Sebab mengapa, yakni karena golongan kafirin dan musyrikin tidak suka dan anti kepada umat islam, yang salah satunya dalam bentuk tudingan bahwa Al-Qur’an adalah kebohongan dan golongan mereka saling bekerja sama satu sama lain untuk kepentingan mereka. Seperti yang dilansir dalam surat Al-Furqan [25] ayat 4.

(Bukankah dapat kita perhatikan ketika sejak pertama ‘Ahok’ tampil dalam pencalonan untuk menjadi pemimpin DKI Jakarta hingga kemudian ketika ‘Ahok’ tersandung kasus penistaan agama hingga harus menjalani proses hukum dan masuk ke persidangan, maka bukankah disekeliling Ahok muncul para pendukungnya dari orang orang / golongan Islam munafik dan golongan lainnya seperti penyandang dana, para konglomerat, para oportunis dan lainnya? Silahkan perhatikanlah dan renungkanlah dengan seksama akan kenyataan ini).

Maka hakekatnya dalam perkara ini sesungguhnya adalah soal pilihan bagi umat Islam, yaitu: apakah kita sebagai umat yang telah dianugerahi kenikmatan iman islam ini termasuk ke dalam kriteria yang dilansir seperti dalam ayat Al-Qur’an tersebut atau bukan, yakni:

  1. Apakah kita sebagai umat islam yang tidak memilih dan mengangkat pemimpin dari non muslim, atau
  2. Apakah kita sebagai umat islam yang justru menjadi pendukung, memilih dan mengangkat pemimpin dari non muslim.

Seterang itu sebenarnya dalam membaca suatu esensi kejadian atau suatu perkara. Namun akan sulit terbaca bagi orang orang awam dan bagi orang orang yang mata hati dan mata batinnya tersekat oleh sumbatan Az-Zhulmun (kegelapan materi), yang berupa nafs materi jasadiyah,  mengejar kepentingan pribadi, kedudukan serta jabatan yang kesemua itu hakekatnya adalah lebih memilih keuntungan duniawi dari pada nilai nilai keIlahian (ukhrawi).

Maka bagi orang orang yang mata hati dan mata batinnya telah tersumbat oleh dinding dinding keduniawian tersebut, secara otomatis sinyal sinyal hidayah dari Ilahi juga akan menutup (closed) pada dirinya. Jika sudah tertutup maka ia akan jauh dari cahaya petunjuk kebenaran. Itulah mengapa orang orang yang mengaku diri sebagai islam namun kehilangan daya pancar keislamannya, hingga kemudian nafs syetaninya akan membisikkan dan menggiring kearah lorong lorong Az-Zhur (kepalsuan) yang penuh dengan jebakan berupa pemikiran pemikiran kebenaran yang semu dan bias yang berlindung dibalik serangkaian pendalilan dan penafsyiran. Tak heran orang orang model begini akan selalu menyuarakan pemikiran kontroversial yang membingungkan umat sebab dibungkus dengan serangkaian  penjabaran dalil dan tafsyir yang sudah nash / qot’i (baku) namun masih dijabar jabarkan lagi dengan rangkain penafsyiran penafsyiran njelimet yang disesuaikan dengan posisi dan kepentingan yang sedang diperolehnya.

MERENUNGI REDAKSI AYAT TENTANG : SIAPA YANG MENDAPAT PREDIKAT SEBAGAI “PENDUSTA DAN ZALIM”?

BAB III

KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN  DIZAMAN NABI MUHAMMAD SAW

BAB IV

KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN  ZAMAN NABI NABI TERDAHULU

KAUM ANTI DAN PENISTA AL-QUR’AN   ZAMAN NABI NABI TERDAHULU

Begitu banyak ayat ayat Al-Qur’an yang memberitakan tentang adanya kaum / orang / golongan yang mengatakan bahwa ajaran kebenaran yang datang dari Tuhan yang disampaikan melalui para nabi nabi terdahulu sebelum nabi Muhammad, dianggap sebagai kebohongan atau berisi kebohongan atau mengada ada:

BAB V

AKAN ADA KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM /  AL-QUR’AN  SEPANJANG  ZAMAN

Mereka memiliki situs resmi yang digunakan untuk berdakwah secara tendensius menggiring faham yang menyesatkan kepada publik, secara halus, yang jika dicermati tulisan tulisannya  mengandung upaya upaya pemurtadan dengan menanamkan pemahaman bahwa islam / alqur’an merupakan kebohongan, serta hanyalah buatan Muhammad.

Ini salah satu link situs propaganda mereka dengan modus dan cara kerja sebagai berikut:

  1. Banyak memasang iklan diportal dan situs  web
  2. Berkamuflase ciri keislaman, namun isinya tuduhan miring terhadap Islam
  3. Komentar dibatasi hanya tiga baris
  4. Ketika koment harus login dengan akun email
  5. Begitu sudah diperoleh alamat email, mereka gencar kirim email berisi tuduhan miring tentang ayat ayat  Al-Qur’an dan menggiring untuk mengikuti  iman mereka

(http://www.isadanislam.com/al-quran/benarkah-al-quran-seratus-persen-firman-allah)

BAB VI

HAKEKAT KEBERADAAN KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN

HAKEKAT KEBERADAAN KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN

TUJUAN PARA PENDUSTA ISLAM / AL-QUR’AN

MEMADAMKAN CAHAYA ISLAM (QS.9.At-Taubah:32, QS.61.As-Shaf:8)

MENYUSAHKAN UMAT ISLAM KARENA KEBENCIAN (QS.3.Ali Imran:118)

PENYEBAB MEREKA MENDUSTAKAN ISLAM / AL-QUR’AN

                -KARENA TIDAK BERPENGETAHUAN AGAMA KEBENARAN MENGIKUTI KESESATAN NENEK MOYANG (QS.18.Al-Kahfi:5)

-Meniru kekafiran umat terdahulu (QS.9.At-Taubah:30)

CARA KERJA KAUM PENDUSTA ISLAM / AL-QUR’AN

                Dengan menyebarkan berita bohong (QS.24.An-Nur:15, QS.5.Al-Maaidah:41)

BAB VII

CARA MENSIKAPI DAN MENGHADAPI KAUM ANTI DAN PENISTA ISLAM / AL-QUR’AN

CARA MENSIKAPI / MENGHADAPI KAUM ANTI DAN PENISTA AL-QUR’AN DAN KAUM ANTI ISLAM KINI DAN NANTI

BAB VIII

KAJIAN AL-QUR’AN SURAT AL-MAIDAH:51

KEWAJIBAN UMAT ISLAM UNTUK MENDALAMI, MEMAHAMI DAN MERENUNGI MAKNA AYAT AYAT AL-QUR’AN, KEMUDIAN MENGAPLIKASIKANNYA.

Sahabat, apakah anda masih dalam kebiasaan memperlakukan Al-Qur’an sehari hari hanya sebatas bacaan tadarus saja tanpa membaca terjemahannya, kemudian memahami maknanya? Mari mulai kini jadikan Al-Qur’an sebagai An-Nuur Al-Hidayah, milikilah Al-Qur’an yang dilengkapi terjemahannya, kemudian berikan waktu dan kesempatan cahaya Al-Qur’an menyinari qalbu dan jiwa  anda dengan membaca artinya kemudian merenungi maknanya, kemudian mintalah bimbingan seorang yang berilmu Al-Qur’an, insyaAllah nanti kita akan mendapat pancaran nur hidayah dari Allah dan dari energi Al-Qur’an, yang dengan itu langkah hidup kita akan selalu mendapat petunjuk kemudahan, keselamatan serta ketenangan, terhindar dari pilihan jalan yang salah, kesulitan dan kekhawatiran. Mari dalami ayat ayat Al-Qur’an dengan maknanya.

SEJARAH TURUNNYA AL-MAIDAH;51 DAN TAFSYIR

RIWAYAT ABU BAKR DAN UMAR BIN KHATAB R.A

(DALAM PENYUSUNAN)

Resume:

PENJELASAN (QS Al-Maidah, 5: 51).

Ayat ini adalah satu dari belasan ayat yang berhubungan dengan larangan mengangkat pimpinan dari kalangan non muslim. Oleh karena itu, penafsirannya harus dipadukan satu sama lain. Kecuali itu, penafsiran surah Al-Maidah ayat 51 ini pun tidak bisa hanya sepotong ayat. Sebab, potongan ayat selanjutna (sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain) adalah alasan atau dasar adanya larangan tersebut.

Kata WALI atau AULIYA (jamak) memiliki makna tidak kurang dari sepuluh makna. Antara lain teman, kawan setia, penolong, sekutu, pelindung, pemimpin, kekasih, dan lainnya. Pada ayat ini semua makna tersebut bisa berlaku, sebab substansinya adalah bahwa orang beriman dilarang masuk dalam lingkungan pengaruh atau kekuasaan mereka.

Dari mana makna itu diperoleh? Dari dasar atau alasan adanya larangan tersebut, yaitu “sebagian mereka adalah wali/auliya bagi sebagian lainnya”. Maksudnya adalah, ”Orang-orang beriman jangan menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali, sebab mereka itu hanya akan jadi wali di kalangan mereka sendiri. Orang Yahudi jadi wali bagi orang Yahudi sendiri sesuai dengan keyakinannya. Begitu juga orang Nasrani. Maka, kalau orang beriman menjadikan mereka sebagai wali, pasti akan masuk dalam kendali kepentingan ke-walian mereka.

(Makna seperti ini hanya akan dipahami dengan ilmu ma’ani. Tanpa ilmu ini, kita tidak bisa menghubungkan penggalan ayat seperti itu). Untuk memastikan makna tersebut silahkan rujuk QS 2:20. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” Rujuk pula QS 3: 118, QS.3: 149-150, QS. 9:23, dll. Untuk membuktikannya silahkan perhatikan konspirasi dunia sekarang, bahkan sepanjang zaman. Di manakah Islam dalam permainan bangsa-bangsa besar non muslim?

Surah Al-Maidah ayat 51 itu diakhiri dengan ungkapan, “Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” Sangat jelas sekali, ayat ini mewanti-wanti bahwa orang beriman yang mengangkat wali dari orang kafir akan diseret untuk jadi kafir juga. Dan, kalau pun mengaku muslim, dia hanyalah sebagai muslim zalim yang sudah dijauhkan dari petunjuk Allah.

Kalau mengambil orang kafir sebagai wali (dalam arti teman dekat, sekutu, atau penolong) sudah dilarang, padahal hubungan tersebut tidak menimbulkan otoritas kuat untuk mengatur sekutunya, larangan itu menjadi lebih kuat jika mengangkatnya sebagai wali dalam arti pemimpin. Oleh karena itu, penafsiran atau penerjemahan kata WALI atau AULIYA itu dengan PEMIMPIN sebenarnya lebih lunak. Sebab, itu masih membuka peluang untuk menjadikannya sebagai teman dekat atau sekutu, selama tidak terseret kepada lingkup pengaruh yang tidak diizinkan.

***

Mengenai sebab turun ayat tersebut, benar ada periwayatan yang menghubungkannya dengan kondisi perang. Akan tetapi, itu hanya sebagian saja dari beberapa periwayatan tentang sebab turunnya yang dikemukakan oleh para ahli tafsir.

Setidaknya ada empat katagori periwayatan yang berbeda terkait peristiwa, waktu/situasi, dan pelakunya. Ada yang meriwayatkan dalam kondisi perang, pasca perang, perangnya juga berbeda-beda, orang atau pelakunya juga berbeda-beda. Ada pula yang meriwayatkan dalam kondisi normal (bukan perang). Sedangkan ayat-ayat yang melarang mengangkat kafir sebagai wali yang tidak terkait dengan situasi perang justru lebih banyak, baik dalam bentuk larangan langsung atau bentuk pemberitaan.

Oleh karena itu, dalam hal hubungan sebab turun ayat dengan ayatnya, para ulama tafsir meletakkan kaidah baku sebagai metodologi penafsirannya. Yaitu, al-Ibrah bi Umul lafdzi la bi khusu Sabab (Titik pertimbangannya terletak pada generalitas makna ayat bukan pada khususnya sebab turun). Tentu saja sebab turun ayat itu penting, setidaknya untuk melihat orientasi makna. Tapi peristiwa dan situasi yang bersifat temporal tidak mungkin mereduksi pernyataan-pernyataan banyak ayat yang sangat tegas dan general. Untuk membuktikan nya silahkan rujuk QS. 3: 28, QS. 4: 138-139, QS. 4: 144, QS. 60: 13, QS. 5: 80-81, QS. 58: 14-15, dll.

***

Mengenai Rasulullah saw. tidak menolak kepemimpinan pamannya, yaitu Abu Thalib, itu memang benar adanya. Kalau Alquran diturunkan sekaligus, tidak berangsur, masalah tersebut boleh jadi layak dipertanyakan. Akan tetapi, kenyataan berbicara lain, Alquran diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Saat Abu Thalib masih hidup adalah saat awal perjuangan Islam di Mekkah.

Ayat-ayat yang diturunkan di sana baru menyangkut masalah-masalah pokok akidah. Adapun ayat-ayat syariah tentang berbagai kewajiban, seperti zakat, shaum, haji, termasuk masalah pemerintahan turun di Madinah. Itu terjadi jauh setelah Abu Thalib meninggal dunia. Jadi, di Mekkah itu belum ada aturan tentang kepeminpinan. Lagi pula, di saat itu Abu Thalib adalah satu-satunya tokoh Quraisy (yang tidak beriman) yang memberikan perhatian dan perlindungan kepada Rasulullah saw.

Dengan demikian, dalam penafsiran Alquran itu memerlukan ilmu pendukungnya, tidak bisa dikira-kira, apalagi diseret oleh keinginan atau kepentingan tertentu. Setiap lompatan atau penggalan kalimat dalam satu ayat, baik menggunakan kata sambung atau tidak, pasti mengandung makna yang dalam. Begitu pula pengulangan konsep sama yang tersebar pada beberapa ayat dan surat berbeda. Untuk mengungkap rahasia maknanya ada ilmunya, yaitu ilmu manasabah.

Maka apabila suatu masalah diungkapkan dalam banyak ayat tidak bisa hanya dikaji dan disimpulkan dari satu ayat. Ayat-ayat yang berhubungan tersebut harus dicari korelasinya, sehingga terjadi penafsiran ayat dengan ayat. Inilah derajat tafsir yang paling tinggi.

***

Sekarang ini muncul perbedaan pendapat di kalangan orang muslim tentang kriteria pemimpin. Perbedaan tersebut muncul antara lain karena adanya keriteria pemimpin yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah. Hanya ada dua kriteria pemimpin yang beliau sampaikan, yaitu al-qawiyy dan al-amien. Al-qawiyy adalah orang yang memiliki kemampuan dan kompetensi yang baik untuk menjalankan tugas kepemimpinannya, sedangkan al-amien adalah orang yang jujur.

Dari sinilah timbul pendapat yang menyatakan bahwa yang penting pemimpin itu punya kompetensi memadai dan jujur. Iman tidak lagi harus jadi pertimbangan. Ini adalah kekeliruan besar, sebab al-amien yang dimaksud oleh Imam itu merupakan aktualisasi dari nilai intinya, yaitu khasyyatullah (takut kepada Allah) atau ketakwaan yang mendalam kepada Allah (Anda bisa merujuk buku aslinya al-Siyasah al-Syariyyah).

Hal ini sama kelirunya dengan menetapkan keriteria Shidiq, Amanah, fathonah, dan tabligh yang dibiarkan terbuka dan tidak dirujukan kepada nilai intinya. Padahal sifat-sifat tersebut adalah sifat Rasulullah saw. yang secara tergas dinyatakan bahwa beliau tidak mengatkan apapun dan tidak melakukan apapun kecuali atas bimbingan wahyu.

Jadi shidik (benar) itu standarnya apa? Yang pasti hanya Alquran. Amanah (jujur) itu jujur kepada siapa? Yang pasti hanya jujur kepada Allah. Rasulullah saw. sering mengalami cobaan berat, seperti saat dilempari batu di Thaif, tapi beliau tetap bersedia menerima penderitan lebih berat sekalipun asal tetap bisa jujur kepada Allah sehingga menggapai ridha-Nya. ***

Sumber: (Penulis Dr. Aam Abdussalam M.Ag)

IKHTILAF

-TOKOH ISLAM YANG MELARANG MENGANGKAT PEMIMPIN UMAT DILUAR ISLAM

–TOKOH ISLAM YANG MEMBOLEHKAN MENGANGKAT PEMIMPIN UMAT DILUAR ISLAM

(Dalam penyusunan)

BAB IX

KONSEP KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

ARTI PEMIMPIN DALAM ISLAM

-Kepemimpinan dalam islam adalah ketika ada keberadaan, ada  komunitas, ada masyarakat, ada organisasi, ada partai, ada negara yang penduduknya mayoritas islam, maka Al-Qur’an surat Al-Maidah:51, berikut rangkaian dalam ayat lainnya berlaku, yaitu memilih dan mengangkat pemimpin wajib dari kalangan islam.

Akan berbeda lagi ketika umat islam tinggal dinegara yang bukan mayoritas muslim, maka berlaku pedoman Al-Qur’an surat, yang lainnya.

Sebab sistim negara adalah demokrasi kerakyatan / suara rakyat dengan mengadakan pemilu, berbeda jika sistim kerajaan.

PEMIMPIN DALAM SEGALA HAL

-Pemimpin dalam keluarga, dalam organisasi,dll

TUNTUNAN MEMILIH PEMIMPIN ISLAM

Bahwa filosofinya adalah: Ukhuwah Islamiyyah. Ini adalah konsep Allah secara tegas dalam Al-Qur’an untuk umat Islam, yang merupakan metode tak tertawarkan agar umat Islam selalu memenangkan kompetisi dalam segala hal termasuk dalam hal memilih seorang pemimpin dari kalangan Islam sendiri.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS.surat Ali Imraan:103)

Masih hendak didebat juga ayat tegas ini dengan berbagai penafsyiran dan dalil dalil menurut angan masing masing? Kebangetan manusia, manusia !

Indonesia adalah negara republik. Sebab cara memilih dan mengkat seorang pemimpin / presiden dilakukan dengan cara menadakan pemilu (suara rakyat) maka surat Al-Maidah:51 ini berlaku bagi umat Islam. Jika negara Indonesia dikepalai oleh seorang raja, maka akan berbeda pedomannya bagi umat islam dalam memilih dan mengkat seorang pemimpin / presiden, maka ayat-lainnya-yang ditekankan bagi umat islam Indonesia.

Umat Islam dalam memilih dan mengangkat seorang pemimpin untuk urusan kemaslahatan orang banyak (strategis), maka sudah sepatutnya selalu menseleksi dan memilih calonnyadari kalangan Islamnya sendiriyangbenarbenarislamnya. Dalam hal ini faktor intelektualitas, pengetahuan serta wawasan dari umat Islamnya sendiri sebagai pemilih, sangatlah dipentingkan. Oleh karena itu jangan berharap banyak umat Islam bisa selalu memenangkan calon pemimpinnya sendiri jika umat pemilihnya tidak memahami nilai nilai Islam. Jika kondisinya seperti ini maka jangan harap kepemimpinan akan dimenangkan dari kalangan Islam. Disinilah pangkal persoalannya, yaitu wawasan keislaman umat Islam itu sangat vital.

Maka saat umat Islam seluruhnya telah menjiwai nilai nilai Islam, tak perlu melalui keadaan rumit pasti kepemimpinan akan selalu dikuasai / dimenangkan umat Islam. Ini sesuatu yang sudah otomatis. Maka sesungguhnya Al-Qur’an mengajari kita hukum hukum otomatis.

Kemudian jika menginginkan umat Islamnya cerdas dan berbobot / berpengetahuan serta menjiwai nilai nilai Islam, tentu dibutuhkan para ulamanya, kyainya atau pendidiknya juga yang cerdas cerdas dan berwawasan luas, tidak sempit pikir dan pemahaman. Dan wawasan yang luas itu diperoleh dengan terus menimba ilmu disegala bidang baik agama maupun umum.

BAB X

TUNTUNAN MEMILIH PEMIMPIN ISLAM

 (Indonesia menjadi incaran negara / paham lain untuk dikuasai), Ingin Islam-dan- pancasila lenyap. Ada revolusi besar nantinya. Harus dibangun sekarang untuk mencegah kehancuran Indonesia.

Dalam kehidupan berbangsa di dunia ini sudah menjadi suatu kelaziman bahwa mayoritas akan memilih pemimpin dari kalangannya sendiri…..Indonesia adalah negara didunia dengan penduduk beragama Islam terbesar, artinya mayoritas muslim. Suatu kewajaran bahkan keharusan bagi umatnya untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegaranya dengan kepemimpinan dari kalangan sendiri. Sebagaimana negara Katolik Italia yang mayoritas penganut Katholik, maka kepemimpinan berbangsa dan bernegaranya juga dikuasai / dalam kepemimpinan Katholik . Apakah umat Islam yang minoritas disana ngotot untuk memimpin? Demikian juga Indonesia, sepatutnya umatnya memilih pemimpin dari kalangan / golongannya sendiri. Itulah makna ayat ayat Al-Qur’an yang sesungguhnya memberitahu kita tentang keharusan memilih pemimpin dari golongannya sendiri. Maka patutkah seorang Islam tidak menjadikan pesan pesan Ilahi itu untuk ditaati?

Sementara ayat ayat Al-Qur’an telah mengingatkan umat Islam untuk memilih pemimpin dari golongannya sendiri agar hajat hidup berbangsa dan bernegaranya berjalan dinamis memenuhi kemaslahatan.

Namun sayangnya yang menjadi umat Islamnya sendiri berpecah belah dengan pembenaran dalil masing masing, bahkan rela meninggalkan persatuan Islamnya dengan gigih mendukung / berdiri pada barisan kepemimpinan non muslim.

Cobalah renungkan hikmah hikmah Al-Qur’an berikut ini:

Ketika Allah mengharamkan umat Islam memakan daging babi dengan hanya 4 ayat saja, maka seluruh umat Islam mematuhinya (taqwa), namun anehnya Ketika Allah mengharamkan umat Islam untuk tidak memilih kepemimpinan dari selain kalangan Islam, padahal Allah memberitahu rahasia rahasianya dengan belasan ayat, mengapa justru umat Islam banyak yang berani tidak mematuhinya (taqwa)?. Malah berpecah belah dengan argumentasi pembenaran pada kelompok yang dibungkus dengan rangkaian dalil? Sungguh Ironi umat Islam lebih larut tenggelam dalam saling pertikaian, peperangan, pembantaian saudara saudaranya sendiri. Tanya MENGAPA?

Ternyata kebanyakan umat islam dan tokoh Islamnya sendiri lebih cinta dengan kedudukan, pamor, uang dibanding ukhuwah islamnya.

Ingat jika begini Allah murka dan ingat generasi yang model seperti ini oleh Allah bakal diancam dengan pembinasaan generasi untuk kemudian akan diganti dengan generasi umat Islam yang baru. (ayat)

“Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian”. (QS. 4. An Nisaa’ :133)

PERBANDINGAN AYAT YANG DITAATI SECARA SOLID DENGAN YANG TIDAK OLEH UMAT ISLAMNYA SENDIRI

NO HARAM MAKAN

DAGING BABI

JML

AYAT

KET. HARAM MEMILIH

PEMIMPIN KAFIR

JML

AYAT

KET.
1 QS.2:173 1 ditaati QS.3:28 1
2 QS.5:3 1 ditaati QS.3:118 1
3 QS.6:145 1 ditaati QS.3:149-150 2
4 QS.16:115 1 ditaati QS.4:138-139 2
5 QS.4:144 1
6 QS.5:51 1
7 QS.5:57 1
8 QS.5:80-81 2
9 QS.9:16 1
10 QS.9:23 1
11 QS.28:86 1
12 QS.50:12-15 2
13 QS.60:1 1
14 QS.60:13 1
15 QS.2:120 1
16 QS.2:145 1
17 QS.25:52 1
18 QS.6:70 1
TOTAL 4 Ayat TOTAL 22 Ayat

BAB XI

CARA MEMILIH PEMIMPIN YANG SESUAI PERINTAH ALLAH DALAM AL-QUR’AN

CARA MEMILIH PEMIMPIN YANG SESUAI PERINTAH ALLAH DALAM AL-QUR’AN

                -MEMILIH PEMIMPIN UNTUK KEUTUHAN NKRI

BAB XII

AKAN SELALU MUNCUL GOLONGAN ISLAM YANG TERBELAH

AKAN SELALU MUNCUL GOLONGAN ISLAM YANG TERBELAH, TERHADAP PEMAHAMAN  AYAT  AYAT AL-QUR’AN YANG BERBENTURAN DENGAN KEPENTINGAN  PRIBADI / KELOMPOK

sebagai berikut : Al-Furqaan sendiri artinya PEMBEDA

  1. Golongan Islam SAMI’NA WA’ATOKNA tanpa reserve terhadap Al-Maidah:51
  2. Golongan Islam ABU-ABU (Sekuler) akan berdiri di golongan mana saja yang menguntungkan pribadi, yang pembenarannya akan berlindung dibalik rangkaian penafsiran dalil dalil cangkang.
  3. Golongan Islam MASA BODOH

BAB XIII

CARA MENSIKAPI DAN MENANGANII PERPECAHAN DITUBUH ISLAM

BAB XIV

MEMBANGUN PERADABAN ISLAM YANG KOKOH UNTUK RAHMAT SEMESTA ALAM

KESIMPULAN DAN PENUTUP

PENUTUP

UMAT ISLAM HARUS MELEK ILMU KEISLAMAN

Agar tampil menjadi umat Islam yang berkualitas (Al-insanul kamil), atau setidaknya menjadi bagian golongan ulul ’ilm, ulul albab sehingga tidak mudah terjebak kedalam lorong lorong Az-Zhulmun (kegelapan) dan kisi kisi Az-Zhur (kepalsuan)

Note:

Risalah ringan ini hanya resume singkat yang di intisarikan dari buku / kitab risalah yang masih dalam penyelesaian,yang berjudul:”HIZBUN NAAS” (Bendera manusia) karya Agus Sholech Al-Qadry,

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin, 03 April 2017

CopyRights@2017

Support & contact:

-Email: kelanadelapanpenjuruangin@gmail.com

-Facebook@https://web.facebook.com/kelana.delapanpenjuruangin

-Phone: +62878-378-22133

REGISTRASI ALAM KUBUR

REGISTRASI ALAM KUBUR

MASUK ALAM KUBURPUN HARUS MENDAFTAR

PERTANYAAN KUBUR OLEH MALAIKAT TIDAK HARUS DALAM BAHASA ARAB

MENURUT BAHASA MEREKA DAN ZAMAN NABI MASING MASING

MILIKILAH KARTU PASS MASUK ALAM KUBUR YANG DAMAI

download

Bismillahirrahmanirrahim,

Dalam aktifitas manusia hidup dan menjalani kehidupan di alam dunia ini pasti dikenal dengan adanya ketentuan pendaftaran. Sign in atau sign up. Apapun peristiwa yang sedang dialaminya atau yang sedang dalam urusannya. Seperti saat seorang bayi baru dilahirkan, maka ada proses kelahiran dan ada proses pengurusan administratif. Dalam hal ini pihak orangtua diwajibkan melengkapi surat surat, dokumen yang diperlukan untuk mendaftarkan sang bayi kepada pihak yang berwenang sehingga bayi itu mendapat surat keterangan lahir atau akte kelahiran. Itulah proses pendaftaran manusia yang baru lahir agar resmi diakui sebagai warga baru / penduduk baru / anggota keluarga baru, di alam kehidupan baru yang baru dimasukinya. Semua itu guna kepentingan dan hak hak keberadaan dirinya dapat terpenuhi secara hukum. Siapa pihak yang mengatur ketentuan demikian, maka otoritas penguasa / pemerintahlah yang menerapkannya dan yang memfasilitasinya.

Begitu juga dalam hal menjadi pegawai, maka anda pertama kali pasti melakukan pendaftaran dahulu kepada lembaga tersebut agar terdaftar sebagai peserta, itupun belum resmi menjadi pegawai, masih ada proses seleksi dan uji.

Begitu juga dalam hal masuk sekolah, masuk ABRI, masuk menjadi calon anggota DPR, dan sebagainya, pasti harus melalui yang namanya proses pendaftaran (kecuali satu hal yang tak perlu syarat pendaftaran yaitu, masuk angin)

Maka begitu juga anda para pecandu aplikasi sosmed, gamming, pasti dipersyaratkan melakukan pendaftaran dengan mengisi sejumlah pertanyaan, identitas ataupun asal usul.

Sebagaimana dipersyaratkan melakukan pendaftaran untuk memasuki sebuah aplikasi, maka demikian pula seseorang yang baru saja mengakhiri kontrak hidupnya di dunia alias meninggal, maka saat kita memasuki alam baru tersebut, SUDAH TENTU DAN SUDAH PASTI HARUS melalui proses PENDAFTARAN PENGHUNI ALAM KUBUR.

Itulah yang dikenal dengan FITNAH ALAM KUBUR atau PERTANYAAN KUBUR atau Talkim kubur.

5-kejadian-mistis-yang-pernah-terjadi-di-pekuburan-indonesia

Maka sesungguhnya FITNAH ALAM KUBUR atau PERTANYAAN KUBUR yang akan diajukan untuk kita semua nanti, itu adalah merupakan pendaftaran memasuki gerbang kehidupan baru dialam kubur.

Setidaknya, daftar isian ini yang nanti harus anda persiapkan jawabannya :

  1. Pertama : “Man Robbuka”? (Siapakah Tuhan yang kamu sembah)?
  2. Kedua, :“Wa maa diinuka”? (apa agamamu)?
  3. Ketiga, :”Man Nabiyyuka”? ( Siapa Nabimu)?

(Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?)-(”dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini”)?

NOTE:

KRITERIA / LINGKUP PERTANYAAN KUBUR

Pokok pertanyaan oleh Malaikat hanya satu esensi yakni ajuan pertanyaan tentang siapa Tuhan yang menjadi sesembahan, kemudian agama apa yang dipilih, lalu siapa rasul yang diikuti, yaitu sbb:

  1. Tergantung zaman nabinya dan syareatnya masing masing

Maka data jawaban dari calon penghuni kubur itu tidaklah sama sebab tergantung zamannya nabi siapa sebagai pembawa risalah keilahian. Saat umat nabi Nuh yang mati, maka jawaban kenabiannya ya nabi Nuh, bukan lainnya.

  1. Menurut bahasa dan cara masing masing peradaban.

-Orang suku INCA yang mati ya akan ditanya dengan bahasa mereka, tidak akan malaikat menanya dengan bahasa Arab (kan ga mungkin malaikat sendeso itu)

  1. Amalan taqwa seseorang dapat menjadi kartu pass memasuki alam kubur tanpa proses tanya dan penjawaban.

Daftar isian pertanyaan tersebut diatas adalah baru merupakan proses pendaftaran bergabung dialam kubur, belum dan bukan proses uji kelaikan apakah anda dapat diterima menjadi komunitas alam kubur. Masih panjang sobat, petualangan manusia di alam kubur. Belum proses penempatan arwah, belum penggolongan amaliah, belum penempatan barzah. Sedang kiamat apalagi, belum ! Apalagi padang masyar, apalagi hari pembalasan,……jauh…..masih panjang untuk tiap etape ke hari akherat…..apalagi alam syorga atau neraka…….ouw, masih sangat panjang ribuan hingga jutaan tahun kedepan masa yang harus ditempuh.

Saat pada pengisian pendaftaran awal ini saja sudah salah jawab atau alias data invalid, maka jangan merasa bahwa anda sudah diterima di alam sana. Lantas dimana keberadaan orang orang mati yang tidak diterima alam kubur? Dan kemudian berada ditempat mana bagi insan mati yang berhasil lolos uji alam kubur? Semua ada jawabannya, karena semua ada ilmunya……..

Berat sobat, maka marilah kita kursus dahulu selama masih diberi kesempatan kursus didunia ini sebelum engkau memasuki alam jauh disana yang tak akan kau temukan peta jalan pulang kembali.

Saat itulah engkau akan diantar ke taman ILLIYYIN yang penuh kedamaian dan kesejukan,

unduhan-1

Atau akan bernasib lara, dibuang ke puri nestapa lembah SIJJIN dilapis bumi bawah ketujuh yang gelap, penuh petaka sengsara dan tangisan lolongan panjang.

Sobat, mutiara ini hanya ringkasan, semua ada sumbernya, ada ilmunya dalam kitab risalah tebal. Untuk memahami dan merenunginya maka burulah dengan mengaji, carilah ilmunya.

Semoga menjadi renungan dan manfaat

Salam Taman Illiyyin

Kelana Delapan Penjuru Angin,

(Dalam risalah kitab: PERJALANAN PANJANG KE PLANET AKHERAT)

Kranggan, 1 Januari 2016

Sumber utama:

-Hadratussyeik Abuya Kyai Muhammad Syamsuddin-Kranggan

AL-JUNUNUN FUNUNUN (Gila itu bermacam macam)

ADAGIUM SUFI YANG POPULER :

“AL-JUNUNUN FUNUNUN”

“Gila itu bermacam macam”

SIAPAKAH ORANG YANG BENAR BENAR GILA ?

orang-gila-lucu-17-320x320

Gila loe…..loe yang gila…..

Apakah anda beranggapan bahwa orang gila itu adalah :

  1. Orang yang sakit jiwa atau sakit ingatan karena gangguan saraf-nya. Hingga penampilan kusut masai; tidak mandi; berpakaian lusuh; robek acak acakan; berkeliaran telanjang bulat, ngoceh ketawa sendiri; suka marah dan mengamuk tanpa jelas ?
  2. Atau anda termasuk gila karena berbuat menjengkelkan orang hingga sampai dikatain teman, “Dasar gila loe…..emang gue co apaan suruh godaen nenek nenek ?”
  3. Atau mendapat predikat gila karena anda : Gila harta, gila duit, gila daun muda/perempuan, gila hormat, gila judi dsb….
  4. Atau anda mendadak gila karena ditinggalin bini yang semlohe (seksi-red.), atau karena cintanya ditolak, atau karena cita cita tak kesampaian ?
  5. Atau anda dikatain gila karena mobil barunya ditawar teman dengan harga Cuma sejuta, critanya begini :

 “Mas, mobilnya baru yah ? sini gue beli sejuta.”

Anda menjawab : “emang gue gila apa ?”

“Ya kali ente lagi gila”. Ujar temannya menukas……

APAKAH ORANG YANG DISINGGUNG DI DALAM LIMA KATEGORI TERSEBUT ADALAH BENAR BENAR ORANG GILA ?

TERNYATA SOBAT, menurut Rasulullah SAW, bahwa orang-orang yang disinggung di dalam 5 kategori sebagaimana yang diterangkan di atas tidaklah disebut sebagai ORANG GILA !

Orang-orang semacam itu hanya disebutkan oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang sakit atau yang mendapat musibah dari Allah SWT.

MAKA SIAPAKAH SESUNGGUHNYA ORANG YANG GILA SEBENARNYA ?

Syaikh Abdullah Al-Ghazali dalam Risalah Tafsir menyampaikan sebuah riwayat (hadis) sebagai berikut:

“Pada suatu hari Rasulullah SAW ber-jalan melewati sekelompok sahabat yang sedang ber-kumpul. Lalu beliau bertanya kepada mereka:

“Mengapa kalian berkumpul disini” Para sahabat tersebut lalu menjawab: “Ya Rasulullah,  ada orang gila yang sedang mengamuk. Oleh sebab itulah kami ber-kumpul disini.”

Maka Rasulullah SAW lalu bersabda:

“Sesungguhnya  orang  ini  tidaklah  gila  (al-majnun), tapi orang ini hanya sedang mendapat musibah. Tahukah kalian, siapakah orang gila yang sebenar-benarnya disebut gila  (al-majnuun haqqul majnuun) “.

Para sahabat lalu menjawab: “Tidak ya Rasulullah. Hanya Allah dan rasul-Nya jualah yang mengetahuinya.”

Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan: “Orang gila yang sesungguhnya gila (al-majnun haqqul majnun) adalah orang yang berjalan dengan penuh kesombongan; yang membusungkan dadanya; yang memandang orang dengan pandangan yang merendah-kan; lalu berharap Tuhan akan memberinya surga; padahal ia selalu berbuat maksiat kepada-Nya. Selain itu orang-orang yang ada di sekitarnya, tidak pernah merasa aman dari kelakuan buruknya. Dan di sisi yang lain, orang juga tak pernah mengharapkan perbuatan baiknya. Nah, orang semacam inilah yang disebut sebagai orang gila yang sebenar-benarnya gila (al-majnuun haqqul majnuun). Adapun orang yang kalian tonton ini hanyalah  sedang mendapat musibah dari Allah.”

Dari apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW tersebut, maka dapatlah kita simpulkan; Bahwa orang gila yang sesungguhnya gila atau (al-majnuun haqqul majnuun) adalah orang-orang yang sehat jasmani dan ruhani-nya; yang tetap memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan hukum agama yang dibebankan kepadanya. Namun dalam kehidupan masyarakatnya, ia berpenyakit yang sesuai yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW :

  1. Orang yang sombong; yang apabila berjalan ia melangkahkan kakinya dengan  pongah; dan selalu ingin dihormati; serta selalu memandang rendah kepada orang lain. Dan  di balik kesombongannya itu, selalu berharap agar Allah memberinya pahala atas perbuatannya, dan apabila sudah mati ingin pula masuk ke dalam surganya  Allah SWT.

2. Banyak melakukan perbuatan maksiat dan kejahatan; baik nyata maupun tersembunyi, yang oleh sebab ini pula maka banyak orang-orang yang ada di sekitarnya, yang tidak pernah berharap akan kebajikan yang mereka perbuat. Sehingga pada akhirnya orang tidak lagi peduli dengan kebajikan maupun kejahatan yang mereka lakukan.

Kalaupun orang-orang di sekitar mereka menaruh rasa hormat dan simpati, hal itu mungkin disebabkan oleh berbagai macam pertimbangan, agar tidak tumbuh masalah lain, yang berdampak buruk pada tata pergaulan hidup yang ada.

Begitulah mengapa Rasulullah SAW menyatakan, bahwa orang yang sombong dan yang memiliki sifat buruk lainnya, sebagaimana yang disebutkan di atas adalah orang gila yang sebenar-benarnya gila (al-majnun haqqul majnun).

Demikianlah mengapa Allah SWT mewanti wanti kita agar menjauhi sifat sifat angkuh, sombong, takabur dan angkara murka.

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mem-persekutukan-Nya dengan sesuatupun; dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”   (Q.S. An-Nisaa’: 36)

 “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguh-nya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (Q.S.Al-Israa’: 37)

 “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesung-guhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q.S. Luqman: 18)

Rasulullah SAW bersabda :

“Siapa saja yang di dalam hatinya ada sifat sombong, walaupun hanya sebesar dzarrah (sebesar biji atom), maka ia tidak akan masuk surga.”

(Riwayat Imam Muslim dan Bukhari  dari Abdullah bin Mas’ud r.a.)

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin

Kranggan, Jumat 22 Juli 2016,

17 Syawal 1437 H, Pon 16 Sawal 1949 S- Sengara Langkir

CopyRights@2016,

Reff:

 

  1. KH.BACHTIAR AHMAD – http://halamandakwah.blogspot.co.id
  2. Al-Qur’anul Karim – Terjemah DEPAG RI
  3. Riwayat Imam Muslim dan Bukhari  dari Abdullah bin Mas’ud r.a.
  4. Risalatul Insan – K.H. Muhammad Syamsuddin – Prembun Kebumen
  5. others

 

 

 

MEMBENDUNG UPAYA UPAYA PEMBELOKAN NILAI NILAI ISLAM DARI PEMAHAMAN DANGKAL KAUM FASIKIN

KANTER/JAWABAN BUAT ORANG YANG MENYALAHKAN UCAPAN “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN” SAAT IDUL FITRI

SANGGAHAN BUAT ORANG YANG BERFAHAM : “BAHWA IDUL FITRI bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan”. Dengan anggapan sebagai KEKELIRUAN/SALAH BESAR.

Awalnya ini isu dari media berita online yang dimuat di Muslimedianews.com walaupun rilisan July 2014, namun karena tahun ini muncul kembali isu itu dari tautan yang di share oleh pengguna sosmed sebagai silang tanggapan antar pengguna lain, karena materinya mengandung unsur deviasi/pembiasan pemahaman/syareat islam maka saya mencoba ikut meng-kanter/memberi tanggapan secukupnya dengan maksud mencegah terjadinya kebingungan umat dan timbulnya salah tafsir maupun fitnah.

Berita asalnya dari tautan ini :

http://www.muslimedianews.com/2014/07/jangan-ragu-ucapkan-minal-aidin-wal.html?m=1

Muslimedianews.com ~ Sunday, 27 July 2014

Pada hari-hari di penghujung Ramadhan ini, beredar BC bertajuk ‘Bagaimana Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah?’ Seingat saya, jelang hari raya di tahun-tahun sebelumnya, BC tersebut juga tersebar. Intinya, tulisan itu ‘mempermasalahkan’ beberapa hal yang telah menjadi tradisi kebiasaan umat Islam, khususnya di Indonesia.

Berikut isi lengkap tulisan by no name yang menyebar via BB, WA, atau media sosial lainnya:

BERIKUT ORANG MEM-PUBLIS PEMAHAMAN :

  1. “Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf”.
    “Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri”.
  2. Demikian Rasulullah mengajarkan kita. Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri.
  3. Satu lagi, saat Idul Fithri, yakni mengucapan : “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN”. Arti dari ucapan tersebut adalah: “Kita kembali&meraih kemenangan.”

KITA MAU KEMBALI KEMANA? Apa pada ketaatan atau kemaksiatan? Meraih kemenangan? Kemenangan apa? Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan? 

  1. Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yg ucapkan “Minal‘Aidin wal Faizin” Lantas diikuti dengan kalimat “Mohon Maaf Lahir&Batin ”.

Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh KELIRU luar biasa.

  1. Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain.. PASTI PADA BINGUNG!
  2. Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI.
  3. Ucapan yg lebih baik & dicontohkan langsung oleh para sahabat ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , yaitu :

    “TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM” (Semoga Allah menerima amalku & amal kalian). Jadi lebih baik, ucapan/SMS/BBM kita: Taqobbalallahu minna wa minkum. (Selesai)

INI PERLU DIKANTER, Begini wahai KAUM FASIKIN,(saya pikir penyebar Berita yang karakter tulisan tulisannya model ini-bukan orang islam)

Siapapun Anda/kalian sekelompok umat akhir zaman yang kini mulai banyak semakin menjauhi (kehilangan) ruh ruh kedalaman samudera ilmu hikmah/hakekat Islam, dengarlah :

  1. Masalah pemaham yang memahami perkara pertama, yang menulis/mempublis/menyatakan/berasumsi bahwa : “Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf”. “Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri”.

 Begini :

Tingkatan pemahaman anda/kalian masih pada level: “Seolah-olah”,

Sedang saat Idul Fithri adalah memang moment yang tepat/relijius/khusus untuk saling minta maaf antar saudara/keluarga/orang tua dan sesama.

Renungkan berapa banyak manusia yang sibuk dilibas oleh urusan duniawi yang kadang membuat saling sikut sikutan, rebutan baik antar sesama maupun antar saudara sendiri, yang kadang malah menonjolkan persengketaan dan tak saling mengenal, hingga lupa akan hikmah berkah hubungan silaturahim serta rahmat Allah. Itu sehari hari berlangsung hingga 11 bulan. Maka hakekatnya kita dalam setahun, Alloh memberi anugerah 1 bulan yakni bulan ramadhan yang penuuh berkah, maghfiroh serta peluang bebas api neraka. Maka sebab kecondongan manusia yang suka menjauhi nilai nilai berkah, rahmat dan kasih sayang itulah di ramadhan Alloh memberi kesempatan manusia untuk kembali fitri, bersih diri, agar menjadi pemenang agar berpangkat taqwa.

Bagaimana aktualisasinya? Ya dengan cara (tareqat) saling sadari kealpaan, dosa, kesalahan baik yang sengaja atau tidak sengaja, baik yang sadar atau yang tak disadari dengan saling silaturahim, mudik ke kampung halaman menyambangi orang tua, sanak famili yang selama setahun terberai, terpisah karena waktu dan kehidupan, kemudian saling minta maaf, saling ridho kembali antar nafs masing.

Ingat manusia itu terbentur 2 perkara urusan haq amaliah, yakni melunasi / membebaskan diri dari perkara yang menjadikan rintangan/hambatan/gantungan diterimanya amal ibadah seseorang oleh Sang Pencipta, itulah yang disebut HAQQULLAH dan HAQQUL ADAM.

Ingat amal ibadah seseorang akan ditahan jika masih ada utang/pembatas berupa perbuatan lalai/salah maupun dosa terhadap Tuhannya serta pada sesama makhluk ciptaan-Nya. Jadi janganlah berpikir ““Seolah-olah saat Idul Fithri hanya khusus untuk minta maaf”. “Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idhul Fithri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri”.

Sebab pasti kita itu tak dapat mengklaim diri suci (bersih dosa) la wong anda/kita saja ga pulang pulang dari rantau menyambangi orang tua, sanak famili yang selama setahun sebab repot urusan perut, kadang malah  bertahun tahun, kontak tidak, kirim duit tidak, apalagi tiap saaat minta maaf. Benul tidak ? akui sajalah kita banyak melalaikan perkara HAQQULLAH dan HAQQUL ADAM. Ingat jika manusia mati tetapi masih ada perkara/utang/salah dan tidak terselesaikan, maka itulah perkara HAQQUL ADAM yang bakal menahan/membangkrutkan amal amalmu nanti di akherat.

Jadi jelas pemahaman andalah yang keliru, bukan masyarakat yang keliru, yang dengan tradisi mulia memanfaatkan momen waktu khusus untuk saling maaf memaafkan pada hari raya.

  1. Masalah pemaham yang memahami perkara kedua :

Dengan menulis/mempublis/menyatakan/berasumsi bahwa : Demikian Rasulullah mengajarkan kita. Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri.

Begini,

Justru saya/kami yang balik bertanya pada anda, “Kapan Rasulullah mengajarkan kita : “Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri?

Sama dengan : “Kapan Rasulullah mengajarkan kita untuk menunggangi volvo, Pajero, Fortuner, memakai jas, makan makan di Mc.D**ld, naik Busway, merayakan ulang tahun dengan nyanyi happy birthday to you, meniup lilin, kartu kredit, pinjam bank, dsb? Mengapa anda anda sekarang melakukannya? Padahal Allah dan Nabi bahkan tak menulis dalilnya! Seharusnya anda naiki onta, pakai gamis, potong tangan anak anakmu, keluargamu yang mencuri (mengambil diam diam) sebutir permen dirumahmu/tetanggamu !

PADAHAL keharusan SALING “Mohon Maaf Lahir&Batin ”di saat-saat Idul Fitri, BAHKAN SETIAP HARI KITA DISURUH UNTUK MENSIFATI NILAI NILAI SALING MOHON MAAF ITU SANGAT ADA DALIL DI QUR’AN/HADITS, HANYA MATA DAN HATI KALIAN TERTUTUP OLEH TUHAN TUHAN DALIL (hanya tahu cangkangnya saja, tak pernah menyelam). Kalian bukan penyelam, kalian hanya turis yang sedang wisata yang hanya duduk manis diatas biduk.Tak tahu kalau dibawahnya ada samudera air yang dalam, yang ada ikannya, pausnya, mutiaranya, intannya,uraniumnya, dsb.

  1. Menjawab masalah pemaham yang memahami perkara ketiga :

Yang menulis : “Satu lagi, saat Idul Fithri, yakni mengucapan : “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN”. Arti dari ucapan tersebut adalah: “Kita kembali&meraih kemenangan.” KITA MAU KEMBALI KEMANA? Apa pada ketaatan atau kemaksiatan? Meraih kemenangan? Kemenangan apa? Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan? 

Begini,

Laa, anda mengartikan makna “MINAL’AIDIN WAL FAIZIN” saja salah (tidak becus) kok malah sampai ke penjabaran “KITA MAU KEMBALI KEMANA? dan Meraih Kemenangan apa?.

  1. Menjawab masalah pemaham yang memahami perkara keempat : Yang menulis : “Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yg ucapkan “Minal‘Aidin wal Faizin” Lantas diikuti dengan kalimat “Mohon Maaf Lahir&Batin ”.Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya. Ini sungguh KELIRU luar biasa.

Begini,

Apanya yang harus dipahami la wong anda yang tidak paham dan anda yang “sungguh KELIRU luar biasa…” malah.bahkan bisa jadi orang lain akan menilai anda yang kelihatan “gob**ognya.

  1. Menjawab Tulisan point kelima : : Yang menulis : “Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain.. PASTI PADA BINGUNG!

Begini,

Yang bingung itu anda/kalian, yang nyoba nyoba sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kalian di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain ! saya/kami “ogah” kerajinan amat !

  1. Menjawab Tulisan point ke enam : Yang menulis : “Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI”.

Begini,

“Ogah, emang gue pikirin ?”

  1. Menjawab Tulisan point ke tujuh: Yang menulis : “Ucapan yg lebih baik & dicontohkan langsung oleh para sahabat ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ , yaitu :

    “TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM” (Semoga Allah menerima amalku & amal kalian). Jadi lebih baik, ucapan/SMS/BBM kita: Taqobbalallahu minna wa minkum. (Selesai)

Begini,

Lah, lebih baikan dan lebih komplitan ucapan saya/kami :

‘Ja’alanallahu wa iyyakum MINAL ‘AIDIN ilal fithrah WAL FAIZIN bil jannah’ (Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang yang kembali pada fitrah dan menuai kemenangan dengan meraih surga). ”,

“Salaamun Qoulam Mir Robbir Rohiim “, wamtazul yauma ayyuhal mujrimuun”

(QS.Yaasiin:58) Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. 59. Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.

“Taqabbalallahu Minna wa Minkum’, taqabbal ya Kariim”

Jangan Ragu Ucapkan : ‘Minal ‘Aidin wal Faizin’ mohon maaf lahir batin”

komplit pakai stmj (susu telur madu & juzz buah)

 

SEKIAN, semoga dinalar

 

Salam Cahaya Rahmat Semesta Alam,

 

Majelis Dzikir & Salawat As-Shalihin-Kranggan

Senin, 4 Juli 2016/29 Ramadhan 1437 H.

Kelana Delapan Penjuru Angin

 

 

**PHOTOGRAPHY DAN VIDEOGRAPHY HARAM ? **

Tag :    SELFY HARAM ? ALBUM PHOTO HARAM ? PRODUKSI FILM ISLAMI HARAM ?

Photograph

Tentang pandapat mendasari Sahih Bukhari :

“Orang yang paling berat hukumannya di akherat adalah tukang photo”

Jika demikian maka SELFY dan dokumentasi resepsi perkawinanpun haram, bahkan produksi film film Islami pun haram sebab berhubungan dengan photography dan videography. Termasuk anda kini yang exist berselancar di jejaring sosial dunia maya dengan memajang album photo dan sebagainya, maka jadinya kita semua umat Islam melakukan sesuatu yang haram. Berapa besar bobot dosa yang kita tumpuk setiap harinya? Sementara pada akhir zaman yang modern ini manusia tak bisa menghindari photography samasekali.

Pada konteks bahasan sesuai judul diatas. Bahwa benarkah photography dan videography haram? Yang dengan demikian para photographernya, para videographernya juga termasuk yang memanfaatkan/user nya itu akan mendapat hukuman berat di akherat?

Mari kita telaah satu persatu, kita pahami esensinya, benarkah Nabi Muhammad mengharamkan photography dan videography ? :

riset

Teks asli hadits tersebut diantaranya sebagai berikut, berbunyi :

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para penggambar.” (HR. Al-Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109)

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya mereka yang membuat gambar-gambar akan disiksa pada hari kiamat. Akan dikatakan kepada mereka, “Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan.” (HR. Al-Bukhari no. 5961 dan Muslim no. 5535)

Perhatikan dalam hadits menyebutkan tentang “TASHWIR – MUSHAWWIR”. Makna tashwir adalah MENGGAMBAR sedang mushawwir adalah ORANG YANG MEMBUAT TASHWIR. Maka makna kalimat ini yang harus kita pahami terlebih dahulu. Kita tahu bahwa saat hadits ini di sabdakan oleh beliau adalah zaman ketika tekhnology photography dan videography belum ada. Hingga berabad abad kemudian sampailah pada ajaran ajaran Islam tumbuh menyebar ke seluruh penjuru dunia dimana bahasa, dialek bangsa bangsa lain tidak menggunakan bahasa Arab tetapi menurut bahasa ibu masing masing.

Kemudian tumbuh pula para generasi alim ulama sebagai penerus syiar Islam yang dalam hal latar belakang kultur budaya akan pasti berbeda beda baik dalam hal tingkat penyerapan, pemahaman nilai nlai Islam maupun dalam hal penterjemahan dari sumber aslinya.

Kembali pada pokok bahasan, mengenai pendapat yang menyatakan bahwa : “tukang photo adalah yang hukumannya paling berat”, yang merujuk pada sahih Bukhari tersebut di atas. Mari kita bedah esensi dengan merujuk pendapat para ulama bahwa larangan tersebut ditujukan untuk photography atau hal lain.

Sebagian ulama berpendapat bahwa photography dan videography keduanya haram. Seperti As-Syaikh Nashiruddin Al-Albani. Beliau adalah ulama besar pada  abad lampau, seorang pakar hadits yang menyatakan keduanya haram mendasari sumber hadits tersebut.

Sementara ulama lainnya, As-Syaikh Abdul Aziz Bin Bazz menyatakan bahwa photography haram sedang videography boleh. Dan berikutnya adalah As-Syaikh Ibnu Al-‘Utsaimin yang menafsirkan hadits ini dari sisi esensi, menyatakan pendapatnya bahwa selama tidak keluar dari aturan syariah, maka keduanya dibolehkan. Ketiga ulama ini adalah ulama besar yang terpercaya, mari kita hormat kepada mereka semua.

Sobat Nusantara, apa sebenarnya yang terjadi ?

Allah Swt berfirman dalam An-Nahl:43 :

“Tanyakanlah kepada orang yang mengetahui jika kamu tidak mengetahui (paham)…”

Maka mereka adalah ulama besar yang ahli dalam bidang Al-Hadits, sedang perkara photography dan videography adalah perkara sains/teknologi. Mereka menyatakan bahwa dalam perkataan Nabi terdapat kata “TASHWIR”. Sampai saat ini dalam bahasa Arab istilah TASHWIR juga digunakan untuk   photography, sedang zaman Nabi belum ada teknologi photography. Maka dari sebagian ulama berpendapat karena disebutkan istilah TASHWIR dalam hadits tersebut. Hingga saat ini, photography diartikan sebagai dalam katagori TASHWIR, maka menjadilah suatu pemahaman yang menjalar bahwa photography hukumnya haram.

Sobat Nusantara, bahasa selalu mengalami perkembangan. Oleh karena itu kita harus menelaah terlebih dahulu apa sesungguhnya pengertiannya (hakekat) suatu kalimat baik dalam ayat ayat Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Dan hal ini tidak kalah penting dengan arti kata itu sendiri, apa sesungguhnya arti kalimat tersebut maksudnya pada zaman itu.

Seperti kita ketahui bahwa pada zaman itu teknologi photography belum ada, maka janganlah tergesa gesa memastikan/memutuskan bahwa photography itu termasuk sebagai TASHWIR” walaupun saat ini bahasa/orang Arab mengistilahkan photography sebagai TASHWIR, padahal banyak kata/istilah yang dapat dibakukan yang tidak harus menggunakan istilah TASHWIR dalam hal ini. Suatu contoh :

Di ketahui/dikenal suatu kata pada suatu zaman, maka akan terus mengalami suatu perubahan makna seiring waktu akibat situasi, dialek maupun budaya disuatu bangsa. Seperti kosakata “BISA” maka pada bahasa suatu negara tertentu akan dapat diartikan sebagai “mampu” ataupun merupakan “racun ular”. Nah mungkin suatu ketika nanti orang tak akan mengartikan “BISA” ini sebagai  bisa ular. Sebab kosakata “bisa ular” lebih pas dengan kosakata “racun ular”.

Sementara sebagian ulama seperti menurut pendapat Syaikh Bin Bazz bahwa photography haram, tetapi videography boleh. Dan sementara kita tahu (sudah sampai pengetahuan) bahwa teknologi videography adalah pengembangan atau vesi canggih dari teknologi photography. Videography adalah photo yang digerakkan dengan kecepatan tinggi yaitu 24-25 frame/detik, maka gambar menjadi bergerak/hidup.

Ulama yang berpendapat bahwa photography tidak haram, menyatakan bahwa makna “TASHWIR” yang disinyalemenkan oleh Nabi SAW adalah “GAMBAR TANGAN/LUKISAN”.

Tashwir

Baik, dalam bahasan ini kita tidak membicarakan ulama/ahli kitab yang jauh dari esensi A-Qur’an dan As-Sunnah yang dengan begitu mudahnya menyatakan/memutuskan suatu perkara amal syareat/agama yang ini haram, yang itu halal, dan sebagainya tanpa pengetahuan luas dan bijak dalam ilmu hakekat. Maka kita sedang dalam kapasitas membahas tentang ulama otentik yang mengikuti hikmah Al-Qur’an/Al-Hadits, bukan yang suka mendasari segala sesuatunya dengan sentimen sekte/mazabiah.

Maka kata “TASHWIR” yang diartikan, yang menterjemahkan bahwa photography dan videography adalah haram oleh sebagian ulama, itu adalah penafsiran/penerjemahan yang salah/keliru paham. Dalam hadits disebutkan bahwa orang yang melakukan tashwir (menggambar tangan makhluk yang bernyawa), maka Allah akan menyuruh mereka menghidupkan gambar tersbut pada hari kiamat, tetapi mereka tidak mampu. Jadi sejatinya makna hadits ini adalah mensinyalemenkan bahwa membuat gambar/melukis makhluk bernyawa seperti hewan, manusia adalah dilarang. Sedangkan photography dan videography adalah semata mata perkembangan teknologi zaman modern yang merupakan teknologi spektrum/pantulan atau refleksi sebuah obyek yang disimpan dalam sebuah media, seperti  kertas.

Maka Nabi SAW tidak pernah mencegah para sahabatnya, keluarganya melihat pantulan/refleksi diri ketika mereka menyisir rambut, merapihkan busana di depan cermin. Bahkan Nabi SAW tidak pernah melarang sahabat untuk bercermin. Jadi BERCERMIN adalah sesuatu yang tidak dilarang. Photography adalah teknologi pantulan yang disimpan ke dalam media lain sehingga para ulama berpendapat bahwa photography tidak dilarang. Tetapi yang perlu diingat adalah segala sesuatu yang halalpun bisa menjadi haram jika hal hal yang halal dilakukan secara salah ataupun menyimpang dari aturan/disalahgunakan.

Kita perlu menggali makna apa sebenarnya yang dipesankan dalam setiap adanya larangan larangan pada ayat ayat Al-Qur’an maupun hadits. Tentu Allah dalam setiap menurunkan syareat (S.O.P) bagi manusia pasti memuat pesan/peringatan yang serius, dimaksud agar manusia tidak “semau gue” atau justru untuk kebaikan manusia itu sendiri. Hanya saja manusia itu kadang terlalu angkuh untuk mengakuinya atau mentaatinya atau manusia itu sebenarnya tidak menggunakan akal pengetahuannya.

menyembah_batu

Mengapa Allah melalui hadits Nabi SAW melarang manusia untuk menggambar makhluk bernyawa. Adalah karena sejarah sepanjang peradaban manusia sejak zaman para rasul terdahulu telah menjadikan kebiasaan “menggambar” yang dilakukan manusia itu pada akhirnya menjadi obyek sesembahan manusia itu sendiri yang dimanifestasikan ke dalam bentuk lukisan, patung yang kemudian di Tuhankan/disembah sembah. Maka Allah sesungguhnya memberi pesan kepada umat Islam agar tidak seperti umat umat lain terdahulu maupun kemudian. Agar Allah memurnikan umat Islam dengan membentuk umat yang berbeda dari umat lainnya, agar Allah memurnikan dan memilih umat Islam sebagai umat terbaik. Walaupun harus dipagar dengan berbagai ujian ketat, berbobot seperti ketat dan beratnya materi ujian pada lembaga yang bonafit maka akan menghasilkan siswa yang berbobot pula yang akan berbeda dengan lulusan lusan lain “yang ecek ecek”. Ingat kalian umat Islam telah  dipilih Tuhan untuk itu. Kecuali kalian tidak punya tujuan dalam hidup, sehingga merasa cukup menjadi “yang ecek ecek” sajalah, maka kita tak perlu susah payah mengikuti/menjadi peserta.

KESIMPULAN

Ini adalah hanya salah satu perkara tafsir tentang hal hal yang “HARAM” dalam syareat Islam. Masih banyak perkara perkara yang dihukumi “haram” dalam rangkaian Al-Hadits/As-Sunnah yang diterjemahkan oleh sebagian ulama, seperti diharamkannya pria memakai perhiasan, larangan wanita memakai wewangian, larangan musik, pengharaman rokok, pengharaman ini itu.

Sehingga praktis banyak perkara yang berhubungan dengan aktifitas kehidupan umat manusia menjadi timbul polemik, kebingungan maupun timbulnya gontok gontokan paham berebut benar dan sebagainya. Disamping terjadi dikalangan umat Islamnya sendiri yang lemah ilmu pengetahuannya (kalangan awam), apalagi dimata non muslim yang buta terhadap pemahaman nilai nilai Islam sehingga menjadilah asumsi/stigma bahwa menjadi orang Islam itu atau ajaran Islam itu sempit, kuno, membatasi, tak manusiawi, melanggar hak asasi manusia, merendahkan martabat wanita, agama barbar   dan segudang anggapan/stigma buruk lainnya.

Maka menjadi ranculah ketika agama Islam diperkenalkan Nabi Muhammad SAW yang katanya membawa rahmat semesta alam, yang katanya memudahkan, yang katanya membuat kesejahteraan, kedamaian, namun terkesan menjadi “ribet”…..hingga ketika umat umat non Islam bertanya, menuduh, menganggap bahwa Islam adalah agama yang berisi ajaran ajaran sesat, kuno dan sebagainya…….kita atau umat Islamnya sendiri kebingungan menjawab tuduhan tuduhan miring tentang nilai nilai Islam seperti rangkaian yang dituduhkan tersebut diatas.

taqlid buta

Maka wahai umat Islam sebangsa dan setanah air, juga wahai umat manusia, mari berpikir menggunakan logika akal pikir, menggunakan intelektualitas, menggunakan nurani, hakekat dan Al-Hikmah. Maka menjadilah insan/umat Islam yang cerdas dalam pikir maupun dalam sikap. Mari pelajari, gali dan dalami kitab sucinya sendiri masing masing dengan sebenar benar belajar dan memahami esensinya serta kebenarannya. Bukan hanya membaca doang tanpa memahami maknanya, bukan hanya menuruti buta apa kata para gurunya/ulamanya/pendetanya dan  apa kata kultur budayanya.

Bayangkan jika anda mudah taqlid buta dengan ajaran yang tak bijak dalam ilmu pengetahuan atau yang saklek dalam menterjemahkan suatu ayat atau hadits, maka anda akan menjadi olok olok zaman.

Seperti :

Kita meyakini buta sebuah pemahaman praktis tentang pengharaman “wanita yang menggunakan wangi wangian”, maka jika dipahami secara saklek, lihatlah akan ada sekelompok wanita tidak akan memakai wewangian apapun hingga tak menyadari atau mengabaikan bau badan yang tak sedap menyeruak kemana mana yang menjadikan orang orang sekelilingnya/keluarga /suami menjadi tak nyaman, Sementara ketika anda saklek anti wewangian tetapi disatu sisi anda tidak konsisten dengan pemahamannya sendiri yakni anda masih mau menggunakan “molto”, masih pakai hairspray, masih pakai sabun saat mandi….dsb….sedangkan barang barang tersebut jelas merupakan wangi wangian. Harusnya ya  konsis jangan memakai apapun yang berhubungan dengan wewangian.

Ada juga kasus dimasyarakat dimana terdapat suatu komunitas “keluarga Islam penganut fahamis” tinggal ditengah masyarakat namun saklek dengan ajaran sekte/mazabiahnya, tampak dari cirikhas berpakaian serta penampilan penampilan yang eksklusif lainnya, yaitu suatu ketika menjemur pakaian diluar dan kemudian di tinggal pergi keluar rumah. Ketika hujan hendak turun jemuran tersebut diangkat oleh tetangganya.

Ketika si pemilik pulang ke rumah mendapati jemurannya telah terangkat dari tali jemuran. Merasa sudah terkena tangan orang lain yang bukan “kelompoknya”, akhirnya jemuran yang bersih itu dicuci kembali. Melihat kenyataan itu jadilah tetangganya kesal, “sudah ditolong tapi menganggap kita orang najis”. Maka hal hal yang demikian akan menjadi masalah sebab kita dalam beragama kadang tidak arif, kadang kita begitu taqlid buta dengan mazab hingga kadang tak menyadari telah menuhankan dalil.

Sobat, didunia ini hanya ada dua keadaan tentang hasil akhir manusia dalam meyakini/mengaplikasikan suatu ajaran nilai nilai ilmu pengetahuan/agama Islam. Kita  menjadi salah,  keliru atau sesat dalam beragama setelah mendapatkan pengajaran dari guru, yakni : Gurunya yang salah mengajar atau mengajarkan pemahaman yang salah  atau murindnya yang salah dalam menerjemahkan/memahami suatu pengajaran.

Sebab guru yang baik, bijak dan luas ilmu pengetahuannya,  maka akan menghasilkan murid yang berkualitas baik (berwawasan luas)  pula.

Semoga menjadi renungan kita semua,

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Bukit Cibeureum, 9 September 2015.

CopyRights@2015.

Reff:

-HR. Al-Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109

-HR. Al-Bukhari no. 5961 dan Muslim no. 5535

-http://al-atsariyyah.com/hukum-menggambar-dalam-islam.html

-Makalah Risalatul Islam, Syaikh Dr. Zakir Naik

Al-Qur’anul Karim Terjemah DEPAG RI

** ALLAH, RABB,ILAAH dan TUHAN **

MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “HU” (Dia –laki laki), DALAM AL-QUR’AN ?

KONTROVERSI PENYEBUTAN “TUHAN”,DAN ASAL USULNYA.

HARAM DAN MURTADKAH MENYEBUT ALLAH DENGAN TUHAN, GUSTI, PENGERAN ?

SIAPA ALLAH, SIAPA HU, SIAPA RABB, SIAPA ILAAH, SIAPA TUHAN, SIAPA GUSTI, PENGERAN ?

SEBUAH RISALAH JAWABAN BUAT ORANG YANG TANPA ILMU PENGETAHUAN, MELEMPARKAN TUDUHAN TERHADAP “ALLAH”, SEBAGAI TUHAN BERHALA BANGSA ARAB,BABYLON.

sujud

SESEMBAHAN MANUSIA

Disadari atau tidak disadari,manusia akan merindukan Sang Pencipta dan Pelindungnya (QS.39:08 , 49).Fitrah diri manusia bersuara menjerit memanggil manggil Rabb nya manakala manusia itu tengah menghadapi malapetaka,bahaya maupun kesulitan dahsyat.Saat itu manusia tunduk,tawaqqal dan lemah dihadapan-Nya.(QS.31:32 , QS.17:66-69).

Mengapa manusia mencari dan menyembah Tuhan?

Umat Islam menyembah Allah,umat Kristen menyembah Tuhan Yesus,umat Hindhu menyembah para Dewa,umat Budha menyembah Sang Budha, Umat Tiongkok menyembah Tian,umat Hindhu menyembah para Dewa,dan sebagainya.Sepertinya Tuhan itu berjumlah banyak,sebab masing masing umat memiliki Tuhan.Demikiankah?

KONTROVERSI PENYEBUTAN “TUHAN”.

Dari aspek aqidah, bagi umat Islam yang telah beriman, mengakui adanya tuhan-tuhan selain Allah adalah sebuah kemusyrikan dan dosa tak berampun,sebab Ketauhidan sudah menjadi logika agama terunggul.(untuk PEMAHAMAN AQIDAH), Silahkan pahami pada link :

https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/09/03/mutaqod-50-64-doktrin-tauhid-dasar/

Lalu, mengapa di dalam Al-Qur’an Tarjamah Tafsiriyah ,Al-Qur’an terjemahan DEPAG RI,kata “Ilaahun” dan “Rabbun” diterjemahkan sebagai ‘tuhan’?
Apa bedanya dengan terjemah harafiah tradisional yang juga menerjemahkan istilah yang sama dengan arti yang sama pula? Contoh dalam budaya pesantren dan masyarakat Islam di Jawa menggunakan kata “GUSTI , PENGERAN” untuk kata ganti Tuhan.
Kemudian bukankah kosakata “Tuhan” masuk ke dalam bahasa Indonesia, akibat pengaruh teologi yang dibawa oleh kaum kolonial ? Jika demikian apakah sebaiknya kata ‘ilaahun‘ dan‘rabbun’ tidak perlu diterjemahkan sebagai tuhan, biarkan saja dalam bahasa aslinya ?

Pertanyaan semacam ini sering mengemuka dikalangan umat Islam pada umumnya,dan juga dari para pembaca kritis Al-Qur’an terjemahan, termasuk para tokoh dan aktivis Islam.Bahkan yang mengherankan ada juga orang yang mencantumkan gelar ustadz mempersoalkan istilah ini. Sepertinya merasa anti dan alergi menggunakan kata “Tuhan, Gusti, Pengeran ”, yang dianggap melenceng dari aqidah dan berasal dari doktrin non Islam.

HARAM DAN MURTADKAH MENYEBUT ALLAH DENGAN TUHAN ?

tuhan utk semua

Mengganti lafaz Allah dengan Tuhan jelas itu sebuah kejahatan serius,sebab disamping perbuatan kemusyrikan,juga “GHADAB” (perbuatan golongan orang orang yang dimurkai Allah).Tetapi bagaimana jika kita menyebut Allah dengan kata ganti lain ? Seperti kadang dalam menulis atau saat sedang berucap dan berdo’a, kita tidak menggunakan kata Allah tetapi dengan kata “TUHAN” , ”GUSTI” dan atau “PENGERAN”, Apakah termasuk perbuatan kemusyrikan dan ghadab ? Maka dalam perkara ini seyogyanya setiap muslim tidak asal mengharamkan atau meng-kafirkan sesama Islam,jika kita belum memahami segala sesuatunya dengan ilmu pengetahuan.

Maka sobat budiman,mari kita mencari tahu ilmu pengetahuannya pada risalah yang saya rangkum selanjutnya ini,agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang orang yang asal (asal bicara, asal nulis, asal berdakwah). Malulah kita apalagi kadang kita saksikan sesama teman muslim adu otot berebut benar pendapatnya masing masing,saling benci membenci hanya gara gara mempertahankan perkara yang kita tidak memiliki ilmu pengetahuannya atau kurang,tetapi hanya didasarkan atas “perasaan” .
(merasa apa yang telah diajarkan gurunya paling benar,merasa cukup dari membaca buku sudah paling benar,dsb).

Nah,lebih runyam lagi ketika kita mendapat pertanyaan miring tentang agama Islam,tentang makna ayat ayat Al-Qur’an, dari orang yang non muslim yang tiada pengetahuannya tentang ke-Islaman, sementara kita kebingungan menjawabnya.Ujung ujungnya hanya bisa dongkol,sakit hati dan balas memaki atau menghina.

SIAPA TUHAN, SIAPA ILLAH, SIAPA RABB, SIAPA GUSTI, PENGERAN ?

kaligrafi Alloh

Tuhan ya Allah,Illah ya Allah,Rabb ya Allah,Gusti,Pengeran ya Allah.Maka :

“Serulah Allah atau serulah Yang Maha Pengasih (ar-Rahman) Dengan nama apa saja kamu menyeru Dia; maka Dia memiliki nama-nama yang indah (asma-ul-husna)” – Qs. 17 al-Israa’ : 110

*Dari ayat diatas, jelas bahwa al-Qur’an memperkenalkan Tuhan yang universal, serulah Tuhan dengan nama apapun yang baik dan indah serta tentunya tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan sifat-sifat kemuliaan-Nya.

Sebab suatu hal yang pasti adalah bahwa bahasa Arab bukan satu-satunya bahasa yang ada ditengah masyarakat dunia. Oleh karena itu secara logika, keberagaman penyebutan terhadap Tuhan tidak dapat dihindari. Bangsa Afrika Selatan (Zulu) menyebut Tuhan dengan nama uMVELINQANGI, umat India mengenal istilah PRAMATMA, Bangsa Aborigin di Australia Selatan memanggil Tuhannya dengan istilah ATMATU,bangsa Jepang mengistilahkan Tuhannya “KAMI”, dan sebagainya.

(see at : Ahmed Deedat, Allah dalam dalam Yahudi, Masehi, Islam, terj.H. Salim Basyarahil, H. Mul Renreng, Penerbit Gema Insani Press, Jakarta, 1994, hal. 21-28).

Seorang ahli tafsir Al-Qur’an dari Indonesia, M. Quraish Shihab menyatakan bahwa wahyu-wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad juga tidak mempergunakan istilah Allah untuk kata ganti Tuhan melainkan memakai istilah Rabbuka dan baru pada wahyu ke-7 yaitu surah ke-87 istilah Allah diperkenalkan kedalam al-Qur’an.

(see at : Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A. Wawasan Al-Quran : Tafsir Maudhu’I atas pelbagai persoalan umat, Penerbit Mizan, Bandung, 1996, dalam Catatan kaki hal. 23-24).

Kata Allah sendiri terbentuk dari kata AL dan iLah.
(see at : Abu Iman ‘Abd ar-Rahman Robert Squires, http://www.muslim-answers.org/allah.htm, dalam “Who is ALLAH”) ,

Dimana kata AL sama seperti penggunaan kata THE dalam bahasa Inggris, yaitu sebagai kata sandang atau penegasan tertentu. Sementara kata iLah memiliki arti Tuhan. Sehingga istilah Allah berarti Tuhan yang satu itu.
Dan konsep ini sesuai dengan pengajaran para Nabi :

“Dialah Allah yang Satu Tempat semuanya bergantung ;Tidak pernah Dia beranak dan tidak pula pernah Dia diperanakkan Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya .”– Qs. 112 al-Ikhlas : 1 – 4

Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa. – Perjanjian Baru : Injil Markus 12:29

Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia – Perjanjian Lama : Kitab Ulangan 4:35

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa – Perjanjian Lama : Kitab Ulangan 6:4

Dengan demikian maka perbedaan yang terjadi dalam menyebut Allah,akibat pengaruh bahasa masing masing umat dunia yang beragam,jadi janganlah membuat kita menjadi umat Islam yang sempit pemahaman.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal .”– Qs. 49 al-hujuraat : 13

Allah telah memilih umat Islam sebagai umat yang terbaik, maka buktikan kepada umat lainnya bahwa umat Islam memang umat yang cerdas,berpengetahuan luas, menyebarkan perdamaian, menjadi rahmat untuk semua alam.(Qs. 3 ali Imron : 110– Qs. 2 al-Baqarah : 143 – Qs. 5 al-Maidah : 8).

ASAL USUL KATA “TUHAN” MENJADI KOSAKATA BAKU BAHASA INDONESIA

kamus

Menurut riwayat, bahwa kosakata “Tuhan” adalah bebernama rasal dari “plesetan” kata “Tuan”, Hal ini terjadi disinyalir karena ungkapan perkataan dari seorang Belanda yang Leijdecker pada tahun 1678.Juga ditemukan dalam Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ. “Arti kata ‘Tuhan’ ada hubungannya dengan kata Melayu ‘tuan’ yang berarti atasan/penguasa/pemilik”. Keterangan ini dikaitkan dengan terjemahan Brouwerius, 1668, untuk istilah Yunani, Kyrios, sebutan bagi Isa Almasih. Maksudnya Tuan Yesus, tapi dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan, Tuhan Yesus.

Diterangkan secara lugas oleh Alif Danya Munsyi di majalah Tiara (1984).Dalam makalahnya itu, Alif menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi sebagai salah satu gejala paramasuai, yaitu penambahan bunyi ‘h’ yang nirguna pada kata-kata tertentu, misalnya embus menjadi hembus,empas menjadi hempas, asut menjadi hasut, dan tuan menjadi TUHAN.

Gejala itu timbul karena dialek tradisional yang kemudian dipengaruhi oleh dialek dialek dari bangsa kolonial yang acapkali mengucapkan bahasa bahasa setempat,namun aksennya berbeda atau berubah,sehingga kalimat yang diucapkan oleh bangsa penjajah itulah yang menjadi istilah populer dikalangan ahli kitab serta masyarakat pribumi.

Lingua Franca Melayu yang dipakai bangsa-bangsa Eropa antara lain Portugis dan Belanda sebagai bahasa administrasi untuk kegiatan ekonomi dan politik di seantero Nusantara, juga dipakai dalam kepentingan penyiaran agama Nasrani (agama umum yang dianut bangsa Eropa).Mereka (bangsa Eropa) biasa menyebut Isa dengan panggilan “TUAN”, yang dalam bahasa Yunani adalah ‘Kyrios’, dalam bahasa Portugis ‘senor’, dalam bahasa Belanda ‘heere’, dalam bahasa Perancis ‘seigneur’ dan dalam bahasa Inggris ‘lord’. Contohnya kalimat :

“The grace of or lord Jesus Christ be with your spirit”.

Ketika penghayatan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mula-mula oleh bangsa Portugis yang bernama Browerius, pada tahun 1663, sebutan Isa Al Masih masih TUAN, tetapi ketika orang Belanda yang bernama Leijdecker pada tahun 1678 menerjemahkan surat-surat Paulus itu, sebutan TUAN telah mengalami paramasuai yakni ada tambahan sisipan konsonan “H”,sehingga menjadikan penulisannyapun berubah menjadi”TUHAN”.

Selanjutnya kata Tuhan itu dibakukan sebagai kosakata baru, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta (Katolik), tanpa memberikan keterangan apapun tentang kata TUHAN. Kemudian kata “TUHAN” ini digunakan secara finish oleh para team penerjemah,untuk menterjemahkan kata “ILAAHUN” , “RABB” dalam bahasa Arab, dengan padanan kosakata “TUHAN”,hingga sekarang sebab tidak adanya padanan kata lain selain “TUHAN”.(ini yang disebut “menurut bahasa kaumnya”).
Terlepas dari parasuai dialek bahasa maka yang pasti setiap bahasa memiliki keterbatasan padanan kata dari kosa kata bahasa lain. Problem keterbatasan kosa kata ini, biasa terjadi pada setiap bahasa apapun di dunia ini. Akan tetapi, bila suatu kata dalam bahasa asing yang sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia tidak boleh diterjemahkan, niscaya akan menyulitkan pembaca yang ingin memahami maknanya.

*Upaya penerjemahan suatu bahasa ke bahasa lain, aspek intelektualitas dan budaya pengguna bahasa sangat menentukan kekayaan kosa kata suatu bahasa. Dalam kaitan ini, untuk menjelaskan kata ‘tuhan’ sebagai terjemah dari kata ‘ilaahun‘ dan ‘rabbun‘, haruslah dipahami argumentasi bangsa Arab yang menerjemahkan kata ‘tuhan’ dan ‘dewa’ sebagai ilaahun.
Sebagai contoh, kata dewa dan tuhan dalam bahasa Indonesia, terjemahan Arabnya sama, yaitu ilaahun. Padahal pengertian kata Dewa dan Tuhan dalam bahasa Indonesia sangat jauh berbeda.
Kata Tuhan pengertiannya adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb. Sedangkan kata dewa pengertiannya adalah makhluk Tuhan yang berasal dari cahaya suci kegaiban yang ditugasi mengendalikan kekuatan alam atau orang/manusia, juga berarti sesuatu yang sangat dipuja. (KBBI, 1990)

Oleh karena itu, jika kata ilaahun dan rabbun tidak diterjemahkan dengan kosakata yang populer dalam bahasa Indonesia, justru mempersulit pembaca untuk memahami kata ilaahun dan rabbun. Padahal terjemahan itu bertujuan untuk mempermudah pembaca memahami makna kalimat yang dibaca.

PRONOMINA (KATA GANTI) ‘YHWH’ DAN ‘TUHAN ALLAH’ DALAM PL/PB

Menurut New Advent Catholic Encyclopedia, Bangsa Yahudi mengenal tiga sebutan nama untuk Tuhan, yaitu El, Elohim dan Eloah, di samping nama YHWH (Tetragrammaton/ Yahweh). Perkataan Yahweh ini terdapat sekitar 6000 kali dalam Perjanjian Lama, Elohim 2570, Eloah 57 kali dan El 226 kali. Walaupun masih menjadi perdebatan para ahli Kitab Suci, dikatakan bahwa kemungkinan kata Allah berasal dari kata El ini, yang berarti Tuhan yang Mahabesar/Mahakuasa (lih. Kel 6:2) yang secara derivatif dapat pula berarti “Ia yang dikejar oleh semua orang, Ia yang menjadi tujuan semua orang, ia yang kepada-Nya semua orang mencari perlindungan dan bimbingan, Ia yang kepada-Nya seseorang mendekatkan dirinya, dst”. Diskusi argumen tentang asal usul kata ini, setuju atau tidak setuju akan makna derivatif-nya akan menghasilkan pembicaraan yang terlalu jauh.

Sedangkan nama Tuhan sebagai YHWH yang diterima oleh Musa, merupakan nama yang sangat sakral, maka menurut tradisi Yahudi, mereka dilarang menyebutkan nama YHWH tersebut. Penyebutan nama YHWH (Yahweh) hanya dilakukan setahun sekali oleh Imam Agung, yang dilakukan di Bait Allah, pada pesta Yom Kippur. Karena kesakralan kata YHWH ini, maka tak sembarang orang menyebutkannya; dan di dalam pembacaan Kitab suci, mereka mengganti kata YHWH tersebut dengan Adonai. Septuagint dan Vulgate kemudian menerjemahkan Adonai ini dengan Kyrios/ Dominus.

Paus Benediktus XVI dalam bukunya Jesus of Nazareth condong kepada hasil studi para ahli Kitab Suci yang mengatakankan bahwa pengakuan Petrus akan Yesus sebagai Mesias, Putra Allah yang hidup (Mat 16:13-15), jatuh pada peringatan hari Yom Kippur ini (lihat buku karangan Bapa Paus Benedict XVI, Jesus of Nazareth p. 306); yang menunjukkan penggenapan sebutan Allah YHWH/ Adonai ini di dalam diri Kristus Yesus.

‘Kurios’ itu adalah ‘Tuhan’ (Lord) yang diambil dari bahasa Yunani, yang merupakan bahasa penulisan kitab Perjanjian Baru. Sedangkan kata “Tuhan” (Lord) dalam Kitab Perjanjian Lama (PL) dalam bahasa Ibrani-nya adalah “Adonai”. Dalam PL, kata “Adonai” (Tuhan/ Lord) ini dipakai sebagai kata ganti bagi YHWH (Yahwe) dan digunakan bersama- sama kata “Elohim (Allah/ God)” (lih. Mzm 38:15; Mzm 8:1,9), walaupun kata “adonai” ini memang juga menggambarkan hubungan antara tuan dan hamba (lihat: Kej 24:9,20,12,14,27; Kel 21:4-6) antara suami dan istri ( Kej 18:12, Yud 19:27; Mzm 45:12).

Demikianlah contoh ayat-ayat di mana kata ‘YHWH’, ‘Tuhan’ (Lord) dan ‘Allah’ (God) digunakan untuk mengacu kepada Allah yang satu dan sama:

“Sebab kepada-Mu, ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], aku berharap; Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan [Adonai], Allahku [Elohim].” (Mzm 38:15)

“Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! …. Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! (Mzm 8:1,9).

Di kitab Perjanjian Baru, terdapat ayat-ayat, di mana kata “kurios” diterjemahkan sebagai “Tuhan” (Lord), dan mengacu kepada Allah (God), seperti halnya pada Luk 1:32; 2:9, Kis 5:19), dan kata “kurios” ini juga mengacu kepada Yesus (lih. Rom 10:9, 1Kor 12:3; Flp 2:11; Why 19:15); Kata Ibrani “Adonai” diterjemahkan di dalam Kitab Septuaginta (PL dalam bahasa Yunani) dengan kata Yunani, yaitu “Kurios” (Lord). Kata “Kurios” ini juga digunakan untuk menterjemahkan kata YHWH (God). Kata Adonai dalam Perjanjian Lama adalah kata ganti terhadap kata YHWH [Yehovah/ Yahwe], yaitu kata yang penggunaannya terbatas, oleh karena bangsa Yahudi menolak untuk mengucapkan kata tersebut karena takut menyebutkannya dengan tidak hormat, dan dengan demikian melanggar perintah Allah, “Janganlah menyebut nama Tuhan [YHWH/ Yehovah] Allah-mu [Elohim] dengan tidak hormat” (lih. Kel 20: 7).

ALLAH SENDIRI MENGGUNAKAN PENYEBUTAN “TUHAN” DAN KATA GANTI LAIN DALAM AL-QUR’AN

Alloh

I. PENGERTIAN ILAAHUN
*Kata ilaahun terdiri atas tiga huruf: hamzah, lam, ha, sebagai pecahan dari kata laha – yalihu – laihan, yang berarti Tuhan yang Mahapelindung, Mahaperkasa. Ilaahun, jamaknya Aalihatun, bentuk kata kerjanya adalah alaha, yang artinya sama dengan ‘abada, yaitu ‘mengabdi’. Dengan demikian ilaahun artinya sama dengan ma’budun, ‘yang diabdi’. Lawannya adalah ‘abdun, ‘yang mengabdi’, atau ‘hamba’, atau ‘budak’.

Selain ilaahun, dalam Al-Qur’an juga terdapat kata Rabbun yang digunakan untuk menyebut Tuhan. Kata rabbun terdiri atas dua huruf: ra dan ba, adalah pecahan dari kata tarbiyah, yang artinya Tuhan yang Mahapengasuh. Secara harfiah rabbun berarti pembimbing, atau pengendali. Selain dimaknai Allah, kata rabbun juga digunakan untuk sebutan tuhan selain Allah, seperti paragraf ayat:
“ arbaban min dunillah”, menjadikan pendeta, pastur, dan Isa Al-Masih sebagai tuhan-tuhan selain Allah.
Dalam Al-Qur’an kata ilaahun juga dipakai untuk menyebut berhala, hawa nafsu, dewa. Semua istilah tersebut dalam Al-Qur’an menggunakan kata ilaahun, jamaknya aalihatun.

1.1. Allah Swt. Menyatakan Dia sebagai ilaahun.

… إِنَّمَا ٱلله إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ سُبْحَٰنَهُۥ أَن يَكُونَ لَهُۥ وَلَدٌ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ وَكَفَىٰ بِٱللهِ وَكِيلً

“… Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Esa, Mahasuci Allah dari mem¬punyai anak. Semua yang ada di langit dan di bumi hanyalah milik-Nya. Cukuplah Allah sebagai saksi atas kebenaran keesaan-Nya.” (Qs. An-Nisaa’ 4:171)

1.2. Disisi lain Allah Swt. Menyatakan hawa nafsu yang diikuti orang kafir ,juga sebagai ilaahun.

أَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

“Wahai Muhammad, apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang ka-fir yang menuhankan hawa nafsunya? Apakah kamu punya kekuasaan untuk memberi hidayah kepada mereka?” (QS. Al-Furqan, 25: 43)

1.3. Allah Swt. Menyatakan sesembahan orang musyrik sebagai ilaahun :

… فَمَآ أَغْنَتْ عَنْهُمْ ءَالِهَتُهُمُ ٱلَّتِى يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللهِ مِن شَىْءٍۢ لَّمَّا جَآءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ

“… Maka Tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah itu tidak dapat menolong mereka sedikit pun ketika datang adzab dari Tuhanmu. Tuhan-tuhan itu justru menambah kerugian yang sangat besar.” (QS. Hud, 11: 101)

1.4. Allah Swt. Menyatakan para pendeta sebagai rabbun :

ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَٰنَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللهِ وَٱلْمَسِيحَ ٱبْنَ مَرْيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوٓا۟ إِلَٰهًا وَٰحِدًا لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Kaum Yahudi dan Nasrani telah menjadikan pendeta-pendeta mereka, pastur-pastur mereka, dan Al-Masih bin Maryam sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Padahal mereka hanya diperintah untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Allah. Mahasuci Allah dari semua keyakinan syirik yang mereka buat-buat.” (Qs. At-Taubah, 9:31)

Maka kata ilaahun dan rabbun sesungguhnya adalah bahasa asli Arab jahiliyah yang dipertahankan penggunaannya dalam Al-Qur’an, sebagaimana contoh di atas,dimaksud bahwa Allah menyesuaikan dengan pemahaman bahasa yang dimengerti kaumnya.
(Bayangkan jika Al-Qur’an tidak cerdas,bahasanya tidak difahami oleh orang Arab,tentu akan semakin diolok-olok oleh kaum jahiliyyah).

Orang-orang Arab sebelum Islam, memahami makna kata ilaahun sebagai dewa atau berhala, dan mereka gunakan dalam percakapan sehari-hari. Apabila orang Arab Jahiliyah menyebut dewa cinta, maka mereka mengatakan ilaahul hubbi, dan ilaahatul hubbi untuk menyebut dewi cinta. Kaum penyembah berhala (animisme), atau aliran kepercayaan di zaman kita sekarang, sebagaimana orang-orang Arab Jahiliyah, menganggap tuhan mereka berjenis kelamin, laki dan perempuan.

Demikian sobat, Maka sekarang bolehkah umat Islam menyebut Allah dengan nama-nama dari bahasa-bahasa non-Arab ? Secara bijaksana ,jawabnya boleh-boleh saja, toh kita di Indonesia juga menggunakan istilah Tuhan untuk menterjemahkan istilah Robb, dan itu tidak perlu dipermasalahkan.Namun yang perlu diwaspadai oleh umat Islam adalah jangan sampai terjebak pada nama-nama yang mengarah pada keberhalaan (bersifat syirik) :

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-namaNya, Kelak, mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” – Qs. 7 al-a’raaf : 180

Bagaimana sekarang ? Sudah memahami semua ini ? Sebab akupun kini telah memahami dari tulisan yang ku susun sendiri ini. Oleh karena itu, sobat budiman pembaca terjemah Al-Qur’an tidak perlu alergi terhadap kata “Tuhan” sebagai terjemahan dari kata ilaahun dan rabbun. Umat Islam yang kini sudah mengetahui ilmunya tidak perlu harus merasa khawatir luntur aqidahnya, karena ini hanya problem bahasa masing masing umat dan keterbatasan kosa kata bahasa Indonesia.

2. PENGERTIAN RABB DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH.

(Oleh Sheikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan) :

Rabb adalah bentuk mashdar, berasal dari “Rabba–Ya Rubbu”,yang berarti mengembangkan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain,sampai pada keadaan yang sempurna.

Jadi, Rabb adalah kata mashdar yang dipinjam untuk fa’il (pelaku). Kata-kata Ar-Rabb tidak disebut sendirian, kecuali untuk Allah Ta’ala yang menjamin kemaslahatan seluruh makhluk. Adapun jika diidhafahkan (ditambahkan kepada yang lain), maka hal itu bisa untuk Allah dan bisa untuk lainNya. Seperti Firman Allah Ta’ala:

“Tuhamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu,”.(QS Asy-Syuara: 26).

Dikatakan “rabbuddaari” dalam ayat tersebut berarti tuan rumah, pemilik rumah, atau pemilik kuda, dan diantaranya lagi dalah perkataan Nabi Yusuf alaihissalam yang difirmankan oleh Allah Ta’ala:

“Dan Yusuf Berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.”.(QS.Yusuf:42).

Dan Firman Allah Ta’ala:

“Raja berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang Telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha mengetahui tipu daya mereka.” (QS Yusuf: 50).

“Hai kedua penghuni penjara: “Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi Maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)”.(QS.Yusuf:41).

Rasulullah bersabda dalam hadist “unta yang hilang,”
“sampai sang pemilik menemukannya.”

Maka jelaslah bahwa kata Rabb diperuntukkan untuk Allah, jika ma’rifat dan mudhaf, sehingga kita mengatakan misalnya: “Rabbu” (Tuhan Allah), “Rabbul’alamiin” (Penguasa semesta alam), atau “Rabbunnas” (Tuhan manusia).Dan tidak diperuntukkan kepada selain Allah Ta’ala kecuali jika diidhafahkan, misalnya: “Rabbuddaar” (tuan rumah), atau “Rabbul ibiil” (pemilik unta), dan lainnya.

Makna “Rabbul’alamiin” adalah Allah Ta’ala Pencipta alam semesta, Pemilik, Pengurus, dan Pembimbing mereka dengan segala nikmatNya, serta dengan mengutus para rasulNya, menurunkan kitab-kitabNya, dan Pemberi balasan atas segala perbuatan makhlukNya.

MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “HU” (Dia Laki-Laki), DALAM AL-QUR’AN ?

Apa maksudnya ? Apakah berarti Tuhan itu lebih dari satu ? Apakah berarti bahwa tuhan itu bergender ?

Sahabat,perkara ini telah sering menjadikan perdebatan kusir diantara sesama dan bahkan telah menjadi ajang pembenaran argumentasi pihak non muslim bahwa Tuhan itu dapat bersifat plural atau dapat disetarakan dengan unsur-unsur lain.

Dan sebenarnya pertanyaan-pertanyaan ini sudah dijawab dari sejak jaman dulu oleh Ulama alim dan Ahli Tafsir,dimana para ulama dari agama lain selalu mempertanyakan,setiap kali melihat terjemahan Al-Quran semacam ini dari masa-ke-masa, MENYANGKA dan BERTANYA apakah kata “KAMI” dan “HU” (Dia Laki-Laki),dalam Al-Quran adalah “Tuhan yang dapat disetarakan dengan unsur lain,serta bergender”. Padahal dalam ayat lain Al-Qur’an sudah mengunci jawaban, yakni bahwa Allah Swt itu Tunggal .Seperti salah satunya ditegaskan dalam Surah QS.112.Al-Ikhlas:01.

Tak kenal maka tak sayang,ketidak tahuan akan membuat kita tenggelam ke dalam kebimbangan dan kegelapan alam pikir.

BERIKUT PENJABARANNYA :

Semua perkara yang tersebut diatas sesungguhnya hanya masalah tata bahasa.Di antara uslub (metode) bahasa Arab adalah bahwa seseorang dapat menyatakan tentang dirinya dengan kata ganti ‘nahnu’ (kami) untuk menunjukkan penghormatan. Atau Allah menyebut dirinya dengan dhamir (kata ganti) ‘أنا’ (saya) atau dengan kata ganti ketiga seperti : هو’ (dia).

PRONOMINA atau DHAMIR atau KATA GANTI ALLAH,RABB dan BENDA lain dalam AL-QUR’AN :

pronomina

Bahwa tata bahasa AL-QUR’AN itu berbeda jauh dengan tata bahasa bangsa manapun didunia dalam hal penjabaran pemaknaan dari sebuah kalimat maupun padanan kata.Dalam bahasa AL-QUR’AN,jika sebuah kalimat dirubah satu tanda bacanya saja akan merubah artinya,apalagi menambah/merubah satu huruf,maka akan jauh berbeda maknanya,juga padanan kata.

1. MENGAPA ALLAH MENGGUNAKAN KATA “KAMI” , “AKU”

Dalam tata bahasa Arab,(GRAMMAR/NAHU SARAF), ada kata ganti (DHAMIR / PRONOMINA) pertama (singular) “AKU”,dengan kalimat :”Ana” ,Dan ada kata ganti pertama (plural) “AKU”,dengan kalimat : “Nahnu”. Akan tetapi dalam bahasa Arab, kata ganti pertama plural dapat dan sering, difungsikan sebagai singular. Hal ini disebut “Al-Mutakallim Al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”, Adalah kata ganti pertama yang memuat makna sebagai tanda “PENGHORMATAN”.

Metode ini terdapat dalam Al-Quran dan Allah Ta’ala menyampaikan kepada bangsa Arab apa yang dipahami dalam bahasa mereka”.(Fatawa Lajnah Daimah, 4/143)
Allah SWT terkadang menyebutkan dirinya dengan sighoh mufrad (sendiri) secara nampak atau mudhmar (tersembunyi). Tekadang dengan shigoh jama’. Seperti firman-Nya,

“Sesungguhnya kami telah taklukkan bagi kamu (Muhammad) dengan penaklukan yang nyata…..”.

Maka Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan nama-Nya dengan shighoh tatsniyah (bentuk dua). Karena shigoh jama’ mengandung pengagungan yang layak bagi-Nya. Terkadang menunjukkan makna nama-nama-Nya. Sementara sighoh tatsniyah (bentuk dua) menunjukkan bilangan tertentu. Dan Dia tersucikan dari itu.
(Reff:‘Al-Aqidah At-Tadmuriyah karangan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 75).

Lafaz “Inna” ( إنا)) dan “Nahnu” (نحن) atau selainnya termasuk bentuk jamak, tapi dapat diucapkan untuk menunjukkan seseorang yang mewakili kelompoknya, atau dapat pula disampaikan mewakili seseorang yang nomor satu. Sebagaimana dilakukan oleh Presiden apabila ia mengeluarkan keputusan atau ketetapan, maka dia berkata, “Kami tetapkan…” atau semacamnya, padahal dia yang menetapkan itu hanyalah satu orang. Akan tetapi diungkapkan demikian untuk menunjukkan keagungan. Maka yang paling berhak diagungkan oleh setiap orang adalah Allah Azza wa Jalla. Maka jika Allah mengatakan dalam Kitab-Nya, (إنا), sesungguhnya Kami, atau (نحن), kami, itu adalah bentuk pengagungan, bukan menunjukkan bilangan.
Ini karena dhamir ‘NAHNU’ yang dalam Tata Bahasa umum sebagai bentuk jamak yang diartikan sebagai “kita” atau “kami” (plural),tetapi dalam ilmu NAHU SOROF,kalimat “NAHNU” tersebut diartikan sebagai bermakna :”AKU / SAYA” dalam bentuk singular/Tunggal yang merupakan bentuk kalimat penghormatan atau bahasa sopan (Kromo inggil-Jawa).

Karena dalam tata bahasa bangsa lain tidak memiliki perbendaharaan seperti dalam Tata Bahasa Arab ini,maka kalimat ‘NAHNU”(Aku dengan konotasi penghormatan), hanya bisa diterjemahkan dengan kalimat “KAMI” ke dalam bahasa Indonesia atau “WE” dalam Bahasa Inggris,sehingga bagi yang tidak memahami seolah bermakna “jamak”.

Selain kata ‘Nahnu’, ada juga kata ‘ANTUM (KAMU), yang sering digunakan untuk menyapa lawan bicara meski hanya satu orang. Padahal makna `antum` adalah kalian (jamak).

Maka terjemahan “ANTUM” dalam bahasa Arab yang berarti “KAMU”,ketika kita menyapa lawan bicara kita dengan panggilan ‘antum’, maka secara kandungan bahasa, merupakan panggilan sopan dan ramah serta sebagai penghormatan ketimbang menggunakan sapaan “Anta , Ente”

Atau dalam bahasa sehari-hari kita,memanggil lawan bicara dengan panggilan :

-“KAMU , LOE , SITU”,maka akan berkesan adanya penghormatan jika diganti dengan kata, ”Anda, Gus atau “Tuan, Nyonya/Ibu/Bapak”.

Dalam bahasa Jawa, Sunda :

-Koe / rika / nyong /awakmu,aing dan sebagainya,maka akan lebih mengapresiasikan penghormatan dengan kalimat panggilan : “Panjenengan/sampeyan/sliramu/abdi/anjeun”, dan sebagainya. (Ini disebut “Ngajeni” /sopan dalam bahasa Jawa/Sunda)

Dalam bahasa Inggris :

-I (am) = saya, aku.
-You = kamu
-We = kami
-They = Mereka
-He = dia (laki-laki)
-She = dia (wanita)
-It = dia (benda & hewan)

BANDINGKAN DENGAN BAHASA ARAB :

-Huwa = dia (laki-laki)
-Huma = dia berdua (laki-laki)
-Hum = mereka (laki-laki)
-Hiya = dia (perempuan)
-Huma = dia berdua (perempuan)
-Hunna = mereka (perempuan)
-Anta = kamu (laki-laki)
-Antuma = kamu berdua (laki-laki)
-Antum = kalian (laki-laki)
-Anti = kamu (perempuan)
-Antumah = kamu berdua (perempuan)
-Antunna = kalian (perempuan)
-Ana = Saya, Aku
-Nahnu ( kami-aku, dengan bahasa penghormatan)

Dari perbendaharaan kata diatas, jika kita rangkai kalimat atau digabungkan dengan ‘kata kerja’, maka akan mengalami perubahan.

Contoh kata ,”fa’ala” =melakukan / “do” dalam Inggris,jika ditempatkan dengan kata-kata diatas maka akan menjadi:

a). “yaf’alu” =dia (seorang lak-laki) melakukan…,
b). “yaf’alaani”=dia dua orang lak-laki melakukan…,
c).”yaf’aluuna” =mereka (laki-laki) melakukan…,

Maka Kata ‘Nahnu’ (Kami,Alloh) yang berasal dari akar kata “ANNA”, dalam Al-Qur’an,tidak bermakna banyak, tetapi tetap bermakna “AKU TUNGGAL” yang menunjukkan keagungan Allah SWT,Tuhan Semesta Alam. Ini dipelajari dalam ilmu balaghah.

Contoh:
Dalam bahasa kita ada juga penggunaan kata “Kami” tapi bermakna tunggal. Misalnya seorang Lurah dalam pidato sambutan berkata.

”Kami sebagai Lurah berpesan…bla …bla….”

Padahal si Lurah hanya dia sendiri dan tidak banyak, tapi dia bilang “Kami”. Lalu apakah kalimat itu bermakna bahwa seorang Lurah yang sedang pidato itu berjumlah banyak?

Contoh lain :

Pada orang-orang yang telah fasih dengan Tata Bahasa Arab tentu akan paham, atau setidaknya orang pesantren “klotokan” yang bahasa sehari-harinya lazim menggunakan bahasa Arab Seperti di Pondok Pesantren Gontor,Tebu Ireng dan lainnya, tentu akan paham makna penggunaan kata “Nahnu” (kami).

-Maka kalimat,”Nahnu” (kami), dapat digunakan untuk lebih dari satu yaitu “kami” (plural – jamak),namun dapat juga untuk “satu orang” yaitu yang dimaksudkan “saya-sendiri” dengan makna “Bahasa santun”. (dalam Bahasa Arab).

Contoh lain lagi :

Penggunaan kata : “Antum” (kalian), memang bisa digunakan untuk lebih dari satu yaitu “Kalian” (plural – jamak), Namun dapat juga untuk satu orang, yaitu yang dimaksudkan “Anda” ,”Tuan” , “Bapak/Ibu”,dengan makna bahasa santun ,dalam Bahasa Arab.Bandingkan dengan jika kita mengatakan kata,”KAMU, LOE , SITU, ENTE”,yang diucapkan kepada orang tua atau Bos.

Maka bukan berarti “Antum” ini bermakna “kalian” (jamak) akan tetapi bermakna tunggal sebagai PENGHORMATAN dan PENGAGUNGAN. Inilah yang disebut “Al-Mutakallim Al-Mu’adzdzim li Nafsih-i”.

Cobalah RENUNGKAN akan hal ini !

-Maka penyebutan kata “KAMI” yang digunakan dalam Al-Qur’an ketika Allah berfirman,(yang dalam bahasa Arab adalah “NAHNU” juga “INNA” atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf “NAA”),adalah merupakan bentuk kalimat pengagungan yang tetap bermakna, “AKU”, Tuhan Yang Tunggal dan Maha Perkasa.

-Juga acapkali Allah Swt,menggunakan kata “AKU”, “DIA”, didalam Al Qur’an.(dalam bahasa Arab adalah “ANA” , “INNI” dan “HUWA“, atau kata kerja yang diakhiri dengan huruf “TU”, atau juga langsung dengan lafadz “Allah” sendiri, begitu pula dengan kata “Dia” / “Huwa”).Maka tata bahasa seperti ini tidak ada dalam tata bahasa bangsa lain termasuk dalam tata bahasa Indonesia.

2. Mengapa Allah Swt menggunakan kata ganti (dhamir) “HU” (Dia- laki-laki) untuk diri-Nya dalam al-Qur’an?

*Sebab mengapa Allah Swt dalam Al-Qur’an menggunakan “HU” (kata ganti ketiga-Maskulin) untuk diri-Nya adalah lantaran Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan penggunaan “HU” (pronomina III -Maskulin), bagi Allah Swt telah sesuai dengan kaidah dan sastra bahasa Arab.

Karena Allah Swt bukan muannats (feminim) hakiki dan juga bukan mudzakkar (maskulin) hakiki dan juga tidak menggunakan penggunaan qiyâsi (mengikuti kaidah tertentu) dan simâi muannats majâzi (figuratif). Karena itu, berdasarkan kaidah bahasa Arab yang harus digunakan untuk Zat Allah Swt adalah pronomina dalam bentuk maskulin figuratif (mudzakkar majâzi). Di samping itu, tanda-tanda literal maskulin dan feminin bukan sebagai penjelas kedudukan dan derajat yang mengandung nilai (value).

Bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab. Bahasa Arab berbeda dengan bahasa-bahasa lainnya menggunakan dua jenis kata ganti dan pronomina (dhamir) orang ketiga laki-laki (mudzakkar) dan kata ganti orang ketiga perempuan (muannats). Suatu hal yang natural bahwa setiap buku atau kitab yang ingin ditulis menggunakan bahasa ini, kendati ia merupakan kitab Ilahi, maka ia harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa tersebut dan gramatikanya.

Bahasa Arab, karena tidak memiliki kata ganti orang ketiga waria (khuntsa), sebagian hal yang tidak memiliki jenis kelamin dinyatakan dengan kata ganti orang ketiga laki-laki (dhamir mudzakkar). Namun, yang semisal dengan masalah ini, juga terdapat dalam bahasa-bahasa yang lain, seperti bahasa Prancis. Dengan bersandar pada poin ini dapat diambil kesimpulan bahwa pernyataan kata ganti orang ketiga laki-laki, sama sekali tidak ada kaitannya dengan sifat kelaki-lakian.

Pada kenyataannya, dapat dikatakan bahwa al-Qur’an tidak didominasi oleh pandangan patriarkial yang berkembang pada budaya zamannya, melainkan sebuah tipologi bahasa yang mengkondisikan pembicaranya supaya memperhatikan dan mematuhi hal tersebut. Karena itu, Al-Qur’an, dengan alasan diturunkan dan diwahyukan dalam bahasa Arab, bertutur kata dengan wacana ini dan menggunakan pronomina-pronomina dan redaksi maskulin (mudzakkar) yang selaras dan sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab.

Dengan kata lain, dari satu sisi, dalam bahasa Arab, nomina-nomina (asmâ) dan verba-verba (af’âl) (selain verba kata ganti orang pertama tunggal [mutakkalim wahdah] dan kata ganti orang pertama jamak [mutakallim ma’a al-ghair]) memiliki dua jenis: laki-laki atau maskulin (mudzakkar) dan perempuan atau feminin (muannats). Maskulin dan feminin ini terbagi lagi menjadi hakiki dan majâzi (figuratif). Seluruh entitas yang memiliki alat kelamin pria dan wanita adalah maskulin dan feminin hakiki (mudzakkar dan muannats hakiki). Selainnya adalah figuratif (majâzi).

Maskulin hakiki seperti “rajul” (pria) dan “jamal” (unta jantan). Feminin hakiki seperti “imraat” (wanita) dan “naqah” (unta betina). Maskulin figuratif (mudzakkar majazi) seperti “qalâm” (pena) dan “jidâr” (dinding). Feminin figuratif (muannats majazi) seperti “dâr” (rumah) dan “ghurfah” (kamar). Penggunaan muannats majazi dalam hal-hal seperti nama-nama kota, anggota badan yang berpasangan memiliki kaidah dan dalam hal-hal lainnya tidak mengikut kaidah tertentu (qiyâsi) dan bersifat simâi. Simâi artinya bahwa yang menjadi kriteria adalah semata-mata mendengar orang-orang yang berbahasa Arab dan harus diperhatikan orang-orang Arab menggunakannya dalam bidang apa. Apabila hal tersebut bukan termasuk muannats hakiki dan muannats majâzi dan juga bukan mudzakkar hakiki maka tentulah ia merupakan mudzakkar majâzi.[1]

Dari sisi lain, karena Allah Swt tidak melahirkan juga tidak dilahirkan. Demikian juga tiada yang menyerupainya[2] dan juga bukan termasuk hal-hal yang terkait dengan penggunaan qiyâsi (mengikuti kaidah tertentu) dan simai muannats majâzi. Karena itu, berdasarkan kaidah bahasa Arab yang harus digunakan untuk Zat Allah Swt adalah kata ganti-kata ganti, nama-nama dan sifat-sifat dalam bentuk mudzakkar majâzi (maskulin figuratif).

Poin ini juga harus mendapat perhatian bahwa tanda-tanda literal muannats dan mudzakkar tidak mengandung nilai tertentu dan tidak menunjukkan tanda dan dalil atas kemuliaan dan kedudukan seseorang. Karena itu, apabila tanda-tanda literal mudzakkar, menunjukkan kemuliaan dan kedudukan tertentu seseorang, dan memiliki nilai tertentu, maka untuk selain manusia dan sebagian makhluk rendah seperti setan dan iblis… tidak boleh menggunakan kata kerja-kata kerja atau nomina-nomina atau pronomina-pronomina dan seterusnya yang memuat tanda-tanda literal mudzakkar.
Demikian juga, apabila tanda-tanda literal muannats merupakan dalil dan tanda kekurangan dan minus nilai maka entitas-entitas yang sarat nilai seperti matahari (syams), bumi (ardh), kaum pria (al-Rijal), air (ma’) dan sebagainya dan sebaik-baik perbuatan dan kedudukan seperti sembahyang (shalat), zakat, surga (jannat) tidak akan dinyatakan dalam bentuk literal muannats.[3]
Reff:
[1]. Sharf Sâdeh, hal. 28 dan 145.
[2]. Lam yalid wa lam yulad (Qs. Al-Ikhlas [114]:3). Laisa kamitsli syai (Qs. Al-Syura [42]:11)
[3]. Silahkan lihat, Zan dar Âine Jalâl wa Jamâl, Jawadi Amuli, hal. 78.
*http://quran.al-shia.org/id/lib/101.html

PENERAPAN KALIMAT ALLAH DAN PRONOMINA “TUHAN-AKU-DIA-KAMI DAN RABB”, DALAM AL-QUR’AN :

Telah diketahui bahwa terjemahan “Tuhan” berasal dari “ILAAHUN” dan “RABB”, kemudian kata ganti “AKU” dari “ANA”, kata ganti “DIA” dari “HU”, sedangkan kata ganti “KAMI” dari “INNA / NAHNU”,maka pecahan pecahan tersebut semuanya berasal dari satu sumber kalimat agung, yakni berasal dari kalimah “ALLAH”.

Mari kita jabarkan :

Lafaz ALLAH terdiri dari empat huruf,yaitu : ALIF-LAM-LAM dan HA.

1. Jika huruf pertama ditiadakan, maka yang ada lafaz “LILLAH”.
2. Jika huruf LAM pertama ditiadakan,maka yang ada lafaz “ILAAHUN”.
3. Jika kedua huruf LAM ditiadakan, maka yang ada lafaz “HU”.
4. Jika tiga huruf terakhir ditiadakan, maka muncul symbol “ALIF”.

Makna LILLAH :
Mengejawantahkan dzat bagi “TEMPAT SEMUA KEMBALI atau SEGALA SESUATU HANYA DARI,UNTUK dan PADA ALLAH,entah segala penciptaan,peribadatan,pengabdian serta ketergantungan seluruh alam semesta dan makhluk makhluk-Nya.

Makna ILAAHUN :
Kata ilaahun terdiri atas tiga huruf: hamzah, lam, ha, sebagai pecahan dari kata laha – yalihu – laihan, yang berarti Tuhan yang Mahapelindung, Mahaperkasa. Ilaahun, jamaknya Aalihatun, bentuk kata kerjanya adalah alaha, yang artinya sama dengan ‘abada, yaitu ‘mengabdi’. Dengan demikian ilaahun artinya sama dengan ma’budun, ‘yang diabdi’. Lawannya adalah ‘abdun, ‘yang mengabdi’, atau ‘hamba’, atau ‘budak’.Maka ILAAHUN yang dalam bahasa Indonesia Tuhan Yang Maha Esa, mengejawantahkan Dia,Tuhan, Allah yang tidak ada tuhan tuhan lain dan sembahan sembahan lain selain Allah,tanpa reserve.

Makna HU :
“HU”,yang berasal dari bagian asma Allah,di dalamnya tersembunyi hakekat ”HUWA”,adalah Dia Yang Maha Mutlak,tak terbanding dan setarakan(awyakta-Sanskert).Karena sebelum datangnya islam bangsa Arab jahiliyyah menganggap bila Tuhan itu dapat setara dengan materi dan berjenis kelamin laki laki.Maka setelah dunia yang jahil diterangi Islam,Allah meminjam kosa kata yang telah dipahami oleh bangsa Arab ini sebagai bentuk tandingan,bahwa “HU” (Dia,Tuhan yang bukan laki laki maupun perempuan dan tak dapat disetarakan dengan lainnya),dengan di idhafahkan menjadi : “Hu, Allahhu ahad,Allahussomad – Dia,Allah Yang Maha Esa,tempat semua bergantung,tidak beranak dan diperanakkan”, artinya Allah tidak dapat disetarakan dengan materi, gender laki laki/perempuan.(QS.112.Al-Ikhlas :1-4).

alif

Symbol ALIF :
Sedangkan symbol ALIF merupakan kata sandang “AL” atau dalam bahasa Indonesia adalah “SANG” atau dalam bahasa Inggris “THE”,yang mengejawantahkan bahwa ALLAH adalah dzat Maha Tersembunyi namun exis. Dan dari symbol ALIF memancar 99 asmaul Husna,yang huruf ALIF tersebut hanya satu karakter yakni bentuk karakter garis strip vertikal tunggal yang mempunyai makna rahasia paling rahasia yang direliefkan dalam beberapa awalan surat surat Al-Qur’an yakni ALIF-LAAM-RAA , ALIF – LAAM – MIM , yang setiap nama nama ASMAUL HUSNA selalu menggunakan kata sandang “AL”,yang dawalii dengan huruf Alif, kemudian ayat pertama turun diawali dengan huruf ALIF,yang setiap membaca ayat-ayat-Nya dimulai dengan Bismillah,sedang huruf bismillah diawali dengan karakter ALIF.

Selain ilaahun, dalam Al-Qur’an juga terdapat kata Rabbun yang digunakan untuk menyebut Tuhan. Kata rabbun terdiri atas dua huruf: ra dan ba, adalah pecahan dari kata tarbiyah, yang artinya Tuhan yang Mahapengasuh. Secara harfiah rabbun berarti Pembimbing, Pemelihara dan Pengendali.

A.PENERAPAN KALIMAT “AKU” :

Ketika Alloh menggunakan kata ganti diri-Nya dengan kalimat “aku/Ana”,maka dipergunakan untuk menegaskan kepemilikan dan sumber tuju atas segala sesuatu yang ada dialam semesta ini.Maka Allah Yang Maha berkuasa, tempat meminta dan berhak memberi sesuai kehendak-Nya.Tiada yang lain yang berkemampuan seperti ini,tidak ada libatan pengaruh maupun tekanan dari makhluk lain.Segala sesuatu yang langsung ditangani dibawah kekuasaan dan kekuatan-Nya.Inilah merupakan bentuk “LITTA’DZHIIM” (menunjukkan Keagungan dan Kebesaran seorang diri/Tunggal tanpa melibatkan unsur lain saat berkehendak).

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS.Adz Dzaariyaat : 56)

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”.(QS. 2. Al Baqarah:152).

B.PENGGUNAAN KALIMAT “ALLAH” PADA DIRINYA SENDIRI:

Lafaz Allah adalah lafzhul Jalalah, lafaz yang tidak dapat dirubah hurufnya dan diganti menjadi lafaz lain.Nama yang asing bagi bangsa Arab dan dunia sebelum datangnya Islam.Kosakata yang belum pernah ada sebelumnya.Dia sendiri yang menamai dirinya dengan ALLAH (QS.28:68-70).

Digunakan untuk menunjukkan jatidiri serta keberadaannya (existensi) untuk diketahui dan dikenal,bahwa Dia,Tuhan Sang Penguasa alam semesta dengan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat,yang tidak ada makhluq lainpun yang dapat menyamai Keagungan dan Kekuatan –Nya.Hanya kepada Allah saja semua makhluk mengabdi.

Contoh penggunaan kalimat yang menyebut Allah dengan nama dirinya sendiri:

يُظْلَمُونَ لا وَهُمْ كَسَبَتْ بِمَا نَفْسٍ كُلُّ جْزَىتُلِوَبِالْحَقِّ وَالأرْضَ السَّمَاوَاتِ اللَّهُ وَخَلَقَ

“Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan”. (QS.Al-Jaatsiyah : 22).

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.” (QS.Al-Israa’: 99).

C. PENGGUNAAN KALIMAT “DIA” :

Merupakan kata ganti yang menekankan kemutlakan dan “TANDINGAN”,atas lainnya,Digunakan untuk menunjukkan bahwa Dia,adalah Allah satu satunya Tuhan penguasa alam semesta dengan kekuatan-Nya yang Maha Dahsyat,yang tidak ada makhluq lainpun yang dapat mampu menandingi/menyamai Kemaha Mampuannya,tiada yang bisa disetarakan dengan-Nya dan hanya kepada Dia saja semua makhluk harusmenyembah.

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).”(QS.Al-Baqarah: 255).

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (Tunggal).” (QS.Al-Ikhlas: 1)

D. PENGGUNAAN KALIMAT “KAMI” :

Merupakan kata ganti yang menekankan sisi proses atas segala sesuatu yang dikehendaki dan terjadi menurut kekuasaan dan ke-Maha Kehendak-Nya. Digunakan untuk menunjukkan bahwa “KAMI”,adalah Allah satu satunya Tuhan penguasa alam semesta dengan kekuasaan-Nya,yang menetapkan,mengawasi dan mengendalikan sistem Qada-Qadar dan Takdir-Nya. Dan berjalannya sistem tersebut adalah melalui proses/ mekanisme/tahapan.

Allah mengadakan/menugaskan para wali-Nya,yakni para Malaikat,para Nabi , Rasul dan mekanisme alam semesta,untuk menyampaikan pesan/signal kehendak-Nya,petunjuk petunjuk-Nya,ilmu pengetahuan dan perintah serta larangan-Nya.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (QS.Al-Hujuraat: 13)

Maka maknanya bahwa Allah dalam menciptakan manusia setelah penciptaan langsung Adam,tidak satu persatu lagi secara langsung,melainkan melalui mekanisme biologis,yakni dimana proses manusia berkembang biak. Maka inilah RAHASIA bahasa AL-QUR’AN mengapa Allah Swt. menggunakan lafadz/kalimat “NAHNU (KAMI)”.

“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam”. (QS.Al-Anbiyaa’ : 107)

Kata Arsalna ( أَرْسَلْنَا ‘Kami mengutus’) berasal dari kata dasar “Arsala” أَرْسَلْ
(bermakna : mengutus, memberikan risalah, mengantarkan risalah).Sebagaimana penjelasan sebelumnya diatas, maka kata “KAMI” yang Allah Swt. maksudkan karena ADANYA PROSES PENGUTUSAN,atau adanya mekanisme pengiriman wahyu yaitu melalui “MALAIKAT JIBRIL” SEBAGAI PENGANTAR WAHYU ALLAH SWT,kemudian hingga sampai pada Rasul/Nabi nabi-Nya. Sebab tidak harus Allah berkehendak memberi petunjuk/risalah untuk manusia kemudian mengantarkan sendiri langsung ke makhluk-Nya. Makanya Allah Swt. menggunakan Kata “NAHNU” (KAMI).

Demikian maksud penerapan kata ganti “KAMI / NAHNU,selain sebagai bentuk penghormatan dan bermakna “kami” tunggal,juga menegaskan adanya mekanisme penugasan melalui para malaikat,para Nabi dan para Rasul rasul-Nya.

KESIMPULAN

ilm

Dari seluruh uraian mengenai kata ganti Allah,penyebutan Tuhan,Lord,Gusti maupun Pengeran dan lain sebagainya, telah dijabar dari berbagai sudut al-ilm, baik secara dalil ‘aqli maupun naqli.Artinya telah memenuhi standar ilmu pengetahuan yang bersumber dari Al-Qur’an,As Sunnah yang kemudian ditambah dengan penjabaran oleh para alim ulama yang luas pengetahuannya.Dan ketahuilah bahwa terjemahan kata “TUHAN” telah disebut sebanyak lebih dari 507 kali dalam ayat Al-Qur’an.

Maka,satu esensi dapat ditarik hakekatnya yakni :

1- Apapun nama nama lain Allah yang kita sebut dengan bahasa ibu pertiwi masing masing seperti yang telah diurai diatas saat kita berdoa,memohon,merintih,melolong berharap pertolongan Allah,maka tak bermasalah sepanjang penyebutan penyebutannya ditujukan dari keikhlasan hati dan niat suci hanya kepada Allah Ta’ala,bukan menuju yang selain Allah.Dan sepanjang penyebutan penyebutan nama lain Allah tidak bermakna buruk atau bernada pelecehan. Sedangkan menyebut Allah dengan panggilan lain menurut bahasa daerah yang familier seperti Gusti, Pengeran,Kang Murbehing Dumadi dan lainnya,maka tidak masalah sebab bermakna luhur dan merupakan sebutan kehormatan diwilayah budaya masing masing. Semua hanya ada dalam hati dan penyimpangan dari semua itu menjadi konskuensi individu.

-Uraian pengetahuan ini telah jelas dipapar.Manakala ada orang ataupun yang mendakwa dirinya ustadz,tokoh aim kemudian membuat tulisan tulisan menolak atau mengharamkan/melarang penyebutan Tuhan,Gusti dan Pengeran dan lain sebagainya dengan mendasari berbagai rangkaian dalil (kadang penerapan dalilnya dalil mentah) dengan argumen bahwa kata “Tuhan,Gusti,Pengeran” dan lainnya adalah tidak ada dalilnya serta dianggap berasal dari ajaran kafir,maka hal ini telah terbantahkan sebab penjabaran yang telah diurai diatas ini lebih komprehensif,lengkap,memenuhi seluruh aspek ilmu kaji serta hukum hukum syareat serta logika agama (Al-Hikmah). Maka tinggal penyerapannya diserahkan kepada para pembaca masing masing.

2. inilah salah satu tanda keagungan mengapa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.Jikalau Alquran itu diturunkan dengan semua bahasa, tentu akan banyak perbedaan penafsiran kata disetiap wilayah dan perubahan yang susah dipantau dan dideteksi kebenarannya.Jikalau Al-Qur’an di Indonesia dimusnahkan dan dibakar, akan datang jutaan Hafidz (Penghafal) Al-Qur’an dari seluruh penjuru dunia untuk menggantikannya dengan hafalan yang sama, surah yang sama, ayat yang sama, dan huruf yang sama. begitulah salah satu cara Allah Swt. menjamin kemurnian Al-Qur’an.

3. Inilah hikmah al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab. Nabi Muhammad SAW adalah orang arab, dan masyarakat di sekeliling Nabi adalah orang arab, mereka sangat arif dengan bahasa mereka, dan mereka faham apa yang diturunkan dalam bahasa mereka. Masalah berkaitan perkataan KAMI ini tidak timbul ketika itu, kerana mereka faham bahasa mereka, bahawa KAMI yang dimaksudkan bukanlah bermaksud jamak, tetapi membawa arti satu penghormatan dan keagungan, dan ia tetap merujuk kepada Tuhan Yang Tunggal.

4. Tafsiran-tafsiran yang dalam dan luas seperti ini tidak akan kita temukan dalam Al-Qur’an terjemahan DEPAG RI maupun yang digital.Oleh karena itu,hanya dengan melalui para alim Ulama Tafsir yang fasih yang luas ilmunya yang dapat menjabarkan Tafsir Al-Qur’an ini,yang menandakan betapa Ilmu Al-Qur’an /Ilmu Tuhan itu sangat luas,lebih luas dari samudera langit dan bumi.

5. ALLAH JUGA TUHAN UMAT KRISTEN YANG DISEBUT DALAM INJIL :

Ketika kebanyakan dari mereka umat Kristiani juga merasa anti serta risih menyebut nama Allah,yang dianggap sebagai bukan Tuhannya mereka dan dianggap tidak sesuai dengan iman mereka,maka bagamana mungkin hal ini bisa tetap terus dijadikan anggapan ? Sedangkan nama Allah adalah kalimat yang juga disebut dan menjadi istilah di dalam kitab suci Injil PL maupun PB,seperti yang telah diterangkan diatas.

6. JANGAN MEN-TUHANKAN DALIL :

Ketika berargumen,berdakwah,berorasi,berdebat dan menulis kemudian bersikeras yang paling benar dan lainnya salah,sesat,kafir dan murtad hanya mendasari segala sesuatunya tidak ada dalilnya,maka itu yang disebut mencari “PEMBENARAN” dan hal demikian itulah yang disebut “MEN-TUHANKAN” dalil,mengesampingkan aspek aspek hakekat Kemaha Besaran Allah. Sementara ketika mendasari pemikiran bahwa kebenaran itu harus terlihat menurut apa apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW sehari hari,maka mengapa orang orang yang seperti ini tidak mengikuti sunnahnya secara konskuen? Yakni mengapa masih memakai setelan jas,sarung,peci,celana levis? Sedang Rasulullah SAW tak pernah memakai jas,sarung dan celana levis.Apalagi sedan,apalagi beli elektronik TV,laptop,gadget android,dan lain sebagainya, yang notabene buatan dan budaya non muslim.

7. Namun demikian,kita juga jangan mentang mentang bahwa kata ganti Allah seperti Tuhan,Gusti,Pengeran,Lord dan lain sebagainya itu boleh dan sah diucapkan,tetapi jangan dijadikan prioritas kebiasaan atau bahkan malah mengganti sebutan Allah dengan yang lain dan melupakan penyebutan ALLAH sama sekali, sebab kalimat Allah lebih utama dan unggul dibanding sebutan sebutan selain Allah.

Semoga menjadikan renungan di sanubari terdalam.

Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin,

Lembah Duren Sawit,11 Juli 2013 – 16 desember 2014

CopyRights@2013

Reff :
-Al-Qur’an terjemah DEPAG RI

http://teaching4muallaf.blogspot.com

http://www.muslim-menjawab.com

http://imanulhassan.blogspot.com

– TafsirIbnu Katsir, Tafsir Al Jalalein

– TafsirAl Mishbah, dari Prof. DR. Quraisy Shihab
http://www.arrahmah.com/read/2012/12/10/25356-kontroversi-kata-tuhan.html
-http://quran.al-shia.org/id/lib/101.html
-http://mudamudimuslim.blogspot.com/2011/12/benarkah-penyebutan-kata-tuhan-allah.html
-http://www.mukminun.com/2013/12/pengertian-rabb-dalam-al-quran-dan-as.html#_
-http://tausyah.wordpress.com/2010/07/10/benarkah-nama-tuhan-adalah-allah/
https://farisna.wordpress.com/2011/06/19/penyebutan-gusti-allah-dan-kanjeng-nabi/
-http://katolisitas.org/1800/tentang-sebutan-tuhan-allah-dan-yahweh-samakah

ILMU TORIQOH atau TAREKAT, ILMU JALAN SAMPAI KEPADA TUHAN

ILMU TORIQOH atau TAREKAT, ILMU JALAN SAMPAI KEPADA TUHAN

Logoyrsa

bismillah

tarekat 4

KENALI ESENSI TAREKAT

ANTARA AMALAN, ANTARA RITUAL, ANTARA IBADAH DAN ANTARA JALAN RAHASIA UNTUK SAMPAI PADA TUHANNYA

“WANITA BERSUAMI YANG MASIH MENGEMBAN FUNGSI TANGGUNG JAWAB RUMAH TANGGANYA, SEBAIKNYA JANGANLAH LARUT DALAM KEGIATAN TAREKAT BERBAI’AT, TANPA KOMPROMI DENGAN SUAMI / KELUARGA”

Pernah mendengar kata-kata “TAREKAT” seperti judul tulisan yang tersebut diatas? Atau justru anda adalah pelaku / pengamal Tarekat fanatik dari salah satu organisasi Tarekat? Atau masih samar-samar akan pengetahuan dan pemahaman tentang Tarekat ?
Maka bagi yang benar-benar belum mengetahui tentang ilmu Tarekat, semoga tulisan ini dapat mengawali pengetahuan tentang hal itu. Dan bagi yang telah familier serta rajin menjalankan amalan-amalan Tarekat, bahkan aktif dalam organisasi ketarekatan, maka semoga paparan berikut dapat semakin mengisi cakrawala ilmu pengetahuan ketarekatan. Sementara bagi yang masih samar-samar atau setengah-setengah dalam pengetahuan tentang Tarekat, maka semoga penjabaran ringkas berikut ini dapat menambah kejelasan dan pengetahuan serta dapat menjadikan inspirasi, alternatif dalam  memperbanyak amalan shalihan, beribadah mengabdi kepada Tuhannya secara ikhlas.

BERBAGAI JALAN MENUJU TUHANNYA, ANTARA REALITA DAN PROBLEMATIKA

Sepertinya telah sering kita saksikan disekitar kehidupan kita, baik melalui media maupun menyaksikan langsung, banyak dari sekelompok umat islam dalam menjalankan ritual keagamaan, dalam mengamalkan amalan ibadah tertentu secara berjama’ah, tampak dengan begitu khidmat saat berdzikir menggeleng-gelengkan kepala dengan ritme spesifik secara dinamis, ke kanan ke kiri, ke atas ke bawah, kemudian seluruh badan dan kepala terselubung rapat oleh kerudung / kain putih atau berseragam tertentu, seraya tak lepas jari-jemarinya menghitung bulir-bulir tasbih diiringi gemuruh gumam do’a dan sholawat hingga ribuan kali. Begitu khusyu’ dan berkonsentrasi tinggi tanpa peduli dengan urusan lain. Begitulah cara para salik mencari jalan sampai kepada Tuhannya dan mempersembahkan bakti untuk Tuhannya.

Sementara dapat juga kita saksikan bagaimana dari komunitas lainnya begitu kuat dan fanatik dalam melakukan amalan amalan tertentu menurut faham yang dianut dan diyakini masing masing. Ada yang khsusyu’ menjalani tirakatan berhari hari bahkan bulanan dengan mengabaikan kondisi diri, berprihatin diri, menjauh dari gemerlap duniawi. Ada juga yang lebih ekstrim dalam menjalankan amal bakti, berjihad kepada Tuhannya dengan rela mengorbankan harta maupun jiwa.

Sementara sering kita lihat di media ketika pemerintah mengumumkan penentuan hari Raya Iedul Fitri ataupun Hari Raya Qurban, maka ada kelompok tertentu atau jama’ah Tarekat tertentu di wilayah Jawa, Aceh, Sumatera Barat, Sulawesi dan wilayah lainnya ada yang merayakannya dua hari sebelum maupun ada yang merayakan dua hari setelah penentuan yang ditetapkan oleh pemerintah karena masing masing mempunai faham dan keyakinan tersendiri. Begitulah berbagai ragam cara manusia menyembah, mengabdi dan mencari jalan menuju kepada Sang Khalik, berlomba-lomba berburu ridho Allah. 
Saat-saat hari tertentu pula kita maklumi terdapat jama’ah majelis dzikir, tarekat mengadakan pengajian yang dibimbing oleh seorang guru atau syeikh yang dikenal dengan istilah ‘selapanan, mujahadahan atau tawasulan’. Kesan execlusive tampak kental mewarnai jama’ah jama’ah ini dengan berpakaian seragam tertentu, rapat dengan gamis serta sorban atau ikat kepala serba hitam, sementara kelompok lainnya ada yang putih-putih dan sebagainya. Itulah ciri jama’ah tarekat. Di Indonesia kelompok jama’ah tarekat terbilang berciri moderat atau lebih tampak menampilkan acara-acara ritual yang damai dan cenderung berkonsentrasi di tempat-tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota. Namun di sebagian wilayah negara di Timur Tengah, kelompok jama’ah tarekat banyak yang melaksanakan ritual ekstrim di keramaian orang banyak, seperti ritual mencambuk-cambuk / melukai badannya sendiri hingga berdarah.

“WANITA BERSUAMI YANG MASIH MENGEMBAN FUNGSI TANGGUNG JAWAB RUMAH TANGGANYA, SEBAIKNYA JANGANLAH LARUT DALAM KEGIATAN TAREKAT BERBAI’AT, TANPA KOMPROMI DENGAN SUAMI / KELUARGA”

Bagi sebagian kelompok umat, pelaksanaan Tarekat telah menjadi amalan baku dan dapat menjalaninya dengan lancar tanpa masalah. Hal tersebut terutama bagi insan-insan berkeluarga yang benar-benar telah memahami ilmu pengetahuan bertarekat. Namun bagi kelompok keluarga yang diantara anggota keluarga tersebut ada yang tidak setaraf ilmu pengetahuan Tarekatnya, maka akan banyak menimbulkan masalah, apalagi bagi yang hanya sekedar ikut-ikutan atau hanya karena faktor diajak pengajian oleh rekannya namun tidak tahu kalau kelompok pengajian yang diikutinya tersebut adalah pengajian dari salah satu organisasi Tarekat. Hal ini lazim terjadi ditengah-tengah keluarga kita dan di sekitar lingkungan kita. Biasanya ibu-ibu rumah tangga begitu antusias mengikuti ajakan rekan tetangga atau teman maya mengikuti pengajian pada seorang guru / Syeikh ke suatu tempat jauh kadang diluar kota hingga harus menginap, meninggalkan anak / suami. Begitu pulang langsung hari-hari disibukkan dengan bacaan-bacaan wirid sekian ribu kali, puasa ini, puasa itu selama berhari hari bahkan berbulan bulan, hingga sering terjadi problem rumah tangga karena suami kesal sang istrinya banyak lalai / meninggalkan tanggung jawab fungsi sebagai ibu rumah tangga yang semestinya. Keluarga, anak tak diperhatikan / tak terurusi namun justru sibuk dengan ritual-ritual yang ditekankan oleh majlisnya tersebut setiap hari. Demikian juga sebaliknya ada suami yang meninggalkan keluarganya berhari-hari tanpa kompromi yang jelas dan tanpa memikirkan kebutuhan ekonomi bagi keluarga yang ditinggalkannya dalam perkara yang sama.

Maka sebaiknya bagi wanita bersuami / ibu rumah tangga yang kapasitas dan tanggung jawabnya sangat dibutuhkan untuk keluarganya, semestinya janganlah larut sibuk mengamalkan ritual-ritual tarekat berbai’at setiap harinya tanpa ijin dan kompromi dengan keluarga / suami, apalagi taqlid buta terhadap ritual ritual tersebut. Sebab jika hal demikian tetap dilakukan dengan alasan keyakinan / keimanan buta menurut prasangka pribadi sendiri, maka sungguh akan banyak mendapatkan mudharat daripada manfaat yang lebih besar.Ibarat menangguk air dengan keranjang bolong.
Sementara disisi lain sangat disayangkan dari guru pembimbingnya sendiri (tidak semua-red.), yang berorganisasi dan menjalankan / memimpin Tarekat lembaga, dengan banyak anggota / jama’ahnya tidak memperhatikan akan perkara ini yaitu apakah jama’ahnya dalam kondisi sedang memikul tanggung jawab keluarganya atau tidak, malah kadang langsung main “Bai’at” saja, tanpa memberikan pemahaman akan esensi tarekat yang sesungguhnya. Atau tak ditanya apakah masuk tarekat hanya ikut-ikutan atau karena telah berpengetahuan.

Salah satu contoh komunikasi bijak seorang guru pembimbing dengan calon jama’ah perempuan:

“Ibu, Jika ibu masih banyak tugas dan tanggung jawab dalam keluarga, masih menyusui, masih ngurusi pekerjaan rumah tangga, masih ngurusi anak / suami silahkan ibu pulang kembali dan amalkan tarekat bersama keluarga saja dirumah, sebab melaksanakan tugas dan kewajiban seorang istri, taat dan mematuhi suami adalah sama nilainya dengan bertarekat juga.”

Cobalah renungkan perkara ini.

Baik sobat budiman Nusantara,
Mari kita gali lebih dalam pengetahuan tentang TAREKAT ini. Tulisan ini penulis persembahkan kepada ikhwan fillah sebangsa setanah air dalam maksud menambah cakrawala pengetahuan dan pemahaman akan nlai-nilai agama agar dapat menjadikan referensi, inspirasi, penambah keimanan dan kecerdasan pikir dalam menjalani kehidupan, beribadah mengabdi kepada Sang Maha Pencipta. Dan tulisan ini tersusun dan terangkum berdasarkan pengamatan, pengalaman, pengelanaan dan mengaji langsung dengan Ulama / Kyai, serta digali dari berbagai sumber.

MAKNA DAN ESENSI TAREKAT

 tarekat 2

TINGKATAN / JENJANG ILMU DAN AMALIAH ORANG MUKMIN DALAM KEILMUAN AGAMA :

Sebelum melanjutkan risalah tentang memahami ilmu tarekat, maka mari kita renungi makna islam dan kedudukannya terlebih dahulu.

Makna Islam itu adalah Ad-dinul islam yang terdiri dari tiga pilar, yaitu meliputi: nilai nilai agama islam itu sendiri (Ad-dien Al-Islam),  nilai nilai Keimanan (Al-Iman) dan nilai nilai kemuhsinan / selalu mengadakan perbaikan (Al-Muhsin).

Itu yang dimaksud makna islam secara keseluruhan yaitu meliputi substansi dan filosofinya (nilai dan orangnya). Sehingga pelaku / pemeluknya tidak dapat meninggalkan dari salah satunya.

Oleh karena itu bagi golongan MUSLIMIN belum termasuk katagori islam kafah jika hanya mengaku secara dzahir saja. Maka hanya akan menjadi Umat Islam rata rata (awam), yaitu orang orang yang mengaku beragama islam, yang sekedar bersyahadat dan sekedar menjalankan ibadah mengikuti syareat saja.

-Dalam Ayat Al-Qur’an dikatakan: “Kami telah beriman“. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah berislam (tunduk)’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”. (QS. Al Hujuraat [49] : 14)

Oleh sebab itu pula untuk memasuki agama islam yang sesungguhnya, maka seorang islam juga harus BERIMAN, barulah akan masuk ke dalam katagori golongan MUKMININ, adalah orang orang yang menjalankan agama islam secara keseluruhan baik lahir maupun batin, yaitu : Ibadahnya dilaksanakan secara lahir dan batin (sampai qalbu), kemudian dibuktikan dengan amal perbuatan nyata sehari hari secara lahir dan batin pula. Sebab iman itu adalah perkara hati, yakin benar dari hati. Maka penjabaran iman itu adalah: Tasdiqu bil qolbi (diyakini dalam hati), Iqrou billisan (diucapkan dengan lisan), Amalu bil arkan (diwujudkan dengan perbuatan),

(Al-Imanu yazid wa ya’us (iman kadang naik kadang turun, Yazid bit tho’ah wa ya’us bil maksiat naik dengan ketaatan dan turun karena kemaksiatan).

Ayat tentang  golongan islam dengan keimanan:

”Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh” (QS. An Nisa’ : 57).

Kemudian setelah berislam dan beriman dengan baik, maka seorang muslimin dan mukminin juga harus MUHSININ. Adalah orang orang yang memperbagus ibadah dan amalannya. Muhsin ada dua tingkatan :

  1. Musyahadah yaitu seseorang beribadah kepada Allah, seakan-akan dia melihat dan diperhatikan Allah.
  2. Muraqabah yaitu seseorang beribadah kepada Allah, seakan-akan dia berada dekat dengan Allah dan merasa Allah menilainya.

(Silahkan renungi Ayat ayat Al-Qur’an: 2:195, 3:134, 3:148, 5:13, 5:93).

Note: Untuk memahami lebih dalam penjabaran Islam-Iman dan Muhsin, silahkan mengaji lebih banyak kepada para alim ulama, ustadz atau guru spiritual terdekat disekeliling wilayah anda tinggal.

Berikutnya setelah seorang islam dengan kriteria diatas tersebut terus melakukan upaya perbaikan dan menambah kualitas keislamannya, maka akan menghasilkan tingkatan / maqam seorang islam dengan penjabaran sebagai berikut:

TANGGA ILMU DALAM ISLAM

Ilmu pengetahuan / intelektualitas (ilmu yang telah dicapai seseorang) itu bersifat individu. Berikutnya tinggal menilai bobot / kualitasnya, maka akan terkait pada pendalaman masing masing, Oleh karena itu pula antara satu individu dengan individu lainnya akan berbeda pemahamannya / pemikirannya, sesuai daya serapnya.

Sedang jenjang / tingkatan ilmu keislaman itu, populer dengan istilah sbb:

  1. Ilmu SYAREAT

-Adalah Ilmu kerangka, pedoman dasar / S.O.P, yang bersumber dari Al-qur’an dan As-sunnah, meliputi ilmu tafsyir, fiqih, nahu, balaghah, mantik, adab islam, dsb).

  1. Ilmu HAKEKAT

-Adalah tingkat ilmu  hati (qalbu, nurani), esensi (jati diri), filosofi, kesadaran siapa diri. (Kesadaran mengaplikasikan keislaman dan keimanan dari sisi dzahir dan qalbu)

  1. Ilmu MA’RIFAT
-Adalah tingkat ilmu orientasi, ilmu dedikasi, ilmu tujuan, ilmu bakti, ilmu untuk sampai pada Allah (Wushul).
(Note: Untuk ilmu Hakekat dan Ma’rifat, serta panduan Tareqat ada kitab / literaturnya sendiri, berikut tatacara pengamalannya dan lafaz lafaz dzikr serta ritualnya. Dalam pustaka dan merupakan kurikulum baku untuk Majelis As-shalihin. Ilmu pengetahuan ini tidak diajarkan secara akademis di dunia  pendidikan formal).

Dari tingkatan keilmuan tsb akan menghasilkan tingkat / level keilmuan seseorang, yang berkait paut dengan bobot pemahaman / kadar nalar / daya serap masing-masing, dengan jabaran sbb:

1.Orang yang hanya memahami atau mengaplikasikan ilmu SYAREAT saja :

  1. Orang dengan tingkat ini, pemahaman menjalankan agama sebatas memenuhi kewajiban syareatnya saja (wajib dan Sunnah).
  2. Golongan ini melahirkan maqam/ kedudukan: Sebagai pengikut (folower, jamaah) saja, yang tingkat keilmuan dan pemikirannya cukup hanya mengikuti apa yang didengarnya, apa yang didapatinya, apa yang diperintahkan oleh para ulamanya, para gurunya, alirannya dan apa yang dihapalnya.
  3. Pada tingkat ini, orang sudah bisa menjadi Guru, ustadz, penceramah, pemimpin do’a / imam shalat, yang penting banyak tahu / hapalan amalan amalan, ayat, hadits maupun fiqih atau ang penting lancar bahasa Arabnya.
  4. Pada tingkat ini, biasanya praktis berpikir tektual (mendasari segala sesuatu mutlak harus dengan dalil, gampang menyalahkan ini, itu dan mudah terjebak dalam lingkaran emosi perdebatan, perbedaan)
  5. Umat tingkatan ini cenderung taqlid buta dengan faham sektarian, mazab, dengan aliran, organisasi (kultus individu), mudah terprofokasi, mudah tersulut emosi, mudah ikut ikutan.
  6. Dll
  • Note: Pada tingkat ini, seseorang mustinya terus meningkatkan keilmuannya, jangan merasa diri cukup (Al-istighna).

2.Orang yang telah mencapai pemahaman HAKEKAT, yakni:

  1. Orang yang telah mencapai tingkat kesadaran lahir dan batin dalam menjalankan syareat, dalam beribadah dan dalam memahami hakekat siapa diri dan untuk apa diri.
  2. Golongan ini akan berpikir dan berfaham lebih mendalam dan meluas dari sekedar hukum wajib dan sunnah.
  3. Pada tingkat ini, orang cenderung akan mudah memahami setiap perkara dan peristiwa yang terjadi.
  4. Berdakwah, berargumen (hujjah) mendasari dengan ilmu dan kecerdasan.
  5. dll

3.Hamba Allah yang tengah mencari atau telah memahami jalan MA’RIFAT, yakni:

  1. Pada tingkat awal disebut SALIK (seorang yang sedang menjalani kesufian). Golongan ini akan mengaplikasikan syareat dan hakekat dengan baik, semakin hati hati dan semakin takut dengan kaidah kaidah syareat dan hakekat.
  2. Hamba Allah pada tingkat ini, akan menjalani hidupnya, ibadahnya, amaliahnya dengan melakukan tareqat tareqat ekseklusive, banyak wirid dan berdzikir, gemar bersedekah, tidak pelit dan tidak nafsu menumpuk numpuk harta, tidak memburu pangkat / jabatan / pamor.
  3. Pada tingkat ini, orang akan mengaplikasikan hidup, dedikasi dan bakti, seluruhnya ditujukan semata untuk Tuhannya, tidak berpamrih.
  4. Pada tingkat ini, orang akan mengabaikan apa yang terjadi pada dirinya, sudah tidak memikirkan besok mau dapat apa, mau makan apa, mau kerja dimana.
  5. Berdakwah dengan jalan hikmah, sesuai dengan hidayah (bukan maunya sendiri) dan selalu menghindar dari perbuatan perbuatan sia sia.
  6. Ciri ciri : Hati hati dalam bersikap dan berbuat, sabar, tawaduk, za’uk, kona’ah, fathonah, istikomah,
  7. Dsb

DARI SESEORANG YANG BERUSAHA MENGAPLIKASIKAN KETIGA TINGKATAN TERSEBUT DIATAS, MAKA AKAN MELAHIRKAN MAQAM :

  1. ORANG ORANG ULUL ‘ILMI (orang yang berpengetahuan),
  2. ULUL ALBAB (orang yang berilmu dan bijak),
  3. ULUL ABSYAR (orang yang berpandangan tajam), dsb.

Realitas kebanyakan yang terjadi:

  1. Masih dalam tingkat pengetahuan Syareat namun merasa sudah diatasnya.
  2. Orang sudah merasa mencapai ilmu Hakekat atau Ma’rifat, tapi tidak mengaplikasikan, tidak menjalankan atau mengabaikan ilmu syareat
  3. Merasa telah mencapai ilmu Hakekat dan Ma’rifat, namun masih suka angkara murka, masih melakukan perbuatan keji, masih suka terjerumus ke dalam perdebatan bodoh, masih suka menebar, membalas berita berita hoax, masih  terlibat urusan politik mendukung ini, itu dan masih suka berkata dusta, dsb.
  4. Merasa telah menjalani ilmu Syareat, Hakekat dan Ma’rifat namun tidak dengan atau tidak menggunakan piranti TAREQAT yang baik. (Tareqat adalah: Tehnik / cara / jalan sampai menuju Allah).
  • Contoh: Menjalankan ibadah, mengamalkan amalan, ritual, amaliah dan kebaktian tidak dengan tata cara atau tidak mengetahui caranya, tidak dengan adab serta tidak dengan bimbingan seorang guru mursyid (menurut angannya sendiri).
  • Note: Ilmu Tareqat ada penjabarannya sendiri.

Mereka mereka yang tetap berada pada alam Al-istighna akan menemui / memasuki lorong lorong pekat (Az-zhulmun) di dalam goa goa At-taqlid faham sektarian, aliran dan mazab yang penuh dengan tirai jebakan yang direnda dengan benang benang dalil,  dan tafsyir, yang bisa mengarah pada jalur kesesatan (Az-zhur),

Sehingga  tak heran antar golongan Al-istighna ini seringkali mengalami benturan pada dinding dinding faham sektarian, aliran dan mazab.

Maka banyak umat yang tak pernah menemukan ujung lorong dalam goa tersebut dan itu membuat semakin jauhnya dari menemukan cahaya-Nya. Hasilnya, adalah luka tersayat oleh kerikil kerikil adu debat dalil, tafsyir dan yang direalisasikan dengan perdebatan absurd (debat kusir), mudah terjebak ke dalam lingkaran fitnah dunia.

Demikian pula bagi mereka yang terdampar digurun hakekat tanpa perbekalan dan peta syareat guna petunjuk, alat, kompas dan nafigasi yang cukup terlebih dahulu, maka ia akan menghadapi badai dan sengatan matahari gurun hakekat yang membekukan dan menghanguskan jiwa diri.

Pohon pengetahuan (Sajaratu al-‘ilm)

Sajaratu Al-ilm

PANGKAT DAN KEDUDUKAN UMAT ISLAM DAN MANUSIA DISISI ALLAH SWT

Ini adalah manajemen Allah, penjabaran sebagai berikut :

  1. Telah diketahui bahwa makna islam adalah nilai nilai agama islam (Ad-dien Al-Islam) yang dalam kesatuan nilai nilai Keislaman, Keimanan dan kemuhsinan.
  2. Sedang yang disebut golongan umat Islam adalah golongan umat yang memilih Islam menjadi agamanya / anutannya, kemudian ia melaksanakan keislamannya itu dengan benar benar berislam, beriman dan berMuhsin secara kaffah (total). Yang kemudian masing masing akan mendapatkan pangkat, kedudukan keislamannya yang beragam dihadapan Allah Swt, sesuai dengan bobot amal ibadah serta pengabdian kepada-Nya.
  3. Sedang pangkat dan kedudukan keislaman seorang muslim itu dapat diraih melalui jalur tahapan pencapaian ilmu syareat-Hakekat dan Makrifat yang dijalankan dengan cara (tareqat) yang baik dan benar.
  4. Sedang bobot amal ibadah serta pengabdian seorang muslim kepada Allah Swt itu ditentukan oleh seberapa besar ia mengimplementasikan amalan amalan ibadahnya dalam kehidupan sehari harinya.
  5. Sedang Bentuk implementasi amalan ibadah dan pengabdian kepada Allah Swt untuk setiap umat islam adalah terbagi dua macam, yaitu : Amal ibadah secara Hablum minallah dan Hablum minannaas. , bagaimana : Syahadatnya (Aqidahnya), Shalatnya, Zakat dan sedekahnya, Puasanya serta nili nilai Hajinya.
  6. Sedang Hablum minannaas adalah bentuk sikap pengabdian kepada Allah swt dengan implementasi laku perbuatan yang penuh kemanfaatan bagi diri serta orang lain serta lingkungan alam semestanya.

Maka dari semua nilai nilai keislaman dan kedudukannya masing masing yang dapat dicapai oleh seorang pencari Tuhan (sufi), Allah membaginya dalam golongan golongan sebagai berikut:

PANGKAT MANUSIA GOLONGAN KANAN

  1. GOLONGAN SHALIHIEN
  2. GOLONGAN SHABIRIEN
  3. GOLONGAN MUKHLASIN
  4. GOLONGAN MUHSININ
  5. GOLONGAN TA’IBIEN
  6. GOLONGAN MUHTADIEN golongan orang orang yang telah mendapat petunjuk-
  7. GOLONGAN SHIDDIQIEN Adalah golongan orang orang yang teguh dalam mengikuti kebenaran, dari Al-Qur’an, kebenaran para nabi….(QS.An-Nisaa:69-70)
  8. GOLONGAN MUTTAQIEN
  9. GOLONGAN MUFLIHUUN Adalah golongan orang orang yang beruntung.

Lawannya adalah : PANGKAT MANUSIA GOLONGAN KIRI:

  1. GOLONGAN MUSYRIKIN (Menyekutukan Allah)-QS.Al-Baqarah:276
  2. GOLONGAN KAFIRIN (Ingkar dan durhaka)
  3. GOLONGAN FASIQIEN (berbuat keji)-QS.83:12,QS.2:99
  4. GOLONGAN KADIBIEN (pendusta)
  5. GOLONGAN MUNAFIQIEN (Khianat)-QS.2:8
  6. GOLONGAN MUFSIDIEN (perusak, suka membuat kerusakan)-QS.5:64
  7. GOLONGAN MU’TADIEN (melampaui batas)-QS.2:190
  8. GOLONGAN DZALIMIEN (berbuat aniaya)-QS.Fathir:32
  9. GOLONGAN MUJRIMIEN (pendosa)
  10. GOLONGAN GHADIBIEN (terkutuk)
  11. GOLONGAN KHASIRIEN (merugi) QS.An-Nahl:107-109

Kesimpulan sekali lagi pada makna islam dan kedudukannya, yaitu :

Dari keterangan yang telah diurai diatas bahwa dalam Islam telah dikenal adanya tahapan/ jenjang / derajat keilmuan dalam menjalankan amaliah agama yakni :
-Tahapan SYAREAT dan HAKEKAT dan MAKRIFAT.

Maka, ketiga jenjang amaliah ini harus diaplikasikan dengan metode yang benar, yakni dengan TORIQOH / TAREKAT yang benar. Orang menjalankan Syareat musti harus dengan TAREKAT yang benar, demikian juga orang menjalankan HAKEKAT musti harus dengan TAREKAT yang benar pula, demikian juga seorang salik dalam usaha menjalankan laku MAKRIFAT, maka musti harus dengan TAREKAT yang benar pula.

(Sementara tingkatan Ma’rifat adalah tingkatan halus dan lebih spesifik dari jenjang Syareat dan Hakekat, sebab merupakan pangkat (maqam) execlusive pemberian Allah (hak prerogativ Allah) kepada hamba-Nya tertentu yang dikehendaki-Nya). Artinya, belum tentu pasti seseorang yang mencapai jenjang Syareat dan Hakekat langsung otomatic mencapai / menguasai “Makrifat”. Tidak demikian. Namun yang jelas bahwa jika seseorang yang dengan ikhlas menjalankan syareat, hakekat maka insyaAllah ia akan menuju TAQWA). Kemudian bahwa kita tidak dapat mengukur prosentase seseorang itu telah mencapai tingkat hakekat maupun Makrifat sampai seberapa tinggi, sebab itu hak Allah, manajemen Allah dan rahasia Allah dan kita hanya diperintahkan untuk menambah, memperbaiki, berusaha meningkatkan jenjang keimanan secara terus menerus.

DARI URAIAN TINGKATAN KEILMUAN KEISLAMAN TERSEBUT, DISIMPULKAN DEFINISI RINGKASNYA, sebagai berikut:

  1. ILMU SYAREAT Adalah Ilmu kerangka, pedoman dasar, adalah dimensi amaliah (perundang-undangan) dasar, (S.O.P), yang bersumber dari Al-qur’an dan As-sunnah, meliputi ilmu Qalam (Mu’taqod / Aqidah), tafsyir, fiqih, nahu, balaghah, mantik, adab islam, dsb).
  2. Sementara ILMU HAKEKAT (Esensi)

    a-Adalah tingkat ilmu  hati (qalbu, nurani), esensi (jati diri), filosofi, kesadaran siapa diri. (Kesadaran mengaplikasikan keislaman dan keimanan dari sisi dzahir dan qalbu).

    b-Adalah dimensi titik tujuan yang dapat membuka kesadaran pemahaman secara global, atau tingkatan yang dapat mejadikan orang memahami makna kehidupan dan agama serta Tuhannya.

  3. Sedang lmu MA’RIFAT

    -Adalah tingkat ilmu orientasi, ilmu dedikasi, ilmu tujuan, ilmu bakti, ilmu untuk sampai pada Allah (Wushul)

  4. Sedangkan ILMU TAREKAT adalah dimensi cara pengamalannya (metode / jalan sampai kepada Allah),

Note: Maka, Syariat laksana baju sedangkan hakikat ibarat badan, sedang Makrifat adalah performen rasa. (Orang mengenakan baju harus dengan cara, demikian juga orang merawat badan juga harus dengan cara, dan orang dapat merasakan citra juga harus dengan cara). Dan Tareqat atau cara atau jalan, itu ibarat sebuah kendaraan. Seseorang mempunyai sebuah kendaraan mewah, alat komplit, bahan bakar full. Kemudian berencana atau ingin pergi ke sebuah kota harapan, namun ia tak memiliki seorang sopir/pengemudi handal untuk menjalankan kendaraan tersebut. Apa yang terjadi? tentu keinginannya tak pernah kesampaian sebab kendaraannya tidak jalan. Atau kita hanya duduk saja didepan kemudi karena tak bisa menyopir, kita hanya bergumam sendiri membayangkan kendaraannya melaju sedang keadaan kendaraan dalam posisi tak dikontak, tidak dihidupkan, tidak mengoper porsneling hanya gerendeng bersuara mulutnya saja, “bremmm….bremmmm….bremmmm….. “. Maka apa yang terjadi? Adalah kedaraan tersebut tak akan pernah melaju alias berhenti ditempat sampai kiamat. Begitulah gambaran orang berislam, beribadah tetapi tidak memahami tata caranya.

Berikutnya, jika dianalogikan ke dalam tataran bahasa akademis, maka Syareat merupakan ilmu Praktis, Tarekat adalah Metodologis, Haqeqat adalah Teoritis, sedangkan maqam Ma’rifat adalah dimensi Filosofis.

Imam Malik mengatakan bahwa seorang mukmin sejati adalah orang yang mengamalkan syariat dan hakikat secara bersamaan tanpa meninggalkan salah satunya.

Adagium populer : “Hakikat tanpa syariat adalah kepalsuan, sedang syariat tanpa hakikat adalah sia-sia (kosong tak berkualitas).”

Imam Malik berkata, “Barangsiapa bersyariat tanpa berhakikat, niscaya ia akan menjadi fasik (mudah terjebak dalam kejahiliyahan). Sedang yang berhakikat tanpa bersyariat, niscaya ia akan menjadi zindik (mendustai agama) .Barangsiapa menghimpun keduanya [syariat dan hakikat], ia benar-benar telah ber-hakikat.”
*Syariat adalah hukum-hukum atau aturan-aturan dari Allah yang disampaikan oleh Nabi untuk dijadikan pedoman kepada manusia, baik aturan ibadah maupun yang lainnya. Apa yang tertulis dalam Al-Qur’an hanya berupa pokok ajaran dan bersifat universal, karenanya Nabi yang merupakan orang paling dekat dengan Allah dan paling memahami Al-Qur’an menjelaskan aturan pokok tersebut lewat ucapan dan tindakan Beliau, para sahabat menjadikan sebagai pedoman kedua yang dikenal sebagai hadist. Ucapan Nabi bernilai tinggi dan masih sarat dengan simbol-simbol yang memerlukan keahlian untuk menafsirkannya.

Tarqat

KAJIAN ILMU TAREQAT

Tarekat berasal dari kata “Toro – Thariqah” yang berarti jalan.Tarekat adalah jalan-jalan yang ditempuh para sufi sebagai jalan yang berpangkal dari syariat sebab jalan utama disebut syar’, sedangkan anak jalan tersebut thariq. Kata turun ini menunjukkan bahwa bagi para sufi, dimensi keruhanian merupakan cabang dari jalan utama yang terdiri dari hukum ilahi, tempat berpijak bagi setiap muslim. Tidak mungkin jika ada anak jalan /gang,bila tidak ada jalan utama tempat berpangkal.Dimensi kebatinan seseorang tidak mungkin diraih bila perintah syariat yang mengikat itu tidak ditaati.
Jika seorang yang mengaku muslim namun hanya sekedar menjalankan perintah agama secara standar saja, (asal memenuhi kewajiban), maka ia dalam katagori bersyareat saja. Sedangkan bagi seseorang yang telah berpengetahuan syareat kemudian ingin meningkatkan qualitas ibadahnya serta berniat ingin mencari jalan mendapatkan ridho Tuhan maka ia telah memasuki tahapan lanjutan dalam agama yakni ber-HAKEKAT. Inilah jalan yang harus ditempuh oleh seorang calon sufi agar ia berada sedekat mungkin dengan Allah.
Namun jika seseorang yang mengaku muslim hanya menjalankan dimensi hakekat saja dengan mengabaikan Syareat, maka itu sebuah kedustaan belaka. Dan jika seseorang hanya taqlid mempelajari / mengamalkan dimensi Hakekat tanpa belajar / mengetahui dan memenuhi batasan batasan syareatnya, maka ia akan mengarah pada jalur kesesatan.

HUBUNGAN ANTARA TAREKAT DAN TASAWUF :

tarekat 1

Tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tarekat itu adalah cara dan jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian ,Tarekat dan Tasawuf adalah jalan atau cara yang ditempuh oleh para salik (pelaku tarekat dan tasawuf) untuk mendekatkan diri pada Allah, dalam rangka melaksanakan perintah Allah. Seperti dalam surat Al-maidah : 35 ,

“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS.Al Maidah: 35).

Maka Tarekat ada dua katagori :
1.TORIQATU AMALIAH  أمالية طريقة (Tareqat Praksis atau amaliah dan ibadah standar sesuai syar’i)
2.TORIQATU JAM’IYAH  الجماعة طريقة (Tareqat LEMBAGA dibawah bai’at seorang guru mursyid)

-Tarekat Amaliah adalah tarekat yang tidak berkaitan dengan kelembagaan yang sengaja dibentuk / diikuti dengan mengamalkan suatu ritual-ritual yang diajarkan oleh seorang Guru / Syeikh tertentu, melainkan amalan-amalan baku yang seseorang secara personal  maupun bersama sama dengan jama’ah majelis ta’lim, kemudian menjalankannya dengan khusyu dan ikhlas setiap harinya dengan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW yang bersumber / berpedoman pada syareat dan as sunnah (Al-Quran dan Al-Hadits), yang cara-cara menjalankan dan pengamalan ibadahnya didapat dari mengaji / diajarkan oleh para guru ngaji / Ustadz, dari pesantren, dari sekolah, dan umum lainnya, kemudian ia terus berupaya meningkatkan kualitas amalannya.

-Sedangkan Tarekat Jam’iyah adalah menjalankan amalan-amalan ibadah yang diikat dengan berbai’at dan tata cara pengamalannya dilakukan dengan cara-cara tertentu berdasar bimbingan seorang guru mursyid / Syeikh yang tergabung ke dalam suatu lembaga / organisasi ketarekatan yang eksklusif. Kemudian tiap tarikat mempunyai syaikh, upacara ritual, dan bentuk zikir, wirid tersendiri serta memiliki alur silsilah ahli tareqat masing masing hingga berujung pada wali kutub As-Saikh Abdul Qadir Al-Jaelani, dan berhulu pada Nabi Muhammad SAW. Di timur tengah, dikenal dengan “ta’ifdah” . Ada juga dikenal kelompok muslim kebatinan dengan nama Ikhwan Al-Safa*. Anggotanya cenderung para pemuda.
Kemudian setiap anggota dilakukan upacara “pengambilan sumpah” / Bai’at, yang menandakan telah resmi bergabung ke dalam organisasi sebagai anggota dan merupakan deklair kepatuhan serta ketaatan terhadap ritual-ritual yang diamalkan jama’ah organisasi serta fatwa sang guru. Kemudian pada waktu waktu tertentu selalu diadakan pengajian akbar untuk para anggota, jama’ah, lazim disebut pengajian tawasulan, selapanan, mujahadahan, istighosah, dsb.

Sumber dalil untuk tiap tiap orang beriman dalam mengaplikasikan agama (tuntunan hidup) harus dengan cara/metode/tarekat adalah berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an diantaranya dalam surat : Al- Ahzab 41-43 , An- Nur 36-37 , Al- A’raaf 205 , An -Naziat 37-41.

SEJARAH TAREKAT

Pada masa Nabi Muhammad SAW tidak dikenal adanya tarekat lembaga atau terdengar adanya istilah “Tarekat Muhammad Rasulullah”, tidak ada itu, sebab Rasulullah SAW saat itu secara tidak langsung bertindak sebagai lembaga itu sendiri. Nabi secara langsung mengajari umat untuk bertarekat dengan berdakwah membimbing umat agar manusia menyembah hanya kepada Allah Yang Esa. Kemudian setelah mendapatkan risalah baku yakni Al-Qur’an, yang kemudian dijadikan sebagai Syareat/pedoman baku (S.O.P), bagi seluruh umat manusia dan bagi yang mengikuti millah Beliau, maka barulah Rasulullah mengajarkan Tarekat Amaliah secara nyata (praksis langsung), mengajarkan laku perbuatan nilai-nilai Islam secara langsung maupun secara perkataan (As-Sunnah), bersama para sahabatnya, pengikutnya dengan cara melaksanakan sholat, Zakat, Puasa, berhaji serta berbuat kebaikan, bersedekah, berkasih sayang, berbuat manfaat, menyerukan persatuan, hindari/jauhi faham faham sektarian/sekte dan beramar ma’ruf nahi munkar. Itulah Tarekat yang lebih besar tingkatannya. Sedangkan masakini banyak aliran aliran organisasi/kelompok mazabis cenderung eksklusif, kebanyakan berorientasi mengumpulkan amal untuk kepentingan pahala pribadi/jama’ahnya. Bahkan melaksanakan sholat saja wajib hanya bersama kelompoknya saja, enggan bahkan “mengharamkan” bermakmum dengan luar kelompoknya. Kemudian mereka mendirikan masjid masjid ekseklusif dan sebagainya. Ini jauh dari nilai nilai tarekat itu sendiri.

Setelah Nabi Muhammad SAW,maka seolah umat Islam bagai “anak ayam kehilangan induk semang”, tiada sosok panutan yang kharismatik, agung dan utama. Saat zaman itulah umat-umat Islam mencari jati diri masing-masing dalam mencari jalan mendekatkan diri pada Tuhannya. Kemudian berkembanglah ilmu tasawuf, bermunculanlah tokoh-tokoh sufi bersifat personal. Kemudian tokoh-tokoh sufi yang telah dalam ilmu pengetahuannya memiliki kharisma,kemudian memiliki banyak murid/pengikut yang sejak masa itulah mulai dikenal adanya Tarekat lembaga atau cabang tasawuf yang berorganisasi.Metamorfosa ini tidak terlepas dari perkembangan dan pengaruh ajaran tarekat para pelaku tasawuf itu sendiri yang seolah sangat didambakan umat Islam saat itu.Semakin luas pengaruh tokoh tasawufnya,semakin banyak umat berhasrat menjadi pengikutnya.Maka berkembanglah aliran tarekat yang dibimbing oleh seorang guru/Syeikh dengan berbagai corak dan cirinya.

*Sulit menentukan kapan aliran tarekat dijalankan sebagai suatu lembaga dimulai.Menurut Harun Nasution , bahwa setalah Al Ghozali menghalalkan tasawuf yang sebelumnya dikatakan sesat, tasawuf berkembang dari dunia islam, tetapi perkembangannya melalui tarekat. Tarekat adalah organisasi dari pengikut sufi-sufi besar yang bertujuan untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf gurunya. Tarekat ini memakai suatu tempat pusat kegiatan yang disebut ribat – organisasi serupa mulai timbul pada abad XII M, tetapi baru Nampak perkembangannya pada abad-abad berikutnya.Tarekat diartikan sebagai jalan yang khusus di peruntukkan bagi mereka para pencari Tuhan yang merupakan perpaduan antara iman dan islam dalam bentuk ihsan.
Secara amaliyah (praksis) tarekat personal timbul dan berkembang semenjak abad-abad pertama hijriah dalam bentuk pelaku zuhud dengan berdasarkan pada Al Qur’an dan Al Sunnah. Zuhud bertujuan agar manusia dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungan terhadap kenikmatan duniawiyah secara berlebihan.
Sejak abad VI dan VII hijriyah (XII dan XIII M) tarekat-tarekat lembaga telah memulai jaringannya di seluruh dunia islam, taraf organisasinya beraneka ragam. Perbedaannya yang pertama dari semua itu terletak pada upacara dan dzikir, keanggotaannya sangat heterogen. Kemudian sejak abad VIII H (XIV M) menyebar dari sinegal ke cina. Semenjak itu cabang-cabang tarekat berkembang dengan ciri masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya.

*BERBAGAI CABANG ORGANISASI TAREKAT

tarekat 3

(Silahkan dijadikan referensi bagi sobat yang berminat masuk Tarekat)

1. Tarekat Qodariyah
Tarekat ini didirikan oleh Muhyi al-Din Abu Muhamad ‘Adb al Qodir bin Musa bin ‘Abdullah bin Musa (470-561 H 1077/1166 M) pengikutnya menyebar ke berbagai pelosok dunia islam sampai ke Asia barat dan Mesir. Pada abad XIX M bercabang sampai ke Maroko dan Indonesia. Tarekat ini dinilai sebagai tarekat paling progresif tapi tidak jauh dari faham salf. Tarekat ini lebih berkonsentrasi kepada pemurnian Tauhidullah dan zduhur dalam ibadah. Ia memiliki keunggulan dalam ihwal kedermawanan, kesalehan dan kerendahan hati serta ketidaksetujuan terhadap fanatisme agama dan politik.
Diantara ajaran pokoknya ialah : bercita-cita tinggi (“Aluw al Himmah) menghindari segala yang haram, memelihara hikmah, merealisasikan maksud dan mengagungkan nikmat Allah, beberapa sebab keberhasilan tarekat ini dalam rekkrutmen murid dan calon murid adalah ketaatan yang teguh dalam syariat dan realisasi ajaran salaf, kencamannya yang gencar terhadap paham yang menyandarkan keimanan semata sebagai alat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam kecamannya terhadap paham reinkarnasi /(tanasukh al ruh). Ajaran-ajarannya dilandaskn secara kuat kepada AL Qur’an dan AL Sunnah.

2. Tarekat Rifa’iyah
Tarekat Rifa’iyah didirikan oleh Ahmad al Rifa’i (570 H / 1173 M) didorong oleh kondisi mengendornya hubungan antara cabang-cabang Qodiriyah dan lahirnya ranting ranting baru yang independen. Tarekat ini dinilai lebih fanatik, memiliki tradisi yang sangat ketat dalam mematikan hawa nafsu dan ketat dengan protokol-protokol seremoni pelantikan/Bai’at yang luar biasa. Pengikutnya yang melakukan dzikir secara baik akan dapat terbawa ke alam fana (dimensi ruhani),dalam keadaan fana’ itu bisa melakukan hal-hal yang menakjubkan seperti sihir(metafisika).

3. Tarekat Suhrowardiyah
Didirikan oleh Syihab al Din al Suhbowardi inspirasi seorang ahli dari Maghrib, Nur al Din Ahmad bin ‘Abdullah al Syadzali. Pengikutnya tersebar di Tunis- karena pemerintah mencemaskannya, sang imam cenderung menyingkir ke Alexandria di mesir keberhasilannya sangat cepat juga di afrika.

4. Tarekat Ahmadiyah / Badawiyah
Tarekat ini disebut juga tarekat badawiyah karena pendirinya bernama Ahmad bi ‘Aly al Husainy al Badawy
Tarekat ini sangat konsisten dengan Al Qur’an dan As Sunnah, ia sangat diminati karena antara lain : mendorong para pengikut / muridnya untuk pandai, kaya dan dermawan, saling mengasihi dan juga karena doktrin-doktrin sifistiknya yang menarik.

5. Tarekat Maulawiyah / Al Rumiyah
Maulana Jalaludin Rumi Muhammad bin Hasain al Khattabi al Kbakri (Jalaludin Rumi) atau sering juga disebut Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di balk (sekarang Afganistan).Kesufian Rumidi mulai ketika beliau sudah berumur lepas dewasa, 48 tahun.
Rumi memang bukan sekedar penyair, tapi ia juga tokoh sufi ayng berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu pada tarekat maulawiyah. Sebuah tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang disekitarnya. Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan-pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran.
Dalam sistem pengajarannya, Rumi mempergunakan penjelasan dan latihan mental, pemikiran dan meditasi, kerja dan bermain. Tindakan dan diam. Gerakan-gerakan tubuh pikiran dari pra darwis berputar dibarengi dengan musik toup untuk mengiringi gerakan-gerakan tersebut merupakan hasil dri metode khusus yang dirancang untuk membawa seseorang salik mencapai afinitas dengan arus mistis untuk ditransformasikan melalui cara ini.

6. Tarekat Syadzaliyah
Abu Hasan al Syadzali mendirikan tarekat ini setelah beliau mendapatkan khirqoh / ijazah dari gurunya Abu ‘Abdullah bin Ali bin Hazam dari Abdullah ‘abd. Al Salam bin Majisy. Kelebihan dari tarekat ini terletak pada lima (5) ajaran pokoknya yaitu :
1.Takwa kepada Allah dalam segala keadaan.
2.Konsisten dalam mengikuti Al-Sunnah,
3.Ridho dalam ketentuan dan pemberian Allah SWT,
4.Saling menghormati,menghargai sesama manusia, dan
5.Suka kembali kepada Allah (taubat) dalam susah/senang.

Sedangkan tiga hal pokok yang menjadi landasan/ azas tarekat ini adalah :
1.Terus mencari ilmu (belajar tak berhenti),
2.Memperbanyak Dzikrulah dan
3.Duhur Ilaallah.

Ketiga hal pokok ini selalu menjadi penekanan kepada murid-murid Al Syadzali, beliau tidak menganjurkan mujahadah seperti tarekat-tarekat lain. Kebenaran baginya, didalam diri manusia itu ada nur ashli/ nur potensial yang akan menjadi kuat, berkembang dan subur bila diperkuat dengan nur ilmu yang lahir akibat dzikrullah.
Tarekat ini menjauhi ramalan-ramalan /anti memprediksi pada hal hal yang belum ataupun bakal terjadi termasuk mengartikan segala kemungkinan dan akibat yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang,(Hari-hari dijalani cukup dengan aktifberkarya,beribadah,memprogram langkah,tak berandai-andai hari ini ya hari ini,nanti ya apa kata nanti).
Doktrin ini diperdalam oleh Ibn Atho’illah dan menjadi doktrin utamanya.Komunitas Syadzaliyah terutama mereka di kalangan kelas menengah, pengusaha, pejabat dan pegawai pemerintah. Oleh karenanya, ciri khas yang kemudian menonjol dari anggota tarekat ini adalah kerapihan mereka dalam berpakaian, ketenangan yang terpancar dari tulisan-tulisan para tokohnya.
Tarekat Syadzaliyah ini tidak menentukan syarat-syarat yang erat kepada syaikh tariqoh, kecuali mereka harus meninggalkan segala perbuatan maksiat, memelihara segala ibadah-ibadah sunnah semampunya, zikir kepada Allah sebanyak mungkin, sekurang-kurangnya seribu kali sehari semalam dan beberapa zikir yang lain.

7. Tarekat Tijaniyah
Didirikan oleh Abul Abbas Ahmad Bin Muhammad Bin Al Mukhtar At Tijani (1733-1815 M) salah seorang tokoh dari gerakan neosufisme. Ciri dari garakan ini ialah penolakannya terhadap sisi eksatik dan metafisis sufisme dan lebih menyukai pengalaman secara ketat ketentuan-ketentuan syariat dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan ruh nabi Muhammad sebagai ganti untuk menyatu dengan Allah.

8. Tarekat Syattariyah
Tarekat Syattariyah adalah tarekat yang pertama kali muncul di india abad XV M, tarekat ini dinisbatkan pada tokoh yang berjasa dan mem-populerkannya,yakni Abdullah Asy Syattar.
Sebagaimana hal tarekat-tarekat lain, Syattariyah menonjolkan aspek dzikir di dalam ajarannya.Dikenal 7 macam dzikir muqodimah sebagai peralatan/tangga untuk masuk kedalam tarekat Syattariyah, yang disesuaikan dengan 7 nafsu pada manusia. Dzikir ini hanya dapat dikuasai melalui bimbingan seorang pembimbing spiritual, guru/Syaikh.

9. Tarekat Naqsabandiyah
Pendirinya adalah Muhammad Baha’ Al Din Al Naqsabandi Al Bukhori (717-791 H / 1317-1388 M). Naqsabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebarannya. Terutama di wilayah asia .
Ciri menonjol dari tarekat ini ialah diikutinya syareat secara ketat, keseriusan dalam beribadah, menolak music dan tari budaya barat, lebih ngutamakan berdzikir dalam hati,namun tidak mengharamkan politik dan cenderung mau terlibat didalamnya .

10. Tarekat Kholwatiyah
Tarekat Khalwatiyah, tidak sebagaimana lazimnya tarekat pada umumnya yang diambil dari nama pendirinya. Penamaan ini justru didasarkan kepada kebiasaan sang guru pendiri tarekat ini syekh Muhammad Al Khalwati (w 717 H), yang seringkali melakukan kholwat di tempat-tempat sepi. Tarekat khalwatiyah merupakan cabang dari tarekat As Sahidiyah, cabang dari Al Abhariyah dan cabang dari Al Shrowardiyah yang didirikan oleh Syekh Syihab Al Din Abu Hafsh ‘umar Al Suhrowardi Al Baghdadi.
Ajaran dan dzikir tarekat Khalwatiyah menetapkan adanya sebuah amalan yang disebut Al Asma’ Al Sab’ah (tujuh nama) yakni tujuh macam dzikir /tujuh tingkatan jiwa yang harus dikembangkan oleh setiap salik.
Dzikir pertama melafadzkan kalimat : لا إله إلاالله , Dzikir kedua : الله ,Dzikir ketiga : هو (dia) ,Dzikir keempat : حقّ (maha benar) ,Dzikir kelima : حيّ (maha hidup) ,Dzikir keenam : قيوم (maha jaga) ,Dzikir ketujuh : قهار (maha perkasa).
Ketujuh tingkatan dzikir ini intinya bersumber dalam ayat AL Qur’an.

11. Tarekat Sammaniyah
Tarekat ini didirikan oleh syeikh Muhammad bin Abd Al- Karim Al Samman Al Madani Al Qodiri Al Qubaisi dan lebih dikenal dengan sebutan Syeikh Samman. Semula ia belajar toriqoh kholwatiyah dari damaskus,pada masa berikutnya beliau mulai mengajarkan pengajian yang berisi teknik berdzikir, wirid dan ajaran teosofi lainnya. Beliau menyusun cara pendekatan diri dengan Allah yang kemudian dikenal sebagai toriqoh sammaniyah, sehingga ada yang mengatakan bahwa toriqoh sammaniyah adalah cabang dari khalwatiyah.
Di Indonesia tarekat ini berkembang di sumatera Kalimantan dan jawa. Sammaniyah masuk ke Indonesia pada penghujung abad 18 yang banyak mendapat pengikut karena popularitas Imam Samman.
Ajarannya yang khas ialah memperbanyak dzikrullah dan shalat, lemah lembut kepada fakir miskin, tidak mencintai dunia, menukar akal masyariyah dangan akal robbaniyah dan mentauhidkan Allah dalam dzat, sifat dan af’alnnya. Pengaruh Sammaniyah di Indonesia diabadikan di dalam tariah ruda.

PEDOMAN UTAMA DALAM MENGIKUTI TAREKAT LEMBAGA / JAM’IYAH YANG HAQ :

  1. Niatkan terlebih dahulu tujuan kita apa mengikuti/menjalankan amalan amalan tarekat. Sekedar ikut ikutan atau karena telah dibekali pengetahuan.
  2. Pastikan mental spiritual kita telah siap dengan kuat
  3. Niatkan karena Allah tanpa pamrih
  4. Jangan bersikap taqlid buta terhadap mazhab/kelompok/guru pembimbingnya.
  5. Tetaplah berlaku perbuatan kemanfaatan bagi diri dan sekelilingnya.
  6. Bagi wanita berumah tangga yang mengemban tanggung jawabnya, haruslah berkompromi dengan suami/keluarganya.

TANDA TANDA KELOMPOK / JAMA’AH TAREKAT YANG HAQ :

  1. Mengajarkan pilar pilar dasar ketauhidan (Aqidah Uluhiyah dan Rubbubiyah)
  2. Mengajarkan dan membuahkan kemanfaatan bagi diri serta sekelilingnya.
  3. Berdakwah terbuka untuk semua kalangan
  4. Tidak berorientasi materi/sumbangan sumbangan keuangan yang ditentukan.

TANDA TANDA KELOMPOK / JAMA’AH TAREKAT YANG BATIL :

  1. Meniadakan asma Allah atau mengkamuflase ayat ayat Allah dengan mantra mantra tak jelas.
  2. Mengajarkan ritual ritual yang menganiaya diri dan pergaulan bebas.
  3. Mengajarkan ekseklusifisme ( yang melahirkan keangkuhan,kesombongan).
  4. Mengajarkan menghalalkan harta benda yang diluar kelompoknya.
  5. Mengajarkan/membiarkan umatnya taqlid buta terhadap guru pembimbingnya (penghormatan yang terlalu berlebihan).
  6. Mengajarkan doktrin doktrin sempit/dangkal (Melawan aturan pemerintah,menolak Pancasila, menekankan bahwa ajarannya yang paling benar,meng-kafirkan pihak lain / takfiri, dan sebagainya)

MANFAAT MENGAMALKAN TAREKAT YANG DIBIMBING GURU MURSYID HAQ

Telah diketahui bahwa Tarekat ada dua katagori.Tarekat pertama jelas merupakan keharusan bagi setiap umat Islam untuk selalu mencari jalan kepada Tuhannya.Dalam kitab Sulam Taufiq disebutkan bahwa :

فصل : يجب على كافة المكلفين الدخول فى دين الإسلام والثبوت فيه على الدوام والتزام مالزم عليه من الأحكام
“Setiap orang yang telah dewasa (mukallaf) wajib memasuki atau memeluk agama Islam secara kaffah dan tetap dalam agama itu untuk selama-lamanya serta melaksanakan segala kewajiban yang berkenaan dengan hukum-hukumnya , mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala”.

Maka seseorang yang berupaya meniti jalan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya,(bertarekat) hidupnya selalu dalam kedamaian (anti galau) dan dimudahkan segala persoalan (selalu mendapatkan pertolongan-Nya).Sebab ketika kita mendekat maka Tuhanpun memeluk erat.Kemudian balasan keselamatanpun hingga sampai di hari akherat.Maka jalanilah tarekat katagori apa saja,yang penting niatnya.Maka Pilihlah amalan tarekat yang sesuai dengan keadaan/kapasitas diri.

Sebagaimana kita berniat menuju sebuah titik kota tujuan,tentu ada berbagai sarana jalan untuk mencapainya.Ada jalan yang biasa,ada jalan yang sedang dan ada jalan yang khusus/tol.Jika kita tidak paham betul medan jalan yang akan ditempuh atau masih blank harus memilih jalan yang baik dan cepat yang mana,tentu kita seperti orang buta yang tak tahu arah kiri kanan.Sehingga waktu tempuh yang seharusnya dalam waktu singkat,ini sampai berhari-hari,bahkan berbulan-bulan atau bertahun-tahun.Oleh karena itulah kita memerlukan ahli pemandu,GPS,kompas,dsb.
Demikian pula seperti bertarekat dengan Tarekat organisasi, maka kita di beri bimbingan oleh seorang guru pembimbing untuk mencapai tujuan dengan jalan khusus/pintas.Sebab mereka para guru mursyid yang sebenarnya,telah mencapai derajat ilmu pengetahuan yang lebih luas dibanding kita, maka tentulah beralasan jika telah lebih banyak mengetahui cara maupun rahasia menuju jalan-Nya.

Contoh :
Suatu ketika kita sedang mendapatkan masalah atau cobaan berat,pelik dan membuat depresi.Sudah kesana kemari buntu tiada yang menolong dan tiada yang ahli dalam mengakhiri problematika.Maka daripada berlarut-larut persoalan yang menyesakkan tiada kunjung berakhir,cobalah “sowan” (berkunjung) mendatangi seorang Kyai atau guru spiritual atau guru tarekat.Kemudian sharing dan utarakan niatnya meminta bantuan agar masalah yang menimpanya dapat segera berakhir melalui media sang Kyai tersebut.Maka sang Kyai tersebut tentu akan membantu mendo’akan kita meminta kepada Allah SWT,yang secara lahiriahnya kadang dalam bentuk, dengan cara memerintahkan kita untuk melaksanakan amalan-amalan tertentu,melaksanakan qorban atau melaksanakan puasa sekian hari,dan sebagainya.Hal demikian sah-sah saja,sebab memang realitasnya banyak orang yang telah berhasil bangkit kembali atau berhasil keluar dari lilitan masalah kehidupan.

KEDUDUKAN/HUKUM BER-TAREKAT

tarekat 5

1.Adalah fardhu a’in atau wajib atas umat islam yang telah mukallaf,bertarekat secara amaliah.Yakni ikutilah ajaran tarekat yang tidak menyimpang dan yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Jika menemui ajaran tarekat yang menyimpang dan tidak sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasullullah, tinggalkanlah.
Paling aman adalah ikuti saja cara yang sudah ditetapkan Rasulullah seperti membaca Qur’an secara rutin setiap hari dengan memahami maknanya, shalat sunah seperti sunah rawatib, tahajud, dhuha, puasa senin kamis, berzikir didalam hati ketika berdiri, duduk dan berbaring, dzikir setiap pagi dan petang hari, dzikir setiap selesai shalat.
(Melaksanakan amalan tarekat yang standar saja kesulitan, apalagi mengamalkan kegiatan ritual tarekat organisasi, yang begitu rumit dan melelahkan dengan keharusan mengamalkan wirid,tasbih ribuan kali setiap hari).
Namun,itu jalur biasa,buat orang biasa.Maka jika kita ingin meningkat ke derajat yang lebih eksklusive lagi dan mengetahui lebih dalam jalan menuju rahasia-Nya,silahkan masuk ke dalam dunia tarekat.Ajaran tasawuf dan tarekat merupakan pengembangan dari perintah Al Qur’an tentang dzikir mendekatkan diri pada Allah dan mengendalikan hawa nafsu,yang dipelopori oleh para sufi.Untuk bertarekat Bai’at maka ,Hanya cara dan pelaksanaannya harus memenuhi kaidah atau keadaan tertentu seperti telah terurai diatas.
2.Sunah mengikuti tarekat bai’at jika amalan tarekat standar telah dipenuhi.
3.Makruh mengikuti tarekat bai’at jika tarekat yang diikuti terlalu berat dan mengganggu kewajiban keluarga serta amalan yang wajib saja masih sering ditinggalkan.
4.Dilarang jika tarekat bai’at yang diikuti menyimpang dari aqidah Islam.

PRIA / WANITA YANG DAPAT BEBAS MENGAMALKAN TAREKAT BAI’AT

Adalah orang baik pria maupun wanita yang dalam kapasitas kehidupannya tidak mengabaikan fungsi dan tanggung jawab masing-masing dalam kehidupan rumah tangga maupun keluarga.
Bagi pria yang berkeluarga dalam menjalankan amalan tarekat bai’at seyogyanya telah mempersiapkan diri,mem-back up ekonomi bagi keluarganya sehingga ketika sering meninggalkan rumah tidak menelantarkan anak dan istrinya.
Maka bagi wanita bersuami dan ibu rumah tangga yang kapasitas dan tanggung jawabnya sangat dibutuhkan untuk keluarga,semestinya janganlah larut sibuk atau ikut menjadi anggota jama’ah Tarekat dengan sibuk mengamalkan ritual-ritual setiap harinya tanpa ijin dan kompromi dengan keluarga/ suami.Sebab jika hal demikian tetap dilakukan dengan alasan keyakinan/keimanan menurut prasangka pribadi sendiri,maka sungguh akan banyak mendapatkan mudharat daripada manfaat yang lebih besar.Ibarat menangguk air dengan keranjang bolong.
Kecuali wanita-wanita bebas seperti masih lajang,tidak bersuami/janda atau wanita bersuami namun telah diijinkan oleh suaminya bahkan mendorongnya karena suatu alasan tertentu,atau justru suami ikut mendampinginya bersama sama maka hal demikian adalah baik.

DEVIASI AMALAN TAREKAT (PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN YANG TERJADI PADA JAMA’AH TAREKAT)

Beberapa penyimpangan yang ditemukan antara lain :

1.Penghormatan pada guru secara berlebihan (Qultus individu/taqlid buta) hingga berani tidak mematuhi/taat suami,
2.Larut mengamalkan amalan perintah guru dengan mengabaikan kewajiban keluarga yang semestinya dilaksanakan.
3.Meminum bekas wudhu guru, berebut meminum air sisa guru dan lain sebagainya .
4.Berdzikir dengan suara keras sambil menari dan menghentakan kaki dan badan hingga mengganggu orang lain beristirahat, berdzikir dengan jumlah hitungan melampaui batas kekuatan fisik.
5.Memakai pakaian yang buruk tanpa memperhitungkan keadaan,
6.Membenci kehidupan dunia secara berlebihan, menyebabkan meninggalkan keadaan lemah pada keluarga.
7.Menyakiti diri , menjampi-jampi orang lain agar celaka.
8.Mencampur kegiatan ritual pada Allah dengan ritual untuk jin dan sihir,
Maka semua itu merupakan penyimpangan bertarekat yang tidak sesuai dengan ajaran Qur’an dan Rasulullah.

KESIMPULAN

Umat Islam dalam menjalankan ibadah , mengabdi kepada Allah Ta’ala hendaknya dilakukan secara ikhlas tanpa pamrih.Ikuti tahapan ilmu agama secara berjenjang dan terarah. Tarekat hanya sebagian dari cara mendekatkan diri kepada-Nya, selain mengamalkan tarekat bai’at masih banyak jalan-jalan lain dalam mencari ridho Allah SWT.

Maka dalam hal sering terjadinya masalah dan penyimpangan penyimpangan dalam pengaplikasian pemahaman serta dalam menjalankan tarekat seseorang hanya ada dua katagori, yakni :

1.Karena gurunya yang salah mengajar, atau ajarannya memang salah, atau
2.Karena muridnya atau jama’ahnya yang tingkat intelektualitasnya rendah (bebal dari asalnya) atau faktor background pendidikannya, sehingga tidak mampu menerap ajaran dengan baik, sehingga salah dalam menerjemahkan ajaran sang guru.

PERHATIAN: Bagi para pengamal (salik) yang hendak berniat mengamalkan ilmu Hakekat-Ma’rifat serta mempelajari Tareqatnya, maka hendaknya terlebih dahulu mendalami ilmu MU’TAQOD atau ilmu qalam atau ilmu ‘aqidah.

Sekian, semoga bermanfaat dan sukses menjadi sufi yang diridhai Allah swt.

Sekian,semoga bermanfaat.
Salam Cahaya-Nya,

Kelana Delapan Penjuru Angin,
Bukit Ciketing, 15 Muharam 1436 H / 8 November 2014
CopyRights@2014

LOGOYRSA2
MAJELIS DZIKIR AS-SHALIHIN
-TAREQAT QADARIYYAH WA NAQSABANDIYYAH WA SHATARIYYAH (TQNS)
MASJID BAITUT TA’IBIN-PREMBUN KRANGGAN-KEBUMEN-JAWA TENGAH-INDONESIA.54394

Pengasuh: Ust. AGUS SHOLECH AL-QADRY

Email: majelisdzikirasshalihin@gmail.com
FB: Kelana Delapan Penjuru Anginhttps://web.facebook.com/kelana.delapanpenjuruangin
MARAJI’ / Reff:
-Risalatul Islam, risalatu Muhimah karya K.H. M. Syamsuddin – Prembun – Jawa Tengah.
-Majelis Tareqah Qadariah, wa Naqsabandiah, wa Satariah Al-Husaini – Tuban dan An-Nawawi-Purworejo.
-Kitab Sulam Taufiq, Fafiru, Ad-Dalailul Khairat, Daqo’ikhul Akhbar-Al-Imam Nawawi, dsb.
-http://www.fadhilza.com/2014/07/tadabbur/mengenal-ajaran-tarekat-dan-tasawuf.html
-http://www.metafisika-center.org/2012/06/beberapa-ajaran-tarekat-qadiriyah-wa_06.html
-Al-Qur’anul Karim Terjemah DEPAG RI
-Pengantar pemikiran Neoplatonis, Persaudaraan Kesucian (Ikhwan Al-Safa)-Ian Richard Newton
Note: Bahwa risalah tentang ilmu keislaman dan tareqat ini telah diperbaiki redaksi maupun paragraf kalimatnya serta diperkaya dengan tambahan khasanahnya, agar lebih mudah untuk dicerna dengan tidak menghilangkan dan mengurangi substansi maupun makna hakekatnya. Update pada : 26 Sya’ban 1438H / 24 Mei 2017